Anda di halaman 1dari 12

Modul THT-KL

OSCE Comprehensive Reinforcer 2007



SINUS PARANASAL
Ada empat pasang sinus paranasal: sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid, dan sinus
sphenoid kanan dan kiri.
Sinus paransal merupakan pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga
di dalam tulang.
Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sphenoid dan sinus
frontal. Sinua maksila dan etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal
berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun.
Pneumatisasi sinus sphenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian
postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal
pada usia antara 15-18 tahun.
SINUS MAKSILA
Merupakan sinus paranasal terbesar, berbenuk piramid
Saat lahir volumenya 6-8 ml, sinus berkembang dengan cepat dan akhirnya mencapai
ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa
Dinding anterior : permukaan fasial os maksila (fosa kanina)
Dinding posterior : permukaan infra temporal maksila
Dinding medial : dinding lateral rongga hidung
Dinding superior : dasar orbita
Dinding inferior : prosesus alveolaris dan palatum
Ostiumnya berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke hiatus
semilunaris melalui infundibulum etmoid.
Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah:
1) Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu P1 dan
P2, M1 dan M2, kadang-kadang juga C dan gigi M3, bahkan akar-akar gigi
tersebut dapat menojol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke
atas menyebabkan sinusitis.
2) Sinusitis maksila dapat menyebabkan komplikasi orbita
3) Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drenase
hanya tergantung dari gerak silia, lagipula drainase harus melalui infundibulum
yang sempit. Infundibulum adalah bagian depan sinus etmoid anterior dan
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi
drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.
SINUS FRONTAL
Sinus frontal terletak pada os frontal yang mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus,
berasal dari os resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid
Sesudah lahir, mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran
maksimal sebelum usia 20 tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris. Salah satu lebih besar daripada
satunya. Dipisahkan oleh sekat yang berada di garis tengah. Kurang lebih 15% orang
dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya
tidak berkembang.
Ukuran sinus frontal t: 2,8 cm, l: 2,4 cm, dalam : 2 cm.
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk tidak adanya
gambaran septum-septum dan lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen
menunjukkan adanya infeksi sinus.
Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relative tipis dari orbita dan fosa serebri
anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini.
Ostiumnya terletak di sinus frontal yang berhubungan dengan infundibulum
etmoid.
SINUS ETMOID
Merupakan sinus yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap paling penting
karena dapat netupakan focus infeksi bagi sinus-sinus lainnya
Pada orang dewasa, bentuknya seperti pyramid dengan dasarnya di bagian posterior.
Ukuran tebal: 4-5 cm, t: 2,4 cm, l: 0,5 cm (anterior), 1,5 cm (posterior)
Sinus etmoid berongga-rongga terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon,
yang terdapat di dalam masa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara knka
media dan dinding media orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi.
Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara ke meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
superior.
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus
frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar bula
etmoid.
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum,
tempat bermuaranya sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal
sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum sinusitis maksila.
Batas sinus etmoid:
Atap sinus : fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa
Dinding lateral : lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus
etmoid dengan rongga orbita
Bagian belakang sinus etmoid posterior : sinus sphenoid
SINUS SFENOID
Terletak dalam os sphenoid di belakang sinus etmoid posterior
Sinusnya dibagi 2 oleh sekat yang disebut septum intersfenoid
Ukuran t: 2 cm, l: 1,7 cm, dalam 2-3 cm. Volumenya 5-7,5 ml.
Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sphenoid akan
menjadi sangat berdekatan
Batas-batasnya adalah:
Superior : fosa serebri media dan hipofisis
Inferior : atap nasofaring
Lateral : sinus kavernosus dan a.karotis interna
Posterior : fosa serebri media di daerah pons

KOM (KOMPLEKS OSTIO-MEATAL)
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu meatus medius, ada muara-muara saluran
dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit, dan
dinamakan kompleks ostio-meatal, terdiri dari:
Infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus,
resesus frontalis,
bula etmoid,
bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan ostiumnya
ostium sinus maksila
SISTEM MUKOSILIAR
seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan palut
lendir di atasnya.
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

