Anda di halaman 1dari 25

INDIVIDU, KELOMPOK DAN NEGARA: MEMBANGUN NEGARA PANCASILA DENGAN TEORI KEBAIKAN DAN TEORI KEBENARAN Agus Wahyudi

Pusat Studi Pancasila UGM

PENDAHULUAN Di antara penilaian yang dapat ditemukan dari sejumlah publikasi beberapa tahun terakhir menyangkut Pancasila, kita dapat mengelompokkan dua kategori yang nampaknya penting untuk mendapatkan tanggapan yang saksama1, yaitu pertama, penilaian yang mempersoalkan relevansi sosial dari Pancasila, dan kedua, penilaian yang mempertanyakan relevansi intelektualnya2 Penilaian terhadap rele!ansi sosial Pancasila kadang dikaitkan dengan hakikat prinsip"prinsip Pancasila yang bersi#at umum $general%, dengan akibat yang cukup serius karena Pancasila dipandang &less success#ul as a uni#ying concept 'hen leadership tried to gi!e it policy content() Prinsip"prinsip Pancasila yang bersi#at
*

Makalah disampaikan pada &+ongres Pancasila(, yang diselenggarakan oleh Uni!ersitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Mahkamah +onstitusi, di ,alai Senat UGM )- Mei"1 .uni /--0 1 Sesungguhnya ada jenis kritik lain yang tidak dapat dimasukkan ke dalam dua kategori yang kita buat di sini, yaitu kritik yang menggunakan pendekatan dari &teori konspirasi(, misalnya, menunjukkan bah'a Pancasila adalah paham 1yang diilhami oleh ideologi Zionisme dan Freemansory Untuk kritik dan penilaian semacam ini, lihat, misalnya, Drs Muhammad 2halib and 3r#an S A''as, Doktrin Zionisme dan Idiologi Pancasila: menguak Tabir Pemikiran Politik Founding Fathers RI $Wihdah Press4 5ogyakarta, 1000%6 lihat juga S'ara"Muslim, &Pancasila, 7ionisme dan 8reemansory( 9http4::s'aramuslim net: more php;id</1)=>->1>->M? 2ulisan ini tidak akan menanggapi kritik dalam kategori ini karena alasan bah'a teori konspirasi mungkin berguna jika dimaksudkan untuk meyakinkan diri sendiri dan &anggota kelompoknya( $yang biasanya secara apriori telah mempercayai teori itu%, tetapi tidak e#ekti# dan pada umumnya gagal jika dimaksudkan untuk meyakinkan kelompok atau orang yang berada di luar dirinya, apalagi la'an bicaranya +elemahan utama semua teori konspirasi adalah memperlakukan ide sebagai benda6 bah'a manusia dan idenya bukan dilihat sebagai sesuatu yang bergerak dan bisa berubah, karena itu #okus pembicaraannya adalah tentang &agen( dan bukan &subjek permasalahan( / 3gnas +leden juga menggambarkan hubungan keduanya sebagai kon#lik antara epistemologi pengetahuan dan sosiologi pengetahuan, menjelaskan bah'a epistemologi pengetahuan &menguji !aliditas suatu sistem pengetahuan berdasarkan ukuran"ukuran rasional(, sedangkan sosiologi pengetahuan ingin menyelidiki asal"usul sosial dan pengaruh sosial dari sebuah sistem pengetahuan, di mana obyekti#itas tercapai kalau semua prasangka sosial yang ada dalam sebuah paham sudah tereliminasi $lihat 3gnas +leden, Pengantar4 @ele!ansi Social atau @ele!ansi 3ntelektual4 Sebuah @ekapitulasi, dalam Sikap 3lmiah dan +ritik +ebudayaan $AP)BS4 .akarta, 10CD%, p Ei ) William F 8rederick and @obert A Worden, editors Indonesia: !ountry "tudy Washington4 GPG #or the Aibrary o# Hongress, 100) 9lihat dalam http4::countrystudies us:indonesia:C= htm?

umum, menurut penilaian ini, memang membantu menjelaskan mengapa baik pemerintahan Soekarno maupun Soeharto $dan mungkin juga pemerintahan lain di 3ndonesia kelak% mendapatkan dukungan rakyat karena mereka menggunakan Pancasila, meskipun setiap pemerintahan yang berbeda selalu memiliki orientasi kebi#akan yang berbeda Studi lain yang dilakukan Dauglas B @amage juga memberikan penilaian yang sama Pengamatan yang dilakukan di masa pemerintahan Grde ,aru untuk melihat bagaimana Pancasila dipergunakan dan dipahami oleh berbagai aktor politik yang berbeda $yaitu, Abdurrahman Wahid dengan IU, 3katan Hendekia'an Muslim 3ndonesia, Angkatan ,ersenjata @epublik 3ndonesia, dan +elompok Iasionalis Sekuler di ba'ah Mega'ati Soekarnoputri% tersebut pada intinya mempersoalkan satu kenyataan menarik mengapa Pancasila dapat dipergunakan dengan berbagai cara yang saling bertentangan $kontradikti#% oleh berbagai rejim dan kekuatan politik di 3ndonesia Menurut @amage &Pancasila is readily appropriated #or !ariousJ and o#ten contradictoryJpurposes by di##erent kinds o# actors(K 2entu saja, rele!ansi sosial Pancasila dapat dianggap sebagai masalah yang penting dan harus ditanggapi jika kita menerima asumsi bah'a prinsip"prinsip yang menjadi hakikat Pancasila, dan terutama teori"teori yang dideri!asikan dari prinsip" prinsipnya, dapat ber#ungsi atau bekerja dalam menentukan arah kehidupan negara Sebaliknya, apa yang ditegaskan oleh kritik"kritik di atas adalah bah'a Pancasila belum, jika bukan sama sekali tidak, memenuhi standar &rele!ansi sosial( Dengan kata lain, kecenderungan arah kehidupan sosial selama ini, yang tercermin dalam bentuk atau isi $content% kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintahan di 3ndonesia, bisa berbeda satu sama lain 'alaupun semuanya menggunakan Pancasila sebagai dasar negara Maka, &Pancasila tidak rele!an secara social( dapat diartikan bah'a prinsip" prinsip Pancasila memang diakui adanya $oleh semua rejim atau pemerintahan di 3ndonesia%, tetapi kehidupan sosial $negara% seolah"olah berjalan atau bergerak dengan prinsip"prinsipnya sendiri Masalah rele!ansi sosial Pancasila kemungkinan juga memiliki sangkut paut dengan rele!ansi intelektualnya Sebab, rele!ansi sosial sebuah prinsip atau teori tidak dapat dipisahkan, meskipun mungkin dapat dibedakan, dari rele!ansi intelektualnya Sering dikemukakan oleh sebagian orang bah'a jika sesuatu ajaran tidak dapat dipraktekkan atau dijalankan dengan benar, maka itu bukan karena kelemahan dari isi $inti% ajarannya, tetapi karena kelemahan &manusianya( Pandangan semacam ini kadang terdengar masuk akal, tetapi kita dapat mengajukan pertanyaan6 lalu apa artinya sebuah ajaran yang benar, yang baik dan sempurna, jika akhirnya tidak dapat mempengaruhi perilaku pengikutnya; 2ulisan ini akan mendiskusikan rele!ansi sosial dan rele!ansi intelektual Pancasila dalam konteks ketika ada kebutuhan untuk mengadopsi dan mengembangkan dengan lebih baik pengertian tentang keadilan sosial, demokrasi, dan hak"hak asasi manusia Dua pertanyaan utama yang melatarbelakangi tulisan ini adalah apakah kritik" kritik itu dapat dicarikan ja'abannya dari &stock o# kno'ledge( yang telah berkembang
K Aihat Douglas B @amage, Democracy$ Islam$ and the Ideology o% Tolerance $@outledge4 Ie' 5ork, 100L%, p =

dalam studi"studi Pancasila selama ini, dan bagaimana mengembangkan penjelasan yang masuk akal dan rasional terhadap kritik dan penilaian menyangkut masalah rele!ansi sosial dan rele!ansi intelektual Pancasila; Untuk itu, bagian pertama tulisan ini akan membicarakan &Pancasila dan 2eori +ebaikan $2eleologi%4 Fubungan 3ndi!idu dan 8aksi $+elompok% dalam Iegara( dalam rangka menunjukkan peran sebuah tradisi pemikiran yang sangat kuat pengaruhnya dan bersi#at menetap dalam membentuk interpretasi terhadap Pancasila, dan bagaimana aliran pemikiran ini telah me'arnai pengertian tentang hubungan antara indi!idu dan #aksi $kelompok:golongan% dalam konteks negara Akan diajukan argumen bah'a teori kebaikan $theory o% the good% yang telah memainkan peran sangat dominan dalam me'arnai interpretasi Pancasila perlu dilengkapi dengan teori kebenaran &theory o% the right' Pada bagian kedua, akan diuraikan usaha untuk &Memadukan 2eori +ebaikan dan 2eori +ebenaran( dengan mempertimbangkan sejumlah implikasi dari keseimbangan antara keduanya dan akan diargumentasikan bah'a negara Pancasila di masa depan akan memiliki harapan menjadi lebih baik jika kita dapat menyeimbangkan pengaruh dua tradisi pemikiran dalam usaha mengembangkan Pancasila dan memperkuat #ungsinya sebagai dasar negara PANCASILA DAN TEORI KEBAIKAN (TELEOLOGI): HUBUNGAN INDIVIDU DAN FAKSI (KELOMPOK) DALAM NEGARA 2eori kebaikan $theory o% the good% adalah sebuah teori tentang moral publik:masyarakat yang di dalamnya berisi kumpulan ajaran tentang &si#at atau ciri( $properties%, terutama mengajarkan ciri"ciri atau si#at"si#at $seperti apa% yang secara uni!ersal membuat sesuatu keadaan menjadi lebih baik dibandingkan dengan keadaaan lainnya6 teori kebaikan mengajarkan kita tentang ciri"ciri atau si#at"si#at $ properties% yang membentuk nilai"nilai, terutama nilai"nilai impersonal $impersonal values% yang tidak menunjuk pada indi!idu tertentu atau pada entitas khusus lainnya L 2eori kebaikan inilah yang dalam bacaan saya telah menguasai 1latar belakang( dan selanjutnya me'arnai perkembangan 'acana Pancasila di sepanjang usia republik hingga detik ini Salah satu petunjuk penting yang dapat membantu memahami pengaruh teori kebaikan ini adalah pertanyaan &pembuka( yang diajukan oleh +etua ,adan Penyelidik Usaha Persiapan +emerdekaan $,PUP+%, Dr @adjiman Wedyodiningkrat pada a'al persidangan tanggal /0 Mei 10KL Pertanyaan &pembuka( yang diajukan Sang +etua kepada para anggota Sidang adalah &Apa dasar dari negara yang akan kita bentuk ini;(= +ita tentu saja dapat berandai"andai, jika ketua sidang tidak memulai membuka
Untuk diskusi yang agak mendalam mengenai pengertian ini, lihat Philip, Pettit, &2he Hontribution o# Analytical Philosophy(, in !ompanion to !ontemporary Political Philosophy @obert B Goodin and Philip Pettit $eds% $Mictoria4 ,lack'ell Publishing, /--K%, p // = Fatta juga memberikan kesaksian mengenai hal ini, mengatakan &banyak yang berpendapat bah'a pertanyaan itu yang memba'a persoalan #iloso#i, akan memperlambat 'aktu saja, sedangkan anggota yang terbanyak sangat gelisah, ingin cepat sudah dengan rencana Undang"Undang Dasar 2etapi pertanyaan dr @adjiman itu menguasai juga jalan perundingan pada hari"hari yang pertama 2erutama ,ung +arno yang memberikan ja'aban yang berisikan satu uraian tentang lima silaN( Aihat, Dr
L

