Anda di halaman 1dari 51

CBD TUNGGAL

SEORANG ANAK DENGAN GASTROENTERITIS DEHIDRASI SEDANG DAN STATUS GIZI BURUK

CBD TUNGGAL SEORANG ANAK DENGAN GASTROENTERITIS DEHIDRASI SEDANG DAN STATUS GIZI BURUK Pembimbing: dr. Hartono, Sp.A

Pembimbing:

dr. Hartono, Sp.A dr. Slamet Widi, Sp.A dr. Z. Hidayati, Sp.A dr. Opy Dyah Paramita, Sp.A

Disusun Oleh:

Sekartika Dien Aspuri

01.208.5780

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2012

PRESENTASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

Nama pasien

: An. N

Umur

: 11 Bulan

Jenis kelamin : Perempuan

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Samberejo puro RT/RW 02/07, Mranggen

Nama ayah

: Tn. K

Umur

: 25 tahun

Pekerjaan

: Swasta

Pendidikan

: SD

Nama ibu

Umur

: Ny. R : 23 tahun

Pekerjaan

: Swasta

Pendidikan

: SD

Bangsal

: Parikesit

No. CM

: 20.75.01

Masuk RS

: 2 Agustus 2012

II. DATA DASAR

1.

Anamnesis Aloanamnesis dengan ibu pasien dilakukan pada tanggal 3 Agustus 2012

pukul 15.00 WIB di ruang Parikesit.

  • a. Keluhan utama : Diare

  • b. Keluhan tambahan : Demam, pilek, mual, muntah, tidak nafsu makan, nafsu untuk minum meningkat, badan lemes.

  • c. Riwayat Penyakit Sekarang Sebelum masuk RS:

3 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh muntah-muntah jam 11 siang. Muntah lebih dari 5 x sehari. Setiap muntah sebanyak ½ gelas belimbing. Muntah berisi makanan dan minuman yang dimakan, darah (-). Sorenya pasien diare lebih dari 5x sehari. Diare berwarna kuning, ± sebanyak ½ gelas belimbing, tidak nyemprot, ampas (+), darah (-), lendir (+). Diare dan muntah disertai dengan demam. Demam dirasakan terus menerus, tidak menggigil, tidak mengigau saat tidur, dan tidak kejang. Tanda perdarahan seperti epistaksis, gusi berdarah, dan bintik-bintik merah pada kulit disangkal. Demam disertai pilek, batuk disangkal. Oleh ibu, pasien diberi parasetamol sirup, demam turun sementara waktu dan naik kembali setelah beberapa jam. 2 hari sebelum masuk RS pasien masih mengeluh BAB cair > 5x dalam sehari, tidak nyemprot, BAB berwarna kuning, ampas (+), lendir (+), darah (-), volume sekitar 1 gelas belimbing. Disertai mual dan muntah setiap kali habis makan maupun minum. Muntah + 3x berisi air, dan makanan, darah (-), volume sekitar ½ gelas belimbing disertai demam. Ibu pasien sudah membawa ke puskesmas terdekat namun keluhan dirasakan makin berat. 1 hari sebelum masuk RS pasien mengeluh belum ada perbaikan, demam (+). BAB masih cair 5x, tidak nyemprot, berwarna kuning, ampas (+), lendir (+), darah (-), volume + ½ gelas belimbing. Masih disertai mual dan muntah. Muntah ± 3x sehari. Nafsu makan dan minumnya menurun. Badan menjadi lemes. Waktu di bawa ke IGD RSUD Kota Semarang pasien masih mengeluh diare 2x cair, berwarna kuning, berampas, lendir (+), darah (-), volume + ¼ gelas belimbing. Berbau asam dan tengik disangkal, menyemprot disangkal, lengket disangkal, BAB seperti air cucian beras dan berbau amis disangkal. Demam (+) 38,3 0 C anak gelisah dan rewel, tidak mau makan, tapi minumnya kuat. Mual ( - ) dan muntah ( - ), pilek ( - ), sesak ( - ). BAK terakhir pagi jam 07.00 WIB dan jumlah nya berkurang dari biasa. Sejak diare ini anak semakin rewel dari biasanya, anak menjadi lebih haus dari biasanya, orang tuanya mengaku bagian bawah mata anak menjadi lebih cowong dari biasanya, bibirnya kering, dan badannya semakin kurus. Kemudian pasien dirawat diruang Parikesit.

Pasien sejak lahir minum ASI sampai umur 6 bulan. Setelah usia > 6 bulan ibu pasien memberikan susu formula. Pasien mengaku memiliki riwayat diare berulang namun biasanya lekas sembuh. Ibu pasien mengaku hanya memiliki 2 botol susu namun hanya satu yang sering digunakan dan dicuci hanya dengan dibilas air hangat. Susu diberikan saat anak haus. Pengencerannya 2 sendok untuk 60 cc. Jika ada sisa susu selalu dibuang.

Setelah masuk RS:

1 hari setelah masuk RS, anak masih demam semlenget, BAB 3x cair, ampas (+), lendir (+), darah (-). Mual dan muntah 2x berisi air dan makanan, pilek (-). Sudah mulai mau makan namun masih sedikit dan BAK nya sudah seperti biasanya, sudah tidak rewel, mata cowong ( - ), bibir kering ( - ).

d.

Riwayat Penyakit Dahulu

 

Penyakit

Umur

Penyakit

Umur

Diare

9 bulan

Varicella

Disangkal

Otitis

Disangkal

Typhoid

Disangkal

TBC

Disangkal

Cacingan

Disangkal

Kejang

Disangkal

Alergi

Disangkal

e.

Riwayat Penyakit Keluarga

 

Tidak ada yang mengalami keluhan sama seperti pasien pada keluarga pasien.

f.

Riwayat Persalinan dan Kehamilan

 

Anak perempuan dari ibu G1P0A0, hamil 39 minggu, lahir secara spontan ditolong oleh bidan. Bayi langsung menangis saat lahir. Berat badan lahir 3.500 gram, panjang badan lahir, lingkar dada dan lingkar kepala ibu lupa. Kesan: neonatus aterm, lahir spontan.

g.

Riwayat Pemeliharaan Prenatal

 

Ibu rutin memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat. Selama ibu hamil, ibu mendapat suntikan TT 2 kali. Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. Riwayat

trauma disangkal. Obat – obatan yang diminum selama masa kehamilan adalah vitamin dan obat penambah darah dari bidan.

Kesan: riwayat pemeliharaan prenatal baik

  • h. Riwayat Pemeliharaan Postnatal Pemeliharaan postnatal dilakukan di Posyandu dan mendapat imunisasi dasar lengkap. Kesan: riwayat pemeliharaan postnatal baik

  • i. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Pertumbuhan

Berat badan lahir adalah 3.500 gram. Berat badan sekarang adalah 9,5

kg. Tinggi badan sekarang adalah 60 cm. Perkembangan

Senyum

: 1 bulan

Miring

: 2 bulan

Tengkurap

: 3 bulan

Gigi keluar

: ibu lupa

Duduk

: ibu lupa

Merangkak

: ibu lupa

:

Berdiri

: 10 bulan

Berjalan

-

Bicara Kesan: pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai umur

:

-

  • j. Riwayat Makan dan Minum Anak ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Mulai usia 6 bulan, anak diberi asi dan susu formula. Mulai usia 8 bulan, anak diberi nasi tim dan ditambah dengan susu formula.

