Anda di halaman 1dari 34

Kaedah Dasar Moral ( KDM

)
Divisi Bioetika dan Humaniora Medical Education Unit Fakultas Kedokteran USU – 2013

Medis atau etis?

Contoh kasus:
Di ruang ICU sebuah Rumah Sakit dimana ada empat pasien yang menggunakan respirator, dan keempat respirator tersebut adalah seluruh respirator yang dimiliki oleh Rumah Sakit. Seorang pasien yang menggunakan respirator tersebut adalah seorang lelaki tua berumur 80 tahun yang mengalami perdarahan otak dan dengan prognosa yang jelek tidak memiliki harapan untuk sembuh total . Kemudian datang seorang laki-laki muda dengan trauma kepala setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Karena mengalami edema otak dia mengalami kesulitan bernafas. Prognosisnya cukup baik dan dia membutuhkan respirator, tetapi semua respirator di Rumah Sakit tersebut terpakai. Apa yang harus dilakukan ? Apa yang akan dikatakan kepada keluarga yang menemani pasien tersebut ?

Neurolog menyarankan untuk observasi berkala dalam 3 tahun. 2 bln.BS tersebut menyarankan pasien pulang atas permintaan sendiri. Ibu tersebut bingung dan meminta agar bayinya dikonsulkan ke dokter lain karena dokter tersebut belum pernah menangani kasus seperti ini tetapi ditolak.2. Akhirnya pasien pulang dan oleh ibunya dibawa ke Seorang Sp.BS. Dokter kemudian menyarankan untuk dilakukan operasi. Setelah 3 tahun fraktur kompressi menghilang. Bayi tersebut dibawa ke rumah sakit dan diperiksa oleh seorang dokter umum kemudian dirujuk ke Sp. Seorang bayi. Karena tdk mau dioperasi maka Sp.S dan dilakukan CT scan ulang. . Setelah dilakukan CT-Scan maka bayi tersebut didiagnosa dengan fraktur kompressi yang membentuk sudut 60 derajat. Ibunya mengalami ketakutan. Tidak ada kelainan neurologis dan tidak ada perdarahan. mengalami benturan di kepala ke jok kursi.

satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Hal ini disebut dengan Prima facie . Tetapi pada beberapa kasus. Pada praktiknya. Contoh kasus tadi adalah beberapa contoh2 kasus yang melibatkan dilema etik bagi dokter dan tenaga medik lainnya. satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain.  Prinsip-prinsip itu harus spesifik.  Kaidah dasar (prinsip) moral / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. karena kondisi berbeda. Sehingga dibutuhkan cara penalaran yang khusus dalam membahas masalah dilema etik yang sering dihadapi.

praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika).Konsil Kedokteran Indonesia. menetapkan bahwa. dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat. juga prima facie dalam penerapan praktiknya .

Beneficence 3. Respect for patient autonomy 2. Nonmaleficence 4.PRINCIPLE-BASED ETHICS 1. Justice .

others similarity. bread-winner. life saving.The patient’s contexts for prima facie’s choice (Agus Purwadianto. Elective. community / social’s rights . emergency. educated. 2004) General benefit result. most of people. minor Autonomy Justice > 1 person. mature person Beneficence Non maleficence Vulnerables.

Medical Indication JENIS KAIDAH DASAR BIOETIKA Beneficence Non Maleficence Autonomy Justice Cara = Pembenaran Moral (Deduktif Logis) Ciri = Keputusan Etik Menyatu Dgn Hukum Berkonteks Pasien .

 Mengutamakan kepentingan pasien  Memandang pasien/ keluarga/ sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/ RS/ pihak-pihak lain.  Maksimalisasi akibat baik ( termasuk jumlahnya > akibat buruk ).  Menjamin nilai pokok : “ apa saja yang ada.Beneficene :  Tindakan berbuat baik. pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” ( apalagi ada yang hidup ) .

isinya larangan .tindakan kedokteran tadi terbukti efektif .manfaat bagi pasien > kerugian dokter ( hanya mengalami resiko minimal )  Norma tunggal. seperti : .dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut .NonMalificence (Primum non nocere )  Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien.tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm ) pasien.pasien dalam keadaan amat berbahaya atau beresiko hilangnya sesuatu yang penting .minimalisasi akibat buruk  Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal : . .

Keadilan ( Justice )  Treat similar cases in a similar way = justice within morality.  Memberi perlakuan sama untuk setiap orang ( keadilan sebagai fairness ) .

kontrol atau interfensi dan batasan dalam menentukan pilihan tindakan kepadanya  Erat kaitannya dengan informed-consent .Otonomi ( self-determination )  Pasien dapat memilih sendiri tanpa paksaan.

Siegler M.: A Practical Approach to Ethical Decisions in Clinical Medicine .Metode Jonsen AR.

In sum. What are the plans in case of therapeutic failure? 6. What is the patients medical problem? History? Diagnosis? Prognosis? 2. how can this patient be benefited by medical and nursing care. What are the goals of treatment? 4. and how can harm be avoided! .Medical Indications : The Principles of Beneficence and NonMalificence : 1. Is the problem acute? Chronic? Critical? Emergent? Reversible? 3. What are the probabilities of success? 5.

