Anda di halaman 1dari 40

PENGANTAR HUKUM

BISNIS
OLEH:
LIA AMELIA (1206248275) DAN KEVIN HIDAJAT
SECTION 1: PENGANTAR HUKUM INDONESIA
DISIPLIN ILMU HUKUM
ARTI HUKUM
TUJUAN HUKUM
CAKUPAN HUKUM
UNSUR HUKUM


ARTI HUKUM

Arti hukum dapat ditujukan pada cara-cara untuk merealisasikan hukum
tersebut dan juga pada pengertian yang diberikan masyarakat, yaitu:
Hukum sebagai ilmu pengetahuan; yaitu pengetahuan yang tersusun
secara sistematis atas dasar kekuatan pemikiran
Hukum sebagai disiplin; suatu sistem ajaran tentang kenyataan yang
dihadapi
Hukum sebagai kaidah
Hukum sebagai keputusan penguasa
Hukum sebagai proses pemerintahan, proses feedback antara unsur-
unsur pokok dari sistem kenegaraan
DISIPLIN ILMU HUKUM
Disiplin adalah sistem ajaran mengenai kenyataan atau
gejalan-gejala yang dihadapi.
Disiplin hukum mencakup :
Preskriptif
Ajaran yang menentukan apakah yang seyogyanya atau seharusnya
dilakukan. Ajaran prespektif bersifat normatif (memberi patokan). Contoh:
hukum filsafat
Deskriptif;
ajaran yang menentukan apakah yang senyatanya dilakukan. Contoh:
sosiologi, psikologi, dll

TUJUAN HUKUM
Menurut Van Apeldoorn, Tujuan hukum adalah mengatur tata tertib
masyarakat secara damai dan adil. Kepentingan dari perorangan dan
kepentingan golongan manusia selalu bertentangan satu sama lain
Pertentangan kepentingan selalu menyebabkan pertikaian.
Hukum mempertahankan perdamaian dengan menimbang kepentingan
yang bertentangan secara teliti dan mengadakan keseimbangan
diantaranya karena hukum dapat mencapai tujuan jika menuju peraturan
yang adil.
UNSUR-UNSUR HUKUM

Unsur idiil
Terdiri atas :
Hasrat susila; menghasilkan asas-asas hukum. Contoh: tidak ada hukuman tanpa
kesalahan
Rasio manusia; menghasilkan pengertian-pengertian hukum
Unsur riil
Terdiri atas :
Manusia
Kebudayaan materiil
Lingkungan alam

Ilmu hukum mencakup :
Ilmu tentang kaidah (normwissenschaft atau
sollenwissenschaft), yaitu ilmu yang menelaah hukum sebgai kaidah
atau sistem kaidah-kaidah
Ilmu pengertian; dogmatik hukum. Ilmu tentang pengertian-
pengertian pokok dalam hukum. Contoh: hukum dan objek hukum,
subjek hukum, hak dan kewajiban
Ilmu kenyataan; tatschenwissenschaft du seinwissenschaft.
Hukum sebagai tindak atau perikelakuan. Contoh: sosiologi hukum dan
antropologi hukum

CAKUPAN HUKUM
Sosiologi hukum yakni suatu cabang ilmu pengetahuan yang
secara impiris dan analitis mempelajari hubungan timbal-balik
antar hukum sebagai gejala-gejala sosial dengan gejala sosial
yang lain.
Anthropologi hukum, yakni suatu cabang ilmu pengetahuan
yangmempelajari pola-pola sengketa dan penyelesaiannya pada
masyarakat-masyarakat sederhana, maupun masyarakat-
masyarakat yang sedang mengalami proses modernisasi.
Psikologi hukum, yakni suatu cabang ilmu pengetahuan yang
mempelajari hukum sebagai suatu perwujudan dari
perkembangan jiwa manusia.
Perbandingan hukum yang merupakan cabang ilmu pengetahuan
yang memperbandingkan sistem-sistem hukum yang berlaku di
dalam satu atau beberapa masyarakat.
Sejarah hukum yang mempelajari perkembangan dan asal-usul
daripada sistem hukun suatu masyarakat tertentu.
Beberapa poin akan dibahas lebih lanjut

HUKUM SEBAGAI SISTEM KAIDAH
HUKUM SEBAGAI SISTEM KAEDAH

Dalam kontak sosial, manusia dibatasi oleh ketentuan yang mengatur
tingkah laku dan sikap mereka. Jika tidak demikian, akan terjadi
ketidakseimbangan dalam masyarakat. Maka dari itu, hukum sebagai
kaidah diperlukan karena pandangan manusia akan hidup pantas
dan teratur berbeda satu sama lain. Ketentuan yang mengatur tingkah
laku manusia atau yang menjadi pedoman guna menjaga keseimbangan
dinamakan kaidah sosial.

