Anda di halaman 1dari 77

MODEL PROPAGASI GELOMBANG

Ref :
Theodore S. Rapaport (wireless
Comumnication)
Adit Kurniawan, LTRGM ITB
Gunawan Wibisono, dkk (Konsep Teknologi
Seluler)
Roger L Freeman. Handbook Of Transmission
system

Propagasi gelombang radio atau gelombang elektromagnetik
pada umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor dalam bentuk
yang sangat kompleks.
1. Kondisi yang sangat bergantung pada keadaan cuaca
2. Fenomena luar angkasa yang tidak menentu

Makna inti dari propagasi suatu gelombang radio adalah
menyebarkan (transmisi) gelombang elektromagnitik di udara
bebas

Pemodelan saluran transmisi radio merupakan bagian tersulit
dalam desain komunikasi wireless, biasanya ditentukan secara
statistik dan didapat dari pengukuran. Hasil analisis model ini
kemudian diterapkan untuk alokasi spektrum yang diinginkan
pada komunikasi wireless
Bila kita deskripsikan, jenis-jenis gelombang yang ada dapat
dibedakan menjadi empat macam. Penjelasan untuk jenis
gelombang itu adalah sebagai berikut :
1. Gelombang terarah antara dua titik. Propagasi gelombang
yang demikian biasa disebut dengan propagasi segaris pandang
(line of sight).
2. Gelombang terpantul, yakni merupakan gelombang yang
datang setelah adanya pantulan pada suatu titik antara di
permukaan bumi.
3. Gelombang permukaan, yakni merupakan gelombang yang
merampat pada permukaan bumi mengikuti kelengkungan yang
ada.
4. Gelombang ionosferik atau gelombang langit merupakan
gelombang yang mengarah ke atas langit meninggalkan
pemancar kemudian bengkok karena ada lapisan konduksi dari
lapisan pada atmosfir yang lebih tinggi, setelah itu kembali ke
permukaan bumi.
Gelombang permukaan adalah gelombang yang
menjalar sepanjang permukaan bumi, sedangkan
gelombang ruang adalah gelombang yang menjalar
di atas permukaan bumi.
Gelombang radio yang menjalar dalam ruang
bebas mempunyai sedikit pengaruh terhadap
gelombang itu sendiri.
bila gelombang radio yang menjalar di bumi,
maka banyak pengaruh yang diakibatkan
terhadap gelombang itu.
Pengalaman menunjukkan bahwa masalah-
masalah yang dialami oleh gelombang radio
disebabkan oleh kondisi atmosfir tertentu yang
sangat kompleks.
Kondisi yang menyebabkan ini adalah sebagai
hasil dari berkurangnya tingkat keseragaman
udara atmosfir.
Lapisan ini adalah lapisan terpenting yang ada di angkasa
di atas permukaan bumi.
Lapisan ini sangat baik untuk medium komunikasi jarak
jauh dan komunikasi titik ke titik (point to point).
Keadaan ionosfir dan kondisinya berkaitan langsung
dengan radiasi yang dipancarkan oleh matahari,
pergerakan bumi terhadap matahari atau perubahan
aktivitas matahari akan menyebabkan berubahnya
ionosfir.
Perubahan itu secara umum ada dua jenis, yaitu (1)
kejadian siklus yang dapat diprediksikan secara akurat
dan rasional, (2) kejadian yang tidak teratur sebagai
hasil tidak normalnya matahari dan karena itu tidak
dapat diprediksikan.
Kedua perubahan yang teratur dan tidak teratur ini
membawa akibat dalam propagasi gelombang radio.
Ionosfir tersusun dari 3 (tiga) lapisan, mulai dari yang
terbawah yang disebut dengan lapisan D, E dan F. Sedangkan
lapisan F dibagi menjadi dua, yaitu lapisan F1 dan F2 (yang
lebih atas), seperti Gambar 2

Ada atau tidaknya lapisan-lapisan ini dalam atmosfir dan
ketinggiannya di atas permukaan bumi, berubah-ubah sesuai
dengan posisi matahari.

