Anda di halaman 1dari 157

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat

GayaGempa, 2009.


Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan
Yang Menggunakan Yielding Damper
Akibat GayaGempa

Tugas Akhir


Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi
Syarat untuk menempuh ujian sarjana Teknik Sipil



Disusun oleh:


HELMY ISKANDARSYAH
04 0404 046






















SUB JURUSAN STRUKTUR
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


ABSTRAK
Kerusakan bangunan akibat gempa secara konvensional dapat dicegah
dengan memperkuat struktur bangunan terhadap gaya gempa yang bekerja padanya.
Namun, hasil ini sering tidak memuaskan karena kerusakan elemen baik struktural
maupun nonstruktural umumnya disebabkan adanya perbedaan simpangan antar
tingkat (interstory drift). Untuk memperkecil interstory drift dapat dilakukan dengan
memperkaku bangunan dalam arah lateral. Tetapi , hal ini akan memperbesar gaya
gempa yang bekerja pada bangunan. Metode yang lebih baik adalah dengan
meredam energi gempa sampai pada tingkat yang tidak membahayakan bangunan.
Sejalan dengan perkembangan teknologi bahan/sistem untuk anti gempa, telah
ditemukan bahan anti seismik (seismic device) yang disebut juga dengan Damper
dalam hal ini yaitu Yielding Damper. Metode perencanaan struktur tahan gempa
dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode konvensional yang mengutamakan bentuk-
bentuk struktur yang kaku dan daktailitas yang yang tinggi metode teknologi dengan
menambahkan alat-alat seismic devices ke struktur.
Yielding damper / metallic yielding damper bekerja dengan mendissipasi
energi melalui pelelehan bahan damper yaitu adalah pelat lentur, yaitu jenis damper
dengan dissipasi energi melalui lenturaan pelat. Hubungan gaya dan displacement
pelat damper. Pada tugas akhir ini akan digunakan metode respon spektrum dengan
bantuan perhitungan program SAP 2000 versi 11. Pada analisa ini akan diperoleh
nilai perioda getar struktur, displacement, momen, gaya lintang, dan gaya normal.
Dimana struktur yang digunakan adalah struktur baja profil WF. Struktur yang
dianalisa adalah struktur konvensional, dengan menggunaka bracing dan yielding
damper. Dimana, struktur dengan menggunakan yielding damper ini dapat
memperkecil periode getar struktur bangunan dibandingkan kedua struktur lainnya.
Sehingga simpangan antar struktur akan menjadi lebih kecil dan struktur akan lebih
aman.
Perbandingan periode getar, gaya gaya yang bekerja (momen, gaya lintang
(geser), gaya normal dan simpangan pada struktur dengan menggunakan yielding
damper yang didapatkan dari hasil analisa akan akan memperoleh maksimal 38.02 %
atau sampai 40% lebih kecil bila dibandingkan dengan struktur konvensional dan
struktur dengan menggunakan bracing.














Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya hingga selesainya Tugas Akhir ini dengan judul Analisa
Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper
Akibat Gaya Gempa
Tugas Akhir ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu syarat yang harus
dipenuhi dalam Ujian Sarjana Teknik Sipil Bidang Studi Struktur pada Departemen
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (USU). Penulis menyadari
bahwa Tugas Akhir ini yang masih banyak kekurangan. Hal ini disebabkan
keterbatasan pengetahuan dan kurangnya pemahaman penulis. Dengan tangan
terbuka dan hati yang tulus penulis menerima saran dan kritik bapak dan ibu dosen
serta rekan mahasiswa demi penyempurnaan Tugas Akhir ini.
Penulis juga menyadari bahwa selesainya Tugas Akhir ini tidak lepas dari
bimbingan, dukungan dan bantuan semua pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dan tidak terhingga kepada
kedua orang tua yang selalu penulis muliakan yang telah memberikan segalanya
hingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada :
1. Bapak Prof. DR. Ing. Johannes Tarigan, selaku Ketua Departemen Teknik Sipil
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak IR.Teruna J aya, M.Sc., selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Ir. Daniel Rumbi Teruna, MT dan Bapak Ir. Robert Panjaitan selaku
pembimbing dan Co- pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


dan pikiran dalam memberikan bimbingan yang tiada hentinya kepada penulis
dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.
4. Bapak/Ibu Dosen Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara.
5. Kedua orang tua penulis tersayang yang tak pernah lelah berdoa, memberikan
segala yang terbaik dan kasih sayang yang tak berkesudahan, serta seluruh
saudara-saudara saya semuanya.
6. Rekan rekan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, terutama teman teman
Angkatan 2004,. Adik- adik angkatan 2005, 2006, 2007, dan Abang / kakak
stambuk 2003, 2002, 2001, 2000, terima kasih atas masukan nya selama ini.





Medan, 2009


HELMY ISKANDARSYAH
040404046












Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. ...................................................................... i
ABSTRAK .. ..................................................................... iv
DAFTAR ISI ...................................... .......................................................... v
DAFTAR NOTASI .. .................................................... xvi
BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................. 1
1.1. Latar Belakang.. ............................................ 1
1.2. Permasalahan ............................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan .......................................................... 5
1.4. Pembatasan Masalah .................................................... 5
1.5. Metode Pembahasan .................................................... 6
BAB 2. TEORI DASAR ........................................................................ 7
2.1. Umum .. ............................................. 7
2.2. Karakteristik Struktur Bangunan .................................. 13
2.2.1 Massa ................................................................. 13
2.2.1 Model Lumped Mass ................................ 13
2.2.1 Model Consistent Mass Matrix .................. 14

2.2.2 Kekakuan ............................................................ 15
2.2.3 Redaman ............................................................. 15
2.3. Simpangan Drift Akibat Gaya Gempa .......................... 16
2.4. Derajat Kebebasan (Degree Of Freedom, DOF...............17
2.4.1 Persamaan Differensial pada struktur SDOF ...... 18
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


2.4.2 Pers. Diferensial SDOF akibat base motion .......... 19
2.4.3 Pers. Diferensial Struktur MDOF ..21
2.4.3.1 Matriks Massa, Matriks Kekakuan dan Matriks
Redaman....21
2.4.3.2 Matriks Redaman..24
2.4.3.3 Non Klasikal / Non Proporsional
Damping... 25
2.4.3.4 Klasikal / Proporsional Damping. 26
2.4.4 Getaran Bebas Pada Struktur MDOF 28
2.4.4.1 Nilai Karakteristik (Eigenproblem)... 28
2.4.4.2 Frekuensi Sudut () dan Normal Modes30
2.4.5 Getaran Bebas Pada Struktur MDOF................ 32
2.4.5.1 Persamaan Difrensial Independen
( Uncoupling).32
2.4.5.2 Getaran Bebas Tanpa Redaman..37
2.4.5.3 Getaran Bebas Dengan Redaman...40
2.4.5.4 Persamaan Difrensial Dependen
( Coupling).42
2.4.5.5 Penyelesaian Persamaan Difrensial
Gerakan..43
2.4.5.6 Metode - Newmark...43
2.4.6 Persamaan Difrensial Struktur MDOF Akibat Base
Motion 46
2.5. Respon Spektrum ......................................................... 48
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


2.5.1 Modal amplitude Zj dan modal displacement uj.51
2.5.2 Modal Seismic Force Fj ....................................... 54
2.5.3 Modal story Shear Vij .......................................... 56
2.5.4 Modal story Drift, i ............................................. 57
2.5.5 Modal Lateral Displacement ................................. 57
2.5.6 Modal Overtuning Moment ................................. 57
2.5.7 Modal Base Shear Vi ........................................... 58
2.5.8 Modal Effective Weight ....................................... 58
BAB 3. Analisa Metallic Yielding Damper Pada Bangunan...................60
3.1. Umum. ............................ 60
3.2. Konsep perencanaan struktur tahan gempa..61
3.3. Peran Damper Terhadap Getaran..63
3.4 Metallic Yielding Damper ....................................64
3.5. Kekakuan Dan Daktailitas Pelat Damper ...................68
3.5.1 Daktailitas Bahan Pelat.........................69
3.5.2 Pengaruh Bentuk Pelat.........................................71
3.6 Model Analisa Damper Terhadap Suatu Bangunan 78
3.7 Pengaruh Damping Terhadap Response Spektrum
Gempa84
3.8 Aplikasi Yielding Damper Pada Bangunan...86
BAB 4. APLIKASI............................. ..................................................... ..88
4.1. Pendahuluan. ........................................................... ..88
4.2. Pengerjaan Model Struktur. ..................................... ..89
4.2.1. Pemodelan Struktur89
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.2.2. Pembebanan Pada Struktur90
4.3. Prosedur Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Dengan
MetallicYielding Damper......................................................95
4.4. Prosedur Analisa SAP 2000 Versi 11..97
4.5 Analisa Data Struktur Bangunan...105
4.5.1. Analisa Struktur Bangunan Biasa (Konvensional)..105
4.5.2. Analisa Struktur Bangunan Dengan
Menggunakan Bracing..107
4.5.3. Analisa Struktur Bangunan Dengan Damper.109
4.6. Hasil Analisa Momen , Gaya Lintang , Dan Gaya Normal112
4.6.1. Hasil Analisa Pada Struktur Biasa Pada Balok112
4.6.2. Hasil Analisa Pada Struktur Dengan
Menggunakan Bracing Pada Balok...114
4.6.3. Hasil Analisa Pada Struktur Dengan
Menggunakan Damper Pada Balok115
4.6.4. Hasil Analisa Pada Struktur Biasa Pada Kolom......117
4.6.5. Hasil Analisa Pada Struktur Dengan.
Menggunakan Bracing Pada Kolom..118
4.6.6. Hasil Analisa Pada Struktur Dengan
Menggunakan Damper Pada Kolom...............120
4.7. Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Struktur Biasa Dengan
Struktur Dengan Menggunakan Yielding Damper..121
4.7.1.Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Pada
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Balok Struktur Biasa Dengan Struktur
Dengan Menggunakan Yielding Damper121
4.7.2.Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Pada Kolom
Struktur Biasa Dengan Struktur Dengan Struktur
Menggunakan Yielding Damper.....122
4.8. Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Struktur Menggunakan
Bracing Dengan Struktur Dengan StrukturYang Menggunakan
Yielding Damper123
4.8.1. Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Pada Balok ..123
4.8.2 .Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Pada Kolom..124
4.9. Kinerja Batas Layan Pada Struktur Bangunan Dengan Atau
pun Tanpa Menggunakan Metallic Yielding Damper125
4.9.1. Kinerja Batas Layan Untuk Struktur Bangunan
Biasa (Konvensional).125
4.9.2. Kinerja Batas Layan Untuk Struktur Bangunan
Dengan Menggunakan Bracing127..
4.9.3. Kinerja Batas Layan Untuk Bangunan
Yang Menggunakan Yielding Damper..128

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................. ...133
5.1. Kesimpulan ..............................................................................133.
5.2. Saran .................................................................. ...135

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



DAFTAR NOTASI
b lebar pelat damper
h tinggi pelat damper
c
cr
damping kritis ( critical damping gaya lateral pelat )
g gravitasi sebesar 980 cm/detik2
c
d
konstanta damping dari damper
m Massa
k Kekakuan
k1 kekakuan awal ( jumlah kekakuan struktur dan kekakuan
damper)
k2 kekakuan struktur
k
d
kekakuan damper
k
dp
kekakuan damper pelat
k
p
kekakuan pelat
k
pe
kekakuan pelat keadaan elastic
k
pp
kekakuan pelat keadaan plastis
f
p
gaya lateral pelat
u Simpangan
u
p
deformasi pelat
u
py
deformasi pelat keadaan permulaan leleh
u
m
simpangan maksimum keadaan leleh
u
e
simpangan maksimum keadaan elastic
u
y
simpangan permulaan leleh
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


u(t) simpangan pada waktu t
u(0) simpangan pada waktu t =0
v(0) kecepatan awal pada waktu t =0
E modulus elastika bahan pelat
Ed dissipasi energi getaran akibat damping
E
hys
dissipasi energi dari pelelehan bahan struktur
F gaya dalam struktur
F
d
gaya damping
I momen inersia pelat
t tebal pelat damper
M
p
momen pelat diujung atau di tumpuan
M
py
momen pelat saat serat paling ujung mulai meleleh
M
pp
momen plastis pelat
H tinggi bangunan
SDOF Single Degree Of Freedom
Sa percepatan spectral response gempa
Sa
5
percepatan spectral response gempa zone 5 SNI
Sv

kecepatan spectral response gempa
Sv
5
kecepatan spectral response gempa zone 5 SNI
S
d
simpangan spectral response gempa
S
d5
simpangan spectral response spektrum gempa zone 5
T waktu getar
T
1
waktu getar awal struktur dengan damping
T
e
waktu getar model pengganti equivalent
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.

d
perbandingan kekakuan damper dengan kekakuan struktur
) (
factor damping

daktilitas bahan pelat

tegangan pelat

y
tegangan leleh bahan pelat

persen damping
, ,
u Percepatan getaran
, ,
u g Percepatan gerakan tanah
,
u kecepatan getaran



























Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Gempa bumi merupakan suatu gerakan tiba tiba dari tanah yang berasal dari
gelombang pada suatu tempat dan menyebar dari daerah tersebut ke segala arah.
Gempa bumi dalam hubungannya dengan suatu wilayah berkaitan dengan gerakan
muka bumi dan pengaruhnya terhadap daerah yang bersangkutan. Masing masing
daerah mempunyai prilaku yang berbeda terhadap gempa, karena tiap daerah
mempunyai bentuk maupun jenis wilayah yang berbeda.
Pada perencanaan bangunan, parameter gempa bumi yang langsung
mempengaruhi perencanaan adalah percepatan tanah yang ditimbulkan gelombang
seismic yang bekerja pada massa bangunan. Kedalaman pusat gempa bumi, jarak
episenter ke daerah yang dituju, sistem pondasi, massa dan geometri bangunan dan
lain sebagainya.
Seperti yang dijelaskan tadi pengaruh gempa juga tergantung daerah/wilayah
yang mengalami gempa. Untuk wilayah Indonesia dibagi dalam 6 (enam) wilayah
gempa dengan masing-masing tingkat kerawanan terjadinya gempa dan wilayah
Indonesia merupakan wilayah yang sering dilanda gempa karena terletak pada 4
(empat) lempeng tektonik yaitu lempeng Australia-India, lempeng Euro-Asia,
lempeng Pasifik dan Philipine. Gempa bumi tidak mungkin di cegah dan sulit sekali
di ramalkan kapan terjadi, dimana lokasinya dan berapa magnitudenya. Jadi yang
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


harus dilakukan adalah bagaimana mengatasi atau memperkecil pengaruh kerusakan
yang ditimbulkan oleh gempa bumi pada suatu struktur bangunan.
Kerusakan bangunan akibat gempa secara konvensional dapat dicegah dengan
memperkuat struktur bangunan terhadap gaya gempa yang bekerja padanya. Namun,
hasil ini sering tidak memuaskan karena kerusakan elemen baik struktural maupun
nonstruktural umumnya disebabkan adanya interstory drift (perbedaan simpangan
antar tingkat). Untuk memperkecil interstory drift dapat dilakukan dengan
memperkaku bangunan dalam arah lateral. tetapi , hal ini akan memperbesar gaya
gempa yang bekerja pada bangunan. Metode yang lebih baik adalah dengan
meredam energi gempa sampai pada tingkat yang tidak membahayakan bangunan.
Sejalan dengan perkembangan teknologi bahan/sistem untuk anti gempa, telah
ditemukan bahan anti seismik yang disebut juga dengan Damper dalam hal ini yaitu
Yielding Damper.

1.2 Permasalahan
Yielding damper ini dipasang pada struktur bangunan baja, karena alat ini
diletakkan antara balok suatu struktur dan struktur pengaku (Braced Frame).
Yielding damper adalah suatu sistem unik yang mengkombinasikan regangan dan
kekakuan rangka (kekakuan baja) dengan karakteristik momen.Yielding Damper
bekerja pada daerah yang mengalami leleh pada struktur rangka pengaku, baik pada
pengakunya ataupun pada link pada struktur rangka pengaku. Anti seismik yielding
damper ini erat kaitannya dengan rangka pengaku karena alat ini diletakkan di atas
pada eksentrisitas brace frame (link) maupun pada pengakunya. Karena elemen
inilah yang menerima gaya lateral yang paling besar dari struktur. Sehingga elemen
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


ini harus mendapat perhatian yang lebih khusus, dalam hal perencanaannya. Oleh
sebab itu, untuk daerah tersebut perlu disiasati agar tidak terjadi deformasi yang
terlalu besar atau melebihi kapasitas terhadap gaya gempa.
Yielding Damper ini dapat berupa Added Damping and Stiffness Damper
(ADAS Damper) dan Reinforced Buckling Restrained Brace Damper (RBRB
Damper) yang memiliki system yang memberikan kekakuan untuk mereduksi respon
akibat gempa dari perpindahan lateral, bahaya tingkat, dan torsi dari struktur
bangunan selama gempa terjadi. Damper ini juga menghamburkan kapasitas energi
maksimum saat puncak energi akibat gaya gempa pada struktur. Yielding damper
sudah dapat digunakan pada suatu struktur dengan struktur pengaku seperti yang
telah dijelaskan di atas. Damper ini terdiri dari bahan campuran baja murni sesuai
dengan peraturan building code di Taiwan. Metalic Yielding Damper adalah Sistem
alat anti gempa atau Seismic device.Seismic devices bekerja dengan merubah
kekakuan, damping dan menambah massa ke struktur. Yielding damper disebut juga
hysterestic-yield damper bekerja dengan mendissipasi energi melalui pembentukan
sendi plastis atau pelelehan bahan damper, Yielding damper yang dibahas dalam
tugas akhir ini adalah damper pelat dengan kekakuan bi-linier , yaitu jenis damper
dengan dissipasi energi melalui pelelehan lenturan pelat.
Untuk yielding damper yang diletakkan pada struktur pengaku baik pada link
ataupun pada struktur pengaku, karena bila terjadi gaya yang sangat besar pada
struktur, maka yang akan mengalami deformasi hanya elemen linknya saja dan
bagian leleh pada struktur pengaku. Maka yielding damper ini efektif digunakan
untuk gaya gempa yang melebihi kapasitas bangunan hanya dengan struktur pengaku
tanpa damper.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Damper atau disebut sistem anti seismic, merupakan suatu system yang kuat
untuk perencanaan bangunan. Sebaiknya bangunan yang mempunyai kapasitas
tahanan terbatas terhadap gempa bumi setelah menggunakan struktur pengaku
merupakan bangunan yang semestinya menggunakan damper.
Selama gempa terjadi damper ini meredam energi gempa dengan daktilitas
pada pelat baja dan mereduksi deflection yang berlebihan. Di Taiwan banyak
bangunan menggunakan yielding damper yang mengalami gempa dengan kekuatan
rata-rata 6.5 SR dan damper ini menunjukkan kerja yang baik selama gempa terjadi
tanpa ada kerusakan berarti. Pemasangan, perawatan, dan pengamatan terhadap
damper ini termasuk mudah.
Dalam perencanaan bangunan, beban akibat gempa sangat diperhitungkan
dalam analisanya sehingga walaupun bangunan tersebut terkena gempa tidak
langsung rubuh melainkan timbul keretakan yang akan memperkecil korban jiwa.
Pada analisa beban gempa sangat tergantung kepada struktur dari bangunan tersebut
dimana bentuk dari denah dan ketinggian bangunan tersebut adalah factor utama
dalam memperhitungkan gaya akibat dan guncangan gempa tersebut. Oleh sebab itu,
bila telah direncanakan bangunan dengan struktur pengaku masih tidak aman maka
solusi yang dianjurkan adalah dengan yielding damper untuk mereduksi gaya gempa
dan deformasi yang bias mengakibatkan kerusakan pada struktur yang menyebabkan
bangunan rubuh.
Untuk itu analisa yang dipakai dalam menganalisis struktur bangunan tersebut
adalah Analisa Respon Spektrum yang akan memperhitungkan pengaruh torsi,
momen dan perpindahan pusat massa dari pusat kekakuan. Analisis respon spectrum
adalah analisa yang akan memberikan suatu diagram yang akan memberikan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


hubungan antara percepatan respon maksimum suatu system satu derajat kebebasan
(SDK) akibat suatu masukan gempa tertentu sebagai fungsi dari faktor redaman C
dan waktu getar alami T sistem tersebut. Perhitungan gaya gempa yang
menggunakan ragam respon spectrum bahwa gempa rencana akan dikalikan dngan
faktor koreksi gempa I/R, dimana I adalah factor reduksi gempa representative dari
struktur gempa yang direncanakan. Dalam hal ini, jumlah ragam vibrasi yang ditinjau
dalam penjumlahan respon ragam menurut metode ini sedemikian rupa.

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari tugas akhir ini adalah:
1. Menghitung respon struktur bangunan dimana struktur yang dianalisa adalah
struktur biasa (konvensional), struktur dengan bracing, dan struktur dengan
menggunakan damper dalam hal ini adalah Yielding Damper.
2. Menghitung momen, gaya lintang, gaya normal, displacement atau
perpindahan antar lantai akibat gaya gempa pada bangunan tersebut
3. Untuk mengetahui efektifitas damper pada struktur bangunan dengan
membandingkan struktur biasa (konvensional), struktur dengan bracing, dan
struktur dengan menggunakan damper dalam hal ini adalah Yielding Damper.

1.4 Pembatasan Masalah
Yang menjadi batasan masalah adalah:
1. Analisa gaya gempa berdasarkan analisa respon spektrum dari SNI 03-1726-
2002.
2. Struktur berada pada wilayah gempa 5 Indonesia.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


3. Material struktur yang digunakan adalah material baja dengan material
struktur yang digunakan adalah profil baja WF.
4. Damper yang digunakan adalah yielding damper dengan jenis metallic
yielding damper bentuk X.
5. Bangunan yang ditinjau bangunan bertingkat 5.
6. design struktur dihitung oleh struktur olh program SAP 2000 versi 11
1.5 Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah studi literatur
yaitu dengan mengumpulkan data-data dan keterangan dari literatur yang
berhubungan dengan pembahasan pada tugas akhir ini serta masukan dari dosen
pembimbing. Penganalisaan struktur dilakukan dengan program komputer yaitu
Program SAP 2000 versi 11 untuk mempercepat perhitungan.























Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


BAB 2
TEORI DASAR

2.1 Umum
Getaran sering dirasakan oleh manusia pada kehidupan sehari-hari. Suatu
benda akan bergetar apabila terdapat sumber energi yang diteruskan sampai ke benda
yang bersangkutan. Gempa bumi misalnya, walaupun tidak termasuk kejadian sehari-
hari juga dapat menimbulkan getaran. Energi mekanik akibat rusaknya struktur
batuan pada peristiwa gempa bumi selanjutnya akan diubah menjadi energi
gelombang yang menggetarkan batuan sekelilingnya. Getaran batuan akibat gempa
bumi selanjutnya diteruskan oleh media tanah sampai pada permukaan tanah. Tanah
yang bergetar akibat gempa akan mengakibatkan bangunan yang berada di atas tanah
ikut bergetar. Kerusakan bangunan sering terjadi akibat peristiwa gempa bumi seperti
ini, khususnya pada daerah-daerah tertentu.
Gempa bumi merupakan salah satu bagian daripada jenis beban yang dapat
membebani struktur selain beban mati, beban hidup dan beban angin. Beban gempa
memang tidak selalu diperhitungkan dalam perencanaan atau analisa struktur.
Namun bagi struktur yang dibuat pada suatu lokasi dimana gempa bumi dapat terjadi
maka analisa ini harus dibuat.
Besarnya tingkat pembebanan gempa berbeda-beda dari suatu wilayah ke
wilayah lain tergantung pada keadaan seismotektonik geografi dan pada geologi
setempat. Analisa gempa terutama pada bangunan perlu dilakukan karena
pertimbangan. Kerusakan bangunan akibat gempa bumi dapat diantisipasi dengan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


beberapa metode, baik secara konvensional maupun secara teknologi sekarang ini
para ahli telah menemukan sistem seismic devices.
Seismic devices bekerja dengan merubah kekakuan, damping dan menambah
massa ke struktur. Salah satu system seismic device adalah dengan menggunakan alat
yielding damper disebut juga hysterestic-yield damper bekerja dengan mendissipasi
energi melalui pembentukan sendi plastis atau pelelehan bahan damper, Yielding
damper yang dibahas dalam tugas akhir ini adalah damper pelat dengan kekakuan bi-
linier , yaitu jenis damper dengan dissipasi energi melalui pelelehan lenturan pelat.
Bila gaya yang bekerja pada damper adalah gaya siklik atau gempa, hubungan gaya
dan simpangan akan berbentuk loop jajaran genjang yang disebut juga dengan
hysteristic loop. Luas hysteristic loop merupakan energi yang didissipasi oleh
damper . Struktur yang memakai metallic damper akan merubah persamaan dinamis
menjadi persamaan non-linier, Untuk menghindari kesulitan perencanaan dengan
metode riwayat waktu gempa yang lebih kompleks dan memerlukan waktu yang
lebih lama , dipakai model pendekatan linier viscous damping untuk menggantikan
model non-linier . Model pengganti linier equivalent tersebut memakai konsep
equivalent viscous damping dengan menyamakan luas loop bilinier dengan luas loop
bentuk ellips dari linier viscous damping. Dari hasil analisa, respons simpangan
model pengganti equivalent tidak selalu memberikan hasil yang sama dengan model
dinamis non-linier, untuk itu dipakai faktor koreksi untuk menyamakan atau
mendekati kedua hasil perhitungan dalam batas toleransi tertentu.
Gaya gempa tidak dapat diprediksi kapan datangnya, sehinga ketika gempa
menimpa struktur bangunan maka ada hal yang dapat dilihat. Bangunan itu tetap
kokoh tanpa ada korban jiwa, bangunan rusak tanpa ada korban jiwa, dan bisa juga
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


bangunan rusak serta terdapat korban jiwa. Gaya gempa adalah goncangan alamiah
bersumber bumi. Goncangan alamiah yang mengguncang bumi beserta apa saja yang
ada di atasnya pada hakekatnya adalah perambatan energi berwujud gelombang.
Energi yang merambat di dalam bumi atau lapisan tanah atau di dalam air laut
menciptakan goncangan pada bumi yang di kenal gempa bumi atau tsunami. Pada
dasarnya telah diketahui bahwa bagian permukaan bumi kita ini terdiri dari lempeng-
lempeng bumi yang disebut lempeng tektonik (tectonic plate). Oleh energi yang
terdapat di dalam bumi (hotspot, arus konveksi dll.), lempeng-lempeng itu
digerakkan satu dengan lainnya. Lempeng-lempeng tektonik tadi bergerak satu
terhadap lainnya dengan kecepatan antara 2 cm/tahun sampai 15 cm/tahun.
Pergerakkan lempeng-lempeng itu ada yang saling menjauh (berpisah), ada yang
saling berpapasan berlawanan arah. Ada pula yang saling bertemu atau bertubrukkan.
Semua jenis pergerakkan lempeng tektonik telah menciptakan daerah bergempa,
yang berbeda adalah kekuatan gempa yang tersimpan di dalam bumi pada batas-batas
pertemuan lempeng bumi itu. Energi gempa yang paling besar terdapat pada batas
pertemuan atau perbenturan lempeng tektonik. Energi yang tersimpan pada jalur
perbenturan lempeng bumi itu telah menimbulkan gempa bumi besar. Proses tekan
menekan dan desak mendesak diantara massa bumi pada lempeng-lempeng tektonik
telah menciptakan pengumpulan dan penimbunan energi di dalam bumi. Jangka
waktu proses penimbunan dan pelepasan energi yang menimbulkan gempa bumi itu
berlangsung antara 30-600 tahun. Terdapat variasi siklus perulang gempa antara satu
kawasan dengan kawasan lain, ada siklus kejadian gempa bumi 30-50 tahunan, ada
100 tahun, 200 tahun dan 600 tahun. Energi yang terkumpul atau tersimpan di dalam
bumi / massa batuan pada suatu saat tidak mampu lagi ditahan oleh massa bumi dan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


akhirnya bumi / batuan itu pecah / remuk / patah atau sobek (rupture). Pada saat
bumi itu remuk atau pecah disaat itulah energi dilepaskan dan bergerak dalam wujud
gelombang. Energi yang bergerak dalam wujud gelombang yang merambat di dalam
tanah di daratan disebut gempa bumi. Dan yang merambat di dalam air laut disebut
tsunami, sedangkan yang merambat di dalam danau disebut seische.
Permasalahan gaya gempa ini berbeda dengan pembebanan- pembebanan
statis, sehingga dalam perhitungannya gaya gempa tidak mempunyai solusi tunggal
seperti pada gaya statis karena respon dan beban berubah menurut waktu.
Besarnya tingkat pembebanan gempa berbeda-beda dari satu wilayah
kewilayah lain, yang tergantung pada keadaan seismetektonik, geografi dan geologi
setempat. Analisa gempa terutama pada bangunan tinggi perlu dilakukan karena
pertimbangan keamanan struktur dan kenyaman penghuni bangunan. Beban gempa
yang terutama dalam arah mendatar akan menimbulkan simpangan (driff) yang perlu
dikontrol.
Dalam perencanaan struktur atau bangunan yang mempunyai ketahanan
terhadap gempa dengan tingkat keamanan yang memadai, struktur yang harus
dirancang dapat memikul gaya horizontal atau gaya gempa. Yang harus diperhatikan
adalah bahwa struktur dapat memberikan layanan yang sesuai dengan perencanaan.
Menurut T. Paulay (1988), tingkat layanan dari struktur gaya gempa terdiri dari tiga,
yaitu:
1. Serviceability.
J ika gempa dengan intensitas percepatan tanah yang kecil dalam waktu ulang
yang besar mengenai struktur, disyaratkan tidak mengganggu fungsi bangunan,
seperti aktivitas normal didalam bangunan dan perlengkapan yang ada. Artinya tidak
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


dibenarkan ada terjadi kerusakan pada struktur baik pada komponen struktur maupun
dalam elemen non-struktur yang ada. Dalam perencanaan harus diperhatikan control
dan batas simpangan (driff) yang dapat terjadi semasa gempa, serta menjamin
kekuatan yang cukup bagi komponen struktur untuk menahan gaya gempa yang
terjadi dan diharapkan struktur masih berprilaku elastis.
2. Kontrol kerusakan.
J ika struktur dikenai gempa dengan waktu ulang sesuai dengan umur atau,
masa rencana bangunan, maka struktur direncanakan untuk dapat menahan gempa
ringan atau gempa kecil tanpa terjadi kerusakan pada komponen struktur ataupun
maupun komponen non-struktur, dan diharapkan struktur dalam batas elastis.
3. Survival
J ika gempa kuat yang mungkin terjadi pada umur / masa bangunan yang
direncanakan membebani struktur, maka struktur direncankan untuk dapat bertahan
dengan tingkat kerusakan yang besar tanpa mengalami kerusakan dan keruntuhan
(collapse). Tujuan utama dari keadaan batas ini adalah untuk menyelamakan jiwa
manusia.
Pengaruh gempa bumi yang sangat merusak struktur bangunan adalah load
pad dari komponen gaya atau getaran horizontal. Getaran horizontal tersebut
menimbulkan gaya reaksi yang besar, bahkan di lokasi puncak atau ujung bangunan
dapat mengalami pembesaran hingga dua kalinya. Bila aliran gaya pada bangunan itu
lebih besar daripada kekuatan struktur maka bangunan itu akan rusak parah.Untuk
daerah yang rawan gempa bumi dibutuhkan ekstra kewaspadaan dan solusi teknologi
tepat guna yang mampu meminimalkan korban jiwa dan harta benda. Untuk itu
betapa pentingnya penerapan teknologi yang tepat guna. Salah satu cara untuk
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


menghindari hal tersebut di atas maka bisa kita gunakan teknologi yang akan kita
bahas pada tugas akhir ini yaitu Yielding Damper khususnya Metalic Yielding
Damper.


2.2 Karakteristik Struktur Bangunan
Pada persamaan difrensial melibatkan tiga properti utama suatu struktur yaitu
massa, kekakuan dan redaman. Ketiga properti struktur itu umumnya disebut
dinamik karakteristik struktur. Properti-properti tersebut sangat spesifik yang tidak
semuanya digunakan pada problem statik. Kekakuan elemen / struktur adalah salah
satu-satunya karakteristik yang dipakai pada problem statik, sedangkan karakteristik
yang lainnya yaitu massa dan redaman tidak dipakai.

2.2.1 Massa
Suatu struktur yang kontinu kemungkinan mempunyai banyak derajat
kebebasan karena banyaknya massa yang mungkin dapat ditentukan. Banyaknya
derajat kebebasan umumnya berasosiasi dengan jumlah massa tersebut akan
menimbulkan kesulitan. Hal ini terjadi karena banyaknya persamaan differensial
yang ada.
Terdapat dua permodelan pokok yang umumnya dilakukan untuk
mendeskripsikan massa struktur.
2.2.1.1 Model lumped mass
Model pertama adalah model diskretisasi massa yaitu massa diangggap
menggumpal pada tempat-tempat (lumped mass) join atau tempat-tempat tertentu.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Dalam hal ini gerakan / degree of freedom suatu join sudah ditentukan. Untuk titik
model yang hanya mempunyai satu derajat kebebasan / satu translasi maka nantinya
elemen atau struktur yang bersangkutan akan mempunyai matriks yang isinya hanya
bagian diagonal saja. Clough dan Penzien (1993) mengatakan bahwa bagian off-
daigonal akan sama dengan nol karena gaya inersia hanya bekerja pada tiap-tiap
massa. Selanjutnya juga dikatakan bahwa apabila terdapat gerakan rotasi massa (
rotation degree of freedom ), maka pada model lumped mass ini juga tidak akan ada
rotation moment of inertia. Hal ini terjadi karena pada model ini massa dianggap
menggumpal pada suatu titik yang tidak berdimensi (mass moment of inertia dapat
dihitung apabila titik tersebut mempunyai dimensi fisik). Dalam kondisi tersebut
terdapat matriks massa dengan diagonal mass of moment inertia sama dengan nol.
Pada bangunan gedung bertingkat banyak, konsentrasi beban akan terpusat
pada tiap-tiap lantai tingkat bangunan. Dengan demikian untuk setiap tingkat hanya
ada satu tingkat massa yang mewakili tingkat yang bersangkutan. Karena hanya
terdapat satu derajat kebebasan yang terjadi pada setiap massa / tingkat, maka jumlah
derajat kebebasan pada suatu bangunan bertingkat banyak akan ditunjukkan oleh
banyaknya tingkat bangunan yang bersangkutan. Pada kondisi tersebut matriks
massa hanya akan berisi pada bagian diagonal saja.
2.2.1.2 Model consistent mass matrix.
Model ini adalah model yang kedua dari kemungkinan permodelan massa
struktur. Pada prinsip consistent mass matrix ini, elemen struktur akan berdeformasi
menurut bentuk fungsi (shape function) tertentu. Permodelan massa seperti ini akan
sangat bermanfaat pada struktur yang distribusi massanya kontinu.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Apabila tiga derajat kebebasan (horizontal, vertikal dan rotasi)
diperhitungkan pada setiap node maka standar consistent mass matrix akan
menghasilkan full-populated consistent matrix artinya suatu matri yang off-diagonal
matriksnya tidak sama dengan nol. Pada lumped mass model tidak akan terjadi
ketergantungan antar massa (mass coupling) karena matriks massa adalah diagonal.
Apabila tidak demikian maka mass moment of inertia akibat translasi dan rotasi
harus diperhitungkan.
Pada bangunan bertingkat banyak yang massanya terkonsentrasi pada tiap-tiap
tingkat bangunan, maka penggunaan model lumped mass masih cukup akurat. Untuk
pembahasan struktur MDOF seterusnya maka model inilah (lumped mass) yang akan
dipakai.

2.2.2 Kekakuan
kekakuan adalah salah satu dinamik karakteristik struktur bangunan yang
sangat penting disamping massa bangunan. Antara massa dan kekakuan struktur akan
mempunyai hubungan yang unik yang umumnya disebut karakteristik diri atau
Eigenproblem. Hubungan tersebut akan menetukan nilai frekuensi sudut , dan
periode getar struktur T. Kedua nilai ini merupakan parameter yang sangat penting
dan akan sangat mempengaruhi respon dinamik struktur.
Pada prinsip bangunan geser ( shear building ) balok pada lantai tingkat
dianggap tetap horizontal baik sebelum maupun sesudah terjadi pergoyangan.
Adanya plat lantai yang menyatu secara kaku dengan balok diharapkan dapat
membantu kekakuan balok sehingga anggapan tersebut tidak terlalu kasar. Pada
prinsif desain bangunan tahan gempa dikehendaki agar kolom lebih kuat
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


dibandingkan dengan balok, namun demikian rasio tersebut tidak selalu linear
dengan kekakuannya. Dengan prinsif shear building maka dimungkinkan pemakaian
lumped mass model. Pada prinsif ini, kekakuan setiap kolom dapat dihitung
berdasarkan rumus yang telah ada.

2.2.3 Redaman
Redaman merupakan peristiwa pelepasan energi ( energi dissipation) oeh
struktur akibat adanya berbagai macam sebab. Beberapa penyebab itu antara lain
adalah pelepasan energi oleh adanya gerakan antar molekul didalam material,
pelepasan energi oleh gesekan alat penyambung maupun system dukungan,
pelepasan energi oleh adanya gesekan dengan udara dan pada respon inelastic
pelepasan energi juga terjadi akibat adanya sendi plastis. Karena redaman berfungsi
melepaskan energi maka hal ini akan mengurangi respon struktur.

2.3 Simpangan (Drift) Akibat Gaya Gempa
Simpangan (drift) adalah sebagai perpindahan lateral relative antara dua
tingkat bangunan yang berdekatan atau dapat dikatakan simpangan mendatar tiap-
tiap tingkat bangunan (horizontal story to story deflection).
Simpangan lateral dari suatu system struktur akibat beban gempa adalah
sangat penting yang dilihat dari tiga pandangan yan berbeda, menurut Farzat Naeim
(1989):
1. Kestabilan struktur (structural stability)
2. Kesempurnaan arsitektural (architectural integrity) dan potensi kerusakan
bermacam-macam komponen bukan struktur
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


3. Kenyaman manusia (human comfort), sewaktu terjadi gempa bumi da
sesudah bangunan mengalami gerakan gempa.

Dalam pada itu juga, Richard N. White (1987) berpendapat bahwa dalam
perencanaan bangunan tinggi selalu dipengaruhi oleh pertimbangan lenturan
(deflection), bukannya oeh kekuatan (strength).
Simpangan antar tingkat dari suatu titik pada suatu lantai harus ditentukan
sebagai simpangan horizontal titik itu, relative terhadap titik yang sesuai pada lantai
yang berada dibawahnya. Perbandingan antar simpangan antar tingkat dan tinggi
tingkat yang bersangkutan tidak boleh melebihi 0.005 dengan ketentuan dalam segala
hal simpangan tersebut tidak boleh lebih dari 2 cm. Terhadap simpangan antar
tingkat telah diadakan pembatasan-pembatasan untuk menjamin agar kenyamanan
bagi para penghuni gedung tidak terganggu dan juga untuk mengurangi momen-
momen sekunder yang terjadi akibat penyimpangan garis kerja gaya aksial didalam
koom-kolom (yang lebih dikenal dengan P-delta).
Berdasarkan UBC 1997 bahwa batasan story driff atau simpangan antar
tingkat adalah sebagai berikut:
Untuk periode bangunan yang pendek T<0.7 detik, maka simpangan antar tingkat
m 0.0025Ih atau 2.5%dari tinggi bangunan.
Untuk periode bangunan yang pendek T>0.7 detik, maka simpangan antar tingkat
m 0.002Ih atau 2.0% dari tinggi bangunan.

2.4 Derajat Kebebasan (Degree Of Freedom, Dof)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Derajat kebebasan (degree of freedom) adalah derajat independensi yang
diperlukan untuk menyatakan posisi suatu system pada setiap saat. Pada masalah
dinamika, setiap titik atau massa pada umumnya hanya diperhitungkan berpindah
tempat dalam satu arah saja yaitu arah horizontal. Karena simpangan yang terjadi
hanya terjadi dalam satu bidang atau dua dimensi, maka simpangan suatu massa
pada setiap saat hanya mempunyai posisi atau ordinat tertentu baik bertanda negative
ataupun bertanda positif. Pada kondisi dua dimensi tersebut, simpangan suatu massa
pada saat t dapat dinyatakan dalam koordinat tunggal yaitu U(t). Struktur seperti itu
dinamakan struktur dengan derajat kebebasan tunggal (SDOF system).
Dalam model system SDOF atau berderajat kebebasan tunggal, ssetiap massa
m, kekakuan k, mekanisme kehilangan atau redaman c, dan gaya luar yang dianggap
tertumpu pada elemen fisik tunggal. Struktur yang mempunyai n-derjat kebebasan
atau struktur dengan derajat kebebasan banyak disebut multi degree of freedom
(MDOF). Akhirnya dapat disimpulkan bahwa jumlah derajat kebebasan adalah
jumlah koordinat yang diperlukan untuk menyatakan posisi suatu massa pada saat
tertentu.

2.4.1 Persamaan differensial pada struktur SDOF
System derajat kebebasan tunggal (SDOF) hanya akan mempunyai satu
koordinat yang diperlukan untuk menyatakan posisi massa pada saat tertentu yang
ditinjau. Bangunan satu tingkat adalah salah satu contoh bangunan derajat kebebasan
tunggal.
Pada gambar 2.1 tampak model matematik untuk SDOF system. Tampak
bahwa P(t) adalah beban dinamik yaitu beban yang intensitasnya merupakan fungsi
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


dari waktu. Struktur seperti pada gambar 2.1.a kemudian digambar secara ideal
seperti tampak pada gambar 2.1.b yaitu gambar yang telah dimodelkan. Notasi m, k,
dan c seperti yang tampak pada gambar berturut-turut adalah massa, kekakuan kolom
dan redaman.








Gambar 2.1 Permodelan struktur SDOF


Apabila beban dinamik P(t) bekerja ke arah kanan, maka akan terdapat
perlawanan pegas, damper dan gaya redaman seperti pada gambar 2.1.c. gambar-
gambar tersebut umumnya disebut free body diagram. Berdasarkan prinsif
keseimbangan dinamik pada free body diagram tersebut, maka dapat diperoleh
hubungan,
p(t) f
S
f
D
=mu atau mu + f
D
+ f
S
= p(t) (2.4.1)
dimana:
f
D
=c.u
f
S
= k.u (2.4.2)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Apabila persamaan (2.4.1) disubtitusikan kepersamaan (2.4.2), maka akan
diperoleh :
mu + cu+ ku = p(t) (2.4.3)
Persamaan (2.4.3) adalah persamaan differensial gerakan massa suatu
struktur SDOF yang memperoleh pembebanan dinamik p(t). pada problema dinamik,
sesuatu
Yang penting untuk diketahui adalah simpangan horizontal tingkat atau dalam
persamaaan tersebut adalah u(t).

2.4.2 Persamaan difrensial struktur SDOF akibat base motion
Beban dinamik yang umum dipakai pada anlisis struktur selain beban angin
adalah beban gempa. Gempa bumi akan mengakibatkan permukaan tanah menjadi
bergetar yang getarannya direkam dalam bentuk aselogram. Tanah yang bergetar
akan menyebabkan semua benda yang berada di atas tanah akan ikut bergetar
termasuk struktur bangunan. Di dalam hal ini masih ada anggapan bahwa antara
fondasi dan tanah pendukungnya bergerak secara bersama-sama atau fondasi
dianggap menyatu dengan tanah. Anggapan ini sebetulnya tidak sepenuhnya benar
karena tanah bukanlah material yang kaku yang mampu menyatu dengan fondasi.
Kejadian yang sesungguhnya adalah bahwa antara tanah dan fondasi tidak akan
bergerak secara bersamaan. Fondasi masih akan bergerak horizontal relative terhadap
tanah yang mendukungnya. Kondisi seperti ini cukup rumit karena sudah
memperhitungkan pengaruh tanah terhadap analisis struktur yang umumnya disebut
soil-structure interaction analysis.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Untuk menyusun persamaan difrensial gerakan massa akibat gerakan tanah
maka anggapan di atas tetap dipakai, yaitu tanah menyatu secara kaku dengan kolom
atau kolom dianggap dijepit pada ujung bawahnya. Pada kondisi tersebut ujung
bawah kolom dan tanah dasar bergerak secara bersamaan. Persamaan difrensial
gerakan massa struktur SDOF akibat gerakan tanah selanjutnya dapat dirturunkan
dengan mengambil model seperti pada gambar 2.2.









