Anda di halaman 1dari 6

28

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Monografi Bahan Tambahan
Aquades / Air Murni (H
2
O)

Air murni (H
2
O) adalah air yang dimurnikan yang diperoleh dengan
destilasi, perlakuan menggunakan penukar ion, osmosis balik atau proses lain
yang sesuai. Dibuat dari air yang memenuhi persyaratan air minum dan tidak
mengandung zat tambahan lain. H
2
O memiliki berat molekul 18,02 g/mol dengan
densitas 0,998 g/cm dalam fase cairan dan 0,92 g/cm dalam fase padatan. Titik
leburnya 0 C (273,15 K) (32 F) dan titik didihnya 100 C (373.15 K) (212 F).
Pemeriaannya cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dengan pH antara 5,0 -
7,0. Wadah dan penyimpanannya dalam wadah tertutup rapat (Anonim, 1995).

B. Hasil Pengujian
1. Uji Organoleptis
Pengujian penampilan fisik dilakukan secara organoleptis, meliputi
pengujian terhadap keseragaman warna, ada tidaknya bau, bentuk permukaan, dan
ada tidaknya cacat (kerusakan) fisik (Banker dan Anderson, 1994). Hasil
pengamatan dilihat pada Tabel 5.1
Tabel 5.1 Karakterisitik Amoksisilin
Parameter organoleptik Deskripsi
Warna Putih
Bau Berbau Khas
Rasa Pahit
Bentuk Kaplet

2. Uji Keseragaman Ukuran
Tidak dilakukan karena tablet amoksisilin berbentuk kaplet.
29

3. Uji Keseragaman Bobot
Pengujian keseragaman bobot menggunakan 20 tablet dengan syarat tidak
lebih dari dua tablet mempunyai penyimpangan bobot rata-rata yang lebih besar
dari kolom A dan tidak satu tablet pun mempunyai penyimpangan yang lebih dari
yang tercantum dalam kolom B (Anonim, 1979). Hasil uji keseragaman bobot
disajikan pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2 Hasil uji keseragaman bobot tablet
Keseragaman
bobot rata-rata
(mg)
Standar
deviasi (SD)
Koefisien
Variasi %
(CV)
Keterangan
697,48 0,01148 1,6462 Memenuhi syarat
Data uji keseragaman bobot menunjukkan bahwa semua formula
memenuhi syarat keseragaman bobot berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi III,
karena tidak ada satupun tablet menyimpang dari 5% maupun 10% bobot rata-rata
tablet (Anonim, 1979). Pengujian terhadap keseragaman bobot tablet juga
dilakukan dengan menghitung CV (Coefisient Variation) dan hasilnya
menunjukkan bahwa bobot tablet memenuhi syarat, karena nilai CV tidak lebih
dari 5%.
4. Kekerasan
Satu tablet diletakkan di tengah dan tegak lurus pada hardness tester,
mula-mula skala pada posisi nol, kemudian alat diputar pelan-pelan sampai tablet
pecah. Dibaca skala yang dicapai pada saat tablet pecah atau hancur. Uji
kekerasan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas tablet yang akan
mempengaruhi waktu hancur. Kekerasan tablet ditentukan oleh kompaktibilitas
dan kompresibilitas granul. Kompaktibilitas dan kompresibiltas sangat penting
kaitannya dengan kemudahan suatu serbuk untuk dikempa sehingga dapat
menghasilkan tablet yang keras (Ansel, 2005).
Pada umumnya tablet yang baik mempunyai kekerasan antara 4-10 kg
untuk tablet besar (400-700 mg) dan untuk tablet kecil < 300 mg memiliki
kekerasan 3-5 kg (Anonim, 1995). Berdasarkan hasil pengujian tablet
amoksisilin (tablet besar) memenuhi syarat yaitu 8,5 kg masuk dalam rentang
persyaratan.
30

