Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KHUSUS

NAMA : MOH. FAUZI HENDRAWAN


NIM : 03111003100
PARAMETER PROSES MIXING
Parameter proses yang mempengaruhi proses mixing :
1. Viskositas
Untuk nilai Viskositas, yang merupakan suatu bentuk kekentalan dari suatu
fluida dapat dikaitkan dalam mempengaruhi proses mixing yang terjadi pada fluida
tersebut. Hal itu dikarenakan, kekentalan suatu fluida akan dapat mempengaruhi
laju aliran yang ditimbulkan oleh separator.
Dimana untuk hal ini, dapat dimisalkan yang mana semakin kental atau
tinggi nilai viskositas suatu fluida maka akan semakin kecil laju aliran yang
dihasilkan dalam proses mixing tersebut dan demikian sebaliknya, yang mana
semakin kecil nilai viskositas suatu fluida atau semakin cairnya fluida tersebut
maka semakin besarlah nilai laju aliran yang dihasilkan oleh separator. Jadi dapat
disimpulkan nilai viskositas suatu fluida dapat berbanding terbalik dengan nilai laju
aliran yang dihasilkan oleh separator.
Viskositas adalah ukuran hambatan aliran yang ditimbulkan fluida bila
fuida tersebut mengalami tegangan geser. Biasanya diterima sebagai "kekentalan",
atau penolakan terhadap penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam
fluida kepada aliran dan dapat dipikir sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan
fluida. Air memiliki viskositas rendah, sedangkan minyak sayur memiliki
viskositas tinggi.
2. Kelarutan zat terlarut
Hal lain yang mempengaruhi atau sebagai parameter pada proses mixing
adalah kelarutan zat terlarut, yang mana semakin mudah zat tersebut untuk larut
maka semakin mudah juga untuk mempercepat proses mixing yang terjadi yang
digerakkan oleh motor, dan demikian sebaliknya dengan semakin besar nilai fraksi
yang mempersulit suatu fluida untuk melarutkan zar terlarutnya maka semakin
kecil nilai laju aliran yang diperoleh dari proses mixing. Hal ini dikarenakan
adanya faktor penghambat yang mempengaruh proses mixing tersebut, yang mana
untuk nilai kelarutan zat terlarut dapat berbanding terbalik dengan nilai atau besar
kecilnya laju aliran pada proses mixing. Faktor utama yang berpengaruh terhadap

mekanisme mixing ini antara lain adalah perubahan kondisi pengoperasian pada
proses produksi (penurunan tekanan, perubahan temperatur, laju alir, dsb),
percampuran dua jenis fluida yang mempunyai susunan mineral tidak sesuai,
adanya supersaturasi, penguapan (akibat dari perubahan konsentrasi), pengadukan
(agitasi, pengaruh dari turbulensi), waktu kontak antara padatan scale dengan
permukaan media pengendapan serta perubahan pH.
Mekanisme pembentukan endapan scale berkaitan erat dengan komposisi
fluidanya. misalkan saja air, mengandung ion-ion terlarut, baik itu berupa kation
(misalnya Na+, Ca2+, Mg2+, Ba2+, Sr2+, Fe3+), maupun anion (seperti Cl-, HCO3-,
SO42- dan CO32-). kation dan anion yang terlarut dalam air akan membentuk
senyawa yang mengakibatkan terjadinya proses kelarutan (solubility). kelarutan ini
didefinisikan sebagai batas/limit suatu zat yang dapat dilarutkan dalam zat pelarut
pada kondisi fisik tertentu. proses terlarutnya ion-ion dalam air merupakan fungsi
dari tekanan, temperatur serta waktu kontak (contact time) antara air dengan media
pembentukan. air mempunyai batas kemampuan dalam menjaga senyawa ion-ion
tersebut tetap dalam larutan, sehingga pada kondisi tekanan dan temperatur
tertentu, dimana harga kelarutan terlampaui, maka senyawa tersebut tidak akan
terlarut lagi, melainkan terpisah dari pelarutnya dalam bentuk padatan. dalam
proses produksi, perubahan kelarutan terjadi seiring dengan penurunan tekanan dan
perubahan temperatur selama produksi. perubahan angka kelarutan pada tiap zat
terlarut dalam air/fluida akan menyebabkan terganggunya keseimbangan dalam
sistem fluida, sehingga akan terjadi reaksi kimia antara ion positif (kation) dan ion
negatif (anion) dengan membentuk senyawa endapan yang berupa kristal.
Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat.
Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut,
seperti perak klorida dalam air. Istilah tak larut (insoluble) sering diterapkan pada
senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang
benar-benar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik
kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang
disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.