If competent.Patient Preferences The Principles of Respect for Autonomy 1. what is the patient stating about preferences for treatment? 3. Is the patient mentally capable and legally competent? Is there evidence of incapacity? 2. understood this information. who is the appropriate surrogate? Is the surrogate using appropriate standards for decision making? . and given consent? 4. Has the patient been informed of benefits and risk. If incapacitated.

why? 7. advance directives? 6.5. is the patients right to choose being respected to the extent possible in ethics and law ? . Has the patient expressed prior preferences.g. with medical treatment? If so..e. In sum. Is the patient unwilling or unable to cooperate.

What physical. What are the prospects. Are there biases that might prejudice the providers evaluation of the patients quality of life . and social deficits is the patient likely to experience if treatment succeeds? 3. with or without treatment. for a return to normal life? 2.Quality of Life The principles of beneficence and Nonmalificence and respect for autonomy 1. mental.

Is the patients present or future condition such that his or her continued life might be judged underirable? 5.4. Is there any plan and rationale to get treatment? 6. Are there plans for comfort and palliative care .

Are there family issues that might influence treatment decisions? 2. Are there religious or cultural factors? 5. Are there limits on confidentiality? . Are there financial and economic factors? 4. Are there provider ( physicians and nurses ) issues that might infuence treatment decisions? 3.Contextual Features The principles of loyalty and fairness 1.

Is clinical reseach or teaching involved? 9. Are there problems of alloacation of resources? 7. Is there any conflict of interest on the part of the providers or the institution? .6. How does the law affect treatment decisions? 8.

Prinsip turunan 1. 7. 5. 6. 3. 2. 4. Kejujuran Kesetiaan Privacy Konfidensialitas Menghormati kontrak Ketulusan Menghindari membunuh .

menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani … terkait dengan beneficence. ekonomi. 3. spt faktor keluarga.(Jonsen. budaya … kaidah terkait justice ) 2. 2002) 1. . nonmaleficence & otonomi) Contextual Features (menyangkut aspek non medis yang mempengaruhi pembuatan keputusan. siegler & winslade. Medical Indication ( terkait prosedur diagnostik dan terapi yang sesuai … dari sisi etik kaidah yang digunakan adalah beneficence dan nonmaleficence ) Patient Preferrence (terkait nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya … cerminan kaidah otonomi) Quality of Life (aktualisasi salah satu tujuan kedokteran :memperbaiki. 4.

Kasus Konkrit 1 .

Keputusan Medis Pilar Keputusan Klinis sehari2 Keputusan etis - .

Indikasi Biomedik medik Keputusan Medis Pilar Keputusan Klinis sehari2 Keputusan etis - Infomedik pilihan pasien kualitas hidup fitur kontekstual Mindset non medis Struktur PsikoSosio-budaya .

Tergopoh-gopoh spt ini. benar atau tidak ? .

Kalau yang ini 1 dari ratusan korban tsunami. lumpur panas ?? (di luar RS >>) .

Beauchamp & Childress (1994) & Veatch (1989) Patient’s preference Beneficence Autonomy Non Maleficence Justice Contextual features Quality of life Value-based medicine Clinical Decision Making .Principles-based ethics  Prima Facie T.

Medical Indication TROEF = berubah menjadi …… Beneficen ce Non Maleficence Autonomy Justice pihak II Umum BAIK “kranjang Sampah” pihak II kesakitan/ menderita. gadar.pra-cacat Distress Rentan uzur. . terjepit tanpa pilihan Miskin capable person bebas Elektif rentang >> hak pilih a // DRnya pihak III Non pasien wakil/wali kluster pop Komunitas Penyandang dana Berpotensi Dirugikan/ Paling krg diuntungkan bodoh.

Epilog : AP 2003 Bagi Kedokteran. bukanlah supremasi hukum namun supremasi etik (di tangan DR bijak) Highest Norm of Medical Ethics ETHICS SUMMUM BONUM (HIGHEST GOOD) VIRTUE & DEONTIC OF NOBLE PROFESSION SELFDIGNITY & PROFESSIONALISM PRINCIPLE BASED ETHICS & ETHICOLEGAL APPROACH .

Pemahaman awal KDM akan menimbulkan kesadaran moral.yg dgn latihan dan paparan terhadap kasus-kasus kedokteran yg sebelumya dan berkembang di masa mendatang dalam rangka saling mengingatkan terus menerus dan mencegah penyimpangan antar anggota profesi yg pada akhirnya akan menumbuhkan tanggungjawab etis sesuai dengan moralitas profesi kedokteran.Bioetika kedokteran merupakan salah satu etika khusus dan etika sosial dalam kedokteran yg memenuhi kaidah praktis dan filsafat moral (normatif) yg bersumber pada 4 kaedah dasar moral (KDM). Kesimpulan .

.Tangggung jawab etis yang merupakan suara hati seorang dokter akan mempertahankan perilaku etis seluruh anggota profesi agar korps dokter kedepan tetap merupakan profesi mulia dengan setiap anggotanya masing-masing memiliki kesucian hati nurani.