Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Hipertensi pada lansia merupakan suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan tekanan darah secara kronis, dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah diastolic >90 mmHg. Pada penelitian Framingham Heart Study menyebutkan bahwa lebih dari 90% orang yang diteliti memiliki tekanan darah normal pada usia 55 tahun. Selain itu juga, pada penelitian tersebut didapatkan terjadinya elevasi (cenderung turun) tekanan darah diastolik pada umur 50 tahun, sedangkan tekanan darah sistoliknya continues (peningkatan secara terus menerus).Risiko penyakit jantung meningkat secara progresif dan terus menerus dengan peningkatan tekanan darah sistolik atau diastolic, sekitar dua kali lipat untuk setiap 20/10 mm hg bertahap peningkatan tekanan darah yang terjadi dalam kisaran dari 115/75mmHg-185/115mm Hg. Pada lansia yang mempunyai suatu resiko terjadinya hipertensi dengan disertai penyakit kardiovaskuler dan ginjal, penting diperhatikan adalah penurunan tekanan sistolik dibandingkan dengan tekanan darah diastolik. Tidak normalnya tekanan darah pada lansia disebabkan oleh karena berkurangnya elastisitas pada aterosklerosis yang merupakan akumulasi dari kadar kalsium, kolagen, dan degradasi elastin pada arteri. (Aram V.Chobanian,2007) Peningkatan tekanan darah dapat menyebabkan perubahan endotel menjadi vasodilatasi pembuluh darah. Survei kesehatan nasional Amerika Serikat pada tahun 2003-2004, hanya 37% dari pengobatan pada hipertensi yang menyebabkan tekanan pembuluh darah <140/90 mmHg. Rendahnya kontrol terhadap penderita hipertensi sebagian besar menyebabkan tidak adekuatnya penanganan dari sistolik hipertensi. Beberapa uji klinis dengan menurunkan tekanan sistolik pada pasien dengan isolated systolic hypertension didapatkan hasil yang baik didalam system kardiovaskuler. Pada program penurunan sistolik hipetensi pada orang tua yang dilaksanakan dibeberapa Negara seperti eropa, cina, dan lain- lain dengan pemberian diuretic agent chlorthalidone selama 4,5 tahun pada pasien dengan tekanan darah sistolik mencapai 160 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik < 90 mmHg didapatkan insiden stroke (36%), coronary heart disease (27%), dan congestive heart failure (55%) dengan diberi
1

placebo sebagai control. Penelitian lain dengan uji klinik diberikan calcium-channel blocker nitrendipine pada pasien dengan isolated systolic hypertension didapatkan penurunan insiden stroke (42 and 38%), coronary heart disease (30 and 6%) dan congestive heart failure (29 and 58%). Sebuah meta- analisis dari delapan percobaan klinis yang melibatkan beberapa obat rejimen pada pasien 60 tahun atau lebih tua dengan tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih besar dan tekanan diastolik dibawah 95 mmHg menunjukkan bahwa pemberian pengobatan antihipertensi selama 3,8 tahun menurunkan angka kematian 13% dan kematian akibat kardiovaskuler 18% . Selain itu kematian akibat komplikasi kardiovaskuler menurun 26%,stroke 30 %, penyakit jantung koroner 23%. (Aram V.Chobanian,2007) Tujuan dari pengobatan hipertensi adalah menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik <140/90 mmHg kecuali pada pasien dengan riwayat diabetes militus atau penyakit ginjal kronis disarankan tekanan darahnya 130/80 mmHg atau lebih rendah. Untuk mencegah terjadinya hipertensi pada lansia salah satunya adalah dengan menurunkan berat badan, mengurangi konsumsi sodium, diet kaya buah- buhan dan sayur- sayuran serta makanan rendah lemak. (Aram V.Chobanian,2007) Ada 5 jenis obat antihipertensi yang bermanfaat yaitu: diuretics, -adrenergic blockers, angiotensin-convertingenzyme (ACE) inhibitors, angiotensin-receptor

blockers, and calcium-channel blockers. Pada uji klinis ke -5 obat tersebut dapat mengurangi kejadian penyakit kardiovaskuler. Dosis untuk pemberian obat antihipertensi setiap pasien berbeda-beda, pada 2/3 pasien dengan hipertensi. Diperlukan 2 atau lebih obat untuk menurunkan tekanan darah pada level yang normal. (Aram