Pada siang hari (tengah hari), radiasi dari matahari adalah
terbesar, sedangkan di malam hari adalah minimum.

Saat radiasi matahari tidak ada, banyak ionion yang
bergabung kembali menjadi molekul-molekul. Keadaan ini
menetukan posisi dan banyaknya lapisan dalam ionosfir.

Karena posisi matahari berubah-ubah terhadap titik-titik
tertentu di bumi, dimana perubahan itu bisa harian,
bulanan, dan tahunan, maka karakteristik yang pasti dari
lapisan-lapisan tersebut sulit untuk ditentukan/ dipastikan.
Propagasi troposfir bisa dianggap sebagai kasus dari
propagasi gelombang langit.
Gelombang tidak ditujukan ke ionosfir, tetapi ditujukan ke
troposfir.
Batas troposfir hanya sekitar 6,5 mil atau 11 km dari
permukaan bumi.
Frekuensi yang bisa digunakan adalah sekitar 35 MHz
sampai dengan 10 GHz dengan jarak jangkau mencapai 400
km.
Proses penghaburan (scattering) oleh lapisan troposfir,
dilukiskan seperti Gambar 3 .
Seperti ditunjukkan oleh gambar tersebut, dua antena
pengarah diarahkan sedemikian rupa sehingga tembakan
keduanya bertemu di troposfir. Sebagian besar energinya
merambat lurus ke ruang angkasa.
Namun demikian, sebagian energinya juga dihamburkan ke
arah depan. (yang tidak dikehendaki.)

Stratosfir terletak di antara lapisan
troposfir dan ionosfir.
Suhu pada lapisan ini hapir pasti tetap
dan sangat sedikit uang air yang ada.
Karena kondisi lapisan ini yang cukup
stabil, tenang, maka daerah ini tidak
banyak memberi akibat yang jelek pada
propagasi gelombang radio.
Dalam atmosfir, gelombang radio dapat
dibiaskan, dipantulkan dan disebarkan.
Perubahan sifat gelombang radio tersebut
tentu saja akan membawa pengaruh
dalam hal propagasi.
Akibat perubahan ini, maka perlu
diperhatikan gejalagejalanya, sehingga
dalam penentuan atau pemilihan
frekuensi untuk media transmisi dapat
dilakukan secara efektif dan efisien.
Pantulan terjadi bila gelombang radio
tersimpul pada bidang/permukaan datar.
Pada dasarnya ada dua jenis pantulan yang
terjadi di atmosfir yaitu pantulan bumi dan
pantulan ionosfir.
Pada gambar berikutnya dapat ditunjukkan
adanya dua gelombang yang mengalami
pantulan oleh permukaan bumi.
Defraksi adalah kemampuan gelombang radio
untuk berputar pada sudut yang tajam dan
membelok disekitar penghalangnya.
Daerah bayangan (shadow zone) pada
dasarnya adalah daerah kosong dari sisi
berlawanan datangnya gelombang dalam
arah segaris pandang dari pemancar terhadap
penerima.
Fading : Masalah yang sangat menggangu
dan membuat orang frustasi dalam mengatur
penerimaan sinyal radio adalah berubah-
ubahnya kuat sinyal.
Multipath Fading : jalur jamak merupakan
istilah sederhana untuk menggambarkan
jalur-laur berganda suatu gelombang radio
bisa melewati antara pemancar dan
penerima.
Refleksi :
terjadi ketika pemancar gelombang elektromagnetik
mengenai object yang memiliki dimensi yang sangat besar
dibandingkan panjang gelombang
Refleksi terjadi pada permukaan bumi, bangunan ,tembok,
dan panghalang yang lain.
beberapa loss karena penyerapan sinyal
Refraksi :
Pembiasan digambarkan sebagai pembelokan gelombang
radio yang
melewati medium yang memiliki kepadatan yang berbeda.
Seperti gelombang RF yang melewati medium yang lebih
padat gelombang akan akan cenderung melewati arah yang
lain, seperti diilustrasikan pada Gambar
Scattering :
Penyebaran terjadi ketika medium dimana gelombang
merambat mengandung object yang kecil
dibandingkan dengan panjang sinyal gelombang, dan
jumlah object perunit volume sangat besar.
Gelombang menjadi tersebar dihasilkan dari
perrmukaan kasar, benda kecil,
Difraksi :
terjadi ketika garis edar radio antara pengirim dan
penerima dihambat oleh permukaan yang tajam atau
dengan kata lain kasar
Gedung2 difraksi diffraction loss
Refleksi gelombang elektromagnetikmerambat
pada path yang memiliki panjang yang berbeda 2
Interaksi antara gelombang ini menyebaka multipath
fading pada lokasi tertentu
Kuat sinyal akan menurun sering denan peningkatan
jarak Tx dan Rx
Pada umumnya, sinyal yang diterima pada titik penerimaa
dalah jumlah dari sinyal langsung dan sejumlah sinyal
terpantul dari berbagai obyek. Pada komunikasi mobile,r
efleksi akan disebabkan oleh:
Permukaan tanah
Bangunan-bangunan
Obyek bergerak berupa kendaraan

