Anda di halaman 1dari 11

Rainy Story (ver.

Kang Su Ra)

Title : FF Rainy Story
Casts : Kang Su Ra (ulzzang)
Admin : @sellaira, alexiadhea.wordpress.com
Genre : AU, romance
-happy reading-
Story 1
Didalam mobil seorang diri dan terkunci di dalamnya itu sangat menyebalkan. Apalagi karena
hal yang di sengaja oleh seseorang. Ya aku disini, didalam mobil tepat diparkiran mall. Dan
seseorang meninggalkanku hanya untuk membeli makanan ringan.
Hampir 1 jam aku menunggunya. 30 menit lagi jika ia tidak datang juga, aku akan mati karena
kehabisan pasokan oksigen. Ku hajar kau nanti.
Ya, meskipun ia sudah berbaik hati mau menjemputku di kampus saat hujan-hujan seperti ini. Ia
juga mau mengajakku untuk sekedar berjalan-jalan untuk merefreshingkan diri setelah
menjalani sidang skripsi dua hari yang lalu. Ia teman baikku sejak kami bersekolah menengah
atas.
Tidak, kami bukan teman sekelas. Ia adalah seniorku. Ia yang selalu membantu dan membelaku
saat MOS. Aku sempat jatuh cinta padanya. Tapi selalu ku urungkan perasaan itu.
KLEK!
Terdengar pintu mobil terbuka dan masuklah ia ke dalam. Aku masih merebahkan tubuhku
santai dan memainkan kamera yang aku bawa. Wajah ku pasang dengan sangat jutek. Ia sama
sekali tak melihatku. Ia sibuk dengan barang belanjaannya dan meletakkannya di jok belakang.

Kenapa wajahmu seperti itu ? tanyanya tanpa dosa. Ya tuhan, apa orang ini tidak punya hati
? Sesantainya ia bicara seperti itu. Menyebalkan.
Hei, aku bicara padamu Kang Sura. Dan turunkan kakimu itu! panggilnya lagi dan kini mulai
focus kepadaku.
Oh kau bicara padaku. Aku pikir kau tak menganggapku ada. jawabku acuh dan dengan
ekspresi datar. Tak ada sanggahan darinya, yang terdengar hanya tawa yang meledak darinya.
Aku menoleh dan memiringkan kepalaku tanda aku tak mengerti dengan sikapnya.
Tidak ada yang lucu. Kenapa kau tertawa ? Kau memang menyebalkan. Dan kau juga tak punya
hati. Seenaknya saja mengunciku di dalam mobil seorang diri. Memangnya aku apa hah ?
omelku padanya tanpa berani memandang wajahnya. Jika aku memandangnya, rasa kesal dan
emosiku akan menguap dan hilang. Terkadang ekspresinya membuat aku tertawa.
Aku takut kau hilang di dalam nanti. Dan aku takut kau akan meminta barang-barang
favoritmu jika kau melihatnya didalam. Aku tidak mau menghambur-hamburkan uangku
untukmu.
Yak! Memangnya aku anak kecil yang hilang didalam mall ? Meminta barang padamu ? Cih
tidak akan. Aku juga punya uang untuk membelinya sendiri.
Haha aku hanya bercanda Su Ra-ya. Baiklah aku minta maaf. Aku hanya tak ingin membuatmu
lelah. Aku membiarkanmu beristirahat. balasnya dan mengacak rambutku pelan. Membuatnya
berantakan tak karuan. Dan aku segera membenarkannya.
Aku hanya diam dan masih dengan wajah kesal. Tiba-tiba di hadapanku kini terlihat lollipop
berwarna-warni dengan bentuk hati. Tanpa sadar aku tersenyum seraya mengubah posisiku
menjadi duduk manis dan bersiap mengambilnya. Jika saja ia tak merebutnya kembali.
Aku berikan ini dengan syarat kau mau memaafkan aku. Bagaimana ?
Langsung saja ku rebut lollipop itu dari tangannya dan segera membukanya. I Love lollipop.
