Anda di halaman 1dari 21

INFARK MIOCARD ACUTE

Pembimbing : dr. Dian Zamroni, Sp.JP

PENDAHULUAN

Coronary Artery Disease (CAD) atau dikenal juga dengan Coronary Heart Disease (CHD)/Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kondisi dimana terjadi penyempitan arteri koroner. Penyempitan tersebut dapat disebabkan antara lain aterosklerosis, berbagai jenis arteritis, emboli koronaria, dan spasme sehingga menyebabkan terbatasnya aliran darah yang mengalir dalam arteri koroner. Akibat dari terbatasnya suplai darah pada jantung adalah iskemia, sehingga CAD juga terkadang disebut Ischemic Heart Disease (IHD)(13,14). Gejala dari IHD pertama kali : angina pectoris yang berasal dari bahasa Latin yaitu angere yang berarti tercekik atau tertekan dan pectoris yang berarti dada.

Sensus nasional tahun 2001 menunjukkan bahwa kematian karena penyakit kardiovaskuler termasuk penyakit jantung koroner adalah sebesar 26,4 %, dan sampai dengan saat ini PJK juga merupakan penyebab utama kematian dini pada sekitar 40% dari sebab kematian lakilaki usia menengah(4). pada tahun 2009 tetap menduduki urutan pertama sebagai sebab kematian di Indonesia(17).

TINJAUAN PUSTAKA
Infark Miokard Akut adalah oklusi koroner akut disertai iskemia yang berkepanjangan yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan sel dan kematian (infark) miokard. Infark Miokard Akut terjadi akibat penyumbatan sebagian atau total, satu atau lebih pembuluh darah koroner. Akibat adanya penyumbatan ini, terjadi gangguan pasokan suplai energi kimiawi ke otot jantung (miokard), sehingga terjadilah gangguan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan.

Penyakit jantung koroner merupakan salah satu faktor resiko yang sering terjadi pada infark miokard, selain itu faktor resiko yang menyebabkan infark miokard seperti hipertensi, dislipidemia, diabetes. Sejumlah faktor resiko lain yang berkaitan dengan gaya hidup pada penyakit jantung koroner juga dapat menjadi faktor resiko dari infark miokard seperti stres, obesitas, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik.

TANDA DAN GEJALA


IMA tanpa elevasi ST Gejala klinis yang mungkin muncul pada kasus infark miokard akut adalah nyeri dada substernal atau kadangkala di epigastrium dengan ciri seperti diperas, perasaan seperti diikat, perasaan terbakar, nyeri tumpul, rasa penuh, berat atau tertekan, menjadi presentasi gejala yang sering ditemukan pada NSTEMI. NSTEMI onset baru angina berat atau terakselerasi memiliki prognosis lebih baik dibandingkan dengan yang memiliki nyeri pada waktu istirahat. gejala khas rasa tidak enak didada iskemia pada NSTEMI telah diketahui dengan baik, gejala tidak khas seperti dispneu, mual, diaphoresis, sinkop atau nyeri di lengan, epigastrium, bahu atas, atau leher kelompok usia yang lebih besar pada pasien-pasien berusia lebih dari 65 tahun. 1

IMA dengan elevasi ST Infark miokard dengan elevasi gelombang ST adanya keluhan nyeri dada, yang hampir Dirasakan pada saat pagi hari dalam beberapa jam setelah bangun tidur Setengah kasus terjadi akibat aktivitas fisik berat, stress emosi, penyakit medis atau bedah.. Nyeri dada merupakan petanda awal dalam kelainan utama ini.4,10

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Anamnesis STEMI Nyeri dada tipikal (angina) merupakan gejala cardinal pasien IMA. Sifat nyeri dada angina sebagai berikut : Lokasi : substernal, retrosternal, dan prekordial. Sifat nyeri : rasa sakit,seperti ditekan, rasa terbakar, ditindih benda berat, seperti ditusuk, rasa diperas, dan dipelintir. Penjalaran : biasanya ke lengan kiri, dapat juga ke leher, rahang bawah, gigi, punggung/interskapula, perut, dan dapat juga ke lengan kanan. Nyeri membaik atau hilang dengan istirahat, atau obat nitrat. Faktor pencetus : latihan fisik, stres emosi, udara dingin, dan sesudah makan. Gejala yang menyertai : mual, muntah, sulit bernapas, keringat dingin, cemas dan lemas.1, 4

NSTEMI nyeri dengan lokasi khas yaitu substernal atau terkadang juga di epigastrium dengan ciri seperti terbakar diperas, seperti diikat, nyeri tumpul, rasa penuh, atau tertekan. Berdasarkan gambaran klinis dapat menunjukan bahwa onset baru

Pemeriksaan Fisik STEMI


Tampak

cemas Tidak dapat istirahat (gelisah) Ekstremitas pucat disertai keringat dingin * jika > 30 menit dicurigai STEMI Takikardia dan/atau hipotensi Brakikardia dan/atau hipotensi S4 dan S3 gallop murmur midsistolik atau late sistiolik apical yang bersifat sementara Penurunan intensitas bunyi jantung pertama Split paradoksikal bunyi jantung kedua. Peningkatan suhu sampai 38C dalam minggu pertama. 1, 4

Elektrokardiogram (Gambaran khas)


STEMI gelombang Q yang besar Perubahan gelombang Q disebabkan oleh jaringan yang mati Elevasi segmen ST 2mm, miniman 2 pada 2 sandapan prekordinal yang berdampingan atau 1 mm pada 2 sandapan ekstrimitas. kelainan segmen St disebabkan oleh injuri otot Inversi gelombang T kelainan gelombang T karena iskemia.

