Anda di halaman 1dari 8

Bab 1.

Pendahuluan

1.1

Latar Belakang
Penggunaan obat semakin lama semakin berkembang. Mulai dari obat tradisional

sampai obat modern. Berbagai khasiat diberikan oleh masing - masing obat tersebut. Obat tradisional misalnya beras kencur yang berkhasiat sebagai penurun panas. Obat modern yang umum dipasaran misalnya panadol, bodrex dan lain sebagainya yang berfungsi sebagai obat pusing, demam, nyeri dan lain sebagainya. Tanpa disadari bahwa masing masing obat dipasaran tidak selalu aman dikonsumsi contohnya, asam salisilat. Asam salisilat merupakan obat yang populer digunakan sebagai obat nyeri. Tetapi, asam salisilat ini memiliki efek negatif bagi tubuh yaitu memiliki sifat yang keras didalam tubuh sehingga dapat merusak organ tubuh seperti ginjal. Dalam pengkonsumsian tempo lama tanpa disadari asam salisilat ini dapat menjadi pembunuh bagi tubuh pengkonsumsi (beresiko kematian), karena asam salisilat memiliki efek negatif maka dikembangkan dengan cara sintesis menjadi aspirin. Aspirin merupakan hasil sintesis asam salisilat dengan anhidrida asetat. Aspirin merupakan kelompok senyawa glikosida, yang berfungsi sebagai antipiretik dan analgesik yang lebih sempurna dibandingkan dengan asam salisilat. Selain sebagai antipiretik dan analgesik yang lebih sempurna, aspirin ini merupakan obat standar (acuan bagi obat nyeri lain), dimana sistem kerjanya yaitu menghambat produksi prostaglandin (zat spesifik yang menyebabkan rasa sakit dan demam) untuk mengurangi respon tubuh terhadap serangkaian proses kimia yang akhirnya terbentuk nyeri. Selain itu, aspirin juga dapat mengurangi resiko kematian sebesar 25% bagi penderita kanker dibanding dengan pengkonsumsian asam salisilat. Karena beberapa kelebihan dari aspirin tersebut, maka dilakukanya sintesis ini dengan menggunakan teknik pengkristalan (Che, 2011).

1.2

Tujuan Praktikum
Membuat aspirin dalam skala laboratorium Mengamati dan mempelajari proses reaksi yang terjadi Menghitung persentase aspirin yang dihasilkan

Bab 3. Metodologi Percobaan

3.1
3.2 3.3

Bahan-bahan yang digunakan


Asam Salisilat Asam Asetat Anhidrat Asam Sulfat Pekat Etanol Ferri Klorida Aquadest Alat-alat yang digunakan Labu didih dasar bulat Batang Pengaduk Penangas Air Kertas Saring Timbangan Analitik Corong Buchner Pompa Vakum Gelas Piala Tabung Reaksi Pipet Tetes Termometer Statif Cawan Penguap Prosedur Percobaan

3.3.1 Pembuatan Aspirin Asam salisilat sebanyak 3 gram dimasukkan ke dalam labu didih dasar bulat (reaktor) dan ditambahkan 9 ml asam asetat anhidrat sedikit demi sedikit serta 3 sampai 4 tetes asam sulfat pekat. Digoyang-goyangkan labu agar zat tercampur baik (lakukan dalam lemari asam). Dipanaskan di atas penangas air pada temperatur 500 - 600C sambil diaduk selama 15 menit.

Dibiarkan campuran menjadi dingin pada suhu kamar, aduk sekali- sekali. Ditambahkan 40 ml aquadest, diaduk dengan sempurna. Didinginkan selama 1 jam menggunakan batu es. Selanjutnya disaring endapan dengan pompa pengisap/vakum.

3.3.2 Rekristalisasi Aspirin (Pemurnian Aspirin) Dilarutkan aspirin dalam 7 ml alkohol hangat. Dituangkan ke dalam larutan aspirin-alkohol 40 ml air hangat. Dipanaskan sampai larut (dalam penangas air) bila terjadi endapan, disaring larutan dalam keadaan panas dengan cepat. Dinginkan larutan jernih pada temperatur kamar selama 1,5 jam. Amati larutan tersebut sampai kristal yang terbentuk cukup banyak. Disaring larutan dan endapan menggunakan kertas saring dengan corong buchner, sebelumnya timbang dulu kertas saring yang digunakan (penyaringan vakum). Dikeringkan pada suhu kamar. Ditimbang berat aspirin yang terbentuk bila kering. Dihitung rendemennya.

