Anda di halaman 1dari 10

UJI AKTIVITAS AFRODISIAKA EKSTRAK BIJI MARKISA (Passiflora ligularis Juss.

) ASAL KABUPATEN JENEPONTO TERHADAP MENCIT JANTAN (Mus musculus) Evaluation of Aphrodisiac activity of extract passion fruit seed (Passiflora ligularis, Juss.) from Jeneponto District against male mice (Mus musculus)
Mahkota, Annisyiah W.1, Haryono, Kus1, Tayeb, Rosany1, Pakki Ermina1 1 Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian uji aktivitas afrodisiaka ekstrak biji markisa (Passiflora ligularis, Juss.) asal jeneponto terhadap mencit jantan (Mus musculus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas afrodisiaka dari ekstrak biji markisa. Biji markisa (BM) diekstraksi menggunakan metanol. Penelitian menggunakan mencit jantan (Mus musculus) galur Balb/C yang dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing 3 ekor, kontrol negatif digunakan NaCMC 1% (I), ekstrak 100 mg/kgBB (II), ekstrak 150 mg/kgBB (III), dan ekstrak 200 mg/kgBB (IV). Tingkah laku mencit jantan (JNB) diamati, dicatat, dan dianalisis. Hasil analisis statistik menujukkan aktivitas afrodisiaka terbesar pada (IV) dengan tingkah JNB sebanyak 13,57 kali selama 7 hari. ABSTRACT The research of activity of extract passion fruit seed (Passiflora ligularis, Juss.) from Jeneponto against male mice (Mus musculus). This study is aims to prove aphrodisiac activity from extract passion fruit seed. Passion fruit seed (BM) was extracted with methanol. The aphrodisiac test was perform in male mice (Balb/C) that were divided into 4 groups (3 mice each), negative control treated with NaCMC 1% (I), treated with extract 100 mg/kgBW (II), treated with extract 150 mg/kgBW (III), and treated with extract 200 mg/kgBW (IV). The males behavior (mounting) were recorded and analysed. The result indicated that the highest aphrodisiac activity was demonstrated by group IV, mounting 13,57 times during 7 day.

PENDAHULUAN Afrodisiaka dapat digambarkan sebagai beberapa zat yang dapat membantu dalam fertilisasi berupa makanan, obat, tindakan serta alat. Selain itu, rangsangan cahaya, sentuhan, bau, rasa (pengecapan) dan suara (pendengaran) bisa juga dikatakan sebagai afrodisiaka. Walaupun begitu, ada hal-hal yang tidak dapat dihindari salah satunya adalah infertilitas (1,2). Infertilitas merupakan masalah sosial dan medis yang terjadi pada kurang dari 10-15% pasangan suami istri. WHO memperkirakan bahwa sekitar 6080 juta pasangan yang mengalami infertil, sehingga pasanganpasangan tersebut berusaha mengobatinya (3). Telah banyak obat diformulasikan sebagai stimulan seks dan untuk meningkatkan aktivitas seksual baik pada pria maupun wanita. Meskipun demikian, penggunaannya tetap menimbulkan efek samping. Penggunaan afrodisiaka sintetik secara terus menerus menunjukkan dilatasi pembuluh darah sehingga menyebabkan rasa sakit kepala, pusing, dan pingsan. Apabila digunakan terus menerus dengan dosis yang tinggi, dapat pula menyebabkan muka menjadi merah, pandangan kabur, dan sensitif terhadap cahaya (4). Sehingga, afrodisiaka dari tanaman atau herbal yang berlawanan dengan bahan sintetis mulai dipertimbangkan dalam

