Anda di halaman 1dari 9

Mahasiswa, Sejarah Pergerakan Mahasiswa, dan Panoptikon di Dunia Kampus MAHASISWA.

Mahasiswa adalah orang yang terdaftar dan belajar di Perguruan Tinggi, Universitas, dan Institut. Apabila merujuk pada Peraturan Akademik Universitas Hasanuddin Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 Ketentuan Umum, Ayat 22 maka pengertian mahasiswa adalah peserta didik yang telah terdaftar dan memenuhi persyaratan lain yang telah ditetapkan universitas. Tapi pengertian mahasiswa tidak sesempit itu, pengertian mahasiswa diatas hanyalah ditinjau secara administratif. Menurut saya mahasiswa adalah seseorang yang belajar di Perguruan Tinggi, Universitas, dan Institut yang mampu memanisfestasikan 5 fungsi mahasiswa dan tri dharma Perguruan Tinggi. 5 fungsi mahasiswa yaitu: agent of change (agen perubahan). Sebagai agen perubahan, mahasiswa harus mampu menjadi sumber pembangunan dan perubahan sosial dengan ide-ide kreatifnya dan harus mampu memecah stagnasi yang terjadi di masyarakat dengan ilmunya. agent of social control ( agen penyampai kebenaran). Sebagai penyampai kebenaran, mahasiswa harus memiliki independesi etis dan independensi organisatoris sehingga mampu mandiri dalam menentukan pilihan, sehingga kemandiriannya itu mampu melahirkan keberpihakan dalam menyampaikan kebenaran. iron stock (generasi penerus), sebagai generasi penerus dan pembaharuan, mahasiswa harus menyiapkan bekal pengetahuan dan bekal mental agar dapat menjadi penerus bangsa. Mahasiswa dengan keilmuannya diharapkan mampu untuk merekonstruksi kondisi bangsa agar bangsa ini mengalami gerak menuju kemajuan. moral force (kekuatan moral), sebagai kekuatan moral,mahasiswa harus mampu memberikan semangat kepada masyarakat ketika masyarakat berada keapatisan membela Negara. Mahasiswa harus pula menjadi suri tauladan bagi masyarakat dimulai dengan cara berbahasa, cara berperilaku dan cara berpakaian. guardian of value (penjaga nilai-nilai). Sebagai penjaga nilai-nilai, mahasiswa harus mampu menjaga nilai-nilai yang baik, kearifan lokal bangsa secara umum dan daerah secara khusus, serta mencari nilai-nilai kebaikan yang lain. Nilai-nilai kebaikan secara

universal ada tiga, yaitu: kemanusiaan,keadilan, dan kebenaran. Nilai-nilai ini yang harus dijaga oleh mahasiswa. Ada pun Tri Dharma Perguruan Tinggi, adalah: pendidikan, pendidikan menjadi pilar utama dari Tri Dharma PT dikarenakan dengan pendidikan berkualitas maka akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas pula. Kondisi realitas sekarang, pendidikan masih berada dijalur yang salah. Konsep Student Center Learning (SCL) yang yang merupakan perubahan dari konsep terdahulu yaitu Teacher Center Learning (TCL, mengalami perubahan alur. SCL yang merupakan manifestasi dari paradigma andragogy dalam dunia dunia pendidikan pun belum diterapkan secara benar, masih adanya nafas-nafas TCL atau pedagogy dan masih banyaknya dosen yang atas nama SCL hanya menjadi penonton tanpa memberikan pencerahan bagi mahasiswa. Hal-hal tersebut yang harus mahasiswa rekonstruksi ulang di masa depan agar dunia pendidikan yang melahirkan peserta didik yang berkualitas bisa tercipta. Penelitian. Penelitian menjadi sentrum dari terciptanya teori-teori baru yang lebih realistis melihat kondisi masyarakat kontemporer. Penelitian adalah bentuk