3.3.3 Uji Kemurnian Aspirin Diambil sedikit kristal aspirin hasil rekristalisasi, dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Diambil asam salisilat, di masukkan ke dalam tabung reaksi yang lainnya. Ditambahkan 1 mL etanol ke dalam masing-masing tabung reaksi. Ditambahkan 3-4 tetes larutan ferri klorida dan amati, bila larutan berubah menjadi ungu berarti aspirin yang dibuat belum murni. Jika larutan tetap bening berarti aspirin yang terbentuk telah murni. Jika belum murni, ulangi rekristalisasi terhadap aspirin beberapa kali dengan cara diatas.

2.2

Aspirin

2.2.1. Pengertian Aspirin


Asam asetil salisilat mempunyai nama sinonim asetosal, asam salisil atasetat dan yang paling terkenal adalah aspirin (brandname produk dari Bayer). Serbuk atau kristal asam asetil salisilat dari tidak berwarna sampai berwarna putih. Asam

asetilsalisilat stabil dalam udara kering tapi terdegradasi perlahan jikaterkena uap air menjadi asam asetat dan asam salisilat. Aspirin atau asam asetil salisilat atau asetosal adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering digunakan sebagai senyawa analgesik (anti nyeri), antipiretik (penurun panas), dan anti inflamasi (anti peradangan). Aspirin juga memiliki efek anti koagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.

Gambar 2.1 Stuktur Aspirin (Sumber : Puteri, 2013) Aspirin bersifat antipiretik dan analgesik karena merupakan kelompok senyawa glikosida. Glikosida adalah senyawa yang memiliki bagian gula yang terikat pada nonglikosida L. Aglikon dalam salian adalah salial alkohol dan tereduksi sempurna menjadi asam salisilat. Aspirin dapat disintesis dari asam salisilat, yaitu dengan mereaksikannya dengan anhidrida asetat, hal ini dilakukan pertama kali oleh Felix Hofmann dari perusahaan bayer, Jerman. Dalam tablet aspirin komersil sering kali masih terdapat asam salisilat didalamnya, juga ada yang kadar aspirinnya tidak memenuhi standar, karena itu perlu diuji kandungannya dengan uji FeCl3 dan diuji kadarnya dengan titrasi asam basa. Pada percobaan ini aspirin komersil masih mengandung asam salisilat sedangkan kandungannya adalah 66,15% yang berarti telah memenuhi kadar kelayakan aspirin dalam sediaan farmasi oral menurut standar FDA.

Aspirin dibuat dengan cara esterifikasi, dimana bahan aktif dari aspirin yaitu asam salisilat direaksikan dengan asam asetat anhidrida atau dapat juga direaksikan dengan asam asetat glacial bila asam asetat anhidrida sulit untuk ditemukan. Pada proses pembuatan reaksi esterifikasi ini dibantu oleh suatu katalis asam yaitu H3PO4 85% untuk mempercepat reaksi. Tetapi pada penambahan katalis ini tidak terlalu berefek maka dilakukanlah pemanasan untuk mempercepat reaksinya. Pada pembuatan aspirin juga ditambahkan air untuk melakukan rekristalisasi berlangsung cepat dan akan terbentuk endapan. Endapan inilah yang merupakan aspirin. Reaksi dengan anhidrida asam asetat akan menghasilkan aspirin. Sedangkan reaksi dengan methanol akan menghasilkan metil salisilat. Uji terhadap asam salisilat dan aspirin komersiil digunakan untuk menguji kemurnian aspirin. Kemurnian aspirin bisa diuji dengan menggunakan FeCl3. FeCl3 bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu. Selain itu kemurnian aspirin juga dapat ditentukan dengan uji titik leleh, dimana seharusnya titik leleh aspirin murni adalah 1360 C. Sedangkan untuk kandungan analisis aspirin dapat digunakan titrasi asam basa menggunakan NaOH setelah kristal aspirin dilarutkan dalam etanol (pelarut organik).

2.2.2 Sifat Fisik dan Sifat Kimia Aspirin


a. Sifat Fisik

Adapun sifat fisik dari aspirin adalah sebagai berikut :


Bentuk kristal seperti jarum Berwarna putih mengkilat Dalam alkohol panas larut Titik leleh 135-136 o C Bilangan molekul: 180 g/mol b. Sifat Kimia Adapun sifat kimia dari aspirin adalah sebagai berikut : Dengan NaOH 10% terhidrolisa menjadi asam salisilat bebas.
O O C CH 3 OH

NaOH
COOH COOH

CH3COONa

Dengan air terhidrolisis menjadi asam salisilat bebas dan asam asetat.

