Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat karunia dan
hidayahnyalah kita diberi kesehatan lahir dan batin, selain dari pada itu kami ucapkan kepada
guru pembimbing yang telah memberikan pengarahan kepada kami sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini memuat tentang Hereditas Makalah ini disusun agar pembaca dapat
memahami materi materi tentang hereditas dan bias dapat mengambil tindakan positif yang
berhubungan dengan hereditas atau pewarisan sifat.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas kepada pembaca. Walaupun
makalah ini masih mempunyai banyak kekurangan. Oleh karenanya penyusun mohon untuk
kritik dan sarannya. Terima kasih.













DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... 1
DAFTAR ISI......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.............................................................................................. 3
B. TUJUAN................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Hereditas.................................................................................................................... 4
B. Macam macam persilangan..................................................................................... 5
C. Penyimpangan hukum mendel................................................................................... 8
D. Jenis kelamin.............................................................................................................. 9
E. Sifat atau cacat penurunan autosom.......................................................................... 10
F. Sifat atau cacat penurunan gonosom......................................................................... 15
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN ........................................................................................................ 18
B. SARAN..................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA







BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bila kita perhatikan kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita maka akan tampak
adanya kesamaan kejadian satu dengan kejadian lainnya, tetapi ada pula perbedaan
kejadian satu dengan kejadian lainnya. Sama halnya manusia, manusia satu dengan
manusia lainnya meskipun memiliki beberapa kesamaan (contoh, kesamaan bawaan atau
lingkungan) tetapi masih saja terdapat perbedaan yang ditimbulkan.
Setiap manusia mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda. Hal
ini dapat dipengaruhi dari berbagai faktor, yaitu faktor dari dalam (faktor yang ada dalam diri
manusia itu sendiri, faktor hereditas:bawaan/warisan) dan faktor luar (faktor lingkungan).
Dengan faktor bawaan tertentu dan disertai dengan faktor lngkungan yang tertentu pula
maka akan menghasilkan pola pertumbuhan dan perkembangan tertentu pula.
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu. Ini berarti bahwa,
karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemidahan dari cairan-cairan
germinal dari pihak orang tuanya. Bagaimanakah pengaruh hereditas terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak? Maka dalam makalah ini Penulis berusaha
membantu memberikan sedikit gambaran bagaimana hereditas dan lingkungan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.
B. TUJUAN
Setelah mempelajari Hereditas Pada Tumbuhan dan Hewan, Kalian diharapkan dapat
memahami, menafsirkan, dan mengkomunikasikan pemahaman konsep hereditas,
penerapan Hukum Mendel dan penyimpangannya serta dasar-dasar pemuliaan tumbuhan
dan hewan.




BAB II PEMBAHASAN
A. Hereditas
Keturunan memperoleh gen dari orang tua melalui pewarisan kromosom. Kita sering
melihat ada seorang anak memiliki kemiripan dengan orang tuanya misalnya seorang anak
memiliki bintik-bintik yang sama dengan ibunya, dan mata seorang anak mirip dengan mata
ayahnya. Tapi oraang tua tidak secara harpiah mewariskan suatu sipat kepada anak.
Dibawah ini akan dijelaskan tentang pewwarisan sifat.
Pewarisan sifat pada gen. orang tua memberikan sifat terkode pada anak-anaknya
dalam bentuk unik herediter yang disebut gen. gen-gen yang kita warisi dari orang tua
merupakan tautan-tautan genetic kita dengan orang tua, dan gen-genlan yang menebabkan
kemiripan pada keluarga. Gen-gen kita mewariskan sifat-sifat spesifik yang muncul saat kita
berkembang dari sel yang berfertilisasi menjadi dewasa, sel-sel menerjemahkan sifat-sifat
yang diwariskan dari orangtua.
Pewarisan sifa-sifat herediter memiliki basis molekuler pada reflikasi DNA secara
tepat. Yang menghasilkan salinan gen gen yang dapat diwariskan dari orang tua kepada
anak. Setiap spesies memiliki jumlah kromosom yang khas, misalnya manusia memiliki 46
kromosom dihampir semua selnya. Setiap kromosom terdidi atas satu DNA tunggal yang
panjang yang terkumpar secara rumit bersama dengan berbagai protein. Suatu kromosom
mengandung ratusan atau bahkan ribuan gen, yang masing-masing merupakan sekuens
spesifik nukleotida dalam molekul.
Mendel dan gagasan tentang gen
Genetika modern terlahir disuatu biara, tempat seorang biarawan bernama Groger
Mendel mendokumentasikan mekanisme pertikulat untuk pewarisan sifat. Mendel
menemukan prinsif-prinsif tentang pewarisan sifat dengan cara membiakan ercis kebun,
dalam percobaan percobaan yang secara hati-hati. Dan kita akan melihat bagaimana
model penelitian mendel berlaku untuk pewarisan sifat variasi manusia termasuk kelainan
herediter seperti penyakit sel-sabit.

