Anda di halaman 1dari 54

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
1.1.1. Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Cempaka Putih
1.1.1.1. Keadaan Geografis
a. Letak Wilayah
Kecamatan Cempaka Putihadalah salah satu kecamatan yang berada di Wilayah Kotamadya
Jakarta Pusat, terdiri atas tiga kelurahan, yaitu Cempaka Putih Timur, Cempaka Putih Barat
dan Rawasari.
b. Batas Wilayah Kecamatan Cempaka Putih
1. Sebelah Utara : Jl. Let. Jendral Suprapto (berbatasan dengan Kecamatan Kemayoran)
2. Sebelah Barat: Rel Kereta Api Stasiun Kramat, Jl. Mardani, Jl. Percetakan Negara
(berbatasan dengan Kecamatan Johar Baru)
3. Sebelah Selatan : Jl. Pramuka Raya (berbatasan dengan KecamatanMatraman)
4. Sebelah Timur : Jl. Jendral A. Yani (berbatasan dengan Kecamatan Pulo Gadung)

Gambar 1.1 Peta Kecamatan Cempaka Putih




2

c. Luas Wilayah
Tabel 1.1 Luas Wilayah Kecamatan Cempaka Putih
Kelurahan Luas Wilayah (Ha) Jumlah RW Jumlah RT
Cempaka Putih Barat 121.87 Ha 13 151
Cempaka Putih Timur 222.06 Ha 8 106
Rawasari
Jumlah
124.75 Ha
468.68 Ha
9
30
109
366
(Sumber : Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I,
CPB II, CPT dan Rawasari)

Dilihat dari data pada tabel di atas Cempaka Putih Timur memiliki wilayah sekitar
222.06 Ha dan merupakan wilayah terluas dibandingkan dengan Cempaka Putih Barat
dan Rawasari.

1.1.1.2. Keadaan Demografi
Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk Kecamatan Cempaka Putih sampai akhir Bulan Desember 2013
adalah sebagai berikut :

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Kecamatan Cempaka Putih

No.

Kelurahan
Jumlah Penduduk
Jumlah WNI WNA
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
1 Cempaka Putih Barat 20.402 19.935 21 10 40.368
2 Cempaka Putih Timur 14.151 13.948 19 17 28.135
3 Rawasari
Jumlah
13.418
47.971
13.235
47.118
7
47
8
35
26.668
95.171
(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I, CPB II,
CPT dan Rawasari)

Jumlah penduduk di kecamatan Cempaka Putih Barat merupakan yang tertinggi
dibandingkan dengan kecamatan Cempaka Putih Timur dan kecamatan Rawasari. Di
susul oleh kecamatan Cempaka Putih Timur dengan 28.135 penduduk dan kecamatan
Rawasari sebesar 26.668 penduduk.

3

Tabel 1.3 Pertumbuhan Alamiah dan Mobilitas Penduduk
No Kelurahan Lahir Mati Pindah Datang
Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr
1 Cempaka Putih Barat 89 82 7 4 127 132 168 220
2 Cempaka Putih Timur 12 14 4 4 38 40 24 14
3 Rawasari
Jumlah
131
232
136
232
95
106
61
69
350
515
324
496
255
447
273
507
(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I, CPB II,
CPT dan Rawasari)
Dari data di atas bahwa didapatkan data terbanyak pada kasus perpindahan didapat
pada Kelurahan Rawasari dan data kedatangan didapat pada Kelurahan Cempaka Putih
Barat.

Tabel 1.4 Gambaran Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
No Jenis Pendidikan Kelurahan Jumlah
Penduduk
CPB CPT Rawasari
1 Tidak Sekolah - 385 1.090 1.475
2 Tidak Tamat SD 158 4.388 523 5.069
3 Tamat SD/Sederajat 2.170 4.933 1.076 8.179
4 Tamat SLTP/Sederajat 2.809 7.558 1.945 12.312
5 Tamat SMU/Sederajat 19.103 6.886 759 26.748
6 Tamat Universitas/PT
Jumlah
3.410
27.650
1.963
26.113
158
5.551
5.531
59.314
(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I,
CPB II, CPT dan Rawasari)
Menurut data di atas mayoritas penduduk di kecamatan Rawasari memiliki tingkat
pendidikan yang lebih rendah di bandingkan dengan kecamatan Cempaka Putih Barat
dan Timur. Di lihat berdasarkan jumlah penduduk di kecamatan Rawasari yang tidak
sekolah sebesar 1.090 dan yang tamat Universitas/PT hanya sebesar 158 orang.
Sedangkan, kecamatan Cempaka Putih merupakan kecamatan yang lebih baik tingkat
pendidikan pada penduduknya di lihat dari tidak ada nya penduduk yang tidak sekolah
dan jumlah penduduk yang tamat universitas/PT sebesar 3.410.




4

Tabel 1.5 Gambaran Penduduk Menurut Agama
No Kelurahan Jumlah
Penduduk
Agama
Islam Protestan Katolik Hindu Budha
1 Cempaka Putih Barat 35.490 32.971 1.225 1.089 111 94
2 Cempaka Putih Timur 25.335 14.555 4.762 3.111 1.667 1.240
3 Rawasari
Jumlah
16.164
76.989
14.585
62.111
323
6.310
1.169
5.369
116
1.894
7
1.341
(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I, CPB II,
CPT dan Rawasari)

Agama islam merupakan agama terbanyak di ketiga kecamatan. Hal tersebut di
lihat dari jumlah penduduk yang memeluk agama islam sebesar 62.111 penduduk.

Tabel 1.6 Gambaran Penduduk Menurut Tenaga Kerja








(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB
I, CPB II, CPT dan Rawasari)
Dari data di atas, terlihat penduduk di kecamatan cempaka putih paling banyak
bekerja sebagai karyawan dengan total 15.705 penduduk.







No Jenis
Pencaharian
Kelurahan Jumlah
Penduduk CPB CPT Rawasari
1 Pedagang 9.156 2.915 398 12.469
2 Karyawan 6.099 6.294 3.312 15.705
3 Pegawai Negeri
Sipil
2.567 4.891 2.389 9.856
4 TNI/Polri 1.710 41 25 1.776
5 Pensiunan
TNI/Polri/PNS
3.385 2.954 881 7.220
6 Pertukangan 73 1.149 21 1.243
7 Lain-lain
Jumlah
111
23.110
6.323
24.567
3.407
10.433
9.841
58.110
5

1.1.1.3. Fasilitas Umum
Tabel 1.7 Jumlah Rumah Menurut Jenis Bangunan
No Jenis Bangunan Kelurahan Jumlah
CPB CPT Rawasari
1 Rumah Permanen 3.570 2.700 1.529 7.799
2 Rumah Semi Permanen 1.003 4.205 982 6.190
3 Rumah Biasa 1.500 807 775 3.082
4 Rumah Susun - - - -
5 Rusun Apartemen
Jumlah
1
6.074
-
7.712
1
3.287
2
17.073
(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I, CPB II,
CPT dan Rawasari)

Mayoritas penduduk di kecamatan cempaka putih bertempat tinggal di rumah
yang permanen dan semi-permanen berdasarkan jumlah masing-masing yaitu 7.799 dan
6.190. Di daerah Cempaka Putih Barat menyumbangkan nilai terbesar dari rumah
permanen sebesar 3.570 di bandingkan dengan wilayah yang lain. Untuk Cempaka
Putih Timur mayoritas penduduknya masih bertempat tinggal pada rumah yang semi-
permanen.
Tabel 1.8 Sarana Tempat Ibadah
No Kelurahan Tempat Ibadah
Musholla Masjid Majelis
Talim
Gereja Wihara
1 Cempaka Putih Barat 13 14 27 2 -
2 Cempaka Putih Timur 4 14 29 4 -
3 Rawasari 16
33
10
38
26
82
-
6
-
- Jumlah
(Sumber: Laporan Tahunan Kantor Kecamatan Cempaka Putih dan Kantor Lurah CPB I, CPB II,
CPT dan Rawasari)

Dari data tabel diatas di dapatkan terdapat banyak Masjid dan Majelis Talim
yang didirikan disana yaitu sekitar 32 dan 82 tempat ibadah.




6

Tabel 1.9 Fasilitas Kesehatan di Wilayah Kecamatan Cempaka Putih
No Sarana dan Prasarana Jumlah
1 Rumah Sakit 3
2 Puskesmas 3
3 Pos Kesehatan 16
4 Balai Pengobatan 0
5 Apotik 3
6 Rumah/Toko Obat 0
7 Posyandu 16
8 BKIA 1
9 Klinik KB 9
10 Karang Balita/Pos Penimbangan 9
11 PPKB 23
12 Panti Pijat 0
13 Laboratorium Klinik 2
14 Tenaga Medis
1. Dokter Umum 7
2. Dokter Anak 0
3. Dokter THT 0
4. Dokter Gigi 0
5. Dokter Kebidanan/kandungan 0
6. Dokter Kulit 0
7. Dokter Mata 0
8. Dokter Penyakit Dalam 0
9. Akupuntur 0
10. Shinse 0
11. Bidan Praktek 0
12. Dukun Bayi 1
13. Dokter Hewan 0
14. Dukun Sunat 0
16 Rumah Bersalin 2
(Sumber: Arsip Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2013)
Dari data tabel di atas bahwa di dapatkan Fasilitas Kesehatan di Wilayah
Kecamatan Cempaka Putih terbanyak yaitu Poskehatan sebanyak 16, Posyandu sebanyak
16 dan PPKB sebanyak 23.