pengembangan dari pendidikan yang diperoleh dikelas-kelas perkuliahan. Selain itu, penelitian merupakan landasan dari gerak-gerak advokasi mahasiswa. Dengan melakukan penelitian, mahasiswa akan mempunyai data yang factual mengenai kondisi masyarakat. Pengabdian. Pengabdian merupakan manifestasi nyata dari pendidikan dan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa harus mampu mengaktualkan pengetahuan mereka kepada masyarakat. Apakah mahasiswa telah menjadi mahasiswa? Dan untuk siapakah sebenarnya mahasiswa ini? SEJARAH PERGERAKAN MAHASISWA Dalam sejarah perjuangan bangsa, mahasiswa selalu mengambil peran penting dalam membangun bangsa. Ada banyak momen dimana mahasiswa harus vis--vis dengan pemerintah. Momen-momen tersebut dinamakan sejarah pergerakan mahasiswa. Sejarah pergerakan mahasiswa yang populis antara lain:

1908. Awal mula pergerakan mahasiswa di Tahun 1908, dimana mahasiswa-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA mendirikan wadah pergerakan pertama bernama Boedi Oetomo. Momentum pada 1908 telah memercikkan api perjuangan dikalangan mahasiswa untuk melawan penjajahan dan menjadi cikal bakal dari banyaknya organisasi yang terbentuk dikemudian hari. 1928. tahun dimana terciptanya Sumpah Mahasiswa yang sangat bersejarah. Latar belakang terciptanya Sumpah Mahasiswa di Kongres Pemuda II, berawal pada terbentuknya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun 1926. PPPI terbentuk karena makin mandul pergerakan politik mahasiswa pada saat itu sehingga diperlukan sebuah organisasi yang mampu menghimpun seluruh pelajar di Indonesia dan lebih menyuarakan wawasan kebangsaan dalam diri Indonesia. 1945, di tahun kemerdekaan ini, pemuda dalam hal ini mahasiswa membuat sejarah yang dikenal dengan nama Peristiwa Rengasdengklok. Sebuah gerakan mahasiswa dalam memberikan tekanan pada tokoh Proklamator agar sesegera mungkin mengumumkan kemerdekaan Indonesia setelah mendengar kabar bahwa telah terjadi insiden Bom Atom di Jepang. Kondisi pergerakan pada mahasiswa saat itu tidaklah semudah periode-periode sebelumnya. Di bawah penjajahan Jepang, segala bentuk organisasi kemahasiswaan dibubarkan dan segala kegiatan politik mahasiswa pun dilarang. Hal ini membuat pergerakan mahasiswa mengalami kemunduran, mahasiswa lebih banyak berdiskusi di asrama-asrama mereka. 1966 dimana mahasiswa menumbangkan Orde Lama dengan membawa wacana bahaya komunis. Pergantian Orde pun terjadi dan dinamakan Orde Baru. Rentang tahun 1945-1966 banyak melahirkan organisasi mahasiswa yang menjadi barometer pergerakan saat itu, misalnya: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (GAMSOS), Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia, Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan masih banyak lainnya. Keberhasilan mahasiswa dalam menumpas PKI dan menumbangkan Orde Lama membuat pemerintah menghadiahkan kursi DPR dan MPR kepada mahasiswa. Idealisme pun tergadaikan dengan posisi pemerintahan. Tapi banyak aktivis

