Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Transfusi darah adalah proses memasukkan darah atau komponennya dari
satu orang ke dalam peredaran darah orang lainnya. Transfusi darah merupakan
tindakan pengobatan yang diberikan atas indikasi yang jelas, antara donor dan
resipien harus memiliki kesesuaian golongan darah
1.
Transfusi darah dapat
menyelamatkan kehidupan, seperti pada perawatan neonatus prematur yang
mendapat terapi intensif, anak dengan kanker, dan penerima cangkok organ.
Upaya untuk memperlancar tindakan transfusi telah banyak dilakukan,
namun efek samping atau infeksi akibat transfusi tetap mungkin terjadi. Oleh
karena itu, pemberian transfusi darah harus dengan indikasi yang jelas. Jika
memungkinkan, perlu dicari alternatif lain untuk mengurangi penggunaan
transfusi darah.
1,2

Prinsip transfusi darah adalah pemberian komponen-komponen darah yang
diperlukan saja, dibandingkan dengan pemberian darah lengkap (whole blood).
Dalam ilmu kesehatan anak hal ini menjadi sangat diperhatikan karena anak yang
sedang tumbuh sebaiknya tidak diganggu sistem imunologisnya dengan
pemberian antigen yang tidak diperlukan.
1,2
Untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya komplikasi dalam transfusi darah pada anak diperlukan persiapan yang
optimal. Staf medis diharapkan dapat meningkatkan pemahaman akan
penggunaan transfusi darah sehingga penatalaksanaannya sesuai dengan indikasi
dan keamanannya dapat ditingkatkan.
2,3
2

Referat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi dokter muda
dan staf medis lainnya dalam menghadapi kasus anak dan bayi yang memerlukan
tindakan transfusi.
1.2. Batasan Masalah
Referat ini membahas mengenai transfusi darah pada anak, meliputi definisi,
sejarah, indikasi, prinsip dan persiapan transfusi darah pada anak, jenis transfusi
darah, prosedur pelaksanaan serta komplikasi transfusi darah pada anak.
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah diharapkan dapat memberikan manfaat
dan menambah wawasan dokter muda ilmu penyakit anak khususnya dan staf
medis pada umumnya tentang transfusi darah pada anak.
1.4. Metode Penulisan
Metode penulisan referat ini berupa tinjauan kepustakaan yang merujuk
pada berbagai literatur.






3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Transfusi Darah
Transfusi darah adalah suatu rangkaian proses pemindahan darah dari
seorang donor kepada resipien. Proses ini terkait dengan beberapa usaha untuk
memelihara dan mempertahankan kesehatan donor, memelihara keadaan biologis
darah atau komponennya agar bermanfaat bagi resipien.
4

Transfusi darah diberikan dengan berbagai tujuan,seperti menggembalikan
volume darah normal, memperbaiki oksigenasi dan homeostasis ketika kadar
hemoglobin (Hb) rendah, dapat juga diberikan jika tubuh gagal melakukan
kompensasi saat penurunan oksigen (O
2
) di dalam tubuh.
4

2.2. Sejarah Transfusi Darah
Transfusi darah telah mulai dicoba dilakukan sejak abad ke-15 dan hingga
pertengahan abad ke-17, tetapi berakhir dengan kegagalan, karena pada waktu itu
yang dipakai sebagai sumber donornya adalah darah hewan. Setelah melalui
berbagai percobaan dan pengamatan disimpulkan bahwa semestinya yang menjadi
donor adalah darah manusia.Saat ini pengerjaan transfusi darah langsung dari
arteri donor ke dalam vena resipien. Namun karena masih banyak terjadi
kegagalan yang berakibat kematian transfusi darah sempat dilarang untuk
dilakukan.
3
Pemikiran dasar pada transfusi adalah cairan intravaskuler dapat
diganti atau disegarkan dengan cairan pengganti yang sesuai dari luar tubuh.
2
Pada
tahun 1901, Landsteiner menemukan golongan darah sistem ABO dan pada tahun
1939 sistem antigen Rh (rhesus) ditemukan oleh Levine dan Stetson.

