Anda di halaman 1dari 40

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
Kultur jaringan merupakan salah satu tekhnik memperbanyak suatu
tanaman dengan cara menanam sebagian kecil jaringan pada medium yang sudah
dalam keadaan steril. Teknik kultur jaringan bukan hanya digunakan untuk
beberapa tujuan seperti mendapatkan produksi metabolit sekunder, mendapatkan
keragaman seleksi dan pemuliaan tanaman. Pada dasarnya langkah-langkah dalam
melakukan proses kultur jaringan ada 3 tahap, yaitu :
1. Tahap I atau disebut juga tahap persiapan eksplan
2. Tahap II atau disebut juga tahap penggandaan.
3. Tahap III atau disebut juga tahap penndewasaan.( D.F. Wetherell,1976).
Langkah pertama yang harus dilakukan apabila akan melakukan kultur
jaringan adalah menentukan tujuan yang ingin dicapai, karena akan menyangkut
materi yang akan digunakan. Misalnya tujuannya ingin memperbanyak tanaman
dengan hasil yang sesuai dengan induknya, maka dilakukan kultur meristem atau
kultur kalur. Apabila tujuannya ingin mendapatkan tanaman yang homozigot,
dilakukan kultur anther. Langkah berikutnya adalah menentukan medium yang
akan digunakan dengan menambahkan ZPT vitamin dan suplemen lainnya.
Selanjutnya adalah tahap kerja di laboratorium.
Proses pelaksanaan kultur jaringan yang dapat dikatakan proses terakhir
yaitu penanaman eksplan. Syarat pertama kultur jaringan juga masih digunakan
pada pelaksanaan ini yaitu kondisi yang aseptic. Pada pross penanaman eksplan,
lingkungan yang digunakan haruslah benar-benar dalam kondisi yang aseptik.
Oleh karenanya penanaman biasanya dilakukan di Enkas, sebuah kotak dengan
tepi yang transparan dan terdapat lubang untuk tangan, atau dengan menggunakan
LAF (Laminar Air Flow).
2

Penanaman eksplan harus dilakukan pada ruangan yang harus steril, dan
eksplan juga dalam keadaan yang steril pula. Penanaman dapat dilakukan pada
ruangan tertutup atau ruangan penabur dalam Laminair Air Flow (LAF). Ruangan
digunakan, setelah dilakukan sterilisasi dengan menggunakan larutan alkohol 96
% pada lantai dan dinding ruangan, dan membiarkan ruangan selama 30 menit
dengan sinar UV yang menyala.
Kontaminasi yang terjadi pada kultur jaringan merupakan momok yang
cukup mengganggu proses kultur jaringan. Namun kontaminasi juga dapat
dicegah dengan perlakuan-perlakuan yang aseptic. Stelah dua acara praktikum
diatas dilakukan sterilisasi terhadap peralatan kultur dan media kultur, tanaman
atau eksplan yang akan ditanam juga harus dalam keadaan steril dan sehat artinya
eksplan tidak terserang penyakit ataupun terkena serangan mikroba.
Keberadaan kontaminan yang berasal dari spora maupun mikroba lainnya
sangat sulit dihindari termasuk juga di dalam ruang kultur. Untuk itu sterilisasi
ruangan juga perlu dilakukan tentunya dengan tujuan untuk menciptakan
lingkungan yang aseptic dan menghilangkan mikroba maupun spora penyebab
kontaminan.

I.2 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian kuntur jaringan.
2. Mengetahui dan memahami alat dan bahan yang digunakan dalam kultur
jaringan.
3. Mengamati pertumbuhan eksplan.
4. Mencari faktor-faktor penyebab kontaminasi dalam kultur jaringan.
5. Untuk mengetahui jenis-jenis media kultur
6. Untuk mengetahui sifat dan komposisi pembuatan media
7. Untuk mengetahui teknik aseptic pembuatan media
8. Untuk mengetahui dan memahami rumus perhitungan larutan stok.

3

I.3 MANFAAT
Dari praktikum yang dilakukan diharapkan mahasiswa dapat mengetahui
sifat media kultur jaringan dan pemanfaatnya serta mampu membuat media kultur
jaringan.

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara
vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-
bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat
pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian
tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan
menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang
dilakukan di tempat steril.
Dengan semakin berkembangnya usaha di bidang pertanian maka
kebutuhan bibit semakin meningkat. Melalui perbanyakan konvensional sangat
sulit untuk memenuhi kebutuhan bibit yang sangat banyak dengan waktu relatif
cepat. Dengan demikian, teknologi kultur jaringan telah terbukti dapat digunakan
sebagai teknologi pilihan.
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari
tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta
menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Tujuan
dari Kultur jaringan diantaranya menciptakan tanaman baru bebas penyakit,
memperbanyak tanaman yang sukar diperbanyak secara seksual, dan
menghasilkan tanaman baru sepanjang tahun.
Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik pemeliharaan
jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial). Yang dimaksud secara
5

buatan adalah dilakukan di luar individu yang bersangkutan. Karena itu teknik ini
sering kali disebut kultur in vitro, sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro
(bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabung
inkubasi atau cawan petri dari kaca atau material tembus pandang lainnya. Kultur
jaringan secara teoretis dapat dilakukan untuk semua jaringan, baik dari tumbuhan
maupun hewan (termasuk manusia) namun masing-masing jaringan memerlukan
komposisi media tertentu. Pertumbuhan dan perkembangan dalam kultur in vitro
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: faktor genetik, media tumbuh,
faktor lingkungan, dan zat pengatur tumbuh. Menurut Wetherell (1982), zat
pengatur tumbuh (ZPT) di dalam dalam media berfungsi untuk mengatur
pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada setiap tingkat pertumbuhan dan
perkembangan. Di dalam tanaman terdapat fitohormon yang mendorong
pertumbuhan dan perkembangan, serta fitohormon yang menghambat. ZPT akan
bekerja secara aditif (sinergis) dengan fitohormon (pendorong) atau antagonis
dengan fitohormon yang menghambat. Resultan dari interaksi ini akan tampil
dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut Gardner (1991)
tanaman pada kultur jaringan tidak dapat menghasilkan karbohidrat sendiri dalam
jumlah cukup sehingga perlu diberikan sumber energi karbon dalam media berupa
sukrosa.
Proses perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan terdiri atas seleksi
pohon induk (sumber eksplan), sterilisasi eksplan, inisiasi tunas, multiplikasi,
perakaran, dan aklimatisasi. Eksplan berupa mata tunas, diambil dari pohon induk
yang fisiknya sehat. Tunas tersebut selanjutnya disterilkan dengan alkohol 70%,
HgCl2 0,2%, dan Clorox 30%. Inisiasi tunas. Eksplan yang telah disterilkan di-
kulturkan dalam media kultur (MS + BAP). Setelah terbentuk tunas, tunas
tersebut disubkultur dalam media multiplikasi (MS + BAP) dan beberapa
komponen organik lainnya. Multiplikasi dilakukan secara berulang sampai
diperoleh jumlah tanaman yang dikehendaki, sesuai dengan kapasitas laborato-
rium. Setiap siklus multiplikasi berlangsung selama 23 bulan. Untuk biakan
(tunas) yang telah responsif stater cultur, dalam periode tersebut dari 1 tunas dapat
6