Aku memang sangat menyukai makanan manis ini. Sehari saja aku tak memakannya, seperti
ada yang kurang. Aku tak bisa hidup tanpa lollipop.
Mobil pun berjalan dan melaju membelah jalanan kota. Hari sudah hampir menjelang sore. Aku
masih asyik dengan lollipop dalam genggamanku. Hujan masih setia di luar sana. Dan semakin
bertambah deras. Aku melihatnya melalui kaca jendela mobil. Aku suka hujan seperti ini. Aku
terus memperhatikan hujan sampai melupakan lollipop ku.
Kau suka hujan ya ? tanyanya dengan sesekali menoleh ke arahku. Aku hanya mengangguk
tanpa mengalihkan pandanganku dari jendela mobil. Menit selanjutnya, mobil berhenti di tepi
jalan. Aku menoleh ke arahnya dan bertanya, Waeyo ?
Detik berikutnya ia keluar dan membukakan pintu mobil untukku kemudian menarikku keluar
dari mobil. Apa yang kau lakukan ? tanyaku heran dan mencoba kembali masuk ke dalam
mobil.
Kau suka hujan kan ? Kajja kita main hujan-hujanan. Ayo kejar aku! jawabnya dan berlari
dengan sebelumnya mencubit hidungku. Aku mengejarnya dan berusaha menangkap tubuhnya.
Sampai aku dapat menangkap dirinya tepat sekali suara petir menggelegar di telingaku. Aku
memeluknya erat dan memendamkan wajahku di tubuhnya.
Haha kau suka hujan tapi kau takut petir. Payah sekali. tawanya pecah begitu melihatku. Aku
pun segera melepaskan pelukan tersebut dan memandangnya kesal.
Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke telinga kiriku dan berbisik, Aku mencintaimu Su Ra-ya.
Aku tak bisa mencerna kalimat itu dalam otakku. Mungkin karena aku benar-benar kesal
dengannya. Sejak tadi ia terus saja membuatku marah. Aku hanya diam. Sampai ia kembali
mengomel.
Yak! Kang Su Ra. Reaksimu hanya seperti itu ?
Memangnya aku harus bagaimana ? tanyaku dengan wajah polos. Aku memang tidak tahu
harus seperti apa. Apa aku harus berteriak histeris ? Meloncat-loncat dengan girang ? Atau
memandangnya dengan tatapan aneh ?
Aku mencintaimu. ulangnya sekali lagi dengan penuh penekanan.
Kau mencintaiku ? Apa itu cinta ? Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku pernah dengar kata-kata
itu.
Kau tidak tahu cinta ? Jinjjayo ? Aku serius Su Ra-ya. Aku tidak bercanda. Jadi kumohon jangan
bercanda. Aku ini sungguh-sungguh. ucapnya kesal seraya memegang pundakku dengan kedua
tangannya dan tersirat dalam manik matanya bahwa ia sedang benar-benar serius. Tapi aku
memang tidak tahu apa itu cinta.
Kau ini bicara apa sih ? Aku tidak mengerti. Sudahlah, aku mau pulang. Lihat! Tubuhku sudah
basah dan aku kedinginan. Ayo cepat masuk ke dalam mobil! ucapku dan menarik tangannya
menuju mobil.
Oh ya Tuhan, berilah aku ketabahan.
Tunggu dulu! Dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu seperti kau mencintai lollipop mu itu.
Kau tak bisa hidup tanpa lollipop dan aku tak bisa hidup tanpamu.
Dia mencintaiku seperti aku mencintai lollipopku ? Jinjjayo ? Apa aku harus menjawab dengan
hal yang sama ? Ah aku tidak tahu harus bagaimana.
Hmm sepertinya aku juga mencintaimu seperti lollipop. Tapi cintaku padamu tidak sebesar
dengan cintaku terhadap lollipop ku. tawaku dan menciumnya tepat di bibir tipisnya. Dan aku
pun berlari di tengah-tengah hujan dengan disusul dengan dirinya.

