Anda di halaman 1dari 73

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )

Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.





STUDI ISOLASI BAKTERI RHIZOBIUM YANG DIINOKULASIKAN KE
DALAM DOLOMIT SEBAGAI PEMBAWA ( CARRIER ) SERTA
PEMANFAATANNYA SEBAGAI PUPUK MIKROBA


SKRIPSI


MUHAMMAD ARSYAD
030802027












DEPERTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009




Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

ii

PERSETUJUAN

Judul : STUDI ISOLASI BAKTERI RHIZOBIUM YANG
DIINOKULASIKAN KE DALAM DOLOMIT
SEBAGAI PEMBAWA ( CARRIER ) SERTA
PEMANFAATANNYA SEBAGAI PUPUK
MIKROBA
Kategori : SKRIPSI
Nama : MUHAMMAD ARSYAD
Nonor Induk Mahasiswa : 030802027
Program Studi : SARJ ANA (S1) KIMIA
Depertemen : KIMIA
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM ( FMIPA ) UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA

Disetujui di
Medan, Maret 2009

Komisi Pembimbing :
Pembimbing II Pembimbing I

Prof.Dr.Dwi Suryanto, M.Sc Dr.Ribu Surbakti,MS
NIP 132 089 421 NIP 130 872 290

Diketahui/Disetujui oleh
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,

Dr.Rumondang Bulan,MS
NIP 131 459 466

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

iii
STUDI ISOLASI BAKTRI RHIZOBIUM YANG DIINOKULASIKAN KE
DALAM DOLOMIT SEBAGAI PEMBAWA ( CARRIER ) SERTA
PEMANFAATANNYA SEBAGAI PUPUK MIKROBA

SKRIPSI


Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri , kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan yang masing masing disebutkan sumbernya.



Medan, Maret 2009



MUHAMMAD ARSYAD
030802027















Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

iv
ABSTRAK


Telah dilakukan penelitian tentang isolasi bakteri Rhizobium dari bintil akar putri malu
(Mimosa pudica L) dengan Metode Dubey,2006. Bakteri hasil isolasi kemudian diinokulasi
ke dalam dolomit dengan perbandingan 1:2 , 1:3, 1:4, 1:5, 1:6. Fungsi dolomit adalah
sebagai pembawa (carrier) dalam pemanfaatan Rhizobium sebagai sumber Unsur N untuk
tanaman kacang hijau yang diujikan di lapangan. Berdasarkan analisis perhitungan
jumlah sel yang dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi setelah 2 bulan inokulasi = 10
8
-
10
9
sel hidup / gram dolomite {CaMg(CO
3
)
2
} sehingga memenuhi persyaratan sebagai
pupuk bio yang telah direkomendasikan oleh berbagai industri. Uji efektivitas pupuk ini
diujikan terhadap tanaman kacang hijau dengan lama pengamatan 4 minggu dengan
mengukur luas serta besar tanaman. Dari hasil pengamatan bahwa perbandingan antara
Rhizobium dengan Dolomit yang efektif digunakan sebagai pupuk adalah 1:6.


















Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

v
THE STUDY OF Rhizobium BACTERIA
,
S ISOLATED THAT NOCULATION
INTO DOLOMITE AS A CARRIER AND IT
,
S ADVANTAGE AS
BIOFERTILIZER

ABSTRACT


The research of the pure Rhizobium bacteria
,
s isolation from root nodules of Mimosa
pudica has been done with Methode Dubey, 2006. Then the bacteria
,
s inoculated to
dolomite {CaMg(CO
3
)
2
} with the comparison 1:2 , 1:3 ,1:4 , 1:5 , 1:6. The function of
dolomite is as carrier and the advantage Rhizobium as source Unsure N for green bean
that applicated in the arca. Based on the calculated analysis done in Microbiology
Laboratory quantity of cell after since 2 months = 10
8
-10
9
cell/gram , so inoculating
match with the standard as biofertilizer. That have recomanded by industries. The
efectivitas test of this fertilizer has tested on green bean with time experiment 4 weeks with
measuring such as steam width large of plant. From the experiment that the effective
comparison between Rhizobium and Dolomite that used as Fertilizer is 1:6.

















Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

vi
DAFTAR ISI
Halaman
PERSETUJUAN ii
PERNYATAAN iii
ABSTRAK ` iv
ABSTRACT v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR xi


BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Perumusan Masalah 3
1.3. Pembatasan Masalah 3
1.4. Tujuan Penelitian 4
1.5. Manfaat Penelitian 4
1.6. Metodologi Penelitian 4
1.7. Lokasi Penelitian 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1. Tanaman Putri malu (Mimosa pudica. L). 6
2.1.1. Sistematika Pertumbuhan Putri malu (Mimosa pudica. L) 6
2.2. Proses Pertumbuhan Tanaman 7
2.2.1. Unsur Hara Tanaman 8
2.2.2. Nitrogen (N) 9
2.3. Pupuk Mikroba 10
2.4. Rhizobium sp 11
2.5. Pembentukan Simbiosis antaraRhizobium dengan Leguminosa 12
2.6. Fiksasi (Pengikatan) Nitrogen Oleh Bakteri Rhizobium 13
2.6.1. Fiksasi Nitrogen Non Simbiotik 16
2.7. Proses Pembentukan Bintil Rhizobium pada Tanaman 16

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

vii
2.8. Teknik Inokulasi dan Perkembangbiakan Rhizobium 17
2.9. Uji Untuk Membedakan Rhizobium dari Kerabat Dekatanya
Agrobactrium 19
2.10.Dolomit sebagai Media Pembawa (Carrier)
20
2.11.Pupuk Rhizobium (Biofertilizer) 20
2.11.1. Respons Hasil Panen Terhadap Inokulasi Rhizobium di India 22
2.12.Kacang Hijau (Vigna radiata L) R.Wilczeck atau Phaseolus aurus) 25
2.12.1. Sistematika Tumbuhan Kacang Hijau(Vigna radiata L)
R.Wilczeck atau Phaseolus aurus ) 25
2.12.2. Ragam Manfaat Kacang Hijau (Vigna radiata L)
R.Wilczeck atau Phaseolus aurus) 26
2.13.Aktivitas Air (Aw) 26

BAB 3 BAHAN DAN METODELOGI PENELITIAN 28
3.1. Bahan bahan 28
3.2. Alat alat 28
3.3. Prosedur Penelitian 29
3.3.1. Pembuatan YEMA (Yeast Exstract Manitol Aagar) 29
3.3.2. Pembuatan YMB (Yeast Manitol Broth) 29
3.3.3. Preparasi Sampel 30
3.3.4. Isolasi Rhizobium dari Bintil Akar 30
3.3.4.1. Isolasi Bakteri Rhizobium pada Media Selektif
dengan Penambahan Congo Red 30
3.3.4.2. Pengidentifikasian Bakteri Rhizobium dengan Metode
Mikroskopis 31
3.3.5. Pembuatan Starter Kultur 31
3.3.6. Pencampuran Starter dengan Medium Pembawa (Carrier) 31
3.3.7. Pengujian Jumlah Sel dari Medium Pembawa (Carrier) 32
3.3.8. Pungujian Lapangan 32
3.4. Bagan Penelitian 33
3.4.1. Bagan Penelitian Isolasi Bakteri Rhizobium

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

viii
Metode Dubey,2006 33
3.4.1.1. Isolasi Pembuatan Pupuk Rhizobium
dari Akar Tanaman Putri Malu(Mimosa pudica L) 33
3.4.1.1.1. Pembuatan Biakan Murni (Stok Kultur)
Rhizobium 33
3.4.1.1.2. Pembuatan Perbandingan Biakan Murni
Rhizobium (Carrier) 34
3.4.1.1.3. Perhitungan Jumlah Sel pada Pembawa
(Cerrier) 35
3.4.2. Pengaplikasian Pupuk Rhizobium Terhadap Tanaman
Kacang Hijau (Vigna radiata L) R.Wilczech atau
Phaseoulus aurus) 36
3.4.2.1. Tanaman Kacang Hijau tanpa Penambahan
Pupuk Rhizobium (Blanko) 36
3.4.2.2. Tanaman Kacang Hijau dengan Penambahan
Pupuk Rhizobium 37

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 38
4.1. Hasil Penelitian 38
4.1.1. Hasil Perhitungan Jumlah Sel Rhizobium 40
4.1.1.1. Pengamatan Minggu I 40
4.1.1.2. Pengamatan Minggu II 40
4.1.1.3. Pengamatan Minggu III 40
4.1.1.4. Pengamatan Minggu IV 40
4.1.1.5. Pengamatan Minggu V 41
4.2. Perhitungan Luas Daun 41
4.2.1. Perhitungan Aktivitas Air (A
w
) 41
4.3. Pembahasan 42





Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

ix

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 47
5.1. Kesimpulan 47
5.2. Saran 48

DAFTAR PUSTAKA 50
LAMPIRAN 51


























Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

x
DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel.2.8.1. Komposisi Medium Yeast Extract Manitol Agar (YEMA) 1
Tabel.4.11.1.1. Pengaruh Inokulasi Biji dengan Rhizobium japoonum (galur
IARI, SB 6+SB 16) terhadap Hasil Panen Kedelai (Glycine max)
Hasil Rata rata Percobaan Lapangan Tahun 1972, 1973 dan 1974
(dari VR Balasundram) 24
Tabel.2.11.1.2. Pengaruh Inokulasi Biji dengan Kultur Rhizobium terhadap Hasil
Panen Bermacam macam Legum Berbiji di Tanah Tarai (pH 7,3) 24
Tabel.4.1. Data Perhitungan Jumlah Koloni Bakteri Rhizobium 52
Tabel.4.2. Data Perhitungan Jumlah Total Koloni Bakteri Rhizobium 52
Tabel.4.3. Data Hasil Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau per Minggu 53
Tabel.4.4. Hasil Ratataan Aplikasi Lapangan selama 4 Minggu pada
Tanaman Kacang Hijau yang Diberi Pupuk Mikroba
(Biofertilizer) dan tanpa Pemberian Pupuk (Blanko) 53
Tabel.4.5. Kadar Aktivitas Air (Aw) pada Dolomit yang Dicampur
dengan Starter 56




Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xi
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Bakteri Rhizobium pada Yeast Ekstrak Manitol Agar (YEMA)
+Congo Red 57
Gambar 2. Bakteri Rhizobium pada Yeast Ekstrak Manitol Agar (YEMA) 57
Gambar 3. Bakteri Rhizobium dilihat dari mikroskop cahaya dengan Pembesaran
Perbesaran 1000x 57
Gambar 4. Starter kultur Rhizobium 58
Gambar 5. Tarter kultur Rhizobium +Media Pembawa 58
Gambar 6. Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu I
Tanaman Kacang Hijau Minggu I Pengenceran
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 59
Gambar 7. Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu I
Tanaman Kacang Hijau Minggu II Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 59
Gambar 8. Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu I
Tanaman Kacang Hijau Minggu III Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 59
Gambar 9. Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu I
Tanaman Kacang Hijau Minggu IV Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 59
Gambar 10.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu II
Tanaman Kacang Hijau Minggu I Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 59
Gambar 11.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu II
Tanaman Kacang Hijau Minggu II Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 59
Gambar 12.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu II
Tanaman Kacang Hijau Minggu III Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 60

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xii
Gambar 13.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu II
Tanaman Kacang Hijau Minggu IV Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 60
Gambar 14.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu IIII
Tanaman Kacang Hijau Minggu I Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 60
Gambar 15.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu III
Tanaman Kacang Hijau Minggu II Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 60
Gambar 16.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu III
Tanaman Kacang Hijau Minggu III Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 60
Gambar 17.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu III
Tanaman Kacang Hijau Minggu IV Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko
Gambar 18.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu IV
Tanaman Kacang Hijau Minggu I Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 61
Gambar 19.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu IV
Tanaman Kacang Hijau Minggu II Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 61
Gambar 20.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu IV
Tanaman Kacang Hijau Minggu III Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko 61
Gambar 21.Gambar tanaman Kacang Hijau Minggu IV
Tanaman Kacang Hijau Minggu IV Perbandingan
1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6, dan Blanko. 61

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xiii



BAB 1

PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

Tanaman memerlukan banyak zat nutrisi agar dapat tumbuh dengan baik dan memberikan
hasil panen yang maksimum. Diantara sekian banyak kebutuhan zat nutrisi nitrogen
merupakan salah satu unsur yang paling banyak diperlukan oleh tanaman. Selama ini
kebutuhan zat nutrisi nitrogen tersebut umumnya dipenuhi dengan pupuk buatan.
Mengingat semakin mahalnya harga pupuk dan berdampak besar terhadap kelangsungan
ekosistem, maka penggunaan pupuk buatan mulai di kompensasi dengan penggunaan
pupuk alternatif yang lebih murah dan dampaknya terhadap penurunan kualitas lingkungan
jauh lebih kecil (Yuwono, 2006).

Peningkatan produksi dengan cara intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir,
telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pupuk yang menyebabkan
terjadinya kejenuhan produksi pada daerah lingkungan pertanian. Keadaan ini selain
menimbulkan pemborosan juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan
pencemaran air tanah, khususnya unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen dan
kalium. Pemberian nitrogen berlebihan disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya,
juga memberikan dampak negatif terhadap peningkatan gangguan hama dan penyakit
akibat zat nutrisi yang tidak seimbang. Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk anorganik dan
pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi
(http://www.biotek.lipi.go.id).



Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xiv
Para petani menyadari hal ini sehingga petani berusaha beralih menggunakan
pupuk organik, seperti kotoran hewan, kompos ataupun humus dari hutan sekitarnya.
Untuk memperoleh pupuk dalam bentuk kotoran hewan sangat sulit sehingga salah satu
alternatif yang mungkin adalah menggunakan kompos (humus) dari hutan disekitarnya,
penjarahan humus dari hutan adat maupun negara juga telah berlangsung lama
mengakibatkan humus hutanpun habis. Terjadinya penjarahan humus ini mengakibatkan
fungsi hutan sebagai daerah tangkapan hujan menjadi rusak, ekosistem terganggu sehingga
sering terjadi banjir maupun tanah longsor (Matsara, 2001).

Negara Afganistan telah memanfaatkan bakteri Rhizobium pada strain bakteri
komersial. Rhizobium disenangi karena kemampuannya mengikat nitrogen yang penting
untuk pertanian dan ekologi. Kemampuan Rhizobium berinteraksi dengan tumbuhan
dengan cara simbiosis dengan tanaman Legum seperti kacang hijau, kacang kedelai, ercis,
buncis, kacang tanah memiliki kemampuan khusus untuk bersimbiosa membentuk bintil
akar yang aktif sebagai wadah pembiakan bakteri Rhizobium pada akarnya (Marx, 1991).

Tanaman putri malu merupakan tumbuhan yang sangat mudah didapat.Serta untuk
pembentuk bintil akarnya tidak membutuhkan waktu yang lama,tanpa harus menunggu
masa panen atau masa reproduksi (Dalimartha, 2000).

Pemberian dolomit {CaMg(CO
3
)
2
} dapat menambah ketersediaan Ca dan Mg
dalam tanah, Dengan meningkatnya kadar Ca dan Mg akan memacu turgor sel dan
pembentukan klorofil sehingga proses fotosintesis menjadi lebih meningkat atau produk
fotosintesis juga meningkat. Apabila proses fotosintesis digunakan oleh bakteri bintil akar
untuk pertumbuhannya, sehingga pemberian dolomit semakin meningkatkan pembentukan
jumlah bintil akar.Disamping itu menambah unsur hara Ca dan Mg juga serta dapat
meningkatkan ketersediaan hara-hara yang lain serta memperbaiki sifat fisik tanah, dengan
semakin meningkatnya unsur hara dan sifat fisik tanah maka peningkatan hasil pun
tercapai.
(http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains/cara_dos_dolomit_sp36_sumaryo.pdf)


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xv
Merujuk pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Khairina, et al (2007),
diperoleh jumlah sel 10
6
- 10
7
sel hidup/g. Penggunaan serbuk gergaji sebagai media
pembawa tidak memenuhi standart sebagai pupuk mikroba (biofertilizer), Karena
penggunaan serbuk gergaji sebagai media pembawa bersifat hidroskopis, menyebabkan
kadar A
w
(water activity) selalu berubah sehingga persyaratan hidup untuk bakteri
Rhizobium tidak terpenuhi. Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah
jumlah mikroorganisme yang terkandung didalamnya. Menurut Rao, (1994) dolomit baru
memenuhi standart sebagai pupuk bio apabila jumlah sel 10
8
- 10
9
sel hidup/g.
Hasil penelitian menunjukan bahwa penyimpanan pada suhu rendah lebih cocok
untuk ketahanan hidup mikroorganisme dari pada suhu tinggi. Peningkatan suhu
menyebabkan kelembaban menurun. Dengan mempertahankan kelembaban kematian
mikroorganisme dapat dikurangi.

1.2. Perumusan Masalah

Seberapa lama bakteri Rhizobium hasil isolasi dari bintil akar tanaman putri malu yang
diinokulasikan ke dalam media dolomit dapat bertahan hidup dengan jumlah sel yang
konstan, sehingga memenuhi persyaratan untuk digunakan menjadi pupuk biofertilizer

1.3. Pembatasan Masalah

Karena luasnya permasalahan yang dijumpai dalam penelitian ini, maka penulis membatasi
objek masalah sebagai berikut :
- Pengambilan sampel secara acak yaitu di halaman FMIPA USU Medan.
- Isolasi bakteri Rhizobium dilakukan pada media selektif dengan menggunakan
media Yeast Ekstract Manitol Agar (YEMA) dengan menggunakan metode gores
dan metode sebar, serta pengujiannya dilakukan dengan penambahan Congo red
dan uji mikroskop.
- Dolomit yang digunakan diambil secara acak yaitu PT. TORGANDA LUBUK
PAKAM

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xvi
- Variasi perbandingan antara dolomit dengan starter kultur yang dilakukan 1:2, 1:3,
1:4, 1:5, 1:6, dengan masing masing 5 gram dolomit dicampurkan dengan 10 ml ,
15 ml ,20 ml , 25 ml , 30 ml , starter kultur dalam wadah yang berbeda.





1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
- Untuk memperoleh biakan murni bakteri Rhizobium yang diisolasi dari akar tanaman
putri malu.
- Untuk membuat pupuk mikroba dengan menggunakan bakteri Rhizobium yang
diinokulasikan pada dolomit sebagai pembawa (carrier) sehingga viabilitasnya dapat
dipertahankan stabil.
- Untuk membandingkan pertumbuhan tanaman kacang hijau kontrol dengan
perlakuan di lapangan dengan pemberian pupuk Rhizobium dari hasil isolasi bintil
akar tanaman putri malu.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk menghasilkan pupuk mikroba (biofertilizer) yang lebih
memperhatikan kesuburan tanah tanpa merusak keadaan lingkungan serta lebih ekonomis
sehingga sangat berguna bagi masyarakat luas khususnya petani.

1.6. Metodologi Penelitian

Penelitian ini adalah eksperimen laboratorium, yaitu pembuatan pupuk mikroba dengan
menggunakan bakteri Rhizobium hasil isolasi dari bintil akar tanaman putri malu. Langkah-
langkah yang dilakukan untuk proses analisisnya adalah sebagai berikut :
1. Preparasi sampel

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xvii
2. Penyiapan media
3. Isolasi bakteri pada media selektif (metode Dubay dan Maheshwari, 2002).
4. Uji mikroskop untuk penentuan bakteri Rhizobium.
5. Perbanyakan (penanaman kembali) untuk mendapatkan biakan murni.
6. Inokulasi bakteri pada serbuk dolomit
7. Perhitungan jumlah sel bakteri
8. Pengujian lapangan.


1.7 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara eksperimen di Laboratorium Biokimia / KBM (Kimia
Bahan Makanan), Laboratorium Mikrobiologi, dan Laboratorium Kimia Analitik Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU Medan.










Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xviii



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tanaman Puteri Malu (Mimosa pudica L)

Putri malu merupakan tumbuhan liar yang sering dijumpai di pinggir jalan maupun di
lapangan terbuka yang terkena sinar matahari. Putri malu berasal dari Amerika tropis dan
dapat ditemukan pada ketinggian 1-1200 m. Tumbuhan ini biasanya hidup memanjat atau
berbaring di permukaan tanah dan sangat cepat berkembang biak. Kebanyakan mempunyai
ketinggian batang berkisar 0,31,5 m dan memiliki batang bulat, berambut serta berduri
tempel yang berbentuk runcing dan tajam. Daun berupa daun majemuk menyirip genap
ganda dua yang sempurna. Jumlah anak daun setiap sirip sekitar 5-26 pasang. Pertumbuhan
helaian anak daun berbentuk memanjang sampai lanset, ujung daun runcing, pangkalnya
membundar, tepi daunnya rata, permukaan daun bagian atas dan bagian bawah licin.
Tanaman putri malu mempunyai panjang daun 6-16 mm, lebar daun 1-3 mm, berwarna
hijau, umumnya tepi daun berwarna ungu. J ika daun tersentuh, maka daun tersebut akan
melipat diri (mengkerut). Mempunyai bentuk bunga yang bulat, berbentuk seperti bola, dan
mempunyai tangkai berwarna ungu. Buah tanaman putri malu berbentuk seperti polong,
pipih, dan berbentuk garis. Bijinya bulat dan pipih (Dalimartha, 2000).

2.1.1. Sistematika Tanaman Putri malu (Mimosa pudica L)

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophita
Kelas : Angiospermae
Sub kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Fabales


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xix
Famili : Mimosaceae
Sub Famili : Mimosoideae
Genus : Mimosa
Spesies : Mimosa pudica L (Sharma, 2002).

2.2. Proses Pertumbuhan Tanaman

Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, proses fotosintesis harus dibuat menjadi lebih
efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki kelembapan tanah, meningkatkan
penyerapan energi surya dan CO
2
, serta menyediakan zat nutrisi yang diperlukan dalam
proporsi yang benar dan tepat.

Umumnya, tahap pertumbuhan tanaman dibagi menjadi dua fase, yakni fase
vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif terjadi pada perkembangan akar, daun, dan
batang baru, terutama saat awal pertumbuhan atau setelah masa berbunga atau berbuah.
Pada fase ini terjadi tiga proses penting, yakni pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap
awal dari diferensiasi sel. Fase generatif (fase reproduktif) dimulai dari pembentukan dan
pertumbuhan kuncup-kuncup bunga, buah dan biji. Serta terjadi pula pada pembesaran dan
pendewasaan struktur penyimpanan makanan, akar-akar, dan batang (Novizan, 2002).

Proses penting yang berlangsung pada fase generatif meliputi pembuatan sel-sel
secara relatif berjumlah sedikit, pendewasaan jaringan penebalan serabut-serabut,
pembentukan hormon untuk perkembangan kuncup bunga, buah dan biji. Kedua fase
pertumbuhan tersebut berbeda, tetapi dapat juga terjadi secara bersamaan. Pada saat
tanaman sedang mengalami fase generatif atau masa berbunga dan berbuah, fase vegetatif
tetap berlangsung tetapi dalam jumlah sedikit. Kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan pada
fase vegetatif dan generatif berbeda. Beberapa unsur hara dibutuhkan dalam jumlah besar
melebihi unsur lainnya (Novizan, 2002).

Unsur hara dapat diserap oleh tanaman setelah melalui tiga mekanisme sebagai
berikut :

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xx
1. Unsur hara dapat diserap langsung oleh akar bersama dengan penyerapan air dari
larutan tanah. Karena itu, sangat penting untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur
hara di dalamnya, misalnya mempertahankan pH pada posisi netral.
2. Unsur hara memasuki membran sel akar mengikuti hukum difusi, tanpa
mengikutsertakan air. J ika konsentrasi ion terlarut di dalam larutan tanah lebih
tinggi dari pada di dalam sel akar, ion dari larutan tanah akan bergerak kedalam sel
akar.
3. Mekanisme penyerapan yang ketiga berlangsung lebih rumit, yang dikenal sebagai
proses pertukaran ion. Akar tanaman yang paling aktif adalah rambut akar yang
baru tumbuh. Pada akar ini terjadi kegiatan respirasi dalam jumlah paling besar,
karena itu dapat dipahami jika pernafasan akar terhambat karena faktor genangan
air atau tanah terlalu padat.


Unsur hara yang diserap oleh tanaman berasal dari 3 sumber sebagai berikut:
a. Bahan organik. Sebagian besar unsur hara terkandung di dalam bahan organik,
sebagian dapat langsung digunakan oleh tanaman, sebagian lagi tersimpan untuk
jangka waktu yang lama. Bahan organik harus mengalami dekomposisi (pelapukan)
terlebih dahulu sebelum tersedia bagi tanaman.
b. Mineral alami. Setiap jenis batuan mineral yang membentuk tanah mengandung
bermacam-macam unsur hara. Mineral alami ini berubah menjadi unsur hara yang
tersedia bagi tanaman setelah mengalami penghancuran oleh cuaca.
c. Unsur hara yang terikat. Unsur hara ini terikat di permukaan atau antara lapisan
koloid tanah dan sebagai sumber utama dari unsur hara yang dapat diatur oleh
manusia (Novizan, 2002).

2.2.1. Unsur hara tanaman

Unsur hara yang diserap oleh tanaman dari dalam tanah terdiri dari 13 unsur mineral atau
sering disebut unsur hara esensial. Unsur hara ini sangat diperlukan tanaman dan fungsinya
tidak dapat diganti oleh unsur lain.

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxi
Dari ketiga belas unsur hara yang diperoleh dari dalam tanah, enam unsur
diantaranya diperlukan tanaman dalam jumlah lebih besar atau yang sering disebut dengan
unsur makro. Unsur makro terdiri dari nitrogen (N), phosphor (P), kalium (K), kalsium
(Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S ), tujuh lainnya diperlukan tanaman dalam jumlah
relative lebih kecil atau sering disebut dengan unsur mikro. Unsur ini terdiri dari besi (Fe),
seng (Zn), tembaga (Cu), mangan (Mn), boron (B), molybdenum (Mo), dan klor (Cl)
(Novizan, 2002).

