Anda di halaman 1dari 42

Berdasarkan etiloginya maka syok digolongkan atas beberapa macam yaitu :Syok Hipovolemik, Syok Kardiogenik, Syok Distributif,

dan Syok Obstruktif SYOK HIPOVOLEMIK Pengertian Syok hipovolemik merupakan tipe syok yang paling umum ditandai dengan penurunan volume intravascular. Cairan tubuh terkandung dalam kompartemen intraseluler dan ekstraseluler. Cairan intraseluler menempati hamper 2/3 dari air tubuh total sedangkan cairan tubuh ekstraseluler ditemukan dalam salah satu kompartemen intavaskular dan interstitial. Volume cairan interstitial adalah kira-kira 3-4x dari cairan intravascular. Syok hipovolemik terjadi jika penurunan volume intavaskuler 15% sampai 25%. Hal ini akan menggambarkan kehilangan 750 ml sampai 1300 ml pada pria dgn berat badan 70 kg. Etiologi Kondisi-kondisi yang menempatkan pasien pada resiko syok hipovolemik adalah (1) kehilangan cairan eksternal seperti : trauma, pembedahan, muntah-muntah, diare, diuresis, (2) perpindahan cairan internal seperti : hemoragi internal, luka baker, asites dan peritonitis

Penatalaksanaan Tujuan utama dalam mengatasi syok hipovolemik adalah (1) memulihkan volume intravascular untuk membalik urutan peristiwa sehingga tidak mengarah pada perfusi jaringan yang tidak adekuat. (2) meredistribusi volume cairan, dan (3) memperbaiki penyebab yang mendasari kehilangan cairan secepat mungkin. Pengobatan penyebab yang mendasari. Jika pasien sedang mengalami hemoragi, upaya dilakukan untuk menghentikan perdarahan. Mencakup pemasangan tekanan pada tempat perdarahan atau mungkin diperlukan pembedahan untuk menghentikan perdarahan internal. Penggantian Cairan dan Darah Pemasangan dua jalur intra vena dengan kjarum besar dipasang untuk membuat akses intra vena guna pemberian cairan. Maksudnya memungkinkan pemberian secara simultan terapi cairan dan komponen darah jika diperlukan. Contohnya : Ringer Laktat dan Natrium clorida 0,9 %, Koloid (albumin dan dekstran 6 %). Redistribusi cairan Pemberian posisi trendelenberg yang dimodifikasi dengan meninggikan tungkai pasien, sekitar 20 derajat, lutut diluruskan, trunchus horizontal dan kepala agak dinaikan. Tujuannya, untuk meningkatkan arus balik vena yang dipengaruhi oleh gayagravitasi.

Terapi Medikasi Medikasi akan diresepkan untuk mengatasi dehidarasi jika penyebab yang mendasari adalah dehidrasi. Contohnya, insulin akan diberikan pada pasien dengan dehidrasi sekunder terhadap hiperglikemia, desmopresin (DDVP) untuk diabetes insipidus, preparat anti diare untuk diare dan anti emetic untuk muntah-muntah. Military anti syoc trousersn(MAST) Adlah pkain yang dirancang untuk memperbaiki perdarahan internal dan hipovolemia dengan memberikan tekanan balik disekitar tungkai dan abdomen. Alat ini menciptakan tahanan perifer artificial dan membantu menahan perfusi coroner. SYOK KARDIOGENIK Pengertian Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali. Etiologi Penyebab syok kardiogenik mempunyai etiologi koroner dan non koroner. Koroner, disebabkan oleh infark miokardium, Sedangkan Non-koroner disebabkan oleh kardiomiopati, kerusakan katup, tamponade jantung, dan disritmia. Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan pasien dengan syok kardiogenik adalah : Membatasi kerusakan miocardium lebih lanjut Memulihkan kesehatan miocardium Memperbaiki kemampuan jantung untuk memompa secara efektif. Penatalaksanaan utama syok kardiogenik mencakup : Mensuplai tambahan oksigen Pada tahap awal syok, suplemen oksigen diberikan melalui kanula nasal 3 5 Liter / menit. Mengontrol nyeri dada Jika pasien menglami nyeri dada, morfin sulfat diberikan melalui intravena untuk menghilangkan nyeri. Pemberian posisi semi fowler, dapat membantu untuk memberikan posisi nyaman & meningkatkan ekspansi paru. Pemberian obat-obat vasoaktif

Terapi obat vasoaktif terdiri atas strategi farmakologi multiple untuk memulihkan dan mempertahankan curah jantung yang adekuat. Pada syok kardiogenik koroner, terapi obat diujukan untuk memperbaiki kontraktilitas jantung, mengurangi preload dan afterload, atau menstabilkan frekuensi jantung. Contoh, Dopamin dan nitrogliserin. Dukungan cairan tertentu Pemberian cairan harus dipantau dengan ketat oleh perawat untuk mendeteksi tanda kelebihan cairan. Bolus cairan intravena yang terus diingkatkan harus diberikan dengan sangat hati-hati dimulai dengan jumlah 50 ml untuk menentukan tekanan pengisian optimal untuk memperbaiki curah jantung. SYOK DISTRIBUTIF Pengertian Syok distributif atau vasogenik terjadi ketika volume darah secara abnormal berpindah tempat dalam vaskulatur seperti ketika darah berkumpul dalam pembuluh darah perifer. Etiologi Syok distributif dapat disebabkan baik oleh kehilangan tonus simpatis atau oleh pelepasan mediator kimia ke dari sel-sel. Kondosi-kondisi yang menempatkan pasien pada resiko syok distributif yaitu (1) syok neurogenik seperti cedera medulla spinalis, anastesi spinal, (2) syok anafilaktik seperti sensitivitas terhadap penisilin, reaksi transfusi, alergi sengatan lebah (3) syok septik seperti imunosupresif, usia yang ekstrim yaitu > 1 thn dan > 65 tahun, malnutrisi Berbagai mekanisme yang mengarah pada vasodiltasi awal dalam syok distributif lebih jauh membagi klasifikasi syok ini kedalam 3 tipe : 1. Syok Neorugenik Pada syok neurogenik, vasodilatasi terjadi sebagai akibat kehilangan tonus simpatis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh cedera medula spinalis, anastesi spinal, dan kerusakan sistem saraf. Syok ini juga dapat terjadi sebagai akibat kerja obat-obat depresan atau kekurangan glukosa (misalnya : reaksi insulin atau syok). Syok neurogenik spinal ditandai dengan kulit kering, hangat dan bukan dingin, lembab seperti terjadi pada syok hipovolemik. Tanda lainnya adalah bradikardi. Penatalaksanaan : - Pengobatan spesifik syok neurogenik tergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya Hipoglikemia (syok insulin) dilakukan pemberian cepat glukosa. - Syok neurogenik dapat dicegah pada pasien yang mendapakan anastesi spinal atau epidural dengan meninggikan bagian kepala tempat tidur 15 20 derajat untuk mencegah penyebaran anastetik ke medula spinalis.

- Pada Kecurigaan medula spinal, syok neurogenik dapat dicegah melalui imobilisasi pasien dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan medula spinalis lebih lanjut. - Stocking elastik dan meninggikan bagian kaki tempat tidur dapat meminimalkan pengumpulan darah pada tungkai. Pengumpulan darah pada ekstremitas bawah menempatkan pasien pada peningkatan resiko terhadap pembentukan trombus. - Pemberian heparin, stocking kompresi, dan kompresi pneumatik pada tungkai dapat mencegah pembentukan trombus. 2. Syok Anafilaktik Syok anafilaktik disebabkan oleh reaksi alergi ketika pasien yang sebelumnya sudah membentuk anti bodi terhadap benda asing (anti gen) mengalami reaksi anti gen- anti bodi sistemik. Penatalaksanaan : - Pemberian obat-obat yang akan memulihkan tonus vaskuler, dan mendukung kedaruratan fungsi hidup dasar. Contoh : epinefrin ,aminofilin. Epinefrin diberikan secara intravena untuk menaptkan efek vasokonstriktifnya. Difenhidramin diberikan secara intavena untuk melawan efek histamin dengan begitu mengurangi efek permeabilitas kapiler. Aminofilin diberikan secara intravena untuk melawan bronkospasme akibat histamin. - Jika terdapat ancaman atau terjadi henti jantung dan henti napas, dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) 3. Syok Septik Syok septik adalah bentuk paling umum syok distributuf dan disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas. Insiden syok septik dapat dikurangi dengan melakukan praktik pengendalian infeksi, melakukan teknijk aseptik yang cermat, melakukan debriden luka ntuk membuang jarinan nekrotik, pemeliharaan dan pembersihan peralatan secara tepat dan mencuci tangan secara menyeluruh Etiologi - Mikroorganisme penyebab syok septik adalah bakteri gram negatif. Ketika mikroorganisme menyerang jaringan tubuh, pasien akan menunjukkan suatu respon imun. Respon imun ini membangkitkan aktivasi berbagai mediator kimiawi yang mempunyai berbagai efek yang mengarah pada syok. Peningkatan permeabilitas kapiler, yang engarah pada perembesan cairan dari kapiler dan vasodilatasi adalah dua efek tersebut. Penatalaksanaan : - Pengumpulan spesimen urin, darah, sputum dan drainase luka dilakukan dengan tekhnik aseptik.