Gambar 2.2 Struktur SDOF akibat base motion


Berdasarkan pada free body diagram seperti gambar di atas maka deformasi
total yang terjadi adalah
ut
t
(t) =u(t) +u
g
(t) (2.4.4)
Dari free body diagram yang mengandung gaya inersia f
1
tampak bahwa
persamaan kesetimbangannya menjadi
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


f
I
+f
D
+ f
S
=0 (2.4.5)

dimana inersia adalah,
f
I
= mu
t
(2.4.6)
Dengan mensubstisusikan persamaan (2.4.2) dan (2.4.5) ke (2.4.5) dan
(2.4.4),sehingga diproleh persmaaannya sebagai berikut,
mu +cu +ku = - mu
g
(t) (2.4.7)
Persamaan tersebut disebut persamaan difrensial relative karena gaya inersia,
gaya redam dan gaya pegas ketiga-tiganya timbul akibat adanya simpanganrelative.
Ruas kanan pada persamaan (2.4.7) disebut sebagai beban gempa efektif atau beban
gerakan tanah efektif. Ruas kanantersebut seolah menjadi gaya dinamik efektif yang
bekerja pada elevasi lantai tingkat. Kemudian gaya luar ini akan disebut sebagai faya
efektif gempa:
P
eef
(t) - mu
g
(t). (2.4.8)

2.4.3 Persamaan difrensial struktur MDOF
2.4.3.1 Matriks massa, matriks kekakuan dan matriks redaman
Untuk menyatakan persamaan diferensial gerakan pada struktur dengan
derajat kebebasan banyak maka dipakai anggapan dan pendekatan seperti pada
struktur dengan derajat kebebasan tunggal SDOF. Anggapan seperti prinsip shear
building masih berlaku pada struktur dengan derajat kebebasan banyak (MDOF).
Untuk memperoleh persamaan diferensial tersebut, maka tetap dipakai prinsip
keseimbangan dinamik (dynamic equilibrium) pada suatu massa yang ditinjau. Untuk
memperoleh persamaan tersebut maka diambil model struktur MDOF.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Struktur bangunan gedung bertingkat 3, akan mempunyai 3 derajat
kebebasan. Sering kali jumlah derajat kebebasan dihubungkan secara langsung
dengan jumlahnya tingkat. Persamaan diferensial gerakan tersebut umumnya disusun
berdasarkan atas goyangan struktur menurut first mode atau mode pertama seperti
yang tampak pada garis putus-putus. Masalah mode ini akan dibicarakan lebih lanjut
pada pembahasan mendatang. Berdasarkan pada keseimbangan dinamik pada free
body diagram. maka akan diperoleh :
0 ) ( ) ( ) ( .
1
1
.
2
.
2 1 2 2
1
.
1 1 1
1
..
1
= + + + t F u u c u u k u c u k u m (2.4.9)
0 ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
2
2
.
3
.
2 1 2 3
1
.
2
.
2 1 2 2
2
..
2
= + + t F u u c u u k u u c u u k u m (2.4.10)
0 ) ( ) ( ) (
1 2
3
..
3 1 2 3
3
..
3
= + + t F u u c u u k u m (2.4.11)

Pada persamaan-persamaan tersebut diatas tampak bahwa keseimbangan
dinamik suatu massa yang ditinjau ternyata dipengaruhi oleh kekakuan, redaman dan
simpangan massa sebelum dan sesudahnya. Persamaan dengan sifat-sifat seperti itu
umumnya disebut coupled equation karena persamaan-persamaan tersebut akan
tergantung satu sama lain. Penyelesaian persamaan coupled harus dilakukan secara
simultan artinya dengan melibatkan semua persamaan yang ada. Pada struktur
dengan derajat kebebasan banyak, persamaan diferensial gerakannya merupakan
persamaan yang dependent atau coupled antara satu dengan yang lain.
Selanjutnya dengan menyusun persamaan-persamaan di atas menurut
parameter yang sama (percepatan, kecepatan dan simpangan) selanjutnya akan
diperoleh :
) ( ) ) ( . ) (
1 2 2 1 2 1
2
.
2
1
2 1
1
..
1
t F u k u k k u c u c c u m = + + + + (2.4.12)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


) ( ) ( ) (
2 3 3 2 3 2 1
3
.
3
2
.
3 2
1
.
2
2
..
2
t F u k u k k u u c u c c u c u m = + + + + (2.4.13)
) (
3 3 3 2 3
3
.
3
2
.
3
3
..
3
t F u k u k u c u c u m = + + (8.2) (2.4.14)
Persamaan-persamaan di atas dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut :

(
(
(

+
+
+

(
(
(

+
+
+

(
(
(

) (
) (
) (
0
0
0
0
0 0
0 0
0 0
3
2
1
3
2
1
3 3
3 3 2 2
2 2 1
3
..
2
..
1
..
3 3
3 3 2 2
2 2 1
3
..
2
..
1
..
3
2
1
t F
t F
t F
u
u
u
k k
k k k k
k k k
u
u
u
c c
c c c c
c c c
u
u
u
m
m
m

(Pers. 2.4.14 dapat ditulis dalam matriks yang lebih kompleks,
[M]{U} +[C]{U} +[K]{U} ={F(t)} (2.4.15)


Yang mana [M], [C] dan [K] berturut-turut adalah mass matriks, damping matriks
dan matriks kekakuan yang dapat ditulis menjadi,
[M] =
(
(
(

3
2
1
0 0
0 0
0 0
m
m
m
, [C] =
(
(
(

+
+
3 3
3 3 2 2
2 2 1
0
0
c c
c c c c
c c c
,
[K] =
(
(
(

+
+
3 3
3 3 2 2
2 2 1
0
0
k k
k k k k
k k k
(2.4.16)
Sedangkan {}, {} dan {Y} dan {F(t)} masing-masing adalah vektor percepatan,
vektor kecepatan, vektor simpangan dan vektor beban, atau,
{
..
U } =

3
..
2
..
1
..
u
u
u
, {
.
U } =

3
.
2
.
1
.
u
u
u
, {U} =

3
2
1
u
u
u
dan {F(t)} =

) (
) (
) (
3
2
1
t F
t F
t F
(2.4.17)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Secara visual Chopra (1995) menyajikan keseimbangan antara gaya dinamik, gaya
pegas, gaya redam dan gaya inersia seperti pada gambar 2.3



Displacement u Diplacement u Velocity u Acceleration u
Velocity u
Acceleration u
(a) (b) (c) (d)
Gambar 2.3 Keseimbangan Gaya Dinamik dengan f
S
, f
D
, dan f
1
(Chopra, 1995)

2.4.3.2 Matriks redaman
Pada persamaan diferensial di atas, maka tersusunlah berturut-turut matriks
massa, matriks redaman dan matriks kekakuan. Sebagaimana telah dibahas
sebelumnya bahwa kekakuan kolom sudah dapat dihitung secara lebih pasti.
Kekakuan kolom dapat dihitung berdasarkan model kekakuan balok yang dipakai.
Dengan demikian matriks kekakuan sudah dapat disusun dengan jelas. Pada bagian
lain yang sudah dibahas adalah massa struktur. Apabila model distribusi massa
struktur sudah dapat dikenali dengan baik, maka massa setiap derajat kebebasan juga
dapat dihitung dengan mudah. Akhirnya matriks massa juga dapat disusun secara
jelas. Maka sesuatu yang perlu dibahas lebih lanjut adalah matriks redaman.
Sebelum menginjak matriks redaman maka akan dibahas terlebih dahulu jenis dan
sistem redaman.

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


2.4.3.3 Non klasikal / non proporsional damping.
Apabila matriks massa dan matriks kekakuan telah dapat disusun, maka
selanjutnya tinggalah matriks redaman. Pada struktur SDOF, koefisien redaman c
dapat dihitung yaitu merupakan produk antara rasio antara redaman-redaman kritik.
Pada Bab III telah dibahas tentang sistem redaman yaitu redaman klasik (clasiccal
damping) dan redaman non-klasik (non clasiccal damping). Damping non-klasik
dapat tergantung pada frekuensi (frequency dependent). Clough dan Penzien (1993)
memberikan contoh damping non-klasik.
Pada gambar 2.4.a tampak kombinasi antara struktur beton di bagian bawah
misalnya dan struktur baja pada bagian atas. Jenis bahan akan mempengaruhi rasio
redaman. Antara struktur beton dan struktur baja akan mempunyai perbedaan rasio
redaman yang cukup signifikan. Oleh karena itu sistem struktur mempunyai rasio
redaman yang berbeda. Prinsip non-klasikal damping akan berlaku pada struktur
tersebut. Pada gambar 2.4.b adalah sistem struktur yang memperhitungkan efek /
pengaruh tanah dalam analisis struktur. Analisis struktur seperti itu biasanya disebut
analisis interaksi antara tanah dengan bangunan (soil-structure interaction analysis).
Struktur tanah umumnya mempunyai kapasitas meredam energi atau mempunyai
rasio redaman yang jauh lebih besar daripada bangunan atas. Disamping itu interaksi
antara tanah dan fondasi sebenarnya adalah interaksi frequency dependent, artinya
kualitas interaksi akan dipengaruhi oleh frekuensi beban yang bekerja.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Gambar 2.4 Struktur dengan damping non-klasik (Clough & Pensien, 1993)

Apabila interaksi antara tanah dengan struktur dipengaruhi frekuensi, maka
kekakuan dan redaman interaksi juga frequency dependent. Pada kondisi tersebut
sistem struktur tidak akan mempunyai standar mode shapes (akan dibahas
kemudian). Dengan memperhatikan kenyataan-kenyataan seperti itu maka ada empat
hal yang perlu diperhatikan. Pertama rasio redaman struktur atas yang dipengaruhi
oleh level respon, kedua rasio redaman pada stuktur atas dan bawah sangat berbeda,
ketiga rasio redaman struktur bawah tergantung pada frekuensi beban dan keempat
sistem struktur tidak akan mempunyai standar mode shapes. Apabila analisis struktur
akan memperhatikan hal itu semua, maka problemnya tidak hanya terletak pada
redaman tetapi penyelesaian yang komprehensif terhadap sistem struktur.
Penyelesaian soil-structure interaction pada bangunan bertingkat banyak sungguhlah
tidak sederhana. Oleh karena itu memperhitungkan redaman non-klasik ini
memerlukan kemampuan yang sangat khusus.

2.4.3.4 Klasikal / proposional damping
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Damping dengan sistem ini relatif sederhana bila dibanding dengan non-
klasikal damping. Namun demikian penggunaan sistem damping seperti ini juga
terbatas, yaitu hanya dipakai pada analisis struktur yang tidak memperhatikan
interaksi antara tanah dengan bangunan. Ada juga yang memakainya, namun hal itu
disertai dengan anggapan-anggapan. Analisis struktur yang menggunakan damping
jenis ini adalah analisis struktur elastik maupun inelastik yang mana struktur
bangunan dianggap dijepit pada dasarnya.
Pada analisis dinamik yang menggunakan superposisi atas persamaan
independen (uncoupled modal superposition method) maka masih dapat dipakai
prinsip ekivalen damping rasio, yaitu yang dinyatakan dalam bentuk,
C
j
= 2
j
M
j

j
(2.4.18)
yang mana C
j
, M
j
adalah suatu simbol yang berasosiasi dengan mode j, dan
j

berturut-turut adalah rasio redaman dan frekuensi sudut mode ke-j.
Untuk menyederhanakan persoalan umumnya dipakai rasio redaman yang
konstan, artinya nilai rasio redaman diambil sama untuk semua mode. Apabila hal ini
telah disepakati maka analisis dinamik struktur dengan modal analis tidak
memerlukan matriks redaman. Cara ini mempunyai kelemahan, karena pada mode
yang lebih tinggi umumnya frekuensi sudut dan rasio redaman akan lebih besar.
Pada analisis dinamik yang melakukan integrasi secara langsung dan analisis
dinamik inelastik, maka konsep ekivalen damping ratio sebagaimana tercantum pada
persamaan 2.4.18 tersebut tidak dapat dipakai. Pada kedua analisis ini diperlukan
suatu matriks redaman, dan oleh karenanya matriks redaman perlu disusun. Didalam
analisis tersebut damping matriks disusun berdasarkan satu dan dua nilai
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


proporsional damping. Terdapat beberapa sistem redaman proporsional yang dapat
disusun yang secara skematis ditunjukkan oleh gambar 2.5







Gambar 2.5 Jenis-Jenis Proporsional Damping

2.4.4 Getaran bebas pada struktur MDOF
2.4.4.1 Nilai karakteristik (eigenproblem)
Sebagaimana disebut di atas bahwa walaupun getaran bebas (free vibration
system) pada kenyataannya jarang terjadi pada struktur MDOF, tetapi membahas
jenis getaran ini akan diperoleh suatu besaran/karakteristik dari struktur yang
bersangkutan yang selanjutnya akan sangat berguna untuk pembahasan-pembahasan
respon struktur berikutnya. Besaran-besaran tersebut terutama adalah frekuensi sudut
, periode getar T, frekuensi alam f dan normal modes.
Pada getaran bebas di struktur yang mempunyai derajat kebebasan banyak
(MDOF), maka matriks persamaan diferensial gerakannya adalah seperti pada
persamaan 8.8), dengan nilai ruas kanan sama dengan nol atau,
[M]{
..
U } +[C]{
.
U } +[K]{U} =0 (2.4.19)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Telah dibahas sebelumnya bahwa frekuensi sudut pada struktur dengan
redaman (damped frequency)
d
nilainya hampir sama dengan frekuensi sudut pada
struktur yang dianggap tanpa redaman . Hal ini akan diperoleh apabila nilai
damping ratio relatif kecil. Apabila hal ini diadopsi untuk struktur dengan derajat
kebebasan banyak, maka untuk nilai C =0, pers. 2.4.19 akan menjadi,
[M]{
..
U } +[K]{U} =0 (2.4.20)
Karena pers. 2.4.20 adalah persamaan diferensial pada struktur MDOF yang
dianggap tidak mempunyai redaman, maka sebagaimana penyelesaian persamaan
diferensial yang sejenis pada pembahasan-pembahasan di depan, maka penyelesaian
persamaan tersebut diharapkan dalam fungsi harmonik menurut bentuk,
U = {}
i
sin (t)
.
U =- {}
i
cos (t)
..
U =-
2
{}
i
sin (t) (2.4.21)
Yang mana {}
i
adalah suatu koordinat masa pada mode yang ke-i. Substitusi pers.
2.4.21 ke dalam pers. 2.4.20 selanjutnya akan diperoleh,
-
2
[M] {}
i
sin (t) + [K] sin (t) = 0
{[K] -
2
[M]}{}
i
=0 (2.4.22)

Pers.2.4.22 adalah suatu persamaan yang sangat penting dan biasa disebut persamaan
eigenproblem atau karakteristik problem atau ada juga yang menyebut eigenvalue
problem. Pers. 2.4.22 tersebut adalah persamaan simultan yang harus dicari
penyelesaiannya. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk menyelesaikan persamaan
simultan tersebut adalah dengan memakai dalil Cramer (1704-1752). Gabriel Cramer
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


adalah salah satu ahli matematika yang berasal dari Swiss. Dalil tersebut
menyatakan bahwa penyelesaian persamaan simultan yang homogen akan ada
nilainya apabila determinan dari matriks yang merupakan koefisien dari vektor {}
i

adalah nol, sehingga,
|[K] -
2
[M]| =0 (2.4.23)
Jumlah mode pada struktur dengan derajat kebebasan banyak biasanya dapat
dihubungkan dengan jumlah massa. Mode itu sendiri adalah jenis / pola / ragam
getaran/ goyangan suatu struktur bangunan. Mode ini hanya merupakan fungsi dari
properti dinamik dari struktur yang bersangkutan (dalam hal ini adalah hanya massa
dan kekakuan tingkat) dan bebas dari pengaruh waktu dan frekuensi getaran. Dengan
adanya hubungan antara jumlah mode dengan jumlah massa struktur, maka bangunan
yang mempunyai 5 tingkat misalnya, akan mempunyai 5 derajat kebebasan dan akan
mempunyai 5 jenis mode gerakan dan akan mempunyai 5 nilai frekuensi sudut
yang berhubungan langsung dengan jenis / nomor mode nya. Apabila jumlah derajat
kebebasan adalah n, maka persamaan 9.5) akan menghasilkan suatu polinomial
pangkat n yang selanjutnya akan menghasilkan
1
2
untuk i =1, 2,3 ...n. Selanjutnya,
substitusi masing-masing frekuensi
1
ke dalam persamaan 9.4 akan diperoleh nilai-
nilai
1
,
2
,........
n
.

2.4.4.2 Frekuensi sudut () dan normal modes
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, didalam menghitung frekuensi sudut
untuk struktur yang mempunyai derajat kebebasan banyak (MDOF), diambil suatu
anggapan bahwa struktur tersebut dianggap tidak mempunyai redaman atau C =0.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Untuk menghitung dan sekaligus menggambar normal modes maka diambil suatu
model struktur seperti pada gambar berikut:






Gambar 2.6 Bangunan 2-DOF dan model matematika
Setiap struktur yang dibebani dengan beban dinamik akan mengalami
goyangan. Untuk struktur derajat kebebasan banyak, maka struktur yang
bersangkutan akan mempunyai banyak ragam / pola goyangan. Normal modes adalah
suatu istilah yang sering dipakai pada problem dinamika struktur, dan kata tersebut
diterjemahkan sebagai ragam/pola goyangan.
Kembali pada persoalan inti, suatu persamaan diferensial gerakan dapat
diperoleh dengan memperhatikan free body diagram seperti pada gambar 9.1. c dan
diperoleh,
0 ) (
1 2 2 1 1
1
..
1
= + u u k u k u m
0 ) (
1 2 2
2
..
2
= + u u k u m (2.4.24)
Pers 2.4.24 dapat ditulis dalam bentuk yang sederhana yaitu,
0 ) (
2 2 2 2 1
1
..
1
= + + u k u k k u m
0
2 2 1 2 2 2
= + u k u k u m (2.4.25)

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Pers 2.4.25 dapat ditulis dalam bentuk matriks yaitu,
)
`

=
)
`

+
+

0
0
0
) (
0
0
2
1
2
2 2 1
2
..
1
..
2
1
u
u
k
k k k
u
u
m
m
(2.4.26)
Selanjutnya persamaan Eigenproblem atas pers. 2.4.26 adalah,
)
`

=
)
`

(
(


+
0
0 ) (
2
1
2
2
2 2
2 1
2
2 1

m k k
k m k k
(2.4.27)

Dengan
1
adalah suatu nilai / ordinat yang berhubungan dengan massa ke-i pada
ragam / pola goyangan massa ke-i. Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa pers. 2.4.27
akan ada penyelesaiannya apabila dipenuhi nilai determinan,
2
2
2 2
2 1
2
2 1
) (
m k k
k m k k


+
=0 (2.4.28)

Apabila 2.4.28 tersebut diteruskan maka nilai determinannya adalah,
m
1
m
2

4
{(k
1
+k
2
) m
2
k
2
m
1
}
2
+(k
1
+k
2
) k
2
k
2
2
=0 (2.4.29)

Struktur dianggap tidak mempunyai redaman sehingga periode getar dicari
sebenarnya adalah merupakan undamped free vibration periods. Sebagaimana
disampaikan pada pembahasan struktur SDOF bahwa periode getar ini akan sedikit
lebih kecil dibanding dengan periode getar yang mana redaman struktur
diperhitungkan (ingat
d
<, sehingga T <T
d
).
Selain daripada itu nilai-nilai mode shapes juga tidak dipengaruhi oleh waktu,
artinya nilai-nilai tersebut akan tetap asal nilai-nilai massa dan kekakuan tingkatnya
tidak berubah. Karena nilai kekakuan tingkat k
i
tidak berubah-ubah maka mode
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


n nn n n n n
n n
n n
n n
Z Z Z Z Y
Z Z Z Z Y
Z Z Z Z Y
Z Z Z Z Y




+ + + + =
+ + + + =
+ + + + =
+ + + + =
.......
......... .......... .......... .......... .......... ..........
.......
.......
.......
3 3 2 2 1 1
2 3 33 2 23 1 31 3
2 3 32 2 22 1 21 2
1 3 13 2 12 1 11 1
shapes merupakan nilai untuk struktur yang bersifat elastik, atau hanya struktur yang
elastiklah yang mempunyai nilai mode shapes. Juga tampak bahwa nilai mode shapes
tidak dipengaruhi oleh frekuensi beban. Dengan demikian apabila disimpulkan
bahwa nilai-nilai mode shapes adalah :
a. bebas dari pengaruh redaman,
b. bebas dari pengaruh waktu
c. bebas dari pengaruh frekuensi beban dan
d. hanya untuk struktur yang elastik



2.4.5 Getaran bebas pada struktur MDOF
2.4.5.1 Persamaan difrensial independen (uncoupling)
Pada kondisi standar shear building, struktur yang mempunyai n-derajat
kebebasan akan mempunyai n-modes atau pola/ragam goyangan. Pada prinsip ini,
masing-masing modes akan memberikan kontribusi pada simpangan horizontal tiap-
tiap massa seperti ditunjukkan secara visual pada gambar 2.8 (Clough dan Penzien,
1993). Pada prinsip ini, simpangan massa ke-i atau Y
i
dapat diperoleh dengan
menjumlahkan pengaruh atau kontribusi tiap-tiap modes. Kontribusi mode ke-j
terhadap simpangan horizontal massa ke-i tersebut dinyatakan dalam produk antara

ij
dengan suatu modal aplitudo Z
j
atau seluruh kontribusi tersebut kemudian
dinyatakan dalam,


Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


| |

(
(
(
(
(
(

=
nn nn n n n
n
n
Z
Z
Z
Z
Y
.. .. .. ..
3
2
1
........ 3 2 1
3 ....... 33 32 31
11 ...... 23 22 21
1 13 12 11





(2.4.40)

Pers. 2.4.40 juga dapat ditulis menjadi,



(2.4.41)


Suku pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai suku ke-n pada ruas kanan pers.
2.4.40 diatas adalah kontribusi mode pertama, kedua, ketiga dan seterusnya sampai
kontribusi mode ke-n. sebagai perjanjian, massa struktur MDOF diberi indeks m,
dengan i =1,2,3, m, sedangkan mode diberi indeks shape
ij
adalah ordinat mode
ke-j untuk massa ke-i.
Pers. 2.4.41 tersebut dapat ditulis dalam bentuk yang lebih kompak.
{ } | |{ } Z Y = (2.4.42)
Derivative pertama dan kedua pers. 2.4.42 tersebut adalah,

| |
| |
)
`

=
)
`

)
`

=
)
`

.. ..
. .
Z Y
Z Y

(2.4.43)
Subtitusi pers. 2.4.42 dan pers. 2.4.43 kedalam pers. 2.4.40 maka akan diperoleh,
| || | | |{ } | || |{ } | |{ }
.. . ..
1
t
y M Z K Z C Z M = +
)
`

+
)
`

(2.4.44)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Pers. 2.4.44 sebetulnya adalah 1- set persamaan simultan dependent non-
homogen.
Untuk dapat mentransfer persamaan dependent menjadi persamaan independen,
maka pers. 2.4.44 premultiply dengan transpose suatu mode {}
T
sehingga
diperoleh,
{ } | | | | { } | || | { } | | | | { } { } | |{ }
t
T T T T
y M Z K Z C Z M
.. . ..
1 = +
)
`

+
)
`

(2.4.45)
Untuk pembahasan awal akan ditinjau pengaruh mode ke-1 saja. Misalnya
diambil struktur yang mempunyai 3-derajat kebebasan, mak perkalian suku pertama
pers. 2.4.45 sebenarnya adalah berbentuk,
{ }

(
(
(

(
(
(

..
3
..
2
..
1
33 32 31
23 22 21
13 12 11
2
2
1
31 12 11
0 0
0 0
0 0
Z
Z
Z
m
m
m



(2.4.46)

Menurut contoh sebelumnya telah terbukti bahwa hubungan orthogonal akan
terbukti apabila i tidak sama dengan j. dengan demikian untuk mode ke-1 pers.
2.4.46 akan menjadi,
{ }
..
1
3
2
1
2
2
1
31 12 11
0 0
0 0
0 0
Z
m
m
m

(
(
(

(2.4.47)
Untuk mode ke-j secara umum persamaan 2.4.47 juga dapat ditulis dengan,
{ } | |{ } j
j
T
j
Z M
..
(2.4.48)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Cara seperti diatas juga berlaku untuk suku ke-2 dan ke-3 pada persamaan
2.4.43 Dengan demikian setelah diperhatikan hubungan orthogonal pers. 2.4.45 akan
menjadi,
{ }| |{ } { } | |{ } { } | |{ } { } | |{ }
.. . ..
1
t
T
j
j
j
T
j
j j
T
j j
y M K Z C Z M
Z
j
= + + (2.4.49)

Pers. 2.4.49 adalah persamaan deferensial yang bebas/independent antar satu
dengan yang lain. Persamaan tersebut diperoleh setelah diterapkannya hubungan
orthogonal, baik orthogonal untuk matriks massa, matriks redaman dasn matriks
kekakuan. Sekali lagi bahwa apabila i tidak sama dengan j maka perkalian suku-suku
pada pers. 2.4.45 akan sama dengan nol, kecuali untuk i =j. Dengan demikian untuk
n-derajat kebebasan independent/ uncoupling. Dengan sifat-sifat seperti itu maka
penyelesaian persamaan diferensial dapat diselesaikan untuk setiap pengaruh
mode.
Berdasarkan pers. 2.4.49 maka dapat didefenisikan suatu generalisasi
massa (generalized mass), redaman dan kekakuan sebagai berikut,
{ } | | { }
{ } | | { }
{ } | | { }
j
T
j
j
j
T
j
j
j
T
j
j
K
C
M
KC
C
M