Story 2
Lagi-lagi hujan. Sudah hampir semingggu ini hujan turun deras. Membuat beberapa orang
kesulitan melakukan aktifitas sehari-harinya. Termasuk aku. Karena hujan yang turun sejak tadi
pagi, membuatku sulit untuk menjual dan mengantar bunga-bunga pesanan. Dan jarang sekali
orang-orang memesan bunga pada saat musim hujan seperti ini.
Dan hari ini aku memutuskan untuk menutup toko bunga milikku dan berdiam diri di dalam
rumah yang hangat dengan ditemani secangkir hot cappuccino, selimut yang tebal dan api
unggun. Duduk di dekat jendela dan menyaksikan butiran air yang turun dari langit cukup
membuat hatiku tenang dan damai.
TOK TOK TOK
Aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Tampanglah seorang pria dengan tubuh yang
basah kuyup oleh air hujan. Wajahnya sedikit pucat. Aku menyuruhnya untuk masuk dan
memberikan handuk untuk mengeringkan sebagian tubuhnya.
Aku mencarimu di toko dan menunggu mu disana. Tapi kau tidak ada. ucapnya dengan suara
bergetar. Ia terlihat kedinginan. Aku memberikan ia baju ganti milik sepupu laki-lakiku dan
menyuruhnya untuk segera mengganti pakaiannya yang basah itu.
Lima menit berlalu, ia sudah kembali di hadapanku. Ia duduk di dekat perapian. Aku
menyodorkan segelas susu hangat untuknya.
Hari ini aku tidak bekerja. Hujan terus turun.
Kenapa tidak memberitahuku Su Ra-ya ? Aku menunggumu disana. ucapnya dengan suara
yang tidak terdengar lembut. Terdengar seperti orang yang marah dan kesal. Tapi kenapa ia
marah padaku ? Aku tak menyuruhnya untuk datang kesana dan menungguku di tengah hujan
yang lebat.
Mianhae. Aku tidak tahu jika kau kesana. Maafkan aku. ucapku dan menatapnya dengan
tersenyum.
Memangnya ada apa kau mencariku ? Ada hal pentingkah ? tanyaku lagi setelah ia tak
kunjung berbicara.
Aku menyukaimu. Mau kah kau menjadi kekasihku ?
Apa yang dikatakannya barusan ? Apa dia menyatakan cinta kepadaku ?
Kata-katanya sukses membuatku membelalakkan mata dan tercengang mendengarnya. Aku tak
mampu berbicara karena terlalu shock dengan ucapannya yang mendadak.
Aku juga tahu kalau kau menyukaiku sejak lama. Sudah jangan membohongi hatimu sendiri.
Cepat katakan kalau kau juga menyukaiku dan mau menjadi pacarku. Ppali! ucapnya dengan
nada percaya dirinya yang selangit. Sungguh mengagumkan rasa percaya dirinya itu.
Ayo cepat katakan! Aku tidak akan mengulang untuk yang kedua kali. Cepat katakan! Atau kau
akan menyesal seumur hidupmu. sambungnya lagi dan mulai menatapku dengan tuntutan
memaksaku menjawab pertanyaannya. Ini sungguh gila. Seumur hidupku, aku baru melihat
seorang pria menyatakan perasaannya seperti ini. Sungguh tidak ada sisi romatisnya sama
sekali.
Hei, sadarlah! Wanita menyukai pria yang romantic untuk menyatakan cinta. Tidak seperti ini.
Ini namanya pemaksaan. Aku tidak mau kalau caranya seperti ini. Aku akan menolaknya
meskipun sebenarnya aku juga menyukainya sejak lama. Menyukai teman baikku sendiri yang
sudah lama ku kenal.
Aku tidak mau. Sudah kau pulang saja sana. Aku lelah dan ingin beristirahat. jawabku dan
mencoba meninggalkannya menuju kamar. Aku rasa setelah ini aku akan menangis berjam-jam
karena sudah menolaknya mentah-mentah hanya karena ia tidak romantic dalam menyatakan
perasaannya.
