Anda di halaman 1dari 17

Asuhan Keperawatan Pada Trauma Capitis Ringan 1. Pengertian 1.

Trauma Capitis atau Cidera kepala adalah kerusakan neurologi yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (Sylvia Anderson Price, 2006). Trauma kapitis adalah ganguan traumatik yang menyebabkan gangguan fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitiel dan tidak menganggu jaringan otak. ( Brunner & Suddarth, 2000 ) Menurut Brain Injury Association of America, cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan atau benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran dan menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Langlois, Rutland-Brown, Rosdiana Ramli, 2011).

2.

3.

2. Jenis-Jenis Trauma Kepala Luka pada kulit dan tulang dapat menunjukkan lokasi (area) dimana terjadi trauma (Sastrodiningrat, 2009). Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari dua, yaitu secara garis besar adalah trauma kepala tertutup dan terbuka. Trauma kepala tertutup merupakan fragmen-fragmen tengkorak yang masih intak atau utuh pada kepala setelah luka. Trauma kepala terbuka adalah yaitu luka tampak luka telah menembus sampai kepada dura mater. (Anderson, Heitger, and Macleod, 2006). Kemungkinan kecederaan atau trauma adalah seperti berikut: 1. Fraktur Menurut American Accreditation Health Care Commission, terdapat 4 jenis fraktur yaitu : a. Simple : Retak pada tengkorak tanpa kecederaan pada kulit b. Linear or hairline: Retak pada kranial yang berbentuk garis halus tanpa depresi, distorsi dan splintering. c. Depressed: Retak pada kranial dengan depresi ke arah otak. d. Compound : Retak atau kehilangan kulit dan splintering pada tengkorak. Selain retak terdapat juga hematoma subdural (Duldner, 2008). 2. Luka Memar (kontosio) Luka memar adalah apabila terjadi kerusakan jaringan subkutan dimana pembuluh darah (kapiler) pecah sehingga darah meresap ke jaringan sekitarnya, kulit tidak rusak, menjadi bengkak dan berwarna merah kebiruan. Luka memar pada otak terjadi apabila otak menekan tengkorak. Biasanya terjadi pada ujung otak seperti pada frontal, temporal dan oksipital. (Corrigan, 2004). 3. Laserasi (luka robek atau koyak) Luka laserasi adalah luka robek tetapi disebabkan oleh benda tumpul atau runcing. Dengan kata lain, pada luka yang disebabkan oleh benda bermata tajam dimana lukanya akan tampak rata dan teratur. Luka robek adalah apabila terjadi kerusakan seluruh tebal kulit dan jaringan bawah kulit. 4. Abrasi Luka abrasi yaitu luka yang tidak begitu dalam, hanya superfisial. Luka ini bisa mengenai sebagian atau seluruh kulit. Luka ini tidak sampai pada jaringan subkutis tetapi akan terasa sangat nyeri karena banyak ujung-ujung saraf yang rusak. 5. Avulsi Luka avulsi yaitu apabila kulit dan jaringan bawah kulit terkelupas,tetapi sebagian masih berhubungan dengan tulang kranial. Dengan kata lain intak kulit pada kranial terlepas setelah kecederaan (Mansjoer, 2000). 3. Etiologi Menurut Brain Injury Association of America, penyebab utama trauma kepala adalah sebagai berikut : 1. Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya (IRTAD, 1995). 2. Jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih di gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah. 3. Kekerasan Kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau orang lain (secara paksaan).

4. Patofisiologi Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg%, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejalagejala permulaan disfungsi serebral. 1. Faktor kardiovaskuler Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema paru. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini menyebabkan penurunan curah jantung dan meningkatkan tekanan atrium kiri. Akibatnya tubuh berkompensasi dengan meningkatkan tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema paru. 2. Faktor Respiratori Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru menyebabkan hiperpnoe dan bronkokonstriksi Konsentrasi oksigen dan karbon dioksida mempengaruhi aliran darah. Bila PO2 rendah, aliran darah bertambah karena terjadi vasodilatasi. Penurunan PCO2, akan terjadi alkalosis yang menyebabkan vasokonstriksi (arteri kecil) dan penurunan CBF (cerebral blood fluid). Edema otak ini menyebabkan kematian otak (iskemik) dan tingginya tekanan intra kranial (TIK) yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan batang otak atau medulla oblongata. 3. Faktor Metabolisme Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme seperti trauma tubuh lainnya yaitu kecenderungan retensi natrium dan air dan hilangnya sejumlah nitrogen. Retensi natrium juga disebabkan karena adanya stimulus terhadap hipotalamus, yang menyebabkan pelepasan ACTH dan sekresi aldosteron. 4. Faktor Gastrointestinal Trauma kepala juga mempengaruhi sistem gastrointestinal. Setelah trauma kepala (3 hari) terdapat respon tubuh dengan merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Hal ini akan merangsang lambung menjadi hiperasiditas. 5. Faktor Psikologis Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien, trauma kepala pada pasien adalah suatu pengalaman yang menakutkan. Gejala sisa yang timbul pascatrauma akan mempengaruhi psikis pasien. Demikian pula pada trauma berat yang menyebabkan penurunan kesadaran dan penurunan fungsi neurologis akan mempengaruhi psikososial pasien dan keluarga.