Model menndel
Ada empat Model mendel yang digunakan dalam hereditas yang saling mendukung
dengan hokum sebelumnya, yaitu:
Yang pertama versi alternative gen menyebabkan vaiasi yang diwarisi.
Kedua untuk setiap karakter organisme mewarisi dua alel, satu dari masing
masing induk.
Ketiga jika dua alel pada suatu lokus berbeda, maka salah satunya adalah alel
dominan, nenentukan kenampakan organism, yang satu lagi alel resesif.
Dan yang keempat hokum segresi menyatakan : bahwa ada dua alel untuk satu
karakter terwariskan bersegresi (memisah) selama pembentukan gamet dan akhirnya
berada dalam gamet-gamet berbeda.
Dengan demikian sel telur atau sel seperma hanya memperoleh salah satu dari
kedua alel yang ada dalam sel-sel somatic dari organism pembuat gamet tersebut.
Homozigot adalah suatu organism yang memiliki sepasang alel identik untuk suatu
karakter (gen).
PP = ercis bunga ungu untuk alel dominan
pp = ercis bunga pitih untuk alel resesif
terjadi pada persilangan galur murni
Heterozigot adalah suatu organism yang memiliki dua alel yang brbeda untuk suatu
gen (Pp).
Hereditas pada manusia mempelajari mengenai macam penurunan sifat atau kelainan pada
manusia.


Penurunan sifat pada manusia dibedakan menjadi dua yaitu:
1. autosomal sifat yang terpaut koromosom tubuh, Sifat yang autosomal
manifestasinya dapat muncul baik pada anak laki-laki maupun perempuan.
2. gonosomal sifat yang terpaut kromosom sex, sifat yang gonosomal manifestasinya
dipengaruhi oleh jenis kelamin, bisa hanya muncul pada anak laki-laki saja atau
perempuan saja.
B. Macam-macam Persilangan
1. Persilangan Monohibrid
Adalah persilangan antar induk yang memiliki satu sifat beda.


Diagram persilangan monohibrid
Induk (P1) : TT >< tt
(tinggi) (pendek)
Gamet (G) : T t
Keturunan1 (F1): Tt (tinggi)

P2 : F1 >< F1
Tt Tt
G : T T
t t
F2 : TT (tinggi), Tt (tinggi), Tt (tinggi), tt (pendek)

2. Persilangan Dihibrid
Adalah persilangan antar induk yang memiliki dua sifat beda.

Diagram persilangan dihibrid
P1 : BBKK >< bbkk
(bulat kuning) (kisut hijau)
G : BK bk
F1 : BbKk (bulat kuning)

P2 : F1 >< F1
BbKk BbKk
G : BK BK
Bk Bk
bK bK
bk bk



F2 : 9 : 3 : 3 : 1


Perkawinana resiprok
Prinsip prinsip mendel tersebut diatas mudah dibuktikan bila diadakan perkawinan
(penyilangan ) resiprok. Penyilangan resiprok adalah penyilangan gamet jantan dan gamet
betina dipertukarkan sehingga menghasilkan keturunan yang sama
Testcross
Testcross adalah perkawinan antara F1 dengan salah satu induk yang resesif.
Testcross disebut juga perkawinan pengujian (uji silang) karena bertujuan untuk
mengetahui apakah suatu individu bergenotipe homozigot (bergalur murni) atau
heterozigot. Jika hasil testcross menunjukkan perbandingan fenotipe keturunan yang
memisah 1 : 1, maka dapat disimpulkan bahwa individu yang diuji tersebut adalah bukan
galur murni , berarti heterozigot. Sedangkan jika hasil testcross 100% berfenotipe sama
berarti homozigot.
Lihat diagram persilangan dibawah ini:
F1 disilangkan dengan galur murni (parental 1) yang resesif
A = bunga merah
BK Bk bK bk
BK BBKK BBKk BbKK BbKk
Bk BBKk BBkk BbKk Bbkk
bK BbKK BbKk bbKK bbKk
Bk BbKk Bbkk bbKk bbkk
a = bunga putih
P1 AA (merah) X aa (putih)
Gamet A a
F1 Aa (merah)
P2 Aa (merah) X aa(putih)
Gamet A,a a
F2 1Aa (merah) : 1 aa (putih)
Hasil persilangan test cross (uji silang)
Monohibrida RF = 1 : 1
Dihibrida RF = 1 :1:1:1
Trihibrida RF = 1:1:1:1:1:1:1:1

