Anda di halaman 1dari 93

0

MATERI POKOK
HUKUM PERDATA


1

Berikut saya akan bagikan materi kuliah hukum perdata, yang saya
ringkas materinya dari buku karangan
Prof. Subketi. S.H. yaitu buku "Pokok-Pokok Materi Hukum Perdata.
I. KEADAAN HUKUM PERDATA DI INDONESIA
Perkataan "Hukum Perdata" dalam arti yang luas meliputi semua hukum
"privat materiil", yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-
kepentingan perseorangan. Perkataan "perdata" juga lazim dipakai
sebagai lawan dari "pidana".
Ada juga orang memakai perkataan "hukum sipil" untuk hukum privat
materiil itu, tetapi karena perkataan "sipil" itu juga lazim dipakai sebagai
lawan dari "militer," maka lebih baik kita memakai istilah "hukum
perdata" untuk segenap peraturan hukum privat materiil.
Perkataan "Hukum Perdata", adakalanya dipakai dalam arti yang sempit,
sebagai lawan "hukum dagang," seperti dalam pasal 102 Undang-undang
Dasar Sementara, yang menitahkan pembukuan (kodifikasi) hukum di
negara kita ini terhadap Hukum Perdata dan Hukum Dagang, Hukum
Pidana Sipil maupun Hukum Pidana Militer, Hukum Acara Perdata dan
Hukum Acara Pidana, dan susunan serta kekuasaan pengadilan.

II. SISTEMATIK HUKUM PERDATA

Adanya Kitab Undang-undang Hukum Dagang (Wetboek vanKoophandel,
disingkat W.v.K.) di samping Kitab Undang-undang Hukum Perdata
(Burgerlijk Wetboek, disingkat B.W.) sekarang dianggap tidak pada
tempatnya, karena Hukum Dagang sebenarnya tidaklah lain dari Hukum
Perdata. Perkataan "dagang" bukanlah suatu pengertian hukum,
melainkan suatu pengertian perekonomian. Di berbagai negeri yang
modern, misalnya di Amerika Serikat dan di Swis juga, tidak terdapat
suatu Kitab Undang-undang Hukum Dagang tersendiri di samping
pembukuan Hukum Perdata seumumnya. Oleh karena itu, sekarang
terdapat suatu aliran untuk meleburkan Kitab Undang-undang Hukum
Dagang itu ke dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

2


Memang, adanya pemisahan Hukum Dagang dari Hukum Perdata dalam
perundang-undangan kita sekarang ini, hanya terbawa oleh sejarah saja,
yaitu karena di dalam hukum Rumawi yang merupakan sumber
terpenting dari Hukum Perdata di Eropah Barat belumlah terkenal
Hukum Dagang sebagaimana yang ter-
letak dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang kita sekarang, sebab
memang perdagangan internasional juga dapat dikatakan baru mulai
berkembang dalam Abad Pertengahan.

Hukum Perdata menurut ilmu hukum sekarang ini, lazim dibagi dalam
empat bagian, yaitu :
1. Hukum tentang diri seseorang,
2. Hukum Kekeluargaan,
3. Hukum Kekayaan dan
4. Hukum warisan.

Hukum tentang diri seseorang , memuat peraturan-peraturan tentang
manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan-peraturan perihal
kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak
sendiri melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi
kecakapan-kecakapan itu.

Hukum Keluarga, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang
timbul dari hubungan kekeluargaan, yaitu : perkawinan beserta
hubungan dalam lapangan hukum kekayaan antara suami dan isteri,
hubungan antara orang tua dan anak, perwalian dan curatele.
Hukum Kekayaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang
dapat dinilai dengan uang. Jika kita mengatakan tentang kekayaan
seorang, yang dimaksudkan ialah jumlah segala hak dan kewajiban orang
itu, dinilai dengan uang. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang
demikian itu, biasanya dapat dipindahkan kepada orang lain. Hak-hak

3

kekayaan, terbagi lagi atas hak-hak yang berlaku terhadap tiap orang dan
karenanya dinamakan hak mutlak dan hak-hak yang hanya berlaku
terhadap seorang atau suatu fihak yang tertentu saja dan karenanya
dinamakan hak perseorangan. Hak mutlak yang memberikan kekuasaan
atas suatu benda yang dapat terlihat dinamakan hak kebendaan. Hak
mutlak yang tidak memberikan kekuasaan atas suatu benda yang dapat
terlihat, misalnya hak seorang pengarang atas karangannya, hak seorang
atas suatu pendapat dalam lapangan ilmu
pengetahuan atau hak seorang pedagang untuk memakai sebuah merk,
dinamakan hak mutlak saja.
Hukum Waris, mengatur hal ikhwal tentang benda atau kekayaan
seorang jikalau ia meninggal. Juga dapat dikatakan, Hukum Waris itu
mengatur akibat-akibat hubungan' keluarga terhadap harta peninggalan
seseorang. Berhubung dengan sifatnya yang setengah-setengah ini,
Hukum Waris lazimnya ditempatkan tersendiri.
Bagaimanakah sistematik yang dipakai oleh Kitab Undang-undang
Hukum Perdata?
B.W. itu terdiri atas empat buku, yaitu :

Buku I, yang berkepala "Perihal Orang", memuat hukum tentang diri
seseorang dan Hukum Keluarga;
Buku II yang berkepala "Perihal Benda", memuat hukum perbendaan
serta Hukum Waris;
Buku III yang berkepala "Perihal Perikatan", memuat hukum kekayaan
yang mengenai hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berlaku terhadap
orang-orang atau pihak-pihak yang tertentu;
Buku IV yang berkepala "Perihal Pembuktian dan Lewat
waktu(Daluwarsa), memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-
akibat lewat waktu terhadap hubungan-hubungan hukum.
Sebagaimana kita lihat, Hukum Keluarga di dalam B.W. itu dimasukkan
dalam bagian hukum tentang diri seseorang, karena hubungan-hubungan
keluarga memang berpengaruh besar terhadap kecakapan seseorang

4

untuk memiliki hak-hak serta kecakapannya untuk mempergunakan hak-
haknya itu. Hukum Waris, dimasukkan dalam bagian tentang hukum
perbendaan, karena dianggap Hukum Waris itu mengatur cara-cara untuk
memperoleh hak atas benda-benda, yaitu benda-benda yang ditinggalkan
seseorang. Perihal pembuktian dan lewat waktu (daluwarsa) sebenarnya
adalah soal hukum acara, sehingga kurang tepat dimasukkan dalam B.W.
yang pada asasnya mengatur hukum perdata materiil. Tetapi pernah ada
suatu pendapat, bahwa hukum acara itu dapat dibagi dalam bagian
materiil dan bagian formil. Soal-soal yang mengenai alat-alat pembuktian
terhitung bagian yang termasuk hukum acara materiil yang dapat diatur
juga dalam suatu undang-undang tentang hukum perdata materiil.

III. PERIHAL ORANG DALAM HUKUM

Dalam hukum, perkataan orang (persoon) berarti pembawa hak atau
subyek di dalam hukum. Sekarang ini boleh dikatakan, bahwa tiap
manusia itu pembawa hak, tetapi belum begitu lama berselang masih ada
budak belian yang menurut hukum tidak lebih dari suatu barang saja.
Peradaban kita sekarang sudah sedemikian majunya, hingga suatu
perikatan pekerjaan yang dapat dipaksakan tidak diperbolehkan lagi di
dalam hukum. Seorang yang tidak suka melakukan suatu pekerjaan yang
ia harus lakukan menurut perjanjian, tidak dapat secara langsung dipaksa
untuk melakukan pekerjaan itu. Paling banyak ia hanya dapat dihukum
untuk membayar kerugian yang berupa uang yang untuk itu harta
bendanya dapat disita. Karena memang sudah menjadi suatu asas dalam
Hukum Perdata, bahwa semua kekayaan seseorang menjadi tanggungan
untuk segala kewajibannya. Juga yang dinamakan "kematian perdata",
yaitu suatu hukuman yang menyatakan bahwa seseorang tidak dapat
memiliki sesuatu hak lagi tidak terdapat dalam hukum sekarang ini
(pasal 3 B.W.). Hanya-
lah mungkin, seseorang sebagai hukuman dicabut sementara hak-
haknya, misalnya kekuasaannya sebagai orang tua terhadap anak-

5

anaknya, kekuasaannya sebagai wali, haknya untuk bekerja pada
angkatan bersenjata dan sebagainya.
Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak, mulai dari saat ia dilahirkan
dan berakhir pada saat ia meninggal. Malahan, jika perlu untuk
kepentingannya, dapat dihitung surut hingga mulai orang itu berada di
dalam kandungan, asal saja kemudian ia dilahirkan hidup, hal mana
penting sekali berhubung dengan waris-an-warisan yang terbuka pada
suatu waktu, di mana orang itu masih berada di dalam kandungan.
Meskipun menurut hukum sekarang ini, tiap orang tiada yang terkecuali
dapat memiliki hak-hak, akan tetapi di dalam hukum tidak semua orang
diperbolehkan bertindak sendiri dalam melaksanakan hak-haknya itu.
Berbagai golongan orang, oleh undang-undang telah dinyatakan "tidak
cakap," atau "kurang cakap" untuk melakukan sendiri perbuatan-
perbuatan hukum. Yang dimaksudkan di sini, ialah orang-orang yang
belum dewasa atau masih kurang umur dan orang-orang yang telah
ditaruh di bawah pengawasan (curatele), yang selalu harus diwakili oleh
orang tuanya, walinya atau kuratornya.

IV. HUKUM PERKAWINAN

1. Arti dan syarat-syarat untuk perkawinan
Perkawinan, ialah pertalian yang sah antara seorang lelaki dan seorang
perempuan untuk waktu yang lama. Undang-undang memandang
perkawinan hanya dari hubungan keperdataan, demikian
pasal 26 Burgerlijk Wetboek.
Apakah artinya itu? Pasal tersebut hendak menyatakan, bahwa suatu
perkawinan yang sah, hanyalah perkawinan yang memenuhi syarat-
syarat yang ditetapkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata,
(Burgerlijk Wetboek) dan syarat-syarat serta peraturan agama
dikesampingkan. Suatu asas lagi dari B.W., ialah polygami dilarang.
Larangan ini termasuk ketertiban umum, artinya bila dilanggar selalu
diancam dengan pembatalan perkawinan yang dilangsungkan itu.

6

Syarat-syarat untuk dapat sahnya perkawinan, ialah :
a. kedua pihak harus telah mencapai umur yang ditetap-
kan dalam undang-undang, yaitu untuk seorang lelaki
18 tahun dan untuk seorang perempuan 15 tahun;
b. harus ada persetujuan bebas antara kedua pihak;

c. untuk seorang perempuan yang sudah pernah kawin
harus lewat 300 hari dahulu sesudahnya putusan per-
kawinan pertama;
d. tidak ada larangan dalam undang-undang bagi kedua
pihak;
e. untuk pihak yang masih di bawah umur, harus ada izin
dari orang tua atau walinya. *)

Tentang hal larangan untk kawin dapat diterangkan, bahwa seorang tidak
diperbolehkan kawin dengan saudaranya, meskipun saudara tiri; seorang
tidak diperbolehkan kawin dengan iparnya; seorang paman dilarang
kawin dengan keponakannya dan sebagainya.
2. Hak dan kewajiban suami-isteri
Suami-isteri harus setia satu sama lain, bantu-membantu, berdiam
bersama-sama, saling memberikan nafkah dan bersama-sama mendidik
anak-anak.

Perkawinan oleh undang-undang dipandang sebagai suatu
"perkumpulan" (echtvereniging). Suami ditetapkan menjadi kepala atau
pengurusnya. Suami mengurus kekayaan mereka bersama di samping
berhak juga mengurus kekayaan si isteri, menentukan tempat kediaman
bersama, melakukan kekuasaan orang tua dan selanjutnya memberikan
bantuan(bijstand) kepada si isteri dalam hal melakukan perbuatan-
perbuatan hukum. Yang belakangan ini, berhubungan dengan ketentuan
dalam Hukum Perdata Eropah, bahwa seorang perempuan yang telah
kawin tidak cakap untuk bertindak sendiri di dalam hukum. Kekuasaan

7

seorang suami di dalam perkawinan itu dinamakan "maritale macht"
(dari bahasa Perancis mari =suami).
3. Percampuran kekayaan
Sejak mulai perkawinan terjadi, suatu percampuran antara kekayaan
suami dan kekayaan isteri (algehele gemeenschap van goederen), jikalau
tidak diadakan perjanjian apa-apa Keadaan yang demikian itu
berlangsung seterusnya dan tak dapat diubah lagi selama
perkawinan. *) Jikalau orang ingin menyimpang dari peraturan umum itu,
ia harus meletakkan keinginannya itu dalam suatu "perjanjian
perkawinan" (huwelijksvoorwaarden). Perjanjian yang demikian ini,
harus diadakan sebelumnya pernikahan
4. Perjanjian perkawinan

Jika seorang yang hendak kawin mempunyai benda-benda yang berharga
atau mengharapkan akan memperoleh kekayaan, misalnya suatu warisan,
maka adakalanya diadakan perjanjian
perkawinan(huwelijksvoorwaarden). Perjanjian yang demikian ini
menurut Undang-undang harus diadakan sebelumnya pernikahan
dilangsungkan dan harus diletakkan dalam suatu akte notaris.
Mengenai bentuk dan isi perjanjian tersebut, sebagaimana halnya dengan
perjanjian-perjanjian lain pada umumnya, kepada kedua belah pihak
diberikan kemerdekaan seluas-luasnya, kecuali satu dua larangan yang
termuat dalam undang-undang dan asal saja mereka itu tidak melanggar
ketertiban umum atau kesusilaan.

Suatu perjanjian perkawinan misalnya, hanya dapat menyingkirkan suatu
benda saja (misalnya satu rumah) dari percampuran kekayaan, tetapi
dapat juga menyingkirkan segala percampuran. Undang-undang hanya
menyebutkan dua contoh perjanjian yang banyak terpakai, yaitu
perjanjian "percampuran laba rugi" ("gemeenschap van winst en
verlies") dan perjanjian "percampuran
penghasilan" ('gemeenschap van vruchten en inkomsten"").

8

Pada umumnya seorang yang masih di bawah umum, yaitu belum
mencapai usia 21 tahun, tidak diperbolehkan bertindak sen-
diri dan harus diwakili oleh orang tuanya atau walinya. Tetapi untuk
membuat suatu perjanjian perkawinan, oleh undang-undang diadakan
peraturan pengecualian. Seorang yang belum dewasa di sini,
diperbolehkan bertindak sendiri tetapi ia harus "dibantu" ("bijgestaan")
oleh orang tua atau orang-orang yang diharuskan memberi izin
kepadanya untuk kawin. Apabila pada waktu membuat perjanjian itu
salah satu pihak ternyata belum mencapai usia yang diharuskan oleh
undang-undang, maka perjanjian itu tidak sah, meskipun mungkin
perkawinannya sendiri yang baru kemudian dilangsungkan sah.
Selanjutnya diperingatkan, apabila di dalam waktu antara pembuatan
perjanjian dan penutupan pernikahan orang tua atau wali yang
membantu terjadinya perjanjian itu meninggal, maka perjanjian itu batal
dan pembuatan perjanjian itu harus diulangi di depan notaris, sebab
orang yang nanti harus memberi izin untuk melangsungkan perkawinan
sudah berganti. Karena itu sebaiknya orang membuat perjanjian perka-
winan, apabila hari pernikahan sudah dekat.

5. Perceraian

Perkawinan hapus, jikalau satu pihak meninggal. Selanjutnya ia hapus
juga, jikalau satu pihak kawin lagi setelah mendapat izin hakim, bilamana
pihak yang lainnya meninggalkan tempat tinggalnya hingga sepuluh
tahun lamanya dengan tiada ketentuan nasibnya. Akhirnya perkawinan
dapat dihapuskan dengan perceraian.

Perceraian ialah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim, atau
tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu.
Undang-undang tidak membolehkan perceraian dengan permufakatan
saja antara suami dan isteri, tetapi harus ada alasan yang sah. Alasan-
alasan ini ada empat macam :

9

a) zina (overspel);
b) ditinggalkan dengan sengaja (kwaadwillige verlating);
c) penghukuman yang melebihi 5 tahun karena dipersalahkan
melakukan suatu kejahatan dan
d) penganiayaan berat atau membahayakan jiwa (pasal 209B.W.).

Undang-undang Perkawinan menambahkan dua alasan, u. salah satu
pihak mendapat cacad badan/penyakit dengan akibat tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri; I). antara suami isteri
terus-menerus terjadi perselisihan/pertengkaran dan tidak ada harapan
akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga (pasal 19 PP 9/1975).

Tuntutan untuk mendapat perceraian diajukan kepada hakim secara
gugat biasa dalam perkara perdata, tetapi harus didahului dengan
meminta izin pada Ketua Pengadilan Negeri untuk menggugat. Sebelum
izin ini diberikan, hakim harus lebih dahulu mengadakan percobaan
untuk mendamaikan kedua belah pihak (verzoeningscomparitie).

Selama perkara bergantung, Ketua Pengadilan Negeri dapat memberikan
ketetapan-ketetapan sementara, misalnya dengan memberikan izin pada
si isteri untuk bertempat tinggal sendiri terpisah dari suaminya,
memerintahkan supaya si suami memberikan nafkah tiap-tiap kali pada
isterinya serta anak-anaknya yang turut pada isterinya itu dan
sebagainya. Juga hakim dapat memerintahkan supaya kekayaan suami
atau kekayaan bersama disita agar jangan dihabiskan oleh suami selama
perkara masih bergantung.
Larangan untuk bercerai atas permufakatan, sekarang ini sudah lazim
diselundupi dengan cara mendakwa si suami telah berbuat zina.
Pendakwaan itu lalu diakui oleh si suami. Dengan begitu alasan sah untuk
memecahkan perkawinan telah dapat "dibuktikan" di muka hakim.
Gemeenschap hapus dengan perceraian dan selanjutnya dapat diadakan
pembagian kekayaan gemeenschap itu (scheiding en deling).Apabila ada

10

perjanjian perkawinan, pembagian ini harus dilakukan menurut
perjanjian tersebut.
6. Pemisahan kekayaan
Untuk melindungi si isteri terhadap kekuasaan si suami yang sangat luas
itu atas kekayaan bersama serta kekayaan pribadi si isteri, undang-
undang memberikan pada si isteri suatu hak untuk meminta pada hakim
supaya diadakan pemisahan kekayaan dengan tetap berlangsungnya
perkawinan.
Pemisahan kekayaan itu dapat diminta oleh si isteri :
a) apabila si suami dengan kelakuan yang nyata-nyata tidak baik,
mengorbankan kekayaan bersama dan membahayakan keselamatan
keluarga;
b) apabila si suami melakukan pengurusan yang buruk terhadap
kekayaan si isteri, hingga ada kekhawatiran kekayaan ini akan menjadi
habis;
c) apabila si suami mengobralkan kekayaan sendiri, hingga si isteri
akan kehilangan tanggungan yang oleh Undang-undang diberikan
padanya atas kekayaan tersebut karena pengurusan yang dilakukan oleh
si suami terhadap kekayaan isterinya.
Gugatan untuk mendapatkan pemisahan kekayaan, harus diumumkan
dahulu sebelum diperiksa dan diputuskan oleh hakim, sedangkan putusan
hakim ini pun harus diumumkan. Ini untuk menjaga kepentingan-
kepentingan pihak ketiga, terutama orang-orang yang mempunyai
piutang terhadap si suami. Mereka itu dapat mengajukan perlawanan
terhadap diadakannya pemisahan kekayaan.

Selain membawa pemisahan kekayaan, putusan hakim berakibat pula, si
isteri memperoleh kembali haknya untuk mengurus kekayaannya sendiri
dan berhak mempergunakan segala penghasilannya sendiri sesukanya.
Akan tetapi, karena perkawinan belum diputuskan, ia masih tetap tidak
cakap menurut undang-undang untuk bertindak sendiri dalam hukum.