dihasilkan 10-20 tunas baru. Setelah tunas mencapai jumlah yang diinginkan,
biakan dipindahkan (dikulturkan) pada media perakaran.
Untuk perakaran digunakan media MS + NAA. Proses perakaran pada
umumnya berlangsung selama 1 bulan. Planlet (tunas yang telah berakar)
diaklimatisasikan sampai bibit cukup kuat untuk ditanam di lapang. Aklimatisasi.
Dapat dilakukan di rumah kaca, rumah kasa atau pesemaian, yang kondisinya
(terutama kelembaban) dapat dikendalikan. Planlet dapat ditanam dalam dua cara.
Pertama, planlet ditanam dalam polibag diameter 10 cm yang berisi media (tanah
+ pupuk kandang) yang telah disterilkan. Planlet (dalam polibag) dipelihara di
rumah kaca atau rumah kasa. Kedua, bibit ditaruh di atas bedengan yang dinaungi
dengan plastik. Lebar pesemaian 1-1,2 m, panjangnya tergantung keadaan tempat.
Aklimatisasi cara pertama dapat dilakukan bila lokasi pertanaman letaknya jauh
dari pesemaian dan cara kedua dilakukan bila pesemaian berada di sekitar areal
pertanaman.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak
tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara
generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat
diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat
yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang
singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih
cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

A. Tahapan Kultur Jaringan Tanaman
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur
jaringan adalah:
1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
7

4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral,
vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar,
gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga
bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur
jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi
atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara
memanaskannya dengan autoklaf.
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan
dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur
jaringan adalah tunas.
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus
dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat
yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan
etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi
yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan
menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk
menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan
eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan
ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar.
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya
pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan
mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat
8

pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi
oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan
gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan
bakteri).
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan
aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu
dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari
udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat
rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu
beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan
dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan
bibit generatif.
Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai
mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa
tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara
lain adalah: jati, sengon, akasia, dll.
Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan
pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut
dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek
dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas dari
kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat menguntungkan
pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat.
B. Keuntungan pemanfaatan kultur jaringan
- Pengadaan bibit tidak tergantung musim.
- Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif
lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat
dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit).
- Bibit yang dihasilkan seragam.
9

- Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu).
- Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah.
- Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan
lingkungan lainnya.

2.1 NENAS (Ananas comosus (L.) Merr)


Nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah
yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Nenas berasal dari Brasilia (Amerika
Selatan) di kawasan lembah Sungai Parana, Paraguay. Bangsa Indian diduga
melakukan seleksi dari berbagai jenis nenas sehingga diperoleh jenis Ananas
comosus yang enak dimakan dan sekarang dibudidayakan secara luas diseluruh
dunia. Beberapa kultivar nenas berbeda dalam ukuran tanaman, ukuran buah,
warna dan rasa daging buah, serta ada atau tidaknya duri pada daun. Kultivar-
kultivar tersebut tersebar keseluruh wilayah sehingga memiliki nama yang
berbeda-beda. Buah nenas yang mempunyai arti komersial adalah Smooth
Cayenne, Queen, Spanish dan Abacaxi.
Tanaman nenas merupakan famili Bromeliaceae atau bromeliad. Famili ini
terdiri atas 45 genus dan 2000 spesies. Secara sistematis tanaman nenas
diklasifikasikan sebagai berikut :
10

- Divisio : Spermatophyta
- Sub Divisio : Angiospermae
- Class : Monocotyledoneae
- Ordo : Ferinosae (Bromeliales)
- Famili : Bromeliaceae
- Genus : Ananas
- Spesies : Ananas comosus (L.) Merr
Tanaman nenas dibedakan dari anggota genus yang lain berdasarkan tipe
buah sinkarpus (buah majemuk) yang tidak ditemukan pada anggota genus yang
lain (Collins 1968). Nenas tergolong tanaman CAM (Crassulacean Acid
Metabolism). Pada malam hari tanaman ini menggunakan enzim PEP
karboksilase dan NADPH malat dehidrase untuk membentuk asam malat, dan
mendekarboksilasi asam tersebut untuk menghasilkan CO
2
. Pada siang hari CO
2

yang dihasilkan digunakan sebagai bahan siklus Calvin untuk menghasilkan
karbohidrat.
Nenas merupakan tanaman herba yang dapat hidup dalam berbagai musim.
Tanaman ini dapat digolongkan ke dalam kelas monokotil. Bagian-bagian nenas
antara lain batang, daun, akar, bunga, buah dan mahkota buah. Batang pendek
tertutup oleh daun-daun dan akarnya. Batang berbentuk gada panjangnya kira-kira
20-30 cm, dengan diameter bagian bawah berkisar antara 2-3,5 cm, dibagian
tengah antara 5,5-6,5 cm dan dibagian atas tampak lebih kecil. Batang beruas
pendek yang terlihat bila daun-daun dilepas. Panjang ruas bervariasi antara 1-10
mm. Batang tanaman ini dikelilingi oleh daun yang tersusun spiral dengan
philotaksis 3/15 dengan posisi daun yang sejajar secara vertikal, terbentuk 3 spiral
yang terdiri dari 15 daun.
Daun nenas berbentuk memanjang dan sempit. Ujung daun memanjang
dan runcing, permukaan atas daun berwarna hijau tua, merah tua, bergaris atau
cokelat kemerahan, tergantung pada varietasnya, sedangkan permukaan bagian
bawah daun berwarna keperakan karena adanya trikoma dalam jumlah yang besar.
11

