Anda di halaman 1dari 16

Alat Analisis Pemodelan Optimasi Guna Lahan Untuk Pengendalian Banjir

Perkotaan
Pemodelan optimasi guna lahan yang mencakup 2 (dua) model yaitu model
spasial dan model hidrologi, tentunya membutuhkan alat analisis (tools) untuk
menjalankan simulasinya sehingga menghasilkan output yang diharapkan. Model
spasial dan model hidrologi adalah dua model yang berbeda dalam proses
analisisnya.
Model spasial adalah model yang menganalisis keruangan (wilayah, kawasan
atau zonasi). Analisis keruangan tersebut seperti melakukan tumpang susun
beberapa peta untuk mendapatkan inormasi baru. !elain itu juga dapat berupa
penentuan zonasi atau batasan kawasan tertentu, misalnya menentukan batasan
radius bahaya letusan gunung berapi, atau dapat juga menentukan "A!. Alat
analisis untuk model spasial diantaranya Arc #no, Map #no, $lobal Mapper, Arc %iew
$#! dan lainnya. &ntuk model spasial dalam pemodelan optimasi guna lahan lebih
cocok dengan menggunakan alat analisis Arc $#!, dikarenakan Arc $#! merupakan
alat analisis yang di dalamnya mencakup ungsi analisis khusus spasial (spatial
analyst), dengan kemampuan tumpang susun dan kompleksitas data yang dapat
dianalisis dengan cepat dan mudah untuk merubah input data. "alam penelitian ini,
ungsi tumpang susun adalah untuk mengidenti'kasi data spasial kawasan rawan
banjir dan kawasan peruntukkan lahan dengan menggunakan data dasar
karakteristik 'sik alam.
Model hidrologi merupakan model yang menganalisis hitungan matematis yang
ada dalam suatu ruang. Alat analisis untuk model hidrologi diantaranya ()*+(M!,
,in -.+//, !M!, )panet, ()*+.A! dan lainnya. &ntuk model hidrologi dalam
pemodelan optimasi guna lahan untuk pengendalian banjir menggunakan 2 (dua)
alat analisis yaitu ()*+(M! dan ()*+.A!, dikarenakan keduanya merupakan tools
yang saling berhubungan sehingga proses input datanya lebih mudah, dimana hasil
dari ()*+(M! menjadi input data untuk ()*+.A!. Program ()*+(M! digunakan
manakala suatu "A! memiliki luasan yang lebih dari 011 hektar, karena apabila
luasanya kurang dari 011 hektar masih dapat menggunakan rumus rasional
23*.#.A. !ecara sederhana dapat dikatakan bahwa ()*+(M! digunakan untuk
menghitung debit banjir pada suatu "A! dengan guna lahan yang ada, sedangkan
()*+.A! digunakan untuk menghitung kapasitas tampung sungai atas debit banjir
yang dihasilkan guna lahan tersebut.
2.4.1.GIS Geographic Information System!
"ata yang dapat diolah dengan Arc $#! adalah data spasial. "ata spasial
terdiri atas tiga bagian yaitu titik (point), garis (line),dan area (polygon). *ontoh
data bentuk point berupa simbol lokasi asilitas, bentuk line berupa jalan, sungai,
batas administrasi, dll. !edangkan bentuk poligon berupa area luasan guna lahan
seperti hutan, permukiman, industri, dll. "ata spasial mempunyai dua bagian
penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu inormasi lokasi dan
inormasi atribut. #normasi lokasi contohnya adalah inormasi lintang dan bujur.
!edangkan inormasi deskripti (atribut) atau inormasi non spasial contohnya
adalah contohnya jenis 4egetasi, populasi, pendapatan pertahun, dan lainnya.
!alah satu kemampuan Arc $#! adalah dalam hal tumpang susun data spasial
(peta). "ari beberapa peta tematik digabungkan untuk mendapatkan peta baru
dengan inormasi yang baru sesuai dengan yang diharapkan dari analisisnya. (asil
dari tumpang susun peta tersebut mencakup dua inormasi baru yaitu inormasi
gambar dan inormasi data deskripti. $ambaran proses tumpang susun dapat
dilihat pada gambar berikut.
GA"BA# 2.$ P#OS%S &U"PA'G SUSU' OVERLAY! (ALA" GIS
(Sumber: ESRI 1997)
2.4.2.)%*+)"S Hydrologic Engineering Center Hydrologic odeling
System!
