Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam Kata islam berarti damai, selamat,
sejahtera, penyerahan diri, taat dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama
islam adalah agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian,
keselamatan, dan kesejahteraan hidup umat manusia pada khususnya dan seluruh alam
pada umumnya. Agama islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama,
Nabi pertama, yaitu Nabi Adam AS. Agama itu kemudian Allah turunkan secara
berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul-rasul berikutnya.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam
agama. Kemajemukan yang ditandai dengan keanekaragaman agama itu mempunyai
kecenderungan kuat terhadap identitas agama masing- masing dan berpotensi konflik.
Indonesia merupakan salah satu contoh masyarakat yang multikultural. Multikultural
masyarakat Indonesia tidak sauja kerena keanekaragaman suku, budaya,bahasa, ras tapi
juga dalam hal agama. Agama yang diakui oleh pemerintah Indonesia adalah agama
islam, Katolik, protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu. Dari agama-agama tersebut
terjadilah perbedaan agama yang dianut masing-masing masyarakat Indonesia. Dengan
perbedaan tersebut apabila tidak terpelihara dengan baik bisa menimbulkan konflik antar
umat beragama yang bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri yang mengajarkan
kepada kita kedamaian, hidup saling menghormati, dan saling tolong menolong.
Oleh karena itu, untuk mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama yang
sejati, harus tercipta satu konsep hidup bernegara yang mengikat semua anggota
kelompok sosial yang berbeda agama guna menghindari ledakan konflik antarumat
beragama yang terjadi tiba-tiba.
Makalah ini akan membahas tentang Mujahadah Nafs, Husnuzan dan ukuwah.
Mujahadah Nafs tentang kontrol diri yang perlu dimiliki setiap umat muslim.
Husnuzan artinya berbaik sangka , lawan katanya adalah suuzan yang artinya berburuk
sangka . Berbaik sangka dan berburuk sangka merupakan bisikan jiwa , yang dapat
diwujudkan melalui perilaku yakni ucapan dan perbuatan . Perilaku Husnuzan termasuk
akhlak terpuji karena mendapatkan banyak manfaat . Sedangkan perilaku suuzan
termasuk akhlak tercela, karena akan mendapatkan kerugian. Ukuwah berarti persamaan
dan keserasian dalam banyak hal. Dalam hal ini sekelompok individu dapat dikatakan
bersaudara apabila memiliki persamaan seperti keturunan, suku, agama, profesi, dan sifat.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Muzahadah Nafs, Husnuzhan dan ukhuwah?
2. Apa Perilaku yang Mencerminkan Sikap Mujahadah an-Nafs, Husnuzhan dan ukhuwah?
3. Hikmah atau Manfaat dari Sikap Mujahadah an-Nafs, Husnuzhan dan ukhuwah?
4. Apa Hikmah atau Manfaat dari Sikap Mujahadah an-Nafs, Husnuzhan dan ukhuwah?
C. TUJUAN
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah
1. Untuk memenuhi tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
2. Menambah pengetahuan tentang akhlaqul karimah yaitu Mujahadah
3. Dapat menerapkan Mujahadah dalam kehidupan sehari-hari
4. Menjadi pribadi yang lebih Islami

BAB II
PEMBAHASAN
1

A. MUJAHADAH AN-NAFS
1.

2.

Pengertian
Mujahadah an-Nafs berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas dua kata, yakni
mujahadah yang artinya kesungguhan dalam mengendalikan sesuatu dan an-Nafs yang
artinya diri pribadi. Jadi, mujahadah an-Nafs adalah kesungguhan dalam mengendalikan
diri pribadi atau sikap kontrol diri.
Sikap kontrol diri atau mujahadah an-Nafs adalah satu sikap yang diajarkan Islam agar
manusia mampu menjadi pribadi yang tidak selalu mengedepankan hawa nafsu dan
emosinya dalam menjalani kehidupan. Akan tetapi, mampu mengendalikan emosi dan
hawa nafsunya dengan selalu mengedepankan kejernihan hati dan pikiran serta perilaku
mulia yang dapat meninggikan derajatnya di hadapan Allah swt.
Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal
untuk kehidupan setelah mati (H.R. Tarmidzi: 2383)
Diantara tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah swt., yaitu dia yang
mengutamakan perkara yang disukai-Nya daripada mengutamakan kehendak nafsu
pribadinya. Orang-orang yang sanggup melawan hawa nafsu adalah mereka yang beriman
kepada Allah swt. dan hari akhir, inilah kekuatan yang ada dalam diri umat Islam.
Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Dan saya juga mendengar Rasulullah saw. Bersabda, Mujahid adalah orang yang
berjihad terhadap jiwanya (H.R. Ahmad)
Perang melawan hawa nafsu merupakan jihad akbar, yang nilainya lebih utama
dibanding jihad memerangi orang-orang kafir, yang sering disebut jihad kecil (al jihad al
asghar) oleh Rasulullah saw.
Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Nabi Muhammad saw. Bersabda: Telah kembalilah kita dari sebuah perlawanan
yang kecil (perang Badar dengan orang Kaum Kafir Quraisy waktu itu), menuju
peperangan yang agung, bertanyalah para sahabat: Ya Rasulullah, apa yang engkau
maksudkan peperangan yang besar? Rasul menjawab: Perang melawan hawa nafsu
Perilaku yang Mencerminkan Sikap Mujahadah an-Nafs
a. Berpikir positif
Selalu berpikir positif dalam segala hal, tidak pernah mempunyai prasangka buruk
terhadap apa pun dan siapa pun, tidak memiliki perasaan untuk merendahkan, atau
bahkan menghina siapa pun yang ditemuinya. Ketika seseorang memiliki perilaku
berpikir positif, dia akan selalu mempertimbangkan setiap ucapan dan perilakunya
untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwasanya Nabi Muhammad saw.
Bersabda, Demi Zat (Allah) yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah
beriman seorang hamba dengan sempurna sehingga dia mencintai tetangganya atau
saudaranya seperti halnya mereka mencintai dirinya sendiri (H.R. Muslim: 65)
b. Bekerja keras, tuntas, dan ikhlas
c. Optimis dalam segala hal
Sikap optimis artinya keyakinan yang kuat bahwa kesungguhan dan kerja keras yang
kita lakukan akan mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah swt. dengan
berbagai macam kemudahan.
2

