Anda di halaman 1dari 25

KEYPAD MAKALAH

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah mikrokontroler kelas C

Oleh : Cries Avian NIM 121910201033 Kelas C

PROGRAM STUDI S1 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS JEMBER 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT. Penguasa Semesta Alam yang menganugerahi cinta, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan tugas mata kuliah mikrokontroler dengan judul Keypad DTMF dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada revolusi akbar, kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga, sahabat, dan ummat Rasulullah SAW, serta orang-orang yang telah mengikuti jejak langkah Beliau sampai akhir zaman.

Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas perkuliahan mikrokontroler sebagai wujud dari partisipasi saya dalam mengembangkan serta mengaktualisasikan ilmu yang telah kami peroleh di perkuliahan, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, dan juga masyarakat pada umumnya.

Penulis menyadari bahwa tugas ini jauh dari kesempurnaan, tidak ada sesuatu yang sempurna selain-NYA, untuk itu saran dan kritik dari semua pihak penulis butuhkan sehingga menjadikan tugas ini menuju yang lebih baik lagi.

Akhirnya penulis hanya bisa berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna baik bagi penulis sendiri maupun berbagai pihak yang mempelajarinya.

Jember, 17 Desember 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Hubungan komunikasi dapat dengan mudah dilakukan dengan jarak yang hampir tidak terbatas, baik dengan menggunakan telepon, mobile phone ataupun internet. Karena secara praktis teknologi ini sudah menjadi konsumsi atau kebutuhan sekunder masyarakat secara universal. Tidak hanya sebagai media komunikasi, teknologi yang berada dalam ruang lingkup teknik telekomunikasi ini dapat pula diaplikasikan sebagai suatu media yang dapat mempermudah aktivitas sehari-hari. Teknologi ini menggunakan sinyal DTMF (Dual Tone Multi Frequency) yang merupakan sinyal informasi berupa nada pada frequency tertentu yang dikirim. Kemajuan teknologi dibidang elektronika juga membawa dampak yang besar, dimana salah satunya pada alat hardware masukan terutama. Selain DTMF, penghematan penggunaan keypad juga diakali dengan menggunakan matrix keypad yang sering digunakan pada peralatan elektronika.

1.2 Rumusan masalah Pada makalah keypad DTMF ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah yang dimaksud dengan keypad ? 2. Apakah yang dimaksud DTMF? 3. Bagaimana cara kerja keypad DTMF? 4. Apakah yang dimaksud Matrix Keypad ? 5. Bagaimana cara kerja Matrix Keypad? 6. Bagaimana pengaplikasian keypad pada mikrokontroller?

1.3 Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk : 1. Mengetahui apa yang maksud dengan keypad.

2. Mengetahui pengertian keypad dan DTMF. 3. Mengetahui cara kerja keypad DTMF. 4. Mengetahui pengertian Matrix Keypad. 5. Mengetahui cara kerja Matrix Keypad. 6. Mengetahui keypad pengaplikasian pada mikrokontroller.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Keypad Keypad berarti Sebuah keyboard miniatur atau set tombol untuk operasi portabel perangkat elektronik, telepon, atau peralatan lainnya. Keypad merupakan sebuah rangkaian tombol yang tersusun atau dapat disebut "pad" yang biasanya terdiri dari huruf alfabet (AZ) untuk mengetikkan kalimat, juga

terdapat angka serta simbol-simbol khusus lainnya. Keypad yang tersusun dari angka-angka biasanya disebut sebagai numeric keypad. Keypad juga banyak dijumpai pada alphanumeric keyboard dan alat lainnya seperti kalkulator, telepon, kunci kombinasi, serta kunci pintu digital, dimana diperlukannya nomor untuk dimasukkan.