5. Friabilitas (kerapuhan)
Sebanyak 10 tablet yang telah dihilangkan debunya dan sudah ditimbang
diletakkan didalam alat friabilator dengan diameter 12 inchi dan berputar 100 kali
(4 menit). Tablet dikatakan baik apabila kerapuhan tidak lebih dari 1%. Friabilitas
ditentukan oleh ikatan antargranul dan pengaruh dari kompaktibilitas dan
kompresibiltas granul. Kerapuhan menggambarkan kekuatan ikatan partikel-
partikel pada bagian tepi permukaan tablet karena pengaruh gesekan atau kikisan
(Banker dan Anderson, 1994)
Hasil uji friabilitas tersebut menunjukkan bahwa tablet amoksisilin setelah
dilakukan pengujian berat total tablet 0,00429% < 1 %, sehingga tablet
amoksisilin memenuhi persyaratan.
6. Waktu Hancur
Sebanyak 6 tablet dimasukkan kedalam desintegration tester . Digunakan
air bersuhu 37
o
2
o
sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain
dalam masing-masing monografi Diturun naikkan secara teratur dan diamati
waktu hancur. Waktu hancur untuk tablet tidak bersalut adalah kurang dari 15
menit (Banker dan Anderson, 1994). Berdasarkan pengujian tablet amoksisilin
memiliki waktu hancur < 15 menit yang artinya tablet memenuhi persyaratan.
Waktu hancur yaitu waktu yang dibutuhkan tablet pecah menjadi partikel-
partikel kecil atau granul sebelum larut dan diabsorpsi. Menyatakan waktu yang
diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya
seluruh partikel melalui saringan mesh-10 (Lachman, dkk, 1994).
7. Uji Keseragaman Sediaan (keragaman kandungan)
Dapat ditentukan dengan salah satu dari dua metode :
a. Keragaman bobot dilakukan terhadap tablet yang 50 % bahan aktifnya
lebih besar atau sama dengan 50 mg.
b. Keseragaman kandungan dilakukan terhadap tablet yang 50 % bahan
aktifnya kurang dari 50 mg (Anonim,1995).

8. Prinsip Spektrofotometri UV-Vis
Spektrofotometri ultraviolet digunakan untuk analisa kualitatif ataupun
kuantitatif suatu senyawa. Absorpsi cahaya ultraviolet maupun cahaya tampak
31

mengakibatkan traansisi elektron, yaitu perubahan elektron-elektron dari orbital
dasar berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.
Penyerapan radiasi ultraviolet atau sinar tampak tergantung pada mudahnya
transisi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk
transisi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek.
Molekul-molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap panjang
gelombang lebih panjang (Fessenden dan Fessenden, 1986).
Semua molekul dapat mengabsorpsi radiasi daerah UV-Vis karena mereka
mengandung elektron, baik sekutu maupun menyendiri, yang dapat dieksitasikan
ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektrofotometer UV-Vis banyak bermanfaat
untuk penentuan konsentrasi senyawa-senyawa yang dapat menyerap radiasi pada
daerah ultraviolet (200-400 nm) atau daerah sinar tampak (400-800 nm). Analisis
ini dapat digunakan yakni dengan penentuan absorbansi dari larutan sampel yang
diukur (Day & Underwood, 2002).
Percobaan kali ini dilakukan beberapa tahap yang akan dijelaskan sebagai berikut.
Pembuatan Kurva Baku
Kurva baku amoksisilin diperoleh dengan cara membuat seri larutan di
dalam medium aquadest yaitu konsentrasi 70, 110, 150, 190, 230, 250 ppm.
Absorbansi masing-masing konsentrasi diukur dengan spektrofotometer uv-vis
pada panjang gelombang 273,2 nm. Data absorbansi yang diperoleh kemudian
dibuat grafik terhadap konsentrasi hingga diperoleh persamaan regresi dan
kurvanya. Data disajikan pada Tabel 5.3. dan Gambar 5.1 dan 5.2.

Tabel 5.3. Hasil Pengukuran Absorbansi Kurva Baku









Konsentrasi (ppm) Absorban
70 0,175
110 0,292
150 0,400
190 0,4965
230 0,595
32










Gambar 5.1 Kurva kalibrasi amoksisilin
















Gambar 5.2 Grafik kalibrasi amoksisilin

Pengukuran Kadar Amoksisilin
Penetapan kadar secara kuantitatif dilakukan dengan mengencerkan 3
sampel yang diambil dari 10 tablet yang sudah digerus kemudian dilarutkan dalam
aquadest sampai 100 ml. Diambil 2 ml ditambah 100 ml, dan dilakukan
pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 273,2nm. Hasil uji penetapan
kadar menentukan bahwa keseluruhan tablet mengandung bahan aktif dengan
rata-rata 118,3%. Persyartaan Farmakope Indonesia IV menyatakan bahwa tablet
33

amoksisilin harus mengandung bahan aktif pada rentang 90 120%. Dengan
demikian keseluruhan tablet memenuhi persyaratan keseragman sediaan
(Anonim, 1995).