3. Densitas Fluida
Densitas fluida adalah massa persatuan volume, dinyatakan kg/m3. Densitas
fluida berbeda-beda tergantung dari jenis fluidanya. Pada beberapa jenis fluida,
densitas berbedabeda tergantung dari temperatur dan tekanannya. Jika densitas
fluida tidak tergantung pada tekanan, fluida itu dinamakan fluida incompresible.
Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme perpindahan momentum di
dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen, pencampuran terjadi pada 3 skala yang
berbeda, yaitu:
1. Pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan ( bulk flow ) yang disebut
mekanisme konvektif.
2. Pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan tercampakkan
di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies, sehingga mekanisme
pencampuran ini disebut eddy diffusion.
3. Pencampuran karena gerak molekular yang merupakan mekanisme pencampuran difusi.
Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling menentukan adalah eddy
diffusion.
Mekanisme ini membedakan pencampuran dalam keadaan turbulen dengan
pencampuran dalam medan aliran laminer. Sifat fisik fluida yang berpengaruh pada proses
pengadukan adalah densitas dan viskositas. Secara khusus, proses pengadukan
dan pencampuran digunakan untuk mengatasi tiga jenis permasalahan utama, yaitu:
a. untuk menghasilkan keseragaman statis ataupun dinamis pada sistem multifase
multi komponen
b. untuk memfasilitasi perpindahan massa atau energi di antara bagian bagian dari
sistem yang tidak seragam
c. untuk menunjukkan perubahan fase pada sistem multi komponen dengan atau tanpa
perubahan komposisi.
Aplikasi pengadukan dan pencampuran bisa ditemukan dalam rentang yang luas,
diantara dalam proses suspensi padatan, dispersi gas-cair, cair-cair maupun padat-cair,
kristalisasi, perpindahan panas, dan reaksi kimia.
Densitas diartikan sebagai masa per satuan volumenya dan umumnya
disimbolkan . Fluida gas mempunyai densitas yang berbeda pada setiap tingkat

tekanannya. Sedangkan cairan umumnya tidak berubah secara signifikan. Gravitasi


spesifik digambarkan sebagai rasio atau perbandingan densitas material itu sendiri
dengan densitas air dan disimbolkan dengan w. Sedangkan volume spesifik
dijabarkan sebagai jumlah volume setiap satuan masanya.
4. Laju dan Waktu Pencampuran
Waktu pencampuran (mixing time) adalah waktu yang dibutuhkan sehingga diperoleh
keadaan yang homogen untuk menghasilkan campuran atau produk dengan kualitas yang telah
ditentukan. Sedangkan laju pencampuran (rate of mixing) adalah laju di mana
prosespencampuran berlangsung hingga mencapai kondisi akhir. Pada operasi pencampuran
dalam tangki berpengaduk, waktu pencampuran ini dipengaruhi oleh beberapa hal:
1.

Faktor yang berkaitan dengan alat, seperti :


a.

ada tidaknya baffle atau cruciform baffle

b.

bentuk atau jenis pengaduk (turbine, propeler, dan padel)

c.

ukuran pengaduk (diameter, tinggi)

d.

laju putaran pengaduk

e.

kedudukan pengaduk pada tangki, seperti:


1) jarak pengaduk terhadap dasar tangki
2) pola pemasangannya:- center, vertikal- off center, vertikal-miring (incline)
dari atas- horizontal

f. jumlah daun pengaduk


g. jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk
2.