Lebar daun dapat mencapai 6 cm dan panjangnya mencapai 90 cm, tergantung
varietasnya. Daun terpanjang biasanya terletak agak sedikit ke atas bagian dari
tengah batang. Munculnya daun nenas yang baru rata-rata satu dalam satu
minggu. Selama fase pertumbuhan vegetatif, panjang daun terus meningkat
sampai mencapai maksimum sejalan dengan bertambahnya umur tanaman.
Tanaman nenas yang mempunyai pertumbuhan dan perkembangan normal akan
mempunyai daun sempurna lebih dari 35 helai pada umur 12 bulan setelah tanam.
Akar nenas bersifat serabut, dangkal dan tersebar luas. Kedalaman
perakaran pada media tumbuh yang baik tidak lebih dari 50 cm, sedangkan di
tanah biasanya jarang mencapai 30 cm. Akar tumbuh dari buku batang kemudian
masuk keruang antara batang dengan daun. Akar-akar cabang tumbuh setelah akar
adventif dapat keluar dari ruang antara batang dan daun.
Bunga terletak tegak lurus pada tangkai buah yang kemudian akan
berkembang menjadi buah majemuk. Nenas mempunyai rangkaian bunga
majemuk pada batang bagian ujungnya. Bunga bersifat hermaprodit berjumlah
100-200, masing-masing berkedudukan di ketiak daun pelindung. Jumlah bunga
membuka setiap hari berjumlah sekitar 5-10 kuntum. Pertumbuhan dimulai dari
dasar menuju bagian atas memakan waktu 10-20 hari. Waktu dari tanam sampai
berbentuk bunga sekitar 6-16 bulan. Penyerbukan pada nenas bersifat self
incompatible dengan perantara burung dan lebah.
Buah nenas merupakan buah majemuk yang terbentuk dari gabungan 100-
200 bunga. Buah terbentuk melalui proses partenokapri. Bentuk buah seperti
sebuah gada besar, bulat panjang atau bulat telur. Bekas putik bunga menjadi mata
buah nenas seperti yang dikenal selama ini. Ukuran, bentuk, rasa dan warna buah
nenas sangat beragam tergantung varietasnya. Pada umumnya suatu pohon nenas
hanya menghasilkan satu buah pada satu masa panen. Dibagian atas buah tumbuh
dan berkembang daun-daun pendek yang disebut mahkota dan terdiri lebih dari
150 helai daun kecil.
12

Tanaman nanas umumnya diperbanyak secara vegetatif (aseksual). Bagian
tanaman nanas yang digunakan untuk perbanyakan seperti tunas akar (ratoon),
tunas batang/ anakan (sucker) adalah tunas yang muncul dari bagian batang
dibawah permukaan tanah, Tunas tangkai buah (slip) adalah tunas yang muncul
dibawah dasar buah. Tunas samping (shoot) adalah tunas yang muncul dari aksilar
daun. Mahkota buah (crown) bagian tanaman yang ada diatas buah. Lamanya
waktu mulai dari tanam sampai panen bergantung pada bahan perbanyakan yang
digunakan. Apabila mahkota (crown) diperlukan waktu 18-24 bulan, tunas buah
(slip) 15-20 bulan, tunas batang (sucker) perlu waktu 14-17 bulan. Bahan tanaman
yang digunakan untuk perbanyakan in vitro ialah mahkota nanas yang telah
matang dan anakan nanas.
2.2 DUKU (Lansium domesticum Corr)









Duku (Lansium domesticum Corr) merupakan tanaman buah berupa
pohon yang berasal dari Indonesia. Sekarang populasi duku sudah tersebar secara
luas di seluruh pelosok nusantara. Selain itu ada yang menyebutkan duku berasal
dari Asia Tenggara bagian Barat, Semenanjung Thailand di sebelah Barat sampai
Kalimantan di sebelah Timur. Jenis ini masih dijumpai tumbuh liar/meliar
kembali di wilayah tersebut dan merupakan salah satu buah-buahan budidaya
utama. Duku merupakan salah satu tanaman buah tropis. Tanaman buah ini
termasuk tanaman tahunan (perenial) yang masa hidupnya dapat mencapai
puluhan bahkan ratusan tahun.
13

Klasifikasi tanaman duku :
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Meliaceae
Genus: Lansium
Spesies: Lansium domesticum Corr
Manfaat Tanaman Duku
Tanaman duku (Lansium domesticum Corr) memiliki beberapa manfaat.
Duku merupakan buah yang rasanya manis sehingga banyak digemari, dan
memiliki aroma yang khas. Selain rasa yang manis buah duku mempunyai nilai
gizi yang cukup tinggi. Pada setiap 100 gram duku masak, sekitar 64% bagiannya
dapat dimakan. Kandungan nilai gizi yang dimiliki duku adalah sebagai berikut
:
No Jenis Gizi Kandungan
1 Energi 63 kkal
2 Protein 1,0 gr
3 Lemak 0,2 gr
4 Karbohidrat 16,1 gr
5 Kalsium 18 mgr
6 Fosfor 9 mgr
14

7 Vitamin A -
8 Vitamin B1 0,05 mgr
9 Besi 0,9 mgr
10 Vitamin C 9 mgr
11 Air 82 gr
12
Bagian yang dapat
dimakan
64%


Bagian lain yang bermanfaat juga adalah adalah kayunya yang berwarna
cokelat muda, keras dan tahan lama yang dapat digunakan untuk tiang rumah,
gagang perabotan rumah tangga, dan lain sebagainya, selain itu kulitnya dapat
juga digunakan sebagai obat disentri sedangkan tepung dari kulit kayu dapat
digunakan untuk menyembuhkan luka bekas gigitan kalajengking . Kulit buah dan
bijinya juga dapat bermanfaat sebagai obat anti diare dan obat penyembuh demam
dan jika kuliatnya dibakar dapat digunakan untuk mengusir nyamuk serta bahan
campuran bahan bakar dupa (Bappenas, 2000)