C. Penyimpangan Hukum Mendel
Interaksi beberapa pasangan alel.
Alel-alel dari gen yang berbeda terkadang berinteraksi dan memunculkan perbandingan
fenotip yang tidak umum, misalnya bentuk pial pada ayam.



Fenotip Genotip
a. RRpp = pial gerigi (ros)
b. rrPP = pial biji (pea)
c. rrpp = pial bilah (single)
d. RRPP = pial sumpel ( walnut)

Diagram persilangan pada pial ayam
P1 : RRpp X rrPP
ros pea

F1 : RrPp (walnut)

P2 : F1 >< F1
RrPp >< RrPp
G : RP RP
Rp Rp
rP rP
rp rp


F2 : R P = 9 .
R pp = 3 .
rrP = 3 .
rrpp = 1



D. Jenis Kelamin
Jenis kelamin pada manusia dikendalikan oleh sepasang kromosom seks, yaitu kromosom
XX untuk perempuan dan kromosom XY untuk laki-laki. Berdasarkan susunan tersebut,
kromosom perempuan bersifat homogametic, sedangkan susunan kromosom seks laki-laki
bersifat heterogametic. Bila terjadi pembelahan meiosis, maka seorang perempuan hanya akan
menghasilkan satu macam sel gamet yaitu X, sedangkan laki-laki akan menghasilkan dua
macam sel gamet yaitu X dan Y.
Perhatikan skema berikut ini
Dari skema di atas nampak jelas bahwa yang menentukan jenis kelamin anak adalah
ayah, sebab ibu hanya menghasilkan satu macam kromosom seks, sedangkan ayah
menghasilkan dua macam kromosom seks. Seorang ibu akan memberikan jenis kromosom
seks yang sama baik kepada anak laki-laki maupun anak perempuan, sedangkan ayah
akan memberikan kromosom X kepada anak perempuan dan kromosom Y kepada anak
laki-laki.
E. Sifat / Cacat Menurun Autosomal
Beberapa sifat atau cacat menurun yang terpaut pada kromosom tubuh (autosom) adalah
sebagai berikut



1. Albinisme

Banyak kasus albinisme pada berbagai hewan dan manusia
Albinisme merupakan cacat menurun dimana seseorang tidak mempunyai tirosin
yang akan diubah menjadi pigmen melanin. Akibatnya alis, rambut, dan kulit tampak putih
(albino), dan matanya peka terhadap cahaya. Gen penyebab albino bersifat resesif,
sedangkan alel dominannya mengendalikan sifat normal. Seorang anak albino lahir dari
pasangan suami isteri yang masing-masing membawa gen albino (carrier)
P : Aa x Aa
F : AA : normal
Aa : normal (carrier)
aa : albino
2. Idiot/Imbisil
Cacat menurun ini disebabkan karena seseorang tidak punya enzim yang mengubah
fenilalanin menjadi tirosin. Akibatnya terjadi penimbunan fenilalanin dalam darah dan
diubah menjadi asam fenilpiruvat. Tingginya kadar fenilpiruvat menghambat perkembangan
dan fungsi otak. Kelainan ini sering disebut phenilketouria (PKU) karena banyaknya
kandungan residu fenilpiruvat yang terdapat pada urine.
Anak yang idiot/imbisil memiliki ciri sebagai berikut:
IQ rendah
gerakan lambat
rambut sering kekurangan pigmen
dalam urine dijumpai residu fenilpiruvat
Seorang anak idiot dilahirkan dari pasangan suami isteri yang keduanya membawa gen
resesif.
P : Ii x Ii
F : II : normal
Ii : normal (carrier)
ii : idiot
3. Thallasemia

Thallasemia merupakan kelainan dimana sel darah merah seseorang berbentuk
tidak beraturan, kadar Hb sedikit sehingga penderita sering kekurangan oksigen
(hipoksemia). Cacat ini disebabkan oleh gen dominan.
Ada dua jenis thallasemia, yaitu thallasemia mayor (ThTh) dan thallasemia minor
(Thth). Sel darah merah penderita thallasemia mayor semua berbentuk tidak beraturan dan
umumnya lethal. Sedangkan pada penderita thallasemia minor sebagian sel darah
merahnya berbentuk tak beraturan. Penderita bisa bertahan hidup dengan melakukan
transfusi reguler.