Allah swt. berfirman :



Artinya :
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang
yang berbuat baik (Q.S. Al-Ankabut (29): 69)
d. Bersyukur ketika mendapat keberhasilan
e. Bersabar ketika mendapat kegagalan
Seseorang yang memiliki sikap kontrol diri akan bersabar dan menganggap bahwa
setiap kegagalan dalam usahanya adalah ujian baginya untuk meningkatkan usaha dan
doanya lebih maksimal lagi di kemudian hari.
Allah swt. berfirman :


Artinya :
Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya
dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa
dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir. (Q.S. Yusuf (12): 87)
3.

Hikmah atau Manfaat dari Sikap Mujahadah an-Nafs


a. Menambah ketentraman hati dan pikiran
Seseorang yang memiliki sikap kontrol diri, hatinya akan merasa tenteram dan
nyaman, tidak pernah berburuk sangka terhadap siapa pun yang ditemuinya, tidak
mengucapkan sesuatu yang dapat merugikan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Rasulullah saw. Bersabda yang artinya :
Sesungguhnya dalam tubuh (manusia) itu terdapat segumpal daging, apabila
segumpal daging itu baik maka baik pula seluruh tubuhya, akan tetapi apabila
rusak segumpal daging itu maka rusak pulalah seluruh tubuhnya, ingatlah
segumpal daging itu adalah hati.
(H.R. Bukhari: 50 dan Muslim: 2996)
b. Mendapatkan hasil yang memuaskan
Seseorang yang dapat mengontrol dirinya dari sifat malas dan menunda pekerjaan
menggantinya dengan kerja keras, tuntas, dan ikhlas tentu akan mendapatkan hasil
yang memuaskan.
Allah swt. berfirman :



Artinya :
Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. (Q.S.
An-Najm (53): 39)
c. Memiliki kepercayaan diri yang tinggi
d. Menambah ketawakalan kepada Allah swt. dalam menyerahkan semua urusan
Mujahadah al-nafs merupakan perbuatan yang berat. Meskipun berat Allah
menjanjikan jalan keluar bagi orang beriman yang bersungguh-sungguh berjuang
mengendalikan nafsunya. Sebagaimana firman Allah : : Orang-orang yang berjihad di
3

jalan Kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami (QS al-Ankabut:
69).
Imam Ibn al-Qayyim berkata: Allah menggantungkan hidayah dengan laku jihad.
Maka orang yang paling sempurna hidayah (yang diperoleh)-nya adalah dia yang paling
besar laku jihadnya. Jihad yang paling fardu adalah jihad melawan nafsu, melawan
syahwat, melawan syetan, melawan rayuan duniawi. Siapa yang bersungguh-sungguh
dalam jihad melawan keempat hal tersebut, Allah akan menunjukkan padanya jalan ridhaNya, yang akan mengantarkannya ke pintu surga-Nya. Sebaliknya, siapa yang
meninggalkan jihad, maka ia akan sepi dari hidayah
Di ayat lain, Allah menjelaskan bahwa membebaskan nafsu merupakan karunia Allah,
sebagaimana frimannya: Dan aku tidak membebaskan nafs-ku, karena sesungguhnya
nafs itu selalu sangat menyuruh kepada keburukan, kecuali nafs yang dirahmati Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf/12: 53).
Kalimat yang bergaris bawah menunjukkan bahwa kita tidak akan sanggup
mengendalikan diri, kecuali mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah
4.