2.2 DTMF Sistem Dual Tone Multiple Frequency (DTMF) adalah Piranti Semikonduktor yang dirancang untuk digunakan pada sistem dial pada pesawat telepon. DTMF membangkitkan suatu sinyal nada yang merupakan kombinasi dari 2 buah nada yang memiliki frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Kelompok frekuensi rendah meliputi 697 Hz, 770 Hz, 852 Hz, dan 941 Hz. Sedangkan kelompok frekuensi tinggi meliputi frekuensi 1209 Hz, 1336 Hz, 1477 Hz, dan 1633 Hz. Kombinasi dari kelompok frekuensi rendah dengan frekuensi tinggi yang saling berpasang pasangan membentuk 16 macam kombinasi pasangan nada sinyal DTMF yang standard. Alat pengirim kode DTMF merupakan 8 rangkaian oscilator yang masing masing membangkitkan frekuensi pada tabel diatas. Selain itu ada rangkaian pencampur frekuensi untuk mengirimkan 2 nada yang terpilih. Sedangkan untuk penerima kode DTMF lebih rumit. Penerima dibentuk dari 8 buah filter yang tidak sederhana dan rangkaian tambahan lainnya. Pada penelitian sebelumnya (Sunarno, 2003) DTMF dapat dinyatakan langsung dalam data biner. DTMF dapat mengirimkan sinyal per 4 bit yang dikirimkan dalam bentuk kombinasi 2 nada. Sebagai contoh jika men-dial angka 4

maka keluar kombinasi frekuensi dari dua buah kelompok frekuensi, rendah dan tinggi yaitu frekuensi 770 Hz dan 1209 Hz. Dari kombinasi frekuensi tersebut akan membangkitkan kombinasi biner 0100.

2.2.1

Prinsip Kerja DTMF Setelah beralih ke Teknologi Digital, cara meminta nomor sambungan

telepon tidak lagi dengan cara memutar piringan angka tapi dengan cara memencet tombol-tombol angka. Cara ini dikenal sebagai Touch Tone Dialing, sering juga disebut sebagai DTMF (Dual Tone Multiple Frequency). Dual Tone Multiple Frequency (DTMF) adalah teknik mengirimkan angka-angka pembentuk nomor telpon yang di-kode-kan dengan 2 nada yang dipilih dari 8 buah frekuensi yang sudah ditentukan. 8 frekuensi tersebut adalah 697 Hz, 770 Hz, 852 Hz, 941 Hz, 1209 Hz, 1336 Hz, 1477 Hz dan 1633 Hz, seperti terlihat dalam Gambar 1 angka 1 di-kode-kan dengan 697 Hz dan 1209 Hz, angka 9 di-kode-kan dengan 852 Hz dan 1477 Hz. Kombinasi dari 8 frekuensi tersebut bisa dipakai untuk meng-kode-kan 16 tanda, tapi pada pesawat telepon biasanya tombol 'A' 'B' 'C' dan 'D' tidak dipakai.

Gambar 1. Kombinasi nada DTMF

2.2.2

Kombinasi Nada DTMF Teknik DTMF meskipun mempunyai banyak keunggulan dibanding

dengan cara memutar piringan angka, tapi secara tehnis lebih sulit diselesaikan. Alat pengirim kode DTMF merupakan 8 rangkaian oscilator yang masing-masing membangkitkan frekuensi "aneh" di atas, ditambah dengan rangkaian pencampur frekuensi untuk mengirimkan 2 nada yang terpilih. Sedangkan penerima kode DTMF lebih rumit lagi, dibentuk dari 8 buah filter yang tidak sederhana dan rangkaian tambahan lainnya. Beberapa pabrik membuat IC khusus untuk keperluan DTMF, diantaranya yang banyak dijumpai adalah MC145436 buatan Motorola, MT8870, MT8880 dan MT8888 buatan Mitel Semiconductor. MC145436 dan MT8870 merupakan penerima DTMF, menerima sinyal dari saluran telepon kalau ternyata sinyal yang diterima tadi merupakan kombinasi nada yang sesuai dengan ketentuan DTMF, mengeluarkan kode biner sesuai dengan kombinasi nada tersebut. MT8880 dan MT8888 merupakan penerima dan pengirim DTMF, selain bisa berfungsi sebagai penerima DTMF, bisa pula dipakai untuk membangkitkan nada DTMF sesuai dengan angka biner yang diterimanya. Saluran data (Data bus) dan sinyal-sinyal kontrol MT8880 dirancang sesuai dengan karakteristik mikrokontroler buatan Motorola (misalnya

