Anda di halaman 1dari 4

Wah, udah mau tahun baru ya , wah ngapain nih enaknya ?

Kalau ngomongin tahun baru pastinya yang terbayang dibenak kita adalah kongkow bareng teman teman, bakar jagung, bakar ayam, genjrengan, nyanyi bareng, terus go out ke pusat kota, nonton hiburan menjelang tahun baru, tiup terompet, lihat pertunjukan kembang api sambil minum kopi, hmm asyik beut dah. Tapi bagi yang Jones alias ngenes, tahun baru atau enggak sama aja. Mungkin cara Jones menghabiskan tahun baru ya cuman stay dirumah, nonton TV, atau enggak buka lepi terus liat film ataupun anime, atau malah main game sampai besok, yah katanya sih hang out gak harus go out. Yah, namanya tahun baru selalu diwarnai dengan hal hal yang mengasyikan, dimana pada tahun baru ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk kumpul bareng keluarga, saudara, teman teman untuk bersenda gurau sambil mengingat kenangan klasik ditahun lalu. Tertawa bareng, bersenda gurau bareng dan mungkin makan bareng bersama keluarga. Wah, tak terbayang rasenye. Betul ? Betul betul betul Tapi wahai saudaraku, tak semua pelangi itu indah, tak semua orang orang menghabiskan waktunya dimalam menjelang tahun baru dengan hal hal seperti kebanyakan orang diatas. Ada sebagian orang yang lebih memilih untuk berintropeksi diri apa yang telah ia lakukan di masa lalu, ada yang pergi ke masjid untuk Itikaf dan mendekatkan diri kepada Allah serta memohon ampunan atas apa yang ia telah lakukan dimasa lalunya.

Hmmm, ngomong ngomong masalah instropeksi diri, ana punya cerita wahai saudaraku sekalian. Cerita ini berasal dari teman sejurusan ana, kebetulan beliau adalah orang yang paling pintar diantara mahasiswa yang lain. Nah, gini kejadiannya, jadi ketika itu kami berdua pulang seusai dari praktikum dikampus, kami tidak seperti biasanya, kalau terkadang kekampus naik montor karena memang jarak kampus untuk praktikum kami jauh dari kampus pusat, kali itu kami naik sepeda, ya katanya sih olah raga, biar sehat. Kasian tuh kaki cuman buat gonta ganti transmisi motor aja, mancal dikit napa ?, pekik beliau sambil tertawa. Nah, sembari ngobrol ngobrol dijalan sambil sepedahan, kami kebetulan punya ide, untuk sepedahan keesokan pagi. Yah kalau antum pikir mungkin sepedahannya cuman keliling kota doank, eeeitsss, sorry bro kita ini pengemban dakwah, so sepedahan harus beda, kita harus berhenti di tepi jalan lalu buka lapak untuk ngadakan kajian Islam, so sehat iya, pahala dapet. Ok deal, jam 6 tepat ana tunggu antum dibundaran DPRD, sahut ana, Ok Akh sahut beliau, Antum atur ya akh tambah beliau, Ok sahut ana, dan akhirnya kami berpisah. Keesokan harinya, entah mungkin terlalu capek karena praktikum kemarin, setelah kajian bada sholat shubuh ana segera meletakan mata yang berat ini kekasur ana yang dingin. Bugghhhh huaaaaahhhhhh Tak terasa, matahari sudah tinggi, dan . Khi, khi, jadi gak ?, gugah musyrif ana yang kebetulan datang kemahad untuk ikut sepedahan. Astaghfirullah, sekarang jam berapa ?, Jam 6, ayo buruan sahut musrif lagi.

Bentar Gus (panggil mesra ana ke musyrif), ana SMS dulu temen ana, Ohhh, ya wes. Setelah beberapa lama, Khi, kayfa ?, Belum bales akh, Haduh, wes ana tak pulang dulu, ana ada urusan, Ya wes, afwan akh

Setelah musyrif pulang, mungkin sudah kebiasan dipagi hari, ana buka facebook untuk ngecheck notification di Facebook, dan ternyata, nongol angka 1 di kolom pesan, dan ternyata itu pesan dari teman ana, isinya gini : Afwan akhy, ana ketiduran, ana gak bisa mbales SMS antum karena pulsa ana habis. Huh, akhirnya ada balesan juga, yaudah wes lanjut tidur, mumpung liburan (hahahaha) bisikan nakal dari hati. Keesokan harinya, secara tidak sengaja melihat berita di wall, ternyata teman ana yang tadi mendapat musibah, beliau kehilangan laptop dan HP. Kaget bukan main hati ini bergejolak, sungguh bagaimana bisa, tidak mungkin barang barang itu hilang, padahal beliau juga ada didalam kamarnya. Langsung saja siangnya, ana bertemu dengan beliau dan terlihat wajahnya yang lemas, Akhi, kayfa ? kok bisa hilang ? Tanya ana Sudah akhi, ana lemas, ana gak bersemangat sahutnya, Ya sudah ayo kita berangkat buat ujian, ntar disana kita temui tuh geng antum buat sharing sharing, sapa tahu dapat inspirasi, Bhhh, ayo dah. Setelah ana dan teman ana sampai di kampus dan usai melaksanakan ujian praktikum, kami menyempatkan untuk kongkow disamping lab untuk diskusi. Sungguh 4 hokage geng dari teman ana membawa inspirasi yang luar biasa . Eh kamu, kamu jangan lemes kayag gitu, kamu jangan merasa paling susah di sini, jangan merasa paling gak mampu, masak ujian kamu ngeluh, praktikum ngeluh, dijalan ngeluh terus, ingat men banyak saudara kita yang tinggal di kolong jembatan, mereka lo gak ngeluh, banyak juga anak jalanan yang ngamen dilampu merah, mereka juga gak ngeluh, kamu aja ngeluh melulu dari tadi, emang orang tuamu ngeluh kekamu tah ? Ingat men, kamu masih untung kehilangan laptop sama HP, liat tuh saudara kita diluar sana, mereka kehilangan orang tua mereka, masak kamu ngeluh terus, sedih terus, ingat men, itu laptop, coba bayangin kalau kamu kehilangan orang tua, mau jadi apa kamu ? mau tah kamu men ? Sontak tertegun kami, benar apa yang dikatakan salah satu hokage di geng kami, kita terkadang terlalu melebaykan permasalah yang simple dibandingkan menginstropeksi diri kita sendiri, apa yang telah kami perbuat sehingga Allah memberi cobaan atau bahkan hukuman dari Allah taala. Sontak temen ana langsung tersenyum, dan berkata Bro, bener juga, gak rugi ana punya temen kayag antum semua, emang benar ana ini banyak salah, kemarin ana saja meninggalkan sholat karena ngerjakan tugas, itu bukan perkara lupa, emang ana ntar aja, ntar ajakan dan akhirnya ketiduran.