pengobatan. Salah satu pemanfaatan tumbuhan obat adalah sebagai afrodisiaka oleh masyarakat Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan. Tumbuhan obat yang digunakan untuk meningkatkan vitalitas seksual pada kaum pria adalah biji buah markisa (3). Markisa merupakan tanaman budidaya yang umumnya mengandung fitokonstituen berupa senyawa alkaloid, fenol, glikosida, flavonoid, sianogenik, passiflorisin, poliketida, dan -piron. Pada umumnya tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai afrodisiaka mengandung senyawasenyawa turunan sterol, saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh dan memperlancar peredaran darah. Sehingga, penggunaan markisa sebagai afrodisiaka patut dilakukan pemeriksaan (5,6). Ingale et al. menyatakan bahwa senyawa chrysine yang diisolasi dari ekstrak bunga markisa jenis Passiflora caetulea mempunyai aktivitas sebagai antiansietas ketika diinjeksikan pada tikus dengan dosis 1mg/kgBB, sedangkan Ichimura mengemukakan bahwa ekstrak metanol markisa jenis Passiflora edulis dapat menunjukkan efek antihipertensi pada dosis per oral 10mg/kgBB. Patel, DK et al, mengemukakan bahwa ekstrak metanol markisa jenis Passiflora incarnata menunjukkan aktivitas

afrodisiaka tertinggi pada dosis 100mg/kgBB p.o pada mencit jantan. Adapun penelitian terhadap markisa jenis Passiflora ligularis, menunjukkan adanya aktivitas antibakteri baik pada gram positif dan gram negatif (7,8). Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang timbul adalah bagaimana efek afrodisiaka terhadap berbagai ekstrak biji markisa (Passiflora ligularis Juss.) terhadap mencit jantan dengan paremeter frekuensi JNB (9). METODOLOGI II.1 Penyiapan Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah bejana maserasi, gelas Erlenmeyer 50ml (Pyrex), gelas tentuukur 100ml (Pyrex), gelas ukur 25ml (Pyrex), cawan porselin, spoit oral, kandang mencit, timbangan hewan (Denver), timbangan analitik (Sartorius), rotavapor (Buchii). Bahan yang digunakan adalah aqua destillata, ekstrak biji markisa (Passiflora ligularis), metanol, NaCMC. II.2 Metode Kerja III.2.1 Pengambilan Sampel Sampel biji markisa (Passiflora ligularis Juss.) diperoleh dari Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Buah kemudian dibelah, diambil dan dikeringkan bijinya. II.2.2 Ekstraksi Sampel Metode ekstraksi yang dilakukan adalah metode maserasi. Sampel biji markisa (Passiflora ligularis Juss.) dikeringkan di oven hingga diperoleh biji kering, lalu

diblender. Selanjutnya, ditimbang sebanyak 100g. Setelah itu, diekstraksi secara maserasi dengan pelarut metanol, sebanyak 750ml dan dibiarkan 3x24 jam sambil sesekali diaduk. Kemudian diremaserasi kembali hingga diperoleh ekstrak. II.2.3 Pembuatan Bahan Penelitian II.2.3.1 Pembuatan Larutan Koloidal Natrium CMC 1% Sebanyak 0,5g Natrium CMC dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam 50ml air suling panas (700C) sambil diaduk dengan pengaduk elektrik hingga terbentuk larutan koloidal dan dicukupkan volumenya dengan air suling hingga 100ml. II.2.3.2 Suspensi Ekstrak Metanol Biji Sebanyak dosis 100 mg/kg BB, 150 mg/kg BB, dan 200 mg/kg BB ekstrak metanol masing-masing ditimbang kemudian digerus di lumpang, ditambah 10ml larutan koloidal NaCMC 1% sedikit demi sedikit sambil digerus hingga homogen. Sediaan yang homogen masing-masing dimasukkan dalam labu tentuukur 25ml dan volume dicukupkan hingga 25ml dengan larutan koloidal NaCMC 1%. II.4 Penyiapan Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah mencit (Mus musculus) galur Balb/C sebanyak 30 ekor, dan dikelompokkan dalam 4 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor mencit jantan dan 3 ekor mencit betina yang dewasa berumur 2-4 bulan,