yang tidak tergoda akan godaan tersebut, salah satunya aktivis yang terkenal secara nasional yaitu Soe Hok Gie. 1974, pada masa ini pergerakan mahasiswa melahirkan sebuah istilah yang terkenal yaitu MALARI (Malapetaka LimaBelas Januari). MALARI merupakan bentuk protes mahasiswa kepada kebijakan pembangunan pemerintah yang membuka kerja sama dengan pihak asing. Mahasiswa saat itu menggangap bahwa ini adalah awal dari liberalisme di Indonesia. Upayaupaya yang ingin merebut kembali kedaulatan Indonesia. Puncak dari MALARI ketika kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei. Adanya serigala didalam tubuh mahasiswa menyebabkan skenario aksi mahasiswa berubah menjadi penjarahan. Imbasnya adalah salah satu tokoh mahasiswa, Hariman Siregar pun dianggap sebagai biang keladi dari masalah penjarahan ini. selain MALARI, peristiwa yang terkenal di medio 1970-1990 adalah periode NKK/BKK. Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) adalah upaya-upaya pemerintahan Orde Baru untuk meredam sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintah dan upaya untuk mempertahankan status quo pemerintah. gerakan-gerakan mahasiswa dimatikan dengan menerbitkan SK No. 0156/U/1978. Isi SK tersebut pada intinya berusaha mengarahkan mahasiswa ke jalan lurus, cukup dengan kuliah (akademik) dan berhentilah menjadi seorang organisatoris. Hal ini membuat beberapa Dewan Mahasiswa di beberapa Perguruan Tinggi dibekukan yang kenudian diganti dengan membentuk organisasi baru yang disebut Badan Koordinasi Kampus (BKK). Berdasarkan SK Menteri P&K No. O37/U/1979, kebijakan ini membahas tentang bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkup Perguruan Tinggi. Yang menjadi point penting dari SK tersebut adalah pemberian wewenang kekuasaan kepada Rektor dan pembantu Rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa. Bahkan aturan paling lucu dari NKK/BKK ini adalah mahasiswa dilarang gondrong, dikarenakan gondrong dianggap sebagai budaya pemberontakan mahasiswa, sehingga pihak rektorat dalam hal ini membentuk tim yang bertugas untuk mencukur habis rambut para mahasiswa yang gondrong tersebut. Praktis pergerakan mahasiswa secara internal pun mulai tumpul, sehingga mahasiswa banyak lari pada organisasi eksternal untuk membangun pergerakan. 1998, masa ini terkenal dengan sebutan masa Reformasi adalah masa dimana pergerakan mahasiswa mencapai titik akumulasi tertinggi dari upaya represif pemerintah dengan NKK/BKK

dan kebijakan-kebijakan yang kontra rakyat. Pada saat itu Krisis Moneter yang ditandai dengan makin melambungnya harga-harga bahan pokok membuat seluruh mahasiswa dari berbagai pelosok Indonesia berkumpul di Ibu Kota RI, DKI Jakarta. Mahasiswa menuntut Presiden Soeharto dengan Orde Baru-nya untuk turun dari pucuk Presiden RI. Hal ini membuat

mahasiswa harus terlibat bentrok dengan militer yang saat itu Jenderal atau pimpinan tertinggi TNI dipimpin oleh Jenderal Wiranto yang menyebabkan banyak mahasiswa yang gugur dan hilang secara misterius. Puncak dari gerakan ini adalah ketika mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR RI. Banyak pertanyaan yang timbul dari gerakan ini, seperti apakah gerakan ini ditunggangi oleh elit-elit tertentu? Apakah Presiden Soeharto betul-betul mundur karena desakan rakyat ataukah karena terdesak oleh pihak asing? Siapakah yang memberikan komando kepada militer saat mahasiswa bentrok dengan militer? Apakah yang akan mahasiswa lakukan setelah reformasi? Jangan jangan reformasi adalah sebuah lonceng kematian bagi pergerakan mahasiswa atau kita sebut dengan meminjam istilah dari Francis Fukuyama bahwa Reformasi adalah akhir dari sejarah pergerakan mahasiswa (Reform is the end of the history of the student movement). Hal yang masih harus dikaji secara serius. Panoptikon di Dunia Kampus Panoptikon adalah sebuah konsep arsitektur yang dicetuskan oleh Jeremy Bentham di akhir abad ke-18. Panoptikon tersusun atas dua kata, yaitu pan yang berarti semua dan optikon yang berarti mengamati. Jadi Panoptikon adalah desain gedung yang memungkinkan satu pihak mengawasi seluruh gedung tanpa yang diawasinya merasa diawasi. Desain arsitektur Jeremy Bentham termanifestasikan dalam bentuk penjara. Contoh terbaiknya adalah di bangunan penjara Presidio Modelo di Kuba. Dimana ada menara di tengahtengah sel para napi dan menara itu berputar sehingga napi pun terawasi. Apabila dibawa ke ranah sosial konsep panoptikon tergambarkan secara jelas di kamera CCTV yang ada di pusatpusat perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, bahkan akan telah diberlakukan di institut pendidikan. Inti dari konsep panoptikon adalah bagaimana struktur kesadaran manusia direkonstruksi agar selalu merasa diawasi, dikuasai, dan tidak punya daya untuk melawan atau melarikan diri. Salah satu tokoh sosial (berhubung beliau tidak ingin dikatakan tokoh postmodern) Michael Foucoult kemudian membawa konsep panoktikon ini dalam kritiknya mengenai realitas sosial yang ia sebut sebagai "metode disiplin modernitas". Konsep panoptikon

