Anda di halaman 1dari 5

GENDERISASI DEMOKRASI DI INDONESIA

Latar Belakang Abad ini digelari sebagai abad Demokrasi karena semakin meluasnya tingkat penerimaan dan penerapan demokrasi sebagai sebuah pilihan sistem politik dalam sebuah negara. Dengan menggunakan indikator freedom house, UNDP mencatat lebih dari 2/3 manusia di muka bumi ini telah hidup dibawah sistem politik yang demokratis. 1 Prestasi besar yang dicapai oleh demokrasi semenjak kelahirannya. Keuntungan dari penerapan mekanisme demokrasi baik secara substantif dan prosedural serta menglobalnya isu demokrasi menjadi alasan tingginya tingkat penerimaan demokrasi saat ini. Satu hal yang penting dicatat disini bahwa demokrasi tidak jatuh dari langit, demokrasi adalah produk kultural manusia yang hidup dan berkembang dalam batasbatas kesejarahannya. Sebagai sebuah produk kebudayaan yang historis, demokrasi tentu saja tidak statis dan tidak pernah mencapai titik final tapi akan selalu mengalami pengayaan dalam perkembangannya sebagai wujud dialog dengan aspek kultural maupun struktural sebuah masyarakat yang menerapkannya, sekalipun di negara yang telah dianggap mapan dalam praksis demokrasinya. Hal ini dibuktikan dengan studi empiris yang dilakukan oleh Giddens tentang tingginya angka golput dalam setiap pemilu. Fenomena golput ini bukan karena ketidakpercayaan masyarakat terhadap demokrasi tetapi karena banyaknya hal-hal yang belum dijangkau oleh demokrasi dalam perkembangannya hari ini, sehingga memunculkan ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem demokrasi. Isu ekologi, dinamika internasional dan isu gender setidaknya menjadi

UNSFIR, Human Development Report

isu yang banyak disoroti oleh masyarakat sebagai wilayah yang serba redup dalam penerapan demokrasi saat ini. Berangkat dari tesis ini, bukannya peruntuhan demokrasi sebagai agenda untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tetapi pendalaman demokrasi (deepening democraty). Pendalaman demokrasi adalah upaya untuk lebih mendorong demokrasi agar memperkaya dirinya dengan beberapa isu yang menjadi kebutuhan ummat manusia tetapi selalu di abaikan dalam praktek demokrasi. Tiga Isu yang dianggap sebagai bagian dari pendalaman demokrasi adalah genderisasi demokrasi, sustunaible ecology dan demokratisasi lintas negara. Inilah wujud dialog demokrasi dengan konteks sekaligus pertanda bahwa demokrasi tidak pernah final tetapi selalu mengalami pengayaan. Terlepas dari itu, agenda pendalaman demokrasi ini menjadi penting bukan saja untuk negara yang telah mempraktekkan demokrasi tetapi juga bagi negara yang sedang mengalami transisi seperti Indonesia. Upaya pendalaman sebagai koreksi terhadap penerapan demokrasi saat ini dimungkinkan melalui terbukanya ruang koreksi diri (self correcting capacity) dalam demokrasi itu sendiri, salah satu sisi keuntungan dari demokrasi. Genderisasi Demokrasi; Sebuah Keharusan Gender adalah salah satu sisi yang tidak pernah memperoleh perhatian serius dalam demokrasi sehingga menjadi bagian dari agenda pendalaman demokrasi. Isunya adalah genderisasi demokrasi, yaitu bagaimana mendorong demokrasi tidak saja berbicara tentang hubungan antara negara, pasar dan masyarakat, tetapi menempatkan gender sebagai salah satu dimensinya. Ketidakadilan gender tidak hanya terjadi di masyarakat feodal, tetapi juga di masyarakat yang mengklaim diri demokratis sekalipun.

