Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN

Diperkirakan bahwa sekitar 23% seluruh angka kematian neonatus di seluruh dunia disebabkan oleh asfiksia neonatorum, dengan proporsi lahir mati yang lebih besar. 1 Laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia !"O# menyebutkan bahwa se$ak tahun 2%%%&2%%3 asfiksia menempati urutan ke&', yaitu sebanyak (%, sebagai penyebab kematian anak diseluruh dunia setelah pneumonia, malaria, sepsis neonatorum dan kelahiran prematur. 1 Di )ndonesia, angka ke$adian asfiksia di *umah +akit ,ro-insi .awa /arat ialah 20,2%, dan angka kematian karena asfiksia di *umah +akit ,usat ru$ukan pro-insi di )ndonesia sebesar 11,21%.2 Diperkirakan 1 $uta anak yang bertahan setelah mengalami asfiksia saat lahir kini hidup dengan morbiditas $angka pan$ang seperti cerebral palsy, retardasi mental dan gangguan bela$ar.3 3enurut hasil riset kesehatan dasar tahun 2%%4, tiga penyebab utama kematian perinatal di )ndonesia adalah gangguan pernapasan5respiratory disorders 30,2%#, prematuritas 32,1%# dan sepsis neonatorum 12.%%#.2 ,enyebab utama kematian neonatus berhubungan se6ara intrinsik dengan kesehatan ibu dan perawatan yang diterima sebelum, selama dan setelah melahirkan. 7sfiksia neonatorum dan trauma kelahiran pada umumnya disebabkan oleh mana$emen persalinan yang buruk dan kurangnya akses ke pelayanan obstetri. 7supan kalori dan mikronutrien $uga menyebabkan keluaran yang buruk. 8elah diketahui bahwa hampir tiga per empat dari semua kematian neonatus dapat di6egah apabila wanita mendapatkan nutrisi yang 6ukup dan mendapatkan perawatan yang sesuai pada saat kehamilan, kelahiran dan periode pas6a persalinan.1 7sfiksia neonatorum adalah kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa depresi pernapasan yang berlan$ut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi. Oleh sebab itu, asfiksia memerlukan inter-ensi dan resusitasi segera untuk meminimalkan mortalitas dan morbiditas. +ur-ei atas 124 institusi pada 1' negara9baik negara ma$u ataupun berkembang 9menun$ukkan bahwa sarana resusitasi dasar seringkali tidak tersedia, dan tenaga kesehatan kurang terampil dalam resusitasi bayi. +ebuah penelitian di ( negara 7frika menun$ukkan bahkan di *+ pusat ru$ukan, resusitasi terhadap bayi dengan asfiksia neonatorum belum memenuhi standar. ,adahal resusitasi dasar yang efektif men6egah kematian bayi dengan asfiksia sampai tigaperempat nya.1

BAB II ASFIKSIA NEONATORUM


2.1 Definisi /eberapa sumber mendefinisikan asfiksia neonatorum dengan berbeda : )katan Dokter 7nak )ndonesia 7sfiksia neonatorum adalah kegagalan napas se6ara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah saat lahir yang ditandai dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.3 !"O 7sfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas se6ara spontan dan teratur segera setelah lahir.1 7;O< dan 77, +eorang neonatus disebut mengalami asfiksia bila memenuhi kondisi sebagai berikut:0 a. =ilai 7pgar menit kelima %&3 b. 7danya asidosis pada pemeriksaan darah tali pusat p">4.%# 6. <angguan neurologis misalnya: ke$ang, hipotonia atau koma# d. 7danya gangguan sistem multiorgan misalnya: gangguan kardio-askular, gastrointestinal, hematologi, pulmoner, atau sistem renal#. 7sfiksia dapat bermanifestasi sebagai disfungsi multiorgan, ke$ang dan ensefalopati hipoksik&iskemik, serta asidemia metabolik. /ayi yang mengalami episode hipoksia& iskemi yang signifikan saat lahir memiliki risiko disfungsi dari berbagai organ, dengan disfungsi otak sebagai pertimbangan utama.1 2.2 Etiologi d n F !to" Risi!o 7sfiksia neonatorum dapat ter$adi selama kehamilan, pada proses persalinan dan melahirkan atau periode segera setelah lahir.1 .anin sangat bergantung pada pertukaran plasenta untuk oksigen, asupan nutrisi dan pembuangan produk sisa sehingga

gangguan pada aliran darah umbilikal maupun plasental hampir selalu akan menyebabkan asfiksia.1 Lee, dkk. 2%%(# melakukan penelitian terhadap faktor risiko antepartum, intrapartum dan faktor risiko $anin pada asfiksia neonatorum. Didapatkan bahwa ge$ala& ge$ala penyakit maternal yang dilaporkan 4 hari sebelum kelahiran memiliki hubungan yang bermakna terhadap peningkatan risiko kematian akibat asfiksia neonatorum. <e$ala& ge$ala tersebut adalah demam selama kehamilan **: 3.3%? 20%K): 2.10@0.%4#? perdarahan per-aginam **: 2.%%? 20%K): 1.23@3.24#? pembengkakan tangan,wa$ah atau kaki **: 1.4(? 20%K): 1.33@2.34#? ke$ang **: 1.41? 20%K): 1.(%@12.1'#? kehamilan ganda $uga berhubungan kuat dengan mortalitas asfiksia neonatorum **: 0.43? 20%K): 3.3(@2.42#. /ayi yang lahir dari wanita primipara memiliki risiko mortalitas asfiksia neonatorum yang lebih tinggi **: 1.41? 20%K):1.33&2.2(# sedangkan adanya riwayat kematian bayi sebelumnya tidak bermakna dalam memperkirakan kematian akibat asfiksia neonatorum **: %.22? 20%K): %.4%@1.1%#. ,artus lama **: 1.31, 20%K) 1.%%& 1.43# dan ketuban pe6ah dini **:1.(3? 20%K) 1.22&1.4'# $uga meningkatkan risiko asfiksia neonatorum se6ara bermakna. ,ada penelitiannya, Lee tidak mendapatkan bahwa pewarnaan mekoneum pada air ketuban memiliki risiko lebih besar terhadap ter$adinya asfiksia neonatorum.1 ,rematuritas memiliki risiko yang lebih besar terhadap kematian akibat asfiksia neonatorum. *isiko tersebut meningkat 1.'1 kali lipat pada usia kehamilan 31&34 minggu dan meningkat 11.33 kali lipat pada usia kehamilan > 31 minggu. Kortikosteroid perlu diberikan 4 hari sebelum kelahiran hingga paling lambat 21 $am sebelum bayi lahir untuk meningkatkan maturasi paru fetus. ,ada suatu studi kohort dikatakan bahwa penggunaan kortikosteroid antenatal adalah faktor protektif terhadap sindroma distres respirasi O*: %.24(? 20%K): %.144&%.134#. Dikatakan pula bahwa kemungkinan seorang neonatus pada populasi studi dari ibu yang tidak melakukan pemeriksaan antenatal untuk meninggal di rumah sakit adalah 1.2( kali lebih tinggi daripada anak dari ibu yang melakukan pemeriksan antenatal empat kali atau lebih.1 "asil studi kasus&kontrol yang dilakukan se6ara retrospektif oleh Oswyn <, dkk. 2%%%# menyatakan bahwa riwayat lahir&mati berhubungan kuat dengan ter$adinya asfiksia neonatorum. /ayi preterm dan posterm ditemukan lebih banyak pada kelompok kasus daripada kontrol. Asia terlalu muda >2% tahun# dan terlalu tua B 1% tahun#, anemia "b> ( g5dL#, perdarahan antepartum dan demam selama kehamilan berhubungan kuat dengan asfiksia neonatorum. 8anda&tanda gawat $anin seperti denyut $antung $anin
3

abnormal, pewarnaan mekoneum dan partus lama $uga memiliki hubungan yang kuat dengan timbulnya asfiksia neonatorum.1 /erglund, dkk. 2%%(# melakukan studi deskriptif terhadap 144 kasus asfiksia berat yang berhubungan dengan kelahiran dan diduga akibat malpraktik. Dari 144 kasus tersebut, ter$adi pengabaian pemantauan kese$ahteraan $anin pada 2(% kehamilan. ,ada 41% kehamilan, staf tidak bertindak tepat pada waktunya dalam menangani hasil kardiotokografi yang abnormal. +eratus lima puluh tu$uh orang mendapatkan infus oksitosin (2%#, 2(% penggunaannya tanpa indikasi dan 32% diberikan o-erdosis tanpa pengawasan kardiotokografi yang sesuai. ,enggunaan oksitosin tersebut menstimulasi kontraksi uterus dan meningkatkan risiko skor 7pgar rendah. ,ada 12' kelahiran, se$ak ditemukan kelainan K8< hingga kelahiran membutuhkan waktu lebih dari 10 menit, menandakan tenaga obstetri tidak bertindak tepat waktu dalam menangani tanda&tanda asfiksia fetal. 8erdapat 22 ke$adian malpraktik seputar kelahiran, 1( subyek pada ke$adian malpraktik tersebut melahirkan per-aginam dengan rekaman kardiotokografi patologis atau sulit diinterpretasi sedangkan 11 lainnya lahir dengan bantuan instrumen.1