5. Pathway Trauma Kepala

TRAUMA KEPALA

Kulit kepala

Tulang kepala

Jaringan otak

Hematoma pada kulit

Fraktur linear Fraktur communited Fraktur depressed Fraktur basis

Komusio Hematoma Edema Kontusio Gangguan kesadaran Gangguan TTV kelainan neurologis

CEDERA OTAK

1. TIK meningkat

Cidera otak primer Ringan Sedang berat

Respon fisiologis otak Hipoksemia serebral Cedera otak sekunder Kelainan metabolisme Kerusakan sel otak meningkat

Gangguan autoregulasi

Peningkatan rangsangan simpatis

Stress lokalis

Aliran darah ke otak menurun

Peningkatan Tahanan vaskuler sistemik

Peningkatan katekolamin Peningkatan sekresi asam lambung Mual, muntah

Penurunan tek. Pemb. Darah pulmonal O2 menurun gangguan metabolisme Peningkatan tek. hidrostatik Produksi asam laktat meningkat Kebocoran cairan kapiler Edema paru Edema otak Curah jantung menurun 2. gangguan perfusi jaringan otak

5. intake nutrisi tidak adekuat

4. gangguan perfusi jaringan

Difusi O2 terhambat 3. Gangguan Pola Napas

Hipoksemia hiperkapnea

Sumber: Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika. Hal. 275

6. Tanda dan Gejala 1. Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan: a. Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat kemudian sembuh. b. Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan. c. Mual atau dan muntah. d. Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun. e. Perubahan keperibadian diri. f. Letargik. 2. Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat: a. Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak menurun atau meningkat. b. Perubahan ukuran pupil (anisokoria). c. Triad Cushing (denyut jantung menurun, hipertensi, depresi pernafasan). d. Apabila meningkatnya tekanan intrakranial, terdapat pergerakan atau posisi abnormal ekstrimitas. 7. Pemeriksaan Diagnostik 1. CT Scan : Mengidentifikasi adanya SOL.Hemorogi, menentukan Ukuran ventrikel, pergeseraan cairan otak. 2. MRI : Sama dengan CT Scan dengan atau tanpa kontras. 3. Angiografi Serebral : Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan dan trauma. 4. Echoencephalografi : Memperlihatkan keberadaan atau perkembangan gelombang patologis 5. Sinar X : Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (Fraktor) pergeseran struktur dari garis tengah (karena perdarahan) edema dan adanya frakmen tulang. 6. GDA (Gas Darah Arteri) : Mengetahui adanya masalah ventilasi oksigenasi yang dapat menimbulkan 7. Kimia/Elektrolit Darah : Mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam peningkatan TIK/perubahan 8. Pemeriksaan Toksikolog : Mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran ( Marlyn. E. Doengoes; 2000 ) 9. BAER (Brain Auditory Evoked) : Menentukan fungsi dari kortel dan batang otak . 10. PET (Positron Emission Tomografi) : Menunjukkan aktiitas metabolisme pada otak. 11. Pungsi Lumbal CSS : Dapat menduga adanya perdarahan subarachnoi. 8. Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul pada pasien yang mengalami trauma kapitis yaitu: 1. Shock disebabkan karena banyaknya darah yang hilang atau rasa sakit hebat. Bila kehilangan lebih dari 50% darah dapat mengakibatkan kematian. 2. Peningkatan tekanan intrakranial, terjadi pada edema cerebri dan hematoma dalam tulang tengkorak. 3. Meningitis, terjadi bila ada luka di daerah otak yang ada hubungannya dengan luar. 4. Infeksi/kejang, terjadi bila disertai luka pada anggota badan atau adanya luka pada fraktur tulang tengkorak. 5. Edema pulmonal akibat dari cedera pada otak yang menyebabkan adanya peningkatan tekanan darah sistemik sebagai respon dari sistem saraf simpatis pada peningkatan TIK. Peningkatan vasokontriksi tubuh ini menyebabkan lebih banyak darah dialirkan ke paru-paru. Perubahan permeabilitas pembuluh darah paru berperan dalam proses memungkinkan cairan berpindah ke dalam alveolus.