4

Kedua sistem ini menjadi dasar penting bagi transfusi darah modern.
Meskipun kemudian ditemukan berbagai sistem antigen lain seperti Duffy, Kell
dan lain-lain, tetapi sistem tersebut kurang berpengaruh. Tata cara transfusi darah
semakin berkembang dengan digunakannya antikoagulan pada tahun 1914 oleh
Hustin (Belgia), Agote (Argentina), dan Lewisohn (1915). Sekitar tahun 1937
dimulailah sistem pengorganisasian bank darah yang terus berkembang sampai
kini.
2,3
2.3. Indikasi transfusi darah pada anak
Indikasi transfusi pada anak antara lain
6,7

1. Keadaan yang memerlukan pemeliharaan sirkulasi volume darah untuk
mencegah timbulnya syok, seperti pemberian whole blood pada perdarahan
akut akibat trauma, perforasi pada typhoid fever, perdarahan akut pada ITP.
2. Keadaan klinis yang memerlukan penggantian komponen darah spesifik seperti
pasma protein atau elemen darah seperti leukosit, eritrosit, atau trombosit
akibat defisiensi komponen-komponennya.
3. Keadaan klinis yang memerlukan pengeluaran substansi yang berbahaya bagi
tubuh dengan cara transfusi ganti misalnya pengeluran bilirubin pada bayi
hiperbilirubinemia yang berat .
2.4. Prinsip Transfusi Darah
1. Tepat jenis darahnya, tepat pasien, dan tepat waktu
2. Transfusi merupakan bagian dari tatalaksana pasien
5

3. Memiliki indikasi yang jelas untuk dilakukan transfusi (asas risiko dibanding
dengan manfaat)
4. Dilakukan oleh tenaga medis yang teregistrasi
5. Pasien yang kehilangan darah secara mendadak dalam jumlah yang banyak
harus diberikan terapi untuk membantu sirkulasi darahnya terlebih dahulu,
seperti dengan bantuan 0
2
dan cairan yang diberi lewat intra vena
6. Tenaga medis harus memperhatikan bila terdapat reaksi segera yang
ditimbulkan oleh transfusi yang telah dilakukan.
5

2.5 Persiapan Transfusi Darah
2.5.1 Prosedur kompatibilitas
Prosedur kompatibilitas berhubungan dengan pemeriksaan sampel dari
golongan darah ABO dan Rh penerima dan untuk mendeteksi antibodi golongan
darah. Sampel darah harus dilakukan uji silang (crossmatch) terlebih dahulu
dengan serum pasien melalui spin prosedure atau uji silang yang telah
diverifikasi, sehingga darah yang diterima sesuai.
5
2.5.2 Sistem ABO

Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan
antibodi yang terkandung dalam darahnya. Individu dengan golongan darah A
memiliki eritrosit dengan antigen A di permukaan membran selnya dan
menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya.
6

Individu dengan golongan darah A hanya dapat menerima darah dari
orang dengan golongan darah A atau O.
4,5
Individu dengan golongan darah B
memiliki antigen B pada permukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi
terhadap antigen A dalam serum darahnya sehingga orang dengan golongan darah
B hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah B atau O.
Individu dengan golongan darah AB memiliki eritrosit dengan antigen A dan B
serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B sehingga orang
dengan golongan darah AB dapat menerima darah dari orang dengan golongan
darah ABO apapun dan disebut resipien universal.
4,5

Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B sehingga orang dengan golongan
darah O dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO
apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O
hanya dapat menerima darah dari sesama O.
4,5


Gambar 2.1 Sistem ABO
Sumber: Blood Link Foundation

7

2.5.3 Sistem Rhesus (Rh)
Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah
merah. Sistem penggolongan berdasarkan rhesus ini ditemukan oleh Landsteiner
dan Wiener tahun 1940. Antigen Rh yang ditemukan dalam darah kera Macaca
pada tahun 1940 itu juga ditemukan dalam darah manusia . Sistem rhesus terdiri
dari 40 antigen diantaranya antigen D,C,c, dan E. Antigen D adalah antigen yang
yang paling penting untuk transfusi eritrosit. Orang yang tidak memiliki antigen D
tidak memiliki anti-D kecuali pernah terpapar antigen D ketika hamil atau
transfusi Lebih dari 80 % orang yang memiliki sedikit antigen D, anti-D akan
terbentuk setelah mendapat transfusi dari donor dengan D+. Data ini tidak
terdapat pada bayi muda yang berumur kurang dari 4 bulan.
4