Tiba-tiba sepasang tangan yang kokoh memelukku dari belakang. Dan itu terasa sangat hangat
dibandingkan dengan selimut tebal yang sempat aku gunakan tadi.
Aku mencintaimu Kang Su Ra. Benar-benar mencintaimu. Aku mohon terimalah aku. bisiknya
tepat di telingaku membuat aku sedikit geli. Ia menarikku hingga kini kami berhadapan dengan
jarak yang sangat dekat.
Aku dapat melihatnya dengan jelas dalam jarak seperti ini. Mencium aroma parfum White busk
yang ia kenakan. Rambutnya basah karena hujan tadi. Ia menciumku sekilas membuatku
terkejut dengan aksinya itu.
Jawab aku Su Ra-ya! pintanya lagi. Dan dengan senang hati aku akan menjawab, Aku juga
mencintaimu.

Story 3
Ingin rasanya aku terus berada dibawah hujan deras ini. Agar orang-orang tak mengetahui kalau
aku sedang menangis. Hatiku sakit dan hancur. Aku harus menerima kenyataan yang
sebenarnya terjadi. Meskipun hatiku sangat berat untuk menerimanya.
Berjalan tanpa arah dengan pakaian basah dibawah hujan seperti ini. Jarang sekali orang
berkeliaran saat ini. Mereka lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah yang hangat
dengan minuman panas di hadapannya dan api unggun yang setia menyala. Tapi tidak
denganku.
Sebuah payung bertengger di atas kepalaku. Membuat rintikan hujan terhalang dan tak
mengenai tubuhku lagi. Aku menoleh dan mendapatkan seorang laki-laki tampan berdiri tegak
disampingku dengan payung berwarna putih transparan.
Apa yang sedang kau lakukan disini, Su Ra-ya ? tanyanya dengan wajah khawatir. Aku tak
sanggup menjawabnya hanya isakan tangis yang keluar dari dalam mulutku. Terlalu sakit untuk
mengutarakannya.
Su Ra-ya gwenchana ? tanyanya lagi dan menatapku. Aku menundukkan wajahku dan
memeluk tubuhku. Ia memelukku erat dan bertanya apa yang terjadi pada diriku. Tangisku
semakin pecah dan kian menjadi. Aku membalas pelukannya yang terasa begitu hangat.
Kumohon jawablah aku Su Ra-ya! Kau ini kenapa ? Jangan membuatku khawatir seperti itu.
Dia tega mencampakkanku. Dia jahat. Aku membencinya. Sangat membencinya. rutukku
dalam pelukannya dan kembali menangis.
Sudah sudah. Tenanglah! Aku ada disini untukmu. ucapnya menenangkanku dan mengusap
punggung belakangku dan semakin mempererat pelukannya.
Aku mencintaimu Kang Su Ra. Aku akan melindungi dan menyayangimu setulus hatiku. Aku
janji tak akan menyakitimu seperti laki-laki lain yang telah menyakitimu. Aku janji akan
menghilangkan semua sakit hati dan luka-lukamu. ucapnya membuat tangisanku sedikit
mereda. Kata-kata yang tak pernah aku tahu akan keluar dari mulutnya dari dirinya-teman
baikku sendiri.
Ia yang telah menemani hari-hariku selama ini. Tempat sampah curahan hatiku. Orang yang
selalu ada untukku suka ataupun duka. Ia yang selalu berbaik hati meminjamkan bahunya kala
aku bersedih dan menangis dan selalu setia untuk menghiburku.
Apa aku tega menyakiti hatinya ? Dengan jawaban kalau aku sama sekali tak memiliki perasaan
untuknya. Itu tidak mungkin.
Tapi, inilah keputusanku, Aku juga mencintaimu. jawabku dan melepaskan pelukan tersebut
kemudian menatapnya dengan mencoba tersenyum meskipun itu sulit untukku.
Aku tak ingin jika hanya keterpaksaan yang keluar dari dalam mulutmu itu. Aku akan
menunggumu sampai kapanpun Su Ra-ya. Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Dan
sampai kau siap untuk benar-benar mencintaiku.