- Pemberian suplementasi nutrisi tinggi kandungan protein secara agresif dilakukan selama 4 hari dari awitan syok. - Pemberian cairan intravena dan obat-obatan yang diresepkan termasuk antibiotik dan obatobat vasoaktif untuk memulihkan volume vaskuler GAMBARAN KLINIS Manifestasi spesifik akan bergantung pada penyebab syok, tetapi semua, kecuali syok neurogenik akan mencakup : Kulit yang dingin dan lembab Pucat Peningkatan kecepatan denyut jantung dan pernapasan Penurunan drastis tekanan darah Individu dengan syok neurogenik akan memper;ihatkan kecepatan denyut jantung yang normal atau melambat tetapi akan hangat dan kering apabila kulitnya diraba. KOMPLIKASI Kegagalan multi organ akibat penurunan aliran darah dan hipoksia jaringan yang berkepanjangan Sindrom distres pernapasan dewasa akibat destruksi pertemuan alveolus kapiler karena hipoksia Berdasarkan etiloginya maka syok digolongkan atas beberapa macam yaitu :Syok Hipovolemik, Syok Kardiogenik, Syok Distributif, dan Syok Obstruktif SYOK HIPOVOLEMIK Pengertian Syok hipovolemik merupakan tipe syok yang paling umum ditandai dengan penurunan volume intravascular. Cairan tubuh terkandung dalam kompartemen intraseluler dan ekstraseluler. Cairan intraseluler menempati hamper 2/3 dari air tubuh total sedangkan cairan tubuh ekstraseluler ditemukan dalam salah satu kompartemen intavaskular dan interstitial. Volume cairan interstitial adalah kira-kira 3-4x dari cairan intravascular. Syok hipovolemik terjadi jika penurunan volume intavaskuler 15% sampai 25%. Hal ini akan menggambarkan kehilangan 750 ml sampai 1300 ml pada pria dgn berat badan 70 kg. Etiologi Kondisi-kondisi yang menempatkan pasien pada resiko syok hipovolemik adalah (1) kehilangan cairan eksternal seperti : trauma, pembedahan, muntah-muntah, diare, diuresis, (2) perpindahan cairan internal seperti : hemoragi internal, luka baker, asites dan peritonitis

Penatalaksanaan Tujuan utama dalam mengatasi syok hipovolemik adalah (1) memulihkan volume intravascular untuk membalik urutan peristiwa sehingga tidak mengarah pada perfusi jaringan yang tidak adekuat. (2) meredistribusi volume cairan, dan (3) memperbaiki penyebab yang mendasari kehilangan cairan secepat mungkin. Pengobatan penyebab yang mendasari. Jika pasien sedang mengalami hemoragi, upaya dilakukan untuk menghentikan perdarahan. Mencakup pemasangan tekanan pada tempat perdarahan atau mungkin diperlukan pembedahan untuk menghentikan perdarahan internal. Penggantian Cairan dan Darah Pemasangan dua jalur intra vena dengan kjarum besar dipasang untuk membuat akses intra vena guna pemberian cairan. Maksudnya memungkinkan pemberian secara simultan terapi cairan dan komponen darah jika diperlukan. Contohnya : Ringer Laktat dan Natrium clorida 0,9 %, Koloid (albumin dan dekstran 6 %). Redistribusi cairan Pemberian posisi trendelenberg yang dimodifikasi dengan meninggikan tungkai pasien, sekitar 20 derajat, lutut diluruskan, trunchus horizontal dan kepala agak dinaikan. Tujuannya, untuk meningkatkan arus balik vena yang dipengaruhi oleh gayagravitasi. Terapi Medikasi Medikasi akan diresepkan untuk mengatasi dehidarasi jika penyebab yang mendasari adalah dehidrasi. Contohnya, insulin akan diberikan pada pasien dengan dehidrasi sekunder terhadap hiperglikemia, desmopresin (DDVP) untuk diabetes insipidus, preparat anti diare untuk diare dan anti emetic untuk muntah-muntah. Military anti syoc trousersn(MAST) Adlah pkain yang dirancang untuk memperbaiki perdarahan internal dan hipovolemia dengan memberikan tekanan balik disekitar tungkai dan abdomen. Alat ini menciptakan tahanan perifer artificial dan membantu menahan perfusi coroner. SYOK KARDIOGENIK Pengertian Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali.

Etiologi Penyebab syok kardiogenik mempunyai etiologi koroner dan non koroner. Koroner, disebabkan oleh infark miokardium, Sedangkan Non-koroner disebabkan oleh kardiomiopati, kerusakan katup, tamponade jantung, dan disritmia. Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan pasien dengan syok kardiogenik adalah : Membatasi kerusakan miocardium lebih lanjut Memulihkan kesehatan miocardium Memperbaiki kemampuan jantung untuk memompa secara efektif. Penatalaksanaan utama syok kardiogenik mencakup : Mensuplai tambahan oksigen Pada tahap awal syok, suplemen oksigen diberikan melalui kanula nasal 3 5 Liter / menit. Mengontrol nyeri dada Jika pasien menglami nyeri dada, morfin sulfat diberikan melalui intravena untuk menghilangkan nyeri. Pemberian posisi semi fowler, dapat membantu untuk memberikan posisi nyaman & meningkatkan ekspansi paru. Pemberian obat-obat vasoaktif Terapi obat vasoaktif terdiri atas strategi farmakologi multiple untuk memulihkan dan mempertahankan curah jantung yang adekuat. Pada syok kardiogenik koroner, terapi obat diujukan untuk memperbaiki kontraktilitas jantung, mengurangi preload dan afterload, atau menstabilkan frekuensi jantung. Contoh, Dopamin dan nitrogliserin. Dukungan cairan tertentu Pemberian cairan harus dipantau dengan ketat oleh perawat untuk mendeteksi tanda kelebihan cairan. Bolus cairan intravena yang terus diingkatkan harus diberikan dengan sangat hati-hati dimulai dengan jumlah 50 ml untuk menentukan tekanan pengisian optimal untuk memperbaiki curah jantung. SYOK DISTRIBUTIF Pengertian Syok distributif atau vasogenik terjadi ketika volume darah secara abnormal berpindah tempat dalam vaskulatur seperti ketika darah berkumpul dalam pembuluh darah perifer. Etiologi

Syok distributif dapat disebabkan baik oleh kehilangan tonus simpatis atau oleh pelepasan mediator kimia ke dari sel-sel. Kondosi-kondisi yang menempatkan pasien pada resiko syok distributif yaitu (1) syok neurogenik seperti cedera medulla spinalis, anastesi spinal, (2) syok anafilaktik seperti sensitivitas terhadap penisilin, reaksi transfusi, alergi sengatan lebah (3) syok septik seperti imunosupresif, usia yang ekstrim yaitu > 1 thn dan > 65 tahun, malnutrisi Berbagai mekanisme yang mengarah pada vasodiltasi awal dalam syok distributif lebih jauh membagi klasifikasi syok ini kedalam 3 tipe : 1. Syok Neorugenik Pada syok neurogenik, vasodilatasi terjadi sebagai akibat kehilangan tonus simpatis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh cedera medula spinalis, anastesi spinal, dan kerusakan sistem saraf. Syok ini juga dapat terjadi sebagai akibat kerja obat-obat depresan atau kekurangan glukosa (misalnya : reaksi insulin atau syok). Syok neurogenik spinal ditandai dengan kulit kering, hangat dan bukan dingin, lembab seperti terjadi pada syok hipovolemik. Tanda lainnya adalah bradikardi. Penatalaksanaan : - Pengobatan spesifik syok neurogenik tergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya Hipoglikemia (syok insulin) dilakukan pemberian cepat glukosa. - Syok neurogenik dapat dicegah pada pasien yang mendapakan anastesi spinal atau epidural dengan meninggikan bagian kepala tempat tidur 15 20 derajat untuk mencegah penyebaran anastetik ke medula spinalis. - Pada Kecurigaan medula spinal, syok neurogenik dapat dicegah melalui imobilisasi pasien dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan medula spinalis lebih lanjut. - Stocking elastik dan meninggikan bagian kaki tempat tidur dapat meminimalkan pengumpulan darah pada tungkai. Pengumpulan darah pada ekstremitas bawah menempatkan pasien pada peningkatan resiko terhadap pembentukan trombus. - Pemberian heparin, stocking kompresi, dan kompresi pneumatik pada tungkai dapat mencegah pembentukan trombus. 2. Syok Anafilaktik Syok anafilaktik disebabkan oleh reaksi alergi ketika pasien yang sebelumnya sudah membentuk anti bodi terhadap benda asing (anti gen) mengalami reaksi anti gen- anti bodi sistemik. Penatalaksanaan : - Pemberian obat-obat yang akan memulihkan tonus vaskuler, dan mendukung kedaruratan fungsi hidup dasar. Contoh : epinefrin ,aminofilin. Epinefrin diberikan secara intravena untuk menaptkan efek vasokonstriktifnya. Difenhidramin diberikan secara intavena untuk melawan

efek histamin dengan begitu mengurangi efek permeabilitas kapiler. Aminofilin diberikan secara intravena untuk melawan bronkospasme akibat histamin. - Jika terdapat ancaman atau terjadi henti jantung dan henti napas, dilakukan resusitasi jantung paru (RJP) 3. Syok Septik Syok septik adalah bentuk paling umum syok distributuf dan disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas. Insiden syok septik dapat dikurangi dengan melakukan praktik pengendalian infeksi, melakukan teknijk aseptik yang cermat, melakukan debriden luka ntuk membuang jarinan nekrotik, pemeliharaan dan pembersihan peralatan secara tepat dan mencuci tangan secara menyeluruh Etiologi - Mikroorganisme penyebab syok septik adalah bakteri gram negatif. Ketika mikroorganisme menyerang jaringan tubuh, pasien akan menunjukkan suatu respon imun. Respon imun ini membangkitkan aktivasi berbagai mediator kimiawi yang mempunyai berbagai efek yang mengarah pada syok. Peningkatan permeabilitas kapiler, yang engarah pada perembesan cairan dari kapiler dan vasodilatasi adalah dua efek tersebut. Penatalaksanaan : - Pengumpulan spesimen urin, darah, sputum dan drainase luka dilakukan dengan tekhnik aseptik. - Pemberian suplementasi nutrisi tinggi kandungan protein secara agresif dilakukan selama 4 hari dari awitan syok. - Pemberian cairan intravena dan obat-obatan yang diresepkan termasuk antibiotik dan obatobat vasoaktif untuk memulihkan volume vaskuler GAMBARAN KLINIS Manifestasi spesifik akan bergantung pada penyebab syok, tetapi semua, kecuali syok neurogenik akan mencakup : Kulit yang dingin dan lembab Pucat Peningkatan kecepatan denyut jantung dan pernapasan Penurunan drastis tekanan darah Individu dengan syok neurogenik akan memper;ihatkan kecepatan denyut jantung yang normal atau melambat tetapi akan hangat dan kering apabila kulitnya diraba. KOMPLIKASI