Cara untuk membudidayakan tanaman duku adalah sebagai berikut :
a. Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanam
Pohon duku umumnya di tanam di pekarangan, tetapi sering pula
ditanam tumpang sari di bawah pohon kelapa (di Filipina) atau
ditumpang sarikan dengan tanaman lain seperti pohon manggis dan
durian (di Indonesia dan Thailand). Jarak tanam yang dianjurkan
sangat bervariasi dari jarak 8x8 m (kira-kira 150 pohon/ha, di
Philipina) sampai jarak 12x12 m untuk tipe longkong yang tajuknya
15

memencar di Thailand bagian selatan (50-60 pohon/hektar). Jarak
tanam ini ditentukan dengan memperhatikan adanya pohon-pohon
pendampingnya. Variasi jarak tanam yang lain adalah ukuran 7x8 m,
8x9 m, 9x9 m, 9x10 m. Namun hal yang perlu diperhatikan adalah
jarak tanam harus cukup lebar, karena jika tanamannya sudah dewasa
tajuknya membutuhkan ruangan yang cukup luas. Salah satu variasi
tersebut dapat diterapkan tergantung kondisi tanah terutama tingkat
kesuburannya. Seandainya diterapkan jarak tanam 10x10 m, berarti
untuk lahan yang luasnya satu hektar akan dapat ditanami bibit duku
sebanyak 100 pohon.

2) Pembuatan Lubang Tanam
Setelah jarak tanam ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah
pembuatan lubang tanam. Waktu yang terbaik untuk membuat lubang
tanam adalah sekitar 1-2 bulan sebelum penanaman bibit. Lubang
tanam minimal yang dibuat adalah berukuran 0,6 x 0,6 x 0,6 meter.
Namun akan lebih baik apabila ukurannya lebih besar yaitu 0,8 x 0,8 x
0,7 meter. Jika bibit duku yang akan ditanam berakar panjang (bibit
dari biji), maka lubang yang dibuat harus lebih dalam. Tetapi jika bibit
duku berakar pendek (bibit hasil cangkok), penggalian lubang
diusahakan lebih lebar dan lebih luas.

3) Cara Penanaman
Penanaman bibit duku sebaiknya menunggu sampai tanah galian
memadat atau tampak turun dari permukaan tanah sekitarnya.
Sebelum penanaman dilakukan, maka tanah pada lubang tanam digali
terlebih dahulu dengan ukuran kira-kira sebesar kantung yang dibuat
untuk membungkus bibit. Setelah itu pembungkus bibit dibuka dan
tanaman dimasukkan dlam lubang tanam. Hal yang perlu diperhatikan
16

adalah posisi akar tidak boleh terbelit sehingga nantinya tidak
mengganggu proses pertumbuhan. Pada saat penanaman bibit, kondisi
tanah harus basah/disiram dahulu. Penanaman bibit duku jangan
terlalu dangkal. Selain itu permukaan tanah yang dibawa oleh bibit
dari kantung pembungkus harus tetap terlihat. Setelah bibit tanam,
maka tanah yang ada disekitarnya dipadatkan dan disiram dengan air
secukupnya. Disekitar permukaan atas lubang tanam dapat diberi
bonggol pisang, jerami, atau rumput-rumputan kering untuk menjaga
kelembaban dan menghindari pengerasan tanah.

b. Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan Penyulaman
Kegiatan penjarangan pada dasarnya adalah untuk mengurangi
persaingan antara tanaman pokok (tanaman duku) dan tanaman lain
(tanaman pelindung). Persaingan yang terjadi adalah untuk
mendapatkan unsur hara, air, sinar matahari, dan ruang tumbuh.
Tanaman selain duku yang dijarangi sebaiknya merupakan tanaman
yang memang tidak dikehendaki dan menggangu pertumbuhan
tanaman duku. Penyulaman tanaman duku juga perlu dilakukan jika
ada tanaman duku yang mati. Tumbuhan liar atau gulma juga harus
dibersihkan secara rutin. Radius 1-2 meter dari tanaman duku harus
bersih.

2) Penyiangan
Kegiatan penyiangan diperlukan untuk menghilangkan rumput dan
herba kecil yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman duku.
Penyiangan dapat dilakukan dengan tangan maupun dengan bantuan
beberapa alat pertaniannya lainnya.

17

3) Pemupukan
Pemupukan sangat diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan hara
tanah. Meskipun tidak ada pedoman baku untuk pemupukan duku,
tetapi agar tidak membingungkan dapat menggunakan patokan
sebagai berikut:
a. Tahun kedua dan ketiga untuk setiap pohon duku bisa diberikan pupuk
15-30 kg pupuk organik, urea 100 gram, TSP 50 gram dan ZK 20
gram.
b. Tahun keempat, kelima dan keenam, dosis pupuk dinaikan
menjadi 25-40 kg pupuk organik, urea 150 gram, TSP 60 gram dan
juga pupuk ZK sebanyak 40 gram.
c. Tahun-tahun berikutnya dosis pupuk dinaikkan lagi. Namun
pemberian pupuk sebaiknya disesuaikan pula dengan tingkat
pertumbuhan tanaman duku dan kesuburan tanah. Pemupukan duku
dilakukan dengan cara menggali tanah di sekitar tanaman duku
sedalam 30-50 cm dengan lebar yang sama. Lubang pupuk tersebut
dibuat melingkar yang letaknya tepat disekeliling tajuk tanaman.

4) Pengairan dan Penyiraman
Tanaman duku hanya memerlukan pemberian air yang cukup terutama
pada musim kemarau. Selain itu juga tanaman duku sudah cukup kuat
dan kokoh maka penyiraman dilakukan seperlunya saja. Di sekitar
lubang tanam sebaiknya dibuat saluran air untuk mencegah air yang
tergenang baik yang berasal dari hujan maupun air penyiraman.

c. Media Tanam
1) Tanaman duku dapat tumbuh baik sekali pada tanah yang banyak
mengandung bahan organik, subur dan mempunyai aerasi tanah yang
baik. Sebaliknya pada tanah yang agak sarang/tanah yang banyak
18

mengandung pasir, tanaman duku tidak akan berproduksi dengan baik
apabila tidak disertai dengan pengairan yang cukup.
2) Derajat keasaman tanah (pH) yang baik untuk tanaman duku adalah
67, walaupun tanaman duku relatif lebih toleran terhadap keadaan
tanah masam.
3) Di daerah yang agak basah, tanaman duku akan tumbuh dan
berproduksi dengan baik asalkan keadaan keadaan air tanahnya
kurang dari 150 m di bawah permukaan tanah (air tanah tipe a dan tipe
b). Tetapi tanaman duku tidak menghendaki air tanah yang
menggenang karena dapat menghambat pertumbuhan dan produksi
tanaman.
4) Tanaman duku lebih menyukai tempat yang agak lereng karena
tanaman duku tidak dapat tumbuh optimal pada kondisi air yang
tergenang. Sehingga jika tempatnya agak lereng, air hujan akan terus
mengalir dan tidak membentuk suatu genangan air.