V.Chobanian,2007)

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan, adapun masalah- masalah yang dapat dirumuskan ialah sebagai berikut: 1.2.1 1.2.2 1.2.3 Apa definisi dari hipertensi? Bagaimana epidemiologi dari hipertensi pada lansia? Bagaimana penatalaksanaan dari hipertensi pada lansia?

1.3

Tujuan Mengacu pada rumusan masalah, maka tujuan penulisan ini ialah sebagai berikut: 1.3.1 Pembaca dapat mengetahui bahwa hipertensi dapat menyebabkan komplikasi yang berakhir kematian. 1.3.2 Pembaca dapat memahami upaya- upaya penatalaksanaan hipertensi pada lansia.

1.4

Metodologi Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kajian dan analisis jurnal. Melalui metode ini, diharapkan informasi- informasi yang terkait dengan penatalaksanaan hipertensi pada lansia dan pencegahannya dapat disusun secara sistematika serta dapat memberikan gambaran yang relevan mengenai bahasan tersebut.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Definisi Hipertensi Hipertensi pada lansia merupakan suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan tekanan darah secara kronis, dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg. (Aram V, 2007; Frank dan Hannia,2010)

2.2

Epidemiologi Hipertensi Survei kesehatan nasional Amerika Serikat pada tahun 2003-2004, hanya 37% dari pengobatan pada hipertensi yang menyebabkan tekanan pembuluh darah dibawah 140/90 mmHg. Rendahnya kontrol terhadap penderita hipertensi sebagian besar menyebabkan tidak adekuatnya penanganan dari sistolik hipertensi. (Aram V, 2007) Beberapa uji klinis dengan menurunkan tekanan sistolik pada pasien dengan isolated systolic hypertension didapatkan hasil yang baik didalam system kardiovaskuler. Pada program penurunan sistolik hipetensi pada orang tua yang dilaksanakan dibeberapa Negara seperti eropa, cina, dan lain- lain dengan pemberian diuretic agent chlorthalidone selama 4,5 tahun pada pasien dengan tekanan darah sistolik mencapai 160 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik < 90 mmHg didapatkan insiden stroke (36%), coronary heart disease (27%), dan congestive heart failure (55%) dengan diberi placebo sebagai control. Penelitian lain dengan uji klinik diberikan calcium-channel blocker nitrendipine pada pasien dengan isolated systolic hypertension didapatkan penurunan insiden stroke (42 and 38%),coronary heart disease (30 and 6%)dan congestive heart failure (29 and 58%). Sebuah meta- analisis dari delapan percobaan klinis yang melibatkan beberapa obat rejimen pada pasien 60 tahun atau lebih tua dengan tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih besar dan tekanan diastolic dibawah 95 mmHg menunjukkan bahwa pemberian pengobatan antihipertensi selama 3,8 tahun menurunkan angka kematian 13% dan kematian akibat kardiovaskuler 18% . Selain itu kematian akibat komplikasi kardiovaskuler menurun 26%, stroke 30 %, penyakit jantung koroner 23%. Tujuan dari pengobatan ini adalah menurunkan tekanan darah kurang dari 140/90

mmHg. Kecuali pada pasien diabetes militus atau penyakit ginjal kronis disarankan tekanan darahnya 130/80 mmHg atau lebih rendah. (Aram V, 2007)