Kegagalan multi organ akibat penurunan aliran darah dan hipoksia jaringan yang berkepanjangan Sindrom distres pernapasan dewasa akibat destruksi pertemuan alveolus kapiler karena hipoksia PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sirkulasi darah berguna untuk mengantarkan oksigen dan zat-zat lain ke seluruh tubuh serta membuang zat-zat sisa yang sudah tidak diperlukan,dan jika sistem kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) tidak mampu mengalirkan darah ke seluruh tubuh dalam jumlah yang memadai;maka akan mengakibatkan syok yang adalah suatu keadaan serius yang biasanya berhubungan dengan tekanan darah rendah dan kematian sel maupun jaringan. Syok terjadi akibat berbagai keadaan yang menyebabkan berkurangnya aliran darah, termasuk kelainan jantung (misalnya serangan jantung atau gagal jantung), volume darah yang rendah (akibat perdarahan hebat atau dehidrasi) atau perubahan pada pembuluh darah (misalnya karena reaksi alergi atau infeksi). Dalam makalah ini akan dibahas secara detail tentang syok. Ada beberapa jenis syok yang akan dibahas yaitu : Syok Hipovolemik, Syok Kardiogenik,Syok Distributif yang terdiri dari : Syok septic, Syok Neurogenik, dan Syok Anapilaktik, dan Syok Obstruksi.

1.2 Tujuan Tujuan Umum : v Agar mahasiswa/ I dapat memahami tentang Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan pada pasien dengan syok. Tujuan Khusus : v Agar mahasiswa/I dapat menjelaskan pengertian Syok v Agar mahasiswa/I dapat menjelaskan macam-macam Syok v Agar mahasiswa/I dapat menjelaskan persiapan kegawatdaruratan Syok v Agar mahasiswa/I dapat menjelaskan Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Intervensi Syok.

1.3 Manfaat Agar mahasiswa/I keperawatan dapat menerapkan Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Syok (Syok Hipovolemik, Syok Kardiogenik, Syok Distributif : SyokSeptic, Syok Neurogenik, Syok Anapilaktik, dan Syok Obstruktif ) dengan tepat.

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Syok merupakan keadaan darurat yang disebabkan oleh kegagalan perfusi darah ke jaringan, sehingga mengakibatkan gangguan metabolisme sel. ( Agus, Budi.2002) Syok dapat didefinisikan sebagai sindroma akibat menurunnya perfusi jaringan yang diikuti dengan hipoksia, selular dan berbagai disfungsi dari organ vital. ( Tabrani Rab. 1998 ) Syok adalah Ketidakcukupan perfusi oksigen dan zat gizi ke sel-sel tubuh. Kegagalan memperbaiki perfusi menyebabkan kematian sel yang progresif, gangguan fungsi organ dan akhirnya kematian penderita. ( dr. Sukwan Handali. 1988 ) Syok adalah Suatu keadaan klinis akibat jaringan yang tidak adekuat. ( Michael Eliastam.1994). 2. 2 Macam-macam Syok 1) Syok Hipovolemik

Syok hipovolemik disebut juga dengan syok preload yang ditandai dengan menurunnya volume intravaskuler baik oleh karena perdarahan maupun oleh karena hilangnya cairan tubuh. 2) Syok Kardiogenik

Syok Kardiogenik adalah Syok yang terjadi akibat kegagalan pompa jantung (pump failure ).

3)

Syok Distributif

v Syok Septik

Syok septic adalah syok yang terjadi akibat dari infeksi yang berat dan sebagai komplikasi dari penyakit yang beragam. v Syok Neurogenik Syok Neurogenik adalah syok yang disebabkan oleh gangguan susunan saraf simpatis,yang menyebabkan dilatasi arteriola dan kenaikan kapasitas vascular. v Syok Anapilaktik Syok anapilaktik adalah syok yang terjadi secara akut yang di sebabkan oleh reaksi alergi. 4) Syok Obstruktif

Syok obstruktif adalah syok yang terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah sentral baik arteri maupun vena di mana tidak terdapat system kolateral. Tahapan Syok Keadaan syok akan melalui tiga tahapan mulai dari tahap kompensasi (masih dapat ditangani oleh tubuh), dekompensasi (sudah tidak dapat ditangani oleh tubuh), dan ireversibel (tidak dapat pulih). Tahap kompensasi adalah tahap awal syok saat tubuh masih mampu menjaga fungsi normalnya. Tanda atau gejala yang dapat ditemukan pada tahap awal seperti kulit pucat, peningkatan denyut nadi ringan, tekanan darah normal, gelisah, dan pengisian pembuluh darah yang lama. Gejala-gejala pada tahap ini sulit untuk dikenali karena biasanya individu yang mengalami syok terlihat normal. Tahap dekompensasi dimana tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsi-fungsinya. Yang terjadi adalah tubuh akan berupaya menjaga organ-organ vital yaitu dengan mengurangi aliran darah ke lengan, tungkai, dan perut dan mengutamakan aliran ke otak, jantung, dan paru. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan diantaranya adalah rasa haus yang hebat, peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, kulit dingin, pucat, serta kesadaran yang mulai terganggu. Tahap ireversibel dimana kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki. Tahap ini terjadi jika tidak dilakukan pertolongan sesegera mungkin, maka aliran darah akan mengalir sangat lambat sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah dan denyut jantung. Mekanisme pertahanan tubuh akan mengutamakan aliran darah ke otak dan jantung sehingga aliran ke organ-organ seperti hati dan ginjal menurun. Hal ini yang menjadi penyebab rusaknya hati maupun ginjal. Walaupun dengan pengobatan yang baik sekalipun, kerusakan organ yang terjadi telah menetap dan tidak dapat diperbaiki.

2.3 Etiologi 1) Syok hipovolemik

Disebabkan oleh penurunan volume darah efektif. Kekurangan volume darah sekitar 15 sampai 25 persen, biasanya akan menyebabkan penurunan tekana darah sistolik; sedangkan deficit volume darah lebih dari 45 persen umumnya fatal. Syok setelah trauma biasanya jenis hipovolemik, yang disebabkan oleh perdarahan (internal dan eksternal) atau karena kehilangan cairan kedalam jaringan kontusio atau ke usus yang mengembang. Kerusakan jantung dan paru dapat juga menyokong masalah ini secara bermakna. Syok akibat kehilangan cairan berlebihan bisa juga timbul pada pasien luka bakar yang luas. 2) Syok kardiogenik

Disebabkan oleh ganguan fungsi jantung sebagai pompa seperti pada infark miokardium akut, tamponade jantung atau emboli pulmori atau setelah operasi jantung terbuka. Aritmia dapat juga banyak menurunkan curah jantung dan tekanan darah. 3) Syok Distributif

Syok Septik Disebabkan oleh infeksi,yang disebabkan oleh bakteriemia dan organisme enteric gram negative yaitu Eschericia coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus, Pseudomonas, dll.Jenis hiperdinamik, yang curah jantungnya normal atau meningkat, terjadi bila volume darah cukup tetapi infeksi menggangu metabolisme sel sehinggah sel jaringan tak dapat menggunakan glukosa dan oksigen yang diangkut darah padanya secara adekuat. Pada tipe hopodinamik, penderita menjadi hipovolemik, biasanya karena kebocoran cairan dari kapiler keruangan interstisial. Kadang-kadang volume darah normal, tetapi kapasitas vascular meningkat, yang menyebabkan hipovolemik relatif. Syok Neurogenik Disebabkan oleh gangguan susuna saraf simpatik, yang menyebabkan dilatasi arteriola. Dan kenaikan kapasitas vaskuler. Tekanan darah sistolik biasanya akan turun hingga di bawah 80 sampai 90 mmHg walaupun curah jantung normal atau menigkat. Pingsan yang biasa merupakan contoh syok neurogenik sementara. Kerusakan medua spinalis servikalis merupakan sebab tersering syok neurogenik traumatik. Trauma pada otak sendiri hampir tak pernah menyebabkan syok. Kenyataannya ia hampir selalu menimbulkan kenaikan tekanan darah. Biasanya trauma kepala parah meningkatkan tekanan intrakranial dan mengurangi perfusi serebral. Secara reflektorik ia merangsang pusat vasomotor untuk meningkatkan vasokontraksi perifer dan meningkatkan tekanan darah. Pada tahap kematian otak yang sangat lanjut, bisa terjadi hipotensi karena disfungsi pusat

vasomotor dalam medula oblongata, tetapi hanya terjadi di setelah pernapasan spontan berhenti. Syok Anafilaktik Disebabkan oleh pelepasan masih histamin dan bahan vasoaktif dari sel yang telah tersensitisasi sebelumnya terhadap zat spesifik seperti penisilin, sengatan lebah atau kerang. Kolaps kardiovaskuler mendadak dengan atau tanpa disfungsi pernapasan atau obstruksi jalan pernapasan karena bronkokonstriksi, edema angioneurotik, atau urtikaria pada saluran pernapasan, jarang terjadi.