3 JAGUNG (Zea mays L.)
Klasifikasi Jagung :
- Kerajaan : Plantae
o (tidak termasuk) Monocots
o (tidak termasuk) Commelinids
19

- Ordo : Poales
- Famili : Poaceae
- Genus : Zea
- Spesies : Z. mays
- Varietas : Golden Boy


a. Syarat tumbuh jagung :
Jagung di Indonesia kebanyakan ditanam di dataran rendah baik di tegalan,
sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian terdapat juga di daerah
pegunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut. a. Tanah
Tanah yang dikehendaki adalah gembur dan subur, karena tanaman jagung
memerlukan aerasi dan drainase yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada
berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi
pertumbuhannya. Tanah-tanah berat masih dapat ditanami jagung dengan
pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam
tanah berlangsung dengan baik. Air tanah yang berlebihan dibuang melalui
saluran drainenase yang dibuat dinatar barisan jagung. Kemasaman tanah (pH)
yang terbaik untiik jagung adalah sekittir 5,5 - 7,0. Tanah dengan kemiringan
tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus
terhadap miringnya tanah, derigan maksud untuk mencegah keganasan erosi yang
terjadi pada waktu turun hujan besar, b. Iklim Faktor-faktor iklim yang terpenting
adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur,
kelembaban dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar
matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila
tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur
optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 - 27 C.




20

Teknik Budidaya
Pedoman Budidaya
Benih Benih diambil hanya dari tanaman dan tongkol yang baik dan sehat
saja. Pilihlah tongkol-tongkol yang besar, barisan biji lurus dan penuh, tertutup
rapat - oleh kelobotnya, dan cukup tua. Dari tongkol.-tongkol terpilih, pisahkanlah
biji-biji kecil yang terdapat pada bagian pangkal dan ujung dari tongkol. Hanya
biji yang rata besarnya dan sehat saja diambil sebagai benih. Bila jumlah tongkol
terpilih sangat terbatas, dapat juga digunakan semua biji yang terdapat pada
tongkol tersebut.
Benih harus cukup sehat dan kering, bertenaga tumbuh lebih dari 90%,
murni dan bebas dari kotoran. Pada dewasa ini terdapat benih-benih varitas
unggul yang cocok untuk dataran rendah dengan umur dipanen (110 hari), seperti,
Harapan, Metro, Bogor Composite-2 dan yang berumur ,genjah adalah:
Penjalinan, Genjah, Kretek, Genjah Kertas, Bogor Comopsit-10, dll dan
untuk.dataran tinggi adalah: Bastar Kuning, Bima, Pandu Kimia Putih" Rocol dan
lain-lain., Waktu tanam. Waktu tanam yang baik adalah sebagai berikut: a.
Ditegalan, jagung ditanam pada musim labuhan/ permulaan musim hujan yaitu.
pada bulan September/Nopember. Pengerjaan tanah hendaknya dilakukan jauh
sebelumnya, sehingga tanah dalam keadaan siap tanam.
Pada waktu hujan sudah mulai turun. Kelambatan penanaman jagung
labuhan sampai dengan bulan Desember mengakibatkan tanaman menderita
serangan penyakit bulai (Downy mildew) yang berat dan dapat mengakibatkan
kegagalan total. Penanaman jagung ditegalan dapat pula dilakukan, pada musim.
marengan/saat musim hujan hampir berakhir, pada bulan Februari - April. b.
Ditanah sawah biasanya jagung ditanam dalam tiga musirn yaitu pada musim
labuhan, sebelum padi musim penghujan ditanam, pada musim marengan setelah
padi musim penghujan dipanen dan juga pada musim kemarau. Untuk peneneman
musim labuhan sebaiknya digunakan varitas Genjah atau varitas unggul agak
21

dalam yang dipungut muda, sehingga tersedia cukup waktu untuk persiapan
penanaman padi sawah.
Cara bertanam dan pemeliharaan tanaman.
a. Pengolahan tanah: Pada waktu pengolahan, keadaan tanah hendaknya
tidak terlampau basah tetapi harus cukup lembab sehingga mudah
dikerjakan, dan tidak lengket, sampai tanah menjadi cukup gembur. Pada
tanah-tanah berpasir atau tanah ringan tidak banyak diperlukan pengerjaan
tanah. Pada tanah-tanah berat dengan kelebihan air, perlu dibuat saluran
penuntas air. Pembuatan saluran dan pembumbunan yang tepat dapat
menghindarkan terjadinya genangan air yang sangat merugikan bagi
pertumbuhan tanaman jagung. Pengolahan tanah untuk jagung labuhan
harus tepat dan cepat dapat dilakukan karena hujan kadangkala datang
lebih awal. Bilamana tidak sempat untuk mengerjakan tanah secara
keseluruhan karena waktu tanam mendesak, maka pengerjaan tanah dapat
dilakukan hanya pada barisan yang akan ditanami saja sedalam 15 - 20 cm
sampai tanah menjadi cukup gembur. Berdasarkan hasil penelitian pada
tanah: latosol dan aridosol cara ini memberikan hasil yang tidak berbeda
nyata dengan pengerjaan tanah yang biasa.
b. Jarak tanam Varitas yang berbeda umurnya mempunyai optimum populasi
yang berbeda. Bagi varitas yang berumur dalam ( 110 hari) seperti
Harapan Bogor, Composite populasi optimum adalah 50.000
tanaman/ha, ditanam dengan jarak 100 x 40 cm. dengan 2 tanaman per
lubang atau 75 x 25 cm dengan 1(satu) tanaman per lubang. Varitas yang
berumur tengahan (80 - 90 hari) seperti Panjalinan dan Genjah Kretek,
optimum populasi adalah t 70.000. tanaman/ha, ditanam dengan jarak
tanam 75 x 20 cm dengan 1 (satu) tanaman per lubang. Bagi vartias yang
berumur genjah (70 - 80 hari) seperti Genjah Madura, populasi dapat
ditingkatkan sampai 100.000 tanaman/ha, bahkan pada tanah yang subur
dapat mencapai 200.000 tanaman/ha, dengan jarak tanam 50 x 20 cm atau
50 x 10 cm dengan 1 (satu) tanaman per lubang;. Benih ditanam 2 -3 biji
22

per lubang, kemudian diperjarang pada umur 2 - 3 minggu setelah tanam,
di mana ditinggalkan tanaman yang tegap dan sehat saja sehingga
mencapai populasi yang diinginkan sesuai dengan jarak tanam yang
digunakan.Dalamnya penanaman adalah 3 cm.