sidang dengan pertanyaan 1teleologisO semacam itu, apakah Soekarno dan para pendiri negara yang lain akan merasa perlu memikirkan &nilai"nilai kebaikan( sebagai dasar negara, yaitu menyediakan ja'aban tentang kebaikan intrinsik $intrinsic goods% yang menjadi hakikat dan merupakan landasan hidup bernegara; 2erlepas dari itu, nampaknya memang seperti kebetulan, tetapi apa yang ditanyakan oleh Dr @adjiman Wedyodiningkrat memiliki persamaan dengan pandangan Aristoteles, #ilsu# 5unani +uno dan seorang tokoh teleologi yang terkenal ketika mengatakan bah'a, &sebelum kita dapat menentukan hak"hak rakyat atau menyelidiki hakikat dari konstitusi yang idealNmaka kita perlu, pertama"tama, menentukan hakikat dari cara hidup yang paling diinginkan Sejauh hal ini tidak jelas, maka hakikat dari konstitusi yang ideal pasti juga tidak akan jelas(D Untuk bisa memahami implikasi dari pengaruh teleologi ini, kita perlu menengok sejenak pada kasus lain, misalnya, pembentukan konstitusi #ederal di Amerika Serikat yang terjadi pada abad ke 1D Pada kasus pembentukan Iegara 8ederal Amerika Serikat, perhatian pada teori kebaikan atau teleologi bukan tidak mendapat tempat atau bukan tidak diagungkan dalam proses deliberasi konstitusi merekaC, tetapi ada petunjuk kuat bah'a bukan terutama pertanyaan atau keprihatinan pada masalah teleologis yang telah melatarbelakangi pembentukan konstitusi 8ederal di Amerika Serikat0 +eprihatinan utama dari para pendiri negara Amerika Serikat adalah bagaimana memastikan bah'a pemerintah tidak bersalah"guna atau bagaimana bisa mengurangi kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan $abuse o% po(er%, sambil tetap memastikan bah'a kebebasan $%reedom% bisa dijaga dan dipertahankan 2okoh seperti Madison, misalnya, mengingatkan tentang bahaya dari tirani mayoritas Iamun ia mendukung keberadaan #aksi $kelompok% dalam masyarakat sebagai sesuatu yang harus tetap dipertahankan karena kebebasan #aksi dalam negara akan sama pentingnya seperti udara bagi api1- Sementara itu, ia mengakui bah'a eksistensi #aksi dapat menjadi masalah serius dalam konteks kehidupan pemerintahan dibandingkan dengan kehidupan
Muhammad Fatta, Pengertian Pancasila4 Pidato Peringatan lahirnya Pancasila tanggal ) *uni )+,, di -edung .ebangkitan /asional *akarta $.akarta4 P2 3nti 3ndayu Press, 10DC%, p 0 D +utipan asli dari bahasa 3nggris4 &,e#ore 'e can de#ine peopleOs rights or in!estigate the nature o# the ideal constitutionNit is necessary #or us #irst to determine the nature o# the most desirable 'ay o# li#e As long as that remain obscure, the nature o# ideal constitution must also remain obscure( $ the Politics o% ristoteles, dikutip dari Michael . Sandel, 0iberalism and the 0imits o% *usice $Ie' 5ork4 Hambridge Uni!ersity Press, /--L%, p Ei% C Declaration o# 3ndependece Amerika menyebutkan4 &+ami menganggap bah'a kebenaran" kebenaran ini sebagai sesuatu yang tak dapat disangkal lagi4 bah'a manusia diciptakan dengan hak"hak yang sama, bah'a mereka diberi oleh 2uhan hak"hak tertentu yang tak dapat diganggu gugat, dan bah'a di antara hak"hak itu adalah hak untuk hidup, hak kemerdekaan dan hak mengejar kebahagiaan( 0 Mengenai hal ini, lihat, Marc Aandy and Sidney M Milkis, merican -overnment: 1alancing Democracy and Right $Ie' 5ork4 McGra' Fill, /--)%, lihat juga Bric 8oner, The "tory o% merican %reedom $Ie' 5ork4 W W Iorton P Hompany, 100C% 1&3t is possible to snu## out a #ire by depri!ing it o# air, but people cannot breathe either Aike'ise, #action can be destroyed, but only at the price o# snu##ing out liberty #or e!eryone( $dalam Marc Aandy and Sidney M Milkis, ibid, p =0%

masyarakat 3no!asi yang kemudian berkembang adalah idea demokrasi konstitusional yang dibangun dengan asumsi bah'a kekuasaan di manapun bisa bersalah guna6 kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang absolut akan korup secara absolut pula +arena itu, para pendukung demokrasi konstitusional meyakini bah'a sangat berbahaya jika satu orang diberi kekuasaan untuk sekaligus membuat hukum, melaksanakan hukum, dan mengadili pelaksanaan hukum Grang semacam ini memiliki kekuasaan absolut, dan dia nyaris menjalankan #ungsi seperti yang dijalankan 2uhan atau De'a Padahal manusia bukan 2uhan atau De'a dan juga bukan malaikat yang selalu baik, patuh pada perintah 2uhan, dan tidak pernah lupa +arena itu, demokrasi konstitusional menyarankan bah'a dalam merancang sebuah pemerintahan yang diatur oleh manusia terhadap manusia, kesulitan terbesar akan terletak dalam dua hal, pertama, bagaimana memberikan kemungkinan pemerintah mengontrol yang diperintah, dan kedua, bagaimana menentukan ke'ajiban pemerintah untuk mengontrol dirinya sendiri Di sinilah pengertian tentang &pemisahan kekuasan( dan &check and balances( dalam pemerintahan akhirnya diterima, karena pertimbangan bah'a berbahaya sekali jika pemerintah memegang monopoli terhadap kekuasaan6 sehingga tiga cabang kekuasaan $presiden, kongres, dan peradilan% harus dipisahkan dan masing" masing cabang itu diberikan kekuasan terbatas untuk saling menga'asi dan mengimbangi satu sama lain11 Dalam sidang ,PUP+ pada tahun 10KL, sebaliknya, salah seorang arsitek +onstitusi seperti Soepomo memperkenalkan gagasan tentang negara organis atau negara integralistik, dan menolak gagasan pemisahan kekuasaan $separation o% po(ers% dan check and balances dalam pemerintahan, karena dianggap bah'a pemisahan kekuasaan dan ide tentang check and balances merupakan pengaruh dari indi!idualisme ,arat1/ 2ugas negara dalam teori integralistik, menurut Soepomo, &bukan untuk menjamin kepentingan indi!idu maupun kelompok, tetapi untuk melindungi kepentingan seluruh masyarakat( Iegara digambarkan berhimpitan dengan tatanan sosial secara keluruhan, yang dalam kata"kata Soepomo, &Segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis 2erpenting dalam negara yang berdasarkan aliran pikiran integraal ialah penghidupan bangsa seluruhnya Iegara tidak memihak kepada sesuatu golongan yang paling kuat, atau yang paling besar, tidak menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat, akan tetapi negara menjamin
Agus Wahyudi, &Doktrin Pemisahan +ekuasaan4 Akar 8ilsa#at dan Praktek( *entera4 *urnal 2ukum edisi C"tahun 333, $/--L%, pp L"/1 1/ Soepomo membedakan tiga aliran pikiran tentang negara, yaitu 1% teori perseorangan atau indi!idualistik6 /% teori golongan6 dan )% teori integralistik $lihat, Saa#roedin ,ahar, Ananda , +usuma, dan Iannie Fuda'ati $eds% Risalah "idang 1P3P. and PP.I $.akarta4 Sekretariat Iegara @3, 100L%, pp )1"K) Sejumlah analisis dan kritik terhadap pandangan Soepomo bisa ditemukan dalam4 Da!id ,ourchier, Pancasila 4ersi 5rde 1aru$ dan sal 6uasal /egara 5rganis &Integralistik' $5ogyakarta4 PSP"UGM, /--D%, lihat juga Marsillam Simanjuntak 3nsur 2egelian dalam Pandangan /egara Integralistik, $tesis Master o# Aa', 8akultas Fukum, Uni!ersitas 3ndonesia, Depok, 10C0%
11

keselamatan hidup seluruhnya sebagai persatuan yang tak dapat dipisah" pisahkan1)( Di mata Soepomo, aliran pikiran $statesidee% negara yang integralistik adalah sesuai dengan keistime'aan si#at dan corak masyarakat 3ndonesia 1K dan yang sangat mengejutkan, Soepomo bahkan menolak gagasan &penjagaan( $sa%eguard% untuk melindungi indi!idu dari penyalahgunaan kekuasaan dan kebutuhan terhadap jaminan hak"hak asasi manusia, mengatakan bah'a, &pada dasarnya tidak ada dualisme staat dan indi!idu, tidak akan ada pertentangan antara susunan staat dan susunan hukum individu, tidak akan ada dualisme &staat und staat%reie -essellshs%t $Iegara dan Masyarakat Sipil%, tidak akan membutuhkan jaminan -rund und Freiheitsrechte $hak"hak dasar atau hak"hak asasi manusia% dari indi!idu contra staat$ oleh karena indi!idu tidak lain adalah bagian organik dari staatN1L( Dapat dikatakan bah'a perhatian Soepomo pada masalah kelompok $#aksi% memiliki kemiripan dengan perhatian Madison di Amerika pada abad 1D, bahkan seperti halnya para %ounding %athers Amerika, Supomo dengan tegas juga membela perlunya pemisahan agama dari negara1= Iamun, meskipun ada kemiripan pada pokok perhatian
Saa#roedin ,ahar, dkk, ibid, p )) +laim bah'a organisme merupakan nilai asli 3ndonesia ini telah mendapatkan bantahan, lihat misalnya studi Da!id ,ourchier dan juga tesis Marsillam Simanjuntak ,ourchier, agak berbeda dengan tesis Marsilam, menilai bah'a teori negara integralis atau organisme Soepomo sebenarnya memiliki asal usul bukan hanya dari pengaruh Fegel, tetapi dan yang terpenting adalah garis pengaruh dari kaum @omantik .erman seperti Adam Muller, yang merumuskan teori penting negara integralistik, melalui ahli hukum Aliran Sejarah seperti Sa!igny, hingga guru besar aliran Aeiden termasuk pendukung negara organik, .acQues Gppenheim, dan mahasis'anya, ahli antropologi hukum yang sangat berpengaruh, !an Mollenho!en Para ahli hukum dan ahli indologi 3ndonesia pada tahun 10/-an dan 10)-an, seperti Soepomo, Djokosutono, Iotonagoro dan FaRairin, mendapatkan didikan dari para sarjana Aeiden ini, sementara generasi baru para 3deolog seperti Padmo Wahyono, Soediman +artohadiprodjo, ,rig"jend $pension% Abdul +adir ,esar, Dr A Famid S Attamimi SF, Sutjipto, Dardji Darmodihardjo kelak banyak merujuk pemikiran"pemikiran mereka 3ni menjelaskan mengapa organisme mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dan menetap di 3ndonesia Meskipun merupakan tradisi yang luas, organisme jelas menolak premis"premis uni!ersalis #ilsa#at pencerahan, dan konsep"konsep seperti egalitarianisme, liberalisme, teori kontrak sosial, dan hak"hak asasi manusia $lihat ,ourchier, /--D, p K)L% 1L Saa#roedin ,ahar, dkk, 3bid, p )="D 1= Seperti Fatta, Soepomo menganjurkan pemisahan agama dan negara, dan mendukung ide tentang kebebasan memeluk agama masing"masing, mengatakan &saya menganjurkan dan saya mu#akat dengan pendirian yang hendak mendirikan negara nasional yang bersatu dalam arti &totaliter( seperti yang saya uraikan tadi, yaitu negara yang tidak akan mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar, akan tetapi yang akan mengatasi segala golongan dan akan mengindahkan dan menghormati keistime'aan dari segala golongan, baik golongan yang besar maupun golongan yang kecil Dengan sendirinya dalam negeri nasioanal yang bersatu itu, urusan agama akan terpisah dari urusan negara dan dengan sendirinya dalam negara nasional yang bersatu itu urusan agama akan diserahkan kepada golongan"golongan agama yang bersangkutan Dan dengan sendirinya dalam negara demikian seseorang akan merdeka memeluk agama yang disukainya ( $dikutip dari Saa#roedin ,ahar, dkk, ibid , p K-%
1K 1)