11

BAB I
PENGERTIAN HUKUM PERDATA SECARA UMUM

Tujuan Instruksional Umum / TIU
Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa
dapat menjelaskan dan memahaminya.
Sub Pokok Bahasan:
A. Pengertian Hukum Perdata dan Hukum Publik
B. Pengertian Hukum Perdata Dalam Arti Luas dan Dalam Arti Sempit
C. Pengertian Hukum Perdata Materiil dan Hukum Perdata Formil
D. Sistem Hukum Perdata di Indonesia
E. Sistematika Hukum Perdata
Tujuan Instruksional Khusus / TIK
Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan
mahasiswa dapat menjelasakn dan menyebutkan pengertian:
A. Hukum Perdata dan Hukum Publik
B. Hukum Perdata Dalam Arti Luas dan Arti Sempit
C. Hukum Perdata Materiil dan Formil
D. Sistem Hukum Perdata di Indonesia
E. Sistematika Hukum Perdata
Pendahuluan : Pengantar tentang mata kuliah Perdata menjelaskan
pengertian-
pengertian dan memberikan contoh-contoh.
Penyajian : lihat buku
Evaluasi : Mahasiswa disuruh merangkum apa yang sudah
dikuliahkan.
Penutup : Bab I menjelaskan pengertian secara umum mengenai
Hukum Perdata dan Bab II menjelasakn apa yang termasuk ruang lingkup
Hukum Perdata diantaranya Hukum Perorangan.
BAB I
PENGERTIAN HUKUM PERDATA SECARA UMUM


12

Penyajian :
A. Pengertian Hukum Perdata dan Hukum Publik
Ada beberapa sarjana yang memberikan pengertian tentang Hukum
Perdata, diantaranya :
1. Subekti
Hukum Perdata dalam arti luas meliputi semua hukum privat materiil,
yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan
perseorangan.
2. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan
Hukum Perdata adalah hukum yang mengatur kepentingan antara warga
negara perseorangan yang ada dengan warga negara perseorangan yang
lain.
3. Wirjono Prodjodikoro
Hukum Perdata adalah suatu rangkaian hukum antara orang-orang atau
badan hukum satu sama lain tentang hak dan kewajiban.
4. Sudikno Mertokusumo
Hukum Perdata adalah hukum antar perorangan yang mengatur hak dan
kewajiban perorangan yang satu terhadap yang lain di dalam hubungan
keluarga dan di dalam pergaulan masyarakat. Pelaksanaannya diserahkan
masing-masing pihak.
5. Asis Safioedin
Hukum Perdata adalah hukum yang memuat peraturan dan ketentuan
hukum yang meliputi hubungan hukum antara orang yang satu dengan
yang lain (antara subyek hukum yang satu dengan subyek hukum yang
lain) di dalam masyarakat dengan menitik beratkan kepada kepentingan
perorangan.
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
Hukum Perdata itu adalah hukum yang mengatur hubungan hukum
antara orang/badan hukum yang satu dengan orang/badan hukum yang
lain di dalam masyarakat dengan menitikberatkan kepentingan
perseorangan (pribadi).badan hukum.

13

Sedangkan Hukum Perdata adalah hukum yang mengatur
kepentingan umum/masyarakat. Oleh karena itu Sudikno Mertokusumo
menyebutkan perbedaan antara Hukum Perdata dan Hukum Publik itu
(menurut pembagian klasik) adalah sebagai berikut:
1. Dalam Hukum Publik salah satu pihak adalah penguasa, sedangkan
dalam Hukum Perdata kedua belah pihak adalah perorangan tanpa
menutup kemungkinan bahwa dalam Hukum Perdatapun penguasa dapat
menjadi pihak juga.
2. Sifat Hukum Publik adalah memaksa, sedangkan Hukum Perdata
pada umumnya bersifat melengkapi meskipun ada juga yang memaksa.
3. Tujuan Hukum Publik adalah melindungi kepentingan umum,
sedangkan Hukum Perdata melindungi kepentingan
individu/perorangan.
4. Hukum Publik mengatur hubungan hukum antara negara dengan
individu, sedangkan Hukum Perdata mengatur hubungan hukum antara
individu.
Perbedaan-perbedaan tersebut, sekarang tidak bersifat mutlak lagi,
karena sudah mengalami perkembangan. Oleh karena itu Abdulwahab
Bakri menyebutkan bahwa Hukum Perdata adalah hukum yang
mempunyai kedudukan yang sederajat, sedangkan Hukum Publik adalah
hukum yang mengatur hubungan antara dua subyek hukum atau lebih
yang kedudukannya tidak sederajat. Jadi dalam Hukum Publik ada atasan
dan ada bawahan.

B. Pengertian Hukum Perdata Dalam Arti Luas Dan Dalam Arti Sempit
Hukum Perdata dalam arti luas adalah bahan hukum sebagaimana tertera
dalam KItab Undang-Undang Hukum Perdata (BW), Kitab Undang-
Undang Hukum Dagang (WVK) beserta sejumlah undang-undang yang
disebut undang-undang tambahan lainnya.
Hukum Perdata dalam arti sempit adalah Hukum Perdata sebagaimana
terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW}.

14

Subekti mengatakan Hukum Perdata dalam arti luas meliputi semua
hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur
kepentingan perseorangan.
Hukum Perdata adakalanya dipaki dalam arti sempit sebagai lawan
Hukum Dagang.
Soedewi Masjchoen Sofwan mengatakan Hukum Perdata yang diatur
dalam KUHPerdata disebut Hukum Perdata dalam arti sempit. Sedangkan
Hukum Perdata dalam arti luas termasuk didalamnya Hukum Dagang.
Antara KUHPerdata dengan KUHDagang mempunyai hubungan yang erat.
Hal ini dapat dilihat dari isi Pasal 1 KUHDagang, yang isinya sebagai
berikut:
Adagium mengenai hubungan tersebut adalah specialist derogat legi
generali artinya hukum yang khusus: KUHDagang mengesampingkan
hukum yang umum: KUHPerdata.

C. Pengertian Hukum Perdata Materil Dan Hukum Perdata Formal
Hukum Perdata dilihat dari fungsinya ada dua macam, yaitu:
1. Hukum Perdata materil yaitu aturan-aturan hukum yang mengatur
hak-hak dan kewajiban-kewajiban perdata, yaitu mengatur kepentingan-
kepentingan perdata setiap subyek hukum.
2. Hukum Perdata formal yaitu hukum yang mengatur bagaimana cara
mempertahankan hukum perdata materil.
Bagaimana tata cara seseorang menuntut haknya apabila diinginkan oleh
orang lain, Hukum Perdata formal biasa juga disebut Hukum Acara
Perdata.

D. Sistem Hukum Perdata di Indonesia
Sistem Hukum Perdata di Indonesia bersifat pluralisme (beraneka
ragam). Keanekaragamannya ini sudah berlangsung sejak jaman
penjajahan Belanda.
Hal ini disebabkan karena adanya Pasal 163 IS (Indische Staatsregeling)
dan Pasal 131 IS.

15

Pada Pasal 163 IS disebutkan bahwa golongan penduduk di Indonesia
dibagi 3, yaitu:
Golongan Eropah
Golongan Timur Asing
Golongan Bumi Putera
Pasal 131 IS mengatur mengenai hukum yang berlaku bagi golongan
penduduk tersebut.
Untuk golongan Eropah berlaku Hukum Perdata Eropah (BW)
Untuk golongan Timur Asing Tionghoa berlaku seluruh Hukum Perdata
Eropah dengan beberapa pengecualian dan tambahan. Untuk golongan
Timur Asing bukan Tionghoa berlaku Hukum Perdata Eropah dan hukum
adatnya masing-masing.
Untuk golongan Bumi Putera berlaku hukum adatnya masing-masing,
kecuali yang mengadakan perundukkan secara sukarela berdasarkan S.
1917 No. 12, yaitu:
a) tunduk pada seluruh Hukum Perdata Eropah
b) tunduk pada sebagian Hukum Perdata Eropah
c) tunduk pada perbuatan tertentu
d) tunduk secara diam-diam
Hukum Perdata/BW mulai berlaku di Indonesia pada tanggal 1 Mei 1848
dengan berlakunya asas konhordansi/asas persamaan.

E. SISTEMATIKA HUKUM PERDATA
Sistematikan Hukum Perdata itu ada 2, yaitu sebagai berikut:
1. Menurut Ilmu Hukum/Ilmu Pengetahuan
2. Menurut Undang-Undang/Hukum Perdata

Sistematika Menurut Ilmu Hukum/Ilmu Pengetahuan terdiri dari:
a) Hukum tentang orang/hukum perorangan/badan pribadi (Personen
Recht)
b) Hukum tentang keluarga/hukum keluarga (Familie Recht)

16

c) Hukum tentang harta kekayaan/hukum harta kekayaan/hukum
harta benda (Vermogen Recht)
d) Hukum waris/Erfrecht
Sistematika Hukum Perdata menurut Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata
Buku I tentang orang/van personen
Buku II tentang benda/van zaken
Buku III tentang perikatan/van verbintenissen
Buku IV tentang pembuktian dan daluarsa/van bewijs en verjaring
Apabila kita gabungkan sistematika menurut ilmu pengetahuan ke dalam
sistematika menurut KUHPerdata maka:
Hukum perorangan termasuk Buku I
Hukum Keluarga termasuk Buku I
Hukum harta kekayaan termasuk Buku II sepanjang yang
bersifat absolut dan termasuk Buku III sepanjang yang bersifat relatif.
Hukum waris termasuk Buku II karena Buku II mengatur tentang benda
sedangkan hukum waris juga mengatur benda dari pewaris.
Selain itu hukum waris dimasukkan dalam Buku II pewarisan merupakan
salah satu cara untuk memperoleh hak milik yang diatur dalam Pasal 584
KUHPerdata (terdapat dalam Buku II).

BAB II
HUKUM PERORANGAN

Tujuan Instruksional Umum / TIU
Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa
dapat menjelaskan mengenai Hukum Perorangan.
Sub Pokok Bahasan:
A. Pengertian Subyek Hukum
B. Manusia sebagai Subyek Hukum
C. Badan Hukum sebagai Subyek Hukum
D. Nama dan Kewarganegaraan

17

E. Domisili
F. Keadaan Tidak Hadir (Afwezeigheid)
Tujuan Instruksional Khusus / TIK
Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan
mahasiswa dapat:
A. Menjelasakn Pengertian Subyek Hukum
B. Menjelaskan Manusia sebagai Subyek Hukum
C. Menjelaskan Badan Hukum sebagai Subyek Hukum
D. Menjelaskan Nama dan Kewarganegaraan
E. Menjelaskan dan menyebutkan macam-macam Domisili
F. Menjelaskan Keadaan Tidak Hadir (Afwezeigheid)
Pendahuluan : Menjelaskan secara garis besar dan mengadakan Tanya
jawab dua arah.
Penyajian : lihat buku
Evaluasi : Memberikan soal-soal yang dijawab di rumah, terus
dikumpulkan.
Penutup : Bab II ada kaitannya dengan Bab III karena manusia
dalam kehidupannya mengalami peristiwa-peristiwa penting di
antaranya melakukan perkawinan, juga termasuk hokum perdata.

BAB II
HUKUM PERORANGAN

Penyajian:
A. Pengertian Subyek Hukum
Nenuiut Subekti Subyek Bukum aualah "pembawa hak atau subyek ui
dalam hukum, yaituoiang".
Neitokusumo mengatakan bahwa Subyek Bukum aualah "segala sesuatu
yang uapat mempeioleh hak uan kewajiban uaii hukum". Banya manusia
yang dapat jadi Subyek Hukum.
Syahian mengatakan Subyek Bukum aualah "penuukung hak uan
kewajiban".

18

Dari pendapat para sarjana tersebut dapat disimpulkan bahwa Subyek
Bukum itu aualah "segala sesuatu yang uapat menjaui penuukung hak
uan kewajiban".
Segala sesuatu yang dimaksud di sini menunjuk pada manusia dan badan
hukum.

B. Manusia Sebagai Subyek Hukum
Kapan mulai dan berakhirnya seseorang sebagai Subyek Hukum?
Seseorang mulai sebagai Subyek Hukum atau sebagai pendukung hak dan
kewajiban sejak dilahirkan sampai dengan meninggal dunia dengan
mengingat Pasal 2 KUHPerdata.
Pasal 2 KUHPerdata menyatakan:
1. Anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan, dianggap
sebagai telah dilahirkan, bilamana juga kepentingan si anak
menghendakinya.
2. Mati sewaktu dilahirkannya, dianggaplah ia tidak pernah telah ada.
Kalau kita lihat Pasal 2 ayat (1) di atas dapat dismpulkan bahwa anak
yang masih di dalam kandangan seorang wanita juga sudah dianggap
sebagai Subyek Hukum atau pembawa hak dan kewajiban apabila
kepentingan si anak menghendakinya.
Hal ini erat hubungannya dengan Pasal 836 dan Pasal 899 KUHPerdata
Pasal 836 KUHPerdata adalah sebagai berikut:
Dengan mengingat akan ketentuan dalam Pasal 2 Kitab ini, supaya dapat
bertindak sebagai waris, seorang harus telah ada, pada saat warisan jatuh
meluang.
Pasal-pasal 899 KUHPerdata adalah sebagai berikut:
Dengan mengindahkan akan ketentuan dalam Pasal 2 Kitab Undang-
Undang ini, untuk dapat menikmati sesuatu dari suatu surat wasiat,
seorang harus telah ada, tatkala si yang mewariskan meninggal dunia.
Ketentuan ini tidak tak berlaku bagi mereka yang menerima hak yang
menikmati sesuatu dari lembaga-lembaga.

19

Terhadap Pasal 2 KUHPerdata ini ada para sarjana yang menyebut rechts
fictie, yaitu anggapan hukum. Anak yang berada dalam kandungan
seorang wanita sudah dianggap ada pada waktu kepentingannya
memerlukan, jadi yang belum ada dianggap ada (fictie).
Selain itu ada para sarjana yang mengatakan bahwa Pasal 2 KUHPerdata
merupakan suatu norma sehingga disebut fixatie (penetapan hukum).
Pembuat undang-undang menetapkan bahwa anak yang ada dalam
kandungan seorang wanita adalah Subyek hukum apabila kepentingan si
anak itu menghendaki/memerlukan. Hal ini demi adanya keadilan
disamping kepastian hukum.

C. Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum
Selain manusia juga badan hukum termasuk sebagai Subyek Hukum.
Badan hukum menurut pendapat Wirjono Prodjodikoro adalah sebagai
berikut:
Suatu badan yang di samping manusia perorangan juga dapat bertindak
dalam hukum dan yang mempunyai hak-hak, kewajiban-kewajiban dan
kepentingan-kepentingan hukum terhadap orang lain atau badan lain.
Sarjana lain mengatakan:
Badan hukum adalah kumpulan dari orang-orang yang bersama-sama
mendidrikan suatu badan (perhimpunan) dan kumpulan harta kekayaan,
yang ditersendirikan untuk tujuan tertentu (yayasan).
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan mengatakan:
Baik perhimpunan maupun Yayasan kedua-duanya berstatus sebagai
badan hukum, jadi merupakan person pendukung hak dan kewajiban.
Kalau kita lihat dari pendapat tersebut badan hukum dapat dikategorikan
sebagai Subyek Hukum sama dengan manusia disebabkan karena:
1. Badan hukum itu mempunyai kekayaan sendiri
2. Sebagai pendukung hak dan kewajiban
3. Dapat menggugat dan digugat di muka pengadilan
4. Ikut serta dalam lalu lintas hukum.
Semuanya itu dilakukan melalui para pengurusnya.

20

Badan hukum (rechts/person) biasa juga disebut pribadi hukum
(Soerjono Soekamto), pusara hukum (Oetarid Sadino), awak hukum
(malikul Adil).
Ada beberapa teori tentang hakikat badan hukum, yaitu:
1. Teori Fiksi dari Freidrich Carl Von Savigny
Hanya manusialah yang menjadi Subyek Hukum, sedangkan badan
hukum dikatakan sebagai Subyek Hukum hanyalah fiksi, yaitu sesuatu
yang sebenarnya tidak ada tetapi orang menghidupkannya dalam
bayangannya Badan hukum itu ciptaan negara/pemerintah yang
wujudnya tidak nyata.
Untuk menerangkan sesuatu hal.
2. Teori Organ dari Otto Von Gierke
Badan hukum adalah organ seperti halnya manusia yang menjelma dalam
pergaulan hukum yang dapat menyatakan kehendak melalui alat-alat
yang ada padanya (pengurus, anggota) seperti halnya manusia. Badan
hukum itu nyata adanya.
3. Teori Harta Kekayaan Bertujuan dari Brinz
Badan hukum merupakan kakayaan yang bukan kekayaan perorangan,
tapi serikat pada tujuan tertentu.
Badan hukum itu mempunyai pengurus yang berhak dan berkehendak.
4. Teori Kekayaan Bersama dari Molengraaft
Apa yang merupakan hak dan kewajiban badan hukum pada hakekatnya
merupakan hak dan kewajiban para anggota bersama-sama.
Kekayaan badan hukum juga merupakan kekayaan bersama seluruh
anggotanya.
5. Teori Kenyataan Yuridis dari Paul Scholter
Badan hukum itu merupakan kenyataan yuridis. Badan hukum sama
dengan manusia hanya sebatas pada bidang hukum saja.
Suatu badan atau perkumpulan atau badan usaha dapat berstatus badan
hukum harus memenuhi syarat-syarat materil maupun syarat formal.
Syarat materialnya adalah sebagai berikut:
Harus adanya kekayaan yang terpisah

21

Mempunyai tujuan tertentu
Mempunyai kepentingan sendiri
Adanya organisasi yang teratur
Syarat formalnya harus memenuhi syarat yang ada hubungannya dengan
permohonan untuk mendapatkan status sebagai badan hukum (diatur
dalam KUHD).
Menurut Pasal 1653 KUHPerdata badan hukum dibedakan menjadi:
Badan hukum yang didirikan oleh pemerintah: propinsi, bank-bank
pemerintah
Badan hukum yang diakui pemerintah; perseroan, gereja
Badan hukum yang didirikan untuk maksud tertentu; PT
Badan hukum berdasarkan sifatnya:
Badan Hukum Publik: propinsi, kabupaten
Badan Hukum Keperdataan: Yayasan, firma
D. NAMA DAN KEWARGANEGARAAN

a. Nama
Nama bagi seseorang adalah sangat penting. Nama selain untuk
membedakan orang yang satu dengan yang lain, juga untuk mengetahui
apa hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang.
Selain itu juga nama merupakan tanda diri atau identifikasi seseorang
sebagai subyek hukum. Nama penting juga untuk mengetahui seseorang
itu keturunan siapa, penting untuk urusan pembagian harta warisan dan
soal-soal yang ada hubungannya dengan kekeluargaan.
Mengenai nama ini di Indonesia diatur dalam UU No. 4 tahun 1961.

b. Kewarganegaraan
Seperti halnya nama, kewarganegaraan seseorang juga sangat penting.
Kewarganegaraan seseorang merupakan satu factor yang mempengaruhi
kewenangan berhak seseorang.
Seperti kita lihat dalam Pasal 21 ayat 1 UUPA yang menyatakan:
Hanya warganegara Indonesia dapat mempunyai hak milik.

22

Jadi tersimpul dari pasal tersebut di atas, warga negara asing tidak
diperbolehkan memiliki hak milik atas tanah.
UU Kewarganegaraan yang berlaku di Indonesia adalah UU No. 62 tahun
1958. Dalam undang-undang tersebut jelas dibedakan siapa yang warga
negara, siapa yang bukan, cara memperoleh kewarganegaraan, hapusnya
kewarganegaraan, dan apa hak dan kewajiban seorang warganegara.
E. Domisili/Tempat Tinggal

1. Pengertian Domisili
Domisili adalah terjemahan dari Domicili atau Woonplaats yang artinya
tempat tinggal.
Menurut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan domisili atau tempat kediaman
itu adalah:
Tempat dimana seseorang dianggap selalu hadir mengenai hal melakukan
hak-haknya dan memenuhi kewajibannya juga meskipun kenyataannya
dia tidak di situ.
Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tempat kediaman itu
seringkali ialah rumahnya, kadang-kadang kotanya.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa setiap orang dianggap selalu
mempunyai tempat tinggal dimana ia sehari-harinya melakukan
kegiatannya atau dimana ia berkediaman pokok.
Kadang-kadang menetapkan tempat kediaman seseorang itu sulit, karena
selalu berpindah-pindah (banyak rumahnya). Untuk memudahkan hal
tersebut dibedakan antara tempat kediaman hukum (secara yuridis) dan
tempat kediaman yang sesungguhnya.
Tempat kediaman hukum adalah:
Tempat dimana seseorang dianggap selalu hadir berhubungan dengan hal
melakukan hak-haknya serta kewajiban-kewajibannya, meskipun
sesungguhnya mungkin ia bertempat tinggal di lain tempat.
Menurut Pasal 77, Pasal 1393; 2 KUHPerdata tempat tinggal itu adalah
"tempat uimana sesuatu peibuatan hukum haius uilakukan".