()*+(M! merupakan program yang digunakan untuk simulasi limpasan
permukaan dalam suatu "A!. Model ini merupakan model hidrologi numerik yang
dikembangkan oleh Hydrologic Engineering Centre (HEC) dari US rmy Corps !"
Engineers. !alah satu ungsi utama model ini adalah dapat digunakan untuk
menghitung 4olume limpasan permukaan. (idrogra satuan yang dihasilkan dapat
digunakan langsung ataupun digabungkan dengan so"t#are lain yang digunakan
dalam ketersediaan air, drainase perkotaan, ramalan dampak urbanisasi, desain
pelimpah, pengurangan kerusakan banjir, regulasi penanganan banjir, dan sistem
operasi hidrologi. ()*+(M! didesain untuk dapat digunakan pada suatu "A! yang
sangat luas sehingga dapat menyelesaikan masalah, seperti suplai air daerah
pengaliran sungai, hidrologi banjir dan limpasan air di daerah kota kecil, ataupun
kawasan tangkapan air alami. (()*+(M! &ser5s Manual, 2101).
Program ()*+(M! terdiri dari 6 (tiga) komponen yaitu model basin (model
daerah tangkapan air), model hidrologi dan kontrol spesi'kasi. 7eluaran model ini
didapat berupa hidrogra limpasan dalam suatu sistem hidrologi "A! yang
dilengkapi dengan hidrogra limpasan pada setiap !ub+"A! pada sistem hidrologi.
Model ()* 8 (M! dapat memberikan simulasi hidrologi dari puncak aliran
harian untuk perhitungan debit banjir rencana dari suatu "A!. Model ()*+(M!
mengemas berbagai macam metode yang digunakan dalam analisa hidrologi.
"alam pengoperasiannya menggunakan basis sistem windows, sehingga model ini
menjadi mudah dipelajari dan mudah untuk digunakan, tetapi tetap dilakukan
dengan pendalaman dan pemahaman dengan model yang digunakan.
!edangkan untuk menyelesaikan analisis hidrologi, digunakan hidrogra
satuan sintetik dari !*! (Soil Conser$ation Ser$ice) dengan menganalisa beberapa
parameternya. Metode ini memberikan 4ariasi komponen bio'sik terlengkap, karena
merupakan ungsi dari bilangan kur4a atau cur4e number (*9) yang ditentukan
berdasarkan kelompok hidrologi tanah, penggunaan lahan dan kondisi pengelolaan
lahan tersebut. "isisi lain permasalahan banjir merupakan permasalahan yang
komplek sehingga diperlukan metoda yang mempunyai keragaman 4ariasi
komponen bio'sik. Metode !*! merupakan metode yang dikembangkan oleh "inas
7onser4asi -anah Amerika !erikat (&! !*!, 0:;6) dan digunakan untuk menentukan
laju puncak aliran permukaan terhadap curah yang seragam.
Adapun langkah+langkah dalam analisis debit banjir rencana (2) suatu kawasan
adalah sebagai berikut< (()*+(M! &ser5s Manual, 2101)
a. Menentukan daerah tangkapan air (model basin)
Menentukan batasan DAS beserta luasnya
Menentukan proses kehilangan air (sub basin loss)
Transformasi hidrograf satuan limpasan (sub basin transform)
Menentukan proses aliran dasar (sub basin baseflow)
b. Menentukan model data curah hujan (meteorologic model)
Menentukan luas pengaruh daerah stasiun hujan.
Menentukan curah hujan maksimum tiap tahunnya dari data curah hujan yang ada.
Menganalisis curah hujan rencana dengan periode ulang T tahun.
Menghitung debit banjir rencana berdasarkan besarnya curah hujan rencana di atas pada
periode ulang T tahun.
c. Konfigurasi eksekusi data (run configuration)
Penyatuan basin model dan meteorologic model untuk dapat mengeksekusi
(running) model sehingga didapatkan debit banjir untuk periode ulang 2+011
tahunan.
2.4.,.)%*+#AS Hydrologic Engineering Center Ri!er Analysis System"
()*+.A! merupakan program aplikasi untuk memodelkan aliran di sungai,
yang dibuat oleh Hydrologic Engineering Center (HEC) yang merupakan satu di4isi
di dalam Institute "or %ater Resources (I%R), di bawah US rmy Corps o" Engineers
(USCE). Program ()*+.A! didalamnya terintegrasi analisa hidrolika, dimana
pengguna program dapat berinteraksi dengan sistem menggunakan ungsi
&rap'ical User Inter"ace (&UI).
