Anda di halaman 1dari 2

BAB IV ANALISA KASUS

Anak laki - laki berusia 8 tahun, datang ke IGD RSUD Palembang Bari dengan keluhan kejang sejak lebih kurang 10 jam SMRS, kejang berlangsung kurang dari 5 menit, frekuensi kejang lebih dari 5 kali, kejang umum, kejang berlangsung saat penderita duduk, setelah kejang pasien sadar dan langsung tidur, setelah terbangun pasien dapat berbicara dan berjalan, demam (-). Riwayat kejang sebelumnya pada usia 6 bulan, 1 tahun 2 bulan, 1 tahun 8 bulan dengan frekuensi 2 - 3 kali, demam (-). Penderita tidak rutin kontrol dan jika obat hampir habis ibu penderita mengurangi dosis obatnya. Paman penderita pernah kejang pada saat kecil. Diagnosis yang sangat memungkinkan pada pasien ini adalah epilepsi. Diagnosis ditegakkan karena dari anamnesis ditemukan adanya kejang tidak

didahului demam, kejang < 5 menit, kejang terjadi secara umum, setelah kejang pasien sadar dan langsung tertidur, dan kejang telah dialami sejak usia 6 bulan. Pasien mendapat terapi rumatan atas keluhan tersebut tetapi minum obat tidak teratur serta ada riwayat keluarga dengan keluhan yang sama. Hal ini sesuai dengan teori bahwa epilepsi adalah sebuah kondisi dimana terjadi kejang berulang dan kejang yang tidak disebabkan oleh demam tinggi. Ketidakteraturan dalam meminum obat merupakan faktor risiko munculnya kejang. Pada pasien ini, faktor etiologi adalah faktor idiopatik, yaitu pada riwayat epilepsi pada keluarga. Karena menurut teori, etiologi epilepsi dibagi menjadi idiopatik dan simptomatik. Dan epilepsi yang disebabkan oleh faktor genetik masih dalam klasifikasi epilepsi idiopatik. Hasil pemeriksaan fisik pada pasien ini pada keadaan umum, tanda - tanda vital dan status generalis secara sistematis adalah dalam batas normal. Pada pemeriksaan neurologi juga tidak terdpat adanya kelainan. Hasil pemeriksaan laboratorium didapat leukositosis dan CRP posistif yang menandakan menunjukan adanya infeksi. 25

Etiologi kambuhnya serangan epileptik pada pasien ini dipikirkan karena tidak dikonsumsinya obat anti epilepsi secara teratur dan dari leukositosis dari hasil laboratorium menunjukkan terjadi infeksi pada pasien yang dapat merupakan salah satu pencetus kambuhnya serangan epileptik. Kekurangan dalam pelaporan kasus ini adalah penulis tidak menemukan sumber infeksi pada pasien. Pasien ini diberikan antibiotik berdasarkan pemeriksaaan laboratorium yang menunjukkan leukositosis serta diberikan obat anti epilepsi golongan valproat karena obat golongan ini bisa dipakai untuk semua jenis epilepsi dan untuk efek sampingnya tidak terlalu berat, diberikan dengan dosis 3x300 mg (3x6 cc) karena sebelumnya penderita diberikan dengan dosis 3x250 mg (3x5 cc) tetapi tetap timbul kejang. Perlu pemeriksaan CT Scan untuk menemukan apakah ada kelainan pada intrakranial pasien, dan pungsi lumbal untuk mengetahui apakah terdapat infeksi SSP. Prognosis bagi pasien ini dubia ad malam mengingat onset kejang yang dimulai saat pasien berusia 6 bulan dan sering berulang dengan penyebab idiopatik. Ditambah pasien pernah mendapatkan terapi obat sebelumnya tapi pasien tidak minum obat secara teratur.

26