sehat, bersih, dan aktivitas normal, dengan bobot badan rata-rata 2535 g. diadaptasikan di lingkungan sekitar 1-2 minggu (10,11). II.5 Perlakuan Terhadap Hewan Uji Setiap mencit ditimbang bobot badannya kemudian dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan secara acak. Sebelum dilakukan perlakuan, hewan coba berkelamin betina dibuat sehingga mengalami fase estrus. Mencit jantan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yang akan diberi ekstrak, kelompok I sebagai kontrol negatif diberikan larutan koloidal NaCMC 1% sebagai plasebo, mencit grup perlakuan diberi suspensi ekstrak metanol biji 100 mg/kg BB ( kelompok II), diberi suspensi ekstrak metanol biji 150 mg/kg BB (kelompok III), dan diberi suspensi ekstrak metanol biji 200 mg/kg BB (kelompok IV). Pemberian dilakukan secara per oral sekali sehari selama 7 hari berturut-turut. Pengamatan aktivitas afrodisiaka dilakukan pada selama 7 hari pemberian secara per oral kepada mencit berkelamin jantan.

II.6 Pengamatan Diamati kecepatan aktivitas afrodisiaka yaitu dengan melihat frekuensi JNB setelah pemberian ekstrak. Pengamatan dilakukan selama 3 jam dimulai dari 15 menit setelah awal pemberian ekstrak, dengan cara menghitung frekuensi yang terjadi pada waktu mencit jantan menunggangi mencit betina. II.7 Pengumpulan dan Analisis Data Pengumpulan data dilakukan terhadap hewan uji yang memperlihatkan aktivitas afrodisiaka dalam setiap kelompok setelah pemberian beberapa ekstrak markisa (Passiflora ligularis ,Juss.) secara per oral, data diambil berdasarkan hasil pengamatan. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis secara statistik dengan metode Rancangan Acak Lengkap. II.8 Pembahasan Hasil Pembahasan dilakukan berdasarkan hasil penelitian II.9 Pengambilan Kesimpulan Kesimpulan diambil berdasarkan hasil pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase rendamen hasil ekstraksi biji markisa asal kabupaten Jeneponto adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Rendamen Ekstrak

Bobot Simplisia Kering 100 g

Bobot Ekstrak 1,119 g

Rendamen(%) 1,119%

Dalam penelitian ini, dilakukan pengamatan terhadap aktivitas afrodisiaka mencit dengan menggunakan parameter jumlah jantan naik betina (JNB) atau mounting. Hasil pengamatan terhadap aktivitas afrodisiaka dapat dilihat pada tabel 2, tabel 3 dan tabel 4 dimana menggunakan parameter tersebut diatas. Dalam proses penelitian ini, digunakan ekstrak metanol biji markisa yang memiliki dosis ekstrak metanol daun 100mg/kgBB untuk aktivitas afrodisiakanya. Berdasarkan data tersebut, selanjutnya dilakukan penelitian secara in vivo untuk melihat aktivitas afrodisiaka dari ekstrak metanol biji markisa. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi simplisia kering sebanyak 100g menggunakan metanol. Kemudian dilakukan maserasi selama 3 hari sambil sesekali diaduk. Maserasi dilakukan karena metode ini merupakan metode yang cocok dan tidak merusak kandungan
Tabel 2. Data total JNB selama 7 hari

senyawa kimia di dalam biji markisa. Setelah diperoleh ekstrak, hewan coba dibagi menjadi 5 kelompok hewan perlakuan secara acak. Sebelum dilakukan perlakuan, mencit berkelamin jantan terlebih dahulu diseleksi dengan melihat potensinya dapat melakukan hubungan seksual atau tidak untuk menghindari hasil negatif palsu. Mencit jantan dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yang akan diberi ekstrak, mencit grup perlakuan diberi suspensi ekstrak metanol biji 100 mg/kg BB (kelompok I), diberi suspensi ekstrak metanol biji 150 mg/kg BB (kelompok II), diberi suspensi ekstrak metanol biji 200 mg/kg BB (kelompok III) dan sebagai kontrol negatif diberikan larutan koloidal NaCMC 1% sebagai plasebo (kelompok IV). Pemberian dilakukan secara per oral sekali sehari selama 7 hari berturut-turut. Pengamatan aktivitas afrodisiaka dilakukan pada selama 7 hari pemberian secara per oral kepada mencit berkelamin jantan.
K3 (150 mg/kg BB) 9 9 10 12 13 11 12 76 10,857 K4 (200 mg/kg BB) 9 10 10 13 17 17 19 95 13,571