4)

Syok Obstruktif

Syok Obstruktif terjadi karena terdapat penyumbatan pada pembuluh darah sentral baik arteri maupun vena di mana tidak terdapat system kolateral. Keadaan ini terjadi terutama pada embolus arteri pulmonalis dan aorta di mana pembuluh darah pulmonalis tersumbat oleh thrombus sehingga menyebabkan kedua paru tidak terdapat aliran dari pembuluh darah pulmonal. Syok ini juga dapat pula terjadi oleh karena terpotongnya aorta, berkumpulnya cairan di dalam ruang pericardium oleh karena infeksi, gagal ginjal, atau tumor sehingga terjadi temponade. 2.4 Tanda dan Gejala Secara umum didapatkan gambaran kegagalan perfusi jaringan yang terjadi melalui salah satu mekanisme di bawah ini : a) b) Berkurangnya volume sirkulasi (syok hipovolemik ) Kegagalan daya pompa jantung ( syok kardiogenik )

c) Perubahan resistensi pembuluh darah perifer-penurunan tonus vasomotor ( syok anafilaktik, neurogenik, dan kegagalan endokrin ) atau peningkatan resistensi (syok septic, obstruksi aliran darah )

Gejala yang tampak : 1. System jantung dan pembuluh darah

Hipotensi, sistolik < 90 mmHg atau 30 mmHg dari semula.

Takikardi, denyut nadi > 100/menit, kecil, lemah/tak teraba Penurunan aliran darah koroner. Penurunan aliran darah kulit, sianotik, dingin dan basah; pengisapan kapiler yang lambat. 2. System saluran napas

Hiperventilasi akibat anorki jaringan, penurunan venous return serta peninggian physiological dead space dalam paru. 3. System syaraf pusat

Akibat hipoksi terjadi peninggian permeabilitas kapiler yang menyebabkan edema serebri dengan gejala penurunan kesadaran. 4. System saluran kemih

Oligori (diuresis < 30 ml/jam), dapat berlnjut menjadi anuri, uremi akibat payah ginjal akut. 5. Perubahan biokimiawi : terutama pada syok yang lama dan berat :

Asidosis metabolik akibat anoksi jaringan dan gangguan fungsi ginjal. Hiponatremi dan hiperkalemi, dan Hiperglikemi. Table tanda-tanda klinis syok : Jenis kulit Dada Vene-vena leher Tidak teraba TTV Lain-lain

Hipovolemik

dingin, lembab, pucat, berbintikbintik Dingin, lembab, berkeringat banyak.

Tidak ada kelainan

Takepnea, takikardi, hipotensi

haus

Kardiogenik

Tidak ada kelainan atau dapat juga ditemukan tanda-tanda gagal jantung kongesif.

Mungkin didapatkan adanya bendungan

Gallop:Atau bising jantung mungkin dapat didengar.

Septik

Hangat dan kemerahan atau dingin dan pucat atau sianosis.

Tidak ada kelainan, kecuali ditemukan adanya pneumonia.

Tidak teraba

Takipnea, takikardi, hipotensi.

Tanda-tanda infeksi fokal atau koagulasi intravaskuler diseminata ( DIC )

Neurogenik

Hangat dan kering

Tidak ada kelainan.

CVP drop

TD menurun, Temperatur menurun, Hypotensi.

Oliguri /anuri, Pols lambat, Status mental: cemas, letargi,koma, Dilatasi vena.

Anafilaktik

Urtikaria, bercak-bercak, makulopular atau angioedema.

Mungkin didapatkan bising, mengi, batuk, sianosis.

Tidak teraba

Takipnea, hipotensi, takikardi, atau bradikardi.

Infeksi konjungtiva, mual, muntah, nyeri abdomen, diare.

Obstruktif

turgor menurun, mata cekung, mukosa lidah kering.

emboli paru

tamponade kordis

hipertensi pulmoner primer,

koarktasio aorta

2.5 Pathofisiologi Dasar patofisiologi dari syok adalah penurunan perfusi darah ke berbagai organ tubuh. Oleh karena itu,baik oksigen maupun bahan nutrisi ke jaringan maupun sisa-sisa dari jaringan tubuh tidak dapat diangkut. Kegagagalan jantung untuk memompakan darah dan cairan tubuh dapat di bagi atas kegagalan Preload dan kegagalan afterload : a) Kegagalan Preload

Dalam beberapa hal untuk menilai terjadinya syok maka terjadinya: Penurunan cardiac output ( preload ) Penurunan volume intravaskuler dan menyebabkan venus return menurun (salah satu bentuk penurunan intravaskuler ini adalah pada syok hipovolemik ) Penurunan tahanan sistemik vaskuler (system vascular resistance ) sebagai mekanisme kompensasi penurunan cardiac output Tonus vasomotor vena ( venous vasomotor tone ) juga menurun yang disebabkan oleh karena menurunnya volume intravascular, volume venus return dan cardiac output. Keadaan ini terutama terjadi pada syok anapilaktik, syok neurogenik dan syok septic. Selain factor tersebut di atas dapat pula dilihat peninggian tekanan intratorasis, peninggian tekanan intraperikardiak dan takikardi. Untuk mengatasi syok diperlukan pengetahuan dasar patofisiologi dan teknik dalam mengatasi syok. Pada prinsipnya syok disebabkan oleh berbagai penyakit dan syok bukanlah penyakit akan tetapi keadaan akhir dari berbagai penyakit. b) Kegagalan Afterload

Terjadinya penurunan afterload yang disebabkan oleh miokard, menurunnya compliance aorta, stenosis aorta dan edema pulmoner. Akan tetapi syok banyak dihubungkan dengan

menurunnya daya kontraksi dari miokard. Di samping itu dapat pula timbul oleh karena aritmi. Kesimpulannya : Kegagalan preload terjadi oleh karena volume sirkulasi menurun, kegagalan output terjadi oleh factor miokard sementara kegagalan afterload terjadi oleh karena vasokonstriksi pembuluh darah yang meningkat misalnya oleh karena hipertensi.

2. 6 Pathway

Dikutip dari Guyton, A. C ( 1986 ). Text book of medical physiologi ( 7th ed ). Philadelphia : W. B. Saunders : in Ignatavicius, D. D., and Bayne, M. V. ( Eds ) (1991 ). Medical- surgical nursing : A Nursing process approach ( p. 404 ) Philadelphia : W.B. Saunders. 2.7 Pemeriksaan Penunjang 1) Syok Hipovolemik

Pemeriksaan Laboratorium : Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisis dlakukan, langkah diagnosis selanjutnya tergantung pada penyebab yang mungkin pada hipovolemik, dan stabilitas dari kondisi pasien itu sendiri. Pemeriksaan laboratorium awal yang sebaiknya dilakukan antara lain: analisis Complete Blood Count (CBC), kadar elektrolit (Na, K, Cl, HCO3, BUN, kreatinin, kadar glukosa), PT, APTT, AGD, urinalisis (pada pasien yang mengalami trauma), dan tes kehamilan. Darah sebaiknya ditentukan tipenya dan dilakukan pencocokan. Pemeriksaan Radiologi : Pasien dengan hipotensi dan/atau kondisi tidak stabil harus pertama kali diresusitasi secara adekuat. Penanganan ini lebih utama daripada pemeriksaan radiologi dan menjadi intervensi segera dan membawa pasien cepat ke ruang operasi. . Langkah diagnosis pasien dengan trauma, dan tanda serta gejala hipovolemia langsung dapat ditemukan kehilangan darah pada sumber perdarahan. Pasien trauma dengan syok hipovolemik membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi di unit gawat darurat jika dicurigai terjadi aneurisma aorta abdominalis. Jika dicurigai terjadi perdarahan gastrointestinal, sebaiknya dipasang selang nasogastrik, dan gastric lavage harus dilakukan. Foto polos dada posisi tegak dilakukan jika dicurigai ulkus perforasi atau Sindrom Boerhaave. Endoskopi dapat dilakukan (biasanya setelah pasien tertangani) untuk selanjutnya mencari sumber perdarahan. Tes kehamilan sebaiknya dilakukan pada semua pasien perempuan usia subur. Jika pasien hamil dan sementara mengalami syok, konsultasi bedah dan ultrasonografi pelvis harus segera dilakukan pada pelayanan kesehatan yang memiliki fasilitas tersebut. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik sering terjadi. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik pada pasien dengan hasil tes kehamilan negatif jarang, namun pernah dilaporkan.

Jika dicurigai terjadi diseksi dada karena mekanisme dan penemuan dari foto polos dada awal, dapat dilakukan transesofageal echocardiography, aortografi, atau CT-scan dada. Jika dicurigai terjadi cedera abdomen, dapat dilakukan pemeriksaan FAST (Focused Abdominal Sonography for Trauma) yang bisa dilakukan pada pasien yang stabil atau tidak stabil. CT-Scan umumnya dilakukan pada pasien yang stabil. Jika dicurigai fraktur tulang panjang, harus dilakukan pemeriksaan radiologi. 2) Syok Kardiogenik