2.2.2. Nitrogen (N)

Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk ion nitrat (NO
3
-
) dan ion ammonium (NH
4
+
).
Sebagian besar nitrogen diserap dalam bentuk ion nitrat karena ion tersebut bermuatan
negatif sehingga selalu berada di dalam larutan tanah dan mudah diserap oleh akar. Ion
nitrat lebih mudah tercuci oleh aliran air dan mengarah menuju lapisan di bawah daerah
perakaran sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Sebaliknya ion amonium
bermuatan positif tidak mudah hilang oleh proses pencucian (Novizan, 2002).

Nitrogen tidak tersedia dalam bentuk mineral alami seperti unsur lainnya. Sumber
nitrogen yang terbesar berupa udara yang sampai ketanah melalui air hujan atau udara
yang diikat oleh bakteri pengikat nitrogen. Contoh bakteri pengikat nitrogen adalah
Rhizobium yang ada dibintil akar tanaman kacang-kacangan (Leguminosa). Idealnya,
Bakteri Rhizobium mampu menyediakan 5070% kebutuhan nitrogen pada tanaman.
Selain Rhizobium ada jenis bakteri pengikat nitrogen lain yang tidak bersimbiosis dengan
tanaman, misalnya Azotobacter.

Nitrogen dapat kembali ke tanah melalui proses pelapukan sisa makhluk hidup
(bahan organik). Nitrogen yang berasal dari bahan organik dapat dimanfaatkan oleh
tanaman setelah melalui tiga tahap reaksi yang melibatkan aktivitas mikroorganisme tanah.
Tahap reaksi tersebut sebagai berikut :
1. Penguraian protein yang terdapat pada bahan organik menjadi asam amino. Tahap
ini disebut reaksi aminisasi.

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxii
2. Perubahan asam amino menjadi senyawa-senyawa amonia (NH
3
) dan amonium
(NH
4
+
). Tahap ini disebut reaksi amonifikasi.
3. Perubahan senyawa amonia menjadi nitrat yang disebabkan oleh bakteri
Nitrosomonas dan Nitrosocooecus. Tahap ini disebut reaksi nitrifikasi.

Nitrogen yang ada di dalam tanah dapat hilang karena terjadinya penguapan,
pencucian oleh air, atau terbawa bersama tanaman pada saat panen. Tanah yang sangat
basah atau sangat padat penyebab terjadinya kondisi anaerob (tidak terdapat cukup oksigen
di dalam tanah), maka akibatnya terjadi reaksi yang mengubah nitrat menjadi gas nitrogen.
Jenis bakteri tertentu dapat mengubah nitrat menjadi gas nitrogen ini.

Pencucian nitrat sering terjadi pada tanah berpasir atau tanah sangat gembur. Saat
pencucian terjadi, air memindahkan nitrat menuju lapisan bawah daerah perakaran. Erosi
pada tanah akan menghanyutkan nitrogen ke sungai yang akhirnya bermuara ke laut.
Selanjutnya akan terjadi proses pengembalian nitrogen ke tanah. Proses ini terjadi secara
berkesinambungan yang dikenal dengan siklus nitrogen.Tanah yang kekurangan nitrogen
menyebabkan pertumbuhan tanaman lamban dan kecil yang ditandai dengan perubahan
warna pada daun menjadi pucat dan layu serta menguning sebelum waktunya tiba.
Selanjutnya daun pada tanaman akan mengering mulai dari bawah ke bagian atas daun.
Jaringan-jaringan tanaman tersebut mati lalu mengering. Bila tanaman sempat berbuah,
buahnya akan tumbuh kerdil kekuningan dan lekas matang. Kalau pada tanah tersebut
tidak diberi pupuk yang mengandung unsur nitrogen maka selamanya tanaman akan
tumbuh seperti dijelaskan di atas (Lingga, 2004).

2.3. Pupuk Mikroba

Pupuk mikroba merupakan formulasi inokulan strain-strain mikroba unggul yang dapat
menambah atau meningkatkan unsur hara dalam tanah. Keberadaannya sangat berperan
bagi pertanian berkelanjutan. Ada beberapa jenis pupuk mikroba yang beredar di pasaran
saat ini, antara lain mikroba pengikat nitrogen (N), mikroba pelarut fosfat. Jenis mikroba
ini sudah diakui dan dimanfaatkan secara luas sebagai pengikat unsur N sehingga

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxiii
kebutuhan pupuk nitrogen seperti urea dan amonium sulfat dapat dikurangi ataupun
digantikan.

Salah satu bentuk simbiosis pengikat N antara mikroba dengan tanaman tinggi yang
sangat terkenal adalah simbiosis bakteri kelompok Rhizobia dengan tanaman leguminosa.
Beberapa jenis tanaman Leguminosa antara lain dari jenis kacang-kacangan seperti kedelai,
kacang tanah, kacang hijau, dan kacang-kacangan penutup tanah serta jenis pohon seperti
akasia dan sengon. Untuk dapat lebih memanfaatkan bentuk simbiosis tersebut, diperlukan
pemahaman lebih mendalam tentang proses yang terjadi dalam asosiasi bakteri dengan
tanaman inang (Ismawati, 2004).

2.4. Rhizobium sp

Rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai
penyedia unsur hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legume, kelompok
bakteri ini akan menginfeksikan akar tanaman dan membentuk bintil akar didalamnya.
Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada didalam bintil akar dari
mitra legumnya.Peranan Rhizobium terhadap pertumbuhan tanaman khususnya berkaitan
dengan masalah ketersediaan nitrogen bagi tanaman inangnya (Rao ,1994).

Bakteri Rhizobium hidup di akar tanaman kacang-kacangan dan bersimbiosis secara
mutualisme. Bakteri ini masuk melalui serabut akar dan kulit halus, lalu mengikat
(memfiksasi) nitrogen dari udara bebas dan membentuk bintil di akar. Itulah sebabnya
bakteri ini disebut bakteri bintil akar.

Tanaman inang berperan memberikan karbohidrat yang merupakan energi bagi
bakteri Rhizobium dan mendapatkan tambahan unsur N untuk pertumbuhannya. Nitrogen
yang difiksasi dimanfaatkan untuk pertumbuhan oleh tanaman inang dan bukan inang (non
leguminosa) yang tumbuh di sekitar inang. Ada juga nitrogen yang tepat tinggal di dalam
tanah, bintil akan terlepas dan terdekomposisi.


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxiv
Bakteri Rhizobium aktif dapat diketahui secara visual dari bintil-bintil bundar di
akar tanaman. Bila akar dibelah, di dalamnya akan tampak warna kemerahan bila bagian
ini dipijit, akan keluar cairan kemerahan. Bakteri Rhizobium akan giat mengadakan fiksasi
N pada tanah yang kandungan nitrogennya rendah dan akan berkurang pada tanah yang
kandungan nitrogennya tinggi. Bakteri Rhizobium mampu bertahan di dalam tanah selama
beberapa tahun (Ismawati, 2004).

Adapun ciri-ciri bakteri Rhizobium adalah: merupakan bakteri gram negatif,
bersifat aerob, berbentuk batang dengan ukuran sekitar 0,50,9 m x 1,23 m, bakteri
ini banyak terdapat di dalam daerah perakaran tanaman leguminosa. Koloni
bakteri Rhizobium bersimbiosis dengan tanaman akar leguminosa, membentuk bintil akar
yang berperan dalam penyematan nitrogen. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah
efisiensi inokulan Rhizobium untuk jenis tanaman tertentu. Rhizobium mampu mencukupi
80% kebutuhan nitrogen tanaman leguminosa dan meningkatkan produksi antara 10% -
25% (Sutanto, 2002).

2.5. Pembentukan Simbiosis antara Rhizobium dengan Leguminosa

Simbiosis antara Rhizobium dengan leguminosa dicirikan oleh pembentukan struktur bintil
akar pada tanaman inang (leguminosa). Pembentukan bintil akar diawali dengan sekresi
produk metabolisme tanaman ke daerah perakaran yang menstimulasi pertumbuhan
bakteri. Secara umum tahapan pembentukan bintil akar pada tanaman leguminosa terjadi
melalui beberapa tahapan, yaitu:

1. Pengenalan pasangan yang sesuai antara tanaman dengan bakteri yang diikuti oleh
pelekatan bakteri Rhizobium pada permukaan rambut akar tanaman.
2. Invasi rambut oleh bakteri melalui pembentukan benang infeksi.
3. Perjalanan bakteri ke akar utama melalui benang infeksi.
4. Pembentukan sel-sel bakteri yang mengalami deformasi, yang disebut sebagai
bakteriod, didalam sel akar tanaman.
5. Pembelahan sel tanaman dan bakteri sehingga terbentuk bintil akar.


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxv
Pelekatan Rhizobium pada rambut akar dapat terjadi karena pada permukaan sel
Rhizobium dan Bradyrhizobium terdapat suatu protein pelekat (adhesin) yang disebut
sebagai Rhicadhesin. Rhicadhesin adalah suatu protein pengikat kalsium yang berfungsi
dalam pengikatan kompleks kalsium pada permukaan rambut akar. Di samping itu juga
terdapat senyawa lain yang berperan dalam pengikatan bakteri yaitu lectin yang merupakan
protein yang mengandung karbohidrat.

Penitrasi awal sel bakteri ke dalam rambut akar dilakukan melalui ujung rambut
akar. Setelah bakteri melekat, rambut akan menggulung yang disebabkan oleh senyawa
yang dikeluarkan oleh bakteri yang disebut sebagai faktor Nif, selanjutnya bakteri
memasuki rambut akar dan menginduksi pembentukan benang infeksi yang kemudian
tumbuh kearah sel-sel akar. Faktor Nif yang dihasilkan oleh bakteri selanjutnya
menstimulasi pembelahan sel-sel tanaman sehingga terbentuk bintil akar (Yuwono, 2006).

Bakteri yang terdapat di dalam akar kemudian tumbuh secara cepat dan mengalami
perubahan bentuk menjadi struktur bercabang yang disebut sebagai bakteriod. Bakteroid
dikelilingi oleh membran sel tanaman yang disebut membran peribakteroid. Pengikatan
nitrogen baru dapat terjadi setelah terbentuk struktur bakteroid. J ika tanaman mati maka
bintil akar akan rusak sehingga bakteri terlepas keluar dari sel-sel akar tanaman (Yuwono,
2006).

Perkembangan bintil akar dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1. Konsentrasi nutrien anorganik
2. Suhu tanah (suhu sekitar 25
0
30
0
C) optimum untuk pembentukan bintil dan pada
suhu yang lebih rendah atau jauh lebih panas pembentukan bintil akan terhambat.
3. Cahaya dan naungan (cahaya yang cukup banyak dapat meningkatkan jumlah bintil
sedangkan naungan akan menurunkan berat bintil akar).
4. Konsentrasi CO
2
(konsentrasi karbondioksida yang tinggi dapat meningkatkan
jumlah bintil akar).
5. Ketersediaan nitrogen di dalam tanah (konsentrasi nitrogen yang tinggi dapat
mengurangi jumlah maupun berat bintil akar).

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxvi
6. Keberadaan mikroorganisme lain di dalam rhizofer (Yuwono, 2006).

2.6. Fiksasi (pengikatan) Nitrogen oleh Bakteri Rhizobium

Nitrogen mencapai hampir 80% udara yang di hirup tapi tidak dapat kita pakai, begitu juga
semua hewan, tumbuhan, jamur, dan hampir semua bakteri tidak bisa menggunakan N
secara langsung. Namun nitrogen dalam bentuk organik merupakan komponen utama
tubuh semua makhluk hidup. Protein, asam nukleat, vitamin, dan berbagai molekul lain
semua mengandung nitrogen. Beberapa spesies bakteri berkemampuan khusus untuk
mereduksi atau mengikat N
2
udara untuk membentuk amonia. Amonia ini adalah suatu
produk senyawa nitrogen yang dapat dipakai oleh tumbuhan dan mikroba sebagai bahan
pembangunan untuk mensintesa asam amino, demikian pula senyawa bernitrogen lain
(Marx, 1991).

Terdapatnya suatu keseimbangan antara karbon dan hidrogen di dalam sistem
perakaran yang diimbangi dengan sumber nitrat dari luar.Juga dihipotesiskan bahwa nitrat
diubah menjadi nitrit dalam lingkungan perakaran yang diperantarai oleh Rhizobium dan
nitrit yang terbentuk itu merusak auksin, yakni asam indol asetat (IAA). Frekuensi
pembentukan bintil pada alfalfa diketahui akan meningkat pada tingkat IAA yang optimum
(10
-8
M) dalam medium perakaran, sedangkan KNO
3
, dengan konsentrasi 140 N (ppm),
memiliki pengaruh yang sebaliknya dan juga menyebabkan berkurangnya jumlah total
bintil yang dihasilkan. Walaupun demikian, penghambatan yang diinduksi oleh nitrat ini
dapat dikembalikan dengan penambahan 10
-8
M IAA ke daerah perakaran yang sebagian
mengembalikan kemampuan pembentukan gulungan rambut akar serta pembentukan
benang infeksi di dalamnya yang dihambat oleh induksi nitrat. Fakta-fakta yang saling
berhubungan menunjukkan adanya keterkaitan yang menarik di antara hasil fotosintesis,
sumber nitrogen mineral, reaksi tanah (pH) dan substansi perangsang pertumbuhan yang
diketahui bekerja di dalam daerah perakaran selama tahap-tahap simbiosis yang berbeda-
beda dalam legum yang membentuk bintil (Rao, 1994).



Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxvii
Proses pengikatan nitrogen ini merupakan salah satu dari banyak proses biokimiawi
di dalam tanah yang memainkan salah satu peranan penting, yaitu mengubah nitrogen
atmosfer (N
2
atau nitrogen bebas) menjadi nitrogen dalam persenyawaan (nitrogen terikat).
Dua organisme terlibat dalam proses ini:
1. Mikroorganisme non simbiotik, yaitu yang hidup bebas dan mandiri di dalam
tanah.
2. Mikroorganisme simbiotik, yaitu yang hidup pada akar tanaman kacang-kacangan.

Besarnya serta fungsinya fiksasi nitrogen hayati dapat di nilai dari perkiraan yang
dibuat baru-baru ini yang menyatakan bahwa organisme hidup mengikat nitrogen dalam
jumlah lebih besar daripada yang dilakukan oleh pabrik di seluruh dunia pada tahun 1974,
jumlah nitrogen yang diikat oleh organisme hidup ialah 175 ton, sedangkan yang
dihasilkan oleh pabrik hanya 4 juta ton (Pelczarzchan, 1988).




2.6.1 Fiksasi Nitrogen Non Simbiotik

Jumlah nitrogen hasil fiksasi oleh berbagai bakteri tergantung pada sifat keadaan sumber
energinya, kehadiran nitrogen dan mineral yang tersedia, reaksi tanah dan kondisikondisi
lingkungan lain serta kehadiran berbagai bakteri yang spesifik. Fiksasi nitrogen non-
simbiotik telah dipelajari secara ekstensif pada Clostridium pasteurianum dan spesies
spesies Azotobacter. Selama bertahun-tahun, hanya kedua jenis mikroba itulah yang
diketahui mampu menambat nitrogen secara non simbiotik (Pelczarzchan, 1988).

2.7. Proses Pembentukan Bintil Rhizobium Pada Tanaman

J ika di dalam fiksasi nitrogen non-simbiotik bakteri heterotrop yang hidup dalam tanah
secara bebas, tanpa hidup bersama-sama dengan tanaman tingkat tinggi dalam
menggunakan udara bagi pembentukan sel-sel jaringan tubuhnya, maka dalam fiksasi
nitrogen simbiotik bakteri tersebut malah hidup bersama tanaman (misalnya Leguminosa)

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxviii
dalam nodula-nodula (bintil-bintil akar tanaman), bakteri mendapatkan makanannya dari
tanaman inangnya, sedangkan kepentingan nitrogen bagi tanaman itu disediakan oleh
bakteri tersebut. Hidup bersama antara bakteri dengan tanaman, yang saling
menguntungkan disebut simbiosis.

Menurut Sarif (1986), jika terdapat bakteri yang mendekati dan menyentuh akar
tanaman Leguminosa, ada beberapa diantaranya yang masuk kedalam sel-sel tunggal
perakaran rambut tanaman. Perkembangan jumlah bakteri ini dapat meningkat dengan
cepat karena berlimpahnya bahan makanan yang dengan mudah dicapai dari jaringan tubuh
tanaman. Bakteri yang telah masuk membentuk benang-benang dasar pada perakaran.
Dengan adanya infeksi pada akar tanaman maka disekitarnya akan timbul nodula atau
bintil akar, dan disinilah bakteri hidup. Setiap nodula dapat mengandung berjuta-juta
bakteri dan sejumlah nitrogen yang terkumpul pada nodula. Tanaman leguminosa
mengikat atmosferik melalui akar-akarnya dan tidak melalui daun-daunnya. Dalam
keadaan pertumbuhannya yang muda, akar-akar tanaman itu berkandungan nitrogen lebih
besar. Bakteri Rhizobium dalam penelitian lebih dikenal, sebagai bakteri yang bersimbiosis
dengan akar tanaman kacang-kacangan dengan membentuk nodula (Mulyani, 1991).

Macam asosiasi yang lain antara akar dan tumbuhan tingkat tinggi serta organisme
tingkat rendah dijumpai pada leguminosa. Pada akar-akarnya terdapat bintil yang
berkembang sebagai akibat penitrasi bakteri pengikat nitrogen (spesies Rhizobium)
kedalam rambut akar. Bakteri tersebut memasuki akar terutama melalui rambut akar.
Sambil memperbanyak diri, bakteri tersebut membentuk benang infeksi dengan
terkurungnya dalam selubung dari bahan seperti gum. Benang-benang itu menembus
kedalam akar dan merangsang sel-selnya. Jumlah sel dalam bintil meningkat mula-mula
kareana pembelahan diseluruh massa sel yang bulat itu dan karena aktivitas daerah
meristematik setempat yang tidak dimasuki bakteri. Sel-sel terdifrensiasi itu di daerah
sebagian dalam, yaitu zona bakteroid, mengandung bakteri yang dilepaskan dari benang-
benang infeksi. Bintil-bintil pada tingkatan itu secara sekilas mirip dengan primordium
akar latera (Fahn, 1991).


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxix
Selama pertumbuhan bintil, bakteri mengalami transformasi ke bentuk bakteroid
yang ukuranya lebih besar dari pada aslinya. Transformasi ini berhubungan dengan sintesis
leghemoglobin, nitrogenase dan enzim lain yang diperlukan untuk fiksasi N
2
waktu antara
infeksi sampai dengan bakteri mampu memfiksasi N
2
sekitar tiga sampai lima minggu.
Selama priode tersebut kebutuhan karbohidrat, nutrien, mineral dan asam amino

disediakan
oleh inang tanpa memperoleh keuntungan dan tidak saling merugikan satu dengan yang
lain (http ://elearning.unej.ac.id).

2.8. Teknik inokulasi dan perkembangbiakan Rhizobium

Rhizobium pada umumnya dipelihara dengan menumbuhkannya dalam medium padat
Yeast Extract Manitol Agar (YEMA). Untuk menjaga kemampuan fisiologisnya agar tidak
mengalami penurunan, Rhizobium harus diremajakan secara berkala. Kultur yang
dipelihara inilah yang digunakan sebagai kultur induk yang digunakan sebagai inokulum
untuk perbanyakan Rhizobium yang akan diformulasi sebagai pupuk hayati. Komposisi
medium Yeast Extract Manitol Agar (YEMA) yang umum digunakan untuk pemeliharaan
Rhizobium adalah sebagai berikut (Tabel 2.8.1):



Tabel 2.8.1 Komposisi Medium Yeast Extract Manitol Agar (YEMA)
Komponen Berat/volume
K
2
HPO
4
0,5 g
MgSO
4
0,2 g
NaCl 0,1 g
Manitol 10,0 g
Yeast Extract 1,0 g
Akuadest 1000 mL
Agar 20 g
*Manitol dapat diganti dengan sukrosa
(Yuwono, 2006).

Selain medium dengan komposisi seperti di atas, beberapa peneliti atau produsen
inokulan Rhizobium menggunakan medium dengan komposisi yang bervariasi.

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxx
Perbanyakan inokulum dilakukan dengan menumbuhkan bakteri dalam medium cair dalam
skala volume yang disesuaikan dengan kapasitas produksi inokulan.

Perkembangbiakan dilakukan dengan menggunakan fermentor besar dengan ragam
alat pengaturan, misalnya pH, oksigen terlarut, suhu dan penggojok (shaker). Selain itu
perbanyakan dapat juga dilakukan dengan menggunakan fermentor yang lebih sederhana
yaitu menggunakan tabung Erlenmeyer meskipun tanpa peralatan pengaturan khusus. J ika
perbanyakan dilakukan dengan menggunakan tabung Erlenmeyer, maka harus dilakukan
penggojokan dengan alat penggojok (shaker) secara teratur yang dapat diatur
kecepatannya. Medium yang digunakan untuk perbanyakan sama dengan yang digunakan
untuk pemeliharaan kultur tetapi tanpa menggunakan agar. Meskipun medium cair dengan
komposisi seperti diatas sudah cukup untuk perbanyakan Rhizobium, namun pengalaman
menunjukkan bahwa penggunakan medium biphasic dapat menghasilkan biomassa sel
yang lebih banyak. Medium biphasic adalah medium yang terdiri atas dua fase yaitu
medium fase padat (medium yang ditambah dengan agar) yang ada di bagian bawah
tabung Erlenmeyer. Di atas medium padat lalu dituangkan medium fase cair dengan
komposisi cair dengan komposisi sama dengan medium padat tetapi tanpa agar.

Kultur cair Rhizobium yang sudah dibuat selanjutnya dicampur dengan bahan
pembawa (carrier material). Bahan pembawa yang dapat digunakan untuk Rhizobium ada
beberapa macam, namun idealnya dengan karakteristik :
1. Mempunyai kemampuan menahan air yang tinggi.
2. Tidak toksik terhadap mikrobia
3. Mendukung pertumbuhan mikrobia
4. Secara umum steril atau mudah disterilkan
5. Bahan mudah diperoleh dengan harga murah.
6. Mempunyai daya lekat terhadap benih.
7. Secara kimiawi mempunyai komposisi yang seragam.
8. Mudah didegradasi, tidak mencemari lingkungan.
9. Mudah melepaskan mikrobia jika digunakan ditanah.
10. Mudah dicampur dan dikemas.
(Yuwono, 2006).

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxi
Beberapa bahan pembawa yang dapat digunakan untuk formulasi inokulan rhizobia
antara lain gambut, lignit, arang, zeolit dan lain-lain. Setelah dicampur dengan bahan
pembawa, campuran Rhizobium dengan bahan pembawa tersebut kemudian dikemas dalam
kantong yang kuat tetapi cukup lentur, tidak mudah sobek atau bocor. Inokulan yang sudah
dikemas selanjutnya dapat dibawa ke tempat penggunaan atau dipasarkan (Yuwono, 2006).

2.9. Uji Untuk Membedakan Rrizobium dari Kerabat dekatnya Agrobactrium

Beberapa galur Rhizobium yang memiliki keefektifannya berbeda beda, yang sering kali
berkaitan dengan genus kerabatnya genus bakteri Agrobacterium, dipisahkan dari tanaman
yang sama. Jelas sekali bahwa pemisahan, hal semacam ini menjadi langkah
yang sangat penting.

Medium Congo merah (congo red); telah diketahui bahwa pada medium agar yang di
bubuhi congo merah (2,5 ml dari larutan 1% perliter agar manitol berekstrak khamir),
bakteri Rhizobium akan membentuk koloni yang putih bening, berkilau, menonjol dan
lebih kecil dengan tepi keseluruhan utuh yang berbeda dengan koloni Agrobacterium yang
berwarna merah (Rao, 1994).



2.10. Dolomit Sebagai Media Pembawa ( Carrier )

Dolomit merupakan rumpun mineral karbonat, mineral dolomit murni secara teoritis
mengandung 45,6% MgCO
3
atau 21,9%. MgO dan 54,3% CaCO
3
atau 30,4%. CaO.
Rumus kimia mineral dolomit dapat ditulis meliputi CaCO
3
. MgCO
3
, CaMg (CO
3
)
2
atau
(a x Mgl x CO
3)
, dengan nilai x lebih dari satu. Dolomit di alam jarang ada yang murni,
karena umumnya mineral ini selalu terdapat bersama-sama dengan batu gamping, kwarsa,
rijang, pirit dan lempung. Dalam mineral dolomit terdapat juga pengotor, terutama ion
besi.


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxii
Dolomit berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan dengan kekerasan lebih lunak
dari batu gamping, yaitu berkisar antara 3,504,00, bersifat pejal, berat jenis antara 2,80
2,90, berbutir halus hingga kasar dan bersifat mudah menyerap air serta mudah
dihancurkan (http://id.wikipedia.mineral/wiki/dolomit).

2.11. Pupuk Rhizobium (Biofertilizer)

Beberapa jenis pupuk Rhizobium (biofertilizer) telah diproduksi secara komersial pada
beberapa negara di dunia. Di bawah ini adalah beberapa perusahaan penghasil inokulan
mikrobial:
A. Perusahaan India
No Perusahaan Penghasil Inokulan Mikrobial Produk
1
Bacfil, 25, NK. Road, Lucknow
Rhizoteekn
2
Microbies India, 87 Lenin Sarani, Calcutta - 13
Rhizoteekn
3
Rallis India Ltd, 87 Richmond Road, Bangalore-
25
Rhizoteekn
4
Indian Organic Chemicals Ltd, 15 Matheno
Road, Bombay-4
Nodin, Natrin

(Dubey,2006)

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxiii
B. Perusahaan Yang Ada di Eropa, Australia, USA
No Perusahaan Penghasil Inokulan Mikrobial Produk
1
Union Chemique SA, Belgia
Nodosit
2
Phyluxia Allami, Hungaria
Rhizonit
3
Laboratorie de Microbiologie, Francis
N germ
4
Root Nodue Pvt, Ltd. Australia
Nitrogerm
5
Agricultural Laboratories, Australia
Nitrogerm
6
Radicin Institute, Jerman
Rodicin impfsfoff
7
Abbott Laboratories, USA and Institute for
Corrhizal Research and Development, US. D.A,
Athena, Yunani
Mycoorhiz
8 Interbec Australia Ltd. Mycobedds
(Dubey, 2006)


Peningkatan produksi dari berbagai tanaman dengan pemberian pupuk Rhizobium
di beberapa daerah di India. Respon dari beberapa tanaman berbeda pada pemberian pupuk
Rhizobium terlebih dengan kondisi daerah yang berbeda serta kondisi dari tanaman itu
sendiri.


