Anda di halaman 1dari 4

.

LATAR BELAKANG

Hospital merupakan suatu unit jasa yang memberikan jasa pelayanan sosial yang memiliki keunikan tersendiri karena selain sebagai unit bisnis juga memliki misi sosial. Perkembangan pengelolaan rumah sakit, baik dari aspek manajemen maupun operasional sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan yaitu lingkungan eksternal dan internal. Tuntutan eksternal antara lain adalah hospital dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan biaya pelayanan yang terkendali yang berujung pada kepuasan pasien. Sedangkan tuntutan dari pihak internal antara lain adalah memberi peningkatan kesejahteraan untuk pelanggan internal dan perkembangan teknologi untuk menunjang pelayanan rumah sakit iu sendiri.

Pemrograman, sebagaimana kita ketahui, merupakan tahapan kedua dari keseluruhan proses perencanaan sebuah rumah sakittahapan pertama adalah studi kelayakan/feasibility study(Rosenfeld, 1981). Dan program ruang, merupakan salah satu proses yang cukup signifikan dari keseluruhan proses atau tahapan pemrograman. Sebagai seorang perencana rumah sakit baik seorang arsitek, maupun manajer rumah sakit (hospital administrator) penguasaan operasional program ruang merupakan nilai mutlak yang tidak dapat ditawar lagi. Hal ini untuk menghindarkan ketidaksesuaian fungsi maupun besaran ruang yang kurang memenuhi kebutuhan standar sebuah rumah sakit. Tabel berikut ini menunjukkan daftar bagian dari sebuah rumah sakit yang dapat membantu kita untuk memvisualisasikan ukuran/besaran ruang tiap-tiap bagian rumah sakit (Porter, 1982). Tabel ini hanya dapat digunakan untuk Fasilitas Kesehatan atau Rumah Sakit yang bukan merupakan Rumah Sakit Pendidikan.

Dalam pemrograman dan perencanaan sebuah rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan, kebanyakan arsitek dan manajer rumah sakit menggunakan standar ini ditambah dengan sirkulasi untuk menentukan luas riil rumah sakit dan menentukan biaya untuk pengajuan sebuah proyek rumah sakit. Sehingga diharapkan produk perencanaan rumah sakit nantinya baik masih berupaMaster Program maupun Master Plan, atau bahkan ketika sudah memasuki tahap Design Development Plan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun profesional dengan kualitas yang optimal.

Kriteria Umum Sarana pelayanan kesehatan sekarang dirancang tidak hanya untuk mendukung dan memfasilitasi perkembangan terkini obat-obatan, teknologi, keselamatan pasien, namun juga mencakup pasien, keluarga, dan pemberi pelayanan dalam sebuah lingkungan yang mendukung secara psiko-sosial. Karakteristik dari lingkungan fisik tempat pasien menerima pelayanan, juga mempengaruhi keluaran (outcomes), tingkat kepuasan pasien, kepuasan staf, dan keluaran organisasi itu sendiri. Efeknya dapat berupa yang positif atau negatif. Tidak ada lingkungan yang netral. Para arsitek sarana kesehatan, desainer interior, dan peneliti telah mengidentifikasi empat faktor kunci, yang mana jika diaplikasikan dalam desain lingkungan pelayanan kesehatan, dapat meningkatkan secara terukur keluaran pasien: Mengurangi atau menghilangkan penyebab stres lingkungan (environmental stressors) Menyediakan selingan yang positif (positive distractions) Memungkinkan dukungan sosial Memberikan perasaan untuk pengendalian (sense of control) Bukti-bukti yang dikumpulkan dari peneliti pada proyek penelitian yang telah selesai menunjukan manfaat terukur pada hasil keluaran pasien, keselamatan, dan kualitas pelayanan, dari faktor-faktor seperti: Ketersedian jendela dan dampaknya pada pengalaman pasien Lingkungan yang tenang untuk pasien dan staf Kemudahan menemukan arah (wayfinding) dalam komplek bangunan Persoalan privasi dalam tata letak pelayanan kesehatan Lingkungan interior dan dampaknya pada orang, peralatan, dan penggunaan ruang Kontribusi warna-warna yang tepat pada pemulihan pasien. Lingkungan pelayanan kesehatan dapat dikatakan berkualitas jika: Mendukung keunggulan mutu secara klinis pada tindakan terhadap pasien Mendukung kebutuhan spiritual dan psiko-sosial pasien, keluarga, dan staf Menghasilkan efek positif yang terukur pada keluaran klinis pasien dan efektivitas staf.