9. Penatalaksanaan 1. Medik a. Manitol IV Dosis awal 1 g / kg BB Evaluasi 15 20 menit (bila belum ada perbaikan tambahan dosis 0,25 g / kg BB)

Hati-hati terhadap kerusakan ginjal b. Steroid : digunakan untuk mengurangi edema otak c. Bikarbonas Natrikus : untuk mencegah terjadinya asidosis d. Antikonvulsan : prifilaksis kejang e. Terapi Koma : merupakan langkah terakhir untuk mengendalikan TIK secara konservatif. Terapi ini menurunkan metabolisme otak, mengurangi edema & menurunkan TIK Biasanya dilakukan 24 48 jam. f. Antipiretik : Demam akan memperburuk keadaan karena akan meningkatkan metabolisme dan dapat terjadi dehidrasi, kerusakan otak. Jika penyebab infeksi tambahkan antibiotik. g. Sedasi : gaduh, gelisah merupakan gejala yang sering ditemukan pada penderita cidera otak dan dapat meningkatkan TIK. h. Lorazepam (ativan) 1 2 mg IV/IM dapat diberikan dan dapat diulang pemberiannya dalam 2 4 jam. Kerugian : tidak dapat memantau kesadaran penderita. i. Antasida AH2 : untuk mencegah perdarahan GIT : simetidin, ranitidin, famotidin. Furosemid adakalanya diberikan bersama dengan obat anti edema lain. Dosis : 1 mg/kg BB IV, dapat diulang tiap 6 12 jam. 2. Non-Medik a. Pengelolaan Pernapasan: Pasien ditempatkan dalam posisi miring atau seperti posisi koma. Periksa mulut, keluarkan gigi palsu bila ada. Jika banyak ludah atau lendir atau sisa muntahan lakukan penghisapan. Hindari flexi leher yang berlebihan karena bias menyebabkan terganggunya jalan napas/peningkatan TIK. Trakeostomi dilakukan bila lesi di daerah mulut atau faring parah. Perawat mengkaji frekuensi dan upaya pernapasan pasien, warna kulit, bunyi pernapasan dan ekspansi dada. Berikan penenang diazepam. Posisi pasien selalu diubah setiap 3 jam dan lakukan fisioterapi dada 2x/sehari b. Gangguan Mobilitas Fisik Posisikan tubuh pasien dengan posisi opistotonus; perawatan harus dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan pola refleksif dan penurunan tonus otot abnormal. Perawat menghindarkan terjadinya kontraktur dengan melakukan ROM pasif dengan merenggangkan otot dan mempertahankan mobilitas fisik. c. Kerusakan Kulit : menghilangkan penekanan dan lakukan intervensi mobilitas. d. Masalah Hidrasi : pada cidera kepala terjadi kontriksi arteri-arteri renalis sehingga pembentukan urine berkurang dan garam ditahan didalam tubuh akibat peningkatan tonus ortosimpatik. e. Nutrisi pada Trauma otak berat memerlukan jumlah kalori 2 kali lipat dengan meningkatnya aktivitas system saraf ortosimpatik yang tampak pada hipertensi dan takikardi. kegelisahan dan tonus otot yang meningkat menambah kebutuhan kalori. bila kebutuhan kalori tidak terpenuhi maka jaringan tubuh dan lemak akan diurai, penyembuhan luka akan lebih lama, timbul dekubitus, daya tahan menurun ( Cholik dan Saiful, 2007)

2. KONSEP DASAR TEORITIS 2.1 Pengkajian 1. Identitas Pasien Nama, Alamat, Umur, Diagnosa Medik, Pendidikan, tanggal masuk, Pekerjaan, tanggal Pengkajian 2. Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan: waktu kejadian, penyebab trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera setelah kejadian. 3. Fokus pengkajian 1. Aktivitas/istirahat Gejala Tanda : Merasa lelah, lemah, kaku, hilang keseimbangan. : Perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, puandreplegia, ataksia, cara berjalan tidak tegang. 2. Sirkulasi Gejala : Perubahan tekanan darah (hipertensi) bradikardi, takikardi.