Aku akan mencobanya untukmu. Aku akan mencoba untuk mencintaimu dengan tulus, dengan
hatiku. balasku dan kembali memeluknya erat. Sangat erat. Dan aku akan berjanji untuk tak
menyakitinya dan mencintainya dengan penuh ketulusan.

Story 4
Diujung jalan ini aku berdiri manis dengan tubuh yang sebagian basah karena hujan deras tiba-
tiba tadi. Hujannya masih turun, namun kini mulai mereda. Hingga sisa gerimis kecil. Aku
menunggu lampu hijau itu berubah menjadi merah agar memudahkanku untuk menyebrang
jalan ini. Keadaan cukup ramai mengingat jam pulang kantor tiba. Mereka yang sudah lelah
bekerja di tempatnya segera memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
Sama seperti aku ini. Pekerjaan ku telah usai. Aku harus pulang dan menemui adikku yang
sedang sakit dirumah. Kami hanya tinggal berdua. Ayah dan ibu berada jauh disana. Sydney. Di
kota ini kami berdua mencoba untuk hidup mandiri.
Seseorang berlari menghampiriku dengan payung yang ia kenakan dan membaginya kepadaku.
Ia teman baikku di kantor. Yang juga merupakan atasanku. Kami memang dekat karena
memang tuntutan pekerjaan yang memaksa kami untuk terus bersama jika menyangkut soal
pekerjaan.
Kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti ini. Aku antar kau pulang.
Tidak perlu. Rumahku dekat dari sini. Aku hanya tinggal menyebrang dan berjalan kurang lebih
setengah kilometer.
Ia melengos menatap jalan dan beralih melihat tanganku yang sedang bebas disisi tubuhku.
Seketika tubuhku menegang kala ia menggenggam tanganku dan menyeretku untuk
menyebrang jalan. Aku tak menyadari jika lampu lalu lintas itu telah berubah warna.
Bagaimana pekerjaanmu ? Apa ada yang menyusahkanmu ? tanyanya saat kami sedang
berjalan ditrotoar jalan. Ia masih tetap memayungiku dengan payung hitamnya.
Tidak ada yang menyusahkan untukku. Aku senang dengan pekerjaan dan tugas-tugas yang
kerap kau berikan padaku.
Wanita hebat.
Maksudmu ?
Iya kau wanita hebat. Wanita yang tak pernah mengeluh. Padahal aku selalu memberimu
pekerjaan yang sulit untuk pekerja awam sepertimu. Dan kau bekerja siang dan malam untuk
memenuhi kebutuhan hidupmu dan adikmu. Bahkan gajimu pun tak seberapa. Apa kau tidak
lelah ? ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Entahlah ia sedang memujiku atau sedang
mengejekku. Ekspresi di wajahnya datar. Jadi aku tak mampu menebaknya. Lagipula darimana
ia tahu kalau aku memenuhi hidup dua orang. Aku sama sekali tak pernah menceritakan
kehidupan pribadiku dengannya. Atau dengan siapapun di tempat ku bekerja. Aku kurang
terbuka dengan orang yang belum sepenuhnya ku kenal.
Meskipun aku lelah, mengeluh pun bukan jalan keluar yang baik. Dan bukan penyelesaian
masalah yang benar. Aku bersyukur dengan apa yang ada. Aku tak mementingkan harta. Aku
punya kebahagian yang jauh lebih berharga dibandingkan harta.
Memangnya kau bahagia ? Bahkan aku tak pernah melihat air muka diwajahmu mengatakan
kalau kau bahagia.
Sebenarnya apa yang dia mau ? Aku tidak mengerti maksud dan tujuannya ia berbicara seperti
itu.
Sebenarnya apa maksudmu ? tanyaku dengan nada agak kesal dan menatap wajahnya geram.
Aku menghentikan langkah kaki ku.
Aish ingatlah Twila, ia atasanmu. Jangan kau keluarkan emosimu itu! Aku berusaha meredam
amarah yang mungkin saja keluar dan akan berakibat fatal jika ku lakukan kepada pria
dihadapanku ini. Aku bisa saja dipecat jika melakukan hal yang membuatnya merasa dirugikan.
