Anda di halaman 1dari 7

1

MAKALAH

DEMOKRAT ISLAMIS:

Proyek Islamisasi Kaum Muda1*


BURHANUDDIN MUHTADI 2

Postur demogra negara-negara maju yang menginjak fasememinjam istilah Ronald Inglehartpost-materialist society saat ini dihadapkan pada masalah penuaan penduduk (aging society). Sebaliknya, negaranegara dunia berkembang di kawasan selatan seperti Indonesia justru mengalami gejala sebaliknya. Jumlah penduduknya tak meleset jauh dari prediksi karena tingkat fertilitas tak banyak berubah dalam jangka panjang. Angka fertilitas di Indonesia sekarang ini 2,6. Artinya, rata-rata perempuan memiliki dua anak. Tanpa ada usaha pembatasan jumlah penduduk secara sistematik, maka dalam dua dasawarsa ke depan, tingkat kelahiran anak diprediksi masih berada di atas 2,0. (Sumual, 2011). Memang masalah-masalah sosial akan muncul akibat membengkaknya angka fertilitas. Namun, tingkat fertilitas akan mendorong munculnya akibat tak terduga (unintended consequence) yang disebut era bonus demogra (demographic dividend), yang secara teoretik, memiliki dampak positif terhadap ekonomi (Sumual, 2011). Jumlah penduduk usia muda cenderung meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia produktif yang berusia 1565 tahun akan meningkat 17,1% dalam waktu 15 tahun ke depan. Rasio kelompok usia produktif juga diprediksi terus meningkat. Berdasarkan Sensus BPS pada 2010, penduduk Indonesia berdasarkan kelompok umur 014 tahun sebesar 28,8%, 1539 tahun sebesar 32,3%, 4049 tahun sebanyak 12,9%, dan berusia 50 tahun ke atas sebanyak 16,1%. Jadi ada separuh penduduk Indonesia yang berusia di bawah 30 tahun. Inilah salah satu signikansi survei yang dilakukan FNS-Goethe InstitutLSI pada 1826 November 2010. Selain karena jumlah pemuda yang secara statistik besar, sejauh ini memang belum ada studi sistematik untuk melihat pandangan, sikap, tata nilai dan gaya hidup kaum muda di seluruh provinsi di Indonesia. Populasi survei adalah adalah kaum muda yang

1 *

Makalah untuk diskusi Cita-cita dan Impian Pemuda Muslim: Perbandingan Indonesia dan Malaysia di Serambi Salihara, Kamis, 16 Februari 2012, 19:00 WIB. Makalah ini telah disunting. Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Pengajar FISIP UIN Jakarta.
Makalah Diskusi | Februari 2012

berumur 1525 tahun di seluruh Tanah Air, dari Aceh sampai Papua. Sampel sebanyak 1.496 dipilih secara acak lewat metode multistage random sampling dengan terlebih dahulu menetapkan proporsionalitas populasi yang tinggal di daerah pedesaan dan perkotaan, proporsi lakilaki dan perempuan, dan proporsi populasi di seluruh provinsi. Margin of error dari survei ini adalah +/- 2,6% pada tingkat kepercayaan 95%. Wawancara dilakukan dengan cara tatap muka dengan responden. Spotcheck dilakukan terhadap 20% responden setelah seluruh wawancara selesai, yang dipilih secara acak, dan dilakukan oleh koordinator wilayah dan tim dari pusat untuk memastikan bahwa wawancara telah dilakukan dengan benar. Untuk keperluan analisis, kami hanya mengolah data responden yang beragama Muslim.