Tanaman


Lokasi
Respon
tanaman
(Range dalam
% kenaikan
dalam butir,
hasil (q/ha).
Hasil dari tanaman
setelah diberi pupuk
Rhizobium (% kenaikan
dalam hasil, pH tanah
7,3)


Kontrol
Arhar
(Cajannus
cajan)
Hisar, Haryana
Pantnager, UP
SK. Negar,
Gujarat
Sehore, MP
Rehari
(Maharesta)
5-25
2-225
9-21


13-29
3-40


Gandum
(Tritium
aestivum)


UI 20,75
RI 24,15


16,4
Arhar
(Cajannus
cajan)
Varanasi, UP
Dholi, Bihar
Delhi
Hisar
Dohad, Gujarat
Schore
Maharastra
4-19
25-40
18-28
24-43
33-67
20-41
8-12


Padi (Oryza
sativa)
UI 25,15
RI 27,15


7,9
Lentil (Lens
culinaris)
Pantnagar, UP
Ludhiana, Punjab
4-26
Tidak ada
respon
Padi
Padi
UI 22,57
RI 25,55
13,2

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxiv
Kacang
Hijau
(Vigna
munga)
Puduk Kotti, TN
Dholi, Bihar
Pantnagar
4-21

11-29
17-21
Gandum
(Triticum
aestivum)

UI 20,75
RI 21,25
2,4
(Dubey, 2006)

Keterangan :
*(Rewari,1984, 1985)
**(Subba Rao and Titak, 1977)
UI = Uni noculated Control
RI =Ino culated with Rhizobium Culture (Dubey, 2006).

2.11.1 Respons Hasil Panen terhadap Inokulasi Rhizobium di India.

Hasil eksperimen yang dilakukan di India secara keseluruhan telah menghasilkan fakta-
fakta pokok yang penting berikut ini :
1. Kedelai merespons secara menakjubkan terhadap pemakaian Rhizobium dan hasil
panen bijinya seringkali meningkat sampai 50% dibandingkan kontrol yang tidak
diinokulasi karena tanah-tanah di India kekurangan bakteri khusus yang mampu
membentuk bintil pada kedelai (tabel 2.10.1.1)
2. Tergantung pada kondisi agro-klimatik dan varietas yang ditanam, pertambahan
yang signifikan pada hasil panen dibanding kontrol (tabel 2.10.1.2) dapat
diharapkan terjadi pada arhar (Cajanus cajan) semacam kacang panjang atau
buncis yang disebut gram Benggala (Cicer arietinum) dan masur (Lens culinaris)
3. Pada tempat-tempat tertentu, bahkan dalam tanah-tanah netral, di mana inokulasi
sederhana pada Rhizobium yang konvensional biasanya gagal, pembuluhan biji
yang diinokulasi dengan kapur atau arang dapat meningkatkan hasil panen gram
merah (Cajanus cajan) secara signifikan
4. Walaupun respons terhadap inokulasi Rhizobium untuk tanaman budi daya yang
lain agak bervariasi, secara umum di daerah-daerah tertentu masih terbukti hasilnya
menguntungkan.
(Rao, 1994)

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxv
Tabel 2.11.1.1. Pengaruh inokulasi biji dengan Rhizobium japonuum (galur IARI,
SB6+SB16) terhadap hasil panen kedelai (Glycine max); hasil rata-
rata percobaan lapangan tahun 1972, 1973 dan 1974 (dari VR
Balasundram)
Lokasi (varietas)
Hasil panen (kg/ha) % Peningkatan
hasil panen
karena diinokulasi
Tidak diinokulasi Diinokulasi
Delhi (Bragg) 1498 1883 25,7
Pantnagar (Bragg) 1308 1988 52,0
Bangalore (Bragg) 1722 2442 41,8
(Rao, 1994).

Tabel 2.11.1.2. Pengaruh inokulasi biji dengan kultur Rhizobium terhadap hasil
panen bermacam-macam legum berbiji di tanah Tarai (pH 7,3).
Perlakuan
Cajanus cajan
(arhar)
Cicer arietinum
(bengal gram)
Lens culinaris (lentil)
Hasil
panen
(kuint
al/ha)
%
peningkatan
dibandingka
n kontrol
yang tidak
diinokulasi
Hasil
panen
(kuintal
/ha)
%
peningkatan
dibandingkan
kontrol yang
tidak
diinokulasi
Hasil
panen
(kuintal
/ha)
%
peningkatan
dibandingkan
kontrol yang
tidak
diinokulasi
Kontrol
(tidak
diinokulasi)
11,3 10,5 8,7
Diinokulasi
dengan
kultur IARI
13,5 19,47 12,7 20,94 11,5 32,20
40 kg N/ha 13,2 16,82 11,8 12,38 12,1 39,10
(Rao, 1994)

2.12. Kacang Hijau (Vigna radiata L) R.Wilczeck atau Phaseolus aurus)

Kacang hijau (Vigna radiate L) tumbuh didaerah tropika dan subtropika pada suhu 30
35
0
C. Tanaman ini tergolong tahan terhadap kekeringan dan berhari netral atau berhari
pendek dan diduga berasal dari India. Kacang hijau (Vigna radiate L) peka terhadap frust,
terendam, dan salinitas tinggi walaupun ada kultivar yang dilaporkan tahan basa dan salin
(Mugnisyah, 1995).

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxvi
Kacang hijau (Vigna radiata L) mempunyai nama lain mungo, mungbean, green
grain, golden grown. Kacang hijau mempunyai nilai gizi yang cukup baik mengandung
Vitamin B1 cukup tinggi (150 400. i.u) dan vitamin A (9 i.u). Kacang hijau yang sudah
menjadi kecambah mengandung vitamin E (tokoferol) yang penting sebagai anti oksidan,
dalam mencegah panen dini dan anti sterilitas. Kandungan protein kacang hijau mencapai
24% dengan kandungan asam amino esensial seperti isolensin, lensin, lisin, metionin,
fenilalonin, treonin, triptofan, dan valin. Mengandung karbohidrat +58%. Pemanfaatan
sifat fungsional dari patinya dapat dibuat sebagai tepung bahan berbagai bentuk makanan
bayi dan orang dewasa. Pati kacang hijau terdiri dari amilosa 28,8%, dan amilopektin
71,2%. Kegunaan lain kacang hijau (Vigna radiate L) adalah sebagai pupuk hijau dan
penutup tanah (http:/www.indobiogen.or.id).

2.12.1.Sistematika Tumbuhan Kacang Hijau (Vigna radiata L) R. Wilczeck Atau
Phaseolus aurus)

Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophytn
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabuceae
Sub Famili : Leguminoseae
Genus : Vigna
Spesies : V. radiata
Binomial : Vigna radiate L.R. Wilczeck
Sinonim : Phaleolus aureus Roxv(http://id.Wikipedia.Org/Wiki/Kacang hijau)

2.12.2. Ragam Manfaat Kacang Hijau (Vigna radiata L) R. Wilczeck atau Phaseolus
aurus)

Kacang hijau (Vigna radiata L) memiliki kandungan proteinnya cukup tinggi dan
merupakan sumber mineral penting, antara lain: kalsium dan fosfor yang sangat diperlukan
tubuh untuk memperkuat tulang. Sedangkan kandungan lemaknya merupakan asam lemak

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxvii
tak jenuh, sehingga aman dikonsumsi oleh orang yang memiliki masalah kelebihan berat
bada. Asupan lemak tak jenuh tinggi penting untuk menjaga kesehatan jantung. Kacang
hijau juga mengandung vitamin B1 yang dapat memperbaiki pertumbuhan yang lamban
serta dapat meningkatkan nafsu makan maupun memperbaiki saluran pencernaan.

Vitamin B1 adalah koenzim yang berperan penting dalam oksidasi karbohidrat untuk
diubah menjadi energi. Anti oksidan yang terkandung didalamnya memperbaiki proses
penuaan dan mencegah penyebaran sel kanker, vitamin-Enya membantu meningkatkan
kesuburan, sangat baik untuk menjaga keasaman lambung dan memperlancar pencernaan
(http://poltekkes-pontianak.Org).

2.13.Aktivitas Air (A
w
)

Aktivitas air adalah kebutuhan air untuk pertumbuhan mikroorganisme atau
aktivitas kimia air. Bakteri termasuk jenis bakteri yang tumbuh dengan cepat apabila
keadaan sekitarnya memungkinkan. Masing-masing jenis mikroorganisme membutuhkan
jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya. Kebanyakan bakteri nonhalofilik
mempunyai tingkat pertumbuhan maksimum pada kisaran nilai A
w=
0,9800,997, bakteri
halofilik masih dapat tumbuh pada nilai A
w
=0,750.

Aktivitas air minimal beberapa jenis mikroorganisme tertentu:
Organisme A
w
minimal
Sebagian besar bakteri 0,90
Sebagian besar khamir 0,88
Sebagian besar jamur 0,80
Khamir Osmofilik 0,60
(Purnomo,H.1995).
Aktivitas air (A
w
) merupakan parameter yang sangat berguna untuk menunjukkan
kebutuhan air atau hubungan air dengan mikroorganisme dan aktivitas enzim. Pengurangan
air dari penambahan zat yang dilarutkan dapat dilakukan sampai keadaan dimana
pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan. Pada saat penambahan zat tersebut akan
lebih peka terhadap perubahan-perubahan kimiawi dan fisik. Kebutuhan air untuk
pertumbuhan mikroorganisme atau aktivitas kimiawi air atau yang dikenal sebagai

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxviii
aktivitas air (A
w
) berarti konsentrasi efektif sebagai pereaksi dalam reaksi-reaksi kimia.
Hal ini penting sekali, karena mikroorganisme pembusuk lainnya tidak dapat tumbuh, atau
reaksi-reaksi kimia yang dihambat atau dihentikan pada nilai aktivitas kimia dari air di
bawah nilai tertentu. Pengetahuan tentang aktivitas air diperlukan untuk mengendalikan
perubahan-perubahan yang bersifat kimiawi, fisik maupun mikrobiologik, sehingga dapat
diproduksikan serta dapat disimpan pada suhu kamar. Disamping itu aktivitas air juga
sangat penting perannya dalam proses penyimpanan (Purnomo, 1995).




Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xxxix
BAB III

BAHAN DAN METODE PENELITIAN


3.1 Bahan-Bahan

1. Bintil akar tanaman putri malu (Mimosa pudica .L)
2. Media Yeast Extract Manitol Agar (YEMA) steril
3. Media Yeast Manitol Broth (YMB)
4. Dolomit
5. Akuades
6. Akuades Steril
7. Larutan Klorok
8. Congo Red p.a.(E. Merck)
9. Kristal Violet p.a.(E. Merck)
10. Iodine p.a.(E. Merck)
11. Aseton Alkohol p.a.(E. Merck)
12. Safranin p.a.(E. Merck)
13. Alkohol 96% Teknis

3.2.Alat-alat

1. Cawan Petri Pyrex
2. Tabung Reaksi Pyrex
3. Pipet Volume Pyrex
4. Gelas Ukur Pyrex
5. Gelas Beaker Pyrex
6. Gelas Erlenmeyer Pyrex
7. Oven Gallenkamp
8. Autoklaf Webeco
9. Inkubator Fischer Scientific


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xl
10. Mikroskop Prior England
11. Neraca Analitis Ohaus
12. Shaker Julabo SW 22
13. Jarum Ose
14. Gelas Objek
15. Spatula
16. Pipet tetes
17. Pengaduk Magnet
18. Hockey Stick
19. Plastik tahan panas
20. Aluminium Foil


3.3.Prosedur Penelitian

3.3.1. Pembuatan YEMA (Yeast Extract Manitol Agar)

Ditimbang 0,2 gram Yeast Extract, 2 gram Manitol, 0,1 gram K
2
HPO
4
, 0,04 gram MgSO
4
,
0,1 gram NaCl, dan 7,8 gram PDA. Kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass. Lalu
ditambahkan 200 mL akuades, kemudian diaduk hingga rata. Lalu dipanaskan sampai
mendidih. Ditambah 0,25 gram Congo Red yang diencerkan dengan 100 mL akuades, lalu
ditambahkan ke dalam media YEMA yang telah homogen hingga berwarna merah. Dibagi
ke dalam 20 tabung reaksi. Diautoklaf pada tekanan 1,02 atm dengan suhu 250
0
C selama 2
jam.