MC68HC11), sedangkan MT8888 disesuaikan dengan mikrokontroler buatan Intel (termasuk AT80C51). Tapi untuk AT89C2051 yang memang tidak punya saluran data (data bus) perbedaan kedua IC itu tidak ada artinya, mengingat saluran data dan sinyal kontrolnya disimulasikan lewat program yang diterimanya. Teknik DTMF meskipun mempunyai banyak keunggulan dibanding dengan cara memutar piringan angka, tapi secara tehnis lebih sulit diselesaikan. Alat pengirim kode DTMF merupakan 8 rangkaian oscilator yang masing-masing membangkitkan frekuensi aneh di atas, ditambah dengan rangkaian pencampur frekuensi untuk mengirimkan 2 nada yang terpilih. Teknik DTMF meskipun mempunyai banyak keunggulan dibanding dengan cara memutar piringan angka, tapi secara tehnis lebih sulit diselesaikan. Alat pengirim kode DTMF merupakan 8 rangkaian oscilator yang masing-masing

membangkitkan frekuensi aneh di atas, ditambah dengan rangkaian pencampur frekuensi untuk mengirimkan 2 nada yang terpilih.

Gambar 2. Frekuesi pada tombol-tombol DTMF

Dari gambar di atas terlihat bahwa di dalam DTMF ada 16 nada berbeda. Masing-masing nada merupakani penjumlahan dari dua buah frekuensi, satu dari suatu rendah dan satu dari frekuensi tinggi. Ada empat frekuensi berbeda pada setiap kelompok. Pada telepon hanya menggunakan 12 nada dari 16 nada yang ada, terdiri dari 4 baris (R1, R2, R3 dan R4) dan 3 kolom (C1, C2 dan C3). kolom dan Baris memilih frekuensi dari yang rendah dan frekuensi tinggi menggolongkan berturut - turut. Masing-Masing tombol ditetapkan oleh penempatan kolom dan baris nya. Sebagai contoh tombol 5 terdapat pada baris 1 (R2) dan kolom 1 (C2) sehingg mempunyai frekuensi 770+ 1336= 2106 Hz .

Tombol 9 terdapat pada baris 2 (R3) dan kolom 2 (C3) dan mempunyai suatu frekuensi 852+ 1477= 2329 Hz. IC DTMF MT8870 dan beberapa komponen-komponen pendukung lainnya seperti relay sebagai switch untuk ke tegangan jala-jala PLN, sehingga komponen-komponen kendali terpisah dari tegangan listrik yang lebih besar, pada dasarnya hanya menggunakan MT8870 saja sudah dapat dipergunakan untuk mengendalikan beberapa peralatan elektronika, sedangkan penggunaan

mikrokontroler diatas untuk memodifikasi kendali dan dapat juga untuk memperbanyak peralatan yang hendak dikendalikan, hal tersebut tergantung dari pemrograman yang di buatpada mikrokontroler tersebut, untuk pemrograman mikrokontroler ATMega 8535 dapat menggunakan AVR MT8870D adalah sebuah IC decoder DTMF yang berfungsi sebagai pengubah sekaligus filter frekuensi sinyal DTMF menjadi data digital, jadi dengan kata lain dapat dikatakan bahwa IC ini merupakan DTMF dengan mikrokontroler. Adapun prinsip kerja dari IC ini adalah dengan cara membaca setiap input yang ada kemudian input tersebut difilter dalam blok penyaring frekuensi rendah dan blok penyaring frekuensi tinggi, hal tersebut dilakukan karena DTMF adalah perpaduan dua frekuensi, yaitu frekuensi rendah dan frekuensi tinggi, maka itu diperlukanlah dua blok penyaring tersebut. Sehingga apabila yang menjadi input adalah DTMF maka otomatis blok penyaring akan bekerja keduanya pada waktu bersamaan. Kemudian output-output dari dua blok penyaring ini akan dimasukkan pada sebuah blok berkomponen dasar gerbang and, dengan maksud agar blok selanjutnya yang berupa blok pembaca rekuensi hanya akan dapat input apabila dua blok penyaring menghasilkan output dalam waktu bersamaan, dengan kata lain hasil dari pengandan output-output ini adalah input bagi blok pembaca frekuensi. Pada blok pembaca frekuensi ini, frekuensi-frekuensi yang masuk akan di konversi menjadi data digital.

