Anda di halaman 1dari 22

4

BAB II
PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH
A. Kajian Mesin Pencacah I solator PVC Kabel
1. Isolator PVC Kabel
Polivinil Clorida biasa disingkat PVC, adalah polimer termoplastik
urutan ketiga dalam hal jumlah pemakaian di dunia, setelah polietilena dan
polipropilena. Di seluruh dunia, lebih dari 50% PVC yang diproduksi
dipakai dalam konstruksi. Sebagai bahan bangunan, PVC relatif murah,
tahan lama, dan mudah dirangkai. PVC bisa dibuat lebih elastis dan
fleksibel dengan menambahkan plasticizer, umumnya PVC yang fleksibel
dipakai sebagai bahan pakaian, perpipaan, atap, dan Isolator (PVC) kabel
listrik.
PVC diproduksi dengan cara polimerisasi monomer vinil klorida
(CH2=CHCl). Karena 57% massanya adalah klor, PVC adalah polimer
yang menggunakan bahan baku minyak bumi terendah di antara polimer
lainnya.

2. Mesin Pencacah I solator PVC Kabel
Mesin ini merupakan mesin serbaguna untuk perajang
limbah/sampah, khususnya digunakan untuk merajang isolator (PVC)
kabel. Pencacahan ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam
melakukan daur ulang bahan PVC, sehingga dapat memperoleh nilai
ekonomi yang tinggi.


5

Mesin pencacah ini menggunakan motor listrik sebagai sumber
tenaga penggerak. Mesin ini mempunyai sistem transmisi tunggal yang
berupa sepasang pulley dengan perantara v-belt. Saat motor listrik
dinyalakan, maka putaran motor listrik akan langsung ditransmisikan ke
pulley 1 yang dipasang seporos dengan motor listrik. Dari pulley 1,
putaran akan ditransmisikan ke pulley 2 melalui perantara v-belt,
kemudian pulley 2 berputar, maka poros yang berhubungan dengan pulley
akan berputar sekaligus memutar pisau perajang. Hal tersebut
dikarenakan pisau perajang dipasang seporos dengan pulley 2.
Meski terkesan memiliki fungsi yang sederhana namun mesin
berperan cukup besar dalam proses pencacahan. Mesin pencacah ini
terdapat beberapa bagian utama seperti; motor penggerak, poros, casing,
sistem transmisi dan pisau perajang.

B. Tuntutan Alat dari Sisi Calon Pengguna
Mesin pencacah isolator (PVC) kabel ini merupakan sebuah alat yang
berfungsi untuk membantu pencacahan bagi masyarakat. Mesin ini memiliki
berbagai tuntutan yang harus dipenuhi sehingga nantinya mesin ini dapat
diterima dan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan pengguna.
Adapun tuntutan dari alat tersebut antara lain:
1. Ukuran mesin yang tidak terlalu besar.
2. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses pencacahan tidak
terlalu lama dan menghasilkan hasil yang baik.


6

3. Mudah untuk dipindahkan.
4. Dapat dioperasikan oleh semua orang.
5. Mudah perawatannya.
6. Suku cadang yang murah dan mudah diperoleh

C. Analisis Morfologi Alat
Analisis morfologi suatu mesin dapat terselesaikan dengan memahami
karakteristik mesin dan dimengerti akan berbagai fungsi komponen yang
akan digunakan dalam mesin. Dengan segala sumber informasi, selanjutnya
dapat dikembangkan untuk memilih komponen-komponen mesin yang paling
ekonomis. Analisis morfologis sangat diperlukan dalam perancangan mesin
penyuir pencacah untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

D. Morfologi Mesin Pencacah I solator PVC Kabel
Analisis morfologi merupakan suatu pendekatan yang sistematis dan
terstruktur untuk mencari alternatif penyelesaian dengan menggunakan
matriks sederhana. Analisis morfologi ini dibuat sebagai pertimbangan yang
sistematis untuk memilih komponen dan mekasnime mesin yang terbaik.
Spesifikasi mesin dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
1. Keharusan (demands) disingkat D, yaitu syarat mutlak yang harus
dimiliki mesin (jika tidak terpenuhi maka mesin merupakan solusi yang
tidak diterima).