Gelombang pantul akan berubah magnitude dan fasanya,
tergantung dari koefisien refleksi, lintasannya, dan juga
tergantung pada sudut datangnya. Jadi, antara sinyal
langsung dan sinyal pantulan akan berbeda dalam hal:
Amplitudo, tergantung dari magnitude koefisien refleksi
Phasa, yang tergantung pada perubahan fasa refleksi serta
pada perbedaan jarak tempuh antara gelombang langsung
dan gelombang pantul

Kondisi terburuk terjadi saat gelombang langsung dan
gelombang pantul memiliki magnituda yang sama serta
berbeda fasa 180
o
. Pada kondisi yang demikian, terjadi saling
menghilangkan antara gelombang langsung dan pantulnya
(complete cancellation)
Propagasi gelombang radio tergantung pada beberapa
hal :
Obstacle (benda-benda penghalang antara pemancar
dan penerima)
Frekuensi gelombang elektromagnetik dan bandwitdh
informasi yang dikirim
Gerakkan pengirim dan penerima dikenal sebagai
efek Doppler

Karakteristik dari kanal propagasi diantaranya adalah:
Redaman propagasi (selisih daya pancar dan daya
terima
Fading (fluktuasi daya diterima disebabkan
perubahan kondisi kanal propagasi selama
terjadinya komunikasi
Penyebab fading umumnya adalah penjumlahan
gelombang medan yang melewati lintasan yang
berbeda-beda sehingga mengalami perlakukan
kanal propagasi yang berbeda dalam hal amplitudo
dan fasanya

Free Space Propagation Model digunakan untuk memprediksi kuat sinyal
yang diterima ketika antara transmiter dan receiver clear tidak ada
penghalang LOS

Pada model propagasi gelombang radio LARGE SCALE, Free space model
memprediksi bahwa daya yang diterima berkurang sebagai fungsi
peningkatan jarak pemisah antara Tx dan Rx ( Power Law Function)
Daya yang diterima antena pada receiver, berdasarkan friis free space
model



P
r
= daya yang diterima yang merupakan fungsi jarak pisah Tx dan Rx
P
t
= daya pancar
G
t
= gain antena transmitter
G
r
= gain antena receiver
d = jarak antara Tx dan Rx (dalam m)
L = loss factor (tidak berhubungan dengan propagasi, L>=1)
( )
( ) L d
G G P
d P
r t t
r
2
2
2
4t

=
Gain antena berkaitan dengan effective appertue
A
e



G
r
dan G
t
= dimemsionless quantities
P
t
dan P
r
= dinyatakan dalam suatu unit tertentu
dB atau dBm
L = biasanya karena filter losses, antenna losses
dalam komunikasi sistem, jika L=1 menunukan
tidak ada rugi-rugi dalam hardware sistem
2
4

t
e
A
G =
The path loss, which can be defined as a large-scale
smooth decrease in signal strength with distance between
two terminals, mainly the transmitter and the receiver.

