Anda di halaman 1dari 17

1

LAPORAN KASUS

SKABIES
Oleh: Mohd Hamdi Bin Mohd Ibrahim
Pembimbing :Dr. Sri Primawati Indraswari, Sp.KK, MM
I. PENDAHULUAN
Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi pada lapisan epidermis superfisial terhadap Sarcoptes scabiei var hominis
dan produknya. Penyebab penyakit ini adalah Sarcoptes scabiei var hominis,
termasuk filum arthropoda, kelas arachnida, ordo ascarima, super famili
Sarcoptes.
5
Skabies disebut juga the itch, pamaan itch, dan seven year itch. Di
Indonesia, penyakit ini dikenal dengan nama gudik, kudis, buduk, kerak, penyakit
ampera dan gatal agogo.
4
Diperkirakan sekitar 300 juta orang diseluruh dunia telah
terinfeksi tungau skabies ini.
3
Penyakit kulit ini sangat mudah menular baik secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya ibu yang menggendong
anaknya yang menderita skabies atau penderita yang bergandengan tangan dengan
teman-temannya. Secara tidak langsung misalnya melalui tempat tidur, handuk,
pakaian dan lain-lain.
2


Diagnosis skabies ditegakkan jika ditemukan 2 dari 4 tanda kardinal yakni:
1

1. Pruritus nokturna (gatal pada malam hari ) karena akitivitas tungau lebih
tinggi pada malam hari
2. Ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh
keluarga, sebagian tetangga yang berdekatan
3. Ditemukannya kanalikulus pada tempat predileksi yang berwarna putih
atau keabuabuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata rata panjang 1
cm, pada ujung terowongan ditemukan papul dan vesikel.
4. Menemukan tungau. Ini merupakan hal yang paling diagnostik.
2


Predileksi dari skabies ialah biasanya pada daerah tubuh yang memiliki
lapisan stratum korneum yang tipis, seperti misalnya: axilla, areola mammae, sekitar
umbilikus, genital, bokong, pergelangan tangan bagian volair, sela-sela jari tangan,
siku flexor, telapak tangan dan telapak kaki.
5
Karena sifatnya yang sangat menular,
maka skabies ini populer dikalangan masyarakat padat. Banyak faktor yang
menunjang perkembangan dari penyakit ini, antara lain: sosial ekonomi yang rendah,
higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan
diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologik.
1

Insidensi penyakit skabies di RSUD Kardinah, Tegal dari Januari 2013
sampai Disember 2013 adalah sebanyak 108 kasus, manakala pada bulan Januari
2014 sampai Mei 2014 berjumlah 49 kasus. Pada periode Januari 2013 sampai
Disemberi 2013, angka kejadian lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan
perempuan yaitu sebanyak 69 kasus pada pasien laki-laki, manakala 39 kasus pada
pasien perempuan. Berdasarkan umur, insiden tertinggi terjadi pada pasien berusia 5
sampai 14 tahun yaitu sebanyak 36 kasus, diikuti dengan pasien berusia 15 sampai
24 tahun yaitu sebanyak 33 kasus. Pasien berusia 1 sampai 4 tahun dan pasien
berusia 25 sampai 44 tahun mencatat jumlah yang sama yaitu sebanyak 14 kasus.
Manakala pasien berusia dibawah 1 tahun dan pasien berusia 45 sampai 64 tahun
sebanyak mencatata jumlah yang hamper sama yaitu masing-masig 5 dan 6 kasus.
Tidak ada kasus pada pasien berusia di atas 65 tahun. Daripada total 108 kasus
skabies, 85 kasus tergolong dalam kasus skabies sahaja, 14 kasus skabies dengan
infeksi sekunder, dan 9 kasus skabies dengan eczematous.
Kasus skabies pada bulan Januari 2014 sampai Mei 2014 juga mencatatkan
kasus skabies yang lebih banyak pada pasien laki-laki berbanding pasien perempuan
yaitu sebanyak sebanyak 34 kasus laki-laki, dan 15 kasus perempuan. Berdasarkan
umur, insiden tertinggi terjadi pada pasien berusia 5 sampai 14 tahun yaitu sebanyak
18 kasus, diikuti dengan pasien berusia 15 sampai 24 tahun yaitu sebanyak 11 kasus,
dan 25 sampai 44 tahun sebanyak 7 kasus. Manakala pasien berusia 1 sampai 4 tahun
sebanyak 6 kasus. Pasien berusia 45 sampai 64 tahun sebanyak 4 kasus, diikuti
3

