Anda di halaman 1dari 44

BAB I Skenario Tn.

Popon, 32 tahun datang sendiriuntuk kunjungan pertama kali ke dokter keluarga (DK) untuk memeriksakan keluhan gatal di telapak kaki kanan. Gatal dirasakan sejak satu minggu yang lalu.Tn Popon bekerja sebagai petani dan terbiasa tidak memakai alas kaki saat bekerja.Telapak kaki kanan terasa gatal, agak nyeri, tampak kemerahan meninggi, seperti tero ongan berkelok! kelok.Karena terasa sangat gatal, Tn. Popon seringkali menggaruk sehingga mengakibatkan le"et dan berdarah.Tn. Popon belum minum obat apapun.Tn. Popon merasa kha atir karena penyakitnya mengganggu pekerjaannya. Riwayat Medis Tn. Popon, tidak pernah menderita penyakit gatal seperti ini sebelumnya. Tn. Popon mempunyai ri ayat batuk tidak sembuh!sembuh sejak 2 bulan yang lalu. #atuk berdahak kental ber arna putih. Pasien juga mengeluh na$su makan berkurang, pasien merasa lebih kurs, badan terasa lemah, kadangan demam ringan, dan berkeringat pada malam hari. %elain batuk, tidak ada ri ayat penyakit yang signi$ikan& penting. 'ika sakit $lu, demam, atau diare, Tn. Popon selalu datang ke puskesmas dengan $asilitas 'amkesmas dan sembuh dalam beberapa hari. (rekuensi penyakit tersebut jarang, mungkin hanya )!2 kali per tahun. Tn. Popon tidak pernah dira at di *%, tidak pernah dioperasi dan tidak pernah mengalami ke"elakaan. Riwayat Keluarga Kakak (laki!laki) dan adik (perempuan) Tn. Popon tidak mempunyai keluhan yang sama dengan Tn. Popon. Keluhan gatal pada ayah dan ibunya disangkal. +yah Tn. Popon mempunyai ri ayat batuk lama sudah 3 bulan dan belum berobat. *i ayat medis dari keluarga ayah tidak "ukup banyak dan signi$ikan. Kakek dan nenek Tn. Popon masih hidup dan tidka diketahui memiliki ri ayat penyakit tertentu. +yah Tn. Popon adalah anak kedua dari , bersaudara. Kakak

pertama (laki!laki) diketahui tidak menderita penyakit yang serius. %ementara kedua adiknya yang lain (keduanya perempuan) tidak diketahui memiliki penyakit tertentu. *i ayat medis keluarga ibu tidak "ukup banyak dan "ukup signi$ikan. Kakek Tn. Popon menderita penyakit darah tinggi. %edangkan nenek Tn. Popon tidak memiliki ri ayat penyakit tertentu. -bu Tn. Popon adalah anak pertama dari . bersaudara (semua adiknya perempuan). +dik kedua mempunyai ria ayat penyakit T#/. +diknya yang lain tidak diketahui memiliki penyakit tertentu. Riwayat Sosial Ekonomi Tn. Popon belum menikah dan merupakan lulusan %D yang bekerja sebagai petani. %elain bekerja, Tn. Popon biasanya menghabiskan aktu untuk menjalankan hobinya meman"ing bersama teman!temannya. Tn. Popon jarang berolahraga, mempunyai kebiasaan merokok tetapi tidak minum alkohol. Tn. Popon saat ini tinggal di perkampungan daerah pinggiran Pur okerto bersama kedua orangtuanya dan keluarga adiknya yang telah dikaruniai 2 orang anak. *umah yang ditempati kurang lebih berukuran .01 m, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, 3 kamar tidur, dapur. %ementara untuk rumah panggung dengan lantai kayu, dinding kayu, dan anyaman bambu serta atap seng. %irkulasi udara kurang baik karena jendela jarang dibuka. Daerah tempat tinggal Tn. Popon merupakan daerah perkampungan, padat penduduk dengan pengelolaan sampah dan limbah yang kurang baik (dibuang ke sungai). 2eskipun sering hanya berlauk kerupuk dan sayur saja, keluarga Tn. Popon selalu membiasakan makan bersama. 2akan selalu menggunakan tangan dan mereka tidak mempunyai kebiasaan men"u"i tangan sebelum makan. Kegiatan peribadatan juga dilakukan se"ara rutin meskipun tidak ada bimbingan dari pemuka agama. Tn. Popon mempunyai hubungan yang baik dan dekat dengan orangtua dan keluarga. Tn. Popon pun jarang sekali bertengkar dengan keluarganya. %etiap permasalahan dapat dihadapi bersama!sama dan selama ini tidak ada masalah serius yang dapat menggun"ang ketentraman keluarga. +PG+* %"ore 3.

Keluarganya juga mempunyai hubungan baik dengan masyarakat di lingkungan sekitar dengan senantiasa mengikuti kegiatan perkumpulan kampung. Review of System Tn. Popon mengalami gatal di telapak kaki kanan sejak satu minggu yang lalu. Telapak kaki kanan terasa gatal, agak nyeri, tampak kemerahan meninggi, seperti tero ongan berkelok!kelok. Karena terasa sangat gatal, Tn. Popon seringkali menggaruk sehingga mengakiatkan le"et dan berdarah. *i ayat batuk lama (4). 2eskipun mengalami kesulitan ekonomi, Tn. Popon menyangkal adanya stres emosional atau ketidakpuasan dalam keluarganya. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Tinggi badan #erat badan Tekanan darah Denyut nadi (rekuensi napas %uhu aksila Kepala <eher Toraks Paru 5 -nspeksi Palpasi Perkusi +uskultasi 'antung +bdomen >kstremitas 5 simetris statis dan dinamis 5 $remitus de0tra = sinistra 5 sonor di paru kedua lapang paru 5 suara dasar paru :esikular, ronkhi basah halus di kedua apeks paru 5 dalam batas normal 5 dalam batas normal 5 sesuai ukk di ba ah 5 "ukup baik, "ompos mentis 5 )67 "m 5 87 kg 5 ))7&37 mm9g 5 37 0&menit 5 27 0&menit 5 36,77 / 5 konjungti:a anemis !&! sklera ikterik !&! pernapasan "uping hidung ; 5 tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

?KK

5erupsi papulo:esikuler, eritematous, tero ongan berkelok! kelok (serpiginosa), edematous, krusta

BAB II A. Klarifikasi Istilah Tidak ada istilah yang diklari$ikasi. B. Batasan Masalah ). -dentitas @ama 5 Tn. Popon ?sia 5 32 tahun 2. *P% Keluhan ?tama <okasi Anset Progresi$itas Kualitas Kuantitas 5 Gatal 5 Telapak kaki kanan 5 ) minggu 5 %emakin memberat 5 2engganggu pekerjaan 5!

(aktor 2emperberat 5 ! (aktor 2emperingan 5 ! Kronologi 5 Kemerahan meninggi seperti tero ongan berkelok! berdarah Keluhan lain 3. *PD 5 Tn. Popon, tidak pernah menderita penyakit gatal seperti ini sebelumnya. Tn. Popon mempunyai ri ayat batuk tidak sembuh!sembuh sejak 2 bulan yang lalu. #atuk berdahak kental ber arna putih. Pasien juga mengeluh na$su makan berkurang, pasien merasa lebih kurs, badan terasa lemah, kadangan demam ringan, dan berkeringat pada malam hari. %elain batuk, tidak ada ri ayat penyakit yang signi$ikan& penting. 'ika sakit $lu, demam, atau diare, Tn. Popon selalu datang ke puskesmas dengan $asilitas 'amkesmas dan sembuh dalam beberapa hari. (rekuensi penyakit tersebut 5 %elain gatal juga terasa nyeri, kemerahan meninggi serta le"et dan berdarah. kelok gatal digaruk le"et dan