!tudi tentang bencana banjir di sebagian besar negara menggunakan
integrasi model hidrolik ()*+.A! dan !#$ untuk memberikan hasil yang
representati dari keadaan sebenarnya di lapangan. Program ()*+.A! dapat
menunjukkan perhitungan pro'l permukaan aliran permanen (steady), termasuk
juga aliran tak permanen (unsteady), pergerakan sedimen dan beberapa hitungan
desain hidrolika. "alam terminologi ()*+.A!, sebuah pengaturan 'le data akan
berhubungan dengan sistem sungai. "ata 'le dapat dikategorikan plan data,
geometric data, steady(o# data, unsteady (o# data, sediment data dan 'idralic
design data. (()*+.A! &ser5s Manual, 2101). =agan alir model hidrolika ()*+.A!
dapat dilihat pada $ambar 2.; berikut ini.
GA"BA# 2.-
BAGA' ALI# "O(%L )I(#OLI.A )%*+#AS
(Sumber: Risyanto)*++7)
#nisiasi Program
"ata $eometri
!ungai
"ata Aliran
Air !ungai Penampang 7ontrol Aliran
Plan Aliran Plan $eometri
(idrogra -ampilan (asil -abel "ebit
#nterpretasi (asil
Running HEC,RS
Input data
Program ()*+.A! berkemampuan untuk melakukan simulasi mengenai (a)
model aliran steady (permanen)> (b) model aliran unsteady (tak permanen)> (c)
sedimentasi> (d) analisis kualitas air sungai.
2.1 Optimasi Guna Lahan dengan )%*+)"S (an )%*+#AS
Perhitungan debit banjir (2) pada suatu "A! dapat dilakukan dengan
menggunakan alat analisis (tools) ()*+(M!. Pentingnya perhitungan debit banjir
(2) adalah untuk mengetahui seberapa besar aliran permukaan ketika terjadi hujan
pada suatu "A!. %ariabel yang berpengaruh dalam perhitungan debit banjir adalah
sebagai berikut>
uas masing!masing sub sub!DAS"
#anjang anak sungai ke outlet"
Kelerengan masing!masing sub sub!DAS"
$enis dan luasan guna lahan pada masing!masing sub sub!DAS"
Klasifikasi jenis tanah menurut %S& (Hydrologic Soil Group)
'ntensitas hujan rata!rata tahunan
"ebit banjir (2) yang dihasilkan suatu guna lahan "A! tidak semuanya dapat
ditampung oleh sungai atau drainase. 7elebihan dari debit yang tidak tertampung
tersebut pada akhirnya menjadi banjir. &ntuk dapat mengetahui apakah kapasitas
sungai dapat menampung debit banjir (2) atau tidak, maka diperlukan tools ()*+
.A! untuk menghitung dengan cepat.
Proses perhitungan dengan ()*+.A! memerlukan titik penampang sungai di
tiap+tiap pertemuan (-unction) anak sungai dengan sungai utama. 7etika kapasitas
sungai masih bisa menampung, maka le4el permukaan air tidak melebihi bibir
tanggul sungai. Apabila kapasitas sungai tidak lagi dapat menampung seluruh debit
banjir (2), maka air sungai akan meluap dan menggenangi kawasan pinggiran
sungai yang memiliki ketinggian kawasan rendah.
"alam pemodelan optimasi guna lahan untuk pengendalian banjir perkotaan
yang akan disusun, memanaatkan kedua alat analisis (tools) diatas untuk
mempermudah analisisnya. 7etika pada suatu wilayah studi memiliki guna lahan
tertentu dan menghasilkan debit banjir (2) yang sudah tidak tertampung lagi oleh
sungai, maka pemodelan ini dapat digunakan untuk merekayasa guna lahan melalui
proses kon4ersi lahan yang ada untuk mengecilkan nilai limpasan permukaan.
7on4ersi guna lahan tentunya tidak bisa dilakukan tanpa pedoman atau acuan yang
dapat dipertanggungjawabkan, sehingga menggunakan pertimbangan kawasan
rawan banjir dan peruntukkan lahan. &ntuk lebih mudah memahami alur model
yang akan disusun, maka dapat dilihat pada $ambar 2.? berikut ini.
