Anda di halaman 1dari 22

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Demam Berdarah Dengue (DBD) 1. Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. DBD merupakan penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus Dengue dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksisilang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia kecuali ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Masa inkubasi penyakit ini diperkirakan lebih kurang 7 hari. 2. Epidemiologi Infeksi virus dengue telah ada di Indonesia sejak abad ke-18, seperti yang dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Saat itu infeksi virus dengue menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit demam lima hari (vijfdaagse koorts) kadang-kadang disebut juga sebagai demam sendi (knokkel koorts). Disebut demikian karena demam yang terjadi menghilang dalam lima hari, disertai dengan nyeri pada sendi, nyeri otot,dan nyeri kepala. Pada masa itu infeksi virus dengue di Asia Tenggara hanya merupakan penyakit ringan yang tidak pernah menimbulkan kematian.Tetapi sejak tahun 1952 infeksi virus dengue menimbulkan penyakit dengan manifestasi klinis berat, yaitu DBD yang ditemukan di Manila, Filipina. Kemudian ini menyebar ke negara lain seperti Thailand, Vietnam, Malaysia,dan Indonesia. Pada tahun 1968 penyakit DBD dilaporkan di

Surabaya dan Jakarta dengan jumlah kematian yang sangat tinggi. Faktorfaktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks, yaitu (1) Pertumbuhan penduduk yang tinggi, (2) Urbanisasi yang tidak terencana & tidak terkendali, (3) Tidak adanya control vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis, dan (4) Peningkatan sarana transportasi. Morbiditas dan mortalitas infeksi virus dengue dipengaruhi berbagai factor antara lain status imunitas pejamu, kepadatan vektor nyamuk, transmisi virus dengue, keganasan (virulensi) virus dengue, dan kondisi geografis setempat. Dalam kurun waktu 30 tahun sejak ditemukan virus dengue di Surabaya dan Jakarta, baik dalam jumlah penderita maupun daerah penyebaran penyakit terjadi peningkatan yang pesat. Sampai saat ini DBD telah ditemukan di seluruh provinsi di Indonesia, dan 200 kota telah melaporkan adanya kejadian luar biasa. Incidence rate meningkat dari 0,005 per 100,000 penduduk pada tahun 1968 menjadi berkisar antara 6-27 per 100,000 penduduk. Pola berjangkit infeksi virus dengue dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama. Di Indonesia, karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap tahun. 3. Etiologi Penyebab penyakit adalah virus dengue. Virus ini termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga flaviviridae, kelompok Arthropoda. Borne Viruses (Arbovirosis). Sampai saat ini dikenal ada 4 serotype virus yaitu ; 1. Dengue 1 (DEN-1) diisolasi oleh Sabin pada tahun1944. 2. Dengue 2 (DEN-2) diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944. 3. Dengue 3 (DEN-3) diisolasi oleh Sather 4. Dengue 4 (DEN-4)diisolasi oleh Sather.

Keempat type virus tersebut telah ditemukan diberbagai daerah di Indonesia dan yang terbanyak adalah type 2 dan type 3. Penelitian di Indonesia menunjukkan Dengue type 3 merupakan serotype virus yang dominan menyebabkan kasus yang berat. (Suhendro dkk, 2006). 4. Patofisiologi dan Patogenesis Fenomena patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya permabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diabetes hemoragik. Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meningginya nilai hematokrit. (Siregar, 2004). Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam berdarah dengue hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian besar menganut "the secondary heterologous infection hypothesis" yang mengatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah infeksi dengue pertama mendapat infeksi berulang dengan tipe virus dengue yang berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun. Akibat infeksi kedua oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, respons antibodi ananmestik yang akan terjardi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun dengan menghasilkan antibodi IgG anti dengue titer tinggi. Disamping itu replikasi virus dengue terjadi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah yang banyak. Hal-hal ini semuanya akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigenantibodi yang selanjutnya akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat antivasi C3 dan C5 menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Pada penderita renjatan berat, volume