Gambar 3. Rangkaian DTMF 8870

Diagram waktu proses pengambilan/pengiriman data dari/ke DTMF MT8870 terlihat di Gambar berikut :

Gambar 4. Diagram waktu pengambilan/pengiriman data dari/ke DTMF MT8870

10

2.2.3

Register Kontrol Kapasitas Register MT8888 hanya 4 bit, namun ada 7 hal yang diatur

melalui Register Kontrol, dengan demikian Register Kontrol dibagi menjadi dua bagian, seperti terlihat dalam Tabel 3.1. Saat pertama kali menyimpan data ke Register Kontrol selalu diterima oleh Bagian I Register Kontrol, jika RSEL (bit 3) = 1 maka pengiriman data berikutnya akan diterima oleh Bagian II Register Kontrol. Kegunaan dari masing-masing bit dalam Register Kontrol dibahas di bawah.

Gambar 5. Susunan bit dalam Register Kontrol

2.2.4

Register Status Register Status dipakai untuk memantau keadaan dari MT8888, kegunaan

dari masing-masing bit dalam Register Kontrol dibahas di bawah.

Gambar 6. Susunan bit dalam Register Status

11

2.2.5

Pembangkit nada DTMF MT8888 membangkitkan nada DTMF sesuai dengan data yang diisikan ke

Transmit Data Register. Selama TOUT (bit 0 di Register Kontrol bagian I) bernilai 1 nada DTMF yang dibangkitkan MT8888 disalurkan lewat kaki TONE (kaki 8). Ada 2 cara untuk mengirimkan nada DTMF: 1. Nada DTMF dibangkitkan dan dihentikan secara manual. 2. Nada DTMF dibangkitkan secara mode burst. Mode burst adalah mode yang dipakai dalam peralatan telepon tertentu, dalam pemakaian umum yang dipakai adalah mode manual.

Gambar 7. Nada DTMF dalam mode burst

2.2.6

Penerima nada DTMF Rangkaian penerima nada DTMF MT8888 selalu memantau sinyal yang

masuk, jika sinyal tersebut mengandung nada DTMF dan nada itu lamanya melebihi konstanta waktu yang ditentukan, maka RDRF (bit 2 di Register Status) akan menjadi 1. Keadaan di RDRF bisa diteruskan ke kaki IRQ/CP (kaki 15) sebagai sinyal permintaan interupsi ke mikrokontroler, hal ini dilakukan dengan cara men-satu-kan IRQ (bit 2 di Register Kontrol bagian I). Dalam keadaan ini kaki IRQ/CP=0 kalau RDRF bernilai 1 dan IRQ/CP=1 kalau RDRF bernilai 0. RDRF kembali menjadi 0 dengan sendirinya setelah isi Register Status dibaca.

12

2.2.7

Menentukan keadaan awal

Sebelum dipakai, dalam waktu 100 mili-detik setelah dihidupkan, keadaan awal dari MT8888 harus diatur dulu dengan me-nol-kan isi semua register, termasuk Register Kontrol Bagian I dan Bagian II serta Register Status.