GA"BA# 2./
"ebit =anjir (2) 7apasitas !ungai
.ertimbangan /on$ersi la'an
()*+.A!
7awasan rawan
banjir
Peruntukan
@ahan
"imensi Penampang

Arahan 7ebijakan
dan Program
Prioritas
Penanganan
$una @ahan
)ksisting
$una @ahan
.ekayasa
()*+(M!
Menampun
g
-idak
menampun
g
(AS
(AS
BAGA' ALI# .O'S%P "O(%L
"ari $ambar 2.: diatas dapat dijelaskan bahwa pada suatu "A! selalu tidak
terlepas dari pengaruh guna lahan. 7etika terjadi hujan, maka guna lahan saat ini
akan menghasilkan 4olume debit banjir (2) sebesar tertentu. %olume tersebut
kemungkinan masih dapat ditampung oleh kapasitas sungai, bisa juga tidak
(meluap). 7etika debit banjir tersebut tertampung, maka tidak timbul masalah
banjir. 9amun ketika kapasitas sungai tak lagi dapat menampung, maka yang
terjadi adalah banjir.
!ehingga dapat dikatakan bahwa proporsi guna lahan eksisting yang ada,
menghasilkan debit banjir (2) yang lebih besar daripada kapasitas sungai atau
drainase yang ada. (al yang perlu dilakukan sebagai solusi pencegahan adalah
mengubah kondisi guna lahan melalui kon4ersi guna lahan eksisting untuk
mengurangi debit banjir (2). Proses kon4ersi tersebut mempertimbangkan aspek
kawasan rawan banjir dan peruntukkan lahan sebagai masukan.
"%&O(OLOGI P%'%LI&IA'
1. Tahapan Pemodelan
Pemodelan dikembangkan dengan mensinergikan 6 (tiga) model yaitu model
penentuan kawasan rawan banjir, model penentuan peruntukkan lahan, dan model
hidrologi untuk penentuan optimasi lahan. Pengembangan model dilakukan dengan
tahapan yang berurutan.
&ntuk mengetahui alur proses pemodelan dalam penelitian, maka disusun
masing+masing kerangka model yang kemudian disatukan sesuai dengan
keterkaitannya satu sama lain. Alur proses pemodelan optimasi guna lahan dapat
dilihat pada $ambar 6.0 berikut ini.
GA"BA# ,.1
Pemodelan Optimasi Guna Lahan Untuk Pengendalian Banjir Perkotaan
!koring A
Pembobotan
#eta Ketinggian
#eta Kelerengan
#eta (urah %ujan
)ona *a+an
uapan
$enis Tanah
&una ahan
#eta Kelerengan
#eta $enis Tanah
#eta (urah %ujan
-umpang susun
A Penjumlahan
"ebit banjir
lapangan
GU'A LA)A'
OP&I"AL
7apasitas sungai
P%#U'&U..A'
LA)A'
"O(%L
P%'%'&UA'
.A0ASA' BA'1I#
"O(%L
P%'%'&UA'
.A0ASA' BA'1I#
"O(%L
P%#U'&U..A'
LA)A'
"O(%L
P%#U'&U..A'
LA)A'
!koring
A
Pembobotan
-umpang susun
A
Penjumlahan
)4alua
si
"ata Bisik "A!
$una @ahan
*urah (ujan
$eometri !ungai
"O(%L )I(#OLOGI
"O(%L )I(#OLOGI
-ak
sesuai
Perhitunga
n
de2it 2anjir
3!
Perhitungan
.apasitas
sungai
Melua
p
Menampun
g
#eka4asa
-ak
sesuai
.A0ASA' #A0A'
BA'1I#
)4alua
si
1.1. "odel Penentuan .a5asan #a5an Banjir
Model penentuan kawasan rawan banjir dikembangkan untuk
mengidenti'kasi aktor dominan penyebab banjir secara umum. =esaran pengaruh
masing+masing aktor dinyatakan dalam bentuk angka desimal dengan total jumlah
0. Adapun alur metodologi pengembangan model dapat digambarkan dalam
$ambar 6.2 7erangka Model Penentuan 7awasan .awan =anjir berikut ini.