Jenis Makanan

Frekuensi dan Jumlah

Nasi tim

3x/hari @ 1 mangkok bayi

Susu

5x/sehari @1 botol

Kesan: Kualitas dan kuantitas makanan dan minum tidak sesuai umur

  • k. Riwayat Imunisasi

BCG

: 1x ( 1 bulan ), scar (+) di lengan kanan atas

Hep B

: 4x , ( 0, 2, 4, dan 6 bulan )

Polio

: 4x , ( 0, 2, 4, dan 6 bulan )

DPT

: 3x , ( 2, 4, dan 6 bulan )

Campak

: 1x, ( 9 bulan )

Kesan: imunisasi dasar lengkap.

  • l. Riwayat Keluarga Berencana Ibu telah mengikuti program KB suntik setiap 3 bulan sekali.

  • m. Riwayat Sosial Ekonomi Ayah pasien bekerja sebagai swasta dengan penghasilan Rp. 800.000,- per bulan. Ibu pasien juga bekerja swasta. Menanggung 1 orang anak. Biaya pengobatan ditanggung Jamkesmas. Kesan: sosial ekonomi kurang.

  • n. Data Perumahan

Kepemilikan rumah

: tinggal bersama orang tua

Keadaan rumah

: dinding rumah tembok, 3 kamar tidur, 1 kamar

mandi, 1 ruang tamu, 1 dapur. Limbah dibuang ke selokan sekitar. Sumber air minum adalah air keran, sumber air untuk mencuci adalah air sumur.

Keadaan lingkungan

: jarak antar rumah kurang lebih 1 meter.

  • o. Data Keluarga

 

Ayah

Ibu

Perkawinan ke

1

1

Umur

25 th

23 th

Pendidikan terakhir

SD

SD

Keadaan kesehatan

Sehat

Sehat

  • 2. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal 3 Agustus 2012 pukul 15.15 WIB.

Anak perempuan usia 11 bulan, berat badan 9,5 kg, tinggi badan 77 cm.

Keadaan umum

: tampak sakit sedang, kurang aktif, kesan gizi kurang, mata

Kesadaran

Cowong (-), dan bibir kering (-) : composmentis

Tanda vital

Tekanan darah

: tidak dilakukan pemeriksaan

HR

: 144x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup

RR

: 36x/menit, reguler

Suhu

: 36 o C (axilla)

Status interna

Kepala

: mesocephale (lingkar kepala 44,5 cm), Ubun-ubun cekung.

Rambut

: berwarna kemerahan, jarang, distribusi merata, mudah rontok (-)

Mata

: konjungtiva anemis(-/-), sklera ikterik(-/-), mata cowong (-)

Hidung

: sekret (-/-), NCH (-/-)

Telinga

: discharge (-/-)

Mulut

: bibir kering (-) , bibir sianosis (-)

Tenggorokan

: tonsil T1/T1, tidak hiperemis, faring tidak hiperemis

Leher

: tidak ada pembesaran KGB

Thoraks

Jantung

  • - : ictus cordis tidak tampak

Inspeksi

 

Palpasi

  • - :

ictus

cordis teraba

di

ICS

V

2

cm medial

linea

midclavicula sinistra

  • - Perkusi

o

Batas kiri : ICS V, 2 cm medial midclavicula sinistra

o

Batas atas : ICS II, linea parasternal sinistra

o

Batas kanan : ICS V, linea parasternal kanan

  • - Auskultasi

: bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru – paru

  • - : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-).

Inspeksi

  • - : stem fremitus tidak dilakukan

Palpasi

  • - : sonor di seluruh lapang paru

Perkusi

  • - : suara napas vesikuler di seluruh lapang paru, rhonki(-/-) , wheezing(-/-)

Auskultasi

Abdomen

 

-

Inspeksi

: datar

-

Auskultasi : bising usus (+) meningkat

 

-

Perkusi

: timpani di seluruh kuadran, nyeri ketok sudut costovertebra (-/-)

 

-

Palpasi

: supel, turgor < 2 detik, hepar dan lien tidak teraba, renal (ballotement) (-/-), nyeri tekan suprapubik (-)

Paha

: muscle wasting ( + )

Bokong

: baggie pants ( + )

Alat kelamin

: perempuan, edema oue (-), oue hiperemis (-)

Anorektal

: hiperemis (-), ekskoriasis (-)

Ekstremitas

:

 

Superior

Inferior

Akral dingin

 

-/-

-/-

Akral sianosis

 

-/-

-/-

Oedem

 

-/-

-/-

CRT

<2’’

<2’’

3. Pemeriksaan Penunjang

 

02-08-2012

 

03-08-2012

Darah rutin

 

Feses rutin

Hb : 9,1 g/dl

Makroskopis

Ht : 28,80 g/dl

Warna : kuning

Leukosit : 7,2/uL Trombosit : 429. 10 3 /uL WIDAL

Konsistensi : cair Bau : khas Lendir : -

S typhi O ( - )

Darah : -

S typhi H ( - )

Mikroskopis

 

Protein feses : -

Karbohidrat : -

 

Lemak : positif (2+) Eritrosit : 1 – 2 Amoeba : - Telur cacing : - Leukosit : 1 – 3

BAKTERI POS

4. Pemeriksaan Khusus

  • - Data antropometri: anak perempuan berusia 19 bulan, BB = 7,3 kg, PB = 77 cm.

o

WAZ

= ( BB – median ) / SD = ( 7,3 – 11.0 ) / 1.20

o

HAZ

= - 3,7/1,20 = -3,08 (gizi buruk) = ( TB – median ) / SD = ( 77 – 81.9) / 3.10

o

WHZ

= -4,9/3,10 = -1.58 (normal) = ( BB – median ) / SD = ( 7,3 – 10,0) / 0.9 = - 2.7/0,9 = -3 (kurus)

Kesan: status gizi buruk, perawakan normal, dan kurus

-

LILA

: 112 mm

III. RESUME Riwayat Penyakit Sekarang

Telah diperiksa anak perempuan usia 19 bulan, berat badan 7,3 kg, tinggi 77 cm dengan keluhan utama diare sejak 2 hari SMRS. BAB cair > 5x, berwarna kuning, ampas (+), lendir (-), darah (-), volume sekitar 1 gelas belimbing. Disertai mual, muntah + 3x berisi air, dan makanan, darah (-), volume + ½ gelas belimbing. 1 hari sebelumnya pasien mengeluh demam yang dirasakan terus menerus, tidak menggigil, dan tidak kejang. Tanda perdarahan disangkal. Demam disertai pilek (+), batuk (-). Pasien datang ke IGD masih demam (+) 39 0 C anak gelisah dan rewel, tidak mau makan, tapi minumnya kuat. Mual ( - ) dan muntah ( - ), pilek ( - ), sesak ( - ). BAK terakhir pagi jam 06.30 WIB dan jumlah nya berkurang dari biasa. Sejak diare ini anak semakin rewel dari biasanya, anak menjadi lebih haus dari biasanya, orang tuanya mengaku bagian bawah mata anak menjadi lebih cowong dari biasanya, bibirnya kering, dan badannya semakin kurus. Kemudian pasien dirawat diruang ICU

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien pernah mengalami keluhan yang sama pada waktu usia 12 bulan, tapi tidak sampai opname

Pemeriksaan Fisik Anak perempuan usia 19 bulan, berat badan 7,3 kg, tinggi badan 77 cm. Kesan umum : composmentis, tampak sakit sedang, kurang aktif, kesan gizi kurang, mata cowong, dan bibir kering TTV : HR: 120x/menit, RR: 30x/menit, reguler , Suhu: 37,1 o C (axilla)

Status internus

 

-

Kepala

: mesocephale (lingkar kepala 44,5 cm), Ubun-ubun cekung

-

Rambut

: berwarna kemerahan, jarang, distribusi merata,mudah rontok (-)