2.3 Matrix Keypad Keypad Matrix memang sangat akrab digunakan dalam aplikasi-aplikasi mikrokontroler karena aritekturnya yang sederhana dan mudah untuk

digabungkan dengan segala macam mikrokontroler. Keypad dengan metode matrix memiliki berbagai jenis tipe, ada yang 4 x 4, ada yang 3 x 4 dan lain lain tipe tergantung dari kebutuhan pengguna. Pembuatan sebuah keypad matrix umumnya sangat mudah. Seperti yang ditunjukkan oleh gambar dibawah dimana kita mempunyai empat baris serta empat kolom sebagai tahapan awalnya. Diantara setiap persimpangan baris dan kolom disana kita tempatkan sebuah tombol.

Gambar 8. Konfigurasi Matrix Keypad 4 x 4.

13

2.3.1

Cara Kerja Matrix Keypad Pada pembahasan kali ini, akan dibahasa cara kerja keypad dengan

menggunakan metode matrix. Prinsip kerja keypad dengan menggunakan metode matrix antara 4 x 4 dan 3 x 4 sama saja, hanya saja yang membedakan hanyalah total pin yang digunakan dan jumlah tombol yang akan digunakan, namun pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai keypad dengan matrix 4 x 4. Konstruksi matrix keypad 44 cukup sederhana, yaitu terdiri dari 4 baris dan 4 kolom dengan keypad berupas saklar push buton yang diletakan disetiap persilangan kolom dan barisnya. Rangkaian matrix keypad diatas terdiri dari 16 saklar push buton dengan konfigurasi 4 baris dan 4 kolom. 8 line yang terdiri dari 4 baris dan 4 kolom tersebut dihubungkan dengan port mikrokontrol 8 bit. Sisi baris dari matrix keypad ditandai dengan nama Row1, Row2, Row3 dan Row4 kemudian sisi kolom ditandai dengan nama Col1, Col2, Col3 dan Col4. Sisi input atau output dari matrix keypad 44 ini tidak mengikat, dapat dikonfigurasikan kolom sebagi input dan baris sebagai output atau sebaliknya tergantung programernya.

Gambar 9. Proses Scanning Tombol pada Matrix Keypad 4 x 4

Proses Scaning Matrix Keypad 44 Untuk Mikrokontroler Proses scaning untuk membaca penekanan tombol pada matrix keypad 44 untuk mikrokontroler diatas dilakukan secara bertahap kolom demi kolom dari kolom pertama sampai

14

kolom ke 4 dan baris pertama hingga baris ke 4. Program untuk scaning matrix keypad 44 dapat bermacam-macam, tapi pada intinya sama. Misal kita asumsikan keyapad aktif LOW (semua line kolom dan baris dipasang resistor pull-up) dan dihubungkan ke port mikrokontrol dengan jalur kolom adalah jalur input dan jalur baris adalah jalur output maka proses scaning matrix keypad 44 diatas dapat dituliskan sebagai berikut. Mengirimkan logika Low untuk kolom 1 (Col1) dan logika HIGH untuk kolom yang lain kemudian membaca data baris, misal tombol SW1 ditekan maka data baris pertama (Row1) akan LOW sehingga data baris yang dibaca adalah 0111, atau tombol yang ditekan tombol SW5 maka data pada baris ke 2 akan LOW sehingga data yang terbaca 1011, atau tombol SW9 yang ditekan sehingga data yang terbaca 1101, atau tombol SW13 yang ditekan maka data yang dibaca adalah 1110 dan atau tidak ada tombol pada kolom pertama yang di tekan maka data pembacaan baris akan 1111. Mengirimkan logika Low untuk kolom 2 (Col2) dan logika HIGH untuk kolom yang lain kemudian membaca data baris, misal tombol SW1 ditekan maka data baris pertama (Row1) akan LOW sehingga data baris yang dibaca adalah 0111, atau tombol yang ditekan tombol SW5 maka data pada baris ke 2 akan LOW sehingga data yang terbaca 1011, atau tombol SW9 yang ditekan sehingga data yang terbaca 1101, atau tombol SW13 yang ditekan maka data yang dibaca adalah 1110 dan atau tidak ada tombol pada kolom pertama yang di tekan maka data pembacaan baris akan 1111. Mengirimkan logika Low untuk kolom 3 (Col3) dan logika HIGH untuk kolom yang lain kemudian membaca data baris, misal tombol SW1 ditekan maka data baris pertama (Row1) akan LOW sehingga data baris yang dibaca adalah 0111, atau tombol yang ditekan tombol SW5 maka data pada baris ke 2 akan LOW sehingga data yang terbaca 1011, atau tombol SW9 yang ditekan sehingga data yang terbaca 1101, atau tombol SW13 yang ditekan maka data yang dibaca adalah 1110 dan atau tidak ada tombol pada kolom pertama yang di tekan maka data pembacaan baris akan 1111. Mengirimkan logika Low untuk kolom 4 (Col4) dan logika HIGH untuk kolom yang lain kemudian membaca data baris, misal tombol SW1 ditekan maka data baris pertama (Row1) akan LOW sehingga data baris yang dibaca adalah 0111, atau tombol yang ditekan tombol SW5 maka data pada baris ke 2 akan LOW sehingga data yang terbaca 1011, atau