Sikap dan Perilaku Islamis


Salah satu tujuan survei ini adalah ingin memotret benturan tata nilai antara Islamisme dan demokrasi. Bagaimana sikap mereka terhadap politik dan agama? Sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia terbuka bagi pertarungan gagasan dan kepentingan antara pihak-pihak yang ingin menegakkan teokrasi, menolak demokrasi hingga kelompok Muslim yang bisa menerima demokrasi dan negara-bangsa. Bagi kaum muda Muslim, kompetisi gagasan tersebut adalah sumber ketegangan dan kebingungan. Terlebih lagi, secara sosiotropik, evaluasi kaum muda terhadap kondisi nasional juga campur-aduk. Hasil skoring yang mengatakan baik dikurangi buruk menunjukkan evaluasi politik nasional minus 20% dan kondisi penegakan hukum juga minus 11%. Evaluasi kaum muda Muslim terhadap kondisi ekonomi nasional kita juga memburuk (-23%). Namun demikian, evaluasi mereka terhadap keamanan nasional positif (21%). Demikian pula persepsi mereka pelaksanaan pemerintahan (29%). Inilah yang menyebabkan terdapat 26% responden yang memandang suram masa depan bangsa, 32% merasa optimistis, dan 39% kaum muda merasakan perasaan campur-baur antara optimistis dan gelap dalam melihat prospek ke depan. Bila ditabulasi silang berdasarkan kategori desa-kota, optimisme kaum muda perkotaan lebih rendah ketimbang di desa. Sebagian besar kaum muda Muslim yang tinggal perkotaan mengalami campuraduk. Barangkali faktor Social Economic Status (SES) membuat mereka lebih kritis ketimbang pemuda dari desa. Ekspektasi mereka lebih tinggi karena tingkat pendidikan yang lebih baik, tapi secara faktual harapan itu tidak terealisasi di lapangan. Bisa juga karena didorong iklim kompetisi yang lebih kuat di perkotaan membuat mereka merasa tertekan secara sosial dan psikologis. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan transisi politik yang tak kunjung stabil, identitas agama menjadi pegangan penting. Sebanyak 47,5% responden menyatakan dirinya pertama-tama sebagai seorang

Makalah Diskusi | Februari 2012

Muslim, dibandingkan 40,8% yang melihat diri mereka sebagai warga negara Indonesia. Sementara, hanya 10,7% responden yang memandang dirinya dengan identitas etniknya. Mayoritas responden yang mengedepankan identitas kemuslimannya tinggal di kota, berpenghasilan tinggi dan berpendidikan universitas. Sebaliknya, responden desa, laki-laki dan berpendapatan bawah, atau kurang dari Rp 400.000 per bulan, lebih cenderung memandang dirinya sebagai orang Indonesia, sedangkan perempuan dengan pendidikan dasar yang cenderung menonjolkan identitas kesukuan mereka. Banyaknya proporsi kaum muda Muslim yang tinggal di kota, bahkan dengan latar belakang keluarga menengah-atas, yang menonjolkan identitas kemusliman mereka, mencerminkan pentingnya Islam sebagai sumber kekuatan dan energi positif untuk mengarungi hidup di perkotaan yang semakin keras, majemuk, dan kompetitif. Pada titik, identitas agama menjadi salah satu faktor diferensiasi bagi warga kota yang heterogen. Identitas kemusliman tersebut menjadi elemen penting dari Islamisme, terutama terkait dengan identitas yang mengacu pada kultur Islamisme, yakni sebuah keyakinan bahwa Islam memiliki seperangkat norma atau ajaran yang komprehensif dan superior yang bisa dijadikan sebagai cetak biru (blue-print) untuk ketertiban atau aturan sosial. Oleh karena itu, kaum Islamis di mana pun berada berusaha mengganti aturan sosial-politik yang ada dengan norma atau ajaran yang didasarkan pada tafsir tertentu atas ajaran Islam. Hal ini bisa ditempuh melalui aksi-aksi damai atau kekerasan tergantung oleh sistem nilai yang diyakini oleh aktor-aktor gerakan Islamis. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kultur Islamis harus bertemu dengan kondisi sosial tertentu agar bisa berkembang. Kondisi sosial ini adalah runtuhnya tatanan sosial-politik yang bertumpu pada normanorma sekuler akibat dari perubahan sosial yang cepat, modernisasi, dan lebih spesik lagi sekularisasi. Gerakan Islam adalah reaksi menentang disorder sosial, runtuhnya pengaruh norma-norma Islam yang berfungsi sebagai pengikat masyarakat (Keddie, 1988; Arjomand, 1988; Jackson, 1980). Namun demikian harus diakui bahwa sekularisasi merupakan gejala umum di sebagian besar negaranegara Muslim sekarang ini. Karena itu, ancaman sekularisme dalam masyarakat Muslim harus diletakkan dalam konteks lain untuk memahami kemunculan Islamisme secara lebih realistik. Setidaknya terdapat dua indikator Islamisme, yakni pada level sikap atau dukungan terhadap agenda-agenda Islamisme dan pada tingkat perilaku. Dalam studi LSI-FNS-Goethe, pada tingkat sikap, dukungan kaum muda Muslim terhadap hukum potong tangan bagi pencuri terbelah: 49% setuju berbanding 50% responden yang tidak setuju penerapan hukum potong tangan. Dalam hal hukum qishas bagi pembunuh, mayoritas kaum muda setuju (67%). Demikian pula 68,5% responden sepakat agar peminum alkohol dihukum cambuk. Faktor domisili desa-kota tidak bisa menjelaskan