-

Mata

: sedikit cowong (+/+)

-

Mulut

: bibir kering (+)

-

Abdomen

: Turgor menurun

-

Paha

: muscle wasting ( + )

-

Bokong

: boogie pants ( + )

Pemeriksaan Penunjang

14-07-2012

15-07-2012

16-07-2012

Darah rutin Hb : 10,8 g/dl

Darah rutin Hb : 10,2 g/dl

Elektrolit Na : 133,0

Ht : 30,40 g/dl Leukosit : 28,1/uL Trombosit : 704. 10 3 /uL GDS : 95 mg/dL WIDAL S typhi O ( - ) S typhi H ( - ) Elektrolit

Ht : 30,60 g/dl Leukosit 17.500 g/dl Trombosit : 539.000 Elektrolit Na : 150,0 K : 3,30 Ca : 1,35 Feses rutin

K : 3,30 Ca : 1,09

Na : 136,0

Makroskopis

K : 2,40 Ca : 1,49

Warna : kuning Konsistensi : lembek

Bau : khas

 

Lendir : -

 

Darah : -

Mikroskopis

Protein feses : - Karbohidrat : - Lemak : - Eritrosit : 0 – 1 Amoeba : - Telur cacing : -

Leukosit : 2 – 3

Pemeriksaan Khusus

  • - Data antropometri: anak perempuan berusia 19 bulan, BB = 7,3 kg, PB = 77 cm.

o

WAZ

= ( BB – median ) / SD = ( 7,3 – 11.0 ) / 1.20

o

HAZ

= - 3,7/1,20 = -3,08 (gizi buruk) = ( TB – median ) / SD = ( 77 – 81.9) / 3.10

o

WHZ

= -4,9/3,10 = -1.58 (normal) = ( BB – median ) / SD = ( 7,3 – 10,0) / 0.9 = - 2.7/0,9 = -3 (kurus)

Kesan: status gizi buruk, perawakan normal, dan kurus

-

LILA

: 112

mm

IV. DIAGNOSA BANDING

1.

Gastroenteritis

  • a. Menurut derajat dehidrasi :

Tanpa tanda dehidrasi

Ringan - sedang

Berat

  • b. Menurut etiologi :

 

Infeksi

Enteral : virus, bakteri, parasit, jamur

Parenteral : dari fokus infeksi di luar usus

Makanan

Konstitusi : intoleransi lemak, protein, laktosa, glukosa

Psikis

  • c. Menurut patofisiologi :

Diare sekretorik

Diare osmotik

  • 2. Gizi kurang

V. DIAGNOSA SEMENTARA

  • 1. Gastroenteritis dehidrasi sedang

  • 2. Status gizi kurang

VI. TERAPI

  • - Infus D 2 ½ n 200 cc/kgBB/jam = 15 tpm( selama 3 jam ) dilanjutkan dengan tetesan diturunkan menjadi 5 tpm

  • - Inj. Ceftriaxon 2 x 350 mg

  • - Inj. Ranitidin 3 x 7 mg

  • - PO/ o PCT syr 3 x ¾ cth o Zinc 1 x 20 mg o Vometa syr 3 x 1/3 cth o Vitamin A 1 x 200.000 IU o Asam Folat 1 x 1 mg o Mineral mix 2 x ½ cth

  • - Diit :

BBI

: 11 kg

Kalori

: 73 Kkal/hari

Protein

: 22 g/hari

  • - Usul :

 

Konsul spesialis Gizi

Cek elektrolit

Tes mantoux

Foto rontgent thoraks

Gambaran Darah Tepi

Screening denver

  • - Penatalaksanaan untuk Gizi buruk :

    • 1. Mencegah dan mengatasi hipoglikemi. Pada anak ini didapat GDS 95 mg/dL. Karena nilainya masih diatas 70 mg/dl,maka pencegahan hipoglikemi dapat ditunda.

    • 2. Mencegah dan mengatasi hipotermi. Pada anak ini didapatkan suhu 37,1 o C pada pemeriksaan fisik. Maka penatalaksanaan hipotermi ditunda.

    • 3. Mencegah dan mengatasi dehidrasi.

      • a. Beri ReSoMal 5ml/KgBB setiap 30 mnt untuk 2 jam pertama 36.5
        ml

      • b. Setelah 2 jam berikan resomal 5-10 ml/kgBB/ jam (=70 ml) berselang seling dengan F-75 dengan jumlah yang sama (=70ml) setiap jam selama 10 jam.

      • c. Selanjutnya pemberian F-75 70 ml setiap 2 jam

      • d. Karena anak ini diare, dan usia > 1 th maka tiap diare diberikan ReSoMal 100-200 ml setiap BAB

  • 4. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit

    • a. Berikan Kalium dan magnesium, yang terkandung di dalam Mineral Mix

    • b. Beri makan rendah garam

  • 5. Mengobati infeksi

  • 6.

    Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro

     

    a.

    Multivitamin

     

    b.

    Asam folat 5 mg hari pertama (=36.5 mg) , dan 1 mg hari selanjutnya (=7.3 mg)

    c.

    Seng 2 mg Zn elemental/kgBB/hari (= 14,5 mg)

     

    d.

    Tembaga 0.3 mg Cu/kgBB/hari (=2.19 mg)

    e.

    Ferosulfat 3mg/kgBB/hari (=21,9 mg) pada fase rehabilitasi

    f.

    Vitamin A 200.000 IU (1 kapsul merah)

     
    • 7. Memberikan makanan untuk stabilisasi, transisi dan rehabilitasi

     

    Fase Stabilisasi

    Fase Transisi

    Fase Rehabilitasi

     

    Energi

    100

    kkal/kgBB/hari

    150

    kkal/kgBB/hari

    • 220 kkal/kgBB/hari

    = 730 kkal/hari

     

    Protein

    1-1.5 g/kgBB/hari

    3 g/kgBB/hari

    5 g/kgBB/hari

    =7,5 g/hari

    Cairan

    130

    ml/kgBB/hari

    150

    ml/kgBB/hari

    • 200 ml/kgBB/hari

    =949 ml/hari

     

    Pemberian F-75 :

     

    o

    Hari 1-2 : 949ml/hari dibagi per 2 jam

    o

     

    Hari 3-5 : X ml/hari dibagi per 3 jam

    o

    Hari ke 6 dst : X ml/hari dibagi per 4 jam

    • 8. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar (fase rehabilitasi)

     

    a.

    Dimulai pada fase rehabilitasi (minggu ke 3-6) atau jika kembalinya nafsu makan pada anak.

    b.

    Ganti F-75 dengan F-100:

     

    2 hari pertama : sama dengan F-75

    Dinaikan tiap harinya 10ml tiap kali pemberian sampai anak tidak mampu menghabisi.

    • 9. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang

      • a. ungkapan kasih sayang

      • b. lingkungan yang ceria

      • c. terapi bermain terstruktur selama 15–30 menit per hari

      • d. aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat

      • e. keterlibatan ibu sesering mungkin (misalnya menghibur, memberi makan, memandikan, bermain)

      • f. Sediakan mainan yang sesuai dengan umur anak

    10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut dirumah

    VII. PROGNOSA

    • - Quo ad vitam

    : ad bonam

    • - Quo ad fungtionam

    : ad bonam

    • - Quo ad sanationam

    : ad bonam

    VIII. USULAN

    • - Konsul spesialis gizi

    • - Konsul fisioterapi

    • - Cek elektrolit : Natrium, Kalium, kalsium, magnesium.