jarang, mungkin hanya )!2 kali per tahun. Tn. Popon tidak pernah dira at di *%, tidak pernah dioperasi dan tidak pernah mengalami ke"elakaan. ,. *PK 5 Kakak (laki!laki) dan adik (perempuan) Tn. Popon tidak mempunyai keluhan yang sama dengan Tn. Popon. Keluhan gatal pada ayah dan ibunya disangkal. +yah Tn. Popon mempunyai ri ayat batuk lama sudah 3 bulan dan belum berobat. *i ayat medis dari keluarga ayah tidak "ukup banyak dan signi$ikan. Kakek dan nenek Tn. Popon masih hidup dan tidka diketahui memiliki ri ayat penyakit tertentu. +yah Tn. Popon adalah anak kedua dari , bersaudara. Kakak pertama (laki!laki) diketahui tidak menderita penyakit yang serius. %ementara kedua adiknya yang lain (keduanya perempuan) tidak diketahui memiliki penyakit tertentu. *i ayat medis keluarga ibu tidak "ukup banyak dan "ukup signi$ikan. Kakek Tn. Popon menderita penyakit darah tinggi. %edangkan nenek Tn. Popon tidak memiliki ri ayat penyakit tertentu. -bu Tn. Popon adalah anak pertama dari . bersaudara (semua adiknya perempuan). +dik kedua mempunyai ria ayat penyakit T#/. +diknya yang lain tidak diketahui memiliki penyakit tertentu. .. *%> Tn. Popon belum menikah dan merupakan lulusan %D yang bekerja sebagai petani. %elain bekerja, Tn. Popon biasanya menghabiskan aktu untuk menjalankan hobinya meman"ing bersama teman!temannya. Tn. Popon jarang berolahraga, mempunyai kebiasaan merokok tetapi tidak minum alkohol. Tn. Popon saat ini tinggal di perkampungan daerah pinggiran Pur okerto bersama kedua orangtuanya dan keluarga adiknya yang telah dikaruniai 2 orang anak. *umah yang ditempati kurang lebih berukuran .01 m, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, 3 kamar tidur, dapur. %ementara untuk rumah panggung dengan lantai kayu, dinding kayu, dan anyaman bambu serta atap seng. %irkulasi udara kurang baik karena jendela jarang dibuka. Daerah tempat tinggal Tn. Popon merupakan daerah perkampungan, padat penduduk dengan pengelolaan sampah dan limbah yang kurang baik (dibuang ke sungai). 2eskipun sering hanya

berlauk kerupuk dan sayur saja, keluarga Tn. Popon selalu membiasakan makan bersama. 2akan selalu menggunakan tangan dan mereka tidak mempunyai kebiasaan men"u"i tangan sebelum makan. Kegiatan peribadatan juga dilakukan se"ara rutin meskipun tidak ada bimbingan dari pemuka agama. Tn. Popon mempunyai hubungan yang baik dan dekat dengan orangtua dan keluarga. Tn. Popon pun jarang sekali bertengkar dengan keluarganya. %etiap permasalahan dapat dihadapi bersama!sama dan selama ini tidak ada masalah serius yang dapat menggun"ang ketentraman keluarga. +PG+* %"ore 3. Keluarganya juga mempunyai hubungan baik dengan masyarakat di lingkungan sekitar dengan senantiasa mengikuti kegiatan perkumpulan kampung. . Rumusan Masalah ). +namnesis tambahanB 2. +natomi organ terkaitB 3. Diagnosis holistik pasienB !. Analisis Masalah ). +namnesis Tambahan a. *P% )) Tiap kapan keluhan terasa (siang&malamB) 2) Keluhan lain (pusing, mual, muntah, kesemutan, demam)B 3) %ebelum terjadi lesi apakah Tn. Popon merasakan ada gatal dan panas di tempat lesiB ,) +pakah ada $aktor yang memperringan dan memperberat keluhanB %eperti minum obat atau direndam dengan air hangatB .) +pakah ada lesi serua di bagian tubuh lainnya, bila ada unilateral atau bilateralB b. *PD )) Pernah terkena keluhan serupaB (jika pernah) apa yang dilakukan pasien terhadap keluhannyaB 2) *i ayat penyakit sistemik (D2, 9-C, dll)B

3) Pernah periksa sebelumnyaB ,) +pakah memiliki ri ayat alergiB .) +pakah sudah pernah diobatiB Dengan apaB ". *PK )) +pakah ada keluarga dengan keluhan serupaB 2) #erapa jumlah anggota keluarga, dan yang tinggal serumahB 3) *i ayat yang dapat diturunkan (9ipertensi, D2, dll)B d. *%>5 )) +pakah Tn. Popon memelihara binantangB 2) +pakah di sekitar sa ah Tn popon ada ku"ing atau anjingB 3) #agaimana higienitas keluarga Tn. PoponB 2. Diagnosis 9olistik Pasien Diagnosa holistik adalah tata "ara diagnosa yang memperhatikan berbagai aspek yang dimungkinkan menyebabkan penyakit pada pasien yang bersangkutan. Diagnostik holistik meliputi (Kekalih, 2773)5 a. +spek Personal )) #erisi alasan kedatangan pasien (reason for encounter) seperti keluhan utama, symptoms D signs, kega atan dll. 2) #erisi Idea, Concern, Expectation & Anxiety pasien dan keluarganya b. +spek Klinis #erisi diagnosis dari aspek klinis yaitu diagnosti" de$initi:e, diagnosis sementara, diagnosis kerja dan DD!nya. ". +spek (aktor *isiko -nternal (-ntrinsik) )) #erisi $a"tor!$aktor risiko internal yang dapat mempengaruhi kondisi sehat sakit indi:idu pasien dan keluarganya 2) 2eliputi 5 ?sia, 'enis kelamin, *as, Genetik, perilaku indi:isu sakit 3) (a"tor!$aktor risiko internal ini merupakan confounding factors terjadinya sehat!sakit

d. +spek (aktor *isiko >ksternal (>0trinsik) )) #erisi $a"tor!$aktor risiko eksternal yang dapat mempengaruhi kondisi sehat!sakit indi:idu pasien dan keluarganya 2) 2eliputi 5 perilaku sakit anggota keluarga lain, hubungan interpersonal, sosek, pendidikan, lingkungan rumah dan lingkungan lo"al sekitarnya. 3) (a"tor!$aktor eksternal ini merupakan determinant $a"tors terjadinya sehat!sakit. e. +spek skala skor (derajat keparahan penyakit) ) 2elakukan sebelum sakit 2 3 pekerjaan seperti 2andiri dalam pera atan diri dan bekerja di dalam mulai dan masih

dan luar rumah Pekerjaan ringan sehari!hari, di +kti:itas kerja dalam dan luar rumah Pekerjaan ringan dan melakukan pera atan diri berkurang bisa Pekerjaan pera atan ringan diri

dikerjakan sendiri Pera atan diri hanya keadaan Tidak melakukan tertentu, posisi duduk dan akti:itas kerja. Pera atan berbaring diri oleh keluarga Pera atan diri oleh orang lain, %angat bergantung posisi berbaring pasi$ dengan orang lain (misal tenaga medis)

"ika ditera#kan #ada kasus$ maka% ). Diagnosis 9olistik a. +spek personal )) Keluhan utama 5 Gatal 2) Gejala penyerta 5 %elain gatal juga terasa nyeri, kemerahan meninggi serta le"et dan berdarah. 3) /on"ern ,) >0pe"ted .) +n0iety b. +spek klinis 5 Gatal yang sangat 5! 5 2engganggu akti:itas

Diagnosis banding @o Diagnosis ) #anding %kabies +lasan diagnosis Gejala (#udimulja ?, 2776). ). Pruritus nokturnal 2. 2enyerang berkelompok 3. /anali"uli ,. Ditemukan tungau Diagnosis skabies dengan ditemukan 2 gejala 2 /utaneus lar:a migrant (/reeping eruption) dari , tanda gejala diatas . /reeping eruption merupakan in:asi yang sering terjadi pada anak!anak terutama yang sering berjalan tnpa alas kaki atau sering berhubungan dengan tanah atau pasir. Demikian pula para petani atau tentara sering mengalami hal sama. -stiah "reepin eruption digunakan pada kelainan kukut yang berupa peradangan bentuk linier dan berkelok! kelok,meninggi dan progresi$, disebabkan oleh in:asi lar:a "a"ing tambang yang berasal dari anjing dan ku"ing. Penyakit ini juga disebut "utaneus lar:a migrans (+isah, 2776). Gejala klinis yang dapat mun"ul antara lain gatal dan rasa panas. Terdapat papul kemudian diikuti bentuk yang khas yakni lesi berbentuk liniear atau berkelok!kelo, meninggi dengan diameter2!3 mm dan ber arna kemerahan. +danya lesi papul yang eritem menunjukan lar:a tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. *asa gatal yang lebih hebat dapat timbul malam hari sehingga sering mirip dengan s"abies (+isah, 2776).