Makalah Diskusi | Februari 2012

perbedaan dukungan atas agenda-agenda Islamisme tersebut. Namun, dukungan responden yang berpendidikan tinggi terhadap hukum potong tangan, qishas dan cambuk cenderung lebih rendah ketimbang kaum muda dengan pendidikan menengah ke bawah. Di sisi yang lebih ekstrem, 38,1% responden mengatakan bahwa jilbab diwajibkan untuk wanita, 20,8% mempersilakan perempuan yang memutuskan, 17,8% jilbab dinilai melindungi perempuan dari pandangan nakal kaum lelaki, 9% jilbab dianggap meningkatkan status perempuan, 7,1% jilbab sekadar fashion, sisanya jawaban lain. Ketika ditanyakan persetujuan terhadap pernyataan seputar boleh-tidaknya minum bir asal tidak memabukkan, mengkomsumsi mariyuana, seks sebelum menikah, boleh tidak menonton lm atau video porno, boleh tidak menjadi gay atau lesbian, pada tingkat sikap sebagian besar responden menyatakan penolakannya. Sebagian besar responden juga tidak setuju pacar atau istrinya kelak mengenakan bikini atau tanktop, meski proporsi responden laki-laki yang setuju sedikit lebih besar ketimbang perempuan. Dalam hal pendidikan seks di sekolah sebanyak 57,2% responden menolak keras. Tapi yang menarik, menyangkut poligami, suatu topik yang diperdebatkan secara luas, hanya 13,5% dari responden yang menyatakan persetujuan mereka. Islamisme juga bisa dilihat dari kecenderungan kaum muda Muslim dalam mempersepsi pembingkaian transnasional Islam (Islamist transnational framing), terutama isu-isu yang terkait dengan isu-isu internasional. Sebagian besar responden setuju Amerika Serikat menghentikan dukungannya ke Israel. Mayoritas kaum muda Muslim juga menyatakan serangan Amerika Serikat ke Afghanistan tidak bisa dibenarkan sama sekali. Mereka juga yakin bahwa selama konik Israel dan Palestina tak bisa dituntaskan, maka tak ada perdamaian di muka bumi. Mereka juga menolak argumen bahwa kartun tentang Nabi Muhammad yang dimuat sebuah media di Denmark bagian dari kebebasan berekspresi. Namun, dukungan kaum muda Muslim terbelah menyangkut hak Iran untuk memiliki senjata nuklir. Proporsi kaum muda yang menilai Amerika Serikat sebagai musuh Islam, meski cukup besar (30%), belum sampai membentuk kekuatan mayoritas. Sebanyak 60,4% responden juga yakin Barrack Obama mampu mengurangi ketegangan antara Dunia Barat dan Muslim. Bahkan terdapat 50% responden yang lebih menyukai Amerika Serikat sejak dipimpin oleh Obama. Adapun perilaku atau tindakan Islamis biasanya diamati melalui sejumlah indikator: pernah atau bila ada kesempatan bersedia melakukan atau merencanakan razia orang atau kelompok orang yang dipandang berperilaku bertentangan dengan syariat Islam, demonstrasi menentang kelompok yang dinilai menodai ajaran Islam, melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain, dan atau menyumbang dana bagi perjuangan menegakkan syariat Islam. Perilaku Islamis juga bisa digali melalui partisipasi warga muslim dalam pemboikotan atas barang atau jasa yang dipersepsikan tidak sesuai dengan norma-norma Islam,
Makalah Diskusi | Februari 2012