ini yang diadaptasikan oleh Foucault untuk menggambarkan dunia pasca moderen, ia menyebutnya panoptikon sebagai sebuah model dari penerapan teknologi disiplin, baik metode maupun saran-sarannya. Panoptikon dapat disadari ataupun tidak oleh warganya. Dalam buku Diciplin and Punishment, Foucoult mengamati suatu kota yang terjangkit oleh penyakit kusta. Kota yang terjangkit kusta mesti memberlakukan pengisolasian dan pembagian ruang bagi penderita untuk memasuki dan meninggalkan kota tersebut, dengan ancaman hukuman bagi yang melanggarnya. Setiap penderita kusta diisolasi untuk mencegah penularan penyakit ini. Para petugas menjadi pengawas yang mengawasi setiap gerak-gerik dari penderita kusta di setiap penjuru kota, Setiap hari sindico atau pengawas berkeliling ke setiap rumah kusta. Mencatat nama, jenis kelamin, dan kesehatannya. Data dari tiap catatan ini diserahkan ke dokter ataupun para hakim yang akan mengunjungi mereka. Identitas orang-orang ini dicatat dengan permanen dan digunakan untuk menciptakan ketertiban bagi setiap penderita kusta dan pes, dan hal ini dilegitimasi oleh masyarakat oleh moralitas baru yaitu moralitas penyakit. Pada dasarnya Panoptikon adalah penerapan sebuah mode aturan dan artsitektur yang dapat mengontrol masyarakatnya baik itu oleh institusi sosial, pemerintah dll. Konsep panoptikon telah membuat manusia tidak mempunyai kemerdekaan, akan selalu merasa diawasi oleh Sang Kuasa. Sang Kuasa yang telah menciptakan ketakutan psikologis (apabila tidak ingin dikatakan penjara psikologis) di dalam kesadaran manusia dengan kekuatan eye of god-nya. Konsep panoptikon juga hadir difilm The Truman Show. Efek dari film ini cukup besar sehingga timbul suatu penyakit psikologis bernama Truman Show Delusion. Para pengidapnya merasa hidupnya diawasi terus menerus dan ditonton oleh orang di seluruh dunia. Mereka tidak percaya bahwa hidupnya adalah kenyataan, jangan-jangan seisi manusia hanyalah aktor belaka. Bagaimana manifestasi panoptikon di dunia kampus? dunia kampus adalah dunia yang paling menarik. Dunia dimana para orang-orang yang mengaku mahasiswa bergumul dengan teori-teori namun menjadi dilain sisi menjadi orang yang paling menderita. Coba kita lihat di lingkungan kampus misalnya, di banyak kelas seorang mahasiswa biasa mengeluh mengenai dosen yang terlalu otoriter dan tidak objektif memberikan nilai namun apakah mereka berani menyuarakan keluhan mereka, setidaknya berdialog, mungkin juga dengan aksi demonstrasi. Keluhan mereka hanya berakhir dalam diskusi kecil, kadang cacian, kadang makian, dan kadang juga menyumpahi dosen tersebut. Begitupun lembaga kemahasiswaan hanya berakhir dalam