3.3.2. Pembuatan YMB (Yeast Extract Manitol Broth)

Ditimbang 0,1 gram Yeast Extract, 1 gram Manitol, 0,05 gram K
2
HPO
4
, 0,02 gram
MgSO
4
dan 0,01 gram NaCl. Kemudian dimasukkan ke dalam beaker glass. Lalu
ditambahkan 100 mL akuades, kemudian diaduk hingga rata. Lalu dipanaskan sampai
mendidih. Diautoklaf pada tekanan 1,02 atm dengan suhu 250
0
C selama 2 jam.


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xli
3.3.3. Preparasi Sampel

Sampel yang digunakan adalah Rhizobium hasil isolasi dari tanaman putri malu, yang
diambil dari FMIPA USU. Pengambilan sampel dilakukan dengan mencabut putri malu
yang akarnya berbintil lalu bintilnya dikumpulkan. Kemudian dibawa ke Laboratorium
Biokimia FMIPA USU.


3.3.4. Isolasi Rhizobium dari Bintil Akar

Sampel yang telah dibawa ke laboratorium, kemudian diproses. Bintil akar dipilih dari
tanaman putri malu yang tersedia kemudian bintil akar tersebut dicuci dengan
merendamnya ke dalam tabung reaksi yang berisi akuades selama 2 menit, dibiarkan
selama 1 menit, kemudian disaring. Lalu bintil akar tersebut dimasukkan dalam tabung
reaksi. Dilanjutkan dengan disemprot dengan menggunakan alkohol 96% selama 10 detik.
Lalu disemprot kembali dengan larutan klorok selama 10 menit dan dibilas dengan akuades
selama 2 menit. Kemudian bintil akar yang telah disterilkan tersebut dipencet atau digerus
menggunakan gelas objek. Di tambah 1 mL akuades. Lalu bintil akar yang steril tersebut
digiling.


3.3.4.1. Isolasi Bakteri Rhizobium pada Media Selektif dengan Penambahan Congo
Red

Satu ose dari suspensi yang sudah disiapkan sebelumnya diambil, kemudian digoreskan
pada media YEMA +Congo Red. Lalu kultur diinkubasi pada suhu 37
o
C selama 24-48
jam. Pertumbuhan Rhizobium diamati dengan memperhatikan bentuk dan warnanya. Pada
umumnya koloni berwarna putih transparan, mukoid dan sedikit berlendir. Rhizobium yang
diperoleh disimpan dalam lemari es pada suhu 4
o
C selama 24-48 jam. Bakteri yang
diperoleh ditumbuhkan kembali pada medium YEMA dengan menggunakan metode gores
sinambung, lalu diinkubasi pada suhu 37
o
C selama 24 - 48 jam. Tujuannya yaitu untuk
memperoleh biakan murni dari bakteri Rhizobium.

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xlii

3.3.4.2. Pengidentifikasian Bakteri Rhizobium dengan Metode Mikroskopis

Plat kaca atau gelas objek disterilkan dengan alkohol 96%. Satu ose biakan media diambil.
Kemudian diletakkan di atas plat kaca ditetesi akuades sebanyak 2 tetes lalu didiamkan
sampai kering. Plat kaca kemudian ditetesi dengan larutan kristal violet dan didiamkan
selama 30 detik, lalu dicuci dengan akuades. Plat kaca ditetesi kembali dengan larutan
iodine dan didiamkan selama 30 detik, lalu dicuci dengan akuades. Kemudian ditetesi
dengan larutan aseton alkohol dan didiamkan selama 30 detik, dicuci dengan akuades. Plat
kaca ditetesi kembali dengan larutan safranin dan didiamkan selama 30 detik, dan dicuci
dengan akuades, dibiarkan mengering lalu diamati di bawah mikroskop. Difoto bakteri
Rhizobium yang diamati.

3.3.5. Pembuatan Starter Kultur

Biakan Rhizobium yang ditumbuhkan kembali pada YEMA kemudian diambil 1-2 ose dan
dicampur dengan 100 mL Yeast Manitol Broth (YMB) dalam gelas erlenmeyer, lalu
dikocok dengan menggunakan alat pengocok (shaker) selama 9 hari pada temperatur
kamar hingga diperoleh Starter Kultur.

3.3.6. Pencampuran Starter dengan Medium Pembawa (Carrier)

Dolomit sebagai medium pembawa ditimbang sebanyak 140 gram lalu disterilkan.
Sterilisasi dilakukan pada suhu 121
o
C pada tekanan 1,02 atm selama 60 menit. Medium
yang sudah disterilisasi dibagi wadah plastik dengan pembagian sebagai berikut :
1. Wadah I : 5 g Dolomit ditambahkan dengan 10 mL Starter (1:2)
2. Wadah II : 5 g Dolomit ditambahkan dengan 15 mL Starter (1:3)
3. Wadah III : 5 g Dolomit ditambahkan dengan 20 mL Starter (1:4)
4. Wadah IV : 5 g Dolomit ditambahkan dengan 25 mL Starter (1:5)
5. Wadah V : 5 g Dolomit ditambahkan dengan 30 mL Starter (1:6)

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xliii
Masing-masing wadah kemudian dibolak balik sehingga antara starter dengan media
tercampur secara homogen lalu diinokulasikan dan disimpan selama 5 minggu pada
temperatur kamar.

3.3.7. Pengujian Jumlah Sel dari Medium Pembawa ( Carrier )

Masing-masing wadah dengan perbandingan antara dolomit dengan starter kultur 1:2, 1:3,
1:4, 1:5, 1:6, ditimbang sebanyak 1 g dan dimasukkan dalam masing-masing 5 tabung
reaksi yang berbeda, kemudian ditambahkan dengan 10 mL akuades steril. Dikocok
sampai homogen dengan menggunakan vortexs lalu didiamkan selama 1 menit atau sampai
partikel tanah mengendap.Sebanyak 1 mL diambil dengan menggunakan pipet volume
kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu divortex (pengenceran 10
-2
). Hal yang
sama dilakukan sampai penegenceran 10
-9
. Suspensi diambil sebanyak 0,25 mL dan
disebarkan pada medium YEMA +Congo Red dalam cawan petri dengan menggunakan
cawan sebar. Kemudian diinkubasi pada suhu 37
o
C (selama 24 48) jam. Isolasi
Rhizobium dari media pembawa dilakukan dari minggu ke-1 sampai minggu ke-5. Hingga
diperoleh pupuk Rhizobium.

3.3.8. Pengujian Lapangan

Pupuk Rhizobium yang diperoleh kemudian diaplikasikan dalam bentuk tabur kedalam
masing-masing pot tanaman kacang hijau. Kemudian diukur lebar daun, panjang daun,
diameter daun, tinggi batang dan diameter batang dengan menggunakan jangka sorong.
Pengamatan yang dilakukan dari minggu ke-1 sampai minggu ke-4 dan dicatat hasil
pengamatan.








Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xliv
3.4. Bagan Penelitian
3.4.1. Bagan Penelitian Isolasi Bakteri Rhizobium Metode Dubey, 2006
3.4.1.1.Isolasi Pembuatan Pupuk Rhizobium dari Akar Tanaman Putri Malu
(Mimosa pudica .L)
3.4.1.1.1. Pembuatan Biakan Murni (Stok Kultur) Rhizobium


dicuci dengan akuades selama 2 menit
dibiarkan 1 menit
disaring

dimasukkan kedalam tabung reaksi
disemprot dengan alkohol 96% selama 10 detik
disemprot dengan larutan klorok selama 10 detik
dibilas dengan akuades selama 2 menit

digiling dengan menggunakan alu dan lumpang
ditambah 1 mL akuades steril

diinokulasi 1 ose pada media YEMA +
Congo red pada cawan petri
diinkubasikan pada suhu 37
o
C selama 24-48 jam


dilihat bentuknya
diamati warnanya
dipisahkan dengan jarum ose




disimpan dalam lemari es pada suhu 4
o
C selama 24-48 jam
uji mikroskop
dikembngbiakkan kembali untuk mendapatkan biakan murni pada medium
YEMA dengan menggunakan metode gores sinambung
diinkubasi pada suhu 37
o
C selama 24-48 jam.


Bintil akar tanaman putri malu
(Mimosa pudica .L)
Bintil akar tanaman putri malu (Mimosa pudica .L)
Bintil akar tanaman putri malu (Mimosa pudica .L)
Suspensi Bintil akar tanaman putri malu (Mimosa pudica .L)
Koloni berwarna putih
(Rhizobium)
Koloni berwarna merah
(Agrobacterium)
Campuran Koloni Rhizobium dan
Agrobacterium
Hasil

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xlv
3.4.1.1.2. Pembuatan Perbandingan Biakan Murni Rhizobium pada pembawa
(Carrier)


diambil 1-2 ose isolat Rhizobium dolomit ditimbang sebanyak 140
gram
diinokulasikan kedalam media disterilkan di dalam autoklaf
Yeast Manitol Broth (YMB) pada suhu 121
o
C dan tekanan
digoyang selama 9 hari 1,02 atm selama 60 menit
pada temperatur kamar


diukur volume dengan variasi ditimbang sebanyak 5 gram
10 ml, 15 ml, 20 ml, 25 ml, 30 ml

dicampurkan starter kultur dengan dolomit
dimasukkan ke dalam 5 wadah plastik yang
berbeda







didapat perbandingan 1:2, 1:3, 1:4, 1:5, 1:6
diinokulasikan selama 5 minggu pada temperatur
kamar




Biakan murni (Stok
Kultur) Rhizobium
Starter kultur
Dolomit {CaMg(CO
3
)
2
}
Wadah V
(5 gram
Dolomit) +
30 mL
starter
Wadah IV
(5 gram
Dolomit) +
25 mL
starter
Wadah III
(5 gram
Dolomit) +
20 mL
starter
Wadah II
(5 gram
Dolomit) +
15 mL
starter
Wadah I
(5 gram
Dolomit) +
10 mL
starter
Rhizobium dalam serbuk dolomit
Dolomit Steril

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xlvi
3.4.1.1.3. Perhitungan Jumlah Sel Pada pembawa (Carrier)



ditimbang sebanyak 1 gram
dimasukkan kedalam masing-masing 5
tabung reaksi
ditambahkan 10 mL akuades steril
dihomogenkan dengan vorteks
didiamkan selama 1 menit



dipipet sebanyak 1 mL
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
dilakukan pengenceran 10
-2
10
-9
dengan vorteks



diambil sebanyak 0,25 mL
disebarkan pada media YEMA +Congo red dalam cawan petri
diinkubasi pada suhu 37
o
C selama 24-48 jam
dihitung jumlah sel pada pembawa (carier) dari minggu ke-1
sampai minggu ke -5








Rhizobium dalam serbuk dolomit
Filtrat Rhizobium Endapan serbuk
Suspensi Rhizobium Filtrat
Hasil

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xlvii
3.4.2. Pengaplikasian Pupuk Rhizobium Terhadap Tanaman Kacang Hijau (Vigna
radiata L.)
3.4.2.1. Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Tanpa Penambahan Pupuk
Rhizobium (blanko)


diambil secukupnya serta dimasukkan ke dalam
wadah yang telah disediakan
ditambahkan akuades secukupnya
dibiarkan terendam selama 10 menit




diambil 2 3 biji kacang hijau
dimasukkan ke dalam wadah polibek yang telah diisi tanah
setinggi 20 cm +5 gram dolomit yang telah dihomogenkan


diukur dan dihitung




diamati pertumbuhan tanaman kacang hijau
dari minggu ke 1 hingga ke 4.
dicatat hasil pengamatan
diulangi perlakuan yang sama pada tanaman
berikutnya



Biji Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Biji Kacang Hijau (Vigna
radiata L.) Yang Terendam
(Biji yang bagus)
Biji Kacang Hijau (Vigna
radiata L.) Yang Terapung (Biji
yang rusak)
Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Diameter
daun
Panjang
daun
Lebar
daun
Hasil
Tinggi
batang
Diameter
batang

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xlviii
3.4.2.2. Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Dengan Penambahan Pupuk
Rhizobium.


diambil secukupnya serta dimasukkan ke dalam
wadah yang telah disediakan
ditambahkan akuades secukupnya
dibiarkan terendam selama 10 menit




diambil 2 3 kacang hijau
dimasukkan ke dalam wadah polibek yang telah diisi tanah
setinggi 20 cm


ditambahkan dengan pupuk Rhizobium dengan perbandingan (1:2)
diukur dan dihitung



diamati pertumbuhan tanaman kacang
hijau dari minggu ke 1 hingga ke 4.
dicatat hasil pengamatan
diulangi perlakuan yang sama pada
penambahan pupuk Rhizobium dengan
perbandingan (1:3 ; 1:4 ; 1:5 ; 1:6)




Biji Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Biji Kacang Hijau (Vigna
radiata L.) Yang Terendam
(Biji yang bagus)
Biji Kacang Hijau (Vigna
radiata L.) Yang Terapung (Biji
yang rusak)
Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.)
Tinggi
batang
Diameter
daun
Panjang
daun
Lebar
daun
Hasil
Diameter
batang