Hari 1 2 3 4 5 6 7 Total Rerata

K1 (NaCMC 1%) 2 3 2 5 3 3 5 23 3,286

K2 (100 mg/kg BB) 5 5 6 8 10 11 10 55 7,857

Sub T

249

Gambar 2. Histogram rata-rata JNB selama 7 hari

Rata-rata JNB selama 7 hari


16,000 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 0,000 6,33 K4 Rata-rata

Tabel 3. Gambaran Frekuensi JNB setelah pemberian perlakuan selama 7 hari (SD)

Hari
Kelompok

1 K1 K2 K3 K4 0,6 1,67 3,33 3

2 1 1,67 3 3,34

3 0,6 2 3,34 3,33

4 1 2,66 4 4,33

5 1 3,32 4,33 5,67

6 1,7 3,66 3,67 5,67

7 1,7 3,34 4 6,33

Frekuensi jantan naik betina (JNB) merupakan parameter yang digunakan untuk mengetahui efek afrodisiaka. Frekuensi JNB merupakan indikator terhadap libido. Kenaikan frekuensi JNB dapat membuktikan bahwa terjadi

perbaikan terhadap libido serta kekuatan dalam berhubungan (29). Banyak faktor yang mempengaruhi pembuahan (coitus) misalnya viabilitas sperma yang rendah sehingga sperma tersebut tidak mampu untuk

mengadakan pembuahan. Faktor hambatan ini dapat berasal dari struktur histologi saluran reproduksi pria, struktur sperma yang diperoleh selama di dalam alat genital, enzim-enzim yang terdapat di dalam saluran reproduksi pria serta dalam spermatozoa itu sendiri. Sperma yang belum dewasa maupun bentuk-bentuk yang tidak sempurna tidak akan mampu membuahi (28). Umur, berat badan
7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4

yang tidak berimbang, dan kadar hormon juga memberi pengaruh terhadap terjadinya coitus. Umur dari hewan coba, berpengaruh terhadap fase estrus dari mencit betina. Fase estrus merupakan periode ketika mencit betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Pada saat fase estrus terjadi mencit betina terlihat tidak tenang dan lebih aktif (32).

Gambar 3. Histogram Frekuensi JNB setelah perlakuan selama 7 hari

K1 K2 K3 K4

Keterangan : K1 = kelompok dengan perlakuan NaCMC 1% K2 = kelompok dengan perlakuan ekstrak metanol 100 mg/kgBB K3 = kelompok dengan perlakuan ekstrak metanol 150 mg/kgBB K4 = kelompok dengan perlakuan ekstrak metanol 200 mg/kgBB

Pada perhitungan jumlah jantan naik betina (JNB) atau mounting selama 7 hari, menunjukkan bahwa pemberian/induksi ekstrak biji markisa dengan dosis

100mg/kgBB, 150mg/kgBB dan 200mg/kgBB dapat menunjukkan terjadinya frekuensi JNB dengan jumlah rata-rata masing- masing 7,857 kali, 10,85 kali, dan 13,571 kali dibandingkan dengan serta

kontrol negatif NaCMC 1% yang jumlahnya mencapai 3,286 kali. Berdasarkan analisis varian (ANOVA) terlihat jelas hasil yang signifikan diantara masing-masing kelompok. Dari tabel hasil perbandingan ganda, menunjukkan bahwa hasilnya dinyatakan
hasil Sum of Squares Between Groups Within Groups Total 407.821 162.857 570.679 Df 3 24 27

signifikan apabila perbedaan mean-nya dibawah 0,05. Setelah dilakukan analisis varian, kemudian dilanjutkan dengan Duncan untuk menunjukkan signifikansi dari masing-masing kelompok.

