Anda di halaman 1dari 23

Laporan

CROUP SYNDROME

Oleh: Mariam Binti Abdul Rashid, S.ked 54081001114

Pembimbing: dr. Yulia, SP.A (K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

BAB I LAPORAN KASUS

A. IDENTIFIKASI Nama Umur / Tanggal Lahir Jenis kelamin Berat Badan Tinggi Badan Agama Alamat Kebangsaan MRS : Habibah Bt Ruslan : 11 bulan : Perempuan : 8 kg : 74 cm : Islam : Jl. Kebuk Jeruk, Sekayu. : Indonesia : 21 Agustus 2012

B. ANAMNESA (autoanamnesis, 22 Agustus 2012) Keluhan Utama Keluhan Tambahan : Suara ngorok (serak) : Demam (+) Pilek (+)

Riwayat Perjalanan Penyakit 1 minggu sebelum MRS penderita mengeluh pilek (+) , demam (+) tidak terlalu tinggi, hilang dengan sendiri. Batuk (-), sakit tenggorokan (-), sesak nafas (-) BAB dan BAK normal. Mual (-) muntah (-) dan sukar menelan (-). 2 hari sebelum MRS penderita masih mengeluh pilek (+), batuk (+), sesak nafas (+), demam (+) tidak terlalu tinggi. 1 hari sebelum MRS, os masih pilek (+), demam (+) tinggi, batuk (+) terdengar suara seperti anjing. Suara ngorok (+) waktu os tidur. Sesak nafas (-), mual (-) muntah (-), BAB dan BAK normal. Sukar menelan (-). Os langsung dibawa berobat ke RS 24 jam. Os tidak diberi pengobatan dan langsung disuruh ke RSMH.

Riwayat Penyakit Dahulu o Riwayat sering batuk pilek (+) o Riwayat campak (+).

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama dalam keluarga tidak ada.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran Masa kehamilan : Cukup bulan

Partus Ditolong oleh Tanggal Berat badan lahir Panjang badan lahir Keadaan saat lahir

: Spontan : Dukun : 17 September 2011 : 3500 gram :: Langsung menangis

Riwayat Makan ASI : lahir sekarang

Susu Botol/Kaleng :Susu formula (Bebelaq) 4 bulan - sekarang Bubur tim Nasi biasa Sayuran Buah : 8 bulan - sekarang : 9 bulan sekarang : (+) : (+)

Riwayat Perkembangan Tengkurap Duduk Merangkak : 4 bulan : 8 bulan : 8 bulan

Berdiri Berjalan Berbicara Kesan

: 9 bulan : Belum : 7 bulan : Perkembangan motorik dalam batas normal

Riwayat Imunisasi BCG DPT Polio Hepatitis B Campak Kesan : 1 kali, scar + (pada lengan kanan) : 3 kali : 3 kali : 3 kali : 1 kali : Imunisasi dasar lengkap

C. PEMERIKSAAN FISIK Tanggal pemeriksaan: Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernapasan : Kompos mentis : (-) : 136 x/menit, irreguler, isi dan tegangan: cukup : 28 x/menit

Suhu Berat Badan Tinggi Badan Status Gizi : BB/U TB/U BB/TB Kesan

: 37,1 c : 8 kg : 74 cm : 8/9.2 x 100% = 86,9% : 74/72 x 100% = 102,7% : 8/9,4 x 100% = 85,1% : Gizi baik

Keadaan Spesifik Kepala Bentuk Rambut Mata : Oval, simetris. : Hitam, lurus, tidak mudah dicabut. : Cekung (-), Pupil bulat isokor 3mm, reflek cahaya +/+, konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), edema palpebra -/Hidung Telinga Mulut : Sekret (+), napas cuping hidung (-). : Sekret (-). : Mukosa mulut dan bibir kering (-), sianosis sirkum oral (-).

Tenggorokan : Faring hiperemis (+), tonsil hipertrofi T2=T2 Leher : JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB (-).

Toraks Paru-paru Inspeksi : Statis simetris, kiri = kanan. Dinamis simetris, kiri = kanan, retraksi (+) ic, suprasternal. Palpasi Perkusi : Stemfremitus kanan=kiri.

: Sonor pada lapangan paru kanan dan kiri.

Auskultasi : Vesikuler (+) normal pada kedua hemitoraks, ronki (-), wheezing (-).