pasien bayi berusia dibawah 1 tahun sebanyak 2 kasus. Kasus yang paling sedikit
adalah pada pasien berusia di atas 65 tahun yaitu sebanyak 1 kasus. Daripada total 49
kasus skabies, 40 kasus tergolong dalam kasus skabies sahaja, 6 kasus skabies
dengan infeksi sekunder, dan 3 kasus skabies dengan eczematous.
Di berbagai belahan dunia, laporan kasus skabies masih sering ditemukan
pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status ekonomi rendah, tingkat
pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang baik atau
cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari, secara
tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat terutama
tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan dilakukannya
disiang hari juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung lama, maka
efisiensi dan efektifitas kerja menjadi menurun yang akhirnya mengakibatkan
menurunnya kualitas hidup masyarakat.
1

















4

II. KASUS
Seorang laki-laki bernama Tuan MS, berusia 21 tahun, pekerjaan tukang
bangunan, beragama Islam, pendidikan terakhir SMP dan belum menikah datang ke
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Kardinah dengan keluhan bruntus bruntus yang
terasa gatal pada perut, paha kiri dan kanan, kemaluan dan bokong.

ANAMNESIS KHUSUS
(Autoanamnesis dan alloanamnesis terhadap ibu pasien dilakukan tanggal 10 Juni
2014 pukul 11.05 WIB di Poliklinik Kulit RSU Kardinah Tegal)
Keluhan dirasakan sejak 2 minggu sebelum pasien berobat ke poli, awalnya
bruntus kemerahan sebesar ujung jarum pentul dirasakan berawal dari kemaluan
kemudian semakin banyak dan meluas ke paha kiri dan kanan, bokong, dan perut
sampai ke bagian pusar. Keluhan gatal dirasakan semakin hebat terutama pada
malam hari dan menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam. Setelah
terbangun dari tidur pasien bisa tidur kembali tanpa gangguan tidur. Rasa gatal yang
dirasakan membuat pasien menggaruk kulit hingga timbul luka akibat garukan.
Untuk mengurangi keluhan, pasien biasanya menaburi tubuh pasien dengan bedak
Salisilat yang dibeli di apotek.
Saat pertama kali gatal tersebut muncul, pasien tidak digigit oleh serangga.
Riwayat menemukan kutu atau tungau disangkal. Riwayat ditemukan kesan darah
berwarna hitam juga disangkal. Keluhan demam, batuk pilek dan sakit menelan
disangkal. Riwayat gangguan buang air kecil disangkal. Riwayat berhubungan seks
juga disangkal.
Pasien tinggal bersama orang tuanya di rumah dan 2 orang saudara. Ukuran
rumah kecil dengan ingkungan padat penduduk. Riwayat orang sekitar yang
mengalami keluhan yang sama dibenarkan oleh ibu pasien, yakni adik pasien yang
berusia 17 tahun yang mengalami hal yang sama beberapa hari pasien mengalami
gatal-gatal. Pasien biasanya mandi 2 x dalam sehari, mengganti pakaiannya 2 x
dalam sehari termasuk pakaian dalam. Pasien mengaku terkadang memakai handuk
adiknya.
5

Ibu pasien mencuci pakaian sendiri dengan sabun biasa dan disetrika.
Riwayat penyakit yang sama sebelumnya disangkal ibu pasien. Riwayat asma dan
penyakit alergi disangkal.
Pasien tidak pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya. Tidak ada
riwayat alergi terhadap makanan, obat-obatan, dan debu. Adik pasien yang
menderita keluhan yang sama seperti pasien. Riwayat asma, alergi makanan, obat-
obatan dan debu disangkal. Riwayat kemurungan dan pemarah disangkal oleh ibu
pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesan sakit : tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis, kooperatif.
Tanda Vital
tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 100x/m
Suhu : afebris
Pernapasan : 20x/m
Tinggi badan :155 cm
Berat badan :58 Kg
Status Generalis
Kepala : normocephali, rambut hitam, distribusi merata, tidak ada
kelainan kulit.
6

Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, alis mata
hitam, tidak ada madarosis.
Telinga : normotia, tidak ada kelainan kulit.
Hidung : normal, deviasi (-), sekret (-), tidak ada kelainan kulit.
Mulut : bibir sianosis (-) , kering (-), caries dentis (-), faring
hiperemis (-).
Leher : Trakea di tengah, deviasi (-), kelenjar gerah bening tidak
teraba membesar.
Thoraks : bentuk normal, pergerakan simetris, terdapat kelainan kulit
(lihat status dermatologikus).
Paru : suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-).
Jantung : bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-).
Abdomen : datar, supel, hepar dan lien tidak teraba membesar, terdapat
kelainan kulit (lihat status dermatologikus).
Ekstremitas atas :akral hangat, tidak ada edema, tidak sianosis, kelenjar gerah
bening tidak teraba membesar, terdapat kelainan kulit (lihat
status dermatologikus).
Ekstremitas bawah : akral hangat, tidak ada edema, tidak sianosis, kelenjar gerah
bening tidak teraba membesar, tidak terdapat kelainan kulit.