Penderita thallasemia mayor lahir dari perkawinan antar penderita thallasemia minor.
P : Thth x Thth
F : ThTh : thallasemia mayor
Thth : thallasemia minor
thth : normal
4. Golongan Darah

Kita akan membahas dua klasifikasi golongan darah, diantaranya adalah golongan
ABO dan Rhesus
Golongan ABO
Golongan ini membagi golongan darah menjadi empat, yaitu A, B, AB, dan O,
didasarkan pada adanya jenis antigen tertentu pada sel darah yang disebut isoaglutinogen.
Susunan genotif dan kemungkinan gamet yang dibentuk dapat dilihat pada tabel berikut.

Golongan darah ABO dikendalikan oleh alela ganda I
A
, I
B
, dan I
O
. I
A
dan
I
B
kodominan, dan keduanya dominan terhadap IO.
Contoh: perkawinan antara pria golongan A heterozigot dengan wanita B heterozigot.
P : I
A
I
O
x I
B
I
O

G : I
A
, I
O
I
B
, I
O

F : I
A
I
B
: golongan AB
I
A
I
O
: golongan A
I
B
I
O
: golongan B
I
O
I
O
: golongan O







Golongan Rhesus
Golongan ini dinamakan berdasar nama kera dari India, Macacus rhesus, yang dulu
sering digunakan untuk mengetes darah orang. Golongan darah ini ada dua yaitu Rhesus +
dan Rhesus -. Susunan genotif dan kemungkinan gamet dapat dilihat pada tabel berikut.

Golongan Rhesus ini memiliki arti penting pada perkawinan. Bila seorang pria
Rhesus + menikah dengan wanita Rhesus -, kemungkinan anaknya menderita
eritroblastosis fetalis (penyakit kuning bayi).
Contoh: perkawinan antara pria Rh + dengan wanita Rh -
P : pria Rhesus + x wanita Rhesus
RhRh rhrh
G : Rh rh
F : Rhrh Rhesus + (eritroblastosis fetalis)


Kasus eritroblastosis: perhatikan bahwa eritrosit anak golongan Rh+ digumpalkan oleh
antibodi ibu (warna putih) yang bergolongan Rh- ketika dalam kandungan
F. Sifat/Cacat Menurun Gonosomal
Sifat yang diturunkan terpaut kromosom sex (gonosom) dibedakan menjadi dua, yaitu
terpaut kromosom X dan terpaut kromosom Y. Gen yang terpaut kromosom X dapat
diturunkan pada anak perempuan dan anak laki-laki, tetapi fenotif yang muncul bergantung
pada susunan genotifnya. Sedangkan gen yang terpaut kromosom Y hanya diturunkan
pada anak laki-laki.
Dua contoh cacat menurun yang terpaut kromosom X adalah hemofili dan butawarna.

a. Hemofili
Hemofili merupakan suatu kelainan dimana darah seseorang sulit untuk membeku.
Penyakit ini disebabkan gen resesif h, sedangkan sifat normal dikendalikan oleh gen H.
Seorang wanita normal memiliki dua gen H pada masing-masing kromosom X. Bila salah
satu kromosom X terdapat gen h, wanita ini termasuk wanita normal tetapi membawa sifat
hemofili (carrier). Bila pada kedua kromosom X terdapat gen h wanita tersebut menderita
hemofili dan umumnya lethal. Pria menderita hemofili bila pada kromosom X-nya terdapat
gen h, dan normal bila terdapat gen H. Seorang anak laki-laki hemofili dapat lahir dari ibu
carrier.
X
H
X
H
: wanita normal X
H
Y : pria normal
X
H
X
h
: wanita normal carrier X
h
y : pria hemofili
X
h
X
h
: wanita hemofili
Contoh:
P : pria normal x wanita carrier
X
H
Y X
H
X
h

G : X
H
, Y X
H
, X
h

F : X
H
X
H
: wanita normal X
H
Y : pria normal
X
H
X
h
: wanita normal carrier X
h
y : pria hemofili