Cara Mujahadah an nafs


Ada empat cara melakukan mujahadah an-nafs dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:
a) Bersabar atau menyisihkan waktu yang lebih lama untuk mengambil keputusan
dari perbuatan yang akan dilakukan.
Ketika seseorang atau umat Islam dihadapkan kepada banyak tantangan dan
kesulitan atau berposisi minoritas, hendaklah bersabar. Sikap sabar akan membuka
pikiran jernih yang menjadi pembuka ide-ide brilian yang mengambil keputusan.
b) Memikirkan akibat dari perbuatan yang kita lakukan.
Berpikir tentang akibat perbuatan yang akan dilakukan dapat meminimalisasi halhal negatif dan penyesalan yang akan ditimbulkan dari perbuatan tersebut.
Bukankah setiap perbuatan sebenarnya akan kembali kepada pelakunya
sendiri? Allah Swt berfirman: Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik
kepada dirimu sendiri. Jika kamu berlaku jahat, maka kamu berbuat jahat pada
dirimu sendiri. (QS Al-Isra: 7). Sebagian ulama salaf menafsirkan ayat ini dengan
berkata: Sesungguhnya amal kebaikan melahirkan cahaya di dalam kalbu,
kesehatan pada badan, kecerahan pada wajah, keluasan pada rizki, serta kecintaan
dari segala makhluk. Sedangkan kejahatan, sebaliknya, menciptakan kegelapan di
hati, keringkihan di badan, kesuraman di wajah, kesempitan pada rizki, serta
kebencian dari hati segala makhluk.
c) Berdzikir kepada Allah
Berdzikir merupakan cara untuk menyadarkan diri bahwa segala perbuatan kita
dilihat dan dicatat oleh Allah untuk dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan
berdzikir iman akan bertambah, membentengi godaan setan dan menjadi
penyelamat dari neraka. Sebagaimana sabda Nabi saw:


Dzikirullah itu (dapat membuka) pengetahuan tentang keimanan, pembebasan
dari kemuafikan, benteng dari syetan, dan penyelamat dari neraka. (Miftah alShudur).
Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam al-Hikam-nya memberikan nasehat:

4

Janganlah engkau meninggalkan zikir karena engkau tidak hadir bersama Allah
(tidak khusyuk), karena kelalaianmu sambil tidak berzikir itu lebih dahsyat
daripada kelalaianmu sambil zikir kepada-Nya.
d) Berdoa kepada Allah
Doa menjadi modal spritual ketika dalam kesulitan. Inilah yang dicontohkan
Rasulullah, ketika beliau dilempari batu dan diusir dari Thaif, justru beliau
mendoakan penduduk thaif agar diberi hidayah oleh Allah.

B. HUSNUZZHAN
Kata husnuzan berasal dari bahasa Arab yang terdiri atas husnu dan azh-zhan. Husnu
artinya bai dan azh-zhan artinya prasangka, jadi husnuzan artinya berprasangaka baik. Lawan
dari husnuzan adalah suuzan, yang artinya berprasangaka buruk.
Orang yang husnuzan ialah orang yang selalu berfikir positif dan tidak pernah berburuk
sangka terhadap apa yang dilakukan orang lain. Sedangkan orang yang suuzan ialah orang
yang selalu berfikiran negatif dan selalu berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan orang
lain.
1.

Pengertian Husnuzan Kepada Allah


Husnuzan terhadap Allah artinya menerima semua yang menjadi takdir dan keputusan
Allah. QS. Yunus ayat:44 yang artinya:
Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya kepada manusia sedikit pun, akan tetapi
manusia itu sendiri berbuat anuaya kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus: 44)
2.
Sikap Husnuzan Kepada Allah
a.
Meyakini bahwa Allah Maha Esa (tauhid)
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah :225 yang artinya:
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksudkan (untuk
bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja
(untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantujn
(tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa). (QS. Al-Baqarah: 225)
b.
Bertaqwa kepada Allah
Dejelaskan dalam QS. Al Hujrat: 14 yang artinya:
Hai mnanusia, sesunggunhnya Kami menciptakan kamu seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengengal. (QS. Al-Hujrat:14)
c.
Berserah diri kepada Allah (tawakal)
Dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah:112 yang artinya:
Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan,
maka baginya pahala pada sisi Tuhan dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah:112).
d.

Menerima dengan ikhlas semua keputusan Allah


Dijelaskan dalam QS. At-Taubah:59 yang artinya:
Jika mereka sungguh-sungguh rida dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya
kepada mereka, dan berkata: Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan
5

kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya,


sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah. (Tentulah yang
demikian itu lebih baik bagi mereka). (QS. At-Taubah:59)