2.3

Penatalaksanan Hipertensi Ada 5 jenis obat antihipertensi yang bermanfaat yaitu: diuretics, -adrenergic blockers, angiotensin-convertingenzyme (ACE) inhibitors, angiotensin-receptor blockers, and calcium-channel blockers. Pada uji klinis ke -5 obat tersebut dapat mengurangi kejadian penyakit kardiovaskuler. Dosis untuk pemberian obat antihipertensi setiap pasien berbeda-beda, pada 2/3 pasien dengan hipertensi. Diperlukan 2 atau lebih obat untuk menurunkan tekanan darah pada level yang normal. (Aram V, 2007) Joint National Committee guidelines merekomendasikan thiazide diuretics

sebagai obat lini pertama pada pasien hipertensi. Pemberian obat inimemberikan komplikasi pada kardiovaskuler pada uji klinis, tetapi biaya pengobatan sangat murah. Pengobatan antihipertensi yang lain dapat merupakan pilihan utama pada kondisi- kondisi tertentu seperti pasien dengan hipertensi dan penyakit ginjal menahun maka dapat diberikan ACE inhibitor atau angiotensin-receptor blocker, dan untuk pasien yang mempunyai riwayat infark miocard atau gagal jantung dapat diberikan beta-blocker dan ACE inhibitor. Laki- laki usia lanjut dengan riwayat hipertensi dengan benign prostatic hypertrophy yang dirawat dengan gejala urinary dapat diberikan dengan -1-antagonis reseptor, yang dapat membantu mengontrol hipertensi namun dapat meningkatkan risiko ortostatik hipotensi. Obat hipertensi yang lainnya dapat diberikan.Thiazide tipe diuretik dapat memacu terjadinya karbohidrat intoleran dan diabetes. Efek lainnya sebagian besar pasien dapat mengalami hipokalemia. (Aram V, 2007) Beta-blockers merupakan pengobatan lini pertama pada lansia dengan hipertensi. Sebuah meta- analisis menunjukkan bahwa pemberian beta bloker pada hipertensi lansia menurunkan kejadian stroke 16% . Pemberian beta- blokers ini dapat menurunkan tekanan darah. Dan pemberian atenolol dapat menurnkan tekanan darah sampai 4, 5mmHg. Terapi awal dengan beta- blockers pada orang tua mempunyai indikasi yang jelas seperti coronary heart disease. Pada umumnya pemberian obat anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah pada lansia dapat diberikan 2- 4 minggu. Joint National Committee guidelines yang merupakan kumpulan organisasi profesi termasuk American
5

Medical Association,the American Heart Association, dan the American Society of Hypertension merekomendasikan thiazide type diuretics merupakan lini pertama pengobatan hipertensi dengan isolated systolic hypertension. Pemilihan obat

antihipertensi yang lain pada lansia harus mempunyai indikasi yang tepat. (Aram V, 2007) The joint guidelines of the European Society for Hypertension and the European Society of Cardiology tidak memberikan diuretik sebagai obat antihipertensi. Tetapi diberikan salah satu dari lima jenis obat utama untuk hipertensi pada lansia. Sedangkan Great Britain menggunakan keduanya yaitu diuretic dan beta- blockers sebagai lini pertama pengobatan hipertensi padaa lansia dan ditambah ACE inhibitors, angiotensin receptor blockers atau calcium-channel blockers. Efek pengobatan hipertensi pada pasien dengan usia 80 tahun atau lebih tidak tercapai dikarenakan pada penelitian lain yang mengatakan bahwa bila diberikan obat anti hipertensi pada pasien yang umurnya 85 tahun atau lebih menyebabkan tekanan darah sangat menurun dan dapat menimbulkan kematian. Selain itu 53% akan menyebabkan stroke. Pada penelitian tersebut juga didapatkan pada pemberian placebo tekanan darah dapat dipertahankan pada level 140/90 mmHg .sehingga pada 80 tahun atau lebih bila menderita hipertensi tidak perlu diberikan obat- obat anti hipertensi . (Aram V, 2007) Isolated systolic hypertension pada lansia merupakan resiko yang sangat tinggi dapat menyebabkan penyakit kardiovaskuler, penyakit jantung koroner dan penyakit ginjal. Upaya untuk mempertahankan tekanan sistolik agar tidak terjadi elevasi tekanan darah sistolik ini menunjukkan bahwa elastisitas dari pada pembuluh darah menurun yang terjadi pada lansia. Pasien harus dibedakan menjadi 2 yaitu: 1) hipertensi dimana tekanan sistolik lebih besar 160 mmHg dan mendapatkan pengobatan antihipertensi. 2) hipertensi lebih dari 160 mmHg tanpa obat- obatan. Tujuan dari pengobatan hipertensi pada orang tua adalah menurunkan tekanan darah menjadi 140/90 mmHg. Obat antihipertensi ini dapat diberikan dengan thiazide diuretic dan ditambah dengan obatobat yang lain tergantung indikasi seperti: ACE inhibitor,angiotensin angiotensinreceptor blocker, calcium channel blocker-, atau beta-blocker .Target penurunan tekanan darah dapat diikuti 3- 6 bulan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium seperti serum potassium atau kalium, kreatinin serum, gula darah, karena dalam pemberian
6