The physical processes that cause these phenomena are
the spreading of electromagnetic waves radiated outward
in space by the transmitter antenna and the obstructing
effects of any natural or man-made objects in the vicinity
of the antenna.

The path loss is a figure of merit that determines the
effectiveness of the propagation channel in different
environments.
It defines variations of the signal amplitude or intensity along the
propagation trajectory (path) from one point to another within the
communication channel.
In general the path loss is defined as a logarithmic difference
between the amplitude or the intensity (called power) at any two
different points, r1 (the transmitter point) and r2 (the receiver point)
along the propagation path in the medium.
The path loss, which is denoted by PL and is measured in decibels
(dB), can be evaluated as follows as
( )
( )
(

= =
2
2
2
4
log 10 log 10
d
G G
P
P
dB PL
r t
r
t
t

for a signal amplitude of A(rj ) at two points r1 and r2
along the propagation path




for a signal intensity J(rj ) at two points r1 and r2
along the propagation path
If transmitter produces 50 W of power, express the
transmit power in units of (a) dBm, and (b) dBW. If 50
W is applied to a unity gain antenna with a 900 MHz
carrier frequency, fid the received power in dBm at a
free space distance of 100 m from the antenna. What
is P
r
(10 km) ? Assume unity gain for the receiver
antenna.
Ground Reflection (two-ray) model



Path Loss
P
L
= 40 log d-(10 log G
t
+10 log G
r
+20log h
t
+20
log h
r
)
P
r
= daya diterima, P
t
= daya pancar, G
t
= gain
antena pemancar, G
r
= gain antena penerima,
h
t
= tinggi antena pemancar, h
r
tinggi antena
penerima, d = jarak antara pemancar dan
penerima (m)
Assume a reciver is located 10 km from a 50
w transmitter. The carrier frekuensi is 900
Mhz, Transmitter antena gain =1, Receiver
antena gain =2, the height of transmitting
antenna is 50 m and receiving antenna is 2 m
above ground.
Find the path loss
Find the received power
Assume a reciver is located 20 km from a
100 w transmitter. The carrier frekuensi is
700 Mhz, Transmitter antena gain =1,
Receiver antena gain =2, the height of
transmitting antenna is 50 m and receiving
antenna is 2 m above ground.
Find the path loss
Find the received power
Daerah Fresnel pertama merupakan hal yang patut
diperhatikan dalam perencanaan lintasan gelombang radio
line of sight.
Daerah ini sebisa mungkin harus bebas dari halangan
pandangan (free of sight obstruction), karena bila tidak,
akan menambah redaman lintasan.









Gambar menunjukkan 2 (dua) bekas lintasan propagasi
gelombang radio dari pemancar (T x) ke penerima (Rx),
yaitu berkas lintasan langsung (direct ray) dan berkas
lintasan pantulan (reflected ray), yang mempunyai radius
F1 dari garis lintasan langsung.
Jika berkas lintasan pantulan mempunyai panjang
setengah kali lebih panjang dari berkas lintasan
langsung, dan dianggap bumi merupakan pemantul yang
sempurna (koefisien pantul = -1, artinya gelombang
datang dan gelombang pantul berbeda fasa 180 derajat),
maka pada saat tiba di penerima akan mempunyai fasa
yang sama dengan gelombang langsung. Akibatnya akan
terjadi intensitas kedua gelombang pada saa t mencapai
antena penerima akan saling menguatkan.

Berdasarkan Gambar 6-10 dan keterangan di atas, F1
disebut sebagai radius daerah Fresnel pertama , yang
dirumuskan dengan:





dimana : F1 = radius daerah Fresnel pertama (m)
f = frekuensi kerja (GHz)
d1 = jarak antara Tx dengan halangan (km)
d2 = jarak antara Rx dengan halangan (km)
d = d1+ d 2 = jarak antara Tx dan Rx (km)
Untuk daerah Fresnel pertama di tengah lintasan d = d1+
d2, dan d1 = d2 =1/2 d, sehingga:
Sedangkan untuk radius daerah Fresnel kedua , daerah
Fresnel ketiga, dan seterusnya seperti diilustrasikan pada
Gambar 6-11, dinyatakan dengan rumusan berikut:






n = 1,2,3, . Atau secara singkat dinyatakan:



dimana F1 = radius daerah Fresnel pertama (m)
48
Excess Path Length = difference between direct path & diffracted path
A = Ad (d
1
+d
2
)
3.7.1 Fresnel Zone Geometry
consider a transmitter-receiver pair in free space
let obstruction of effective height h & width ~ protrude to page
- distance from transmitter = d
1

