Anda di halaman 1dari 9

ADU PUKAT DI LAUT ACEH oleh.

Sulaiman Tripa Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala


Penggunaan trawl (pukat harimau) sudah hampir menjadi kelaziman baru di laut Aceh. Pelakunya ada tiga pihak, yakni nelayan luar negeri, nelayan luar daerah, dan nelayan Aceh sendiri. Masalah pelanggaran terjadi berlapis-lapis. Di samping penggunaan trawl memang jelas dilarang melalui Keppres Nomor 39 Tahun 1980, sebagian kapal yang ditangkap juga tidak memiliki izin dan melakukan penangkapan ikan secara ilegal. Dalam UU Perikanan Nomor 31 Tahun 2004, diatur tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan dan merusak. Ancamannya mencapai Rp2 miliar. Selain itu, dalam konteks Aceh, pengelolaan perikanan dengan prinsip berkelanjutan juga diatur dalam UU Pemerintah Aceh Nomor 11 Tahun 2006.

Inilah gambar pukat harimau (trawl) yang kerap digunakan nelayan-nelayan serakah untuk mencari keuntungan tanpa menjaga keseimbangan ekosistem laut. Kehadiran pukat monster ini cukup membuat gerah nelayan tradisionil yang kadang-kadang hasil tangkapanya cuma secuil. Pukat trawl ini bisa mengancam ikan dari kepunahan

intinya, penggunaan trawl adalah merusak. Namun demikian, penggunaan trawl marak. Ada apa? Pelaku menyadari bahwa itu melanggar hukum (baik hukum tertulis maupun hukum tak tertulis), namun ada dalih ekonomi. Sebagian nelayan kita yang juga mengklaim sebagai nelayan tradisional, menggunakan trawl sebagai jalan terakhir karena tak ada pilihan lain. Di kawasan Aceh Barat, ada sekitar 200 unit trawl yang digunakan nelayan sebagai alat tangkap yang mulai marak digunakan pascamusibah tsunami. Mereka sangat menyadari bahwa penggunaan trawl akan berdampak pada kerusakan flora dan fauna laut. (Serambi Indonesia, 06/01/2009). Masalah trawl tak hanya di Aceh Barat. Pukat trawl beroperasi pada jarak 100 meter dari pantai di perairan Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Akhirnya ribuan nelayan dari 16 gampong memilih tak melaut karena maraknya operasional boat yang menggunakan pukat harimau (masyarakat menyebut pukat katrol) di daerah tangkapan nelayan tradisional. Jika nelayan tradisional memaksakan melaut, bukan hanya tak mendapatkan rezeki, tetapi jaring pun ikut tersapu oleh pukat katrol. Pengelola pukat katrol, nelayan punya jaringan yang kuat dengan berbagai kalangan sehingga mereka leluasa beroperasi. Selama ini dinas sering mengeluarkan pernyataan pukat katrol haram, tapi tindakannya tidak ada. (Serambi Indonesia, 16/02/2009). Aktivitas pukat trawl juga mengganggu nelayan tradisional di Kecamatan Singkil Utara, Singkil, Kuala Baru, dan Pulau Banyak Kabupaten Aceh Singkil. Mereka mengeluh karena pukat harimau beroperasi di wilayah nelayan tradisional. (Serambi Indonesia, 22/02/2008). Berkali-kali organisasi masyarakat Hukom Adat Laot telah meny atakan perang terhadap pukat trawl. Ada lima alasan Panglima Laot Aceh menolak trawl, yakni: Pertama, trawl merusak ekosistem laut. Hal ini diklaim berkaitan dengan pendapatan nelayan tradisional yang berkurang, karena ikan-ikan dikuras dengan cara membabi-buta. Kedua, aktivitas trawl melanggar hukum di Indonesia. Ketiga, aktivitas trawl juga merusak rumpon-rumpon nelayan tradisional Aceh yang dipasang di laut. Keempat, nelayan tradisional Aceh takut mendekat ke kapal trawl karena pemilik trawl itu sangat brutal. Kelima, pengawasan terhadap trawl seperti tidak berjalan sebagaimana mestinya,