Golongan darah manusia dibedakan atas dua kelompok berdasarkan ada
tidaknya antigen-Rh, yaitu rhesus positif, bila dalam darah merahnya terdapat
faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya dan rhesus negatif, bila dalam
darah merahnya tidak terdapat faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya
Jika seseorang Rh(+), maka ia dapat menerima darah dengan Rh(+) atau
Rh(-). Sedseorang yang memiliki Rh(-), hanya bisa menerima darah dengan Rh (-)
saja. Oleh karena itu darah Rh (-) sering disediakan untuk operasi-operasi darurat
dimana tidak ada waktu lagi untuk melakukan pengecekan golongan darah
seseorang.
5


8

2.6. Jenis Transfusi
2.6.1. Transfusi Eritrosit
Eritrosit merupakan komponen darah yang paling sering ditransfusikan.
Eritrosit ini diberikan untuk meningkatkan kapasitas angkut oksigen darah dan
untuk mempertahankan oksigenasi jaringan yang cukup.
1,4
Pilihan produk eritrosit
untuk anak dan remaja adalah suspensi standar eritrosit yang dipisahkan dari
darah lengkap dengan pemusingan dan disimpan dalam antikoagulan pada nilai
hematokrit kira-kira 60%. Dosis biasa adalah 10-15 ml/kgBB, tetapi volume
transfusi sangat bervariasi tergantung pada keadaan klinis. Pemberian transfusi
eritrosit dapat menggunakan rumus empiris yaitu :

Untuk anemia yang bukan karena perdarahan, maka teknis pemberiannya
adalah dengan tetesan. Makin rendah hemoglobin awal makin lambat tetesannya.
Dapat pula dipakai cara seperti yang tertera dalam tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Dosis Sel Darah Packed Red Cell (PRC) untuk Transfusi
Hb penderita (g/dL) Jumlah PRC yang diberikan dalam
3-4 jam
7- 10,1 10 ml/KgBB*
5-7 5 ml/KgBB**
<5 tanpa payah jantung 3 ml/KgBB**
<5 dengan kemungkinan payah jantung 3 ml/KgBB** + furosemide
<5 dengan payah jantung Transfusi tukar, partial atau lengkap
Keterangan:
*dosis diberikan tiap 24 jam
** dosis yang sama dapat diberikan lagi dengan interval 6-12 jam
Hb=BB (kg) X 4 X (target Hb Hb yang tercatat)
9

Tabel 2.2. Indikasi Transfusi Eritrosit














Sumber : WHO. The Clinical Use of Blood Handbook. Geneva, 2001

Pemberian transfusi eritrosit tidak hanya didasarkan pada kadar Hb. Anak
dengan anemia kronis mungkin tidak memberikan gejala meskipun kadar Hb
sangat rendah. Oleh karena itu, selain konsentrasi Hb diperlukan faktor untuk
memutuskan dilakukannya transfusi yaitu, gejala, tanda, dan kapasitas fungsional
penderita, ada atau tidaknya penyakit kardiorespirasi dan susunan saraf pusat,
penyebab dan antisipasi perjalanan anemia, serta terapi alternatif. Ketika akan
melakukan transfusi harus dipertimbangkan efek anemia pada pertumbuhan dan
perkembangan serta toksisitas potensial transfusi berulang pada anemia yang
diperkirakan akan menetap.
1

Jenis dan indikasi transfusi eritrosit
1. Eritrosit pekat (packed red cell)
- mengatasi keadaan anemia karena keganasan, anemia aplastik,
thalassemia, anemia hemolitik
4,23