dan posisi intelektual mereka dalam konteks hubungan agama dan negara, implikasi teori Soepomo sangat berbeda dari Madison ,agi Soepomo, indi!idu atau #aksi kemudian harus lebur, bersatu padu dengan negara, bukan sesuatu yang terpisah atau berdiri sendiri, meskipun ada petunjuk bah'a Soepomo sebenarnya merasa kurang nyaman dengan pandangannya sendiri menyangkut hubungan indi!idu atau kelompok dan negara ini Menurut penilaian ,ourchier sambil mengutip kata"kata Soepomo sendiri $/--L, p 1//%, &,arangkali karena merasakan ketidaknyamanan dengan implikasi konsepnya, Soepomo mendesak para pendengarnya agar tidak mengkha'atirkan kemungkinan bah'a &teori integralistik atau teori negara totalitarian( akan menyebabkan pemerintah &mengabaikan keberadaan kelompok sebagai kelompok, atau indi!idu sebagai indi!idu ,ukan itu pokok soalnyaS( $penekanan dari Supomo% ,erbeda dengan indi!idualisme, menurut Soepomo, integralisme menaruh kepedulian pada &hal yang kongrit dan nyata, sebagaimana dila'ankan dengan yang abstrak( dan Soepomo mencoba meyakinkan para pendengarnya bah'a negara akan &mengakui dan menghormati adanya golongan"golongan dalam masyarakat yang nyata, akan tetapi segala seseorang dan segala golongan akan insa# kepada kedudukannya sebagai bagian organik dan negara seluruhnya, ber'ajib meneguhkan persatuan dan harmoni antara bagian"bagian itu(1D $kutipan dari Soepomo, ditekankan sesuai aslinya% Pemikiran Soepomo sengaja ditampilkan di sini karena integralisme $organisisme% Soepomo memiliki pengaruh sangat menentukan terutama setelah dibangkitkan kembali oleh pemerintah Grde ,aru 3ndonesia di ba'ah Presiden Soeharto pada paruh kedua 10C-an dan sebagian jejak pengaruhnya mungkin masih dapat ditemui hingga jaman kita sekarang 3ntegralisme atau organisisme kita sajikan sebagai contoh dari teori kebaikan $theory o% the good% karena ia menyajikan &pandangan mengenai ciri $si#at% atau sekumpulan ciri $si#at% yang diinginkan $ desirable% dalam lembaga politik6 sebuah lembaga yang rentan dengan pembentukan politik( 1C 2eori +ebaikan nampaknya selalu ada dan dapat dibayangkan tetap berpengaruh sepanjang sejarah politik 3ndonesia baik di masa Grde Aama Soekarno 10, maupun Grde ,aru
Saa#roedin ,ahar, dkk, op cit, p ) &2o ha!e !ie's about the politically good is to identi#y one or another property or set o# properties as desirable in political institutions6 in institutions 'hich are susceptible to political shaping( $Philip Pettit, op cit, p )-% 10 Penilaian mengenai pengaruh teleologisme dan bentuk implementasinya di era Grde Aama mungkin akan memerlukan kajian tersendiri, tetapi nampaknya tidak banyak pergeseran yang berarti antara basis #ilsa#at teleologisme Grde Aama dan Grde ,aru Salah satu indikasi yang menarik adalah bah'a program"program 3ndoktrinasi berskala nasional sebenarnya telah dimulai sejak jaman Grde Aama Soekarno, yang dilakukan juga dengan pertimbangan #ilsa#at yang sama seperti Grde ,aru yang mengutamakan pentingnya &menyamakan pikiran semua 'arga Iegara( Menurut Grde Aama, &persoalan"persoalan Pokok @e!olusi 3ndonesia harus dipahami oleh tiap 'arga negara 3ndonesia sedjak ia di bangku sekolah dan apalagi sesudah de'asa Farus diadakan pendidikan setjara luas, disekolah" sekolah maupun di luar sekolah tentang Persoalan"persoalan pokok @e!olusi 3ndonesia @akyat 3ndonesia harus bersatu pikiran mengenai re!olusinya sendiri, karena d#ika ada persatuan dalam %ikiran$
1C 1D

Soeharto Di samping itu, kenyataan bah'a Pancasila diakui dan selalu disebut dalam semua konstitusi yang berlaku di 3ndonesia/-, menjelaskan bah'a ada sesuatu dalam Pancasila yang dianggap penting, sebagai nilai kebaikan, dan terutama sebagai dasar negara +embali kepada pertanyaan a'al tentang &rele!ansi sosial dan rele!ansi intelektual Pancasila(, yaitu mengapa &Pancasila dapat dipergunakan dengan berbagai cara yang saling bertentangan $kontradikti#% oleh berbagai rejim dan kekuatan politik di 3ndonesia( atau mengapa &setiap pemerintahan yang berbeda di 3ndonesia selalu memiliki orientasi kebi#akan yang berbeda78 Penyebabnya berhubungan dan dapat dijelaskan dari kelemahan inheren teori kebaikan sendiri6 yaitu karena memiliki teori kebaikan saja tidak mencukupi dan tidak dapat membantu orang dalam memutuskan institusi"institusi mana yang merupakan pilihan yang benar bagi masyarakat/1 2eori kebaikan tidak memadai, dalam dirinya sendiri, untuk menghasilkan teori kebenaran $theory o% the right%// Dapatkah dan seperti apa jika Model Iegara Pancasila Masa Depan dikembangkan dengan memperhatikan sekaligus teori kebaikan $theory o% the good% dan teori kebenaran $theory o% the right%; MEMADUKAN TEORI KEBAIKAN DAN TEORI KEBENARAN Mudah"mudahan menjadi jelas dari uraian sebelumnya bah'a Pancasila memiliki latar belakang yang tak terpisahkan dengan &teori kebaikan( $ theory o% the good% Pengertian negara Pancasila selama ini nampaknya juga banyak dikembangkan
Rakyat Indonesia dapat bersatu dalam kemauan dan dalam tindakan ( $sicS%, lihat Tud#uh 1ahan Pokok Indoktrinasi $Djakarta4 De'an Pertimbangan Agung, 10=1%, p DC /lihat diskusi mengenai berbagai perbedaan rumusan Pancasila dalam +onstitusi yang pernah berlaku di 3ndonesia, dalam Mr Soepardo, dkk, 6anusia dan 6asyarakat 1aru Indonesia $Djakarta4 Departemen PP dan +, 10=-%, p )L"D Di luar interpretasi Pancasila menurut !ersi Grde ,aru Soeharto, telah lama ada berbagai bentuk rumusan sila"sila Pancasila dan cara memahami masing"masing sila yang berbeda satu sama lain, bahkan jika kita bandingkan pidato"pidato Soekarno sendiri pada sidang ,PUP+ 1 .uni 10KL dan pada Sidang P,, pada )- September 10=- juga terdapat perbedaan jenis sila dan interpretasinya $lihat juga Soekarno, &Membangun Dunia +embali $2o ,uild the World Ane'%(, dalam Tud#uh 1ahan2 Pokok Indoktrinasi $Djakarta4 De'an Pertimbangan Agung, 10=1%, p )/L /1 2eori kebaikan $theory o% the good% dapat memiliki banyak mani#estasi dalam bentuk berbagai nilai seperti kebebasan, atau demokrasi, atau kesejahteraan, atau persamaan atau apa saja, termasuk paham kekeluargaan $integralisme% Soepomo atau butir"butir Pancasila menurut !ersi PK Grde ,aru, dan salah satu contoh teori kebaikan yang sering didiskusikan oleh para ahli adalah utilitarianisme $konsekuensialisme% 2etapi ada problematik dari semua teori kebaikan itu Pettit menggambarkannya sebagai berikut dengan mengambil konsekuensialisme sebagai contoh kasus4 &suppose you think that the main or uniQue political good is that o# indi!idual, negati!e liberty4 the good enjoyed by people, as the standard tradition has it, 'hen they do not su##er inter#erence #rom others in the pursuit o# independent acti!ities What institutions ought you to regard, then, as politically right #or a society; 2he conseQuentialit ans'er is, roughtly, those institutions 'hose presence 'ould mean that that there is more liberty enjoyed in the society than 'ould other'ise be the case4 those institutions 'hich do best at promoting liberty 2he ans'er is rough, because this #ormula does not yet say 'hether promoting a property like liberty means maEiming its actual or eEpected realiRation and, i# the latter, 'hether the probabilities that should determine the eEpectation are subject to any checks ( $Pettit, 100L, p )1% // Philip Pettit, ibid, p )1

oleh para ahli berdasarkan teori kebaikan ini, setidaknya seperti yang terlihat pada pengertian negara, yang menolak pemisahan indi!idu dan masyarakat sipil dari negara +ini tiba saatnya mencoba menjelaskan alternati# teori yang sebenarnya juga dapat ditemukan jejaknya, meskipun tidak cukup mendominasi 'acana dalam proses deliberasi konstitusi di tahun 10KL, yaitu teori kebenaran $theory o% the right% ,erbeda dengan teori kebaikan, teori kebenaran adalah &teori yang mengajarkan tentang apa yang menyebabkan sebuah pilihan benar dan apa yang menyebabkan pilihan yang lain salah Dalam semua jenis pilihan yang tersedia6 pilihan tersebut mungkin berupa keputusan pribadi diantara berbagai tindakan yang berbeda, atau berupa keputusan sosial diantara berbagai struktur dasar yang berbeda( /) Dengan mengajukan teori kebenaran sebagai pendekatan yang harus dipertimbangkan untuk mengembangkan Pancasila bukan berarti kita menolak &nilai kebaikan( sama sekali Sebab, setiap penilaian yang dapat dilakukan melalui pembedaan antara kedua teori itu pada dasarnya juga memiliki praanggapan bah'a dalam setiap keputusan tindakan akan selalu ada &nilai( yang dipersoalkan6 terutama nilai yang netral, yang dalam dirinya sendiri tidak melibatkan keadaan atau indi!idu tertentu/K 8akta yang sangat menarik, dan tentu saja penting, adalah bah'a teori kebenaran bukan sama sekali &absen( atau &menghilang( dalam proses dan semangat deliberasi selama sidang"sidang ,adan Usaha Persiapan +emerdekaan $,PUP+% pada 10KL Sejarah mencatat, bah'a meskipun Soekarno maupun Soepomo sama"sama menolak gagasan tentang hak"hak asasi manusia untuk dicantumkan dalam +onstitusi selama sidang ,PUP+/L, tetapi banyak tokoh lain seperti Fatta, 5amin dan Aim +oen Fian yang mendesakkan perlunya hak"hak asasi manusia dicantumkan dalam konstitusi Argumen Fatta yang disajikan sebagai tanggapan terhadap pandangan Soekarno dan Soepomo adalah argumen deontologis Menurut Fatta, jika hak"hak sipil dan politik
3bid, p // 3bid, p )) /L Mengenai hal ini, ,ourchier mencatat4 &Meskipun sebagian orang mempertahankan pandangan bah'a karena Soekarno berada di sisi Soepomo dalam menentang dimasukkannya hak"hak indi!idu dalam UUD 10KL sehingga mengindikasikan bah'a Sokerno menyetujui pandangan politik Soepomo, penyelidikan secara lebih cermat terhadap tulisan dan pidato kedua pemimpin itu mengungkapkan bah'a mereka mendasarkan posisi mereka dengan premis"premis yang sangat berbeda, dan karena itu pandangan politik Soekarno dan Soepomo tidak dapat dikelompokkan dalam kubu #ilsa#at yang sama Saya sudah mengatakan bah'a Soekarno bukanlah seorang organisis 3a mengambil inspirasi dari kaum nasionalis radikal, bukan dari kaum konser!ati# anti"Pencerahan Grang"orang yang dianggap pahla'an oleh Soekarno adalah kaum re!olusioner seperti Danton, Aenin dan Garibaldi Memang benar bah'a Soekarno dan Soepomo banyak berbicara tentang tradisi desa, tetapi Soekarno menekankan aspek dinamis dari kehidupan komunalJyang dilambangkan dengan penggunaan istilah &gotong"royong(J sementara Soepomo melihat desa sebagai contoh ketenangan dan keserasian antara pemerintah dan rakyat atau kekeluargaanS $,ourchier, KK-% ,andingkan juga kata"kata Soekarno sendiri dalam salah satu pidatonya4 &Nsudah saja tandaskan bah'a kepribadian ,angsa 3ndonesia ialah gotong"rojong Pantja Sila adalah penjelmaan kepribadian ,angsa 3ndonesia itu, dan djika Pantja Sila itu ,,diperas(, menjadilah ia 2ri Sila +etuhanan"Sosionasionalisme"Sosiodemokrasi, dan djika 2ri Sila ini, ,,diperas( lagi, menjadilah ia Bka Sila, yaitu -otong9Ro#ong -otong9Ro#ong yang tidak statis seperti ,,kekeluargaan( saja, tetapi Gotong @ojong yang dinamis, Gotong @ojong yang berkarya, hantjatjut"tali'anda, Gotong @oyong &Fo" lopis"+untul",aris( $Soekarno, &Penemuan +embali @e!olusi +ita(, dalam Tud#uh 1ahan2 Pokok Indoktrinasi $Djakarta4 De'an Pertimbangan Agung, 10=1%, p 1K/
/K /)

