Anda di halaman 1dari 9

Pajak Internasional

DOUBLE TAXATION

Pajak Internasional DOUBLE TAXATION DISUSUN OLEH : SIGIT HARNOWO (1106134575) FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DISUSUN OLEH :

SIGIT HARNOWO

(1106134575)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK

2013

DOUBLE TAXATION

Sistem Perpajakan dalam satu negara berbeda dengan negara lainnya, baik dari sisi jenis pajak maupun tarif pajaknya. Seorang warga negara yang memiliki penghasilan dapat dikenakan pajak menurut ketentuan yang berlaku dalam suatu negara. Penghasilan tersebut dapat berasal dari negara asalnya ataupun dari luar negaranya. Suatu negara dapat menarik pajak atas penghasilan warga negaranya baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri (world wide income). Di negara lainnya, pajak dikenakan oleh negara yang merupakan sumber dari penghasilan seorang warga negara. Hal tersebut di atas dapat mengakibatkan pengenaan pajak ganda kepada seorang warga negara atas penghasilan yang sama.

A.1. SOURCE JURISDICTION

Negara A mengimpor Barang/Jasa

NEGARA A
NEGARA A
NEGARA B
NEGARA B

Negara A membayar atas Impor Barang/ Jasa

Dari gambar di atas terdapat dua negara yang di dalamnya terdapat pihak pihak yang berinteraksi satu sama lain. Pihak di dalam Negara A mengimpor barang/jasa dari pihak dari Negara B. Kemudian pihak di Negara A membayar sejumlah uang yang merupakan penghasilan bagi pihak di Negara B. Jadi, sumber penghasilan berasal dari Negara A.

Bagi negara yang memiliki prinsip ”Source Jurisdiction” terhadap transaksi tersebut mengatakan bahwa yang berhak mengenakan pajak atas penghasilan impor barang tersebut adalah Negara A, karena menurut Prinsip ”Source Jurisdiction” yang berhak mengenakan pajak atas penghasilan adalah negara yang memberikan penghasilan / menjadi sumber penghasilan.

A.2. RESIDENCE JURISDICTION

Negara A mengekspor Barang/Jasa

NEGARA A
NEGARA A
NEGARA B
NEGARA B

Negara A menerima pembayaran atas Ekspor

Dari gambar di atas terdapat dua negara yang di dalamnya terdapat pihak pihak yang berinteraksi satu sama lain. Pihak di dalam Negara A mengekspor barang/jasa dari pihak dari Negara B. Kemudian pihak di Negara B membayar sejumlah uang yang merupakan penghasilan bagi pihak di Negara A. Jadi, sumber penghasilan berasal dari Negara B. Bagi negara yang memiliki prinsip ”Residence Jurisdiction” terhadap transaksi tersebut mengatakan bahwa yang berhak mengenakan pajak atas penghasilan impor barang tersebut adalah Negara A, walaupun sumber penghasilan berasal dari negara B. Karena menurut Prinsip ”Residence Jurisdiction” yang berhak mengenakan pajak atas penghasilan adalah negara dimana individu/organisasi tersebut bertempat tinggal /

berkedudukan. Negara dengan prinsip ini menganut pengertian “world wide income”.

B. JURIDICAL DOUBLE TAXATION Setiap negara memiliki ketentuan perpajakan yang ingin diterapkan dalam transaksi yang bersangkutan. Hal tersebut dapat berdampak pada negara yang saling bertransaksi. Masing masing ingin memaksakan peraturan pajaknya yang diterapkan dalam suatu transaksi, hal ini dapat menimbulkan pertentangan prinsip dan berujung pada pengenaan pajak ganda. ’Juridical Double Taxation’ dapat muncul karena 3 jenis pertentangan, yaitu :

  • 1. Source source conflict Dua negara dapat saling bertentangan mengenai pengenaan pajak terhadap suatu aktivitas ekonomi. Masing masing negara tersebut mengangap bahwa telah mengambil bagian atau memberi sumbangsih atas penghasilan yang diperoleh seseorang. Suatu aktivitas ekonomi yang terpecah pecah tersebut dapat menimbulkan pertentangan dan juga pengenaan pajak ganda.

  • 2. Residence residence conflict Dua negara dapat saling bertentangan mengenai pengenaan pajak terhadap suatu status tempat tinggal ataupun kedudukan dari individu / organisasi. Masing masing negara tersebut mengangap bahwa kedudukan suatu organisasi berada di negaranya. Suatu pendirian organisasi yang terpecah pecah tersebut dapat menimbulkan pertentangan dan juga pengenaan pajak ganda.

  • 3. Source residence conflict Jenis pertentangan ini merupakan jenis pertentangan yang rentan untuk masing masing negara mengklaim pajaknya. Diawali dari perbedaaan prinsip, kemudian terjadi pertentangan tentang yang berhak terhadap pajak dari suatu transaksi, yang pada akhirnya dapat menimbulkan pengenaan pajak ganda.