Tuberkulosis

Gejala utama pasien T# paru adalah batuk berdahak selama 2!3 minggu atau lebih. #atuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak ber"ampur darah, batuk darah, sesak na$as, badan lemas, na$su makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan $isik, demam meriang lebih dari satu bulan, atau adanya anggota keluarga yang memiliki gejala dan tanda yang sama (+min, 2776). #atuk produkti$ 3 bulan berturut!turut dalam ) tahun terjadi selama 2 tahun (%udoyo, 2771) Pneumonia merupakan -n$eksi %aluran @a$as #a ah +kut (-%@#+) yang menyumbang angka kematian yang tinggi. Penumonia merupakan radang pada parenkim paru yang mengenai bronkiolus respiratorik hingga al:eous. #akteri penyebab pneumonia antara lain Staphylococcus sp. ,bakteri gram negati$ lainnya, P.Aeroginosa, Enterobacter dan lain!lain. +namnesis a. +danya $aktor predisposisi sperti PPAK, Penyakit kronik yang mendasari, kejang, rendahnya imunitas b. <okasi terkena apakah di rumah sakit (pneumonia nosokomial) atau di luar rumah sakit (pneumonia kelompok) ". ?sia pasien, pada bayi etiologi yang tersering adalah :irus sedangkan de asa oleh S. pneumonia

, .

#ronkitis Kronik Pneumonia

Diagnosis kerja ".

5 /utaneus lar:a migran dan %uspek Tuberkulosis

+spek risiko intrinsik ?sia 5 33 tahun )) /utaneus <ar:a 2igran (/reeping eruption) a) <aki!laki b) 9igiene yang kurang baik (2/K dilakukan di E/ umum yaitu di sungai, tidak "u"i tangan sebelum makan) ") Kebiasaan yang kurang baik (tidak memakai alas kaki ketika bekerja di sa ah) 2) T#/ a) #atuk yang tidak sembuh!sembuh sejak 2 bulan yang lalu b) #elum menikah ") 'arang berolahraga d) 2erokok e) GiFi kurang (sering hanya makan nasi dengan kerupuk)

d. (aktor risiko eksternal )) /utaneus <ar:a 2igran(/reeping eruption) a) Pendidikan rendah (hanya lulusan %D) sehingga pengetahuan kurang b) Pengelolaan sampah dan limbah yang kurang baik 2) T#/ a) +yah (yang tinggal serumah) mempunyai ri ayat batuk lama selama 3 bulan b) #ibi pasien memiliki ri ayat penyakit T#/ ") *umah ke"il, kurang memenuhi syarat rumah yang baik d) %irkulasi kurang baik e) Daerah perkampungan padat penduduk dengan pengelolaan sampah dan limbah yang kurang baik $) Pendidikan rendah (lulusan %D) sehingga pengetahuan kurang e. +spek sosial penilaian $ungsi

%kor 2 karena mengganggu akti$itas E. Sasaran Bela&ar ). Genogram 2. Pato$isiologi /utaneus <ar:a 2igran 3. Pato$isiologi Tuberkulosis ,. 2a"am!2a"am (aktor *esiko .. Penilaian $ungsi keluarga 8. Tentang penyakit /utaneus <ar:a 2igran (/reeping eruption) a. De$inisi b. >tiologi ". >pidemiologi d. (aktor resiko e. Tanda Gejala $. Penegakan diagnosis (+namnesis ; Pemeriksaan penunjang) g. Tata <aksana h. Prognosis D komplikasi 6. Tentang penyakit Tuberkulosis i. De$inisi j. >tiologi k. >pidemiologi l. (aktor resiko m. Tanda Gejala n. Penegakan diagnosis (+namnesis ; Pemeriksaan penunjang) o. Tata <aksana p. Prognosis D komplikasi 3. Penanganan Komprehensi$ a. Personal approa"h b. (amily approa"h ". /ommunity approa"h

BAB III ). Genogram

Gambar ). Genogram Tn. Popon 2. Pato$isiologi /utaneus <ar:a 2igran /reeping eruption disebabkan oleh berbagai spesies "a"ing tambang binatang yang didapat dari kontak kulit langsung dengan tanah yang terkontaminasi $eses anjing atau ku"ing. 9ospes normal "a"ing tambang ini adalah ku"ing dan anjing. Telur "a"ing diekskresikan ke dalam $eses, kemudian menetas pada tanah berpasiryang hangat dan lembab. Kemudian terjadi pergantian bulu dua kali sehingga menjadi bentuk in$ekti$ (lar:a stdaium tiga). 2anusia yang berjalan tanpa alas kaki terin$eksi se"ara tidak sengaja oleh lar:a dimana lar:a menggunakan enFim protease untuk menembus melalui $olikel, $isura atau kulit intak. %etelah penetrasi stratum korneum, lar:a melepas kutikelnya. #iasanya migrasi dimulai dalam beberapa hari (Tierney, 2773) <ar:a stadium tiga menembus kulit manusia dan bermigrasi beberapa "m per hari, biasanya antara stratum germinati:um dan stratum korneum. <ar:a ini tinggal di kulit berjalan!jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal.hal ini menginduksi reaksi in$lamasi eosino$ilik setempat. %etelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit. <ar:a bemigrasi pada epidermis tepat di atas membran basalis dan jarang menembus ke dermis. 2anusia merupakan hospes aksidental dan lar:a tidak mempunyai enFim kolagenase yang "ukup untuk penetrasi membran basalis sampai ke aktu

dermis. %ehingga penyakit ini menetap di kulit saja. >nFim proteolitik yang disekresi lar:a menyababkan in$lamasi sehingga terjadi rasa gatal dan progresi lesi. 2eskipun lar:a tidak bisa men"apai intestinum untuk melengkapi siklus hidup, lar:a seringkali migrasi ke paru!paru sehingga terjadi in$iltrat paru. Pada pasien dengan keterlibatan paru!paru didapat lar:a dan eosino$il pada sputumnya. Kebanyakan lar:a tidak mampu menembus lebih dalam dan mati setelah beberapa hari sampai beberapa bulan ('usy"h, 2771). 3. Pato$isiologi Tuberkulosis

,. 2a"am!ma"am $aktor risiko (Dodiet, 2773) a. 2enurut dapat tidaknya $aktor risiko itu diubah )) (aktor risiko yang tidak dapat diubah (unchangeable ris fa tor! /ontoh5 genetik dan umur 2) (aktor risiko yang dapat diubah (cangeable ris factor!

/ontoh5 kebiasaan merokok dan olahraga b. 2enurut kestabilan peran $aktor risiko )) (aktor risiko yang di"urigai (Suspected ris factor! (aktor risiko yang belum mendapat dukungan ilmiah dan belum dapat dipastikan bah a hal tersebut mempengaruhi kejadian suatu penyakit. /ontoh5 merokok menyebabkan terjadinya kanker leher rahim 2) (aktor risiko yang telah ditegakan (Established ris factor! (aktor risiko yang telah mendapat dukungan ilmiah dap terbukti dapat mempengaruhi kejadian suatu penyakit. /ontoh5 merokok dapat memperburuk keadaan pasien Tuberkulosis. .. Penilaian $ungsi keluarga a. +PG+*
Tujuan penilaian $ungsi $isiologis keluarga adalah untuk mengetahui persepsi anggota keluarga mengenai $ungsi keluarga dengan menguji tingkat kepuasan anggota terhadap keluarganya. -nstrumen yang dapat digunakan untuk menilai $ungsi $isiologis keluarga adalah dengan menggunakan metode penilaian +PG+* keluarga (%milkstein, )163). Terdapat lima hal yang dinilai dalam +PG+* keluarga yaitu5

)) Adaptation (+daptasi)
Tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang dibutuhkannya dari anggota keluarga lainnya.

2) Partnership (Kemitraan) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap komunikasi, urun rembuk dalam mengambil suatu keputusan dan atau menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi dengan anggota keluarga lainnya.

3) Growth (Pertumbuhan) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan atau kede asaan setiap anggota keluarga.