2.#

P tofisiologi 2.#.1 $ " % &i 'e'(e"ole) o!sigen se%el*' d n setel ) l )i" +ebelum lahir, paru $anin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau $alan untuk mengeluarkan karbondioksida. ,embuluh arteriol yang ada di dalam paru $anin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen pO2# parsial rendah. "ampir seluruh darah dari $antung kanan tidak dapat melalui paru karena konstriksi pembuluh

darah $anin, sehingga darah dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu duktus arteriosus kemudian masuk ke aorta.' +etelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru&paru sebagai sumber utama oksigen. ;airan yang mengisi al-eoli akan diserap ke dalam $aringan paru, dan al-eoli akan berisi udara. ,engisian al-eoli oleh udara akan memungkinkan oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar al-eoli.' 7rteri dan -ena umbilikalis akan menutup sehingga menurunkan tahanan pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik. 7kibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di al-eoli, pembuluh darah paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran darah bekurang.' Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah sistemik, menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat sedangkan aliran pada duktus arteriosus menurun. Oksigen yang diabsorbsi di al-eoli oleh pembuluh darah di -ena pulmonalis dan darah yang banyak mengandung oksigen kembali ke bagian $antung kiri, kemudian dipompakan ke seluruh tubuh bayi baru lahir. ,ada kebanyakan keadaan, udara menyediakan oksigen 21%# untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah paru. ,ada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang sebelumnya melalui duktus arteriosus sekarang melalui paru&paru, akan mengambil banyak oksigen untuk dialirkan ke seluruh $aringan tubuh.' ,ada akhir masa transisi normal, bayi menghirup udara dan menggunakan paru&parunya untuk mendapatkan oksigen. 8angisan pertama dan tarikan napas yang dalam akan mendorong 6airan dari $alan napasnya. Oksigen dan pengembangan paru merupakan rangsang utama relaksasi pembuluh darah paru. ,ada saat oksigen masuk adekuat dalam pembuluh darah, warna kulit bayi akan berubah dari abu&abu5biru men$adi kemerahan.' 2.#.2 Kes*lit n & ng di l 'i % &i sel ' ' s t" nsisi /ayi dapat mengalami kesulitan sebelum lahir, selama persalinan atau setelah lahir. Kesulitan yang ter$adi dalam kandungan, baik sebelum atau selama persalinan, biasanya akan menimbulkan gangguan pada aliran darah di plasenta atau tali pusat. 8anda klinis awal dapat berupa deselerasi frekuensi $antung $anin. 3asalah yang dihadapi setelah persalinan lebih banyak berkaitan dengan $alan nafas dan atau paru&
5

paru, misalnya sulit menyingkirkan 6airan atau benda asing seperti mekonium dari al-eolus, sehingga akan menghambat udara masuk ke dalam paru mengakibatkan hipoksia. /radikardia akibat hipoksia dan iskemia akan menghambat peningkatan tekanan darah hipotensi sistemik#. +elain itu kekurangan oksigen atau kegagalan peningkatan tekanan udara di paru&paru akan mengakibatkan arteriol di paru&paru tetap konstriksi sehingga ter$adi penurunan aliran darah ke paru&paru dan pasokan oksigen ke $aringan. ,ada beberapa kasus, arteriol di paru&paru gagal untuk berelaksasi walaupun paru&paru sudah terisi dengan udara atau oksigen Persisten Pulmonary Hypertension Newborn, disingkat men$adi PPHN#.' 2.#.# Re !si % &i te") d ( !es*lit n sel ' ' s t" nsisi no"' l /ayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke dalam paru& parunya yang mengakibatkan 6airan paru keluar dari al-eoli ke $aringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol pulmonal dan menyebabkan arteriol berelaksasi. .ika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap kontriksi, al-eoli tetap terisi 6airan dan pembuluh darah arteri sistemik tidak mendapat oksigen.' ,ada saat pasokan oksigen berkurang, akan ter$adi konstriksi arteriol pada organ seperti usus, gin$al, otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke $antung dan otak tetap stabil atau meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen. ,enyesuaian distribusi aliran darah akan menolong kelangsungan fungsi organ&organ -ital. !alaupun demikian $ika kekurangan oksigen berlangsung terus maka ter$adi kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan 6urah $antung, penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ akan berkurang. +ebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi $aringan, akan menimbulkan kerusakan $aringan otak yang irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian. Keadaan bayi yang membahayakan akan memperlihatkan satu atau lebih tanda&tanda klinis seperti tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot dan organ lain? depresi pernapasan karena otak kekurangan oksigen? bradikardia penurunan frekuensi $antung# karena kekurangan oksigen pada otot $antung atau sel otak? tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot $antung, kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke plasenta sebelum dan selama proses persalinan? takipnu pernapasan 6epat# karena kegagalan absorbsi 6airan paru&paru? dan sianosis karena kekurangan oksigen di dalam darah.'

2.#.+ Me! nis'e & ng te", di ( d % &i % "* l )i" 'eng l 'i g ngg* n di d l ' ! nd*ng n t * ( d ' s (e"in t l ,enelitian laboratorium menun$ukkan bahwa pernapasan adalah tanda -ital pertama yang berhenti ketika bayi baru lahir kekurangan oksigen. +etelah periode awal pernapasan yang 6epat maka periode selan$utnya disebut apnu primer gambar 1#. *angsangan seperti mengeringkan atau menepuk telapak kaki akan menimbulkan pernapasan. !alaupun demikian bila kekurangan oksigen terus berlangsung, bayi akan melakukan beberapa usaha bernapas megap&megap dan kemudian ter$adi apnu sekunder, rangsangan sa$a tidak akan menimbulkan kembali usaha pernapasan bayi baru lahir. /antuan pernapasan harus diberikan untuk mengatasi masalah akibat kekurangan oksigen.'

<ambar 1. ,erubahan frekuensi $antung dan tekanan darah selama apnu +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'

Drekuensi $antung mulai menurun pada saat bayi mengalami apnu primer. 8ekanan darah akan tetap bertahan sampai dimulainya apnu sekunder sebagaimana diperlihatkan dalam gambar di bawah ini ke6uali $ika ter$adi kehilangan darah pada saat memasuki periode hipotensi#. /ayi dapat berada pada fase antara apnu primer dan apnu dan seringkali keadaan yang membahayakan ini dimulai sebelum atau selama persalinan. 7kibatnya saat lahir, sulit untuk menilai berapa lama bayi telah berada dalam keadaan membahayakan. ,emeriksaan fisik tidak dapat membedakan antara apnu primer dan sekunder, namun respon pernapasan yang ditun$ukkan akan dapat memperkirakan kapan mulai ter$adi keadaan yang membahayakan itu.' .ika bayi menun$ukkan tanda pernapasan segera setelah dirangsang, itu adalah apnu primer. .ika tidak menun$ukkan perbaikan apa&apa, ia dalam keadaan apnu sekunder. +ebagai gambaran umum, semakin lama seorang bayi dalam keadaan apnu
7