Pemeliharaan
Pemupukan. Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal
manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat
meningkatkan hasil panen secara kwantitatif maupun kwalitatif. Pemberian pupuk
Nitrogen merupakan, kunci utama dalam usaha meningkatkan produksi.
Pemberian pupuk phosphat dan kalium bersama-sama dengan nitrogen
memberikari hasil yang lebih baik.
Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen, akan nampak kerdil, warna
daun hijau muda kekuning-kuningan, buah terbentuk sebelum waktunya dan tidak
sempurna: Gejala kekurangan unsur, phosphat. jelas terlihat terutama pada waktu
tanaman masih muda di mana daun-daunnya berwarna ungu dan akan berubah
hijau kembali seperti biasa bilamana kemudian tanaman-mendapatkan cukup,
phosphat.
Tanaman yang kekurangan kalium memberikan gambaran seolah-olah
layu, bagian tepi dari daun mula-mula menjadi kuning (chlorosis), kemudian
berubah menjadi kecoklat-coklatan dan bagian daun yang sudah mati akan gugur.
Dosis pupuk yang diperlukan berbeda-beda: tergantung dari pada tingkat
kesuburan dan jenis tanah. Untuk sementara secara umum dapat dianjurkan,
pemakaian pupuk sebanyak 90-120 kg.N, 30 - 45 kg. P2O5 dan 0-25 kg K2O per
Ha.
Pada tanah-tanah yang cukup mengandung akan kalium, pemupukan
dengan unsur ini dapat ditiadakan. Pupuk diberikan secara ditugal sedalam 10 cm,
pada kedua sisi tanaman dengan jarak 7 cm, Pada jarak tanam yang rapat pupuk
dapat diberikan di dalam larikan yang dibuat di kiri kanan barisan tanaman: Pupuk
N sebaiknya diberikan dua kali yaitu:1/3 bagian pada waktu tanam bersama-sama
23

dengan seluruh pupuk P dan K, kemudian 2/3 bagian pupuk N diberikan pada
waktu tanaman berumur 1 bulan, di dalam lubang atau larikan sedalam 10 cm
pada jarak 15 cm dari barisan tanaman. Penyiangan dan Pembumbunan:
Untuk memperoleh hasil yang tinggi, pertanaman harus bersih dari segala
macam tumbuhan/rumput pengganggu. Salah satu herbisida yang baik untuk
memberantas tumbuhan pengganggu, pada jggung, adalah Gramoxone, yang
disemprotkan pada waktu tanaman berumur 3 dan 5 minggu,masing-masing
sebanyak 11/2 liter yang dilarutkan dalam 400 - 500 liter air/ ha. Penyiangan
dengan tangan (hand weeding) yang pertama dilakukan pada umur 15 hari dan
harus, dijaga agar, jangan sampai mengganggu/merusak akar tanaman.
Penyiangan kedua dilakukan sekaligus dengan pembumbunan pada waktu
pemupukan kedua: Pembumbunan ini berguna untuk memperkokoh batang dalam
menghadapi angin besar, juga dimaksudkan untuk memperbaiki drainase dan
mempermudah pengairan bilama diperlukan

24

BAB III
BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Bioteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Riau-Pekanbaru dari bulan Maret sampai Mei.

3.2 Bahan Dan Alat
3.2.1 Alat :
- Timbangan analitik - botol kultur
- Digital biasa - pipet tetes
- Gelas ukur - batang pengaduk
- Erlemeyer - magnetic stirrer
- Petridish - pH meter
- Tabung reaksi - oven
- Autoclave - laminar air flow cabinet
- Rak inkubasi - dissecting kit
- Shaker - tissu
- Aluminium foil - lampu bunsen

3.2.2 Bahan :
- Hara makro - Hara mikro
1. NH4NO3 1. FeSO4.7H2O 6. KI
2. KNO3 2. NaEDTA 7.
CoCl2.6H2O
3. CaCl32HO 3. Mn2SO4H2O 8.
CuSo4.5H2O
4. MgSO47H2O 4. ZnSO.7H2O 9.
Na2MoO4.2H2O
5. KH2PO2 5. H3BO3
25


- Vitamin
1. Myo-inositol
2. Thiamin-Hcl
3. Asam nikotinat
4. Pyridoxine-Hcl

- Larutan stok - larutan klorok
- Sukrosa - alkohol
- Agar - aquadest
- KOH
- HCL

3.3 Pelaksanaan
3.3.1 Pengenalan alat

3.3.2 Pembuatan larutan stok medium MS dan WPM
1. Siapkan semua bahan kimia yang diperlukan untuk membuat
media.
2. Siapkan wadah larutan stok (erlemeyer) sebanyak jenis atau
macam larutan stok. Timbang bahan kimia yang telah ditentukan
sesuai dengan kebutuhan.

3.3.3 Pembuatan media MS dan WPM.
1. Siapkan beaker glass volume 1000ml dan di isi dengan aquadest
sebanyak 500ml.
2. Ambil masing masing larutan stok sesuai dengan kebutuhan atau
sesuai dengan jumlah yang dipipet dan tuangkan kedalam beaker
glass yang telah disiapkan yang telah berisi 500ml aquadest tadi.
26

3. Tambahkan aquadest sampai 900ml, kemudian lakukan
pengukuran pH larutan . kisaran pH 5,7-5,8 , jika pH >5,8 tambah
HCl dan jika pH < 5,7 tambah KOH sedikit demi sedikit.
Kemudian tambahkan 20 gram sukrosa dan 8 gram agar, cukupkan
volume larutan menjadi 1000ml dengan menambahkan aquadest.
4. Panaskan media sampai larut bening.
5. Media dimasukkan kedalam botol kultur 20ml, tutup dengan
aluminium foil.
Beri label kemudian disterilkan kedalam autoclove pada suhu
120C tekanan 15psi selmat 10menit.