10

- anemia defisiensi yang berat dengan ancaman gagal jantung atau
menderita infeksi berat
4

- kehilangan darah akut besar atau sama 10-25% dari volum darah
4,8,23

- memenuhi kebutuhan oksigen sehingga mencegah hipoksia
23

- hematokrit kurang atau sama 18-20%.
23

2. Eritrosit miskin leukosit
4

- untuk menghindari/ mencegah reaksi transfusi non hemolitik (panas,
gatal, menggigil)
- dipergunakan pada kasus transfusi berulang
- menghindari potensi sensititasi pada kasus transplantasi jaringan
- mempunyai masa simpan yang lebih pendek
3. Eritrosit Cuci (Washed Eritrosit)
24

- Diberikan untuk penderita yang memerlukan transfusi berulang
- Pasien yang pernah mengalami reaksi demam karena leukosit donor
4. Eritrosit yang diradiasi (irradiation blood)
4,9

- Untuk menghindari reaksi imun yang akan terjadi
- Radiasi bertujuan untuk menghancurkan sel limfosit yang sering
menyebabkan terjadi reaksi graft versus host
- Dipergunakan untuk cangkok sumsum tulang, defisiensi imunologi,
transfusi intrauterin, limfopenia karena kemoterapi
Transfusi eritrosit pada anak yang memerlukan transfusi berkelanjutan
dan jangka panjang seperti, gagal ginjal kronik, thalassemia, penyakit sickle
cell, anemia aplastik menggunakan panduan sebagai berikut:
11

- Hindari terjadinya reaksi alloimunisasi pada eritrosit akibat sensitisasi
alloantigen leukosit
- Kadar hemoglobin dijaga untuk mencegah anemia simptomatik sehingga
pertumbuhan anak normal.
- Status besi penderita harus dimonitoring dengan menentukan kadar
ferritin serum, besi, iron-binding capacity dan penyimpanan besi di
hepar.
2.6.2. Transfusi granulosit
Transfusi granulosit diberikan pada penderita neutropeni yang mengalami
panas tinggi karena infeksi bakteri dan jamur yang progresif. Bila anak
mengalami infeksi dengan kegagalan sumsum tulang yang terus berlangsung
(misalnya pada neoplasma maligna yang resisten terhadap terapi, anemia aplastik)
transfusi granulosit dapat memberi manfaat bila diberikan bersamaan dengan
antibiotik
1

Indikasi transfusi granulosit
- Kegagalan sumsum tulang yang berat
4,10

- Infeksi berat yang tidak memberikan respon terhadap pengobatan
antibiotik
4

- Gangguan fungsi dari granulosit seperti penyakit granulomatosa kronik
dan defisiensi adhesi leukosit
4

- Neonatal sepsis oleh karena bakteri gram negatif
4

- Kegagalan sumsum tulang yang diinduksi kemoterapi yang agresif
8

- Transplantasi hematopoetik stem sel tipikal
8

12

Komponen untuk transfusi granulosit didapat dengan melakukan
sentrifugasi berupa buffy coat.
4
Neonatus dan bayi dengan berat kurang dari 10 kg
harus menerima 1-2 x 10
9
/kg neutrofil tiap transfusi granulosit. Bayi dan anak
lebih besar harus mendapat dosis total 1x10
10
tiap transfusi granulosit; dosis yang
dipilih untuk remaja 2-3 x 10
10
tiap transfusi. Transfusi granulosit harus diberikan
setiap hari sampai infeksi menyurut atau neutrofil darah meningkat sampai 0,5 x
10
9
/L.
1

Tabel 2.3 Pedoman Transfusi Granulosit Pada Anak
Anak dan remaja
Neutropenia <0,5 x 10
9
/L dan infeksi bakteri yang tidak memberi respons
yang memadai terhadap terapi antimikroba
Defek kualitatif neutrofil dan infeksi (bakteri atau jamur) yang tidak memberi
respons yang memadai terhadap terapi antimikroba
Bayi dalam 4 bulan kehidupan pertama