Pembedaan hak antara laki-laki dan perempuan dengan menempatkan perempuan sebagai warga negara kelas dua menjadi kenyataan dimana-mana. Karena itu menjadi penting untuk mengawinkan konsep demokrasi dan gender dalam sebuah jalinan yang kemudian diukur dengan indikator demokrasi dan gender. Merujuk pada pendapat Juan J Linz, ada tiga indikator demokrasi yaitu Partisipasi, Kontestasi dan Liberalisasi. Partipasi merujuk pada keterlibatan masyarakat dalam setiap proses politik mulai dari pemilihan umum sampai pengambilan kebijakan publik, sementara kontestasi merujuk pada kesempatan yang terbuka dan sama diantara seluruh elemen masyarakat untuk memperebutkan jabatan publik, dan liberalisasi adalah pengakuan atas hak-hak sipil politik masyarakat. Semakin tinggi penerapan ketiga

indikator tersebut dalam sebuah sistem politik berarti semakin demokratis negara tersebut. Terkait dengan isu genderisasi demokrasi, berarti ketiga indikator tersebut masih perlu diberikan penekanan jender sehingga berbicara partisipasi, kontestasi dan liberalisasi sisi jender tidak diabaikan. Karena itu, indikator dari genderisasi demokrasi adalah partisipasi politik perempuan, kontestasi politik perempuan dan liberalisasi hakhak sipil-politik perempuan. Rendahnya tingkat partisipasi, kontestasi dan liberalisasi perempuan berarti diabaikannya aspek jender dalam sebuah sistem politik negara tertentu. Tujuan dari genderisasi demokrasi dari sisi gender adalah keadilan gender (gender equity). Karena jauhnya jarak antara prasyarat sekaligus indikator dasar dari genderisasi demokrasi (partisipasi, kontestasi dan liberalisasi) dan tujuan dari genderisaasi demokrasi (gender equity) sehingga indikator antara, sekaligus target jangka pendek dari genderisasi demokrasi ditetapkan. Indikator sekaligus target yang populer digunakan adalah tingkat

keterwakilan dan perspektif jender dari setiap kebijakan publik. Tingkat keterwakilan yang dimaksu adalah tingkat keterwakilan perempuian di lembaga-lemabaga kenegaraan (eksekutif, legislatif dan yudikatif) dan perspektif jender dalam setiap kebijakan publik. Keterwakilan perempuan di lembaga kenegaraan bukan saja sebagai perwujudan penghargaan atas representasi perempuan, tetapi keterwakilan perempuan dipercaya akan melakukan remoralisasi kelembagaan negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif). Remoralisasi lembaga diartikan sebagai upaya untuk memberikan imperatif moral terhadap lembaga yang didalamnya keterlibatan perempuan tinggi karena perempuan dianggap lebih peka ketimbang laki-laki. Perempuan di masyarakat yang patriarkal ditempatkan pada wilayah privat yang berhubungan dengan anak dan kebutuhanm seharihari sehingga lebih peka terhadap urusan-urusan kemanusiaan ketimbang laki-laki. Walaupun secara metodelogi dan argumentasi pendapat ini perlu dikritisi tetapi banyaknya studi empirik membenarkan hal ini. Sementara indikator perspektif jender dalam kebijakan publik adalah bagaimana produk-produk kebijakan publik yang dikeluarkan menempatkan perempuan sebagai pihak yang perlu di proteksi dan diberdayakan sehingga keadilan jender mampu tercapai. Yang diukur adalah aspek perlindungan terhadap perempuan dan pengakuan atas keadilan jender dalam setiap produk kebijakan mulai dari isu kekerasan terhadap perempuan sampai persamaan akses perempuan dalam layanan publik.

Indikator: 1. Keterwakilan 2. Kebijakan Berbasis Gender

Genderisasi Demokrasi di Indonesia Arah Genderisasi demokrasi di Indonesia Partisipasi Perempuan Kontestasi Perempuan Liberalisasi Perempuan

Keterwakilan Perempuan Genderisasi Kebijakan Publik

Remoralisasi Parlemen Kualitas Hidup Perempuan

Kualitas Demokrasi Gender Equlity