1-

seperti kebebasan berserikat dan berkumpul tidak dijamin dalam +onstitusi, maka ada kemungkinan bah'a 3ndonesia akan mengarah menjadi semacam negara dengan disiplin yang kaku $cadaver discipline%, yang menurutnya sudah terbukti di .erman dan @ussia Fatta membayangkan negara kuat, yang disebutnya sebagai &negara pengurus(, tetapi mengingatkan bah'a jika pemerintah diberi kekuasaan yang tak terbatas maka hal ini akan memunculkan &negara kekuasaan( atau &negara penindas( Salah satu cara menghindarinya, menurut Fatta, adalah dengan mecantumkan pasal"pasal yang menjamin &hak"hak berserikat, dan berkumpul, untuk menyatakan pendapat dan sebagainya(/= +arena itu, menurut Fatta, nilai &kebaikan( seperti yang terdapat dalam !isi integralisme Soepomo tidak mencukupi, dalam dirinya sendiri, untuk menghasilkan perlindungan hak"hak bagi para 'arga negara 5ang dibutuhkan adalah jaminan konstitusional, dan bah'a hak"hak semacam itu harus dinyatakan secara jelas Para anggota ,PUP+ yang lain seperti Muhammad 5amin, Aiem +oen Fian, juga membela perlunya hak"hak asasi manusia dicantumkan dalam konstitusi, dan dalam kasus Dr Sukiman, anggota Majelis Permusya'aratan @akyat $MP@% diusulkan di pilih secara langsung 5amin juga dikenal sebagai seorang pendukung gagasan bah'a utusan kelompok dalam MP@ dipilih secara langsung dan bebas oleh rakyat, dan bah'a menteri harus bertanggungja'ab kepada De'an Per'akilan @akyat, dan pemisahan kekuasaan $separation o% po(ers% harus ditegakkan, dan hak"hak 'arga negara harus dicantumkan dalam konstitusi .adi, ada alasan untuk mengatakan bah'a teori kebenaran nampaknya juga telah dipergunakan atau setidaknya bukan merupakan sesuatu yang ditinggalkan atau diharamkan sama sekali dalam proses deliberasi +onstitusi kita Dalam masa pemerintahan Grde ,aru, semangat deontologi yang dipromosikan oleh Fatta, 5amin dan lain"lainnya tidak dikenali dengan baik Sebaliknya pemerintah Grde ,aru membangkitkan kembali integralisme atau organisisme Soepomo/D dan menciptakan berbagai jenis kebijakan yang mengesankan bah'a hanya semangat teori kebaikan saja yang semakin dominan dalam pengembangan negara Pancasila Fal ini dapat dilihat dalam pemberlakuan Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila $PK% dan kebijakan Pancasila sebagai satu"satunya asas untuk semua organisasi politik dan organisasi masyarakat di 3ndonesia +ini tiba saatnya untuk mendiskusikan seperti apa jika Pancasila dikembangkan dengan memadukan atau setidaknya menyeimbangkan teori kebaikan dan teori
lihat Saa#roedin ,ahar, dkk, op cit, p /=) ,andingkan juga dengan Dr Muhammad Fatta, Pengertian Pancasila $.akarta4 P2 3nti 3ndayu Press, 10DC%, pp )1"/ Aihat juga ,ourchier, op cit p /D lihat misalnya, Abdul +adir ,esar, &Iegara +ekeluargaan( dalam Pemikiran "osial dan Politik Indonesia Periode )+:;9)+++ Da!id ,ourchier dan Medi @ FadiR $eds% $.akarta4 Gra#iti Press dan 8reedom 3nstitute /--)%, pp L-"L=6 lihat juga Soeharto, &Pancasila Warisan Ienek Moyang +ita( dalam Pemikiran "osial dan Politik Indonesia Periode )+:;9)+++ Da!id ,ourchier dan Medi @ FadiR $eds% $.akarta4 Gra#iti Press dan 8reedom 3nstitute /--)%, pp 1)C"1K=6 lihat juga Moerdiono, &Paham 3ntegralistik4 ,ukan Aiberalisme dan ,ukan +omunisme(, Getojo Gesman dan Al#ian $eds% dalam Pancasila sebagai Ideologi dalam 1erbagai 1idang .ehidupan 1ermasyarakat$ 1erbangsa dan 1ernegara $.akarta4 ,PD"Pusat, 1001%, pp K-")
/=

11

kebenaran Untuk itu, pada bagian selanjutnya, kita akan secara berturut"turut membahas4 &Status Pancasila dan Iilai +ebaikan Pancasila yang Paling Mendasar(6 dilanjutkan dengan diskusi mengenai &.usti#ikasi Pancasila(6 sebelum akhirnya membahas tentang &Model Iegara Pancasila Masa Depan( 1. Status Pa !as"#a $a N"#a" K%&a"'a Pa !as"#a (a ) Pa#" ) M% $asa* Sudah disinggung pada uraian sebelumnya bah'a rumusan Pancasila tercantum dalam semua konstitusi yang pernah berlaku di 3ndonesia, baik itu dalam Mukadimah UUD 10KL, Mukadimah +onstitusi @ 3 S dan UUD Sementara @3, meskipun rumusan sila"silanya tidak sama/C 8akta lain yang tidak kalah menarik dan akan menjadi penting untuk pembahasan kita adalah bah'a rumusan serta tata urutan Pancasila bukan hanya berubah"ubah, tetapi interpretasi terhadap tiap"tiap sila atau keseluruhan sila"sila juga berbeda"beda/0 Soekarno sendiri, sebagai orang pertama yang memperkenalkan istilah Pancasila dalam sidang ,PUP+ tanggal 1 .uni 10KL memiliki rumusan tersendiri $dalam satu kesempatan berbeda dengan kesempatan lain )-% dan bahkan mengajukan pandangan bah'a Pancasila bisa pula diperas ke dalam 2ri Sila, dan bahkan hanya menjadi Bka Sila)1

Diskusi singkat mengenai pencantuman Pancasila dalam berbagai +onstitusi ini dapat dilihat dalam Mr Soepardo, dkk, 10=-, op cit p )="D Untuk gambaran yang lebih baru yang merekam &heterogenitas pandangan di dalam perkembangan pemikiran tentang Pancasila( lihat A M W Pranarka "e#arah Pemikiran Tentang Pancasila $.akarta4 5ayasan Proklamasi HS3S, 10CL% /0 Grde ,aru Soeharto memiliki interpretasi sendiri, yang antara lain bertekad meluruskan dan membuat pemahaman yang seragam menyangkut berbagai pengertian yang telah berkembang di sekitar Pancasila Peran para ideolog dan sejara'an Grde ,aru $termasuk termasuk generasi paling akhir seperti Iugroho Iotosusanto% di bahas dalam ,ourchier, op cit Sebagai tambahan, ajaran Iotonagoro tentang 8ilsa#at Pancasila yang bersi#at esensialis, karena dipengaruhi oleh ajaran Aristoteles, seorang #ilsu# teleologis yang terkenal, juga mendapat tempat penting dalam struktur doktrin Grde ,aru, dan ajaran Iotonagaro banyak diajarkan secara luas dalam buku"buku teks sekolah dan kuliah Sayangnya, buku tentang 8ilsa#at Pancasila yang ditulis di masa Grde ,aru kebanyakan nampak mengulang"ulang ajaran Iatoganoro, meskipun ada juga kajian kritis terhadap sebagian teori Iotonagoro yang tidak banyak bergeser dari pendekatan teleologis, dan yang umumnya tidak banyak berkembang sebagai 'acana dan yang sepengetahuan saya tidak mendapatkan tanggapan cukup serius, seperti misalnya yang pernah dilakukan oleh Fardono Fadi yang mengusulkan untuk membalik teori Piramidal Iotonagoro $lihat P Fardono Fadi, 2akikat dan 6uatan Pancasila $5ogyakarta4 Penerbit +anisius, 100K% ),andingkan perbedaan sila"sila Pancasila Soekarno dan perbedaan urutannya pada Sidang di ,PUP+ pada tanggal 1 .uni 10KL, dan pada Pidato di Muka Sidang Umum P,, tanggal )- September 10=- Pancasila Soekarno yang pertama terdiri dari 1% +ebangsaan 3ndonesia6 /% 3nternasionalisme atau Peri"+emanusiaan6 )% Mu#akat atau Demokrasi6 K% +esejahteraan @akyat6 1% +etuhanan, sedangkan untuk yang kedua adalah 4 1% +etuhanan yang Maha Bsa4 /% Iasionalisme6 )% 3nternasionalisme6 K% Demokrasi6 L% +eadilan Sosial $lihat dalam4 2udjuh ,ahan Pokok 3ndokrtinasi $.akarta4 De'an Pertimbangan Agung%, 10=1% )1 2ri Sila adalah &Sosio"Iasionalisme, Sosio"Demokrasi, dan +etuhanan 5ang Maha Bsa( dan Bka Sila adalah &Gotong @oyong( Aihat Soekarno, &Pidato 1 .uni 10KL di Gedung 2yuuoo Sangin"3n(, dalam Pancasila Dasar /egara: .ursus Presiden "oekarno tentang Pancasila $5ogyakarta4 PSP"UGM dan 5ayasan 2i#a, /--C%, pp //")