2. Hikmah Husnuzan kepada Allah


Sikap husnuzan mempunyai hikmah yang besar. Berhusnuzan kepada Allah memiliki hikmah
yang banyak, diantaranya seperti berikut.
a.
Selalu optimis dalam menyongsong masa depan
Dijelaskan dalam QS. Az-Zumar:54 yang artinya:
Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang emlampaui batas terhadap adiri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
b.
Tidak mudah putus asa
Dijelaskan dalam QS. Yusuf:87 yang artinya:
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.
c.
Selalu bersyukur kepada Allah
Bersyukur dapat dilakukan dengan cara mempertebal iman dan meningkatkan takwa.
Berikut diantara ciri-ciri orang bertakwa:
1)
Surah al-Baqarah ayat 2-5 yaitu mempercayai yang ghaib, menegakan salat,
mengeluarkan zakat dan sedekah, mempercayai kitab-kitab samawi, meyakini
adanya hari akhir, dan mengikuti hidayah Allah. QS. Al-Baqarah tersebut yang
artinya:
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, ayng mendirikan
salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan
kepadamu dan Kitab-kitab yang telah dirurunkan sebelummu, serta mereka yakin
akan adanya (kehidupan) akhirat. (5) mereka itulah yang tetap mendapat petunguk
dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
2)
Surah Ali-Imran ayat 134-135 yaitu mampu berinfak baik dalam keadaan sulit
maupun longgar, mampu menahan marah, pemaaf, selalu berbuat baik, jika berbuat
salah sadar dan istigfar serta tidak mengulangi.
Artinya:
Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang
yang apabila menherjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka
ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa
lagi yang dapat mengambuni dosa selain Allah? Dan merekan tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.
3)
Surah az-Zariyat ayat 16-20, yaitu mengambil apa saja yang diberikan Allah
kepadanya, selalu berbuat baik, di waktu malam sedikit tidurnya, istighfar di waktu
sahur (tahajud di waktu sepetiga akhir malam), selalu sedekah dan zakat, mampu
mengambil pelajaran apa yang ada di muka bumi.
Artinya:
6

Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka.
Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat
baik, (17) Mereka sedikit tidur di waktu malam (18)Dan di akhir-akhir malam
mereka memohon ampun (kepada Allah). (19) Dan pada harta-harta mereka ada
hak untuk orang moskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat
bagian. (20) Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasan Allah) bagi orangorang yang yakin.
4)
Hadis rasul untuk Muads bin Jabal, beliau memberi nasihat tentang takwa, yaitu
kata-kata jujur, menepati janji (termasuk mengembalikan utang), melaksanakan
amanah (tanggung jawab), menjaga tetangga (demi baiknya), sayang kepada anak
yatim, kata-katanay lemah lembut, selalu berbuat baik, berusaha mewujudkan
Sedangkan siapa yang menyangka, husnudzan kepada Allah Ta'ala tidak disertai
amal apapun, maka ia salah besar dan tidak memahami ibadah agung ini sesuai
dengan pemahaman yang benar. Sesungguhnya husnudzan tidak tegak dengan
meninggalkan kewajiban-kewajiban dan menjalankan kemaksiatan-kemaksiatan.
Maka siapa yang berperasangka baik kepada Allah semacam itu, ia telah tertipu,
berharap yang salah, berpaham murji'ah yang tercela, serta merasa amal dari siksa
Allah. Semua ini tercela dan membinasakan dirinya sendiri.
Ibnul Qayyim berkata,

: :

: :
"Telah nampak jelas perbedaan antara husnudzan dengan ghurur (tipuan).
Adapun Husnuzan, jika ia mengajak dan mendorong beramal, membantu dan
membuat rindu padanya: maka ia benar. Jika mengajak malas dan berkubang
dengan maksiat: maka ia ghurur (tipuan). Husnuzan adalah raja' (pengharapan).
Siapa yang pengharapannya mendorongnya untuk taat dan menjauhkannya dari
maksiat: maka ia pengharapan yang benar. Sedangkan siapa yang kemalasannya
adalah raja' dan meremehkan perintah: maka ia tertipu." (Al-Jawab al-Kaafi: 24)
C.

Meningkatkan Husnudzan
Seorang muslim hendaknya senantiasa berhusnudzan kepada Tuhan-Nya. Ini harus lebih
meningkat dalam dua keadaan:
Pertama, saat dia menjalankan ketaatan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
'Anhu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda: Allah Ta'ala berfirman,




"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia
mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya
dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan
mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia
mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta,
jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa,
7

dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan
berlari." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits di atas, husnudzan kepada Allah memiliki hubungan kuat dengan
amal shalih. Karena sesudahnya disebutkan anjuran untuk berdzikir dan mendekatkan
diri dengan amal ketaatan kepada-Nya 'Azza wa Jalla. Maka siapa yang berprasangka
baik kepada Allah pasti ia terdorong untuk berbuat baik.
Al-Hasan al-Bashri berkata,