23

Bagi orang yang tidak mempunyai tempat kediaman tertentu, maka
tempat tinggal dianggap dimana ia sungguh-sungguh berada.

2. Macam-macam Domisili
a. Tempat tinggal sesungguhnya yaitu tempat yang bertalian dengan
hak-hak melakukan wewenang perdata seumumnya.
Tempat tinggal sesungguhnya dibedakan antara:
Tempat tinggal sukarela/bebas yang tidak terikat/tergantung
hubungannya dengan orang lain.
Tempat tinggal yang wajib/tidak bebas yaitu yang ditentukan oleh
hubungan yang ada antara seseorang dengan orang lain.
Misalnya: tempat tinggal suami isteri, tempat tinggal anak yang belum
dewasa di rumah orang tuanya, orang di bawah pengampuan di tempat
curatornya.
b. Tempat tinggal yang dipilih, yaitu tempat tinggal yang berhubungan
dengan hal-hal melakukan perbuatan hukum tertentu saja.
Tempat tinggal yang dipilih ini untuk memudahkan pihak lain atau untuk
kepentingan pihak yang memilih tempat tinggal tersebut.
Tempat tinggal yang dipilih ada dua macam yaitu:
Tempat kediaman yang dipilih atas dasar undang-undang misalnya
dalam hukum acara dalam menentukan waktu eksekusi dari vonis.
Tempat kediman yang dipilih secara bebas misalnya dalam melakukan
pembayaran memilih Kantor Notaris (menurut Sri Soedewi M. Sofwan).
Nenuiut Subekti aua juga yang uisebut "iumah kematian" atau "uomisili
penghabisan", yaitu iumah uimana seseoiang meninggal uunia.
Rumah penghabisan ini mempunyai arti penting untuk:
Menentukan hukum waris yang harus diterapkan
Untuk menentukan kewenangan mengadili kalau ada gugatan
Tempat kediaman untuk Badan Hukum disebut tempat kedudukan badan
hukum ialah tenpat dimana pengurusnya menetap.
Menurut KUHPerdata domisili/tempat tinggal itu ada dua jenis, yaitu:
I. Tempat tinggal umum terdiri dari :

24

a. Tempat tinggal sukarela atau bebas
Pasal 17 KUHPerdata menyatakan bahwa setiap orang dianggap
mempunyai tempat tinggal dimana ia menempatkan kediaman utamanya.
Dalam hal seseorang tidak mempunyai tempat kediaman utama maka
tempat tinggal dimana ia benar-benar berdiam adalah tempat tinggalnya.
b. Tempat tinggal yang tergantung pada orang lain, misalnya:
Wanita bersuami mengikuti suaminya
Anak di bawah umur mengikuti tempat tinggal orangtuanya/walinya
Orang dewasa yang ada di bawah pengampuan mengikuti curatornya
Pekerja/buruh mengikuti tempat tinggal majikannya
II. Tempat tinggal khusus atau yang dipilih menurut Pasal 24
KUHPerdata ada dua macam, yaitu:
a. Tempat tinggal yang terpaksa dipilih ditentukan undang-undang
(Pasal 106 : 2 KUHPerdata)
b. Tempat tinggal yang dipilih secara sukarela harus dilakukan secara
tertulis artinya harus dengan akta (Pasal 24 : 1 KUHPerdata), bila ia
pindah maka untuk tindakan hukum yang dilakukannya ia tetap
bertempat tinggal di tempat yang lama.

3. Arti Pentingnya Domisili Untuk Seseorang
Domisili itu penting untuk seseorang dalam hal sebagai berikut:
Untuk menentukan atau menunjukan suatu tempat dimana berbagai
perbuatan hukum harus dilakukan, misalnya mengajukan gugatan,
pengadilan mana yang berwenang mengadili (menurut Sri Soedewi M.
Sofwan).
Untuk mengetahui dengan siapakan seseorang itu melakukan hubungan
hukum serta apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing
(Ridwan Syahrani).
Untuk membatasi kewenangan berhak seseorang.

F. KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZEIGHEID)

25

Kadang-kadang terjadi seseorang meninggalkan tempat tinggalnya
selama waktu tertentu(lama dan seterusnya) untuk suatu
keperluan/suatu kepentingan atau suatu peristiwa tanpa memberi kuasa
terlebih dulu pada seseorang untuk mengurus kepentingannya.
Dalam hal demikian maka dikatakan ia sedang tidak ada di tempat atau
tidak hadir, sehingga akan menimbulkan kesulitan bagi pihak lain yang
ada hubungan dengan orang tersebut.
Keadaan tidak hadir seseorang itu tidaklah menghentikan status sebagai
subyek hukum. Oleh karena itu demi adanya kepastian hukum harus ada
pengaturannya.
Dalam Pasal 463 KUHPerdata disebutkan bahwa:
Seorang tidak hadir jika ia meninggalkan tempat tinggalnya tanpa
membuat suatu surat kuasa untuk mewakilinya dalam usahanya serta
kepentingannya atau dalam mengurus hartanya serta kepentingannya
atau jika kuasa yang diberikan tidak berlaku lagi.
Dapat simpulkan bahwa jika seorang meninggalkan tempat tinggalnya
sedang ia tidak atau tidak sempurna mewakilkan kepentingannya pada
seseorang.
Dalam KUHPerdata dikenal ada 3 masa (3 tingkatan) keadaan tidak hadir
seseorang, yaitu:
1. Pengambilan Tindakan Sementara
Masa ini diambil jika ada alasan-alasan yang mendesak untuk mengurus
seluruh atau sebagian harta kekayaannya.
Tindakan sementara ini dimintakan kepada Pengadilan Negeri oleh orang
yang mempunyai kepentingan terhadap harta kekayaannya.
Misalnya istrinya, para kreditur, sesame pemegang saham dan lain-lain,
juga jaksa dapat memohon tindakan sementara tersebut.
Dalam tindakan sementara ini hakim memerintahkan BPH (Balai Harta
peninggalan) untuk mengurus seluruh harta kekayaan serta kepentingan
dari orang tak hadir.
Adapun kewajiban BHP adalah:
1. Membuat pencatatan harta yang diurusnya

26

2. Membuat daftar pencatatan harta, surat-surat lain uang kontan,
kertas berharga dibawa ke kantor BHP
3. Memperhatikan segala ketentuan untuk seseorang wali mengenai
pengurusan harta seorang anak (Pasal 464 KUHPerdata)
4. Tiap tahun memberi pertanggung jawaban pada jaksa dengan
memperlihatkan surat-surat pengurusan dan efek-efek (Pasal 465
KUHPerdata)
BHP berhak atas upah yang besarnya sama dengan seorang wali (Pasal
411 KUHPerdata).

2. Masa Adanya Kemungkinan Sudah Meninggal
Seseoiang uapat uiputuskan "kemungkinan" suuah meninggal jika:
Tidak hadir 5 tahun, bila tidak meninggalkan surat kuasa (Pasal 467
KUHPerdata), di mulai pada hari ia pergi tidak ada kabar yang diterima
dari orang tersebut atau sejak kabar terakhir diterima.
Tidak hadir 10 tahun, bila surat kuasa ada tetapi sudah habis berlakunya
(Pasal 470 KUHPerdata), di mulai pada hari ia pergi tidak ada kabar yang
diterima dari orang tersebut atau sejak kabar terakhir diterima.
Tidak hadir 1 tahun, bila orangnya termasuk awak atau penumpang kapal
laut atau pesawat udara ( S. 1922 No. 455), di mulai sejak adanya kabar
terakhir dan jika tidak ada kabar sejak hari berangkatnya.
Tidak hadir 1 tahun, jika orangnya hilang pada suatu peristiwa fatal yang
menimpa sebuah kapal laut atau pesawat udara (S. 1922 No. 455), di
mulai sejak tanggal terjadinya peristiwa.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 9/1975, dikatakan bahwa apabila salah
satu pihak meninggalkannya 2 tahun berturut-turut, pihak yang
ditinggalkan boleh mengajukan perceraian.
Akibat-akibat dari masa kemungkinan sudah meninggal bagi para ahli
waris dan penerima hibah wasiat/legataris adalah:
1. Menuntut pembukaan surat wasiat

27

2. Mengambil (menerima) harta orang yang tak hadir dengan
kewajiban membuat pencatatan harta yang diambil serta memberi
jaminan yang harus disetujui oleh hakim (Pasal 472 KUHPerdata)
3. Meminta pertanggung jawab oleh BHP bila BHP dahulu
mengurusnya
4. Mengoper segala kewajiban dan gugatan orang tak hadir (asal 488
KUHPerdata). Para ahli waris yang diperkirakan demi hukum menerima
harta warisan secara terbatas (Pasal 277 KUHPerdata)
5. Pada umumnya merka bertindak sebagai orang yang mempunyai hak
pakai hasul (Pasal 474 KUHPerdata)
6. Berhak mengadakan pemisahan dan pembagian dengan ketentuan
harta tetap tidak dapat dijual kecuali dengan ijin hakim (Pasal 478 dan
481 KUHPerdata)
Keauaan "mungkin suauh meninggal" beiakhii:
1. JIka orang yang tidak hadir kembali atau ada kabar baru tentang
hidupnya
2. Jika si tak hadir meninggal dunia
3. }ika masa "pewaiisan uefinitive" teimaksuu ualam Pasal 484
KUHPerdata di mulai .

3. Masa Pewarisan Definitif
Masa ini terjadi apabila setelah lewat 30 tahun sejak tanggal tentang
"mungkin suuah meninggal" atas keputusan hakim, atau setelah lewat
100 tahun setelah lahirnya si tak hadir.
Akibat-akibat pemulaan masa pewarisan definitive:
1. Semua jaminan dibebaskan
2. Para ahli waris dapat mempertahankan pembagian harta warisan
sebagaimana telah dilakukan atau membuat pemisahan dan pembagian
definitive.
3. Hak menerima warisan secara terbatas berhenti dan para ahli waris
dapat diwajibkan menerima warisan atau menolaknya.

28

Seandainya orang yang tidak hadir kembali setelah masa pewarisan
definitive, ia ada hak untuk meminta kembali hartanya dalam keadaan
sebagaimana adanya berikut harga dari harta yang tidak
dipindatangankan, semuanya tanpa hasil dan pendapatannya (Pasal 486
KUHPerdata).
Akibat-akibat keadaan tidak hadir terhadap isteri adalah:
1. Jika suami atau isteri tak hadir 10 tahun tanpa ada kabar tentang
hidupnya, maka isteri/suami yang ditinggal dapat menikah lagi dengan
ijin Pengadilan Negeri (Pasal 493 KUHPerdata).
Sebelumnya pengadilan harus mengadakan dulu pemanggilan 3x
berturut-turut.
2. Waktu 10 tahun dapat diperpendek jadi satu tahun dalam masa
"mungkin suuah meninggal" (S. 1922 No. 4SS).
3. Dalam PP No. 9/1975 boleh kawin lagi apabila ditinggal 2 tahun
berturut-turut.
4. Jika ijin pengadilan sudah diberikan tanpa perkawinan baru belum
dilangsungkan sedang orang yang tak hadir kembali atau memberi kabar
masih hidup, ijin untuk menikah dari pengadilan gugur demi hukum.
5. setelah suami/isteri yang ditinggal menikah lagi dan kemudian
orang yang tak hadir kembali, maka orang yang tak hadir boleh menikah
lagi dengan orang lain.
Akibat keadaan tak hadir bagi anak:
Untuk anak yang masih di bawah umur berlaku Pasal 300 : 2, Pasal 359 :
3, dan Pasal 374 KUHPerdata.

BAB III
PERKAWINAN MENURUT UU NO. I/1974

Tujuan Instruksional Umum / TIU
Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan di atas diharapkan mahasiswa
dapat menjelaskan dan memahami perkawinan menurut UU No. I/1974
dan melaksanakannya sesuai dengan UU yang berlaku..

29

Sub Pokok Bahasan:
A. Arti dan Tujuan Perkawinan
B. Sahnya Perkawinan
C. Asas Perkawinan
D. Syarat-syarat Perkawinan
E. Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan
F. Perjanjian Perkawinan
G. Akibat Hukum Perkawinan
H. Perkawinan Campuran
I. Putusnya Perkawinan
J. Perkawinan Menurut Hukum Islam
K. Catatan Sipil
Tujuan Instruksional Khusus / TIK
Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan
mahasiswa dapat:
A. Menjelaskan Arti dan Tujuan Perkawinan
B. Menjelaskan Sahnya Perkawinan
C. Menjelaskan Asas Perkawinan
D. Menjelaskan Syarat-syarat Perkawinan
E. Membedakan antara Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan
F. Menjelaskan Perjanjian Perkawinan
G. Menjelaskan Akibat Hukum Perkawinan
H. Menjelaskan Perkawinan Campuran
I. Menyebutkan Sebab-sebab Putusnya Perkawinan
J. Menjelaskan Perkawinan Menurut Hukum Islam
K. Membedakan Catatan Sipil yang dulu dengan Catatan Sipil yang
sekarang berlaku
Pendahuluan : Menjelaskan dan memberikan contoh yang terjadi dalam
masyarakat
Penyajian : lihat buku
Evaluasi : Tanya jawab dan ts tertulis

30

Penutup : Bab III ada kaitannya dengan Bab IV karena manusia /
orang yang sudah melakukan perkawinan memerlukan harta untuk
kelangsungan kehidupannya, oleh karena itu hokum benda perlu juga
dipelajari.

BAB III
PERKAWINAN MENURUT UU NO. I/1974

Sebelum berlakunya UU No. I Tahun 1974 tentang Perkawinan,
peraturan perkawinan di Indonesia banyak macamnya seperti: Kitab
Undang-undang Hukum Perdata, Ordonansi Perkawinan Indonesia
Kristen, S. 1933 No. 74, Peraturan Perkawinan Campuran (RGHS S. 1898
No. 158) dan peraturan-peraturan lainnya.
Setelah diberlakukannya UU No. I Tahun 1974, peraturan-peraturan yang
ada dinyatakan tidak berlaku lagi sepanjang telah diatur dalam UU
tersebut.
UU No. I Tahun 1974 merupakan undang-undang yang bersifat
nasional yang berlaku bagi seluruh warga Negara Indonesia baik yang di
luar negeri maupun dalam negeri.
UU No. I Tahun 1974 juga berlaku bagi semua pemeluk agama yang diakui
di Indonesia.
A. Arti Dan Tujuan Perkawinan
Pasal 1 menyatakan bahwa:
Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan
seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa.

Menurut K. Wantjik Saleh, ikatan lahir bathin itu harus ada. Ikatan lahir
mengungkapkan adanya hubungan formal, sedang ikatan bathin
merupakan hubungan yang tidak formal, tak dapat dilihat.

31

Ikatan lahir tanpa ikatan bathin akan menjadi rapuh. Ikatan lahir bathin
menjadi asar utama pembentukan dan pembinaan keluarga bahagia dan
kekal.
Kekal artinya perkawinan itu hanya dilakukan satu kali seumur hidup,
kecuali ada hal yang tidak dapat diduga sebelumnya.
Perkawinan itu harus didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa artinya
perkawinan itu harus berdasarkan atas agama.
Ali Afandi menyatakan bahwa:
Perkawinan adalah suatu persetujuan kekeluargaan.
Persetujuan kekeluargaan yang dimaksud bukanlah seperti persetujuan
biasa, tetapi mempunyai cirri-ciri tertentu.
Subekti mengatakan:
Perkawinan adalah hubungan hukum antara seorang pria dengan seorang
wanita untuk hidup bersama dengan kekal, yang diakui oleh Negara.

B. Sahnya Perkawinan
Menurut Pasal 2 UU No. I/1974 sahnya perkawinan apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu (Pasal
2 ayat 1).
Ayat 2 mengatakan:
Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Kalau kita lihat Pasal 1 dan 2 tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
perkawinan di Indonesia itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
keagamaan.
Perkawinan itu dinyatakan sah apabila menurut agama, baru setelah itu
dicatata berdasarkan peraturan yang berlaku.
Bagi mereka yang melangsungkan perkawinan secara Islam harus dicatat
di Kantor Urusan Agama (KUA), sedang mereka yang melangsungkan
perkawinan di luar agama Islam dicatat di Kantor Catatan Sipil.

32

Perkawinan menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata itu sebaiknya
yaitu dilakukan dulu pencatatan di Kantor Catatan Sipil, baru dilakukan
secara agama kalau mau.
Menurut Pasal 26 KUHPerdata perkawinan itu hanya dipandang dalam
hubungan-hubungan perdata; artinya undang-undang menyatakan bahwa
suatu perkawinan itu sah, apabila memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam KUHPerdata sedang syarat-syarat serta peraturan
agama tidaklah diperhatikan/dikesampingkan.

C. Asas Perkawinan
UU No. I/1974 menganut aas monogami tidak mutlak.
Hal tersebut dapat kita lihat dari isi Pasal 3 sebagai berikut:
(1) Pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang pria hanya boleh
mempunyai seorang isteri. Sedang seorang wanita hanya boleh
mempunyai seorang suami.
(2) Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk
beristeri lebih dari seorang apabila dikehendaki oleh pihak-pihak yang
bersangkutan.
Ijin pengadilan diberikan kepada seorang suami yang akan beristeri lebih
dari satu orang apabila memenuhi syarat fakultatif dan syarat kumulatif.
Syarat fakultatif adalah syarat yang terdapat dalam Pasal 4 ayat 2, yaitu:
a. Adanya persetujuan dari isteri/isteri-isteri.
b. Adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan-
keperluan hidup isteri-isteri dan anak-anak mereka.
c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap isteri-
isteri dan anak-anak mereka.
Jadi seorang suami yang akan beristri lebih dari seorang harus memenuhi
salah satu syarat fakultatif dan semua syarat kumulatif yang telah
ditentukan oleh undang-undang.
Kitab Undang-undang Hukum Perdata juga menganut asas monogami,
tapi monogaminya adalah mutlak.

33

Hal ini dapat disimpulkan dari Pasal 27 dan 28 KUHPerdata yang
menyatakan bahwa asas perkawinan adalah monogami serta menganut
adanya asas kebebasan kata sepakat diantara para calon suami isteri,
melarang adanya poligami.
D. Syarat-Syarat Perkawinan
Syarat-syarat perkawinan diatur mulai Pasal 6 sampai Pasal 12.
Pasal 6 s/d Pasal 11 memuat mengenai syarat perkawinan yang bersifat
materiil, sedang Pasal 12 mengatur mengenai syarat perkawinan yang
bersifat formil.
Syarat perkawinan yang bersifat materiil dapat disimpulkan dari Pasal 6
s/d 11, yaitu:
Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai.
Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur
21 tahun harus mendapat ijin kedua orang tuanya/salah satu orang
tuanya, apabila salah satunya telah meninggal dunia/walinya apabila
kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19
tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Kalu ada
penyimpangan harus ada ijin dari Pengadilan atau Pejabat yang ditunjuk
oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.
seorang yang masih terikat tali perkawinan dengan orang lain tidak dapat
kawin lagi kecuali memenuhi Pasal 3 ayat 2 dan Pasal 4.
Apabila suami dan isteri yang telah cerai kawin lagi satu dengan yang lain
dan bercerai lagi untuk kedua kalinya.
bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu
tunggu.
Dalam Pasal 39 Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 waktu tunggu itu
adalah sebagai berikut:
1. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu
ditetapkan 130 hari, dihitung sejak kematian suami.
2. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi
yang masih berdatang bulan adalah 3 kali suci dengan sekurang-

34

kurangnya 90 hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90
hari, yang dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai
kekuatan hukum yang tetap.
3. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam keadaan
hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
4. Bagi janda yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara
janda dan bekas suaminya belum pernah terjadi hubungan kelamin tidak
ada waktu tunggu.
Pasal 8 Undang-undang No. I/1974 menyatakan bahwa perkawinan
dilarang antara dua orang yang:
1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah maupun
ke atas/incest.
2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu
antara saudara, antara seorang dengan suadara orang tua dan antara
seorang dengan saudara neneknya/kewangsaan.
3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan
ibu/bapak tiri/periparan.
4. Berhubungan susuan, yaitu orang tua susuan, anak susuan, saudara
susuan dan bibi/paman susuan.
5. Berhubungan saudara dengan isteri atau sebagai bibi atau
kemenakan dai isteri dalam hal seseorang suami beristeri lebih dari
seorang.
6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang
berlaku dilarang kawin.
Syarat perkawinan secara formal menurut Pasal 12 UU No. I/1974
direalisasikan dalam Pasal 3 s/d Pasal 13 Peraturan Pemerintah No. 9
tahun 1975, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pemberiahuan dari yang akan melangsungkan perkawinan.
Penelitian dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan.
Pengumuman.
Pemberian akta perkawinan.