Di dalam sinus, silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan lendir menuju ostium
alamiahnya mengikuti alur-alur yang sudah tentu polanya.
Pada dinding lateral hidung terdapat 2 aliran transport mukosiliar dari sinus. Lendir
yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid
dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba Eustachius. Lendir yang berasal dari
kelompok sinus posterior bergabung di resesus sfenoetmoidalis dialirkan ke
nasofaring di postero-superior muara tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis didapati
secret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum tentu ada secret di rongga hidung.
FUNGSI SINUS PARANASAL
Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)
Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban
udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih 1/1000
volume sinus pada tiap kali bernapas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak memiliki vaskularisasi
dan kelenjar sebanyak mukosa hidung.
Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya sinus-
sinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang dilindungi.
Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan
tetapi udara dalam sinus bila diganti dengan tulang hanya memberikan pertambahan
berat sebesar 1% dari berat kepala teori ini dianggap tidak bermakna.
Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai resonansi suara dan mempengaruhi kualitas suara.
Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan
sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.
Sebagai peredam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila tidak ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya
pada waktu bersin dan membuang ingus.
Membantu produksi mucus
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

Mucus yang dihasilkan jumlahnya < dibandingkan jumlah mucus rongga hidung, namun
efektif membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mucus ini
keluar melalui meatus medius, tempat yang paling strategis.


PEMERIKSAAN SINUS PARANASAL
INSPEKSI
Perhatikan pembengkakan pada muka
Pembengkakan di pipi sampai kelopak mata bawah yang berwarna kemerahan
mungkin menunjukkan sinusitis maksila akut
Pembengkakan di kelopak mata atas mungkin menunjukkan sinusitis frontal
akut
Sinusitis etmoid akut jarang menyebabkan pembengkakan di luar, kecuali bila
telah terbentuk abses
PALPASI
Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk di gigi sinusitis maksila
Nyeri tekan pada dasar sinus frontal (medial atap orbita) sinusitis frontal
Nyeri tekan daerah kantus medius sinus etmoid.
TRANSILUMINASI
Hanya dapat memeriksa sinus maksila dan sinus frontal
bila pemeriksaan radiologic tidak tersedia
bila tampak daerah gelap infraorbita antrum terisi pus atau mukosa antrum
menebal atau terdapat neoplasma dalam antrum/
bila terdapat kista yang besar di dalam sinus maksila, akan tampak terang.
Sedangkan pada hasil rontgen perselubungan berbatas tegas
transiluminasi sinus frontal hasilnya agak meragukan.
Gambaran terang sinus berkembang baik dan normal.
Gambaran gelap sinusitis/sinus yang tidak berkembang
PEMERIKSAAN RADIOLOGIK
Posisi rutin yang dipakai posisi Waters, P-A, dan lateral.
Posisi waters melihat kelainan di sinus maksila, frontal, etmoid
Posisi postero-anterior melihat sinus frontal
Posisi lateral melihat sinus frontal, sphenoid, etmoid
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

CT scan lebih akurat
Pemeriksaan CT scan yang rutin dipakai koronal dan aksial.
Indikasi CT scan hidung dan sinus paranasal sinusitis kronik, trauma
(fraktur frontonasal), dan tumor.
SINOSKOPI
Merupakan pemeriksaan ke dalam sinus maksila menggunakan endoskop.
Endoskop dimasukkan melalui lubang yang dibuat di meatus inferior atau di
fosa kanina.
Dengan sinoskopi dapat terlihat keadaan di dalam sinus secret, polip,
jaringan granulasi, massa tumor atau kista, mukosa, ostiumnya terbuka.

SINUSITIS
Definisi
Merupakan inflamasi mukosa sinus paranasal.
Yang paling sering terkena sinus etmoid dan maksila, sinus frontal jarang, sinus
sphenoid lebih jarang lagi
Etiologi Dan Faktor Predisposisi
Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis rinosinusitis
Penyebab utama : selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang
selanjutnya dapat diikuti infeksi bakteri
ISPA akibat virus, bermacam rhinitis terutama rhinitis alergi, rhinitis hormonal pada
wanita hamil, polip hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi
konka, sumbatan KOM, infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan imunologik, diskinesia
silia seperti pada sindroma Kartagener, dan di luar negeri adalah penyakit fibrosis
kistik
Pada anak, hipertrofi adenoid factor penting penyebab sinusitis
Factor lain: lingkungan berpolusi, udara dingin dan kering, serta kebiasaan merokok.
Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia.

Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar di dalam KOM. Mucus juga mengandung substansi antimicrobial dan zat-zat yang
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama
pernafasan.
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan. Bila terjadi edema mukosa
yang berhadapan akan saling bertemu silia tidak dapat bergerak ostium tersumbat
tekanan negatif dalam rongga sinus transudasi, mula-mula seros (kondisi rinosinusitis non-
bacterial dan sembuh dalam beberapa hari tanpa pengonbatan)
Kondisi menetap secret dalam sinus sebagai media yang baik untuk tumbuhnya dan
multiplikasi bakteri secret purulen (kondisi rinosinusitis akut bacterial dan memerlukan
antibiotic)
Jika terapi tidak berhasil inflamasi berlanjut hipoksia bakteri anaerob berkembang
mukosa makin membengkak terjadi terus: mukosa hipertrofi, polipoid atau
pembentukan polip dan kista

Klasifikasi Dan Mikrobiologi
Consensus internasional tahun 1995 menbagi rinosinusitis:
Akut 8 minggu
Kronik >8 minggu
Consensus tahun 2004:
Akut 4 minggu
Sub akut 4 minggu-3 bulan
Kronik >3 bulan
Menurut berbagai penelitian, berbagai bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis
akut:
Streptococcus pneumonia (30-50%)
H. Influenza (20-40%)
Moraxella Catarrhalis (4%), pada anak ditemukan sebanyak 20%

SINUSITIS DENTOGEN
Definisi
Sinusitis akibat penyebaran infeksi yang berasal dari gigi.
Penyebab penting sinusitis kronik
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

Dasar sinus maxilla prosesus alveolaris tempat akar gigi rahang atas sehingga
rongga sinus maxilla hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi, bahkan
kadang tanpa tulang pembatas
Infeksi gigi rahang atas seperti infeksi apical akar gigi atau inflamasi jaringan
periodontal mudah menyebar langsung ke sinus atau melalui pembuluh darah dan
limfe
Harus curiga bila terdapat sinusitis maksila kronik satu sisi, ingus purulen, napas bau
busuk.
Untuk mengobai sinusitis gigi yang terinfeksi harus dirawat/dicabut dan pemberian
antibiotic yang mencakup bakteri anaerob. Seringkali juga perlu irigasi sinus maksila.
Gejala
Keluhan utama hisung tersembat disertai nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus
purulen, yang sering kali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai gejala
demam/malaise.
Keluhan nyeri atau tekanan di daerah sinus yang terkena cirri khas sinusitis akut,
serta kadang juga referred pain.
Nyeri di pipi. Kadang nyeri alih di gigi dan telinga sinusitis maksila.
Nyeri di antara atau di belakang bla mata sinusitis etmoid.
Nyeri di dahi atau seluruh kepala sinusitis frontal.
Nyeri di vertex, oksipital, belakangbola mata dan daerah mastoid sinusitis
sphenoid
Gejala lain: sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post nasal drip (menyebabkan
batuk dan sesak pada anak)
Keluhan sinusitis kronik tidak khas sulit didiagnosa.
Kadang hanya 1 atau 2 dari gejala-gejala di bawah ini:
- Sakit kepala kronik
- Post nasal drip
- Batuk kronik
- Gangguan tenggorok
- Gangguan telinga akibat gangguan kronik muara tuba Eustachius
- Gangguan parus eperti bronchitis (sino-bronkitis)
- Bronkiektasi
- Serangan asma yang meningkat dan sulit diobati penting
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

- Pada anak gastroenteritis
Diagnosis
Ditegakkan berdasar: anamnesis, PF, pemriksaan penunjang
PF : * rinoskopi anterior dan posterior
* naso endoskopi (lebih tepat)
tanda khas: pus di meatus medius (pada sinusitis maksila, etmoid
anterior, dan frontal) atau meatus inferior (pada sinusitis etmoid
posterior dan sphenoid)
pada rinosinusitis akut mukosa edem dan hiperemi. Pada anak
sering pembengakakan dan kemerahan pada kantus medius.
Transiluminasi sinua yang sakit menjadi suram / gelap. Jarang digunakan terbatas
keguanaannya.
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos / CT scan. CT scan gold standar (namun karena mahal hanya
sebagai pemeriksaan penunjang pada sinusitis kronik yang tidak membaik
dengan pengobatan atau pra-operasi sebagai pansuan operator untukoperasi
sinus)
Kelainan akan terlihat perselubungan, air fluid level atau penebalan mukosa.
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes resistensi mengambil secret dari meatus
medius/superior. Lebih baik lagi dari pungsi sinus maksila.
Sinuskopi pungsi menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus
inferior. Selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.
Terapi
Tujuan:
1) Mempercepat penyembuhan
2) Mencegah komplikasi
3) Mencegah menjadi kronik
Prinsip: membuka sumbatan di KOM drenase dan ventilasi sinus pulih secara
alami
Medikamentosa:
a. Antibiotik golongan penicillin seperti amoksisilin. Kuman resisten
amoksisilin klavulanat atau sefalosporin generasi kedua. Diberikan 10-14 hari
meskipun gejalanya telah menghilang.
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