7

Status Dermatologis
Distribusi : Regional
Regio : Abdomen, femoralis anterior dan trigonum femoralis sinistra
dextra, genitalia, dan glutealis.
Lesi : Multipel, diskret, bilateral, batas tegas, bentuk bulat, ukuran
miliar sampai lentikuler diameter 0,3 0,7 cm, menimbul dari
permukaan kulit, dan kering.
Efloresensi : Papul eritematosa, ekskoriasi.
Gambar 1: Lesi pada abdomen





8

Gambar 2: Lesi pada genitalia

Gambar 3: Lesi di gluteus





9

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan
mikroskopik Scrapping dengan tetesan minyak emersi di bawah mikroskop
pembesaran 40x untuk mencari Sarcoptes Scabiei dewasa, larva, telur dengan
preparat kaca obyek, lalu ditutup kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.
Hasilnya ditemukan Sarcoptes scabiei dewasa.
Gambar 4: Gambar Mikroskopis Sarcoptes scabiei dengan pembesaran 40X




















10

I. RESUME
Seorang anak laki laki, berusia 21 tahun pekerja tukang bangunan,
beragama Islam datang ke poliklinik Kulit dan Kelamin RSU Kardinah tanggal 10
Juni 2014 dengan keluhan bruntus bruntus yang terasa gatal pada perut, paha kiri
dan kanan, kemaluan dan bokong. Keluhan ini dirasakan sejak 2 minggu sebelum
pasien berobat ke poli, awalnya bruntus kemerahan sebesar ujung jarum pentul
dirasakan berawal dari kemaluan kemudian semakin banyak dan meluas ke paha kiri
dan kanan, bokong, dan perut.
Keluhan gatal dirasakan semakin hebat terutama pada malam hari dan
menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam. Rasa gatal yang
dirasakan membuat pasien menggaruk kulit hingga timbul luka akibat garukan. Adik
pasien mengalami hal yang sama. Pasien tinggal bersama orang tuanya di rumah dan
2 orang saudara. Ukuran rumah kecil dengan ingkungan padat penduduk. Pasien
mengaku terkadang memakai handuk adiknya. Tidak ada riwayat digigit serangga
sebelumnya. Tidak ada riwayat Tidak ada riwayat alergi. Tidak ada riwayat
menemukan kutu atau tungau. Tidak ada riwayat ditemukan kesan darah berwarna
hitam. Keluhan demam, batuk pilek dan sakit menelan disangkal. Riwayat gangguan
buang air kecil disangkal. Riwayat berhubungan seks juga disangkal. Riwayat
mengalami kemurungan, mudah marah, dan kurang tidur disangkal.
Pada pemeriksaan fisik, status generalis didapatkan dalam batas normal.
Tidak ditemukan tanda-tanda anemia, malnutrisi dan pembesaran kelenjar getah
bening. Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan lesi regional pada regio
abdomen, femoralis anterior, trigonum femoralis, genitalia, dan glutealis. Lesi
multiple, diskret, bilateral, batas tegas, bentuk bulat, ukuran miliar sampai lentikuler
diameter 0,3 0,7 cm, menimbul dari permukaan kulit, kering. Efloresensi papul
eritematosa, dan ekskoriasi. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan tungau
dewasa.


11

II. DIAGNOSIS BANDING
1. Skabies.
2. Prurigo hebra
3. Pedikulosis pubis
III. DIAGNOSIS KERJA
Skabies.
IV. PENATALAKSANAAN
a. UMUM
1. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit dan cara
penularannya
2. Menjelaskan bahwa scabies adalah penyakit menular
3. Menerangkan pentingnya menjaga kebersihan perseorangan dan
lingkungan tempat tinggal
4. Mencuci piring, selimut, handuk, dan pakaian dengan bilasan
terakhir dengan menggunakan air panas
5. Menjemur kasur, bantal, dan guling secara rutin
6. Bila gatal sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras karena dapat
menyebabkan luka dan resiko infeksi
7. Menjelaskan pentingnya mengobati anggota keluarga yang
menderita keluhan yang sama seperti adiknya.
8. Memberi penjelasan bahwa pengobatan dengan penggunaan krim
yang dioleskan pada seluruh badan tidak boleh terkena air, jika
terkena air harus diulang kembali. Krim dioleskan ke seluruh
tubuh saat malam hari menjelang tidur dan didiamkan selama 8
jam hingga keesokan harinya. Obat digunakan 1 x seminggu dan
dapat diulang seminggu kemudian.