"Sesungguhnya seorang mukmin selalu berhusnudzan kepada Tuhannya lalu ia
memperbagus amalnya. Dan sesungguhnya seorang pendosa berpesangka buruk
kepada Tuhannya sehingga ia berbuat yang buruk." (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam
al-Zuhd, hal. 402)
Kemudian Ibnul Qayyim menjelaskan, siapa yang memperhatikan persoalan ni dengan
benar akan tahu, husnudzan kepada Allah adalah baiknya amal itu sendiri. Karena
seorang hamba terdorong menjalankan amal baik karena ia berperasangka bahwa
Tuhan-nya akan memberi balasan dan pahala atas semua amal-amal baiknya, serta
menerimanya. Husnuzan-lah yang mendorongnya beramal shalih. Maka jika
prasangkanya baik, baik pula amalnya. Jika tidak, husnudzan bersamaan dengan
mengikuti hawa nafsu adalah kelemahan.
Ringkasnya, husnudzan pasti disertai dengan menjalankan sebab-sebab menuju
keselamatan. Sebaliknya, jika menjalankan sebab-sebab kehancuran, pasti ia tidak
berperasangka baik. (Disarikan dari al-Jawab al-Kaafi: 13-15)
Abu al-Abbas al-Qurthubi rahimahullah berkata, dikatakan, maknanya: berperasangka
(yakin) dikabulkan doa saat berdoa, diterima saat bertaubat, diampuni saat istighfar, dan
berperasangka akan diterima amal-amal saat menjalankannya sesuai dengan syaratsyaratnya; ia berpegang teguh dengan Dzat yang janji-Nya benar dan karunia-Nya
melimpah. Aku katakan, ini dikuatkan oleh Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam,

"Berdoalah kepada Allah sementara kalian yakin diijabahi." (HR. Al-Tirmidi dengan
sanad shahih). Bagi orang bertaubat dan beristighfar, juga orang yang beramal agar
bersungguh-sungguh dalam menjalankan niatan baiknya itu dengan disetai keyakinan
bahwa Allah Ta'ala akan menerima amalnya dan mengampuni dosanya. Karena
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berjanji akan menerima taubat yang jujur dan amalamal yang shalih. Seandainya ia menjalankan amal-amal tersebut dengan keyakinan
atau prasangka bahwa Allah tidak akan menerimanya dan amal-amal tersebut tak
memberikan manfaat baginya, itu namanya putus asa dari rahmat Allah. Sedangkan
berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar. Siapa meninggal di atasnya,
baginya apa yang diperasangkakannya. Adapun merasa mendapat ampunan dan rahmat
dengan mengerjakan maksiat-maksiat: itu adalah kejahilan dan tertipu. Mereka itulah
yang akan masuk dalam jeratan paham murji-ah.

Kedua, saat tertimpa musibah dan menghadapi kematian. Dari Jabir bin
Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam bersabda tiga hari menjelang wafatnya,


"Janganlah salah seorang kalian meninggal kecuali ia berhusnuzan kepada Allah."
(HR. Muslim)
Dalam kitab Al-Mausu'ah al-Fiqhiyah (10/220) disebutkan, wajib atas seorang mukmin
berperasangka baik kepada Allah Ta'ala. Tempat yang lebih banyak diwajibkan
berhusnzan kepada Allah: Saat tertimpa musibah dan saat kematian. Dianjurkan
berhusnudzan kepada Allah Ta'ala bagi orang yang menghadapi kematian. Terus
memperbagus perasangka kepada Allah dan meningkatkannya walaupun itu terasa berat
saat menghadapi kematian dan sakit. Karena seharusnya seorang mukallaf senantiasa
husnudzan kepada Allah.
Dari penjelasan di atas, husnuzan kepada Allah tidak terjadi dengan meninggalkan
perkara wajib dan mengerjakan kemaksiatan. Siapa yang meyakini hal itu bermanfaat
baginya maka ia tidak menetapkan sebagian dari nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan
Allah yang layak dan sesuai bagi-Nya. Sungguh ia telah mengelincirkan dirinya pada
keburukan dan perangkap syetan. Sementara orang-orang beriman, secara bersamaan
memperbagus amalnya dan memperbagus perasangkanya kepada Allah bahwa Dia akan
menerima amal-amal shalihnya. Dan saat menghadapi kematian, mereka berperasangka
baik kepada Allah bahwa Dia memaafkan kesalahan dan mengampuni dosa-dosanya
serta merahmatinya. Diharapkan, Allah mewujudkan perangka baiknya tersebut kepada
mereka sebagaimana yang sudah dijanjikan oleh-Nya.
D. Husnuzan terhadap Sesama Manusia
Husnuzan atau berbaik sangka terhadap sesama manusia, merupakan sikap mental terpuji,
yang harus diwujudkan melalui sikap lahir, ucapan dan perbuatan yang baik, diridai Allah
SWT, dan bermanfaat.
Sikap, ucapan, dan perbuatan baik, sebagai perwujudan dari husnuzan itu hendaknya
diterapkan dalam kehidupan berkeluarga, bertetangga serta bermasyarakat
Kehidupan Berkeluarga
Tujuan hidup berkeluarga yang islami adalah terbentuknya keluarga yang
memperoleh rida dan rahmat Allah SWT,bahagia serta sejahtera baik di dunia
maupun di akhirat.
Agar tujuan luhur tersebut dapat tercapai, diperlukan adanya prasangka baik antar
anggota keluarga.
Kehidupan Bertetangga
Tetangga ialah orang-orang yang tempat tinggalnya berdekatan dengan tempat
tinggal kita. Antara tetangga satu dengan yang lainnya hendaknya saling
berprasangka baik dan jangan saling mencurigai.
Berikut antara lain contoh berperilaku husnuzan terhadap tetangga:
Saling Menghormati
Antara tetangga yang satu dengan yang lainnya hendaknya saling menghormati dan
menghargai.