Neutrofil <0,3 x 10
9
/L (minggu pertama) atau <1,0 x 10
9
/L (setelahnya) dan
infeksi bakteri fulminan.
Sumber: Nelson Ilmu Kesehatan Anak

2.6.3. Transfusi Plasma
Transfusi plasma diberikan untuk mengganti atau menambah faktor
pembekuan spesifik pada pasien yang mengalami perdarahan, mengganti cairan
untuk mengembalikan volume sirkulasi dan menambah serum imunoglobulin.
4


13

2.6.3.1.Fresh frozen plasma (FFP)
FFP merupakan komponen plasma yang dipisahkan dari komponen darah
dan dibekukan selama 8 jam pada suhu -18
0
C atau lebih rendah. Transfusi FFP
digunakan untuk mengatasi perdarahan aktif karena defisiensi faktor
pembekuan.
11
Dosis FFP pada anak - anak 10 - 20 mL/kg.
12
Indikasi transfusi FFP :
1. INR > 1.5-2 kali nilai normal pada pasien yang tidak mengalami
perdarahan dan pasien yang akan menjalani operasi.
2. Perdarahan pada pasien dengan PT atau APTT >1.5 kali nilai normal.
3. Perdarahan aktif pada defisiensi faktor pembekuan
4. Overdosis warfarin dengan perdarahan banyak
5. Perdarahan pada pasien penyakit hati dengan laboratorium yang tidak
normal.
13
2.6.3.2. Kriopresipitat
Kriopresipitat diperoleh dengan mencairkan plasma beku segar pada suhu 4
o
C dan mengandung Faktor VIII, Faktor von Willebrand (VWF), Faktor XIII,
fibronektin dan fibrinogen, kemudian disimpan pada suhu -30
O
C atau jika
dicairkan pada suhu 4
o
C dan digunakan sebagai terapi pengganti pada hemofili A
dan Von Willebrand. Dosis transfusi kriopresipitat 5-10 ml/kg.
14


14

Indikasi transfusi kriopresipitat
12

1. Kelainan fibrinogen kuantitatif dengan fibrinogen < 100 mg/dl dan
direncanakan melakukan pembedahan.
2. Defisiensi faktor XIII
3. Kelainan fibrinogen kualitatif dengan perdarahan aktif.
4. Penyakit von willebrand atau hemofili A dengan perdarahan aktif.
5. Uremic Bleeding
6. Sediaan fibrin glue sealant

2.6.3.3. Albumin 25 %
Transfusi albumin digunakan pada hipoalbuminemia berat dengan
pembatasan kadar elektrolit. Indikasi terpenting adalah Sindroma Nefrotik
dan kegagalan fungsi hati anak.
15

2.6.4 Transfusi Trombosit
24

Transfusi diberikan untuk profilaksis dan terapi perdarahan pada penderita
dengan trombositopenia dan defek fungsi trombosit. Trombosit tersedia sebagai
plasma kaya trombosit /plasma rich platelet (PRP) dan konsentrat trombosit. Dari
250 ml darah utuh diperoleh 50 ml PRP. Formula yang digunakan untuk
menghitung kebutuhan transfusi trombosit adalah menggunakan formula 13
artinya apabila seorang penderita mengalami trombositopenia maka untuk
menghentikan perdarahannya harus ditambahkan sejumlah trombosit yang ada
pada penderita tersebut sehingga setiap 13 kg berat badan diberikan 3 unit
15

konsentrat. Setiap unit konsentrat trombosit dapat menaikkan jumlah trombosit
dalam tubuh sebesar 10.000 mm
3
per m
2
luas permukaan tubuh.

