Anda di halaman 1dari 9

Pluralisme agama merupakan kesadaran manusia akan kemajemukan agama dan secara aktif menjaga

keanekaragaman tersebut serta melakukan kerjasama antar pemeluk agama dalam kerangka menjaga
keseimbangan dunia bagi kebajikan. Untuk meembentuk sikap sebagaimana diharakan diatas maka
pluralisme agama harus didikkan kepada para perserta didik. Pluralisme agama merupakan kesadaran
manusia akan kemajemukan agama dan secara aktif menjaga keanekaragaman tersebut serta
melakukan kerjasama antar pemeluk agama dalam kerangka menjaga keseimbangan dunia bagi
kebajikan. Untuk meembentuk sikap sebagaimana diharakan diatas maka pluralisme agama harus
didikkan kepada para perserta didik.
Menganggap agama sebagai religious experience atau human respons adalah hal yang jamak
dalam masyarakat barat, yang berarti menafikan mentah-mentah kemungkinan datangnya agama
dari Zat Yang Maha Agung (Tuhan).
Istilah-istilah reduksionistik seperti di atas, dipakai oleh banyak ahli berbagai disiplin ilmu di
barat sejak permulaan abad ke-20, antara lain James William, Wach Joachim, Ninian Smart dan
Wayne Proudfoot.

Seorang orientalis terkemuka Wilfred Cantwell Smith, mengusulkan dua terminologi baru untuk
agama yang bertendensi sama dengan istilah-istilah di atas, salah satunya adalah Commulative
Traditions yang ia definisikan sebagai: Tradisi yang terhimpun dalam sejarah manusia sebagai
hasil interaksi antara berbagai kumpulan dari anasir keagamaan dan budaya yang hidup, seperti
keyakinan, ritus, ritual, teks suci dan tafsirnya, mitos, seni, dan sebagainya sehingga membentuk
suatu sistem tersendiri yang karakteristik yang selanjutnya disebut tradisi hindu atau Budha,
Yahudi, Kristen, Islam, dan sebagainya (W.C. Smith, The Meaning and End of Religion dalam
Dr, Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, hal. 74)

Tampak jelas gagasan Smith tersebut berangkat dari ketidak percayaannya bahwa agama secara
genuine bersumber dari Tuhan, sehingga menurut pandangannya agama tidak memiliki esensi
sama sekali. Terminologi commulative traditions Smith, menggiring kita pada sejumlah isu yang
sangat krusial antara lain berkaitan dengan eksistensi agama-agama, masa depan agama-agama,
juga persoalan hak dan bathil yang didefinisikan agama-agama, sebagaimana yang memang
dikehendaki oleh para eksponen humanisme sekular pada umumnya.

Walaupun istilah commulative traditions sendiri belum begitu dikenal oleh mesyarakat Indonesia
pada umumnya, tapi kecenderungan masyarakat kita untuk menyamakan antara agama dengan
tradisi telah berlangsung lama. Hanya saja seiring arus globalisasi dan peningkatan intensitas
diskursus pluralisme agama khususnya, kecenderungan tersebut semakin meningkat pula..

Ketika agama disamakan dengan tradisi, maka ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan
memberikan kontribusi apa-apa terhadap prilaku/akhlak seseorang. Hal itu disebabkan ibadah
yang semula bernilai sakral (bernilai keTuhan-an), telah menjadi sekadar kegiatan untuk
penegasan identitas pelakunya semata (terkadang juga menjadi ajang cari muka tentunya).
Umpamanya ibadah haji, umrah, sedekah, pelaksanaan MTQ dan sebagainya telah menjadi
sekadar kegiatan untuk menegaskan ke-Indonesiaan/kesukuan pelakunya. Dan kerena
menganggap ibadah-ibadah tersebut tidak memiliki nilai keTuhan-an (tidak sakral), maka faktor
halal-haramnya dana untuk pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut menjadi tidak penting.

Hal-hal seperti di atas sangat mudah ditemukan dalam masyarakat kita, yang menunjukkan
bahwa kecenderungan menyamakan antara agama dan tradisi telah menjadi lebih dari sekadar
gejala dalam masyarakat kita. Bahkan terkadang agama bukan hanya mereka samakan dengan
tradisi, tetapi diletakkan pada posisi yang lebih rendah dari tradisi. Kita dapat melihat misalnya;
disatu sisi alasan tradisi (budaya) begitu getol diusung oleh fihak-fihak tertentu untuk menolak
undang-undang pornoaksi. Sementara disisi lainnya tidak banyak yeng berani menggunakan
alasan agama untuk mendukung undang-undang tersebut. Ini merupakan indikasi bahwa dalam
konteks tertentu dalam masyarakat kita, kedudukan agama telah berada di bawah tradisi
(budaya).