1.1.2 Gambaran Umum Puskesmas
1.1.2.1 Definisi
Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah pusat pengembangan,
pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat yang sekaligus merupakan garda
terdepan dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Untuk tujuan tersebut, puskesmas
berfungsi melayani tugas teknis dan administratif.
7

Wilayah kerja puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan.
Faktor kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan geografik dan infrastruktur lainnya
merupakan bahan pertimbangan dalam menentukan wilayah kerja puskesmas.
Sasaran penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 30.000 50.000
penduduk setiap puskesmas. Untuk perluasan jangkauan pelayanan kesehatan maka
puskesmas perlu ditunjang oleh unit pelayanan kesehatan yang lebih sederhana yang
disebut Puskesmas Pembantu atau Puskesmas Keliling. Khusus untuk kota besar dengan
jumlah penduduk satu juta atau lebih, wilayah kerja puskesmas dapat meliputi satu
kelurahan.
Indonesia sehat 2015 adalah visi pembangunan sehat di Indonesia. Puskesmas
dijadikan sebagai ujung tombak upaya kesehatan baik upaya kesehatan masyarakat
maupun kesehatan perorangan. Lebih dari tiga dasawarsa Republik Indonesia mencoba
berupaya menyelesaikan persoalan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah
dalam hal ini Departemen Kesehatan Republik Indonesia, telah mengembangkan
berbagai inovasi strategi peningkatan pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien dan
terpadu. Gagasangagasan baru untuk menyelesaikan berbagai persoalan pelayanan
kesehatan dicoba namun demikian faktanya adalah kualitas pelayanan kesehatan di
negara Indonesia masih jauh dari memuaskan bila dibandingkan dengan negara-negara
tetangga.

1.1.2.2 Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan menyeluruh yang diberikan Puskesmas meliputi :
a. Promotif ( peningkatan kesehatan )
b. Preventif ( upaya pencegahan )
c. Kuratif ( pengobatan )
d. Rehabilitatif ( pemulihan kesehatan )

1.1.2.3 Visi Puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah
tercapainya Kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat. Kecamatan sehat
adalah gambaran masyarakat Kecamatan di masa depan yang ingin dicapai melalui
8

pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan
perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Indikator Kecamatan sehat yang ingin dicapai mencakup empat indikator utama, yaitu :
1. lingkungan sehat
2. perilaku sehat
3. cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
4. derajat kesehatan penduduk Kecamatan.
Rumusan visi untuk masing-masing Puskesmas harus mengacu pada visi
pembangunan kesehatan Puskesmas di atas yakni, terwujudnya Kecamatan sehat yang
harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah Kecamatan
setempat.

1.1.2.4 Misi Puskesmas
a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya.
Puskesmas akan selalu menggerakkan pembangunan sektor lain yang diselenggarakan
di wilayah kerjanya, agar memperhatikan aspekkesehatan, yaitupembangunan yang
tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan,setidak-tidaknya terhadap
lingkungan dan perilaku masyarakat.
b. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.
Puskesmas akan selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat yang bertempat
tinggal di wilayah kerjanya makin berdaya di bidang kesehatan, melalui peningkatan
pengetahuan dan kemampuan, menuju kemandirian hidup.
c. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan.
Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sesuai
dengan standard dan memuaskan masyarakat, mengupayakan pemerataan pelayanan
kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan dana, sehingga dapat dijangkau
oleh seluruh anggota masyarakat.
9

d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat
beserta lingkungannya. Puskesmas akan selalu berupaya memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang berkunjung dan bertempat
tinggal di wilayah kerjanya, tanpa diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan
ilmu dan teknologi kesehatan yang sesuai.

1.1.2.1 Strategi Puskesmas
a. Mengembangkan dan menetapkan pendekatan kewilayahan
b. Mengembangkan dan menetapkan azas kemitraan serta pemberdayaan masyarakat
dan keluarga
c. Meningkatkan profesionalisme petugas
d. Mengembangkan kemandirian puskesmas sesuai dengan kewenangan yang diberikan
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

1.1.2.2 Fungsi Puskesmas
1. Pusat penggerak pembanguan berwawasan kesehatan
Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan
pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah
kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Di
samping itu puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari
penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk
pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan
pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan
penyakit dan pemulihan kesehatan.
2. Pusat pemberdayaan masyarakat
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga
dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan
melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam
memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut
menerapkan, menyelenggarakan dan memantau progran kesehatan. Pemberadayaan
10

perorangan, keluarga dan masyarakat ini diselenggarakan dengan memperhatikan
kondisi dan situasi, khususnya sosisal budaya masyarakat setempat.
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat
pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang menjadi tanggung jawab puskesmas meliputi:
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan yang bersifat pribadi (private goods) dengan tujuan utama
menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa
mengabaikan pemeliharan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan
perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu ditambah
dengan rawat inap.
b. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan yang bersifat publik (public goods) dengan tujuan utama memelihara
dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat
tersebut antara lain adalah promosi kesehatan, pemberantasan penyakit,
penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga
berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai program kesehatan
masyarakat lainnya.
Diagram1.1 Fungsi Puskesmas









(Sumber : Trihoho, 2005)
11

Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas, puskesmas
bertanggung jawab menyelenggarakan program kesehatan perorangan dan program
kesehatan masyarakat, yang bila ditinjau dalam sistem kesehatan nasional, keduanya
merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Program kesehatan tersebut
dikelompokkan menjadi dua yaitu program kesehatan wajib dan program kesehatan
pengembangan.

1.1.2.3 Upaya Kesehatan Wajib
Program yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global
serta mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Program kesehatan wajib ini diselenggarakan oleh setiap Puskesmas yang ada di wilayah
Indonesia. Program kesehatan wajib Puskesmas adalah:
a. Program Promosi Kesehatan
b. Program Kesehatan Lingkungan
c. Program Kesehatan Ibu dan Anak
d. Program Keluarga Berencana
e. Program Perbaikan Gizi Masyarakat
f. Program pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular
g. Program Pengobatan Dasar
Berikut ini akan ditampilkan upaya kesehatan wajib yang ditampilkan dalam
bentuk tabel, yaitu sebagai berikut:










12

Tabel 1.10 Indikator Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas
Program
Kesehatan Wajib
Kegiatan Indikator
Promosi Kesehatan Promosi hidup bersih dan sehat Tatanan sehat
Perbaikan perilaku sehat
Kesehatan
Lingkungan
Penyehatan pemukiman Cakupan air bersih
Cakupan jamban keluarga
Cakupan SPAL
Cakupan rumah sehat
Kesehatan Ibu dan
Anak
ANC Cakupan K1, K4
Pertolongan persalinan Cakupan linakes
MTBS Cakupan MTBS
Imunisasi Cakupan imunisasi, terdiri
dari :
HB0, BCG, Polio 1,
DPT/HB1, Polio 2,
DPT/HB2, Polio 3,
DPT/HB3, Polio 4, Campak
Keluarga Berencana Pelayanan Keluarga Berencana Cakupan MKET
Pengendalian
Penyakit Menular
Diare Cakupan kasus diare
ISPA Cakupan kasus ISPA
Malaria Cakupan kasus malaria
Cakupan kelambunisasi
Tuberkulosis Cakupan penemuan kasus
Angka penyembuhan
Gizi Distribusi vit A/ Fe / cap
yodium
Cakupan vit A /Fe / cap
yodium
PSG % gizi kurang / buruk, SKDN
Promosi Kesehatan % kadar gizi
Pengobatan Medik dasar Cakupan pelayanan
UGD Jumlah kasus yang ditangani
Laboratorium sederhana Jumlah pemeriksaan
(Sumber : Trihono, 2005)

1.1.2.4 Upaya Kesehatan Pengembangan
Program yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di
masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Program kesehatan
pengembangan dipilih dari daftar program kesehatan pokok puskesmas yang telah ada
yakni :
a. Program Kesehatan Sekolah
b. Program Kesehatan Olahraga
c. Program Perawatan Kesehatan Masyarakat
13

d. Program Kesehatan Kerja
e. Program Kesehatan Gigi & Mulut
f. Program Kesehatan Jiwa
g. Program Kesehatan Mata
h. Program Kesehatan Usia Lanjut
i. Program Pembinaan Pengobatan Tradisional
Pemilihan program kesehatan pengembangan ini dilakukan oleh puskesmas
bersama dinas kesehatan kabupaten/ kota dengan mempertimbangkan masukan dari
Konkes/ BPKM/ BPP. Upaya kesehatan pengembangan dilakukan apabila program
kesehatan wajib puskesmas telah terlaksana secara optimal dalam arti target cakupan
serta peningkatan mutu pelayanan telah tercapai. Penetapan program kesehatan
pengembangan pilihan puskesmas ini dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota.
Dalam keadaan tertentu program kesehatan pengembangan puskesmas dapat pula
ditetapkan sebagai penugasan oleh dinas kabupaten / kota. Penyelenggaraan program
kesehatan wajib dan upaya pengembangan harus menerapkan azas penyelenggaraan
puskesmas secara terpadu. Azas penyelenggaraan tersebut dikembangkan dari ketiga
fungsi puskesmas. Dasar pemikirannya adalah pentingnya menerapkan prinsip dasar dari
setiap fungsi puskesmas dalam menyelenggarakan setiap program puskesmas, baik
program kesehatan wajib maupun program kesehatan pengembangan