padahal ini penting dalam hal menghindari sengketa antara trawl dengan nelayan tradisional. ( Waspada, 25/06/07; Sulaiman Tripa, 2008). Penolakan terhadap trawl ternyata sudah muncul sejak tahun 1982. Menurut Sanusi M. Syaref (2003), waktu itu, nelayan diorganisir oleh Panglima Laot Pasie Teunom Aceh Jaya, Pawang Syahrul Husin dan berhasil menangkap satu kapal trawl dari Thailand yang awaknya membawa pistol LE. Mereka dibawa ke Polres Meulaboh dan ditahan. Sepanjang 1982-1984 sudah mulai ada perhatian terhadap beroperasinya kapal trawl. Kemudian pada tahun 1992, perlawanan kemudian dilakukan dengan melempari bom Molotov oleh nelayan tradisional. Pada 1998, gelombang trawl semakin menjadi-jadi dan nelayan yang menyerbu berhasil menangkap satu kapal trawl. Dalam pertemuan Dewan Meusapat Lembaga Hukum Adat Laot (Panglima Laot Se-Aceh) pada 8-10 Juni 2002 di Banda Aceh, Panglima Laot se-Aceh menyatakan penolakan terhadap rencana pencabutan Keppres Nomor 39 Tahun 1980 karena dinilai dapat membahayakan kehidupan biota laut dan terumbu karang. Mereka mendesak DPRD dan Pemda Nanggroe Aceh Darussalam menyusun peraturan daerah pelarangan trawl di Aceh. Panglima Laot juga mendesak Pemda Aceh untuk menjaga laut dan potensi sumberdaya kelautan dari penjarahan kapal asing di Aceh Barat, Aceh Selatan, Simeulue dan Aceh Singkil. (Koran Tempo, 11/06/02). Sekitar bulan Mei 2002, nelayan tradisional di Teunom Aceh Barat mengancam akan memerangi nelayan luar yang melakukan penjarahan di daerah tangkapan nelayan tradisional. Mereka menganggap aksi yang dilakukan kapal-kapal luar tersebut tidak bisa ditolerir lagi. Nelayan asing kerap mengkasari nelayan tradisional. Pada 29 April 2002, kapal ikan Thailand menabrak kapal nelayan di Suak Ulee, Kecamatan Samatiga. Tragedi itu berlangsung sekitar delapan mil dari pantai. Pada Maret 2002, Panglima Laot Aceh Barat juga melaporkan bahwa nelayan tradisional berpapasan dengan sekawanan kapal ikan Thailand. Jaraknya sekitar enam mil dari pantai. (Waspada, 04/07/02). Pada pertengahan 2007, Panglima Laot Aceh kembali menyatakan perang terhadap trawl. Nelayan tradisional Aceh sangat dirugikan dengan adanya operasional pukat trawl di perairan Aceh, karena nelayan tradisional Aceh takut mendekat ke kapal trawl karena pemilik trawl itu sangat brutal. ( Waspada, 25/06/07). Sejumlah nelayan di Aceh Singkil, juga mengeluh karena mengganasnya operasi trawl telah merusak alat tangkap mereka, sekaligus diklaim merusak daerah tangkapan mereka yang akan mempengaruhi tingkat pendapatan nelayan tradisional. Aktivitas pukat trawl, beroperasi di zona tangkap nelayan tradisional. Mengenai hal ini, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Aceh Singkil telah membuat pengaduan kepada Pemerintah, tapi belum ada tanggapan. Bahkan terkesan operasi trawl tanpa ada larangan dari pihak manapun ( Serambi Indonesia, 22/02/2008). Sebelumnya, nelayan Aceh Singkil melihat sekawanan (sekitar 25) kapal pukat trawl yang diduga dari Sibolga Sumatera Utara dioperasikan di perairan Singkil. (Harian Aceh, 16/07/07). Di perairan Aceh Timur, trawl juga menjadi salah satu yang menggelisahkan nelayan di sana. Hal yang sama dialami nelayan di kawasan Aceh Barat Daya. Nelayan luar daerah dan negara asing, khususnya dari Sibolga dan Thailand, dilaporkan telah menguras ikan di kawasan perairan Aceh Barat Daya. Sementara nelayan setempat hanya bisa pasrah lantaran peralatan tangkap yang digunakan kalah bersaing dengan nelayan luar. Kapal luar tersebut tidak mengalami hambatan siang malam beroperasi kurang dari empat mil dari garis pantai. ( Serambi Indonesia, 02/07/07). Pada tanggal 14 Juli 2007 dini hari, wartawan Harian Aceh bersama seorang nelayan memantau langsung sejumlah pukat harimau dari jarak sekitar 200 meter di lepas pantai di pantai selatan. Ada empat pukat harimau yang dipantau secara sembunyi-sembunyi ketika alat itu sedang dioperasikan. (Harian Aceh, 16/07/07). Di Aceh Barat, nelayan tradisional di Meulaboh menjelaskan aksi penangkapan besar-besaran dilakukan di perairan Aceh Barat oleh kapal luar Aceh. Boat luar sangat meresahkan, sementara penertiban sangat jarang dilakukan. ( Serambi Indonesia, 18/07/07). Pukat harimau mengganas di perairan Kabupaten Aceh Singkil. Akibatnya, nelayan tradisional di Kecamatan Singkil Utara, Singkil, Kuala Baru, dan Pulau Banyak mengeluh karena pukat harimau telah merusak alat tangkap yang mereka miliki. Aktivitas pukat harimau, bukan hanya di lautan dalam, tapi pukat juga beroperasi di zona tangkap nelayan tradisional, sehingga hal ini betul-betul sangat merugikan masyarakat nelayan. Menurut Rosmah Hasmy, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Aceh Singkil yang juga seorang anggota DPRD Aceh Singkil, menyebutkan bebasnya pukat harimau beroperasi di perairan Aceh Singkil diduga ada keterlibatan oknum aparat, karena sampai saat ini pukat harimau tersebut terus bebas beroperasi di perairan Aceh Singkil tanpa ada larangan dari pihak manapun. (Serambi Indonesia, 22/02/2008). Pada pertemuan seluruh Panglima Laot pantai barat (Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, dan Simeulue), April 2008, Lembaga Adat Laot menegaskan kembali penolakannya terhadap trawl. Pukat trawl bisa