7

2. Keinginan (wishes) disingkat W, yaitu syarat yang masih dapat
dipertimbangan keberadaannya agar dapat dimiliki oleh mesin yang
dirancang.
Tabel 1. Petimbangan perancangan Mesin Pencacah PVC Kabel
No. Tuntutan
Perancangan
Persyaratan Tingkat
Kebutuhan
1. Energi
a. Menggunakan tenaga motor
b. Dapat diganti dengan penggerak lain
D
W
2. Kinematika
a. Mekanismenya mudah beroperasi
b. Menggunakan transmisi untuk
memperoleh keuntungan mekanis
D
D
3. Material
a. Mudah didapat dan murah harganya
b. Baik kualitas mutunya
c. Sesuai dengan standar umum
d. Memiliki umur pakai yang panjang
e. Mempunyai sifat mekanis yang baik
D
W
D
D
D
b. Baik
kualitas
mutunya
c. Sesuai
dengan
standar
umum
d. Memilik
i umur
pakai yang
panjang
e. Mempu
nyai sifat
mekanis
yang baik
W
D
D
D
4. Geometri
a. Panjang area kerja 65 cm
b. Lebar 50 cm
c. Tinggi 60 cm
d. Dimensi dapat diperbesar/diberkecil
D
D
D
W

Geometri e. Panjang
area kerja
850 cm
f. Lebar
50 cm
g. Tinggi
70 cm
h. Dimensi
dapat
diperbesar/d
iberkecil
D
D
DW
5. Ergonomi
a. Sesuai dengan tuntutan kebutuhan
b. Mudah dipindahkan
c. Tidak bising
d. Mudah pengoperasiannya
D
D
D
D
Ergonomi e. Sesuai
dengan
tuntutan
kebutuhan
f. Mudah
dipindahkan
g. Tidak
bising
h. Mudah
pengoperasi
annya
D
D
D
D
7. Keselamatan
a. Konstruksi harus kuat dan kokoh
b. Bagian yang berbahaya ditutup
c. Tidak menimbulkan polusi
D
D
W
Keselamata
n
d. Konstru
ksi harus
kuat dan
kokoh
e. Bagian
yang
berbahaya
ditutup
f. Tidak
D
D
W


8

8. Produksi
a. Dapat diproduksi bengkel kecil
b. Suku cadang murah dan mudah
didapat
c. Biaya produksi relatif murah
d. Dapat dikembangkan lagi
D
D

W
W

Produksi e. Dapat
diprodu
ksi
bengkel
kecil
f. Suku
cadang
murah
dan
mudah
didapat
g. Biaya
produksi
relatif
murah
h. Dapat
dikemba
ngkan
lagi
D
D
W
W
9. Perawatan
a. Biaya perawatan murah
b. Perawatannya mudah dilakukan
c. Perawatannya secara berkala
D
D
W
Perawatan d. Biaya
perawatan
murah
e. Perawat
annya
mudah
dilakukan
f. Perawat
annya
secara
berkala
D
D
W
10. Transportasi
a. Mudah dipindahkan
b. Tidak perlu alat khusus untuk
memindahkan
D
D
Transportas
i
c. Mudah
dipindah
kan
d. Tidak
p
erlu
a
lat
k
husus
u
ntuk
memind
ahkan
D
D

Dilihat dari spesifikasi diatas, maka didapat gambaran mengenai
komponen pembentuk mesin pencacah PVC Kabel. Dengan demikian
dapat disusun suatu skema klasifikasi dengan matriks morfologi seperti
tabel di bawah ini.
Tabel 2. matriks morfologi Analisis Mesin Pencacah isolator (PVC) kabel
NO. VARIABLE
VARIAN
A B C
1
Sumber
tenaga
penggerak
Motor listrik AC Motor torak Manual