14

Tabel 1.10 Indikator Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesmas
Upaya kesehatan
pengembangan
Kegiatan Indikator
Upaya Kesehatan
Sekolah
UKS/UKGS Jumlah Sekolah dg
UKS/UKGS
% sekolah sehat
Upaya kesehatan olah
raga
Memasyarakatkan olah
raga untuk kesehatan
Jumlah kelompok senam
Jumlah klub jantung sehat
Upaya perawatan
kesehatan masyarakat
Kunjungan rumah
konseling
% keluarga rawan yang
dikunjungi
Upaya kesehatan kerja Memasyarakatkan
masker (norma sehat
dalam bekerja)
% pos UKK
Tingkat perkembangan pos
UKK
Upaya kesehatan gigi
dan mulut
Poliklinik gigi Jumlah kasus gigi
Upaya kesehatan jiwa Konseling Jumlah kasus penyakit jiwa
Upaya kesehatan mata Mencegah kebutaan Jml pend. katarak yg
dioperasi
Jml kelainan visus yang
dikoreksi
Upaya kesehatan usia
lanjut
Usaha pembinaan
pengobatan tradisional
Memasyarakatkan
perilaku sehat di usia
lanjut
Membina pengobatan
tradisional yang
rasional
% Posyandu Usila
Tingkat perkembangan
Posyandu Usila
Jumlah sarasehan battra
Jumlah battra yang dibina
(Sumber : Trihono, 2005)


1.1.2.5 Azas Puskesmas
1. Azas pertanggungjawaban wilayah
Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerjanya. Untuk ini puskesmas harus melaksanakan berbagai
kegiatan, antara lain sebagai berikut :
a. Menggerakkan pembangunan berbagai sektor tingkat kecamatan sehingga berwawasan
kesehatan.
b. Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat di
wilayah kerjanya.
c. Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan oleh masyarakat
dan dunia usaha di wilayah kerjanya.
15

d. Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama (primer) secara merata dan
terjangkau di wilayah kerjanya.

2. Azas pemberdayaan masyarakat
Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar
berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap program puskesmas. Untuk ini, berbagai
potensi masyarakat perlu dihimpun melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas
(BPP). Beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan oleh puskesmas dalam rangka
pemberdayaan masyarakat antara lain
a. KIA : Posyandu, Polindes, Bina Keluarga Balita (BKB)
b. Pengobatan : Posyandu, Pos Obat Desa (POD)
c. Perbaikan Gizi : Panti Pemulihan Gizi, Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
d. Kesehatan Lingkungan : Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa percontohan
Kesehatan Lingkungan (DPKL)
e. UKS : Dokter Kecil, Saka Bakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Pokestren)
f. Kesehatan Usia Lanjut : Posyandu Usila, Panti Wreda
g. Kesehatan Kerja : Pos Program Kesehatan Kerja (Pos UKK)
h. Kesehatan Jiwa : Tim Pelaksana Kesehatan jiwa Masyarakat (TPKJM)
i. Pembinaan Pengobatan Tradisional : Tanaman Obat Keluarga (TOGA),Pembinaan
Pengobatan Tradisional (Battra)

3. Azas Keterpaduan
Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya serta diperolehnya hasil yang optimal,
penyelenggaraan setiap program puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu. Ada dua
macam keterpaduan yang perlu diperhatikan yakni :
a. Keterpaduan Lintas Program
Program memadukan penyelengaraan berbagai program kesehatan yang menjadi
tanggung jawab puskesmas. Contoh : MTBS, UKS, Puskesmas Keliling, Posyandu



16

b. Keterpaduan Lintas Sektor
Program memadukan penyelenggaraan program puskesmas dengan program dari sektor
terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatn dan dunia usaha. Contoh
keterpaduan lintas sektoral antara lain
1. UKS, Keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, pendidikan &
agama.
2. Promosi Kesehatan, keterpaduan sektor kesehatan dengan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama & pertanian.
3. Perbaikan Gizi, keterpaduan sektor kesehatan dengan dengan camat, lurah/kepala
desa, pendidikan, agama, pertanian, koperasi, dunia usaha dan organisasi
kemsyarakatan.
4. Kesehatan kerja, keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa,
tenaga kerja & dunia usaha.

4. Azas Rujukan
Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas penyakit atau
masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti
dari satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya,
maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama. Ada
dua macam rujukan yang dikenal yakni :
a. Rujukan Kesehatan Perorangan (Medis)
Apabila suatu puskesmas tidak mampu menangani suatu penyakit tertentu, maka
puskesmas tersebut dapat merujuk ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu
(baik vertikal maupun horizontal). Rujukan program kesehatan perorangan dibedakan
atas :
1. Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan tindakan medis (contoh:
operasi) dan lain-lain.
2. Rujukan Bahan Pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang
lebih lengkap.
17

3. Rujukan Ilmu Pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih kompeten
untuk melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan atau menyelenggarakan
pelayanan medis spesialis di puskesmas.

b. Rujukan Kesehatan Masyarakat (Kesehatan)
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan
masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan dan bencana. Rujukan
kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam:
1. Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman
alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin,
bahan habis pakai dan bahan pakaian.
2. Rujukan tenaga, antara lain tenaga ahli untuk penyidikan kejadian luar biasa,
bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, gangguan kesehatan karena
bencana alam.
3. Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan tanggung
jawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau penyelenggaraan
kesehatan masyarakat kepada dinas kesehatan kabupaten/kota. Rujukan operasional
diselenggarakan apabila puskesmas tidak mampu.

Gambar 1.2 Sistem Rujukan Puskesmas

(Sumber : Trihono, 2005)

18

1.1.3 Gambaran Umum Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih mulai beroperasi pada bulan Juli 1990
setelah terjadi pemisahan wilayah dengan Kecamatan Johar Baru. Pada tahun 2010
mengalami rehab total. Pada tanggal 21 Januari 2013 Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih menempati gedung baru sesuai dengan instruksi Ka Sudinkes Jakarta Pusat.
Menempati luas tanah 1.350 m2 dengan bangunan empat setengah lantai memiliki Unit
Rawat Inap Umum dan Rumah bersalin. Rawat inap Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih diresmikan tanggal 15 April 2013, dengan memiliki 18 kasur, rumah bersalin 14
kasur dan UGD 5 kasur.
Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih membawahi 3 Puskesmas Kelurahan yaitu
Kelurahan Cempaka Putih Barat, Cempaka Putih Timur dan Rawasari.
Sejak bulan Maret 2001 Puskesmas ini ditetapkan sebagai Puskesmas Swadana,
kemudian tahun ini ditetapkan juga oleh Gubernur DKI Jakarta bahwa setiap Puskesmas
Kecamatan harus membuka Unit Puskesmas Siaga 24 jam.
Sesuai dengan Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta nomor 2086/2006 tanggal
28 Desember 2006 tentang penetapan 44 Puskesmas Kecamatan sebagai Unit Kerja Dinas
Kesehatan Propinsi DKI Jakarta yang menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah secara bertahap. Maka Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih sejak tahun
2007 menjalankan keputusan tersebut.
Sejak tanggal 21 Januari 2013 Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih beroperasi di
Jl. Rawasari Selatan No 1 Kelurahan Cempaka Putih Timur Kecamatan Cempaka Putih.










19

Gambar 1.3 Skema Puskesmas di wilayah Kecamatan Cempaka Putih

Ket: : Puskesmas Kecamatan
: Puskesmas Kelurahan

1.1.3.1 Visi, Misi, dan Kebijakan Mutu Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Dengan surat keputusan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No 15
Tahun 2001 tentang uji coba Puskesmas Kecamatan di Daerah Khusus Ibukota DKI
Jakarta sebagai unit swadana daerah maka Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih resmi
menjadi Puskesmas Unit Swadana Kecamatan Cempaka Putih terhitung mulai tanggal
14 Februari 2001.
Puskesmas Unit Swadana merupakan Puskesmas yang diberi wewenang
mengelola sendiri penerimaan fungsionalnya untuk keperluan operasional secara
langsung dan mengoptimalkan mobilisasi potensi pembiayaan masyarakat dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
A. Visi Puskesmas adalah menjadikan Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih sebagai
Puskesmas pilihan dengan layanan Prima, Berkualitas dan terpercaya guna
terwujudnya masyarakat sehat seutuhnya di Wilayah Jakarta Pusat.
B. Misi Puskesmas sebagai berikut :
1. Meningkatkan profesionalitas SDM melalui peningkatan kemampuan
manjaerial dan pelatihan-pelatihan sesuai kompetisi.

20

2. Meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana dalam mencapai
layanan prima.
3. Mengetahui dan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.
4. Petugas mampu melaksanakan pelayanan prima dengan penuh tanggung
jawab dan etika
5. Melaksanakan pelayanan prima melaluli program-program dan layanan
unggulan.
C. Kebijakan Mutu Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih adalah memberikan
pelayanan kesehatan profesional yang berorientasi pada peningkatan kepuasan
pelanggan melalui pemenuhan persyaratan pelanggan serta peraturan terkait.
D. Tujuan Puskesmas adalah sebagai berikut :
1. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif
2. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan yang bersifat preventif
3. Memperbanyak ragam pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif
4. Memperbanyak ragam pelayanan kesehatan yang bersifat rehabilitatif
5. Mengembangkan proses Perencanaan (P1), Pengorganisasian dan Pelaksanaan
(P2), Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian (P3) dan pelayanan kesehatan
6. Mengembangkan pengorganisasian pelayanan kesehatan
7. Mengembangkan sistem pelaksanaan tugas pelayanan kesehatan
8. Mengembangkan sistem pengendalian dan evaluasi pelayanan kesehatan
9. Meningkatkan kemampuan manajemen dan teknis petugas medis dan paramedik
10. Meningkatkan kemampuan teknis petugas-petugas non medis
11. Mensosialisasikan paradigma baru

1.1.3.2 Tugas Pokok
Puskesmas Kecamatan merupakan unit pelaksana teknik Dinas Kesehatan yang
mempunyai tugas melaksanakan pelayanan, pembinaan, pengendalian, Puskesmas
Kelurahan, pengembangan upaya kesehatan, pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan
di wilayah kerjanya.