merusak ekosistem sumberdaya kelautan, juga dikaitkan dengan kondisi di Aceh, di mana pukat trawl sangat berperan dalam menghancurkan ekosistem sumberdaya laut Aceh. ( Serambi Indonesia, 18 Maret 2008). Sebenarnya Pemkab Nagan Raya pernah meminta seluruh nelayan di wilayah itu segera menghapus penggunaan alat tangkapan ikan yang menggunakan jaring trawl atau cara lain yang bisa merusak ekosistem di laut. Pengelolaan secara baik harus dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan sehingga ekosistem laut akan selalu terpelihara dengan baik. Jika menggunakan alat tangkapan ikan yang tak ramah lingkungan atau alat tangkap yang dilarang, maka hal itu akan merusak segala apek kehidupan yang ada dilautan luas. Selain itu, lingkungan juga akan rusak sehingga akan berakibat fatal bagi manusia dan akan terjadinya bencana karena dampak dari penggunaan alat tangkap itu akan merusak lingkungan. (Serambi Indonesia, 31/12/2008). Kenyataan tersebut, menggambarkan betapa kegelisahan nelayan tradisional di Aceh karena beroperasi trawl. Namun ada pertanyaan, siapa sebenarnya nelayan tradisional?

sumber:
Sulaiman Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Hak Cipta Terlindungi Copyrights by The Aceh Institute | Dilarang keras mengutip, mengacu, mendownload, menggunakan, dan menyebarluaskan isi website ini tanpa seizin penulis asli dan "Aceh Institute" sebagai sumber.