sekunder, semakin lama pula dia bereaksi untuk dapat memulai pernapasan. !alau demikian, segera setelah -entilasi yang adekuat, hampir sebagian besar bayi baru lahir akan memperlihatkan gambaran reaksi yang sangat 6epat dalam hal peningkatan frekuensi $antung.' .ika setelah pemberian -entilasi tekanan positif yang adekuat, ternyata tidak memberikan respons peningkatan frekuensi $antung maka keadaan yang membahayakan ini seperti gangguan fungsi miokardium dan tekanan darah, telah $atuh pada keadaan kritis. ,ada keadaan seperti ini, pemberian kompresi dada dan obat&obatan mungkin diperlukan untuk resusitasi.' 2.+ Ko'(li! si P s- Hi(o!si 2.+.1 P tofisiologi !o'(li! si ( s- )i(o!si Kelainan yang ter$adi akibat hipoksia dapat timbul pada stadium akut dan dapat pula terlihat beberapa waktu setelah hipoksia berlangsung. ,ada keadaan hipoksia akut akan ter$adi redistribusi aliran darah sehingga organ -ital seperti otak, $antung, dan kelen$ar adrenal akan mendapatkan aliran yang lebih banyak dibandingkan organ lain seperti kulit, $aringan muskuloskeletal serta organ&organ rongga abdomen dan rongga toraks lainnya seperti paru, hati, gin$al, dan traktus gastrointestinal.1 ,erubahan dan redistribusi aliran ter$adi karena penurunan resistensi -askular pembuluh darah otak dan $antung serta meningkatnya resistensi -askular di perifer.1 "al ini dapat terlihat dalam penelitian lain oleh 7kinbi dkk. 1221# yang melaporkan bahwa pada pemeriksaan ultrasonografi Doppler ditemukan kaitan yang erat antara beratnya hipoksia dengan menurunnya -elositas aliran darah serta meningkatnya resistensi $aringan di gin$al dan arteri mesenterika superior. ,erubahan ini dapat menetap sampai hari ke&3 neonatus.1 ,erubahan resistensi -askular inilah yang dianggap men$adi penyebab utama redistribusi 6urah $antung pada penderita, hipoksia dan iskemia neonatus. Daktor lain yang dianggap turut pula mengatur redistribusi -askular antara lain timbulnya rangsangan -asodilatasi serebral akibat hipoksia yang disertai akumulasi karbon dioksida, meningkatnya akti-itas saraf simpatis dan adanya akti-itas kemoreseptor yang diikuti pelepasan -asopresin.1 *edistribusi aliran darah pada penderita hipoksia tidak hanya terlihat pada aliran sistemik tetapi $uga ter$adi saat darah men6apai suatu organ tertentu. "al ini dapat terlihat pada aliran darah otak yang
8

ditemukan lebih banyak mengalir ke batang otak dan berkurang ke serebrum, pleksus khoroid, dan masa putih.1 ,ada hipoksia yang berkelan$utan, kekurangan oksigen untuk menghasilkan energi bagi metabolisme tubuh menyebabkan ter$adinya proses glikolisis anerobik. ,roduk sampingan proses tersebut asam laktat dan piru-at# menimbulkan peningkatan asam organik tubuh yang berakibat menurunnya p" darah sehingga ter$adilah asidosis metabolik. ,erubahan sirkulasi dan metabolisme ini se6ara bersama& sama akan menyebabkan kerusakan sel baik sementara ataupun menetap. ,ada bayi kurang bulan, proses hipoksia yang ter$adi akan lebih berat dibandingkan dengan bayi 6ukup bulan akibat kurang optimalnya faktor redistribusi aliran darah terutama aliran darah otak, sehingga risiko ter$adinya gangguan hipoksik iskemik dan perdarahan peri-entrikular lebih tinggi. Demikian pula disfungsi $antung akibat proses hipoksik iskemik ini sering berakhir dengan payah $antung. Karena itu tidaklah mengherankan apabila pada hipoksia berat, angka kernatian bayi kurang bulan, terutama bayi berat lahir sangat rendah yang mengalami hipoksia berat dapat men6apai 13&0(%.1 2.+.2 Disf*ngsi '*lti o"g n ( d )i(o!si .is!e'i <ambaran klinik yang terlihat pada berbagai organ tubuh tersebut sangat ber-ariasi tergantung pada beratnya hipoksia, selang waktu antara pemeriksaan keadaan hipoksia akut ter$adi, masa gestasi bayi, riwayat perawatan perinatal, serta faktor lingkungan penderita termasuk faktor sosial ekonomi. /eberapa penelitian melaporkan, organ yang paling sering mengalami gangguan adalah susunan saraf pusat. ,ada asfiksia neonatus, gangguan fungsi susunan saraf pusat hampir selalu disertai dengan gangguan fungsi beberapa organ lain multiorgan failure#. Kelainan susunan saraf pusat yang tidak disertai gangguan fungsi organ lain, hampir pasti penyebabnya bukan asfiksia perinatal.1 Siste' S*s*n n S " f P*s t ,ada keadaan hipoksia aliran darah ke otak dan $antung lebih dipertahankan dari pada ke organ tubuh lainnya, namun ter$adi perubahan hemodinamik di otak dan penurunan oksigenisasi sel otak tertentu yang selan$utnya mengakibatkan kerusakan sel otak. ,enelitian Eu, menyebutkan (&14% bayi penderita serebral palsi disertai dengan riwayat perinatal hipoksia. +alah satu gangguan akibat hipoksia otak yang paling sering ditemukan pada masa perinatal adalah ensefalopati hipoksik iskemik
9

C")#. ,ada bayi 6ukup bulan keadaan ini timbul saat ter$adinya hipoksia akut, sedangkan pada bayi kurang bulan kelainan lebih sering timbul sekunder pas6a hipoksia dan iskemia akut. 3anifestasi gambaran klinik ber-ariasi tergantung pada lokasi bagian otak yang terkena proses hipoksia dan iskemianya.1 ,ada saat timbulnya hipoksia akut atau saat pemulihan pas6a hipoksia ter$adi dua proses yang saling berkaitan sebagai penyebab perdarahan peri5intra-entrikular. ,ada proses pertama, hipoksia akut yang ter$adi menimbulkan -asodilatasi serebral dan peninggian aliran darah serebral. Keadaan tersebut menimbulkan peninggian tekanan darah arterial yang bersifat sementara dan proses ini ditemukan pula pada sirkulasi kapiler di daerah matriks germinal yang mengakibatkan perdarahan. +elan$utnya keadaan iskemia dapat pula ter$adi akibat perdarahan ataupun ren$atan pas6a perdarahan yang akan memperberat keadaan penderita. ,ada proses kedua, perdarahan dapat ter$adi pada fase pemulihan pas6a hipoksia akibat adanya proses reperfusi dan hipotensi sehingga menimbulkan iskemia di daerah mikrosirkulasi peri-entrikular yang berakhir dengan perdarahan. ,roses yang mana yang lebih berperan dalam ter$adinya perdarahan tersebut belum dapat ditetapkan se6ara pasti, tetapi gangguan sirkulasi yang ter$adi pada kedua proses tersebut telah disepakati mempunyai peran yang menentukan dalarn perdarahan tersebut.1 Siste' Pe"n ( s n ,enyebab ter$adinya gangguan pernapasan pada bayi penderita asfiksia neonatus masih belum dapat diketahui se6ara pasti. /eberapa teori mengemukakan bahwa hal ini merupakan akibat langsung hipoksia dan iskemianya atau dapat pula ter$adi karena adanya disfungsi -entrikel kiri, gangguan koagulasi, ter$adinya radikal bebas oksigen ataupun penggunaan -entilasi mekanik dan timbulnya aspirasi mekonium.1 3artin&7n6el 1220# dalam penelitiannya terhadap 42 penderita asfiksia, 12 bayi 2'%# di antaranya menderita kelainan pernapasan dan 11 bayi mernerlukan tindakan -entilasi mekanik. .enis kelainan pernapasan yang ditemukan pada penilitiannya adalah sindroma aspirasi mekonium ' penderita#, hipertensi pulmonal 3 penderita#, perdarahan paru 1 penderita#, dan sisanya menderita transient respiratory distress of the newborn.1 Siste' ! "dio/ s!*le"
10

/ayi yang mengalami hipoksia berat dapat menderita disfungsi miokardium yang berakhir dengan payah $antung.1 Disfungsi miokardium ter$adi karena menurunnya perfusi yang disertai dengan kerusakan sel miokard terutama di daerah subendokardial dan otot papilaris kedua bilik $antung. ,ada penelitian terhadap 72 penderita asfiksia hanya 29% bayi yang menderita kelainan $antung. Kelainan yang ditemukan bersifat ringan berupa bising $antung akibat insufisiensi katup atrio-entrikuler dan kelainan ekokardiografi khas yang menun$ukkan iskernia miokardium.12 Kelainan $antung lain yang mungkin ditemukan pada penderita asfiksia berat antara lain gangguan konduksi $antung, aritmia, blok atrio-entrikuler dan fixed heart rate. 1 Siste' *"ogenit l ,ada sistem urogenital, hipoksia bayi dapat menimbulkan gangguan perfusi dan dilusi gin$al serta kelainan filtrasi glomerulus. 7liran darah yang kurang menyebabkan nekrosis tubulus dan perdarahan medula. Dalam penelitian terhadap 3% penderita asfiksia neonatus .ayashree <, dkk. 1221# menemukan disfungsi gin$al pada 13 % bayi dengan ge$ala oliguria disertai urea darah B1% mg% dan kadar kreatinin darah B1 mg%.31 +edangkan 3artin&7n6el, dkk. menemukan 12% dari 42 bayi penderita asfiksia menderita berbagai gangguan fungsi gin$al yang ter6ermin dari pemeriksaan klinik dan laboratorium penun$ang.1 Siste' g st"ointestin l Kelainan saluran 6erna ini ter$adi karena radikal bebas oksigen yang terbentuk pada penderita hipoksia beserta faktor lain seperti gangguan koagulasi dan hipotensi, menimbulkan kerusakan epitel dinding usus. <angguan fungsi yang ter$adi dapat berupa kelainan ringan yang bersifat sementara seperti muntah berulang, gangguan intoleransi makanan atau adanya darah dalam residu lambung sampai kelainan perforasi saluran 6erna, enterokolitis nekrotikans kolestasis dan nekrosis hepar.1 Siste' *dio/is* l <angguan pada fungsi penglihatan dan pendengaran dapat ter$adi se6ara langsung karena proses hipoksia dan iskemia, ataupun tidak langsung akibat hipoksia iskernia susunan saraf pusat atau $aras&$aras yang terkait yang menimbulkan kerusakan pada pusat pendengaran dan penglihatan. .ohns ,dkk. pada penelitian terhadap ' bayi prematur yang menderita kelainan $antung bawaan sianotik, 3 bayi di antaranya
11