Hhh, sungguh hati ini trenyuh mendengarkannya, bayangin aja, hanya ntar aja, ntar ajakan sholat, barang paling urgent bagi seorang mahasiswapun Allah ambil sebagai hukuman karena lalai. Apalagi kita kalau meninggalkan aturan Allah yang lain, masya Allah

Sungguh tiada berarti hidup kita dalam menghadapi hukuman yang turun dari sang Rabb, walaupun kita punya seribu cara untuk menghindar, tapi Allah mempunyai seribu satu cara untuk menurunkan hukuman bagi hambanya yang lalai akan perintahNya walaupun kita bersembunyi dibawah selimut sekalipun, maka tiada daya dan upaya yang mampu menghalangi Allah untuk bertindak, dan akhirnya papai Sungguh, ngeri banget kalau kita sampai mendapatkan hukuman dari Allah taala karena kita lalai akan perintahNya.

Mungkin inilah saatnya kita untuk berinstropeksi diri dan juga memperbaiki diri kita untuk bersegera kembali kejalan Allah yang lurus. Angka 00.00 adalah angka yang paling kita tunggu tunggu saat ini, tapi mari saudaraku kita lihat apakah 00.00 hari ini sangat berarti bagi kita. Firaun dan Namrudpun tak menunggu angka 00.00 untuk menguasai negrinya, Muhammad Al Fatih pun tak menunggu angka 00.00 untuk menakhlukan benteng konstantinopel, tetapi kenapa kita harus menunggu angka 00.00 untuk menginstropeksi diri kita agar menjadi hambanya yang benar benar diharapkan oleh Allah taala ? Kenapa kita harus menunggu angka 00.00 ? Kenapa tidak 01.23, kenapa tidak 12.23, kenapa tidaj 23.45 ? Kenapa harus 00.00 dan tepat 31 Desember ? Kenapa tidak 00.00 tanggal 21 Januari ataupun tepat tanggal kelahiran kita untuk mau menyisihkan waktu kita agar kita menjadi manusia yang hebat ? "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh

kepada yang maruf dan melarang yang mungkar dan beriman kepada Allah, dan kalau sekiranya ahlul kitab beriman, tentulah hal itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada orang - orang yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang2 fasik) Surat Ali mran ayat 110.
Mungkin saudara kita disana, yang melakukan aktivitas hura hura dan berpesta pora disana lupa akan kenapa dia hidup di dunia. Apakah hanya hura hura ? Apakah hanya tidur makan tidur lagi ? Atau belajar terus, lulus, kerja, nikah, punya anak, sukses lalu meninggal ?

Tidak wahai saudaraku, Allah berfirman dalam Adz-Dzaariyaat (51 ayat 56) : dan tidak aku jadikan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku. Hidup kita yang serba hedonis ini, telah melenakan kita akan tujuan Allah menciptakan kita didunia, berleha leha dengan kehidupan didunia, bahkan menduakan Allah dan mendahulukan urusan dunia dibanding urusan kita diakhirat, padahal hidup kita didunia ibarat hanya

numpang minum, kehidupan yang sebenarnya adalah sesudah kita kembali kepada sang pencipta kita, Allah Azza Wa Jala. Apakah perlu Allah memperingatkan kita dengan cara mengambil sesuatu yang paling berharga bagi kita ? Apakah perlu orang tua diambil oleh Allah agar kita ingat kepadaNya ? Atau bahkan Allah perlu mengambil kita sendiri ? Malaikat mautpun tidak menunggu kita kapan kita mau bertaubat, malaikat mautpun tidak menunggu harus tanggal 31 Desember tepat jam 00.00 untuk mencabut nyawa kita, tetapi ketika malaikat maut mendapat instruksi, maka tak perlu menunggu esok ataupun waktu yang kita inginkan, maka langsung saja, cabut nyawanya. Coba bayangkan, jika kita telah usai melewati waktu 00.00 dan tepat 00.01 kita dicabut nyawanya oleh malaikat maut dan ketika itu kita bermaksiat kepada Allah taala, mau ditaruh dimana kita kelak berada ? "Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih." (Muttafaq 'Alaih, sebagian tambahan AlBukhari, "sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk." Mari, pumpung masih ada waktu, kita dekatkan diri kepada Allah taala agar kita senantiasa menjadi hamba yang terbaik dan tentunya Allah ridho memasukkan kita kedalam surgaNya atas kepatuhan kita kepada Allah taala.