GA"BA# ,.2
.%#A'G.A "O(%L P%'%'&UA' .A0ASA' #A0A' BA'1I#
.eterangan 6
#nput
Proses
Cutput
%alidasi
7etinggian
7awasan
sangat
rawan
7awasan
.awan
7awasan
Menengah
7awasan
Aman
7awasan
sangat
aman
7awasan
sangat
rawan
7awasan
.awan
7awasan
Menengah
7awasan
Aman
7awasan
sangat
aman
Aplikasi
,ilayah
!tudi
"odel
7Penentuan
.a5asan
#a5an
Banjir8
"odel
7Penentuan
.a5asan
#a5an
Banjir8
)4alua
si
Skoring 9
Pem2o2otan
7elerengan
*urah
(ujan
$una
@ahan
Dona rawan
luapan
Eenis -anah
Skoring 9
Pem2o2otan
Skoring 9
Pem2o2otan
Skoring 9
Pem2o2otan
Skoring 9
Pem2o2otan
Skoring 9
Pem2o2otan
Aplikasi
!#$
Model
4alid
-ak
sesuai
!esuai
a. 7omponen lahan utama yang dipertimbangkan adalah bentuk lahan dan
penggunaan lahan. #denti'kasi karaktertistik biogeo'sik bentuk lahan didasarkan
pada kelas ketinggian, kelerengan, curah hujan, Dona rawan luapan, dan jenis
tanah.
b. Pemetaan dilakukan melalui teknik tumpang susun peta+peta tematik komponen
lahan utama dengan !#$.
c. 7elas kerentanan banjir pada suatu kawasan dihasilkan melalui proses penilaian
total skor dari ke+F aktor, dimana total skor dengan rata+rata / adalah kawasan
yang paling rawan, sedangkan rata+rata skor 0 adalah kawasan paling aman.
d. Cutput yang dihasilkan dari analisis ini adalah (0) Baktor+aktor pendorong banjir
dan besarnya pengaruh dalam menentukan kerawanan banjir (2) peta sebaran
dan kelas rawan banjir berdasarkan karakteristik geo'sik komponen lahan utama
dan (2) tabel luasan masing+masing kelas rawan banjir.
1.2. "odel Penentuan Peruntukan Lahan
Model penentuan peruntukan lahan yang digunakan adalah model baku yang
sudah ada (gi$en), yaitu model penentuan peruntukkan lahan dari S0 1enteri
.ertanian 2omor 34750pts5Um5115193+6 Peruntukkan lahan tersebut
mempertimbangkan aspek 'sik alam sebagai aktor utama untuk
merekomendasikan arahan pemanaatan lahan pada suatu kawasan.
Adapun alur metodologi penentuan peruntukkan lahan adalah sebagai berikut>
a. Analisis peruntukkan lahan mencakup aktor kelerengan lahan, jenis tanah dan
intensitas hujan.
! Peruntukkan lahan terbagi menjadi dua kawasan yaitu kawasan budidaya dan
kawasan lindung.
! Masing+masing peta tematik (kelerengan, jenis tanah, dan curah hujan)
ditentukan nilai skor per kawasan. 7emudian dilakukan proses tumpang
susun untuk menentukan jumlah nilai skornya. Apabila jumlah nilai skornya G
0;/,maka kawasan tersebut masuk ke dalam kriteria kawasan hutan lindung.
!kor 02/ 8 0;/ merupakan peruntukan lahan konser4asi atau cadangan
hutan lindung. !edangkan total skor H 02/ merupakan peruntukan kawasan
budidaya.
! Cutput yang dihasilkan dari analisis ini adalah peruntukkan lahan yang
digunakan untuk mengetahui guna lahan eksisting yang tidak sesuai,
sehingga dipertimbangkan sebagai kawasan yang akan dilakukan kon4ersi.
$ambar 6.2 berikut ini memperlihatkan alur penentuan peruntukkan lahan.
GA"BA# ,.,
.%#A'G.A "O(%L P%'%'&UA' P%#U'&U..A' LA)A'
1.,. "odel )idrologi Untuk "engkaji Pengaruh Guna Lahan
&erhadap .erentanan Banjir
Pengaruh guna lahan dinyatakan dalam nilai koe'sien limpasan permukaan
dengan ketentuan H 1./ atau H/1I merupakan kategori limpasan permukaan
kecil, sedangkan J1./ atau J /1I adalah kategori nilai limpasan permukaan besar.