C. METODE MENGATASI JURIDICAL DOUBLE TAXATION

Jurudical Double Taxation merupakan hal yang dapat merugikan investor dan dapat menghalangi hubungan antar negara dalam bertransaksi. Beban pajak yang

ditanggung investor dapat menjadi halangan bagi mereka untuk berhubungan bisnis dengan negara lain. Di satu sisi merugikan investor, di sisi lain (sisi makro) dapat menghambat pertumbuhan ekonomi negara dan dunia. Untuk itu perlu kesepahaman antar negara dalam melihat hal tersebut dan membuat solusinya. Ada 3 (tiga) metode yang dapat dipakai dalam mengatasi pengenaan pajak ganda tersebut, yaitu :

  • 1. Exemption Method

    • a. Full Exemption

Dalam metode ini, penghasilan yang bersumber dari masing-masing negara

dipisahkan satu sama lain. Pengenaan pajaknya pun hanya atas penghasilan dengan sumber dari masing masing negara. Satu negara menghiraukan/mengeluarkan penghasilan yang bersumber dari luar negeri.

  • b. Exemption with progression

Dalam metode ini, penghasilan yang bersumber dari masing-masing negara dipisahkan satu sama lain. Pengenaan pajaknya pun hanya atas penghasilan dengan sumber dari masing masing negara. Perbedaannya dengan Full Exemption adalah dalam penggunaan tarif. Tarif pajak domestik yang digunakan menyesuaikan dengan total penghasilan yang diterima baik dalam maupun luar negeri. Namun, dalam penghitungan pajaknya tetap memisahkan pengahasilan kemudian dikalikan dengan tarif pajak progresivenya. Hal ini dapat terjadi dalam negara yang menggunakan tarif pajak progresive.

  • 2. Foreign Tax Credit Method

    • a. Full Credit

Dalam metode ini, penghasilan yang bersumber dari masing-masing negara tidak dipisahkan sepenuhnya satu sama lain. Pengenaan pajak atas penghasilan luar negeri

sebesar jumlah penghasilan yang bersumber dari luar negeri dikali dengan tarif negara terkait sedangkan pengenaan pajak domestik atas total penghasilan (world wide income). Keuntungan dengan Full Credit adalah besarnya pajak luar negeri dapat dikreditkan (mengurangi) terhadap pajak domestiknya.

  • b. Ordinary Credit

Dalam metode ini, penghasilan yang bersumber dari masing-masing negara tidak dipisahkan sepenuhnya satu sama lain. Pengenaan pajak atas penghasilan luar negeri

sebesar jumlah penghasilan yang bersumber dari luar negeri dikali dengan tarif negara terkait sedangkan pengenaan pajak domestik atas total penghasilan (world wide income). Perbedaannya dengan full credit adalah adanya batasan maksimal untuk besaran pajak luar negeri yang dapat dikreditkan. Besaran pajak luar negeri yang dapat dikreditkan merupakan bagian/porsi tertentu. Cara mendapatkan besaran pajak maksimal tersebut adalah membagi besarnya penghasilan luar negeri dibagi total penghasilan kemudian dikalikan dengan besarnya pajak domestik. Apabila besarnya pajak luar negeri belum melebihi batas tersebut, pajak luar negeri tersebut dapat tetap digunakan laiknya metode Full Credit.

  • 3. Deduction Method Dalam metode ini, penghasilan yang bersumber dari masing-masing negara tidak dipisahkan sepenuhnya satu sama lain. Pengenaan pajak atas penghasilan luar negeri sebesar jumlah penghasilan yang bersumber dari luar negeri dikali dengan tarif negara terkait sedangkan pengenaan pajak domestik atas total penghasilan (world wide income). Perbedaannya dengan Foreign Tax Credit Method adalah apabila dalam Foreign Tax Credit Method, pajak luar negeri dikreditkan (mengurangi) pajak domestik, sedangkan dalam Deduction Method , pajak luar negeri mengurangi total penghasilan (world wide income). Hasil dari pengurangan tersebut untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak (DPP) yang akan dikalikan dengan tarif pajak Domestik.

D. ECONOMIC DOUBLE TAXATION

Dalam juridical double taxation, yang menjadi fokus pembahasan adalah subjek pajak yang dikenakan pajak berganda. Sedangkan, dalam economic double taxation yang menjadi fokus adalah objek pajak yang dikenakan pajak berganda. Hal ini dapat terjadi pada suatu penghasilan yang sama namun dikenakan pada pihak yang berbeda (al. Perusahaan dan Pemegang Saham). Hal tersebut diatas menjadi suatu kekhawatiran bagi negara apabila nantinya niat investor berkurang untuk menanamkan modalnya dalam suatu negara pada umumnya dan pada perusahaan pada khususnya. Bagi investor dengan besarnya pajak yang dikenakan

nantinya akan mengurangi tingkat pengembalian bagi investor tersebut. Untuk itu, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menanganinya yaitu :

  • 1. Exemption at the corporate level Metode ini digunakan dengan cara mengacuhkan / menghilangkan pengenaan pajak di tingkat perusahaan. Hal ini berarti laba perusahaan yang akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen merupakan laba yang bebas dari pajak. Pajak hanya dikenakan atas penghasilan (dividen) yang didapat oleh para pemegang saham.