,) Affection (Kasih %ayang) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang serta interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga. .) Resolve (Kebersamaan) Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan dalam membagi aktu, kekayaan dan ruang antar anggota keluarga (%milkstein,)1635 G yther, )113).
<ima hal tersebut dituangkan dalam sistem skoring, jika ja aban anggota keluarga terhadap pertanyaan adalah sering&selalu maka diberi skor 2, ja aban kadang!kadang diberi skor ) dan ja aban tidak pernah diberi skor 7. Dengan demikian, penilaian terhadap $ungsi keluarga bersi$at kuantitati$ dengan kriteria sebagai berikut5 )) 'umlah skor '()* disebut highly $un"tional $amily. 9al ini menunjukkan bah a $ungsi $isiologis keluarga berjalan dengan baik sehingga dapat dikatakan keluarga tersebut sehat dan saling mendukung satu sama lain. 2) 'umlah skor +(, disebut moderately $un"tional $amily menunjukkan adanya beberapa $ungsi keluarga yang tidak berjalan dengan baik. 'ika sebuah keluarga berada pada skor ini, maka perlu dilakukan $amily therapy untuk memperbaiki $ungsi $isiologis keluarga. 3) 'umlah skor *(- disebut se:erely $un"tional $amily. 9al ini menandakan $ungsi $isiologis suatu keluarga tidak berjalan sebagainama mestinya. (amily therapy harus segera diakukan pada keluarga yang berada pada skor ini (-hromi, 277,)

b. Genogram Genogram menurut *akel adalah alat yang digunakan oleh dokter dan pro$esional kesehatan lainnya untuk merangkum dalam satu halaman kertas tentang in$ormasi yang berkaitan dengan keluarga. Pemba"aan genogram meliputi5
)) %truktur5 merupakan $ungsi dari status perka inan (lajang, menikah,

terpisah, ber"erai, janda) dan status orangtua (tidak ada anak!anak, alam, angkat, atau anak angkat, atau anak tiri).
2) Demogra$i5 etnis, pendidikan, dan pekerjaan

3) "i#e e#ent 5 termasuk pernikahan, perpisahan, dan per"eraian, kelahiran dan kematian, dan masalah sosial atau kesehatan utama

,) 2asalah sosial D kesehatan5 jenis dan jumlah masalah dan konsistensi

mereka di antara anggota keluarga dan pelayanan kesehatan (-hromi, 277,). ". %/*>>2 Penilaian $ungsi patologis keluarga adalah dengan menggunakan %/*>>2 (Social, Cultural, $eligius, Economic, Education, %edication) (-hromi, 277,). d. (amily li$e "yle

Gambar ).) <i$e /y"le (-hromi, 277,).

8.

Penyakit /utaneus <ar:a 2igran (/reeping eruption) a. De$inisi /reeping eruption disebut juga "utaneous lar:a migrans (/<2) disebabkan oleh penetrasi dan migrasi lar:a nemato da di dalam epidermis. -stilah "reeping eruption digunakan pada kelainan kulit yang merupakan peradangan berbentuk linear atau berkelok!kelok, menimbul

dan progresi$, disebabkan oleh in:asi lar:a "a"ing tambang yang berasal dari anjing dan ku"ing (Djuanda, 277.). /reeping eruption termasuk dalam penyakit parasit he ani. #eberapabuku menyebutkan sebagai Foonosis, namun istilah ini kurang tepat karena Foonosis berarti penyakit pada he an yang dapat ditularkan pada manusia, sedangkan penyakit ini bukan panyakit he an. 'adi istilah penyakit parasit he ani lebih tepat (Perish, 2773). -n$estasi biasanya terjadi melalui kontak dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi dengan kotoran binatang. -n:asi ini sering terjadi pada anak!anak terutama yang sering berjalan tanpa alas kaki, atau yang sering berhubungan dengan tanah dan pasir. Demikian pula para petani atau tentara sering mengalami hal yang sama (Perish, 2773). b. >tiologi /reeping eruption biasanya ditujukan untuk lesi yang diakibatkan "a"ing tambang dengan hospes non manusia. Penyebab utama adalah lar:a yang berasal dari "a"ing tambang binatang anjing dan ku"ing, yaitu an"ylostoma braFiliense dan an"ylostoma "aninum. +n"ylostoma braFiliense adalah penyebab tersering. Di +sia Timur umumnya disebabkan oleh Gnathostoma babi dan ku"ing. Pada beberapa kasus ditemukan >"hino"o""us, %trongyloides ster"oralis, Dermatobia maFiales dan <u"ilia "aesar. %elain itu dapat pula disebabkan oleh lar:a dari beberapa jenis lalat, misalnya /astrophilus (the horse bot $ly) dan "attle $ly(Perish, 2773). Penyebab yang umum (Perish, 2773) 5 )) +n"ylostoma braFiliense 2) +n"ylostoma "aninum 3) ?n"inaria phlebotonum Penyebab yang jarang (Perish, 2773) 5 )) +n"ylostoma "eyloni"um 2) +n"ylostoma tubae$orme 3) @e"ator amri"anus ,) %trongyloides papillosus

.) %trongyloides esteri 8) +n"ylostoma duondenale ". >pidemiologi /reeping eruption ditemukan di seluruh dunia tapi paling sering terjadi di daerah dengan iklim tropis atau subtropis yang hangat dan lembab, misalnya di +$rika, +merika %elatan dan #arat, terutama +merika %erikat bagian tenggara, Karibia, +$rika, +merika %elatan, +merika Pusat, -ndia, dan +sia Tenggara, di -ndonesia pun banyak dijumpai. -n$estasi lebih sering ditemukan saat ini karena tingginya mobilitas dan tamasya. Dilaporkan adanya outbreak insiden /<2 di perkemahan anak!anak di 2iami, (lorida pada tahun 2778. Dilaporkan 22 orang (33,6G) terdiri dari anak!anak dan de asa, menderita /<2 setelah 2,. minggu berada di perkemahan (Perish, 2773). Dari analisa didapatkan 22 orang tersebut berain di kotak pasir selama minimal ) jam per hari, berjemur matahari ) jam per hari, )6 dari 22 orang yag terkena ternyata tidak mengenakan sandal pada saat bermain pasir. #anyak yang mengakui adanya ku"ing yang bekeliaran dalam jumlah "ukup banyak di sekitar perkemahan. /ara in$eksi melalui kontak kulit dengan lar:a in$ekti$ pada tanah. Arang dari berbagai jenis umur, seksa dan ras bisaterin$eksi jika terpajan lar:a (Perish, 2773). Grup yang beresiko adalah mereka yang pekerjaan atau hobinya berkontak dengan tanah berpasir yang lembab dan hangat antara lain sebagai berikut (Perish, 2773) 5 )) Arang yang tidak memakai alas kaki di pantai 2) +nak!anak yang bermain pasir 3) Petani ,) Tukang kebun .) Pembersih septi" tank 8) Pemburu 6) Tukang kayu 3) Penyemprot serangga d. (aktor resiko (9eryantoro, 27)2)

)) %ering kontak dengan habitat lar:a "a"ing seperti pada pasir atau daerah lebab dan berair 2) Kontak dengan ku"ing dan anjing dimana kedua he an ini merupakan tempat hidup lar:a "a"ing 3) Kurang menjaga higiene ,) Tidak memakai alas kaki atau sarung tangan ketika kontak dengan habitat lar:a "a"ing .) <aki!laki lebih dominan karena berhubungan dengan pekerjaan dimana kebanyakan petani merupakan laki!laki 8) ?mur anak!anak lebih sering karena mereka sering bermain pada daerah berpasir atau tanah e. Tanda Gejala )) #intik merah menonjol yang gatal kemudian menjadi memanjang dan berkelok ; kelok membentuk alur (tero ongan) di ba ah kulit 2) *asa gatal lebih hebat pada malam hari $. Penegakan diagnosis )) +namnesis Pada anamnesis umumnya pasien mengeluhkan gatal!gatal pada lesi, yang semakin lama semakin gatal sekali. Pasein juga sering mengeluhkan adanya garis ke"il kemerahan, yang semakin lama semakin memanjang dengan disertai rasa gatal. Pada anamnesis perlu ditanyakan kepada pasien tentang $aktor risiko, seperti petani, memelihara ku"ing atau anjing, penambang atau sering berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Hang membedakan dengan skabies adalah, pada skabies terdapat pula anggota keluarga dirumah yang memiliki keluhan yang serupa. %elain itu tempat predileksi dari "utenous lar:a migran bisa dimana saja, namun paling banyak ditemui di telapak kaki, tangan dan bokong (/onde et al., 2776). 2) Pemeriksaan $isik ?ntuk mendiagnosis "utaneous lar:a migran tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium. %elain karena mahalnya biaya, dari anamnesis dan pemeriksaan $isik berupa inspeksi saja sudah "ukup.