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus kordis tidak : Iktus kordis tidak teraba : d.b.n

Auskultasi : HR: 136 x/menit, reguler, gallop (-), thrill (-)

Punggung

: tidak ada kelainan. Eritema marginatum (-).

Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi : Datar : Lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba. : Pekak pada perabaan hepar, ascites (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Lipat paha dan genitalia Genitalia tidak ada kelainan.

: Pembesaran KGB (-), edema skrotum (-),

Ekstremitas

: Akral dingin (-), sianosis (-), clubbing finger (-) edema (-)

Pemeriksaan Neurologis Fungsi motorik Pemeriksaan Tungkai Kanan Gerakan Kekuatan Tonus Klonus Reflek fisiologis Reflek patologis Fungsi sensorik GRM Luas +5 Eutoni + normal Tungkai Kiri Luas +5 Eutoni + normal : Dalam batas normal + normal + normal Lengan Kanan Luas +5 Eutoni Lengan Kiri Luas +5 Eutoni

Fungsi nervi craniales : Dalam batas normal : Kaku kuduk tidak ada

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah rutin (21 Agustus 2012) Hb Eritrosit Hematokrit Leukosit LED Hitung jenis Natrium Kalium Kalsium : 11,4 g/dl : 4, 320,000 juta/mm3 : 32 vol% : 27.900/mm3 : 58 mm/jam : 0/0/1/76/16/7 : 140 mmol/l : 4,1 mmol/l : 9,0 mmol/l

E. DIAGNOSA BANDING Tonsilopharyngitis Akut Akut Epiglotitis

F. DIAGNOSA KERJA Sindrom Croup ( Acute Laryngotracheabronchitis)

G. PEMERIKSAAN ANJURAN - Ro Soft tissue cervical AP/Lateral

H. PENATALAKSANAAN

- O2 nasal 1 litre/m - IVFD D5 NS gtt 8 x/ menit (makro) - Ampicilin 3 x 275mg - Chloramphenicol 3 x 150 mg - Dexamethasone 3 x 1.5mg - Nebulisasi Epinephrine

I. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad functionam : bonam : bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Sindrom croup adalah berbagai penyakit respiratorik yang ditandai dengan gejala akibat obstruksi laring yang bervariasi dari ringan sampai berat berupa stridor inspirasi, batuk menggonggong, suara parau, sampai gejala distres pernapasan.1

2.2 Epidemiologi Croup umumnya terjadi pada anak yang berusia diantara 6 bulan sampai 3 tahun, tetapi dapat juga terjadi pada anak berusia 3 bulan dan sampai 15 tahun. Dilaporkan, sindrom ini jarang terjadi pada orang dewasa . Insidensinya lebih tinggi 1,5 kali pada anak laki-laki daripada anak perempuan (Cherry, 2008). Dalam penelitian Alberta Medical Association, lebih dari 60% anak yang didiagnosis menderita croup dengan gejala ringan, sekitar 4% dirawat di rumah sakit, dan kira-kira 1 dari 4.500 anak yang diintubasi (sekitar 1 dari 170 anak yang dirawat di rumah sakit) 1,2

2.3 Klasifikasi 2.3.1 Klasifikasi Berdasarkan Beratnya Gejala Anak-anak yang menderita sindrom croup, secara luas dapat dikategorikan berdasarkan 4 derajat beratnya gejala:

1). Ringan Gejala batuk menggonggong yang kadang-kadang, tidak terdengar suara stridor saat istirahat, dan tidak adanya retraksi sampai adanya retraksi ringan suprastrenal dan/atau interkostal.

2). Sedang Gejala batuk menggonggong yang lebih sering, suara stidor saat istirahat yang dapat dengan mudah didengar, dan retraksi suprasternal dan dinding sternal saat istirahat, tetapi tidak ada atau sedikit gejala distres pernapasan atau agitasi. 3). Berat Gejala batuk menggonggong yang lebih sering, stridor inspirasi yang menonjol dan kadang-kadang stidor ekspirasi, retraksi dinding sternal yang jelas, dan adanya gejala distres pernapasan dan agitasi yang signifikan. 4). Kegagalan pernapasan terjadi segera Batuk menggonggong (sering tidak menonjol), terdengar stridor saat istirahat (kadang-kadang sulit di dengar), retraksi dinding sternal (dapat tidak jelas), letargi atau penurunan kesadaran, dan jika tanpa tambahan oksigen, kulit tampak kegelapan.1,2

2.3.2 Klasifikasi Berdasarkan Definisi dan Klinis Sindrom seluran pernapasan ini terdiri dari spasmodic croup, acute laryngotracheitis, laryngotracheobronchitis (LTB), laryngotracheobroncho-

pneumonitis (LTBP), dan laryngeal diptheria.