  • 2. Exemption at the shareholder level Metode ini berlawanan dengan metode exemption, digunakan dengan cara mengacuhkan / menghilangkan pengenaan pajak di tingkat pemegang saham. Hal ini berarti dividen yang diterima pemegang saham akan bebas dari pajak. Pajak hanya dikenakan atas Laba Usaha yang didapat oleh perusahaan.

  • 3. Full Integration of Corporate Profits and shareholder Metode ini dilakukan dengan cara menghilangkan perhitungan penghasilan pada tingkat perusahaan. Penghasilan atau laba perusahaan langsung diperhitungkan sebagai laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.

  • 4. Full Imputation of Corporate Profits to shareholder Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan hasil pajak dari tingkat perusahaan kepada laba perusahaan setelah pajak. Kemudian hasil penjumlahan inilah yang akan menjadi dasar pengenaan pajak tingkat pemegang saham. Hasil perhitungan merupakan pajak tingkat pemegang saham dan masih dapat dikreditkan (dikurangi) dengan pajak tingkat perusahaan.

CONTOH SOAL :

Exemption Method

  • 1. Pada 2009 Indonesia menerima penghasilan dari dalam negeri sebesar Rp.200 juta tarif pajak di Indonesia 28% dan Indonesia juga mendapat pengahasilan dari Jepang sebesar Rp. 150 juta dengan tarif pajak 40%. Sehingga sesuai perhitungan secara Full Exemption adalah sebagai berikut :

Pendapatan dari Jepang

Rp.150.000.000

Pendapatan dari dalam negeri (Indonesia)

Rp.200.000.000

Worlwide Income

Rp.350.000.000

Pajak luar negeri yang dibayar (40% x Rp. 150.000.000)

Rp. 60.000.000

Pajak yang dibayar di dalam negeri (28% x 200.000.000)

Rp. 56.000.000

Total Pajak yang dibayar

Rp.116.000.000

  • 2. Asumsi tarif pajak di Indonesia untuk penghasilan Rp.100 juta sebesar 15% dan diatas Rp.100 juta hingga Rp.250 juta sebesar 25% dan diatas Rp.250 juta sebesar 40%. Pada 2009 Indonesia mendapat penghasilan dari lingkup dalam negeri sendiri sebesar Rp.200 juta dan serta menerima penghasilan dari jepang atas usaha kerja sama pengembangan vaksin DBD sebesar Rp.150 juta tarif pajak di jepang 40%. Sehingga sesuai perhitungan secara Exemption with progression adalah sebagai berikut :

Pendapatan dari Jepang

Rp.150.000.000

Pendapatan dari Indonesia

Rp.200.000.000

Worlwide income

Rp.350.000.000

Dasar Pengenaan Pajak di Indonesia

35%

Pajak luar negeri yang dibayar (40% x Rp.150 juta)

Rp. 60.000.000

Pajak yang di bayar di dalam negeri (35% x Rp.200 juta)

Rp. 70.000.000

Total Pajak yang dibayar

Rp.130.000.000

  • 3. Jika Menggunakan Foreign tax credit method khususnya Full credit dengan asumsi yang sama sesuai soal sebelumnya (Indonesia Menerima penghasilan dalam negeri

Rp.200 juta dengan tariff pajak 28% dan menerima penghasilan dari Jepang Rp. 150 juta dengan tariff pajak 40 % maka :

Pendapatan dari Jepang

Rp.150.000.000

Pendapatan dalam negeri

Rp.200.000.000

Worlwide Income

Rp.350.000.000

Pajak Luar Negeri yang dibayar (40% x Rp.150.000.000)

Rp. 60.000.000

Pajak Dalam Negeri yang dibayar (28% x Rp. 200.000.000)

Rp. 56.000.000

Dikurangi : full credit dari pajak yg dibayar di luar negeri

(Rp. 60.000.000)

Pajak yang dibayar Indonesia

(Rp. 4.000.000)

Total Pajak yang di bayar

Rp. 56.000.000

4. Jika Menggunakan Deduction Method dengan asumsi yang sama sesuai soal sebelumnya (Indonesia Menerima penghasilan dalam negeri Rp.200 juta dengan tariff pajak 28% dan menerima penghasilan dari Jepang Rp. 150 juta dengan tariff pajak 40 % maka :

Pendapatan dari Jepang

Rp.150.000.000

Pendapatan dalam negeri

Rp.200.000.000

Worlwide Income

Rp.350.000.000

Pajak Luar Negeri yang dibayar (40% x Rp.150.000.000)

Rp. 60.000.000

Worlwide Income

Rp.350.000.000

dikurangi Pajak Luar negeri

(Rp. 60.000.000)

Pendapatan yang dibayar di Indonesia

Rp.290.000.000

Pajak yang dibayar di dalam negeri (28% x Rp.290 juta)

Rp. 81.200.000

Total Pajak yang di bayar

Rp.141.200.000