9

2
Profil
rangka
mesin

Profil L
Profil U
Profil I
3
Sistem
transmisi

v-belt dan pully
roda gigi
gear dan rantai
4 Poros
Besi
Besi Berlapis
Stainles

5
Pisau
perajang
Persegi Panjang Bulat

6
Tempat
pencacahan

Bulat kotak

7
Bantalan
(bearing)
Pilow blok
bearing
flange



10

8
Saluran
masuk dan
keluar
Persegi Panjang
Prisma Kerucut
9 Casing

Plat besi

Plat aluminium

Plat stainles
10
Penutup
Komponen
berputar

lonjong


Bulat
Kotak

E. Identifikasi Analisis Teknik Yang Digunakan Dalam Perancangan
1. Teori Desain Perancangan
Perancangan adalah kegiatan awal dari suatu rangkaian dalam
proses pembuatan produk. Tahap perancangan tersebut dibuat keputusan-
keputusan penting yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan lain yang
menyusulnya (Dharmawan, 2004: 1). Sehingga, sebelum sebuah produk
dibuat terlebih dahulu dilakukan proses perancangan yang nantinya
menghasilkan sebuah gambar skets atau gambar sederhana dari produk
yang akan dibuat. Gambar skets yang telah dibuat kemudian digambar
kembali dengan aturan gambar sehingga dapat dimengerti oleh semua
orang yang ikut terlibat dalam proses pembuatan produk tersebut. Gambar
hasil perancangan adalah hasil akhir dari proses perancangan dan sebuah


11

produk dibuat setelah dibuat gambar-gambar rancangannya dalam hal ini
gambar kerja.
Ada tiga macam perancangan yaitu : (1) asli yaitu merupakan
desain penemuan yang benar-benar didasarkan pada penemuan belum
pernah ada sebelumnya, (2) pengembangan/ modifikasi yaitu merupakan
pengembangan produk yang sudah ada dalam rangka peningkatan
efisiensi, efektivitas, atau daya saing untuk memenuhi tuntutan pasar atau
tuntutan zaman, (3) adopsi yaitu merupakan perancangan yang
mengadopsi/ mengambil sebagian sistem atau seluruhnya dari produk
yang sudah ada untuk penggunaan lain dengan kata lain untuk
mewujudkan alat mesin yang memiliki fungsi lain (Epsito and
Thrower.R.J., 1991: 6).
Perancangan dan pembuatan produk adalah dua kegiatan yang
penting, artinya rancangan hasil kerja perancang tidak ada gunanya jika
rancangan tersebut tidak dibuat. Sebaliknya pembuat tidak dapat
merealisasikan benda teknik tanpa terlebih dahulu dibuat gambar
rancangannya (Dharmawan, 2004:2). Mengenai gambar rancangan yang
akan dikerjakan oleh pihak produksi berupa gambar dua dimensi yang
dicetak pada kertas dengan aturan dan standar gambar kerja yang ada.

2. Gaya Potong Isolator Kabel
Langkah utama yang menjadi awal perancangan mesin pencacah
isolator (PVC) Kabel adalah mengetahui besarnya gaya potong yang


12

dibutuhkan untuk dapat memotong batang isolator (PVC) Kabel.
Besarnya gaya potong kemudian digunakan untuk menghitung daya yang
diperlukan mesin untuk dapat memotong isolator (PVC) Kabel. Data ini
selanjutnya akan sangat menentukan dalam perancangan daya tenaga
penggerak, transmisi, dan penghitungan lain.
Besarnya gaya potong dapat diketahui melalui uji gaya potong dengan
memberi beban secara berkala pada pisau. Caranya dengan memberikan
beban (Kg) secara berkala pada batang pisau pencacah, kemudian
isolator (PVC) kabel ditaruh pada bagian mata pisau yang ujung
pisaunya telah dibebani.








Gbr.1. Analisa gaya potong menggunakan beban berkala



Pisau
Tali
Isolator (PVC) Kabel
Beban ( Kg)


13

Dari analisa gaya potong menggunakan beban berkala didapat data
sebagai berikut :
Tabel.3 percobaan gaya potong beben berkala
Percobaan
Gaya Potong
(Kg)
I
II
III
IV
V
3,2
3,3
3,4
3,5
3,6

Percobaan diatas didapat gaya potong maksimal adalah
3,6 Kg dan diperoleh hasil rata-rata Gaya potong isolator (PVC) Kabel
adalah 3,4 Kg.
3. Daya Mesin Dan Tenaga Penggerak
Setelah gaya potong isolasi (PVC) Kabel diketahui maka daya
motor listrik yang dibutuhkan bisa dihitung. Untuk menghitung daya
mesin (P) terlebih dahulu dihitung torsinya (T), yaitu:
T = F x R (Robert L. Mott, 2009:81) ............................................. (1)
Keterangan:
F = gaya potong isolasi (PVC) Kabel (kg)
R = panjang pisau, titik potong terluar (m)