rapat/pertemuan umum atau demonstrasi untuk menunjukkan solidaritas terhadap penderitaan umat Islam di berbagai belahan dunia seperti isu Palestina, Kashmir, Afghanistan dan lain-lain. Namun sayangnya, survei LSI-FNS-Goethe tidak menanyakan indikator-indikator perilaku Islamisme di atas. Hal ini karena referensi studi ini lebih mengacu pada instrumen Studi Kepemudaan Shell yang sejak 1953 diadakan setiap lima tahun sekali di Jerman. Aksi sweeping dan penyerangan terhadap rumah ibadah umat lain maupun tempat yang dianggap maksiat hampir tidak pernah terjadi. Sementara di Indonesia pasca-reformasi, muncul gerakan-gerakan Islamis vigilante yang rajin melakukan tindakan-tindakan di atas. Akhirnya kita tak bisa memotret partisipasi kaum muda dalam kegiatankegiatan Islamis, baik yang bersifat actual maupun potential behavior. Isu-isu lain yang menunjukkan kaum muda Muslim kita makin religius adalah ketika membahas orientasi keagamaan. Mereka menilai kepercayaan terhadap Tuhan dan beragama dengan taat lebih penting daripada berhasil di dalam karier, sukses, perkawinan, teman atau menikmati hidup. Di sisi lain, bimbingan agama memainkan peran yang penting di dalam membangun religiusitas kaum muda Muslim: 71,5% responden berasal dari keluarga yang beragama, sedangkan 16,7% berasal dari rumah tangga yang sangat taat. Hanya 10,1% responden yang mengaku bahwa mereka berasal dari keluarga yang kurang religius. Bagaimanapun faktor keluarga menjadi agensi sosialisasi yang memepengaruhi perkembangan pribadi kaum muda Muslim. Pandangan khas atas tafsir tertentu mengenai pernikahan beda agama juga diamini oleh kaum muda Muslim. Sebanyak 90,1% responden tidak mau menikah beda agama. Hanya 9,3% responden yang setuju pernikahan beda agama. Namun, dari mereka yang setuju nikah beda agama, 69,7% mengatakan bahwa calon suami atau isteri mereka harus memeluk Islam dulu kalau ingin berumah tangga dengan mereka. Sebanyak 27% dari responden yang setuju nikah beda agama mempersilakan suami atau istrinya untuk tetap memeluk agama mereka sebelumnya. Ada 1,6% responden yang bersedia mengikuti agama calon istri maupun calon suami yang akan mereka nikahi.

Demokrat Islamis
Terlepas dari temuan survei yang menunjukkan tingginya dukungan terhadap agenda-agenda Islamisme sebagaimana dijelaskan di atas, secara normatif dukungan mereka terhadap demokrasi relatif tinggi. Misalnya, 72,7% kaum muda Muslim setuju bahwa rakyat memiliki kekuasaan untuk mengganti pemerintahan yang tidak mereka sukai; 88,9% responden setuju rakyat harus bebas bersuara dan mengeluarkan kritik-kritiknya tanpa rasa takut, 66,3% setuju bahwa demokrasi yang baik membutuhkan partai oposisi; 64,9% responden tidak setuju hanya orang yang berduit saja yang sukses di dunia politik; 71,9%