plasma dapat berkurang sampai lebih dari pada 30% dan berlangsung selama 24 -48 jam. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekwat akan menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. (Soehendro dkk, 2006). Sebab lain dari kematian pada DBD ialah perdarahan saluran pencernaran hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi. Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar penderita DBD. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan. Jumlah trombosit secara cepat meningkat pada masa konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan penyakit. Kelainan sistem koagulasi mempunyai juga peranan sebagai sebab perdarahan pada penderita DBD. Berapa faktor koagulasi menurun termasuk faktor II, V, VII, IX, X dan fibrinogen. Faktor XII juga dilaporkan menurun. Perubahan faktor koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hepar yang fungsinya memang terbukti terganggu, juga oleh aktifasi sistem koagulasi (Siregar, 2004) . Pembekuan intravaskuler menyeluruh (PIM/DIC) secara potensial dapat terjadi juga pada penderita DBD tanpa atau dengan renjatan. Renjatan pada PIM akan saling mempengaruhi sehingga penyakit akan memasuki renjatan irrevesible disertai perdarahan hebat, terlihatnya organ-organ vital dan berakhir dengan kematian (Siregar, 2004) .

Secondary heterologous dengue infection Replikasi virus antibody response Kompleks virus-antibodi Aktivasi komplemen Anamnestic

Anafilatoksin (c3a,C5a)

Komplemen

Permeabilitas kapiler meningkat 30 % kasus syok 24- 48 jam

Histamin dalam urin meningkat Ht meningkat Natrium menurun Cairan dalam Rongga serosa

Perembesan plasma

Hipovolemi Syok Anoksia Asidosi

Meninggal Gambar 1. Patogenesis terjadinya syok pada DBD Sumber : Suvatte, 1977

5. Tanda dan Gejala Tanda-tanda dan gejala penyakit DBD adalah : 1. Demam Penyakit DBD didahului oleh demam tinggi yang mendadak terusmenerus berlangsung 2 - 7 hari, kemudian turun secara cepat. Demam secara mendadak disertai gejala klinis yang tidak spesifik seperti: anorexia lemas, nyeri pada tulang, sendi, punggung dan kepala.

2. Manifestasi Pendarahan. Perdarahan terjadi pada semua organ umumnya timbul pada hari 2-3 setelah demam. Sebab perdarahan adalah trombositopenia. Bentuk perdarahan dapat berupa : - Ptechiae - Purpura - Echymosis - Perdarahan konjunctiva - Perdarahan dari hidung (mimisan atau epestaxis) - Perdarahan gusi - Muntah darah (Hematenesis) - Buang air besar berdarah (melena) - Kencing berdarah (Hematuri)

Gejala ini tidak semua harus muncul pada setiap penderita, untuk itu diperlukan toreniquet test dan biasanya positif pada sebagian besar penderita Demam Berdarah Dengue. 3. Pembesaran hati (Hepatomegali). Pembesaran hati dapat diraba pada penularan demam. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan berapa penyakit Pembesan hati mungkin berkaitan dengan strain serotype virus dengue. 4. Renjatan (Shock). Renjatan dapat terjadi pada saat demam tinggi yaitu antara hari 3-7 mulai sakit. Renjatan terjadi karena perdarahan atau kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapilar yang rusak. Adapun tandatanda perdarahan: - Kulit teraba dingin pada ujung hidung, jari dan kaki. - Penderita menjadi gelisah. - Nadi cepat, lemah, kecil sampai tas teraba. - Tekanan nadi menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang) - Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80 mmhg atau kurang). Renjatan yang terjadi pada saat demam, biasanya mempunyai kemungkinan yang lebih buruk. 5. Gejala Klinis Lain. Gejala lainnya yang dapat menyertai ialah : anoreksia, mual, muntah, lemah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang (Wikipedia, 2008). B. Mata Rantai Penularan Demam Berdarah Dengue Morfologi dan siklus hidup

