Anda di halaman 1dari 3

HIV AIDS Promotif : Sosialisasi tentang HIV AIDS di masyarakat, sekolah maupun lokalisasi.

Sosialisasi HIV AIDS meliputi pengertian HIV dan AIDS; proses penularan; infeksi HIV; tanda-tanda fisik ODHA; cara pencegahan; kelompok resiko tinggi penularan HIV/AIDS; dan peran masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS. AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus yang menyebabkan kekurangan imun. HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu : 1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan 2. Pengguna narkoba suntik 3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik 4. Bayi yang ibunya positif HIV Preventif : Tidak berganti-ganti pasangan, tidak melakukan seks bebas, menggunakan kondom, menggunakan jarum suntik yang bersih Perilaku seks bebas masih mendominasi penularan HIV/AIDS. Menurut data WHO, pada tahun 1983-1995, sebanyak 70-80% penularan HIV dilakukan melalui hubungan heteroseksual, sedangkan 5-10% terjadi melalui hubungan homoseksual. Kontak seksual melalui vagina dan anal memiliki resiko yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak seks secara oral. Perlu diwaspadai memang cara cara penularan virus ini sangat beragam penyebabnya. Terlebih bisa dikatakan seseorang yang mempunyai kelainan seksual lebih condong akan suka berganti ganti pasangan, walaupun tidak semua seperti itu. Pencegahan HIV melalui hubungan seksual dapat dilakukan dengan tidak berganti-

ganti pasangan dan menggunakan kondom. Cara pencegahan lainnya adalah dengan melakukan hubungan seks tanpa menimbulkan paparan cairan tubuh. Untuk menurunkan beban virus di dalam saluran kelamin dan darah, dapat digunakan terapi anti-retroviral. Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini adalah melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi, terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat kesehatan. Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah), HIV dapat dicegah dengan menggunakan jarum dan alat suntik yang bersih. Penularan HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). Hal ini pun dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan menghindari donor yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV. Represif : Terapi dan motivasi bagi penderita HIV HIV/AIDS pada saat ini telah menjadi wabah penyakit yang ditakuti oleh masyarakat dan diperkirakan telah menginfeksi jutaan orang diseluruh dunia. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit paling berbahaya dan mematikan dalam sejarah, karena pada saat ini belum ada obatnya. ecara langsung telah menghancurkan dan merusak sumbar daya manusia. Pada akhirnya dalam kehidupan masyarakat permasalahan ini aka menimbulkan dan menciptakan hukuman sosial dalam masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS. Hukuman dari masyarakat ini berupa tindakan stigmasi dan diskriminasi terhada ODHA. Bahwa tidak seharusnya ada sikap mendiskreditkan ODHA. Pasalnya, tindakan stigamsi dan diskriminasi justru akan membuat penyakit semakin parah, membuat ODHA makin tertekan dan lamakelamaan depresi, dan dapat menyebabkan gangguan emosi. Jika emosi terganggu, kesehatan akan semakin menurun. Apabila

penderita sampai depresi maka penyakitnya semakin parah. Hal ini justru akan membuat penderita semakin terpuruk dan takut prihal keberadaanya di dalam lingkungan masyarakat. Secara tidak langsung ini akan menghambat dan menjadi kendala dalam menangani penyebaran virus HIV/AIDS. Penularan HIV/AIDS tidak semudah yang dibayangkan. jadi ketika ada seseorang yang terkena HIV/AIDS, yang harus dilakukan adalah merangkulnya, bukan justru menjauhinya. Jangan biarkan penderita sendiri dan kita harus memberikan semangat dan motivasi kepada penderita. Jika kita pahami, sebenarnya kita dapat mengambil pembelajaran dan informasi penting dari penderita ODHA sehingga kita dapat mengetahui penyebab terjadinya, gejala, dan dampak yang dialami penderita. Sikap stigmasi dan diskriminasi harus kita hindari menggingat permasalahan yang dihadapi harus segara ditangani secepatnya, dalam upaya menekan penyebaran HIV/AIDS di masyarakat kedepannya. Sikap lapang dada, toleransi dan kepedulian serta kerjasama masyarakat diharapakan mampu membantu menekan dan meminimalisir bahkan menyelesaikan permasalahan penyebaran HIV/AIDS.