Tugas kaidah hukum yaitu pemberian kepastian hukum yang tertuju pada
ketenteraman atau ketenteraman dan pemberian kesebandingan hukum
yang tertuju pada ketenangan atau ketenteraman



Isi dan sifat kaidah hukum merupakan pembahasan tentang
struktur kaidah hukum yang isinya adalah :
Suruhan (gebod)
contoh: pasal 22 UUD 1945.
Larangan (verbod)
contoh: pasal 8 UU No. 1 Tahun 1974
Kebolehan (mogen)
contoh: pasal 29 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974
serta dapat bersifat :
imperatif (harus dipatuhi dan ada sanksi hukum yang tegas)
kaidah suruhan dan larangan
fakultatif (kebolehan tidak harus dipenuhi) kaidah kebolehan
JENIS KAIDAH

Tata kaidah aspek hidup pribadi:
kepercayaan
Kaidah sosial yang berasal dari
Tuhan. Kaidah agama mengatur
tentang hubungan manusia dengan
Tuhannya.
Kesusilaan
Peraturan hidup yang berasal dari
suara hati manusia


Tata kaidah aspek hidup antar
pribadi: sopan santun dan hukum
(abstrak/umum dan
konkret/individual)
Sopan santun
Peraturan hidup yang timbul dari
pergaulan
Hukum
Peraturan yang dibuat atau
dipositifkan secara resmi oleh
penguasa masyarakat

PERUMUSAN KAIDAH
Perumusan kaidah dapat digolongkan kedalam dua pandangan,
yaitu:
Pandangan hipotesis/bersyarat
Jika dalam perumusannya terdapat hubungan antara suatu kondisi
tertentu dengan konsekuensi tertentu. Contoh: pasal 362 dalam KUHP
Pandangan kategoris
Jika dalam perumusannya tidak menunjukkan hubungan kondisi dan
konsekuensi tertentu. Contoh: pasal 10 dalam KUHP
PENYIMPANGAN TERHADAP KAIDAH HUKUM
Penyimpangan terhadap kaidah hukum dapat berupa:
Pengecualian atau dipensasi; penyimpangan dari patokan atau
pedoman dengan dasar yang sah. Terdiri dari dasar yang berbeda:
Pembenaran. Contoh: dua orang terapung di laut dengan sebilah papan
Bebas kesalahan. Contohnya: seorang kasir menyerahkan uang kas
karena ditodong dengan senjata api
Delict; penyimpangan dari patokan atau pedoman yang tidak
memiliki dasar yang sah
BERLAKUNYA KAIDAH HUKUM
Menurut sasarannya
Yuridis hukum merupakn susunan
kaidah (Hans Kelsen)
Sosiologis efektivitas dari kaidah
hukum tersebut
Teori kekuasan: dapat dipaksakan oleh
penguasa
Teori pengakuan: kaidah hukum berlaku
karena penerimaan
Filosofis kaidah hukum harus sesuai
dengan cita-cita hukum sebagai nilai
positif (Pancasila)


Lingkup laku dari Kaidah Hukum
Wilayah tempat terjadi peristiwa
hukum
Pribadi apa peran masing-masing
pribadi
Masa/waktu berhubungan dengan
jangka waktu
Ihwal berhubungan dengan objek
atau benda

HUKUM SEBAGAI PERANGKAT SIKAP TINDAK
ATAU PERIKELAKUAN
HUKUM SEBAGAI PERANGKAT SIKAP TINDAK ATAU
PERIKELAKUAN
Terdapat dua syarat bagi timbulnya hukum kebiasaan:
1. syarat yang bersifat material: kebiasaan yang ajeg
2. Bersifat psikologis sosial, kesadaran akan adanya suatu kewajiban menurut
hukum
Namun, menurut van Apeldroon menyatakan Hukum menghendaki kedamaian
sehingga poin kedua lebih cocok dengan kesadaran akan kedamaian.
Konsepsi kedamaian sendiri adalah tidak adanya gangguan ketertiban dan juga
tak ada kekangan terhadap kebebasan. Konsepsi ini merupakan inti pembeda
hukum dari sopan santun. Dilain sisi, ada tidaknya opinio necessitis juga
merupakan pembeda dari keduanya.