Contoh penggunaan tabel diatas adalah sebagai berikut: Anda merencanakan sebuah Rumah Sakit dengan kapasitas tempat tidur 50 buah. Maka, Luas Ruang untuk Radiologi adalah: 50 (TT) x 3.6 (m2) = 180m2 atau ruangan berukuran (contoh) 8x10m.

. Latar Belakang Ruang adalah kebutuhan manusia, selain dilihat sebagai kebutuhan fisik seperti tidur dan makan, kebutuhan ruang juga dapat dilihat dari bentuk pendekatan system yang mejadi acuan sebelum kita merancang sebuah ruang untuk berbagai kegiatan manusia. Untuk mengetahui jenis ruang, fungsi ruang, syarat-syarat mutlak ruangan, aktivitas, kondisi, dan karakteristik orang yang akan kita rancang ruangannya. Proses pertama yang harus dilakukan secara efektif adalah menjalankan analisis yang konstruktif dan menyeluruh, terutama mengenai aturan baku suatu ruangan maupun perilaku dan kebiasaan. Melihat fenomena inilah, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam sebuah konsep desain arsitektur, perancangan bangunan secara langsung selain harus terkait dengan kebutuhan sosial dan budaya masyarakat yang menempatinya tetapi juga harus berdasarkan standarisasi ruang. Hal ini disebabkan oleh aktivitas dan perilaku yang dilakukan akan sangat berpengaruh pada situasi ruangan yang akan digunakan. Tanpa mengedepankan standarisasi ruang maka dikhawatirkan akan terjadi ketidaknyamanan pengguna ruangan oleh penghuni mampun masyarakat yang terlibat dalam penggunaannya. Namun tidak begitu saja dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, konsep disain yang dihasilkan juga harus menjadi bangunan yang memiliki kemampuan sustainability untuk bertahan mengikuti pola perubahan perilaku masyarakat dan perkembangan zaman. Melalui penjabaran di atas, kami melakukan pengkajian secara khusus, bertujuan untuk menganalisis lebih lanjut akan hubungan sebuah aktifvitas tertentu terhadap kebutuhan desain dan konsep perancangan arsitektur mengikuti teori yang telah ada dalam memenuhi kebiasaan dan kondisi masyarakat dengan mengedepankan pendekatan system yang telah baku dalam pembangunan sebuah Rumah Sakit.

Rumah Sakit Umum Pindad adalah sebuah rumah sakit yang terletak di daerah Kiara Condong Bandung, yang saat ini terdaftar sebagai rumah sakit umum kelas D. Redesain adalah kegiatan perencanaan dan perancangan kembali suatu perubahan fisik tanpa merubah fungsinya baik melalui perluasan maupun pemindahan lokasi. Dalam kasus ini, batasan perancangan adalah meredesain Rumah Sakit Umum Pindad menjadi rumah sakit umum kelas C. Tujuan dari perancangan adalah merancang rumah sakit sesuai dengan standar mutu pemerintah dan diintegrasikan dengan konsep Healing Architecture. Permasalahan yang timbul pada perancangan Redesain Rumah Sakit Umum Pindad ini di antaranya adalah bagaimana merancang sirkulasi yang efektif dan efisien bagi setiap pengguna, bagaimana menciptakan rumah sakit yang mendukung proses penyembuhan, bagaimana merancang pemisahan zona-zona yang berbeda dan tipe-tipe pasien dan pengguna. Perancangan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil dari analisis tapak dan hubungan fungsional yang menghasilkan garis-garis besar zona-zona yang berada pada tapak. Rumah Sakit Umum Pindad ini dibagi menjadi 4 massa yang ditempatkan di kanan dan kiri lahan. Bangunan

pertama ditempatkan pada bagian kiri lahan merupakan bangunan yang menyediakan fungsi-fungsi medis darurat yaitu Instalasi Gawat Darurat, Radiologi, Laboratorium, Instalasi Kebidanan dan Kandungan, Instalasi Perawatan Intensif dan Instalasi Bedah Sentral. Fungsi bangunan medis non darurat ditempakan di sebelah kiri lahan, yang menyediakan fungsi poliklinik dan rehabilitasi medis. Di samping itu bagian sekretariat rumah sakit yang berupa kantor dan ruang serbaguna juga ditempatkan di daerah ini. Bangunan pendukung dan servis diletakkan di belakang kedua bangunan tadi pada lantai dasar, sedangkan pada lantai atasnya digunakan unutk mewadahi fungsi rawat inap. Di antara bangunan terdapat taman penyembuhan yang berfungsi untuk membantu proses penyembuhan khususnya dalam memberikan suasana rileks, yang dapat diakses dari lantai dasar. Ekspresi bangunan merespon terhadap keinginan untuk memberikan citra yang inklusif,ramah dan hangat. Kata Kunci: rumah sakit, redesain