Anda di halaman 1dari 23

Dede Hidayat (2008730060)

Tutor : dr.Bambang W Sp.OG


ENDOMETRIOSIS
ENDOMETRIOSIS
Adalah penyakit jinak dimana kelenjar
dan stroma endometrium berada di luar
rongga maupun dinding uterus.

Meskipun endometriosis merupakan penyakit
yang sering ditemukan, pengetahuan
mengenai penyakit ini amat terbatas. Masih
banyak silang pendapat mengenai asal
muasal, gambaran patologi, diagnosis dan
prognosis endometriosis.
ANGKA KEJADIAN
Angka kejadian endometriosis Kira-kira 1
2% wanita usia reproduksi, akan tetapi
angka kejadian endometriosis pada pasien
dengan gangguan kesuburan 20 kali lebih
besar. Penderita endometriosis umumnya
berusia 30 tahun , nulipara dan infertile

PATOGENESIS
Penyebab pasti endometriosis tidak jelas
diketahui dan tidak ada satu penjelasan yang
dapat menjelaskan semua gambaran
endometriosis yang ada.
Predisposisi genetik memainkan peranan
penting. Terdapat 3 hipotesis yang digunakan
untuk dapat menjelaskan berbagai
manifestasi endometriosis dan lokasi penyakit
yang berbeda

1.Teori menstruasi retrograde dari SAMPSON yang
mempostulasikan bahwa terdapat fragmen
endometriosis mengalir balik (retrograde) kedalam
saluran indung telur (tuba falopii) selama menstruasi
sehingga terjadi implantasi fragmen endometriosis
pada rongga panggul.
Dukungan terhadap teori ini adalah kenyatanaan
bahwa kadang-kadang dokter dapat melihat adanya
aliran darah yang keluar dari fimbriae saat
pemeriksaan laparoskopi pasien yang sedang haid.
Untuk menjelaskan adanya penyebaran endometriosis
yang jauh ( di paru, kening atau ketiak ) diajukan teori
penyebaran melaui aliran darah (hematogen)
2. Teori Metaplasia Mullerian dari MEYER , menyatakan bahwa
endometriosis berasal dari tranformasi metaplastik dari mesotelium
peritoneum kedalam endometrium dibawah pengaruh rangsangan
tertentu.
3. Teori penyebaran melalaui saluran getah bening ( limfatogenik
) dari HALBUN yang memperkirakan bahwa jaringan endometriosis
berasal dari aliran getah bening dari uterus yang mengalami
transportasi keberbagai bagian di panggul. Jaringan endometriosis
ditemukan dalam saluran limfe pelvik pada 20% penderita
endometriosis.
Pertanyaan penting yang sulit dijawab adalah mengapa
endometriosis hanya terjadi pada wanita tertentu dan tidak
pada semua wanita, untuk menjawab pertanyaan ini
diajukan argumentasi adanya predisposisi genetik atau
imunologi pada wanita-wanita tertentu sehingga rentan
terhadap kejadian endometriosis.
LOKASI ENDOMETRIOSIS
1. Ovarium
2. Cavum Douglassi
3. Ligamentum sacrouterina
4. Ligamentum latum
5. Tuba falopii
6. Plica vesicouterina
7. Ligamentum Rotundum
8. Apendik vermoformis
9. Vagina
10. Septum rectovagina
11. Colon rectosigmoid
12. Caecum
13. Ileum
14. Kanalis inguinalis
15. J aringan parut abdomen
16. Ureter
17. Vesica urinaria
18. umbilikus
19. vulva
20. Tempat yang jauh
Gejala Klinis
Nyeri
haid
Dyspare
unia
Infertilit
as
Ganggu
an haid
GAMBARAN KLINIK
Pada sebagian besar kasus, gambaran klinik
terjadi akibat adanya penyakit dalam panggul.
Endometriosis seringkali
menyebabkan dismenorea sekunder berupa
nyeri mengejang yang terus menerus dan
menjadi berat sebelum dan selama hari pertama
menstruasi, bila perdarahan menstruasi banyak
dan disertai dengan keluarnya gumpalan darah
maka rasa nyeri akan menjadi lebih hebat
Sebagai tambahan, terdapat pula
keluhan dispareunia (nyeri saat sanggama ) yang
terkait dengan deposit fragmen endometriotik dalam
cavum Douglassi atau endometrioma dalam ovarium (
chocolate cyst )
Sebagian pasien juga mengeluhkan diskesia ( nyeri
saat buang air besar ) akibat adanya lesi endometriosis
pada ligamentum sacrouterina, cavum Douglassi,
rectum, colong sigmoid. Rasa nyeri saat buang air
besar terjadi akibat feces yang melintasi ligamentum
sacro uterina

Kista cokelat yang pecah
pada ovarium sebelah kiri
Endometriosis dapat
berupa suatu penebalan
atau kista yang berisi
darah baru, merah atau
biru hitam.
Semakin lama lesi-lesi
tersebut berubah menjadi
rata dan berwarna coklat
tua.
Struktur kista besar bisa
tetap berisi darah tua dan
disebut kista cokelat
PEMERIKSAAN
Diagnosa klinik endometriosis diperkuat dengan
adanya temuan :
1. Penebalan ligamen panggul khususnya pada
ligamentum sacrouterina
2. Uterus retroversi
3. Pembesaran uterus dan ovarium
4. Fornik lateral dan posterior kaku
5. Nyeri saat uterus ditekan ( seperti keluhan
dispareunia )
Namun gambaran diatas tidak patognomonik
untuk endometriosis dan sebaliknya tidak adanya
gejala diatas tidak berarti bukan endometriosis.