/C

1/

Minat kita sekarang adalah menja'ab pertanyaan apakah bentuk sesungguhnya dari &nilai kebaikan( Pancasila, yang dirumuskan dalam konstitusi sebagai dasar negara dan yang dapat dide#inisikan sebagai basis atau landasan bagi konstitusionalisme dan rule o% la( di 3ndonesia Gagasan tentang konstitusionalisme dan rule o% la( seringkali dianggap sama +eduanya memang merupakan dua gagasan yang saling berhubungan, yaitu menunjuk pada pengertian tentang bagaimana kekuasaan pemerintah dan para pejabat negara harus dibatasi Meskipun demikian, kedua istilah tersebut dapat dibedakan, karena konstitusionalisme biasanya dipahami sebagai &perangkat dan prosedur konstitusional yang bersi#at khusus seperti pemisahan kekuasaan antara legislati#, eksekuti#, dan yudikati#, kemandirian yudikati#, due9process atau hak untuk membela diri bagi mereka yang dituduh melakukan tindakan kriminal, dan penghormatan terhadap hak"hak asasi manusia(, sedangkan rule o% la( menunjuk pada &standar"standar tertentu yang menentukan ciri 1kebajikanO $virtues% dari sebuah sistem hukum tertentu( Prinsip"prinsip konstitusionalisme memiliki landasan yang berbeda, karena persyaratan konstitusionalisme &diturunkan dari sebuah moralitas politik yang mencoba mempromosikan hak"hak dan kemerdekaan setiap orang dan tidak secara langsung $diturunkan% dari nilai"nilai $values% yang dianggap sudah tersirat $implicit% dalam kebanyakan gagasan hukum sendiri( )/ Persoalan yang kita hadapi adalah bah'a hubungan antara Pancasila, di satu pihak, dan konstitusionalisme dan rule o% la( di pihak lain, masih menimbulkan perselisihan, setidaknya jika benar indikasi yang menyebutkan bah'a &banyak polemik muncul berkenaan dengan ketidaksesuaian beberapa produk peraturan perundang"undangan $rule o% la(Jpen% dengan Pancasila()) 2etapi apa sebabnya ketidakjelasan ini terjadi; Penyebabnya mungkin terkait dengan sejumlah kesalahpahaman berikut ini)K4 Pertama, ada kecenderungan bah'a pengertian rule o% la( dipahami sebagai harus mencakup semua ciri dari sistem pemerintahan yang diinginkan $ a desirable system o% government% +esulitan bisa muncul karena konsepsi rule o% la( yang terlalu luas semacam itu justru tidak memberikan landasan hukum yang jelas menyangkut nilai"nilai yang di'akilinya
+utipan asli dari ,ahasa 3nggris4 &2he reQuirements o# constitutionalism are deri!ed #rom a +,#"t"!a# -,*a#"t. 'hich seeks to promote indi!idual rights and #reedom, and not directly #rom !alues that are supposed to be implicit in the !ery idea o# la' itsel# G# course, e!en though the principles o# constitutionalism ha!e di##erent #oundations, they may still help to maintain the @ule o# Aa'( Aihat 2en, H A &Honstitusionalism and the @ule o# Aa'( in !ompanion to !ontemporary Political Philosophy @obert B Goodin and Philip Pettit $eds% $Mictoria4 ,lack'ell Publishing, /--K%, pp )0K"K-) )) Moh Mah#ud MD, &Penuangan Pancasila di dalam Peraturan Perundang"undangan( 9http4::''' psp ugm ac id:publikasi:artikel:L)"penuangan"pancasila"di"dalam"peraturan"perundang" undangan html? 9date last access4 1-:L:/--0? Untuk memahami perkembangan diksusi mengenai Pancasila sebagai dasar Iegara dari kajian ilmu Fukum, lihat Satya Arinanto, Proses Perumusan Dasar /egara Pancasila: "tudi tentang .edudukan Pancasila sebagai Dasar /egara dan tentang Polemik mengenai 2ari 0ahir dan Penggali Pancasila dalam Perspekti% "e#arah 2ukum Tata /egara Depok4 2esis Uni!ersitas 3ndonesia $100D% )K ,andingkan dengan H A 2en $op cit%, ,andingkan pula dengan 8rank 3 Michelman, &@a'ls on Honstitutionalism and Honstitutional Aa'( dalam The !ambridge !ompanion to Ra(ls Samuel 8reeman $ed % $Hambridge4 Hambridge Uni!ersity Press, /--)%, pp
)/

1)

+edua, rule o% la( seringkali dianggap sebagai harus mencakup nilai"nilai yang berasal dari sebuah &teori komprehensi#( tentang hakikat dari sebuah pemerintahan yang baik $good government% Padahal tidak semua ciri dari pemerintahan yang baik dapat diturunkan dari nilai"nilai yang tersirat $implisit% dalam gagasan sistem hukum semacam itu +arena itu, rule o% la( mungkin perlu dipahami dalam pengertian yang lebih sempit, yang dengan ini bisa diharapkan bah'a rule o% la( berpegang atau menerima persyaratan konstitusionalisme $the re<uirements o% constitusionalism% yang pada dasarnya diturunkan dari moralitas politik tertentu Pancasila sebagai dasar negara artinya Pancasila merupakan basis moralitas politik untuk konstitusi dan rule o% la( di 3ndonesia Semua moralitas mengajarkan &nilai kebaikan( dan pertanyaannya adalah4 apa &nilai kebaikan dari Pancasila yang paling mendasar( yang menjadi basis moralitas politik bagi konstitusionalisme dan rule o% la( di 3ndonesia; Untuk menja'ab pertanyaan ini, kita nampaknya harus menengok pada sejarah dan konteks jaman ketika Pancasila dilahirkan Mengapa pidato Pancasila Soekarno 1 .uni 10KL, bukan alternati# lain yang 'aktu itu dita'arkan dalam sidang ,PUP+, yang akhirnya diterima dan bahkan mendapat sambutan tepuk tangan sangat meriah dari para anggota sidang; Pada hemat saya, itu terjadi bukan karena lima sila dari Pancasila, yang memang menarik, atau karena ketrampilan berpidato ,ung +arno yang diakui sangat memukau Penjelasan ,ung +arno sendiri bah'a Pancasila bisa diperas menjadi tri"sila dan eka sila nampaknya juga bukan sekedar pelengkap atau tambahan, sebab memang ada makna dibalik uraian itu .adi mengapa usulan Pancasila ,ung +arno yang akhirnya diterima adalah karena 'aktu itu ,ung +arno mempraktekkan dengan sempurna apa yang dalam istilah #ilsa#at politik kontemporer disebut sebagai nalar"publik $public reason%)L Fasil dari nalar publik inilah yang dapat dibaca sebagai (nilai kebaikan paling mendasar dari Pancasila( Apa saja nilai kebaikan Pancasila yang paling mendasar itu; Praktek nalar publik sedikitnya mengandung tiga pengertian)= Pertama, ada kriteria kesetaraan $e<uality% dan kebebasan yang sama $e<ual %reedom% Artinya pelakunya menyadari bah'a dirinya adalah anggota dari 'arga negara yang bebas $%ree% dan setara $e<ual%, dan menganggap orang lain juga bebas dan setara +edua, ada kriteria resiprositas Artinya ketika si pelaku mengajukan usulan kepada pihak lain dalam rangka
Pancasila Soekarno adalah contoh sempurna dari penerapan nalar publik itu Sebab berbeda dengan proposal lain yang juga diusulkan dalam sidang ,PUP+ pada 10KL, Pancasila Soekarno merupakan sintesis dari berbagai pengaruh pemikiran yang disajikan sedemikian rupa, tetapi bukannya dengan mena#ikan, usulannya dirumuskan dalam pengertian yang menjunjung tinggi pengertian kebebasan dan kesetaraan, resiprositas, dan kebaikan bersama Dalam bacaan saya, inilah rahasianya mengapa Pancasila Soekarno yang akhirnya diterima dengan suara bulat sebagai dasar negara, meskipun dalam konstitusi"konstitusi yang pernah berlaku di 3ndonesia rumusan itu telah mengalami modi#ikasi )= Aihat .ohn @a'ls, &2he 3dea o# Public @eason @e!isited(, in the 0a( o% Peoples and =the Idea o% Public Reason Revisited> $Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press, /--/%, pp 1)1"1C)L

1K

menentukan persyaratan untuk kerjasama $yang dalam konteks sejarah ,PUP+ adalah kerjasama dalam membentuk sebuah negara merdeka yang baru% yang pertama"tama dipertimbangkan adalah bah'a usulannya harus masuk akal di mata orang lain, yang juga merupakan 'arga negara yang bebas dan setara, sehingga mereka menerima kesepakatan bukan karena dominasi atau manipulasi atau karena tekanan paksa akibat posisi sosial dan politik yang lebih rendah $in%erior% Dan ketiga, ada kriteria kebaikan bersama Artinya pokok masalah $sub#ect% yang dibicarakan dalam usulan kerjasama itu adalah tentang kebaikan bersama $common good% atau keadilan politik #undamental, yang mempermasalahkan dua hal, yaitu inti penting konstitusi $ constitutional essentials% dan masalah keadilan dasar /. 0ust"1"'as" Pa !as"#a s%&a)a" Dasa* N%)a*a Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memikirkan dan menilai Pancasila adalah dengan mengajukan pertanyaan4 seperti apa keadaannya jika Pancasila tidak ada; Dalam rangka memahami mengapa kita memiliki sesuatu, taktik bagus yang kadang dapat dilakukan adalah dengan mempertimbangkan keadaan ketika sesuatu yang kita miliki itu tidak ada 2entu saja, kita hampir tidak mungkin menghapuskan rumusan Pancasila sebagai dasar negara dalam konstitusi kita atau mencabut pengertian Pancasila dalam memori rakyat kita hanya demi mendapatkan ja'aban seperti apa keadaannya jika Pancasila tidak ada +ita juga tidak pernah tahu apa yang kemudian terjadi seandainya ketua ,PUP+, Dr @adjiman Wedyodiningkrat, tidak pernah mengajukan pertanyaan &Apa dasar dari negara yang akan kita bentuk;( di depan para anggota sidang pada /0 Mei 10KL .adi yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan melakukan proses &eksperimen pemikiran( $jika kita ingin memahami bagaimana Pancasila dijusti#ikasi dan yang dengan ini mungkin dapat membantu menjelaskan seperti apa Pancasila seharusnya dipahami% Hiri"ciri masyarakat $situasi% 3ndonesia ketika Pancasila lahir dalam bacaan saya memiliki kemiripan yang nyaris sempurna dengan situasi yang dihadapi oleh banyak masyarakat lain, termasuk masyarakat"masyarakat demokrasi liberal ,arat Hiri"ciri yang membentuk masyarakat"masyarakat itu tidak berubah sampai sekarang Situasi masyarakat yang dimaksudkan dan yang harus dihadapi itu berupa &pluralisme sebagai #akta permanen()D Dengan itu, pertanyaan yang melatarbelakangi lahirnya Pancasila dapat dirumuskan dengan kalimat yang sama seperti yang juga dihadapi oleh banyak masyarakat lain itu, yaitu &apakah mungkin membentuk sebuah masyarakat $negara% yang stabil dan adil secara langgeng yang terdiri dari para 'arga"negara yang bebas dan sederajat yang memiliki perbedaan sangat mendalam dalam hal agama, doktrin moral dan ke#ilsa#atan yang tidak dapat dipersatukan $incompatible%, tetapi masing"masing masuk akal $reasonable%( Dengan kata lain, &apakah mungkin bah'a doktrin"doktrin
)D Pluralisme sebagai #akta permanen artinya pluralisme ada sejak dulu, sekarang masih ada dan besuk akan tetap ada Pluralisme bukan sekedar kondisi sejarah yang akan segera berlalu atau sirna6 pluralisme merupakan ciri permanen dari kebudayaan publik yang demokratis $@a'ls, 1000c, p KDK%