Aedes aegypti dewasa,berukuran lebih kecil dibandingkan dengan nyamuk rumah(Culex quinguefasciatus),mempunyai warna dasar yang hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian-bagian badanya terutama pada kakinya. Aedes aegypti juga dikenal dari ciri-ciri morfologi yang spesifik yaitu mempunyai gambaran ,menyerupai bentuklira (lyre-from) yang putih pada punggungnya.Spesies ini seperti juga nyamuk Anophelini lainya menjalani proses metamorfosis sempurn. Seekor nyamuk betina dapat meletakan rataratasebanyak 100 butir setiap kali bertelur (DEPKES RI, 2003). Telur Telur Aedes aegypti mempunyai dinding yang bergaris-garis menyerupai gambaran kain kasa (Ridad Agoes,2003:33). Kebanyakan Aedes aegypti betina dalam 1 siklus meletakan telur di beberapa tempat. Masa perkembangan embrio selama 48 jam pada lingkungan yang hangat dan lembab.setelah perkembangan embrio sempurna,telur dapat bertahan dalam keadaan kering dalam waktu yang lama (lebih dari satu tahun). Telur menetas bila wadah tergenang air, namuntidak semua telur menetas pada saat yang bersamaan.Kemampuan telur bertahan dalam keadaan kering membantu kelangsungan hidup spesies selama kondisi iklim yang tidak menguntungkan. Jentik dan Pupa Setelah kira-kira 2 hari telur menetas menjadi jentik lalu selama proses pertumbuhannya,jentik tersebut mengadakan pergantian kulit sebanyak 4 kali sehingga akhirnya tumbuh menjadi pupa dan kemudian menjadi dewasa.Jentik memerlukan empat tahap perkembangan. Jangka waktu perkembanganjentik tergantung pada suhu,ketersediadaan makanan, dan kepadatan jentik pada kontainer. Waktu yang dibutuhkan dari telur menetas hingga menjadi nyamuk dewasa adalah tujuh hari,termasuk dua hari masa pupa. Sedangkan pada suhu rendah,dibutuhkan waktu beberapa minggu (Depkes RI,2003). Nyamuk Dewasa

Pertumbuhan dari telur menjadi dewasa memerlukan waktu kira-kira 9 hari (Ridad Agoes,2002). Sesaat setelah menjadi dewasa , nyamuk akan segara kawin dan nyamuk betina yang telah dibuahi akan mencari makan dalam jangka waktu 24-36 jam jam kemudian. Darah merupakan sumber proten yang penting untuk pematang telur. Umur nyamuk dewasa betina di alam bebas kirakira 10 hari,sedangkan di laboratorium mencapai umur 2 bulan (Depkes RI,2003). Nyamuk betina melekatkan telurnya diatas permukaan air keadaan menempel pada dinding tempat perindukannya. Tempat Perindukan dan Kebiasaan Hinggap Tempat perindukan utama Aedes aegypti adalah tempat-tempat berisi air bersih yang berada didalam rumah atau berdekatan dengan rumah penduduk,biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah.Tempat perindukan tersebut berupa tempat perindukan buatan manusia,seperti tempayan atau gentong tempat penyimpanan air minum, bak mandi, tangki atau menara air,talang hujan, jambangan atau pot bunga, kaleng, botol, drum , ban mobil,yang terdapat dihalaman rumah atau dikebun yang berisi air hujan, juga tempat perindukan alamiah, seperti kelopak daun tanaman (keladi, daun pisang), tempurung kelapa ,lubang pohon yang berisi air hujan. Di tempat perindukan aedes aegypti, seringkali ditemukan jentik Aedes Albopictus yang hidup bersamasama (Depkes RI ,2003). Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium penyakit DBD adalah sebagai berikut:
a.

Jumlah leukosit dapat normal, namun leukopenia bisa dijumpai pada awal penyakit, dengan dominasi neutrofil

b.