Faktor Penyebab
Faktor internal penyebab seseorang menyamakan antara agama dan tradisi (bahkan lebih rendah
dari tradisi) adalah karena seseorang menjadi penganut agama tertentu hanya karena agama
tersebut diwariskan padanya, bukan karena keimanannya atau pilihannya terhadap agama
tersebut (efek agama warisan). Ini adalah problem yang harus dihadapi oleh semua agama di
seluruh dunia, bukan hanya Islam saja. Sedangkan faktor eksternalnya adalah pengaruh
globalisasi, baik globalisasi tak alami (ghazwul fikri/perang pemikiran) dengan mekanisme
paling ampuhnya (licik) yaitu sekularisme, maupun globalisasi alami. Dan pada level tertentu
kecenderungan menyamakan antara agama dengan tradisi inilah yang diidentifikasikan oleh para
peneliti dan analis pada umumnya sebagai krisis religious disorientation.

Oleh karena itu kurang tepat kiranya pendapat yang mengatakan bahwa revolusi politik di barat
(demokrasi liberal dan pluralisme politik sejak abad ke-18) di satu sisi dan di timur (komunisme
atheis) di sisi lainnya, yang menjadi penyebab terjadinya krisis religious disorientation di seluruh
dunia, tanpa mempertimbangkan faktor internal efek agama warisan di atas.

Kita dapat melihat misalnya bagaimana ulama periode klasik seperti Al-Ghazali, menunjukkan
kegelisahan yang luar biasa terhadap krisis religious disorientation yang terjadi pada masanya,
padahal dunia pada saat itu belumlah menjelma menjadi global village seperti yang kita kenal
sekarang ini. Bahkan anjuran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya agar seorang muslim yang
menginjak usia baliqh untuk mengulang kembali syhahadatnya, dapat dipandang sebagai upaya
Ghazali untuk menetralisir efek agama warisan di atas.

Sanggahan terhadap terminologi Smith
Tuhan mengintervensi kehidupan manusia lewat perangkat wahyu (revelation) dalam jumlah
yang memadai, yang selanjutnya membentuk sebuah sistem submission (kepasrahan) yang
memadai pula berupa ritual, hukum, panduan, tata cara, dan sebagainya yang kita kenal sebagai
agama. Selama wahyu-wahyu pembentuk sistem submission tersebut otentik dan dalam jumlah
yang memadai, maka ia layak disebut agama. Sebaliknya jika wahyu-wahyu pembentuk sistem
submission tersebut tidak otentik atau dalam jumlah yang tidak memadai, maka ia tak layak
disebut agama.

Terkait hal tersebut, Syed Muhammad Naquib Al-Attas seorang pemikir besar Islam dan pendiri
ISTAC mengatakan, tata cara dan bentuk penyerahan diri (submission) kepada Tuhan yang
terdapat dalam satu agama, pasti terkait konsep Tuhan dalam agama itu. Konsepsi tentang Tuhan
haruslah memadai untuk menjelaskan hakikat Tuhan yang sebenarnya, yang hanya mungkin
didapat dari wahyu (revelation), bukan dari tradisi etnis atau budaya, atau dari ramuan antara
tradisi etnis, budaya dan wahyu, atau dari spekulasi filosofis. (Syed Muhammad Naquib Al-
Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam, dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat
hal. 355)
Begitu pentingnya aspek otensitas wahyu, sehingga Allah Swt. perlu membuat sebuah
pernyataan maha penting tersendiri dalam Al-Quran yakni Inna nahnu nazzalna al-zikra, wa
inna lahu lahafidzun (Qs. Al-Hijr:9). Agaknya, itu pula sebabnya mengapa golongan ahlul kitab
memperoleh kedudukan khusus dalam pandangan Islam, karena kata ahlul kitab memberi
konotasi bahwa mereka adalah golongan yang menekankan pada otensitas wahyu (kitab) Allah
Swt. dalam beragama, yang menjadikan mereka berbeda dengan Yahudi dan Kristen yang kita
kenal sekarang ini.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka terminologi commulative traditions Smith yang
memasukkan Islam ke dalam kategori tradisi, sejajar dengan agama-agama tradisi lainnya
sangat tidak dapat diterima. Karena ajaran pokok Islam (akidah) sepenuhnya bersumber dari
wahyu yang otentik (Al-Quran dan hadist), sehingga bersifat tetap, tidak berubah mengikuti
zaman, karena Ia sendiri (Islam) dimaksudkan sebagai pedoman zaman.