21

1.1.3.3 Fungsi Puskesmas
1. Puskesmas Kecamatan merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan yang
mempunyai tugas melaksanakan pelayanan, pembinaan, pengendalian Puskesmas
Kelurahan, pengembangan upaya kesehatan dan pendidikan di wilayah kerjanya
2. Melakukan pembinaan, pengawasan, pengendalian terhadap pengelolaan dan
pelayanan Puskesmas Kelurahan
3. Memberikan pelayanan kesehatan klinis meliputi: loket, rekam medis, klinik
umum, ibu anak, KB, gigi, spesialis, konsultasi remaja, gizi, geriatri, klinik 24 jam,
persalinan
4. Rawat inap, laboratorium klinik, apotek, farmasi komunikasi, radiologi, optik,
serta klinik lainnya sesuai kebutuhan
5. Mengkoordinasi temu lintas batas, lintas sektoral dalam penanggulangan masalah
kesehatan.
6. Mengkoordinasikan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan yang meliputi
Kader Kesehatan, Posyandu, Karang wredha dan lain-lain.

1.1.3.4 Sarana dan Prasarana
a. Gedung Puskesmas di Kecamatan Cempaka Putih













22

Tabel 1.12 Uraian Gedung Puskesmas di Kecamatan Cempaka Putih
Uraian Kecamatan
Cempaka
Putih
Kelurahan
Cempaka
Putih Barat I
Kelurahan
Cempaka
Putih Barat
II
Kelurahan
Rawasari
Luas Tanah (m
2
) 1.350 621 138 287
Luas Bangunan (m
2
) 3.499
4,5 lantai
855
3 lantai
284
2 lantai
195,98
1 lantai
Pembangunan Gedung Renovasi total
tahun 2010
2011 Renovasi
tahun 2006
1977
Atap Genteng Genteng Genteng Genteng
Plafon Gypsum Gypsum Gypsum Eternit
Dinding Tembok Tembok Tembok Tembok
Lantai Keramik Keramik Keramik Keramik
Pagar Besi Besi Stainless Besi
WC 31 7 6 2
Listrik (watt) 161.000 23.000 16.500 3.500
Telepon Ada Ada Ada Ada
Internet Ada Ada Ada Ada
Air PAM Pump PAM Pump

b. Alat transportasi
1. Lima buah sepeda motor di Puskesmas Kecamatan
2. Pada awal tahun 2004 menerima satu unit Mobil Ambulance Mitsubishi L 300
untuk operasional Puskesmas
3. Tahun 2005 menerima satu Unit Mobil Dinas Suzuki APV untuk Operasional
Puskesmas
4. Tahun 2013 menerima satu Unit Mobil Ambulance KIA Travelo untuk
Operasional Puskesmas

23

c. Alat medis dan non medis
1. Alat Rontgen diruangan khusus
2. Peralatan Laboratorium lengkap
3. Alat pemeriksaan khusus untuk khasus THT sudah dioprasikan
4. Alat audiometri untuk sementara belum bisa dioperasikan
5. Alat pemeriksaan empat unit EKG
6. Enam Dental unit di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih, dan masing-masing 1
unit di Puskesmas Kelurahan. (dari 6 Dental Unit Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih, karena keterbatasan hanya bisa dioperasionalkan 5 Dental Unit)
7. 1 Unit alat USG belum bisa dioperasikan karena belum ada SDM yang memadai
8. Obat-obatan. (perncanaan obat-obatan disesuaikan dengan kebutuhan masing-
masing Puskesmas dengan melihat jumlah kunjungan pada tahun sebelumnya)
Gambar 1.4 Denah Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih


24




(Sumber : Arsip Profil Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih)
25

1.1.3.5 Sumber Daya Manusia
Potensi tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas wilayah Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Desember 2013 berjumlah 82 orang, dengan perincian:

Tabel 1.13 Ketenagaan di Puskesmas Se-kecamatan Cempaka Putih
i. Tenaga PNS
T
E
N
A
G
A

K
E
S
E
H
A
T
A
N


PENDIDIKAN
PUSKESMAS
Jumlah Kec.
Cemput
Kel.
CPB
1
Kel.
CPB
2
Rawasari
S 2 Kesmas 0 0 0 0 0
Spesialis 1 0 0 0 1



S 1
Dokter
Umum
6 0 1 1 8
Dokter gigi 3 1 1 1 6
Perawat 4 0 2 0 6
Apoteker 1 0 0 0 1
SKM 1 0 0 0 1
D 4 Kebidanan 0 0 0 0 0



D 3
Perawat 12 1 0 0 13
Kebidanan 3 2 2 2 9
Radiologi 2 0 0 0 2
Akfis 1 0 0 0 1
Gizi 2 0 0 0 2
Kesling 1 0 0 0 1




Lain-
lain
D1 Gizi 2 0 0 0 2
D1 Kesling 0 0 0 0 0
SPK 1 0 0 0 1
Sek. Bidan 2 1 2 2 7
SAA 0 0 0 1 1
SPRG 2 0 0 0 2
(Sumber: Arsip Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2013)

26

PENDIDIKAN PUSKESMAS Jumlah
Kec.
Cemput
Kel.
CPB1
Kel.
CPB2
Kel.
Rawasari


Analis
Kesehatan
0 0 0 0 0
SPAG 0 0 0 0 0
Pek. Kes 0 0 0 0 0
N
O
N

K
E
S
E
H
A
T
A
N

S 1 Adm 4 0 1 0 5
D 3 Komputer 2 0 0 0 2

Lain-
lain
SLTA 7 1 0 1 9
SLTP 0 0 0 0 0
SD 0 0 0 0 0
JUMLAH 57 6 9 8 80
(Sumber: Arsip Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2013)
















27

2. Tenaga PTT/ Honorer/ Kontrak


PENDIDIKAN
PUSKESMAS
Jumlah Kec.
Cemput
Kel.
CPB1
Kel.
CPB2
Rawasari
TENAGA
KESEHATAN
Spesialis 0 0 0 0 0

S 1
Dokter 4 1 0 0 5
Dokter gigi 1 0 0 0 1
Apoteker 2 0 0 0 2
D 4 Kebidanan 0 0 0 0 0



D 3



Perawat 4 0 0 1 5
Kebidanan 8 0 0 0 8
Radiologi 0 0 0 0 0
Rekam medik 1 0 0 0 1
Analis Lab 0 0 0 0 0
Lain-
lain




D1 Gizi 0 0 0 0 0
SMAK 0 0 0 0 0
SPPH 0 0 0 0 0
SAA 2 0 1 0 3
Ekonomi 1 0 0 1 2
SPK 0 0 0 0 0
S 1 Komputer 2 0 0 0 2
N
O
N

K
E
S
E
H
A
T
A
N

D 3 Komputer 0 0 0 0 0

Lain-
lain
SLTA 3 0 0 0 3
SLTP 0 0 0 0 0
SD 0 0 0 0 0
JUMLAH 28 1 1 2 32
(Sumber: Arsip Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2013)



28

1.1.3.6 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Stuktur organisasi Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih tahun 2010, terdiri atas
Kepala Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih yang dibantu oleh Tata Usaha, bagian
Mutu, seksi Kesehatan Masyarakat, seksi Pelayanan Kesehatan dan bertanggung jawab
terhadap Puskesmas Kelurahan Cempaka Putih Barat 1, Puskesmas Kelurahan Cempaka
Putih Barat 2, dan Puskesmas Kelurahan Rawasari. Seksi kesehatan masyarakat
bertanggung jawab terhadap bagian P2M, PTM, Gizi/PSM, Jiwa/NAPZA, Kesehatan
Lingkungan dan Pomosi Kesehatan. Seksi Pelayanan Kesehatan bertanggung jawab
terhadap pelayanan dasar yang membawahi BPU, BPG, KIA/KB, Jamsostek, MTBS,
Tindakan, Laboratorium, Rontgen, Loket, apotik selain itu seksi pelayanan kesehatan
membawahi Gadar, Gakin, dan RB (Ruang Bersalin).
Diagram 1.3 Struktur Organisasi Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih 2011

(Sumber : Arsip Profil Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih)


Kepala
Puskesmas
Kecamatan
Koordinator
Pelayanan
Satuan Pelayanan
Kesehatan
Koordinator
Penunjang
Satuan Pelayanan
Penunjang
Subkelompok
Jabatan
Fungsional
Puskesmas
Kelurahan
Sub Bagian TU
29