3. Integritas Ego Gejala Tanda : Perubahan tingkah laku dan kepribadian. : Cemas, mudah tersinggung, angitasi, bingung, depresi dan impulsif.

4. Makanan/cairan Gejala Tanda : Mual, muntah dan mengalami perubahan selera. : muntah, gangguan menelan.

5. Eliminasi Gejala : Inkontinensia, kandung kemih atau usus atau mengalami gangguan fungsi.

6. Neurosensori Gejala : Kehilangan kesadaran sementara, amnesia, vertigo, sinkope,

kehilangapendengaran, gangguan pengecapan dan penciuman, perubahan penglihatan seperti ketajaman. Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan status mental,

konsentrasi, pengaruh emosi atau tingkah laku dan memoris. 7. Nyeri/kenyamanan Gejala Tanda : Sakit kepala. : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat,

gelisah, tidak bisa istirahat, merintih. 8. Pernafasan Tanda berbunyi) : Perubahan pola pernafasan (apnoe yang diselingi oleh hiperventilasi nafas

9. Keamanan Gejala Tanda : Trauma baru/trauma karena kecelakaan : Fraktur/dislokasi, gangguan penglihatan, gangguan rentang gerak, tonus otot

hilang, kekuatan secara umum mengalami paralisis, demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh. 10. Interaksi sosial Tanda disartria. 11. Penyuluhan/pembelajaran Gejala Pertimbangan : Penggunaan alkohol/obat lain. : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 12 hari. : Apasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang,

Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan perfusi jaringan otak b.d peningkatan tekanan intrakranial. 2. Perubahan persepsi sensorik b.d penurunan tingkat kesadaran, kerusakan lobus pariental, kerusakan nervus olfakttorius. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang mampu menelan 4. Kesulitan mobilitas fisik b.d hemiplegia, hemiparese, kelemahanan. 5. Resiko tinggi injuri b.d adanya kejang, kebingungan dan kelemahan fisik. 6. Gangguan dalam pertukaran gas b.d penumpukan sekresi, reflek batuk yang kurang. 7. Gangguan gambaran tubuh dan perubahan peran b.d kurang berfungsinya proses berfikir, ketidakmampuan fisik. 8. Tidak mampu merawat diri b.d kesulitan dalam mobilitas fisik 9. Gangguan kognitif kesulitan dalam komunikasi verbal b.d aphasia 10. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d trauma dan sakit kepala. 11. Kerusakan integritas kulit b.d kesulitan dalam mobilitas fisik. 12. Perubahan pola eliminasi urine inkontinential atau retensi urine b.d terganggunya saraf kontrol berkemih.

NURSING CARE PLANNING No 1. Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan otak b.d peningkatan tekanan intrakranial. Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan, perubahan perfusi jaringan otak teratasi Kriteria Hasil 1.Pasien tidak menunjukkan peningkatan TIK 2. Terorientasi pada tempat, waktu dan respon 3. Tidak ada gangguan tingkat kesadaran. 2. Temukan faktor penyebab utama adanya penurunan 2. Untuk menentukan asuhan Intervensi Mandiri : 1. Kaji status neurologi 1. Mendeteksi dini perubahan yang terjadi sehingga dapat Rasional

mengantisipasinya.

keperawatan yang diberikan.

perfusi jaringan dan potensial terjadi peningkatan TIK. 3. Panas tubuh yang tidak bisa diturunkan menunjukkan adanya kerusakan hipotalamus atau panas karena peningkatan metabolisme tubuh.

3. Monitor Suhu tubuh

4.Berikan

posisi 4.

Mencegah

terjadinya

antitrendelenberg atau dengan peningkatan TIK

meninggikan kepala kurang lebih 30 derajat. 5. Peningkatan TD sistemik yang diikuti oleh penurunan tanda TD

5. Pantau tanda-tanda vital

merupakan

terjadinya

peningkatan TIK, Demam dapat mencerminkan hipotalamus. kerusakan pada

6. Batasi pemberian cairan 6. Menurunkan edema serebral, sesuai indikasi meminimalkan fluktuasi aliran

vaskuler TD dan TIK.