Pada inspeksi biasanya ditemui lesi yang berbentuk seperti saluran ke"il, ber arna merah disertai dengan reaksi in$lamasi. Dapat pula ditemui erosi hingga ekskoriasi, jika pasiennya suka menggaruk tempat lesi. Hang membedakan dengan s"abies selain dari tempat predileksinya, tero ongan "utaneous lar:a migrans lebih panjang. %elain itu pada skabies tero ongannya mengarah ke ba ah seperti sumur, yang akan nampak jelas dengan pemeriksaan dengan tinta (/onde et al., 2776). g. Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi adalah ekskoriasi dan in$eksi sekunder oleh bakteri akibat garukan. -n$eksi umumnya disebabkan oleh streptokokkus pyogenes. #isa juga terjadi selulitis dan reaksi alergi (Gerd, 2773). h. Prognosis Prognosis bisanyan baik. -ni merupakan penyakit yang sel$ limited. 2anusia merupakan hospes aksidental yang dead end di mana lar:a akan mati dan lesi membaik dalam aktu ,!3 minggu. Dengan pengobatan progresi lesi danrasa gatal akan hilang dalam aktu ,3 jam. #isa terjadi reaksi hipersensiti:itas. %ering terjadi eosino$ilia peri$er. Tidak terjadi imunitas protekti$ sehingga bisa terjadi in$eksi berulang pada pajanan berikutnya (Gerd, 2773).

6. Penyakit Tuberkulosis a. De$inisi Tuberkulosis adalah suatu penyakit in$eksi yang disebabkan oleh basil %ycobacterium tuberculosa. #akteri ini berbentuk batang dan bersi$at tahan asam sehingga juga dikenal sebagai #T+ (basil tahan asam). #akteri ini pertama kali ditemukan oleh *obert Ko"h pada tahun

)332. Penyakit ini biasanya mengenai paru, tetapi mungkin menyerang semua organ atau jaringan di tubuh. #iasanya bagian tengah granuloma tuberkular mengalami nekrosis perkijuan. (#rooks, 277.). b. >tiologi Penyebab terjadinya penyakit tuberkulosis adalah basil tuberkulosis yang termasuk dalam genus %ycobacterium, suatu anggota dari $amili %ycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetalis. %ycobacterium tuberculosa menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan penyebab terjadinya in$eksi tersering. (#rooks, 277.). Kuman ini bersi$at obligat aerob dan pertumbuhannya lambat. Dibutuhkan aktu )3 jam untuk mengganda dan pertumbuhan pada aktu 8!3 minggu. %uhu optimal aktu 2 jam, selain itu kuman media kultur biasa dapat dilihat dalam

untuk tumbuh pada 367/ dan pada p9 8,,!6,7. Kuman tuberkulosis jika terkena "ahaya matahari akan mati dalam etanol 37G dalam tersebut akan mati oleh yodium tin"tur selama . menit dan juga oleh aktu 2 sampai )7 menit serta oleh $enol .G dalam aktu 2, jam. Kuman akan mati pada suhu 87 7/ selama ).!27 menit. Pengurangan oksigen dapat menurunkan metabolisme kuman (-rma, 2776). ". >pidemiologi Tuberkulosis (T#) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun )112 &orld 'ealth (rgani)ation (E9A) telah men"anangkan tuberkulosis sebagai * +lobal Emergency, . <aporan E9A tahun 277, menyatakan bah a terdapat 3,3 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2772, dimana 3,1 juta adalah kasus #T+ (#asil Tahan +sam) positi$. %epertiga penduduk dunia telah terin$eksi kuman tuberkulosis dan menurut regional E9A jumlah terbesar kasus T# terjadi di +sia tenggara yaitu 33 G dari seluruh kasus T# di dunia, namun bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat )32 kasus per )77.777 penduduk. Di +$rika hampir 2 kali lebih besar dari +sia tenggara yaitu 3.7 per )77.777 pendduduk (PDP-, 2771).

Diperkirakan angka kematian akibat T# adalah 3777 setiap hari dan 2 ! 3 juta setiap tahun. <aporan E9A tahun 277, menyebutkan bah a jumlah terbesar kematian akibat T# terdapat di +sia tenggara yaitu 82..777 orang atau angka mortaliti sebesar 31 orang per )77.777 penduduk. +ngka mortaliti tertinggi terdapat di +$rika yaitu 33 per )77.777 penduduk, dimana pre:alensi 9-C yang "ukup tinggi mengakibatkan peningkatan "epat kasus T# yang mun"ul (PDP-, 2771). -ndonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus T# setelah -ndia dan /hina. %etiap tahun terdapat 2.7.777 kasus baru T# dan sekitar ),7.777 kematian akibat T#. Di -ndonesia tuberkulosis adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia (PDP-, 2771). d. (aktor resiko ))(aktor karakteristik indi:idu a) (aktor usia ?sia yang terlalu muda atau terlalu tua merupakan $aktor risiko terkena T#. +nak!anak usia diba ah 2 tahun sangat rentan terkena penyakit ini, dikarenakan $ungsi!$ungsi pertahanan tubuh belum ber$ungsi dengan dempurna. +nak!anak diatas 2 tahun hingga de asa lebih jarang terkena T#. %ebaliknya seseorang yang sudah tua (terutama lebih dari 87 tahun), justru lebih rentan terkena penyakit T#. 9al ini berkaitan dengan banyaknya $ungsi tubuh yang mulai berkurang karena proses penuaan (Diandini, *oestam dan Hunus, 2771). b) (aktor -munitas -munitas seseorang dipengaruhi oleh berbagai ma"am hal, seperti asupan giFi, penyakit 9-C&+-D%, diabetes mellitus, penderita kanker, lelah, dan lain sebagainya. -tulah sebabnya banyak ditemukan penderita T# pada penderita 9-C&+-D%. 9al ini dikarenakan lemahnya sistem kekebalan tubuh untuk menghadapi in$eksi kuman T# (Diandini, *oestam dan Hunus, 2771).

") (aktor jenis kelamin Pria lebih berisiko terkena T# dibanding anita. 9al ini berkaitan dengan kebiasaan pria, yaitu merokok. Telah diketahui bah a merokok merupakan salah satu $aktor risiko dari T#. %elain itu se"ara psikologis, d) Tingkat pendidikan %emakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin ke"il pula peluang terkena penyakit T#. <atar belakang pendidikan menentukan pengetahuan seseorang mengenai suatu penyakit, penyebab, tanda gejala, "ara pen"egahan serta penanganannya. Arang yang memiliki latar belakang tingkat pendidikan yang tinggi juga "enderung memiliki pola hidup bersih dan sehat. %elain itu, tingkat pendidikan yang tinggi juga dapat meningkatkan kemampuan sosial ekonomi sesorang (Diandini, *oestam dan Hunus, 2771). e) Pekerjaan dan status giFi #ekerja ditempat yang banyak penderita T# (dokter, pera at, cleaning ser#ice rumah sakit), merupakan salah satu $aktor risiko dari T#. 9al ini dikarenakan tingginya peluang seseorang untuk kontak dengan kuman, mengingat T# dapat ditularkan le at udara. Aleh karena itu diperlukannya alat pelindung diri, serta kehati!hatian seorang pekerja dirumah sakit dalam bertugas (Diandini, *oestam dan Hunus, 2771). %elain itu pekerjaan juga dapat menentukan seberapa penghasilan keluarga. Penghasilan seseorang dapat mempengaruhi status giFi seseorang. Hang mana status giFi berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang. 'adi semakin rendah tingkat pendapatan seseorang, semakin tinggi risiko terkena T# (Diandini, *oestam dan Hunus, 2771). 2) (aktor *isiko <ingkungan a) Kepadatan 9unian anita "enderung lebih perhatian terhadap kesehatan dibanding pria (Diandini, *oestam dan Hunus, 2771).