Trombositopenia dan hemokonsentrasi ( hematokrit meningkat 20% atau lebih). Penurunan trombosit di bawah 100.000/mm 3 biasanya ditemukan antara hari sakit 3-8 hari.

c.

Albuminuria ringan yang bersifat sementara

d. e.

Sering dijumpai adanya darah dalam tinja Uji koagulasi dan fibrinolitik menunjukkan adanya penurunan kadar fibrinogen, protrombin, faktor VIII, faktor XII dan antitrombin III. Penurunan antiplasmin (plasmin inhibitor) dijumpai pada beberapa kasus.

f.

Hasil laboratorium lainnya adalah hipoproteinemia, hiponatremia. Asidosis seringkali dijumpai pada kasus penyakit yang disertai syok berkepanjangan (Depkes RI, 2003).

Kriteria Diagnosa klinis Diagnosa penyakit DBD ditegakkan jika ditemukan: a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terusmenerus selama 2-7 hari b. Manitestasi Perdarahan c. Tombositoperiia yaitu jumlah trombosit dibawah 150.000/mm3, biasanya ditemukan antara hari ke 3-7 sakit. d. Hemokonsentrasi yaitu meningkatnya hematokrit, merupakan indikator yang peka Terhadap jadinya renjatan sehingga perlu dilaksanakan penekanan berulang secara periodik. Kenaikan Ht 20% menunjang diagnosa klinis Demam Berdarah Dengue. Mengingat derajat berat ringan penyakit berbeda-beda, maka diagnosa secara klinis dapat dibagi atas (WHO 75). 1. Derajat I (ringan). Demam mendadak 2 7 hari disertai gejala klinis lain, dengan manifestasi perdarahan dengan uji truniquet positif 2. Derajat II (sedang). Penderita dengan gejala sama, sedikit lebih berat karena ditemukan perdarahan spontan kulit dan perdarahan lain.

3. Derajat III (berat). Penderita dengan gejala shoch/kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (< 20 mmhg) atau hipotensi disertai kulit dingin, lembab dan penderita menjadi gelisah. 4. Derajat IV (berat). Penderita shock berat dengan tensi yang tak dapat diukur dan nadi yang tak dapat diraba (Buku Ajar Penyakit anak, 2003). 1. Nyamuk Penular DBD Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini mempunyai dasar hitam dengan bintik- bintik putih pada bagian badan, kaki, dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan atan sari bunga untuk keperluan hidupnya. Sedangkan yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia dari pada binatang. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya pagi (pukul 9.0010.00) sampai petang hari (16.00-17.00). Aedes aegypti mempunyai kebiasan mengisap darah berulang kali untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat infektif sebagai penular penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau diluar runlah. Tempat hinggap yang disenangi adalah benda-benda yang tergantung dan biasanya ditempat yang agak gelap dan lembab. Disini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya nyamuk betina akan meletakkan telurnya didinding tempat perkembangbiakan, sedikit diatas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu 2 hari setelah terendam air. Jentik kemudian menjadi kepompong dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa (Agoes dkk, 2005). 2. Mekanisme Penularan Penyakit Demam Berdarah Dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini mendapat virus Dengue sewaktu mengigit mengisap darah orang

yang sakit Demam Berdarah Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue. Seseorang yang didalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah mengisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain (masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti yang telah mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiapkali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (Agoes, 2005). 3 . Akibat Penularan Virus Dengue Orang yang kemasukan virus dengue, maka dalam tubuhnya akan terbentuk zat anti yang spesifik sesuai dengan type virus dengue yang masuk. Tanda atau gejala yang timbul ditentukan oleh reaksi antara zat anti yang ada dalam tubuh dengan antigen yang ada dalarn virus dengue yang baru masuk. Orang yang kemasukkan virus dengue untuk pertamakali, umumnya hanya menderita sakit demam dengue atau demam yang ringan dengan tanda/gejala yang tidak spesifik atau bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit sarna sekali (asymptomatis). Penderita demam dengue biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu 5 hari tanpa pengobatan. Tanda-tanda demam berdarah dengue ialah demarn mendadak selama 2-7 hari. Panas dapat turun pada hari ke 3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 panas mendadak turun. Tetapi apabila orang yang sebelumnya sudah pemah kemasukkan virus dengue, kemudian memasukkan virus dengue dengan tipe lain maka orang tersebut dapat terserang penyakit demam berdarah dengue (teori infeksi