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

xlix


BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian pupuk mikroba dan pengaplikasian pada tanaman kacang hijau yang
dilakukan, diperoleh hasil bahwa pertumbuhan kacang hijau dengan penambahan starter
kultur dan bentonit 1:6 memperlihatkan hasil yang paling baik dibandingkan dengan
perbandingan 1:2, 1:3, 1:4, 1:5, dan blanko. Hal ini dapat dilihat dari Tabel 4.1 dan 4.2
berikut ini :
Tabel 4.1. Data perhitungan jumlah koloni bakteri Rhizobium
Sampel Pengenceran
Minggu Minggu Minggu Minggu Minggu

I II III IV V
Blanko 10
9
0 0 0 0 0
1 : 2 10
9
207 253 268 272 281
1 : 3 10
9
215 274 276 290 315
1 : 4 10
9
270 291 311 379 381
1 : 5 10
9
289 318 346 391 428
1 : 6 10
9
301 347 384 459 473

Tabel 4.2. Data Perhitungan jumlah total koloni Rhizobium
Sampel Pengenceran
Minggu

Minggu Minggu Minggu Minggu

I II III IV V
Blanko 10
9
0 0 0 0 0
1 : 2 10
9
828 x 10
9
1012 x 10
9
1072 x 10
9
1088 x 10
9
1124 x10
9

1 : 3 10
9
860 x 10
9
1096 x 10
9
1104 x 10
9
1160 x 10
9
1260 x 10
9

1 : 4 10
9
1080 x10
9
1164 x 10
9
1244 x 10
9
1516 x 10
9
1525 x 10
9

1 : 5 10
9
1156 x10
9
1272 x 10
9
1384 x 10
9
1564 x 10
9
1712 x 10
9

1 : 6 10
9
1204 x10
9
1388 x 10
9
1536 x 10
9
1836 x 10
9
1892 x 10
9




Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

l
Tabel 4.3. Data Hasil Pertumbuhan tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.) per
minggu
Perlakuan Minggu I
Lebar
Daun (cm)
Panjang
Daun (cm)
Diameter
daun (cm)
Tinggi
batang (cm)
Diameter
batang (cm)
Blanko 1 2,2 4,1 0,1 1,3 0,2
Blanko 2 2,2 4,0 0,1 13,1 0,2
Blanko 3 2,3 4,1 0,1 13,4 0,2
1 : 2 2,2 7,9 0,1 18,5 0,2
1 : 3 2,4 6,7 0,1 16,5 0,2
1 : 4 2,4 4,0 0,1 16,3 0,3
1 : 5 2,6 6,5 0,1 15,6 0,3
1 : 6 2,7 6,8 0,1 17,1 0,2
1 : 2 2,4 6,0 0,1 16,5 0,2
1 : 3 2,7 5,4 0,1 15 0,2
1 : 4 2,5 7,3 0,1 16,5 0,25
1 : 5 2,3 7,8 0,1 17,3 0,25
1 : 6 2,4 7,1 0,1 17,8 0,25
1 : 2 2,4 7,4 0,15 18,6 0,2
1 : 3 2,4 5,8 0,15 20,1 0,3
1 : 4 2,3 7,1 0,1 16,5 0,2
1 : 5 2,3 6,0 0,15 17,8 0,3
1 : 6 2,4 6,5 0,1 15,4 0,2
1 : 2 2,7 8,1 0,1 10,6 0,25
1 : 3 2,5 70 0,1 18,9 0,25
1 : 4 2,4 7,4 0,1 17,4 0,3
1 : 5 2,3 6,2 0,15 18,8 0,25
1 : 6 2,8 7,9 0,1 21,3 0,35
Data selengkapnya disajikan pada Lampiran tabel 4.3.


4.1.1. Perhitungan Jumlah Sel Rhizobium

CFU/ml =
V
df x a

CFu =Colony Forming Unit
a =Rata-rata jumlah koloni per petri agar
Df =Faktor pengenceran
V =Volume Suspensi Biakan yang disebarkan



Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

li



4.1.1.1. Pengamatan Minggu I

Pengenceran 1:2
CFU/ml =
25 , 0
10 207
9
x
=828 x 10
9


4.1.1.2. Pengamatan Minggu II

Pengenceran 1:2
CFU/ml =
25 , 0
10 253
9
x
=1012x 10
9


4.1.1.3. Pengamatan Minggu III

Pengenceran 1:2
CFU/ml =
25 , 0
10 268
9
x
=1072 x 10
9


4.1.1.4. Pengamatan Minggu IV


Pengenceran 1:2
CFU/ml =
25 , 0
10 272
9
x
=1088 x 10
9

4.1.1.5. Pengamatan Minggu V

Pengenceran 1:2
CFU/ml =
25 , 0
10 281
9
x
=1124 x 10
9

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lii
.1.2. Perhitungan Aktivitas Air (A
w
)
A
w
=
2 1
2
n n
n
+

n
1
=berat sampel yang dilarutkan
n
2
=berat kadar air

ERH =A
w
X 100% ( Nurwantoro,1997 ).

Perbandingan 1:2
A
w
= % 7 , 70 707 , 0
084 , 0 203 , 0
203 , 0
= =
+ gr gr
gr

(Data selengkapnya ada di lampiran Tabel.4.5.)


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

liii
4.2. Pembahasan

Menurut metode Lay, (1994) dalam Khairina, (2007) perhitungan jumlah sel dilakukan
dengan cara standart plate count. Didasarkan pada asumsi bahwa setiap sel mikrorganisme
hidup dalam suspensi biakan tumbuh menjadi 1 koloni setelah diinkubasikan dalam media
biakan dan lingkungan yang sesuai. Setelah masa inkubasi, jumlah koloni yang tumbuh
dihitung dan merupakan perkiraan atau dugaan dari jumlah mikroorganisme dalam
suspensi tersebut. Koloni yang tumbuh tidak selalu berasal dari satu sel mikroorganisme,
karena beberapa mikroorganisme tertentu cenderung untuk berkelompok. Bila
ditumbuhkan pada media dan lingkungan kelompok bakteri ini hanya akan menghasilkan 1
koloni. Berdasarkan hal tersebut seringkali digunakan istilah colony forming (CFU/ml)
untuk penghitungan jumlah mikroorganisme hidup.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh jumlah koloni bakteri Rhizobium
sesuai dengan Tabel 4.2. Untuk blanko dengan pengenceran 10
9
pada minggu I V jumlah
koloni bakteri Rhizobium sama dengan nol. Untuk sampel dengan perbandingan 1: 2
(pengenceran 10
9
) pada minggu I jumlah koloni =828 x 10
9
, minggu II jumlah koloni =
1012 x 10
9
, minggu III jumlah koloni =1072 x 10
9
, minggu IV jumlah koloni =1088 x 10
9

, minggu V jumlah koloni =1124 x 10
9
. Dapat disimpulkan bahwa, dengan pengenceran
yang semakin besar jumlah koloni bakteri Rhizobium dari minggu I hingga minggu V
semakin banyak.

Salah satu faktor yang menentukan mutu pupuk mikroba adalah jumlah
mikroorganisme yang terkandung di dalamnya. J umlah tersebut dapat berkurang karena
suhu yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu rendah
umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikrrorganisme daripada suhu tinggi.
Peningkatan suhu menyebabkan kelembaban menurun. Dengan mempertahankan
kelembapan, kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Selain peka terhadap suhu tinggi
mikroba juga peka terhadap sinar matahari langsung. Pada penggunaan inokulan bakteri
Rhizobium, inokulasi biji legum harus dilakukan pada tempat yang teduh, karena bakteri
tersebut tidak tahan terhadap sinar matahari langsung. Pupuk bio yang lazim digunakan
seperti Legin, Bio-lestari, Rhizoplus mempunyai jumlah sel Rhizobium 10.000.000

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

liv
1.000.000.000, dengan masa simpan 6 bulan, disimpan di bawah suhu 20
o
C dalam kantong
polikelonium/aluminium foil, dalam satu kantong berisi 30 g40 g untuk 2000 m
2
, untuk 1
ha diperlukan 5 kantong standard dan digunakan untuk tanaman kacang-kacangan. Isolasi
bakteri Rhizobium dari bintil akar tanaman putri malu dengan menggunakan carrier
dolomit dapat memenuhi standard sebagai pupuk bio yang lazim digunakan dipasaran
dilihat dari jumlah koloni, dan cara penyimpanannya dan pengaplikasiannya di lapangan.

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lv
Tabel.4.4.Hasil rataan aplikasi lapangan selama 4 minggu pada tanaman
kacang hijau yang diberi pupuk mikroba (biofertilizer) dan tanpa
pemberian pupuk (blanko).
Perlakuan Pupuk Mikroba (Biofertilizer)
(cm)
Blanko (cm)



Minggu I
Lebar Daun 2,86 2,33
Panjang Daun 6,27 4,06
Diameter Daun 0,14 0,10
Tinggi Batang 16,80 12,60
Diameter Batang 0,26 0,15



Minggu II
Lebar Daun 3,74 2,75
Panjang Daun 7,35 5,20
Diameter Daun 0,27 0,15
Tinggi Batang 23,50 17,60
Diameter Batang 0,33 0,16



Minggu III
Lebar Daun 5,97 3,58
Panjang Daun 8,10 5,93
Diameter Daun 0,36 0,18
Tinggi Batang 40,72 27,39
Diameter Batang 0,39 0,19



Minggu IV
Lebar Daun 8,35 6,84
Panjang Daun 11,43 8,85
Diameter Daun 0,31 0,21
Tinggi Batang 57,10 31,68
Diameter Batang 0,58 0,24


Hal ini menunjukkan bahwa pupuk mikroba dari sampel bintil akar putri malu
efektif untuk mengikat nitrogen dari udara bebas. Ini dibuktikan dari pengujian aplikasi
lapangan pada tanaman kacang hijau yang diberi pupuk mikroba lebih subur dibandingkan
dengan blanko tanpa pemberian pupuk. Hasil pengujian lapangan pada tanaman kacang
hijau selama empat minggu menunjukkan, tanaman kacang hijau yang diberi pupuk
mikroba untuk minggu I memiliki rata-rata lebar daun 2,86 cm, panjang daun 6,27 cm,
diameter daun 0,14 cm, luas daun 15,19 cm
2
, tinggi batang 16,8 cm, diameter batang 0,26
cm, untuk minggu II memiliki rata-rata lebar daun 3,74 cm, panjang daun 7,35 cm,
diameter daun 0,27 cm, luas daun 28,14 cm
2
,

tinggi batang 23,5 cm, diameter batang 0,33
cm, untuk minggu III memiliki rata-rata lebar daun 5,97 cm, panjang daun 8,10 cm,
diameter daun 0,36 cm, Luas daun 47,2 cm
2
, tinggi batang 40,72 cm, diameter batang 0,39
cm, untuk minggu IV memiliki rata -rata lebar daun 8,35 cm, panjang daun 11,43 cm,

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lvi
diameter daun 0,31 cm, luas daun 63,81 cm
2
, tinggi batang 57,10 cm, diameter batang 0,58
cm, sedangkan tanaman blanko untuk minggu I memiliki rata-rata lebar daun 2,23 cm,
panjang daun 4,06 cm, diameter daun 0,1 cm, luas daun 13,41 cm
2
, tinggi batang 12,6 cm,
diameter batang 0,15 cm, untuk minggu II memiliki rata-rata lebar daun 2,75 cm, panjang
daun 5,20 cm, luas daun 25,41 cm
2
, diameter daun 0,15 cm, tinggi batang 17,6 cm,
diameter batang 0,16 cm, untuk minggu III memiliki lebar daun 3,58 cm, panjang daun
5,93 cm, diameter daun 0,18 cm, luas daun 22,85 cm
2
, tinggi batang 27,39 cm, diameter
batang 0,19 cm, untuk minggu IV memiliki lebar daun 6,84 cm, panjang 8,85 cm, diameter
daun 0,21 cm, luas daun 49,47 cm
2
, tinggi batang 31,68 cm, tinggi diameter batang 0,24
cm. Hal ini menunjukkan pertumbuhan luas daun kacang hijau yang sangat bagus, dan
semakin banyak klorofil pada daun maka pertumbuhan tanaman semakin bagus, karena
semakin banyak sinar matahari yang ditangkap dan makin banyak pula karbohidrat yang
dibutuhkan selama proses fotosintesis berlangsung.

Dari hasil pengujian aktivitas air (A
w
) yang dilakukan, diperoleh hasil 1 : 2
memiliki A
w
=0,707, 1 : 3 memiliki A
w
=0,838, 1:4 memiliki A
w
=0,866, 1 : 5 memiliki
A
w
=0,884, 1 : 6 memiliki A
w
=0,890. Penyajian data dapat dilihat pada lampiran Tabel.
4.5. Menurut Purnomo, (1995) bakteri rhizobium dapat tumbuh pada nilai A
w
0,750
0,900.

Umumnya bahan pembawa yang sering digunakan adalah bahan bahan organik,
mineral dan liat. Bahan organik bisa tepung tepungan, terigu, tapioka, maizena, sagu,
kompos, gambut, dan lain-lain. Bahan mineral biasanya zeolit, gipsum, bentonit, kapur dan
lainnya. Ada juga yang menggunakan tanah liat tertentu. Bahan-bahan ini bisa tunggal atau
bisa juga merupakan campuran beberapa bahanbahan. Ada juga yang memberikan
tambahan nutrisi pada bahan pembawa tersebut (http://isroi.wordpress.com).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Pertanian
mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat menghasilkan lebih dari setengah
kebutuhan hara tanaman. (http:www.faperta.UGM.ac.id.)