Kondisi Islam yang demikian menjadikan Islam berbeda dengan agama-agama selain Islam,
sebagaimana yang dikatakan Al-Attas: Maka agama Kristian, agama barat sebagaimana juga
agama-agama lain yang bukan Islam adalah agama kebudayaan, agama buatan manusia yang
terbina dari pengalaman sejarah, yang terkandung oleh sejarah, yang dilahirkan serta dibela dan
diasuh dan dibesarkan oleh sejarah. (Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah Untuk Kaum
Muslim, dalam Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, hal.238). Sehingga terminologi
commulative traditions Smith hanya pantas diterapkan pada agama-agama selain Islam.

Metode Dakwah
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, menyamakan antara agama dan tradisi, berarti
menafikan (tak mengimani) bahwa agama bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu hendaknya
usaha internal (dawah) untuk menghadapi masalah ini, diarahkan untuk menumbuhkan
kepercayaan/keimanan masyarakat terlebih dahulu, yakni dengan dawah yang menekankan pada
penyampaian bukti-bukti kebenaran agama ini (mukjizat-mukjizat), bukan dawah yang hanya
menyampaikan masalah halal-haram, fiqh, kewajiban-larangan dan sebagainya.

Karena tanpa titik tolak keimanan, maka seseorang tidak akan mampu untuk taat (beribadah)
kepada Allah Swt., sebagaimana yang terlihat dari susunan rukun Islam, dimana rukun Islam
pertama adalah syahadat yang melambangkan keimanan, baru kemudian diikuti oleh shalat,
zakat, puasa ramadhan, dan haji yang seluruhnya melambangkan ketaatan. Metode dawah
seperti itu diterapkan oleh Rasulullah Saw., dimana setelah sepuluh tahun periode kerasulan
beliau, barulah turun perintah untuk melaksanakan ibadah-ibadah ritual yang menekankan pada
ketaatan, sebagaimana yang telah banyak disampaikan oleh para ulama.

Tentunya mukjizat yang dimaksudkan disini bukanlah mukjizat irasional yang dapat
mengembalikan manusia pada periode kekanak-kanakannya, bukan pula mukjizat yang dapat
ditiru, karena sesuatu yang dapat ditiru tidak layak disebut mukjizat. Mukjizat yang dimaksudkan
disini adalah Al-Quran, yang telah ditakdirkan Allah Swt. untuk abadi sehingga dapat
disaksikan di semua zaman, yang mampu mengeluarkan manusia dari periode kekanakannya,
dan yang menjadi faktor paling dominan terhadap keberhasilan dawah Rasulullah Saw.
sebagaimana yang terekam oleh sejarah (Lihat misalnya pendapat-pendapat Prof. Dr M.M.. Al-
Azami, Sayyid Quthb, Quraish Shihab, Karen Armstrong, juga sirah-sirah Nabawiyah.)

Untuk itu pradigma mengajarkan Al-Quran adalah mengajarkan cara membacanya saja seperti
yang selama ini kita pegang, hendaknya lebih diluaskan dengan mengajarkan juga segi-segi
kemukjizatannya, terutama dari segi bahasanya yang merupakan kemukjizatan utamanya. Dan
untuk itu tentunya menuntut pembumian bahasa Al-Quran (arab).