15

tombol SW9 yang ditekan sehingga data yang terbaca 1101, atau tombol SW13 yang ditekan maka data yang dibaca adalah 1110 dan atau tidak ada tombol pada kolom pertama yang di tekan maka data pembacaan baris akan 1111. Kemudian data pembacaan baris ini diolah sebagai pembacaan data penekanan tombol keypad. Sehingga tiap tombol pada matrix keypad 44 diatas dengan teknik scaning tersebut akan menghasilkan data penekanan tiap-tiap tombol sebagai berikut.

SW1 = 0111 0111 SW9 = 0111 1101 SW2 = 1011 0111 SW10 = 1011 1101 SW3 = 1101 0111 SW11 = 1101 1101 SW4 = 1110 0111 SW12 = 1110 1101

SW5 = 0111 1011 SW13 = 0111 1110 SW6 = 1011 1011 SW14 = 1011 1110 SW7 = 1101 1011 SW15 = 1101 1110 SW8 = 1110 1011 SW16 = 1110 1110

Data port mikrokontroler, misalkan pada SW2 = 1011 0111 tersebut terbagi dalam nible atas dan nible bawah dimana data nible atas (1011) merupakan data yang kita kirimkan sedangkan data nible bawah (0111) adalah data hasil pembacaan penekanan tombol keypad SW2 pada proses scaning matrix keypad 44 diatas.

2.4 Project Sederhana Keypad Pada project sederhana kali ini, kita akan mencoba mengaplikasikan tombol keypad dikombinasikan dengan LCD, dimana pada project kali ini kita kondisikan rangkaiannya untuk menampilkan tombol mana yang ditekan oleh user dengan menggunakan LCD sebagai komponen penampilnya.

16

Gambar 10. Rangkaian Keypad dengan LCD

Pada Proyek Sederhana kali ini, kita membutuhkan beberapa komponen diantaranya : 1. Mikrokontroler ATMEGA 8535. 2. LCD 16 Karakter 3. Keypad Matrix. 4. Kapasitor 22pF. 5. Elco 10uF. 6. Crystal 12 MHz.

17

2.4.1 Cara Kerja Rangkaian a. Reset

Gambar 11. Reset Fungsi tombol reset adalah untuk melakukan reset atau mengembalikan program dalam mikrokontroler yang sedang berjalan ke program awal atau pada memory 00H. Tombol reset dapat bekerja aktif ketika adanya logika bawaan rendah atau nol dari luar mikrokontroler menuju pin reset mikrokontroler. Prinsip kerja dari tombol reset yakni ketika tombol reset mulai di tekan komponen kapasitor yang terdapat di reset mengalami fase discharge sehingga muatan arus yang ada di dalam kapasitor mendekati nol, sehingga kondisi ini memungkinkan adanya logika bawaan rendah yang menuju ke pin reset mikrokontroler. Fungsi resistor pada rangkaian reset berfungsi sebagai penahan adanya arus balik dari kapasitor.