    • - Tes mantoux atas indikasi

    • - Foto RO thorak atas indikasi

    • - Gambaran darah tepi atas indikasi

    • - Screening Denver

    IX. NASEHAT

    • - Kedua orang tua harus saling kerja sama untuk menjaga dan mengatur pola makan anaknya sampai mencapai BB ideal.

    • - Konsultasi kepada tenaga kesehatan untuk pola makan yang baik dan benar sesuai keadaan si anak.

    • - Tetap rajin ke posyandu tiap bulannya untuk menimbang BB, mengukur panjang padan, mengukur lingkar kepala dan lingkar lengan atas.

    • - Jika anak malas makan, beri motivasi ke orang tua agar tetap bantu dan bujuk si anak untuk makan

    • - Memberi terapi bermain kepada anak sesuai usianya.

    • - Jaga anak dari lingkungan sekitarnya yang dapat memberikan penularan penyakit diare kepada si anak.

    • - Jaga higienitas oro-fekal, alat-alat makan, lingkungan rumah dan ibu sendiri / yang mengasuh anak, agar mencuci tangan tiap mau menyuapi anak makan.

    TINJAUAN PUSTAKA

    • 1. Definisi

    DIARE

    Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam.

    Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.

    • 2. Cara Penualaran Dan Faktor Resiko Cara penularan diare pada umumnya melalui cara fekal – oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat. Faktor resiko yang dapat meningkatkan penularan enteropatogen antara lain : factor-faktor yang meningkatkan resiko terjadinya diare, antara lain:

    Tidak diberikan ASI eksklusif pada 4-6 bulan pertama kehidupan

    Penggunaan botol susu

    Penyimapanan makanan masak pada suhu kamar

    Penggunaan air minum yang tercemar

    Tidak mencuci tangan setelah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak

    Tidak membuang tinja anak atau bayi dengan benar

    Selain hal-hal tersebut, faktor lain yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk terjadinya diare antara lain: gizi buruk, imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambung, menurunnnya motilitas usus, menderita campak dalam 4 minggu terakhir dan factor genetik.

    3. Etiologi

    • a. Faktor infeksi

    Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enternal ini meliputi :

    o Infeksi

    bakteri

    (10-20%):

    vibrio,

    E.coli,

    campylobacter, yersenia, aeromonas

    salmonella, shigella,

    o Infeksi virus (70%) : enterovirus , adenovirus, rotairus, astrovirus

    o Infeksi parasit : cacing (ascaris , trichiuris, oxyuris, strongyloides

    o Protozoa (10%) : entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas homonis

    o Jamur : candida albicans

    Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti otitis media akut, tonsilofaringitis, bronkopnemonia, ensefalitis. Keadaan terutama pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.

    • b. Faktor malabsorbsi :

    Malabsorbsi Karbohidrat (Gula). Malabsorbsi karbohidrat atau gula adalah ketidakmampuan untuk mencerna dan menyerap (absorb) gula- gula. Malabsorbsi gula-gula yang paling dikenal terjadi dengan kekurangan lactase (juga dikenal sebagai intoleransi lactose atau susu) dimana produk-produk susu yang mengandung gula susu, lactose, menjurus pada diare. Lactose tidak diurai dalam usus karena ketidakhadiran dari enzim usus, lactase, yang normalnya mengurai

    lactose. Tanpa diurai, lactose tidak dapat diserap kedalam tubuh. Lactose yang tidak tercerna mencapai usus besar dan menarik air (dengan osmosis) kedalam usus besar. Ini menjurus pada diare. Meskipun lactose adalah bentuk yang paling umum dari malabsorbsi gula, gula-gula lain dalam diet juga mungkin menyebabkan diare, termasuk fructose dan sorbitol.

    Malabsorbsi Lemak. Malabsorbsi lemak adalah ketidakmampuan untuk mencerna atau menyerap lemak. Malabsorbsi lemak mungkin terjadi karena sekresi-sekresi pankreas yang berkurang yang adalah perlu untuk pencernaan lemak yang normal (contohnya, disebabkan oleh pankreatits atau kanker pakreas) atau oleh penyakit-penyakit dari lapisan dari usus kecil yang mencegah penyerapan dari lemak yang telah dicerna (contohnya, penyakit celiac). Lemak yang tidak tercerna memasuki bagian terakhir dari usus kecil dan usus besar dimana bakter-bakteri merubahnya kedalam senyawa-senyawa (kimia-kimia) yang menyebabkan air disekresikan oleh usus kecil dan usus besar. Lintasan melalui usus kecil dan usus besar juga mungkin lebih cepat ketika ada malabsorbsi dari lemak.

    4.

    Patofisisologi

    Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah :

    Gangguan osmotik : akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

    Gangguan sekresi : akibat rangsangan tertentu (toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus

    5. Manifestasi Klinis Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainya bila terjadi komplikasi
    • 5. Manifestasi Klinis Infeksi usus menimbulkan tanda dan gejala gastrointestinal serta gejala lainya bila terjadi komplikasi ekstraintestinal termasuk manifestasi neurologic. Gejala gastrointestinal bias berupa diare, kram perut, dan munth. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya. Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium, klorida dan bikarbonat. Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga akan meningkat bila ada panas. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolic, dan hipokalemia. Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskular dan kematian bila tidak diobati dengan tepat. Dehidrasi yang terjadi menurut tonisistas plasma dapat berupa dehidrasi isotonic, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik. Menurut derajat dehidrasinya bisa tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dehidrasi berat. Infeksi ekstraintestinal yang berkaitan dengan bakteri enteric pathogen antara lain : vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomyelitis,

    meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis dan septic tromboplebitis. Gejala neurolgik dari infeksi usus bias berupa parestesia ( akibat makan ikan, kerang, monosodium glutamate), hipotoni dan kelemahan otot.

    Bila terdapat panas dimungkinkan karena proses peradangan atau akibat dehidrasi. Panas badan umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus terjadi pada perut bagian bawah serta rectum menunjukan terkenanya usus besar. Mual dan muntah adalah symptom yang nonspesifik akan tetapi muntah mungkin disebabkan oleh karena mikroorganisme yang menginfeksi saluran cerna bagian atas seprti:enteric virus, bakteri yang memproduksi enteroroksin, giardia, dan cryptosporidium.

    Muntah juga sering terjadi pada non inflammatory diare. Biasanya penderita tidak panas atu hanya subfebris, nyeri perutperiumbilikal tidak berat, watery diare, menunjukan bahwa saluran makan bagian atas yang terkena. Oleh karena pasien immunocompromise memerlukan perhatian khusus, informasi tentang adanya imunodefisiensi atau penyakit.

    meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis dan septic tromboplebitis. Gejala neurolgik dari infeksi usus bias berupa parestesia (
    Tatalaksana Diare menurut WHO a. Rehidrasi b. Dukungan nutrisi c. Suplementasi Zinc d. Antibiotik Selektif e.

    Tatalaksana Diare menurut WHO

    • a. Rehidrasi

    • b. Dukungan nutrisi

    • c. Suplementasi Zinc

    • d. Antibiotik Selektif

    • e. Edukasi orang tua

    A. Rehidrasi

    1.

    Rencana terapi A: Untuk mengobati diare di rumah (penderita diare tanpa dehidrasi)

    Gunakan cara ini untuk mengajari ibu :

    Teruskan mengobati anak diare di rumah

    Berikan terapi awal bila terkena diare

    Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah:

    Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah

    dehidrasi.

    21

    o Gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti oralit, makanan yang cair (seperti sup, air tajin) dan kalau tidak ada air matang gunakan larutan oralit untuk anak seperti dijelaskan dibawah.

     

    o

    Berikan larutan ini sebanyak anak mau, berikan jumlah larutan oralit seperti dibawah

    o

    Teruskan beri larutan ini hingga diare berhenti.