menderita retinopati. *etinopati yang ditemukan ternyata tidak hanya karena peninggian tekanan oksigen arterial tetapi pada beberapa penderita disebabkan oleh hipoksemia yang menetap. +elain retinopati, kelainan perdarahan retina dilaporkan pula pada bayi penderita perinatal hipoksia. ,enelitian Luna 1220# yang memeriksa se6ara berkala antara usia 1 sampai 3' bulan# keta$aman dan lapangan penglihatan '' bayi penderita asfiksia, menemukan bahwa nilai keta$aman serta luas lapangan penglihatan bayi prematur lebih rendah dan lebih sempit bila dibandingkan dengan bayi 6ukup bulan normal. <angguan keta$aman dan lapangan penglihatan tersebut semakin nyata apabila bayi $uga menderita kelainan susunan saraf pusat seperti perdarahan intra-entrikuler atau leukomalasi peri-entrikuler. ,enelitian $angka pan$ang dengan alat brainstem auditory evo ed responses yang dilakukan pada bayi dengan riwayat asfiksia, menemukan gangguan fungsi pendengaran pada se$umlah bayi. +elan$utnya dari penelitian tersebut dilaporkan bahwa kelainan pendengaran ditemukan pada 14,1% bayi pas6a asfiksia yang disertai gangguan perkembangan otak, dan ',3% pada penderita tanpa gangguan perkembangan otak.1 2.0 Peneg ! n Di gnosis 2.0.1 An 'nesis 7namnesis diarahkan untuk men6ari faktor risiko terhadap ter$adinya asfiksia neonatorum. 2.0.2 Pe'e"i!s n fisis

a. /ayi tidak bernafas atau menangis b. Denyut $antung kurang dari 1%%F5menit 6. 8onus otot menurun d. /isa didapatkan 6airan ketuban ibu ber6ampur 12e6onium, atau sisa 12e6onium pada tubuh bayi e. //L* 2.0.# Pe'e"i!s n (en*n, ng

Laboratorium : hasil analisis gas darah tali pusat menun$ukkan hasil asidosis pada darah tali pusat: ,aO2 > 0% mm "2O

12

,a;O2 B 00 mm "2 p" > 4,3% Darah perifer lengkap ,emeriksaan radiologi5foto dada ,emeriksaan radiologi5foto abdomen tiga posisi ,emeriksaan A+< Kepala

7nalisis gas darah sesudah lahir

<ula darah sewaktu Clektrolit darah Kalsium, =atrium, Kalium# Areum kreatinin

,emeriksaan CC<

;8 s6an kepala

/ila bayi sudah tidak membutuhkan bantuan resusitasi aktif, pemeriksaan penun$ang diarahkan pada ke6urigaan atas komplikasi, berupa : 2.1 T t l !s n +ebagian besar bayi baru lahir tidak membutuhkan inter-ensi dalam mengatasi transisi dari intrauterin ke ekstrauterin, namun se$umlah ke6il membutuhkan berbagai dera$at resusitasi. 2.1.1 Antisi( si !e%*t*) n "es*sit si 7ntisipasi, persiapan adekuat, e-aluasi akurat dan inisiasi bantuan sangatlah penting dalam kesuksesan resusitasi neonatus. ,ada setiap kelahiran harus ada setidaknya satu orang yang bertanggung $awab pada bayi baru lahir. Orang tersebut harus mampu untuk memulai resusitasi, termasuk pemberian -entilasi tekanan positif dan kompresi dada. Orang ini atau orang lain yang datang harus memiliki kemampuan melakukan resusitasi neonatus se6ara komplit, termasuk melakukan intubasi endotrakheal dan memberikan obat&obatan. /ila dengan mempertimbangkan faktor risiko, sebelum bayi lahir diidentifikasi bahwa akan membutuhkan resusitasi maka diperlukan tenaga terampil tambahan dan persiapan alat resusitasi. /ayi prematur usia gestasi > 34 minggu# membutuhkan persiapan khusus. /ayi prematur memiliki paru
13

imatur yang kemungkinan lebih sulit di-entilasi dan mudah mengalami kerusakan karena -entilasi tekanan positif serta memiliki pembuluh darah imatur dalam otak yang mudah mengalami perdarahan +elain itu, bayi prematur memiliki -olume darah sedikit yang meningkatkan risiko syok hipo-olemik dan kulit tipis serta area permukaan tubuh yang luas sehingga memper6epat kehilangan panas dan rentan terhadap infeksi. 7pabila diperkirakan bayi akan memerlukan tindakan resusitasi, sebaiknya sebelumnya dimintakan informed 6onsent. Definisi informed 6onsent adalah persetu$uan tertulis dari penderita atau orangtua5wali nya tentang suatu tindakan medis setelah mendapatkan pen$elasan dari petugas kesehatan yang berwenang. 8indakan resusitasi dasar pada bayi dengan depresi pernapasan adalah tindakan gawat darurat. Dalam hal gawat darurat mungkin informed 6onsent dapat ditunda setelah tindakan. +etelah kondisi bayi stabil namun memerlukan perawatan lan$utan, dokter perlu melakukan informed 6onsent. Lebih baik lagi apabila informed 6onsent dimintakan sebelumnya apabila diperkirakan akan memerlukan tindakan 2.1.2. Al t Res*sit si +emua peralatan yang diperlukan untuk tindakan resusitasi harus tersedia di dalam kamar bersalin dan dipastikan dapat berfungsi baik. ,ada saat bayi memerlukan resusitasi maka peralatan harus siap digunakan. ,eralatan yang diperlukan pada resusitasi neonatus adalah sebagai berikut 1. Pe"leng! ( n (eng)is ( /alon penghisap !bulb syringe" ,enghisap mekanik dan tabung Kateter penghisap ,ipa lambung

2. Pe" l t n % lon d n s*ng!*( /alon resusitasi neonatus yang dapat memberikan oksigen 2%% sampai 1%%%, dengan -olume balon resusitasi G 20% ml +ungkup ukuran bayi 6ukup bulan dan bayi kurang bulan dian$urkan yang memiliki bantalan pada pinggirnya#
14

+umber oksigen dengan pengatur aliran ukuran sampai 1% L5m# dan tabung.