3.3.4 Inokulasi tanaman succulent
1. Tetntukan bagian tanaman yang akan dijadikan eksplan. Rendam
jaringan yang akan digunakan dengan larutan fungisida (2g/l)
selama 15 menit. Selah itu dibilas sampai bersih.
2. Jaringan tanaman di atas dimasukkan ke dalam wadah yang telah
disterilkan dan ditutup dengan al.foil, kemudian eksplan dibawa
keruang inokulasi.
3. Jaringan yang akan ditanam, media tanam, petridish, beaker
glass,larutan klorok 10%,5%, dan 1%, scalpel, pinset, lampu
Bunsen, aquadest steril, ascorbic acid 1% dan alcohol 96%.
Ditempat kan dalam laminar air flow cabinet. Nyalakan lampu UV
selama 30menit.
4. Sebelum penanaman tangan praktikan disemprot dengan alcohol
70%.
5. Masukkan eksplan yang telah disiapkan kedalam larutan klorok
10%sambil digojog selama 10menit, setelah itu eksplan
dipindahkan kedalam larutan klorok 5% dan direndam selama
5menit sambil digojog. Kemudian eksplan dipindahkan ke
petridish dan dipotong dengan ukuran 1cm, lalu eksplan
disterilisasi ke dalam larutan klorok 1% selama 1menit sambil
27

digojog dan terakhir eksplan dibilas dengan aquadest steril
sebnayak 3kali dan eksplan siap untuk ditanam kemedia tanam.
6. Buka al.foil penutup media, kemudian tanam eksplan ke media.
Pelaksannan ini dilakukkan dekat nyala lampu Bunsen. Pinset yang
akan digunakan disterilkan dengan mencelupkan kedalam alcohol
96%, lalu dibakar di atas nyala Bunsen. Setelah eksplan selesai di
inokulasi, tutup kembali media tanam dengan al.foil dan beri label
tanggal penanaman. Selanjutnya tempatkan media yang telah di
inokulasi pada rak kultur diruang inkubasi.

3.3.5 Inokulasi tanaman berkayu
1. Tentukan bagian tanaman yang akan dijadikan eksplan (meristem
pucuk,tunas atau akar atau biji).
2. Ambil bagian tersebut sepanjang 4cm dan masukkan kedalam
wadah yang telah disterilakan, kemudian eksplan dibawa ke
laminar air flow cabinet.
3. media tanam, petridish, beaker glass,larutan klorok 10%,5%, dan
1%, scalpel, pinset, lampu Bunsen, aquadest steril, ascorbic acid
1% dan alcohol 70%. Ditempat kan dalam laminar air flow cabinet.
Nyalakan lampu UV selama 30menit.
4. Sebelum penanaman tangan praktikan disemprot dengan alcohol
70%.
5. Masukkan eksplan yang telah disiapkan kedalam larutan klorok
10%sambil digojog selama 10menit dan dibilas dengan aquades
steril sebnayak 3kali, setelah itu eksplan dipindahkan ke petridish
dan dipotong dengan ukuran 1cm, lalu eksplan disterilisasi ke
dalam larutan klorok 5% selama 5menit sambil digojog dan
terakhir eksplan dibilas dengan aquadest steril sebnayak 3kali.
Terakhir eksplan disterilisasi dengan larutan klorok 1% 1menit
sambil digojog, setelah itu dibilas dengan aquades steril sebnayak
3kali.
28

6. Buka al.foil penutup media, kemudian tanam eksplan ke media.
Pelaksannan ini dilakukkan dekat nyala lampu Bunsen. Pinset yang
akan digunakan disterilkan dengan mencelupkan kedalam alcohol
96%, lalu dibakar di atas nyala Bunsen. Setelah eksplan selesai di
inokulasi, tutup kembali media tanam dengan al.foil dan beri label
tanggal penanaman. Selanjutnya tempatkan media yang telah di
inokulasi pada rak kultur diruang inkubasi.

3.3.6 Subkultur
1. Semua peralatan diseksi steril, botol berisi media tanam, botol
yang berisi eksplan atau plantlet yang akan disubkultur, Petridis
steril, Bunsen, diletakkan di Laminar Air Flow Cabinet (LAFC),
setelah itu lampu UV dinyalakan selama 30 menit.
2. Setelah itu lampu UV dimatikan, blower dan lampu LAFC
dinyalakan dan pelaksanaan subkultur dapat bias dilakukan.
3. Eksplan atau plantlet yang akan disubkultur dikeluarkan dari botol
dan diletakkan didalam petridish.
4. Selanjutnya eksplan dibersihkan dari media yang melekat dengan
menggunakan pinset.
5. Botol yang berisi media baru dibuka tutup al. foilnya, lalu eksplan
atau plantlet ditanam kemedia tersebut dengan menggunakan
pinset.
6. Setelah itu botol kultur yang telah ditanam eksplan atau plantlet
tersebut ditutup kembali dengan al. foil selanjutnya diberi label
yang berisikan informasi tanggal pemindahan, media dan lain-lain
7. Media baru yang telah ditanam eksplan tersebut dikeluarkan dari
LAFC dan dipindahkan keruang inkubasi

29

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Nenas
Hasil Pengamatan Kultur Tunas Nenas
Tanaman
Sampel
Keberhasilan Kontaminasi
Sumber
Kontaminan
Hidup Mati Jamur Bakteri Media Eksplan
1 - v V V v v
2 - v V - v v
3 - v V - - v
4 - v V V v v

Persentase Keberhasilan



4.2 Duku
Hasil Pengukuran Kultur Duku
Tanaman
Sampel
Panjang Akar Plumul Jumlah Akar
1 0.7 cm 3.5 cm 1
2 0.7 cm 1.2cm 1
3 - - -
4 - - -


30

4.3 Jagung
Hasil Pengukuran Kultur Embrio Jagung
Tanama
n
Sampel
Jumlah
Akar
Warna Kontaminasi Kalus
Kunin
g
Coklat
Y
a
Tidak Ya
Tida
k
1 - V - V - - v
2 - V - V - - v
3 - - v - v - v
4 - - v - v - v


















31

Pembahasan :

Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari
tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta
menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali. Tujuan
dari Kultur jaringan diantaranya menciptakan tanaman baru bebas penyakit,
memperbanyak tanaman yang sukar diperbanyak secara seksual, dan
menghasilkan tanaman baru sepanjang tahun.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak
tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara
generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa
keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat
diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat
yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang
singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih
cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.
Untuk mendapakan kultur yang bebas dari kontaminasi, eksplan harus
disterilisasi. Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan
mikroorganisme yang menempel di permukaan eksplan. beberapa bahan kimia
yang dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan eksplan adalah NaOCl,
CaOCl2, etanol, dan HgCl2.
Pada percobaan kali ini, kami mencoba untuk melakukan percobaan
tentang penumbuhan media pada sediaan agar. Dalam pembuatan media dalam
kultur jaringan dibutuhkan bahan kimia yang banyak jenisnya dan pemakaiannya
dalam jumlah yang sangat sedikit. Untuk penghematan bahan kimia, efisiensi
tenaga dan waktu perlu dibuat larutan stok.
Untuk pembuatan larutan stok dengan media MS, kelompok 2
mendapatkan bahan kimia berupa KNO
3
kepekatan 2 kali, dan Volume Larutan
Stok 50 ml/I media. Dengan perhitungan sebagai berikut :
32

Kebutuhan Bahan Kimia = ( Kebutuhan Bahan Kimia/I media ) x (
Kepekatan )
= 1.9 mg x 2
= 3.8 mg
Timbang KNO
3
sebanyak 3.8 mg dengan menggunakan timbangan digital
biasa.
Setelah larutan stok dibuat, selanjutnya adalah pembuatan media MS.
Media MS (Murashige and Skoog) adalah media yang mengandung unsure hara
makro, mikro dan vitamin. Media ini umum digunakan dalam perbanyakan
tanaman secara in vitro, karena hampir semua tanaman dapat tumbuh dan
berkembang pada medium ini.
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang
akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral,
vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar,
gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga
bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur
jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi
atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara
memanaskannya dengan autoclave. Tahapan pembuatan media kultur:
- Persiapan bahan
- Formulasi
- Pengukuran pH (5,7-5,8)
- Pemberian agar-agar dan pemanasan media
- Penuangan dan penutupan media -> sterilisasi
Kandungan nutrisi dalam agar-agar :
1. Mineral :
o Makro nutrient (N, P, K, Ca, Mg)
33

o Mikro nutrient (Mn, Zn, Mo, Cu, Co)
2. Karbohidrat (gula)
3. Vitamin (B dan C)
4. Protein
5. Hormone
Setalah membuat media MS, selanjutnya melakukan inokulasi tanaman
succulent. Inolulasi adalah kegiatan penanaman eksplan di laboratorium. Pada
kegiatan ini, penanaman sterilisasi bahan, alat, ruangan dan praktikan sangat perlu
diperhatikan agar kegiatan ini berhasil. Media yang umum digunakan adalah
media MS.
Proses penanaman dilakukan di Laminar Air Flow Cabinet dengan
menggunakan alat-alat yang steril. Syarat eksplan yang baik adalah :
- Berasal dari induk yang sehat dan subur
- Berasal dari induk yang diketahui jenisnya
- Tempat tumbuh pada lingkungan yang baik
- Ukuran tunas optimal sekitar 5 cm tingginya
- Tunas langsung diproses sesegera mungkin
Proses untuk inokulasi tanaman berkayu sama halnya dengan proses
inokulasi tanaman succulent. Setelah proses inokulasi selesai, eksplan diletakan di
rak inkubasi selama beberapa hari. Setelah di inokulasi selama beberapa hari,
ternyata semua eksplan terkontaminasi dengan bakteri dan jamur, hal ini
dikarenakan :
1. Kontaminasi
Kontaminasi adalah gangguan yang sangat umum terjadi dalam kegiatan
kultur jaringan. Munculnya gangguan ini bila dipahami secara mendasar adalah
merupakan sesuatu yang sangat wajar sebagai konsekuensi penggunaan yang
diperkaya. Fenomena kontaminasi sangat beragam, keragaman tersebut dapat
dilihat dari jenis kontaminasinya (bakteri, jamur, virus, dll).
34

2. Pencoklatan/browning
Pencoklatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam
yang sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan.
Peristiwa pencoklatan sesunggguhnya merupakan peristiwa alamiah yang biasa
yang sering terjadi. Pencoklatan umumnya merupakan suatu tanda-tanda
kemunduran fisiologi eksplan dan tidak jarang berakhir pada kematian eksplan.
Kesesuaian bagian tanaman untuk dijadikan eksplan, dipengaruhi oleh
banyak faktor. Tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat pun, belum
tentu menunjukkan respon in-vitro yang sama Penggunaan eksplan yang tepat
merupakan hal penting yang juga harus diperhatikan pada tahap ini. Umur
fisiologis dan ontogenetik tanaman induk, serta ukuran eksplan bagian tanaman
yang digunakan sebagai eksplan, merupakan faktor penting dalam tahap ini. Bagi
kebanyakan tanaman, eksplan yang sering digunakan adalah tunas pucuk (tunas
apikal) atau mata tunas lateral pada potongan batang berbuku. Namun belakangan
ini, eksplan potongan daun yang dulunya hanya digunakan untuk tanaman-
tanaman herba, seperti violces, begonia, petunia dan tomat, ternyata dapat
digunakan juga untuk tanaman-tanaman berkayu seperti Ficus lyrata, Annona
squamosa, dan melinjo. Eksplan yang dapat digunakan untuk memperbanyak
tanaman Anthurium sendiri diantaranya adalah tunas pucuk, daun, tangkai daun
muda, tangkai bunga, spate, spandik, biji, ruas batang dan anther.
Umur fisiologis dan umur ontogenetik jaringan tanaman yang dijadikan
eksplan juga berpengaruh terhadap potensi morfogenetiknya. Umumnya, eksplan
yang berasal dari tanaman juvenile mempunyai daya regenerasi tinggi untuk
membentuk tunas lebih cepat dibandingakan dengan eksplan yang berasal dari
tanaman yang sudah dewasa. Masalah yang sering dihadapi pada kultur tahap ini
adalah terjadinya pencokelatan atau penghitaman bagian eksplan (browning).
Hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang timbul akibat stress mekanik
yang timbul akibat pelukaan pada waktu proses isolasi eksplan dari tanaman
35

induk. Senyawa fenol tersebut bersifat toksik, menghambat pertumbuhan atau
bahkan dapat mematikan jaringan eksplan.




























36


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan







5.2 Saran

















37

DAFTAR PUSTAKA

























LAMPIRAN

38







39







40