DIAGNOSA BANDING
Diagnosa banding utama pada
endometriosis akut adalah :
1. Penyakit radang panggul menahun
2. Salpingitus akut berulang
3. Neoplasma ovarium jinak atau ganas
4. Kehamilan ektopik

ENDOMETRIOSIS dan INFERTILITAS
Endometriosis seringkali ditemukan secara tidak
sengaja pada pemeriksaan laparoskopi pasien
infertiliti yang tidak memperlihatkan gejala
endometriosis

Endometriosis berat dapat menyebabkan
infertilitas akibat adanya perlekatan periovarian
dan peritubuler atau kerusakan hebat pada indung
telur. Secara teoritis, output prostaglandin yang
tinggi akan menyebabkan gangguan motilitas tuba
atau terganggunya spermatozoa akibat adanya
reaksi imunologi.


Mekanisme endometriosis menyebabkan penurunan
fertilitas (tabel)
Sistem Mekanisme
Fungsi koitus Dispareunia ( menurunkan frekuensi sanggama )
Fungsi sperma Inaktivasi sperma dengan antibodi tertentu
Fagositosis sperma dengan makrofag
Fungsi tuba falopii Kerusakan fimbriae
Penurunan motilitas tuba akibat prostaglandin

Fungsi ovarium
Anovulasi
Sindroma akibat luteinisasi folikel yang tidak pecah
Luetolisis akibat Prostaglandin F2
Pelepasan gonadotropin yang terganggu
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan endometriosis tergantung pada beberapa
hal :
1. Kepastian diagnosis
2. Beratnya keluhan
3. Luasnya penyakit
4. Keinginan untuk mendapatkan anak
5. Usia pasien
6. Gangguan pada saluran pencernaan dan atau saluran air
seni

Terapi endometriosis diberikan atas adanya rasa nyeri
panggul, dismenorea, dispareunia, perdarahan abnormal,
kista ovarium dan infertiliti akibat distorsi yang luas pada
tuba falopii dan ovarium

Intervensi pembedahan diperlukan bila :
1. Ukuran endometrioma mencapai 3 cm
2. Distorsi anatomi yang luas
3. Menyangkut usus atau kandung kemih
4. Perlekatan hebat

Pembedahan mungkin dapat memperbaiki tingkat
fertilitas pada penderita endometriosis. Terapi medik
umumnya merupakan terapi lini pertama pada penderita
endometriosis

TERAPI PEMBEDAHAN
Pembedahan komprehensif yang sering dilakukan
adalah histerektomi abdominal total, salfingo
ovarektomi bilateral disertai dengan pengangkatan
sarang-sarang endometriosis pada peritoneum dan
pelepasan pelekatan ( lisis )
Akibat luasnya perlekatan, tehnik pembedahan
menjadi sulit. Bila lesi endometriosis mengenai cavum
Douglassi dan ligamentum sacrouterina, ureter
proksimal, kandung kemih dan colon sigmoid maka
pembedahan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Bila ureter menjadi buntu, maka reseksi dan
ureteroplasti harus dilakukan untuk mempertahankan
fungsi ginjal.
Obstruksi rectosigmoid atau obstruksi usus halus yang
terjadi harus di reseksi untuk memulihkan fungsi
saluran pencernaan.
Kadang-kadang, masih diperlukan preservasi organ
reproduksi. Pada situasi ini bedah laparoskopi atau
bedah terbuka diperlukan untuk menghancurkan
sarang-sarang endometriosis dan melepaskan
perlekatan. Terapi pre operatif dengan GnRH agonis 3
6 bulan sebelumnya dapat memperbaiki
keberhasilan pembedahan.
Peranan terapi medis pasca pembedahan masih
menjadi bahan perdebatan meskipun telah terdiagnosa
adanya sisa-sisa penyakit saat pembedahan.

TERAPI MEDIK
Terapi harus ditujukan untuk membebaskan pasien dari
keluhan yang ada dan menurunkan resiko progresivitas
penyakit.
Dismenorea akibat endometriosis dapat diatasi dengan
pemberian NSAID (non steroid anti inflamatory drug
(asam mefenamat, ibuprofen) dan menurunkan jumlah
darah haid dengan terapi hormonal
Untuk mengatasi nyeri panggul, digunakan terapi
jangka pendek berupa pemberian GnRH agonis atau
Danazol.

Danazol adalah derivat androgen yang digunakan untuk
menimbulkan pseudomenopause untuk menekan gejala
endometriosis bila kesuburan (fertilitas) tidak menjadi
pertimbangan. Obat ini diberikan selama 6 9 bulan
dengan dosis 600 800 mg per hari untuk menekan
menstruasi.

Kontrasepsi oral dan medroksiprogesteron acetat peroral
lebih efektif pada kasus endometriosis yang disertai rasa
nyeri dibandingkan pemberian plasebo.

Levonogestrel IUD dapat menurunkan keluhan dismenorea
dan bermanfaat untuk menyebabkan regresi pada sarang
endometriosis di cavum Douglass tanpa mempengaruhi
kadar estrogen dalam serum

TERAPI FERTILITAS
Tidak ada bukti bahwa terapi medik pada
endometriosis bernilai pada kasus subfertilitas. Ablasi
sirurgis pada kasus endometriosis ringan tidak
memperbaiki fertilitas, namun manfaat tindakan
tersebut untuk kasus fertilitas berat tidak diketahui
secara pasti.
Terapi pembedahan untuk kista endometriotik besar
memperbaiki kemungkinan terjadinya kehamilan dan
memungkinkan tindakan intervensi transvaginal bila
akan dilakukan IVF sebagai bagian dari assisted
reproductive technique

Daftar pustaka
Diakses
http://obfkumj.blogspot.com/search/label/Ginekolo
gi