KESADARAN HUKUM
Paham kesadaran hukum merupakan faktor yang menentukan bagi
sahnya hukum. Namun terdapat ketidaksesuaian antara dasar hukum dengan
kenyataan yang dipatuhinya. Adanya keserasian antara pengendalian sosil
oleh penguasa, kesadaran masyarakat dan dipatuhinya hukum positif dalam
kehidupan nyata merupakan sebuah kondisi yang dicita-citakan. Ide tentang
kesadaran masyarakat menjadi dasar hukum positif tertulis dalam
Reechtsgeluh. Inti ajaran tersebut adalah bahwa tidak ada hukum yang
mengikat masyarakat kecuali atas dasar kesadaran hukumnya.
Tiga proses dasar untuk mengembangkan kepatuhan/kesadaran akan hukum:
Compliance
kepatuhan yang didasarkan kepada usaha untuk menghindarkan diri dari
hukuman
Identification
Kepatuhan hukum sebagai usaha untuk menjjaga keanggotaan dari kelompok
tetap terjaga dan adanya hubungan baik dengan yang memegang kekuasaan
Internalization
Terjadi karena adanya kepercayaan masyarakat terhadap tujuan hukum,
terlepas dari perasaan atau nilai kepada kelompok atau pemegang kuasa.
DERAJAT KEPATUHAN
Terdapat berbagai derajat kepatuhan, antara lain:
Seseorang bersikap sebagaimana diharapkan oleh hukum dan menyetujui
nilai-nilai yang diberikan oleh pihak berwenang
Seseorang bersikap sebagaimana diharapkan oleh hukum tetapi tidak
menyetujui penilaian yang diberikan oleh pihak berwenang
Seseorang bersikap mematuhi hukum tetapi tidak setuju dengan kaidah
maupun nilai nilai yang ditetapkan oleh berwenang
Seseorang tidak mematuhi hukum tetapi menyetujui nilai-nilai yang diberikan
oleh pihak berwenang
Seseorang sama sekali tidak menyetujui kesemuanya
KONSEPSI HUKUM DALAM PEMBANGUNAN
Pembangunan merupkan
perubahan terencana dan terarah
yang mencakup aspek-aspek
politis, ekonomis, hukum,
teknologi, dan lainnya yang
dimanifestasikan dalam hukum.
Dalam sebuah konsepsi Panca
Tertib membagi pergaulan hidup
dalam tiga bidang pokok:
Ekonomi, Politik dan Sosial.


IA
IIA
III
A
IB
IIB
III
B
Lingkaran dalam:
lingkungan sikap
Ekonomi, Politik
dan Sosial (IB,
IIB, IIIB)
Lingkaran luar
Sektor IA =
economic law
Sektor II A =
political law
Sektor III A =
tertib hukum
dalam arti luas
HUBUNGAN HUKUM DENGAN BIDANG EKONOMI, POLITIK DAN
SOSIAL
Menurut C. Westrate, 1949 :
hukum merupakan suatu kerangka yang didalamnya
berlangsung kehidupan ekonomi, kerangkanya sepanjang
hal itu berhubungan dengan kehidupn ekonomi
merupakan konstitusi ekonomi dan terb ekonomi....
Anggapan C.Westrate juga berlaku pada dua bidang lain:
politik dan sosial.
SENDI-SENDI TATA HUKUM
PENGERTIAN DASAR SISTEM HUKUM
Ruang lingkup ilmu hukum adalah kaidah hukum, keputusan pejabat, hukum
kebiasaan dan lain sebagainya yang merupakan suatu struktur menyeluruh
yang disebut sistem. Faktor-faktor yang relevan terhadap sistem adalah:
Elemen sistem
Pembagian dari sistem; suatu sistem terdiri dari berbagai sub-sistem
Konsistensi; tidak ada hak yang berlawanan dalam suatu sistem
Kelengkapan sistem
Pengertian-pengertian dasar dari sistem; menjadi ciri pengenal diri suatu
sistem