skunder) (Soehendro dkk, 2006). 4. Tempat Potensial Penularan DBD Penularan Demarn Berdarah Dengue dapat terjadi disemua tempat yang terdapat nyamuk penularan. Adapun tempat yang potensial untuk terjadinya penularan DBD adalah : (Siregar, 2004) 1. Wilayah yang banyak kasus DBD (Endemis). 2. Tempat-tempat unlum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar tempat - tempat umum antara lain: a. Sekolah. b. RS / Puskesmas dan Sarana pelayanan kesehatan lainnya. c. Tempat mnmn lainnya seperti : hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat ibadah dan lain-lain. 3. Pemukiman baru dipinggir kota. Karena dilokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah dimana kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier. 5. Tatalaksana Pencegahan Peristiwa DBD Pencegahan penyakit DBD yang terpenting adalah dengan memutuskan rantai penularan antara host dengan vektor yang menularkan penyakit DBD. Cara pencegahan yang terbaik adalah dengan melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan melibatkan peran serta masyarakat. PSN yang dicanangkan dalam rangka pencegahan DBD adalah 3 M ( Menutup, Menguras dan Mengubur ). Adapun kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk peran serta masyarakat antara lain : a) Penyuluhan kesehatan

b) c)

Membersihkan tempat-tempat penampungan air sedikitnya sekali/ minggu Mengubur benda-benda yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, botol, ban bekas, dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk aedes aegypti.

d) e) f) g) h)

Menutup tempat-tempat penyimpanan air seperti tempayan, drum, dll. Mengganti air pot bunga seminggu sekali Melipat baju-baju yang tergantung Memelihara ikan pemakan jentik ( ikan kepala timah, ikan gupi, dll) pada kolam hias yang ada di rumah atau di lingkungan rumah. Memasukkan larvasida ( abate ) pada pempat penampungan air yang tidak dapat dikuras atau di tutup rapat, 10 gram untuk 100 liter air.

Untuk memberantas nyamuk dewasa dilakukan pengasapan ( fogging ) di dalam rumah penderita dan di dalam rumah-rumah sekitar rumah penderita dengan radius sejauh 100 meter, sebanyak 2 kali dengan interval waktu 10 hari. (Agoes, 2005). D. Tindakan Pengendalian Vektor DBD Penyehatan lingkungan merupakan cara terbaik untuk pengendalian vektor DBD. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan usaha yang terus menerus secara teratur dalam waktu yang lama. Hasil yang diharapkan sering tidak tampak dengan segera. Diperlukan bantuan dan kerjasama masyarakat sekitarnya. Bila dianggap perlu, sebaiknya bersamaan dengan pengontrolan dengan menggunakan bahan kimia yang dalam waktu yang relatif singkat dapat mengurangi jumlah populasi vektor, meskipun pengurangan tersebut hanya bersifat sementara. Kontrol secara kimiawi umumnya hanya bersifat represif untuk sementara waktu, jadi hanya merupakan pelengkap bagi usaha-usaha penyehatan lingkungan. Sesuai dengan Program Kerja Pusksmas Kedaton, kegiatan yang dilaksanakan adalah : 1. Meniadakan atau memberantas sumber-sumbernya

2. Penyehatan lingkungan 3. Penyuluhan kesehatan pada masyarakat 4. Chemical control Untuk mewujudkan terlaksananya kegiatan di atas, diperlukan hal sebagai berikut :
1. Survei pendahuluan untuk mengumpulkan data mengenai vektor yang

akan ditanggulangi
2. Operasi pemberantasan berdasarkan data yang telah diperoleh.