1). Spasmodic Croup Penyakit yang ditandai dengan terbangunnya anak tiba-tiba pada malam hari menunjukkan stridor inspirasi; Cirinya, yaitu saat anak mau tidur tampak sehat atau menderita pilek ringan, tetapi terbangun dengan batuk croup dan stridor. Berhubungan dengan infeksi saluran pernapasan atas yang ringan, adanya edema subglotis yang non-inflamasi. Biasanya terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan croup atau sebelumnya pernah menderita croup.

Manifestasi klinisnya berupa suara parau dan batuk menggonggong, tanpa disfagia, stridor inspirasi derajat minimal-sedang. Pemeriksaan fisik diperoleh: tanpa demam, tanpa faringitis, dengan epiglotis yang normal. Gambaran radiologi berupa penyempitan dari subglotis pada foto anterior-posterior (AP). Pada laboratorium darah diperoleh nilai hitung jenis leukosit dalam batas normal. Etiologinya sama dengan etiologi dari laryngotracheitis.

2). Acute Laryngotracheitis Keadaan dimana terjadi proses inflamasi pada laring dan trakea. Dimana terdapat eritema dan pembengkakan dinding lateral trakea, tepat dibawah pita suara. Biasanya terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan croup. Pada awalnya berupa gejala pilek, seperti hidung tersumbat, batuk dan coryza; demam muncul pada 24 jam pertama; dan dalam 12-48 jam dapat muncul tanda dan gejala obstruksi saluran pernapasan atas. Manifestasi klinis berupa suara parau dan batuk menggonggong, tanpa disfagia, stridor inspirasi derajat minimal-berat; presentasi toksik yang minimal. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya demam sekitar 37,8 40,50C, dengan faringitis minimal serta epiglotis yang normal. Gambaran radiologi berupa penyempitan dari subglotis pada foto anterior-posterior (AP). Pada laboratorium darah diperoleh leukositosis ringan, dengan sel polimorfonuklear sebanyak lebih dari 70%. Umumnya disebabkan oleh virus Parainfluenza 1, Parainfluenza 3, virus Influenza A, Respiratory syncytial virus, Measles, Adenovirus dan Rhinovirus.

3).

LTB

(Laryngotracheobronchitis)

dan

LTBP

(Laryngotracheobroncho

pneumonitis) [termasuk bacterial tracheitis] Peradangan pada laring, trakea, dan bronkus atau paru-paru; Berupa infiltrasi sel-sel radang pada dinding trakea, ditambah timbulnya ulserasi, pseudomembran,

dan mikroabses. Onsetnya serupa dengan laryngotracheitis, tetapi gejalanya lebih berat. Progresifitasnya terjadi dalam 12 jam 7 hari. Manifestasi klinis berupa suara serak dan batuk menggonggong, tanpa disfagia, stridor inspirasi derajat berat; presentasi toksik yang tipikal. Pada pemeriksaan fisik diperoleh hal yang sama seperti pada acute laryngotracheitis, yaitu adanya demam sekitar 37,8 40,50C, dengan faringitis minimal serta epiglotis yang normal. Gambaran radiologi berupa penyempitan dari subglotis (seperti menara / steeple sign) pada foto anterior-posterior (AP), densitas jaringan lunak yang ireguler pada trakea foto lateral, serta peumonia bilateral. Secara laboratorium didapatkan kenaikan atau penurunan yang abnormal dari leukosit, dengan jumlah netrofil > 70% dan adanya kenaikan dari persentase netrofil batang. Dapat disebabkan oleh virus (Parainfluenza 1, 2, 3, Influenza A atau B), pada sebagian besar kasus merupakan infeksi sekunder bakteri, terutama Staphylococcus aureus; bakteri lain termasuk streptococcus grup A, Streptococcus pneumoninae, Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis.