antihipertensi diuretic dapat menyebabkan karbohidrat intoleran, diabetes dan hipokalemia. (Aram V, 2007) Diuretik merupakan pengobatan anti hipertensipertama yang ditemukan pertama kali pada tahun 1937 dan terus dikembangkan tahun 1950. Sebagai anti hipertensi pertama kali ditemukan sulfonamide yang menyebabkan asidmia dan diuretik ringan. Kemudian dengan ditemukannya chlorothiazide yang dikatakan diuretik lebih efektif sebagai anti hipertensi tetapi menyebabkan ekskresi dari chlorida meningkat dibagian proximal tubulus ginjal, tetapi akan reabsorbsi kembal dibagian distal. Kerja dari Thiazide mengganggu reabsorbsi Natrium yang kerjanya menghambat Natrium Chlorida Elektroneural Symporter (menghambat transport NaCl) ditubulus proximalis ginjal dan menghambat kerja dari karbonik anhidrase. Semua Tiazide memiliki gugus sulfonamide yang tidak bersubstitusi. (Michael dan Marvin,2009) Semua golongan thiazide dapat diberikan per oral 60 sampai 70 % dapat diabsorbsi melalui saluran cerna dan didistribusikan keseluruh tubuh tetapi hanya sedikit yang laru tdalam lemak, oleh karena itu dosis dari thiazide diperlukan lebih tinggi agar efek diuretikanya lebih memadai pada target ,didalam darahakan terikat dengan plasma protein kemudian dimetabolisme, diekskresikan oleh system sekresi asam organic di tubulus conturtus proximalis dan sekresi tersebut bersaing dengan sekresi asam urat, sehingga bila penggunaan thiazide dalam waktu yang lama akan meningkatkan kadar asam urat didalam serum. (Michael dan Marvin,2009) Farmakodinamik dari thiazide dapat dibagi dalam dua fase yaitu fase jangka pendek dan fase jangka panjang. Pada awalnya pemberian thiaziode untuk mengurangi volume caira nekstra seluler dan volume plasma serta menurun kantekanan darah, efek tersebut disebabkan oleh aktifitas saraf simpatik dan renin-angiotensin-aldosteron dengan menginduksi resistensi pembuluh darah perifer. Penggabungan thiazine dengan angiotensin converting enzym inhibitor atau dengan Angiotensin II reseptor blocker dapat meningkatkan responsanti hipertensi. Pada dasarnya thiazide menghambat reabsorbsi NaCl dengan memblockade transporter Na/Cl, berbeda dengan diuretic yang bekerja yang menghambat reabsorbsi Ca, tetapi kerja dari thiazide meningkatkan reabsorbsi Ca. Thiazide mengakibatkan penurunan kadar Sodium intraseluler oleh karena kerja Thiazide juga memblokade masukan Sodium ke intraseluler. Pengobatan hipertensi dengan
7