Survei dapat dibagi dalam 3 Fase : 1. Survei pendahuluan untuk menentukan


a. Ada tidaknya vektor di suatu daerah b. Bila ada; kepadatan (indeks), habitat, distribusi, dan sifat-sifat khas

vektor tersebut. 2. Operational survey Setelah mengetahui biologi, ekologi dan kepadatan vektor, disusun rencana pemberantasan yang paling tepat. Cara ini diterapkan di daerah kontrol. 3. Evaluasi Setelah operasi diatas dilaksanakan, maka hasilnya dievaluasi. Bila hasilnya memuaskan, cara tersebut dapat digunakan sebagai standar tindakan pemberantasan selanjutnya. Bila hasil kurang memuaskan, maka dicari metoda lain yang lebih sesuai. Kegiatan pemberantasan nyamuk Aedes aegypti dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa dan terhadap jentiknya. 1. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Penggerakan PSN adalah usaha dari-oleh dan untuk masyarakat yang bertujuan untuk membasmi jentik nyamuk Aedes aegypti. Titik berat program pemberantasan penyakit demam berdarah dengue adalah penyuluhan dan penggerakan masyarakat. Dengan demikian upaya pemberantasan penyakit demam berdarah dengue bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah saja melainkan juga tanggung jawab seluruh warga masyarakat (Ditien PPM & PLP, 1997). Penggerakan PSN di desa atau kelurahan adalah upaya untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam mencegah penyakit demam berdarah dengue dengan memberantas jentik nyamuk. Tujuan kegiatan ini adalah agar masyarakat tahu-mau-mampu mencegah penyakit DBD di rumah dan lingkungannya dengan melakukan PSN-DBD secara terus-menerus, sehingga rumah dan lingkungannya bebas jentik nyamuk Aedes aegypti. Dengan demikian wilayahnya terbebas dari penularan penyakit. PSNDBD dilakukan dengan cara "3M" Plus yaitu : (1) menguras tempat penampungan air, sebaiknya seminggu sekali (2) menutup rapat-rapat tempat penampungan air, (3) mengubur atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dan Pemberian Abatisasi di tempat-tempat penampungan air (Ditjen PPM & PLP, 1997). Penyuluhan Untuk PSN Penyuluhan kesehatan masyarakat mempunyai tujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat Berta. meningkatkan peran aktif masyarakat. Peranan penyuluhan kesehatan masyarakat dalam PSN sangat penting karena faktor perilaku merupakan penyebab utama dari penyebaran DBD ini (James Chin,2006). Oleh karena itu upaya penggerakan masyarakat dalam PSN merupakan upaya penyuluhan keschatan yang harus direncanakan baik secara lintas program maupun lintas sektor terkait Berta mensepakati mekanisme koordinasi sehingga memperlancar penggerakan PSN di lapangan (Ditjen PPM & PLP, 1997).

Untuk menjalin hubungan dan kerjasama yang baik dalam rangka memperoleh dukungan (komitmen) dari sektor lain (puskesmas, kecamatan, dll) , diperlukan beberapa hal antara lain : a. Memberikan pemahaman kepada pihak/sektor terkait tentang

permasalahan penyakit DBD : (1) Penyakit DBD berpotensi untuk menyebabkan kematian dan letusan atau KLB
(2) Penularannya; nyamuk Aedes aegypti, tempat perkembangbiakan dan

somber penularan yang tidak saja penderita DBD tapi juga yang tanpa gejala (fenomena gunung es)
(3) Situasi penyakit DBD (distribusi kasus, kematian) saat ini dan

kecendercungan pada masa yang akan datang.