#. Pe" l t n int*% si Laringoskop +elang endotrakeal endotracheal tube# dan stilet bila tersedia# yang 6o6ok dengan pipa endotrakeal yang ada +. O% t2o% t n Cpinefrin 1:1%.%%% %,1 mg5ml# @ 3 ml atau ampul 1% ml Kristaloid isotonik =a;l %.2% atau *inger Laktat# untuk penambah -olume9 1%% atau 20% ml. =atrium bikarbonat 1,2% 0 mCH51% ml#9ampul 1% ml. =aloFon hidroklorida %,1 mg5ml atau 1,% mg5ml DeFtrose 1%%, 20% ml Kateter umbilikal

0. L in2l in 7lat peman6ar panas radiant warmer# atau sumber panas lainnya 3onitor $antung dengan probe serta elektrodanya bila tersedia di kamar bersalin# #ropharyngeal airways +elang orogastrik

1. Unt*! % &i s ng t ("e' t*" +umber udara tekan ;,7,, neopuff# /lender oksigen Oksimeter

15

Kantung plastik makanan ukuran 1 galon# atau pembungkus plastik yang dapat ditutup

7las pemanas )nkubator transport untuk mempertahankan suhu bayi bila dipindahkan ke ruang perawatan

2.1.# Res*sit si neon t*s +e6ara garis besar pelaksanaan resusitasi mengikuti algoritma resusitasi neonatal. 2.1.#.1 L ng! ) A3 l Res*sit si ,ada pemeriksaan atau penilaian awal dilakukan dengan men$awab 1 pertanyaan: apakah bayi 6ukup bulanI apakah air ketuban $ernihI apakah bayi bernapas atau menangisI apakah tonus otot bayi baik atau kuatI /ila semua $awaban JyaJ maka bayi dapat langsung dimasukkan dalam prosedur perawatan rutin dan tidak dipisahkan dari ibunya. /ayi dikeringkan, diletakkan di dada ibunya dan diselimuti dengan kain linen kering untuk men$aga suhu. /ila terdapat $awaban JtidakJ dari salah satu pertanyaan di atas maka bayi memerlukan satu atau beberapa tindakan resusitasi berikut ini se6ara berurutan: 1# langkah awal dalam stabilisasi a# memberikan kehangatan /ayi diletakkan dibawah alat peman6ar panas radiant warmer# dalam keadaan telan$ang agar panas dapat men6apai tubuh bayi dan memudahkan eksplorasi seluruh tubuh. /ayi dengan //L* memiliki ke6enderungan tinggi men$adi hipotermi dan harus mendapat pemberian perlakuan teknik khusus. /eberapa kepustakaan seperti merekomendasikan penggunaan plastik penghangatan tambahan

pembungkus dan meletakkan bayi dibawah peman6ar panas pada bayi kurang bulan dan //L*.1 7lat lain yang bisa digunakan adalah alas penghangat.3 b# memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya

16

/ayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam posisi menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara. ,osisi ini adalah posisi terbaik untuk melakukan -entilasi dengan balon dan sungkup dan5atau untuk pemasangan pipa endotrakeal. 6# membersihkan $alan napas sesuai keperluan 7spirasi mekoneum saat proses persalinan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi.1' +alah satu pendekatan obstetrik yang digunakan untuk men6egah aspirasi adalah dengan melakukan penghisapan mekoneum sebelum lahirnya bahu intrapartum suctioning#, namun bukti penelitian dari beberapa senter menun$ukkan bahwa 6ara ini tidak menun$ukkan efek yang bermakna dalam men6egah aspirasi mekonium. ;ara yang tepat untuk membersihkan $alan napas adalah bergantung pada keaktifan bayi dan ada5tidaknya mekonium.' /ila terdapat mekoneum dalam 6airan amnion dan bayi tidak bugar bayi mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang dan frekuensi $antung kurang dari 1%%F5menit# segera dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk men6egah sindrom aspirasi mekonium. ,enghisapan trakea meliputi langkah&langkah pemasangan laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea, kemudian dengan kateter penghisap dilakukan pembersihan daerah mulut, faring dan trakea sampai glotis.' /ila terdapat mekoneum dalam 6airan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret dari $alan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum.' d# 3engeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada posisi yang benar, meletakkan pada posisi yang benar, menghisap sekret, dan mengeringkan akan memberi rangsang yang 6ukup pada bayi untuk memulai pernapasan. /ila setelah posisi yang benar, penghisapan sekret dan pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil telapak kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh atau ekstremitas bayi. /ayi yang berada dalam apnu primer akan bereaksi pada hampir semua rangsangan, sementara bayi yang berada dalam apnu sekunder, rangsangan apapun tidak akan menimbulkan reaksi pernapasan. Karenanya 6ukup satu atau
17

dua tepukan pada telapak kaki atau gosokan pada punggung. .angan membuang waktu yang berharga dengan terus menerus memberikan rangsangan taktil.' 2# -entilasi tekanan positif 3# kompresi dada 1# pemberian epinefrin dan atau pengembang -olume -olume eFpander# Keputusan untuk melan$utkan dari satu kategori ke kategori berikutnya ditentukan dengan penilaian 3 tanda -ital se6ara simultan pernapasan, frekuensi $antung dan warna kulit#. !aktu untuk setiap langkah adalah sekitar 3% detik, lalu nilai kembali, dan putuskan untuk melan$utkan ke langkah berikutnya lihat bagan 1#.

18

19

/agan 1. 7lgoritma *esusitasi 7sfiksia =eonatorum +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0. 2%%'.

2.1.#.2 Penil i n ,enilaian dilakukan setelah 3% detik untuk menentukan perlu tidaknya resusitasi lan$utan. 8anda -ital yang perlu dinilai adalah sebagai berikut: 1# ,ernapasan *esusitasi berhasil bila terlihat gerakan dada yang adekuat, frekuensi dan dalamnya pernapasan bertambah setelah rangsang taktil. ,ernapasan yang megap&megap adalah pernapasan yang tidak efektif dan memerlukan inter-ensi lan$utan.3 2# Drekuensi $antung Drekuensi $antung harus diatas 1%%F5menit. ,enghitungan bunyi $antung dilakukan dengan stetoskop selama ' detik kemudian dikalikan 1% sehingga akan dapat diketahui frekuensi $antung permenit.3 3# !arna kulit /ayi seharusnya tampak kemerahan pada bibir dan seluruh tubuh. +etelah frekuensi $antung normal dan -entilasi baik, tidak boleh ada sianosis sentral yang menandakan hipoksemia. !arna kulit bayi yang berubah dari biru men$adi kemerahan adalah petanda yang paling 6epat akan adanya pernapasan dan
20

sirkulasi yang adekuat. +ianosis akral tanpa sianosis sentral belum tentu menandakan kadar oksigen rendah sehingga tidak perlu diberikan terapi oksigen. "anya sianosis sentral yang memerlukan inter-ensi.' 2.1.#.# Pe'%e"i n o!sigen /ila bayi masih terlihat sianosis sentral, maka diberikan tambahan oksigen. ,emberian oksigen aliran bebas dapat dilakukan dengan menggunakan sungkup oksigen, sungkup dengan balon tidak mengembang sendiri, $%piece resuscitator dan selang5pipa oksigen. ,ada bayi 6ukup bulan dian$urkan untuk menggunakan oksigen 1%%%. =amun beberapa penelitian terakhir menun$ukkan bahwa penggunaan oksigen ruangan dengan konsentrasi 21% menurunkan risiko mortalitas dan ke$adian ensefalopati hipoksik iskemik merusak $aringan.1 ,enghentian pemberian oksigen dilakukan se6ara bertahap bila tidak terdapat sianosis sentral lagi yaitu bayi tetap merah atau saturasi oksigen tetap baik walaupun konsentrasi oksigen sama dengan konsentrasi oksigen ruangan. /ila bayi kembali sianosis, maka pemberian oksigen perlu dilan$utkan sampai sianosis sentral hilang. Kemudian se6epatnya dilakukan pemeriksaan gas darah arteri dan oksimetri untuk menyesuaikan kadar oksigen men6apai normal.' 2.1.#.+ 4entil si Te! n n Positif Kentilasi tekanan positif K8,# dilakukan sebagai langkah resusitasi lan$utan bila semua tindakan diatas tidak menyebabkan bayi bernapas atau frekuensi $antungnya tetap kurang dari 1%%F5menit. +ebelum melakukan K8, harus dipastikan tidak ada kelainan 6ongenital seperti hernia diafragmatika, karena bayi dengan hernia diafragmatika harus diintubasi terlebih dahulu sebelum mendapat K8,. /ila bayi diperkirakan akan mendapat K8, dalam waktu yang 6ukup lama, intubasi endotrakeal perlu dilakukan atau pemasangan selang orogastrik untuk menghindari distensi abdomen. Kontra indikasi penggunaan -entilasi tekanan positif adalah hernia diafragma. 8erdapat beberapa $enis alat yang dapat digunakan untuk melakukan -entilasi pada bayi baru lahir, masing&masing memiliki 6ara ker$a yang berbeda dengan keuntungan dan kerugian yang berbeda seperti dirangkum pada tabel 2. 10
21

C")# dibanding dengan oksigen 1%%%.1(&22

,emberian oksigen 1%%% tidak dian$urkan pada bayi kurang bulan karena dapat

1# $e no tube and mas

<ambar 2. $e no tube and

mas +umber: ,78".

*edu6ing /irth 7sphyFia 8hrough the /idan di desa ,rogram in ;irebon, )ndonesia. 2%%'.