Pemeriksaan foto toraks biasanya menunjukkan jantung normal atau membesar disertai tanda-tanda edema paru. Pada infark ventrikel kanan, didapatkan gambaran foto toraks normal. Pada sebagian besar kasus syok kardiogenik didapatkan tanda-tanda infark miokard akut, dengan atau tanpa gelombang Q. Amplitudo gelombang QRS yang rendah dapat ditemukan pada keadaan efusi perikardial dengan tanda-tanda tamponade jantung. Pada infark ventrikel kanan, dapat ditemukan adanya gambaran elevasi segmen ST pada sadapan V4R. Pemeriksaan EKG pada syok kardiogenik akibat infark miokard akut menunjukkan tanda-tanda hipokinetik yang nyata dari ventrikel kiri yang difus atau segmental. Pemeriksaan ini juga penting untuk mengetahui adanya efusi perikardial, kelainan katup, dan adanya ruptur septum interventrikel. Sebelum ada kateter Swan-Ganz, monitor hemodinamik diperoleh dengan pemasangan CVP dengan nilai normal 4-8 cmH2O. Sebelum dapat mengukur PCWP, CVP digunakan untuk mengukur tekanan atrium kiri dan tekanan vena pulmonalis dengan anggapan tekanan ini akan dihantarkan tanpa mengalami perubahan ke arteri pulmonalis, jantung kanan, dan vena sentral. Dengan kateter Swan-Ganz, dapat diukur tekanan darah jantung kanan, tekanan darah arteri pulmonalis, PCWP, curah jantung, dan tekanan parsial O2 dari mixed venous atau tekanan saturasi O2 dari mixed venous. Pasien dengan keadaan hemodinamik tidak stabil tidak dapat dinilai secara klinis, sehingga kemampuan kateter ini merupakan prosedur yang penting. Secara umum kateter ini sebaiknya digunakan bila analisishemodinamik yang akurat tidak dapat diperoleh secara noninvasif Bila penyebab edema paru hanya karena tekanan hidrostatik yang meningkat, maka nilai PCWP mempunyai korelasi yang baik dengan gambaran foto toraks. Bila PCWP < 18 mmHg, edema paru belum terjadi. Edema paru mulai terjadi bila PCWP 18-25 mmHg. Bila PCWP > 25 mmHg, maka gambaran edema paru akan jelas terlihat padafoto toraks. Umumnya didapatkan korelasi yang baik antara PCWP dengan tekanan atrium kiri dantekanan pengisian ventrikel kiri (left ventricle end diastolic pressure, LVEDP), sehingga dapat digunakan sebagai pedoman terapi. Tetapi perubahan LVEDP (dan juga PCWP) tidak dapat menunjukkan secara akurat perubahan preload ventrikel kiri.

Kadar asam laktat darah arteri merupakan cara tidak langsung untuk mengetahui adanya perfusi jaringan yang tidak adekuat. Kadarnormal adalah < 1,5 mEq/1 (5-15 mg/100 ml). Bila asarn laktat meningkat sampai > 8 mEq/1 pada pasien infark miokard akut, maka mortalitasnya 90% atau lebih. Pada pasien yang mengalami syok, pengukuran tekanan darah dengan sfigmomanometer seringkali tidak akurat, sehingga pengukuran memerlukan penggunaan kateter intraarteri. Tekanan darah intraarteri diperoleh dengan menggunakan indwelling catheter yang dimasukan secara retrograd melalui arteri brakialis atau arteri femoralis sampai ke aorta sentralis. Curah jantung ditentukan besarnya dengan menggunakan metode Fick, metode dyedilution, atau metode hemodilusi. Pengukuran aliran darah splanknikus akan berguna dalam monitoring hemodinarnik pasien. Karena tidak mungkin dilakukan secara langsung, maka dapat digunakan pengukuran diuresis tiap jam. 3) Syok Distributif

Syok Septik Biakan : dari darah, sputum, urine, luka operasi atau non-operasi, sinus-sinus, dan aliran invasive (selang atau kateter ). Hasil positif tidak perlu untuk diagnosis. HSD : SDP biasanya akan naik, akan menurun dengan berkembangnya syok. SMA-7 : mungkin akan terlihat hiperglikemia,diikuti dengan hipoglikemia pada fase lanjut. Gas-gas darah arteri: alkalosis,respiratorik terjadi pada sepsis ( ph > 7,45 ; pCO2 < 35 ) dengan hipoksemia ringan ( PO2 < 80 ). Scan CT : mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kemungkinan lokasi abses. Radiograf dada dan abdomen : dapat menampakan proses-proses penularan. Syok Neurogenik Darah (Hb, Hmt, leukosit, golongan darah) kadar elektrolit, kadar ureum kreatinin Glukosa darah. Analisa gas darah EKG

Syok Anapilaktik Diperlukan EKG dan analisis gas darah untuk penegakan diagnosis.

Peningkatan hematokrit umum ditemukan sebagai hasil hemokonsentrasi dari permeabilitas pembuluh darah. Serum mast cell tryptase ( biasanya meningkat). darah lengkap, SGOT, LDH, Foto paru dan ECG

4)

Syok Obstruktif Darah (Hb, Hmt, leukosit, golongan darah) kadar elektrolit, kadar ureum kreatinin Glukosa darah. Analisa gas darah EKG

2.8 Penatalaksanaan Medis Gawat Darurat Penanggulangan syok dimulai dengan tindakan umum yang bertujuan untuk memperbaiki perfusi jaringan; memperbaiki oksigenasi tubuh; dan mempertahankan suhu tubuh. Tindakan ini tidak bergantung pada penyebab syok. Diagnosis harus segera ditegakkan sehingga dapat diberikan pengobatan kausal. Segera berikan pertolongan pertama sesuai dengan prinsip resusitasi ABC : Jalan nafas (A = air way) harus bebas kalau perlu dengan pemasangan pipa endotrakeal. Pernafasan (B = breathing) harus terjamin, kalau perlu dengan memberikan ventilasi buatan dan pemberian oksigen 100%. Defisit volume peredaran darah (C = circulation) pada syok hipovolemik sejati atau hipovolemia relatif (syok septik, syok neurogenik, dan syok anafilaktik) harus diatasi dengan pemberian cairan intravena dan bila perlu pemberian obat-obatan inotropik untuk mempertahankan fungsi jantung atau obat vasokonstriktor untuk mengatasi vasodilatasi perifer. Segera menghentikan perdarahan yang terlihat dan mengatasi nyeri yang hebat, yang juga bisa merupakan penyebab syok. Pada syok septik, sumber sepsis harus dicari dan ditanggulangi.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebagai pertolongan pertama dalam menghadapi syok: Posisi Tubuh 1. Posisi tubuh penderita diletakkan berdasarkan letak luka. Secara umum posisi penderita dibaringkan telentang dengan tujuan meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital. 2. Apabila terdapat trauma pada leher dan tulang belakang, penderita jangan digerakkan sampai persiapan transportasi selesai, kecuali untuk menghindari terjadinya luka yang lebih parah atau untuk memberikan pertolongan pertama seperti pertolongan untuk membebaskan jalan napas. 3. Penderita yang mengalami luka parah pada bagian bawah muka, atau penderita tidak sadar, harus dibaringkan pada salah satu sisi tubuh (berbaring miring) untuk memudahkan cairan keluar dari rongga mulut dan untuk menghindari sumbatan jalan nafas oleh muntah

atau darah. Penanganan yang sangat penting adalah meyakinkan bahwa saluran nafas tetap terbuka untuk menghindari terjadinya asfiksia. 4. Penderita dengan luka pada kepala dapat dibaringkan telentang datar atau kepala agak ditinggikan. Tidak dibenarkan posisi kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. 5. Kalau masih ragu tentang posisi luka penderita, sebaiknya penderita dibaringkan dengan posisi telentang datar. 6. Pada penderita-penderita syok hipovolemik, baringkan penderita telentang dengan kaki ditinggikan 30 cm sehingga aliran darah balik ke jantung lebih besar dan tekanan darah menjadi meningkat. Tetapi bila penderita menjadi lebih sukar bernafas atau penderita menjadi kesakitan segera turunkan kakinya kembali.

Pertahankan Respirasi 1. Bebaskan jalan napas. Lakukan penghisapan, bila ada sekresi atau muntah.

2. Tengadah kepala-topang dagu, kalau perlu pasang alat bantu jalan nafas (Gudel/oropharingeal airway). 3. Berikan oksigen 6 liter/menit

4. Bila pernapasan/ventilasi tidak adekuat, berikan oksigen dengan pompa sungkup (Ambu bag) atau ETT. Pertahankan Sirkulasi Segera pasang infus intravena. Bisa lebih dari satu infus. Pantau nadi, tekanan darah, warna kulit, isi vena, produksi urin, dan (CVP). Cari dan atasi penyebab syok Syok Hipovolemik Bila disebabkan perdarahan, hentikan dengan tourniket balut tekan atau penjahitan. Meletakan penderita dalam posisi syok :

Kepala setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pada dada. Tubuh horizontal atau dada sedikit lebih rendah Kedua tungkai lurus, diangkat 200. Perhatikan keadaan umum dan tanda-tanda vital; pelihara jalan napas. Bila perlu lakukan resusitasi.

Pemberian cairan :

Cairan diberikan sebanyak mungkin dalam waktu singkat ( dengan pengawasan tanda vital ) Sebelum darah tersedia atau pada syok yang bukan disebabkan oleh perdarahan, dapat diberikan cairan : v Plasma : Plasmanate v Plasma expander : Plasmafusin (maksimum 20 ml/kgBB), Dextran 70 ( maksimum15 ml/kgBB ),Persiton, Subtosan, Hemacell plasma expander dalam jumlah besar dapat mengganggu mekanisme pembentukan darah. v Cairan lain : Ringer Laktat, NaCl 0,9%. Harus dikombinasikan dengan cairan lain karena cepat keluar ke ruang ekstravaskuler. Untuk memperoleh hasil yang optimal, letakan botol infuse setinggi mungkin dan gunakan jarum yang besar; bia perlu gunakan beberapa vena sekaligus. Pengawasan yang perlu : v Auskultasi paru untuk mencari tanda over-hidrasi, berupa ronki basah halus di basal akibat edema paru. v CVP ( bila mungkin ) dipertahankan pada 16 19 cm H2O v Pengukuran diuresis melalui pemasangan kateter, pertahankan sekitar 30 ml/jam. Kecuali pada syok ireversibel, perbaikan keadaan biasanya tercapai setelah pemberian 3000 ml cairan koloid ( plasma / plasma expander ), bila digunakan cairan nonkoloid bisa sampai 8000 ml. a. Pemberian obat-obat suportif : Vasodilator

Dapat diberikan setelah terdapat perbaikan ke dalam umum, sambil terus diberikan cairan, dengan tujuan : Diagnostic, bila terjadi penurunan tekanan darah berarti tubuh masih kekurangan cairan. Terapeutik, untuk memperbaiki perfusi organ penting dengan membuka pre dan post capillary sphincter. Isoproterenol (Isuprel) v Dosis 2 mg dalam 500 ml glukosa 5-10%. v Tetesan disesuaikan untuk mempertahankan tekanan sistolik disekitar 60 mmHg.

v Tidak dapat diberikan bila frekuensi jantung > 120 /menit atau diketahui mempunyai kelainan jantung karena mempunyai efek memperbesar kebutuhan oksigen jantung dan mempertinggi iritabilitas miokardium. v Hentikan pengobatan bila frekuensi jantung Dopamin v Dosis 200 mg dalam 250 ml glukosa 5-10%. v Jumlah tetesan mula-mula 2 mcg/kgbb/menit, kemudian di sesuaikan dengan tekanan darah. v Dapat digunakan sebagai pengganti isoproterenol. Alpha adrenergic blockers v Fenoksibenzamin (Dibenzyline) 1mg/kgbb dalam 250-500 ml glukosa 5% atau NaCl 0,9% per drip, atau, v Klorpromazin (Largactil) - 1 mg/ kgbb iv lambat. 150/menit atau aritmik.

b.