Selain itu kesempurnaan Islam merupakan mukjizat tersendiri, baik kesempurnaan konsepnya,
tujuannya maupun pencapainnya. Untuk itu dawah juga hendaknya diarahkan untuk
menerangkan kesempurnaan-kesempurnaan ini kepada masyarakat.
Menyikapi Makna Tradisi dan Agama
Judul Buku : Dekonstruksi Tradisi. Gelegar Pemikiran Arab Islam
Penulis : Issa J. Boullata
Penerbit : LKiS, Yogya
Tebal : xii + 253 hlm
Peresensi : Odhy's
WACANA Islam terus bergulir saat amaliah Islam coba menembus sekat-sekat budaya dan batas
jaman. Secara historis bermunculan teori yang pada titik-titik tertentu berwujud jadi paham atau
isme. Kecuali itu penyebutan atas kelompok wacana kian membuat nuansa Islam mengalami
pengayaan. Kita mencatat adanya Islam mazhab, dikotomi Suni-Syi'ah hingga Literal-Liberal,
Islam ortodok, ekstrim , garis keras, juga islam sufi yan tercipta dimana-mana pada kondisi
tertentu. Semua ini terjadi karena Islam didekati dengan -sekedar-konsep wacana. Sementara
praktik amaliah senatiasa menuntut kekaffahan : orosinil dan menyeluruh !
Kebebasan atau fenomena menafsir Islam secara merdeka secara politis telah pula dimanfaatkan
oleh pihak di luar Islam. Hal ini terlihat dengan maraknya misi Islamisis dan kajian-kajian
Tasawuf yang melibatkan nama banyak pakar / intelektual non - muslim. Mereka bergerak tak
seimbang lantaran hanya bermain disatu sisi, yakni wacana tanpa pernah merasakan esensi Islam
melalui amaliah. Maka Islam diperlakukan sebatas objek budaya yang - celakanya - kerap
menyesatkan.
Salah satu contoh, sebuah media Barat suatu ketika pernah menampilkan photo seorang muslim
Arab yang tengah melakukan Salat disebuah bangunan pabrik berteknologi mutakhir. Komentar
yang mereka tuliskan dibawah photo tersebut antara lain berbunyi : "inilah 'penyakit' orang Arab
yang tak pernah mampu melepaskan budaya leluhur mereka, meski jaman telah menjadi sangat
modern".
Dalam kacamata Islam, komentar seperti ini tentu sangat menyesatkan ; terlepas dari sengaja
atau tidaknya komentar terebut dibuat. Mereka menyejajarkan antara Budaya dan Agama.
Padahal keduanya merupakan dua kutub yang sangat tidak mungkin dapat dipersamakan, karena
Agama merupakan produk Allah, sementara Budaya adalah produk manusia. Lantas bagaimana
dengan buku karya Issa J. Boullata yang aslinya berjudul "Trend and Issuees in Contemporary
Arab Though" ini ? Apa yang ingin disimpulkan oleh penulisnya dalam buku yang bermula dari
sebuah penelitian dalam era 1984 - 1985 tersebut ? Ternyata enam Bab yang ditampilkan benar-
benar menjadi wacana penggoda ; di mana tradisi atau budaya yang dalam banyak hal
dipersatukan dengan agama coba diungkit-ungkit sebagai sesuatu yang wajib menafsir kembali
dirinya manakala jaman semakin bernafaskan teknologi. Coba simak alinea awal dari tulisannya
berikut ini : " Dengan mewarisi sebuah peradaban kuno yang besar di abad ke-20 dalam
beberapa dekade sekarang ini, dunia Arab sedang melakukan modernisasi berbagai aspek
kemasyarakatan." Kata 'peradaban kuno' tentu mesti kita tolak mengingat Islam secara esensial
adalah dinamis : senantiasa dapat menyesuaikan dirinya dengan denyut perubahan jaman. Justru
kerusakan terjadi manakala Islam dikeluarkan dari anasir-anasir kehidupan. Dan kehidupan
sekuler itulah yang jadi biang malapetaka. Pada bab selanjutnya, penulis menampilkan wacana
yang umum tengah melanda dunia intelektual Islam. Agama yang dengan keliru didominasi oleh
budaya tampak kian terpuruk saat kebudayaan global tumbuh dengan slogan kampanye besar-
besaran. Rasa was-was akan otensitas 'warisan' religius membuat banyak dikalangan intelektual
Islam ingin mengajukan konsep dekonstruksi terhadap agama 'nenek moyang' mereka. Arus
interpretasi liberal menjadi sebuah trend dimana-mana. Dinamikanya demikian luas, tidak
tunggal, dan terbentang dari yang paling kiri hingga kanan. Ketegangan berlangsung - menurut
pemikiran Issa J. Boullata - antara kesetiaan pada "tradisi" dan harapan serta keyakinan pada
"progresi". Hal seperti ini, bila hanya disadari setakat wacana semata, sehingga tak
mempengaruhi kekaffahan amaliah, tentu tak mendatangkan kerugian bagi Islam selaku agama
yang haq. Bahkan bilamana justru dapat menjadi senjata menepis gaya hidup sekuler, ia tentu ak
Menuju Pemahaman Pluralisme Seni, Tradisi dan Agama
Seputar Kesenian
Ditulis oleh K.H.Maman lmanulhaq Faqieh
Tantangan modernitas yang bercirikan industrialisasi dan globalisasi dengan dominasi dan
hegemoni negara-negara maju (developed countries) di segala bidang, menuntut setiap anggota
masyarakat global untuk mengambil sikap antisipatif. Terlebih Indonesia, yang dilihat dari
seluruh sudut pandang geologis, historis dan budaya, sangat beragam dan kompleks, tetapi
kurang memiliki sumber daya manusia yang memadai. Hal tersebut terlihat dari rendahnya
kualitas SDM di berbagai institusi sosial, budaya, politik, pendidikan dan keagamaan, yang
dibuktikan dengan sikap yang tidak profesional, kurang memahami dinamika budaya, HAM dan
demokrasi, serta ketidakmampuan untuk menguasai teknologi informasi dan manajemen
informasi.