1.1.4 Program Imunisasi di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak
terjadi penyakit (Ranuh. et. all, 2008:40).
Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari
beberapa penyakit tertentu (Wahab, A. Samik, 2002: 22).
Imunisasi adalah prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas, memberikan
imunitas protektif dengan menginduksi respon memori terhadap pathogen tertentu/toksin
dengan menggunakan preparat antigen non virulen/non toksik (Wong. DL, 2008: 28).
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan
memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap
penyakit tertentu.Sedangkan vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin
BCG, DPT, campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio.Di negara Indonesia terdapat
jenis imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah dan ada juga yang hanya
dianjurkan.Imunisasi wajib di Indonesia sebagaimana telah diwajibkan oleh WHO
ditambah dengan Hepatitis B. Imunisasi yang dianjurkan oleh pemerintah dapat digunakan
untuk mencegah suatu kejadian yang luar biasa atau penyakit endemik, atau untuk
kepentingan tertentu (bepergian) seperti jemaah haji yaitu imunisasi meningitis (Hidayat.
AA, 2008: 37)
Imunisasi adalah suatu prosedur rutin yang akan memberi kekebalan pada bayi.
Fungsi imunisasi adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-
penyakit yang berbahaya dan sering terjadi pada tahun tahun awal kehidupan seorang
anak.Tujuan program imunisasi adalah menurunkan angka kematian bayi akibat penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi. Keberhasilan program imunisasi diukur dengan
pencapaian target cakupan imunisasi. Sasaran kegiatan ini adalah bayi dan ibu hamil.
Imunisasi merupakan hal yang terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak
untuk memberikan kekebalan khusus terhadap seseorang yang sehat, dengan tujuan utama
menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi. Tanpa imunisasi, kira-kira tiga dari 100 kelahiran anak akan meninggal
karena penyakit campak, dua dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena batuk rejan.
30

satu dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit tetanus. Setiap 200.000 anak,
satu akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan memberikan vaksin
tertentu akan melindungi anak terhadap penyakit-penyakit tertentu.
Sesuai dengan program pemerintah (Departemen kesehatan) tentang program
pengembangan imunisasi, maka anak harus mendapat perlindungan terhadap tujuh jenis
penyakit utama yaitu penyakit TBC dengan pemberian vaksin BCG, penyakit difteri
tetanus pertusis dengan pemberian vaksin DPT, penyakit poliomyelitis dengan vaksin
polio, penyakit hepatitis B dengan vaksin hepatitis B, dan penyakit campak dengan vaksin
campak.
Ada dua Imunisasi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Perbedaan antara
imunisasi aktif dan imunisasi pasif berhubungan dengan kekebalan yang didapat.
Kekebalan Aktif yaitu tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan bertahan selama
bertahuntahun, Sedangkan Imunisasi pasif ialah tubuh anak tidak membuat sendiri zat
anti, anak mendapatnya dari luar tubuh dengan cara penyuntikan bahan atau serum yang
telah mengandung zat anti atau anak tersebut mendapat zat anti dari ibunya semasa dalam
kandungan. Kekebalan yang diperoleh dengan imunisasi pasif tidak berlangsung lama.

1.1.4.1 Jenis Vaksin
Pada dasarnya vaksin dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Live attenuated (kuman atau virus hidup yang dilemahkan)
2. Inactivated (kuman, virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif).
Sifat vaksin attenuated dan inactivated berbeda sehingga hal ini menentukan bagaimana
vaksin ini digunakan.
1. Vaksin hidup attenuated
Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar (wild) penyebab penyakit.Virus
atau bakteri liar ini dilemahkan di laboratorium, biasanya dengan pembiakan
berulang-ulang. Vaksin hidup yang tersedia: berasal dari virus hidup yaitu vaksin
campak, gondongan (parotitis), rubella, polio, rotavirus, demam kuning (yellow
fever). Berasal dari bakteri yaitu vaksin BCG dan demam tifoid.


31

2. Vaksin inactivated
Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam
media pembiakan (persemaian), kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan
penanaman bahan kimia (biasanya formalin). Untuk vaksin komponen, organisme
tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang dimasukkan
dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari kuman pneumokokus). Vaksin
inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh, maka seluruh dosis antigen
dimasukkan dalam suntikan. Vaksin ini selalu membutuhkan dosis multipel, pada
dasarnya dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif, tetapi hanya
memacu atau menyiapkan sistem imun.
3. Vaksin polisakarida
Vaksin polisakarida adalah vaksin sub-unit yang inactivated dengan bentuknya
yang unik terdiri atas rantai panjang molekul-molekul gula yang membentuk
permukaan kapsul bakteri tertentu. Vaksin ini tersedia untuk tiga macam penyakit
yaitu pneumokokus, meningokokus, dan haemophillus influenzae type b.
4. Vaksin rekombinan
Terdapat tiga jenis vaksin rekombinan yang saat ini telah tersedia :
a. Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen
virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi.
b. Vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteri salmonella typhi yang secara genetik
diubah sehingga tidak menyebabkan sakit.
Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup adalah
rotavirus kera rhesus yang diubah secara genetik menghasilkan antigen rotavirus
manusia apabila mereka mengalami replikasi
Program imunisasi dasar ( bayi ) yang dilaksanakan di puskesmas
kecamatan Cempaka Putih terdiri dari :
a. BCG
b. Hepatitis B
c. Polio
d. Campak
e. DPT
32

1.1.4.2 Penyimpanan dan Transportasi Vaksin
Secara umum vaksin terdiri dari vaksin hidup dan vaksin mati yang mempunyai
ketahanan dan stabilitas yang berbeda terhadap perbedaan suhu.Syarat-syarat
penyimpanan dan transportasi vaksin harus diperhatikan untuk menjamin potensinya
ketika diberikan kepada seorang anak.

1.1.4.3 Rantai Vaksin
Adalah rangkaian proses penyimpanan dan transportasi vaksin dengan
menggunakan berbagai peralatan sesuai prosedur untuk menjamin kualitas vaksin sejak
dari pabrik sampai diberikan kepada pasien. Rantai vaksin terdiri dari proses
penyimpanan vaksin di kamar dingin atau kamar beku, di lemari pendingin, di dalam alat
pembawa vaksin, pentingnya alat-alat untuk mengukur dan mempertahankan suhu.
Dampak perubahan suhu pada vaksin hidup dan mati berbeda.Untuk itu harus diketahui
suhu optimum untuk setiap vaksin sesuai petunjuk penyimpanan dari pabrik masing-
masing.

Gambar 1.5 Macam-macam tempat penyimpanan Vaksin










1.1.4.4 Suhu Optimum Untuk Vaksin Hidup
Secara umum semua vaksin sebaiknya disimpan pada suhu +2C sampai dengan
+8C, diatas suhu +8C vaksin hidup akan cepat mati, vaksin polio hanya bertahan dua
hari, vaksin BCG dan campak yang belum dilarutkan mati dalam tujuh hari. Vaksin hidup
33

potensinya masih tetap baik pada suhu kurang dari 2C sampai dengan beku. Vaksin oral
polio yang belum dibuka lebih bertahan lama (2 tahun) bila disimpan pada suhu -25C
sampai dengan -15C, namun hanya bertahan enam bulan pada suhu +2C sampai dengan
+8C. Vaksin BCG dan campak berbeda, walaupun disimpan pada suhu -25C sampai
dengan -15C, umur vaksin tidak lebih lama dari suhu +2C sampai dengan +8C, yaitu
BCG tetap satu tahun dan campak tetap dua tahun. Oleh karena itu vaksin BCG dan
campak yang belum dilarutkan tidak perlu disimpan di suhu -25C sampai dengan -15C
atau didalam freezer.

1.1.4.5 Suhu Optimum Untuk Vaksin Mati
Vaksin mati (inaktif) sebaiknya disimpan dalam suhu +2C sampai dengan +8C
juga, pada suhu dibawah +2C (beku) vaksin mati (inaktif) akan cepat rusak. Bila beku
dalam suhu -0.5C vaksin hepatitis B dan DPT-Hepatitis B (kombo) akan rusak dalam
jam, tetapi dalam suhu diatas 8C vaksin hepatitis B bisa bertahan sampai tiga puluh hari,
DPT-hepatitis B kombinasi sampai empat belas hari. Dibekukan dalam suhu -5C sampai
dengan -10C vaksin DPT, DT dan TT akan rusak dalam 1,5 sampai dengan dua jam,
tetapi bisa bertahan sampai empat belas hari dalam suhu di atas 8C.