12

b. KHUSUS
1. Topikal
Permetrin 5 % krim dioleskan ke seluruh tubuh pada malam hari
selama 10 jam, satu kali dalam seminggu
2. Sistemik
Anti histamin : Klorfeniramin maleat 2 x tablet

V. PROGNOSIS
a. Quo ad Vitam : bonam, tidak ada kegawatan mengancam
nyawa
b. Quo ad Functionam : bonam dengan penanganan berkelanjutan
untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien
c. Quo ad Sanam : bonam terutama jika kepatuhan berobat dan
penggunaan obat-obatan berjalan baik dan
benar
d. Quo ad Cosmetikam : bonam, bekas luka dapat kembali seperti
semula











13

III. PEMBAHASAN
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinik, dan pemeriksaan
penunjang yang dilakukan. Dari anamnesis didapatkan bruntus bruntus kemerahan
yang gatal timbul pada perut, kemaluan, paha kiri dan kanan dan bokong. Keluhan
gatal dirasakan semakin hebat terutama pada malam hari. Pasien tinggal bersama
orang tuanya di rumah dan riwayat orang sekitar yang mengalami keluhan yang
sama dibenarkan oleh ibu pasien, yakni adik pasien. Pasien mengaku terkadang
menggunakan handuk adiknya. Pasien dapat didiagnosis menderita penyakit skabies,
dimana hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa dengan ditemukannya 2 dari
tanda 4 tanda kardinal skabies maka diagnosis klinis dapat ditegakkan.
1
Diagnosis
ditegakkan jika ditemukan 2 dari 4 tanda kardinal yakni :
1. Pruritus nokturna (gatal pada malam hari ) karena akitivitas tungau lebih
tinggi pada malam hari
2. Ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh keluarga,
sebagian tetangga yang berdekatan
3. Ditemukannya kanalikulus pada tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata rata panjang 1 cm,
pada ujung terowongan ditemukan papul dan vesikel.
4. Menemukan tungau. Merupakan hal yang paling diagnostik.
Dimana tanda kardinal yang ditemukan adalah pruritus nokturna, adanya orang di
sekitar pasien yang mengalami keluhan yang sama dan ditemukannya tungau pada
pemeriksaan mikroskopik.
Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan lesi regional pada regio abdomen,
femoralis anterior dan trigonum femoralis dextra dan sinistra, genitalia, dan glutealis.
Lesi multiple, diskret, bilateral, batas tegas, bentuk bulat, ukuran miliar sampai
lentikuler diameter 0,3 0,7 cm, menimbul dari permukaan kulit, kering.
Efloresensi papul eritematosa, ekskoriasi. Hal ini sesuai untuk diagnosis skabies,
dimana di dalam teori dikatakan bahwa predileksi terjadinya pada daerah dengan
stratum korneum yang tipis.
2
14