)wan, dkk 2%%3# melakukan penelitian yang membandingkan -olume -entilasi antara 8ekno tube and mask, 7mbu bag and mask, 8opster bag and mask dan Laerdal tube and mask menggunakan manekuin. Dilaporkan bahwa tidak terdapat perbedaan dalam rerata -olume -entilasi yang adekuat. Dari segi harga, 8ekno tube and mask adalah alat yang paling dapat di$angkau oleh bidan desa. =amun alat tersebut memiliki kelemahan pada desain katupnya, sehingga memerlukan modifikasi, sulit dibersihkan dan tidak dapat digunakan lagi setelah 0 kali prosedur High%&evel 'esinfectans "LD#. 8ekno tube and mask yang digunakan dalam studi tersebut efektif dan dapat diterima untuk digunakan oleh bidan desa, namun untuk resusitasi neonatus di rumah sakit balon mengembang sendiri dan masker harus tersedia.1 2# /alon mengembang sendiri !self inflating bag" /alon mengembang sendiri !self inflating bag" setelah dilepaskan dari remasan akan terisi spontan dengan gas oksigen atau udara atau 6ampuran keduanya# ke dalam balon.

<ambar 3. /alon mengembang sendiri +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

3# /alon tidak mengembang sendiri !flow inflating bag#,

22

/alon tidak mengembang sendiri !flow inflating bag#,disebut $uga balon anestesi, terisi hanya bila gas yang berasal dari gas bertekanan mengalir ke dalam balon.

<ambar 1. /alon tidak mengembang sendiri +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

1# $%piece resuscitator $%piece resuscitator /eker$a hanya bila dialiri gas yang berasal dari sumber bertekanan ke dalamnya. <as mengalir langsung, baik ke lingkungan sekitar maupun ke bayi, dengan 6ara menutup atau membuka lubang pada pipa 8 dengan $ari atau ibu $ari.

<ambar 10. 8&pie6e resus6itator +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

23

24

2.1.#.0 Ko'("esi d d Kompresi dada dimulai $ika frekuensi $antung kurang dari '%F5menit setelah dilakukan -entilasi tekanan positif selama 3% detik. 8indakan kompresi dada cardiac massage# terdiri dari kompresi yang teratur pada tulang dada, yaitu menekan $antung ke arah tulang belakang, meningkatkan tekanan intratorakal, dan memperbaiki sirkulasi darah ke seluruh organ -ital tubuh. Kompresi dada hanya bermakna $ika paru&paru diberi oksigen, sehingga diperlukan 2 orang untuk melakukan kompresi dada yang efektif9satu orang menekan dada dan yang lainnya melan$utkan -entilasi.Orang kedua $uga bisa melakukan pemantauan frekuensi $antung, dan suara napas selama -entilasi tekanan positif. Kentilasi dan kompresi harus dilakukan se6ara bergantian.' 8eknik ibu $ari lebih direkomendasikan pada resusitasi bayi baru lahir karena akan menghasilkan pun6ak sistolik dan perfusi koroner yang lebih besar.1 ,rinsip dasar pada kompresi dada adalah: 1# ,osisi bayi 8opangan yang keras pada bagian belakang bayi dengan leher sedikit tengadah. 2# Kompresi lokasi ibu $ari atau dua $ari : pada bayi baru lahir tekanan diberikan pada 153 bawah tulang dada yang terletak antara processus xiphoideus dan garis khayal yang menghubungkan kedua puting susu.1

25

<ambar '. Lokasi Kompresi +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

Kedalaman : diberikan tekanan yang 6ukup untuk menekan tulang dada sedalam kurang lebih 153 diameter anteroposterior dada, kemudian tekanan dilepaskan untuk memberi kesempatan $antung terisi. +atu kompresi terdiri dari satu tekanan ke bawah dan satu pelepasan. Lamanya tekanan ke bawah harus lebih singkat daripada lamanya pelepasan untuk memberi 6urah $antung yang maksimal. )bu $ari atau u$ung&u$ung $ari tergantung metode yang digunakan# harus tetap bersentuhan dengan dada selama penekanan dan pelepasan.' Drekuensi : kompresi dada dan -entilasi harus terkoordinasi baik, dengan aturan satu -entilasi diberikan tiap selesai tiga kompresi, dengan frekuensi 3% -entilasi dan 2% kompresi permenit. +atu siklus yang berlangsung selama 2 detik, terdiri dari satu -entilasi dan tiga kompresi.' ,enghentian kompresi:' +etelah 3% detik, untuk menilai kembali frekuensi $antung -entilasi dihentikan selama ' detik. ,enghitungan frekuensi $antung selama -entilasi dihentikan. Drekuensi $antung dihitung dalam waktu ' detik kemudian dikalikan 1%. .ika frekuensi $antung telah diatas '% F5menit kompresi dada dihentikan, namun -entilasi diteruskan dengan ke6epatan 1%&'% F5menit. .ika frekuensi $antung tetap kurang dari '% F5menit, maka pemasangan kateter umbilikal untuk memasukkan obat dan pemberian epinefrin harus dilakukan. .ika frekuensi $antung lebih dari 1%% F5menit dan bayi dapat bernapas spontan, -entilasi tekanan positif dapat dihentikan, tetapi bayi masih mendapat oksigen alir bebas yang kemudian se6ara bertahap dihentikan. +etelah obser-asi beberapa lama di kamar bersalin bayi dapat dipindahkan ke ruang perawatan. 2.1.#.1 Int*% si endot" !e l )ntubasi endotrakeal dapat dilakukan pada setiap tahapan resusitasi sesuatu dengan keadaan, antara lain beberapa keadaan berikut saat resusitasi:

26

1# .ika terdapat mekoneum dan bayi mengalami depresi pernapasan, maka intubasi dilakukan sebagai langkah pertama sebelum melakukan tindakan resusitasi yang lain, untuk membersihkan mekoneum dari $alan napas. 2# .ika -entilasi tekanan positif tidak 6ukup menghasilkan perbaikan kondisi, pengembangan dada, atau $ika -entilasi tekanan positif berlangsung lebih dari beberapa menit, dapat dilakukan intubasi untuk membantu memudahkan -entilasi. 3# .ika diperlukan kompresi dada, intubasi dapat membantu koordinasi antara kompresi dada dan -entilasi, serta memaksimalkan efisiensi -entilasi tekanan positif. 1# .ika epinefrin diperlukan untuk menstimulasi frekuensi $antung maka 6ara yang umum adalah memberikan epinefrin langsung ke trakea melalui pipa endotrakeal sambil menunggu akses intra-ena. 0# .ika di6urigai ada hernia diafragmatika, mutlak dilakukan pemasangan selang endotrakeal. ;ara pemasangan selang endotrakeal perlu dikuasai diantaranya melalui pelatihan khusus. 2.1.#.5 Pe'%e"i n o% t2o% t n Obat&obatan $arang diberikan pada resusitasi bayi baru lahir.1% /radikardi pada bayi baru lahir biasanya disebabkan oleh ketidaksempurnaan pengembangan dada atau hipoksemia, dimana kedua hal tersebut harus dikoreksi dengan pemberian -entilasi yang adekuat. =amun bila bradikardi tetap ter$adi setelah K8, dan kompresi dada yang adekuat, obat&obatan seperti epinefrin, atau -olume ekspander dapat diberikan.' Obat yang diberikan pada fase akut resusitasi adalah epinefrin. Obat&obat lain digunakan pada pas6a resusitasi atau pada keadaan khusus lainnya. 1# Cpinefrin )ndikasi pemakaian epinefrin adalah frekuensi $antung kurang dari '%F5menit setelah dilakukan K8, dan kompresi dada se6ara terkoordinasi selama 3% detik. Cpinefrin tidak boleh diberikan sebelum melakukan -entilasi adekuat karena epinefrin akan meningkatkan beban dan konsumsi oksigen otot $antung. Dosis yang diberikan %,1&%,3 ml5kg// larutan1:1%.%%% setara dengan %,%1&%,%3 mg5kg//# intra-ena atau melalui selang endotrakeal. Dosis dapat diulang 3&0 menit se6ara intra-ena bila frekuensi
27