Ada dua hal yang menjadi kendala serius dalam menghadapi tantangan modernitas. Pertama,
sikap keagamaan yang eksklusif. Sikap eksklusif ini akan menyulitkan diri dalam menghadapi
tantangan modernitas. Umat beragama akan merasa kaku untuk menerimanya, karena telah
terjebak akan romantisme kemapanan, klaim kebenaran, dan sikap yang menutup diri terhadap
kritik atas pribadi dan tradisinya sendiri. Sehingga banyak para pemimpin umat yang mengalami
kegugupan mental dan iintelektual dalam menghadapi kemajuan trasformasi budaya. Semua itu
dapat mengakibatkan kaum beragama kehilangan vitalitas, daya hidup dan daya saing di tengah
kehidupan yang semakin kritis, maju dan juga penuh tantangan. Sikap para tokoh agama yang
menghegemoni dan mendominasi peran, kesempatan, dan adanya pandangan umat yang
pluralistik akan semakin memperparah keadaan umat yang telah terperosok pada jurang
kemiskinan, kekerasan, perpecahan, pandangan sempit (jurnud al-`ain) yang terpisah dan realitas.
Hal itu yang mengakibatkan terabaikannya problem-problem kemanusiaan serta tercerabutnya
nilai spiritualitas dan nalar pembaruan di tengah-tengah llajunya perubahan yang sangat cepat.
Kedua, pendidikan yang kontra-realitas. Pendidikan hanya sebagai proses pengalihan (transfer)
informasi, bukan sebagai proses transformasi sosial. Padahal, pendidikan yang benar, menurut
Paulo Freire, adalah pendidikan yang direncanakan sebagai proses perubahan, dalam rangka
menciptakan strukturstruktur sosial yang llebih adil dan manusiawi. Dalam salah satu bukunya,
'Cultural Action For Freedom', Paulo Freire menambahkan bahwa pendidikan harus menjadi aksi
kebudayaan untuk pembebasan dan aksi revolusi. Atau dalam bahasa Al-Quran, pendidikan
harus menjadi alat untuk "wa yadho'u ishrarahum wa al-aghlala allaiiy kanat `alaihim,
menghilangkan beban penderitaan dan belenggu kesengsaraan yang ada pada umat manusia."
(QS. AVAraf :157).

Rendahnya kualitas sumber daya tersebut memicu munculnya berbagai ketegangan dan bahkan
konflik dalam berbagai bidang. Umpamanya saja yang terjadi dalam konflik sosial-politik,
seperti ketidakseimbangan kinerja pemerintah dengan tuntutan publik dalam mengatur polarisasi
system dan mekanisme kerja.

Umumnya mekanisma kerja birokrasi di negara ini hanya menjadi representasi sebuah kekuasaan
yang hegemonis, merasa paling pintar dan memarjinalkan peran masyarakat. System kekuasaan
tidak lagi aspiratif dan fair. Konflik kepentingan antar partai politik yang terfokus pada power
clepence, semakin menjauhkan peran lembaga legislatif ini dari produk kebijakan publik (public
policy). Padahal, seluruh kebijakan public harus berorientasi pada kemaslahatan "Tasharruf al-
imam manutun hi al-maslakhah" dan mengusahakan penguatan civil society. Lembaga legislatif
seharusnya bermuatan spirit moralitas yang berpihak pada kemaslahatan masyarakat. Dengan itu
kehidupan sosial akan terorganisir dengan dinamis dengan partisipasi publik yang didasarkan
pada kerelaan. keswasembadaan, ketaatan pada hukum, keswadayaan dan kemandirian. Begitu
pula yang terjadi dengan konflik sosial-budaya, misalnya kasus Dayak Kalimantan. Atau konflik
sosial-politik-keagamaan, seperti tragedi Poso, Ambon, Situbondo, Mataram, Tasikmalaya dan
banyak lagi. Kesemuanya konflik itu menunjukkan ketidaksiapan SDM Indonesia dalam
menghadapi modernitas, demokratisasi dan pluralisme.