Vasokonstriktor ( norepinefrin, Aramine ` Effortil )

Tidak dianjurkan karena dapat memperburuk sirkulasi organ penting.

c.

Kortikosteriod

Bila secara klinik derajat syok tidak sesuai dengan pendarahan atau bila dengan penggantian cairan yang adekuat tidak terlihat perbaikan, pikirkan kemungkinan insufisiensi korteks adrenal. Untuk itu berikan kortikosteroid dosis besar, misalnya hidrokortison 300 mg iv lambat ( dalam 30 detik ), dapat diulang sampai mencapai total 2-6 gram /24 jam. Dapat juga digunakan preparat lain dengan perbandingan dosis : kortison 25, hidrokortison 20, metal prednisolon 4 dan deksametason 0,75. Sering memberikan efek yang memuaskan terutama pada syok hipovolemik dan syok septik.

d.

Koreksi asidosis berat badan base excess) meq iv.

Diberikan Na-bikarbonat dengan dosis (0,3 e. Diuretic

Bila tekanan darah dan CVP telah membaik tetapi diuresis tetap < 30 ml/jam, berikan manitol 20% 100 ml per drip dalam waktu satu jam :

Bila setelah itu diuresis . 40 ml/jam, pertahankan dengan dosis manitol ulangan sampai mencapai dosis maksimum 100 gram/24 jam Bila tetap < 40 ml/jam, berikan asam etakrinat (Edecrine ) 50-100 mg iv : v Bila diuresis membaik ( > 40 ml/jam ) pertahankan dengan kombinasi manitol dan asam etakrinat. v Bila tatap < 40 ml/jam, di anggap telah terjadi payah ginjal akut.

Syok kardiogenik Diketahui dari riwayat/adanya kelainan jantung yang mendahului, didukung dengan pemeriksaan EKG. Dibedakan antara syok kardiogenik koroner , disebabkan oleh insufisiensi koroner atau infark jantung. Syok kardiogenik nonkoroner disebabkan oleh payah jantung, miokarditis akut atau aritmi. Selain pengobatan terhadap penyebab, dapat diberikan pula : Norepinefrin ( Levophed ) 2 mg dalam 500 ml glukosa 5% per drip dengan tetesan disesuaikan dengan tekanan darah ( maksimum 48 mcg/menit ). Di berikan pada syok kardiogenik koroner dan syok kardiogenik nonkoroner dengan frekuensi denyut jantung 120/menit Isoproterenol (Isuprel ) di berikan pada syok kardiogenik nonkoroner dengan frekuensi denyut jantung 120/menit ( lihat di atas ).

Syok Distributif v Syok Neurogenik ( Vaso-vagal-syncope). Penderita segera dibaringkan dengan kepala lebih rendah; pada pemeriksaan mungkin di dapatkan bradikardi. Hilangkan penyebab; bila perlu dapat diberikan analgetik. Dalam hal lesi sumsum tulang, berikan kortikosterol untuk mencegah edema sumsum tulang.

Biasanya penderita akan sadar beberapa saat kemudian setelah sirkulasi serebal membaik oleh tindakan tindakan di atas.

v Syok septic Sering didahului oleh infeksi sistemik yang berat, terutama oleh bakteri gram negatif. Keadaan penderita berubah dari demam tinggi menjadi syok dengan penurunan kesadaran, kulit dingin dan basah dan hipotensi; sering diikuti dengan DIC. Kultur darah tidak selalu positif, terutama bila penderita telah mendapat antibiotic sebelumnya. Perawatan dan pengawasan umum. Terapi cairan, bila mungkin dengan monitoring CVP Antibotik Sebelum ada hasil kultur darah, berikan kombinasi antibiotic yang kuat, misalnya antara golongan penisilin/penicillinase Golongan penicillin Prokain penisilin 50.000 U/kgbb/hari i.m, dibagi dua dosis. Ampisilin 4 6 1 gra/hari iv selama 7 10 hari. Golongan penicillinase resistant penicillin : Kloksasilin ( Cloxacillin Orbenin ) 4 1 gram/hari iv selama 7 10 hari sering dikombinasi dengan ampisilin ), dalam hal ini masing-masing obat di turunkan dosisnya menjadi setengahnya, atau menggunakan preparat kombinasi yang telah ada (Ampiclox 4 1 gram/hari iv. Metisilin 4 6 1 gram/hari iv selama 7 14 hari. resistant penicillin dengan gentamisin.

Golongan (Garamysin ) 5 mg/kgbb/ hari di bagi tiga dosis i.m. selama 7 hari ; hati-hati terhadap efek nefrotoksiknya. Bila hasil kultur dan resistensi darah telah ada, pengobatan disesuikan. Beberapa bakteri gram negatif yang sering menyebabkan sepsis dan antibiotic yang dianjurkan: Dosis sefalotin : 1-2 gram tiap 4-6 jam, biasanya di larutkan dalam 50-100 ml cairan dan di berikan per drip dalam 20-30 menit untuk menghindari flebitis. Kloromfenikol : 6 Klindamisin : 4 0,5 gram/hari iv. 0,5 gram/hari iv.

Obat-obatan lainnya Vasodilator Diuretic hidrokortison (Solu coref ) 500 mg iv; dapat diulang sampai dosis total

Kortikosteroid 2-6 gram/24 jam.

Heparin diberikan bila ada DIC, sebesar 100 U ( 1 mg )/kgbb iv tiap 4 jam; harus diawasi dengan pemeriksaan clotting time.

v Syok anafilaktik. Biasanya terjadi segera setelah penyuntikan serum atau obat terhadap penderita yang sensitif; selain tanda-tanda syok terhadap juga spasme bronkioli yang menyebabkan asfiksia dan sianosis. Juga sering didahului dengan rasa nyeri kepala, gangguan penglihatan, urtikaria dan edema wajah, dan mual-mual. Pengobatan : Hentikan kontak dengan allergen. Perhatikan tanda-tanda vital dan jalan napas; bila perlu di lakukan resusitasi dan pemberian oksigen Epenerfin 1/1000 (obat terpilih) 0,5 Dapat diberikan pula : antihistamin Kortikosteroid Aminofilin 250 1 ml/sk/im,dapat diulang 5 difenhidramin ( Benadryl ) 10 10 menit kemudian 20 mg iv.

hidrokortison ( Solu-Cortel ) 100

250 mg iv lambat ( 30 detik ).

500 mg iv lambat, bila spasme bronkioli nyata.

Syok Obstruktif Selain dari pengatasan syok maka harus diatasi pula factor penyebab obstruktif pada pembuluh darah maupun pengatasan tamponade perikard bila disebabkan oleh tamponade perikard.

BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

3. 1 Pengkajian Pengkajian Primer Airway a. Kaji kepatenan jalan napas. b. Kaji kebersihan jalan napas apakah ada tanda-tanda penyumbatan saluran napas, benda asing, fraktur wajah, rahang atau laring. c. Kaji suara napas pasien.( jika suara napas terdengar bunyi adanya cairan atau gurgling, snoring, crowing, atau wheezing ) Breathing a. Kaji tanda-tanda umum distres pernapasan seperti Takipnea, berkeringat, sianosis. b. Kaji ventilasi pernapasan, apakah adekuat atau tidak. c. Kaji jumlah pernapasan ( jika lebih dari 24 kali per menit merupakan gejala yang signifikan ) d. Kaji saturasi oksigen. e. Kaji suara napas pasien apakah terdengar ronchi, rales. Circulation a. Kaji tanda tanda kehilangan cairan dengan pengukuran TTV pasien meliputi : Nadi ( jika >100 kali per menit merupakan tanda signifikan, tekanan darah ( jika tekanan darah < 90 mmHg merupakan prognosis jelek ), suhu dan pernapasan ( jika terjadi peningkatan 20 30 kali per menit. b. Kaji warna kulit,apakah pucat atau sianosis. c. Kaji produsi urine ( kemungkinan dapat terjadi oliguria bahkan anuria ). Disability Bingung merupakan salah satu tanda pertama pada pasien syok. Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU.( Alert , Verbal, Pain, Unrespons ). Exposure Cari adanya cidera, luka pada bagian tubuh seperti kaki yaitu angkat celana pasien kea rah lutut dan periksa apakah ada luka atau cidera, terutama luka pada bagian tengkuk atau leher belakang.

3.2 Diagnosa Keperawatan Diagnose Primer a. Ketidakefektifan perfusi jaringan ( kardiopulmonal ) berhubungan dengan penurunan pertukaran sel. ( Dapat digunakan pada pasien dengan Syok Anafilaktik, Syok Hipovolemik, Syok Septik, Syok Kardiogenik, Syok Neurogenik ) Goal perawatan. Objektif : pasien akan memperbaiki perfusi jaringan yang efektif selama dalam

: dalam jangka waktu 2x 24 jam perfusi jaringan efektif dengan criteria hasil :

Curah jantung pasien adekuat Pasien mencapai stabilitas hemodinamik. Frekuensi nadi tidak kurang dari 80 kali/menit, dan tidak lebih dari 100x/menit. Tekanan darah tidak kurang dari 120/70 mmHg, dan tidak lebih dari 120/80 mmHg. Ferkuensi jantung tetap dalam batas yang telah ditentukan pada saat pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Kulit tetap hangat dan lembab. Pasien tidak menunjukan aritmia. Intervensi : Pantau tanda-tanda vital pasien ( frekuensi jantung, tekanan darah, dan tekanan vena sentral ( Central Venous Pressure / CVP ) setiap jam hingga stabil, kemudian setiap 2 jam. R/ :Penurunan frekuensi jantung, CVP, dan tekanan darah dapat mengindikasikan perubahan arteriovenousa yang mengarah pada penurunan perfusi jaringan.

Pantau warna dan suhu kulit pasien setiap 2 jam dan kaji tanda-tanda kerusakan kulit. R/ : kulit yang dingin, pucat, berbercak dan sianosis dapat mengindikasikan penurunan perfusi jaringan. Pantau laju pernapasan dan suara napas pasien. Catat setiap temuan. R/ : peningkatan laju pernapasan dapat mengindikasikan bahwa pasien sedang bekompensasi terhadap hipoksia jaringan. Pantau perubahan frekuensi dan irama jantung pada EKG. R/ : untuk mengetahui perubahan perfusi jaringan yang mungkin mengancam jiwa. Pertahankan terapi oksigen untuk pasien, sesuai program. R/ : untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dalam alveolidan pada tingkat sel. Dorong pasien untuk sering beristirahat R/ : untuk menghemat energy dan memaksimalkan perfusi jaringan Pantau kadar kreatinin kinase, laktat dehidrogenase dan kadar gas darah arteri. R/ : temuan abnormal mungkin mengindikasikan kerusakan jaringan atau penurunan pertukaran oksigen dalam paru pasien.

b. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan isi sekuncup yang disebabkan oleh masalah mekanis atau structural. ( dapat digunakan pada Syok Anapilaktik, Syok Kardiogenik, Syok Hipovolemik, Syok Neurogenik, Syok Septik ) Goal perawatan. : pasien akan memperbaiki curah jantung yang normal selama dalam

Objektif : dalam jangka waktu 1x24 jam pasien akan menunjukan perubahan curah jantung yang normal, dengan criteria hasil; Pasien mencapai stabilitas hemodinamik. Frekuensi nadi tidak kurang dari 80 kali/menit, dan tidak lebih dari 100x/menit. Tekanan darah tidak kurang dari 120/70 mmHg, dan tidak lebih dari 120/80 mmHg. Pasien tidak menunjukan aritmia. Kulit tetap hangat dan kering. Pasien tidak menunjukan adanya edema pada kaki.

Pasien mencapai aktivitas dengan denyut jantung dalam batas normal. Penurunan beban kerja jantung

Intervensi : Pantau dan catat tingkat kesadaran ,denyut dan irama jantung, dan tekanan darah sekurang-kurangnya setiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan. R/: untuk mendeteksi hipoksia serebral akibat penurunan curah jantung. Lakukan auskultasi bunyi jantung dan suara napas minimal setiap 4 jam. Laporkan suara napas yang tidak normal sesegera mungkin. R/ : bunyi jantung tambahan dapat mengindikasikan dekompensasi jantung awal ; sura napas tambahan dapat mengindikasikan kongesti pulmonal dan penurunan curah jantung. Ukur dan catat asupan dan haluaran secara akurat.

R/ : penurunan haluaran urine tanpa penurunan asupan cairan dapat mengindikasikan penurunan perfusi ginjal akibat penurunan curah jantung. Atasi aritmia secara tepat sesuai instruksi.

R/ : untuk mencegah krisis yang mengancam hidup. Secara bertahap tingakatkan aktivitas dengan denyut jantung dalam batas normal.

R /: agar jantung dapat melakukan penyesuaian terhadap peningkatan kebutuhan oksigen. Pantau kecepatan denyut nadi sebelum dan setelah beraktivitas, sesuai instruksi.

R / : untuk membandingkan kecepatan dan mengukur toleransi. Rencanakan aktivitas pasien.

R/ : untuk menghindari keletihan dan peningkatan beban kerja miokardium.

c. Ketidak efektifan perfusi jaringan ( renal ) berhubungan dengan penurunan pertukaran sel. ( dapat digunakan pada Syok Anapilaktik, Syok Kardiogenik, Syok Hipovolemik, Syok Neurogenik, Syok Septik ) Goal perawatan. : pasien akan memperbaiki keefektifan perfusi jaringan selama dalam

Objektif : dalam jangka waktu 1x24 jam pasien akan menunjukan keefektifan perfusi jaringan ( renal ) dengan criteria hasil ; Pasien dapat mempertahnkan keseimbangan cairan Pasien dapat mempertahankan berat jenis urin dalam batas normal Berat badan pasien tidak mengalami fluktuasi Pasien melaporkan peningkatan rasa nyaman Pasien dapat mempertahnkan stabilitas hemodinamik

Pasien dapat mengidentifikasi factor resiko yang memperburuk penurunan perfusi jaringan dan modifikasi gaya hidup dengan benar. Intervensi :

Pantau dan dokumentasikan asupan dan haluaran pasien setiap jam hingga haluaran lebih dari 30 ml/ jam, kemudian setiap 2 hingga 4 jam. Bila pasien tidak memiliki riwayat penyakit ginjal, haluaran urine merupakan indicator yang baik untuk mengetahui perfusi jaringan. R/ : penurunan atau tidak adanya haluaran urine biasanya mengindikasikan perfusi renal yang buruk. Dokumentasikan warna dan karakteristik urine pasien. Laporkan semua perubahan yang terjadi. R/: untuk yang pekat dapat mengindikasikan fungsi gijal yang buruk atau dehidrasi. Pantau dan dokumentasikan berat badan pasien setiap hari ( sebelum sarapan ). R/: penimbangan berat badan pasien akan membantu meprediksikan status cairan secara keseluruhan. Peningkatan berat badan dapat menunjukan kelebihan caian. Observasi pola kemih pasien R/: untuk mencatat adanya keabnormalan pasien. Pantau berat jenis urine; kadar elektrolit serum, dan kreatinin pasien. R/ : peningkatan kadar dapat menunjukan penurunan funggsi ginjal. Pantau status hemodinamik dan tanda-tanda vital pasien. Catat dan laporkan perubahnnya. R/ : peningkatan dari nilai dasar dapat mengindikasikan kelebihan cairan akibat kurangnya fungsi ginjal. Berikan dopamine dosis rendah, sesuai program R /: untuk mendilatasi arteri renal pasien dan meningkatkan perfusi jaringan.

d. Ketidakefektifan perfusi jaringan ( kardiopulmonal ) berhubungan dengan Hipovolemia. ( dapat digunakan pada pasien dengan Syok Hipovolemik dan Syok Septik ). Goal perawatan. : Pasien akan mempertahankan perfusi jaringan yang efektis selama dalam

Objektif : Dalam jangka waktu 1 x 24 jam pasien akan menunjukan pertahanan status hemodinamik, dengan criteria hasil : Pasien mencapai stabilitas hemodinamik. Frekuensi nadi tidak kurang dari 80 kali/menit, dan tidak lebih dari 100x/menit. Tekanan darah tidak kurang dari 120/70 mmHg, dan tidak lebih dari 120/80 mmHg. CVP lebih dari 2 cm dan kurang dari 4 cm. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan : asupan sama dengan haluaran. Pasien mempertahankan berat jenis urine dalam parameter normal. Pasien tetap mempertahankan orientasi terhadap waktu, orang dan tempat. Kadar Hb, Ht, hitung sel darah putih, dan pemeriksaan koagulasi tetap dalam parameter normal. Intervensi : Pantau frekuensi dan irama jantung, CVP, dan tekanan darah pasien setiap jam hingga stabil. Kemudian setiap 2 jam, catat dan laporkan perubahan di atas atau di bawah nilai yang telah ditentukan. Pantau warna kulit dan suhu pasien setiap 2 jam. R / : penurunan frekuensi jantung, JVP, dan tekanan darah dapat mengindikasikan hipovolemia, yang mengarah pada peningkatan perfusi jaringan. Kulit dingin dan pucat atau berbercak merupakan tanda klinis penurunan perfusi jaringan.

Pantau frekuensi dan kedalaman respirasi pasien setiap jam hingga stabil, kemudian setiap 2 jam sampai 4 jam. R / : peningkatan laju pernapasan merupakan mekanisme kompensasi pada hipoksia jaringan, yang dapat diakibatkan oleh penurunan perfusi jaringan. Ukur dan catat haluaran urine pasien setiap setiap jam hingga haluaran urine 30 ml / jam, kemudian setiap 2 jam sampai 4 jam. R / : perfusi renal yang buruk mengakibatkan penurunan atau tidak adanya haluaran urine, haluaran urine merupakan indicator yang baik untuk mengetahui perfusi jaringan pada pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit ginjal. Berikan cairan atau darah sesuai program untuk pasien. Pantau pasien untuk mengetahui adanya reaksi yang merugikan seperti kelebihan cairan atau reaksi transfuse.

R / : pemberian cairan atau resuistasi darah yang berlebihan dapat mengakibatkan kelebihan cairan, dekompensasi jantung atau keduanya. Lakukan tindakan untuk membantu meningkatkan perfusi pasien : Pertahankan agar pasien tetap hangat, tetapi jangan terlalu panas.

R / : kondisi yang hangat membantu vasodilatasi, yang meningkatkan perfusi jaringan. Turunkan ansietas dan nyeri pasien.