Misal wajah tampannya lebam karena pukulan emosiku. Aku tidak mau kehilangan
pekerjaanku. Susah untuk mencarinya lagi.
Seharusnya kau berterimakasih kepadaku karena sudah mengantarkanmu pulang tanpa
terkena hujan. Bukannya emosi dan marah seperti itu. jawabnya yang sukses membuatku
mengernyitkan alis. Bahkan aku tak sama sekali memintanya untuk mengantarku. Dia yang mau
dengan mengikutiku.
Aku tidak memintamu mengantarkanku pulang. jawabku acuh.
Tapi nyatanya kita sudah sampai di depan rumahmu. Dan aku sudah mengantarmu dengan
selamat. Ia menunjuk ke hadapannya. Aku menoleh ke arah yang ia tunjuk. Benar ini rumahku.
Tapi, tahu darimana dia kalau ini rumahku ?
Baiklah terimakasih sebelumnya. Tapi aku mau bertanya sesuatu padamu.
Katakan!
Apa maksudmu bertanya aku lelah dengan semua ini dan bertanya tentang kebahagiaanku ?
Dan aku heran darimana kau tahu kalau aku menghidupi untuk dua orang ? Aku dan adikku. Kau
juga tahu rumahku. Aku tak pernah memberitahu siapapun tentang privacy pribadiku.
Kau mau tahu maksudku ? tanyanya dan menutup payung itu. Padahal hujan masih turun.
Aku mengangguk kuat dan melipat kedua tanganku didepan dada, menanti jawabannya.
Baiklah aku akan menjelaskannya padamu. Maksudku menanyakan itu semua karena aku
mencintaimu Twila. Aku ingin kau menjadi istriku. Menjadi pendamping hidupku. Aku janji
hidupmu akan bahagia. Dan kau tak perlu bekerja untuk biaya hidupmu dan adikmu. Kau tak
akan lelah karena bekerja lembur tiap minggunya.
Ia sedikit menarik nafas untuk melanjutkan kembali ucapannya. Tubuhku seketika bergetar
karena gugup.
Sudah lama aku mencintaimu. Lebih tepatnya saat kau melamar kerja diperusahaanku. Aku
sengaja menjadikan sekretaris peribadiku. Semuanya sudah ku rancang. Senyumanmu
mengalihkan pikiranku. Aku berusaha mencari identitas dirimu. Semua tentang dirimu. Sedikit
sulit memang karena kau sangat tertutup dengan semua orang. Butuh waktu lama untuk semua
itu. Aku pun tahu kalau kau juga menyukaiku. So, would you be mine Twila ?
Aku diam tak bergeming. Menatapnya tak percaya. Seorang laki-laki tampan pemilik
perusahaan besar, laki-laki yang super dingin dan cueknya kepada staf dan bawahannya kini
berada dihadapanku dan memintaku untuk menjadi pendampingnya. Ini sungguh diluar
bayanganku. Dan apa yang dia katakan tadi ? Aku juga menyukainya ?
Aku tidak merasakan kalau aku menyukainya. Aku mencintainya saat tak sengaja melihatnya
sedang bercengkrama dengan anak jalanan sekitar sebulan yang lalu.
Baiklah. Aku tak perlu jawabanmu jika kau memang tak mau menjawabnya. Ini, aku titipkan
padamu. Simpan baik-baik untukku. ucapnya dan memberikan payung miliknya. Detik
selanjutnya, ia sudah berjalan menjauhiku.
Aku berlari mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Aku mau menjadi pendamping
hidupmu. Kata-kata itulah yang meluncur dari bibirku. Ia membalikkan tubuhnya dan
memelukku erat. Hujan kembali turun menjadi deras.
Hujan pertama yang aku lalui bersama orang yang aku cintai. Dan aku yakin dia adalah
seseorang yang menajdi takdirku dan yang akan membuatku bahagia selamanya.