9


Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berbuat
baik kepada tetangganya. (HR. Muslim no. 47)

C. UKHUWAH
A. Pengertian Ukhuwah Islamiyah
Menurut Al-Allamah Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam Mufadrat Alfazhil Quran, kata
ukhuwah menurut bahasa berasal dari akhun yang berarti berserikat dengan yang lain
karena kelahiran dari dua belah pihak, atau salah satunya atau karena persusuan.
[1] Sedangkan dalam istilah, menurut Imam Hasan Al-Banna rahimuhumullah, ukhuwah
adalah mengikatnya hati-hati dan jiwa-jiwa dengan ikatan akidah, yang merupakan
ikatan yang paling kukuh dan paling mahal mahal harganya. Al-Banna mengatakan
bahwa ukhuwah adalah saudara keimanan.[2]
Menurut Koordinator Forum Musyawarah Ulama (FMU) Madura KH. Ali Karar
Shinhaji, ukhuwah ialah ikatan atau jalinan persaudaraan. Ukhuwah yang sebenarnya
ialah jalinan persaudaraan yang didasari dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ukhuwah seperti itu dikenal dengan ukhuwah islamiyah, sebagaimana firman Allah
dalam QS. Al-Hujurat: 10.

Artinya:
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S
Al-Hujurat:10)
Dan dalam HR. Bukhari dari Abdillah bin Umar ra. Nabi Muhammad SAW bersabda:






















(

)





Artinya:
Ibnu Umar meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: Seorang muslim adalah
saudara dari seorang muslim (lainya); dan dia tidak akan memperlakukanya tidak adil,
atau dia tidak meninggalkanya sendirian (menjadi korban ketidak adilan orang lain);
dan barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi
kebutuhanya. (HR Bukhari).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ukhwah islamiyah adalah hubungan yang
dijalanin oleh rasa cinta dan didasari oleh akidah dalam bentuk persahabtan bagaikan
satu jasad satu yang atau satu bangunan yang kokoh.
B.

Keutamaan Ukhuwah Islamiyah


Ada beberapa keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam,
diantaranya:[3]
1. Ukhuwah menciptakan wihdah (persatuan)
Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah heroik perjuangan para pahlawan
bangsa negeri yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu
mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk
berjuang bersama, tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada
hanyalah keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai
dengan persatuan.
2. Ukhuwah menciptakan quwwah (kekuatan)

10

3.

Adanya perasaan ukhuwah dapat menciptakan kekuatan (quwwah) karena rasa


persaudaraan atau ikatan keimanan yang sudah ditanamkan dapat menentramkan
dan menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar sehingga ukhuwah yang
telah terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat.
Ukhuwah menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)
Sebuah kerelaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik pada
akhirnya memunculkan rasa kasih sayang antar sesama saudara se-iman. Yang
dulunya belum kenal sama sekali namun setelah dipersaudarakan semuanya
dirasakan bersama. Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antar sesama
umat islam.
Ukhwah juga bukanlah sekedar persaudaraan akan tetapi dengan ukhwah ini juga
akan menciptakan persaudaraan yang kokoh, utuh, solid serta menciptakan kasih
sayang di antara sesama.

C. Peran Ukhuwah dalam Islam


Ukhuwah membangun umat yang kokoh. Ia adalah bangunan maknawi yang mampu
menyatukan masyarakat manapun. Ia lebih kuat dari bangunan materi, yang suatu saat
bisa saja hancur diterpa badai atau ditelan masa. Sedangkan bangunan ukhuwah islamiah
akan tetap kokoh. Ukhuwah merupakan karakteristik istimewa dari seorang mukmin
yang saleh. Peran ukhuwah islamiyah sangatlah penting untuk terwujudnya umat islam
yang utuh dan bersatu padu dalam kekompakan serta kebersamaan.
Nabi bersabda:




Artinya:
perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling belas kasihan dan
saling mengasihi yaitu seperti satu badan yang apabila satu anggotanya merasakan
sakit maka anggota badan yang lain juga akan merasakan sakit dengan tidak bisa tidur
dan panas (HR. Bukhari dan Muslim)[4]
Dan di hadits lain Nabi bersabda:

( )

Artinya:
Abu Musa meriwayatkan, Nabi saw bersabda: kaum mukminin
adalah bersaudara satu sama lain ibarat (bagian-bagian dari) suatu
bangunan satu bagian memperkuat bagian lainya. Dan beliau
menyelibkan jari-jari di satu tangan dengan tangan yang lainnya agar
kedua tangannya tergabung(Muttafaqun alaihi)[5]
Saat ini ikatan agama telah pudar oleh kepentingan kekuasaan sehingga kewajibanpun
telah terlupakan. Kehangatan persaudaraan semakin menipis karena desakan-desakan
materialisme ataupun kepentingan primordialisme. Hal ini sering menimbulkan
kecemburuan yang sangat potensial untuk mengundang suasana batin yang tidak
menunjang tegaknya ukhuwah. Dengan demikian, peran ukhwah dalam islam sendiri
sangat saklar dalam menegakkan agama islam itu sendiri.