=
=
=
*
*
*
(2.4.50)
Misalnya bangunan bertingkat-3, maka orde perkalian matriks pada pers.
2.4.40 adalah 1x3 x 3X3 3x1 =1x1. artinya pers. 2.4.50 adalah satu persamaan
independent untuk mode ke-j. dengan demikian dengan memakai pers. 2.4.50
maka persamaan 2.4.49 akan menjadi,
t
j j j
j
j
j
j
y Z Z
P Z K C M
..
* *
.
*
..
*
= + + (2.4.51)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


dengan,
{ } | | M
T
j
j P
=
*
(2.4.52)
Pada pembahasan sebelumnya diperoleh suatu hubungan bahwa,
j j
j
cr
j
j
M
C
C
C

*
* *
2
= = maka
j j
cr
j
C
C
2
*
=
*
*
2
j
j
j
M
K
= dan
*
*
j
j
j
M
P
= (2.4.53)
Dengan hubungan-hubungan seperti pada pers.2.4.53 tersebut, maka pers.
2.4.51 akan menjadi,
t
j t
j j j j
y Z Z
Z
..
2
. ..
2 = + +

(2.4.54)
dan
{ } | |
{ } | |{ }

=
=
= = =
m
i
i j
m
i
i
j
j
T
j
T
j
j
j
m
m
M
M
j
M
P
1
2
1
*
*

(2.4.55)
Pers. 2.4.55 sering disebut dengan partisipasi setiap mode atau
participation factor, Selanjutnya pers. 2.4.54 juga dapat ditulis menjadi,
..
2
.
2
..
t
j
j
j
j
j
j j
j
j
y
Z
Z Z
= +


(2.4.56)
Apabila diambil suatu notasi bahwa,

= = =
j
j
j
j
j
j
j
j
j
Z
g
dan
Z
g
Z
g , ,
.
.
..
..
(2.4.57)
Maka pers. 2.4.57 akan menjadi,
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


..
.
..
2
2
t
j
j j j j j
y g g
g
= + + (2.4.58)
Pers. 2.4.58 adalah persamaan diferensial yang independent karena
persamaan tersebut hanya berhubungan dengan tiap-tiap mode. Pers. 2.4.58
adalah mirip dengan persamaan diferensial SDOF seperti telah dibahas
sebelumnya.
Nilai partisipasi setiap mode akan dihitung dengan mudah setelah koordinat
setiap mode telah diperoleh. Nilai g
i,
.
g
i dan
..
g i
dapat dihitung dengan integrasi
secara numerik. Apabila nilai tersebut telah diperoleh maka nilaiZ
i
dapat dihitung.
Dengan demikian simpangan horizontal setiap tingkat akn dapat dihitung


2.4.5.2Getaran bebas tanpa redaman
Untuk membahas pemakaian modal analis pada struktur getaran bebas tanpa
redaman, maka perlu dikemukakan prinsip-prinsip pokok yang akan dilakukan.
Seperti telah disampaikai pada pers. 10.1) bahwa simpangan struktur dapat diperoleh
dengan menjumlahkan produk antara koordinat normal modes dengan faktor
amplitudo Z untuk setiap mode yang ada. Untuk itu disamping normal modes, faktor
amplitudo tersebut harus dicari terlebih dahulu. Prinsip tersebut dapat dinyatakan
seperti pada persamaan 10.2) di atas yaitu,
{Y} =[]{Z}

Dengan demikian maka faktor amplitudo Z adalah,
{Z} =[]
-1
{Y}
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


dengan []
-1
adalah nilai inverse atas modal matriks dan {Y} adalah vektor
simpangan horisontal.
Prinsip pemakaian getaran bebas pada modal analis ini dapat dilakukan
dengan memberikan nilai-nilai simpangan awal yang kemudian dinyatakan dalam
vektor simpangan {Y} pada persamaan 10.34) tersebut. Apabila faktor amplitudo Z
akibat adanya simpangan awal seperti pada persamaan 10.34) telah dihitung, maka
respon struktur / simpangan struktur dapat diperoleh dengan substitusi kembali
persamaan tersebut ke dalam pers 10.23).
Secara manual, yang menjadi masalah adalah bagaimana memperoleh nilai
inverse atas modal matriks []
-1
seperti pada persamaan 10.34). Nilai tersebut salah
satunya dapat diperoleh dengan memperhatikan generalized mass matrix sebagai
berikut,
[M*] =[]
T
[M][]
dengan [] adalah modal matriks.
Dari persamaan 10.35) maka akan diperoleh,
[]
-1
=[M-]
-1
[]
T
[M]

Suatu alasan mengapa generalized mass matrix dipakai karena matriks massa adalah
matriks diagonal sehingga perkalian matriks dapat dilakukan secara lebih mudah.
Generalized mass matrix seperti tersebut pada persamaan 10.36) juga merupakan
matriks diagonal sehingga nilai inverse matriksnya dapat dilakukan dengan mudah.
Apabila nilai inverse modal matrix seperti pada persamaan 10.36) telah dihitung
maka faktor amplitudo Z seperti pada pers. 10.34) dapat dihitung.

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.






















Gambar 2.7. Respon struktur MDOF akibat getaran bebas (tanpa redaman)
2.4.5.3 Getaran bebas dengan redaman .
Apabila pembahasan di atas diperhatikan maka hitungan yang relatif panjang
adalah dalam rangka menghitung nilai inverse modal matriks []
-1
. Untuk mencari
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


nilai tersebut sebetulnya dapat dipakai cara yang lain yang relatif lebih mudah. Untuk
itu pembahasan akan dimulai dari persamaan,
Y =
1
Z
1
+
2
Z
2
+
3
Z
3
+............. +
n
Z
n

Apabila pers. 10.40) dikalikan awal (premultiply) dengan
j
T
M maka,
n n
T
j
T
j
T
j
T
j
T
j
Z M Z M Z M Z M MY + + + + = ...
3 3 2 2 1 1

Pada pembahasan hubungan orthogonal telah diketahui bahwa perkalian pada
suku-suku ruas kanan pers. 10.41) akan sama dengan nol kecuali untuk koordinat
yang subskribnya sama. Dengan demikian pers. 10.41) akan menjadi,
j j
T
j
T
j
Z M MY = , maka
Z
j
= Y
M
M
j
T
j
j


Dengan logika yang sama juga akan diperoleh hubungan,

j
= Y
M
M
j
T
j
j


Dengan memperhatikan persamaan 10.34) maka vektor modal amplitudo {Z}
j
dapat
diperoleh dengan,
{Z}
j
= []
-1
{Y}
j

Pers. 10.44) juga berarti bahwa melalui nilai inverse modal matriks maka akan dapat
diperoleh modal amplitudo, Z
j
yaitu modal amplitudo untuk tiap-tiap mode.
Selanjutnya dengan memperhatikan pers. 10.42) dan 10.44) maka diperoleh
hubungan,

1
] [
] [ ] [ ] [
] [ ] [

=

M
M
T
T

Senada dengan pers. 10.37), maka untuk struktur MDOF yang mempunyai redaman,
modal amplitudo Z
j
dapat dihitung berdasarkan,
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Z
j
=

) ( sin
) 0 (
) ( cos ) 0 (
,
t
Z
t Z e
j
j d
j
j j
t
j



Langkah yang pertama adalah menghitung modal amplitudo awal Z
j
(0) dan modal
kecepatan awal Z
j
(0).





















Gambar 2.8 Respon struktur MDOF akibat getaran bebas (dengan redaman)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


2.4.5.4 Persamaan differensial dependen kouplling
Seperti telah dibahas sebelumnya, pada struktur bangunan derajat kebebasan
banyak (multi degree of freedom/ MDOF) umumnya akan mempunyai persamaan
diferensial gerakan banyak derajat kebebasan yang ada. Persamaan diferensial
gerakan pada struktur MDOF akibat beban dinamik dapat ditulis dalam bentuk
matriks yang kompak yaitu,
[M] {} + [C] } {Y

+[K] {Y} =P(t)


dengan [M], [C] dan [K] berturut-turut adalah matriks massa, matriks redaman dan
matriks kekakuan, {}, {} dan {Y} berturut-turut adalah vektor percepatan, vektor
kecepatan dan vektor simpangan dan P(t) adalah beban dinamik.
Apabila struktur dengan derajat kebebasan banyak tersebut dikenai dengan
beban gerakan tanah atau beban gempa bumi maka persamaan diferensial gerakan
yang ada menjadi,
[M] {} + [C] } {Y

+[K] {Y} =- [M] {1}


b
Baik pers. 11.1) dan pers. 11.2) sebetulnya terdiri atas beberapa / banyak
persamaan yang sering terkait antara persamaan satu dengan persamaan yang lain.
Seprti disebut sebelumnya persamaan itu disebut coupled equations atau dependent
equations.






Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



2.4.5.5 Penyelesaian persamaan differensial gerakan.
Sebagaimana disampaikan sebelumnya bahwa respon yang paling penting di
dalam persoalan analisis dinamik struktur (baik SDOF maupun MDOF) adalah
simpangan horisontal tingkat. Dengan diketahuinya simpangan horisontal tingkat,
maka gaya geser tingkat dan momen guling struktur dapat dihitung. Pendekatan yang
dipakai pada penyelesaian persamaan differensial suatu permasalahan yang sudah
kompleks adalah pendekatan numerik tahap demi tahap (step by step).
Selain jenis beban, durasi beban, step integrasi t maka jumlah derajat
kebebasan akan bertambah volume pekerjaan. Kombinasi dari durasi beban yang
panjang, step integrasi yang kecil dan derajat kebebasan yang banyak akan menuntut
memori komputer yang cukup besar. Banyaknya massa / derajat kebebasan juga akan
berakibat pada munculnya banyak pola / ragam goyangan / mode shapes
sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Terdapat beberapa cara yang dapat dipakai
untuk menyelesaikan persamaan differensial gerakan yang kesemuanya mempunyai
kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

2.4.5.6 Metode - Newmark (incremental formulation)
Metode -Newmark seperti yang telah dibahas sebelumnya dapat dipakai
untuk keperluan integrasi persamaan differensial coupled struktur MDOF secara
langsung. Metode -Newmark yang dimaksud misalnya adalah metode yang
berdasar pada incremental method. Sebagaimana dibahas sebelumnya tersebut
banyak untuk struktur yang berperilaku linier inelastik ataupun non-linier inelastik,
maka perlu dikembangkan model integrasi yang dapat mensimulasikan perubahan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


kekakuan menurut fungsi dari waktu. Urutan perumusan metode ini selengkapnya
telah dibahas sebelumnya.
Pada metode -Newmark, persamaan differensial yang berlaku pada interval
yang ditinjau adalah seperti pers. 7.57) dan apabila ditulis kembali adalah,
i
i i p u k u c u m = + +
. ..

Apabila beban dinamik yang dipakai adalah beban gempa maka untuk
struktur MDOF pers. 11.3) tersebut adalah,
i b i i u M u K u C u M ,
.. . ..
} { ] [ ] [ ] [ = + +
Perlu diingat bahwa pada Metode -Newmark memakai perjanjian notasi
untuk perubahan simpangan y, perubahan kecepatan dan perubahan percepatan
y adalah.
i
i i i i i
i i i
u u u u y u u u u u = = = + +
+
1
.. .. .
1
. .
1
, ,
Sedangkan perubahan intensitas pembebanan pada interval yang ditinjau
adalah,
p
i
= p
i+1
- p
i

Untuk struktur MDOF akibat beban gempa bumi, maka
p
i
= {M} ) (
,
1 ,
..
i b
i b u u +
Untuk memulai integrasi numerik tersebut maka pers. 7.66) ditulis kembali
yaitu,
i i
i
i u u
t
u
t
u
.. .
2
..
2
1
) (
1
) (
1

=
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


yang mana
..
u
1
adalah perubahan percepatan pada langkah ke-i. Sedangkan
perubahan kecepatan pada langkah yang sama
.
u
1
menurut pers 7.76) adalah,
i i
i
i u u
t
u
t
u
.. .
2
.
2
1
) (
1
) (
1

=
Kemudian berdasarkan pers. 7.71) perubahan simpangan dapat dicari dengan
persamaan,
u
i
=
k
p
i



yang mana,
)
`

+ =
2
) (

t
m
t
c
k k


i i
i i i
u b u a p p p
.. .
1
) ( + + =
+

Untuk struktur MDOF akibat beban gempa bumi, maka persamaan 11.12)
akan menjadi,
i i i b i b
i
u b u a u u M p
.. .
,
..
1 ,
..
) ( } { + + = +
Nilai a dan b pada pers. 11.12) tersebut adalah,
a = , ) 1
2
(
2
1
,
1
)
`

+ =
)
`

c t m b c m
t


Selanjutnya simpangan, kecepatan dan percepatan pada akhir interval adalah,
u
i+1
=uy
i
+ u
i
1
. .
1
.
u u u i i + = +
1
.. ..
1
..
u u u i i + = +
Tahapan-tahapan integrasi numerik metode -Newmark sebagai berikut:
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


1. nilai k, m, dan dt diketahui.
2. Disusun matrix massa [M], matrix redaman [C] dan matrix kekakuan [K].
3. Dihitung nilak k, nilai a dan b.
4. Dihitung nilai p
i
, u
i
, u
i ,
dan u
i.

5. Dihitung simpangan, kecepatan dan percepatan pada akhir interval
u
i+1
=uy
i
+ u
i
1
. .
1
.
u u u i i + = +
1
.. ..
1
..
u u u i i + = +

2.4.6 Persamaan difrensial struktur mdof akibat base motion
Pada analisa struktur MDOF akibat base motion (getaran fondasi) akan
berlaku juga prinsip bangunan geser. Bangunan geser dapat didefinisikan dimana
sebagai struktur dimana tidak terjadi rotasi (putaran) pada penampang horizontal
bidang lantainya. Balok-balok bagi struktur diandaikan kaku tak terhingga
dibandingkan dengan tiang-tiang. Keadaan ini lebih mendekati untuk struktur-
struktur dimana kelakuan bagi balok secara relative adalah cukup besar dibandingkan
kekakuan tiang-tiang, supaya putaran yang nyata pada bagian atas tiang dapat
ditahan. Dalam cara ini bangunan akan berkelaluan seperti balok terjepit dibebani
oleh gaya geser.
Untuk mencapai kondisi tersebut pada bangunan, harus dianggap bahwa:
1.Massa total dari struktur terpusat pada bidang lantai,
2.Balok pada lantai kaku tak hingga dibandingkan dengan tiang,
3.Deformasi dari struktur tak dipengaruhi gaya aksial yang terjadi pada tiang.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Anggapan pertama, mentransformasikan struktur dengan derajat kebebasan
tak hingga (akibat massa yang terbagi pada struktur) menjadi struktur dengan hanya
beberapa derajat kebebasan sesuai dengan massa yang terkumpul pada bidang lantai.
Anggapan kedua, menyatakan bahwa hubungan antara balok dan tiang, kaku
terhadap putaran (rotasi). Dan anggapan ketiga memungkinkan terjadinya keadaan
dimana balok kaku tetap horizontal sewaktu bergerak.
Beban pada struktur dapat berupa beban yang bekerja pad titik kumpul (nod
load) maupun beban yang bekerja pada elemen (elemen load). Beban pad struktur
tersebut dapat berupa beban static maupun beban dinamik. Pada kasus gempa bumi,
bebannya adalah beban inersia. Gaya ini tidak ditentukan melainkan tergantung
kepada respon percepatan struktur.
Pada gambar di bawah ini, dapat dilihat gambar struktur sederhana bangunan
tiga lantai yang mengalami beban akibat base motion.
J ika pergerakan tanah dinotasikan dengan u
g
, total perpindahan (diplacement
absolute) massa m
j
dengan u
t
j
dan perpindahan relatif antara massa dengan tanah
adalah u
j
. Sehingga perpindahan dapat dirumuskan dengan hubungan sebagai
berikut,
u
t
j
(t)=u
j
(t) +u
g
(t) (2.4.9)
J ika a dan N massa maka persamaan tersebut dapat dikombinasikan di dalam
bentuk vector sebagai berikut:
u
t
(t)=u(t)+u
g
(t)1 (2.4.10)
dimana 1 adalah sebuah vector orde N yang sesuai dengan masing-masing elemen.
Sedangkan persamaan kesetimbangan seperti pada persamaan sebelumnya tetap
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


berlaku, dimana p(t) = 0 karena tidak ada gaya luar yang bekerja. Sehingga
persamaan tersebut menjadi:
f
l
+f
D`
+f
S
=0 (2.4.11)
jika u adalah gerak relatif antara massa dan struktur bawah, maka gaya inersia akan
menjadi total percepatan terhadap massa atau :
f
l
= m
t

(2.4.12)
Dengan mensubstitusikan persamaan tersebut dengan persamaan yang ada
pada SDOF sistem yang masih berlaku untuk system linear maka akan diperoleh
hubungan sebagai berikut :
m+cu+ku=m|
g
(t) (2.4.13)
dimana, u
g
(t) =percepatan tanah
m
j
(t) =gaya luar
Ground motion dapat disebut juga gaya gempa efektif yang di tuliskan
sebagai berikut: P
eef
(t)=-m|
g
(t)
(2.4.14)

2.5 Respon Spectrum.
Spectrum respon adalah suatu spectrum yang disajikan dalam bentuk grafik /
plot antara periode getar struktur T, lawan respon-respon maksimum berdasarkan
rasio redaman dan gempa tertentu. Respon-respon maksimum dapat berupa
simpangan maksimum (spectrum displacement, SD) kecepatan maksimum (spectrum
velocity, SV) atau percepatan maksimum (spectrum acceleration, SA) massa struktur
SDOF.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Terdapat dua macam respon spectrum, yaitu spectrum elastik dan spectrum
inelastic. Spectrum elastik adalah suatu spectrum yang didasarkan atas respon elastik
struktur, sedangkan spectrum inelastic (juga disebut disain spectrum respon) adalah
spectrum yang di scale down dari spectrum elastik dengan nilai daktailitas tertentu.
Nilai spectrum dipengaruhi oleh periode getar, rasio redaman, tingkat
daktailitas dan jenis tanah. Penyelesaian persamaan yang ada pada SDOF dan
MDOF pada tugas akhir ini akan diselesaikan dengan metode respon spectrum.
Metode ini tidak termasuk time history analisis, karena hanya nilai-nilai maksimum
sajalah yang dihitung. hal ini dimungkinkan karena nilai-nilai spectrum respon
(simpangan, kecepatan dan percepatan ) tersebut adalah nilai-nilai maksimum






Gambar 2.9. Spektrum Respon dan Design Spectrum Respon

Telah disajikan pada Peraturan Perncanaan Bangunan Tahan Gempa Indonesia
Untuk Gedung (SNI 03 1726 2003), bahwa di Indonesia terdapat 6 daerah gempa.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Pembagian daerah gempa ini didasarkan pada frekuensi kejadian dan potensi daya
rusak gempa yang terjadi pada daerah tersebut.
Daerah gempa-I adalah daerah gempa terbesar sedangkan daerah gempa-VI
adalah daerah gempa paling kecil.
Pembagian daerah gempa tersebut adalah seperti pada gambar 2.10

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Gambar 2.10 Pembagian daerah gempa (SNI 03 1726 2003)
Spektrum respon dalam hal ini adalah plot antara koefisien gempa dasar C
dengan periode getar struktur T. Secara umum dapat dikatakan bahwa koefisien
gempa dasar C utamanya dipengaruhi oleh daerah gempa, periode gatar struktur T
dan jenis tanah. Untuk setiap respon spektrum disajikan juga pengaruh kondisi tanah,
yaitu spektrum untuk tanah keras dan tanah lunak. Definisi tanah keras dan tanah
lunak dapat didekati menurut beberapa kriteria. Kriteria yang dapat dipakai untuk
menentukan jenis tanah ini diantaranya adalah jenis dan kedalaman tanah endapan,
nilai N-SPT, nilai undrain shear strength, cu, atau kecepatan gelombang geser Vs
Selanjutnya tiap-tiap daerah gempa akan mempunyai spektrum respon
sendiri-sendiri, seperti pada gamba berikut:
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.





Gambar 2.11. Spektrum respon untuk masing-masing daerah gempa.