4). Laryngeal Diphtheria Infeksi pada laring dan area lain dari saluran pernafasan berhubungan dengan Corynebacterium diphtheriae, mengakibatkan timbulnya progresifitas dari obstruksi saluran nafas. Biasanya terjadi pada individu dengan riwayat imunisasi yang tidak lengkap atau tidak adekuat. Onsetnya lebih lambat, dengan jangka waktu 2 3 hari. Manifestasi klinis berupa suara serak dan batuk menggonggong, biasanya ada disfagia, stridor inspirasi derajat minimal-berat; dengan presentasi nontoksik. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya demam, 37,8 38,50C, faringitis membranosa, epiglotis biasanya normal tetapi dapat pula terselubungi membran. Gambaran radiologi tidak berguna. Secara laboratorium, ditemukan leukositosis, dengan peningkatan persentasi dari netrofil batang.2,3

2.4 Riwayat Penyakit Gejala-gejala croup dapat muncul dengan atau tanpa didahului gejala-gejala saluran napas atas seperti batuk, pilek dan demam. Gejala croup seringnya timbul menjelang malam dan pada malam hari dengan onset yang mendadak. Gejalagejalanya termasuk: i. ii. iii. iv. batuk seperti suara anjing laut (menggonggong) stridor inspirasi suara parau tanpa demam sampai demam yang sedang

Gejala croup ini mengakibatkan anak sering dibawa ke tempat pelayanan kesehatan dan secara signifikan gejalanya berfluktuasi tergantung dari apakah anak dalam keadaan tenang atau gelisah (agitasi). Pada sebagian besar anak, gejala cruop akan menghilang dalam 48 jam, tetapi sebagian kecil anak, gejala dapat menetap sampai satu minggu.3,4

2.5 Pemeriksaan Fisik Para dokter harus selalu waspada pada kemungkinan timbulnya gejala serupa croup, oleh karena itu, mengetahui riwayat penyakit dan temuan dari pemeriksaan fisik adalah penting. Kunci utama fokus pemeriksaan yaitu: i. ii. iii. iv. v. vi. vii. Terdengarnya suara batuk seperti anjing laut Suara sering kali parau Variasi derajat dari stridor, terutama saat inspirasi Variasi derajat retraksi dinding dada Anak sering menjadi gelisah (agitasi) Tidak adanya air liur Gambaran non-toksik

Temuan lain yang diperoleh dari pemeriksaan fisik berupa: i. ii. iii. iv. Demam (sampai 400C) Takikardia (dengan gejala obstruksi yang lebih berat) Takipnea yang sedang Jika daerah supraglotis dapat dilihat, tampak gambaran yang normal 1,4

2.6 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dan radiologi tidak dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis croup. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan presentasi klinis dan kombinasi dengan pemeriksaan riwayat penyakit yang teliti serta pemeriksaan fisik. Jika ingin dilakukan pemeriksaan laboratorium, hal ini dapat dibenarkan dan harus ditunda saat pasien dalam distres pernapasan . Pemeriksaan imaging tidak diperlukan untuk pasien dengan riwayat penyakit yang tipikal yang berespon terhadap pengobatan, tetapi bagaimanapun juga, foto lateral dan anteroposterior (AP) dari jaringan lunak leher dapat membantu dalam mengklarifikasi diagnosis pada anak dengan gejala serupa croup. Pada foto leher lateral, secara diagnostik dapat membantu, menunjukkan daerah subglotis yang menyempit serta daerah epiglotis yang normal. Pemeriksaan saturasi dengan pulse oxymetre diindikasikan untuk anak-anak dengan croup derajat sedang sampai berat. Terkadang, anak dengan gejala croup bukan derajat beratpun memiliki saturasi oksigen yang rendah, berhubungan dengan keterlibatan intrapulmoner. Kultur virus atau pemeriksaan antigen tidak termasuk pemeriksaan rutin, khususnya selama periode epidemik.2,4

2.7 Penatalaksanaan

2.7.1 Terapi suportif Oleh karena gejala croup sering timbul pada malam hari, banyak orang tua yang merasa khawatir dengan penyakit ini, sehingga meningkatkan kunjungan ke unit gawat darurat. Sehingga penting untuk memberikan edukasi kepada orang tua tentang penyakit yang secara alami dapat sembuh sendiri ini.

i.