1L

komprehensi# yang masuk akal $reasonable% tetapi saling bertentangan dapat hidup bersama"sama dan semuanya menerima konsepsi politis dari sebuah rejim konstitusional;()C Mengapa ada &pluralisme( sebagai #akta permanen; Dan yang jauh lebih penting, bagaimana kesepakatan $agreement% atau konsensus bisa dicapai dalam sebuah masyarakat $negara% dengan &aneka ragam doktrin( demikian itu; Secara teoritis, kita dapat membedakan dua jenis consensus Pertama, konsensus meta"ontologis $the meta9ontological concensus% yang mengandung pengakuan mengenai hal"hal yang &kemungkinan dapat dibuktikan secara ilmiah(6 dan kedua adalah konsensus 'acana rasional $rational discourse concensus% yaitu mengandung kesepakatan perihal &makna dan pengertian dari semua perbedaan pandangan dunia()0 Dalam konteks diskusi kita, kita berhubungan dengan konsensus jenis kedua Penyebab ketidaksepakatan $disagreement% dari jenis ini bisa dibagi dalam dua kategori, yaitu yang tidak masuk akal $unreasonable% dan yang masuk akal $reasonable%K- Untuk yang pertama, sebagian orang mungkin percaya bah'a pluralisme disebabkan karena setiap orang berpegang pada kepentingannya sendiri secara dangkal Dan karena kepentingan setiap orang berbeda"beda, maka pandangan orang akhirnya juga berbeda" beda Ada juga yang percaya bah'a pluralisme terjadi karena orang seringkali irasional dan tidak terlalu cerdas, ketika semua #aktor ini bercampur dengan kesalahan logis $logical error% maka akan mengarah pada munculnya pendapat"pendapat yang saling bertentangan 2etapi penjelasan ini terlalu mudah dan sesungguhnya bukan merupakan penjelasan yang kita cari +ita harus memperhatikan ketidaksepakatan jenis kedua, sebab kita harus menja'ab pertanyaan mengapa ada &ketidaksepakatan( di antara orang yang masing"masing memiliki alasan yang masuk akal Dengan kata lain, apa sumber atau penyebab dari ketidaksepakatan yang masuk akal $reasonable disagreement%; 3ni bukan ketidaksepakatan atau perselisihan biasa, tetapi ketidaksepakatan yang bersumber atau disebabkan oleh beban nalar $burdens o% reason% 5aitu &jenis ketidaksepakatan yang melibatkan banyak sekali bahaya dalam penggunaan kekuatan nalar dan penilaian kita secara benar dan cermat untuk arah kehidupan politik pada umumnya( K1 +embali pada permasalahan a'al yang kita hadapi, bah'a dalam negara yang plural, sebuah negara yang bukan hanya ditandai oleh keragaman berbagai doktrin keagamaan, #ilsa#at, dan moral yang komprehensi#, yang masing"masing bukan hanya tidak dapat dipersatukan $incompatible% tetapi juga masuk akal $reasonable% 2erdapat kebutuhan untuk memastikan bah'a berbagai ragam doktrin itu bisa hidup bersama"
)C +utipan asli4 &ho' is it possible that there may eEist o!ertime a stable and just society o# #ree and eQual citiRens pro#oundly di!ided by reasonable though incompatible religious, philosophical and moral doctrines(; atau dalam kutipan yang lain4 &ho' is it possible that deeply opposed though reasonable comprehensi!e doctrines may li!e together and all a##irm the political conception o# a constitusional regime;( .ohn @a'ls, Political 0iberalism (ith a /e( Introduction and the Reply to 2abermas $Ie' 5ork4 Holumbia Uni!ersity Press, 100=%, p EE )0 Michal H .anko'ski, &Uni!ersalism as the Tuest #or Synthesis and 2'o Aimitations 3ndicated by the Political Aiberalism o# .ohn @a'ls( Dialo<ue and 3niversalism Io )"K $/--)%, p 1=C K@a'ls, .ohn &2he Domain o# the Political and G!erlapping Honcensus(, in !ollected Papper *ohn Ra(ls Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press 1000c pp KDL"= K1 3bid p KD=

1=

sama dan bisa mengembangkan kerjasama sosial dalam sebuah negara yang stabil dan langgeng Pertanyaannya, tentu saja, jenis doktrin politik semacam apa yang secara umum bisa melandasi kekuasaan yang dapat diterima, dan dapat membangkitkan kesetiaan $semua doktrin yang bukan hanya tidak dapat dipersatukan, tetapi masing" masing masuk akal% itu; Di ba'ah pemerintahan Grde ,aru, dan pada tingkat yang sama sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan Grde Aama, ada kesalahan serius dalam cara pemerintah memahami dan mengembangkan Pancasila Mereka menganggap usaha menyeragamkan pikiran para 'arga negara perlu dilakukan, karena diyakini bah'a usaha demikian akan dapat menciptakan stabilitas nasional dan memperkuat kohesi sosial +edua rejim Grde Aama dan Grde ,aru nampaknya melihat ideologi sebagai sejenis &semen pengikat sosial(, yang menyatukan para anggota masyarakat bersama" sama dengan menyediakan nilai dan norma"norma kolekti# bersama(, tetapi asumsi ini telah dinilai menyesatkan, &there is little e!idence to suggest that certain !alues or belie#s are shared by all $or e!en most% members o# modern industrial societies Gn the contrary, it seems more likely that our societies, in so #ar as they are 1stableO social orders, are stabiliRed by !irtue o# the di!ersity o# !alues and belie#s and the proli#eration o# di!isions bet'een indi!iduals and groups 2he stability o# our society may depend, not so much upon a consensus concerning particular !alues or norms, but upon a lack o# concensus at the !ery point 'here oppositional attitudes could be translated into political action(K/ Pada masa re#ormasi yang dimulai sejak 100C, timbul kesadaran di kalangan sejumlah intelektual 3ndonesia untuk tidak lagi melihat Pancasila dengan asumsi yang menyesatkan itu Sebagian dari mereka membangun argumen untuk menjusti#ikasi Pancasila dengan teori &kontrak sosial( dan menyarankan bah'a Pancasila bukanlah sebuah ideologiK) Perlu dikemukakan bah'a tujuan dari justi#ikasi Pancasila adalah untuk menunjukkan bah'a terdapat tanggungja'ab politik para 'arga negara, bah'a semua 'arga negara bertanggungja'ab $dalam keadaan normal% memiliki ke'ajiban untuk mematuhi +onstitusi dan Rule o% 0a( yang berlaku di negara Pancasila Apakah tepat menjusti#ikasi Pancasila dengan teori kontrak sosial; Meskipun kontrak sosial memiliki akar #ilsa#at yang cukup panjang dan kompleksKK, kontrak sosial merupakan sebuah teori yang sangat dekat dengan gagasan
.ohn , 2homson, "tudies in the Theory o% Ideology $,erkeley4 Uni!ersity o# Hali#ornia Press, 10CK%, pp L Pembahasan yang lain lihat, Agus Wahyudi, &3deologi Pancasila4 Doktrin yang +omprehensi# atau +onsepsi Politis( *urnal Filsa%at Mol 1= Io 1 $April /--=%, pp 0K"11L K) lihat Gnghokham dan Andi Andian &Pancasila4 Dari +ontrak Social menjadi 3deologi Iegara( dalam @estorasi Pancasila4 Mendamaikan Politik 3dentitas dan Modernitas $.akarta4 83S3P"U3 Depok, /--=% pp 0)"11) Diskusi lain mengenai Pancasila sebagai kontrak sosial juga dapat ditemukan dalam AsOat Said Ali /egara Pancasila *alan .emaslahatan 1erbangsa $.akarta, AP)BS, /--0% KK 2radisi ini dapat ditesuri dari pemikiran para #ilsu# politik seperti 2homas Fobbes, .ohn Aocke, .. @osseau, dan 3mmanuel +ant Aiteratur #ilsa#at politik juga mendapatkan sentuhan yang lebih kaya dan perspekti# baru teori kontrak sosial yang berkembang pada akhir abad ke /- seperti .ohn @a'ls
K/

1D

demokrasi, dan karena itu memiliki daya tarik tersendiri jika dipergunakan untuk menjusti#ikasi Pancasila Menurut Gngkhokham dan Andi Achdian, dilihat dari proses kelahirannya seperti yang terdapat dalam Iotulen ,PUP+3, Pancasila adalah kontrak sosial yaitu &kesepakatan di antara %ounding9%ather kita mengenai asas"asas yang dapat diterima dalam pembentukan negara @epublik 3ndonesia( +ontrak sosial yang dimaksudkan adalah bentuk kesepakatan yang mengikat seseorang atau kelompok dengan ke'ajiban"ke'ajiban moral dan:atau politik tergantung pada kontrak atau kesepakatan di antara mereka dalam membentuk masyarakat 2etapi, ada masalah serius dengan pendekatan teori kontrak untuk menjusti#ikasi Pancasila +ita tahu bah'a moralitas kontrak memiliki dua nilai ideal 5akni mengimplikasikan dua pengertian yang berbeda mengenai dasar makna ke'ajiban dan tanggungja'ab kontraktual Iilai ideal pertama adalah &otonomi(, yang menyarankan bah'a kontrak &harus dilihat sebagai bentuk kemauan dan kehendak bebas .adi mengandaikan adanya ciri sukarela, tanpa paksaan, dalam proses transaksi( Iilai ideal yang kedua adalah &resiprositas(, yang melihat bah'a kontrak adalah &instrumen yang memberi keuntungan bersama .adi mengandaikan bah'a moralitas kontrak bergantung pada %airness dan ke'ajaran yang mendasari pertukaran dalam proses pelaksaan kontrak(KL Pada intinya jika teori kontrak sosial dipergunakan untuk menjusti#ikasi Pancasila dan kontrak dipahami hanya sebagai bentuk persetujuan aktual $ actual consent% $baik persetujuan historis, diam"diam $tacit% maupun secara ijab"Qobul $e?press%%,K= maka hal ini akan potensial memperlemah #ungsi Pancasila sendiri sebagai dasar negara, sebab generasi baru di 3ndonesia yang lahir sesudah 10KL atau siapapun yang merasa tidak pernah terlibat dalam proses kontrak mungkin akan mengatakan bah'a mereka tidak memiliki ke'ajiban untuk mematuhi kontrak Setidaknya orang" orang ini terbebas dan bisa menyatakan penolakan, dalam pengertian moral, untuk menerima tanggungja'ab politikKD Agak mirip dengan teori kontrak sosial yang dipergunakan untuk menjusti#ikasi Pancasila sebagai bentuk kesepakatan yang berjalan Pancasila kadang juga dijusti#ikasi dalam pengertian sebagai modus vivendi@A 3stilah &modus !i!endi( biasanya
yang menggunakan kontrak sosial secara berbeda dari pendahulunya KL Dengan ungkapan lain, &nilai sesuatu kontrak dapat diukur dari dua sudut pandang Pertama bagaimana kondisi pelaksanaan kontrak, apakah pelakunya mengalami pemaksaan atau apakah mereka dalam keadaan bebas dalam menentukan pilihan +edua, bagaimana kondisi dari isi kontrak, yaitu apakah para pelakunya merasa mereka mendapatkan perlakuan atau bagian yang cukup #air( Dikutip dari, Michael . Sandel 0iberalism and the 0imits o% *ustice$ 2nd Bdition $Hambridge4 Hambridge Uni!ersity Press, /--L%, pp 1-K"11) K= +asusnya mungkin berbeda jika kontrak sosial dipahami sebagai kontrak hipotetis, bukan kontrak aktual KD ,andingkan argumen ini dengan diskusi tentang kontrak sosial untuk menjusti#ikasi negara dalam .onathan Wol## n Introduction to Political Philosophy Revised Bdition $GE#ord4 GE#ord Uni!ersity Press, /--=%, pp )K"=1 KC lihat, misalnya, Moh Mah#ud MD, &Penuangan Pancasila di dalam Peraturan Perundang" undangan( 9http4::''' psp ugm ac id:publikasi:artikel:L)"penuangan"pancasila"di"dalam"peraturan" perundang"undangan html? 9date last access4 1-:L:/--0?, op cit, menyatakan &dari aspek politik Pancasila dapat dipandang sebagai modus !i!endi atau kesepakatan luhur yang mempersatukan semua ikatan primordial ke dalam satu bangsa dan seluruh tumpah darah 3ndonesia yang sangat luas dan mejemuk