35

E. PENCEGAHAN DAN PEMBATALAN PERKAWINAN

a. Pencegahan Perkawinan
Berdasarkan Pasal 13 UU Perkawinan No. I Tahun 1974 suatu
perkawinan dapat dicegah berlangsungnya apabila ada pihak yang tidak
memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.
Syarat-syarat perkawinan yang dapat dijadikan alas an untuk adanya
pencegahan perkawinan disebutkan dalam Pasal 20 UU Perkawinan No. I
Tahun 1974, yaitu:
Pelanggaran terhadap Pasal 7 ayat (1) yaitu mengenai batasan umur
untuk dapat melangsungkan perkawinan.
Apabila calon mempelai tidak (belum) memenuhi umur yang ditetapkan
dalam Pasal 7 ayat (1) tersebut, maka perkawinan itu dapat dicegah
untuk dilaksanakan.
Jadi perkawinan ditangguhkan pelaksanaannya sampai umur calon
mempelai memenuhi umur yang ditetapkan undang-undang.
Melanggar Pasal 8, yaitu mengenai larangan perkawinan.
Misalnya saja antara kedua calon mempelai tersebut satu sama lain
mempunyai hubungan darah dalam satu garis keturunan baik ke bawah,
ke samping, ke atas berhubungan darah semenda, satu susuan ataupun
oleh agama yang dianutnya dilarang untuk melangsungkan perkawinan.
Dalam hal ini perkawinan dapat ditangguhkan pelaksanaannya bahkan
dapat dicegahkan pelaksanaannya untuk selama-lamanya misalnya
perkawinan yang akan dilakukan oleh kakak adik, bapak dengan anak
kandung dan lain-lain.
Pelanggaran terhadap Pasal 9 yaitu mengenai seseorang yang masih
terikat perkawinan dengan orang lain tidak dapat kawin lagi kecuali
apabila memenuhi Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 tentang syarat-syarat
untuk seorang suami yang diperbolehkan berpoligami.
Pelanggaran terhadap Pasal 10 yaitu larangan bagi suami atau isteri yang
telah kawin cerai dua kali tidak boleh melangsungkan perkawinan untuk
ketiga kalinya sepanjang menurut agamnya (hukum) mengatur lain.

36

Pelanggaran terhadap Pasal 12 yaitu melanggar syarat formal untuk
melaksanakan perkawinan yaitu tidak melalui prosedur yang telah
ditetapkan yaitu dimulai dengan pemberitahuan, penelitian dan
pengumuman (lihat Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975).
Sedangkan yang boleh melakukan pencegahan berlangsungnya suatu
perkawinan adalah:
1. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah
2. Saudara
3. Wali nikah
4. Wali
5. Pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang
berkepentingan.
Berdasarkan Pasal 20 UU Perkawinan No. I Tahun 1974 pegawai pencatat
perkawinan tidak boleh melangsungkan atau membantu melangsungkan
perkawinan apabila dia mengetahui adanya pelanggaran terhadap Pasal 7
ayat (1), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 12 Undang-undang ini.
Bahkan pegawai pencatat perkawinan berhak dan berkewajiban untuk
menolak melangsungkan suatu perkawinan apabila benar-benar adanya
pelanggaran terhadap Undang-undang ini (Pasal 21 ayat (1)).
Jadi pencegahan perkawinan itu dilakukan sebelum perkawinan
dilangsungkan.
Akibat hukum dari pencegahan perkawinan ini adalah adanya
penangguhan pelaksanaan perkawinan bahkan menolak untuk selama-
lamanya suatu perkainan dilangsungkan.

b. Pembatalan Perkawinan
Seperti halnya pencegahan, pembatalan perkawinan juga terjadi apabila
para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan
perkawinan (Pasal 22).
Syarat-syarat yang tidak dipenuhi dimuat dalam Pasal 26 ayat (1) yaitu:
1. Perkawinan yang dilangsungkan dimuka pegawai pencatat
perkawinan yang tidak berwenang.

37

2. Dilakukan oleh wali nikah yang tidak sah.
3. Tidak dihadiri oleh dua orang saksi.
Ketentuan Pasal 26 ayat (1) tersebut di atas dapat digugurkan
pembatalannya apabila suami/isteri yang mengajukan pembatalan
tersebut sudah hidup bersama sebagai suami isteri dan dapat
memperlihatkan akta perkawinan yang cacat hukum tersebut supaya
perkawinan itu dapat diperbaharui sehingga menjadi sah.
Berdasarkan Pasal 23, pembatalan perkawinan dapat diajukan oleh:
1. Para keluarga dalam garis keturunan harus ke atas dari suami/isteri.
2. Suami atau isteri.
3. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum
diputuskan.
4. Pejabat berdasarkan Pasal 16 ayat (2).
5. Setiap orang yang mempunyai kepentingan hukum secara langsung
terhadap perkawinan tersebut asal perkawinan itu telah putus.
Seorang suami/isteri dapat juga mengajukan permohonan pembatalan
perkawinan apabila:
1. Perkawinan dilangsungkan di bawah ancaman yang melanggar
hukum.
2. Pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi salah sangka
mengenai diri suami atau isteri.
Pembatalan suatu perkawinan dimulai setelah adanya Keputusan
Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku
sejak saat berlangsungnya perkawinan.
Pembatalan perkawinan terjadi setelah perkawinan dilangsungkan
sedang akibat hukum dari adanya pembatalan perkawinan adalah:
1. Perkawinan itu dapat dibatalkan.
2. Perkawinan dapat batal demi hukum artinya sejak semula dianggap
tidak ada perkawinan, misalnya suatu perkawinan yang dilangsungkan
dimana antara suami isteri itu mempunyai hubungan darah menurut
garis keturunan ke atas atau ke bawah ataupun satu susuan.

38

Akibat hukum pembatalan perkawinan terhadap anak, suami atau isteri
dan pihak ketiga tidak berlaku surut:
1. Anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tetap
merupakan anak yang sah.
2. Suami atau isteri yang bertindak dengan itikad baik, kecuali
terhadap harta bersama bila pembatalan perkawinan didasarkan atas
adanya perkawinan lain yang lebih dahulu.
3. Orang-orang ketiga lainnya tidak termasuk dalam point 1+2
sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan itikad baik sebelum
keputusan tentang pembatalan mempunyai kekuatan hukum tetap.

F. PERJANJIAN PERKAWINAN
Perjanjian perkawinan diatur dalam Pasal 29 UU Perkawinan No. I Tahun
1974.
Perjanjian Perkawinan adalah:
Perjanjian yang dilakukan oleh calon suami/isteri mengenai kedudukan
harta setelah mereka melangsungkan pernikahan.
Menurut KUHPerdata dengan adanya perkawinan, maka sejak itu harta
kekayaan baik harta asal maupun harta bersama suami dan isteri bersatu,
kecuali ada perjanjian perkawinan.
UU Perkawinan No. I Tahun 1974 mengenai 2 (dua) macam harta
perkawinan, yaitu:
Harta asal/harta bawaan
Harta bersama (Pasal 35)
Harta asal adalah harta yang dibawa masing-masing suami/isteri ke
dalam perkawinan, dimana pengurusannya diserahkan pada maisng-
masing pihak.
Harta bersama adalah harta yang dibentuk selama perkainan.
Berbeda dengan yang ada dalam KUHPerdata, dalam UU Perkawinan No. I
Tahun 1974, adanya perkawinan harta itu tidak bersatu tetap dibedakan
antara harta asal dan harta bersama.

39

Dengan adanya perjanjian perkawinan, maka harta asal suami isteri tetap
terpisah dan tidak terbentuk harta bersama, suami isteri memisahkan
harta yang didapat masing-masing selama perkawinan.
Balam penjelasan Pasal 29 uisebutkan bahwa taklik-talak tidak termasuk
dalam perjanjian perkawinan.
Perjanjian perkawinan itu dibuat pada waktu atau sebelum
perkawinan berlangsung.
Perjanjian perkawinan itu harus dibuat secara tertulis atas
persetujuan kedua belah pihak yang disahkan Pegawai Pencatat
Perkawinan.
Apabila telah disahkan oleh Pegawai Pencatat Perkawinan, maka isinya
mengikat para pihak dan juga pihak ketiga sepanjang pihak ketiga
tersebut tersangkut.
Perjanjian perkawinan itu mulai berlaku sejak perkawinan
berlangsung dan tidak boleh dirubah kecuali atas persetujuan kedua
belah pihak dengan syarat tidak merugikan pihak ketiga yang tersangkut.


G. AKIBAT HUKUM PERKAWINAN
Dengan adanya perkawinan akan menimbulkan akibat baik
terhadap suami isteri, harta kekayaan maupun anak yang dilahirkan
dalam perkawinan.

a. Akibat Perkawinan Terhadap Suami Isteri
1. Suami isteri memikul tanggung jawab yang luhur untuk menegakan
rumah tangga berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 30).
2. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan
kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan dalam pergaulan
hidup bersama dalam masyarakat (Pasal 31 ayat (1)).
3. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum
(ayat 2).
4. Suami adalah kepala keluarga dan isteri sebagai ibu rumah tangga.

40

5. Suami isteri menentukan tempat kediaman mereka.
6. Suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati,
saling setia.
7. Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu
sesuai dengan kemampuannya.
8. Isteri wajib mengatur urusan rumah tangga dengan sebaik-baiknya.

b. Akibat Perkawinan Terhadap Harta Kekayaan
1. Timbul harta bawaan dan harta bersama.
2. Suami atau isteri masing-masing mempunyai hak sepenuhnya
terhadap harta bawaan untuk melakukan perbuatan hukum apapun.
3. Suami atau isteri harus selalu ada persetujuan untuk melakukan
perbuatan hukum terhadap harta bersama (Pasal 35 dan 36).

c. Akibat Perkawinan Terhadap Suami Isteri
1. Kedudukan anak
a. Anak yang dilahirkan dalam perkawinan adalah anak yang sah
(Pasal 42).
b. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai
hubungan perdata dengan ibunya dan ibunya saja.
2. Hak dan kewajiban antara orang tua dan anak
a. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anaknya
sampai anak-anak tersebut kawin dan dapat berdiri sendiri (Pasal 45).
b. Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendaknya yang
baik.
c. Anak yang dewasa wajib memelihara orang tua dan keluarga dalam
garis keturunan ke atas sesuai kemampuannya, apabila memerlukan
bantuan anaknya (Pasal 46).
3. Kekuasaan orang tua
a. Anak yang belum berumur 18 tahun atau belum pernah kawin ada di
bawah kekuasaan orang tua.

41

b. Orang tua dapat mewakili segala perbuatan hukum baik di dalam
maupun di luar pengadilan.
c. Orang tua tidak boleh memindahkan hak atau menggadaikan
barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun
atau belum pernah kawin.
d. Kekuasaan orang tua bisa dicabut oleh pengadilan apabila:
Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anak.
Ia berkelakuan buruk sekali.
e. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, tetap berkewajiban
untuk memberi biaya pemeliharaan kepada anaknya.
Sedang yang dimaksud dengan kekuasaan orang tua adalah:
Kekuasaan yang dilakukan oleh ayah dan ibu terhadap anak yang belum
mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan.
Isi kekuasaan orang tua adalah:
1. Kewenangan atas anak-anak baik mengenai pribadi maupun harta
kekayaannya.
2. Kewenangan untuk mewakili anak terhadap segala perbuatan
hukum di dalam maupun di luar pengadilan.
Kekuasaan orang tua itu berlaku sejak kelahiran anak atau sejak hari
pengesahannya.
Kekuasaan orang tua berakhir apabila:
a. Anak itu dewasa.
b. Anak itu kawin.
c. Kekuasaan orang tua dicabut.

H. PERKAWINAN CAMPURAN

a. Pengertian Perkawinan Campuran
Perkawinan campuran yang diatur dalam UU No. I/1974 berbeda dengan
perkawinan campuran yang terdapat dalam S. 1898/158.
Menurut Pasal 57 UU No. I/1974 pengertian perkawinan campuran
adalah:

42

Perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia.
Apabila melihat isi pasal tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perkawinan campuran yang sekarang berlaku di Indonesia unsurnya
adalah sebagai berikut:
1. Perkawinan itu dilakukan oleh seorang pria dan seorang wanita.
2. Dilakukan di Indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan.
3. Di antara keduanya berbeda kewarganegaraan.
4. Salah satu pihaknya berkewarganegaraan Indonesia.
Contoh : Seorang wanita Warga Negara Indonesia kawin dengan seorang
laki-laki Warga Negara Asing atau sebaliknya.
Sedangkan perkawinan campuran menurut S. 1898/158 Pasal I nya
menyebutkan:
Perkawinan campuran adalah perkawinan antara orang-orang di
Indonesia tunduk kepada hukum-hukum yang berlainan.
Contohnya: Seorang wanita Warga Negara Indonesia kawin dengan
seorang laki-laki Warga Negara Asing atau sebaliknya atau seorang
wanita beragama Islam kawin dengan seorang laki-laki beragama selain
Islam.
Kalau dibandingkan perkawinan campuran menurut Pasal 57 UU No.
I/1974 dengan perkawinan campuran menurut S. 1898/158 adalah
sebagai berikut:
Perkawinan campuran menurut Pasal 57 UU No. I/1974 ruang lingkupnya
lebih sempit karena hanya berbeda kewarganegaraan dan hanya berbeda
kewarganegaraaan dan salah satu pihaknya harus Warga Negara
Indonesia.
Perkawinan campuran menurut S. 1898/158 ruang lingkupnya lebih luas
karena selain berbeda kewarganegaraan juga perkawinan dapat
dilakukan karena perbedaan agama, tempat, dan golongan.



43

b. Syarat-syarat Perkawinan Campuran
Sebelum perkawinan dilangsungkan kedua belah pihak harus memenuhi
syarat-syarat yang berlaku menurut hukum masing-masing pihak (Pasal
60 ayat 1 UU No. I/1974).
Sahnya perkawinan harus berdasarkan Pasal 2 UU No. I/1974 yang
menyebutkan:
(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-
masing agamanya dan kepercayaannya itu.
(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Perkawinan campuran yang dilakukan oleh para pihak yang kedua-
duanya beragama Islam dicatat di Kantor Urusan Agama sedangkan yang
berbeda agama di Kantor Catatan Sipil.

c. Akibat Perkawinan Campuran
Menurut Pasal 58 UU No. I/1974 akibat dari perkawinan campuran yang
berlainan kewarganegaraan dapat memperoleh kewarganegaraan dari
suami/isterinya dan dapat pula kehilangan kewarganegaraannya
menurut cara-cara yang telah ditentukan dalam Undang-undang
Kewarganegaraan Republik Indonesia yang berlaku.
Pasal 59 ayat (1) UU No. I/1974 menyebutkan:
Kewarganegaraan yang diperoleh sebagai akibat perkawinan atau
putusnya perkawinan menentukan hukum yang berlaku baik mengenai
hukum public maupun mengenai hukum perdata.
Kedudukan anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin akan
mengikuti kewarganegaraan ayah atau ibunya dengan siapa ia
mempunyai hubungan hukum keluarga.

I. PUTUSNYA PERKAWINAN

a. Pasal 38 UU No. I/1974 menyebutkan putusnya perkawinan dapat
disebabkan karena:

44

Kematian
Perceraian
Atas keputusan pengadilan
Mengenai kematian tidak akan dibahas di sini, karena akibatnya timbul
pewarisan. Hukum Waris dibahas dalam mata kuliah Waris dan
Perorangan.
Peiceiaian biasa uisebut "ceiai talak" uan atas keputusan pengauilan
uisebut "ceiai gugat".
Cerai talak adalah perceraian yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada
isterinya yang perkawinannya dilaksankan menurut agama Islam (Pasal
14 PP No. 9/1975).
Cerai gugat adalah perceraian yang dilakukan oleh seorang isteri yang
melakukan perkawinan menurut agama Islam dan oleh seorang suami
atau seorang isteri yang melangsungkan perkawinannya menurut
agamanya dan kepercayaaan itu selain agama Islam (Penjelasan Pasal 20
ayat (1) PP No. 9/1975).
Cerai talak dan cerai gugat hanya dapat dilakukan di depan Sidang
Pengadilan (Pasal 39 ayat (1) PP No. 9/1975).

b. Alasan-alasan Perceraian
Cerai talak dan cerai gugat hanya dapat dilaksanakan apabila memenuhi
salah satu syarat di bawah ini, yaitu:
a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat,
penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-
turut tanpa ijin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain
di luar kemampuannya.
c. Salah satu pihak mendapat hukuman 5 tahun atau hukuman yang
lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat
yang membahayakan pihak lain.

45

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat
tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri.
f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi pertengkaran dan
perselisihan dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah
tangga (Pasal 19 PP No. 9/1975).

c. Akibat Perceraian
Seperti halnya perkawinan, perceraian juga membawa akibat kepada:
Anak dan Isteri
Harta kekayaan
Status para pihak
Ad.a. Akibat perceraian pada anak dan isteri
1. Bapak dan ibu tetap berkewajiban memelihara dan
mendidik anak-anaknya semata-mata berdasarkan kepentingan anak,
bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak Pengadilan
memberi keputusannya.
2. Bapak yang bertanggungjawab atas semua biaya
pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak
dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut,
Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
3. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami
untuk memeberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu
keajiban bagi bekas isteri (Pasal 41 UU No. I.1974).
Ad.b. Akibat perceraian terhadap harta kekayaan
Apabila terjadi perceraian, harta bawaan masing-masing tetap dikuasai
dan menjadi hak masing-masing.
Harta bersama apabila terjadi perceraian diatur menurut hukumnya
masing-masing (Pasal 37 UU No. I/1974).


Ad.c. Akibat perceraian terhadap status para pihak

46

1. Kedua belah pihak tidak terikat lagi dalam tali perkawinan dengan
status duda atau janda.
2. Keduanya boleh melakukan perkawinan dengan pihak lain. Khusus
untuk isteri berlaku waktu tunggu (Pasal 39 PP 9/1975).
3. Keduanya boleh melakukan perkawinan lagi sepanjang tidak
bertentangan dengan undang-undang atau agama yang mereka anut.

J. PERKAWINAN MENURUT HUKUM ISLAM

a. Perkawinan
Perkawinan menurut UU No. I/1974 banyak persamaanya dengan
perkawinan menurut hukum Islam, oleh karena itu yang akan dibahas
dalam diktat ini hanyalah perbedaan-perbedaannya.
Pengertian-pengertian yang perlu diketahui antara lain:
1. Akad nikah adalah rangkaian ijab yang diucapkan oleh wali dan
Kabul yang diucapkan oleh mempelai pria atau wakilnya disaksikan oleh
dua orang saksi.
2. Taklil talak adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria
setelah akad nikah yang dicantumkan dalam akta nikah berupa janji talak
yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi
dimasa yang akan datang.
3. Khuluk adalah perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan
memberikan tebusan atau iwadl kepada dan atas persetujuan suaminya.
4. Nufah aualah pembeiian bekas suami kepada isteri yang dijatuhi
talak berupa benda atau uang dan lainnya.
Perkawinan adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau
miitsaaqan gholiiddan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah. (Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam
yang selanjutnya disebut KHI).
Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang
sakinah, mawadah dan rahmat (Pasal 3 KHI).