1.1.4.5.1 Kamar Dingin dan Kamar Beku
Kamar dingin (cold room) dan kamar beku (freeze room) umumya berada
dipabrik, distributor pusat, Dinas Kesehatan Provinsi, berupa ruang yang besar dengan
kapasitas 5-100 m, untuk menyimpan vaksin dalam jumlah yang besar. Suhu kamar
dingin berkisar +2C sampai dengan +8C, terutama untuk menyimpan vaksin-vaksin
yang tidak boleh beku. Suhu kamar beku berkisar antara -25C sampai dengan -15C,
untuk menyimpan vaksin yang boleh beku, terutama vaksin polio. Kamar dingin dan
kamar beku harus beroperasi terus menerus, menggunakan dua alat pendingin yang
bekerja bergantian. Aliran listrik tidak boleh terputus sehingga harus dihubungkan
dengan pembangkit listrik yang secara otomatis akan berfungsi bila listrik mati. Suhu
ruangan harus dikontrol setiap hari dari data suhu yang tercatat secara otomatis.Pintu
tidak boleh sering dibuka tutup.
1.1.4.5.2 Lemari Es dan Freezer
34

Setiap lemari es sebaiknya mempunyai satu stop kontak tersendiri. Jarak lemari es
dengan dinding belakang 10-15 cm, kanan kiri 15 cm, sirkulasi udara disekitarnya harus
baik.Lemari es tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Suhu didalam lemari es harus
berkisar +2C sampai dengan +8C, digunakan untuk menyimpan vaksin-vaksin hidup
maupun mati, dan untuk membuat cool pack (kotak dingin cair). Sedangkan suhu di
dalam freezer berkisar antara -25C sampai dengan -15C, khusus untuk menyimpan
vaksin polio dan pembuatan cold pack (kotak es beku). Termostat di dalam lemari es
harus diatur sedemikian rupa sehingga suhunya berkisar antara +2 sampai dengan +8C
dan suhu freezer berkisar -15C sampai dengan -25C. Di dalam lemari es lebih baik bila
dilengkapi freeze watch atau freeze tag pada rak ke-3, untuk memantau apakah suhunya
pernah mencapai di bawah 0 derajat.Sebaiknya pintu lemari es hanya dibuka dua kali
sehari, yaitu ketika mengambil vaksin dan mengmbalikan sisa vaksin, sambil mencatat
suhu lemari es.
Lemari es dengan pintu membuka ke atas lebih dianjurkan untuk penyimpanan
vaksin. Karet-karet pintu harus diperiksa kerapatannya, untuk menghindari keluarnya
udara dingin. Bila pada dinding lemari es telah terdapat bunga es, atau di freezer telah
mencapai tebal 2-3 cm harus segera dilakukan pencairan (defrost). Sebelum melakukan
pencairan, pindahkan vaksin ke cool box atau lemari es yang lain. Cabut kontak listrik
lemari es, biarkan pintu lemari es dan freezer terbuka selama 24 jam, kemudian
dibersihkan. Setelah bersih, pasang kembali kontak listerik, tunggu sampai suhu
stabil.Setelah suhu lemari sedikitnya mencapai +8C dan suhu freezer-15C, masukkan
vaksin sesuai tempatnya.
Gamba1.6 Lemari es penyimpanan Vaksin








35

1.1.4.5.3 Susunan Vaksin di Dalam Lemari Es
Karena vaksin hidup dan vaksin inaktif mempunyai daya tahan berbeda terhadap
suhu dingin, maka kita harus mengenali bagian yang paling dingin dari lemari
es.Letakkan vaksin hidup dekat dengan bagian yang paling dingin, sedangkan vaksin
mati jauh dari bagian yang paling dingin.Di antara kotak-kotak vaksin beri jarak selebar
jari tangan (sekitar 2 cm) agar udara dingin bias menyebar merata ke semua kotak vaksin.
Bagian paling bawah tidak untuk menyimpan vaksin tetapi khusus untuk
meletakkan cool pack, untuk mempertahankan suhu bila listerik mati. Pelarut vaksin
jangan disimpan di dalam lemari es atau freezer, karena akan mengurangi ruang untuk
vaksin, dan akan pecah bila beku. Penetes (dropper) vaksin polio juga tidak boleh di
letakkan di lemari es atau freezer karena akan menjadi rapuh, mudah pecah.
Tidak boleh menyimpan makanan, minuman, obat-obatan atau benda-benda lain
di dalam lemari es vaksin, karena mengganggu stabilitas suhu karena sering di buka.

1.1.4.5.4 Lemari Es dengan Pintu Membuka ke Depan
Bagian yang paling dingin lemari es ini adalah di bagian paling atas (freezer).Di
dalam freezer disimpan cold pack, sedangkan rak tepat di bawah freezer untuk
meletakkan vaksin-vaksin hidup, karena tidak mati pada suhu rendah.Rak yang lebih jauh
dari freezer (rak ke 2 dan 3) untuk meletakkan vaksin-vaksin mati (inaktif), agar tidak
terlalu dekat freezer, untuk menghindari rusak karena beku. Thermometer Dial atau
Muller diletakkan pada rak ke-2, freeze watch atau freeze tag pada rak ke 3.

Gambar 1.7 lemari es penyimpanan Vaksin








36

1.1.4.5.5 Lemari Es dengan Pintu Membuka ke Atas
Bagian yang paling dingin dalam lemari es ini adalah bagian tengah (evaporaor)
yang membujur dari depan ke belakang. Oleh karena itu vaksin hidup diletakkan di
kanan-kiri bagian yang paling dingin (evaporator).Vaksin mati diletakkan dipinggir, jauh
dari evaporator.Beri jarak antara kotak-kotak vaksin selebar jari tangan (sekitar 2 cm).
Letakkan termometer Dial atau Muller atau freeze watch/freeze tag dekat vaksin mati.


Gambar 1.8 Lemari es dengan pintu membuka ke atas


1.1.4.5.6 Wadah Pembawa Vaksin
Untuk membawa vaksin dalam jumlah sedikit dan jarak tidak terlalu jauh dapat
menggunakan cold box (kotak dingin) atau vaccine carrier (termos).Cold box berukuran
lebih besar, dengan ukuran 40-70 liter, dengan penyekat suhu dari poliuretan, selain
untuk transportasi dapat pula untuk menyimpan vaksin sementara.Untuk
mempertahankan suhu vaksin di dalam kotak dingin atau termos dimasukkan cold pack
atau cool pack.
Gambar 1.9 Wadah pembawa vaksin


37

1.1.4.5.7 Cold Pack dan Cool Pack
Cold pack berisi air yang dibekukan dalam suhu -15C sampai dengan -25C
selama 24 jam, biasanya di dalam wadah plastik berwarna putih. Cool pack berisi air
dingin (tidak beku)yang didinginkan dalam suhu +2C sampai dengan +8C selama 24
jam, biasanya di dalam wadah plastik berwarna merah atau biru. Cold pack (beku)
dimasukkan ke dalam termos untuk mempertahankan suhu vaksin ketika membawa
vaksin hidup sedangkan cool pack (cair) untuk membawa vaksin hidup dan vaksin mati
(inaktif).

Gambar 1.10 Ice pack


1.1.4.6 Menilai Kualitas Vaksin
Vaksin hidup akan mati pada suhu di atas batas tertentu, dan vaksin mati akan rusak di
bawah suhu tertentu.
1. Kualitas rantai vaksin dan tanggal kadaluwarsa
Untuk mempertahankan kualitas vaksin maka penyimpanan dan transportasi vaksin
harus memenuhi syarat rantai vaksin yang baik, antara lain : disimpan di dalam
lemari es atau freezer dalam suhu tertentu, transportasi vaksin di dalam kotak dingin
atau termos yang tertutup rapat, tidak terendam air, terlindung dari sinar matahari
langsung, belum melewati tanggal kadaluarsa, indikator suhu berupa VVM (vaccine
vial monitor) atau freeze watch/tag belum melampaui batas suhu tertentu.
2. VVM (vaccine vial monitor)
Untuk menilai apakah vaksin sudah pernah terpapar suhu di atas batas yang
dibolehkan, dengan membandingkan warna kotak segi empat dengan warna
38

lingkaran di sekitarnya. Bila waran kotak segi empat lebih muda daripada lingkaran
dan sekitarnya (disebut kondisi VVM A atau B) maka vaksin belum terpapar suhu di
atas batas yang diperkenankan. Vaksin dengan kondisi VVM B harus segera
dipergunakan. Bila warna kotak segi empat sama atau lebih gelap daripada lingkaran
dan sekitarnya (disebut kondisi VVM C atau D) maka vaksin sudah terpapar suhu di
atas batas yang diperkenankan, tidak boleh diberikan pada pasien

Gambar 1.11 Vaccine Vial Monitor (VVM)
.

3. Freeze watch dan freeze tag
Alat ini untuk mengetahui apakah vaksin pernah terpapar suhu dibawah 0C. Bila
dalam freeze watch terdapat warna biru yang melebar ke sekitarnya atau dalam freeze
tag ada tanda silang (X), bearti vaksin pernah terpapar suhu di bawah 0C yang dapat
merusak vaksin mati. Vaksin-vaksin tersebut tidak boleh diberikan kepada pasien.

4. Warna dan kejernihan vaksin
Warna dan kejernihan beberapa vaksin dapat menjadi indikator praktis untuk menilai
stabilitas vaksin.Vaksin polio harus berwarna kuning oranye. Bila warnanya berubah
menjadi pucat atau kemerahan berarti pHnya telah berubah, sehingga tidak stabil dan
tidak boleh diberikan kepada pasien. Vaksin toksoid, rekombinan dan polisakarida
umumnya berwarna putih jernih sedikit berkabut.Bila menggumpal atau banyak
endapan berarti sudah pernah beku, tidak boleh digunakan karena sudah rusak.Untuk
39

meyakinkan dapat dilakukan uji kocok seperti dibawah ini.Bila vaksin setelah
dikocok tetap menggumpal atau mengendap maka vaksin tidak boleh digunakan
karena sudah rusak.

5. Pemilihan vaksin
Vaksin yang harus segera dipergunakan adalah vaksin yang belum dibuka tetapi telah
dibawa ke lapangan, sisa vaksin telah dibuka (dipergunakan), vaksin dengan VVM B,
vaksin dengan tanggal kadaluarsa sudah dekat (EEFO = Early Expire First Out),
vaksin yang sudah lama tersimpan dikeluarkan segera (FIFO = First In First Out).