Penggunaan nilai limpasan permukaan tersebut diuji dalam perhitungan nilai debit
(2) suatu "A!, sehingga debit yang dihasilkan adalah sesuai dengan keadaan di
lapangan. Adapun alur metodologi kajian penggunaan lahan pada kawasan rawan
banjir adalah sebagai berikut.
a. "ampak penggunaan lahan eksisting terhadap potensi banjir suatu wilayah
dilihat dari nilai debit yang dihasilkan oleh proporsi guna lahan yang ada,
dengan input data kelerengan, jenis tanah, panjang sungai dan intensitas
hujan rata+rata.
7elerengan
7awasan
=udiday
a
7awasan
@indung
"odel
7Penentuan
Peruntukkan
lahan8
#ntensitas
(ujan
Eenis -anah
Aplikasi
!#$
!kor Atribut 3
01+011
(budidaya+lindung)
!kor Atribut 3
01+011
(budidaya+lindung)
!kor Atribut 3
01+011
(budidaya+lindung)
b. "ebit banjir suatu guna lahan "A! dapat diperoleh dari hasil analisis
hidrologi. Baktor penggunaan lahan memiliki peran penting dalam
perhitungan analisis hidrologi, termasuk untuk menghitung koe'sien
limpasan permukaan (*).
c. Menghitung debit puncak (2) masing+masing sub sub+"A! 7arangmumus
dengan menggunakan bantuan program ()*+(M! (Hydrologic Engineering
Centre 7 Hydrologic 1odeling System)
d. Cutput yang dihasilkan dari analisis ini adalah (0) debit banjir yang
didasarkan pada besaran koe'sien aliran permukaan dan (2) koe'sien
lapangan (wilayah studi) yang menjadi input dalam model.
0.K. Optimasi Guna Lahan Untuk Pengendalian Banjir
Proporsi guna lahan yang optimal dapat meminimalisir banjir yang terjadi.
Cptimalisasi lahan tersebut dapat dilakukan dengan mengaplikasikan so"t#are ()*+
.A! (Hydrologic Engineering Centre 7 Ri$er nalyst System) sebagai alat untuk
mempermudah prosesnya. Adapun alur kajian proporsi bentuk penggunaan lahan
yang optimal untuk pengendalian banjir adalah sebagai berikut>
a. Mengkaji nilai debit (2) yang dihasilkan oleh guna lahan eksisting.
b. Mengidenti'kasi kapasitas sungai, apakah kapasitasnya dapat menampung
debit banjir yang dihasilkan oleh guna lahan eksisting.
c. Merekayasa proporsi guna lahan agar debit yang dihasilkan tidak lebih atau
sama dengan kapasitas penampung banjir yang ada.
d. #denti'kasi lahan yang perlu dikon4ersi ke bentuk guna lahan yang memiliki
nilai limpasan permukaan kecil jika memungkinkan dengan
mempertimbangkan kawasan rawan banjir dan arahan peruntukkan lahan.
e. (asil yang ingin dicapai berupa optimasi guna lahan yaitu dengan
diketahuinya proporsi masing+masing jenis penggunaan lahan secara optimal
untuk pengendalian banjir. 7on4ersi lahan untuk menekan debit banjir
tersebut mempertimbangkan peruntukkan lahan, sehingga dapat diketahui
pula apakah peruntukkan lahan yang ideal sesuai kemampuan 'sik alam
dapat mengendalikan banjir.
2. Kebutuhan Data Model
2.1. Teknik Survei
!ur4ei dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam proses
analisis dan 4alidasi. Pengumpulan data untuk analisis lebih bersiat pada data
skunder, sedangkan data primer lebih bersiat sebagai alat untuk 4alidasi (cross
c'ec/) antara data skunder dengan kondisi sebenarnya. !ecara tekniknya, sur4ei
dibagi menjadi sur4ei primer dan sur4ei skunder.
a. Sur,ai primer
!ur4ei primer dilakukan dengan obser4asi 4isual, meliputi pengambilan
gambar oto pada lokasi objek studi yang meliputi oto kondisi sungai, "A!, !ub+
"A!, kondisi 'sik lahan dan pemanaatan lahan yang ada. !elain secara 4isual
juga pengambilan titik lokasi banjir dengan $P! sebagai bahan untuk e4aluasi.
b. Sur,ei Sekunder
!ur4ei sekunder meliputi pengumpulan data berupa literatur melalui instansi+
instansi yang terkait dengan aktor banjir, yaitu =APP)"A. Adapun data yang
dibutuhkan meliputi peta dan deskripsi mengenai pemanaatan lahan yang ada di
7ota !amarinda.