Budidaya Rumput Laut dan Pelestarian Terumbu Karang


Posted on August 27, 2009 by m3sultra Kendari Ekspres 2009-08-27/Halaman 8 Kota Ekspres Peran terumbu karang untuk berkembang baik berbagai spesies ikan tak tak perlu diragukan lagi. Tidak hanya itu, terumbu karang juga bermanfaat sebagai sumber bahan obat dan medis. Mentyelamatkan terumbu karang, berarti menjaga ketersediaan ikan bagi kelangsungan kehidupan. Aktivitas pengeboman yang banyak dilakukan nelayan, termasuk nelayan Bajo, diakui mengakibatkkan terumbu karang rusak, bahkan mati. Padahal, kerusakan dan matinya terumbu karang merupakan lonceng kematian bagi spesies ikan di dalamnya. Saat ini, kerusakan terumbu karang mengancam seluruh spesies terumbu karang di Sultra. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra menunjukkan, kerusakan terumbu karang di seluruh Sultra diperkirakan 80 persen. Kerusakan itu selain diakibatkan bom dan sinida, juga karena pemangsa alami terumbu karang seperti bulu babi atau mahkota berduri. Pemanasan global yang tenagh menjadi pembicaraan dunia turut andil menyebabkan kerusakan terumbu karang karena mengakibatkan pemutihan. penggunaan bom dan sinida, boleh dikatakan paling banyak merusak terumbu karang,yang berakibat mengurangi ketersediaan ikan. Kesadaran pentingnya melestarikan terumbu karang yang menjadi rumah bagi ratusan spesies ikan bisa menjadi motivator. Faktor inilah yang menyadari masyarakat Desa Ghoebalano Kecamatan Duruka Kabupaten Muna, baralih profesi menjadi pembudidaya rumput lau. La Tono tahu, jika menggunakan bom untuk mencari ikan, bisa memperoleh ikan dalam jumlah yang cukup banyak tetapi resikonya sangat besar. 20 tahun lalu, ia pernah menggunakan bom, tetapi sejak dia mendaapt informasi dari Dinas Perikanan Kabupaten Muna, bahwa menggunakan bom sangat merusak terumbu karang, maka secara perlahan ia beralih profesi menjadi pembudidaya rumput laut. Sugianto (42), boleh dibilang pelopor budidaya rumput laut Desa Ghoebalano , juga mengungkapkan hal yang sama. Malah, ia menyatakan, masyarakat desa Ghoebalano sadar sendiri akan ancaman kekurangan ikan jika terus menggunakan bom ketika menangkap ikan. Olehnya itu, awal tahun 2003, ia memulai budidaya rumput laut ini. Hasilnya bisa dibilang fantastis, saya bisa menyekolahkan anak saya sampai kuliah di perguruan tinggi, akuinya. Kesadaran akan pentingnya kelestarian terumbu karang yang menjadi rumah bagi ratusan ikan. Tanpa bom dalam menangkap ikan, atau dengan budidaya rumput laut akan membuat terumbu karang tetap lestari. Demi kepentingan bersama, untuk melestaarikan keanekaraagaman hayati laut Sultra, nelayan Desa Ghoebalano sudah melakukannya.
http://m3sultra.wordpress.com/2009/08/27/budidaya-rumput-laut-dan-pelestarian-terumbu-karang/

BUDIDAYA RUMPUT LAUT: Kaltim Akan Datangkan Transmigran dari Yogyakarta


Oleh Rachmad Subiyanto on Thursday, 25 July 2013 Share on Facebook Twitter Delicious Digg
ANTARA