PENGERTIAN DASAR HUKUM
Masyarakat Hukum
Sistem hubungan teratur dengan hukum sendiri hukum yang tercipta dalam-
oleh-untuk hubungan itu sendiri. Hubungan dapat diartikan sebagai relation
(abstrak) maupun communication (kongkrit). Relation dapat ada tanpa
communication
Subyek Hukum
Pihak yang berhubungan dalam sistem. Segala sesuatu yang dapat menjadi
pendukung hak dan kewajiban. Dalam hukum juga disebut orang. Orang
sebagai subjek hukum memiliki kewenangan untuk bertindak menurut hukum.
Sifat subyek hukum dapat berupa:
Mandiri karena memiliki kemampuan penuh untuk bertindak
Terlindung karena tidak memiliki kemampuan bertindak
Perantara yang tindakannya terbatas oleh pihak yang diantarai
Hakekat subyek hukum dibedakan antara lain:
Pribadi kodrati; manusia tanpa terkecuali
Pribadi hukum
Contoh: wakaf/yayasan atau susunan relasi
Tokoh
Suatu peranan (hak dan kewajiban) yang dilaksanakan oleh pemegang
peranan.
Peranan (Kewajiban/Hak) dalam Hukum
Kewajiban merupakan peranan imperatif karena tidak boleh tidak dilaksanakan. Sedangkan hak bersifat fakultatif.
Kewajiban secara umum terdiri dari beberapa golongan:
Kewajiban mutlak; kewajiban yang umumnya berasal dari kekuasaan
Kewajiban nisbi; kewajiban yang disertai dengan adanya hak.
Kewajiban publik; kewajiban yang berkolerasi dengan hak-hak publik
Kewajiban perdata; kewajiban yang berkolerasi dengan hak-hak perdata
Timbulnya hak/kewajiban terjadi karena adanya peristiwa hukum.



PERISTIWA HUKUM
Semua kejadian atau fakta yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat yang memiliki akibat hukum.
Ada tiga kelompok peristiwa hukum, yaitu:
Keadaan. Contoh: alamiah, kejiwaan, sosial
Kejadian, misalnya perang atau darurat
Sikap dalam hukum dibedakan:
Sikap yang sepihak atau lebih, misal perjanjian
Sikap yang melanggar hukum

HUBUNGAN HUKUM
Hubungan hukum dibedakan dalam:
Hubungan sederajat dan beda derajat
Hubungan sederajat tidak hanya terdapat dalam hukum perdata
(suami isteri) tetapi juga hukum negara antara provinsi satu
dengan yang lainnya
Hubungan timbal balik dan timpang
Disebut timbal-balik karena para pihaknya memiliki hak dan
kewajiban. Dalam hubungan timpang, salah satu pihak hanya
memiliki hak sedangkan yang lain hanya berkewajiban saja
OBJEK HUKUM
Obyek hukum merupakan kepentingan bagi subyek
hukum. Kepentingan tersebut:
Bersifat material dan berwujud dalam bahasa Indonesia
disebut dengan barang
Bersifat immaterial. Contoh: obyek hak cipta tidak harus sama
dengan hasil ciptaannya
PEMBEDAAN HUKUM
Dalam sudut sumber formil
hukum dibedakan menjadi:
Hukum perundangan
Hukum kebiasaan
Hukum yuripudensi
Hukum traktat
Hukum ilmiah
Berdasarkan kepentingan yang
diatur, hukum diklasifikasikan
sebagai:
Hukum publik mengatur
kepentingan publik
Hukum perdata (privat)
mengatur kepentingan khusus
atau pribadi

Dikarenakan aspek hukum yang sangat luas, maka dalam kegiatan
ilmiah hukum diklasifikasikan.
PEMBIDANGAN TATA HUKUM

Hukum Tata Negara
Materiil
Formil
Hukum Administrasi Negara
Materiil
Formil



Hukum Perdata (formil)
Hukum Perdata (materiil)
Hukumpribadi
Hukum harta kekayaan (benda, perikatan dan
hak materiil)
Hukum keluarga
Hukum waris
Hukum Pidana
Materiil
formil

Pembahasan sendi-sendi tata hukum akan didasarkan pada pembidangan hukum publik dan
hukum perdata, serta hukum materiil dan hukum formil. Hukum Tata Negara terdiri dari :