    Beri Tablet Zinc

     
     

    o

    Dosis zinc untuk anak-anak:

     

    <6 bulan : 10 mg(1/2 tablet) per hari

    >6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

     

    o

    Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh

    o

    Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI atau oralit, untuk anak-anak yang lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan di air matang atau oralit.

     

    o

    umur <6 bulan : ½ tablet (10 mg) perhari

    o

    umur >6 bulan : 1 tablet (20 mg) perhari

    Beri anak makan untuk mencegah kurang gizi

    Bawa anak ke petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau menderita sebagai berikut :

    o

    Buang air bear cair lebih sering

    o

    Muntah terus menerus

    o

    Rasa haus yang nyata

    o

    Makan atau minum sedikit

    o Demam

    o

    Tinja berdarah

    Anak harus diberi oralit di rumah apabila :

    o

    Setelah mendapat rencana terapi B atau C

    o

    Tidak dapat kembali ke petugas kesehatan bila diare memburuk

    o

    Memberikan oralit kepad semua anak dengan diare yang datang ke petugas kesehatan merupakan kebijakan pemerintah

    Ketentuan pemberian Oralit Formula Baru :

    Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru

    Larutak 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 liter air matang, untuk persediaan 24 jam

    Berikan oralit kepada anak setiap kali buang air besar, dengan ketentuan :

    untuk anak berumur kurang dari 2 tahun berikan 50-100 ml tiap kali buang air besar. Untuk anak lebih dari 2 tahun atau lebih, berikan 100-200 ml tiap kali buang air besar.

    Jika dalam 24 jam persediaan oralit itu masih tersisa, maka sisa larutan harus dibuang.

    Tunjukkan kepada ibu cara member oralit:

    Berikan 1 sendok teh tiap 1-2 menit untuk anak dibawah 2 tahun

    Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak yang lebih tua

    Bila anak muntah tunggulah 10 menit. Kemudian berikan cairan lebih lama (misalnya 1 sendok tiap 2-3 menit)

    Bila diare berlanjut setelah oralit habis, beritahu ibu untuk memeberikan cairan lain seperti dijelaskan dalam cairan pertama atau kembali kepada petugas kesehatan untuk mendapat tambahan oralit.

    24
    25
    • B. Dukungan Nutrisi

    Makanan diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat, untuk mengganti nutrisi yang hilang serta mencegah agar tidak terjadi gizi buruk. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase kesembuhan. ASI tetap diteruskan selama terjadinya diare cair akut maupun diare akut berdarah dan diberikan dengan frekuensi yang lebih sering dari biasanya. Anak umur 6 bulan keatas sebaiknya mendapat makan seprti biasanya.

    • C. Suplementasi Zinc

    Zinc termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan pada efeknya terhadap imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorbs air dan elektrolit oleh usus halus meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan patogen di usus. Pengobatan dengan zinc cocok ditetapkan di negara-negara berkembang seprti Indonesia yang memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitasnya yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk anak-anak:

    • - anak dibawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari

    • - anak diatas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

    Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah sembuh dari diare. Untuk bayi tablet zinc diberikan dalam air matang, ASI atau oralit. Untuk anak lebih besar, zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit

    • D. Antibiotik Selektif

    Antibiotic tidak diberikan pada kasus diare cair akut kecuali dengan indikasi yaitu pada diare berdarah dan cholera.

    Secara umum tatalaksana pada disentri dikelola sama dengan kasus diare lain sesuai dengan acuan tatalaksana diare akut. Hal khusus mengenai tatalaksana disentri adalah pemberian antibiotic oral selama 5 hari yang masih sensitive

    terhadap shigella menurut pola kuman setempat. Pada psien rawat jalan dianjurkan pemberian sefalosporin generasi ketiga seperti sefikxim 5 mg/KgBB/ hari per oral.

    Pemeriksaan tinja dapat dilakukan untuk menyingkirkan adanya amebiasis. Temuan trofozoit atau kista amoeba atau giardia mendukung diagnosis amebiasis atau giardisis. Berikan metronidazol 7.5 mg/KgBB 3x sehari untuk kasus amebiasis dan metronidazol 5 mg/KgBB 3x sehari untuk kasus giardiasis selama 5 hari. Temuan leukosit dalam jumlah banyak (> 10 LPB) atau makrofag mendukung diagnosis shigella atau bakteri invasif lainnya.

    Pemberian antibiotic yang tidak rasional justru akan memperpanjang lamanya diare karena akan menggangu keseimbangan flora usus dan selain itu, pemberian antibiotic yang tidak rasional akan mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotic, serta menambah biaya pengobatan yang tidak perlu.

    6.

    . Edukasi Orang tua

    Nasihat pada orang tua untuk segera kembali bila ada demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau belum membaik.

    7.

    Komplikasi

    Sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak, dapat terjadi berbagai macam komplikasi seperti :

    Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

    Renjatan hipovolemik.

    Hipokalemia (dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardi,

    perubahan pada elektrokardiogram). Hipoglikemi

    Intoleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa usus halus.

    Kejang, terutama pada dehidrasi hipertonik.

    Malnutrisi energi protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan.

    8.

    Prognosis

    Secara umum prognosis untuk diare akut pada anak bergantung pada penyakit penyerta/komplikasi yang terjadi.Jika diarenya segera di tangani sesuai dengan kondisi umum pasien maka kemungkinan pasien dapat sembuh.Yang paling penting adalah mencegah terjadinya dehidrasi dan syok karena dapat berakibat fatal.jika terdapat penyakit penyerta yang memberatkan keadaan pasien maka perlu di lakukan pengobatan terhadap penyakitnya selain

    penanganan terhadap diare. Oleh karna itu perlu di lakukan diagnosa pasti berdasarkan pemeriksaan penunjang lain yang membantu, sehingga dapat di lakukan penanganan yang tepat sesuai Penyebab/kausal dari diare yang di alaminya

    9.

    Pencegahan

    Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia. Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan perhatian khusus. Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi. Jika ada kecurigaan tentangkeamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu beberapa menit sebelum dikonsumsi. Ketika berenang di danau atau sungai, harus diperingatkan untuk tidak menelan air. Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air rebusan, saringan, atau olahan) sebelum dikonsumsi. Limbah manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan sayuran. Semua daging dan makanan laut harus dimasak. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh dikonsumsi. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi, setelah jatuh dan terkena kotoran ternak. Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi

    imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya.

    KEPUSTAKAAN

    Hassan R, Alatas H. Ilmu kesehatan anak. Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit

    FKUI.2000.