- distance from receiver = d
2
- LOS distance between transmitter & receiver = d = d
1
+d
2

Knife Edge Diffraction Geometry for h
t
= h
r
h

TX RX
h
r
h
t
d
2
d
1
h
obs
Ad
Ad = A d
1
+ A d
2,
where ,
2 2
i
d h +
A d
i
=
2
1
2
d h +
A =
2
2
2
d h +
+ (d
1
+d
2
)
49
Phase Difference between two paths given as
3.54
|
|
.
|

\
| +
2 1
2 1
2
2 d d
d d h
A ~
Assume h << d
1 ,
h << d
2
and h >> then by substitution and Taylor
Series Approximation
Knife Edge Diffraction Geometry h
t
> h
r
o
d
2
d
1
|

h

TX
RX
h
r
h
t
h
obs
h

|
|
.
|

\
|
+
=
A
2 1
2 1
2
2
2 2
d d
d d h

t
| =
3.55
=
( )
|
|
.
|

\
|
+
2 1
2 1
2
2
2 d d
d d
h

t
50
Eqn 3.55 for | is often normalized using the dimensionless Fresnel-Kirchoff diffraction
parameter, v
) (
2

) ( 2
2 1
2 1
2 1
2 1
d d
d d
d d
d d
h
+
=
+

v = (3.56)
when o is in units of radians | is given as
| =
2
2
v
t
(3.57)
from equations 3.54-3.57 | , the phase difference, between LOS & diffracted path
is function of
obstructions height & position
transmitters & receivers height & position
simplify geometry by reducing all heights to minimum height
51
(1) Fresnel Zones
used to describe diffraction loss as a function of path difference, A
around an obstruction
represents successive regions between transmitter and receiver
n
th
region = region where path length of secondary waves is n/2
greater than total LOS path length
regions form a series of ellipsoids with foci at Tx & Rx
/2 + d
1.5 + d
d
+ d
at 1 GHz = 0.3m
52

destructive interference
A = /2
Ad = /2 + d
1
+d
2

For 1
st
Fresnel Zone, at a distance d
1
from Tx & d
2
from Rx
diffracted wave will have a path length of Ad
d
1
d
2

Ad
Tx Rx
constructive interference:
Ad = + d
1
+d
2

A =
For 2
nd
Fresnel Zone
53
Fresnel Zones
slice the ellipsoids with a transparent plane between transmitter &
receiver obtain series of concentric circles
circles represent loci of 2
nd
ry wavelets that propagate to receiver
such that total path length increases by /2 for each successive circle
effectively produces alternatively constructive & destructive
interference to received signal
T
R
O
d
1
d
2
h

Q
If an obstruction were present, it could block some of the Fresnel
zones
54
Assuming, d
1
& d
2
>> r
n
radius of n
th
Fresnel Zone can be given in terms of n, d
1
,d
2
,
2 1
2 1
d d
d d n
+

r
n
= (3.58)
Excess Total Path Length, A for each ray passing through n
th
circle
2
3/2 3
/2 1
A =n/2 n
Tx
Rx
55
Fresnel zones: ellipsoids with foci at transmit & receive antenna
if obstruction does not block the volume contained within 1
st
Fresnel
zone then diffraction loss is minimal
rule of thumb for LOS uwave:
if 55% of 1
st
Fresnel zone is clear further Fresnel zone clearing
does not significantly alter diffraction loss
d
2
d
1
o and v are positive, thus h is positive
TX
RX
h

o
excess path length
/2

3/2
) (
2

) ( 2
2 1
2 1
2 1
2 1
d d
d d
d d
d d
h
+
=
+

v =
e.g.
56
h = 0 o and v =0
TX
RX
d
2
d
1
d
2
d
1
o and v are negative h is negative
h