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


2.5.1 Modal amplitude Z
j
dan modal displacement u
j

Untuk memulai pemakaian metode ini maka perlu diketahui elemen-elemen
yang akan dipakai. Salah satu elemen yang dipakai pada metode ini adalah modal
amplitude, yaitu suatu besar/amplitude yang nilainya tergantung pada nilai mode
shapes. Untuk membahas masalah ini akan dimulai dari simpangan horizontal tingkat
struktur SDOF yang dicari dengan Duhamels Integral. Maka untuk struktur yang
diredam dan di bebani dengan beban gempa persamaan tersebut menjadi:

=
0
1
) (

t u
t
e
-(t-)
sin (t-) d
Dengan
d
adalah damped frequency.
Hal itu terjadi karena terdapat hubungan,
F(t)=m(t) (2.5.2)
Pada struktur MDOF, kontribusi setiap mode ditunjukkan oleh besarnya
partisipasi setiap mode yang dinyatakan sebagai berikut:
j
=
*
*
j
j
M
P
=
j
T
j
j
M
M
} ]{ [ } {
] [ } {



(2.5.3)
Mengingat matriks massa adalah matriks diagonal, maka persamaan di atas juga
dapat ditulis dalam bentuk.
j
=

=
=
m
i
ij i
m
i
ij i
m
m
1
2
1


(2.5.4)

Parsitipasi setiap mode juga berhubungan dengan simpangan atas kontribusi
suatu mode g
j
dengan modal amplitude Z
j
. Dengan demikian modal amplitude Z
j
adalah,
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Z
j
=
j
g
j
(2.5.5)
Simpangan kontribusi pada persamaan di atas pada dasarnya sama atau
senada dengan simpangan horizontal suatu massa. Dengan demikian modal
amplitude Z
j
dapat diperoleh dengan mengikutsertakan parsitipasi setiap mode pada
persamaan (2.5.3), sehingga pada struktur MDOF diperoleh hubungan,
Nilai integral dari persamaan 2.1 akan menghasilkan suatu kecepatan yang
merupakan fungsi dari waktu. Dengan memasukkan kode parsitipasi kedalam
persamaan tersebut maka akan diperoleh kecepatan maksimum untuk mode yang ke-
j, u
j,maks
. Dengan demikian persamaan (2.5.) akan menjadi,
Z
j
=
maks j
j d
j
U
,
,

(2.5.7)
Pada pembahasan tentang respon spectrum diperoleh suatu hubungan bahwa,
PSA =PSV, atau
maks
= u
maks
Maka
maks
u =

maks
u

(2.5.8)
Nilai-nilai kecepatan maupun percepatan maksimum pada persamaan (2.5.8)
di atas sebetulnya adalah sama dengan nilai-nilai kecepatan dan percepatan pada
spectrum respon. Dengan menganggap bahwa
d
nilainya sama dengan, maka modal
amplitude Z
j
, pada persamaan (2.5.7) akan menjadi,
Z
j
=
2
j
j
SA

(2.5.9)

Desain spectrum respon seperti yang disajikan dalam buku Peraturan
Perencanaan Bangunan Tahan Gempa untuk Gedung adalah plot antara koefisien
gempa dasar C dengan periode getar T. Koefisien C tersebut adalah suatu koefisien
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


yang dapat dihubungkan dengan S, sehingga C.g =SA, dengan demikian modal
amplitude Z
j
dari persamaan (2.5.9) menjadi.
Z
j
=
2
.
j
j
g C

(2.5.10)
SA pada persamaan di atas adalah (pseudo) spectral acceleration dan nilai koefisien
gempa dasar C dapat diketahui dengan memakai desain spectrum respon menurut
daerah gempa, jenis tanah dasar dan periode getar struktur T. Dengan demikian, nilai
modal amplitude pada persamaan (2.5.10) dapat dihitung dengan menggunakan
desain spectrum respon. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa simpangan total
suatu masalah adalah prodak antara modal matriks dengan factor amplitude Z
j
.
Dengan demikian, modal displacement massa ke-j, U
ij
adalah,
U
ij
=
ij
Z
j
2
j
j
j ij ij
g C
U

= (2.5.11)
Setelah modal displacement U
ij
diperoleh, maka simpangan horizontal tingkat dapat
dihitung. pada prosip SRRS, simpangan horizontal massa ke-I dapat dihitung dengan,
U
i
=
2
n
0
ij
) (U

= j

(2.5.12)

2.5.2 Modal seismic Force F
j

Apabila simpangan tingkat telah diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah
menghitung gaya horizontal tingkat (modal seismic force). Pada analisis dinamik
struktur, simpangan horizontal (modal displacement), gaya horizontal tingkat (modal
seismic force ) dan momen tingkat (overtuning moment ) adalah respon-respon
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


elastik penting yang selalu dicari. Kembali pada satu prisip sebagaimana dibahas
sebelumnya bahwa simpangan horizontal massa ke-I kontribusi mode ke-j adalah,
2
j
j
j ij j ij ij
g C
U

= = (2.5.13)
Pada pembahasan spectrum respon diperoleh hubungan persamaan (2.5.13),
sehingga percepatan massa ke-I sebagai kontribusi mode ke-j. U
ij
menjadi,

ij
= U
ij
2
j

ij
=
ij

j
C
j
g (2.5.14)
Dengan demikian gaya horizontal tingkat atau gaya horizontal yang bekerja
pada massa ke-I akibat kontribusi mode ke-j, F
ij
adalah,
F
ij
= M
ij
F
ij
= M
ij

j
C
j
g (2.5.15)
Sama seperti sebelumnya bahwa karena matriks massa adalah matriks
diagonal maka persamaan (2.5.15) dapat ditulis menjadi,
g C
m
m
m g C
M
P
m F
m
i
ij i
m
i
ij i
ij i
j
j
ij i ij
. } { . } {
1
2
1
*
*

=
=
= =

(2.5.16)


Dengan prinsip SRRS maka gaya horizontal tingkat (store seismic force ) F
i

dapat dihitung dengan,

=
=
1 j
ij i
F F (2.5.17)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Modal seismic force pada persamaan (2.5.17) juga dapat dicari dari hubungan
antara kekakuan dan simpangan,
F
ij
= KU
ij

j


2
i
i
i ij ij
g C
K F

= (2.5.18)
Persamaan (2.5.18) adalah sama persamaan (2.5.15) dan oleh karena itu dua-
duanya dapat dipakai. Modal seismic force F
i
juga dapat dicari dengan cara yang lain
yaitu dengan dinyatakan dalam modal base sear V
i
. gaya horizontal pada massa ke-I
akibat mode ke-j. F
ij
pada pers.(2.5.15) atau pers. (2.5.18) juga dapat dinyatakan
dalam berat bangunan W, melalui hubungan M =W/G sehingga diperoleh,
j j ij i j j ij
i
ij
C W g C
g
W
F = = (2.5.19)
Persamaan diatas dapat juga ditulis menjadi,
j ij ij
V S F = (2.5.20)
dimana,

=
=
m
i
ij i
ij i
ij
W
W
S
1

(2.5.21)

=
=
m
i
ij i j j
C W V
1
(2.5.22)


dimana V
j
adalah modal base shear.
Pada Eigen problem didapat suatu hubungan bahwa,
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


M K
2
= (2.5.23)
Dengan hubungan seperti pada persamaan 2.5.17 maka pers.2.5.18 dapat
ditulis menjadi,
2
2
j
j j j j
PSA
M F

= Atau,
Cg M F
j j j
= (2.5.24)

2.5.3 Modal Storey Shear V
ij

Setelah gaya horizontal tingkat kontribusi mode (modal store shear) dapat
diperoleh dengan menjumlahkan gaya-gaya horizontal pada tingkat-tingkat yang
ditinjau. Gaya geser tingkat pada masa ke-I akibat mode ke-j, tersebut adalah,

=
=
m
i
ij ij
F V
1
(2.5.25)
Gaya geser tingkat ke-i kontribusi mode ke-j seperti persamaan diatas dapat
bertanda positif maupun negative tergantung pada mode shapes. Apabila gaya
horizontal tingkat tersebut berlawanan tanda maka arahnya juga saling berlawanan.
Selajutnya gaya geser tingkat total massa ke-I dapat dihitung berdasarkan prinsip
SRSS yaitu,

=
n
) (
i
ij i
V V (2.5.26)




Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


2.5.4 Modal store driff,
i

Setelah modal store shear dihitung maka modal store driff dapat dihitung.
Modal store driff massa ke-I kontribusi modal ke-j,
ij
adalah,
i
ij
ij
k
V
= (2.5.27)
Pada modal store driff juga dihitung dengan memakai kosep SRSS pada
massa ke-I sebagai berikut,

=
=
n
1
2
ij
) (U
i
i
(2.5.28)

2.5.5 Modal lateral displacement U
ij

Modal lateral displacement U
ij
dapat dihitung dengan mejumlahkan modal
store driff seperti pada pers.2.5.27. Modal lateral displacement tersebut adalah,

=
=
m
i
ij ij
U
1
(2.5.29)
Sedangkan menurut prinsip SRSS, store lateral displacement dapat dihitung dengan,

=
=
n
1
2
) (
i
ij i
U U (2.5.30)

2.5.6 Modal overtuning moment (momen guling mode)
Modal seismic force telah dihitung, maka modal overtuning moment pada
massa ke-I kontribusi mode ke-j, M
ij
dapat dihitung dengan,

=
+ +
=
1
0
1 i , 1
h
m
i
j i ij
F M (2.5.31)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Selanjutnya dengan prinsip SRSS, momen guling terhadap level tingkat/massa ke-I
dapat dihitung dengan,

=
=
n
1
2
) (
j
ij i
M M (2.5.32)

2.5.7 Modal base shear V
i

Modal seismic force merupakan elemen-elemen dari modal base shear V
i
, modal
base shear V
ij
adalah total dari modal seismic force sehingga,

= =
= =
m
i
m
i
j j ij i ij j
C W F V
1 1

PSA Ew C w E V
j j j j
= = (2.5.33)
dimana, Ew
j
adalah modal effective weight

2.5.8 Modal effective weight dan modal effective mass
Modal effective weight untuk mode ke-j, Ew
j
, menurut persamaan di atas dinyatakan
dalam,

= =
=
=
= =
m
i
m
i
ij i
m
i
ij i
m
i
ij i
ij i j j
W
W
W
W Ew
1 1
1
1

=
=
=
m
i
ij i
ij
m
i
i
i
m
W
Ew
1
2
2
1
} {

(2.5.34)

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Modal effective weight sebetulnya dapat disajikan dalam modal effective mass
sebagaimana yang dipakai oleh Cloug & Pezie (1992) ataupun Copra (1995).


Dengan demikian modal effective mass mode ke-j, dapat diperoleh dari pers. (2.5.34)
yaitu,
*
2 *
1
2
2
1 ) (
} {
i
i
m
i
ij i
ij
m
i
i
i
MP
P
m
W
Ew =

=
=

(2.5.35)
Modal effective weight Ew
j
atau modal effective mass Em
j
adalah suatu parameter
untuk menentukan hanya beberapa mode yang boleh dipakai pada hitungan/analisis
respon struktur akibat beban gempa. Menurut buku Peraturan Perencanaan tahan
Gempa untuk Gedung (PPTGIUG) 1983 meyatakan bahwa jumlah mode yang harus
dipakai untuk menghitung respon struktur adalah paling tidak telah memberikan 90%
dari energi gempa. Sebagaimana diketahui bahwa mode-mode yang lebih tinggi
relative sulit dicari tetapi kontribusinya terhadap respon struktur relative rendah.
Oleh karena itu kontribusi mode-mode yang lebih tinggi dapat diabaikan asalkan
secara keseluruhan paling sedikit 90% energi gempa telah diakomodasi.
Chopra mengatakan bahwa modal effective heigh h
j
dapat dihitung dengan,
*
1
i
*
j
h
h
j
m
i
ij i
j
j
P
m
P
P

=
= =

(2.5.36)



Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.










BAB 3
ANALISA METALLIC YIELDING DAMPER PADA BANGUNAN

3.1 Umum
Gempa bumi merupakan salah satu bagian daripada jenis beban yang dapat
membebanni struktur selain beban mati, beban hidup dan beban angin. Beban gempa
memang tidak selalu diperhitungkan dalam perencanaan atau analisa struktur.
Namun bagi struktur yang dibuat pada suatu lokasi dimana gempa bumi dapat terjadi
maka analisa ini harus dibuat. Pada perencanaan bangunan, parameter gempa bumi
yang langsung mempengaruhi perencanaan adalah percepatan tanah yang
ditimbulkan gelombang seismic yang bekerja pada massa bangunan. Kedalaman
pusat gempa bumi, jarak episenter ke daerah yang dituju, sistem pondasi, massa dan
geometri bangunan dan lain sebagainya.
Gempa menyebabkan permukaan tanah bergetar secara horizontal dan
vertikal, tanah yang bergetar akibat gempa akan mengakibatkan bangunan yang
berada di atas tanah ikut bergetar. Kerusakan bangunan sering terjadi akibat
peristiwa gempa bumi, khususnya pada daerah-daerah tertentu. Di Indonesia
merupkan daerah yang rawan gempa sehingga kerusakan kerusakan struktur
bangunan di Indonesia tidak dapat dihindari bila terjadi gempa yang cukup besar.
Besarnya tingkat pembebanan gempa berbeda-beda dari suatu wilayah ke wilayah
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


lain tergantung pada keadaan seismotektonik geografi dan pada geologisetempat.
Analisa gempa terutama pada bangunan perlu dilakukan karena pertimbangan.
Untuk itu perlunya gerakan preventif aktif dalam menghadapi gempa bumi
pada kerusakan bangunan akibat gempa bumi agar dapat diantisipasi dengan
beberapa metode, baik secara konvensional maupun secara teknologi sekarang ini
para ahli telah menemukan sistem seismic devices. Beberapa dekade belakangan ini
muncul upaya untuk mengatasi hal hal tersebut, yaitu dengan memberikan alat
tambahan pada struktur, untuk membatasi energi atau mendissipasi energi gempa
yang masuk ke bangunan. Alat tersebut dikenal dengan seismic device seperti yang
telah dikemukakan di atas tersebut. Dengan menambah alat tersebut diharapkan
energi gempa yang masuk ke bangunan dapat direduksi dan dikontrol sehingga gaya
gaya dan simpangan struktur menjadi kecil. Dengan demikian bangunan dapat
direncanakan dalam keadaan elastis dengan biaya yang cukup ekonomis. Untuk tugas
akhir ini akan dibahas masalah alat metallic yielding damper.

3.2 Konsep Perencanaan Struktur Tahan Gempa.
Konsep perencanaan struktur tahan gempa ada dalam dua cara yaitu konsep
perencanaan konvensional dan konsep secara teknologi. Pada kedua konsep ini
tujuannya adalah agar struktur bangunan tidak mengalami kerusakan yang fatal atau
agar dapat mengurangi kerusakan pada struktur bangunan sesuai yang telah
ditentukan pada peraturan atau toleransi yang telah ditetapkan. Konsep ini memiliki
kekurangan maupun kelebihan pada masing-masing fungsinya.
Adapun dalam konsep perencanaan secara konvensional menggunakan
filosofi bahwa :
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


1. Bila terjadi gempa kecil struktur masih elastis
2. Bila terjadi gempa sedang struktur masih elastis, tapi terjadi
kerusakan non struktual.
3. Bila terjadi gempa besar, akan terjadi deformasi plastis tapi tidak
terjadi keruntuhan.
Untuk menjamin tidak terjadi keruntuhan sewaktu gempa besar struktur harus
daktail, hal ini dapat dilakukan dengan pembentukan sendi plastis yang cukup daktail
pada lokasi tertentu. Lokasi pembentukan sendi-sendi plastis biasanya dipilih pada
tumpuan balok. Pembentukan sendi-sendi plastis pada struktur akan menimbulkan
kerusakan-kerusakan, bila kerusakan masih dalam batas tertentu masih dapat
diperbaiki, tapi teknik perbaikan biasanya cukup sulit yaitu perlu waktu dan biaya
yang cukup besar.
Pada konsep secara teknologi yaitu dengan memberikan alat tambahan pada
struktur, untuk membatasi energi atau mendissipasi energi gempa yang masuk ke
bangunan, alat tersebut dikenal dengan Seismic Device. Untuk struktur yang
dipasang metallic yielding damper direncanakan sebagai sumbu dari struktur, bila
terjadi gempa besar damper akan rusak dengan deformasi plastis yang cukup besar.
Struktur utama tetap elastis untuk gempa besar. Ketika damper mengalami
kerusakan, dengan melepaskan damper yang rusak sewaktu pergantuan damper yang
baru, bangunan tetap akan kembali pada keadaan awal. Untuk penggunaan damper
dalam proses pemasangan, perbaikan, dan perbaikan cukup ekonomis dibandingkan
dengan pada konsep secara tradisional. Hanya saja pada metallic damper ada
beberapa kekurangan yaitu antara lain hanya berfungsi jika terjadi gempa besar, akan
merubah tampak bangunan yang direncanakandan lainnya. Oleh sebab itu perlu
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


pemakaian sistim ini harus tepat agar efisien dalam penggunaannya dalam struktur
bangunan.

3.3 Peran Damper Terhadap Getaran.
Damper merupakan alat dissipasi energi yang berfungsi memperkecil respon
simpangan struktur dan menghentikan getaran, agar simpangan simpangan antar
tingkat dapat diperkecil sehingga gaya lateral kolom menjadi kecil.
Damping dalam struktur disebut juga inherent damping, yaitu damping yang
berasal dari gesekan antara struktur dengan bagian non struktur, geseran udara dan
tutup bukanya penampang beton yang retak, dan plastisitas bahan setelah struktur
mengalami deformasi. Besarnya damping tersebut sekitar 1% sampai 5% begantung
jenis dan kekakuan struktur.
Bila struktur tanpa damping, getaran struktur tidak akan berhenti seperti
kurva berikut ( untuk struktur sistim massa tunggal):

Gambar 3.1. Getaran Bebas Dengan Damping

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Getaran bebas tanpa damping pada kurva di atas dengan 0% damping,
Ampliytudo getaran akan tetap dan akan berulang ulang tanpa berhenti. Sedangkan
getaran dengan damping 5% dan 10% amplitude getaran semakin kecil terhadap
waktu. Dari kurvakita lihat semakin besardamping maka amplitude getaran akan
semakin kecil dan cepat berhenti bergetar.
Hal ini tidak terjadi pada keadaan sebenarnya, getaran bagaimanapun akan
berhenti pada suatu waktu tertentu, berhentinya getaran disebabkan dissipasi energi
dari getaran, factor yang menyebabkan dissipasi energi dinamakan damping atau
redaman dari suatu sistim getaran.

3.4 Metallic Yielding Damper.
Seismic devices adalah alat yang dipasang pada bangunan untuk membatasi
energi atau mendisipasi energi gempa yang masuk ke bangunan seperti yang sudah
dijelaskan tadi. Seismic devices bekerja dengan merubah kekakuan, damping dan
menambah massa ke struktur. Pemakaian seismic devices tidak hanya terbatas pada
struktur bangunan gedung saja, juga bias digunakan juga pada jembatan, tangki
penimbunan dan lainnya.
Seismic devices pada umumnya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Actived seismic devices
2. Passived seismic devices
Actived seismic devices bekerja dengan menerima maukan data getaran dari
sensor yang dipasang pada sekeliling struktur. Melalui computer, data tersebut
digunakan untuk mengatur gerakan sesuai dengan input gempa ke bangunan.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Passived seismic devices bekerja setelah energi gempa masuk ke struktur,
pada umumnya reaksi seismic devices semakin besar bila respon struktur atau energi
yang masuk semakin besar. Passived seismic devices sesuai fungsinya secara garis
besar dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu bersifat isolasi (seismic isolator) dan yang
bersifat dissipasi energi (damper).
Damper merupakan alat tambahan yang dipasang distruktur untuk menambah
redaman (damping) dari suatu struktur. Dengan alat ini simpangan pada struktur akan
berkurang, demikian juga gaya dalam struktur akibat beban lateral, struktur dapat
direncanakan secara elastis akibat gempa besar dengan biaya yang cukup ekonomis.
Ada beberapa damper yang dipasang pada struktur, adalah system seismic
device yaitu dengan menggunakan alat yielding damper disebut juga hysterestic-yield
damper yaitu bekerja dengan mendissipasi energi melalui pembentukan sendi plastis
atau pelelehan bahan damper. Yielding damper yang dibahas dalam tugas akhir ini
adalah damper pelat dengan kekakuan bi-linier , yaitu jenis damper dengan dissipasi
energi melalui pelelehan lenturan pelat. Pelelehan bahan yielding damper dapat
berupa pelelehan oleh mamen lentur, momen puntir, ataupun berupa tekuk pada
batangan baja. Bahan yang sering digunakan adalah baja lunak dan timah. Damper
jenis ini merubah kekakuan dari keadaan elastis menjadikeadaan plastis (yielding).
Pelelehan damper adayang berupa pelelehan lentur, geser atau secara axial (tekuk).
Damper merupakan alat dissipasi energi yang berfungsi memperkecil respon
simpangan struktur dan menghentikan getaran, agar simpangan simpangan antar
tingkat dapat diperkecil sehingga gaya lateral kolom menjadi kecil seperti yang telah
dijelaskan di atas.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Gambar 3.2. Metallic Yielding Damper

Damper
pada struktur bangunan
Pemodelan "Added Damping and Stiffness Damper"
Gempa
Energi Gelombang

Gambar 3.3. Pemodelan Yielding Damper Pada Bangunan

Damper jenis ini memerlukan simpangan yang besar untuk meleleh, makin
besar simpangan pasca pelelehan makin besar damping yang timbul. Persamaan
getaran untuk bangunan SDOF untuk damper jenis ini adalah :
m + c + k(u) u = -m
g

dimana :
m = massa bangunan
c = konstanta damping struktur
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


k(u) = kekakuan sebagai fungsi dari displacement
= percepatan massa
= kecepatan massa
u = simpangan massa

g
= percepatan gerakan tanah dasar.

Fungsi kekakuan k(u) merupakan kekakuan dari bangunan dan damper,
biasanya disederhanakan dengan model bilinier yaitu bagian awal garis lurus yang
bebentuk garis lurus yang berbentuk garis lurus dengan garis agak mendatar setelah
damper menjadi plastis.
Bentuk Hysteric Loop adalah pada gambar berikut :

Gambar 3.4. Hysteristic Loop Yield Damper.

Bila gaya yang bekerja pada damper adalah gaya siklik atau gempa,
hubungan gaya dan simpangan akan berbentuk loop jajaran genjang yang disebut
juga dengan hysteristic loop. Luas hysteristic loop merupakan energi yang didissipasi
oleh damper . Struktur yang memakai metallic damper akan merubah persamaan
dinamis menjadi persamaan non-linier, Untuk menghindari kesulitan perencanaan
dengan metode riwayat waktu gempa yang lebih kompleks dan memerlukan waktu
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


yang lebih lama , dipakai model pendekatan linier viscous damping untuk
menggantikan model non-linier . Model pengganti linier equivalent tersebut
memakai konsep equivalent viscous damping dengan menyamakan luas loop b-ilinier
dengan luas loop bentuk ellips dari linier viscous damping.



3.5 Kekakuan Dan Daktailitas Pelat Damper
Tujuan pemakaian damper adalah untuk menjamin struktur utama tetap
dibebani dalam batas elastic baik terjadi gempa kecil maupun terjadi gempa besar.
Beban gempa yang lebih besar dari beban beban yang dapat dipikul secara elastis
oleh damper, untuk itu damper harus memiliki kekakuan dan daktailitas yang cukup
besar.
Damper direncanakan dalam keadaan elastic entuk gempa kecil, sedangkan
untuk gempa besar damper akan berprilaku secara inelastic. Hal ini untuk
menghindari terjadinya kerusakan dan penggantian damper setelah terjadi gempa
kecil dan sedang. Besarnya daktailitas akan mempengaruhi besarnya damping
melalui hysteric loop, makin bsar daktailitas makin luas hysteric loop yang terbentuk.
Besarnya kekakuan damper mempengaruhi besarnya gaya gempa yang dipikul oleh
damper dan batas beban gempa yang dapat dipikul secara elastic tanpa menimbulkan
kerusakan pada damper.
Keperluan daktilitas yang besar dari pelat damper dapat dianggap seperti
berikut, tijau suatu sistim SDOF dengan pelat damper . struktur dalam keadaan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


plastis dibawah pembebanan secara lateral, dengan deformasi simpangan sebesar u,
putaran sudut penampang kolom adalah:
H
u
k
= , damper mengalami simpangan yang sama dengan struktur sebesar :
h
u
d
=
Keperluan daktilitas penampang untuk mendapatkan putaran sudut damper
d
dengan pembentukan sendiplastis di ujung pelat damper saja tidak mencukupi,
pada pelat damper harus direncanakan tambahan titik sendi plastis.
Berikut gambaran penjelasan tersebut di atas:

Gambar 3.5. Deformasi Plastis struktur SDOF



Beberapa hal-hal yang mempengaruhi kekakuan dan daktailitas pelat damper
antara lain :
1. Daktailitas bahan pelat.
2. Pengaruh bentuk pelat.
3.5.1 Daktailitas bahan pelat
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Daktailitas adalah sifat dari kemampuan bahan yang mengalami deformasi
yang besar tanpa mengalami deformasi yang besar tanpa mengalami kerusakan.
Daktailitas bahan biasanya ditentukan oleh dformasi aksial tarik, dari kuva hubungan
tegangan dan regangan baja (gambar 3.3.a), sifat regangan regangan baja dapat
dibagi dalam 3 bagian, yaitu bagian elastis, plastis dan strength hardening (gambar
3.3.b).
Ke-3 bagian mempunyai karakteristik yang berbeda. Bagian elastic
mempunyai hubungan yang linear antara regangan dan tegangan sampai batas
tegangan leleh. Bagian plastis dengan tegangan lebih tetap sebesar tegangan leleh
sampai batas titik B. sedangkan bagian strength hardening mempunyai hubungan
tegangan yang tidak linier sampai regangan putus.
Pada gambar 3.2.c adalah idealisasi kurva tegangan-regangan sampai titik B . bentuk
idealisasi hubungan tersebut digunakan untu perencanaan plastis, dan titik B
merupakan regangan batas rencana. Bagian kurva setelah titik B adalah bagian
strength hardening, umumnya diabaikan dalam perencanaan plastis dan dapat
dianggap sebagai keamanan struktur. Panjang regangan elastic dari titik A sampai
titik B sekitar 15 kali panjang regangan elastic sampai titik A untuk baja lunak (Mild
Steel),perbandingan panjang tersebut didefinisikan sebagai daktailitas tarik atau
daktailitas regangan dari bahan
e
.