Ilustrasi Petani Rumput Laut

Bisnis-kti.com, BALIKPAPAN Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berencana mendatangkan transmigran asal Yogyakarta untuk membudidayakan rumput laut di daerah itu yang memiliki potensi cukup besar. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Iwan Mulyana mengatakan pihaknya masih kekurangan tenaga kerja untuk membudidayakan rumput laut. Dia mengakui telah melakukan penjajakan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengundang tenaga kerja melalui program transmigrasi. Kalau memang mau datang, kami menyambut baik karena masih cukup terbuka areal yang bisa dikelola di sini, ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Kamis (25/7/2013). Selama ini, tambah Iwan, pengembangan rumput laut dilakukan di daerah pesisir seperti di Penajam Paser Utara, Balikpapan, Kutai Timur hingga ke Tarakan dan Nunukan. Bahkan, katanya produksi rumput laut di Nunukan bisa mencapai 600 ton rumput laut kering per bulan. Selain itu, beberapa daerah yang juga mulai mengembangkan budidaya rumput laut seperti Kutai Timur mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Akan lebih baik lagi kalau ada tambahan tenaga kerja agar hasilnya bisa lebih optimal, tukasnya. Dia mengatakan ada rencana untuk membangun pabrik pengolahan rumput laut di Kaltim untuk memermudah pemasaran hasil produk budidaya rumput laut. Pengolahan menjadi tepung juga akan memermudah ekspor hasil produksi budidaya rumput laut. Pelatihan Manajemen Sementara itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menggelar pelatihan manajemen keuangan keluarga dan usaha bagi pembudidaya rumput laut. Konsultan UMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Muhammad Soleh mengatakan selama ini manajemen keuangan pembudidaya rumput laut belum cukup baik. Aliran cashflow yang belum tertata dengan baik tersebut menyebabkan tidak banyak berubahnya tingkat ekonomi masyarakat. Karena itu, kami menggelar pelatihan agar manajemen keuangan pembudidaya rumput laut tersebut bisa lebih baik, tukasnya. Soleh menyebutkan pendapatan bersih yang diterima oleh pembudidaya rumput laut bisa mencapai Rp8,5 juta per bulan dengan harga Rp9.500 per kg. Sayangnya, pendapatan tersebut tidak bisa diatur dengan baik sehingga untuk memulai pembibitan rumput laut, pembudidaya harus meminjam uang dari tengkulak.

Dia pun mendorong pembentukan kelembagaan pembudidaya rumput laut melalui koperasi sehingga memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Soleh mengaku sudah ada koperasi yang dibentuk dan juga telah bertransaksi dengan pabrik di Serang, untuk membeli hasil budidaya rumput laut dengan harga yang lebih baik. (ras/wde) Sumber: http://www.bisnis-kti.com/index.php/2013/07/budidaya-rumput-laut-kaltim-akan-datangkantransmigran-dari-yogyakarta/

Pelestarian hutan bakau Sep 14, 2010


Melestarikan dan menjaga Hutan bakau (Mangrove) Pelestarian alam merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan bumi ini dari perubahan iklim yang semakin ekstrim akhir-akhir ini. Mumpung belum terlambat, ada banyak yang masih bisa (sempat) kita lakukan untuk melestarikan alam sekitar kita.

Salah satu pelestarian alam yang lagi di giatkan saat ini adalah pengembangbiakan hutan bakau (mangrove) di daerah pesisir. Apakah hutan bakau itu ? Hutan Bakau (mangrove) merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur.