47

Perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan akta nikah yang dibuat
Pegawai Pencatat Nikah, kalau tidak ada dapat mengajukan itsbat
nikahnya ke Pengadilan Agama (Pasal 7 KHI). Istbat nikah yang diajukan
hanya ternatas mengenai:
a. Adanya perkawinan dalam rangka penyelesaian perceraian.
b. Hilangnya akta nikah.
c. Adanya keraguan tentang sah atau tidaknya salah satu syarat
perkawinan.
d. Perkawinan sebelum berlakunya UU No. I/1974.
e. Perkawinan yang dilakukan tidak mempunyai halangan perkawinan
menurut UU No. I/1974.
Mereka yang boleh mengajukan itsbat nikah:
suami/isteri
anak-anak
wali nikah
pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu
Rukun dan syarat perkawinan
Untuk melaksanakan perkawina harus ada:
calon suami
calon isteri
wali nikah
dua orang saksi
Ijab dan Kabul (semua termasuk rukun) (Pasal 14 KHI).
Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi
bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya.
Syarat wali harus seorang laki-laki, akil dan baligh, yang terdiri dari : wali
nasab dan wali hakim (Pasal 19, 20 KHI).
Perkawinan harus disaksikan oleh dua orang saksi yang memenuhi
syarat:
Laki-laki muslim
Adil
Akil baligh

48

Tidak terganggu ingatannya
Tidak tuna rungu/tuli
Saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah dan
menandatangani akta nikah pada waktu dan di tempat akad nikah
dilangsungkan (Pasal 24, 25 KHI).
Ijab Kabul dilakukan oleh wali dan calon mempelai pria harus jelas
beruntun dan tidak berselang waktu dan harus dilaksanakan sendiri
secara pribadi oleh wali nikah atau dapat diwakilkan kepada orang lain
(Pasal 27, 28 KHI).

b. Larangan Perkawinan
Seperti dalam Pasal 8 UU No. I/1974, larangan perkawinan dalam hukum
juga sama ditambah:
Seorang wanita yang masih berada dalam masa iddah dengan pria lain.
Seorang wanita yang tidak beragam Islam.
Seorang pria dilarang kawin dengan bekas isterinya setelah ditalak tiga
kecuali diselang dulu kawin dengan orang lain.
Seoiang piia uilaiang kawin uengan bekas isteiinya yang uilian (Pasal
40, 43 KHI).
Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan
seorang pria yang tidak beragama Islam (Pasal 44 KHI).
Di dalam Hukum Islam dikenal dua macam perjanjian perkawinan, yaitu:
Talik talak
Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan Hukum Islam (Pasal 45
KHI).
Suami yang mempunyai isteri lebih dari satu diperbolehkan, syarat
utamanya harus dapat berlaku adil terhadap isteri-isteri dan anak-
anaknya dan harus mendapat ijin terlebih dahulu dari pengadilan Agama
(Pasal 55, 56 KHI).

c. Batalnya Perkawinan
Perkawinan batal apabila (Pasal 70 KHI)

49

Suami melakukan perkawinan, padahal dia sudah mempunyai empat
isteri.
Seseoiang menikahi bekas isteiinya yang telah ui liannya.
Seseorang menikahi bekas isterinya yang telah dijatuhi talak tiga.
Perkawinan yang telah melanggar Pasal 8 UU No. I/1974
hubungan darah, semenda dan sesusuan.
Isteri adalah saudara kandung atau bibi atau kemanakan dari isteri atau
isteri-isterinya.
Perkawinan dapat dibatalkan apabila:
seorang suami berpoligami tanpa ijin Pengadilan Agama.
perempuan yang dikawini ternyata masih menjadi isteri pria lain yang
mafqud.
perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dari suami lain.
melanggar Pasal 7 UU No. I/1974.
perkawinan yang dilangsungkan tanpa wali/wali yang tidak berhak.
perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan (Pasal 71 KHI).

d. Putusnya Perkawinan
Menurut Pasal 116 KHI putusnya perceraian dapat disebabkan karena:
Alasan-alasan berdasarkan Pasal 19 PP No. 9/1975.
suami melanggar taklik-talak.
karena murtad/berpindah agama.
Talak karena putusnya perkawinan dalam hukum Islam ada beberapa
macam, yaitu:
Talak Raji yaitu talak kesatu atau keuua uimana suami beihak iujuk
selama isteri dalam masa iddah.
Talak Bain Shughiaa yaitu talak yang tidak boleh dirujuk tapi boleh akad
nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah , terjadi
apabila:
a. Talak yang terjadi qabla al dukhul.
b. Talak dengan tebusan/khuluk.
c. Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.

50

Talak Bain Kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya.
Talak ini tidak boleh dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali kecuali
diselang dulu dengan perkawinan dengan bukan bekas suaminya.
Talak Sunny adalah talak yang dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan
terhadap isteri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci
tersebut.
Talak Biui aualah talak yang uilaiang yaitu talak yang uijatuhkan paua
waktu isteri dalam keadaan haidl atau isteri dalam keadaan suci tapi
sudah dicampuri pada waktu suci tersebut (pasal 118 122 KHI).
Perceraian terjadi terhitung pada saat perceraian dinyatakan di depan
siding Pengadilan (Pasal 123 KHI)
Lian putusnya peikawinan antaia suami isteii untuk selama-lamanya
(Pasal 125 KHI).
Akibat putusnya perkawinan karena talak:
Bekas suami wajib membeiikan mutah yang layak paua bekas isteiinya.
Bekas suami wajib memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas
isterinya selama iddah.
Wajib melunasi mahar yang masih terutang.
Memberikan biaya hadhanah untuk anak-anaknya yang belum mencapai
umur 21 tahun (Pasal 149 KHI).

K. CATATAN SIPIL
Catatan Sipil (BS/Burgerlijk Stand) adalah:
Suatu lembaga yang mencatat kejadian-kejadian penting seseorang
seperti: kelahiran, pengakuan, perkawinan, perceraian dan kematian.
Sedangkan tugas Catatan Sipil adalah memberikan informasi kepada
pihak ke III tentang kejadian-kejadian penting seseorang tersebut.
Berdasarkan Pasal 80 KUHPerdata menyatakan bahwa perkawinan hanya
dapat dilangsungkan:
Dihadapan Pegawai Catatan Sipil dan dengan dihadiri saksi-saksi, kedua
calon suami dan isteri harus menerangkan, yang satu, menerima yang
satu sebagai isterinya dan yang lain menerima yang satu sebagai

51

suaminya, pula bahwa mereka dengan ketulusan hati akan menunaikan
segala kewajiban demi undang-undang ditugaskan kepada mereka
sebagai suami isteri.
Pasal 81 KUHPerdata menyatakan:
Tiada suatu upacara keagamaan boleh dilakukan, sebelum kedua belah
pihak pejabatn agama mereka membuktikan bahwa perkawinan
dihadapan Pegawai Catatan Sipil telah berlangsung.
Kalau kita baca kedua pasal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
perkawinan itu sah apabila dilakukan dihadapan Pegawai Catatan Sipil
dan dicatat di Kantor Catatan Sipil.
Perkawinan secara agama tidak boleh dilakukan sebelum perkawinan itu
dilakukan dan dicatat di Catatan Sipil. Dulu dikenal adanya kawin BS.
Perkawinan secara agama tidak menentukan sahnya suatu perkawinan.
Hal ini tidak berlaku lagi setelah berlakunya UU Perkawinan No. I Tahun
1974.
Perkawinan sah menurut UU No. I/1974, apabila dilakukan berdasarkan
masing-masing agama dan kepercayaannya itu baru didaftarkan menurut
perundang-undangan yang berlaku.
Pegawai Catatan Sipil dulu boleh/dapat mengawinkan.
Setelah berlakunya Keputusan Presiden No. 12 tahun 1983 tentang
Penyelenggaraan Catatan Sipil, Catatan Sipil tidak boleh mengawinkan
lagi.
Fungsi Catatan Sipil berdasarkan Keppres tersebut adalah:
Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Kelahiran.
Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Perkawinan.
Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Percerain.
Pencatatan dan Penerbitan kutipan akta Pengakuan dan Pengesahan
Anak.
Pencatatan dan penerbitan kutipan akta Kematian.
Penyimpanan dan pemeliharaan akta kelahiran, akta perkawinan, akta
perceraian, akta pengakuan dan pengesahan anak, harta kematian.

52

Penyediaan bahan dalam rangka perumusan kebijaksanaan di bidang
kependudukan/kewarganegaraan.
Organisasi Catatan Sipil ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri yang
mendapat persetujuan tertulis dari menteri yang bertanggung jawab di
bidang penertiban dan penyempurnaan aparatur Negara.
Gubernur Kepala Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan
Catatan Sipil.
Penyelenggaraan Catatan Sipil dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya
yang menunjuk Camat selaku Pegawai Pencatatan Sipil di wilayah
Kecamatan.






BAB IV
HUKUM BENDA


Tujuan Instruksional Umum / TIU
Setelah mengikuti kuliah pokok bahasan Hukum Benda diharapkan
mahasiswa dapat menjelaskan dan memahami tentang kebendaan yang
diatur dalam Undang-undang.
Sub Pokok Bahasan:
A. Sistematikan Hukum Perdata
B. Kedudukan Buku II sekarang (setelah keluarnya UUPA No. 5/1960)
C. Sistem Buku II
D. Pengertian Benda
E. Pembedaan Macam-macam Benda
F. Pengertian Hak Kebendaan
G. Ciri-ciri Hak Kebendaan

53

H. Pembedaan Hak Kebendaan
I. Asas-asas Umum Hak Kebendaan
J. Kedudukan Berkuasa/Bezit
K. Hak Eigendom/Hak Milik
L. Hak Milik Menurut Hukum Islam
Tujuan Instruksional Khusus / TIK
Setelah mengikuti kuliah sub-sub pokok bahasan di atas diharapkan
mahasiswa dapat:
A. Menyebutkan Sistematikan Hukum Perdata
B. Menjelaskan Kedudukan Buku II sekarang (setelah keluarnya UUPA
No. 5/1960)
C. Menjelaskan Sistem Buku II
D. Menyebut dan menjelaskan Pengertian Benda
E. Menyebut dan menjelaskan Pembedaan Macam-macam Benda
F. Menjelaskan arti Hak Kebendaan
G. Menyebutkan Ciri-ciri Hak Kebendaan
H. Menyebutkan Pembedaan Hak Kebendaan
I. Menjelaskan dan memberikan contoh Asas-asas Umum Hak
Kebendaan
J. Menjelaskan pengertian Kedudukan Berkuasa/Bezit
K. Menjelaskan pengertian Hak Eigendom/Hak Milik Menurut Pasal 570
KUHPerdata.
L. Menjelaskan Hak Milik Menurut Hukum Islam
Pendahuluan : Mengulang kembali pokok bahasan sebelumnya,
melakukan tanya jawab, kemudian menjelaskan sub bahasan yang baru
Penyajian : lihat buku
Evaluasi : Tes tertulis secara keseluruhan, untuk menentukan nilai
akhir dari mata kuliah perdata.

BAB IV
HUKUM BENDA


54

A. Sistematika Hukum Perdata
Kita mengenal dua macam sistematika Hukum Perdata yaitu:
1. Sistematika menurut Ilmu Hukum
2. Sistematika menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (B.W.)
Ad. 1. Sistematika menurut Ilmu Hukum
Ilmu Hukum membagi Hukum Perdata menjadi empat bagian yaitu:
Hukum tentang diri seseorang yang memuat peraturan-peraturan tentang
manusia sebagai subyek dalam hukum, peraturan perihal kecakapan
untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri
melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi
kecakapan-kecakapan itu.
Hukum Kekeluargaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum
yang timbul dari hubungan kekeluargaan, seperti hubungan antara orang
tua dan anak, perwalian, curatele, perkawinan beserta hubungan dalam
lapangan hukum kekayaan antara suami dan isteri.
Hukum Kekayaan, mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang
dapat dinilai dengan uang.
Apabila kita berbicara tentang kekayaan seseorang bearti membicarakan
jumlah segala hak dan kewajiban orang tersebut yang dapat dinilai
dengan uang.
Hak dan kewajiban yang demikian itu biasanya dapat dipindahkan
kepada orang lain.
Hak-hak kekayaan tersebut ada dua macam, yaitu:
a. Hak kekayaan yang bersifat absolut/mutlak yaitu hak yang
memberikan kekuasaan secara langsung dan dapat dipertahankan
terhadap setiap orang.
Hak ini dibagi lagi menjadi dua, yaitu:
a.1 Hak mutlak yang berupa kebendaan, yang biasa disebut dengan hak
kebendaan saja, misalnya hak milik, hak opstal, hak erfpacht, hak gadai,
hak hipotik.
a.2 Hak mutlak yang tidak merupakan hak kebendaan, misalnya hak
octroi, hak merk, hak cipta.

55

Semua hak tersebut diatur diluar Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
b. Hak kekayaan yang bersifat relative/hak perseorangan yaitu hak
yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang tertentu saja, misalnya:
Si A mempunyai utang kepada B, maka disini hanya si B yang berhak
menagih utang tersebut kepada si A dan bukan orang lain.
4. Hukum Warisan, mengatur hal ikhwal tentang benda atau kekayaan
seseorang jika seseorang tersebut meninggal dunia.
Dapat jiga dikatakan bahwa Hukum Warisan itu mengatur akibat
hubungan keluarga terhadap harta peninggalan seseorang.
Ad.2. Sistematika Hukum Perdata menurut Kitab Undang-undang Hukum
Perdata/B.W.
Menurut sistematika ini Hukum Perdata dibagi ke dalam 4 (empat) buku,
yaitu:
Buku I : Perihal Orang / Van Personen
Buku II : Perihal Benda / Van Zaken
Buku III : Perihal Perikatan / Van Verbintennisen
Buku IV : Perihal Pembuktian dan Lewat Waktu (Daluwarsa) /
Van Bewijs en Verjaring
Apabila sistematika yang pertama kita masukan kedalam sistematika
yang kedua maka akan didapat seperti berikut:
Hukum tentang diri seseorang termasuk ke dalam Buku I
Hukum tentang kekeluargaan termasuk Buku I
Hukum Kekayaan termasuk dalam Buku II dan Buku III, seperti telah
dijelaskan harta kekayaan itu ada yang bersifat absolut (diatur dalam
Buku II) dan ada juga yang bersifat relative (diatur dalam Buku III)
Mengenai warisan dimasukan ke dalam Buku II, dengan
pertimbangan bahwa hukum waris itu adalah hukum yang mengatur
tentang harta benda dari orang yang sudah meninggal (merupakan hak
kebendaan dari orang yang sudah meninggal dunia). Selain dari pada itu
pewarisan merupakan salah satu cara untuk memperoleh hak milik yang
diatur dalam Pasal 584 B.W. dalam Buku II.

56

Sedangkan sistematika yang sekarang lazim dipergunakan adalah
sistematika yang kedua yaitu sistematika berdasarkan Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata.

B. Kedudukan Buku II sekarang (setelah keluarnya Undang-undang
Pokok Agraria No. 5 tahun 1960)
Dengan berlakunya/diundangkannya Undang-undang Pokok Agraria No.
5 tahun 1960 (UUPA) yang mulai berlaku pada tanggal 24 September
1960, Buku II tentang benda mengalami perubahan besar.
Perubahan tersebut dapat kita lihat dalam dictum Undang-undang Pokok
Agraria, yang menyatakan sebagai berikut:
"Buku II Kitab 0nuang-undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang yang
mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya,
kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang masih berlaku
pada mulai berlakunya undang-unuang ini".
Apabila kita telaah isi dictum tersebut maka dapat dikatakan bahwa Buku
II sepanjang mengenai bumi, air, seta kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dicabut dengan berlakunya UUPA No. 5 tahun 1960, kecuali
mengenai ketentuan-ketentuan hipotik.
Jadi ketentuan-ketentuan mengenai hipotik masih berlaku ketentuan-
ketentuan yang terdapat dalam Buku II B.W. karena UUPA belum
mengaturnya.
Perubahan ini disebabkan karena dulu di negara Indonesia berlaku
dualisme hukum dalam tanah, yaitu Hukum Barat dan Hukum Adat.
Sekarang diganti dengan Undang-undang Pokok Agraria. Dengan
demikian UUPA tersebut menciptakan unifikasi Hukum Tanah Indonesia.
Selanjutnya dengan adanya UUPA tersebut maka ketentuan-
ketentuan/Pasal-pasal dalam Buku II KUHPerdata dapat diperinci sebagai
berikut:
Ada Pasal-pasal yang masih berlaku penuh, karena tidak mengenai bumi,
air, serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.

57

Ada pasal-pasal yang tak berlaku lagi, sepanjang mengenai bumi, air, serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
Hal ini diatur dalam Undang-undang Pokok Agraria.
Ada pasal-pasal yang masih berlaku tapi tidak secara penuh yang berarti
untuk bumi, air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya tidak
berlaku lagi, tapi untuk benda-benda yang lainnya masih tetap berlaku.
Ad.a. Pasal-pasal yang masih berlaku penuh adalah:
Tentang benda bergerak pasal 505, 509 - 518 KUHPerdata
Tentang penyerahan benda bergerak pasal 612, 613 KUHPerdata
Tentang bewoning khusus mengenai rumah pasal 826, 827 KUHPerdata
Tentang Hukum Waris pasal 830 1130 KUHperdata, walaupun ada
beberapa pasal mengenai tanah diwarisi menurut hukum yang berlaku
bagi si pewaris
Tentang piutang yang diistimewakan (Prenilegie) pasal 1131 1149
KUHPerdata
Tentang gadai, karena gadai merupakan jaminan terhadap benda
bergerak saja, pasal 1150 1160 KUHPerdata
Tentang hipotik karena hipotik belum diatur dalam UUPA. Walaupun
begitu ketentuan-ketentuan mengenai segi formil/acara yaitu mengenai
pembebanan/pemberian hipotik dan pendaftaran hipotik harus tunduk
pada ketentuan-ketentuan yang ada dalam UUPA, PP 10 tahun 1961, PMA
15 tahun 1961, beserta peraturan-peraturan pelaksana lainnya.
Ad.b. pasal-pasal yang tidak berlaku lagi adalah:
Tentang benda tak bergerak yang melulu berhubungan dengan hak-hak
mengenai tanah
Tentang cara memperoleh hak milik mengenai tanah
Tentang penyerahan benda-benda tak bergerak
tentang kerja Rodi pasal 673 KUHPerdata
Tentang hak dan kewajiban pemilik pekarangan bertetangga pasal 625
672 KUHPerdata
Tentang pengabdian pekarangan (erfdienstbaarheid) pasal 674 710
KUHPerdata

58

Tentang hak opstal pasal 711 719 KUHPerdata
Tentang hak erfpacht pasal 720 736 KUHPerdata
Tentang bunga tanah dan hasil persepuluh pasal 737 755
Ad.c. pasal-pasal yang masih berlaku tapi tidak sepenuhnya, adalah:
Tentang benda pada umumnya
Tentang cara membedakan benda pasal 503 - 505 KUIHPerdata
Tentang benda sepanjang mengenai tanah
Tentang hak milik sepanjang tidak mengenai tanah
Tentang hak memungut hasil sepanjang tidak mengenai tanah, pasal 756
KUHPerdata
Tentang hak pakai sepanjang tidak mengenai tanah pasal 818
KUHPerdata.
Selain itu ada beberapa pasal yang walaupun tidak secara tegas
dinyatakan dicabut yang terdapat di luar Buku II, dianggap tidak berlaku
lagi. Pasal-pasal tersebut misalnya pasal 1955. pasal 1963 yaitu yang
mengatur tentang syarat-syarat untuk dapat memperoleh hak eigendom
melalui lembaga Verjaring.

C. Sistem dari pada Buku II / Hukum Perdata
Sistem yang dianut dalam Buku II/Hukum Benda adalah system tertutup.
System tertutup artinya orang tidak dapat mengadakan/membuat hak-
hak kebendaan yang baru selain yang sudah ditetapkan dalam undang-
undang. Jadi hak-hak kebendaan yang diakui itu hanya hak-hak
kebendaan yang sudah diatur oleh undang-undang.
Kita tidak boleh misalnya mengadakan hak milik baru yang tidak sama
dengan hak milik yang sudah diatur oleh undang-undang.
Berbeda dengan system yang dianut oleh hukum perikatan dalam buku
III, yaitu system terbuka.
System terbuka artinya setiap orang dapat bebas membuat perjanjian apa
saja selain apa yang telah ditetapkan oleh undang-undang, asal tidak
bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

59

Sistem terbuka ini merupakan cerminan dari isi pasal 1338 ayat 1
KUHPerdata yang berbunyi sebagai berikut:
"Semua peisetujuan yang uibuat secaia sah beilaku sebagai unuang-
unuang bagi meieka yang membuatnya".
Jadi Buku III/Hukum Perikatan menganut asas kebebasan berkontrak.