2. Butawarna (colorblind)

Angka berapa ya? Gambar apa nih?
Butawarna merupakan cacat menurun dimana seseorang tidak bisa membedakan
warna. Umumnya tidak bisa membedakan warna merah dan hijau (dikromatis). Sedangkan
pada butawarna total orang tidak bisa melihat warna. Kelainan ini juga disebabkan gen
resesif c, sedangkan sifat normal dikendalikan gen dominan C.
Anak perempuan buta warna dapat dilahirkan dari pria butawarna yang menikah dengan
wanita carrier.
P : pria butawarna x wanita carrier
X
c
Y X
C
X
c

G : X
c
, Y X
C
, X
c

F : X
C
X
c
: wanita normal carrier
X
c
X
c
: wanita butawarna
X
C
Y : pria normal
X
c
Y : pria butawarna






BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari uraian-uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal yang terkait
dengan faktor hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak,
yaitu sebagai berikut ini.
1) Pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh faktor dalam (hereditas) dan
faktor luar (lingkungan).
2) Faktor internal, yaitu faktor yang ada dalam diri anak itu sendiri yang meliputi
pembawaan dan potensi psikologi tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.
Meliputi, antara lain: bentuk tubuh, raut muka, sifat-sifat, bakat, intelegensi dan penyakit.
3) Pembawaan tidak akan berarti apa-apa tanpa didukung dengan lingkungan yang
kondusif terhadap bawaaan itu sendir
Gen adalah unit terkecil bahan sifat menurun. Besarnya diprkirakan 4-50 . Istilah gen
pertama kali diperkenalakan oleh W.Johansen (1909), sebagai pengganti istilah factor keturunan
atau elemen
yang dikemukakan oleh Gregor Mendel. Gregor Mendel telah berasumsi tentang adanya
suatu bahan yang terkait dengan suatu sifat atau karakter yang dapat diwariskan. Ia menyebutnya
'faktor'. Pada 1910, Thomas Hunt Morgan menunjukkan bahwa gen terletak di kromosom.
Selanjutnya, terjadi 'perlombaan' seru untuk menemukan substansi yang merupakan gen. Banyak
penghargaan Nobel yang kemudian jatuh pada peneliti yang terlibat dalam subjek ini.
Gen menumbuhkan serta mengatur berbagai jenis karakter dalam tubuh baik fisik
maupun psikis. Pengaturan karakteristik ini melalui proses sintesa protein seperti; kulit dibentuk
oleh keratin, otot dari aktin dan miosin, darah dari (Hb, globulin, dan fibrinogen), jaringan
pengikat dari (kolagen dan elastin), tulang dari Ossein, tulang rawan dari kondrin.
Gen sebagai factor keturunan tersimpan di dalm kromosom, yaitu di dalam manik
manik yang disebut kromomer atau nukleusom dari kromonema
Hereditas pada manusia mempelajari mengenai macam penurunan sifat atau kelainan pada
manusia.
Penurunan sifat pada manusia dibedakan menjadi dua yaitu:
1. autosomal sifat yang terpaut koromosom tubuh, Sifat yang autosomal
manifestasinya dapat muncul baik pada anak laki-laki maupun perempuan.
2. gonosomal sifat yang terpaut kromosom sex, sifat yang gonosomal manifestasinya
dipengaruhi oleh jenis kelamin, bisa hanya muncul pada anak laki-laki saja atau
perempuan saja.
B. SARAN
Setelah membaca makalah ini kami selaku penyusun berharap agar pembaca dapat
memahami tentang hereditas. Adapun saran yang ingin disampaikan penyusun adalah agar
pembaca mempelajari sistem pewarisan sifat dan bias menumbuhkan rasa cinta terhadap
diri dan lingkungan. Selain daripada itu penyusun menyarankan agar pembaca melihat
potensi yang ada pada diri kita karena sesungguhnya kita memiliki potensi yang sangat
berguna.










DAFTAR PUSTAKA
Campbell NA, dkk. Biologi. Edisi Kelima. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. 2000. 265-267.
Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 20. Jakarta: EGC Penerbit Buku
Kedokteran.
2003. 515-518.
Pai, A.C. Dasar dasar genetika. Ilmu untuk Masyarakat. Edisi kedua. McGraw-Hill, Inc.
Alih
Bahasa Dr. Muchidin Apandi, Msc, ITB. Penerbit Erlangga. Jakarta, 1987.