Melembabkan Udara (Pengabutan) Pada abad ke-20 terapi dengan melembabkan udara (terapi uap) merupakan

dasar dari manajemen croup, tetapi sekarang ini efektivitasnya masih dipertanyakan. Rumah sakit saat ini menggunakan peralatan penguapan untuk tujuan ini. Cara yang sederhana termasuk memaparkan anak pada udara malam yang basah, atau memaparkan anak pada uap air yang panas. ii. Oksigen

Tatalaksana pemberian oksigen dapat dipakai untuk anak dengan hipoksia. iii. Gabungan Oksigen-Helium Pemberian gas Helium pada anak dengan croup diusulkan karena potensinya sebagai gas dengan densitas rendah (dibanding nitrogen) dalam menurunkan turbulensi udara pada penyempitan saluran pernapasan.

2.7.2 Farmakoterapi

i.

Analgesik/Antipiretik Walaupun belum ada penelitian khusus tentang manfaat analgesik atau

antipiretik pada anak dengan croup, sangat beralasan memberikan obat ini karena membuat anak lebih nyaman dengan menurunkan demam dan nyeri.

ii.

Antitusif dan Dekongestan Tidak ada penelitian yang bersifat eksperimental yang potensial dalam

menunjukkan keuntungan pemberian antitusif atau dekongestan pada anak dengan croup. Lagipula, tidak ada dasar yang rasional dalam penggunaannya, dan karena itu tidak diberikan pada anak yang menderita croup. Tidak ada penelitian yang potensial tentang manfaat antibiotik pada anak dengan croup. Croup sebenarnya selalu berhubungan dengan infeksi virus, sehingga secara empiris terapi antibiotik tidak rasional. Lagipula, jika terjadi super infeksi paling sering bacterial tracheitis dan pneumonia- merupakan kejadian yang jarang (kurang dari 1:1.000) sehingga pemakaian antibiotik untuk profilaksis juga tidak rasional. iii. Epinephrine Berdasarkan data terdahulu, penggunaan epinephrine pada anak dengan croup berat, dapat mengurangi kebutuhan alat bantu pernapasan. Epinephrine dapat mengurangi distres pernapasan dalam waktu 10 menit dan bertahan dalam waktu 2 jam setelah penggunaan. Beberapa penelitian retrospektif dan prospektif

menyarankan pasien yang mendapat terapi epinephrine dapat dipulangkan selama gejalanya tidak timbul kembali setidaknya dalam 2-3 jam setelah terapi. Bentuk epinephrine tartar yang umum digunakan untuk pasien croup; epinephrin 1:1.000 memiliki efek yang sebanding dan sama amannya dengan bentuk tartar. Dosis tunggal (0,5 ml epinephrine tartar 2,25% dan 5,0 ml epinephrine 1:1.000) digunakan untuk semua anak tanpa menghiraukan berat badan. Anak yang hampir mengalami gagal napas, dapat diberikan epinephrine secara berulang. Pemberian epinephrine yang kontinyu dilaporkan telah digunakan dibeberapa unit perawatan intensif anak. iv. Glucocorticoids Steroid adalah terapi utama pada croup. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan kortikosteroid dapat menurunkan jumlah dan durasi pemakaian intubasi, reintubasi, angka dan durasi dirawat di rumah sakit, dan angka kunjungan berulang ke

pelayanan kesehatan, serta menurunkan durasi gejala pada anak yang menderita gejala derajat ringan, sedang dan berat. Dexamethasone sama efektifnya jika diberikan per oral atau parenteral. Dexamethasone dosis 0,6 mg/kg BB merupakan dosis yang umumnya digunakan. Pemberiannya dapat diulang dalam 6 sampai 24 jam. Terdapat beberapa bukti juga yang mengatakan dexamethasone dosis rendah 0,15 mg/kg BB juga sama efektifnya. Di sisi lain, penelitian meta-analisis dengan kontrol, yang memberikan kortikosteroid dosis lebih tinggi, memberikan respon klinis yang baik pada sebagian besar pasien. Inhalasi budesonide juga menunjukkan efektivitas yang sama dengan dexamethasone oral, tetapi cara pemakaiannya lebih traumatik dan lebih mahal sehingga tidak secara rutin digunakan. Pada pasien dengan gejala gagal napas yang berat, pemberian budesonide dan epinephrine secara bersamaan adalah logis dan dapat lebih efektiv daripada pemberian epinephrine saja. Pada pasien dengan gejala muntah-muntah juga merupakan alasan untuk memberikan inhalasi steroid.1,2,3