D. Syarat dan Hak Ukhuwah


Ada beberapa syarat dan hak ukhwah dalam islam, antara lain :[6]
1. Hendaknya bersaudara untuk mencari keridhaan Allah, bukan kepentingan atau
berbagai tujuan duniawi. Tujuannya ridha Allah, mengokohkan internal umat Islam,
berdiri tegar di hadapan konspirasi pemikiran dan militer yang menghujam agama dan
11

akidah umat. Rasulullah Saw. bersabda,"Sesungguhnya amal itu tergantung


niatnya..." (HR. Imam Bukhari).
2. Hendaknya saling tolong-menolong dalam keadaan suka dan duka, senang atau tidak,
mudah maupun susah. Rasulullah Saw bersabda, "Muslim adalah saudara
muslim, ia tidak mendhaliminya dan tidak menghinanya... tidak
boleh seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari
tiga hari, di mana yang satu berpaling dari yang lain, dan yang lain
juga berpaling darinya. Maka yang terbaik dari mereka adalah yang
memulai mengucapkan salam." (Muttafaqun alaihi)).
3. Memenuhi hak umum dalam ukhuwah Islamiah. Rasulullah Saw bersabda: "Hak
muslim atas muslim lainnya ada enam, yaitu jika berjumpa ia
memberi salam, jika bersin ia mendoakannya, jika sakit ia
menjenguknya, jika meninggal ia mengikuti jenazahnya, jika
bersumpah ia melaksanakannya." (HR. Imam Muslim).
E.

Hakekat Ukhuwah Islamiyah


Adapun hakekat ukhwah islamiyah antara lain, adalah :[7]
1. Nikmat Allah
Sebagaimana firman Allah Swt di dalam Al-Quran surat Al-Imran ayat 103 :

2.

Artinya:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa
Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah
kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi
jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali
Imron:103)
Perumpamaan tali tasbih

Artinya:
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang
lain kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Q.S.Az-Zukhruf :67)
3. Merupakan arahan Rabbani

Artinya:
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun
kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.
Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Anfal:63)
4. Merupakan cermin kekuatan iman

Artinya:

12

Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah


antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat
rahmat. (Q.S. Al-hujurat:10).

F. Proses Terbentuknya Ukhwah Islamiyah


Adapun proses terbentuknya ukhwah islamiyah, antara lain:[8]
1. Melaksanakan proses Taaruf

Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Q.S Al-Hujurat : 13)
Taaruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum
muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah Swt Adanya
interaksi dapat membuat ukhuwah lebih solid dan kekal. Persaudaraan Islam yang
dijalin oleh Allah Swt merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya,
Perpecahan mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada
penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara,
tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya. Selanjutnya interaksi
berlanjut ke pengenalan pemikiran (Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog,
pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang
dikagumi dan diikuti, dan lain sebagainya. Pengenalan terakhir adalah mengenal
kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter,
emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan
sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan
terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.
2. Melaksanakan proses Tafahum
Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan
keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum
saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya
yang harus ia tunaikan. Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa
tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses taaruf (pengenalan) dapat
deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn
berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah
mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan. Dari sini akan
lahirlah taawun (saling tolong menolong) dalam persaudaraan. Ukhuwah tidak
dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha
memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati,
pikiran dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.
2. Melakukan At-Taaawun








13

Artinya:
Hai kehormatan bulan-bulan Haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang
had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) menggganggu orangorang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan
dari Rabbnya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah
berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena
mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorong kamu berbuat
aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya. (Q.S. Al-maidah:2)
Bila saling memahami sudah lahir, maka timbullah rasa taawun. Taawun dapat
dilakukan dengan hati (saling mendoakan), pemikiran (berdiskusi dan saling
menasehati), dan aman (saling bantu membantu). Saling membantu dalan kebaikan
adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh
berinteraksi dan butuh bantuan orang lain. Kebersamaan akan bernilai bila kita
mengadakan saling Bantu membantu.
4. Melaksanakan proses Takaful
Yang muncul setelah proses taawun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan
bersama. Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits
Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti
ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat
lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi
kepada sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan.
Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah
cirri utama dari ukhuwah islamiyah.
Seperti sabda Nabi Saw tentang aplikasi nilai ukhuwah disanding dengan
kesempurnaan iman seseorang, antara lain dalam beberapa hadits berikut :










