Anda di halaman 1dari 4

Pneumotoraks diklasifikasikan atas pneumotoraks spontan, traumatik, iatrogenik.

Pneumotoraks spontan dibagi lagi menjadi pneumotoraks spontan primer dan sekunder. Pneumotoraks traumatik disebabkan oleh trauma pada organ paru dan pneumotoraks iatrogenik merupakan komplikasi dari intervensi diagnostic ataupun terapeutik. (1) Pneumotoraks spontan primer terjadi tanpa kelainan atau penyakit paru yang mendasarinya, namun pada sebuah penelitian dilaporkan bahwa bula subpleural ditemukan pada 7 !1""# pasien pneumotoraks spontan primer dengan tindakan video!assisted thoracoscopic surgery dan torakotomi. (1). $asus pneumotoraks spontan primer sering dihubungkan dengan faktor resiko merokok yang mendasari pembentukan bula subpleural(1,%), namun pada sebuah penelitian dengan komputasi tomografi (&'!scan) menunjukkan bahwa ()# kasus dengan bula subpleural adalah perokok berbanding dengan (1# kasus adalah bukan perokok. (1) *ekanisme pembentukkan bula masih merupakan spekulasi namun sebuah teori menjelaskan bahwa terjadi degradasi serat elastin paru yang diinduksi oleh rokok yang kemudian diikuti oleh serbukan netrofil dan makrofag. Proses ini menyebabkan ketidakseimbangan protease!antiprotease dan sistem oksidan+ antioksidan serta menginduksi terjadinya obstruksi saluran nafas akibat proses inflamasi. ,al ini akan meningkatkan tekanan alveolar sehingga terjadi kebocoran udara ke jaringan interstitial paru menuju hilus dan menyebabkan pneumomediastinum. tekanan di mediastinum akan meningkat dan pleura parietalis pars mediastinum ruptur sehingga terjadi pneumotoraks. (1) -ongga pleura memiliki tekanan negatif, sehingga bila rongga ini terisi oleh udara akibat rupturnya bula subpleural, paru!paru akan

kolaps sampai tercapainya keseimbangan tekanan tercapai atau bagian yang ruptur tersebut ditutup. Paru!paru akan bertambah kecil dengan bertambah luasnya pneumotoraks. $onsekuensi dari proses ini adalah timbulnya sesak akibat berkurangnya kapasitas vital paru dan turunnya P.%. (/) 0ebuah penelitian lain menunjukkan bahwa faktor genetik berperan dalam patogenesis terjadinya pneumotoraks spontan primer. 1eberapa kasus pneumotoraks spontan primer ditemukan pada kelainan genetik tertentu, seperti2 sindrom marfan, homosisteinuria, serta sindrom 1irt!,ogg!3ube. (%) Pneumotorakas spontan sekunder terjadi akibat kelainan4 penyakit paru yang sudah ada sebelumnya (1,%). *ekanisme terjadinya adalah akibat peningkatan tekanan alveolar yang melebihi tekanan interstitial paru. 5dara dari alveolus akan berpindah ke interstitial menuju hilus dan menyebabkan pneumomediastinum. 0elanjutnya udara akan berpindah melalui pleura parietalis pars mediastinal ke rongga pleura dan menimbulkan pneumotoraks. (1). 1eberapa penyebab terjadinya pneumotoraks spontan sekunder adalah2 Penyakit saluran napas o PP.$ o $istik fibrosis o 6sma bronchial Penyakit infeksi paru o Pneumocystic carinii pneumonia o 7ecroti8ing pneumonia (infeksi oleh kuman anaerobik, bakteri gram negatif atau staphylokok) Penyakit paru interstitial o 0arkoidosis o 9ibrosis paru idiopatik o :ranulomatosis sel langerhans

o ;imfangioleimiomatous o 0klerosis tuberus Penyakit jaringan penyambung o 6rtritis rheumatoid o 0pondilitis ankilosing o Polimiositis dan dermatomiosis o 0leroderma o 0indrom *arfan o 0indrom <thers!3anlos $anker o 0arkoma o $anker paru <ndometriosis toraksis (1) Pneumotoraks traumatik dapat disebabkan oleh trauma penetrasi maupun non!penetrasi. 'rauma tumpul atau kontusio pada dinding dada juga dapat menimbulkan pneumotoraks. 1ila terjadi pneumotoraks, paru akan mengempes karena tidak ada lagi tarikan ke luar dnding dada. Pengembangan dinding dada pada saat inspirasi tidak diikuti dengan pengembangan paru yang baik atau bahkan paru tidak mengembang sama sekali. 'ekanan pleura yang normalnya negatif akan meningkat hingga menyebabkan gangguan ventilasi pada bagian yang mengalami pneumotoraks. (%,=) Pneumotoraks iatrogenik merupakan komplikasi dari prosedur medis atau bedah. 0alah satu yang paling sering adalah akibat aspirasi transtorakik (transthoracic needle aspiration), torakosentesis, biopsy transbronkial, ventilasi mekanik tekanan positif (positive pressure mechanical ventilation). 6ngka kejadian kasus pneumotoraks meningkat apabila dilakukan oleh klinisi yang tidak berpengalaman. (%)

Pneumotoraks ventil (tension pneumothora>) terjadi akibat cedera pada parenkim paru atau bronkus yang berperan sebagai katup searah. $atup ini mengakibatkan udara bergerak searah ke rongga pleura dan menghalangi adanya aliran balik dari udara tersebut. Pneumotoraks ventil biasa terjadi pada perawatan intensif yang dapat menyebabkan terperangkapnya udara ventilator (ventilasi mekanik tekanan positif) di rongga pleura tanpa adanya aliran udara balik. (%,=) 5dara yang terperangkap akan meningkatkan tekanan positif di rongga pleura sehingga menekan mediastinum dan mendorong jantung serta paru ke arah kontralateral. ,al ini menyebabkan turunnya curah jantung dan timbulnya hipoksia. &urah jantung turun karena venous return ke jantung berkurang, sedangkan hipoksia terjadi akibat gangguan pertukaran udara pada paru yang kolaps dan paru yang tertekan di sisi kontralateral. ,ipoksia dan turunnya curah jantung akan menggangu kestabilan hemodinamik yang akan berakibat fatal jika tidak ditangani secara tepat. (%,=)

1. 0ahn 06, ,effner ?<. 0pontaneous pneumothora>. 7 <ng ? *ed %"""@ /=%2 ( (!7= 2. 1ascom -. Pneumothora>. %"" . 6vailable from2 http244www.emedicine.com4med4fulltopic4topic1(AA.htmBsecti on#7<Cntroduction /. &hang 6$. Pneumothora>, Catrogenic, 0pontaneous and Pneumomediastinum. %""7. 6vailable from2 http244www.emedicine.com4emerg4'.PC&= ).,'* =. 1oowan ?:. Pneumotoraks, 'ension and traumatic. %"" . 6vailable from2 http244www.emedicine.com4emerg4'.PC&=7".,'* A. 6rief 7, 0yahruddin <. Pneumotoraks. %""(