Apakah fungsi dan peranan hutan bakau ? Hutan bakau atau mangrove memfunyai fungsi sebagai berikut : sumber 1. Habitat satwa langka. Hutan bakau sering menjadi habitat jenis-jenis satwa. Lebih dari 100 jenis burung hidup disini, dan daratan lumpur yang luas berbatasan dengan hutan bakau merupakan tempat mendaratnya ribuan burug pantai ringan migran, termasuk jenis burung langka Blekok Asia (Limnodrumus semipalmatus). 2. Pelindung terhadap bencana alam. Vegetasi hutan bakau dapat melindungi bangunan, tanaman pertanian atau vegetasi alami dari kerusakan akibat badai atau angin yang bermuatan garam melalui proses filtrasi. 3. Pengendapan lumpur. Sifat fisik tanaman pada hutan bakau membantu proses pengendapan lumpur. Pengendapan lumpur berhubungan erat dengan penghilangan racun dan unsur hara air, karena bahan-bahan tersebut seringkali terikat pada partikel lumpur. Dengan hutan bakau, kualitas air laut terjaga dari endapan lumpur erosi. 4. Penambah unsur hara. Sifat fisik hutan bakau cenderung memperlambat aliran air dan terjadi pengendapan. Seiring dengan proses pengendapan ini terjadi unsur hara yang berasal dari berbagai sumber, termasuk pencucian dari areal pertanian. 5. Penambat racun. Banyak racun yang memasuki ekosistem perairan dalam keadaan terikat pada permukaan lumpur atau terdapat di antara kisi-kisi molekul partikel tanah air. Beberapa spesies tertentu dalam hutan bakau bahkan membantu proses penambatan racun secara aktif 6. Sumber alam dalam kawasan (In-Situ) dan luar Kawasan (Ex-Situ). Hasil alam in-situ mencakup semua fauna dan hasil pertambangan atau mineral yang dapat dimanfaatkan secara langsung di dalam kawasan. Sedangkan sumber alam ex-situ meliputi produk-produk alamiah di hutan mangrove dan terangkut/berpindah ke tempat lain yang kemudian digunakan oleh masyarakat di daerah tersebut, menjadi sumber makanan bagi organisme lain atau menyediakan fungsi lain seperti menambah luas pantai karena pemindahan pasir dan lumpur. 7. Transportasi. Pada beberapa hutan mangrove, transportasi melalui air merupakan cara yang paling efisien dan paling sesuai dengan lingkungan. 8. Sumber plasma nutfah. Plasma nutfah dari kehidupan liar sangat besar manfaatnya baik bagi perbaikan jenisjenis satwa komersial maupun untukmemelihara populasi kehidupan liar itu sendiri. 9. Rekreasi dan pariwisata. Hutan bakau memiliki nilai estetika, baik dari faktor alamnya maupun dari kehidupan yang ada di dalamnya. Hutan mangrove memberikan obyek wisata yang berbeda dengan obyek wisata alam lainnya. Karakteristik hutannya yang berada di peralihan antara darat dan laut memiliki keunikan dalam beberapa hal. Para wisatawan juga memperoleh pelajaran tentang lingkungan langsung dari alam. 10. Sarana pendidikan dan penelitian. Upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan laboratorium lapang yang baik untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. 11. Memelihara proses-proses dan sistem alami. Hutan bakau sangat tinggi peranannya dalam mendukung berlangsungnya proses-proses ekologi, geomorfologi, atau geologi di dalamnya. 12. Penyerapan karbon. Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan bakau justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon. 13. Memelihara iklim mikro. Evapotranspirasi hutan bakau mampu menjaga ketembaban dan curah hujan kawasan tersebut, sehingga keseimbangan iklim mikro terjaga.

14. Mencegah berkembangnya tanah sulfat masam. Keberadaan hutan bakau dapat mencegah teroksidasinya lapisan pirit dan menghalangi berkembangnya kondisi alam.

Melihat dari besarnya fungsi dari hutan mangrove diatas, sangat penting kiranya bagi pemerintah pada khususnya untuk lebih menjaga dan melestarikan hutan-hutan bakau yang ada di daerah pesisir nusantara ini. Memang memperbaiki alam yang sudah terlanjur rusak tidak mudah dan butuh biaya yang cukup tinggi, namun apalah arti dana yang dikeluarkan jika dibandingkan dengan manfaat yang akan kita rasakan, terutama untuk generasi penerus kita nanti. "Tentu lebih baik menghabiskan uang rakyat untuk kebaikan umat manusia daripada habis untuk dikorupsi dan membangun gedung serta fasilitas mewah untuk anggota DPR atau pejabat tinggi" :).

Cristiano Ronaldo, gelandang timnas Portugal dan klub Real Madrid, memang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan.
Pada Maret lalu, Cristiano Ronaldo telah diaklamasi sebagai Duta Mangrove Bali oleh Tommy Winata selaku pendiri Yayasan Artha Graha Peduli yang bergerak dalam pelestarian hutan mangrove (bakau) di Indonesia. Ronaldo lalu merespon positif terhadap hal ini dan berjanji akan datang ke Bali sebagai pengesahannya. Benar saja, pemain yang sedang diisukan akan kembali ke Manchester United, klub yang membesarkan namanya, ini telah sampai di Bali dua malam yang lalu. Dan, pada kemarin pagi, 26 Juni, Ronaldo telah melakukan penanaman bakau bersama Presiden SBY yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono di Taman Hutan Raya Ngurah Rai sebagai bagian dari acara Save Mangrove, Save Earth.

CR 7 Menanam pohon bakau disaksikan beberapa media lokal dan internasional. (sumber foto: Detik)