ANOVA Mean Square 135.940 6.786 F 20.033 Sig. .000

Multiple Comparisons (I) (J) perlaku perlaku Mean Difference an an (I-J) LSD K1 K2 K3 K4 K2 K1 K3 K4 K3 K1 K2 K4 K4 K1 K2 K3 -4.571
*

95% Confidence Interval Std. Error 1.392 1.392 Sig. .003 .000 .000 .003 .041 .000 .000 .041 .063 .000 .000 .063 Lower Bound -7.45 -10.45 -13.16 1.70 -5.87 -8.59 4.70 .13 -5.59 7.41 2.84 -.16 Upper Bound -1.70 -4.70 -7.41 7.45 -.13 -2.84 10.45 5.87 .16 13.16 8.59 5.59

-7.571* -10.286 4.571* -3.000


* *

1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392 1.392

-5.714* 7.571* 3.000


*

-2.714 10.286* 5.714* 2.714

*. The mean difference is significant at the 0.05 level. Hasil Duncan Subset for alpha = 0.05 perlakuan Duncan
a

N 7 7 7 7

1 3.29

K1 K2 K3 K4 Sig.

7.86 10.86 13.57 1.000 1.000 .063

Hasilnya menunjukkan bahwa berdasarkan tabel duncan, hanya kelompok 3&4 yang memiliki hasil berbeda tidak nyata. Akan tetapi apabila masing-masing kelompok (K2, K3, dan K4) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (K1) hasilnya signifikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Urutan aktivitas afrodisiaka mulai dari yang terkuat hingga terlemah yaitu ekstrak biji markisa 200mg/kgBB dengan JNB sebesar 13,571 kali dalam 7 hari, ekstrak biji markisa 150mg/kgBB dengan JNB sebesar 10,85 kali dalam 7 hari, dan ekstrak biji markisa 100mg/kgBB dengan JNB sebesar 7,857 kali dalam 7 hari. 2. Ekstrak metanol biji markisa 200 mg/kg BB memiliki hasil signifikan terhadap kontrol negatif.

DAFTAR PUSTAKA 1. Harsanto, Winoto Adi. Uji Afrodisiaka Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol 70% Kuncup Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.&Perry) Terhadap Libido Tikus Jantan. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah. Surakarta. 2010. Hal 2 2. Wani, J.A., Achur, R.N., Nema, R.K. Phytochemical Screening and Aphrodisiac Activity of Asparagus racemosus. International Journal of Pharmaceutical Science and Drug Reseach. Vol 3, issue 2. 2011. pp 112, 115. 3. World Health Organisation. Binnial Report : Prevention of Infertility. Office of Publication, W.H.O. Geneva.1992-93, pp. 161-166. 4. Kulkani, SK., Reddy, DS. Pharmacotherapy of Male Erectile Dysfunction with Sildenafil. India : J.Pharmacol. 1998. P 367 5. Patil, A.S., Paikrao, H.M. Bioassay Guided Phytometabolites Extraction for Screening of Potent Antimicrobials in Passiflora foetida L. Journal of Applied Pharmaceutical Science. Vol 2(9): [6 screen]. 2012. pp 137-138. 6. Jurnal Penelitian Afrodisiaka Tumbuhan Drymis. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2010 7. Ingale, AG., Hivrale, AU. Pharmacological Studies of Passiflora sp and Their Bioactive Coumpund. African journal of Plant Science. Vol 4(10): [10screen]. 2010. pp 1-4 8. Patel, DK., Kumar, R., Prasad, SK., Hemalata, S. Pharmacologically Screened Aphrodisiac Plant-A Review of Current Scientific Literature. Asian Pasific Journal of Tropical Biomedicine. S131-138: [8screen]. 2011. pp 131-133, 136

10

9.

10.

Suhartinah. Efek Aprodisiak Kombinasi Serbuk Akar Pasak Bumi, Cabe Jawa, dan Rimpang Jahe Merah terhadap Frekuensi Climbing Tikus Putih Jantan Wistar. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi. Solo. 2008. Halaman 4 Pande, Milind., Pathak, Anupam. Aphrodisiac Activity of Roots of Mimosa pudica, Linn. Ethanolic Extract in Mice. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Nanotechnology. Vol 2, issue 1: [10screen]. 2009. p 2