%tandar kepadatan hunian yaitu )7m2 perorang. ?ntuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3m2 perorang. 'ika kurang dari angka tersebut, atau penghuni rumahnya banyak dapat berpengaruh terhadap kualitas udara diruangan tersebut. %elain pengaruhnya terhadap kadar oksigen, hal ini dapat memudahkan penularan penyakit T# (9udoyo et al., 27)2). b) Pen"ahayaan Kuman penyebab T# merupakan kuman yang photosensiti$, atau sensiti$ terhadap "ahaya, terutama "ahaya matahari. Aleh karena itu, rumah yang kurang :entilasinya atau sedikitnya "ahaya matahari yang dapat masuk kerumah, merupakan $aktor risiko dari T#. Pen"ahayaan minimal untuk suatu ruangan yaitu 87 lu0 (9udoyo et al., 27)2). ") Kelembaban udara Kelembaban udara suatu ruangan yang lebih besar dari 87G, berisiko terkena T# )7,6 kali lebih besar daripada ruangan dengan kelembaban normal (,7!87G). 9al ini dikarekanan kuman penyebab T# menyukai tempat yang lembab dan gelap. %edangkan kelembaban udara sangat dipengaruhi oleh iklim, ketinggian ilayah, dan letak geogra$is (9udoyo et al., 27)2). e. Tanda Gejala (+min, 2771) )) Demam Demam yang ditemukan sub$ebril. Demam dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya in$eksi kuman tuberkulosis yang masuk. 2) #atuk dan batuk berdarah #atuk terjadi karena iritasi pada bronkus sehingga terjadi re$lek pembuangan produk!produk radang. Pada a alnya ditemukan batuk nonprodukti$ namun setelah timbul peradangan batuk menjadi produkti$. ?ntuk batuk berdarah, terjadi karena pembuluh darah yang pe"ah. 3) %esak napas

Pada penyakit yang sudah berlanjut, terjadi in$iltrasi yang sudah meliputi setengah bagian paru sehingga terjadi sesak napas. ,) @yeri dada Tidak semua pasien merasakan gejala ini, namun jika terdapat nyeri dada itu dikarenakan in$iltrasi radang yang sudah men"apai pleura dan menimbulkan pleuritis. @yeri dada terjadi karena gesekan kedua pleura se aktu pasien menarik dan melepaskan napasnya. .) 2alaise Keadaan ini ditandai degan anoreksia yang ditunjukkan dengan na$su makan yang turun, badan semakin kurus, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan keringan malam. $. Penegakan diagnosis )) +namnesis Gejala utama pasien T# paru adalah batuk berdahak selama 2!3 minggu atau lebih. #atuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak ber"ampur darah, batuk darah, sesak na$as, badan lemas, na$su makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan $isik, demam meriang lebih dari satu bulan, atau adanya anggota keluarga yang memiliki gejala dan tanda yang sama (+min, 2776). 2) Pemeriksaan (isik Pemeriksaan terhadap keadaan umum pasien bisa ditemukan konjungti:a mata atau kulit yang anemia, demam atau berat badan menurun. Pada perkusi didapatkan suara redup biasanya pada apeks paru yang terdapat in$iltrat serta auskultasi didapat suara napas bronkial, kadang ronki basah halus atau ronki basah kasar dan nyaring, bila terdapat juga penebalan pleura bisa didapat suara napas :esikuler melemah. #ila terdapat ka:itas yang "ukup luas maka perkusi bisa memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi didapat suara am$orik (+min, 2776). 3) Pemeriksaan Penunjang

Pada kasus T# Paru, pemeriksaan penunjang yang serong dilakukan adalah $oto thora0. Pada pemeriksaan $oto thora0 biasanya ditemukan gambaran lesi pada bagian apeks paru. Pemeriksaan yang biasanya menjadi standar penegakkan diagnosis T# Paru adalah pemeriksaan menegakkan sputum. diagnosis, Pemeriksaan menilai sputum ber$ungsi pengobatan untuk dan keberhasilan

menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan tiga spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa %e aktu!Pagi!%e aktu (%P%) (+min, 2776)5 a) % (se aktu)5 dahak dikumpulkan pada saat suspek T# datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek memba a sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. b) P (Pagi)5 dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot diba a dan diserahkan sendiri kepada petugas di sarana pelayanan kesehatan. ") % (se aktu)5 dahak dikumpulkan di sarana pelayanan kesehatan pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi. Gold %tandart penegakkan diagnosis sputum menurut E9A tahun )11), kriteria penderita T# Paru adalah (+min, 2776)5 a) Pasien dengan sputum #T+ positi$ i. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya se"ara mikroskopis ditemukan #T+, sekurang!kurangnya pada dua kali pemeriksaan, atau ii. %atu sediaan sputumnya positi$disertai kelainan radiologis yang sesuai dengan gambaran T# akti$, atau iii.%atu sediaan sputumnya positi$ dengan disertai biakan yang hasilnya positi$ b) Pasien dengan sputum #T+ negati$ i. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya tidak ditemukan #T+, sekurang!kurangnya pada dua kali pemeriksaan tapi gambaran radiologisnya mirip dengan gamabran T# akti$, atau

ii. Pada pemeriksaan sputum tidak didapat #T+ namun pada pemeriksaan biakan ditemukan sel #T+

+lur Diagnosis T# %umber (Depkes *-, 2778) g. Komplikasi Pada pasien tuber"ulosis dapat terjadi beberapa komplikasi, baik sebelum pengobatan atau dalam masa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan. #eberapa komplikasi yang mungkin timbul adalah (Eerdhani, 2772) 5 )) #atukdarah 2) Pneumotoraks 3) <uluhparu ,) Gagalnapas .) Gagaljantung 8) >$usi pleura h. Prognosis

Prognosis pada pasien tuberkulosis baik apabila teratur berobat, namun apabila tidak teratur atau tidak di tangani dengan baik akan terjadi komplikasi seperti T# 2D* atau T# ekstra paru (Eerdhani, 2772). 3. Penanganan Komprehensi$ a. Personal approa"h )) Plan Diagnosis c! Diagnosis de$init$ Creeping Eruption (Cutanneus "ar#a migran! pada penyakit ini dilakukan dengan memperhatikan bentuk khas lesi kulit yang timbul yakni kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok, meninggi, dan terdapat papul atau :esikel di atas lesi tersebut. Diagnosis juga didukung dengan $aktor resiko baik internal maupun eksternal yang ada pada indi:isu, seperti misalnya tidak menggunakan sanda ketika keluar rumah dan memiliki binatang peliharaan (+isah, 27))). d) Tuberkulosis Penegakkan diagnosis T# dilakukan dari anamnesis dengan melihat tanda dan gejala, pemeriksaan $isik, pemeriksaan bakteriologis dan pemeriksaan radiologi. Keluhan klasik T# antara lain demam sub$ebris, batuk yang bisa disertai dengan darah, sesak napas, nyeri dada, malaise, penurunan na$su makan dan berat badan. Pada pemeriksaan $isik biasanya akan ditemui konjungti:a atau kulit yang anemis dengan badan kurus atau berat badan yang menurun. Pada pasien T# yang masih a al, jarang ditemui kelainan pada pemeriksaan $isik. Tempat kelainan lesi T# yang patut di"urigai adalah apeks paru. #ila di"urigai ada in$iltrat yang luas, akan didapatkan suara redup pada perkusi dan suara napas bronkial pada auskultasi. +kan didapatkan juga suara napas tambahan berupa ronki basah, kasar, dan halus. #ila ka:itas nya "ukup besar, akan dapat kita dengan suara am$orik.

Pemeriksaan bakteriologis dengan pemeriksaan sputum se aktu, pagi dan se aktu untuk pasien ra at jalan. ?ntuk pasien ra at ini dilakukan pemeriksaan sputum pagi, pagi, dan pagi. Diagnosis tegak jika ditemukan #T+ positi$.