Tabel 2.4 Panduan Dosis dan Pemberian Konsentrat Trombosit











Sumber : WHO. The Clinical Use of Blood Handbook. Geneva, 2001

2.6.5 Darah Lengkap (Whole Blood)
Satu unit darah lengkap berisi 250-350 ml darah yang maasih lengkap
komponennya. Darah lengkap diberikan bila penderita kehilangan darah lebih dari
40% volume darah dalam tubuh disertai takikardi, hipotensi dan syok.
Darah lengkap terdiri dari 3 macam:
1. Darah lengkap segar umurnya <24 jam masih berisi trombosit dan
faktor-faktor koagulasi
16

2. Darah lengkap simpan umurnya > 24 jam sampai 3-4 minggu. Isinya
adalah eritrosit, albumin dan faktor koagulasi yang umurnya panjang.
Kelebihan darah lengkap segar yaitu memiliki faktor pembekuan yang
masih lengkap terutama faktor V dan VIII serta secara relatif viabilitas
sel darah merah masih baik. Kerugian darah lengkap segar yaitu sulit
diperoleh dalam waktu yang cepat. Kelebihan darah lengkap simpan
yaitu pengadaan yang mudah karena telah disiapkan di bank darah,
sedangkan kelemahannya telah berkurangnya clotting factor terutama
faktor V dan VIII.
2.7. Komplikasi Transfusi
2.7.1 Komplikasi tipe cepat dalam 1-2 jam
A. Imunologik
1. Reaksi Hemolitik Akut Akibat Transfusi (AHTR) merupakan masalah yang
sangat serius karena terjadi destruksi eritrosit donor yang sangat cepat (kurang
dari 24 jam). Pada umumnya AHTR disebabkan oleh kesalahan dalam
identifikasi sampel darah resipien atau dalam pencocokan sampel darah
resipien dan donor (crossmatch). Sebagian besar terjadi pada saat transfusi
whole blood (WB) atau packed red cell (PRC) dan jarang terjadi pada
transfusi fresh frozen plasma (FFP), trombosit, imunoglobulin, dan faktor VIII
non rekombinan. Umumnya proses hemolitik terjadi di dalam pembuluh darah
(intravaskular), yaitu sebagai reaksi hipersensitivitastipe II.

17

Plasma donor yang mengandung eritrosit dapat merupakan antigen (major
incompatability) yang berinteraksi dengan antibodi pada resipien yang berupa
imunoglubulin M (IgM) anti-A, anti-B, atau terkadang antirhesus. Awal
manifestasi klinis umumnya tidak spesifik, dapat berupa demam menggigil,
nyeri kepala, nyeri pada panggul, sesak napas, hipotensi, hiperkalemia, dan
urin berwarna kemerahan atau keabuan (hemoglobinuria). Pada AHTR yang
terjadi di intravaskular dapat timbul komplikasi yang berat berupa
disseminated intravascular coagulation (DIC), gagal ginjal akut (GGA), dan
syok.
17

Anak- anak memiliki risiko lebih besar untuk mengalami hemolisis yang
berasal dari ABO inkompabiliti yang terdapat pada plasma di PRC atau
platelet concentrate. Jumlah plasma ABO inkompatibel yang sedikit
(<5ml/kg) masih dapat di toleransi tubuh. Bayi baru lahir tidak menunjukkan
gejala hemolisis seperti anak-anak yaitu demam, hipotensi, dan nyeri pada
pinggang. Gejala yang timbul pada bayi baru lahir adalah kulit semakin pucat,
adanya plasma free hemoglobin, hemoglobinuria, peningkatan serum kalium
dan asidosis.
18

2. Reaksi transfusi demam non hemolitik
Terjadinya demam, menggigil, atau berkeringat biasanya disebabkan oleh
pelepasan sitokin oleh leukosit. Sitokin dapat lepas dari leukosit selama
penyimpanan selama transfusi.
6
Demam biasanya 2
o
C selama atau 2 jam
setelah transfusi darah. Reaksi panas disertai nyeri kepala, mual, muntah,
menggigil, terjadi setelah transfusi dimulai atau pada akhir transfusi.
4
Demam
nonhemolitik dapat diatasi dengan pemberian antipiretik.
18