    Irwanto,Roim A, Sudarmo SM.Diare akut anak dalam ilmu penyakit anak diagnosa dan penatalaksanaan ,Ed Soegijanto S : edisi ke 1 jakarta Subagyo B. Nurtjahjo NB. Diare Akut, Dalam: Juffrie M, Soenarto SSY, Oswari H, Arief S, Rosalina I, Mulyani NS, penyunting. Buku ajar Gastroentero-hepatologi:jilid 1. Jakarta Wastoro D. Dadiyanto. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Semarang : Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. 2011

    Definisi

    GIZI BURUK

    Yang dimaksud dengan gizi buruk adalah terdapatnya edema pada kedua kaki atau adanya severe wasting (BB/TB < 70% atau < -3SD),atau ada gejala klinis gizi buruk (kwashiorkor, marasmus atau marasmik-kwashiorkor). Walaupun kondisi klinis pada kwashiorkor, marasmus, dan marasmus-kwashiorkor berbeda tetapi tatalaksananya sama. Status gizi secara klinis dan antopometri (BB/PB atau BB/TB)

    Status gizi

    Klinis

    Antopometri

    Gizi buruk

    Tampak sangat kurus atau edema pada kedua punggung kaki

    <-3 SD atau 70 % LILA <115 mm

    sampai seluruh tubuh

    Gizi kurang

    Tampak kurus

    ≥-3SD sampai <-2 SD atau

    80%

    Gizi baik

    Tampak sehat

    -2 SD sampai + 2 SD

    Gizi lebih

    Tampak gemuk

    >+2 SD

    Diagnosis

    Ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran antropometri. Anak

    didiagnosis gizi buruk apabila:

    BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus)

    Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor:

    BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD)

    Definisi GIZI BURUK Yang dimaksud dengan gizi buruk adalah terdapatnya edema pada kedua kaki atau adanya
    Definisi GIZI BURUK Yang dimaksud dengan gizi buruk adalah terdapatnya edema pada kedua kaki atau adanya

    Marasmus

    Kwashiokor

    Marasmus

    Kwashiokor

    • a. Tampak sangat kurus

    • a. Tampak sangat kurus dan atau edema

    • b. Cengeng, rewel

    pada kedua punggung kaki sampai

    • c. Kulit keriput

    seluruh tubuh.

    • d. Perut cekung

    • b. Perubahan Status mental

    • e. Anak tampak sangat kurus dan kemunduran pertumbuhan otot tampak sangat jelas sekali apabila anak

    • c. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok

    dipegang pada ketiaknya dan diangkat.

    • d. Wajah membulat dan sembab

    Berat badan anak kurang dari 60% dari

    • e. Pandangan mata sayu

    berat badan seharusnya menurut umur.

    • f. Pembesaran hati

    • f. Wajah anak tampak seperti muka orang tua. Jadi berlawanan dengan tanda yang tampak pada kwashiorkor. Pada penderita marasmus, muka anak

    • g. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas

    tampak keriput dan cekung sebagaimana layaknya wajah seorang yang telah berusia lanjut. Oleh karena tubuh anak sangat kurus, maka kepala

    • h. Gangguan pertumbuhan badan. Berat dan panjang badan anak tidak dapat mencapai berat dan panjang yang semestinya sesuai dengan umurnya.

    anak seolah-olah terlalu besar jika dibandingkan dengan badannya.

    • i. Perubahan aspek kejiwaan, yaitu anak kelihatan memelas, cengeng, lemah

    • g. Pada penderita marasmus biasanya

    dan tidak ada selera makan.

    ditemukan juga tanda-tanda defisiensi gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi

    • j. Otot tubuh terlihat lemah dan tidak berkembang dengan baik walaupun masih tampak adanya lapisan lemak di

    serta sering juga anak menderita diare.

    bawah kulit.

    Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat dan paha; tulang iga terlihat jelas, dengan atau tanpa adanya edema(lihat gambar). Anak-anak dengan BB/U < 60% belum tentu gizi buruk, karena mungkin anak tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus. Anak seperti itu tidak

    membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika ditemukan penyakit lain yang berat.

    Penilaian Awal Anak Gizi Buruk

    Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Anamnesis

    terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.

    Anamnesis awal (untuk kedaruratan):

    Kejadian mata cekung yang baru saja muncul

    Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah dan diare (encer/darah/lendir)

    Kapan terakhir berkemih

    Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.

    Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan ditangani):

    Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit

    Riwayat pemberian ASI Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir

    Hilangnya nafsu makan

    Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru

    Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir

    Batuk kronik

    Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung

    Berat badan lahir

    Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain

    Riwayat imunisasi

    Apakah ditimbang setiap bulan

    Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)

    Diketahui atau tersangka infeksi HIV

    Pemeriksaan fisis

    Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua punggung kaki. Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB.

    Tanda

    dehidrasi:

    tampak

    haus,

    mata

    cekung,

    turgor

    buruk

    (hati-hati

    menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).

     

    Adakah tanda syok (tangan dingin,capillary refill time yang lambat, nadilemah dan cepat), kesadaran menurun.Demam (suhu aksilar ≥ 37.5° C) atau hipotermi(suhu aksilar < 35.5° C).

    Frekuensi dan tipe pernapasan : pneumonia atau gagal jantung

     

    Sangat pucat

     

    Pembesaran hati dan ikterus

     

    Adakah perut kembung,bising usus melemah/meninggi,tanda asites, atau adanyasuara seperti pukulan padapermukaan air (abdominal splash)

    Tatalaksana Perawatan

    Tanda defisiensi vitamin A pada mata:

     

    o

    Konjungtiva atau kornea yang kering,bercak Bitot

    o

    Ulkus kornea

    o Keratomalasia

    Ulkus pada mulut

    Fokus infeksi: telinga, tenggorokan,paru, kulit

    Lesi kulit pada kwashiorkor:

     

    o

    hipo- atau hiper-pigmentasi

    o

    deskuamasi

    o

    ulserasi (kaki, paha, genital, lipatanpaha, belakang telinga)

    o

    lesi eksudatif (menyerupai luka bakar),seringkali dengan infeksi sekunder (termasuk jamur).

    Tampilan tinja (konsistensi, darah, lendir).

    Tanda dan gejala infeksi HIV.

    Anak dengan defisiensi vitamin A seringkali fotofobia. Penting untuk memeriksa mata dengan hati-hati untuk menghindari robeknya kornea. Pemeriksaan laboratorium, terhadap Hb dan atau Ht, jika didapatkan anak sangat pucat. untuk memudahkan penanganan penanganan gizi buruk dibagi berdasarkan tanda bahaya dan tanda penting (syok, letargis, dan muntah/diare/dehidrasi), anak gizi buruk dikelompokkan menjadi 5 kondisi klinis dan diberikan rencana terapi cairan dan makanan yang sesuai.

    Tatalaksana Perawatan

    Pada saat masuk rumah sakit:

    anak dipisahkan dari pasien infeksi

    ditempatkan di ruangan yang hangat (25–30°C, bebas dari angin)

    dipantau secara rutin

    memandikan anak dilakukan seminimal mungkin dan harus segera keringkan.

    Demi keberhasilan tatalaksana diperlukan:

    Fasilitas dan staf yang profesional (Tim Asuhan Gizi)

    Timbangan badan yang akurat

    Penyediaan dan pemberian makan yang tepat dan benar

    Pencatatan asupan makanan dan berat badan anak, sehingga kemajuan selama perawatan dapat dievaluasi

    Keterlibatan orang tua.

    Jika ditemukan ulkus kornea, beri vitamin A dan obat tetes mata kloram- fenikol/tetrasiklin dan atropin; tutup mata dengan kasa yang telah dibasahidengan larutan garam normal, dan balutlah. Jangan beri obat mata yangmengandung steroid. Jika terdapat anemia berat, diperlukan penanganan segera Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 4 fase yaitu: fase stabilisasi, fase transisi, fase rehabilitasi dan fase tindak lanjut.