keluhan melihat apa yang terjadi dan menimpa kehidupan mereka. Kenaikan biaya SPP, drop out, dan keluhan dari mahasiswa lainnya. Semuanya berakhir dengan salah menyalahkan dari mahasiswa ke pelaksana pendidikan dan cacian untuk kebijakan yang menimpa mereka. Berapa banyak orang yang mengeluhkan kenaikan BBM dan berapa banyak orang yang tidak bereaksi mengenai kenaikan BBM, hampir tiap mahasiswa tidak menginginkan kenaikan SPP dan berapa banyak dari mahasiswa yang menolak kenaikan SPP. Berapa banyak masalah yang mengintai dan menyerang dan berapa banyak pula yang menyerang balik ancaman itu? Mahasiswa mungkin orang yang paling bodoh, mengetahui apa yang terjadi namun tidak mengetahui apa yang akan dilakukan unutk menyelesaikan masalah ini. Mahasiswa modern terlalu senang beronani dengan teori-teorinya. Mahasiswa tidak bekerja langsung menciptakan nilai lebih bahkan tidak punya orang yang mesti dihidupi dan tiap saat bergumul dengan banyak buku-buku. Namun mengapa ia tidak melawan? maka sampailah kita pada pertanyaan yang buntu dan rancu orang orang sadar menjadi korban tetapi mereka diam tak bersuara dan tidak mampu berbuat apa-apa. Mengapa fakta yang janggal dan aneh ini terjadi di berbagai tempat dan kondisi yang berbeda dan tetap ada dari dulu hingga sekarang? Di dunia kampus, panoptikon telah bertansformasi secara modern. Jika ditinjau dari segi sejarahnya konsep panoptikon muncul di periode NKK/BKK. Dalam peraturan NKK/BKK kita mendapati sebuah pembentukan sebuah ruang baru yaitu ruang kemahasiswaan dan membentuk aturan koordinasi yaitu PR III bidang kemahasiswaan. Di hapuskannya Dewan Mahasiswa dan hanya diijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) membuat gerak-gerak mahasiswa menjadi pecah, tidak lagi massif. Pembentukan ruang kemahasiswaan dalam artian lembaga kemahasiswaan secara langsung membentuk ruang yang tersistematis, setiap kegiatan mahasiswa diayomi oleh lembaga kemahasiswaan sehingga semua kegiatan mahasiswa adalah kegiatan lembaga kemahasiswaan dan lembaga kemahasiswaan hanya akan bisa melakukan kegiatannya jika melalui rekomendasi PR III taupun PD III. Secara langsung semua kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa dikontrol oleh mekanisme rekomendasi. Setiap kegiatan yang tidak direstui tidak akan mendapat rekomendasi, tanpa rekomendasi berarti tidak ada kegiatan kemahasiswaan. Setiap tindakan yang dilakukan oleh mahasiswa dikontrol oleh berbagai aturan. Mahasiswa yang tidak mengikuti aturan akan berhadapan dengan hukum, setiap tindakan diatur oleh rektorat, ruang-ruang lembaga kemahasiswaan dibentuk tersentral untuk mudah diatur dan diawasi.