Selain konflik yang di atas, muncul sebuah konflik baru, yaitu ketegangan yang terjadi
menyangkut hubungan antara agama dengan kesenian (kebudayaan). Contohnya, sikap beberapa
agamawan terutama ulama syari'ah, yang secara terang-terangan mengharamkan ikhwal
keberadaan seni. Akibatnya, perkembangan seni mengalami hambatan. Seni tradisi misalnya,
dianggap bermuatan syirik, berdekatan dengan perilaku setan, atau bahkan dipandang selalu
diikuti setan. Seni tradisi dikhawatirkan akan menjauhkan umat dari nilai-nilai illahiah
(ketuhanan). Penerapan "bunyi ajaran agama" yang diambil dari teks-teks fiqih, hadis, dan
menghadapkannya secara kaku pada realitas masyarakat dan tradisi-tradisi lokal, khususnya
menyangkut keseniannya, akan menjadikan "agama" gagal mendengarkan aspirasi-aspirasi dasar
dari masyarakat. Kekakuan, ketertutupan, dogmatisme, dan kemandegan menyebabkan agama
kehilangan vitalitas perubahan di tengah masyarakat. Hegemoni para tokoh agama dengan
doktrin-doktrin agama sangat berpengaruh terhadap perkembangan seni budaya, khususnya seni
budaya tradisional (lokal) yang telah menjadi salah satu sendi kehidupan masyarakat kita jauh
sebelum ajaran Islam masuk ke dalam tatanan budaya kita. Pada titik ini, seni tradisi tak jarang
menjadi ikon budaya yang dipandang menempati posisi berseberangan dengan ajaran agama.
Hubungan antara agama (Islam) dan kreator seni tradisi lain tidak harmonis dan saling
berlawanan. Agama dan budaya lokal lalu sulit bertegur sapa. Ironisnya, agama dan budaya lokal
masyarakat (khususnya seni tradisi) tidak sekadar berjalan pada wilayahnya masing-masing,
melainkan kadang bertentangan, bertabrakan, dan saling melenyapkan. Bukannya saling
mendekat dan bersinergi, tetapi agama dan masyarakat pun lalu berjauhan, bahkan saling
bermusuhan. Energinya tersedot habis dalam pusaran konflik yang tentu saja tidak produktif,
bahkan bisa menjadi destruktif. Sudah saatnya kita menepis pola berpikir biner dan dikotomis,
misalnya antara "santri" dan "abangan", "muslim" dan "non-muslim", "Islam(i)" dan "non-
Islam(i)", dan seterusnya. Yang penting bukan "baju" dan "simbol" luarnya, melainkan
sumbangsih positifnya bagi kemanusiaan dan kehidupan.

Karenanya, apa yang dirintis PSN menemukan relevansinya dengan sebuah ikhtiar yang serius,
cerdas dan mengikuti `kompas`. Di samping menjawab persoalan pokok pendidikan seni, yaitu
bagaimana menghasilkan anak didik yang mampu mengapresiasi seni dan menghasilkan
penciptaan seni yang kreatif, inovatif, berkepribadian Indonesia serta memiliki integritas tinggi
dalam melestarikan dan mengembangkan seni tradisional sebagai akar budaya.

Pendidikan seni dapat dijadikan sebagai sarana dialog serta proses transformasi sosial, menuju
terciptanya masyarakat yang inklusif, egaliter dan demokratis. Yaitu sebuah masyarakat yang
mempunyai kesadaran tentang pluralitas, di mana keberadaan mereka di dunia yang beragam ini
ikut serta untuk membangun kebersamaan. Sebuah kesadaran yang sangat diperlukan untuk
pembebasan. Farid Esack dalam bukunya `Qur`an, Liberation and Pluralism` bahwa, seluruh isu
transformasi harus dibangun dari basis pemahaman pluralisme yang bersifat pembebasan
(liberation). Pembebasan ini dapat dicapai melalui perjuangan bersama melawan penindasan dan
ketidakadilan dengan kaum marjinal dan tereksploitasi, akan mewujudkan solidaritas tak terucap,
melintasi garis doktrinal yang sempit.