D. Pengertian Benda
Pengertian benda secara hukum dapat kita lihat dalam pasal 499
KUHPerdata yang berbunyi sebagai berikut:
"Nenuiut paham unuang-undang yang dinamakan kebendaan ialah tiap-
tiap barang dan tiap-tiap hak-hak yang uapat uikuasai oleh hak milik".
Di dalam KUHPerdata kita temukan dua istilah yaitu benda (zaak) dan
barang (goed).
Pada umumnya yang artinya dengan benda baik itu berupa benda yang
berwujud, bagian kekayaan, ataupun yang berupa hak ialah segala
sesuatu yang dapat dikuasai manusia dan dapat dijadikan obyek hukum.
Kata "uapat" ualam uefinisi teisebut menganuung aitimempunyai aiti
yang penting karena membuka berbagai kemungkinan yaitu pada saat-
saat yang tertentu sesuatu itu belum berstatus sebagai obyek hukum
namun pada saat-saat yang lain merupakan obyek hukum seperti aliran
listrik.
Jadi untuk dapat menjadi obyek hukum ada syarat yang harus dipenuhi
yaitu penguasaan manusia dan mempunyai nilai ekonomi dan karena itu
dapat dijadikan sebagai obyek hukum.
Teilihat uisini auanya "pioses" yang teiikat paua waktu.
Misalnya: jika seorang membuka hutan dan mengolahnya, maka lahir
penguasaaannya terhadap tanah tersebut. Penguasaan itu menjadi pasti
setelah pohon-pohon yang ditanami pembuka hutan itu tumbuh berbuah
sehingga hutan yang uibuka taui bukan lagi "ies nullius" akan tetapi
sudah ada pemiliknya.
Selain daripada itu di dalam KUHPerdata terdapat istilah Zaak yang tidak
berarti benda tetapi dipakai untuk arti yang lain, yaitu misalnya:

60

Pasal 1792 KUHPerdata : Lastgeving ialah suatu perjanjian yang di situ
seseorang memberikan kuasa kepada seorang lain dan orang ini
menerimanya untuk melakukan suatu zaak buat lastgever itu.
Zaak disini berarti perbuatan hukum.
Pasal 1354 KUHPerdata : Apabila seseorang dengan sukarela tanpa
mendapat pesanan untuk itu untuk menyelengarakan zaak seorang lain
uengan atau tanpa uiketahui oiang lain uan sebagainya.
Zaak disini berarti kepentingan.
Pasal 1263 KUHPerdata : Perutangan dengan syarat menunda ialah
perutangan yang tergantung daripada suatu kejadian yang akan dating
dan tidak pasti atau daripada suatu zaak yang sudah terjadi tetapi belum
diketahui oleh para pihak.
Zaak disini mempunyai arti kenyataan hukum.

E. Pembedaan macam-macam benda
Menurut KUHPerdata benda itu dapat dibedakan sebagai berikut:
Benda berwujud dan tidak berwujud lihamelijk, onlichamelijk.
Benda bergerak dan tidak bergerak.
Benda yang dapat dipakai habis dan benda yang tidak habis.
Benda yang dapat dipakai habis/vebruikbaar dan benda yang tidak dapat
dipakai habis/onverbruikbaar.
Benda yang sudah ada/tegenwoordige zaken dan benda yang masih akan
ada/toekkomstige zaken.
a. yang absolut ialah barang-barang yang pada suatu saat sama sekali
belum ada, misalnya: hasil panen yang akan dating.
b. yang relative ialah barang-barang yang pada saat itu sudah ada tapi
bagi orang-orang tertentu belum ada, misalnya barang-barang yang sudah
dibeli tapi belum diserahkan.
Benda dalam perdagangan/zaken in de handel dan benda di luar
perdagangan/zaken buiten de handel.
Benda yang dapat dibagi dan benda yang tidak dapat dibagi.

61

Dalam hukum Adat tidak membedakan benda seperti apa yang terdapat
dalam KUHPerdata tapi hanya mengenal pembedaan benda atas tanah
dan bukan tanah.
Juga dalam Undang-undang Pokok Agraria tidak mengenal pembedaan
antara benda bergerak dengan benda tidak bergerak.
Sedangkan di Nederland cenderung untuk mengakui pembedaan antara
benda atas nama dan tidak atas nama atau benda yang
terdaftar/registergoederen dan benda yang tidak terdaftar/en andere
goederen untuk benda yang bergerak dan benda tidak bergerak. Benda
yang terdaftar adalah benda-benda dimana pemindahan dan
pembebanannya diisyaratkan harus didaftarkan dalam register yang
bersangkutan.
Pembedaan yang terpenting dan biasa/sering digunakan adalah
pembedaan mengenai benda bergerak dan benda tidak bergerak.
Benda bergerak dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Benda bergerak karena sifatnya/pasal 509 KUHPerdata:
a.1. yang dapat dipindahkan
a.2. yang dapat pindah sendiri
b. Benda bergerak karena undang-undang.
Benda tidak bergerak dibagi tiga, yaitu:
a. Benda tidak bergerak karena sifatnya: tanah beserta segal apa yang
terdapat di dalam dan di atas dan segala apa yang dibangun di atas tanah
itu secara tetap apa yang ditanam serta buah-buahan di pohon yang
belum diambil.
Di sini dianut asas vertical lawannya adalah asas horizontal.
b. Benda tidak bergerak karena tujuannya: ke dalam benda semacam
ini termasuk benda bergerak yang dipakai dalam benda pokok harus
sedemikian rupa kontruksinya sehingga keduanya sesuai dan terikat
untuk dipakai tetap. Benda pokoknya harus merupakan benda tidak
bergerak.
c. Benda tidak bergerak karena undang-undang.

62

Ada empat hal yang penting untuk membedakan antara benda bergerak
dengan benda tidak bergerak, yaitu:
1. Mengenai bezitnya
Terhadap benda bergerak berlaku asas yang tercantum dalam pasal 1977
ayat 1 KUHPerdata yaitu bezitter dari benda bergerak adalah
sebagai eigenaar dari barang tersebaut (Bezit berlaku sebagai titel yang
sempurna/Bezit geldt als volkomen titel).
Sedang benda tidak bergerak tidak demikian.
2. Mengenai leveringnya/penyerahannya
Penyerahan benda bergerak dapat dilakukan dengan penyerahan secara
nyata sedangkan penyerahan benda tidak bergerak harus dengan balik
nama.
Dulu penyerahan benda tidak bergerak berdasarkan Over schrijvings
Ordonnantie S. 1834 No. 27.
Sekarang menurut UUPA penyerahan benda tidak bergerak harus
dilakukan dan ditandatangani sihadapan PPAT/Pejabat Pembuat Akta
Tanah dalam sertifikat.
3. Mengenai verjaring/kadaluwarsa/lewat waktu
Terhadap benda bergerak tidak mengenal kadaluwarsa sebab berlaku
asas yang tercantum dalam pasal 1977 ayat 1 seperti telah dijelaskan
dalam no. 1 di atas.
Benda tidak bergerak mengenal adanya kadaluwarsa yaitu 20 tahun
dengan alas an hak yang sah dan 30 tahun tanpa alas an hak yang sah.
4. Mengenai bezwaring/pembebanannya
Pembebanan terhadap benda bergerak harus dengan pand/gadai sedang
pembebanan terhadap benda tidak bergerak dengan hipotik.

F. Pengertian Hak Kebendaan
Sebelum memberikan defines tentang hak kebendaan kita lihat dulu
pembagian daripada hak Perdata.
Hak Perdata itu dibagi dua, yaitu:
Hak Mutlak/hak absolut terdiri atas:

63

a. Hak kepribadian misalnya: hak atas namanya, kehormatannya,
hidup, kemerdekaan.
b. Hak yang terletak dalam hukum keluarga yaitu hak yang timbul
karena adanya hubungan antara suami isteri, hubungan antara orang tua
dan anak.
c. Hak mutlak atas sesuatu benda yang biasa disebut dengan hak
kebendaan.
Hak relative/hak nisbi/hak persoonlijk yaitu suatu hak yang memberikan
suatu tuntutan/penagihan terhadap seseorang dan hak itu hanya dapat
dipertahankan terhadap orang tertentu saja.
Hak kebendaan adalah hak mutlak atas sesuatu benda dimana hak itu
memberikan kekuasaan langsung atas benda tersebut dan dapat
dipertahankan terhadap siapapun juga.
Jadi dengan demikain apa perbedaan antara hak kebendaan dan hak
perorangan itu?
Perbedaannya adalah :
1. Hak mutlak dapat dipertahankan terhadap siapapun
juga yang melanggarnya.
Hak perorangan hanya dipertahankan terhadap orang tertentu saja.
2. Hak kebendaan memberikan kekuasaan mutlak atas
seuatu benda.
Hak perorangan memberikan suatu tuntutan/penagihan terhadap
seseorang.
3. Hak kebendaaan mempunyai zaaksgevolg/droit de suit,
yaitu hak kebendaan tersebut selalui mengikuti terus dimanapun benda
itu berada atau di tangan siapapun benda itu berada.
Hak perorangan tidak mempunyai droit de suit karena hak tersebut
hanya dapat dilakukan terhadap seorang tertentu saja. Dengan adanya
pemindahan barang tersebut maka hak perorangan lenyap karena hak
penagihan lenyap.

64

Tapi dalam praktek pembedaan tersebut sangat sumier tidak mutlak lagi
karena ada hak perorangan yang mempunyai sifat yang mutlak/absolut
mempunyai droit de suit dan mempunyai sifat prioritas yaitu :
Hak penyewa dilindungi berdasarkan pasal 1365 KUHPerdata, ia dapat
mempertahankan barang yang disewakan terhadap setiap gangguan dari
pihak ketiga (adanya sifat absolut).
Hak sewa senantiasa mengikuti bendanya walaupun barang yang
disewanya berpindah tangan/dijual oleh pemiliknya/adanya sifat droit de
suit.
Pembeli/penyewa yang lebih dahulu mempunyai sifat prioritas/lebih
didahulukan daripada pembeli/penyewa yang kemudian.
Tapi walaupun demikian sebagai pedoman dapat disimpulkan bahwa hak
kebendaan tersebut mempunyai ciri-ciri/sifat-sifat secara umum apabila
kita ingin membedakan dengan hak perorangan.

G. Ciri-ciri/Sifat-sifat Hak Kebendaan
Hak kebendaan merupakan hak yang bersifat mutlak yaitu dapat
dipertahankan terhadap siapapun juga.
Hak kebendaan mempunyai zaaksgevolg/droit de suit yaitu hak it uterus
mengikuti bendanya dimanapun berada atau di tangan siapapun berada.
Hak kebendaan yang lebih dulu terjadi mempunyai tingkatan yang lebih
tinggi daripada hak terjadi kemudian.
Hak kebendaan mempunyai sifat droit de preference yaitu hak yang lebih
didahulukan.
Gugatan hak kebendaan disebut gugat kebendaan.
Apabila haknya ada yang menggangu maka ia dapat melakukan
bermacam-macam gugat/actiemisalnya: penuntutan kembali.
Penggantian kerugian, pemulihan keadaan semula.
Dalam hak perorangan gugatan hanya dapat dilakukan terhadap pihak
lawannya saja/wederpartij.

H. Pembedaan Hak-hak Kebendaan

65

Seperti telah dijelaskan bahwa hak perdata itu dibagi menjadi dua yaitu:
hak mutlak dan hak nisbi.
Hak mutlak dibagi lagi menjadi tiga:
hak kepribadian
hak yang terletak dalam hukum keluarga
hak kebendaan
Hak kebendaan dapat dibedakan:
1. Hak kebendaan yang memberikan kenikmatan baik atas bendanya
sendiri maupun benda milik orang lain/zakelij genotsrecht, misalnya:
hak eigendom/hak milik, bezit.
2. Hak kebendaan yang bersifat jaminan/zakelijk zakerheidsrecht,
misalnya: hipotik, pand.

I. Azas-azas Umum Hak Kebendaan
Prof. Dr. Mariam Darus Badrulzaman, S.H. ualam bukunya "Nencaii
Sistem Bukum Benua Nasional" menjelaskan aua 1u azas umum yang
sifatnya relative konkrit yang ada dalam bidang hukum tertentu, yaitu:
1. Azas system tertutup, artinya bahwa hak-hak atas benda bersifat
limitative, terbatas hanya pada yang diatur undang-undang. Di luar itu
dengan perjanjian tidak diperkenankan menciptakan hak-hak yang baru.
2. Azas hak mengikuti benda/zaaksgevolg, droit de suite, yaitu hak
kebendaan selalu mengikuti bendanya di mana dan dalam tangan
siapapun benda itu berada.
Azas ini berasal dari hukum Romawi yang membedakan hukum harta
kekayaan (vermogensrecht) dalam hak kebendaan (Zaakkelijkrecht) dan
hak perseorangan (persoonlijkrecht).
3. Azasa Publisitas, yaitu dengan adanya publisitas (Openbaarheid)
adalah pengumuman kepada masyarakat mengenai status pemilikan.
Pengumuman hak atas benda tetap/tanah terjadi melalui pendaftaran
dalam buku tanah/register yang disediakan untuk itu sedangkan
pengumuman benda bergerak terjadi melalui penguasaan nyata benda
itu.

66

4. Azas Spesialitas
Dalam lembaga hak kemilikan hak atas tanah secara individual harus
ditunjukan dengan jelas ujud, batas, letak, luas tanah. Asas ini terdapat
pada hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan atas benda tetap.
5. Azas Totalitas
Hak pemilikan hanya dapat diletakan terhadap obyeknya secara totalitas
dengan perkataan lain hak itu tidak dapat diletakan hanya untuk bagian-
bagian benda.
Misalnya: pemilik sebuah bangunan dengan sendirinya adalah pemilik
kosen, jendela, pintu dan jendela bangunan tersebut. Tidak mungkin
bagian-bagian tersebut kepunyaan orang lain.
6. Azas Accessie/asas pelekatan
Suatu benda biasanya terdiri atas bagian-bagian yang melekat menjadi
satu dengan benda pokok seperti hubungan antara bangunan dengan
genteng, kosen, pintu dan jendela.
Asas ini menyelesaikan masalah status dari benda pelengkap (accessoir)
yang melekat pada benda pokok (principal).
Menurut asas ini pemilik benda pokok dengan sendirinya merupakan
pemilik dari benda pelengkap. Dengan perkataan lain status hukum
benda pelengkap mengikuti status hukum benda pokok.
Benda pelengkap itu terdiri dari bagian (bestanddeed) benda tambahan
(bijzaak) dan benda penolong (hulpzaak).
7. Azas pemisahan horizontal
KUHPerdata menganut asas pelekatan sedang UUPA menganut asas
horizaontal yang diambil alih dari Hukum Adat.
Jual beli hak atas tanah tidak dengan sendirinya meliputi bangunan dan
tanaman yang terdapat di atasnya.
Jika bangunan dan tanaman akan mengikuti jual beli hak atas tanah harus
dinyatakan secara tegas dalam akta jual beli.
Pemerintah menganut asas vertical untuk tanah yang sudah memiliki
sertifikat untuk tanah yang belum bersertifikat menganut asas
horizaontal (Surat Menteri Pertanahan/Agraria tanggal 8 Februari 1964

67

Undang-undang No. 91/14 jo S.Dep. Agraria tanggal 10 Desember 1966
No. DPH/364/43/66.
8. Asas dapat diserahkan
Hak pemilikan mengandung wewenang untuk menyerahkan benda.
Untuk membahas tentang penyerahan sesuatu benda kita harus
mengetahui dulu tentang macam-macam benda karena ada bermacam-
macam benda yang kita kenal seperti tidak dijelaskan pada Bab
sebelumnya.
Cara-cara penyerahan secara mendalam akan dibahas dalam Bab
selanjutnya.
9. Azas Perlindungan
Asas ini dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu perlindungan untuk
golongan ekonomi lemah dan kepada pihak yang beritikad baik (to
goeder trouw) walaupun pihak yang menyerahkannya tidak wenang
berhak (beschikkingsonbevoegd). Hal ini dapat kita lihat dalam pasal
1977 KUHPerdata.
10. Azas absolut (hukum pemaksa)
Menurut asas ini hak kebendaan itu wajib dihormati atau ditaati oleh
setiap orang yang berbeda dengan hak relative.

J. Kedudukan Berkuasa (Bezit)
Apa yang dinamakan bezit itu?
Nenuiut Piof. Subekti, S.B. ualam bukunya yang beijuuul "Pokok-pokok
Hukum Perdata" aualah:
suatu keadaan lahir, dimana seorang menguasai suatu benda seolah-olah
kepunyaan sendiri yang oleh hukum diperlindungi dengan tidak
mempersoalkan hak milik atas benda itu sebenarnya ada pada siapa.
Dalam pasal 529 KUHPerdata yang dimaksud dengan bezit adalah
kedudukan seseorang yang menguasai suatu kebendaan baik dengan diri
sendiri maupun dengan perantaraan orang lain dan yang
mempertahankan atau menikmatinya selaku orang yang memiliki
kebendaan itu.

68

Apabila kita lihat definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa benda
yang dikuasi dan dinikmati oleh seseorang itu belum tentu benda
miliknya sendiri hanya seolah-olah kepunyaanya sendiri.
Sedangkan orang yang menguasai benda tersebut disebut bezit er.
Unsur bezit:
Corpus yaitu adanya hubungan antara orang yang bersangkutan dengan
bendanya. Hal ini dapat terjadi apabila orang tersebut menguasai benda
itu.
Animus yaitu adanya kemauan atau keinginan dari orang tersebut untuk
menguasai benda itu serta menikmatinya seolah-olah kepunyaan sendiri.
Kita harus membedakan antara bezit dengan detentis dimana dalam
detentis ini seorang menguasai suatu benda tapi tidak ada kemauan
untuk memiliki benda tersebut. Misalnya seorang penyewa. Kemauan
yang dimaksud di atas adalah kemauan yang sempurna yaitu bukan
kemauan dari anak kecil atau orang gila.
Macam-macam bezit:
Bezit yang beritikad baik/te goeder trouw
Bezit yang beritikad buruk/te kwader trouw
(Menurut pasal 530 KUHPerdata)
Bezitter eigenaar
Ad.1. Bezit yang beritikad baik adalah manakala si yang memegangnya
memperoleh kebendaan tadi dengan cara memperoleh hak milik dalam
mana tak tahulah dia akan sela-cela yang terkandung di dalamnya (pasal
531 KUHPerdata.
Dengan kata lain si pemegang tersebut tidak mengetahui apakah benda
yang dipegangnya itu diperoleh dengan jalan tidak sesuai dengan cara-
cara memperoleh hak milik ataupun sesuai.
Ad.2. Bezit yang beritikad buruk adalah mereka yang memegang benda
tersebut itu tahu bahwa bendanya diperoleh dengan cara-cara yang
bertentangan menurut cara-cara memperoleh hak milik (pasal 532
KUHPerdata).

69

Kapan seseorang itu dapat dinyatakan sebagai bezitter yang beritikad
buruk?
Seseorang dapat dikatakan beritikad buruk pada saat perkaranya
dimajukan ke Pengadilan dimana dalam perkaranya itu ia dikalahkan
(pasal 532 ayat 2 KUHPerdata).
Baik bezit yang beritikad baik maupun yang buruk mendapat
perlindungan hukum yang sama sebelum adanya putusan Hakim karena
dalam hukum terdapat asas yang mengatakan:
"kejujuian itu uianggap aua paua setiap oiang seangkan ketiuakjujuian
harus dibuktikan" (pasal SSS K0BPeiuata).
Benda-benda apakah yang tidak boleh dibezit?
Menurut pasal 537 KUHPerdata benda-benda yang tidak boleh dibezit
adalah benda-benda yang tidak ada dalam peredaran perdata dan hak-
hak pengabdian tanah.
Bagaimana cara-cara memperoleh bezit?
Pada asasnya bezit dapat diperoleh dengan cara:
1. Occupatio/originair/asli yaitu memperoleh bezit tanpa bantuan
orang lain yang lebih dulu membezitnya. Baik benda bergerak maupun
tidak bergerak dapat diperoleh dengan cara ini.Occupation terhadap
benda bergerak hanya berlaku untuk benda bergerak yang tidak ada
pemiliknya.
Misalnya ikan di sungai/laut, burung di hutan dan lain-lain.
Benda bergerak yang tidak ada pemiliknya disebut resnullius
occupation terjadap benda tak bergerak akan menimbulkan persoalan
sejak kapan seseorang itu dapat dianggap sebagai bezitter dari benda
tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa pendapat yaitu:
Menurut ajaran Annaal bezit yang menyatakan bahwa seseorang
dikatakan bezitter terhadap benda tak bergerak setelah mendudukinya
selama satu tahun terus menerus tanpa gangguan dari orang lain.
Ajaran ini sebenarnya bertentangan dengan cara memperoleh hak milik
karena verjaring.