Setelah mengetahui besarnya torsi yang dihasilkan gaya potong, bisa
dihitung daya mesin. Daya mesin (P) dihitung dengan:


14


T =

................................................................. .......... (2)


(Achmad, 1999:21)
=

..... ......................................................... ...... (3)


Pd = P X F
C
................................................................... (4)
Dimana :
T = Torsi ( N.m )
n = Putaran Poros (rpm)
F
C
=

Faktor Koreksi daya
Pd = Daya Rencana (Watt)
P = Daya Nominal (Watt)
= Kecepatan Sudut (rad/s)
4. Poros Pencacah
Poros merupakan salah satu bagian dari setiap mesin penting.
Karena hamper semua mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan
putaran, oleh karenanya poros memegang peranan utama dalam transmisi
dalam sebuah mesin. Poros dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan
penerusan dayanya (Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2002:1) yaitu :
a. Poros Transmisi


15

Poros macam ini mendapatkan beban puntir murni atau puntir dan
lentur. Daya ditransmisikan kepada poros ini melalui kopling, roda gigi,
puli sabuk dan sprocker rantai dll.
b. Spindel
Poros transmisi yang relatif pendek, seperti poros utama mesin
perkakas, dimana beban utamanya berupa puntiran yang disebut
spindel.Syarat utama yang harus dipenuhi poros ini adalah deformasi
harus kecil dan bentuk serta ukurannya harus teliti.
c. Gandar
Poros seperti dipasang diantara roda-roda kereta barang, dimana tidak
mendapat beban punter, bahkan kadang-kadang tidak boleh berputar,
disebut gandar. Gandar hanya memperoleh beban lentur kecuali jika
digerakkan oleh penggerak dia akan mengalami beban punter juga.
Tabel .3 . Penggolongan Bahan Poros
Golongan Kadar C (%)
Baja lunak -0,15
Baja liat 0,2-0,3
Baja agak keras 0,3-0,5
Baja keras 0,5-0,8
Baja sangat keras 0,8-1,2
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:4)
Pada poros yang memiliki jari-jari atau cabang maka pada tiap
cabang saat berputar akan terjadi gaya sentrifugal. Gaya sentrifugal
adalah gaya yang terjadi apabila benda bergerak melingkar yang
arahnya menjauhi pusat lingkaran dimana nilainya adalah positif.


16

Apabila cabang pada poros saling berpasangan maka akan saling
meniadakan gaya sentrifugal yang dialami tiap cabang.
Perhitungan yang digunakan dalam perencanaan poros penyuir antara
lain:
a. Tegangan geser ijin
a =

...................................................... (6)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:8)
Keterangan: a = Tegangan geser ijin (kg/mm
2
)
= Kekuatan tarik bahan (kg/mm
2
)
= Faktor koreksi
b. Diameter Poros
ds *(

..............................(7)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga,2004:18)
Keterangan : ds = Diameter Poros (mm)
= Tegangan Geser yang diijinkan (Kg/mm
2
)

= Faktor koreksi
M = Momen Lentur (Kg.mm)

= Faktor Koreksi
T = Momen Puntir (Kg.mm)




17

c. Tegangan maksimal

max
=

....................................(8)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga,2004:18)
Keterangan :
max
= Tegangan Geser yang diijinkan (Kg/mm
2
)
ds = Diameter Poros (mm)

= Faktor koreksi
M = Momen Lentur (Kg.mm)

= Faktor Koreksi
T = Momen Puntir (Kg.mm)
5. Transmisi Dan Sabuk V
Jarak yang cukup jauh yang memisahkan antara dua buah poros
mengakibatkan tidak memungkinkannya mengunakan transmisi
langsung dengan roda gigi. V-Belt merupakan sebuah solusi yang dapat
digunakan. V-Belt adalah salah satu transmisi penghubung yang terbuat
dari karet dan mempunyai penampang trapesium. Dalam
penggunaannya V-Belt dibelitkan mengelilingi alur pulley yang
berbentuk V pula. Bagian sabuk yang membelit pada pulley akan
mengalami lengkungan sehingga lebar bagian dalamnya akan
bertambah besar (Sularso dan Kiyokatsu Suga, 1991:163).