    Fase Fase N Tindakan Fase Stabilisasi Tindak Transisi o pelayanan Lanjut H 1-2 H 3-7 H
    Fase
    Fase
    N
    Tindakan
    Fase Stabilisasi
    Tindak
    Transisi
    o
    pelayanan
    Lanjut
    H 1-2
    H 3-7
    H 8-14
    Fase
    Rehabilitasi
    Mgg ke 3 – 6
    Mgg 7-26
    1
    Hipoglike
    mi
    2
    Hipotermia
    3
    Dehidrasi
    4
    Elektrolit
    5
    Infeksi
    6
    Mikronutri
    Tanpa Fe
    Dengan Fe
    ent
    7
    Makanan
    awal
    8
    Tumbuh
    Kejar
    9
    Stimulasi
    Sensoris
    1
    Persiapan
    0
    pulang
    ∑Memberikan
    ∑Mempers
    ∑Mengejar
    makanan
    awal
    iapkan
    pertumbuha
    agar
    kondisi
    anak
    n
    anak stabil
    untuk
    ∑Cairan
    :
    ∑Tanpa edema:
    menerima
    150
    200
    o Cairan
    :
    130
    cairan
    ml/KgBB
    dan
    ml/Kgbb
    ∑Energi
    :
    energi
    o Energi:
    80-
    150-220
    lebih
    100
    besar
    Kkal/KgBB
    o Protein : 1-1.5
    ∑Cairan
    :
    Kkal/KgBB
    ∑Protein : 4-
    6 g/KgBB
    150
    g/Kgbb
    ml/KgBB
    ∑Energi
    :
    100-150
    Kkal/kgB
    B
    ∑Protein
    :
    2-3
    g/KgBB

    1. Mencegah dan Mengatasi Hipoglikemi

    Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah< 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit. Pemberian makan yang sering sangat penting dilakukan pada anak gizi buruk. Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah, maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera ditangani sesuai panduan.

    Tatalaksana Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya

    memungkinkan. Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat, berikan 50 ml larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung gula dalam 50 ml air) secara oral atau melalui NGT.

    Lanjutkan pemberian F-75 setiap 2–3 jam, siang dan malam selama minimal dua hari.

    Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal pemberian F-

    75.

    Jika anak tidak sadar (letargis), berikan larutan glukosa 10% secaraintravena (bolus) sebanyak 5 ml/kg BB, atau larutan glukosa/larutangula pasir 50 ml dengan NGT.

    Beri antibiotik.

    Pemantauan Jika kadar gula darah awal rendah, ulangi pengukuran kadar gula darahsetelah 30 menit.

    Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl), ulangi pemberian larutan glukosa atau gula 10%.

    Jika suhu rektal < 35.5° C atau bila kesadaran memburuk, mungkin hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia).

    Pencegahan Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin (lihat Pemberian makan awal)atau jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap 2-3 jam siang malam.

    2. Mencegah dan Mengatasi Hipotermia

    Diagnosis Suhu aksilar < 35.5° C

    Tatalaksana

    Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).

    Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). Tutup denganselimut

    hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung kepada anak) atau lampu di dekatnya, atau letakkan anak langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode kanguru). Bila menggunakan lampu listrik, letakkan lampu pijar 40 W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak. Beri antibiotik sesuai pedoman.

    Pemantauan Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi36.5° C atau lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah jam. Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36.5° C Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama pada malam hari Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia

    Pencegahan

    Letakkan tempat tidur di area yang hangat, di bagian bangsal yang bebas

    angin dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut

    Ganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar anak dan tempat tidur tetap kering

    Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelahmandi,

    atau selama pemeriksaan medis) Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat,terutama

    di malam hari Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin sepanjang hari, siang dan malam.

    3. Mencegah dan Mengatasi Dehidrasi

    Diagnosis Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak dengan gizi buruk, hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. Anak gizi buruk dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas,anggap dehidrasi ringan. Catatan: hipovolemia dapat terjadi bersamaan dengan adanya edema.

    Tatalaksana

    Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali pada kasus dehidrasi berat dengan syok.

    Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.

    o

    beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama

    o

    setelah 2 jam, berikan ReSoMal 5–10 ml/kgBB/jam berselang-

    selingdengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10 jam. Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau, volume tinja yang keluar dan apakah anak muntah. Catatan: Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa digunakan mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium rendah; cairan yang lebih tepata dalah ReSoMal (lihat resep di bawah). Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam sesuai tabel 27.

    Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100

    ml setiap buang air besar, usia ≥ 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar.

    RESEP RESOMAL ReSoMal mengandung 37.5 mmol Na, 40 mmol K, dan 3 mmol Mg per liter

    ∑ Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100 ml

    Bila larutan mineral-mix tidak tersedia, sebagai pengganti ReSoMal dapatdibuat larutan sebagai berikut:

    ∑ Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100 ml

    Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg, Zn, dan Cu, maka dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. Dapatpula diberikan MgSO4 40% IM 1 x/hari dengan dosis 0.3 ml/kg BB,maksimum 2 ml/hari

    Pemantauan Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiapsetengah jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya. Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian.

    Periksalah:

    frekuensi napas

    frekuensi nadi

    frekuensi miksi dan jumlah produksi urin

    frekuensi buang air besar dan muntah

    Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai ada diuresis. Kembalinya air mata, mulut basah; cekung mata dan fontanel berkurang serta

    turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi, tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh telah terjadi, sehingga sangat penting untuk memantau berat badan. Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.

    Pencegahan :

    Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan oralit standar. Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI Pemberian F-75 sesegera mungkinBeri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.

    4. Memperbaiki Gangguan keseimbangan elektrolit Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan magnesiumyang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikin-ya. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh, walaupun kadar natrium serum mungkin rendah. Edema dapat diakibatkan oleh keadaan ini. Jangan obatiedema dengan diuretikum. Pemberian natrium berlebihan dapat menyebabkan kematian Tatalaksana Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium,yang sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan kedalam F-75, F-100 atau ReSoMal

    Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi

    Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl).

    5. Mengobati Infeksi

    Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam,seringkali tidak ada, padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. Oleh karena itu, anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik.Hipoglikemia dan hipotermia merupakan tanda infeksi berat. Tatalaksana Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:

    Antibiotik spektrum luas

    Vaksin campak jika anak berumur ≥ 6 bulan dan belum pernah mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. Tunda imunisasi jika anak syok. Pilihan antibiotik spektrum luas:

    Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri Kotrimoksazolper oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam selama 5 hari

    Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat letargisatau

    tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri:

    o

    Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari), dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) ATAU, jika tidak tersedia amoksisilin, beri Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap6 jam selama 5 hari) sehingga total selama 7 hari, DITAMBAH:

    o

    Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari. Catatan:

    Jika anak anuria/oliguria, tunda pemberian gentamisin dosis ke- 2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan Kloramfenikol(25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari.

    6. Memperbaiki defisiensi zat gizi mikro

    Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Meskipun sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal, tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase rehabilitasi), karena zat besi dapat memperparah infeksi. Tatalaksana Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:

    Multivitamin

    Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)

    Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)

    Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)

    Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi)

    Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah diberikan sebelum dirujuk), dengan dosis seperti di bawah ini :

    ∑ Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi) ∑ Vitamin A: diberikan secara

    7. Pemberian makan awal untuk stabilisasti transisi (Initial refeeding)

    dan

    Pada fase awal, pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati sebab keadaan fisiologis anak masih rapuh. Tatalaksana Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah:

    Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun rendah laktosa Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan parenteral Energi: 100 kkal/kgBB/hari Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari) Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah F-75 yang ditentukan harus dipenuhi.

    ∑ Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi) ∑ Vitamin A: diberikan secara

    Pada anak dengan nafsu makan baik dan tanpa edema, jadwal di atas dapat dipercepat menjadi 2-3 hari. Formula awal F-75 sesuai resep dan jadwal makan dibuat untuk mencukupi kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi. Pada F-75 yang berbahan serealia, sebagian gula diganti dengan tepung beras atau maizena sehingga lebih menguntungkan karena mempunyai osmolaritas yang lebih rendah, tetapi perlu dimasak dulu. Formula ini baik bagi anak gizi buruk dengan diare

    persisten.