NSTEMI spesifik berupa deviasi segmen ST merupakan hal penting yang menentukan resiko pada pasien

BIOMARKER NSTEMI : Biomarker kerusakan miokard : troponin T atau I merupakan penanda kerusakan yang lebih disukai STEMI : Pertanda (biomarker) kerusakan jantung : pemeriksaan yang dianjurkan adalah kreatinin kinase (CK)MB dan cardiac specific troponin (cTn)T dan dilakukan secara serial

BIOMARKER

CKMB : meningkat setelah 3 jam bila ada infark miokard dan mencapai puncak dalam 10-24 jam dan kembali normal dalam 24 hari. cTn : ada dua jenis, yaitu cTn T dan cTn I. Enzim ini meningkat setelah 2 jam bila ada infark miokard dan mencapai puncak dalam 10-24 jam dan cTn T masih dapat dideteksi setelah 5-14 hari, sedangkan cTn I setelah 5-10 hari. Mioglobin : dapat dideteksi satu jam setelah infark dan mencapai puncak dalam 4-8 jam. Ceratinin Kinase (CK) : meningkat setelah 3-8 jam bila ada infark miokard dan mencapai puncak dalam 10-36 jam dan kembali normal dalam 3-4 hari. Lactic dehydrogenase (LDH) : meningkat setelah 24-48 jam bila ada infark miokard, mencapai puncak 3-6 hari dan kembali normal dalam 8-14 hari.1, 4

PATOGENESIS

PATOFISIOLOGI

FARMAKOLOGI

Morfin Morfin sangat efektif mengurangi nyeri. Dosis 2-4 mg dan dapat diulang dengan interval 5-15 menit sampai dosis total 20 mg. Efek samping : konstriksi vena dan arteriolar melalui penurunan simpatis, sehingga terjadi pooling vena yang akan mengurangi curah jantung dan tekanan arteri.1,4 Penyekat beta Tujuan pemberian penyekat beta adalah memperbaiki keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, mengurangi nyeri, mengurangi luasnya infark dan menurunkan risiko kejadian aritmia vebtrikel yang serius.1, 4 Antitrombotik Tujuan primer pengobatan adalah untuk mendapatkan dan mempertahankan patensi arteri koroner yang terkait infark. Tujuan sekunder adalah menurunkan tendensi pasien menjadi trombosis.1, 4 Inhibitor ACE Obat-obatan ini menurunkan tekanan darah dan mengurangi cedera pada otot jantung. Obat ini juga dapat digunakan untuk memperlambat kelemahan pada otot jantung. 1, 4

NONFARMAKOLOGI
Aktivitas : pasien harus istirahat dalam 12 jam pertama. Diet : pasien harus puasa atau hanya minum cair dengan mulut dalam 4-12 jam pertama. Diet mencakup lemak <30% kalori total dan kandungan kolesterol <300 mg/hari. Menu harus diperkaya dengan makanan yang kaya serat, kalium, magnesium dan rendah natrium.1,4

KOMPLIKASI

Aritmia supraventrikular Gagal jantung Sistole prematur ventrikel

KESIMPULAN

Infark Miokard Akut adalah oklusi koroner akut dengan iskemia yang berkepanjangan yang pada akhirnya menyebabkan kerusakan sel dan kematian (infark) miokard. Faktor resiko infark miokard antara lain: 1. Penyakit jantung koroner 2. Hipertensi 3. Dislipidemia 4. Diabetes Gaya hidup, seperti stres, obesitas, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik. Berdasarkan perbedaan gejala dan tandanya, infark miokard akut dapat dibagi menjadi IMA tanpa elevasi ST dan IMA dengan elevasi ST.

Diagnosis ditegakkan melalui beberapa pemeriksaan: Anamnesis Pemeriksaan fisik Elektrokardiogram: timbulnya gelombang Q yang besar, elevasi segmen ST dan inversi gelombang T. Pemeriksaan laboratorium: CKMB, cTn, mioglobin, Ceratinin Kinase (CK) dan Lactic dehydrogenase (LDH) Obat IMA yang umum digunakan biasanya berasal dari golongan: Morfin Penyekat beta Antitrombotik Inhibitor ACE Untuk terapi pengobatan non farmakologis, penderita IMA seharusnya melakukan aktivitas (berolahraga) dan pengaturan pola makan diet yaitu puasa atau hanya minum cair dengan mulut dalam 4-12 jam pertama. Diet lemak <30% kalori total dan kandungan kolesterol <300 mg/hari.