Seni merupakan sarana manusia untuk mencapai kearifan, sebagaimana yang dikatakan Ibn
Arabi (1165-1240). Kearifan yang mengantarkan manusia pada sebuah pengalaman spiritual
yang tinggi, sehingga seseorang akan mengalami disclosure, tersingkapnya sesuatu yang baru.
Soren Kierkegaard mengistilahkan dengan leap of faith (lompatan iman) atau dalam agama
disebut; enlighment, satori, moksha, nirvana atau ma'rifat. Dalam hadits Nabi dikatakan "man
'arafa nafsahu fa qod `arafa rabbahu": barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan
mengenal Tuhannya. Sebuah ungkapan yang konon berasal dari Nabi Idris, (Hurmus, mengacu
pada risalah hurmusiyyah atau Hermes, guru Plato) yang berkata: "`irif nafsaka ta'rif rabbaka":
kenali dirimu, maka kamu akan mengenali Tuhanmu. Kesadaran akan essensi diri, menurut
Suhrawardi (1153-1191 M) berarti memberi kesadaran pada semua wujud yang berada pada
tingkat yang sama. Inilah yang menjadi pijakan awal bagaimana sesungguhnya pendidikan seni
yang digagas PSN dapat menghantarkan pada pemahaman pluralisme. Yakni, terbentuknya
sebuah kesadaran yang terwujud dalam pola pikir, sikap dan pola tindak yang menjunjung tinggi
nilai-nilai persamaan, persaudaraan dan martabat kemanusiaan. Tanpa harus terjebak pada sikap
diskriminatif berdasarkan suku, bangsa, warna kulit, keturunan, keyakinan dan agama. Misalnya
dalam pluralitas antar agama, seni diharapkan memberi kesadaran (to be religious is to be
interreligious). Sehingga seni bisa menjadi semacam "sarana-dialog" yang dapat meminimalisir
kebencian, permusuhan, konflik dan pertumpahan darah, yang sering dilakukan oleh kelompok
yang mengatasnamakan sesuatu yang suci, yaitu Tuhan dan agama. Sebagai contoh adalah kasus
penyerbuan kampus Mubarak Jamaat Ahmadiyyah Indonesia, di Parung-Depok, yang merupakan
serpihan kekerasan atas klaim kebenaran sepihak yang meruntuhkan citra agama. Sarana-dialog
ini merupakan kemauan menerima orang lain yang berbeda (the other, al-akhor), mendengar
dengan tulus dan berakhir dengan mutual learning. Seperti dalam seni, dialog meniscayakan
kesejajaran, menghindarkan dari stereotyping, bias, dan apriori serta menekankan deskripsi dan
interpretasi yang kritis terhadap sebuah fenomena secara objektif yang dilandasi semangat
belajar, spirit of learning. Karena, seperti yang dikatakan Bhagavan Das dalam bukunya The
Essential Unity of All Religion semua penganut agama akan bertemu dalam the road of life
dengan the supreme of spirit" (Qs al-Hujurat:13).

Dalam dunia tasawuf, seni (terutama musik dan tarian), mendapat tempat utama sebagai sarana
penyucian jiwa dan pengenalan unsur rohani. Seorang sufi besar dan pendiri tarekat Maulawiyah,
yaitu Jalaluddin Rumi (w.1273) mengatakan, "Banyak jalan menuju Tuhan, pilihanku adalah
musik dan tari". Sebagai sarana penyucian, jiwa, seni akan mendorong seseorang untuk
melakukan tindak penyucian yang meliputi: pertama, penyucian jiwa (tazkiyyah an-nufush) dari
segala akhlak yang busuk dan tercela (al-madzmumah), prinsip hidup yang melawan fitrah
kemanusiaan, serta mum hati (sirr) yang memandang kepada selain Allah. Kedua, penyucian
indrawi, di mana ia mempunyai kepedulian terhadap kebersihan (nazdafah), keindahan dan
kebersamaan. Patalogi sosial yang mengaburkan batas antara benar dan salah, baik dan jahat,
moral dan amoral, serta menjerumuskan pada kondisi ketidakmenentuan moral (indeterminancy
moral), muncul dari jiwa yang tidak tersentuh oleh tindak penyucian terscbut (tazkiyyah). Dalam
kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghozali. yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid
Muhammad Ibn Muhammad al-Thusyi al-Syafi'i al-Ghazali, lahir di Thusi, sebuah kota kecil di
Iran, pada tahun 450 H (1058 H), seorang pemikir ulung yang dianggap berhasil membuktikan
kebenaran Islam, karenanya ia dijuluki Hujjah al-Islam, mengatakan, "Barangsiapa yang jiwanya
tidak tergerak oleh kembang-kembang yang bermekaran di musim bunga, atau oleh alat musik
dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit kejiwaan yang sulit diobati". Dari
penyakit kejiwaan tersebut, muncul kebencian, kemarahan, kekerasan dan ketidakadilan yang
merupakan awal dari degradasi moral. Sesuatu yang jauh lebih serius dibandingkan dengan
bencana alam semisal gempa bumi dan tsunami yang menghantam Aceh dan Sumut, yang
menurut Sekjen PBB Koffi Anand merupakan an un precendented disaster which requires
unprecedented response (bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga membutuhkan
respons yang juga belum pernah terjadi sebelumnya). Ingat, peradaban tidak akan pernah hancur
hanya karena bencana apalagi akibat kebebasan berpikir atau berkreativitas. Kehancuran
peradaban justru diakibatkan kehancuran moralitas.