Faktor yang berhubungan dengan cairan yang diaduk:


a. Perbandingan kerapatan/ densitas cairan yang diaduk
b. perbandingan viskositas cairan yang diaduk
c. jumlah kedua cairan yang diaduk
d. jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible)
Faktor-faktor tersebut dapat dijadikan variabel yang dapat dimanipulasi untuk mengamati

pengaruh setiap faktor terhadap karakteristik pengadukan, terutama terhadap waktu


pencampuran.Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengadukan dan pencampuran
diantaranya ialah perbandingan antara geometri tangki dengan geometri pengaduk, bentuk
dan jumlah pengaduk, posisi sumbu pengaduk, kecepatan putaran pengaduk,

penggunaan sekat dalam tangki dan juga properti fisik fluida yang diaduk yaitu densitas dan
viskositas. Oleh karena itu, perlu tersedia seperangkat alat tangki berpengaduk yang bisa
digunakan untuk mempelajari operasi dari pengadukan dan pencampuran tersebut.
Dalam hal ini pengaduk sangat berperan dalam proses pencampuran.
5. Konduktivitas Termal
Konduktivitas atau keterhantaran termal adalah suatu besaran intensif bahan
yang menunjukkan kemampuannya untuk menghantarkan panas. Konduksi termal
adalah suatu fenomena transport di mana perbedaan temperatur menyebabakan
transfer energi termal dari satudaerah benda panas ke daerah yang sama pada
temperatur yang lebihrendah. Panas yang di transfer dari satu titik ke titik lain
melalui salahsatu dari tiga metoda yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
Dalam proses pencampuran konduktivitas termal sangat berperan apabila di
dalam proses pencampuran itu terdapat perpindahan panas. Perpindahan panas
yang terjadi dalam proses pencampuran akan mempercepat proses pencampuran itu
sendiri.
6. Ukuran Partikel Solid
Semakin besar ukuran partikel solid yang akan di mixing maka akan
membutuhkan waktu yang semakin lama untuk proses pencampuran. Maka dari itu,
sebelum memulai proses pencampuran sebaiknya ukuran partikel solid yang ada
tidak terlalu besar karena akan menghambat proses pencampuran.
Pada proses pencampuran bahan padat ukuran partikel dan distribusi ukuran
partikel penting karena sangat menetukan besarnya gaya, gravitasi, dan inersial
yang dapat menyebabkan gerakan relatif antar partikel terhadap gaya permukaan
yang menahan gerakan tersebut. Sebagai akibat gaya antarpartikel yang tinggi, jika
dibandingkan dengan gaya gravitasi hanya sedikit serbuk-serbuk yang ukuran
partikelnya rata-rata kurang dari 10 mikrometer yang mengalir bebas. Kerapatan
partikel, elastisitas, kekasaran permukaan, dan bentuk juga memberikan pengaruh
pada sifat-sifat bulk serbuk. Dari semua ini, bentuk partikel merupakan variabel
yang paling sulit untuk digambarkan, dan biasanya dinyatakan dengan kuantitas
skalar yang dikenal dengan faktor bentuk.

DAFTAR PUSTAKA
Kurniawan, Rahmad. 2011. Pengadukan dan Pencampuran. (online).
http://tekimku.blogspot.com/2011/08/pengadukan-dan-pencampuran.html
(diakses pada tanggal 11 Maret 2014).
Saputra, Satriya. 2013. Pencampuran. (online).
http://satriyasaputra.blogspot.com/2013/09/pencampuran-mixing.html (diakses
pada tanggal 11 Maret 2014).
Septian, Rangga. 2013. Presentasi Fluid Mixing. (online).
http://www.scribd.com/doc/170793100/Presentasi-Fluid-Mixing (diakses pada
tanggal 11 Maret 2014).