TX
RX
o
) (
2

) ( 2
2 1
2 1
2 1
2 1
d d
d d
d d
d d
h
+
=
+

v =
57
(0.4 rad 23
o
)
x = 0.4 rad tan(x) = 0.423
tan(x)
x
when tan x ~ x o = | +
o ~
|
|
.
|

\
|
+
= +
2 1
2 1
2 1
d d
d d
h
d
h
d
h
Equivalent Knife Edge Diffraction Geometry with h
r
subtracted from all other heights


o
d
2
d
1
TX
RX
h
t
-h
r
|
h
obs
-h
r
180-o
tan | = ~ |
1
d
h
tan = ~
2
d
h
58
3.7.2 Knife Edge Diffraction Model
Diffraction Losses
estimating attenuation caused by diffraction over obstacles is
essential for predicting field strength in a given service area
generally not possible to estimate losses precisely
theoretical approximations typically corrected with empirical
measurements
Computing Diffraction Losses
for simple terrain expressions have been derived
for complex terrain computing diffraction losses is complex
59
Knife-edge Model - simplest model that provides insight into order of magnitude for
diffraction loss
useful for shadowing caused by 1 object treat object as a knife edge
diffraction losses estimated using classical Fresnel solution for field
behind a knife edge
Knife Edge Diffraction Geometry, R located in shadowed region
Huygens 2
nd
dry
source
d
2
d
1
T
R
h

60
G
d
(dB) = Diffraction Gain due to knife edge presence relative to E
0
G
d
(dB) = 20 log|F(v)| (3.60)
G
d
(
d
B
)

-3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
Graphical Evaluation
5
0
-5
-10
-15
-20
-25
-30
v
61
Table for G
d
(dB)
[0,1] 20 log(0.5 e
- 0.95v
)
[-1,0] 20 log(0.5-0.62v)
> 2.4 20 log(0.225/v)
[1, 2.4] 20 log(0.4-(0.1184-(0.38-0.1v)
2
)
1/2
)
s -1 0
v G
d
(dB)
62
e.g. Let: = 0.333 (f
c
= 900MHz), d
1
= 1km, d
2
= 1km, h = 25m
2. diffraction loss
from graph is G
d
(dB) ~ -22dB
from table G
d
(dB) ~ 20 log (0.225/2.74) = - 21.7dB
) 10 ( 333 . 0
) 2000 ( 2
25
) ( 2
6
2 1
2 1
=
+
d d
d d
h

v =
= 2.74
1. Fresnel Diffraction Parameter
3. path length difference between LOS & diffracted rays
m
d d
d d h
625 . 0
10
2000
2
25
2
6
2
2 1
2 1
2
=
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
| +
A ~
4. Fresnel zone at tip of obstruction (h=25)
solve for n such that A = n/2
n = 2 0.625/0.333 = 3.75
tip of the obstruction completely blocks 1
st
3 Fresnel zones
Compute Diffraction Loss at h = 25m
63
e.g. Let: = 0.333 (f
c
= 900MHz), d
1
= 1km, d
2
= 1km, h = 25m
2. diffraction loss from graph is G
d
(dB) ~ 1dB
) 10 ( 333 . 0
) 2000 ( 2
25
) ( 2
6
2 1
2 1
=
+
d d
d d
h

v = = -2.74
1. Fresnel Diffraction Parameter
3. path length difference between LOS & diffracted rays
m
d d
d d h
625 . 0
10
2000
2
25
2
6
2
2 1
2 1
2
=
|
.
|