R / : ansietas dan nyeri dapat mengakibatkan reaksi simpatis, yang menyebabkan vasokontriksi dan penurunan perfusi jaringan. Tinggikan ekstremitas bawah pasien.

R / : untuk meningkatkan suplai darah arteri dan menigkatkan perfusi jaringan. Lakukan pemeriksaan berat jenis urine pasien pada setiap pergantian tugas jaga. R / : urine yang pekat disertai peningkatan berat jenis merupakan indicator hipovolemia. Timbang berat badan pasien setiap hari sebelum sarapan. R / : dengan menimbang berat badan pasien setiap hari dapat membantu memperkirakan status cairan total, penimbangan berat badan pasien pada waktu yang sama setiap hari dapat memberikan petunjuk yang lebih baik tentang perubahan berat badan. Ubah posisi pasien secara teratur, inspeksi kulit pada setiap pergantian tugas jaga. R / : tindakan tersebut dapat mencegah penurunan perfusi jaringan dan risiko kerusakan kulit. Observasi adanya konfusi atau disorientasi pada pasien. Seringlah mereorientasikan pasien terhadap realitas, panggil pasien dengan namanya, beritahu nama anda kepada pasien, orientasi lingkungan pada pasien. R / : perubahan tingkat kesadaran pasien dapat diakibatkan oleh penurunan perfusi jaringan. Reorientasi akan membantu pasien dalam meningat orang, tempat, dan waktu dan dapat juga mengurangi ketakutan da ansietas. Pantau kadar Hb, Ht, hitung sel darah putih dan pemeriksaan koagulasi pasien. R / : pemantauan membantu menentukan kebutuhan penggantian darah, status cairan, kadar viskositas darah, parameter terapi antikoagulasi yang diprogramkan dan kemudian infeksi.

Diagnose Sekunder e. Kerusakan membrane mukosa mulut yang berhubungan dengan dehidrasi.

( dapat digunakan pada Syok Hipovolemik ) Goal perawatan. : pasien akan memperbaiki membrane mukosa mulut yang baik selama dalam

Objektif : dalam jangka waktu 2x24 jam pasien akan menunjukan perbaikan membrane mukosa yang baik, dengan criteria hasil : Membran mukosa mulut merah muda dan lembab. Pasien mempertahnkan keseimbangan cairan ( asupan seimbang dengan haluaran ) Pasien dapat menghubungkan factor presipitasi dengan perawatan mulut yang tepat. Intervensi : Inspeksi rongga mulut pasien setiap kali pergantian jaga. Jelaskan dan dokumentasikan kondisinya. R/ : pengkajian yang teratur dapat mengantisipasi atau mengatasi masalah. Lakukan program penanganan yang dianjurkan, meliputi pemberian cairan IV atau oral. Pantau kemajuannya, laporkan respons yang diinginkan atau tidak diinginkan terhadap program penaganan. Berikan tindakan dukungan sesuai yang diindikasikan : mulut. Bantu hygiene mulut sebelum dan setelah makan Gunakan sikat gigi dengan pengisap bila pasien tidak dapat mengeluarkan air dari

permintaan. berbahan dasar air R/ :

Berikan pencuci mulut atau obat kumur, sesuai

Lumasi bibir pasien secara sering dengan pelumas

Untuk meningkatkan perasaan nyaman.

Untuk meminimalkan resiko aspirasi

Untuk meningkatkan rasa nyaman pasien dan mempertahankan kelembapan di dalam mulut. Untuk mencegah kulit pecah-pecah dan teriritasi.

Ajarkan praktik hygiene mulut, bila diperlukan. Biarkan pasien mendemonstrasikan kembali perawatan mulut tersebut, dengan tip : Menggunakan sikat gigi berbulu lembut Menggosok gigi dengan gerakan memutar dari bawah gusi Menyikat lidah

R/ : Meningkatkan kesadaran pasien tentang praktik hygiene pribadi dan menurunkan rasa tidak nyaman, yang menghasilkan peningkatan nutrisi dan hidrasi.

f.

Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi ke otak.

( dapat digunakan pada Syok Anapilaktik, Syok Kardiogenik, Syok Hipovolemik, Syok Neurogenik, Syok Septik ) Goal : pasien akan meningkatkan kemampuan berbicara, memahami, atau menggunakan kata-kata yang tepat selama dalam perawatan. Objektif : dalam jangka waktu 1x 24 jam pasien akan berkomunikasi dengan baik dengan criteria hasil; Pasien mengkomunikasikan kebutuhaan dan keinginan kepada anggota keluarga, pasangan atau anggota staf perawat Pasien dan anggota keluarga atau pasangan mengungkapkan kepuasan terhadap tingkat komunikasi. Pasien mempertahankan tingkat komunikasi yang efektif Pasien menjawab langsung pertanyaan dengan benar

Intervensi Observasi pasien secara ketat agar dapat mengetahui isyarat kebutuhan dan keinginan, sepertu isyarat, menunjuk obyek, melihat pada suatu benda, dan pantomin. R/: isyarat nonverbal memberikan arti untuk melakukan tindakan. Jangan berespon secara kontinu terhadap isyarat jika terdapat kemungkinan untuk meningkatkan bicara, sehingga mendorong peningkatan tersebut.

Pantau dan catat perubahan pola bicara atau tingkat orientasi pasien. R/: perubahan dapat mengindikasikan peningkatan atau penurunan kondisi. Berbicaralah dengan jelas, pelan, dan dalam nada normal pada saat berbicara kepada pasien;berdiri di tempat yang dapat dilihat dan didengar pasien. R/: modifikasi dalam bicara dapat meningkatkan pemahaman. Orientasi kembali pasien terhadap realitas : Panggil pasien dengan namanya. Beritahu nama Anda kepada pasien. Beritahu informasi latar belakang (tempat,tanggal, waktu) kepada pasien. Gunakan TV dan radio untuk menambah orientasi. Gunakan kelender yang besar, papan orientasi realitas.

R/ : tindakan teersebut mengembangkan kemampuan orientasi pasien melalui pengulangan dan pengenalan konsep-konsep yang familier. Bila tingkat frustrasi pasien tinggi, gunakan frasa yang pendek dan sederhana, dan pertanyaan ya- atau- tidak. R/: untuk mengurangi frustrasi. Dukung upaya pasien dalam berkomunikasi dan beri penguatan positif. R/: untuk membantu pemahaman. Berikan waktu Yng cukup kepada pasien untuk berespons. Jangaan menjawab pertanyaan bila pasien memiliki kemampuan untuk berespons. R/: tindakan ini meningkatkan konsep diri pasien dan mengurangi frustrasi. Ulangi atau katakan pertanyaan dengan kalimat lain bila perlu. R/: untuk meningkatkan komunikasi dan mengurangi ansietas. Jangan berpura-pura mengerti jika Anda tidak mengerti. R/: penurunan tekanan akan meningkat pemahaman. Singkirkan gangguan dari lingkungan pasien selama upaya komunikasi. Gunakan papan komunikasi ( meliputi alfabet dan beberapa kata dan gambar yang umum ) bila tersedia. R/: pengurangan gangguan akan meningkatkan pemahaman. Tinjau ulangi hasil uji diagnostik.

R/: untuk menentukan peningkatan atau penurunan proses penyakit pasien; sesuaikan rencana perawatan dengan keadaan penyakit pasien. 3. 3 Implementasi ( disesuaikan dengan intervensi di atas ) 3. 4 Evalusi Pasien menunjukan perbaikan perfusi jaringan ( kardiovaskuler ) yang efektif. Pasien menunjukan perbaikan curah jantung normal. Pasien menunjukan perfusi jaringan ( renal ) yang efektif. Pasien menunjukan perfusi jaringan ( kardiopulmonal ) akibat hipovolemia dalam batas normal. Pasien menunjukan perbaikan membrane mukosa mulut yang baik. Pasien dapat berkomunikasi dengan baik.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Syok adalah sindroma akibat menurunnya perfusi jaringan, yang diikuti dengan berbagai disfungsi/ kerusakan dari organ vital lainnya seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, dll yang jika tidak ditangani dengan cepat maka organ-organ vital tersebut tidak dapat dipulihkan kembali ( syok ireversibel ). Tanda- tanda awal syok adalah berkurangnya volume sirkulasi, kegagalan daya pompa jantung, dan perubahan resistensi pembuluh darah perifer penurunan tonus vasomotor atau peninggian resistensi. Setiap syok yang harus dimonitor adalah Tanda-tanda vital, ritme jantung, penurunan produksi urine dan memerlukan monitoring yang terus- menerus Oleh karena itu Syok merupakan keadaan gawat darurat yang membutuhkan terapi yang agresif dan pemantauan yang kontinyu atau terus-menerus di unit terapi intensif.

4.2 Saran Penting bagi kita mempelajari tentang syok, agar dalam penatalaksanaan konsep asuhan keperawatan gawat darurat dapat kita lakukan dengan cepat dan tepat sesuai dengan metode yang telah di pelajari di atas.

DAFTAR PUSTAKA Dr. Sukwan Handali. 1988 . Perawatan Gawat Darurat. EGC : Jakarta. Michael Eliastam,dkk. 1994 . Penuntun Kedaruratan Medis. EGC : Jakarta. Hudak dan Gallo. 1996 . Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik. Ed.1. EGC : Jakarta. Agus, Budi Sampurna. 2002 . Kedaruratan Medik. Binarupa Aksara : Jakarta. Tabrami Rab. 1998 . Agenda Gawat Darurat. Penerbit Alumni : Bandung. Chintya. M. Taylor, Sheila. S. Ralph. 2003. DIAGNOSIS KEPERAWATAN dengan Rencana Asuhan. EGC : Jakarta. http://www.mediastore.bloges.nurses.2010,December.com http://askep-askeb-kita.blogspot.com Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Syok askep askeb | asuhan-keperawatan.co.cc