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lvii



BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian tentang dolomit sebagai media pembawa Rhizobium dan hasil
aplikasinya pada tanaman kacang hijau, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Biakan murni Rhizobium dapat diperoleh dengan cara mengisolasi bakteri
Rhizobium pada media selektif yaitu dengan menggunakan media Yeast Ekstrak
Manitol Agar (YEMA) dan pengujiannya dilakukan dengan penambahan Congo
red, kemudian dilakukan perbanyakan atau penanaman kembali.
2. Hasil pengujian lapangan pada tanaman kacang hijau selama empat minggu
menunjukkan, tanaman kacang hijau yang diberi pupuk mikroba dengan variasi
konsentrasi antara Rhizobium hasil isolasi dengan dolomit yang digunakan sebagai
pembawa (carier) untuk perbandingan 1 : 6 memiliki rata-rata lebar daun 8,69 cm,
panjang daun 11,43 cm, diameter daun 4,37 cm, luas daun 72,79 cm
2
, tinggi batang
58,91 cm, diameter batang 0,65 cm, sedangkan tanaman blanko memiliki rata-rata
lebar daun 6,43 cm, panjang daun 8,21 cm, diameter daun 0,27 cm, luas daun 48,87
cm
2
, tinggi batang 27,63 cm, hal ini disebabkan karena pada perbandingan 1 : 6
merupakan kemampuan optimum media untuk menampung bakteri.
3. Dolomit dapat digunakan sebagai media pembawa, karena memenuhi standar
sebagai pupuk mikroba sesuai standar yang tercantum pada Rao, (1994 ) yaitu
mempunyai jumlah sel 10
8
10
9
sel hidup per gram.


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lviii
5.2.Saran

1. Disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan rumah kaca untuk aplikasi
lapangan supaya hasil yang diperoleh lebih bagus karena dapat menghindari adanya
gangguan dari bakteri bakteri patogen yang mampu memfiksasi nitrogen dari
udara.
2. Disarankan untuk peneliti selanjutnya untuk menentukan pH inokulan dan pH
bahan pembawa (carrier) supaya bakteri Rhizobium dapat tumbuh dengan baik.

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lix
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous III. http : // elearning .unuj. ac .id .

Dalimartha. S. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta: Trubus Agriwidya.

Dubey.R. C. 2006. A Textbook Of Biotechnology. New Delhi: S. Chand & Company LTD.

Fahn, A. 1991. Anatomi tumbuhan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada University
press.

http://id.wikipedia.mineral/wiki/dolomit.

http:/www.indobiogen.or.id/berita artikel/mengenal plasma nutfah.php

http://id.biotek.lipi.go.id

http:// id. Wikipedia.org / wiki / kacang hijau.

http://poltekkes. Pontianak.org/indek.php.co.id

http://pertanian.uns.ac.id/~agronomi/agrosains/cara_dos_dolomit_sp36_sumaryo.pdf

Ismawati. E. 2004. Pupuk Organik. Jakarta: Penebar Swadaya.

Lingga. P. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta: Penebar Swadaya.

Khairina. Surbakti. Firman. 2007. Studi Pendahuluan Isolasi Bakteri Rhizobium dari
Bintil Akar Tanaman Putri Malu (Mimosa pudica L) serta Pemanfaatannya
Sebagai Pupuk Mikroba. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Marx. J.L. 1991. Revolusi Bioteknologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lx
Matsara, MR and Bisoyi, RN. 2001. Corp. Demonstration on Biofertilizer. New Delhi:
N.B.D Center Ghaziabad.

Mugnisyah W.R. 1995. Produksi Benih. Cetakan Pertama. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara.

Mulyani. M. 1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Novizan. 2002. Petunjuk pemupukan yang Efektif. Jakarta: Agro Media Pustaka.

Pelczarzchan. M.J. 1998. Dasar-dasar Mikrobiologi 2, Jakarta: Penerbit UI Press.

Purnomo.H.1995. Aktivitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. Jakarta: UI-
Press.

Rao. Subba. N. S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. Edisi II.
Jakarta: UI-Press.

Sutanto. R. 2002. Penerapan Pertanian Organik (Pemasyarakatan Pengembangannya).
Jakarta: Penerbit Kanisius.

Sharma OP. 2002. Plant Taxonomy. New Delhi: Tata MC Grow Hill Publishing
Company Limited.

Yuwono. T. 2006. Bioteknologi Pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.









Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxi


LAMPIRAN















Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxii





Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxiii
Tabel 4.1. Data perhitungan jumlah koloni bakteri Rhizobium
Sampel Pengenceran
Minggu
I II III IV V
Blanko 10
9
0 0 0 0 0
1 : 2 10
9
207 253 268 272 281
1 : 3 10
9
215 274 276 290 315
1 : 4 10
9
270 291 311 379 381
1 : 5 10
9
289 318 346 391 428
1 : 6 10
9
301 347 384 459 473

Tabel 4.2. Data Perhitungan jumlah total koloni Bakteri Rhizobium
Sampel Pengenceran
Minggu
I (10
9
) II (10
9
) III (10
9
) IV (10
9
) V (10
9
)
Blanko 10
9
0 0 0 0 0
1 : 2 10
9
828 1012 1072 1088 1124
1 : 3 10
9
860 1096 1104 1160 1260
1 : 4 10
9
1080 1164 1244 1516 1525
1 : 5 10
9
1156 1272 1384 1564 1712
1 : 6 10
9
1204 1388 1536 1836 1892











Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxiv
Tabel 4.3.Data Hasil pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L) Per Minggu

Perlakuan Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV
LD PD DD TB DB LD PD DD TB DB LD PD DD TB DB LD PD DD LD 1 TB DB
Blanko 1 2,2 4,1 0,1 11,3 0,1 2,8 5 0,1 18 0,2 3,1 5,7 0,15 21,7 5,8 5,4 1,15 45,64 3,07
Blanko 2 2,2 4,0 0,1 13,1 0,2 2,7 5 0,1 16 0,15 2,9 5,2 0,1 25,2 5,9 7,5 1,15 45,72 28,1
Blanko 3 2,3 4,1 0,1 13,4 0,2 3 5,3 0,15 19 0,2 3,5 5,4 1,15 26,9 5,2 6,5 1,15 45,11 29,4
1 : 2 2,2 7,9 0,1 18,5 0,2 3,9 8,3 0,15 28,5 0,3 5,2 8,8 0,2 31 0,35 7,3 9,1 0,25 53,17 50,2 0,4
1 : 3 2,4 6,7 0,1 16,5 0,2 3,4 7,20 0,15 24 0,25 5,5 6,9 0,15 33 0,3 6,6 7,4 0,2 50,28 57,5 0,35
1 : 4 2,4 4,0 0,1 16,3 0,3 3,2 4,8 0,15 20 0,3 4,7 5,4 0,15 29 0,4 6,1 6,8 0,15 54,74 52,6 0,55
1 : 5 2,6 6,5 0,1 15,6 0,3 3,4 6,9 0,15 22 0,3 6 7,8 0,2 32 0,8 8,3 8,6 0,2 54,32 54,1 0,8
1 : 6 2,7 6,8 0,1 17,1 0,3 3,1 7,1 0,1 25 0,3 4,2 7,8 0,2 31 0,7 6,9 8,3 0,25 55,43 53,4 0,8
1 : 2 2,4 6,0 0,1 16,5 0,2 4,2 6,5 0,15 22 0,3 5,5 6,9 0,15 32 0,45 8,4 8,5 0,2 49,82 47,3 0,65
1 : 3 2,7 5,4 0,1 15 0,2 3,2 5,9 0,15 25,5 0,3 5,5 6,1 0,15 31,50 0,45 8,3 8 0,2 57,45 47,4 0,55
1 : 4 2,5 7,3 0,1 16,50 0,2 3,1 7,8 0,15 22 0,29 4 8,9 0,15 29 0,35 7,9 9,1 0,2 56,13 50,8 0,4
1 : 5 2,3 7,8 0,1 17,3 0,25 3,8 8 0,2 26 0,3 4,2 8,7 0,25 31,5 0,35 6,5 9,3 0,25 57,17 51,3 0,40
1 : 6 2,4 7,1 0,1 17,8 0,29 3,5 8,4 0,15 22 0,35 5,6 8,9 0,15 31 0,4 8,1 9,4 0,25 57,53 54,7 0,6
1 : 2 2,4 7,4 0,15 18,6 0,25 3,4 8,5 0,2 24 0,25 4 9,3 0,25 34 0,4 7,8 10,6 0,25 58,40 48,2 0,45
1 : 3 2,4 5,8 0,15 20,1 0,3 3,5 6,3 0,15 27 0,3 4,2 8,7 0,2 32 0,35 8,5 10,2 0,25 58,39 54,3 0,45
1 : 4 2,3 7,1 0,1 16,5 0,2 3,5 8,4 0,15 21 0,3 3,8 9,1 0,25 21,5 0,35 7,5 10,7 0,25 56,58 54,8 0,35
1 : 5 2,3 5,0 0,1 17,8 0,3 3,6 7,7 0,15 25 0,35 4 9,8 0,2 33 0,4 6,5 10,3 0,25 58,70 49,8 0,4
1 : 6 2,4 6,5 0,15 15,4 0,2 3,3 7,1 0,15 22,2 0,25 5,2 7,4 0,15 35 0,45 8,4 9,6 0,2 58,21 48,4 0,55
1 : 2 2,7 81 0,1 20,6 0,25 3,8 8,8 0,15 21,5 0,25 4,8 9,4 0,25 29,5 0,6 7,3 10,3 0,25 60,21 54,1 0,8
1 : 3 2,5 7,0 0,1 18,9 0,29 4,1 8,1 0,15 21,7 0,3 5,2 8,9 0,2 34 0,85 8,9 11,1 0,25 61,30 56,5 0,6
1 : 4 2,4 7,4 0,1 17,4 0,3 3,5 7,9 1,15 22 0,3 4,4 8,4 0,2 23,5 0,3 8,3 9,3 0,2 59,47 56,9 0,89
1 : 5 2,3 6,2 0,15 18,8 0,25 3,7 7 1,15 27 0,3 4,1 8,3 0,25 33 0,9 8,7 10,4 0,25 61,82 53,6 0,7
1 : 6 2,8 7,9 0,1 21,3 0,35 3,1 8,3 1,15 24,5 0,35 4,5 9,6 0,25 36 0,45 7,8 11,5 0,25 61,34 58,2 0,95
* LD =Lebar Daun (cm), PD =Panjang Daun (cm), DD =Diameter Daun (cm), TB =Tinggi atang(cm),DB =Diameter Batang.(cm).

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxv
Tabel.4.4.Hasil rataan aplikasi lapangan selama 4 minggu pada tanaman
kacang hijau yang diberi pupuk mikroba (biofertilizer) dan tanpa
pemberian pupuk (blanko).
Perlakuan Pupuk Mikroba (Biofertilizer)
(cm)
Blanko (cm)



Minggu I
Lebar Daun 2,86 2,33
Panjang Daun 6,27 4,06
Diameter Daun 0,14 0,10
Tinggi Batang 16,80 12,60
Diameter Batang 0,26 0,15



Minggu II
Lebar Daun 3,74 2,75
Panjang Daun 7,35 5,20
Diameter Daun 0,27 0,15
Tinggi Batang 23,50 17,60
Diameter Batang 0,33 0,16



Minggu III
Lebar Daun 5,97 3,58
Panjang Daun 8,10 5,93
Diameter Daun 0,36 0,18
Tinggi Batang 40,72 27,39
Diameter Batang 0,39 0,19



Minggu IV
Lebar Daun 8,35 6,84
Panjang Daun 11,43 8,85
Diameter Daun 0,31 0,21
Tinggi Batang 57,10 31,68
Diameter Batang 0,58 0,24








Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxvi
Tabel.4.5.Kadar Aktivitas Air (A
w
)

pada Dolomit yang Dicampur dengan Starter
Perbandingan Berat Sampel Berat kadar
air
A
w
ERH
1:2 15,531 0,203 0,707 70,7
1:3 20,414 0,181 0,838 83,8
1:4 25,227 0,208 0,866 86,6
1:5 31,179 0,218 0,884 88,4
1:6 36,513 0,175 0,890 89,0









Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxvii



Bakteri Rhizobium
Bakteri Agrobacterium















Gambar.1. Bakteri Rhizobium pada
media Yeast Ektract Manitol Agar +
Congo Red
Gambar.2. Bakteri Rhizobium pada media
yeast Ektract Manitol Agar
Gambar.3. Bakteri Rhizobium dilihat dari
Mikroskop cahaya dengan pembesaran
1000 x

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxviii






























Gambar.5. Starter kultur
Rhizobium+Media Pembawa

Gambar.4. Starter kultur Rhizobium

Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxix













Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxx


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxxi















































Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxxii


Muhammad Arsyad : Studi Isolasi Bakteri Rhizobium Yang Diinokulasikan Ke Dalam Dolomit Sebagai Pembawa ( Carrier )
Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba, 2010.

lxxiii