(4) Penyebab utama penyebaran DBD; nyamuk penularnya tersebar luas

(data ABJ atau house index) sedang faktor pendukungnya antara lain morbiditas dan kepadatan penduduk yang semakin meningkat.

b. Mencari satu atau beberapa hal yang dapat dikaitkan dengan misi, tanggung jawab, atau hal yang bersifat menguntungkan sektor terkait. 1. Tolak Ukur Keberhasilan Keberhasilan penggerakan PSN-DBD di suatu wilayah adalah rendahnya kepadatan populasi jentik nyamuk Aedes aegypti. Indikator yang digunakan adalah angka bebas jentik (ABJ). Yaitu persentase rumah atau bangunan yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti (Ditjen PPM & PLP, 1997) . Untuk wilayah perimeter permukiman, angka bebas jentiknya harus 100% atau house indeksnya 0. sedangkan di wilayah penyangga diusahakan house index-nya kurang dari 1 %. 2. Abatisasi

Dalam melaksanakan kegiatan abatisasi, digunakan dua jenis racun jentik (larvasida); yaitu dengan abate SG 1% dan altosid. Bubuk abate adalah suatu pestisida berbahan aktif temephos untuk membunuh jentik-jentik nyamuk di tempat berkembangnya (Kasumbogo Untung, 2005) Bubuk abate berwarna kecoklatan, terbuat dari pasir yang dilapisi dengan zat kimia yang dapat membunuh jentik nyamuk. Jika dimasukkan ke dalam air, maka sedikit demi sedikit zat kimia tersebut akan larut secara merata dan membunuh semua jentik nyamuk yang ada dalam tempat penampungan air tersebut (Ditjen PPM & PLP, 1997). Selain itu ada juga yang menempel pada dinding tempat penampungan air dan bertahan sampai 3 bulan bila tidak disikat. Oleh sebab itu penaburan abate perlu diulang setiap 3 bulan sekali

Untuk membunuh larva diperlukan dosis 1 ppm, dengan kata lain 10 liter cukup dengan 1 gram bubuk abate atau 10 gram untuk 100 liter. Takaran tidak perlu tepat benar sebab dalam takaran yang dianjurkan, aman bagi manusia dan tidak menyebabkan keracunan. Abate dan altosid tidak berbahaya bagi manusia. Dalam takaran pemakaian yang dianjurkan, tidak merubah bau, warna dan rasa, sehingga air dapat dipergunakan sebagai air minum, memasak dan lain sebagainya. (Dirjen PPM & PLP, 1997).
a. Larvasida di tempat-tempat air minum. Biasanya juga menggunakan

bubuk abate 1 ppm. Pada pemberian abate sebaiknya diperhitungkan volume penuh setiap kontainer, meskipun pada waktu pembubuhan abate kontainer itu tidak/belum terisi penuh.
b. Larvasida di tempat-tempat air yang bukan untuk diminum. Derivat-

derivat minyak bumi (kerosene, minyak tanah minyak diesel, d1l) mempunyai daya larvasida yang bersifat sementara. Untuk mencegah reinvestasi pemberian hares berulang-ulang. Saat ini sedang dilakukan penelitian terhadap permetrin (piretroid sintetik yang yang mempunyai daya bunuh tinggi dan toksisitas yang sangat rendah terhadap mamalia dan organisms nontarget) sebagai insektisida altematif untuk

pengendalian vektor DBD bila resistensi temefos terjadi (Frieda Bolang, 2004).
3. Pengasapan

Tujuan Pengasapan (fogging) bertujuan untuk membunuh atau menurunkan populasi vektor penyebar penyakit DBD, yaitu nyamuk dewasa Aedes aegypti sehingga indeksnya dibawah 1% di daerah buffer dan 0 pada wilayah perimeter (ditjen PPM &PL, 1995). Selain hal itu, indikasi penyemprotan dilakukan bila :

1. 2. 3.

Ada kasus DBD yang jatuh syok atau mati Jumlah kasus demam berdarah yang lebih dari satu Ada kasus demam, berdarah dengan konfirmasi laboratorium positif.