70

Pendapat lain mengatakan bezitter benda tak bergerak secara langsung
dikatakan bezitter pada waktu mulai membezitnya.
Pendapat tengah-tengah antara no. 1 dan no. 2
Membezit benda tak bergerak secara langsung menjadi bezitter tapi
dalam jangka waktu satu tahun sejak dimulainya banda itu dibezit masih
dapat diminta/digugat oleh pemiliknya.
2. Dengan cara tradition/derivative yaitu dengan cara bantuan dari
orang lain.
Misalnya membeli buku.
Membezit benda bergerak ada dua teori:
1. Eigendomstheorie
Menurut teori ini bezit benda bergerak berlaku sebagai alas hak yang
sempurna, hak yang sempurna itu adalah hak milik. Jadi membezit benda
bergerak sama dengan hak milik, bezitteradalah eigenaar.
Teori ini mengabaikan syarat titel yang sah dan orang yang wenang untuk
menguasai benda tersebut. Pengikutnya adalah Meijers.
2. Legitimaietheorie
Bezit bukan/tidak sama dengan hak milik hanya saja barang siapa yang
secara jujur membezit benda bergerak dia adalah sama.
Menurut teori ini tetap harus ada titel yang sah dan tidak perlu berasal
dari orang yang wenang untuk menguasai bendanya. Pengikutnya
Scholten.
Cara-cara lain untuk memperoleh bezit:
1. Traditio brevu manu/levering met de korte hand yaitu jika orang
yang akan mengambil alih bezit itu sudah memegang benda tersebut
sebagai houder.
Misalnya: Si A meminjam buku pada B karena B membutuhkan uang uku
tersebut dijual pada A.
2. Constitum possessorium, jika orang yang mengopernya bezit itu
berdasarkan suatu perjanjian dibolehkan tetap memegang benda itu
sebagai houder.

71

Misalnya: Si A meminjam buku pada B karena B membutuhkan uang buku
tersebut dijual kepada A tapi si B ternyata masih memerlukan buku itu
tersebut maka buku itu dipinjamnya.
3. Berdasarkan pasal 538 KUHPerdata bezit dapat diperoleh dengan
jalan melakukan perbuatan menarik kebendaan tersebut ke dalam
kekuasaanya.
Unsure harus melakukan perbuatan menarik ke dalam kekuasaannya
merupakan unsure yang tidak mutlak, karena ada benda yang dapat di
bezit tanpa perbuatan menarik ke dalam kekuasaan.
Misalnya mendapat barang dari warisan. Warisan secara otomatis/secara
hukum jatuh ke tangan ahli waris apabila si pewaris meninggal dunia. Jadi
waris tersebut tidak melakukan perbuatan apa-apa.
Siapa saja yang boleh memperoleh benda dengan bezit?
Dalam pasal 539 KUHPerdata menyebutkan bahwa hanya orang gilalah
yang tidak diperbolehkan memperoleh benda dengan bezit, jadi anak-
anak yang belum dewasa dan wanita bersuami boleh membezit sesuatu
benda.
Kalau kita membicarakan bezit terhadap benda bergerak, perlu diingat
asas yang beibunyi: "Bezit beilaku sebagai titel yang sempuina"bezit
geldt als volkomen titel.
Asas tersebut tersimpul dari isi pasal 1977 ayat 1 KUHPerdata.
Misalnya : A meminjamkan buku kepada B, oleh B tersebut dijual kepada
C.
Siapakah yang dilindungi disini?
Menurut pasal 1977 ayat 1 di atas yang dilindungi adalah si C yang
beritikad baik.
Tapi kalau barang si A hilang atau dicuri orang, maka berlaku pasal 1977
ayat 2nya.
Intervensi/pertukaran daripada bezit
Orang yang membezit suatu benda dapat bertukar menjadi houder atau
sebaliknya tapi harus memenuhi syarat berikut:
1. Adanya perubahan kehendak dari orang yang ketempatan barang

72

2. Adanya bantuan/ikut sertanya pihak lain
Seperti apa yang tercantum dalam pasal 536 KUHPerdata: Orang tidak
bias merubah dasar bezit bagi dirinya sendiri, baik atas kehendaknya
sendiri maupun dengan lampaunya waktu.
Pasal ini berarti bahwa hanya dengan perubahan kehendak saja atau
dengan lampaunya waktu saja orang tidak dapat merubah bezitnya
menjadi detentie atau sebaliknya dari detentie menjadi bezit jadi harus
dengan ikut sertanya pihak lain.
Bezitsactie/gugat daripada bezit
Dalam hal ada gugatan terhadap bezit maka si bezitter dapat/berhak
melakukan actie, asal dia itu betul-betul bezitter dan harus ada gangguan
(pasal 550 KUHPerdata).
Adapun bentuk gugatannya dapat berwujud:
1. minta pernyataan declaratoir dari hakim bahwa ia adalah bezitter
dari benda tadi
2. menuntut agar jangan menggangu lebih lanjut
3. meminta pemulihan dalam keadaan semula
4. meminta penggantian kerugian
detentor tidak mempunyai kewenangan untuk mengajukan gugat bezit.
Cara-cara hilangnya bezit:
1. Binasanya benda
2. Hilangnya benda
3. Orang membuang benda itu
4. Orang lain memperoleh bezit itu dengan
jalan traditio atau occupation (pasal 543 KUHPerdata).
K. Hak igendom / Hak Milik
Dulu hak eigendom ini merupakan hak mutlak sekali (droit inviolable et
sacre), tapi dengan berkembangnya zaman maka kemutlakan dari hak
eigendom ini semakin lama semakin pudar.
Banyak terjadi pembatasan-pembatasan atau penggerogotan terhadak
hak eigendom ini yang biasa disebut dengan uithollings proses.

73

Seperti kita lihat batasan hak milik dalam pasal 570 KUHPerdata yang
berbunyi:
Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan seseuatu kebendaan
dengan leluasa dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu dengan
kedaulatan sepenuhnya asal tidak bersalahan dengan undang-undang
atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang berhak
menetapkannya dan tidak menggangu hak-hak orang lain kesemuanya itu
dengan tak mengurangi kemungkinan akan pencanutan hak itu demi
kepentingan umum berdasar atas ketentuan undang-undang dan dengan
pembayaran ganti rugi.
Jadi kalau kita simpulkan pembatasan-pembatasan terhadap hak milik
menurut pasal 570 KUHPerdata adalah:
Undang-undang atau perauran umum lainnya
Tidak menggangu orang lain/tidak menimbulkan gangguan atau hinder
Pencabutan/onteigenning
Ad.1. Pembatasan undang-undang atau peraturan umum lainnya
Yang dimaksud dengan undang-undang disini adalah UU dalam arti formil
sedangkan peraturan umum lainnya adalah peraturan yang berada di
bawah UU.
Ad.2. Tidak menggangu orang lain/Hinder
Arrest yang terkenal mengenai gangguan ini adalah:
a. Krul Arrest 30 Januari 1914
J.H.A. Krul pengusaha roti lawan H. Joosten
Krul digugat di muka pengadilan karena pabriknya dengan suara-suara
yang keras dan getaran-getaran yang hebat dianggap menimbulkan
gangguan H. Joosten.
Gugatannya dikabulkan karena menimbulkan kerusakan benda
disebutzaakbeschadiging misalnya tembok rumah retak.
b. Arrest H.R. 31 Desember 1937
William Jan Nobel lawan sebuah perkumpulan mahasiswa

74

Perhimpunan tersebut digugat karena mahasiswa itu di dalam gedung
pertemuannya selalu menimbulkan/membikin gaduh dengan jalan
berpesta-pesta sehingga menimbulkan gangguan para tetangganya.
Ini juga termasuk hinder dimana gangguan yang ditimbulkan berupa
immaterial/onrechtmatigedaad.
Gangguan ini dapat digugat melalui pasal 1365 KUHPerdata mengenai
perbuatan melawan hukum.
Tidak semua gangguan dapat digugat berdasarkan pasal 1365 tersebut
tapi tergantung situasi dan kebiasaan masyarakat.
Untuk sekedar pegangan gangguan yang bagaimanakah yang dapat
digugat lewat pasal 1365 itu?
Unsur-unsur Hinder:
1. Ada perbuatan yang melawan hukum
2. Perbuatan itu bersifat mengurangi/menghilangkan kenikmatan
antara lain penggunaan hak milik seseorang.
Gangguan dikabulkan lewat pasal 1365, apabila:
3. Gangguan itu harus terhadap penggunaan hak milik secara
normal/obyektif
4. Gangguan itu harus mengenai pemakaian hak milik sendiri bukan
hak milik orang lain
5. Gangguan itu harus mengenai pemakaian yang sesungguhnya dari
hak milik seseorang
A.d.3. Pencabutan/Onteigenning
Pencabutan sebenarnya termasuk kepada pembatasan terhadap hak milik
oleh Undang-undang.
Arrest yang terkenal mengenai pencabutan adalah:
Arrest Lentera (H.R. 19 Maret 1904) sebuah Kotapraja Loosduinen
membuat peraturan yang mewajibkan para pemilik tanah yang letaknya
di tepi jalan umum untuk menyetujui pemasangan tiang-tiang lentera di
dalam pekarangannya. Akibatnya ialah bahwa di pemilik tanah itu
kehilangan semua kenikmatan atas sejengkal tanah dimana tiang-tiang
lentera itu didirikan.

75

Selain pembatasan tersebut di atas masih ada pembatasan lain di luar
pasal 570 B.W. terhadap berlakunya hak milik yaitu:
1. Hukum Tetangga; pasal 626, 628 KUHPerdata
Adanya kewajiban untuk menerima aliran air dari tanah yang lebih tinggi
ke tanah yang lebih rendah, jadi tidak boleh membendungnya/pasal
KUHPerdata.
Adanya kewajiban untuk membiarkan pemilik pekarangan yang letaknya
di tengah-tengah untuk mengadakan jalan keluar menuju jalan besar dan
lain-lain.
2. Penyelahgunaan Hak/Abus du droit / Misbruik van Recht yaitu
dimana seseorang didalam menggunakan haknya itu merugikan orang
lain.
Arrest Colmar di Perancis yaitu arrest tentang berobong asap
Kasusnya: seseorang mendirikan cerobong asap palsu di rumahnya
dengan maksud untuk menggangu pemandangan rumah tetangganya.
Arrest H.R. 1936 di Mokerheide di Belanda
Kasusnya: seorang Ir bertentangga dengan seorang Mr., karena mereka
berselisih si Ir. mendirikan tiang di pekarangannya yang disampiri
dengan kain-kain kumal yang akibatnya menutupi pemandangan indah
dari rumah si Mr.
Si Mr. mengugat ke pengadilan dan dikabulkan.
Si Ir. tidak puas, ia mendirikan menara dengan tempat air/water molen
tapi tidak dipasang pipa air di tempat yang sama. Tujuannya hanya untuk
menggangu pemandangan rumah tetangganya itu. Si Mr. menggugat lagi
dan dikabulkan.
Si Ir. Mengugat lagi dan dikabulkan.
Si Ir. masih belum puas, kemudian ia memasang pompa airnya dan
digunakan. Si Mr. mengugat lagi tapi kali ini tidak dikabulkan karena
bukan penyalahgunaan hak.
Jadi kalau begitu criteria apa yang dipakai/yang harus dipenuhi supaya
suatu perbuatan itu dikatakan abus du droit?
Mengenai hal ini ada dua pendapat, yaitu:

76

1. Jurisprudensi
Abus du droit harus memenuhi dua unsure:
a. perbuatan itu harus tidak masuk akal
b. perbuatan itu dilakukan dengan sengaja untuk merugikan orang lain
2. Menurut Pitlo
Sekalipun perbuatan itu masuk akal dan perbuatan itu tidak dimaksudkan
untuk merugikan orang lain tapi jika manfaat yang diperoleh oleh orang
yang berbuat tidak seimbang dengan kerugian yang diderita oleh orang
lain menurutnya sudah abus du droit.
Asas yang dianut oleh KUHPerdata adalah asas accessie yang dapat kita
lihat secara jelas antara lain dalam pasal 571 KUHPerdata yang berbunyi
sebagai berikut:
"Bak milik atas sebiuang tanah menganuung uiualamnya kemilikan atas
segala apa yang aua ui atasnya uan uiualam tanah" (ayat 1).
Gugat/Actie terhadap hak milik
Hak milik dilindungi beberapa gugat diantaranya yang diatur oleh UU
adalah gugatrevindicatie, pasal 574 KUHPerdata. Pasal tersebut
menentukan bahwa tiap-tiap pemilik suatu kebendaan berhak menuntut
kepada siapapun juga yang menguasainya, akan pengembalian kebendaan
itu dalam keadaan beradanya.
Gugat ini dapat diajukan oleh pemilik kepada Hakim supaya bendanya
disita/dibeslag. Oleh karena itu beslagnya disebut beslag revindicator.
Gugat ini dapat terhadap benda bergerak maupun benda tidak bergerak
hanya saja terhadap benda bergerak terdesak oleh pasal 1977 ayat 1
KUHPerdata.
Bagaimana caranya penggugat untuk meminta kembali hak miliknya itu?
Menurut Jurisprudensi pemilik cukup mengemukakan bahwa benda yang
diminta kembali itu adalah hak miliknya dia tidak usah mengemukakan
bagaimana caranya memperoleh hak milik itu.
Cara-cara memperoleh hak eigendom menurut pasal 584 B.W.
1. Pengakuan/pemilikan/pengambilan/accupatio/toe eigening
2. Perlekatan/ikutan/accession/natrekking

77

3. Daluwarsa/verjaring
4. Pewarisan/erfopvoging
5. Penyerahan/levering/op-dracht/overdracht/trans/cessie/inbreng

Ad. 1. Pengakuan/pemilikan/pengambilan/accupatio/toe eigening
Pengakuan adalah suatu cara untuk memperoleh hak eigendom atas
benda bergerak yang belum ada pemiliknya (res nullius), misalnya:
mengail ikan di sungai, mengambil sarang burung tawon di hutan,
mengail ikan di laut dan lain-lain. Occupation terdapat benda tak
bergerak berlaku pasal 520 KUHPerdata yang menyatakan bahwa
pekarangan dan kebendaan tak bergerak lainnya yang tak terpelihara dan
tiada pemiliknya, sepertipun kebendaan mereka yang meninggal dunia
tanpa ahli waris atau yang warisannya telah ditinggalkan adalah milik
negara.
Ad. 2. Perlekatan/ikutan/accession/natrekking
Perlekatan adalah cara memperoleh hak eigendom atas benda karena
benda itu mengikuti benda yang lain, misalnya kalau kita membeli tanah
otomatis sudah termasuk apa yang ada di atas dan dibawahnya. Dengan
lain perkataan benda pelengkap selalu mengikuti benda pokok. Hal ini
terdapat dalam BW, karena BW menganut asas vertical yang berbeda
dengan Hukum Adat yang menganut asas pemisahan secara horizontal.
Ad. 3. Daluwarsa/verjaring
Daluwarsa adalah suatu cara untuk setelah lewatnya suatu waktu
tertentu memperoleh hak atau dibebaskan dari suatu ikatan atau hak,
misalnya: bebas dari pembayaran sesuatu hutang.
Jadi memperoleh hak milik berdasarkan verjaring itu menimbulkan du
dua akibat yaitu:
a. Memperoleh hak/acquistieve verjaring
b. Sebagai alat untuk dibebaskan dari suatu penagihan/tuntutan
hukum disebut extinctieve verjaring.
Benda-benda yang boleh diperbolehkan secara verjaring menurut pasal
1963 B.W. adalah:

78

1. Benda tak bergerak
2. Bunga-bunga dan piutang atas nama atau op naam
Tujuan daluwarsa adalah untuk menghilangkan keragu-raguan apakah
orang itu sebagaieigenaar atau bezitter.
Cara memperoleh hak milik dengan verjaring
6. Jika ada pemilikan yang terus menerus dan tidak terganggu
7. Pemilikan itu harus diketahui umum
8. Pemilikan itu harus bezitter yang beritikad baik dengan tidak
merugikan orang lain.
9. pemilikan itu harus selama 20 tahun kalau ada alas hak (titel) dan 30
tahun kalau tidak ada alas hak.
A.d. 4 Pewarisan/erfopvoging
Pewarisan adalah cara memperoleh hak eigendom dengan cara warisan
baik menurut UU ataupun menurut wasiat yang selanjutnya akan dibahas
dalam Hukum Waris.
A.d. 5 Penyerahan/levering/op-dracht/overdracht/trans/cessie/inbreng
Oenyerahan adalah cara memperoleh hak eigendom dengan cara
penyerahan suatu benda oleh eigenaar atau atas namanya kepada orang
lain sehingga orang lain itu memperoleh hak eigendom atas benda itu.
Menurut B.W. setiap perbuatan hukum tanpa adanya penyerahan (belum
adanya penyerahan) belum dikatakan terjadi beru menimbulkan
perjanjian obligatoir saja belum ada perjanjianzakelijk. Seperti kita
ketahui bahwa benda itu ada bermacam-macam ada yang berwujud dan
tidak berwujud ada juga benda bergerak dan tidak bergerak. Oleh karena
itu leveringnya juga berbeda-benda tergantung dari macam bendanya.
Untuk benda bergerak yang berwujud leveringnya dapat dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Penyerahan dari tangan ke tangan atau penyerahan secara nyata
2. Penyerahan secara simbolis
3. Penyerahan secara traditio brevu manu
4. Penyerahan secara constitutum posessorium
Penyerahan benda bergerak yang tidak berwujud dengan cara:

79

1. Piutang atas nama (op naam) dilakukan dengan cessie yaitu dengan
membuat akte authentic atau akta di bawah tangan dalam mana
dinyatakan bahwa piutang itu telah dipindahkan kepada seseorang.
Kreditur lama disebut cessus
Kreditur Baru disebut cedent
Perpindahan atau perbuatannya disebut cessie
2. Piutang atas bawa atau atas tunjuk (aan toonder), penyerahnnya
dilakukan dengan penyerahan nyata.
3. Piutang atas perintah (aan order) penyerahannya dilakukan dengan
penyerahan dari surat disertai dengan endossemen (ditulis dibelakang
surat itu bahwa piutang itu telah dialihkan pada seseorang).
Penyerahan benda tidak bergerak.
Dilakukan dengan balik nama dengan pendaftaran dilaksanakan di
temapt RVJ dan dihadapan Hakim RVJ.
Harus ada ijin dari Menteri Kehakiman dan harus dikutip dalam register
eigendom dan didelegasikan kepada Jaksa Pengadilan Negeri (dulu).
Penyerahan benda tak bergerak diatur dalam S. 1834 No. 27 yaitu
dalam Overschrijving Ordonantie.
Pada tahun 1947 pendaftarannya harus dilakukan dihadapan Kepala
Seksi Pendaftaran Tanah (Kadaster) diatur dalam UU No. 53/1947.
Pada tahun 1954 dikeluarkan UU No. 24, L. 1954 No. 78 yang mengatur
tentang penyerahan benda tak bergerak yaitu harus mendapat ijin dari
Menteri Kehakiman yang dikuasakan kepada Jaksa Pengadilan Negeri.
Sekarang setelah berlakunya UUPA No. 5 tahun 1960 perpindahan hak
milik atas sebidang tanah harus dilakukan dan dihadapan PPAT (Pejabat
Pembuat Akta Tanah) dan didaftarkan ke Seksi Pendaftaran Tanah, diatur
dalam PP No. 10 tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah.
Syarat-syarat Penyerahan
1. Harus ada perjanjian zakelijk yaitu perjanjian yang menyebabkan
pindahnya hak-hak kebendaan.
2. Harus ada titel atau alas hak atau alas perdata.
Tentang titel ini ada dua teori, yaitu:

80

a. Teori Causal
Meneurut teori ini sahnya penyerahan tergantung pada alas hak jika alas
haknya sah maka penyerahannya sah dan sebaliknya.
Jadi harus ada titel yang nyata
Pengikutnya antara lain Diephuis, Scholten
b. Teori Abstrak
Menurut teori ini penyerahan dan alas hak itu merupakan hal yang
terpisah satu sama lain.
Untuk sahnya penyerahan tidak tergantung pada alas hak yang nyata.
Jadi bias terjadi bahwa penyerahan itu akan sah juga sekalipun titelnya
tidak sah tanpa titel sekalipun.
Menurut pasal 584 KUHPerdata penyerahan itu harus memenuhi adanya
titel tapi bias nyata atau titel anggapan.
Oleh karena itu baik ajaran causaal maupun ajaran abstrak untuk sahnya
suatu penyerahan memerlukan adanya titel hanya bedanya menurut
ajaran causal titelnya harus nyata/riil sedang dalam ajaran abstrak
titelnya cukup dengan titel anggaran saja.
3. Harus dilakukan oleh orang yang wenang menguasai benda tadi.
Syarat ini merupakan pelaksanaan dari asas hukum yaitu asas Nemoplus
yang mengatakan bahwa seseorang itu tidak dapat memperalihkan hak
melebihi apa yang menjadi haknya.
Dan lazimnya yang wenang untuk menguasai benda itu adalah pemiliknya
atau kuasanya.
4. Harus ada penyerahan atau formalitas tertentu yaitu adanya
penyerahan nyata dan penyerahan yuridis, feitelijke dan juridische
levering.
Dalam bahasa Perancis ada dua macam istilah yaitu:
1. traditio (juridische levering)
2. deliverance (penyarahn nyata0
Untuk benda bergerak penyerahan nyata dan penyerahan juridis
bersamaan terjadinya.