Pendidikan seni di sekolah dimaksudkan PSN sebagai upaya mengembangkan kepribadian anak
didik agar memiliki kebudayaan nasional. Mochtar Lubis, da!am Horison (Februari 1986)
mengatakan bahwa jika hendak membangun kekuatan budaya bangsa, maka perlu
mengembangkan budaya Indonesia yang baru dengan memasukkan unsur budaya tradisional
yang berfungsi memperkuat watak, kepribadian, kemandirian, sikap kritis, kreativitas,
solidaritas, rasionalitas dan kemanusiaan. Itulah nilai-nilai spiritual yang harus dimiliki anak
didik, sebagai calon pemimpin-pemimpin di masa yang datang. Karena seperti yang disimpulkan
sebuah diskusi yang mengambil tema 'Does Spirituality Drive Succes', apakah spiritualitas bisa
membuat sukses? di Harvard Bussines School, April 2002, bahwa: kesuksesan seseorang sangat
tergantung dari nilai spiritulisme yang dimilikinya. Dengan jiwa spiritualitas yang kuat, berupa
Integritas (kejujuran), Energi (semangat), Inspirasi (penuh ide), Wisdom (bijaksana) dan
Courageous (keberanian) yang dimilikinya, anak didik terdorong melakukan pembebasan
terhadap problem-problem kemanusiaan yang kompleks, mengembalikan nilai spiritualitas dan
nalar pembaruan dalam perubahan yang sangat cepat. Serta selalu berikhtiar untuk
mempertemukan gagasan dan ide yang mempertemukan pemikiran yang emansipatif dan
eksploratif, baik bernuansa keagamaan maupun kebudayaan. Dari sinilah akan lahir generasi
baru yang memiliki kecenderungan revolusioner dari dinamika pemikiran bersifat plural,
terbuka, apresiatif terhadap hal-hal baru, merakyat, dan punya kepedulian sosial yang tinggi.
Yang dijabarkan dengan sikap toleransi yang tinggi, menghormati hak asasi, dan konsisten pada
visi penguatan masyarakat sipil.

Tampaknya, disinilah pentingnya nilai serta pengaruh kesenian terhadap realisasi
penyempurnaan kehidupan spiritual manusia. Seni bukan sekedar eskspresi kebebasan tanpa
nilai, atau alat yang akan mengantarkan manusia pada pendangkalan spiritual, pelanggaran moral
dan agama. Karena jika itu yang terjadi. jangan heran sisi lain tradisi dan keagamaan (seperti
yang dikemukan di atas) menolak terhadap kesenian. Contohnya tulisan Louis Ginzberg dalam
bukunya The Legends of The Jews, mengatakan bahwa bencana air bah pada zaman Nabi Nuh
diakibatkan ulah Cain (Kabil, putra Adam) yang menodai dunia dengan memainkan musik dan
pesta mabuk. Dalam Mukasyafah al-Qulub, beberapa ulama mengemukan pandangan mereka
terhadap seni, di antaranya: "sesungguhnya nyanyian adalah kebatilan, siapapun yang
menyenanginya adalah orang bodoh (safih) yang ditolak kesaksiannya". Begitu pula sikap
sebagian komunitas muslim (pesantren salahsatunya) yang menolak seni tradisi. Umpamanya:
penolakan terhadap seni tradisi Sunda seperti pantun, bebeluk, dan ngawih disertai perangkat
instrumentalnya seperti kecapi, dan gamelan, hal ini merupakan sebuah realitas yang
menghawatirkan. Semua itu, sebenarnya, merupakan tindakan preventif (sadd addara'i) agar
manusia tidak terjerumus pada kehancuran. Misalnya seni dapat membuat manusia lalai kepada
Sang Pencipta, menodai sifat kemanusiaan, mendorong kriminalitas, menimbulkan gairah
sensual, pemujaan terhadap individu serta tindakan anarkis.

Semoga pendidikan kesenian 'ala PSN ini melahirkan anak didik yang berjiwa seni, yang serius
berinteraksi dengan gagasan-gagasan besar yang menyangkut pembebasan (liberation) manusia
dari problem kemanusiaan yang membelenggunya. Serta mengahayati proses berkesenian
sebagai nilai spiritual yang akan mendorongnya menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial,
kemaslahatan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan lokal.