HUKUM TATA NEGARA DAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Perbedaan antara hukum tata negara dengan hukum administrasi
negara dilandasi perbedaan antara negara dalam keadaan tidak
bergerak dengan negara dalam keadaan bergerak.
Hukum Tata Negara berhubungan dengan negara dalam keadaan
tidak bergerak dan mengungkap perihal status dan peran dalam
negara. Sedangkan, hukum Administrasi Negara berhubungan
dengan negara dalam keadaan bergerak.
Keduanya tercakup dalam Hukum Negara (Hukum Publik tanpa
Hukum Pidana atau Hukum Publik dalam arti sempit)
HUKUM TATA NEGARA DAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Inti permasalahan dari Hukum Tata Negara
Status kedudukan yang menjadi subjek dalam hukum negara
Peranan, yang dibedakan antara:
Kewajiban dan hak
Peranan wantah di luar tetapi tidak bertentangan dengan hukum
Ruang Lingkup Tata Negara
Status atau pribadi
Ajaran tentang ruang lingkup laku
Hukum Administrasi Negara menurut Van Vollenhoven adalah kumpulan ketentuan yang
wajib ditaati oleh lembaga kekuasaan/pejabat atasan maupun bawahan setiap kali
melaksanakan peranan berlandaskan Hukum Tata Negara
Kegitan Administrasi Negra
Kegiatan atau proses menciptakan peraturan yang berupa ketentuan abstrak yang berlaku
umum
Kegiatan atau proses untuk menciptakan keputusan yang berupa ketentuan kongkrit untuk
subjek khusus

HUKUM PERDATA
Hukum perdata (materiil) sebagai sistem kaidah hukum yang
mengatur hubungan antar pribadi di dalam memenuhi kepetingan-
kepentingannya.
Struktur Hukum Perdata
Hukum Pribadi hukum tentang pribadi kodrati, hak dan kewajiban,
hubungan hukum dan seterusnya
Hukum Harta Kekayaan hukum yang mengatur kebutuhan kebendaan
Hukum Keluarga hukum yang mengatur hubungan kekeluargaan
Hukum Waris hukum yang mengatur masalah kewarisan
HUKUM PIDANA
Hukum Pidana mempunyai ruang lingkup yaitu peristiwa pidana. Suatu
peristiwa pidana memiliki unsur-unsur:
Sikap manusia
Masuk dalam kaidah hukum pidana
Melanggar hukum
Didasarkan pada kesalahan

PERUMUSAN DELIK
Peristiwa Pidana tersebut identik dengan pengertian delik (penyelewengan).
Dari sudut perumusannya, dapat dibedakan perumusan formil dan materiil.
Pada delik dengan perumusan formil, tekanan diletkan pada perumusan sikap.
Sedangkan, untuk perumusan materiil maka yng ditekankan adalah akibat dari
sikap tersebut.
Dari sudut unsur perumusan delik, dapat dibedakan antara:
Delik dasar yang merumuskan suatu sikap yang dilarang
Delik yang meringankan yang merumuskan sikap yang karena keadaan mendapat
keringanan hukuman
Delik yang memberatkan yang merumuskan sikap yang karena keadaan diancam lebih
berat
HUKUM ACARA
Dalam hukum Indonesia, hukum Acara disebut Hukum Ajektif.
Dalam Hukum Ajektif dikenal beberapa asas, diantaranya:
Asas yang berhubungan dengan peranan
Asas yang berhubungan dengan keadaan peradilan dan hakim
HUKUM INTERNASIONAL
Perbedaan antara Hukum Nasional dan Internasional bukan
berdasarkan sumber hukumnya. Hukum Internasional
adalah hukum yang berhubungan dengan peristiwa
Internasional.
Contoh: dalam bidang Hukum Perdata (Hukum Harta
Kekayaan), WNI memiliki rumah di Singapura dan utang
piutang antar negara.
PENDEKATAN INTERDISIPLINER
PENGELOMPOKAN DISIPLIN ILMU
Pengelompokan ini tidak bersifat mutlak. Disiplin ilmu ini kemudian
dikelompokan dalam:
Disiplin nomotetis
Mencakup sistem ajaran yang bertujuan untuk menemukan generalisasi baik didasarkan
pada metode kualitatif ataupun kuantitatif. Contoh: sosiologi, ekonomi, antropologi
Disiplin Sejarah
Disiplin ilmu yang bertujuan untuk merekonstitusi dan mengintrepretasi semua manifestasi
kehidupan sosial yang belum terungkap (Jean Piaget; 1970)
Disiplin Hukum
Disiplin Filsafat
Disiplin ini bertujuan untuk menguraikan dan merangkum nilai nilai kehidupan manusia
dalam berbagai konteks.