Anda di halaman 1dari 4

Tujuan Untuk mengatasi masalah bau busuk sampah dan penanganan sampah kota telah dilakukan penelitian yang

bertujuan untuk mendapatkan mikroba pengurai sampah organik, menghilangkan bau sampah, mempercepat proses dekomposisi serta merancang bangun reaktor sampah organik untuk kompos.

Slide 3 Bahan analisis untuk mengetahui kandungan bahan pengurai (bioaktivator) yang baik dan sesuai untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos diperoleh dari beberapa sumber seperti : bagian dalam usus sapi, septic tank, air limbah buangan sampah di TPS/TPA (leachit), tanah berhumus dan sisasisa lapukan kayu. Sebelum dilakukan analisis mikrobiologi, bahan tersebut dicampur dengan menggunakan pelarut air (aquades) dengan diberi tambahan gula aren dengan perbandingan 100 ml campuran mikroba : 1000 ml air dengan 1 sendok makan gula aren dan 10 ml bahan aromatik jeruk. Untuk memperkuat kinerja mikroba, ke dalam bahan ditambahkan enzim amilase, protease dan lipase, yang dapat membantu pada proses penguraian karbohidrat, protein dan lemak. Bahan bioaktivator tersebut kemudian didiamkan selama 3 hari dalam botol tertutup. Slide 4

Slide 6 EM-4 adalah kultur campuran dari mikroorganisme yang meng- untungkan bagi pertumbuhan tanaman. Sebagian besar mengandung mikroorganisme Lactobacillus sp. bakteri penghasil asam laktat, serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik Streptomyces sp. dan ragi. EM-4 mampu meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman serta menekan aktivitas serangga hama dan mikroorganisme patogen.

EM-4 diaplikasi sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman secara berkelanjutan.

EM-4 juga dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan, membersihkan air limbah, serta meningkatkan kualitas air pada tambak udang dan ikan. EM merupakan campuran dari mikroorganisme bermanfaat yang terdiri dari lima kelompok, 10 Genius 80 Spesies dan setelah di lahan menjadi 125 Spesies. EM berupa larutan coklat dengan pH 3,54,0. Terdiri dari mikroorganisme Aerob dan anaerob. EM4 terdiri dari 95% lactobacillus yang berfungsi

menguraikan bahan organik tanpa menimbulkan panas tinggi karena mikroorganisme anaerob bekerja dengan kekuatan enzim.

Dekomposisi adalah teknik memecah sebuah relasi menjadi beberapa relasi. Kemudian setelah relasi tersebut dipecah bila digabungkan kembali harus mendapat hasil yang sama, tidak boleh record yang hiulang maupun record tambahan.

Azotobacter Azotobacter merupakan bakteri diazotop non simbiotik yang paling banyak diteliti. Azotobacter bersifat mesofilik dan aerobic obligat, mempunyai laju respirasi sangat tinggi dan mempunyai pertumbuhan optimum 300C. Pada tempat tersebut Azotobakter dapat memberikan sumbangan nyata dalam keharaan N tanah dari N2 yang ditambatnya. Azotobacter sangat peka terhadap Ph tanah dan tidak di jumpai pada tanah-tanah dengan Ph dibaeah 6,0. Sel polimorfik, sel muda bentuk batang pendek dan biasanya berpasangan, perkembangan selanjutnya mjd bentuk ellip kemudian bulat Sel muda motil dengan satu flagella Dalam kultur dengan temp tinggi dan miskin O2, sel berbentuk batang panjang (> 14 mikron) seperti spiral Dalam kultur tua, sel tertutup oleh kapsul tebal (sebagai proteksi), pd A. chroococcum kultur berpigmen coklat/hitam. A. vinelandii menghasilkan pigmen fluoresens (hijau kuning) Bersifat aerob, temp 25 30 C, sensitif asam, pH optimum 7 8 Pada kondisi buruk menghasilkan cyst (akumulasi Poly -hidroxy butyric acid) Melimpah di lingkungan Rizosfir Mampu menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman (IAA, GA, IBA)