2.2. Data Spasial dan Non-Spasial
&ntuk mempermudah pengumpulan data, maka disusun -abel ###.0, baik data
spasial maupun non+spasial. -ujuan dari dibuatnya tabel kebutuhan data adalah
agar data yang didapatkan lebih terstruktur dan sistematis sehingga sesuai
dengan yang diharapkan dan dapat dipergunakan untuk input analisis. !elain itu
juga untuk mempermudah identi'kasi data manakala terjadi kekurangan data
(data yang dicari tidak tersedia). 7ekurangan data yang ada dipenuhi dengan
menganalisis sendiri untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, dengan
memperhatikan kondisi lapangan.
&AB%L III.1
.%BU&U)A' (A&A
'O U#AIA' :A#IAB%L A&#IBU& 1%'IS (A&A SU"B%#
1 ;isik (asar Lahan
'dentifikasi
kondisi fisik
dasar lahan
-opogra'
(kelerengan)
Datar
andai
Agak curam
(uram
Sangat curam
#eta
Deskripsi
-A##.DA
7limatologi (curah
hujan)
/0111 mm2th
0111!3111 mm2th
43111 mm2th
Peta
"eskripsi
Eenis tanah Allu,ial
atosol
&rumosol
*egosol
#odsolik
#eta
Deskripsi
7ontur L
ketinggian
Titik ketinggian Peta
!ungai Di dalam buffer
Di luar buffer
#eta
"eskripsi
2 Penggunaan Lahan %ksisting
'dentifikasi
kondisi
penggunaan
lahan
$una lahan
eksisting (luas
lahan menurut
jenis
penggunaan)
#ermukiman
'ndustri
#ertanian
%utan
Tegalan
#ertambangan
Peta "eskripsi =APP)"A
2.3. Bahan Penelitian
=ahan penelitian berupa data peta dan angka yang digunakan yaitu>
a. *itra penginderaan jauh digital
*itraLoto udara ,ilayah digunakan untuk cross c'ec/ data sekunder yang ada.
"ata citra yang digunakan adalah kondisi terkini yang mampu
merepresentasikan keadaan eksisting.
b. Peta .upa =umi #ndonesia
Peta rupa bumi digunakan untuk identi'kasi peta dasar seperti morologi dan
geologi wilayah. "ata ele4asiLketinggian sangat diperlukan sebagai dasar
untuk pembuatan peta morologi wilayah.
c. Peta $una @ahan
Peta guna lahan merupakan data yang siatnya dinamis, karena terus
mengalami perkembangan sehingga keberadaanya harus selalu diperbarui.
7lasi'kasi guna lahan yang diperlukan sebagai input model adalah hutan,
tegalan, pertanian, pertambangan, industri dan permukiman (rumah+
pekarangan, pertokoan, perdagangan dan pariwisata).
d. "ata 'sik sungai, hujan, dan stasiun hujan
"ata 'sik sungai seperti jumlah sungai, panjang sungai, lebar sungai dan
waktu pasang surut sungai sangat diperlukan untuk analisis kebutuhan model.
!edangkan data hujan dan stasiun hujan diperlukan dalam analisis hidrologi
sebagai input untuk model matematis maupun spasial.
2.. !lat Penelitian
Alat utama yang digunakan adalah<
a. 7omputer yang mendukung, untuk proses pengolahan citra, digitasi, dan analisis
data dalam sistem inormasi geogra's dengan program rc&IS) HEC8H1S dan
HEC8RS6 rc&IS digunakan untuk model spasial yang mencakup data peta dan
tabel inormasinya, sedangkan HEC8H1S digunakan untuk analisis hidrologi
untuk menentukan pengaruh guna lahan dalam bentuk nilai limpasan
permukaan (koe'sien) dan selanjutnya menjadi input ()*+.A! untuk
menentukan kapasitas sungai terhadap debit (2) yang dihasilkan guna lahan6
b. $P! (&lobal .ositioning System) untuk cross c'ec/ data di lapangan mengambil
titik+titik koordinat lokasi banjir dan ketinggian kawasan sebagai e4aluasi model
jika terjadi ketidaksesuaian dengan lapangan.