Bahkan lebih menurut saya, diciptakannya ruang lembaga kemahasiswaan adalah sebuah contoh panoptikon modern. Setiap orang dari kita menjadi orang yang sangat was-was dengan kehidupan sehingga setiap orang yang kita temui menjadi sindico yang akan mengingatkan kita mengenai aturan-aturan. Bahkan untuk lebih memberikan efek psikologis maka kampus terkhusus Unhas sedang mewacanakan akan nambah eye of god berupa CCTV di ruang-ruang lembaga kemahasiswaan. Sebuah upaya penekanan psikologis dari pemerintah kepada daya kritis mahasiswa. Bagaimana dengan ruang perkuliahan (kelas)? Apakah panoptikon juga berada di ruangruang kuliah? Di dalam kelas aturan-aturan moral pun dijalankan, dosen menjadi sebuah otoritas keilmuan yang menetapkan moralitas yang disentralkan oleh dosen, pengusiran dari kelas, pengurangan nilai dan ancaman lainnya. Panoptikon kampus jauh lebih kompleks dibanding panoptikon milik rancangan Jeremy Bentham. Jika dalam panoptikon Foucoult dibuku Diciplin and Punishment, yang mengatur adalah dokter, pengawas, hakim, dan pastor. Maka apabila diadaptasikan di dalam kehidupan kampus, maka yang mengatur adalah dosen, administrasi kampus, satpam, rektor, mahasiswa sendiri dan masyarakat umum. Mahasiswa tidak lebih dari manusia yang sakit yang mesti dinetralisir. Dosen adalah dokter bagi penyakit mahasiswa, administrasi kampus adalah mekanisme pengawasan untuk mencegah menularnya penyakit ke masyarakat, satpam menjadi sindico yang mengawasi para penderita penyakit, rektor menjadi pemutus dari sembuh tidaknya para mahasiswa yang akan diterjunkan ke masyarakat, mahasiswa dan masyarakat umum adalah mereka yang akan mengevaluasi apakah mahasiswa yang lulus betul betul telah sembuh dari penyakit. Jika diamati para penderita kusta dijauhi oleh masyarakat dengan alasan moralitas penyakit (new morality ), sedangkan mahasiswa di jauhi dengan alasan tak bermoral dan penuh dengan kekerasan, amburadul, pemberontakan dan masih banyak yang lain. Dengan kata lain panoptikon kampus lebih mengacu pada moralitas budaya, dan harus kita akui bahwa budaya saat ini sedang dimanfaatkan oleh kekuasaan. Apabila diibaratkan dengan rumah sakit yang bertujuan menghilangkan penyakit pes dan kusta sembari menyingkirkan orang-orang miskin, penderita kusta dari kota untuk menciptakan kota yang teratur, Kampus tidak lebih dari rumah sakit modern yang dimana berusaha untuk menghilangkan penyakit dari mahasiswa. Penyakit

apa? Penyakit kemerdekaan dan pemberontakan. Mengapa harus dihilangkan? Karena apabila tidak dihilangkan maka akan penyakit tersebut akan menggangu jaringan organisme yang lain, Negara dan Rektorat misalnya. Mahasiswa harus menjadi manusia yang teratur dan terkontrol. Itulah mengapa kampus begitu banyak tersebar seperti layaknya rumah sakit. Setelah sembuh menjadi manusia yang teratur dan terkontrol, siapakah yang untung? Tentu saja pemegang kekuasaan pemerintah (presiden) dan pemegang kekuasaan modal (borjuis). Secara logika, barang yang sehat diproduksi oleh orang yang sehat, barang yang berkualitas diproduksi oleh orang yang berkualitas. Maka dengan legitimasi sehat dari dokter kampus, mahasiswa pun secara tidak langsung diterjungkan kedalam arena produksi untuk memproduksi produk yang sehat. Sehingga selain sebagai rumah sakit, maka kampus dibentuk seperti sebuah penjara yang digunakan untuk menciptakan manusia (mahasiswa) yang patuh bagi kapitalis. Logika penjara asli adalah digunakan untuk menciptakan manusia (mahasiswa) yang patuh bagi Negara. Logika kedua penjara ini sama saja yaitu menciptakan manusia (mahasiswa) yang patuh. Patuh terhadap segala kondisi, tidak ada pertanyaan mengapa harus dilahirkan, mengapa harus kerja, mengapa harus sekolah, mengapa harus berorganisasi, dan mengapa harus mati. Karena ketika bertanya, maka siap-siaplah menghadapi hukuman. Hukuman yang lahir dari panoptikon-panoptikon yang mengawasi gerak-gerik kita.

MUH.ILHAM DHANI ASRIAWAN