Gambar ). +lgoritma penegakkan T# 2) Plan K-> (Komunikasi, -n$ormasi, >dukasi) a) Creeping Eruption (Cutanneus "ar#a migran! Penyakit ini diakibatkan oleh lar:a yang terutama berasal dari "a"ing tambang binatang. 'ika lar:a ini masuk ke dalam kulit akan disertai rasa panas dan gatal yang kemudian akan timbul lesi kulit khas. Penyakit ini bisa disembuhkan dengan obat tertentu tetapi memliki kemungkinan re!in$eksi jika lar:a kembali menembus kulit (+isah, 27))). b) Tuberkulosis

Penyakit diakibatkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini tidak diturunkan melinkan ditularkan melalui droplet ketika pasien berbi"ara, batuk, dan bersin. %ehingga penderita harus menjaga diri dan sekitarnya ketika batuk ataupun bersin dan batuk. Penyakit ini bukan penyakit kutukan dan dapat disembuhkan asalkan menjalani pengobatan dengan teratur. 3) Plan Pengobatan b) Creeping Eruption (Cutanneus "ar#a migran! Pengobatan non!medikamentosa dilakukan dengan mengurangi menggaruk di daerah lesi karena akan memun"ulkan lesi kulit sekunder yang "ukup mengganggu. /reeping eruption dapat diobati dengan anti!helminthes berupa tiabendaFol oral .7 mg&Kg##&hari sehari 2 kali berturut!turut selama dua hari dan dosis maksimal 3 gram&hari. >$ek samping yang mungkin timbul adalah mual, muntah, dan pusing. ?ntuk menghindari e$ek samping bisa juga diberikan dalam bentuk topikal. %elain tiabendaFol dapat pula diberikan albendaFol dengan dosis ,77 mg& hari dosis tunggal selama 3 hari berturut!turut (+isah, 27))). /T2 , mg.perhari atau loratadine )0 )7 mg perhari untuk meringankan keluhan gatal (Putranti, 27)3) ") i. Tuberkulosis Abat +nti Tuberkulosis kategori ) Pada pengobatan pasien T#, kategori penyakit digolongkan menjadi tiga kategori berdasarkan kasus dari penderita T# dan kebutuhan pengobatan dalam program. Kasus T# kategori - merupakan suatu kasus baru T# dengan #T+ (4) yang mana kasus baru di sini bermakna bah a pasien baru pertama kali mengalami T# dan belum pernah mengkonsumsi A+T sebelumnya atau sudah pernah minum A+T tetapi I ) bulan. T# kategori - ini merupakan kasus baru pada pasien dengan keadaan yang berat seperti meningitis, T# milier, perikarditis, peritonitis, pleuriti$ masi$ atau bilateral dan

penderita dengan sputum (!) tetapi kelainan parunya luas yang apabila pada gambaran $oto rontgen, terdapat in$iltrat yang lebih dari spatiuminter"ostalis 2 (%-/ 2) (2uttaJin, 2773). Pada pasien yang termasuk kasus baru&kategori -, maka pengobatan yang harus diberikan adalah A+T kategori dengan aturan sebagai berikut 5 Penderita TB Kategori I Panduan Obat Fase Awal (tiap hari atau Fase Lan ut *&%

3x seminggu) Kasus baru TB paru! daha" $ %&'( (%&')) (#) Kasus baru TB paru daha" (+) dengan "erusa"an paren"im $ %&'( (%&')) luas Kasus baru TB extra paru $ %&'( (%&'))

,&( * &3%3

Tabel 2. Panduan A+T Kategori - (2uttaJin, 2773) (ase lanjutan diberikan ketika setelah pengobatan $ase a al&intensi$ selama 2 bulan, apabila sputum masih tetap (4). setelah $ase lanjutan masih tetap #T+ (4), maka dapat dilakukan pengobatan $ase a al lagi dengan diperpanjang 2!, minggu (2uttaJin, 2773). Abat anti tuberkulosis, pen"antumannya menyesuaikan dengan bentuk dan kekuatan sediaan yang digunakan dalam program Pengendalian Penyakit Tuberkulosis @asional. %ediaan yang berbentuk KPaduan dalam bentuk dosis tetap atau (D/ ( (i0ed Dose /ombination) atau KPaduan dalam bentuk kombipakL, baik untuk de asa maupun untuk anak.%edangkan sediaan oral bentuk tunggal sudah tidak di"antumkan lagi dengan pertimbangan untuk5 ). 2eningkatkan kepatuhan pasien 2. 2emudahkan dalam pemberian

3. 2eminimalkan risiko resistensi (2D* = 2ultidrug *esistan"e) Ke"uali untuk -soniaFid tablet, masih disediakan dalam bentuk tunggal, karena dibutuhkan untuk pro$ilaksis T# pada anak dan 9-C +-D%. 'ika dalam kondisi dimana terjadi alergi pada salah satu obat, maka dapat digunakan sediaan kombipak, dengan mengeluarkan obat yang menyebabkan alergi tersebut (Kemenkes, 27))). ii. Abat +nti Tuberkulosis Kategori 2 Paduan A+T kategori ini diberikan untuk pasien #T+ positi$ yang telah diobati sebelumnya5 ). Pasien kambuh 2. Pasien gagal 3. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat %etelah $ase intensi$, maka diberikan obat $ase lanjutan. Tabel 2. Panduan A+T kategori -- (Kemenkes, 2771)

iii.

Pengobatan simptomatis Tb (*ahma ati, 27)3) ). 2. 3. anemis Diberikan GG 3 0 27 mg 2ukolitik 5 +mbroksol 3 0 27 mg Citamin #8 bila ada keluhan neuritis

,. %ul$as (erosus 3 0 277 mg apabila ditemukan konjungti:a ,) Plan 2onitoring dan >:aluasi

a)

Creeping Eruption (Cutanneus "ar#a migran! 2onitoring dilakukan untuk melihat bagiamana perkembangan lesi dan apakah lar:a sudah mati. >$ek samping obat juga dinilai. >:aluasi dapat dilakukan pasen dengan mengubah $aktor resiko yang bisa diubah sepert kebiasaan memakai sandal dan higienitas keluarga (+isah, 27))).

b)

Tuberkulosis >:aluasi pada T# dilakukan di akhir bulan kedu pengobatan dan akhir bulan kelima pengobatan. Hang die:aluasi antara lain gejala klinis seperti batuk, na$su makan turun, dan berat badan, hasil tes bakteriologis apakah masih positi$ atau negati$, e$ek samping obat terutama piraFinamid yang bere$ek hepatoto0i" (kemenkes, 27))).

b. (amily approa"h )) /utaneus <ar:a 2igrans (%umanto, 27)7) a) 'elaskan mengenai $aktor risiko, habitat lar:a "a"ing, "ara in$eksi, penularan, serta bagaimana pengobatan yang harus dilakukan b) -ngatkan pasien atau anggota keluarga yang menderita "reeping eruption agar tidak menggaruk terus!menerus karena dapat mengakibatkan lesi atau erosi pada kulit ") #erikan dukungan pada keluarga yang menderita "reeping eruption, dengan mengantarkan ke layanan kesehatan terdekat 2) T# Paru (Eibo o, 27)3) a) 2un"ulkan anggota keluarga yang mau peduli terhadap penderita b) +dakan penga as minum obat agar obat yang diminum penderita bisa teratur ") <akukan screening pada seluruh anggota keluarga, terutama yang sering kontak dengan penderita d) -ntake nutrisi yang "ukup sehingga kebutuhan giFi terpenuhi

e) <akukan upaya pen"egahan dari anggota keluarga seperti menerapkan pola hidup sehat $) Tidak menjauhi anggota keluarga yang menderita Tb tetapi mau menerimanya ". /ommunity approa"h )) 2engadakan penyuluhan di desa Tn. Popon mengenai penyakit T#/ khususnya gejala, $aktor risiko dan "ara penularan 2) 2enganjurkan pada arga desa untuk segera memeriksakan diri apabila didapatkan tanda!tanda T#/ 3) 2emberikan edukasi bagaimana membangun rumah sehat ,) Karena desa tersebut merupakan daerah padat penduduk makan diedukasikan agar selalu menjaga kebersihan lingkungan .) 2elaporkan ke pemerintah lokal untuk dilakukan screening T#/ pada desa Tn. Popon karena dikha atirkan daerah tersebut merupakan daerah endemis T# 8) 2emberitahu bah a kepadatan rumah sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit in$eksius seperti T#/ 6) >dukasi "ara pola hidup sehat baik itu menu makanan bergiFi, menjaga kebugaran dengan berolahraga bersama dan kegiatan! kegiatan lain