Pada kasus ini dipikirkan diagnosis banding yaitu prurigo hebra yaitu
penyakit kulit kronis dimulai sejak bayi atau anak. Prurigo hebra sering terdapat
pada anak dengan tingkat sosio-ekonomi dan hygiene rendah. Penyebab pasti belum
diketahui, diduga sebagai penyakit herediter, akibat kepekaan kulit terhadap gigitan
serangga. Tanda khasnya adalah adanya papul-papul miliar tidak berwarna,
berbentuk kubah, lebih mudah diraba daripada dilihat. Oleh karena gejala klinis
sangat gatal, garukan yang terus menerus menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta,
hiperpigmentasi dan likenifikasi. Tempat predileksinya di ekstremitas bagian
ekstensor dan simetris, dapat meluas ke bokong dan perut. Kelenjar getah bening
biasanya membesar meskipun tidak disertai ingeksi, tidak nyeri, tidak bersupurasi
pada perabaan teraba lunak. Keadaan umum penderita biasanya pemurung atau
pemarah akibat kurang tidur. Kadang-kadang nafsu makan berkurang sehingga
timbul anemia dan malnutrsi.
1
Diagnosis ini dapat disingkirkan karena berdasarkan anamnesis pasien baru
mengalami keluhan 2 minggu yang lalu dan tidak peka tehadap gigitan nyamuk.
Riwayat mengalami kemurungan, mudah marah, dan kurang tidur disangkal. Dari
pemeriksaan fisik pasien tidak malnutri, tidak terdapat tanda-tanda anemia dan tidak
terdapat pembesaran kelenjar getah bening.
Selain prurigo hebra, diagnosis banding lain pada kasus ini adalah
pedikulosis korporis. Pedukulosis pubis ialah infeksi rambut di daerah pubis dan di
sekitarnya. Penyakit ini menyerang orang dewasa dan dapat digolongkan dalam
Penyakit akibat Hubungan Seksual (P.H.S). Cara penularan umumnya dengan kontak
langsung. Gejala klinis pedikulosis korporis adalah gatal di daerah pubis dan
sekitarnya. Gatal ini dapat meluas sampai ke daerah abdomen dan dada, dan disitu
dijumpai bercak-bercak yang berwarna abu-abu atau kebiruan yang disebut makula
serulae. Kutu ini dapat dilihat dengan mata biasa dan susah untuk dilepaskan karena
kepalanya dimasukkan ke dalam muara folikel rambut. Gejala patonomonik lainnya
adalah black dot, yaitu bercak-bercak hitam yang tampak jelas pada celana dalam
15

berwarna putih yang dilihat oleh penderita pada saat bangun tidur. Bercak hitam ini
merupakan krusta berasal dari darah.
Diagnosis pedikulosis korporis dapat disingkirkan karena pada anamnesis,
pasien mengaku belum pernah berhubungan seksual. Riwayat ditemukan black dot di
pakaian pasien juga disangkal. Pasien juga mengaku tidak menemukan kutu di
tempat gatalnya.
Penatalaksanaan pada kasus skabies dapat dilakukan baik dengan non-
medikamentosa dan medikamentosa. Penatalaksanaan non-medikamentosa yaitu
dengan memberikan edukasi seperti sering melakukan pengobatan dan seluruh
keluarga harus diobati, menjaga kebersihan pasien dan keluarga, seluruh pakaian di
rumah dicuci dengan menggunakan air hangat, dan kasur, bantal, dan benda-benda
lain yang tidak bisa dicuci dapat dijemur, kontrol seminggu lagi untuk melihat hasil
terapi dan perkembangan penyakit .
1,5

Pada pasien ini penatalaksanaan yang dilakukan adalah dengan memberikan
obat secara topikal dan sistemik. Obat topikal yang diberikan adalah Permetrin 5 %
krim dioleskan ke seluruh tubuh pada malam hari selama 10 jam, satu kali dalam
seminggu. Pada teori yang telah dikemukakan bahwa obat topikal yang paling baik
diberikan pada pasien skabies berupa permetrin 5 % mengingat efektif pada semua
stadium skabies dan toksisitasnya yang rendah
1.
Serta penggunannya yang mudah
dan dapat diperoleh dengan mudah di apotek. Selain itu untuk mengurangi gatal
yang dialami pasien terutama pada malam hari juga diberikan obat antihistamin yaitu
Klorfeniramin maleat atau CTM 2x1/2 tablet. Obat ini murah dan mudah didapat
namun memiliki efek mengantuk karena efek sedatif.
4
Prognosis dari skabies yang diderita pasien pada umumnya baik bila diobati
dengan benar dan juga menghindari faktor pencetus dan predisposisi, demikian juga
sebaliknya. Selain itu perlu juga dilakukan pengobatan kepada keluarga pasien yaitu
adiknya yang mengalami keluhan yang sama. Bila dalam perjalanannya skabies tidak
16

diobati dengan baik dan adekuat maka Sarcoptes scabiei akan tetap hidup dalam
tubuh manusia karena manusia merupakan host definitive dari Sarcoptes scabiei.
3,4


















17

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda Adhi . Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed. 5. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta : 2007.
2. Bag./SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.Atlas Penyakit Kulit dan
Kelamin. FK. Unair/RSU Dr. Soetomo. Surabaya : 2007.
3. Lab/SMF. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Penyakit Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana/RSUP Sanglah. Denpasar : 2000.
4. Sularsito Sri Adi , Soebaryo Retno Widowati, Kuswadji . Dermatologi
Praktis . Ed. 1. PERDOSKI. 1989.
5. Stone, S.P, scabies and pedikulosis, in: Freedberg, et al. Fitzpatricks
Dermatology In General Medicine 6
th
edition. Volume 1. McGraw-Hill
Professional. 2003