Artinya :
Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu
mencintai dirimu sendiri. (HR. Bukhari-Muslim).
Dengan uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa setiap sesuatu membutuhkan
proses. Adapun proses terbentuknya ukhwah islamiyah diantaranya : Ta`aaruf,
tafahum, ta`awuun, takaful dan lain sebagainya
Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah Swt. Bila umat islam
melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup
dalam kebersamaan. Kesatuan barisan dan umat berarti bersatu fikrah atau
pemikiran dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter (kejiwaan).
Inilah kekuatan Islam. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat
untuk menjalin persaudaraan Islam ini.
G. Hal-hal yang menguatkan ukhwah islamiyah
Kurang lebih lima bulan lamanya Nabi Muhammad saw berdiam di kota Madinah, maka
Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar bahkan mereka
berhak menerima warisan dari saudara tersebut, ini berlaku sampai turunnya ayat yang
menasakh hal ini. Maka dengan hal ini, ada beberapa hal yang dapat memperkuatkan
ukhwah islamiyah, antara lain :[9]
1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai
14

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda : Ada
seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat
berlalu di depannya. Orang yang tadi di samping Rasulullah tadi
berkata : Aku mencintai dia ya Rasulullah, lalu Nabi menjawab :
Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya ?. lalu orang
tersebut
memberitahukan
kepadanya
seraya
berkata
;
Sesungguhnya akau mencintaimu karena Allah. Kemudian orang
yang dicintai itu menjawab : Semoga Allah mencintaimu karena
engkau mencintaiku karena-Nya.
Memohon dido`akan bila berpisah
Tidak seorang hamba mukmin berdo`a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan
berkata : Dan bagimu juga seperti itu. (H.R Muslim).
Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa
Nabi Saw bersabda :Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa
saja yang datang dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan
saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.(H.R Muslim).
Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non mahrom)
Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan
keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah. (H.R Abu Daud dari Barra`).
Sering bersilaturrahmi (mengunjungi saudara)
Imam Malik meriwayatkan : Berkata Nabi bahwa Allah berfirman ;
Pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena
Aku, dimana keduanya saling berkunjung karena Aku dan saling
memberi karena Aku.
Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
Hendaklah kalian saling memberi hadiah karena hadiah itu dapat mewariskan rasa
cinta dan menghilangkan kekotoran hati. (H.R Imam Dailami dari Anas)
Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia pasti Allah
akan meringankan beban penderitaan di akhirat kelak. Siapa yang memudahkan
orang yang dlam keadaan susah pasti Allah akan memudahkan urusaannya di dunia
dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim pasti Allah akan menutupi
aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya jika
hamba tersebut menolong saudaranya (H.R Muslim).
Memenuhi hak ukhwah saudaranya
Hak seorang muslim atas muslim ada enam, yaitu jika bertemu maka ucapkanlah
salam kepadanya, jika diundang maka penuhilah, jika dia minta dinsehati maka
nasehati pulalah dia, jika bersin maka doakanlah, jika sakit maka kunjungilah dan
jika meninggal maka antarkanlah ke kubur. (H.R Muslim dari Abu Hurairah)
Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
Barangsiapa mengucapkan selamat kepada saudaranya ketika saudaranya
mendapat kebahagiaan niscaya Allah menggembirakannya pada hari kiamat. (H.R
Thabrani)
Itulah diantara amalan-amalan ringan yang dapat memperkuat ukhwah islamiyah.
Telah kita ketahui bahwa kita sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri
tanpa bantuan orang lain, maka dengan ini memperkuat ukhwah islamiyah
merupakan salah satu dalam tata pergaulan di dalam kehidupan kita.

H. Perusak Ukhuwah
Setidaknya ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terjaga
dan terpelihara sehingga kita bisa tetap menikmati indahnya persaudaraan, yaitu:[10]
15

1.

2.
3.

4.

5.
6.

Memperolok-olokan baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan katakata maupun dengan bahasa isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit
hati, kemarahan dan permusuhan.
Mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan, apalagi bila
kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar.
Memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan
secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan
keadaan fisiknya itu.
Berburuk sangka merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad) yang akibatnya
akan selalu buruk sangka apabila seseorang mendapatkan kemikmatan atau
keberhasilan.
Mencari-cari kesalahan orang lain untuk merendahkannya. Bukannya mencari
kesalahn diri sendiri lebih baik agar kita bisan memperbaiki diri dari sebelumnya?
Bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu
tidak menyukainya, apalagi bila hal itu menyangkut rahasia pribadi seseorang.
Manakala kita mengetahui rahasia orang lain yang ia tidak suka apabila ada orang
lain yang mengtahuinya, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak
membicarakannya.
Sesungguhnya Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan. Bahkan Islam
itu sendiri datang untuk mempersatukan pemeluk-pemeluknya, bukan untuk
memecah belah. namun sebentar kemudian pemeluknya itu sendirilah yang sudah
memancing perseteruan dengan melancarkan cercaan atau caci maki sesama
mereka. Padahal justru merekalah yang seharusnya menjadi poros paling utama
untuk mendapatkan ikatan ukhuwah dan kecintaan. Tetapi demikianlah, banyak
orang yang sikap dan orientasinya terkungkung oleh opini fanatisme golongan.
Bagaimanapun masalah ukhuwah (persaudaraan) dan persatuan ini merupakan
masalah yang sangat penting dan harus kita jaga keutuhan ukhwah islamiyah yang
telah kita bangun ini.

16