Makalah Diskusi | Februari 2012

responden tidak setuju dengan pernyataan bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin yang baik bagi bangsa ini. Sebanyak 82,9% kaum muda juga setuju agar pemerintah memperlakukan suku-suku yang berbeda secara sama dan adil. Namun ada 61,5% responden setuju orang kuat harus mampu membawa ketertiban bagi bangsa. Secara normatif, pandangan positif terhadap demokrasi di atas membuktikan kaum muda kita bisa menerima nilai-nilai demokrasi. Hanya saja, instrumen survei tidak menggali lebih jauh terkait dengan toleransi terhadap perbedaan agama, budaya, dan pandangan politik. Juga dukungan terhadap kesetaraan sesama warga negara dalam kehidupan publik dan di hadapan hukum apa pun latar belakang agama mereka. Bagaimanapun juga Islam adalah sistem nilai yang maknanya diperebutkan (contested) oleh berbagai kelompok Islam sendiri. Tak ada monopoli tafsir terhadap Islam. Kelompok mana yang memenangkan pertarungan tersebut hingga menjadi pandangan yang dominan tentang relasi Islam dan demokrasi, maka akan menentukan dinamika politik komunitas Muslim. Kontestasi ini tentu saja telah melahirkan cukup banyak varian tentang hubungan Islam dan demokrasi, dari yang mempertentangkan hingga yang mengidentikkan antara keduanya. Kubu Islamis parlementer yang menerima demokrasi dan bermain dalam sistem politik demokratis misalnya, belakangan banyak yang memenangkan politik elektoral seperti di Turki, Mesir, dan Tunisia. Sejumlah studi dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan satu varian menarik, yakni demokrat Islamis, yakni warga Muslim yang mendukung dan menjalankan demokrasi, setidaknya demokrasi elektoral, tetapi tetap memperteguh identitas dan agenda-agenda Islam yang eksklusif bagi kehidupan publik (Mujani, 2003). Istilah demokrat Islamis, bagi kubu intelektual yang memandang curiga terhadap kultur Islamis seperti Samuel Huntington, Bernard Lewis dan Bassam Tibi, adalah suatu contradictio interminis, (pengertian kontradiktif di dalam dirinya). Islamisme, menurut kubu ini, adalah anti-demokrasi. Demokrasi bukanlah tujuan itu sendiri. Kaum Islamis yang menerima demokrasi dianggap sekadar mengamalkan one man, one vote, one time, yang menyindir motif tersembunyi mereka yang akan memberangus demokrasi dan diganti dengan sistem teokrasi jika mereka menang pemilu. Di sisi lain, seorang demokrat adalah individu atau sekelompok orang yang bukan saja menilai demokrasi sebagai sistem terbaik dan bersifat prosedural, tapi juga yang berkaitan dengan kebebasan sipil seperti penghargaan terhadap kebebasan individu, toleran terhadap perbedaan, kesamaan hak di hadapan hukum, dan lain-lain. Di samping itu, seorang demokrat adalah suporter utama kehidupan publik yang diatur atas norma-norma universal, bukan norma-norma dari suatu agama tertentu. Sebab, bila norma-norma dari suatu agama tertentu yang menjadi dasar kehidupan publik, tak terbayangkan bagaimana pluralisme, toleransi, dan kesetaraan sesama warga yang berbedabeda agama yang asasi itu dapat dilaksanakan (Mujani, 2003). Hal ini tentu bertentangan secara diametral dengan prinsip

Makalah Diskusi | Februari 2012

utama Islamisme yang mengacu pada pandangan, sikap, dan perilaku seorang Muslim yang didasarkan atas keyakinan akan superioritas Islam terhadap agama atau pandangan hidup lainnya dalam mengatur kehidupan publik, termasuk pengelolaan kehidupan sosial dan politik yang heterogen secara keagamaan. Misalnya diwakili oleh kelompok Islamis Hizbut Tahrir yang mengharamkan demokrasi karena dianggap melanggar kedaulatan Allah. Bukan hanya aktivis demokrasi, bagi Hizbut Tahrir pun, demokrat Islamis adalah ungkapan contradictio interminis. Namun survei LSI-FNS-Goethe menunjukkan bahwa persenyawaan antara Islamisme dan demokrasi bukanlah suatu hal yang mustahil. Oleh karena itu, kita tak bisa melihat demokrasi dan Islamisme secara hitam-putih. Tentu saja, gejala demokrat Islamis ini harus terus diuji. Cara untuk menguji kimiawi antara Islamisme dan demokrasi positif atau tidak adalah dengan melihat baik dari sisi prosedur demokrasi maupun penerapan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Demokrasi bukan semata-mata pemilu, tapi juga sejauh mana kalangan Islamis bisa menerima substansi demokrasi, yakni penghargaan terhadap kaum minoritas, hak-hak sipil bagi setiap warga apapun latar belakang agama, suku, dan identitas primordial mereka.

Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 Indonesia t: +62 21 7891202 f:+62 21 7818849 www.salihara.org Makalah Diskusi | Februari 2012