BAB ). KESIMP/0A1

). Diagnosis pasien adalah Cutaneus "ar#a %igrans suspek T#/ kasus baru. 2. (aktor risiko Cutaneus "ar#a %igrans pada pasien adalah pekerjaan dan hobi yang sering kontak dengan habitat lar:a "a"ing seperti pasir dan tanah yang lembab, tidak mengenakan alas kaki saat kontak dengan tanah, kurangnya higiens, dan laki!laki yang lebih sering kontak dengan tanah. 3. (aktor risiko T#/ pada pasien adalah kontak dengan penderita suspek T#/. ,. Tatalaksana pada pasien meliputi aspek personal, family approach, dan community approach. .. Penatalaksanaan pada aspek personal meliputi plan diagnosis, ren"ana pengobatan, K-> (komunikasi, in$ormasi dan edukasi), monitoring dan e:aluasi. 8. Penatalaksanaa pada family approach meliputi edukasi mengenai $aktor risiko, perkembangan penyakit, pengobatan, pen"egahan penyakit /utaneus <ar:a 2igrans dan T#/, dukungan keluarga untuk pasien, $ungsi P2A pada pengobatan T#/, screening T#/ pada anggota keluarga lain, dan intake nutrisi yang adekuat. 6. Penatalaksanaan pada community approach meliputi memberian in$ormasi pada komunitas sekitar pasien mengenai penyakit, "ara penularan, bagaimana menghidari penularan, $aktor risiko penyakit cutaneus lar#a migrans dan T#/, dan pelaporan penyakit in$eksius pada pemerintah setempat.

!AF2AR P/S2AKA

+isah, %iti. 2776. Creeping Eruption dalam #uku -lmu Penyakit Kulit dan Kelamin >disi Kelima. 'akarta5 (K?+isah, %iti. 27)). Creeping Eruption dalam -lmu Penyakit Kulit Kelamin >disi 8. 'akarta5 #adan Penerbit (K?-. +min, Mulki$li. 2776. -u u A.ar Ilmu Penya it /alam 01 2I 'ilid -- >disi -C. 'akarta5 PP -PD (K?- Pusat. +min, M., #ahar, +. 2771. 3uber ulosis Paru dalam -u u A.ar Ilmu Penya it /alam 4ilid III Edisi 5. 'akarta5 -nterna Publishing #rooks, (.G.,et al., 277.. 2ikobakteria. In5 2udihardi, >.9., ed. %i robiologi 1edo teran. 'akarta5 Penerbit %alemba 2edika, ,.3!,8.. #udimulja ?. 2776. %i osis. Dalam5 Djuanda +, 9amFah 2, +isah %, editor. -lmu Penyakit Kulit dan Kelamin. >disi kelima. 'akarta5 (K?-. /onde, 'enni$er (., %te:en *. (eldman, Nuirina 2. Callejos, %ara +. Nuandt, <ara >. Ehalley, et al., 2776. Cutaneous "ar#a %igrans in a %igrant "atino 0arm6or er. 'ournal o$ +gromedi"ine, Col. )2 (2) Dahlan, Mul. 2771. Pneumoni dalam -u u A.ar Ilmu Penya it /alam 4ilid 7 Edisi 5 . 'akarta 5 -nterna Publishing Departemen Kesehatan *epublik -ndonesia. 2778. Pedoman 8asional Penanggulangan 3uber ulosis >disi 2 /etakan Pertama. 'akarta. Diandini, *., +mbar E. *oestam dan (aisal Hunus. 2771. Pengaruh Pe er.aan dengan Pa.anan /ebu Sili a terhadap $isi o 3uber ulosis Paru. %a.alah 1edo teran Indonesia, Colume5 .1 Djuanda. +,9amFah. +isah %. 277.. Ilmu penya it ulit dan elamin. >disi keempat, "etakan pertama, 'akarta5 #aai Penerbit (K?Dodiet, +ditya %. 2773. Epidemiologi Penya it 3ida %enular dan 0a tor $isi o . %urakarta5 Politekes Gerd P,Thomas '. 2773. Cutaneous "ar#a %igran. Terdapat dalam5 (itFpatri"kOs dermatology in general medi"ine 8th edPebookQ. @e 9ill. 9eryantoro, <ut:i. 27)2. Analisis 0a tor $isi o 1e.adian Creeping Eruption di 1abupaten 1ulon Progo Pro#insi /aerah Istime6a 9ogya arta. Hogyakarta5 ?G2 Hork 5 2" Gra

9udoyo, +., Prasenohadi dan %umardi. 27)2. 4urnal 3uber ulosis Indonesia. Per umpulan Pemberantasan 3uber ulosis Indonesia (PP3I!, Col. 3 -hromi, 277,. -unga $ampai Sosiologi 1eluarga. 'akarta 5 Hayasan Abor -ndonesia -rma, T., 2776. 1on#ersi Sputum -3A pada 0ase Intensif 3- Paru 1ategori Antara 1ombinasi /osis 3etap. 2edan5 (K ?%?. 'usy"h, <+. Douglas 2/. 2771. Cutaneous "ar#a %igrans: (#er#ie6, 3reatment and %edication. Diunduh dari 7;<=%en es=S =5=>??@ 3uber ulosis (3-!. Kemenkes *-. 27)). 1eputusan %enteri 1esehatan $epubli 8omor>A??=%en es=S1=BII=>?CC 8asional >?CC. 2uttaJin, +ri$. 2773. -u u A.ar Asuhan 1epera6atan 1lien dengan +angguanSistem Pernapasan. 'akarta 5 %alemba 2edika. hal 5 3) PDP-. 2772. 3uber ulosis Pedoman /iagnosis dan Penatala sanaan di Indonesia, 'akarta. Peris,2. 2773. Pruritic, serpiginous eruption in a returning tra#eller . /2+' )61. Diunduh dari5 http&&5 ."maj."a&"gi&"ontent&$ull&)61&)&.) Putranti, -smiralda A. 27)3. <e"ture Dermatomikosis. Purokerto 5 (K-K ?nsoed *ahma ati, -ndah. 27)3. <e"ture Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis 5 Pur okerto 5 (K-K ?nsoed %udoyo, +ru E. 2771. -u u A.ar Ilmu Penya it /alam 'ilid --- >disi C. 'akarta 5 -nternal Publishing %umanto, Didik. 27)7. 0a tor $isi o Cacing 3ambang pada Ana %emarang5 ?@D-P Tierney, 2, Papadakis. 2773. Cutaneous "ar#a %igran. Terdapat dalam5 /urrent medi"al diagnosis D treatment ,.th edPebookQ. %an (ran"is"o52" Gra 9ill. Se olah. 3entang /afar (bat Indonesia Esensial 3entang .emedi"ine."om. Pedoman Penanggulangan Kemenkes *-. 2771. 1eputusan %enteri 1esehatan $epubli Indonesia 8omor

Eerdhani, *etno +sti. 2772. Patofisiologi, /iagnosis, /an 1lafisi asi 3uber ulosis. 'akarta 5 Departemen -lmu Kedokteran Komunitas, Akupasi, Dan Keluarga (K?Eerdhani, *etno asti. 2771. Patofisiologi, /iagnosis, dan 1lasifi asi 3uber ulosis. 'akarta5 Departemen -lmu Kedokteran Komunitas, Akupasi, dan Keluarga (K ?-. Eibo o,Hudhi. 27)3. /iagnosis 'olisti (%ulti Aspe ! dan Penanganan 1omprehensif(Paripurna!. Pur okerto5 Kedokteran ?nsoed

0AP3RA1 PR3B0EM BASE! 0EAR1I14 5 B03K E E)

Tutor5 dr. D i +di Kelompok , *iandi /andra Prayoga Prakosa 'ati P Dinda -ka Putri Pretty @o:iannisa +l$iana /hoiriyani ? *obiah +l +da iyyah Tiyo @urakhyar 2. %a::yany %aputra >lena Eandantyas <uluk Kharisma %uryani %etya +ji Priyatna

@ugroho

G)+7))7,3 G)+7))7,1 G)+7))78, G)+7)))8. G)+7))762 G)+7))763 G)+7))738 G)+7))717 G)+7)))77 G)+7)))7, G)+771761

KEME12ERIA1 PE1!I!IKA1 1ASI31A0 /1I.ERSI2AS "E1!ERA0 S3E!IRMA1 FAK/02AS KE!3K2ERA1 !A1 I0M/(I0M/ KESE6A2A1 "/R/SA1 KE!3K2ERA1 P/R73KER23 5*)-