18


Gambar 2. Penampang Sabuk-V
Sabuk-V banyak digunakan karena sabuk-V sangat mudah dalam
penanganannya dan murah harganya. Selain itu sabuk-V juga memiliki
keungulan lain dimana sabuk-V akan menghasilkan transmisi daya yang
besar pada tegangan yang relatif rendah serta jika dibandingkan dengan
transmisi roda gigi dan rantai, sabuk-V bekerja lebih halus dan tak
bersuara. Berdasarkan penampang sabuk-V terdapat beberapa tipe
seperti terlihat pada Gambar 3. Selain memiliki keungulan dibandingkan
dengan transmisi-transmisi yang lain, sabuk-V juga memiliki kelemahan
yaitu memungkinkan terjadinya slip.
Oleh karena itu, maka perencanaan V-Belt perlu dilakukan untuk
memperhitungkan jenis sabuk yang digunakan dan panjang sabuk yang
akan digunakan. Berikut adalah perhitungan yang digunakan dalam
perancangan V-Belt antara lain:
a. Daya Rencana
Pd = fc x P ...............................................................................(9)
(Sularso dan Kiyotsu Suga, 2004:7)
Keterangan:
Pd = daya rencana (kW)


19

fc = faktor koreksi
P = daya nominal (kW)
b. Diameter Puli
i =

...............................................................................(10)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:166).
Keterangan : i = Angka Perbandingan
n1 = Putaran Poros Motor (rpm)
n2 = Putaran Poros Pisau (rpm)
Dp = diameter puli Poros Pencacah (mm)
dp = Diameter Puli poros Motor (mm)
c. Momen Puntir
T = 9,74 x 10
5

..........................................................................(11)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:7).
Keterangan : T = Torsi (Kg.mm)
n2 = Putaran Poros (rpm)
Pd = Daya Rencana (kW)
d. Kecepatan Sabuk
V =


............................................................................. (12)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:166)
Keterangan: v = Kecepatan sabuk (m/detik)
dp = Diameter puli motor (mm)
n1 = Putaran motor (rpm)



20

e. Panjang Sabuk

........................... (13)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:170)
Keterangan: L = Pamjang sabuk (mm)
C = Jarak sumbu (mm)
D
p
= Diameter puli poros (mm)
dp = Diameter puli motor (mm)

f. Sudut Kontak
= 180
0
-

........................................................ (14)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:173)
Keterangan: = Sudut kontak (
o
)
C = Jarak sumbu (mm)
D
p
= Diameter puli poros (mm)
d
p
= Diameter puli motor (mm)

g. Kapasitas transmisi daya tiap sabuk
P
o
=


.............................................................................. (15)
(Sularso dan Kiyokatsu Suga, 2004:173)
Keterangan : P
o
= Kapasitas transmisi daya tiap sabuk (kW)
Pd = Daya rencana (kW)
N = Jumlah sabuk
K

= Faktor koreksi


21

6. Rangka
Kekakuan dan kekokohan rangka dapat dilihat dari material yang
ada, yaitu berupa besi siku. Kekakuan dan kekokohan kerangka dapat
ditambah dengan cara pengelasan dan pembautan. Dalam perencanaan
konstruksi rangka mesin pencacah ini menggunakan sambungan las,
karena lebih mudah dan hasilnya lebih kuat. Untuk menghitung
kekokohan konstruksi rangka dapat dihitung menggunakan program
inventor.