81

Untuk benda tak bergerak antara penyerahan nyata dengan penyerahan
juridis tidak bersamaan.
Misalnya jual beli sebidang tanah penyerahan juridisnya terjadi pada
waktu dibuatnya akte perpindahan hak dihadapan PPAT sedang
penyerahan nyatanya pada waktu akte tersebut diserahkan kepada yang
berhak.
Cara-cara memperoleh hak eigendom dalam pasal 584 KUHPerdata itu
bersifat limitative atau terbatas terbukti dari kata-kata:
"hak milik atas sesuatu kebenuaan tak uapat uipeioleh uengan caia lain
melainkan ".
Hal ini tidak benar karena diluar pasal tersebut masih ada cara lain untuk
memperoleh hak milik jadi tidak hanya lima cara saja seperti yang
disebutkannya.
Cara-cara memperoleh hak eigendom di luar pasal 584 KUHPerdata
1. Perjadian benda/pembentukan benda (zaakvorming, 606)
2. Penarikan hasil (vruchttrekking, 575)
3. Persatuan benda (vereniging, 607-609)
4. Pencabutan hak (onteigening)
5. Perampasan (verbeurverklaring, 10 jo. 39)
6. Percampuran harta (boedelmenging, 119)
7. Pembubaran sebuah badan hukum (ontbinding van Rechtspersoon,
1665)
8. Abandonnement, 663 WVK
Ad. 1. Perjadian benda/pembentukan benda (zaakvorming, 606)
Benda yang sudah ada dijadikan benda baru, misanya:
1. kayu ukir menjadi patung
2. pasir dan batu, semen dilepe menjadi rumah gedung.
orang yang dengan bendanya sendiri menjadikan benda baru juga
menjadi pemilik dari benda baru itu.
A.d. 2. Penarikan hasil (vruchttrekking, 575)
Bezitter yang beritikad baik dapat menjadi pemilik dari buah-
buahan/hasil dari benda yang dibezitnya.

82

Misalnya: - Seseorang mempunyai seekor sapi betina kemudian sapi itu
melahirkan seekor anak sapi maka anak sapi tersebut adalah milik dari
pemilik tadi.
- Seseorang mempunyai pohon kelapa dan berbuah maka buahnya itu
adalah milik yang punya pohon kelapa tadi.
A.d. 3 Persatuan benda (vereniging, 607-609)
Memperoleh hak milik karena bercampurnya beberapa macam benda
kepunyaan beberapa orang.
Jika bercampurnya benda itu karena kebetulan jadi bukan keinginan
orang-orang tersebut maka benda itu menjadi milik bersama seimbang
dengan harga benda mereka semula.
Tapi apabila bercampurnya benda tersebut atas keinginan orang-orang
tersebut (pemiliknya) maka dialah menjadi pemiliknya dengan kewajiban
membayar harga barang-barang yang bercampur itu ongkos-ongkos,
ganti rugi dan bunganya.
A.d. 4 Pencabutan hak (onteigening)
Penguasa dapat memperoleh hak milik dengan jalan pencabutan hak tapi
harus memenuhi sayarat-syarat berikut:
a. harus berdasarkan undang-undang jadi harus ada undang-undang
pencabutan hak terlebih dahulu
b. harus ada kepentingan umum
c. harus dengan penggantian kerugian yang layak
A.d. 5 Perampasan (verbeurverklaring, 10 jo. 39)
Sebagai hukuman tambahan yang dijatuhkan penguasa terhadap
terdakwa maka penguasa dapat memperoleh hak milik dengan jalan
perampasan.
A.d. 6 Percampuran harta (boedelmenging, 119)
Suami atau isteri dapat memperoleh hak milik karena adanya
percampuran harta kekayaan apabila mereka mengadakan suatu
perkawinan.

83

Menurut KUHPerdata dengan adanya perkawinan maka secara otomatis
kekayaan menjadi bersatu/bercampur antara harta si suami dan harta di
isteri kecuali kalau ada perjanjian perkawinan.
A.d. 7 Pembubaran sebuah badan hukum (ontbinding van Rechtspersoon,
1665)
Jika ada pembubaran sebuah badan hukum maka anggota badan hukum
yang masih ada dapat memperoleh harta kekayaan dari badan hukum
tersebut.
Misalnya sebuah PT dimana kekayaannya terpisah antara kekayaan
pribadi dengan kekayaan PT tersebut. Apabila terjadi pembubaran maka
kekayaan PT tersebut menjadi hak milik dari para anggota yang masih
ada.
A.d. 8 Abandonnement, 663 WVK
Diatur dalam pasal 663 WVK.
Mengenai kapal-kapal dan barang-barang yang dipertanggungkan dapat
diabandonir atau diserahkan saja kepada si penanggung dalam hal
pecahnya kapal atau karamnya kapal.
Hak milik bersama atau medeeigendom
Hak milik selain dipunyai oleh perseorangan dapat juga dimiliki oleh
lebih dari seorang yang disebut dengan medeeigendom yang diatur dalam
pasal 573 KUHPerdata.
Hak milik bersama ini ada dua macam yaitu:
1. Hak milik bersama yang bebas (vrije medeeigendom)
2. hak milik bersama yang terikat (gebon medeeigendom)
a.d. 1. Hak milik bersama yang bebas (vrije medeeigendom)
a. Di dalam medeeigendom ini tidak ada hubungan lain selain hal
bersama menjadi pemilik antara mereka.
b. Memang adanya kehendak dari mereka bersama untuk memiliki
benda tersebut secara bersama-sama.
c. Tidak adanya kesatuan yang berbentuk suatu badan usaha dari
benda bersama tersebut.
Semua ini pendapat dari pitlo.

84

d. Jika para pemilik dari benda tersebut dapat meminta pemisahan
bagian terhadap benda bersama itu.
e. Karena mereka masing-masing mempunyai bagian yang merupakan
obyek harta kekayaan yang berdiri sendiri mereka mempunyai
wewenang untuk menguasai bagiannya itu dan berbuat apa saja terhadap
bendanya tanpa diperlukan ijin dari yang lainnya.
f. Tiap-tiap medeeigenaar mempunyai bagian dalam hak milik itu
misalnya: separoh atas milik bersama.

A.d. 2. Hak milik bersama yang terikat (gebon medeeigendom)
a. Dalam medeeigendom terikat timbul karena adanya beberapa orang
secara bersama-sama menjadi pemilik atas sesuatu benda itu akibat dari
adanya hubungan yang sudah ada lebih dulu antara para pemilik itu.
Misalnya adanya harta bersama suami isteri karena perkawinan terlebih
dahulu harta peninggalan karena adanya yang meninggal dunia.
b. Medeeigendom terikat pemiliknya tidak dikehendaki atau setengah
dikehendaki misalnya warisan, para pesero menjadi milik bersama
karena keharusan.
c. Nampak adanya kesatuan mengenai benda bersama dan biasanya
berbentuk suatu badan usaha.
d. Dalam medeeigendom terikat tidak mungkin terhadap milik bersama
itu diadakan pemisahan dan pembagian.
e. Wewenang untuk berbuat sesuatu terhadap benda bersama harus
ada ijin dari medeegenaar yang lainnya.
f. Para pemilik dalam harta bersama yang terikat itu berhak atas
seluruh bendanya.
Cara-cara hilangnya hak milik
1. Karena orang lain memperoleh hak milik itu dengan salah satu cara
untuk memperoleh hak milik di atas.
2. karena binasanya benda
3. karena eigenaar melepaskan benda tersebut

85

melepasakan dalam hal ini adalah dengan maksud untuk melepaskan hak
milik. Jadi bukan karena kehilangan atau terpaksa melemparkan benda
tersebut ke laut karena keadaan darurat dan lain-lain.
Dalam hal yang demikian hak pemiliknya tetap ada pada pemilik semula.

L. HAK MILIK MENURUT ISLAM

Hukum Milik
Milik/al-milk adalah penguasaan terhadap sesuatu, sesuatu yang dimiliki
(harta).
Sebab Pemilikan menurut ulama fikih ada empat cara yang disyariatkan
Islam,yaitu :
1. Ihraz al-mubahat, yakni melalui penguasaan terhadap harta yang
belum dimiliki seseorang atau badan hukum lain, yang dalam hukum
Islam disebut sebagai harta yang mubah.
Contoh: ikan di laut lepas
2. Melalui suatu akad ( transaksi ) yang di lakukannya dengan orang
atau suatu badan. Contoh: jual beli hibah dan wakaf
3. Melalui khalafiyah (penggantian) baik penggantian dari seseorang
kepada orang lain (waris) maupun penggantian sesuatu dari suatu benda
yang disebut tadmin (ganti rugi).
4. Melalui tawallud min mamluk, yaitu hasil/buah dari harta yang telah
dimiliki seseorang baik secara alamiah atau melalui suatu usaha
pemiliknya.
Sifat Kepemilikan
Islam sangat menghormati kemerdekaan seseorang untuk memiliki
sesuatu selama sejalan dengan cara yang digariskan syarah.
Pemilik harta secara hakiki adalah Allah SWT. Seseorang dikatakan
memiliki harta hanya secara majasi dan harta itu merupakan amanah di
tangan-Nya yang harus dipergunakan untuk kemaslahatan dirinya dan
orang lain (QS. 5 : 120 dan Qs. 57 : 7).

86

Ulama fikih membagi harta yang dapat dimilki seseorang ada tiga bentuk,
yaitu:
1. harta yang dapat dimiliki dan dijadikan dalam penguasaan seseorang
secara khusus.
2. harta yang sama sekali tidak dapat dijadikan milik pribadi.
Contoh: jalan umum
3. harta yang hanya dapat dimiliki apabila ada dasar hukum yeng
membolehkannya.
Contoh: wakaf
Macam-macam pemilikan menurut sifatnya
1. Milik materi dan manfaat harta itu dimiliki sepenuhnya oleh
seseorang sehingga seluruh hak itu berada di bawah penguasaannya
milik mutlak.
Contoh: memiliki sebuah rumah
2. Milik tidak sempurna (al-milk an-naqis0 apabila seseorang hanya
menguasai materi harta tapi manfaatnya dikuasai orang lain. Milik ini
terjadi karena:
Al iaiah (pinjam meminjam)
Ijarah (sewa menyewa)
Wakaf (untuk kepentingan orang diberi wakaf)
Wasiat (pemberian secara sukarela)
Ibaiah (penyeiahan manfaat milik seseoiang kepaua oiang lain) untuk
kepentingan umum
Macam pemilikan dilihat dari obyeknya ada tiga bentuk, yaitu:
1. milk al-ain yakni pemilikan berupa benda baik benda bergerak atau
tidak bergerak.
2. milk al-manfaah yaitu pemilikan teihauap manfaat suatu benua.
3. milk ad-dain yakni pemilikan terhadap utang yang ada pada orang
lain.
Berakhirnya Pemilikan apabila:
a. Wafatnya pemilik sehingga seluruh miliknya berpindah kepada ahli
warisnya.

87

b. Harta yang dimiliki itu rusak/hilang.
c. Habis masa berlakunya pemanfaatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulwahab Bakri, Hukum Benda, Hukum Perikatan.
Ali Afandi, Hukum waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, Jakarta,
Bina Aksara, 1984.
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia,
1976.
Riduan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-asas Hukum Perdata, Bandung,
Alumni, 1985.
R. Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta, PT. Intermasa, 1984.
R. Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin, Hukum Orang Dan
Hukum Keluarga, Bandung, Alumni, 1985.
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Badan Pribadi, Hukum Perdata,
Hukum BendaYogyakarta, PB. Gajah Mada, 1964.
Wiryono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Perdata, Bandung, Sumur
Bandung, 1976.
Perundang-undangan
Undang-undang Pokok Perkawinan No. I/1974.
Peraturan Pemerintah No. 9/1975.
Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Keputusan Presiden No. 12/1983.
Kompilasi Hukum Islam, Mahkamah Agung RI, 1991.
Ensiklopedi Hukum Islam : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Hukum perdata adalah rangkaian aturan-aturan hokum yang mengatur
hubungan-hubungan hukum antara orang yang satu dengan yang lain
dalam masyarakat.

88

Hukum dagang sama dengan perdata tapi khusus dalam bidang
perniagaan. Hubungan keduanya adalah hubungan antara hukum umum
dan hukum khusus.
Pasal 1 KUHD
"lex speciolis ueiogate legi geneiali"
Sumber
Hukum perdata (KUHperdata (BW))
Hukum dagang (KUH dagang (WK))
PLURALISME-DUALISME
Pluralism dan dualism hukum (perdata) di Indonesia bermula dari di
berlakukannya pasal 163. 131 IS.
Pluralism, karena berlakunya beberapa hukum perdata.
Dualism, terhadap 1 rakyat indo pada dasarnya di berlakukan 2
hukum, yaitu hukum adat dan hukum tertulis.
Pasal 163 is, mengadakan pembedaan golongan penduduk menjadi 3
golongan, eropa, bumi putra, timur asing.
Sehingga berlaku
1. Hukum perdata barat
2. Hukum perdata timur asing
3. Hukum perdata adat bumi putra
Pasal 131 is memberlakukan hukum perdata bagi golongan-golongan
penduduk secara berdeda-beda.
Pelaksanaan pasal 131 is (ketentuan S 1917-12) tentang penundukan
diri.
1. Penundukan diri untuk seluruhnya
2. Penundukan diri untuk sebagian
3. Penundukan diri untuk perbuatan tertentu
4. Penundukan diri secara anggapan/diam-diam





89

PEMBAGIAN HUKUM
PERDATA
(menurut ilmu pengantar hukum)
1. Hukum perorangan (persomenrecht)
2. Hukum keluarga (familierecht)
3. Hukum harta kekayaan (vermogensrecht)
4. Hukum waris (erfrecht)
(menurut sistematika BW)
1. Buku I perihal orang (van personen)
2. Buku II perihal benda (van zaken)
3. Buku III perihal perikatan (van verbintenissen)
4. Buku IV perihal pembuktian dan daluwarsa (van bewijsen verjaring)

TENTANG ORANG
Orang (badan pribadi) adalah subyek hokum (subjectum juris) di
dalam hokum/pendukung hak dan kewajiban.
Ada 2 yaitu
Manusia (naturlijke persoon)
Badan (recht persoon)
Manusia:
Sejak lahir sampai mati, pasal 2 BW
"Anak ualam kanuungan uianggap telah lahii, bila kepentingan si anak
menghenuaki"
Badan hokum:
Tidak semua orang dapat bertindak sendiri dalam melaksanakan hak-
haknya.
Pasal 1330 BW (tidak cakap hukum) :
1) Orang yang belum dewasa
2) Gila
3) Perempuan bersuami



90

TENTANG KEBENDAAN
Buku II KUHperdata tentang hokum kebendaan menggunakan
"system teitutup" yaitu oiang tiuak ui peikenankan menciptakan hak
kebendaan lain, selain apa yang sudah ada dalam buku II tersebut.
BENDA
Apa saja yang dapat dijadikan hak seseorang.
HAK KEBENDAAN
Hak yang diberikan kepada seseorang berupa kekuasaan langsung
atas suatu benda yang dapat di pertahankan kepada setiap orang.
Hak kebendaan ada 2:
1) Hak kebendaan yang member kenikmatan/manfaat.[1]
2) Hak kebendaan yang memberi jaminan.[2]

TENTANG PERIKATAN
BUKU III

Perikatan
Perikatan adalah suatu hubungan hokum antara 2 orang/pihak,
dimana pihak yang 1 (kreditur) berhak menuntut satu hal dari pihak lain
(debitim) yang berkewajiban memenuhi.

(HAK KREDITUR DAN KEWAJIBAN DEBITUR DI SEBUT PRESTATIE.
"PASAL 12S4 BW")
1. Memberi sesuatu
2. Berbuat sesuatu
3. Tidak melakukan perbuatan/ sesuatu.
SAHNYA PERIKATAN (pasal 1320 BW)
1. Sepakat
2. Cakap hokum
3. Adanya hal/obyek tertentu
4. Kausa yang halal.
HUKUM WARIS MENGATUR

91

1. Siapa yang tergolong ahli waris
2. Penggolongan ahli waeis dan urutannya di antara mereka
3. Berapa bagian masing-masing ahli waris
4. Apa saja yang dapat di pesankan seseorang bila meninggal dan batas
kekuasaan seseorang untuk membuat wasiat.

POKOK-POKOK ACARA PERDAT

Hokum acara perdata adalah aturan-aturan hokum yang mengatur cara-
cara memelihara dan mempertahankan hokum perdata materil
SUMBER-SUMBER
Rv .(reglement op de burgerlijke rechtuor dering) yang berlaku bagi
golongan eropa di jawa dan eropa.
H.I.R (herziene inlandsch reglement) yang berlaku bagi golongan bumi
putra di jawa dan Madura

SUMBER-SUMBER PERDATA

1. UU NO. 1 THUN 1974 tentang perkawinan
2. UU NO. 4 THUN 2004 tentang kekuasaan kehakiman
3. UU NO. 5 THUN 2004 tentang perubahan atas UU No. 14 tahun 1970
tentang MA.
4. UU NO. 8 THUN 2004 tentang perubahan atas UU NO. 2 THUN 1986
tentang peradilan
5. UU NO. 3 THUN 2006 tantang perubahan atas UU NO. 7 THUN 1989
tentang peradilan agama

ASAS-ASAS
1. Beracara dengan hadir sendiri/tidaka ada kewajiban mewakili
2. Hakim bersifat menunggu , artinya inisiatif berperkara dating dari para
pihak (nemo judex sine antor)

92

3. Hakim pasif, artinya ruang lingkup/luas pokok sengketa yang di ajukan
kepada hakim di tentukan oleh para pihak.(secundum alegat iudecare)
4. Beracara dengan mengajukan permohonan
5. Pemeriksaan perkara dalam siding pengadilan yang terbuka[3]
6. Beracara tidak dengan Cuma-Cuma[4]
7. Hakim mendengar ke 2 belah pihak (audi et elte ram partem)
8. Pemeriksaan perkara secara lisan
9. Terikatnya hakim pada alat pembuktian[5]
10. Keputusan hakim harus memuat alas an-alsan.


[1] Hak eigendom dan hak erfpacth.
[2] Hak gadai dan hak hipotik.
[3] Terbuka untuk umum..setiap orang boleh hadir mendengar dan
menyimak berjalannya pengadilan .
Tujuan terbuka: 1. Memberi perlindungan ham 2. Menjaga obyektifitas
peradilan
[4] Adanya pembayaran. 1. Materi. 2. Honor pembela 3. Uang saksi

[5] Alat pembuktian. Member upaya untuk menyakinkan hakim bahwa
suatu kenyataan/hub sudah sungguh2terjadi. Alat bukti: 1. Tertulis 2.
Saksi 3. Persangkaan 4. Pengakuan 5. Sumpah 6. Desente 7 saksi ahli