Adapun gambar dari ilustrasi adalah sebagai berikut:
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.





Gambar 3.6. Hubungan Tegangan dan Regangan Baja Daktilitas Bahan Pelat

3.5.2 Pengaruh bentuk pelat
Untuk metallic yielding damper ada beberapa bentuk pelat. Bentuk-bentuk
dari plat damper tersebut adalah :
1. Bentuk segi-4
2. Bentuk segi-3
3. Bentuk X
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Untuk pembahasan dalam tugas akhir ini adalah pelat damper bentuk X.




a. Daktailitas lentur pelat damper.


Gambar 3.7. Bentuk Pelat , Deformasi, dan Bidang Momen Pelat
Damper
Damper dengan pelat bentuk X pada gambar merupakan gabungan 2 buah
damper segitiga. Untuk damper bentuk ini, perhitungan deformasi dapat dibagi
menjadi 2 bagian segitiga.
Pada pelat damper bagian bentuk segi tiga bila gaya damper f
p
, momen pada
potongan sejauh x dari ujung damper adalah :
M
x
=f
p
x (3.1)
Bila gaya f
p
yang bekerja bertambah besar, dan momen pada sisi terjauh dari
damper mencapai momen leleh M
py
,momen pada potongan x-x adalah,
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


py x
M
h
x
M =
Dengan lebar pelat pada potongan x-x :
b
h
x
b
x
= (3.2)
Dan momen inertia:
h
x
bt I
x
3
12
1
= (3.3)


Tegangan yang terjadi pada penampag x-x :
x
x
I
y M
= (3.4)
Penampang menjadi :
3
12 / 1 bt
y M
py
=
Dari persamaan di atas diperoleh bahwa tegangan dalam penampang
sepanjang adalah sama, karena tegangan dari persamaan tidak tergantung pada
variable x. jadi seluruh penampang sepanjang pelat meleleh pada saat yang
bersamaan, tegangan leleh di serat paling luar dengan y =
2
t
adalah,
2
6 / 1 bt
M
y
= (3.5)

Deformasi keadaan elastis dapat dihitung dari :
y x d
d
u

=
2
2
(3.6)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Dengan

=
y

(3.7)
Dan

2
t
y = (3.8)
Persamaan deformasi menjadi :
Et x d
du
y
2
2
2
= (3.9)

Integerasikan :

1
2
C x
Et dx
du
y
+ =


Dan :
2 1
2
C x C x
Et dx
du
y
+ + =


Dengan kondisi batas : untuk x =0 : u =0 ; diperoleh C
2
=0
Untuk
x =h ; 0 =
dx
du

diperoleh
h
Et
C
2
1
=
Deformasi maksimum keadaan elastis pada setengah bagian damper bentuk X : u
py

( di x =h )
Et
h
u
y
py
2

= (3.10)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Deformasi keadaan elastis untuk damper bentuk X :
Deformasi elastic untuk setengah bagian damper dengan mengganti tinggi
pelat menjadi h/2 dan dikalikan 2 damper bentuk segi tiga dengan tinggi h/2,menjadi
:
u
py = 2

Et
h
2 2
) 2 / (

Deformasi untuk keaadan plastis adalah :
u
py =
Et
h
2
) (
2 2

(3.11)


Demikian juga untuk defleksi pelat keadaan batas, gantikan tinggi pelat h
menjadi h/2 , hasilnya menjadi :
u
py = 2

Et
h
e y
2
) 2 / (


u
py = 2

Et
h
e y
2
2

(3.12)
Daktailitas pelat damper :
e
py
pu
d
u
u
= = (3.13)

b. Kekakuan pelat damper bentuk X.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Kekakuan pelat damper dari keadaan elastic sampai saat mulai leleh dapat
dihitung dari,
u
py =
Et
h
y
2
2


Dengan menggantikan

y
=
I
tM
py
2

diperoleh
u
py =
EI
h M
py
4
2
(3.14)




Dari gambar bidang momen pada gambar bentuk pelat , deformasi, dan
bidang momen pelat damper, didapat :
M
py =
2
.
py
f h

u
py =
EI
h f
py
8
3

kekakuan keadaan elastis
K
p =
py
py
u
f

K
p =
3
8
h
EI

(3.15)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Untuk keadaan plastis, kekakuan bersifat konstan sampai mencapai keadaan
batas kekakuan dihitung dengan,
K
pp =
p
p
u
f


(3.16)

Dimana,
d du p
f f f =
dan
py pu p
u u u =
Dari persamaan ,
py e pu
u u = dan persamaan u
py =
EI
h f
d
8
3
, maka:
py pu p
u u u =
) 1 (
8
3
=
e
d
p
EI
h f
u (3.17)

Dari persamaan M
pu
=1.5 M
py
dan bidang momen gambar , bidang momen
tersebut bersifat linier, berlaku untuk keadaan elastic dan keadaan beban batas,
sehingga berlaku M
pu
=f
pu
h/2 dan M
py
=f
py
h/2 , perbedaan
p
f menjadi ,

py p
f f 5 . 0 = (3.18)
Kekakuan pelat damper keadaan plastis,

p
p
pp
u
f
K

=
) 1 (
4
3

=
e
pp
h
EI
K

(3.19)
Perbandingan kekakuan sesudah dan sebelum mencapai keadaan batas adalah,
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


) 1 ( 2
1

=
e p
pp
K
K

(3.20)



Model Analisa Damper Terhadap Suatu Bangunan.
Suatu damper terdiri dari beberapa pelat yang dipasang pada suatu struktur
dimana deformasi kumpulan pelat tersebut mengalami deformasi yang sama, dan
daktilitas damper adalah sama dengan daktilitas pelat damper. Dengan demikian
damper hanya bergantung pada ukuran pelat penyusunnya dan tidak bergantung pada
jumlah pelat yang ada.
Jumlah pelat damperhanya akan menambah kekakuan damper, pelat dalam
dimodelkan sebagai pegas pegas yang disusun secara seri.
Sehingga, besarnya kekakuan damper adalah jumlah dari kekakuan masing
mmasing pelat, yaitu :
K
ds
=n . K
p
(3.21)

Dimana :
K
ds
=

Kekakuan damper.
K
p
= Kekakuan 1 pelat damper
N = Jumlah pelat dalam 1 damper
Gaya leleh pada damper , F
dy
maka simpangan permulaan leleh dari damper
adalah :
u
y
ds
dy
k
F
=
(3.22)
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


pada pelat damper yang dipasang pada bracing sistim tersebut digunakan
prilaku elastis dan pengaruh defleksi sistim bracing juga diperhitungkan. Bila pada
pelat bekerja gaya sebesar F
d
maka pada bracing juga bekerja gaya P
d
.
Pada penerapan di atas maka simpangan seluruhnya adalah :
u =u
dp
+u
bc

di mana : u
dp =
dp
d
k
F

u
bc =
bc
d
k
F

Jadi,
u =F
d

|
|
.
|

\
|
+
bc dp
k k
1 1
(3.23)
Dari penjelasan bahwa pada pelat damper yang dipasang pada bracing sistim
tersebut digunakan prilaku elastis dan pengaruh defleksi sistim bracing juga
diperhitungkan. Bila pada pelat bekerja gaya sebesar F
d
maka pada bracing juga
bekerja gaya P
d
. Bracing dan damper dapat digantikan dan dapat digantikan dengan
damper pengganti
Kekakuan damper pengganti adalah :
k
bc =
u
F
d
=
bc dp
bc dp
k k
k k
+

Pada hal ini pelu ditekankan bahwa persamaan kekakuan di atas hanya
berlaku jika dalam keadaan elastis, setelah melewati batas leleh, maka kekakuannya
menjadi nol. Jadi bracing hanya memberikan kontribusi pengurangan kekakuan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


damper dalam batas elastis, setelah melewati batas elastis maka tidak akan memberi
penambahan kekakuan.
Pada analisanya gaya P dipikul bersama oleh struktur dan damper, dengan
syarat keseimbangan
P = Fs + Fd


Bila gaya tersebut digantikan, maka :
P = K
G .
u
Dimana : K
G
= Kekakuan Gabungan
u = deformasi
Sedangakan gaya yang bekerja pada struktur adalah :
Fs = K
s
u
Dan gaya dalam damper adalah :
F
d
= K
d
u
Bila gaya dalam yang bekerja disubstitusikan ke dalam persamaan
keseimbangan diperoleh :
K
G
u = K
S
u + K
d
u
K
G
= K
S
+

K
d
Kekakuan gabungan K
G
setelah melewati batas elastis maka K
G
= Ks.

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Gambar 3.8. Kekakuan Gabungan Struktur Dan Damper

Bila gaya P yang bekerja adalah beban siklus P = P
0
sin ( t ) , dengan
simpangan maksimum u
m
> u
y
, persamaan getaran SDOF menjadi persamaan
non-linier karena kekakuan gabungan berbentuk bilinier atau fungsi dari suatu
simpangan,
m + c + k(u) u = P
0
sin ( t )
dalam hal ini k(u) adalah kekakuaan bilinier yang ditunjukkan gambar
(III.10.b) dengan mengabaikan damping dari struktur itu sendiri, persamaan getaran
menjadi
m + k(u) u = P
0
sin ( t )
Gambar pendekatan SDOF non linier menjadi SDOF adalah:
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Gambar 3.9. Pendekatan SDOF Non Linier Menjadi SDOF

Pada gambar pendekatan SDOF non linier menjadi SDOF pada gambar c
merupakan loop segi-4 yang meruoakan jumlah energi yang didisiipasi dalam 1
siklus pembebanan . dimana gambar tersebut merupakan hubungan gaya dengan
simpangan. Pada gambar d adalah getaran SDOF dengan yang berbentu loop ellips.
Kedua gambar tersebut digabungkan pada gambar e yaitu SDOF non linier
dan SDOF yang linier, mempunyai kesamaan dissipasi energi dengan membentuk
loop.Oleh sebab itu, persamaan getaran non-linier SDOF dapat disederhanakan
dengan pendekatan model yang linier yaitu model SDOF dengan linier viscous
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


damping. Pada gambar f adalah model pengganti dari model SDOF dengan damper,
variable yang disesuaikan dengan model pengganti adalah :
1.
mengganti kekakuan menjadi kekakuan pengganti k
e
2. mengganti damping dengan konsep equivalent viscous damping
e
.
dari gambar e , kekakuan pengganti adalah:
( )
m
y m y
e
u
u u k u k
k
+
=
2 1

Dan

m
k
e
e
=
Dengan menggunakan konsep equivalent linier vicous damping yang besar
damping perngganti adalah:
Luas loop bi-linier = Luas loop bilinier vicous damping
4u
y
(k
1
k
2
) (u
m
u
y
) =
2
m e eq
u c

u
) u - (u ) k - (k uy
4
2
m
y m 2 1
e
eq
c

=

Bila dimasukkan nilai daktilitas damper

y
m
d
u
u
=


) u - (u ) k - (k
4
2
d
y m 2 1

e
eq
c =
Dalam bentuk damping ratio,
m k
c
e
eq
eq
2
=
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Damping total yang ada dalam sistim dapat disederhanakan dengan
menjumlahkan kedua damping yaitu damping equivalent dan damping alami dari
struktur,
c = c
eq
+ c
n
atau dalam bentuk damping ratio,

n e
+ =
Dimana,

m k
c
e
n
n
2
=
Dengan demikian persamaan SDOF dengan damper adalah :
m + c
n
+ k(u) u = -m
g
dapat diganti menjadi model equivalent dengan persamaan ,
m + c + k
e
u = -m
g
atau
+
e
2 +
2
e


u = -
g


Pengaruh Damping Terhadap Response Spektrum Gempa .
Metode analisa dinamis dengan metode response spektrum gempa merupakan
metode yang paling sederhana dalam menentukan response suatu sistim struktur,
untuk menentukan response maksimum tersebut hanya diperlukan variabel waktu
getar ( T ). Kurva response spektrum gempa digambarkan dari hubungan response
maksimum terhadap waktu getar, response maksimum tersebut dihitung dari suatu
sistim SDOF dengan berbagai waktu getar dan suatu input gempa tertentu.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Nilai persentase damping yang digunakan untuk penentuan kurva response
spektrum biasanya sebesar 5 %. Pada penjelasan sebelumnya kita ketahui bahwa
damping akan memperkecil response dari getaran , jadi semakin tinggi nilai damping
maka semakin kecil pula response yang terjadi yaitu termasuk response simpangan
Untuk menentukan pngurangan nilai response akibat besar damping yang
berbeda digunakan suatu faktor pengali yang disebut juga faktor damping. Faktor
tersebut merupakan faktor pengali atau koreksi terhadap response spektrum getaran
dengan damping 5 %.
Besarnya faktor damping ) ( telah diberikan oleh beberapa peneliti antara
lain:
1. Kawashima-Aizawa.
Kawashima-Aizawa memberikan persamaan faktor damping terhadap
response spektral kecepatan, dengan persamaan:
5 . 0
40 1
5 . 1
) ( +
+
=

(3.24)
Persamaan faktor damping (3.24) berlaku untuk kurva response spektrum
dengan damping 5 % yaitu ) ( =1 bila =5 %.
2. Bommer et al
Bommer et al mengajukan persamaan faktor damping :


+
=
5
10
) ( (3.25)
Sama dengan persamaan sebelumnya, persamaan ini berlaku untuk kuva
response spektrum dengan damping 5 %.

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


3. FEMA 2000 NEHRP
FEMA melalui peraturan atau standar NEHRP 2000 memberikan nilai faktor
damping seperti yang ditujukan pada tabel berikut:
damping
<0.02 0.05 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
) (
1.25 1 0.83 0.67 0..56 0.48 0.42 0.37 0.33 0.3 0.28 0.25

Tabel 3.1. faktor damping FEMA 2000 NEHRP

4. Ramirez et al (2000).
Ramirez et al memberikan faktor dampingyang hampir sama dengan diajukan
FEMA 2000 , yaitu:
damping
<0.02 0.05 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
) (
1

1.25 1 0.83 0.67 0.59 0.53 0.45 0.39 0.34 0.3 0.27 0.25
) (
2

1.25 1 0.83 0.67 0.59 0.53 0.45 0.38 0.43 0.42 0.41 0.4

Tabel 3.2. faktor damping Ramirez et al (2000).


3.8 Aplikasi Yielding Damper Pada Bangunan.
Aplikasi penggunaan alat yielding damper ini banyak digunakan pada
negaranegara ataupun wilayah-wilayah yang sering terjadi gempa besar, seperti
Taiwan dan J epang. Dalam perencanaan bangunan, beban akibat gempa sangat
diperhitungkan dalam analisanya sehingga walaupun bangunan tersebut terkena
gempa tidak langsung rubuh melainkan timbul keretakan yang akan memperkecil
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


korban jiwa. Pada analisa beban gempa sangat tergantung kepada struktur dari
bangunan tersebut dimana bentuk dari denah dan ketinggian bangunan tersebut
adalah factor utama dalam memperhitungkan gaya akibat dan guncangan gempa
tersebut. Oleh sebab itu, bila telah direncanakan bangunan dengan struktur pengaku
masih tidak aman maka solusi yang dianjurkan adalah dengan yielding damper untuk
mereduksi gaya gempa dan deformasi yang bias mengakibatkan kerusakan pada
struktur yang menyebabkan bangunan rubuh. . Aplikasi yielding damper ini
termasuk mudah karena bila terjadi gempa besar maka yang akan rusak terlebih
dahulu adalah dampernya, dan kita hanya mengganti damper yang mengalami
kerusakan tanpa mengganggu struktur lainya. Untuk penggunaan damper dalam
proses pemasangan, perbaikan, dan perbaikan cukup ekonomis dibandingkan dengan
pada konsep secara tradisional. Hanya saja pada metallic damper ada beberapa
kekurangan yaitu antara lain hanya berfungsi jika terjadi gempa besar, akan merubah
tampak bangunan yang direncanakandan lainnya. Oleh sebab itu perlu pemakaian
sistim ini harus tepat agar efisien dalam penggunaannya dalam struktur bangunan.
Meskipun demikian alat ini umumnya jarang digunakan pada konstruksi
bangunan, karena selain alat ini hanya akan efektif jika terjadi gempa yang besar dan
alat ini dari segi keindahan maupun arsitektur akan berkurang karena akan ada
struktur pengaku tempat meletakkan alat yielding damper ini. Di Taiwan alat ini
digunakan di perpustakaan dari Universitas Feng-Chia, di tempat perbelanjaan Jung-
He city, apartemen Taichung city, dan di beberapa sekolah lainnya..
Berikut adalah gambar dari beberapa bangunan di Taiwan yang menggunakan
alat yielding damper yaitu :
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Gambar 3.10. Tempat Perbelanjaan Jung-He City




Gambar 3.11. Apartemen Taichung City










BAB 4
APLIKASI
4.1 Pendahuluan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Dalam bab ini akan diberikan sebuah contoh perhitungan pada struktur 5
lantai dimana struktur yang analisa adalah struktur biasa, struktur yang menggunakan
bracing dan struktur menggunakan suatu sistim peredam energi (damper) akibat
gaya gempa. Adapun sistim peredam energi yang digunakan adalah viscous damper,
alatnya adalah Metallic Yielding Damper bentuk X (X-Radas). Analisa dilakukan
secara 2 dimensi, dalam pengerjaan analisa struktur dibantu dengan menggunakan
program SAP 2000 v11.
Adapun data-data yang akan dipergunakan dalam analisa ini akan ditentukan
sesuai dengan yang akan ditentukan sebagai berikut di bawah ini:
Pada tugas akhir ini, material baja yang digunakan untuk pemodelan
struktur adalah material baja sebagai berikut:
Pada perencanaan struktur digunakan baja yaitu BJ 37 (SNI 03 - 1729 - 2002,
Material ) dengan :
1. E = 2000000 Kg/cm
2

2. Tegangan putus (f
u
) = 370 Mpa =3700 kg/cm
2

3. Tegangan leleh (f
y
) = 240 Mpa =2400 kg/cm
2

Suatu bangunan berlantai 5 dengan ketentuan sbb:
Panjang bentang arah memanjang L =10 m
Tinggi kolom H = 5 m

Ukuran balok dan kolom ditentukan dimensi adalah sebagai berikut:
Profil kolom yang digunakan adalah:
Untuk kolom lantai 1 - 3 adalah WF 350 x 350 x 12 x 19
Untuk kolom lantai 4 - 5 adalah WF 350 x 250 x 9 x 14
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Profil balok yang digunakan adalah:
Untuk balok lantai 1 - 4 adalah WF 500 x 300 x 11 x 18
Untuk balok lantai 5 adalah WF 350 x 250 x 9 x 14
Profil bracing yang digunakan adalah WF 200 x 200 x 5.5 x 8

4.2 Pengerjaan Model Struktur
4.2.1 Pemodelan struktur
Pemodelan struktur direncanakan untuk bangunan perkantoran. Pada bagian
pemodelan ini terdapat 2 macam pemodelan struktur yaitu struktur tanpa yielding
damper dan struktur dengan damper dengan elemen struktur yang sama.
Model struktur adalah sebagai berikut:

Gambar 4.1.Model Struktur
Pada masing-masing model akan dikerjakan dengan kombinasi pembebanan
yang sama untuk dibandingkan kekuatan terhadap simpangan, momen, dan gaya-
gaya yang bekerja.
Model struktur baik struktur biasa, struktur dengan bracing ataupun struktur
yang menggunakan yielding damper terdiri dari 5 lantai dan 3 bentang. Tinggi untuk
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


masing-masing lantai adalah 5 m dan masing-masing bentang memiliki panjang 10 m
dengan perletakan yang digunakan adalah jepit. Pada pemodelan struktur digunakan
analisis struktur 2 dimensi yaitu pada bidang x-z (pada SAP 2000) sehingga struktur
dianggap tidak dapat bergoyang kearah y.
Pada model struktur dengan menggunakan yielding damper tersebut
menggunakan brace frame atau struktur pengaku tempat meletakkan damper yang
akan digunakan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

4.2.2 Pembebanan pada struktur
Pada kedua model struktur dikerjakan kombinasi pembebanan yang sama.
Beban yang bekerja pada struktur terdiri dari beban gravitasi (beban mati dan beban
hidup) dan beban gempa. Untuk beban gempa yang bekerja pada struktur digunakan
beban gempa respon spectrum.
4.2.2.1. Beban gravitasi
Beban gravitasi pada struktur terdiri dari beban mati (dead load), beban hidup
(live load), dan super imposed dead loads. Pada pemodelan ini beban mati (berat
sendiri) akan dikalkulasikan secara otomatis oleh program sap 2000 V11.
Sesuai SKBI 1.3.5.3.1987, besarnya beban hidup yang direncanakan untuk
pelat lantai bangunan adalah 250 kg/m
2
. Sedangkan beban hidup untuk atap atau
bagian atap yang dapat dicapai orang, harus diambil minimum sebesar 100 kg/m
2

bidang datar. Pada pemodelan ini, pembebanan yang pada elemen balok dilakukan
dengan menggunakan pembebanan perbentang 4 m arah sumbu y (model 2 dimensi
struktur terdapat pada bidang x-z). dengan demikian, besarnya besarnya beban hidup
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


pada balok adalah sebesar 1000 kg/m untuk lantai 1- 4. Sedangkan untuk lantai 5
atau lantai atap besar beban hidup adalah 400 kg/m.
Super Imposes Dead Loads untuk pelat lantai 1- 4 adalah :
penutup lantai (keramik +spesi) 24kg/m
2
x 5m = 120 kg/m
lantai 288kg/m
2
x 5m = 1440 kg/m
dinding bata (1/2 bata) 250kg/m
2
x 5m = 1250 kg/m
mechanical dan electrical 25kg/m
2
x 5m = 125 kg/m
2935 kg/m
Super Imposes Dead Loads untuk pelat atap adalah :
Lantai 240kg/m
2
x 5m = 1200 kg/m
mechanical dan electrical 25kg/m
2
x 5m = 125 kg/m
1325 kg/m
Super Imposes Dead Loads diatas akan menjadi beban merata yangditerima oleh
pelat. Selanjutnya mekanisme transfer beban akan disalurkan berturut-turut pada
balok, kemudian kolom dan yang terakhir pada pondasi.
Kombinasi pembebanan untuk beban gravitasi adalah sebagai berikut :
U =1.4 DL
U =1.2 DL +1.6 LL
Dengan DL adalah beban mati (dead load) dan LL adalah beban hidup (live load).

4.2.2.2. Beban gempa
Analisa ragam spektrum respon digunakan sebagai simulasi gempa, yaitu memakai
Spektrum Respons Gempa Rencana dari SNI 1726 2002 , dengan asumsi bahwa
bangunan tersebut dibangun di atas tanah sedang dan berada di wilayah gempa 5.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Spektrum Respons Gempa Rencana menurut gambar dibawah nilai ordinatnya
dikalikan dengan faktor koreksi I/R, di mana I adalah Faktor Keutamaan (I=1),
sedangkan R adalah faktor reduksi gempa representatif dari struktur gedung yang
bersangkutan(R=8.5, portal baja daktail). Dalam hal ini, jumlah ragam vibrasi yang
ditinjau dalam penjumlahan respons ragam menurut metoda ini harus sedemikian
rupa, sehingga partisipasi massa dalam menghasilkan respons total harus mencapai
sekurang-kurangnya 90%.