\
|

=
|
|
.
|

\
| +
A ~
4. Fresnel zone at tip of the obstruction (h = -25)
solve for n such that A = n/2
n = 2 0.625/0.333 = 3.75
tip of the obstruction completely blocks 1
st
3 Fresnel zones
diffraction losses are negligible since obstruction is below LOS path
Compute Diffraction Loss at h = -25m
64
f = 900MHz = 0.333m
| = tan
-1
(75-25/10000) = 0.287
o
= tan
-1
(75/2000) = 2.15
o
o = |+ = 2.43
o
= 0.0424 radians

find diffraction loss
) (
2

2 1
2 1
d d
d d
+
o v =
from graph, G
d
(dB) = -25.5 dB
24 . 4
) 12000 ( 333 . 0
) 2000 )( 10000 ( 2
0424 . 0 =
=
find h if G
d
(dB) = 6dB
for G
d
(dB) = 6dB v 0
then o = 0 and | = -
and h/2000 = 25/12000 h = 4.16m
o
2km

10km


T
R
25m

|
75m

2km

10km

100m

T
25m
50m

R
o=0
2km

10km


T
R
25m

|
h
65
3.7.3 Multiple Knife Edge Diffraction
with more than one obstruction compute total diffraction loss

(1) replace multiple obstacles with one equivalent obstacle
use single knife edge model
oversimplifies problem
often produces overly optimistic estimates of received signal
strength

(2) wave theory solution for field behind 2 knife edges in series

Extensions beyond 2 knife edges becomes formidable
Several models simplify and estimate losses from multiple obstacles
Illustration of Fresnel zones for different knife-edge diffraction scenarios.
Fresnel diffraction or near-field
diffraction occurs when a wave
passes through an aperture and
diffracts in the near field, causing
any diffraction pattern observed to
differ in size and shape, depending
on the distance between the
aperture and the projection

Gelombang Langsung
Gelombang Pantulan Tanah


Gelombang Permukaan Tanah
Memanfaatkan lapisan ionosfer untuk memantulkan gelombang.
Lapisan ini terletak pada ketinggian 50-500 km diatas permukaan bumi.
Lapisan ini terbentuk karena adanya radiasi sinar matahari.
Perbedaan derajat ionisasi pada lapisan ini menghasilkan pembagian
ionosfer ke dalam beberapa lapisan.


Lapisan D (50-90 km)
Lapisan E (90-145 km)
Lapisan F (160-400 km)
Lapisan D
Merupakan lapisan paling bawah dari ionosfer
Menyerap gelombang dg frekuensi rendah ; melewatkan gelombang frekw
tinggi
Ionisasi maks pada siang dan menghilang pada malam hari
Lapisan E
Memantulkan gelombang dengan frekuensi sekitar 20MHz
Tergantung pada frekw dan kekuatan lapisan E, suatu sinyal dapat dibiaskan
ataupun dapat diteruskan ke lapisan F
Pada malam hari lsinyal dapat melewati lap ini, karena pada malam hari
lapisan ini menyusut.
Lapisan F
Dibagi menjadi 2 bagian F1 dan F2 (pada siang hari)
Pada malam hari kedua lapisan akan menjadi satu
Memantulkan gelombang dengan fekuensi tinggi (HF)
Gelombang dengan frekuensi lebih tinggi (VHF,UHF..)akan dilewatkan.
Biasanya dimanfaatkan untuk pemancaran gelombang AM jarak jauh.
Jika disimpulkan lapisan ionosfer dapat digambarkan
sebagai berikut

Frekuensi yang dipantulkan oleh ionosfer dapat
digambarkan sebagai berikut :
Dalam propagasi tanah maupun ionosfer terdapat rugi-rugi
yang menyebabkan tidak sempurnanya gelombang yang
diterima oleh antena penerima.

Rugi-rugi tersebut disebabkan oleh:
Adanya Fading (sinyal dipenerima melemah/menguat), disebabkan
oleh:
Groundwave dan skywave sampai di antena penerima tetapi berlawanan
fase shg saling melemahkan.
Dua skywave yang dipantulkan dr daerah ionosfer diterima di antena
penerima dengan fase yang tidak sama.
Directwave dan groundwave samapai pada penerima dengan fase berbeda.
Interferensi dengan gelombang lain
Hilangnya daya saat transmisi