1.1.4.7 Macam Macam Vaksin dan Fungsinya
1.1.4.7.1 Imunisasi BCG
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis
(TB).Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang
dilemahkan.BCG diberikan satu kali sebelum anak berumur dua bulan.
Di Indonesia TBC merupakan penyakit rakyat yang mudah menular, di negara
yang sudah berkembang penyakit ini sudah jarang ditemukan karena dilaksanakannya
imunisasi BCG yang luas, pengawasan ketat terhadap penderita TBC dan perbaikan
keadaan sosial ekonomi.

1.1.4.7.2 Imunisasi DPT
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin three-in-one yang melindungi terhadap difteri,
pertusis dan tetanus.Di Indonesia vaksin terhadap ketiga penyakit tersebut dipasarkan
dalam tiga jenis kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal khusus bagi tetanus,
dalam bentuk kombinasi DT (difteri dan tetanus) dan kombinasi DPT.
Vaksin difteri terbuat dari toksin kuman difteri yang telah dilemahkan. Biasanya
diolah dan dikemas bersama-sama dengan vaksin tetanus dalam bentuk vaksin DT atau
dalam bentuk tetanus dan pertusis dalam bentuk DPT.
Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat
menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.Penyakit difteri disebabkan oleh
corynebacterium diphtheriae, sifatnya sangat ganas dan mudah menular.
40

Seorang anak akan terjangkit difteri bila ia berhubungan langsung dengan anak
lain sebagai penderita difteri atau sebagai pembawa kuman (karier). Dalam hal inilah
perlunya dilakukan imunisasi. Dengan imunisasi anak akan terhindar, sedangkan anak
yang belum mendapat imunisasi akan tertular penyakit difteri yang diperoleh dari
temannya sendiri yang menjadi karier. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri
Bordetella pertussis ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan
yang melengking.
Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan
batuk sehingga anak sulit bernafas, makan atau minum.Pertusis juga dapat
menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan
otak.Sementara tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada
rahang serta kejang. Gejala yang khas yaitu anak tiba-tiba batuk keras secara terus-
menerus, sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan, keluar air mata dan
kadang-kadang sampai muntah.
Vaksin DPT diberikan dengan cara disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT diberikan sebanyak tiga kali, yaitu pada saat anak berumur dua bulan
(DPT I), tiga bulan (DPT II) dan empat bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari
empat minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan satu tahun setelah DPT III dan pada usia
prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis,
maka diberikan DT, bukan DPT.
Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik yaitu sebesar 80-95%
dan daya proteksi vaksin tetanus sangat baik yaitu sebesar 90-95% sedangkan daya
proteksi vaksin pertusis masih rendah yaitu 50-60%.Oleh karena itu tidak jarang anak
yang telah mendapat imunisasi pertusis masih terjangkit penyakit batuk rejan, tetapi
dalam bentuk yang lebih ringan.

1.1.4.7.2 Imunisasi Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.
Terdapat dua jenis vaksin yang masing-masing mengandung virus polio tipe I, II & III
yang sudah dimatikan (Vaksin Salk), cara pemberiannya dengan penyuntikan. Dan
yang masih hidup tapi dilemahkan (Vaksin Sabin) cara pemberiannya melalui mulut
41

berupa cairan. Di Indonesia vaksin yang lazim diberikan ialah vaksin jenis
Sabin.Vaksin polio dapat mencegah penyakit poliomielitis yang disebabkan oleh virus
polio, yaitu tipe I, II dan III. Virus polio akan merusak bagian anterior susunan saraf
pusat tulang belakang. Penyakit ini terutama banyak terdapat di negara yang sedang
berkembang.Di Indonesia tercatat beberapa kali wabah polio misalnya di Belitung
tahun 1948, di Semarang tahun 1954, di Medan tahun 1957.Gejala penyakit ini sangat
bervariasi, dari gejala ringan sampai timbul kelumpuhan bahkan sampai timbul
kematian.Gejala yang umum dan mudah dikenal ialah anak mendadak lumpuh pada
salah satu anggota gerak setelah menderita demam selama 2-5 hari.Polio juga bisa
menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan.
Imunisasi dasar polio diberikan pada anak umur 0-4 bulan sebanyak empat kali
(polio I, II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari empat minggu.Imunisasi polio
ulangan diberikan satu tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD
(5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).Daya proteksi vaksin polio
sangat baik yaitu sebesar 95-100%.

1.1.4.7.3 Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak
(tampek) yang disebabkan oleh sejenis virus termasuk golongan paramiksovirus.Gejala
yang khas yaitu timbulnya bercakbercak merah dikulit setelah anak demam 3-5 hari,
bercak merah ini semula timbul pada pipi di bawah telinga kemudian menjalar ke
muka, tubuh dan anggota gerak.
Imunisasi campak diberikan sebanyak dua kali.Pertama, pada saat anak berumur
sembilan bulan atau lebih, Campak kedua diberikan pada umur 5-7 tahun.Pada kejadian
luar biasa dapat diberikan pada umur enam bulan dan diulangi enam bulan
kemudian.Vaksin disuntikkan secara langsung di bawah kulit (subkutan).Campak I
diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan Campak II
diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang
tertingi.Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare.
Daya proteksi imunisasi campak sangat tinggi yaitu 96-99%, Menurut penelitian,
kekebalan yang diperoleh ini berlangsung seumur hidup.
42

1.1.4.7.4 Imunisasi Hepatitis B (HBV)
Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan
kematian.Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Imunisasi ini
diberikan sebanyak empat kali.Antara suntikan HBV1 dengan HBV2 diberikan dengan
selang waktu satu bulan pada saat anak berumur di bawah empat bulan.Kepada bayi
yang lahir dari ibu dengan hepatitis, vaksin HBV disuntikan dalam waktu 12 jam
setelah lahir.Sedangkan pada bayi yang lahir dari ibu yang status hepatitisnya tidak
diketahui, HBV I diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir. HBV3 diberikan pada
usia antara 6-18 bulan. Imunisasi HBV empat diberikan saat anak berusia 10
tahun.Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki
Hepatitis B. Imunisasi juga bisa diberikan pada saat bayi berumur dua bulan.Pemberian
imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar
pulih.
Program imunisasi di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih adalah imunisasi
dasar dan imunisasi pada ibu hamil. Imunisasi dasar yang diberikan pada anak adalah:
a. BCG untuk mencegah penyakit TB,
b. DPT untuk mencegah penyakit Difteria, Pertusis dan Tetanus,
c. Polio untuk mencegah penyakit Poliomyelitis,
d. Campak untuk mencegah penyakit Measles,
e. Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B.











43

1.1.5 Hasil Kegiatan Program Imunisasi di Puskesmas Wilayah Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014
Tabel 1.14 Indikator Program Imunisasi Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014
Program Indikator Target 1 tahun (%) Target 1 bulan (%) Target Januari
Juni (%)
Imunisasi HB0 75 6,25 37,5
BCG 95 7,91 47,4
Polio 1 95 7,91 47,4
DPT/HB (1) 95 7,91 47,4
Polio 2 90 7,5 45
DPT/HB (2) 95 7,91 47,4
Polio 3 90 7,5 45
DPT/HB (3) 90 7,5 45
Polio 4 90 7,5 45
Campak 90 7,5 45
Sumber : Tata Usaha Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih

Tabel 1.15 Cakupan Peserta Imunisasi BCG di Wilayah Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah Bayi
Baru lahir
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka
Putih Timur
502 95% 47,4% 455 90,63%
Cempaka
Putih Barat
590 95% 47,4% 176

29,83%
Rawasari
Total
225
1317
95%
95%
47,4%
47,4%
51
682
22,67%
51,78%
Berdasarkan tabel 1.16 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi BCG Di Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014 adalah 51,78 %, dimana target selama 6 bulan 47,4% dengan jumlah
sasaran sebanyak 1317 bayi.




44

Tabel 1.16 Cakupan Peserta Imunisasi DPT/HB (1) di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka
Putih Timur
516

95% 47,4% 242 46,89%
Cempaka
Putih Barat
608

95% 47,4% 214 35,19%
Rawasari
Total
253
1377
95%
95%
47,4%
47,4%
59
515
23,32%
37,40%
Berdasarkan tabel 1.17 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi DPT-HB1 Di Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014 adalah 37,40% , dimana target selama 6 bulan 47,4% dengan
jumlah sasaran sebanyak 1377 bayi

Tabel 1.17 Cakupan Peserta Imunisasi DPT/HB (2) di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka
Putih Timur
516

95% 47,4% 256

49,61%
Cempaka
Putih Barat
608

95% 47,4% 250 41,11%
Rawasari
Total
253
1377
95%
95%
47,4%
47,4%
98
604
38,73%
43,86%
Berdasarkan tabel 1.18 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi DPT-HB2 Di Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014 adalah 43,86% , dimana target selama 6 bulan 47,4% dengan
jumlah sasaran sebanyak 1377 bayi



45

Tabel 1. 18 Cakupan Peserta Imunisasi DPT/HB (3) di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka
Putih Timur
516

90% 45% 205 39,72%
Cempaka
Putih Barat
608

90% 45% 288 47,36%
Rawasari
Total
253
1377
90%
90%
45%
45%
67
560
26,48%
40,66%
Berdasarkan tabel 1.19 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi DPT-HB3 Di Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014 adalah 40,66 %, dimana target selama 6 bulan 45% dengan
jumlah sasaran sebanyak 1377 bayi

Tabel 1.19 Cakupan Peserta Imunisasi Polio 1 di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah Bayi
Baru lahir
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi

Cempaka
Putih Timur
502

95% 47,4% 490 97,60%
Cempaka
Putih Barat
590

95% 47,4% 170 28,81%
Rawasari
Total
225
1317
95%
95%
47,4%
47,4%
53
713
23,55%
54,13%
Berdasarkan tabel 1.20 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 1 Di Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014 adalah 54,13%, dimana target selama 6 bulan 47,4% dengan
jumlah sasaran sebanyak 1317 bayi





46

Tabel 1.20 Cakupan Peserta Imunisasi Polio 2 di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunisasi
Cempaka Putih
Timur
516 90 45 438 84,8
Cempaka Putih
Barat
608 90 45 224 36,8
Rawasari 253 90 45 64 25,2
Total 1377 90 45 726 52,7
Berdasarkan tabel 1.8 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 2 Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014 adalah 52,7% dimana target selama 6 bulan 45 % dengan jumlah
sasaran sebanyak 1377 bayi

Tabel 1.21 Cakupan Peserta Imunisasi Polio 3 di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunisasi
Cempaka Putih
Timur
516 90 45 370 71,7
Cempaka Putih
Barat
608 90 45 212 34,8
Rawasari 253 90 45 71 28
Total 1377 90 45 653 47,4
Berdasarkan tabel 1.8 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 3 Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014 adalah 47,4 %, dimana target selama 6 bulan 45 % dengan jumlah
sasaran sebanyak 1377 bayi





47

Tabel 1.22 Cakupan Peserta Imunisasi Polio 4 di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka Putih
Timur
516 90 45 371 71,8
Cempaka Putih
Barat
608 90 45 195 32
Rawasari 253 90 45 81 32
Total 1377 90 45 647 46,9
Berdasarkan tabel 1.8 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Polio 4 Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014 adalah 46,9 %, dimana target selama 6 bulan 45 % dengan jumlah
sasaran sebanyak 1377 bayi
Tabel 1.23 Cakupan Peserta Imunisasi Campak di Wilayah Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah
Surviving
Infant (Bayi)
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka Putih
Timur
516 90 45 401 77,7
Cempaka Putih
Barat
608 90 45 179 29,4
Rawasari 253 90 45 102 40,3
Total 1377 90 45 682 49,5
Berdasarkan tabel 1.8 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi Campak Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014 adalah 49,5 %, dimana target selama 6 bulan 45 % dengan jumlah
sasaran sebanyak 1377 bayi.





48

Tabel 1.24 Cakupan Peserta Imunisasi HB0 di Wilayah Puskesmas Kecamatan Cempaka
Putih Periode Januari Juni 2014
Nama
Puskesmas
Kelurahan
Jumlah Bayi
Baru lahir
% Target 1
Tahun
% Target
Bayi yang
diimunisasi
Januari s/d
Juni
Januari s/d Juni
Jumlah bayi
yang
diimunisasi
% Bayi yang
diimunnisasi
Cempaka Putih
Timur
502 75 37,5 242 48
Cempaka Putih
Barat
590 75 37,5 110 18,6
Rawasari 225 75 37,5 65 28,8
Total 1317 75 37,5 417 31,6
Berdasarkan tabel 1.8 didapatkan bahwa Peserta Imunisasi HB0 Kecamatan Cempaka Putih
Periode Januari Juni 2014 adalah 31,6 %, dimana target selama 6 bulan 37,5 % dengan jumlah
sasaran sebanyak 1317 bayi
Tabel 1.25 Drop Out Imunisasi DPT/HB Campak Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih
Periode 2013
DO DPT/HB Campak
Kumulatif s/d
Desember (%)
-1 5 -59 -9
DO DPT/HB Campak
Kumulatif s/d
November (%)
0 5 -60 -9
Trend
DESA/KELURAHAN
CEMPAKA
PUTIH
TIMUR
CEMPAKA
PUTIH
BARAT
RAWASARI PUSKESMAS
1 2 3


1.2. Identifikasi Masalah
Sasaran program imunisasi dasar adalah bayi baru lahir dan bayi lahir hidup.Sasaran
lainnya adalah kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi tertular penyakit.
Setelah didapatkan identifikasi masalah dari program Imunisasi dasar di Puskesmas
Kecamatan Cempaka Putih maka dengan cara menghitung dan membandingkan nilai
kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed)
akan dipilih dua masalah yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Selanjutnya
49

dilakukan perumusan masalah untuk membuat perencanaan yang baik sehingga masalah
yang ada dapat diselesaikan.
Dari berbagai hasil pencapaian program kegiatan imunisasi dasar bayi yang
dievaluasi di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih periode Januari Juni 2014 maka
didapatkan identifikasi masalah sebagai berikut:
1. Cakupan imunisasi BCG pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 90,63 %
2. Cakupan imunisasi BCG pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 29,83 %
3. Cakupan imunisasi BCG pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 22,67 %
4. Cakupan imunisasi DPT/HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 46,89%
5. Cakupan imunisasi DPT/HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 35,19%
6. Cakupan imunisasi DPT/HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 23,32 %
7. Cakupan imunisasi DPT/HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 49,61%
8. Cakupan imunisasi DPT/HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 41,11%
9. Cakupan imunisasi DPT/HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 38,73%
10. Cakupan imunisasi DPT/HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 39,72 %
11. Cakupan imunisasi DPT/HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 47,36%
12. Cakupan imunisasi DPT/HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 26,48 %
13. Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 97,60 %
50

14. Cakupan imunisasi Polio I pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 28,81 %
15. Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 23,51 %
16. Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 84,8 %
17. Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 36,8 %
18. Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 25,2 %
19. Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 71,7 %
20. Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 34,8 %
21. Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 28 %
22. Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 71,8 %
23. Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 32 %
24. Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 32 %
25. Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 48 %
26. Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 14,6 %
27. Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 28,8 %
28. Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 77,7 %
51

29. Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 29,4 %
30. Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 40,3 %

1.3. Rumusan Masalah
Setelah didapatkan identifikasi masalah dari program Imunisasi dasar di Puskesmas
Kecamatan Cempaka Putih maka dengan cara menghitung dan membandingkan nilai
kesenjangan antara apa yang diharapkan (expected) dengan apa yang telah terjadi (observed)
akan dipilih dua masalah yang menjadi prioritas utama untuk diselesaikan. Selanjutnya
dilakukan perumusan masalah untuk membuat perencanaan yang baik sehingga masalah
yang ada dapat diselesaikan. Rumusan masalah meliputi 4 W 1 H (What, Where, When,
Whose, How much) Rumusan masalah dari program imunisasi dasar
Puskesmas adalah sebagai berikut :
1. Cakupan imunisasi BCG pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 90,63 % lebih tinggi dari
target 47,4%
2. Cakupan imunisasi BCG pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 29,83 % lebih rendah dari
target 47,4%
3. Cakupan imunisasi BCG pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 22,67 % lebih rendah dari target 47,4%
4. Cakupan imunisasi DPT/HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 46,87% lebih
rendah dari target 47,4%
5. Cakupan imunisasi DPT/HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 35,19 % lebih
rendah dari target 47,4%
6. Cakupan imunisasi DPT/HB 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 23,32% lebih rendah dari
target 47,4%
52

7. Cakupan imunisasi DPT/HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 49,61% lebih
tinggi dari target 47,4%
8. Cakupan imunisasi DPT/HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 41,11% lebih
renddah dari target 47,4%
9. Cakupan imunisasi DPT/HB 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 38,73% lebih rendah dari
target 47,4%
10. Cakupan imunisasi DPT/HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 39,72% lebih
rendah dari target 45%
11. Cakupan imunisasi DPT/HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 47,36% lebih
tinggi dari target 45%
12. Cakupan imunisasi DPT/HB 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas
Kelurahan Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 26,48 % lebih tinggi dari
target 45%
13. Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 97,60 % lebih tinggi dari
target 47,4%
14. Cakupan imunisasi Polio I pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 28,81 % lebih rendah dari
target 47,4%
15. Cakupan imunisasi Polio 1 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 23,51 % lebih rendah dari target
47,4%
16. Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 84,8 %, lebih tinggi dari
target 45%
53

17. Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 36,8 %, lebih rendah dari
target sebesar 45 %
18. Cakupan imunisasi Polio 2 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 25,2 %, lebih rendah dari target
sebesar 45 %
19. Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 71,7 %, lebih tinggi dari
target 45%
20. Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 34,8 %, lebih rendah dari
target sebesar 45 %
21. Cakupan imunisasi Polio 3 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 28 %, lebih rendah dari target sebesar
45 %
22. Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 71,8 %, lebih tinggi dari
target sebesar 45%
23. Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 32 %, lebih rendah dari
target sebesar 45 %
24. Cakupan imunisasi Polio 4 pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 32 %, lebih rendah dari target sebesar
45 %
25. Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 48 %, lebih tinggi dari
target 37,5%
26. Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 14,6 %, lebih rendah dari
target sebesar 37,5 %
54

27. Cakupan imunisasi HB0 pada bayi baru lahir di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 28,8 %, lebih rendah dari target
sebesar 37,5 %
28. Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Timur periode Januari Juni 2014 sebesar 77,7 %, lebih tinggi dari
target sebesar 45%
29. Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Cempaka Putih Barat periode Januari Juni 2014 sebesar 29,4 %, lebih rendah dari
target sebesar 45 %
30. Cakupan imunisasi Campak pada surviving infant di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Rawasari periode Januari Juni 2014 sebesar 40,3 %, lebih rendah dari target
sebesar 45 %