diuretek dalam jangka panjang dapa tmenurunkan tekanan sistolik 10-15 mm Hg dan penurunan diastolic 5-10 mm Hg. Thiazine bila diberikan dengan antihipertensi lain akan meningkatkan efek anti hipertensi obat tersebut. (Michael dan Marvin,2009) Dosis thiazide antara 12,5 25 mg per hari, pada dosis renda hakan menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik pada lansia sebesar 50%, pemberian 12,5 mg perhari akan menyebabkan tekanan darah terkontrol untuk beberapa tahun sebesar 50 %. Penambahan dosis 25 mg per har iakan menyebabkan peningkatan respons sebesar 20%. .pada dosis yang tinggi 50- mg per hari harus disertai dengan pengukuran tekanan darah setiap hari. (Michael dan Marvin,2009) Sebagai akibat penggunaan monoterapi thiazide dapat menyebabkan hypokalimia untuk mengurangi efek hypokalimia dapat diberikan bersama-sama dengan anti hypertensi yang lain seperti ACE (Angiotensin Converting Ezym) Inhibitordan ARB (Angiotensin II Reseptor Blocker). (Michael dan Marvin,2009) Hipertensi dapat menyebabkan peningkatan morbiditas atau angka kesakitan pada orang- orang dengan tekanan darahnya diatas 115/75 mmHg (Aram V, 2007; Frank dan Hannia,2010). Hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan resiko stroke, myocardinal infraction, heart failure, renal failure, dan cognitive impairment. Resiko kematian sekitar 7,6 juta di dunia dengan kasus kardiovaskuler dapat dilihat apabila tekanan darahnya >115/75 mmHg (Frank dan Hannia,2010). Adapun 3 cara dalam pengobatan hipertensi yaitu: 1) pola diet yang sehat, 2) mengurangi asupan sodium, 3) mengurangi lemak tubuh atau berat badan. Asupan sodium yang tinggi sangat mempengaruhi perkembangan dari kejadian hipertensi. Sodium ini dapat menyebabkan peningkatan volume cairan intravascular, cardiac output, peripheral resistance, tekanan darah. Terjadinya elevasi pada tekanan darah menimbulkan tekanan natriuresis, dimana adanya peningkatan tekanan perfusi pada ginjal sehingga terjadi peningkatan ekskresi cairan dan sodium (Aram V, 2007). Banyaknya faktor yang mempengaruhi patofisiologi hipertensi, terutama pada orang tua atau lansia yaitu, pada arteri besar seperti aorta dan arteri carotid yang alirannya kurang sesuai ini dapat meningkatkan tekanan darah sistolik.Terjadinya proliferasi pada otot polos dan disfungsi endotel di arteri kecil dan arteriola, menyebabkan pembuluh darah di perifer vasokontriksi dan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer. Kadar renin-angiotensin aldosteron dapat
8