Sinusitis kronik antibiotic yang sesuai untuk kuman gram negatif anaerob.
b. Dekongestan oral dan topical
c. Analgetik
d. mukolitik
e. steroid oral/topical
f. bila ada alergi berat antihistamin generasi ke 2
g. imunoterapi dipertimbangkan pada kelainan alergi berat
Non-medikamentosa:
a. pencucian rongga hidung dengan NaCl atau pemanasan (diatermi),
b. irigasi sinus maksila (Proetz displacement therapy).
c. Operatif
BSEF/FESS Bedah Sinus Endoskopi Fungsional
Indikasi:
- Sinusitis kronik yang tidak membaik setelah pengobatan adekuat
- Sinusitis kronik disertai kista/kelainan ireversibel
- Polip ekstensif
- Komplikasi sinusitis
- Sinusitis jamur
Komplikasi
Komplikasi berat biasanya pada sinusitis akut atau kronis dengan eksaserbasi akut, berupa:
a. kelainan orbita
- Yang palin penting: sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila.
- Penyebaran melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum.
- Tanda: edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita, dan dapat
thrombosis sinus kavernosus.
b. kelainan intracranial
- dapat berupa: meningitis, abses ekstradural dan subdural, abses otak, thrombosis
sins kavernosus.
Kompikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronik:
a. osteomielitis dan abses subperiostal
- paling sering akibat sibusitis frontal
- biasanya ditemukan pada anak-anak
- pada osteomielitis maksila: dapat timbul fistula oroantral dan fistula pipi.
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

b. kelainan paru
- berupa: bronchitis kronik dan bronkiektasis)
- selain itu dapat timbul: asma bronchial yang sukar dihilangkan sebelum
sinusitisnya diembuhkan.

SINUSITIS JAMUR
- Jenis Aspergillus dan candida
- jarang ditemukan
- angka kejadian meningkat dengan dipakainya antibiotic, kortikosteroid, obat
imunosupresan, dan radioterapi
- kondisi predisposes: diabetes mellitus, neutropenia, AIDS dan perawatan lama di
RS.
- Perlu waspada sinusitis jamur jika: sinusitis unilateral, sulit disembuhkan dengan
antibiotic. Adanya kerusakan tulang dinding sinus, atau adanya membrane putih
keabu-abuan pada dinding antrum
Klasifikasi:
a. Sinusitis jamur invasive
1. Invasive akut fulminan
2. Invasive akut indolen
Pada jenis invasive akut invasi jamur ke jaringan dan vaskuler. Jika imunitas rendah
penyebaran sangat cepat merusak dinding sinus, jaringan orbita, sinus kavermosus.
Di kavum nasi, mukosa berwarna biru-kehitaman dan ada mukosa konka atau septum
nekrotik. Sering berakhir dengan kematian.

Sinusitis jamur invasive kronik bersifat kronik progfresif bisa sampai invasi ke orbita
atau intracranial, namun gambaran bentuknya tidak sehebat fulminan karena perjalanan
penyakitnya lebih lambat. Gejala seperti sinusitis bacterial tapi secret hidung kental
dengan bercak kehitaman yang dilihat dengan mikroskop merupakan koloni jamur.
b. Sinusitis jamur non-invasif (misetoma)
o Merupakan kumpulan jamur di rongga sinus tanpa invasi ke dalam mukosa dan tidak
mendestruksi tulang
o Sering mengenai sinus maksila
Modul THT-KL
OSCE Comprehensive Reinforcer 2007

o Gejala klinis: menyerupai sinusitis kronis berupa rinore purulen, post nasal drip, dan
napas bau.
o Kadang ada massa jamur dalam kavum nasi. Pada operasi bisa ditemukan materi
jamur berwarna cokelat kehitaman dan kotor dengan atau tanpa pus di dalam sinus.
Terapi
o Sinusitis jamur invasive pembedahan, debridement, anti jamur sistemik,
pengobatan penyakit dasar
Obat standar: amfoterisisn B, bisa ditambah rifampisin/flusitosin agar lebih efektif.
o Mietoma hanya perlu terapi bedah untuk membersihkan massa jamur, menjada
drenase dan ventilasi sinus. Tidak diperlukan antijamur sistemik.