1C

dipergunakan untuk menandai suatu perjanjian atau genjatan senjata sementara yang dilakukan oleh para prajurit yang sedang berperang, jadi berhenti dan beristirahat, dalam rangka mengatur strategi yang lebih baik dalam menghadapi la'an atau dalam rangka menunggu kesempatan yang lebih baik untuk menghancurkan musuh" musuhnyaK0 Padahal Pancasila sebagai dasar negara harus dicoba dibayangkan menjadi kesepakatan yang langgeng $stable agreement% di antara orang"orang yang bertekad dapat saling bekerjasama dalam kehidupan sosial secara penuh dan terus menerus Dengan kata lain, Pancasila sebagai dasar negara ber#ungsi bukan hanya menyediakan landasan bersama bagi masyarakat dalam rangka memberikan pembenaran terhadap institusi"institusi sosial dan politik, tetapi juga membantu memastikan stabilitas dari satu generasi ke generasi berikutnya ,asis justi#ikasi semacam ini tidak mungkin didasarkan pada modus vivendi karena basis &kepentingan diri atau kelompok( atau &hasil keberuntungan dari ta'ar"mena'ar politik( $betapapun luhur alasannya% tidak akan pernah stabil Sebagai alternati#, Pancasila mungkin perlu dibayangkan sebagai &konsepsi politis( yang memiliki harapan untuk mendapatkan dukungan dari &konsensus yang tumpang tindih( $overlapping consensus%L- 5aitu konsensus yang memungkinkan bah'a Pancasila diterima dengan tegas dan ihlas oleh berbagai doktrin moral, ke#ilsa#atan dan keagamaan yang komprehensi# yang bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam sebuah masyarakat yang lebih kurang demokratis Model Iegara Pancasila di masa depan mungkin dapat ditata ulang melalui pengertian Pancasila sebagai konsepsi politis dan bukan sebagai doktrin komprehensi# 2. M,$%# N%)a*a Pa !as"#a $" Masa D%+a

2ulisan ini mengambil posisi bah'a model negara Pancasila di masa depan akan harus dikembangkan dengan mempertimbangkan teori kebaikan dan teori kebenaran Di dalam Pancasila banyak sekali terkandung nilai kebaikan $butir"butir PK adalah contohnya% Iamun membangun negara Pancasila juga harus mempertimbangkan &nilai kebenaran( yaitu nilai yang memberikan batas mengenai cara yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan dalam rangka mengatur kehidupan bersama dalam negara +laim"klaim yang dibuat oleh para pengelola negara atau pejabat pemerintah:publik yang melanggar batas"batas itu tidak akan diperkenankan Dengan demikian, kebaikan

dalam prinsip persatuan( K0 Alasan prajurit melakukan genjata senjata adalah hanya untuk menghindari resiko $prudential%, jadi dasarkan pada kepentingan dirinya sendiri $ sel%9interest% Alasan"alasan itu dapat dibenarkan $dijusti#ikasi% dari perspekti#nya sendiri, tetapi tetapi belum tentu dapat dibenarkan dari sudut pandang musuhnya $lihat @oberto Alejandro &What is Political about @a'lsOs Political Aiberalism( *ournal o% Politics Mol LC, 3ssie 1 $8ebruary 100=%, p ) LUntuk rujukan pengertian tentang o!erlapping consensus lihat .ohn @a'ls &2he 3dea o# an G!erlapping Honcensus(, in Hollected Papper .ohn @a'ls Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press 1000a pp K/1"KKC

10

dan kebenaran harus saling melengkapi +ebenaran akan memberikan batas, sedangkan kebaikan akan menunjukkan arahL1 Iilai kebaikan Pancasila yang paling mendasar yang tidak lain adalah pengertian nalar publik, pada le!el yang terdalam, menyediakan nilai"nilai politik dan moral dasar untuk menentukan hubungan pemerintah demokratik konstitusional dengan 'arganegaranya6 dan hubungan 'arga negara dengan 'arga negara yang lain Dengan kata lain, nilai"nilai kebaikan Pancasila yang paling mendasar memberikan panduan tentang bagaimana hubungan politik antara pemerintah dan 'arganegara6 dan antar sesama 'arga negara, harus dilakukan Pancasila harus dipahami bukan sebagai doktrin komprehensi#, melainkan sebagai konsepsi politisL/ Pancasila sebagai konsepsi politis merupakan ter#emahan dari pengertian Pancasila sebagai dasar negara$ dan merupakan cara pandang yang mempertimbangkan ciri khusus hubungan politik$ yang memang dan harus dibedakan dari #enis hubungan yang lain8 Fubungan politik memiliki sedikitnya dua ciri penting4 &Pertama, hubungan politis merupakan hubungan diantara orang dalam struktur dasar masyarakat .edua, kekuasaan politis yang dijalankan dalam hubungan politis selalu merupakan kekuasaan yang koersi#, didukung oleh perlengkapan negara dalam memaksakan hukum"hukumnya (L) Pancasila sebagai konsepsi politis, karena itu, memiliki 'ilayah $domain% yang terbatas yaitu domain politis yang dapat diindenti#ikasi oleh ciri"ciri hubungan politik itu Pemahaman demikian akan menyarankan bah'a Pancasila sebagai konsepsi politis harus dibedakan dari 'ilayah asosiasi, yang memang bersi#at sukarela, dan harus dibedakan dari kehidupan pribadi $pri!at% atau keluarga yang merupakan 'ilayah kasih sayang Dengan mengambil pengertian 1yang politisO sebagai domain Pancasila, konsepsi politis menerima nilai"nilai kebaikan Pancasila yang paling mendasar sebagai pandangan yang berdiri sendiriO $%ree standing vie(% Prinsip"prinsip ini membentuk pandangan tentang negara, tetapi pandangan ini dibentuk secara independen dari nilai" nilai yang bersi#at non"politis atau dengan setiap hubungan khusus dengan yang non" politis ituLK
kutipan asli4 &the right dra's the limits, the good sho's the point( lihat, .ohn @a'ls &2he Priority o# @igh and 3deas o# the good(, in !ollected Papper *ohn Ra(ls Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press 1000b p KK0 L/ pengertian doktrin komprehensi# adalah sistem ajaran yang berlaku untuk semua subyek dan kebajikan dari ajaran ini mencakup seluruh kehidupan $bandingkan, @a'ls, 100=, op cit p EEE!iii% .adi semua doktrin yang komprehensi# memiliki dua ciri penting6 pertama, ia berlaku menyeluruh, dan kedua, tidak ada kebenaran lain di luar sebuah doktrin yang komprehensi# yang diyakini Untuk diskusi pengertian tentang Pancasila sebagai konsepsi politis lihat Agus Wahyudi &3deologi Pancasila4 Doktrin yang +omprehensi# atau +onsepsi Politis( *urnal Filsa%at Mol 1= Io 1 $April /--=%, pp 0K"11L L) @a'ls, .ohn, &2he Domain o# the Political and G!erlapping Honsensus(, in !ontemporery Political Philosophy: n nthology, @obert B Goodin and Phillip Pettit $eds%, $GE#ord4 ,lack'ell, 100D%, pp /DD"C LK sebaliknya benar juga bah'a Pancasila sebagai konsepsi politis tidak akan menyangkal nilai" nilai atau paham lain yang berlaku pada asosiasi $keagamaan, uni!ersitas, ASM dsb%, keluarga, atau orang per"orang6 Pancasila sebagai konsepsi politis tidak mengatakan bah'a pengertian yang $bersi#at% politis
L1

/-

Dengan pengertian itu, negara Pancasila harus memberikan ruang kebebasan kepada kebudayaan masyarakat sipil atau yang sering disebut sebagai latar belakang budaya dari masyarakat demokratis yang meliputi kebudayaan agama $seperti gereja atau masjid, dan organisasi"organisasi keagamaan%6 lembaga pendidikan pada semua tingkat $termasuk uni!ersitas, sekolah, pesantren, seminari dan pendidikan kejuruan%6 dan berbagai bentuk media massa $seperti 2M, majalah, koran, radio, yang oleh Fabermas di sebut sebagai public sphere% Dalam masyarakat demokratis, kebudayaan masyarakat sipil tidak diatur oleh sebuah prinsip atau gagasan utama 3nilah alasan mengapa UU Io C:10CL yang mengharuskan semua organisasi massa berasas tunggal Pancasila di jaman Grde ,aru menjadi tidak masuk akal Alasannya jelas bah'a kebudayaan masyarakat sipil tidak bisa diatur oleh prinsip yang menjadikannya seragam, dan kebijakan penyeragaman semacam itu tidak sesuai dengan pengertian Pancasila sebagai nalar publik Akan tetapi, Pancasila tidak selalu dapat dipergunakan atau harus berlaku bagi semua diskusi politik berkenaan dengan masalah #undamental Gagasan nalar publik masyarakat demokratis berlaku hanya untuk #orum politik yang berdampak publik yang biasanya dibagi dalam tiga bagian Pertama, 'acana keputusan para hakim, terutama di tingkat mahkamah agung atau mahkamah konstitusi, atau komisi yudisial +edua, 'acana pejabat pemerintah, terutama Presiden, para menteri dan anggota De'an Per'akilan Dan ketiga, 'acana para calon pejabat publik dan manajer kampanye mereka, terutama pidato umum, plat#orm partai politik dan statemen"statemen politik .adi, karena nalar publik pada dasarnya merupakan hubungan politik di antara 'arga negara, dan karena hubungan politik merupakan hubungan 'arga negara dalam struktur dasar masyarakat $politik, ekonomi, sosial dan budaya%, dan mengandaikan kesetaraan dan persamaan 'arga negara maka nalar publik dapat direalisasikan baik oleh para pejabat pemerintah maupun 'arga negara yang bukan merupakan pejabat publik Masalah utamanya adalah bagaimana 'arga negara yang masing"masing memiliki doktrin komprehensi# yang masuk akal $ reasonable' tetapi tidak dapat didamaikan dapat terikat dan bersatu menghormati struktur pemerintah demokrasi konstitusional dan mematuhi UU atau peraturan $rule o% la(% yang mengatur struktur itu; 3ni adalah masalah yang berkaitan erat dengan pandangan kita mengenai masalah konstitusi dan keadilan dasar Semua 'arga negara, baik pejabat pemerintah maupun 'arga negara biasa yang tidak memegang jabatan publik dapat merealisasikan nalar publik Pancasila diimplementasikan kapanpun ketika para pejabat pemerintah bertindak dengan dan mengikuti gagasan nalar publik Pancasila diimplementasikan ketika mereka menjelaskan kepada 'arga biasa $rakyat% alasan mengapa mereka mendukung kebijakan politik #undamental tertentu menurut konsepsi keadilan politik yang dianggapnya paling masuk akal Dengan cara inilah para pejabat publik memenuhi
sama sekali terpisah dari semua nilai atau paham lain yang ada dalam masyarakat 2ujuan menempatkan Pancasila dalam domain politis ini, tentu saja, adalah untuk memastikan bah'a institusi dan struktur kenegaraan dapat memperoleh dukungan dari &konsensus yang tumpang tindih& $ overlapping consensus% diantara berbagai aktor politik dan kekuasaan sosial