7. lakukan mobilisasi sedini 7. mungkin

mencegah

terjadinya

keterbatasan gerak

Kolaborasi : 8. Kolaborasi dengan dokter 8. Diuretik untuk menurunkan air untuk memberikan obat dari sel otak sehingga mengurangi edema otak.

sesuai diuretic.

indikasi

seperti

9. Kolaborasi dengan dokter 9. Membantu mengurangi edema untuk diuretik diamox. memberikan seperti obat otak

manitol,

Penkes: 10. Berikan konseling tentang 10. agar keluarga dapat mengerti dari pengertian trauma capitis pengertian trauma capitis ringan . 2. b.d Setelah dilakukan tindakan penurunan tingkat kesadaran, kerusakan keperawatan,perubahan lobus pariental, kerusakan nervus persepsi sensorik tidak terjadi olfakttorius. Perubahan persepsi sensorik

1.Kesadaran kembali normal 2.Tidak peningkatan TIK

pasien Mandiri : 1. Observasi KU serta TTV terjadi 1. Mengetahui keadaan umum pasien.

pasien 2. Melatih kemampuan pasien terhadap orang, tempat dan dalam mengenal waktu, tempat dan lingkungan pasien. waktu. 2. Orientasikan

3. Gunakan berbagai metode 3. untuk menstimulasi

Melatih

kepekaan

nervus

indra, olfaktorius.

misalnya: parfum.

4. Kaji peningkatan istirahat 4. Tingkah non verbal ini dpat dan tingkah laku pada pagi merupakan indikasi peningkatan hari. ICP atau memberikan reflek nyeri. 5. Pantau secara teratur perubahan orientasi, 5. menentukan pilihan intervensi kemampuan berbicara, alam perasaan/efektif sensorik dan proses pikir. 6. Kaji kesadaran sensorik 6. Informasi penting seperti respon sentuhan, keamanan pasien. panas/dingin, benda tajam/tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh. Perhatikan adanya masalah penglihatan atau sensasi yang lain. untuk

7. Bicara dengan suara yang 7. Pasien mungkin mengalami lembut dan pelan. Gunakan keterbatasan perhatian/pemahaman kalimat yang pendek dan selama fase akut dan penyembuhan

sederhana kontak mata.

pertahankan tindakan ini dapat membantu pasien untuk memunculkan komunikasi.

8. Bermanfaat untuk menstimulasi 8. Berikan stimulus yang pasien koma dengan baik secara kembalinya fungsi bermanfaat: verbal melatih kognitif. (berbincang-bincang dengan pasien), penciuman (seperti pada kopi atau minyak tertentu), taktil (sentuhan, memegang tangan pasien), dan pendengaran (dengan tape, radio, televisi).

9. Beri mungkin

posisi

senyaman 9. Agar klien merasa rileks

Kolaborasi : 10. Kolaborasi dengan tim medik untuk membatasi penggunaan sedative Sedativa mempengaruhi tingkat kesadaran pasien

3.

Mandiri : Setelah dilakukan 1. Kaji kemampuan makan 1. Membantu dalam menentukan Perubahan nutrisi kurang dari tindakan keperawatan 1. Berat badan normal kebutuhan tubuh b.d kurang mampu perubahan nutrisi klien dan menelan klien jenis makanan menelan kembali adekuat 2. Mengkonsumsi semua makanan yang disajikan. 2. Dengarkan suara peristaltik 2. Membantu menentukan respon 3.Terbebas dari malnutrisi. usus. dari pemberian makanan dan

adanya hiperperistaltik

3. Berikan rasa nyaman saat 3.kemungkinan adanya komplikasi makan, seperti posisi semi ileus. fowler/fowler.

4. Berikan makanan dalam 4.Mencegah adanya regurgitasi dan porsi kecil tapi sering dan aspirasi dalam keadaan hangat.

5.Timbang BB

5. mengevaluasi kebutuhan nutrisi

6.modifikasi bentuk makanan

menu

dan 6.Agar klien tertarik untuk makan

7. Jaga keamanan saat pasien 7. menurunkan resiko regurgitasi makan.

8. anjurkan keluarga membawa makanan kesukaan pasien Kolaborasi : 9.Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vitamin. Penkes :

8. Meningkatkan nafsu makan.

Vitamin membantu meningkatkan nafsu makan dan mencegah malnutrisi

10. Beri konseling pentingnya 10. agar klien dan keluarga mengerti tentang asupan nutrisi. asupan nutrisi dalam tubuh

DAFTAR PUSTAKA Bare S, et al, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 2, Jakarta : EGC. Brunner & Suddart, 2001. Buku Ajar Medikal Keperawatan vol 3. EGC, Jakarta Corwin, EJ, 2001. Patofisiologi. Jakarta : EGC Doenges, ME, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta : EGC Mansjoer A, et al, 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius Long, BC, 1992. Perawatan Medikal Bedah, Buku 3. Jakarta : EGC Price, SA, 1995. Patofisiologi; Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Jilid 2. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC, Jakarta