menyebabkan elevasi pada tekanan darah, aktivitas angiotensin II akan meningkat pada beberapa jaringan termasuk ginjal, endothelial vaskuler, dan kelenjar adrenal. (Michael dan Marvin,2009) Peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik mungkin juga dipengaruhi beberpa faktor seperti penuan dan obesitas berkontribusi pada patogeneis dari hipertensi melalui beberapa mekanisme. Adapun beberapa intervensi untuk menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi yaitu menurunkan asupan sodium dan mengurangi berat badan. Volume darah normal sanagt dipenagruhi oleh asupan sodium di dalam makanan dan ekskresi sodium di dalam ginjal. Asupan sodium juga sangat penting untuk mempertahankan vasodilatasi pada arteri. Beratnya aktivitas renin-angiotensin dan sistem saraf simpatik dan juga reabsorbsi sodium. Penurunan kadar lemak di dalam organ visceral abdomen juga dapat mempertahankan fungsi dan resistensi dari pembuluh darah. (Michael dan Marvin,2009) Pola diet sehat yang sudah diterapkan di Amerika Serikat untuk menurunkan tekanan darah dengan mengkonsumsi buah-buahan, sayur- sayuran, dan makanan rendah lemak seperti kacang-kacangan, ayam, ikan,dan sedikit daging merah. Berdasarkan peneltian oleh Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet, variants of that diet dan variations of the Mediterranean diet pada 459 orang dewasa dengan tekanan darah sistolik <160 mmHg dan tekanan diastolik 80-95 mmHg, 133 orang diantaranya memiliki riwayat hipertensi diberikan makanan yang mengandung buah-buahan dan sayur-sayuran serta makanan rendah lemak, dan asupan sodium dan berat badan di pertahankan secara konstan. Setelah pemberian selama 8 minggu diteruskan dengan memberikan asupan sayuran dan buah saja , hasilnya menunjukkan terjadi penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik 7,2 dan 2,8 mmHg.Sedangakn diet kombinasi (sayur-sayuran,buah-buahan dan makanan rendah lemak didapatkan penurunan dimana tekanan darah sistolik dan diastolik (11,4 dan 5,5 mmHg) ini menunjukkan bahwa semua peserta yang diteliti tidak menderita hipertensi. (Aram V, 2007; Frank dan Hannia,2010) Penelitian lainnya oleh DASH, dengan pemberian sodium pada 412 peserta yang sama pada penelitian DASH sebelumnya, diberikan diet kombinasi dan diberikan juga diet sodium dengan dosis tinggi, menengah, rendah (3.5, 2.3 dan 1.2 g per hari) selama 30 hari dengan mempertahankan berat badan secara konstan menyesuaikan dengan asupan
9

kalori total, hasilnya terjadi peningkatan tekanan sistolik dan diastolik secara signifikan pada kelompok peserta yang diberikan kadar sodium tinggi 3,5 g dan menengah 2,3 g per hari. Pemberian karbohidrat dan protein dengan kadar yang tinggi tidak menyebabkan hipertensi. (Aram V, 2007; Frank dan Hannia,2010) Penanganan hipertensi sangat bervariasi, pemberian makanan yang sehat mempengaruhi penurunan hipertensi baik yang dianjukan makanan sehat berdasarkan DASH (Dietary Approachti Stop Hypertension) dengan pengurangan konsumsi karbohidrat, atau makanan sehat berdasarkan Mediterania dengan mengurangi asupan Sodium, atau yang dianjurkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Frank M Sacks. dkk , penurunan asupan kalori dari 200 sampai 300 k.kal perhari dengan meningkatkan aktifitas fisik serta setiap hari pengukuran tekanan darah sampai mencapai target yaitu tekanan sistolik dibawah 140 mm Hg dan tekanan diastolic dibawah 90 mm Hg. (Frank dan Hannia,2010)

10

BAB III PENUTUP Hipertensi pada lansia merupakan suatu keadaan dimana terjadinya peningkatan tekanan darah secara kronis, dengan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan tekanan darah diastolik >90 mmHg. Penananganan hipertensi pada lansia dapat dilakukan dengan pengaturan pola diet sehat, seperti pengurangan konsumsi karbohidrat, mengurangi makanan yang mengandung sodium, mengkonsumsi buah-buahan dan sayur sayuran, sedikit daging merah, ikan,dan makanan rendah lemak, dan dengan penurunan asupan kalori 200 sampai 300 kkal perhari dan melakukan aktifitas fisik sampai tekanan darah memenuhi target <140/90 mm Hg. Adapun pengobatan untuk menurunan tekanan darah pada pasien hipertensi juga dapat dilakukan dengan obat thiazide diuretika dengan pemberian dosis rendah sampai dosis tinggi (12,5 mg, 25mg, 50mg per hari). Pemberian Thiazide sebagai obat hipertensi dapat dikombinasikan dengan golongan Angiotensin Converting Enzym (ACE) Inhibitor atau Angiotensin II Reseptor Blocker (ARB) yang dapat meningkatkan efek dari obat tersebut dalam pengobatan hipertensi.

11