3. Reaksi alergi terjadi akibat terbentuknya IgE yang melawan alergen pada
plasma darah transfuse. Hal ini jarang terjadi pada bayi baru lahir. Kejadian
reaksi alergi ini sekitar 1%. Gejala yang dapat ditemukan adalah merah
setempat, gatal dan urtika. Demam dan gejala lain jarang ada. Bila reaksi ini
timbul pada saat transfusi, transfusi harus segera dihentikan dan diberikan
terapi antihistamin. Setelah gejala berkurang (sekitar 30 menit) lanjutkan
transfusi darah yang tersedia. Pada kasus reaksi alergi berat dapat
menimbulkan spasme laring atau spasme bronkus. Pada kasus ini diberikan
pengobatan steroid, adrenalin dan pengobatan suportif lainnya. Transfusi tidak
boleh dilanjutkan meskipun gejala alergi berat tersebut sudah reda.
4,8,18

4. Transfusion Related Acute Lung Injury (TRALI) merupakan kasus yang
jarang terjadi, muncul dngan gejala distres pernafasan dengan onset cepat.
Diperkirakan 1 dalam 5000 komponen transfusi darah dan 1 dalam 7900 unit
transfusi. TRALI merupakan komplikasi transfusi edema paru non
kardiognenik. Hal ini berhubungan dengan kandungan plasma pada produk
darah, terbanyak adalah whole blood, PRC, FFP, dan platelet. Gejala yang
muncul adalah dispnea, batuk, dan demam dapat juga hipotensi atau
hipertensi. Patogenesis TRALI berkaitan dengan anti HLA dan antibodi anti
granulosit.
18,19

B. Non Imunologik
1. Hiperkalemi terjadi bila darah mengalami hemolisis selama penyimpanan.
Jumlah kalium darah dalam kantong penyimpanan cendrung tinggi, terlihat
setelah penyimpana selama 42 hari nilai kalium bisa mencapai 50 meq/L
dalam unit PRC.
19

Transfusi dalam jumlah yang besar yang dapat menyebabkan hiperkalemi.
17

Hipotermi merupakan salah satu komplikasi terbanyak pada transfusi masif.
Hipotermi dapat terjadi bila transfusi darah yang dingin di masukkan secara
cepat.
19

2. Infeksi bakteri
Infeksi bakteri dapat berasal dari bakteremia pada donor yang asimtomatis
atau dari sterilisasi kulit yang tidak adekuat. Platelet memiliki risiko lebih
besar dibandingkan komponen darah lain, hal ini disebabkan penyimpanan
nya pada suhu ruangan sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri. Secara
umum infeksi bakteri menyebabkan peningkatan temperatur melebihi demam
reaksi transfusi lain.
7
2.7.2 Komplikasi Tipe Lambat (Terjadi Beberapa Hari, Minggu, Bulan,
setelah Transfusi)
A Imunologik
1. Delayed hemolytic transfusion reaction (DHTR) diawali dengan reaksi
antigen-antibodi yang terjadi di intravaskular, namun proses hemolitik terjadi
secara ekstravaskular. Plasma donor yang mengandung eritrosit merupakan
antigen (major incompatability) yang berinteraksi dengan IgG dan atau C3b
pada resipien. Selanjutnya eritrosit yang telah diikat IgG dan C3b akan
dihancurkan oleh makrofag di hati. Jika eritrosit donor diikat oleh antibodi
(IgG1 atau IgG3) tanpa melibatkan komplemen, maka ikatan antigen-
antibodi tersebut akan dibawa oleh sirkulasi darah dan dihancurkan di
limpa.
16