    Jumlah F-75 per kali makan (130 ml/kg/hari) untuk anak tanpa edema

    persisten. Jumlah F-75 per kali makan (130 ml/kg/hari) untuk anak tanpa edema Catatan: a. Volume pada

    Catatan:

    • a. Volume pada kolom ini dibulatkan dengan kelipatan 5 ml yang terdekat

    • b. Perubahan frekuensi makan dilakukan bila makanan dapat dihabiskan dan toleransi baik (tidak muntah/diare)

    • c. Anak dengan edema ringan dan sedang ( + dan ++) juga menggunakan tabel ini:

    edema ringan (+): edema hanya pada punggung kaki

    edema sedang (++): pada tungkai dan lengan

    • d. edema berat (+++): seluruh tubuh/anasarka

    ∑ edema ringan (+): edema hanya pada punggung kaki ∑ edema sedang (++): pada tungkai dan

    Cara membuat formula WHO (F-75, F-100):

    Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan masukkan susu bubuk sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Tambahkan air hangat dan larutan mineral-mix sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volumenya menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak selama 4 menit.

    Untuk F-75 yang menggunakan campuran tepung beras atau maizena, larutan

    harus dididihkan (5-7 menit) dan mineral-mix ditambahkan setelah larutan mendingin. Apabila tersedia blender, semua bahan dapat dicampur sekaligus dengan air hangat secukupnya. Setelah tercampur homogen baru ditambahkan air hingga volume menjadi 1000 ml. Apabila tidak tersedia blender, gula dan minyak sayur (dianjurkan minyak kelapa) harus diaduk dahulu sampai rata, baru tambahkan bahan lain dan air hangat.

    Pemberian makan sepanjang malam hari sangat penting agar anak tidak terlalu lama tanpa pemberian makan (puasa dapat meningkatkan risiko kematian). Apabila pemberian makanan per oral pada fase awal tidak mencapai kebutuhan minimal (80 kkal/kgBB/hari), berikan sisanya melalui NGT. Jangan melebihi 100 kkal/kgBB/hari pada fase awal ini. Pada cuaca yang sangat panas dan anak berkeringat banyak maka anak perlu mendapat ekstra air/cairan.

    Pemantauan Pantau dan catat setiap hari:

    Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan

    Muntah

    Frekuensi defekasi dan konsistensi feses

    Berat badan.

    8. Memberi Makanan Untuk Tumbuh kejar

    Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah:

    Kembalinya nafsu makan

    Edema minimal atau hilang.

    Tatalaksana Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh-kejar (F-100) (fase transisi):

    Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75 selama 2 hari berturutan.

    Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. Biasanya hal ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari. Dapat pula digunakan bubur atau makanan pendamping ASI yang dimodifikasi sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding dengan F-100.

    Setelah transisi bertahap, beri anak:

    o pemberian makan yang sering dengan jumlah tidak terbatas (sesuai kemampuan anak) o energi: 150-220 kkal/kgBB/hari o protein: 4-6 g/kgBB/hari.

    Tatalaksana Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh-kejar (F-100) (fase transisi): ∑

    Petunjuk pemberian F-100 untuk anak gizi buruk fase rehabilitasi ml/kg/hari)

    (minimum 150

    Penilaian kemajuan

    Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap transisi dan mendapat F-100:

    Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan

    Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari

    Jika kenaikan berat badan:

    kurang (< 5 g/kgBB/hari), anak membutuhkan penilaian ulang lengkap

    sedang (5-10 g/kgBB/hari), periksa apakah target asupan terpenuhi, atau mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi.

    baik (> 10 g/kgBB/hari).

    Penilaian kemajuan Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap transisi dan mendapat F-100:

    9. Memberi stimulasi sensorik dan emosional untuk tumbuh kembang

    Lakukan:

    ungkapan kasih sayang

    lingkungan yang ceria

    terapi bermain terstruktur selama 15–30 menit per hari

    aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat

    keterlibatan ibu sesering mungkin (misalnya menghibur, memberi makan, memandikan, bermain)

    Sediakan mainan yang sesuai dengan umur anak

    Penanganan kondisi penyerta

    • A. Masalah pada mata

    Jika anak mempunyai gejala defisiensi vitamin A, lakukan hal seperti dibawah ini.

    Jika anak mempunyai gejala defisiensi vitamin A, lakukan hal seperti dibawah ini. B. Anemia berat Transfusi
    • B. Anemia berat Transfusi darah diperlukan jika:

    Hb < 4 g/dl

    Hb 4–6 g/dl dan anak mengalami gangguan pernapasan atau tanda gagal jantung.

    Pada anak gizi buruk, transfusi harus diberikan secara lebih lambat dan dalam volume lebih kecil dibanding anak sehat. Beri:

    Darah utuh (Whole Blood), 10 ml/kgBB secara lambat selama 3 jam,

    Furosemid, 1 mg/kg IV pada saat transfusi dimulai.

    • C. Lesi kulit pada kwashiorkor Defisiensi seng (Zn); sering terjadi pada anak dengan kwashiorkor dan kulitnya akan membaik secara cepat dengan pemberian suplementasi seng. Sebagai tambahan:

    Kompres daerah luka dengan larutan Kalium permanganat (PK;

    KMnO4) 0.01% selama 10 menit/hari. Bubuhi salep/krim (seng dengan minyak kastor, tulle gras) pada daerah

    yang kasar, dan bubuhi gentian violet (atau jika tersedia, salep nistatin) pada lesi kulit yang pecah-pecah. Hindari penggunaan popok-sekali-pakai agar daerah perineum tetap

    kering.

    • D. Diare persisten Tatalaksana Giardiasis dan kerusakan mukosa usus Jika mungkin, lakukan pemeriksaan mikroskopis atas spesimen feses. Jika ditemukan kista atau trofozoit dari Giardia lamblia, beri Metronidazol 7.5 mg/kg setiap 8 jam selama 7 hari). Intoleransi laktosa Diare jarang disebabkan oleh intoleransi laktosa saja. Tatalaksana intoleransi laktosa hanya diberikan jika diare terus menerus ini menghambat perbaikan secara umum. Perlu diingat bahwa F-75 sudah merupakan formula rendah laktosa. Pada kasus tertentu:

    ganti formula dengan yoghurt atau susu formula bebas laktosa

    pada fase rehabilitasi, formula yang mengandung susu diberikan kembali secara bertahap.

    Diare osmotik

    Diare osmotik perlu diduga jika diare makin memburuk pada pemberian F-75

    yang hiperosmolar dan akan berhenti jika kandungan gula dan osmolaritasnya dikurangi.

    Pada kasus seperti ini gunakan F-75 berbahan dasar serealia dengan osmolaritas yang lebih rendah.

    Berikan F-100 untuk tumbuh kejar secara bertahap.

    • E. Tuberkulosis Jika anak diduga kuat menderita tuberkulosis, lakukan:

    tes Mantoux (walaupun seringkali negatif palsu)

    foto toraks, bila mungkin

    10. Pemulangan dan tindak lanjut

    Bila telah tercapai BB/TB > -2 SD (setara dengan >80%) dapat dianggap anak telah

    sembuh. Anak mungkin masih mempunyai BB/U rendah karena anak berperawakan pendek. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjutkan di rumah. Berikan contoh kepada orang tua:

    Menu dan cara membuat makanan kaya energi dan padat gizi serta frekuensi pemberian makan yang sering.

    Terapi bermain yang terstruktur

    Sarankan:

    Melengkapi imunisasi dasar dan/atau ulangan

    Mengikuti program pemberian vitamin A (Februari dan Agustus)

    Daftar Pustaka

    Departemen kesehatan republic Indonesia. Buku Bagan Tatalaksana Anak Gizi buruk Buku I-II. 2007 Wastoro D. Dadiyanto. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Semarang : Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. 2011 WHO. Buku Saku Pelayanan kesehatan Anak Di Rumah Sakit. 2009