D. Indeks Aedes aegypti Suatu cara dalam menentukan infestasi Aedes aegypti di suatu wilayah adalah dengan mengadakan survei pendahuluan di wilayah tersebut, kemudian dalam waktu singkat seluruh daerah diperiksa, semua container air yang memungkinkan (potential breeding places) diteliti (Ditjen PPM & PLP. 1989) Sebagai ukuran infestasi Aedes Aegypti di suatu wilayah, digunakan beberapa jenis indeks: 1. Indeks Larva a. House index : % rumah dimana ditemukan sarang-sarang Aedes aegypti di suatu wilayah. House index inilah yang dimaksud sebagai Aedes indeks di MR. b. Container index: % kontainer yang menjadi sarang Aedes aegypti di suatu wilayah.

c. Breteau index: Jumlah kontainer yang menjadi sarang Aedes aegypti per 100 rumah di suatu wilayah.

Sebagai contoh : Di suatu wilayah diperiksa 500 rumah dan ditemukan 1000 kontainer. Ternyata kontainer yang mengandung larva ada 300 buah. Kontainerkontainer ini terdapat di 125 rumah. Maka untuk wilayah tersebut diperoleh indeks-indeks sebagai berikut

HI = 125 x 100% = 25% 500

CI = 300 x 100% = 30% 1000

BI = (

300 500: 100

) = 60

2. Indeks Ovitrap Bila infestasi Aedes Aegypti di suatu wilayah rendah hingga sukar ditemukan larvanya, dapat digunakan ovitrap. Ialah kontainer buatan yang sengaja dipasang di tempat-tempat tertentu. Ovitrap index=% ovitrap yang menjadi sarang Aedes aegypti

3. Biting Rate

Untuk menentukan kepadatan nyamuk dewasa dapat digunakan landing rate atau biting rate. Dilakukan dengan cara 3 orang selama masa 3 jam berturut-turut membiarkan dirinya dihinggapi atau digigit nyamuk. Seluruh nyamuk yang hinggap di tubuh mereka ditangkap dan dikumpulkan, kemudian diadakan determinasi species (Ditjen PPM &PLP,1989). Biting rate adalah jumlah Aedes aegypti betina yang tertangkap per orang per jam. Penangkapan dilakukan pada saat-saat kegiatan nyamuk memuncak, misalnya waktu pagi atau menjelang senja.

Pengertian Indeks-Indeks Vektor Berdasarkan penelitian dan survei komputer oleh WHO, diperoleh korelasi antara kepadatan Aedes aegypti di suatu wilayah dengan kemungkinan transmisi penyakit. Angka kepadatan atau density figure diperoleh dari indeksindeks larva.

Tabel 1. Hubungan kepadatan nyamuk dengan angka indeks Aedes aegypti Density Figure 1 2 3 4 5 6 House Index 1 -3 4-7 8-17 18 28 29 37 38 Container Index 1-2 3 -5 6-9 10-14 15 20 21 Breteau Index 1-4 5-9 1019 20 34 35 49 50 -

7 8 9

49 50 59 60 76 > 77

27 28 31 32 40 > 41

75 75 99 100199 > 200

Daerah-daerah dengan density figure di atas 5 (breteau index diatas 50) besar sekali kemungkinan penularan DBD. Sedangkan di wilayah dengan density figure 1 (Breteau index dibawah 5) kemungkinan transmisinya kecil sekali. Jika house index di pelabuhan mencapai 1% atau angka kepadatan ( density figure) buffer area diatas 5 (Breteau indeks diatas 50) harus melakukan pemberantasan (Ditjen PPM &PLP,1989). Ahli-ahli WHO menemukan pula hubungan antara density figure dengan biting rate. Secara garis besar density figure kira-kira nilai bitting rate. Nilai ini kurang lebih sebanding pula dengan kepadatan populasi Aedes Aegypti betina sebanyak 1000 ekor tiap hektar. Jadi makin tinggi density figure, makin besar kemungkinan kontak antara manusia dan vektor dan makin besar pula kemungkinan transmisi DBD di wilayah tersebut (Ditjen PPM & PLP, 1989).