20

DHTR dapat terjadi mulai dari beberapa hari hingga dua minggu setelah transfusi
dengan manifestasi seperti akut hemolisis yaitu hemoglobinuria, ikterik dan pucat
dapat juga disertai demam tinggi.
21
Reaksi tersebut dapat dicurigai pada pasien
dengan transfusi berulang.
2. Alloimunisasi
Aloimunisasi terhadap sel eritrosit atau sel leukosit. Aloimunisasi pada
eritrosit merupakan sistem imun untuk melawan antigen pada eritrosit.
Aloimunisasi jarang terjadi sebelum usia 4 bulan. Aloimunisasi terbanyak
dialami oleh penderita penyakit sickle cell dan talasemia, kemungkinan
karena perbedaan polimorfik pada imunogen eritrosit pendonor dengan
penerima transfusi.
3. Purpura pasca transfusi
Terjadi trombositopenia pada hari ke-5 hingga ke-10 setelah transfusi. Hal ini
diakibatkan oleh adanya aloantibodi yang menyerang antigen platelet
spesifik. Manajemen dari purpura pasca transfusi ini adalah pemberian IVIG
dosis tinggi atau dapat juga diberikan kortikosteroid.
19
4. Transfusion associated graft versus host disease (TA-GVHD)
Transfusi leukosit, platelet atau darah segar paling sering menimbulkan TA-
GVHD. Demam merupakan gejala utama diikuti tipikal eritematosus,
makulopapular rash yang dimulai dari tengah dan menyebar ke tangan dan
kaki. Fungsi hepar terganggu, mual dan diare berdarah dapat muncul.
Leukopeni diikuti dengan pansitopeni karena kegagalan sumsum tulang
memproduksi sel darah.
21

Gejala muncul 3-4 minggu setelah transfusi. Pengobatan TA-GVHD dengan
pemberian kortikosteroid, siklosporin dan faktor pertumbuhan.
19

B. Non Imunologik
1. Iron overload
Kelebihan besi pada transfusi merupakan masalah utama pada pasien yang
memerlukan transfusi sel darah merah jangka panjang. Setiap unit sel darah
merah mengandung sekitar 0,25 g besi. Setelah seseorang mendapatkan
transfusi sel darah merah dalam jumlah yang besar, akan timbul stigmata
siderosis akibat transfusi seperti pertumbuhan terhambat, disfungsi otot
jantung dan hepar, hiperpigmentasi, atau terkadang diabetes. Pasien dengan
talasemia memiliki risiko yang besar untuk mengalami kelebihan besi,
shingga memerlukan aggressive iron chelation therapy.
19

2. Infeksi
19

Perkiraan risiko terjadinya infeksi Hepatitis B Virus (HBV) sesudah transfusi
adalah 1 dalam 200.000-500.000 unit. Pada anak infeksi HBV biasanya
asimtomatik dan dapat berkembang menjadi kronis. Hepatitis C terjadi sekitar
1 dalam 2.000.000. anak yang mendapatkan infeksi Hepatitis C Virus (HCV)
akibat transfusi kebanyakan berkembang menjadi kronis dan dapat menjadi
sirosis pada usia 18 tahun. Infeksi lain adalah HIV, cytomegalovirus, malaria
dan sifilis.



22

BAB III
KESIMPULAN

Transfusi darah merupakan tindakan yang bertujuan menggantikan atau
menambah komponen darah yang tidak mencukupi, sehingga dapat
menyelamatkan kehidupan. Terjadi peningkatan risiko transfusi pada anak anak.
Keputusan pemberian transfusi harus dilakukan hati hati berdasarkan manfaat
dan kerugiannya. Transfusi dilakukan jika tidak ada alternatif lain yang dapat
diberikan pada pasien untuk mengatasi penyakitnya.
Pemberian komponen darah merupakan tindakan yang lebih rasional
karena transfusi darah lengkap berarti pemborosan, komponen darah pada darah
lengkap yang tidak diperlukan dapat diberikan pada orang lain yang lebih
membutuhkan. Pemberian komponen darah juga dapat mengurangi atau mencegah
meningkatnya beban volum sirkulasi.
Persiapan pra transfusi harus dilakukan untuk mencegah risiko transfusi
yang timbul karena ketidakcocokan golongan darah donor dan resipien dan
bahaya menyebarnya penyakit. Ada beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada
transfusi darah anak, berupa reaksi tipe cepat dan tipe lambat yaitu reaksi
hemolitik akut dan lambat akibat transfusi, reaksi transfusi demam non hemolitik,
reaksi alergi, hiperkalemi, infeksi bakteri, purpura pasca transfusi, hingga reaksi
hebat seperti transfusion associated graft versus host disease dan transfusion
related acute lung injury (TRALI). Keputusan pemberian transfusi darah harus
berdasarkan penilaian ketat dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan parameter
darah.
23