Bakteri Azotobacter adalah species rizobakteri yang dikenal sebagai agen penambat nitrogen yang mengkonversi dinitrogen (N2) ke dalam bentuk ammonium (NH3), yang mampu menambat nitrogen dalam jumlah yang cukup tinggi. Pada medium yang sesuai, Azotobacter mampu menambat 10-20 mg nitrogen/g gula (Wedhastri,2002) Azotobacter diketahui pula mampu mensintesis substansi yang secara biologis aktif dapat meningkatkan perkecambahan biji, tegakan dan pertumbuhan tanaman seperti vitamin B, asam indol asetat, giberelin, dan sitokinin (Wedhastri, 2002; Ahmad et al., 2005; Husen, 2003; Adiwiganda et

al.,2006). Selain itu, Azotobacterjuga memiliki kemampuan dalam metabolisme senyawa fenol , halogen, hidrokarbon, dan juga berbagai jenis pestisida (Munir, 2006).
Azotobacter di dalam tanah berperan dalam pengaturan siklus nitrogen, yaitu melakukan fiksasi nitrogen dan mengubahnya menjadi Ammonia (NH3). Atas kehendak Alloh SWT, di dalam sel bakteri ini diciptakan sebuah alat yang berperan dalam biokatalis, yaitu enzim nitrogenase. Enzim inilah yang berperan dalam mengubah N2 menjadi NH3. Bakteri ini memiliki cirri-ciri yang berbeda dengan bakteri lain. Jika kita melihat bentuk koloninya, misalnya; bentuknya bulat, bening, keruh atau opaque, dan putih, permukaannya halus mengkilap, tepi rata,dan berlendir. Bentuk sel Azotobacter bermacam-macam, dari bentuk batang pendek, batang, dan oval serta bentuk yang bermacam-macam, sehingga bakteri ini dikenal sebagai bakteri dengan bentuk sel pleomorfik. Hasil penelitian Nurosid (2007), Azotobacter vinelandii TR07 yang diisolasi dari tanah dekat perakaran padi bentuk selnya batang pendek. Ini adalah salah satu spesies dari Genus Azotobacter. Bakteri ini umumnya Gram negative, namun spesies tertentu dari bakteri ini Gram variabl. Artinya, pada saat berumur muda bakteri ini Gram negatif, namun setelah berumur tua akan berubah menjadi Gram positif. Sel ini memiliki banyak flagel yang tersebar diseluruh selongsong selnya, sehingga dinamakan bakteri yang memiliki flagel bertipe peritrik.Pada kondisi yang kurang baik bagi Azotobacter, maka ia akan membentuk kista, bentuk adapatasi pada lingkungan yang kurang menguntungkan. Teori pembuatan Kompos Proses pembuatan kompos terjadi melalui interaksi antara mikroorganisme dengan bahan organik serta dengan kehadiran oksigen dan air. Proses pengomposan merupakan suatu proses aerob yang berarti hanya bisa berlangsung selama asupan oksigen mencukupi. Jika lapisan bahan organik lebih tebal daripada kurang lebih 60 cm, maka proses dekomposisi yang terjadi berubah drastis menjadi anaerob (tanpa oksigen). Kriteria untuk mempertahankan proses pengomposan tetap aerob adalah menjaga kandungan oksigen minimal 6% dan kandungan air 40-60%. Jika kandungan oksigen <6% dan kandungan air >60% maka proses berubah menjadi anaerob, sedangkan jika kandungan air <40%, aktivitas mikroorganisme berhenti. Selama proses pengomposan, 65% bahan organik terurai oleh mikroorganisme. Glukosa (C 6 H 12 O 6 ) adalah senyawa yang biasa digunakan sebagai model proses dekomposisi oleh mikroorganisme melalui reaksi berikut : C 6 H 12 O 6 + 6 O 2 -> 6 CO 2 + 6 H 2 0 Produk berupa karbondioksida dan air.

The remaining 35 % of the organic material is not digested and results in compost. With the help of oxygen, microbes produce first highly soluble and colored fulvic and humic acids that react later to less soluble humic compounds, the basis of humus. Jika proses yang terjadi secara anaerob, maka reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : C 6 H 12 O 6 3 CO 2 + 3 CH 4 Produk berupa karbondioksida dan metana. Menghindari proses pembentukan gas metana yang 21 hingga 23 kali lebih kuat sebagai gas rumah kaca daripada karbondioksida, membuat proses pengomposan diakui sebagai Clean Development Mechanism(CDM).