O O C CH3 OH

H 2O
COOH COOH

CH 3COOH

Tidak terhidrolisis dalam asam lemak, karena dalam lambung tidak diserap dahulu. Setelah dalam usus halus, dalam suasana basa dapat terhidrolisis menghasilkan asam salisilat bebas (Fieser, 1987). 2.2.3 Pembuatan Aspirin Aspirin dibuat dengan cara mereaksikan asam salisilat dengan anhidrida asam asetat dengan menggunakan katalis H2SO4 pekat sebagai zat penghidrasi. Asam salisilat adalah asam bifungsional yang mengandung dua gugus OH dan COOH. Karenanya asam salisilat ini dapat mengalami dua jenis reaksi yang berbeda. Anhidrida asam karboksilat dibentuk lewat kondensasi dua molekul asam karboksilat. Berikut ini beberapa cara atau metode yang ditemukan oleh beberapa tokoh : a. Sintesa Aspirin menurut Kolbe Pembuatan asam salisilat dilakukan dengan Sintesis Kolbe, metode ini ditemukan oleh ahli kimia Jerman yang bernama Hermann Kolbe. Pada sintesis ini, sodium phenoxide dipanaskan bersama CO2 pada tekanan tinggi, lalu ditambahkan asam untuk menghasilkan asam salisilat. Asam salisilat yang dihasilkan kemudian di reaksikan dengan asetat anhidrat dengan bantuan asam sulfat sehingga dihasilkan asam asetilsalisilat dan asam asetat. b. Sintesa Aspirin Setelah Modifikasi Sintesa Kolbe oleh Schmitt Larutan sodium phenoxide masuk ke dalam revolving heated ball mill yang memiliki tekanan vakum dan panas (130oC). Sodium phenoxide berubah menjadi serbuk halus yang kering, kemudian dikontakkan dengan CO2 pada tekanan 700 kPa dan temperatur 100oC sehingga membentuk sodium salisilat. Sodium salisilat dilarutkan keluar dari mill lalu dihilangkan warnanya dengan menggunakan karbon aktif. Kemudian ditambahkan asam sulfat untuk mengendapkan asam salisilat, asam salisilat dimurnikan dengan sublimasi. Untuk membentuk aspirin, asam salisilat di reflux bersama asetat anhidrat di dalam pelarut toluen selama 20 jam. Campuran reaksi kemudian di dinginkan dalam tangki pendingin aluminium, asam asetil salisilat mengendap sebagai kristal besar.

Kristal dipisahkan dengan cara filtrasi atau sentrifugasi, dibilas, dan kemudian dikeringkan (Irdoni & Nirwana, 2014).

2.2.4 Reaksi Pembentukan Aspirin


Reaksi yang terjadi adalah reaksi esterifikasi yang merupakan prinsip dari pembuatan aspirin. Reaksi esterifikasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Gambar 2.2 Reaksi Pembentukan Aspirin (Sumber : Robert, 2003) Ester dapat terbentuk salah satunya dengan cara mereaksikan alkohol dengan anhidrida asam. Dalam hal ini asam salisilat berperan sebagai alkohol karena mempunyai gugus OH , sedangkan anhidrida asam asetat tentu saja sebagai anhidrida asam. Ester yang terbentuk adalah asam asetil salisilat (aspirin). Gugus asetil (CH3CO-) berasal dari anhidrida asam asetat, sedangkan gugus R-nya berasal dari asam salisilat (pada gambar di atas gugus R ada di dalam kotak). Hasil samping reaksi ini adalah asam asetat. Langkah selanjutnya adalah penambahan asam sulfat pekat yang berfungsi sebagai zat penghidrasi. Telah disebutkan di atas bahwa hasil samping dari reaksi asam salisilat dan anhidrida asam asetat adalah asam asetat. Hasil samping ini akan terhidrasi membentuk anhidrida asam asetat. Anhidrida asam asetat akan kembali bereaksi dengan asam salisilat membentuk aspirin dan tentu saja dengan hasil samping berupa asam asetat. Jadi, dapat dikatakan reaksi akan berhenti setelah asam salisilat habis karena adanya asam sulfat pekat ini. Tetapi harus diperhatikan bahwa sebelum dipanaskan, reaksi tidak benar-benar terjadi. Reaksi baru akan berlangsung dengan baik pada suhu 50-60C. Tahap akhir yaitu rekristalisasi (Robert, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Che, 2011, Sintesis Aspirin, http://studyzoneanalys.blogspot.com/, Diakses Rabu 8 April 2014. Fieser, Louis. F, 1987, Experiment in Organic Chemistry, 3nd edition, Revised, D. C. Heath and Company, Boston Irdoni, HS, Nirwana, HZ, 2014, Modul Praktikum Kimia Organik A dan B, Pekanbaru, Universitas Riau. Puteri, R.F, 2013,Pembuatan Aspirin,http ://id.scribd.com/doc/90675145/Pembuatan Aspirin,Diakses pada Selasa 8 April 2014.