Gambar. 4 Profil siku
7. Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi merupakan salah satu bagian dari
pertimbangan dalam perencanaan sebuah produk yang berupa mesin.
Pertimbangan tersebut dipengaruhi oleh biaya-biaya yang dikeluarkan
selama menghasilkan produk.
1. Biaya
Biaya dalam termologi keuangan didefinisikan sebagai
pengorbanan sumber-sumber daya yang diadakan untuk


22

mendapatkan keuntungan atau untuk mencapai tujuan dimasa
datang (Arman Hakim Nasution, 2006). Pada sebuah usaha
manufaktur terdapat 3 elemen pokok biaya, ketiga elemen pokok
itu adalah :
a. Material Cost (biaya bahan baku)
Biaya bahan baku terbagi menjadi dua elemen yaitu :
1). Direct material cost
Merupakan biaya semua bahan secara fisik yang dapat
diidentifikasi sebagai bagian dari prosuk jadi dan biasanya
merupakan bagian terbesar dari material pembentuk harga
pokok produksi.
2). Indirect material cost
Segala biaya yang merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan
dalam rangka sebagai biaya bahan penolong dalam
pembentukan produk.
b. Labor Cost (biaya tenaga kerja)
Biaya tenaga kerja terbagi menjadi dua elemen
yaitu :
1). Direct labourl cost
Semua biaya yang menyangkut gaji dan upah dari seluruh
pekerja yang secara praktis dapat diidentifikasi dengan
kegiatan dari pengolahan bahan baku menjadi bahan
produk jadi.


23

2). Indirect labour cost
Semua biaya dimana biaya ini dikeluarkan untuk upah dari
para pekerja dimana pekerja itu tidak secara langsung
berhubungan pada pengolahan produk secara langsung.
c. Indirect Manufacturing Expense (biaya overhead usaha)
Indirect Manufacturing Expense (IME) adalah semua biaya
produksi selain dari ongkos atau biaya utama (Direct material
cost dan Direct labourl cost) yang bersifat menunjang atau
memperlancar dari proses produksi. Biaya yang termasuk
dalam Indirect Manufacturing Expense (IME) antara lain
adalah biaya bahan penolong, baiay tenaga kerja tidak
langsung, biaya perawatan mesin dan peralatan-peralatan
lainnya.
2. Penerimaan (renenue)
Penerimaan dalam hal ini adalah penerimaan yang didapatkan oleh
produsen penghasil produk dari hasil penjualan produknya ke
pasaran. Ada beberapa konsep penerimaan yang sangat penting
digunakan untuk meganalisa perilaku produsen yaitu :
a. Total Rvenue
Total Rvenue adalah penerimaan total yang diperoleh
produsen penghasil produk. Penerimaan total ini didapat dari
perkalian dari banyaknya produk yang dijual dikalikan
dengan harga jual produk perunit.


24

b. Average Renenue
Average Renenue adalah penerimaan perunit produsen penghasil
produk atas penjualan produk yang berhasil terjual dipasaran.
Average Renenue didapat dari hasil bagi penerimaan total dibagi
dengan unit yang terjual.
c. Marginal Revenue
Marginal Revenue merupakan kenaikan dari penerimaan total
yang disebabkan karena terjadinya pertambahan penjualan satu
unit hasil produksi. Marginal Revenue diperoleh dari pembagian
keseluruhan total produk dibagi dengan keseluruhan produk
yang terjual.
3. Titik Impas
Titik impas atau sering disebut dengan Break event Point (BEP)
merupakan sebuah sarana untuk menentukan kapasitas produksi yang
harus dicapai oleh suatu operator produksi untuk mendapatkan
keuntungan. Penganalisisan titik impas dalam permasalahan produksi
biasanya digunakan untuk menetukan tingkat akan sebuah produk
yang bisa mengakibatkan produsen produk berada dalam kondisi
impas. Untuk mendapatkan titik impas dari sebuah produk harus
dicari fungsi biaya maupun pendapatan, dimana total biaya sama
dengan total pendapatan.



25

Terdapat tiga komponen yang harus dipertimbangkan dalam analisis
titik impas ini, yaitu :
a. Biaya-biaya tetap (Fixed Cost)
b. Biaya-biaya variabel (Variabel Cost)
c. Biaya-biaya total (Total Cost)
Dalam kondisi titik impas ketiga komponen tersebut diatas akan berlaku
sebagai berikut :
TC = FC + VC = FC + Cx
Jika TR = pX
Maka TR = TC atau pX = FC +Cx
X = FC / p c
Dimana :
TC = ongkos total untuk pembelian X produk
FC = ongkos tetap
VC = ongkos variabel untuk pembelian X produk
C = ongkos variabel untuk pembelian 1 produk
TR = total pendapatan dari penjualan X buah produk
p = harga jual persatuan produk
X = volume produksi