$antung tidak meningkat. Dosis maksimal diberikan $ika pemberian dilakukan melalui selang endotrakeal.' 2# Kolume Ckspander Kolume ekspander diberikan dengan indikasi sebagai berikut: bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami hipo-olemia dan tidak ada respon dengan resusitasi, hipo-olemia kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ditandai adanya pu6at, perfusi buruk, nadi ke6il atau lemah, dan pada resusitasi tidak memberikan respon yang adekuat. Dosis awal 1% ml5kg // )K pelan selama 0&1% menit. Dapat diulang sampai menun$ukkan respon klinis. .enis 6airan yang diberikan dapat berupa larutan kristaloid isotonis =a;l %,2%, *inger Laktat# atau tranfusi golongan darah O negatif $ika diduga kehilangan darah banyak.3 3# /ikarbonat )ndikasi penggunaan bikarbonat adalah asidosis metabolik pada bayi baru lahir yang mendapatkan resusitasi. Diberikan bila -entilasi dan sirkulasi sudah baik. ,enggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia harus disertai dengan pemeriksaan analisa gas darah dan kimiawi. Dosis yang digunakan adalah 2 mCH5kg // atau 1 ml5kg // /i6=at yang konsentrasinya 1,2 %. /ila hanya terdapat /i6=at dengan konsetrasi 4,1 % maka dien6erkan dengan aHuabides atau dekstrosa 0% sama banyak. ,emberian se6ara intra -ena dengan ke6epatan tidak melebihi dari 1 mCH5kg//5menit.3 1# =alokson =alokson hidroklorida adalah antagonis narkotik diberikan dengan indikasi depresi pernafasan pada bayi baru lahir yang ibunya menggunakan narkotik dalam waktu 1 $am sebelum melahirkan. +ebelum diberikan nalokson -entilasi harus adekuat dan stabil. .angan diberikan pada bayi baru lahir yang ibunya di6urigai sebagai pe6andu obat narkotika, sebab akan menyebabkan ge$ala putus obat pada sebagian bayi. ;ara pemberian intra-ena atau melalui selang endotrakeal. /ila perfusi baik dapat diberikan melalui intramuskuler atau subkutan. Dosis yang diberikan %,1 mg5kg //, perlu diperhatikan bahwa obat ini tersedia dalam 2 konsentrasi yaitu %,1 mg5ml dan 1 mg5ml.
28

2.1.#.6 Pe" 3 t n te") d ( !o'(li! si "ampir 2% % bayi yang memerlukan resusitasi akan membaik setelah diberikan K8, yang adekuat, sementara 1% % bayi memerlukan kompresi dada dan obat& obatan, atau meninggal. ,ada sebagian bayi yang tetap tidak membaik walau telah dilakukan resusitasi mungkin mengalami komplikasi kelahiran atau komplikasi resusitasi seperti ter6antum di tabel 3.1' /ayi yang memerlukan K8, berkepan$angan, intubasi dan atau kompresi dada sangat mungkin mengalami stress berat dan berisiko mengalami kerusakan fungsi organ multipel yang tidak segera tampak. /ila diperlukan resusitasi lebih lan$ut, bayi dirawat di ruang rawat lan$utan, dengan pemantauan suhu, tanda -ital, dan antisipasi terhadap komplikasi.' /ayi $uga memerlukan nutrisi baik dengan 6ara pemberian oral atau parenteral tergantung kondisinya. /ila bayi menderita asfiksia berat dapat diberikan nutrisi parenteral dengan deFtrosa 1%%. ,emantauan terhadap saturasi oksigen, dan pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, kadar gula darah, elektrolit dan analisa gas darah $uga perlu dilakukan. 8abel 3. Komplikasi yang mungkin ter$adi dan perawatan pas6a resusitasi yang dilakukan' Siste' o"g n Ko'(li! si & ng '*ng!in te", di Tind ! n ( s- "es*sit si ,emantauan apnu /antuan -entilasi kalau perlu Otak 7pnu Ke$ang ,emantauan gula darah, elektrolit ,en6egahan hipotermia ,ertimbangkan terapi anti ke$ang ,ertahankan -entilasi dan oksigenasi ,ertimbangkan antibiotika Doto toraks bila sesak napas ,emberian oksigen alir bebas 8unda minum bila sesak ,ertimbangkan pemberian surfaktan

"ipertensi pulmoner ,neumonia ,aru&paru ,neumotoraks 8akipnu transien +indrom aspirasi mekonium Defisiensi surfaktan

29

,emantauan tekanan darah dan frekuensi $antung Kardio-askuler "ipotensi ,ertimbangkan inotropik misal dopamin# dan5atau 6airan penambah -olume darah ,emantauan produksi urin /atasi masukan 6airan bila ada <in$al =ekrosis tubuler akut oliguria dan -olume -askuler adekuat ,emantauan kadar elektrolit 8unda pemberian minum <astrointestinal )leus Cnterokolitis nekrotikans "ipoglikemia 3etabolik 5hematologik "ipokalsemia, hiponatremia 7nemia 8rombositopenia /erikan 6airan intra-ena ,ertimbangkan nutrisi parenteral ,emantauan gula darah ,emantauan elektrolit ,emantauan hematokrit ,emantauan trombosit

2.1.+ Res*sit si ( d % &i !*" ng %*l n /ayi kurang bulan mempunyai risiko terkena berbagai komplikasi setelah lahir. +e6ara anatomi dan fisiologi bayi kurang bulan adalah imatur, sehingga mereka memiliki berbagai risiko sebagai berikut: Kulit yang tipis dengan permukaan tubuh yang relatif luas serta kurangnya lemak tubuh memudahkan bayi kehilangan panas .aringan yang imatur memungkinkan lebih mudah rusak oleh oksigen yang berlebihan Otot yang lemah dapat menyebabkan bayi kesulitan bernapas Asaha bernapas dapat berkurang karena imaturitas sistem saraf ,aru&paru mungkin imatur dan kekurangan surfaktan sehingga kesulitan -entilasi, selain itu paru paru bayi lebih mudah 6edera setelah tindakan K8, +istem imunitas yang imatur rentan terhadap infeksi
30

Kapiler yang rapuh dalam otak yang sedang berkembang dapat pe6ah ,engambilan darah berulang untuk pemeriksaan pada bayi prematur lebih mudah menyebabkan hipo-olemi karena -olume darah yang sedikit.

Kondisi diatas men$adikan resusitasi pada bayi kurang bulan memerlukan beberapa tambahan seperti : 8ambahan tenaga terampil Kemungkinan bayi kurang bulan akan memerlukan resusitasi yang se6ara signifikan lebih tinggi dibanding bayi 6ukup bulan. Diperlukan tambahan pemantauan dan mungkin tambahan alat bantu pernapasan. +elain itu mungkin bayi&bayi ini memerlukan intubasi endotrakeal lebih sering. Karena itu, dibutuhkan petugas tambahan yang hadir saat kelahiran, termasuk petugas yang terlatih dalam melakukan intubasi endotrakeal. 8ambahan sarana untuk men$aga suhu tubuh .ika bayi diantisipasi kurang bulan se6ara signifikan misalnya >2( minggu#, mungkin diperlukan plastik pembungkus polyethylene# yang dapat dibuka& tutup serta alas hangat yang dapat dipindah&pindahkan siap pakai. )nkubator transpor $uga diperlukan untuk memindahkan bayi ke ruang perawatan setelah resusitasi.

<ambar 4. ,enggunaan plastik pembungkus untuk mengurangi kehilangan panas akibat e-aporasi +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

+umber udara bertekanan compressed air# Diperlukan sumber udara bertekanan gas bertekanan dari dinding atau tangki# untuk men6ampur udara dengan oksigen 1%%% guna men6apai konsentrasi antara 21% udara kamar# dan oksigen 1%%%.
31

/lender oksigen /lender oksigen diperlukan untuk memberikan konsentrasi oksigen antara 21% sampai 1%%%. +elang bertekanan tinggi menghubungkan oksigen dan sumber udara ke blender dengan petun$uk angka yang mengatur gas dari 21% ke 1%%%. ,engatur aliran dapat disetel dihubungkan ke blender dengan ke6epatan aliran % sampai 2% L5menit untuk mendapatkan konsentrasi oksigen yang dapat diberikan langsung ke bayi atau melalui alat tekanan positif.

<ambar (. /lender Oksigen +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

Oksimeter Oksimeter membuat pemba6aan dengan rentang %&1%%% dan berguna dalam menentukan apakah saturasi oksigen dalam darah bayi 6ukup.

<ambar 12. Oksimeter untuk mengukur saturasi oksihemoglobin . +umber: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku panduan resusitasi neonatus. Cdisi ke&0, 2%%'.