/1

tugas keadaban mereka terhadap sesama mereka sendiri dan terhadap para 'arga negara Apakah para hakim, anggota DP@:DP@D dan pejabat pemerintah bertindak dengan dan mengikuti nalar publik akan terlihat dalam ucapan dan perilaku mereka sehari"hari Pancasila juga diimplementasikan oleh 'arga negara biasa yang tidak menduduki jabatan publik Dalam demokrasi per'akilan $representative democracy%, rakyat merealisasikan nalar publiknya sebagai pembuat undang"undang dengan cara memilih 'akil"'akilnya $pejabat pemerintah, anggota DP@:DP@D dsb% dalam pemilu Mereka menanyakan pada diri mereka sendiri mengapa mereka memilih para pejabat itu dan dengan alasan apa +ecenderungan rakyat me'ujudkan nalar publik melalui penolakan mereka terhadap pejabat atau calon pejabat juga merupakan salah satu akar demokrasi sosial dan politik, dan sangat penting bagi kekuatan nalar publik Maka rakyat memenuhi ke'ajiban keadaban mereka dan mendukung nalar publik dengan menjalankan apa yang bisa mereka lakukan untuk membuat pejabat pemerintah berpegang pada nalar publik Iamun, ke'ajiban nalar publik pada rakyat ini, berbeda dengan apa yang dilakukan pejabat pemerintah, bukan merupakan ke'ajiban hukum tetapi hanya ke'ajiban moral Gagasan nalar publik ter'ujud ketika sebagai 'arga negara $entah rakyat biasa atau pejabat%, dalam demokrasi permusya'aratan $deliberative democracy%, kita mengusulkan persyaratan atau kondisi dalam sistem kerjasama sebagai bangsa dan negara kita juga memikirkan bah'a setidaknya usulan kita masuk akal di mata orang lain, sebagai sesama 'arga negara yang bebas dan setara, untuk menerimanya ,ukan karena kita mendominasi atau memanipulasi mereka, atau karena orang tertekan oleh kondisi sosial dan politik yang merendahkannya 3ni adalah prinsip resiprositas yang perlu diadopsi dalam negara Pancasila .adi, nalar publik memberikan batas"batas $pada le!el yang terdalam% berupa nilai"nilai politik dasar dan menentukan bagaimana hubungan politik seharusnya dilakukan Mereka yang percaya bah'a isu politik #undamental harus diputuskan berdasarkan nalar terbaik sesuai dengan gagasan tentang kebenaran yang utuh dan lengkap $menyeluruh% atas segala sesuatuJtermasuk doktrin sekuler atau keagamaanJ dan bukan atas dasar penalaran yang mungkin bisa diterima bersama oleh 'arga negara yang bebas dan setara, tentu saja akan menolak gagasan tentang nalar publik Iamun, sebagai nalar publik, Pancasila tidak dapat dipahami dengan pandangan yang memaksakan kebenaran menyeluruh $the (hole truth% dalam politik ini +ita semua tahu, Grde Aama dan Grde ,aru, dalam derajat yang berbeda, pernah mendesakkan sebuah pandangan politik sebagai kebenaran yang menyeluruh, atau memperjuangkan kemenangan dunia berdasarkan kebenaran menyeluruh ,ahkan ada masa dalam sejarah kedua rejim itu ketika hubungan politik dipahami sebagai ka'an atau la'an6 membunuh atau terbunuh karena keyakinan sekuler atau agama tertentu 2etapi jelas kedua rejim tersebut mengalami kegagalan dalam mengembangkan Pancasila yang sesuai dengan gagasan nalar publik yang menekankan ke'arganegaraan demokratik dan legitimasi hukum

//

333

B"&#",)*a1" Alejandro, @oberto &What is Political about @a'lsOs Political Aiberalism( *ournal o% Politics Mol LC, 3ssie 1 $8ebruary 100=%, p 1"/K Ali, AsOat Said , /egara Pancasila *alan .emaslahatan 1erbangsa .akarta, AP)BS, /--0 Arinanto, Satya , Proses Perumusan Dasar /egara Pancasila: "tudi tentang .edudukan Pancasila sebagai Dasar /egara dan tentang Polemik mengenai 2ari 0ahir dan Penggali Pancasila dalam Perspekti% "e#arah 2ukum Tata /egara( Depok4 2esis Uni!ersitas 3ndonesia, 100D ,ahar, Saa#roedin, Ananda , +usuma, dan Iannie Fuda'ati $eds% Risalah "idang 1P3P. and PP.I .akarta4 Sekretariat Iegara @3, 100L ,esar, Abdul +adir, &Iegara +ekeluargaan( dalam Pemikiran "osial dan Politik Indonesia Periode )+:;9)+++ Da!id ,ourchier dan Medi @ FadiR $ed % .akarta4 Gra#iti Press dan 8reedom 3nstitute /--), pp L-"L= ,ourchier, Da!id dan Medi @ FadiR $eds% Pemikiran "osial dan Politik Indonesia Periode )+:;9)+++ .akarta4 Gra#iti Press dan 8reedom 3nstitute, /--) ,ourchier, Da!id Pancasila 4ersi 5rde 1aru$ dan &Integralistik' 5ogyakarta4 PSP"UGM, /--D sal 6uasal /egara 5rganis

,oyd, @ichard, 3ncivil "ociety: The Perilso% Pluralism and the 6aking o% 6odern 0iberalism Maryland4 AeEington ,ooks, /--K 8oner, Bric The "tory o% merican %reedom8 Ie' 5ork4 W W Iorton P Hompany, 100C 8rederick, William F and @obert A Worden, editors Indonesia: !ountry "tudy Washington4 GPG #or the Aibrary o# Hongress, 100) 9lihat dalam http4::countrystudies us:indonesia:C= htm? Fadi, Fardono , 2akikat dan 6uatan Pancasila8 5ogyakarta4 Penerbit +anisius, 100K

/)

Fatta, Muhammad Pengertian Pancasila4 Pidato Peringatan lahirnya Pancasila tanggal ) *uni )+,, di -edung .ebangkitan /asional *akarta8 .akarta4 P2 3nti 3ndayu Press, 10DC .anko'ski, Michal H , &Uni!ersalism as the Tuest #or Synthesis and 2'o Aimitations 3ndicated by the Political Aiberalism o# .ohn @a'ls( Dialo<ue and 3niversalism Io )"K $/--)%, pp 1=C"1D) +leden, 3gnas &Pengantar4 @ele!ansi Sosial atau @ele!ansi 3ntelektual4 Sebuah @ekapitulasi(, dalam "ikap Ilmiah dan .ritik .ebudayaan8 AP)BS4 .akarta, 10CD Aandy, Marc and Sidney M Milkis, merican -overnment: 1alancing Democracy and Right $Ie' 5ork4 McGra' Fill, /--)% Mah#ud MD, Moh , &Penuangan Pancasila di dalam Peraturan Perundang"undangan( 9http4::''' psp ugm ac id:publikasi:artikel:L)"penuangan"pancasila"di" dalam"peraturan"perundang"undangan html? 9date last access4 1-:L:/--0? Michelman, 8rank 3 , &@a'ls on Honstitutionalism and Honstitutional Aa'( dalam The !ambridge !ompanion to Ra(ls Samuel 8reeman $ed % Hambridge4 Hambridge Uni!ersity Press, /--) Moerdiono, &Paham 3ntegralistik4 ,ukan Aiberalisme dan ,ukan +omunisme(, Getojo Gesman dan Al#ian $eds% dalam Pancasila sebagai Ideologi dalam 1erbagai 1idang .ehidupan 1ermasyarakat$ 1erbangsa dan 1ernegara8 .akarta4 ,PD" Pusat, 1001 Gnghokham dan Andi Andian &Pancasila4 Dari +ontrak Social menjadi 3deologi Iegara( dalam Restorasi Pancasila: 6endamaikan Politik Identitas dan 6odernitas .akarta4 83S3P"U3 Depok, /--= Pettit, Philip, &2he Hontribution o# Analytical Philosophy(, in !ompanion to !ontemporary Political Philosophy @obert B Goodin and Philip Pettit $eds% Mictoria4 ,lack'ell Publishing, /--K, pp D")C Pranarka, A M W , "e#arah Pemikiran Tentang Pancasila8 .akarta4 5ayasan Proklamasi HS3S, 10CL @amage, Douglas B Democracy$ Islam$ and the Ideology o% Tolerance @outledge4 Ie' 5ork, 100L, p = @a'ls, .ohn &2he 3dea o# an G!erlapping Honcensus(, in Hollected Papper .ohn @a'ls Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press 1000a pp K/1"KKC

/K

@a'ls, .ohn &2he Priority o# @igh and 3deas o# the good(, in Hollected Papper .ohn @a'ls Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press 1000b pp KK0"KD/ @a'ls, .ohn &2he Domain o# the Political and G!erlapping Honcensus(, in Hollected Papper .ohn @a'ls Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press 1000c pp KD)"K0= $lihat juga @a'ls, .ohn, &2he Domain o# the Political and G!erlapping Honsensus(, in !ontemporery Political Philosophy: n nthology , @obert B Goodin and Phillip Pettit $eds%, ,lack'ell, GE#ord, 100D, pp /D)"/CD% @a'ls, .ohn Political 0iberalism (ith a /e( Introduction and the Reply to 2abermas Ie' 5ork4 Holumbia Uni!ersity Press, 100= @a'ls, .ohn , &2he 3dea o# Public @eason @e!isited(, in the 0a( o% Peoples and =the Idea o% Public Reason Revisited> $Hambridge4 Far!ard Uni!ersity Press, /--/% Sandel, Michael . , 0iberalism and the 0imits o% *usice8 Ie' 5ork4 Hambridge Uni!ersity Press, /--L Soekarno, &Pidato 1 .uni 10KL di Gedung 2yuuoo Sangin"3n(, dalam Pancasila Dasar /egara: .ursus Presiden "oekarno tentang Pancasila8 5ogyakarta4 PSP" UGM dan 5ayasan 2i#a, /--C Soepardo, Mr dkk 6anusia dan 6asyarakat 1aru Indonesia &!ivics' , .akarta4 Departemen PP dan +, 10=Soeharto, &Pancasila Warisan Ienek Moyang +ita( dalam Pemikiran "osial dan Politik Indonesia Periode )+:;9)+++ Da!id ,ourchier dan Medi @ FadiR $ed % .akarta4 Gra#iti Press dan 8reedom 3nstitute /--), pp 1)C"1K= Simanjuntak, Marsillam 3nsur 2egelian dalam Pandangan /egara Integralistik , tesis Master o# Aa', 8akultas Fukum, Uni!ersitas 3ndonesia, Depok, 10C0 2halib, Drs Muhammad and 3r#an S A''as, Doktrin Zionisme dan Idiologi Pancasila: menguak Tabir Pemikiran Politik Founding Fathers RI $Wihdah Press4 5ogyakarta, 1000%6 lihat juga S'ara"Muslim, &Pancasila, 7ionisme dan 8reemansory( 9http4::s'aramuslim net: more php;id</1)=>->1>->M? 2en, H A &Honstitutionalism and the @ule o# Aa'( in !ompanion to !ontemporary Political Philosophy @obert B Goodin and Philip Pettit $eds% Mictoria4 ,lack'ell Publishing, /--K, pp )0K"K-)

/L

2homson, .ohn , , "tudies in the Theory o% Ideology ,erkeley4 Uni!ersity o# Hali#ornia Press, 10CK Tud#uh 1ahan Pokok Indoktrinasi8 Djakarta4 De'an Pertimbangan Agung, 10=1 Wahyudi, Agus &Doktrin Pemisahan +ekuasaan4 Akar 8ilsa#at dan Praktek( *entera4 *urnal 2ukum edisi C"tahun 333, $/--L%, pp L"/1 Wahyudi, Agus , &3deologi Pancasila4 Doktrin yang +omprehensi# atau +onsepsi Politis( *urnal Filsa%at Mol 1= Io 1 $April /--=%, pp 0K"11L Wahyudi, Agus , &Mengembangkan Pancasila sebagai Ialar Publik( 9http4::''' psp ugm ac id:publikasi:artikel:111"mengembangkan"pancasila" sebagai"nalar"publik" html? Wol##, .onathan n Introduction to Political Philosophy Revised Bdition GE#ord4 GE#ord Uni!ersity Press, /--=