Gambar 4.2. Fungsi Response Spektrum Wilayah Gempa 5
( sumber : SNI-1726-2002, tentang gempa )
Pasal 7.1.3 SNI 1726 2002 menyatakan, bahwa nilai akhir respons dinamik
struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh Gempa
Rencana dalam suatu arah tertentu, tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai
respons ragam yang pertama. Bila respons dinamik struktur gedung dinyatakan
dalam gaya geser dasar nominal V, maka persyaratan tersebut dapat dinyatakan
menurut persamaan berikut :
V 0.8 V
1

V
1
adalah gaya geser dasar nominal sebagai respons ragam yang pertama terhadap
pengaruh Gempa Rencana menurut persamaan :
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Dengan C1 adalah nilai Faktor Respons Gempa yang didapat dari Spektrum Respons
Gempa Rencana menurut Gambar 4.1 untuk waktu getar alami pertama T
1
, I adalah
Faktor Keutamaan menurut Tabel = 1 dan R adalah faktor reduksi gempa
representatif dari struktur gedung yang bersangkutan, sedangkan Wt adalah berat
total gedung, termasuk beban hidup yang sesuai (ada reduksi beban hidup untuk
perhitungan gempa).
Bangunan direncanakan di wilayah gempa 5, tanah sedang. Berdasarkan peta
gempa respon spectrum didapatkan data-data grafik sebagai berikut:

Hasilnya adalah:
Times Acceleration
0 0.32
0.2 0.83
0.5 0.83
0.6 0.83
1 0.5
1.2 0.416667
1.4 0.357143
1.6 0.3125
1.8 0.277778
2 0.25
2.5 0.2
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


3 0.166667

Untuk T = 0 : S
a
= 0.32g
T = 0.2 s.d 0.6 : S
a
= 0.83g
T > 0.6 : S
a
= 0.50g/T
Hasilnya adalah:



Kombinasi pembebanan untuk beban gempa adalah sebagai berikut :
U =1.2 DL +1.0 LL +1.0 E
U =1.2 DL +1.0 LL - 1.0 E
U =0.9 DL +1.6 E
U =0.9 DL - 1.6 E
Dari seluruh pembebanan yang di kerjakan pada struktur, dipilih kombinasi
pembebanan yang menghasilkan gaya terbesar pada struktur.

4.3. Prosedur Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Dengan Metallic Yielding
Damper.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Perencanaan bangunan tahan gempa dengan metallic yielding damper.
1. Faktor reduksi gempa R, menggambarkan sifat kapasitas struktur antara
kekuatan lebih dengan daktalitas. Daktalitas adalah kemampuan sistem
struktur untuk berdeformasi pada daerah plastis sampai patah. Perlakuan
daktalitas sangat penting untuk menyerap gaya gempa pada saat lelehnya
struktur dan displacement yang terjadi pada saat gempa tidak membahayakan
gedung, artinya displacement masih dibawah displacement izin.
2. Nilai faktor reduksi gempa dalam tugas akhir ini diambil R =8,5 untuk
bangunan dengan daktilitas penuh alasannya karena nilai R semakin besar
maka pengaruh gempanya akan lebih kecil, dapat dimaklumi karena faktor R
adalah faktor pembagi terhadap nilai faktor respon gempa. Bangunan yang
direncanakan pada tugas akhir ini adalah bangunan dengan metallic yielding
damper .
3. Menentukan nilai C untuk kondisi jenis tanah berdasarkan wilayah gempa,
harga C ini berubah menurut T (waktu), kemudian dikali dengan faktor 0.816
untuk damper r dan dibagi dengan faktor reduksi gempa.
4. Waktu mode T untuk struktur dengan damper lebih kecil dibandingkan
dengan struktur tanpa menggunakan damper dalam hal ini struktur biasa dan
struktur dengan bracing.
5. Lalu tinjau perpindahan horizontal setiap lantai dimana drift dari setiap lantai
harus lebih kecil dari syarat perpindahan yang diizinkan peraturan.
6. Lalu ditinjau harga momen, lintang, normal dan torsi yang tejadi, dan yang
nantinya akan dibandingkan antara struktur biasa dengan struktur dengan
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


menggunakan yielding damper dan struktur biasa dengan struktur yan
menggunakan yielding damper.
7. Nilai perpindahan pada struktur dengan damper hrus lebih kecil dari
perpindahan yang diizinkan.
8. Struktur berada di Indonesia yang berada pada wilayah 5 dan struktur di
analisa dengan analisa response spektrum.

4.4 Prosedur Analisa Sap 2000 Versi 11 Input Dan Output
Data input dan output pada analisa SAP 2000adalah :
1. Pilih model 2D Frames kemudian dimasukkan data-data ketinggian
bangunan, panjang bentang arah sumbu X dan sumbu Z, juga jumlah
ketinggian dan jumlah bentang arah sumbu X dan sumbu Z dalam satuan
kilogram meter. Variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada bagian model
struktur.
2. Material yaitu struktur baja. Kemudian, dipilih menu define dan pada
modify/Show Material dipilih penampang baja, kemudian dipilih frame
sections, lalu pilih baja I .
3. Pilih balok dan kolom, dan area yang sesuai dengan perencanaan kemudian
diaplikasikan ke struktur.
4. Menambah dukungan, pilih joint yang telah dipilih kemudian dipilih assign >
joint > restraints kemudian pilih Fixed Support (jepit), untuk semua
perletakan.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


5. Mendefinisikan load case, dapat dilihat dibawah ini: Beban mati (dead)
SelfWtMult diberi variabel 1,0 karena berat sendiri struktur nantinya akan
dihitung secara langsung oleh SAP.
6. Pembebanan struktur, beban-beban pada struktur adalah beban mati ( dead),
hidup (live), dan gempa (quake). Dimana beban-beban ini mengenai struktur,
baik pada joint, balok dan area (lantai dan atap). Dimana pada masing-masing
lantai dan atap, juga pada masing-masing balok memiliki pembebanan yang
bervariasi pada masing-masing jenis beban ( mati dan hidup). Tandai semua
balok, joint, ataupun atap dan lantai yang ingin diberi pembebanan, kemudian
dipilih assign dan pilih area loads, atau joint loads, atau juga frame loads
yang tentunya disesuaikan dengan bagian mana yang ingin diberi beban
kemudian dipilih jenis beban seperti uniform (seragam) , gravity (gravitasi),
point ( terpusat), atau distributed (terbagi rata). Data beban mati ( dead),
hidup (live), dan hidup 2 (live 2), masukkan data data beban seperti data
data pada pembebanan sewaktu pemodelan.
7. Untuk beban gempa menggunakan fungsi respone spectrum untuk data
gempa. Jadi, yang dipakai adalah dengan metode respon spectra zone gempa
5 dimana file inputnya diambil dari data gempa national\respon
spektra\wil.Indonesia\tanah sedang-indo\wil.5(sedang). Pada define dipilih
function dan pilih respon spectrum
atau time history sesuai dengan perhitungan yang telah direncanakan yaitu:
Times Acceleration
0 0.32
0.2 0.83
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


0.5 0.83
0.6 0.83
1 0.5
1.2 0.416667
1.4 0.357143
1.6 0.3125
1.8 0.277778
2 0.25
2.5 0.2
3 0.166667

8. Kemudian data gempa, seperti data gempa national \ respon spektra \ wilayah
Indonesia \ tanah sedang-indo\wil.5(sedang). Beban gempa Respon
Spektrum, yang kemudian di hitung oleh program berdasarkan modal dan
periode getar struktur.





Bangunan direncanakan di wilayah gempa 5, tanah sedang. Berdasarkan peta
gempa respon spectrum didapatkan data-data grafik sebagai berikut:

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Data masukan pada program untuk respon spektrum pada zone 5
daerah gempa, yaitu:












Gambar 4.3 Output Response Spektrum Dari SAP2000 v. 11
( sumber : SAP2000 v. 11, Function )
Untuk bangunan yang menggunakan yielding damper beban gempa dengan
menggunakan fungsi Response Spektrum dengan menggunakan program, bebn yang
dihasilkan oleh fungsi tersebut tidak dapat digunakan pada analisis non linier. Jadi,
fungsi Response Spektrum pada struktur bangunan dengan menggunakan yielding
damper harus direduksi secara manual yaitu dengan mengalikan fungsi response
dengan faktor damping yang merupakan reduksi beben akibat adanya pemasangan
damper.
Damping direncanakan adalah sebesar 40% untuk struktur yang
menggunakan yielding damper.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Jadi, faktor damping yang direncanakan adalah :

) ( =
+ 5
10
(Bommer et al)
) ( =
40 5
10
+

) ( = 0.4714

Untuk nilai response spektrum gempa dengan T yang sama nilai C dikalikan
dengan faktor damping ) ( yang telah didapatkan karena pada penjelasan
sebelumnya untuk program fungsi response spectrum analisa hanya untuk analisa
linier .Maka, untuk analisa non-linier fungsi response spectrum harus kita reduksi
secara manual agar dapat didapatkan analisa non linier dengan nilai input yielding
damper pada program SAP 2000
Untuk mendapatkan nilai yang tepat.


Jadi nilai response spectrum gempa untuk input dalam program adalah:
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Gambar 4.4. Output Response Spektrum Setelah Direduksi Dari SAP2000 v.11
( sumber : SAP2000 v. 11, Function )

9. Kemudian data fungsi response spectrum tersebut input kedalam analysis
case, .Beban gempa Respon Spektrum, yang kemudian di hitung oleh
program berdasarkan modal dan periode getar struktur. Untuk masing
masing perhitungan yaitu:
Untuk struktur biasa (konvensional) dan struktur dengan menggunakan
bracing digunakan funsi response spektrum sepeti umumnya dengan
damping 5 % dilambangkan dengan ZONE-5.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Untuk struktur dengan menggunakan yielding damper digunakan
fungsi response spektrum dengan damping 40 % dilambangkan dengan
PW.
Berikut adalah plot dari respon pada program SAP2000 v.11 :
Untuk bangunan tanpa menggunakan yielding damper yaitu:










Gambar 4.4. Output Analysis Case Response Spektrum Zone 5 Dari SAP2000
v.11
( sumber : SAP2000 v. 11, Analysis Case )







Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Untuk bangunan dengan menggunakan yielding damper yaitu:

Gambar 4.5. Output Analysis Case Response Spektrum PW Dari SAP2000 v.11
( sumber : SAP2000 v. 11, Analysis Case )

10. Mendefinisikan kombinasi, setelah pembebanan dilakukan pada struktur
maka langkah selanjutnya adalah mendefinisikan kombinasi yang digunakan
pada beban-beban yang bekerja. Kemudian, masukkan data data beban
seperti data-data pada pembebanan sewaktu pemodelan ( kombinasi).
11. Mendifinisikan redaman dan metallic damper yaitu plastic (wen), pada define
pilih link/support properties, kemudian pada link/support properties data
dipilih plastic (wen), dan diberi nama yang sesuai pada masing-masing
damper. Kemudian dimasukkan data-data yang diperlukan, data-data input
tersebut.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


12. Mengaplikasikan metallic yielding damper (plasic (wen)), dipilih X-Y Plane
@ Z=0 dan padaDraw > Draw 1 joint Link. Dan pastikan damper dalam
hal ini plasic (wen) terpilih pada property.
Data data yang perlu dimasukkan ke dalam program SAP, yaitu:


Gambar 4.6. Input Data Yielding Damper Pada SAP2000 v.11
( sumber : SAP2000 v. 11, Link Properties )

13. Setelah data struktur dan data gempa telah didefinisikan maka langkah
selanjutnya adalah melakukan run analisis, Setelah itu maka perhitungan
talah selesai, tapi harus diperhatikan ada atau tidaknya eror atau warning
pada SAP Analisis Monitor. J ika tidak ada eror atau warning maka pekerjaan
analisa SAP2000 telah selesai dengan benar.

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.5. Analisa Data Struktur Bangunan.
4.5.1. Analisa struktur bangunan biasa (konvensional).
Dengan data data di atas dan bantuan program SAP , diperoleh :
Berat bangunan , w = 422381.01 kg
Massa Bangunan, m =w/g , dimana : g =9.81cm / s
2
= 422381.01/ 9.81
= 43056.1682 kg s
2
/m
Model struktur tanpa damper adalah:

Gambar 4.7 Struktur konvensional
( Sumber SAP2000 v.11 )
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Kinerja batas layan suatu bangunan ditentukan oleh simpangan antar tingkat
akibat pengaruh gempa rencana,yaitu untuk membatasi pelelehan baja secara
berlebihan, disamping untuk mencegah kerusakan non-struktural dan
ketidaknyamanan penghuni. Simpangan antar tingkat ini harus dihitung dari
simpangan struktur gedung tersebut akibat pengaruh gempa nominal.
Dalam analisanya struktur harus memenuhi syarat kinerja batas layan dari SNI
sebagai berikut :
Simpangan ijin =(( 0.03/R ). Tinggi tingkat )atau maksimum 30 cm
Dari data ditentukan nilai R adalah 8.5 dan tinggi tingkat adalah 5 m
Jadi simpangan ijin = 9.375 cm atau 3 cm
Pada analisa struktur bangunan tanpa damper dengan bantuan program
didapat displacement ( simpangan ) maksimum adalah
Untuk arah x : simpangan maksimum , u
m
= 0.05539 m =5.539 cm
Untuk arah z : simpangan maksimum , u
m
= 0.0003 m =0.030 cm
Dengan periode (T) yang dihasilkan adalah = 0.441930 detik
Jadi pada struktur tanpa damper ini tidak memenuhi peraturanbatas layan ,
karena nilai displacement (Simpangan), u
m
=5.539 cm >u
ijin
=3 cm. maka
diperlukan pemasangan damper pada struktur bangunan untuk memenuhi persyaratan
batas layan.





Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.5.2. Analisa struktur bangunan dengan menggunakan bracing.
Dengan data data di atas dan bantuan program SAP , diperoleh :
Berat bangunan , w = 423759.22 kg
Massa Bangunan, m =w/g , dimana : g =9.81cm / s
2
= 423759.22 / 9.81
= 43196.6361 kg s
2
/m
Model struktur dengan bracing adalah:

Gambar 4.8. Struktur dengan bracing
( Sumber SAP2000 v.11 )

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Sama seperti dalam analisa struktur konvensional, maka analisa struktur
dengan menggunakan bracing atau struktur pengaku harus memenuhi syarat kinerja
batas layan dari SNI sebagai berikut :
Simpangan ijin =(( 0.03/R ). Tinggi tingkat )atau maksimum 30 cm
Dari data ditentukan nilai R adalah 8.5 dan tinggi tingkat adalah 5 m
Jadi simpangan ijin = 9.375 cm atau 3 cm
Pada analisa struktur bangunan yang menggunakan bracing dengan bantuan
program didapat displacement ( simpangan ) maksimum adalah
Untuk arah x : simpangan maksimum , u
m
= 0.04216 m =4.216 cm
Untuk arah z : simpangan maksimum , u
m
= 0.0002 m =0.02 cm
Dengan periode (T) yang dihasilkan adalah = 0.419564 detik
Jadi pada struktur dengan menggunakan bracing ini tidak memenuhi
peraturan batas layan , karena nilai displacement (Simpangan), u
m
=4.216 cm >u
ijin
= 3 cm. maka diperlukan pemasangan damper pada struktur bangunan untuk
memenuhi persyaratan batas layan.









Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.5.3. Analisa struktur bangunan dengan damper.
analisa struktur bangunan dengan damper akan dilakukan dengan
menggunakan data data di atas dan bantuan program SAP , diperoleh:
Berat bangunan , w = 424053.56 kg
Massa Bangunan, m =w/g , dimana : g =9.81cm / s
2
= 424053.56 / 9.81
= 43226.66 kg s
2
/m
Model struktur adalah sebagai berikut:

Gambar 4.9. Struktur dengan yielding damper
( Sumber SAP2000 v.11 )
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Data masukan untuk damper dalam hal ini yang digunakan adalah metallic
yielding damper bentuk X ( X - RADAS ), yaitu :Untuk pelatnya dengan profil
sebagai berikut:

Tinggi pelat , H = 60 cm
Lebar pelat, B = 25 cm
Tebal pelat, tp = 1,5 cm
t =1,5cm
Pada perencanaan damper ini juga menggunakan baja lunak BJ 34 (SNI 03-1729-
2002, Material ) dengan :
E = 2000000 Kg/cm
2

Tegangan putus (f
u
) = 340 Mpa = 3400 kg/cm
2

Tegangan leleh (f
y
) = 210 Mpa = 2100 kg/cm
2

Data masukan untuk Metallic Yielding Damper (X RADAS) pada program SAP 2000
:
Kekakuan pelat damper, jadi:
K =
3
3
3
2
H
EBt
p
= 520.8333 kg/cm = 52083.33 kg/m
Digunakan 10 pelat damper untuk masing masing lantai, jadi:
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


K
d
= 10 x 52083.33 = 520833.3 kg/m
Yielding Strength , V
p
=
H
NBt
y
2
2

= 9843.75 kg
Rasio kekakuan (Stiffness Ratio), = 0.02
Yielding Exponent = 2
Data data di atas dimasukan kedalam program. Berikut data input pada
program SAP 2000 v11:
Analisa diatas dilakukan untuk membantu perhitungan, dimana hasil output
dari analisa ini nanti akan dilihat perbedaannya terhadap bangunan tanpa
menggunakan damper.

Gambar 4.10. Input data yielding damper pada SAP2000 v.11
( sumber : SAP2000 v. 11, Link Properties )
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Pada analisa struktur bangunan dengan damper dengan bantuan program
didapat displacement ( simpangan ) maksimum adalah :
Untuk arah x : simpangan maksimum , u
m
= 0.0244 m = 2.44 cm
Untuk arah z : simpangan maksimum , u
m
= 0.0001 m = 0.01 cm
Dengan periode (T) yang dihasilkan adalah = 0.441636 detik

4.6 Hasil Analisa Momen , Gaya Lintang , Dan Gaya Normal Pada Struktur.
4.6.1. Hasil analisa pada struktur konvensional pada balok.
Tabel 4.6.1. Gaya gaya maksimum pada struktur konvensional
Lantai Beban Posisi
P (Normal) V (Geser) M (Momen)
(kg) (kg) (kg m)
COMB4 Tumpuan kiri 0 -11038.4 -20706.36
Lantai 5 COMB4 lapangan 0 -793.16 10539.29
COMB4 Tumpuan kanan 0 10785.4 -16299.23

COMB4 Tumpuan kiri 0 -27442.77 -49484.79
Lantai 4 COMB4 lapangan 0 -2732 25952.13
COMB4 Tumpuan kanan 0 24363.03 -35183.91

COMB4 Tumpuan kiri 0 -27887.91 -52792.16
Lantai 3 COMB4 lapangan 0 -3177.14 24870.52
COMB4 Tumpuan kanan 0 25544.75 -42527.02

COMB4 Tumpuan kiri 0 -28203.42 -55297.2
Lantai 2 COMB4 lapangan 0 -3492.65 23942.97
COMB4 Tumpuan kanan 0 26391.54 -47726.97
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



COMB4 Tumpuan kiri 0 -28761.68 -57154.81
Lantai 1 COMB4 lapangan 0 -4050.91 24876.71
COMB4 Tumpuan kanan 0 26108 -45721.33

Gaya maksimum pada tumpuan kiri : Normal (kg) = 0

Geser (kg) = - 28761.68
Momen (kg) = -57154.81

Gaya maksimum pada lapangan : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = - 4050.91
Momen (kg) = 25952.13


Gaya maksimum pada tumpuan kanan : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = 26391.54
Momen (kg) = - 47726.97






4.6.2. Hasil analisa pada struktur dengan menggunakan bracing pada balok.
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Tabel 4.6.2. Gaya gaya maksimum pada struktur dengan menggunakan
bracing (struktur pengaku) pada balok.
Lantai Beban Posisi
P (Normal) V (Geser) M (Momen)
(kg) (kg) (kg m)
COMB4 Tumpuan kiri 0 -11111.89 -17155.07
Lantai 5 COMB4 lapangan 0 -199.98 11124.63
COMB4 Tumpuan kanan 0 10795.16 -15597.35

COMB4 Tumpuan kiri 0 -25472.27 -38087.28
Lantai 4 COMB4 lapangan 0 -761.5 27707.5
COMB4 Tumpuan kanan 0 23991.09 -30513.37

COMB4 Tumpuan kiri 0 -27257.68 -50216.9
Lantai 3 COMB4 lapangan 0 -2546.91 24294.62
COMB4 Tumpuan kanan 0 24766.46 -38603.51

COMB4 Tumpuan kiri 0 -28422.27 -56271.66
Lantai 2 COMB4 lapangan 0 -3711.5 24062.78
COMB4 Tumpuan kanan 0 26616.5 -48879.53

COMB4 Tumpuan kiri 0 -29103.41 -58774.34
Lantai 1 COMB4 lapangan 0 -4392.64 24965.84
COMB4 Tumpuan kanan 0 26444.56 -47508.86


Gaya maksimum pada tumpuan kiri : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = - 29103.41
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Momen (kg) = - 58774.34

Gaya maksimum pada lapangan : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = - 4392.64
Momen (kg) = 27707.5


Gaya maksimum pada tumpuan kanan : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = 26616.5
Momen (kg) = - 48879.53

4.6.3. Hasil analisa pada struktur dengan menggunakan damper pada balok.
Tabel 4.6.3. Gaya gaya maksimum pada struktur dengan menggunakan
damper pada balok.
Lantai Beban Posisi
P (Normal) V (Geser) M (Momen)
(kg) (kg) (kg m)
COMB4 Tumpuan kiri 0 -11447.43 -19485.15
Lantai 5 COMB4 lapangan 0 -535.52 10472.27
COMB4 Tumpuan kanan 0 10532.57 -14961.07

COMB4 Tumpuan kiri 0 -26591.74 -45654.98
Lantai 4 COMB4 lapangan 0 -1880.97 25526.78
COMB4 Tumpuan kanan 0 23493.9 -30482.32

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


COMB4 Tumpuan kiri 0 -26749.16 -47532.53
Lantai 3 COMB4 lapangan 0 -2038.39 24436.35
COMB4 Tumpuan kanan 0 24396.1 -36388.92

COMB4 Tumpuan kiri 0 -26929.56 -49290.52
Lantai 2 COMB4 lapangan 0 -2218.79 23580.37
COMB4 Tumpuan kanan 0 25124.83 -41024

COMB4 Tumpuan kiri 0 -27433.18 -50963.65
Lantai 1 COMB4 lapangan 0 -2722.41 24425.34
COMB4 Tumpuan kanan 0 24781.84 -38640.11

Gaya maksimum pada tumpuan kiri : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = -27433.18
Momen (kg) = -50963.65
Gaya maksimum pada lapangan : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = -2722.41
Momen (kg) = 25526.78
Gaya maksimum pada tumpuan kanan : Normal (kg) = 0
Geser (kg) = 25124.83
Momen (kg) = -41024




Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.6.4. Hasil analisa pada struktur konvensional pada kolom.
Tabel 4.6.4. Gaya gaya maksimum pada struktur konvensional pada kolom.
Lantai Beban Posisi
P (Normal) V (Geser) M (Momen)
(kg) (kg) (kg m)
COMB4 Tumpuan bawah -11251.99 6522.53 16321.57
Lantai 5
COMB4 Tumpuan atas -10790.09 6522.53 -16299.23

COMB4 Tumpuan bawah -36082.11 7116.92 -18934.74
Lantai 4
COMB4 Tumpuan atas -35620.21 7116.92 16656.87

COMB4 Tumpuan bawah -62422.4 9761.73 22864.08
Lantai 3
COMB4 Tumpuan atas -61619.73 9761.73 -25963.27

COMB4 Tumpuan bawah -89595.61 10147.64 25796.33
Lantai 2
COMB4 Tumpuan atas -88792.93 10147.64 -24951.11

COMB4 Tumpuan bawah -116476.87 7873.83 19408.85
Lantai 1
COMB4 Tumpuan atas -115674.19 7873.83 -19963.54



Gaya maksimum pada tumpuan atas : Normal (kg) = -115674.19
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Geser (kg) = 10147.64
Momen(kg) = -25963.27

Gaya maksimum pada tumpuan bawah : Normal (kg) =-
116476.87
Geser (kg) = 10147.64
Momen (kg) = 25796.33

4.6. 5. Hasil analisa pada struktur dengan menggunakan bracing pada kolom.
Tabel 4.6.5. Gaya gaya maksimum pada struktur dengan manggunakan
bracing pada kolom.
Lantai Beban Posisi
P (Normal) V (Geser) M (Momen)
(kg) (kg) (kg m)
COMB4 Tumpuan bawah -11259.85 6376.79 16286.64
Lantai 5
COMB4 Tumpuan atas -10797.95 6376.79 -15597.35

COMB4 Tumpuan bawah -66304.6 5989.39 14882.26
Lantai 4
COMB4 Tumpuan atas -35255.39 5989.39 -15064.97

COMB4 Tumpuan bawah -61290.14 10152.62 22778.93
Lantai 3
COMB4 Tumpuan atas -60487.46 10152.62 -27991.44

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


COMB4 Tumpuan bawah -88712.2 10564.45 26667.05
Lantai 2
COMB4 Tumpuan atas -87909.53 10564.45 -26162.92

COMB4 Tumpuan bawah -115954.51 8395.79 21096.1
Lantai 1
COMB4 Tumpuan atas -115151.83 8395.79 -20886.38


Gaya maksimum pada tumpuan atas : Normal (kg) = -115621.9
Geser (kg) = 10564.45
Momen(kg) = -
27991.44

Gaya maksimum pada tumpuan bawah : Normal (kg) =-
115151.83
Geser (kg) = 10564.45
Momen (kg) = 26667.05







Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.6. 6. Hasil analisa pada struktur dengan menggunakan damper pada kolom.
Tabel 4.6.6. Gaya gaya maksimum pada struktur dengan menggunakan
damper pada kolom.
Lantai Beban Posisi
P (Normal) V (Geser) M (Momen)
(kg) (kg) (kg m)
COMB4 Tumpuan bawah -10996.33 6010.53 15094.92
Lantai 5
COMB4 Tumpuan atas -10534.43 6010.53 -14961.07

COMB4 Tumpuan bawah -34954.64 5766.68 13434.42
Lantai 4
COMB4 Tumpuan atas -34492.74 5766.68 -15404.96

COMB4 Tumpuan bawah -60152.27 8610.62 20069.88
Lantai 3
COMB4 Tumpuan atas -59349.59 8610.62 -22988.36

COMB4 Tumpuan bawah -86076.15 8600.81 22021.15
Lantai 2
COMB4 Tumpuan atas -85273.47 8600.81 -20986.49

COMB4 Tumpuan bawah -111653.78 5899.6 12863.86
Lantai 1
COMB4 Tumpuan atas -102895.36 5899.6 -16635.51



Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Gaya maksimum pada tumpuan atas : Normal (kg) = -102895.36
Geser (kg) = 8600.81
Momen(kg) = -
22988.36 Gaya maksimum pada
tumpuan bawah : Normal (kg) =-111653.78
Geser (kg) = 8600.81
Momen (kg) = 22021.15

4.7.Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Struktur Biasa Dengan Struktur
Dengan Menggunakan Yielding Damper.
4.7.1.Perbandingan gaya-gaya maksimum pada balok tanpa struktur biasa
dengan struktur dengan menggunakan yielding damper.
Tabel 4.7.1.1. Gaya pada tumpuan kiri balok
Tanpa yielding damper Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) -28761.68 -27433.18 4.62
M (Momen) (kg-m) -57154.81 -50963.65 10.83

Tabel 4.7.1.2. Gaya pada lapangan balok
Tanpa yielding damper Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) -4050.91 -2722.41 32.8
M (Momen) (kg-m) 25952.13 25526.78 1.64


Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Tabel 4.7.1.3. Gaya pada tumpuan kanan balok
Tanpa yielding damper Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) 26391.54 25124.83 4.8
M (Momen) (kg-m) -47726.97 -41024 14.05

Perbandingan maksimum gaya pada balok adalah: Momen =14.05 %
Geser = 32.8 %
Normal = 0

4.7.2.Perbandingan gaya-gaya maksimum pada kolom struktur konvensional
dan struktur dengan yielding damper.
Tabel 4.7.2.1.Gaya pada tumpuan atas kolom
Tanpa yielding damper Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) -115674.19 -102895.36 11.05
V (Geser) (kg) 10147.64 8600.81 15.24
M (Momen) (kg-m) -25963.27 -22988.36 11.46

Tabel 4.7.2.2.Gaya pada tumpuan bawah kolom
Tanpa yielding damper Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) -116476.87 -111653.78 4.14
V (Geser) (kg) 10147.64 8600.81 15.24
M (Momen) (kg-m) 25796.33 22021.15 14.63



Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Perbandingan maksimum gaya pada balok adalah:
Momen =14.63 %
` Geser = 15.24 %
Normal = 11.05 %


4.8.Perbandingan Gaya-Gaya Maksimum Struktur Menggunakan Bracing
Dengan Struktur Dengan Menggunakan Yielding Damper.
4.8.1.Perbandingan gaya-gaya maksimum pada balok struktur menggunakan
bracing dengan struktur yang menggunakan yielding damper.
Tabel 4.8.1.1. Gaya pada tumpuan kiri balok
Dengan Bracing Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) -29103.41 -27433.18 5.73
M (Momen) (kg-m) -58774.34 -50963.65 13.29

Tabel 4.8.1.2. Gaya pada lapangan balok
Dengan bracing Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) -4392.64 -2722.41 38.02
M (Momen) (kg-m) 27707.5 25526.78 7.87




Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Tabel 4.8.1.3. Gaya pada tumpuan kanan balok
Dengan Bracing Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) 26616.5 25124.83 5.6
M (Momen) (kg-m) -48879.53 -41024 16.07

Perbandingan maksimum gaya pada balok adalah:
Momen =16.07 %
Geser = 38.02 %
Normal = 0

4.8.2.Perbandingan gaya-gaya maksimum pada kolom struktur dengan bracing
dan struktur dengan yielding damper.
Tabel 4.8.2.1.Gaya pada tumpuan atas kolom
Dengan Bracing Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) -115621.9 -102895.36 11.01
V (Geser) (kg) 10564.45 8600.81 18.59
M (Momen) (kg-m) -27991.44 -22988.36 17.87

Tabel 4.8.2.2.Gaya pada tumpuan bawah kolom
Dengan Bracing Dengan yielding damper keterangan (%)
P (Normal) (kg) -115151.83 -111653.78 3.04
V (Geser) (kg) 10564.45 8600.81 18.59
M (Momen) (kg-m) 26667.05 22021.15 17.42


Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Perbandingan maksimum gaya pada balok adalah:
Momen =17.87 %
` Geser = 18.59 %
Normal = 11.01 %

4.9..Kinerja Batas Layan.
Kinerja batas layan suatu bangunan ditentukan oleh simpangan antar tingkat
akibat pengaruh gempa rencana,yaitu untuk membatasi pelelehan baja secara
berlebihan, disamping untuk mencegah kerusakan nonstructural dan
ketidaknyamanan penghuni. Simpangan antar tingkat ini harus dihitung dari
simpangan struktur gedung tersebut akibat pengaruh gempa nominal.
Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas layan, maka dalam segala hal
simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan bangunan tidak boleh
melampaui 0.03/R dikali tinggi tingkat yang bersangkutan, jadi:
Rasio batas simpangan struktur : (0.03/8.5) =0.0353

4.9.1. Kinerja batas layan untuk struktur bangunan biasa (konvensional).
Untuk bangunan tanpa menggunakan damper perhitungan rasio simpangan,
adalah sebagai berikut:
Rasio Simpangan 1
Simpangan lantai 2 = 0.02590 m
Simpangan lantai 1 = 0.01116 m
Simpangan antar tingkat = 0.01474 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Rasio simpangan antar tingkat = 0.00295 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 2
Simpangan lantai 3 = 0.03822 m
Simpangan lantai 2 = 0.02590 m
Simpangan antar tingkat = 0.01232 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00246 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 3
Simpangan lantai 4 = 0.04935 m
Simpangan lantai 3 = 0.03822 m
Simpangan antar tingkat = 0.01113 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00223 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 4
Simpangan lantai 5 = 0.05539 m
Simpangan lantai 4 = 0.04935 m
Simpangan antar tingkat = 0.00604 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00121 < 0.00353 . . . . ok!

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


4.9.2. Kinerja batas layan untuk struktur bangunan dengan menggunakan
bracing.
Untuk bangunan tanpa menggunakan damper perhitungan rasio simpangan,
adalah sebagai berikut:
Rasio Simpangan 1
Simpangan lantai 2 = 0.02883 m
Simpangan lantai 1 = 0.01254 m
Simpangan antar tingkat = 0.01629 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00326 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 2
Simpangan lantai 3 = 0.04073 m
Simpangan lantai 2 = 0.02883 m
Simpangan antar tingkat = 0.01190 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00238 < 0.00353 . . . . ok!


Rasio Simpangan 3
Simpangan lantai 4 = 0.04167 m
Simpangan lantai 3 = 0.04073 m
Simpangan antar tingkat = 0.00940 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Rasio simpangan antar tingkat = 0.00188 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 4
Simpangan lantai 5 = 0.04216 m
Simpangan lantai 4 = 0.04167 m
Simpangan antar tingkat = 0.00049 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.0001 < 0.00353 . . . . ok!


4.9.3. Kinerja batas layan untuk bangunan yang menggunakan yielding
damper.
Untuk bangunan menggunakan damper perhitungan rasio simpangan, adalah
sebagai berikut:
Rasio Simpangan 1
Simpangan lantai 2 = 0.0132 m
Simpangan lantai 1 = 0.0057 m
Simpangan antar tingkat = 0.0075 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00150 < 0.00353 . . . . ok!




Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Rasio Simpangan 2
Simpangan lantai 3 = 0.0193 m
Simpangan lantai 2 = 0.0132 m
Simpangan antar tingkat = 0.0061 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00122 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 3
Simpangan lantai 4 = 0.0229 m
Simpangan lantai 3 = 0.0193 m
Simpangan antar tingkat = 0.0036 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.00072 < 0.00353 . . . . ok!

Rasio Simpangan 4
Simpangan lantai 5 = 0.0244 m
Simpangan lantai 4 = 0.0229 m
Simpangan antar tingkat = 0.0015 m
Tinggi kolom = 500 cm = 5 m
Rasio simpangan antar tingkat = 0.0003 < 0.00353 . . . . ok!



Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


Dari hasil analisa didapatkan data data simpangan pada masing masing tingkat
dari tiap tiap jenis struktur yang di analisa. Data datanya adalah sebagai berikut:
Lantai 0 1 2 3 4 5
Strktur Konvensional 0 1.116 2.59 3.822 4.935 5.539
Strktur Dengan Bracing 0 1.254 2.883 4.073 4.167 4.216
Strktur Dengan Yielding Damper 0 0.57 1.32 1.93 2.29 2.44

Berikut adalah kurva perbandingan antara simpangan dan tingkat struktur terhadap
jenis bangunan.:
Kurva Perbandingan Simpangan Dan Tingkat Terhadap Jenis
Struktur
0
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
1 2 3 4 5 6
Ti ngkat
S
i
m
p
a
n
g
a
n
Strktur Konvensional
Strktur Dengan Bracing
Strktur Dengan Yielding
Damper

Dari hasil tersebut dapat kita simpulkan bahwa struktur dengan
menggunakan alat yielding damper simpangannya lebih kecil dibandingkan dengan
struktur konvensional dan struktur yang menggunakan bracing.
Telah disinggung sebelumnya bahwa gaya gaya yang bekerja dan
displacement ( simpangan ) yang terjadi pada struktur bangunan yang menggunakan
yielding damper yang mempengaruhi yaitu massa, kekakuan dan damping yang
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


diberikan oleh kinerja dari struktur tersebut. Jadi dari penjelasan tersebut bahwa
damping dari struktur bangunan juga berpengaruh, di mana semakin besar damping
yang didapatkan maka smakin kecil pula terhadap gaya gaya yang bekerja dan
displacement ( simpangan ) yang terjadi pada struktur bangunan. Dari hasil analisa
didapatkan data data simpangan pada masing masing tingkat dari besarnya nilai
damping yang didapatkan / diberikan , dalam hal ini digunakan besar damping yaitu
30%, 40%, 50%, 60%. Jadi didapatkan data data sebagai berikut:
Lantai 0 1 2 3 4 5
Damping 5 % 0 0.74 1.83 2.73 2.87 3.06
Damping 30 % 0 0.65 1.5 2.18 2.59 2.76
Damping 40 % 0 0.57 1.32 1.93 2.29 2.44
Damping 50 % 0 0.52 1.2 1.74 2.07 2.2
Damping 60 % 0 0.48 1.1 1.6 1.9 2.03

Berikut adalah kurva perbandingan antara simpangan dan tingkat struktur terhadap
besarnya nilai damping:
Kurva Perbandingan Simpangan Dan Tingkat Terhadap Besar Damping
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
1 2 3 4 5 6
Tingkat
S
i
m
p
a
n
g
a
n
Damping 5 %
Damping 30 %
Damping 40 %
Damping 50 %
Damping 60 %


Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



Perilaku Damper .
Pemodelan damper adalah sebagai berikut:

Dengan propertis damper adalah sebagai berikut:
Tinggi pelat (H) = 60 cm , lebar pelat (B) = 25 cm, tebal pelat (tp) = 1,5 cm
Gaya yang bekerja pada damper,
p
f = 770.7 kg (hasil penganalisaan melalui
program SAP 2000 v11), momen potongan sejauh x ,maka:
X
M =
p
f . x , di mana x = 2/3 . h/2 = 2/3 . 30 = 20 cm.
X
M = 770.7 kg . 20cm
X
M = 15414 kgcm

Tegangan yang terjadi pada penampang x x adalah:

X
X
I
y M
.
= , dimana: Ix = 1/12 b
3
t = 70312.5
4
mm = 7.03125
4
cm

3
.
12
1
bt
y M
py
= y =t/2 =0.75 cm
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.




03125 . 7
75 . 0 . 15414
.
=
= 1644.16 kg/cm
2

Deformasi keadaan leleh untuk damper adalah:
u
py =
Et
h
2
) (
2 2


u
py =
5 . 1 . 10 . 2 . 2
) 60 ( 16 . 1644
6
2 2

u
py =
1.474 cm

Pada analisa ini ditunjukkan bahwa tegangan yang terjadi pada pelat damper
adalah sebesar = 1644,16 kg/cm, ini berarti damper masih pada keadaan aman
yaitu kurang dari tegangan ijin yaitu f
y
=2100 kg/cm2.
Bila kita bandingkan dengan tegangan yang terjadi pada batang pada struktur
maka seharusnya akan diperoleh tegangan yang lebih aman dai pada damper, hal ini
dibutuh kan karena pada pernyataan awal bahwa yang lebih dulu mengalami leleh
adlah damper itu sendiri daripada struktur. Berikut adalah tegangan yang bekerja
pada masing masing batang struktur :
No.btg Gaya maks.(kg) Profil Luasan (cm2)
Tegangan yang terjadi
(kg/cm2)
1 111654 WF 350x350 173.9 642.0586544
2 86076.2 WF 350x350 173.9 494.9752731
3 60152.3 WF 350x350 173.9 345.9016676
4 34954.6 WF 350x250 101.5 344.3802956
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


5 10996.3 WF 350x250 101.5 108.337931
6 229810 WF 350x350 173.9 1321.506613
7 178509 WF 350x350 173.9 1026.503738
8 127592 WF 350x350 173.9 733.7090282
9 75085.4 WF 350x250 101.5 739.7576355
10 22793.4 WF 350x250 101.5 224.5655172
11 229810 WF 350x350 173.9 1321.506613
12 178509 WF 350x350 173.9 1026.503738
13 127592 WF 350x350 173.9 733.7090282
14 75085.4 WF 350x250 101.5 739.7576355
15 22793.4 WF 350x250 101.5 224.5655172
16 111654 WF 350x350 173.9 642.0586544
17 86076.2 WF 350x350 173.9 494.9752731
18 60152.3 WF 350x350 173.9 345.9016676
19 34954.6 WF 350x250 101.5 344.3802956
20 10996.3 WF 350x250 101.5 108.337931
21 27433.18 WF 500x300 163.5 167.7870336
22 26929.26 WF 500x300 163.5 164.7049541
23 26749.16 WF 500x300 163.5 163.6034251
24 26591.74 WF 500x300 163.5 162.6406116
25 11447.43 WF 350x250 101.5 112.7825616
26 25842.4 WF 500x300 163.5 158.0574924
27 25811.83 WF 500x300 163.5 157.8705199
28 25390.54 WF 500x300 163.5 155.2938226
29 25102.51 WF 500x300 163.5 153.5321713
30 11038.63 WF 350x250 101.5 108.7549754
31 24781.84 WF 500x300 163.5 151.5708869
32 26929.6 WF 500x300 163.5 164.7070336
Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


33 26749.2 WF 500x300 163.5 163.6036697
34 26591.7 WF 500x300 163.5 162.640367
35 11447.4 WF 350x250 101.5 112.782266

Pada hasil yang di dapat tegangan maksimum yang terjadi pada batang adalah
1321.507 kg/cm
2
yaitu pada batang 6 dan 11, jadi bila kita bandingkan antara
tegangan yang terjadi pada damper dan struktur adalah
tegangan terjadi (kg/cm2) tegangan ijin (kg/cm2) efektifitas (%)
Damper 1644.16 2100 78.3
Batang 1321.507 2400 55.1

Jadi dari sini dapat kita dapat kita simpulkan damper akan lebih dahulu mengalami
leleh dari pada struktur seperti yang sudah dijelaskan dn diharapkan.













Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.




BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Sesuai dengan hasil contoh yang diberikan dalam menganalisa struktur
konvensional, dan struktur dengan menggunakan bracing dibandingkan dengan
struktur dengan menggunakan yielding damper pada struktur saat terjadinya gempa,
maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari hasil analisa dan perhitungan didapatkan bahwa struktur bangunan
dengan menggunakan sistim seismic device yaitu alat metallic yielding
damper akan diperoleh besarnya momen, gaya lintang (geser), gaya normal
dan simpangan yang terjadi pada struktur akan menjadi lebih kecil
dibandingkan dengan yang terjadi pada struktur biasa (konvensional) dan
struktur dengan menggunakan bracing, berikut adalah hasil dari
perbandingannya:
Tabel gaya pada tumpuan kiri balok:
konvensional yielding damper bracing
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) -28761.68 -27433.18 -29103.41
M (Momen) (kg-m) -57154.81 -50963.65 -58774.34

Tabel gaya pada lapangan balok:
konvensional yielding damper bracing
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) -4050.91 -2722.41 -4392.64
M (Momen) (kg-m) 25952.13 25526.78 27707.5

Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.




Tabel gaya pada tumpuan kanan balok:
konvensional yielding damper bracing
P (Normal) (kg) 0 0 0
V (Geser) (kg) 26391.54 25124.83 26616.5
M (Momen) (kg-m) -47726.97 -41024 -48879.53


Tabel gaya pada tumpuan atas kolom
konvensional yielding damper bracing
P (Normal) (kg) -115674.19 -102895.36 -115621.9
V (Geser) (kg) 10147.64 8600.81 10564.45
M (Momen) (kg-m) -25963.27 -22988.36 -27991.44

Tabel gaya pada tumpuan bawah kolom
konvensional yielding damper bracing
P (Normal) (kg) -116476.87 -111653.78 -115151.83
V (Geser) (kg) 10147.64 8600.81 10564.45
M (Momen) (kg-m) 25796.33 22021.15 26667.05


2. Periode getar struktur yang didapat adalah:
Struktur dengan metallic yielding damper dengan (T) = 0.441636 detik
Struktur konvensional dengan periode (T) = 0.441930 detik
Struktur dengan bracing dengan periode (T) = 0.419564 detik
akan menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan priode pada struktur biasa
(konvensional) ataupun struktur dengan menggunakan bracing.


Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.



3. Simpangan tiap tingkat pada masing masing struktur menjadi semakin kecil
yaitu:
Lantai 0 1 2 3 4 5
Struktur Konvensional 0 1.116 2.59 3.822 4.935 5.539
Struktur Dengan Bracing 0 1.254 2.883 4.073 4.167 4.216
Struktur Dengan Yielding Damper 0 0.57 1.32 1.93 2.29 2.44


4. Perbandingan gaya gaya yang bekerja pada struktur dengan menggunakan
yielding damper dengan struktur biasa (konvensional) ataupun struktur
dengan menggunakan bracing yaitu dari hasil analisa, alat tersebut dapat
mendissipasi gaya maksimum sebesar 38.02 % .










Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


5.2 Saran.
a. Struktur yang digunakan dapat lebih kompleks dengan jumlah tingkat yang
lebih tinggi dan bentuk bangunan lebih bervariasi.
b. Hasil perhitungan gempa dengan menggunakan peraturan SNI 1726 -2003
dapat dibandingkan dengan praturan lain seperti UBC 1997, IBC 2000, IBC
2003, IBC 2006, maupun FEMA untuk struktur dengan menggunakan alat
yielding damper.
c. Agar dapat dibuat perencanaan detil dari struktur dengan menggunakan alat
yielding damper dan detil dari alat yielding damper.












Helmy Iskandasyah : Analisis Respon Spektrum Pada Bangunan Yang Menggunakan Yielding Damper Akibat
GayaGempa, 2009.


DAFTAR PUSTAKA
Charney, Finley A. Seismic Protective Systems: Passive Energy Dissipation.Virginia
Polytechnik Institute & State University.
Symans, Michael D. Presented Seismic Protective Systems: Passive Energy
Dissipation. Rensselar Polytechnik university.
American Institute Of Steel Construction, Seismic Provisions For Structural Steel
Buildings, ANSI / AISC, Chicago, November 2005
Bungale S, Taranath, Structural Analysis And Design Of Tall Building, New York.
Engelhard, Michael D, Design Of seismic Resistent Steel Building Structure, Texas,
March 2007
Moestopo M, and Mirza A, Kinerja Link Dengan Sambungan Baut Pada Struktur
Rangka Berpengaku Eksentrik, Seminar Haki & Pameran Haki, Jakarta, Agustus
2006
Moestopo, M, Beberapa Ketentuan Baru Mengenai Design Struktur Baja Tahan
Gempa, Seminar Haki & Pameran Haki, Jakarta 2007
SNI 03-1726-2002, Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung,