Anda di halaman 1dari 26

Page | 1

KATA PENGANTAR


Puji Syukur kehadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudulTeropong Bintang
dengan baik dan tepat waktu. Laporan ini disusun guna untuk memenuhi syarat
mata kuliah PKL ( Praktek Kerja Lapangan ) yang telah penulis laksanakan.
Penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dosen pembimbing yang telah menemani PKL dan memberi bimbingan
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan lancar
dan baik.
2. Bayu Bangga yang telah mengantarkan dan menemani penulis ke tempat
tujuan.
3. Teman-teman yang memberikan dukungan dan inspirasi dalam
penyusunan laporan ini.
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan laporan ini. Akhirnya penulis berharap, semoga laporan ini dapat
bermanfaat.





Jember,28 September 2013


Penulis
Page | 2

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ............................................................................................... 1
DAFTAR ISI ............................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 3
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 4
1.3 Tujuan .................................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 14
2.1 Spesifikasi Teleskop ................................................................................... 14
2.2 Cara Kerja Teleskop Zeiss ......................................................................... 16
2.3 Evolusi Bintang .......................................................................................... 18
BAB IV PENUTUP ................................................................................................ 24
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 24
3.2 Saran .................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA






Page | 3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahwa berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3 yang
berbunyi Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Peran program studi dalam mencapai tujuan pendidikan nasional adalah
untuk membentuk mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selain kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas, Program studi
sebaiknya perlu mengembangkan aktivitas belajar di luar kelas seperti kegiatan
Praktik Kerja Lapangan (PKL) agar mahasiswa memiliki nilai tambah secara
keilmuan.
Praktik Kerja Lapangan adalah suatu proses belajar mengajar yang
merupakan sarana pengenalan lapangan kerja dan informasi bagi peserta didik
sehingga dapat melihat, mengetahui, menerima, dan menyerap teknologi
kesehatan yang ada simasyarakat.
Disamping dunia usaha, Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) dapat
memberikan keuntungan pada pelaksanaannya itu sendiri yaitu pada fakultas,
karena keahlian yang tidak diajarkan di program studi bisa didapat didunia usaha ,
sehingga dengan adanya Praktek Kerja Lapangan (PKL) dapat meningkatkan
mutu yang dapat diarahkan untuk mengembangkan suatu sistem yang mantap
Page | 4

antara dunia pendidikan dan dunia usaha.Tujuan PKL ini ke Bosscha untuk
menambah wawasan setelah pembelajaran di kelas.
Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di Bosscha juga sebagai kegiatan
mahasiswa untuk mencari pengalaman yang tercermin dalam pendidikan nasional
yang berdasarkan Pancasila yang bertujuan meningkatkan kecerdasan, kreativitas,
dan keterampilan agar dapat menumbuhkan manusia yang dapat membangun
dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas Pembangunan bangsa dan negara
dalam pencapaian perekonomian meningkat dan kehidupan yang makmur. Oleh
sebab itu maka praktik kerja lapangan perlu dilaksanakan oleh program studi
setiap tahunnya.

1.2 Rumusan Masalah
a) Bagaimana spesifikasi teleskop Zeiss?
b) Bagaimana cara kerja teleskop Zeiss?
c) Bagaimana evolusi bintang itu terjadi?

1.3 Tujuan
a) untuk mengetahui spesifikasi teleskop Zeiss
b) Untuk mengetahui cara kerja teleskop Zeiss
c) Untuk mengetahui terjadinya evolusi bintang




Page | 5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Observatorium Bosscha juga mempunyai peran yang unik sebagai satu-
satunya observatorium besar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh
ini. Peran ini diterima dengan penuh tanggung-jawab: sebagai penegak ilmu
astronomi di Indonesia.
Dalam program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan
kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit,
masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya.
Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan
hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga
merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains. Dalam
terminologi ekonomi modern, Observatorium Bosscha berperan sebagai public
good.
Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar
Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha
dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya,
tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu
Objek Vital nasional yang harus diamankan.
(Bosscha,2011:http://bosscha.itb.ac.id/in/tentang-bosscha.html)
Teleskop ganda Zeiss 60 cm ini berada pada satu-satunya gedung kubah di
Observatorium Bosscha yang telah menjadi landmark Bandung utara selama lebih
dari 85 tahun. Bangunan teropong ini dirancang oleh arsitek Bandung ternama,
yaitu K. C. P. Wolf Schoemacher, yang juga guru Presiden Soekarno. Teleskop
dan gedung kubah ini merupakan sumbangan dari K. A. R. Bosscha yang secara
resmi diserahkan kepada Perhimpunan Astronomi Hindia-Belanda pada bulan
Juni 1928. Kubah gedung memiliki bobot 56 ton dengan diameter 14,5 m dan
terbuat dari baja setebal 2 mm.
Page | 6

Saat ini, Teropong Ganda Zeiss 60cm ini merupakan teleskop terbesar dan
tertua di Observatorium Bosscha. Tahun 2008, teleskop ini genap berusia 80
tahun. Sampai sejauh ini, teleskop ini masih berfungsi dengan baik berkat
perawatan yang konsisten. Sistem detektor fotografi pernah digunakan di teleskop
ini sampai dengan tahun 1980-an. Sejak awal 1990-an, teknologi detektor dijital
(menggunakan CCD astronomi) mulai digunakan di Observatorium Bosscha,
untuk meningkatkan tingkat sensitifitas pengamatan. Selain itu, instrumentasi
teleskop juga terus dimodernisasi.
Teleskop ini merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri
dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama
adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, dan teleskop pencari
berdiameter 40 cm. Medan pandang teleskop pencari adalah 1,5 derajat atau
sekitar 3 kali diameter citra bulan purnama. Medan pandang langit yang luas ini
memudahkan untuk mengidentifikasi bintang yang hendak diamati, dibandingkan
dengan citra bintang di langit melalui peta bintang. Teleskop ini dapat mengamati
bintang-bintang yang jauh lebih lemah, kurang lebih 100000 kali lebih lemah dari
bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang.
Nama Teleskop : Zeiss
Diameter lensa : 60 cm
Panjang Fokus : 1080 cm
Fokus Rasio : f/18
Skala bayangan : 18,4"/mm
(Bosscha,2011:http://bosscha.itb.ac.id/in/refraktor-ganda-zeiss-mainmenu-
108.html)
Cara Kerja Teleskop

o Refraktor
Page | 7

Mempergunakan lensa sebagai obyektifnya. Lensa ini, yang letaknya di bagian
ujung atas dari tabung teleskop, mengumpulkan dan membiaskan cahaya dan
kemudian cahaya tadi berjalan menuju ke titik api (fokus) di bagian bawah dari
tabung teleskop.
Cahaya memasuki tabung dari sebelah kiri kemudian dibiaskan oleh lensa
obyektif. Cahaya yang sudah dibiaskan tadi kemudian berjalan menuju fokus.

o Reflektor
Tidak mempergunakan lensa sebagai obyektifnya tetapi mempergunakan cermin.
Cara kerjanya adalah sebagai berikut: Satu cermin cekung atau sering disebut
cermin primer diletakkan di bagian bawah tabung teleskop, cermin primer ini
memantulkan cahaya yang memasuki tabung ke cermin kedua yang datar (cemin
sekunder) yang letaknya di bagaian atas tabung. Cermin kedua ini kemudian
mengarahkan cahaya tadi ke fokus yang arahnya di sebelah sisi tabung.
o Katadioptrik
Perpaduan dari pemantul dan pembias, meskipun tidak persis demikian.
Katadioptrik mempergunakan lensa korektor dan dua cermin. Lensa korektor
terletak pada bagian depan tabung, dan cermin primer yang terletak pada bagian
belakang tabung. Sedangkan cermin sekundernya diletakkan di tengah lensa
korektor.
Cara kerjanya, cahaya memasuki tabung melewati lensa korektor menuju ke
cermin primer (cermin cekung). Dari cermin primer cahaya dipantulkan ke cermin
cembung sekunder yang terletak di tengah lensa korektor. Cermin cembung
kemudian memantulkan cahaya tadi ke fokus yang letaknya dibagian belakang
tabung.

gambar
Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
Page | 8

(Anonim,2009:http://strange-13.blogspot.com/2009/02/laporan-
study-tour-observatorium.html)

Evolusi Bintang
Bintang dilahirkan,berkembang,dan pada akhirnya padam,tak bersinar
lagi.Proses ini disebut evolusi bintang.Dibandingkan dengan umur
manusia,bahkan umur seluruh peradaban manusia,evolusi bintang umumnya
merupakan proses yang sangat lama.Proses ini berlangsung dalam waktu jutaan
hingga milyaran tahun.(Sutantyo,Winardi.2010:92)
Evolusi bintang adalah perubahan perlahan-lahan sejak suatu bintang
terjadi sampai menjadi bintang yang stabil, kemudian memasuki deret utama
dalam waktu yang lama, kemudian menjadi bintang raksasa merah, lalu
mengalami keadaan degenerasi, seterusnya melontarkan sebagaian masanya
bagian luar dan membentuk masa kecil dengan kerapatan yang besar. Sampai
menjadi bintang neutron dan black hole melalui beberapa tahapan.
(Heru,2011:http://herugio1.blogspot.com/2011/03/evolusi-bintang.html)

Kelahiran Bintang
Bintang lahir dari sekumpulan awan gas dan debu yang kita sebut nebula.
Ukuran awan ini sangat besar (diameternya mencapai puluhan SA) tetapi
kerapatannya sangat rendah. Awal dari pembentukan bintang dimulai ketika ada
Page | 9

gangguan gravitasi (misalnya, ada bintang meledak/supernova), maka partikel-
partikel dalam nebula tersebut akan bergerak merapat dan memulai interaksi
gravitasi di antara mereka setelah sebelumnya tetap dalam keadaan setimbang.
Akibatnya, partikel saling bertumbukan dan temperatur naik.

Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)
Semakin banyak partikel yang merapat berarti semakin besar gaya gravitasinya
dan semakin banyak lagi partikel yang ditarik. Pengerutan awan ini terus
berlangsung hingga bagian intinya semakin panas. Panas tersebut dapat
mendorong awan di sekitarnya. Hal ini memicu terjadinya proses pembentukan
bintang di sekitarnya. Demikian seterusnya hingga terbentuk banyak bintang
dalam sebuah awan besar. Maka tidaklah heran jika kita mengamati sekelompok
bintang yang lahir pada waktu yang berdekatan di lokasi yang sama. Kelompok
bintang inilah yang biasa kita sebut dengan gugus.
Akibat pengerutan oleh gravitasi, temperatur dan tekanan di dalam awan
naik sehingga pengerutan melambat. Di tahap ini, bola gas yang terbentuk disebut
Page | 10

dengan proto bintang. Apabila massanya kurang dari 0,1 massa Matahari, maka
proses pengerutan akan terus terjadi hingga tekanan dari pusat bisa
mengimbanginya. Pada saat tercapai kesetimbangan, temperatur di bagian pusat
awan itu tidak cukup panas untuk dimulainya proses pembakaran hidrogen.
Maksud dari pembakaran di sini adalah reaksi fusi atom hidrogen menjadi helium.
Awan ini pun gagal menjadi bintang dan disebut dengan katai gelap.
Jika massanya lebih dari 0,1 massa Matahari, bagian pusat proto bintang
memiliki temperatur yang cukup untuk memulai reaksi fusi saat dirinya
setimbang. Reaksi ini akan terus terjadi hingga helium yang sudah terbentuk
mencapai 10 20 % massa bintang. Setelah itu pembakaran akan terhenti, tekanan
dari pusat menurun, dan bagian pusat ini runtuh dengan cepat. Akibatnya
temperatur inti naik dan bagian luar bintang mengembang. Saat ini, bintang
menjadi raksasa dan tahap pembakaran helium menjadi karbon pun dimulai. Di
lapisan berikutnya, berlangsung pembakaran hidrogen menjadi helium. Setelah ini
kembali akan kita lihat bahwa evolusi bintang sangat bergantung pada massa.
Untuk bintang bermassa kecil (0,1 0,5 massa Matahari), proses
pembakaran hidrogen dan helium akan terus berlangsung sampai akhirnya bintang
itu menjadi katai putih. Sedangkan pada bintang bermassa 0,5 6 massa Matahari,
pembakaran karbon dimulai setelah helium di inti bintang habis. Proses ini
tidaklah stabil, akibatnya bintang berdenyut. Bagian luar bintang mengembang
dan mengerut secara periodik sebelum akhirnya terlontar membentuk planetary
nebula. Bagian bintang yang tersisa akan mengerut dan membentuk bintang katai
putih.
Berikutnya adalah bintang bermassa besar (lebih dari 6 massa Matahari).
Di bintang ini pembakaran karbon berlanjut hingga terbentuk neon. Lalu neon pun
mengalami fusi membentuk oksigen. Begitu seterusnya hingga secara berturut-
turut terbentuk silikon, nikel, dan terakhir besi. Kita bisa lihat di diagram
penampang bintang di bawah ini, bahwa reaksi fusi sebelumnya tetap terjadi di
Page | 11

luar lapisan inti. Sehingga ada banyak lapisan reaksi fusi yang terbentuk ketika di
bagian pusat bintang sedang terbentuk besi.

Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)
EvolusiLanjut
Setelah reaksi yang membentuk besi terhenti, tidak ada proses pembakaran
selanjutnya. Akibatnya, tekanan menurun dan bagian inti bintang memampat.
Karena begitu padatnya, jarak antara neutroon dan elektron pun mengecil
sehingga elektron bergabung dengan neutron dan proton. Peristiwa ini
menghasilkan tekanan yang sangat besar dan mengakibatkan bagian luar bintang
dilontarkan dengan cepat. Inilah yang disebut dengan supernova.
Apa yang terjadi setelah supernova bergantung pada massa bagian inti
bintang yang tadi terbentuk. Apabila di bawah 5 massa Matahari (batas massa
Schwarzchild), supernova menyisakan bintang neutron. Disebut demikian karena
partikel dalam bintang ini hanya neutron. Bintang neutron biasanya terdeteksi
sebagai pulsar (pulsating radio source, sumber gelombang radio yang berputar).
Pulsar adalah bintang yang berputar dengan sangat cepat, periodenya hanya dalam
Page | 12

orde detik. Putarannya itulah yang menyebabkan pulsasi pancaran gelombang
radionya.

Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)
Di atas 5 massa Matahari, gaya gravitasi di inti bintang begitu besarnya sehingga
dirinya runtuh dan kecepatan lepas partikelnya melebihi kecepatan cahaya. Objek
seperti ini disebut dengan lubang hitam. Tidak ada objek yang sanggup lepas dari
pengaruh gravitasinya, termasuk cahaya sekalipun. Makanya benda ini disebut
lubang hitam, karena tidak memancarkan gelombang elektromagnetik. Satu-
satunya cara untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam adalah dari interaksi
gravitasinya dengan benda-benda di sekitarnya. Pusat galaksi kita adalah salah
satu lokasi ditemukannya lubang hitam. Kesimpulan ini diambil karena bintang-
bintang di pusat galaksi bergerak dengan sangat cepat, dan kecepatannya itu
hanya bisa ditimbulkan oleh gaya gravitasi yang sangat kuat, yaitu oleh sebuah
lubang hitam. (Anonim,2011:http://duniaastronomi.com/2011/03/evolusi-
bintang/)



Page | 13



Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember
Laporan Praktek Kuliah Lapangan
Tahun 2013


1. Judul : Teleskop Zeis Bosscha
2. Nama : Hendrasti Kartika Putri
NIM : 110210102078
Jurusan/Prodi : FKIP/ Pend. Fisika
3. Nama Objek Kunjung : Bosscha
4. Tanggal Pelaksanaan : 2- 6 September 2013






Jember, 28 September 2013
Dosen Pembimbing Penyusun


Wahyu Bachtiar,S.pd,M.pd Hendrasti Kartika Putri
NIP.198901192012121001 NIM. 110210102078

Page | 14

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 SPESIFIKASI TELESKOP
Observatorium Bosscha adalah sebuah Lembaga Penelitian dengan
program-program spesifik. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung,
obervatorium ini merupakan pusat penelitian dan pengembangan ilmu astronomi
di Indonesia. Sebagai bagian dari Fakultas MIPA - ITB, Observatorium Bosscha
memberikan layanan bagi pendidikan sarjana dan pascasarjana di ITB, khususnya
bagi Program Studi Astronomi, FMIPA - ITB. Penelitian yang bersifat
multidisiplin juga dilakukan di lembaga ini, misalnya di bidang optika, teknik
instrumentasi dan kontrol, pengolahan data digital, dan lain-lain. Berdiri tahun
1923, Observatorium Bosscha bukan hanya observatorium tertua di Indonesia,
tapi juga masih satu-satunya obervatorium besar di Indonesia.
Observatorium Bosscha adalah lembaga penelitian astronomi moderen
yang pertama di Indonesia. Observatorium ini dikelola oleh Institut Teknologi
Bandung dan mengemban tugas sebagai fasilitator dari penelitian dan
pengembangan astronomi di Indonesia, mendukung pendidikan sarjana dan
pascasarjana astronomi di ITB, serta memiliki kegiatan pengabdian pada
masyarakat.
Dalam terminologi ekonomi modern, Observatorium Bosscha berperan
sebagai public good.
Tahun 2004, Observatorium Bosscha dinyatakan sebagai Benda Cagar
Budaya oleh Pemerintah. Karena itu keberadaan Observatorium Bosscha
dilindungi oleh UU Nomor 2/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Selanjutnya,
tahun 2008, Pemerintah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu
Objek Vital nasional yang harus diamankan.
Page | 15

Teleskop ganda Zeiss 60 cm ini berada pada satu-satunya gedung kubah di
Observatorium Bosscha yang telah menjadi landmark Bandung utara selama lebih
dari 85 tahun. Bangunan teropong ini dirancang oleh arsitek Bandung ternama,
yaitu K. C. P. Wolf Schoemacher, yang juga guru Presiden Soekarno. Teleskop
dan gedung kubah ini merupakan sumbangan dari K. A. R. Bosscha yang secara
resmi diserahkan kepada Perhimpunan Astronomi Hindia-Belanda pada bulan
Juni 1928. Kubah gedung memiliki bobot 56 ton dengan diameter 14,5 m dan
terbuat dari baja setebal 2 mm.
Saat ini, Teropong Ganda Zeiss 60cm ini merupakan teleskop terbesar dan
tertua di Observatorium Bosscha. Tahun 2008, teleskop ini genap berusia 80
tahun. Sampai sejauh ini, teleskop ini masih berfungsi dengan baik berkat
perawatan yang konsisten. Sistem detektor fotografi pernah digunakan di teleskop
ini sampai dengan tahun 1980-an. Sejak awal 1990-an, teknologi detektor dijital
(menggunakan CCD astronomi) mulai digunakan di Observatorium Bosscha,
untuk meningkatkan tingkat sensitifitas pengamatan. Selain itu, instrumentasi
teleskop juga terus dimodernisasi.
Teleskop ini merupakan jenis refraktor (menggunakan lensa) dan terdiri
dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter teleskop utama
adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, dan teleskop pencari
berdiameter 40 cm. Medan pandang teleskop pencari adalah 1,5 derajat atau
sekitar 3 kali diameter citra bulan purnama. Medan pandang langit yang luas ini
memudahkan untuk mengidentifikasi bintang yang hendak diamati, dibandingkan
dengan citra bintang di langit melalui peta bintang. Teleskop ini dapat mengamati
bintang-bintang yang jauh lebih lemah, kurang lebih 100000 kali lebih lemah dari
bintang yang dapat dilihat oleh mata telanjang.
Instrumen utama ini telah digunakan untuk berbagai penelitian astronomi,
antara lain untuk pengamatan astrometri, yaitu untuk memperoleh informasi posisi
benda langit secara akurat dalam orde sepersepuluh detik busur, khususnya untuk
memperoleh orbit bintang ganda visual. Hingga saat ini terdapat koleksi sekitar
Page | 16

10000 data pengamatan bintang ganda visual yang diperoleh dengan
menggunakan teleskop ini. Selain itu, teleskop ini juga digunakan untuk
pengamatan gerak diri bintang dalam gugus bintang. Teleskop ini juga digunakan
untuk pengukuran paralak bintang guna penentuan jarak bintang. Pencitraan
dengan CCD juga digunakan untuk mengamati komet dan planet-planet, misalnya
Mars, Jupiter, dan Saturnus. Dengan menggunakan spektrograf BCS (Bosscha
Compact Spectrograph), teleskop ini secara kontinu melakukan pengamatan
spektrum bintang-bintang Be.
Nama Teleskop : Zeiss
Diameter lensa : 60 cm
Panjang Fokus : 1080 cm
Fokus Rasio : f/18
Skala bayangan : 18,4"/mm


3.2 CARA KERJA TELESKOP

o Refraktor
Mempergunakan lensa sebagai obyektifnya. Lensa ini, yang letaknya di bagian
ujung atas dari tabung teleskop, mengumpulkan dan membiaskan cahaya dan
kemudian cahaya tadi berjalan menuju ke titik api (fokus) di bagian bawah dari
tabung teleskop.
Cahaya memasuki tabung dari sebelah kiri kemudian dibiaskan oleh lensa
obyektif. Cahaya yang sudah dibiaskan tadi kemudian berjalan menuju fokus.

o Reflektor
Tidak mempergunakan lensa sebagai obyektifnya tetapi mempergunakan cermin.
Page | 17

Cara kerjanya adalah sebagai berikut: Satu cermin cekung atau sering disebut
cermin primer diletakkan di bagian bawah tabung teleskop, cermin primer ini
memantulkan cahaya yang memasuki tabung ke cermin kedua yang datar (cemin
sekunder) yang letaknya di bagaian atas tabung. Cermin kedua ini kemudian
mengarahkan cahaya tadi ke fokus yang arahnya di sebelah sisi tabung.
o Katadioptrik
Perpaduan dari pemantul dan pembias, meskipun tidak persis demikian.
Katadioptrik mempergunakan lensa korektor dan dua cermin. Lensa korektor
terletak pada bagian depan tabung, dan cermin primer yang terletak pada bagian
belakang tabung. Sedangkan cermin sekundernya diletakkan di tengah lensa
korektor.
Cara kerjanya, cahaya memasuki tabung melewati lensa korektor menuju ke
cermin primer (cermin cekung). Dari cermin primer cahaya dipantulkan ke cermin
cembung sekunder yang terletak di tengah lensa korektor. Cermin cembung
kemudian memantulkan cahaya tadi ke fokus yang letaknya dibagian belakang
tabung.


gambar
Teleskop Refraktor Ganda Zeiss



Page | 18

3.3 Evolusi Bintang
Bintang dilahirkan,berkembang,dan pada akhirnya padam,tak bersinar
lagi.Proses ini disebut evolusi bintang.Dibandingkan dengan umur
manusia,bahkan umur seluruh peradaban manusia,evolusi bintang umumnya
merupakan proses yang sangat lama.Proses ini berlangsung dalam waktu jutaan
hingga milyaran tahun.
Evolusi bintang adalah perubahan perlahan-lahan sejak suatu bintang
terjadi sampai menjadi bintang yang stabil, kemudian memasuki deret utama
dalam waktu yang lama, kemudian menjadi bintang raksasa merah, lalu
mengalami keadaan degenerasi, seterusnya melontarkan sebagaian masanya
bagian luar dan membentuk masa kecil dengan kerapatan yang besar. Sampai
menjadi bintang neutron dan black hole melalui beberapa tahapan.
Seperti manusia, bintang juga mengalami perubahan tahap kehidupan.
Sebutannya adalah evolusi. Mempelajari evolusi bintang sangat penting bagi
manusia, terutama karena kehidupan kita bergantung pada matahari. Matahari
sebagai bintang terdekat harus kita kenali sifat-sifatnya lebih jauh.
Dalam mempelajari evolusi bintang, kita tidak bisa mengikutinya sejak
kelahiran sampai akhir evolusinya. Usia manusia tidak akan cukup untuk
mengamati bintang yang memiliki usia hingga milyaran tahun. Jika demikian
tentunya timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa menyimpulkan tahap-tahap
evolusi sebuah bintang?
Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kembali menganalogikan
bintang dengan manusia. Jumlah manusia di bumi dan bintang di angkasa sangat
banyak dengan usia yang berbeda-beda. Kita bisa mengamati kondisi manusia dan
bintang yang berada pada usia/tahapan evolusi yang berbeda-beda. Ditambah
dengan pemodelan, akhirnya kita bisa menyusun teori evolusi bintang tanpa harus
mengamati sebuah bintang sejak kelahiran hingga akhir evolusinya.
Page | 19

Kelahiran Bintang
Bintang lahir dari sekumpulan awan gas dan debu yang kita sebut nebula.
Ukuran awan ini sangat besar (diameternya mencapai puluhan SA) tetapi
kerapatannya sangat rendah. Awal dari pembentukan bintang dimulai ketika ada
gangguan gravitasi (misalnya, ada bintang meledak/supernova), maka partikel-
partikel dalam nebula tersebut akan bergerak merapat dan memulai interaksi
gravitasi di antara mereka setelah sebelumnya tetap dalam keadaan setimbang.
Akibatnya, partikel saling bertumbukan dan temperatur naik.

Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)
Semakin banyak partikel yang merapat berarti semakin besar gaya gravitasinya
dan semakin banyak lagi partikel yang ditarik. Pengerutan awan ini terus
berlangsung hingga bagian intinya semakin panas. Panas tersebut dapat
mendorong awan di sekitarnya. Hal ini memicu terjadinya proses pembentukan
bintang di sekitarnya. Demikian seterusnya hingga terbentuk banyak bintang
dalam sebuah awan besar. Maka tidaklah heran jika kita mengamati sekelompok
Page | 20

bintang yang lahir pada waktu yang berdekatan di lokasi yang sama. Kelompok
bintang inilah yang biasa kita sebut dengan gugus.
Akibat pengerutan oleh gravitasi, temperatur dan tekanan di dalam awan
naik sehingga pengerutan melambat. Di tahap ini, bola gas yang terbentuk disebut
dengan proto bintang. Apabila massanya kurang dari 0,1 massa Matahari, maka
proses pengerutan akan terus terjadi hingga tekanan dari pusat bisa
mengimbanginya. Pada saat tercapai kesetimbangan, temperatur di bagian pusat
awan itu tidak cukup panas untuk dimulainya proses pembakaran hidrogen.
Maksud dari pembakaran di sini adalah reaksi fusi atom hidrogen menjadi helium.
Awan ini pun gagal menjadi bintang dan disebut dengan katai gelap.
Jika massanya lebih dari 0,1 massa Matahari, bagian pusat proto bintang
memiliki temperatur yang cukup untuk memulai reaksi fusi saat dirinya
setimbang. Reaksi ini akan terus terjadi hingga helium yang sudah terbentuk
mencapai 10 20 % massa bintang. Setelah itu pembakaran akan terhenti, tekanan
dari pusat menurun, dan bagian pusat ini runtuh dengan cepat. Akibatnya
temperatur inti naik dan bagian luar bintang mengembang. Saat ini, bintang
menjadi raksasa dan tahap pembakaran helium menjadi karbon pun dimulai. Di
lapisan berikutnya, berlangsung pembakaran hidrogen menjadi helium. Setelah ini
kembali akan kita lihat bahwa evolusi bintang sangat bergantung pada massa.
Untuk bintang bermassa kecil (0,1 0,5 massa Matahari), proses
pembakaran hidrogen dan helium akan terus berlangsung sampai akhirnya bintang
itu menjadi katai putih. Sedangkan pada bintang bermassa 0,5 6 massa Matahari,
pembakaran karbon dimulai setelah helium di inti bintang habis. Proses ini
tidaklah stabil, akibatnya bintang berdenyut. Bagian luar bintang mengembang
dan mengerut secara periodik sebelum akhirnya terlontar membentuk planetary
nebula. Bagian bintang yang tersisa akan mengerut dan membentuk bintang katai
putih.
Page | 21

Berikutnya adalah bintang bermassa besar (lebih dari 6 massa Matahari).
Di bintang ini pembakaran karbon berlanjut hingga terbentuk neon. Lalu neon pun
mengalami fusi membentuk oksigen. Begitu seterusnya hingga secara berturut-
turut terbentuk silikon, nikel, dan terakhir besi. Kita bisa lihat di diagram
penampang bintang di bawah ini, bahwa reaksi fusi sebelumnya tetap terjadi di
luar lapisan inti. Sehingga ada banyak lapisan reaksi fusi yang terbentuk ketika di
bagian pusat bintang sedang terbentuk besi.

Lapisan-lapisan reaksi fusi (Sumber: Wikipedia)
EvolusiLanjut
Setelah reaksi yang membentuk besi terhenti, tidak ada proses pembakaran
selanjutnya. Akibatnya, tekanan menurun dan bagian inti bintang memampat.
Karena begitu padatnya, jarak antara neutroon dan elektron pun mengecil
sehingga elektron bergabung dengan neutron dan proton. Peristiwa ini
menghasilkan tekanan yang sangat besar dan mengakibatkan bagian luar bintang
dilontarkan dengan cepat. Inilah yang disebut dengan supernova.
Apa yang terjadi setelah supernova bergantung pada massa bagian inti
bintang yang tadi terbentuk. Apabila di bawah 5 massa Matahari (batas massa
Page | 22

Schwarzchild), supernova menyisakan bintang neutron. Disebut demikian karena
partikel dalam bintang ini hanya neutron. Bintang neutron biasanya terdeteksi
sebagai pulsar (pulsating radio source, sumber gelombang radio yang berputar).
Pulsar adalah bintang yang berputar dengan sangat cepat, periodenya hanya dalam
orde detik. Putarannya itulah yang menyebabkan pulsasi pancaran gelombang
radionya.

Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)
Di atas 5 massa Matahari, gaya gravitasi di inti bintang begitu besarnya sehingga
dirinya runtuh dan kecepatan lepas partikelnya melebihi kecepatan cahaya. Objek
seperti ini disebut dengan lubang hitam. Tidak ada objek yang sanggup lepas dari
pengaruh gravitasinya, termasuk cahaya sekalipun. Makanya benda ini disebut
lubang hitam, karena tidak memancarkan gelombang elektromagnetik. Satu-
satunya cara untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam adalah dari interaksi
gravitasinya dengan benda-benda di sekitarnya. Pusat galaksi kita adalah salah
satu lokasi ditemukannya lubang hitam. Kesimpulan ini diambil karena bintang-
bintang di pusat galaksi bergerak dengan sangat cepat, dan kecepatannya itu
hanya bisa ditimbulkan oleh gaya gravitasi yang sangat kuat, yaitu oleh sebuah
lubang hitam.
Page | 23

Hingga saat ini, pengamatan terhadap bintang-bintang masih terus
dilakukan. Teori evolusi bintang di atas bisa saja berubah kalau ada bukti-bukti
baru. Tidak ada yang kekal dalam sains, dan tidak ada kebenaran mutlak. Apa
yang menjadi kebenaran saat ini bisa saja terbantahkan di kemudian hari. Itulah
uniknya sains: dinamis.













Page | 24

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari laporan ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Spesifikasi teleskop Zeiss ini jenis refraktor (menggunakan lensa) dan
terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder). Diameter
teleskop utama adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, dan
teleskop pencari berdiameter 40 cm. Medan pandang teleskop pencari
adalah 1,5 derajat atau sekitar 3 kali diameter citra bulan purnama.
2. Cara kerja teleskop Zeiss
oRefraktor
Mempergunakan lensa sebagai obyektifnya. Lensa ini, yang letaknya di
bagian ujung atas dari tabung teleskop, mengumpulkan dan membiaskan
cahaya dan kemudian cahaya tadi berjalan menuju ke titik api (fokus) di
bagian bawah dari tabung teleskop.Cahaya memasuki tabung dari sebelah
kiri kemudian dibiaskan oleh lensa obyektif. Cahaya yang sudah dibiaskan
tadi kemudian berjalan menuju fokus.
oReflektor
Tidak mempergunakan lensa sebagai obyektifnya tetapi mempergunakan
cermin. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: Satu cermin cekung atau
sering disebut cermin primer diletakkan di bagian bawah tabung teleskop,
cermin primer ini memantulkan cahaya yang memasuki tabung ke cermin
kedua yang datar (cemin sekunder) yang letaknya di bagaian atas tabung.
Cermin kedua ini kemudian mengarahkan cahaya tadi ke fokus yang
arahnya di sebelah sisi tabung.
oKatadioptrik
Perpaduan dari pemantul dan pembias, meskipun tidak persis demikian.
Katadioptrik mempergunakan lensa korektor dan dua cermin. Lensa
korektor terletak pada bagian depan tabung, dan cermin primer yang
terletak pada bagian belakang tabung. Sedangkan cermin sekundernya
Page | 25

diletakkan di tengah lensa korektor.Cara kerjanya, cahaya memasuki
tabung melewati lensa korektor menuju ke cermin primer (cermin cekung).
Dari cermin primer cahaya dipantulkan ke cermin cembung sekunder yang
terletak di tengah lensa korektor. Cermin cembung kemudian
memantulkan cahaya tadi ke fokus yang letaknya dibagian belakang
tabung.
3. Bintang dilahirkan,berkembang,dan pada akhirnya padam,tak bersinar lagi
disebut evolusi bintang. Evolusi bintang adalah perubahan perlahan-lahan
sejak suatu bintang terjadi sampai menjadi bintang yang stabil, kemudian
memasuki deret utama dalam waktu yang lama, kemudian menjadi bintang
raksasa merah, lalu mengalami keadaan degenerasi, seterusnya
melontarkan sebagaian masanya bagian luar dan membentuk masa kecil
dengan kerapatan yang besar. Sampai menjadi bintang neutron dan black
hole melalui beberapa tahapan.

4.2 Saran
Setelah membaca laporan ini penulis menyarankan kepada masyarakat
luas agar bisa memanfaatkan instrumentasi yang dihasilkan dari adanya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satu contohnya yaitu
dengan adanya teleskop dapat melihat bintang dan Observatorium Bosscha juga
mempunyai peran yang unik sebagai satu-satunya observatorium besar di
Indonesia, bahkan di Asia Tenggara sampai sejauh ini. Peran ini diterima dengan
penuh tanggung-jawab: sebagai penegak ilmu astronomi di Indonesia.
Dalam program pengabdian masyarakat, melalui ceramah, diskusi dan
kunjungan terpandu ke fasilitas teropong untuk melihat objek-objek langit,
masyarakat diperkenalkan pada keindahan sekaligus deskripsi ilmiah alam raya.
Dengan ini Observatorium Bosscha berperan sebagai lembaga ilmiah yang bukan
hanya menjadi tempat berpikir dan bekerja para astronom profesional, tetapi juga
merupakan tempat bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai sains.
Page | 26

DAFTAR PUSTAKA

Sutantyo,Winardi. 2010. Bintang-bintang di Alam Semesta.Bandung:ITB

Internet

Anonim.2009.Cara Kerja Teleskop Zeiss.[Online].
http://strange-13.blogspot.com/2009/02/laporan-study-tour-
observatorium.html.[diakses 20 September 2013]
Anonim.2011.Evolusi Bintang.[online].
http://duniaastronomi.com/2011/03/evolusi-bintang/[diakses 20 September 2013]
Bosscha.2011.Spesifikasi Teleskop Zeiss.[online].
http://bosscha.itb.ac.id/in/tentang-bosscha.html.[diakses 20 September 2013]

Bosscha.2011.Cara Kerja Teleskop Zeiss.[Online].
http://bosscha.itb.ac.id/in/refraktor-ganda-zeiss-mainmenu-108.html.
[diakses 20Sepetember 2013]

Subagio,Heru.2011.Evolusi Bintang[Online].
http://herugio1.blogspot.com/2011/03/evolusi-bintang.html[diakses 29 September
2013]