2.8 Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul adalah: i. ii. iii. Perlunya pemasangan intubasi pada sejumlah kecil pasien (<1%) Bacterial tracheitis dapat memperburuk keadaan pasien croup Henti kardiopulmoner dapat timbul pada pasien yang tidak dimonitor dan tidak diterapi secara adekuat iv. Serta timbulnya pneumonia yang merupakan komplikasi dari croup3

2.9 Prognosis Oleh karena pada umumnya penyebab sindrom croup adalah virus, maka sindroma ini dapat sembuh dengan sendirinya, dan sangat jarang menyebabkan kematian akibat obstruksi saluran pernapasan total. Gejalanya dapat berlangsung dalam 7 hari, tetapi puncaknya pada hari kedua dari perjalanan penyakit.1

BAB III ANALISA KASUS

Seorang anak perempuan berusia 11 bulan datang dengan keluhan utama suara ngorok serta keluhan tambahan demam dan pilek. Dari anamnesa didapatkan keluhan pilek dan demam yang tidak terlalu tinggi sejak 1 minggu sebelum MRS . 1 hari sebelum MRS penderita masih pilek. Demam (+), masih ada. Batuk (+), terdengar suara seperti anjing. Suara ngorok (+) timbul pada malam hari saat os tidur. Penderita lalu dibawa RSMH. Dari riwayat penyakit dahulu, penderita sering mengalami batuk pilek. Penderita juga pernah menderita penyakit campak. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis, nadi 136 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup, denyut jantung 136 x/menit reguler, pernapasan 28 x/menit, dan suhu 37,1c. Status gizi pasien berdasarkan pemeriksaan antropometri tergolong dalam gizi baik (BB/TB=85.1%). Dari pemeriksaan fisik kepala didapatkan JVP (5-2) cmH2O. Pada pemeriksaan toraks didapatkan: Paru-paru Inspeksi : Statis simetris, kiri = kanan. Dinamis simetris, kiri = kanan, retraksi (+) ic, suprasternal. Palpasi Perkusi : Stemfremitus kanan=kiri.

: Sonor pada lapangan paru kanan dan kiri.

Auskultasi : Vesikuler (+) normal pada kedua hemitoraks, ronki (-), wheezing (-).

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus kordis tidak : Iktus kordis tidak teraba : d.b.n

Auskultasi : HR: 136 x/menit, reguler, gallop (-), thrill (-)

Punggung Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi

: tidak ada kelainan. Eritema marginatum (-).

: Datar : Lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba. : Pekak pada perabaan hepar, ascites (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Lipat paha dan genitalia Genitalia tidak ada kelainan. Ekstremitas

: Pembesaran KGB (-), edema skrotum (-),

: Akral dingin (-), sianosis (-), clubbing finger (-) edema (-)

Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, laboratorium, dan radiografi maka pasien ini didiagnosa sebagai Sindrom Croup. Penderita ditatalaksana dengan O2 1 l/menit untuk membantu pernafasan penderita jika sesak. Penderita juga mendapat IVFD berupa D5% NS gtt 8 x/ menit (makro) Penderita juga mendapat antibiotik ampicilin 3 x 275mg dan chloramphenicol 3 x 150 mg. Selain itu pasien juga mendapat kortikosteroid dexamethasone 3 x 1.5mg dan nebulisasi epinephrine. Prognosis pada pasien ini quo ad vitam dan quo ad functionam adalah bonam.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sindroma Croup, Penyakit Respirologi, Pedoman Diagnosis dan Terapi. Edisi 3, Buku Satu, RSUD dr Soetomo Surabaya : 2008. p 57-61 2. Croup (Laryngothracheobronchitis akut), Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi pertama. Badan penerbit IDAI : 2008. p. 320-328 3. Hardiono d. pusponegoro dkk. Standar Pelayanan Medis Anak Edisi 1. Ikatan Dokter Indonesia : 2004 4. Dominic A. dan Henry A. Kilham Fitzgerald, 2003, Croup : Assessment and Evidence-Based Management. Medical Journal The Australia. MJA 2003.