18

b. LCD

Gambar 12. LCD

Fungsi LCD disini adalah sebagai komponen yang digunakan utnuk menampilkan nilai atau tombol yang ditekan oleh user. LCD pada rangkaian kali ini menggunakan LCD dengan jumlah karakter 16 x 2. Untuk dapat mengoprasikan LCD pada rangkaian ini, digunakanlah port B untuk port input LCD.

19

c. Program Berikut ini listing program keypad dengan LCD dengan menggunakan bahasa C. /***************************************************** Chip type Program type : ATmega8535 : Application

AVR Core Clock frequency: 12,000000 MHz Memory model External RAM size Data Stack size : Small :0 : 128

*****************************************************/

#include <mega8535.h> TCCR1A=0x00; // Alphanumeric LCD functions #include <alcd.h> TCCR1B=0x00; TCNT1H=0x00; TCNT1L=0x00; // Declare your global variables here ICR1H=0x00; ICR1L=0x00; void main(void) { PORTA=0x00; DDRA=0x00; PORTB=0x00; DDRB=0x00; PORTC=0x00; DDRC=0x00; PORTD=0x00; DDRD=0x07; MCUCR=0x00; TCCR0=0x00; TCNT0=0x00; OCR0=0x00; MCUCSR=0x00; TIMSK=0x00; UCSRB=0x00; ASSR=0x00; TCCR2=0x00; TCNT2=0x00; OCR2=0x00; OCR1AH=0x00; OCR1AL=0x00; OCR1BH=0x00; OCR1BL=0x00;

20

{ ACSR=0x80; SFIOR=0x00; lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("7"); }; ADCSRA=0x00; if(PIND.6==0) // SPI initialization SPCR=0x00; TWCR=0x00; { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("*"); }; lcd_init(16); PORTD=0b11111101; while (1) { if(PIND.3==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_gotoxy(0,0); lcd_putsf("Tombol"); lcd_putsf("2"); };

PORTD=0b11111110; if(PIND.3==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("1"); };

if(PIND.4==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("5"); };

if(PIND.5==0) if(PIND.4==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("4"); }; if(PIND.6==0) if(PIND.5==0) { { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("8"); };

21

lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("0"); };

PORTD=0b11111011; if(PIND.3==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("3"); };

if(PIND.4==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("6"); };

if(PIND.5==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("9"); };

if(PIND.6==0) { lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("#"); };

} }

22

23

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Teknologi DTMF merupakan aplikasi yang memanfaatkan penjumlahan frekuensi untuk dapat merepresentasikan suatu tombol (pada keypad). Dengan adanya DTMF proses signaling pada telepon switching menjadi lebih cepat dan efisien dari pada dengan metode rotary dial. Selain itu DTMF membutuhkan IC MT8888 untuk membangkitkan dan menerima nada DTMF sesuai binernya. DTMF ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi yang melibatkan sistem kontrol dengan bantuan alat lain misalnya mikrokontroler. Selain menggunakan keypad dengan metode DTMF, penggunaan keypad dengan matrix juga bias digunakan, dimana pada keypad ini menggunakan fungsi scan perpin agar setiap tombol yang ditekan dapat diinisialisasikan untuk menjalankan perintah tertentu.

24

DAFTAR PUSTAKA

http://developmentsciencetechnology.blogspot.com/2012/12/sistem-dual-tonemultiple-frequency.html#sthash.ebUtaVln.dpuf. diakses pada 17 Desember 2013

Elektronika dasar. http://elektronika-dasar.web.id/artikel-elektronika/matrixkeypad-4x4-untuk-mikrokontroler/diakses pada 17 Desember 2013

Makalah DTMF http://www.scribd.com/doc/98940445/8-DTMF diakses pada 18 Desember 2013

25