32

+e6ara garis besar hal&hal berikut harus diperhatikan pada resusitasi bayi kurang bulan : 1# 3en$aga bayi tetap hangat /ayi yang lahir kurang bulan hendaknya mendapatkan semua langkah untuk mengurangi kehilangan panas. 2# ,emberian oksigen Antuk menghindari pemberian oksigen yang berlebihan saat resusitasi pada bayi kurang bulan, digunakan blender oksigen dan oksimeter agar $umlah oksigen yang diberikan dapat diatur dan kadar oksigen yang diserap bayi dapat diketahui. +aturasi oksigen lebih dari 20% dalam waktu lama, terlalu tinggi bagi bayi kurang bulan dan berbahaya bagi $aringannya yang imatur.=amun begitu, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa pemberian oksigen 1%%% dalam waktu singkat selama resusitasi akan merugikan. 3# Kentilasi /ayi kurang bulan mungkin sulit di-entilasi dan $uga mudah 6edera dengan -entilasi tekanan positif yang intermiten."al&hal berikut perlu dipertimbangkan : & ,ertimbangkan pemberian (ontinuous Positive )irway Pressure ;,7,# .ika bayi bernapas spontan dengan frekuensi $antung diatas 1%%F5menit tapi tampak sulit bernapas dan sianosis pemberian ;,7, mungkin bermanfaat. ;,7, diberikan dengan memasang sungkup balon yang tidak mengembang sendiri atau $%piece resuscitator pada wa$ah bayi dan mengatur katup pengontrol aliran atau katup 8ekanan ,ositif 7khir Ckspirasi 8,7C# sesuai dengan $umlah ;,7, yang diinginkan. ,ada umumnya 8,7C sampai ' 6m"2O 6ukup. ;,7, tidak dapat digunakan dengan balon mengembang sendiri. & <unakan tekanan terendah untuk memperoleh respons yang adekuat .ika K8, intermiten diperlukan karena apnu, frekuensi $antung kurang dari 1%%F5menit, atau sianosis menetap, tekanan awal 2%&20 6m"2O 6ukup untuk sebagian besar bayi kurang bulan. .ika tidak ada perbaikan frekuensi $antung atau gerakan dada, mungkin diperlukan tekanan yang lebih tinggi. =amun hindari ter$adinya peningkatan dada yang berlebihan selama dilakukan -entilasi karena paru&parunya mudah 6edera. & ,ertimbangkan pemberian surfaktan se6ara signifikan

33

/ayi sebaiknya mendapat resusitasi lengkap sebelum surfaktan diberikan. ,enelitian menun$ukkan bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan 3% minggu mendapatkan keuntungan dengan pemberian surfaktan setelah resusitasi, sewaktu masih di kamar bersalin atau bahkan $ika mereka belum mengalami distres pernapasan. & ,en6egahan terhadap kemungkinan 6edera otak Otak bayi kurang bulan mempunyai struktur yang sangat rapuh yang disebut matriks germinal. 3atriks germinal terdiri atas $aringan kapiler yang mudah pe6ah, terutama $ika penanganan bayi terlalu kasar, $ika ada perubahan 6epat tekanan darah dan kadar ;O2 dalam darah, atau $ika ada sumbatan apapun dalam aliran -ena di kepala. ,e6ahnya matriks germinal mengakibatkan perdarahan intra-entrikuler yang menyebabkan ke6a6atan seumur hidup. +etelah resusitasi, perlu dilakukan pemantauan terhadap hal&hal berikut ini: & Kadar gula darah. Kadar gula darah yang rendah sering ter$adi pada bayi& bayi dengan gangguan neurologis setelah mengalami asfiksia dan men$alani resusitasi.' & & & ,emantauan ke$adian apnu dan bradikardi pada bayi .umlah oksigen dan -entilasi yang tepat ,emberian minum, harus dilakukan se6ara perlahan dan hati&hati sambil mempertahankan nutrisi melalui intra-ena & Ke6urigaan tehadap infeksi

2.1.0 Peng)enti n "es*sit si /ila tidak ada upaya bernapas dan denyut $antung setelah 1% menit, setelah usaha resusitasi yang menyeluruh dan adekuat dan penyebab lain telah disingkirkan, maka resusitasi dapat dihentikan.2 Data mutakhir menun$ukkan bahwa setelah henti $antung selama 1% menit, sangat tipis kemungkinan selamat, dan yang selamat biasanya menderita 6a6at berat.' 2.5 Pen-eg ) n Asfi!si neon to"*' 2.5.1 Pen-eg ) n se- " U'*'
34

,en6egahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Dera$at kesehatan wanita, khususnya ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan melahirkan harus dihindari. Apaya peningkatan dera$at kesehatan ini tidak mungkin dilakukan dengan satu inter-ensi sa$a karena penyebab rendahnya dera$at kesehatan wanita adalah akibat banyak faktor seperti kemiskinan, pendidikan yang rendah, keper6ayaan, adat istiadat dan lain sebagainya. Antuk itu dibutuhkan ker$asama banyak pihak dan lintas sektoral yang saling terkait. 7danya kebutuhan dan tantangan untuk meningkatkan ker$asama antar tenaga obstetri di kamar bersalin. ,erlu diadakan pelatihan untuk penanganan situasi yang tak diduga dan tidak biasa yang dapat ter$adi pada persalinan. +etiap anggota tim persalinan harus dapat mengidentifikasi situasi persalinan yang dapat menyebabkan kesalahpahaman atau menyebabkan keterlambatan pada situasi gawat. ,ada bayi dengan prematuritas, perlu diberikan kortikosteroid untuk meningkatkan maturitas paru $anin. 2.5.2 Antisi( si dini (e"l*n& l n,*t ,ada setiap kelahiran, tenaga medis harus siap untuk melakukan resusitasi pada bayi baru lahir karena kebutuhan akan resusitasi dapat timbul se6ara tiba&tiba. Karena alasan inilah, setiap kelahiran harus dihadiri oleh paling tidak seorang tenaga terlatih dalam resusitasi neonatus, sebagai penanggung $awab pada perawatan bayi baru lahir. 8enaga tambahan akan diperlukan pada kasus&kasus yang memerlukan resusitasi yang lebih kompleks. Dengan pertimbangan yang baik terhadap faktor risiko, lebih dari separuh bayi baru lahir yang memerlukan resusitasi dapat diidentifikasi sebelum lahir, tenaga medis dapat mengantisipasi dengan memanggil tenaga terlatih tambahan, dan menyiapkan peralatan resusitasi yang diperlukan. dil !*! n "es*sit si ( d % &i & ng di-*"ig i 'eng l 'i de("esi (e"n ( s n *nt*! 'en-eg ) 'o"%idit s d n 'o"tilit s le%i)

35

BAB III KESIMPULAN 7sfiksia neonatorum adalah kegawatdaruratan bayi baru lahir berupa depresi pernapasan yang berlan$ut sehingga menimbulkan berbagai komplikasi. yang ditandai dengan hipoksemia, hiperkarbia dan asidosis.3 /ayi yang mengalami episode hipoksia&iskemi yang signifikan saat lahir memiliki risiko disfungsi dari berbagai organ, dengan disfungsi otak sebagai pertimbangan utama.1 Oleh sebab itu, asfiksia memerlukan inter-ensi dan resusitasi segera untuk meminimalkan mortalitas dan morbiditas. ,en6egahan terhadap ter$adinya asfiksia neonatorum men$adi penting sebagai upaya primer dalam mengurangi angka mortalitas bayi baru lahir. Dalam konteks pen6egahan se6ara umum, dera$at kesehatan wanita khususnya ibu hamil harus ditingkatkan, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menentukannya diantaranya pendidikan, so6ial ekonomi, keper6ayaan, adat, dsb. +elain itu antisipasi dini perlunya dilakukan resusitasi pada bayi yang di6urigai mengalami depresi pernapasan perlu diperhatikan untuk men6egah morbiditas dan mortilitas lebih lan$ut.

36

DAFTAR PUSTAKA

1. ,en6egahan dan ,enatalaksanaan 7sfiksia =eonatorum. Departemen Kesehatan *epublik )ndonesia. 2%%( Diunduh dari: http:55buk.depkes.go.id5indeF.phpI optionL6omMdo6manNtaskLdo6MdownloadNgidO24'N)temidL112 2. Dharmasetiawani, =ani et al. =eonatologi. ;etakan ,ertama. /adan ,enerbit )D7)? 2%11.h. 1%3&121. 3. )D7). 7sfiksia =eonatorum. Dalam: +tandar ,elayanan 3edis Kesehatan 7nak. .akarta: /adan ,enerbit )D7)? 2%%1.h. 242&24'. 1. !orld "ealth OrganiPation. /asi6 =ewborn *esus6itation: 7 ,ra6ti6al <uide& *e-ision. <ene-a: !orld "ealth OrganiPation? 1222. Diunduh dari: www.who.int5reprodu6ti-e&health5publi6ations5newbornMresusM6itation5indeF.html. 0. 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s and 7meri6an ;ollege of Obstetri6ians and <ynae6ologists. ;are of the neonate. <uidelines for perinatal 6are. <ilstrap L;, Oh !, editors. Clk <ro-e Killage )L#: 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s? 2%%2: 12'&4. '. 7meri6an 76ademy of ,ediatri6s dan 7meri6an "eart 7sso6iation. /uku ,anduan *esusitasi =eonatus. Cdisi ke&0. .akarta: ,erinasia? 2%%'.

37