Anda di halaman 1dari 7

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang kaya dengan berbagai tumbuhan, terdapat
sekitar 30.000 spesies. Tumbuhan tersebut sebagian telah dimanfaatkan masyarakat
sebagai sumber pangan maupun obat-obatan. Penggunaan tumbuhan sebagai obat di
Indonesia telah berlangsung sejak lama dan masyarakat menggunakannya secara turun
temurun berdasarkan pengalaman. Pemanfaatan tumbuhan obat masih terbatas tradisional
dan belum banyak diketahui kandungan senyawa dan manfaat lainnya, hanya sebagian
kecil spesies yang telah diketahui kandungannya dari 1260 spesies tanaman obat yang
ada di Indonesia (Aryanti et al., 2005).
Penggunaan tumbuhan obat telah dilakukan sebagai salah satu upaya penanggulangan
masalah kesehatan masyarakat jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-
obatan modern menyentuh masyarakat. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan
ternyata tidak mampu begitu saja menghilangkan arti pengobatan tradisional. Apalagi
keadaan perekonomian Indonesia saat ini yang mengakibatkan harga obat-obatan modern
menjadi mahal. Oleh karena itu salah satu pengobatan alternatif yang dilakukan adalah
meningkatkan penggunaan tumbuhan berkhasiat obat di kalangan masyarakat. Agar
peranan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan, perlu
2


dilakukan upaya pengenalan, penelitian, pengujian dan pengembangan khasiat dan
keamanan suatu tumbuhan obat (Yuharmen et al., 2002).
Baru-baru ini perkembangan produk alam mendapat perhatian dengan adanya
beberapa potensi tumbuhan obat-obatan. WHO memperkirakan bahwa 65% sampai 80%
populasi penduduk di dunia menggunakan obat-obatan konvensional sebagai terapi dan
obat-obatan herba ini dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, sehingga sangat menarik
untuk dimanfaatkan oleh beberapa negara di dunia (William et al., 1998).
Salah satu jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah
Ageratum conyzoides. Tumbuhan ini merupakan salah satu tumbuhan herba yang banyak
mendapat perhatian oleh para peneliti saat ini, karena A. conyzoides merupakan
tumbuhan yang tumbuh tersebar hampir di seluruh bagian dunia. Ageratum conyzoides
sudah sangat terkenal luas digunakan sebagai obat tradisional oleh berbagai negara di
dunia, meskipun aplikasinya berbeda di setiap daerah. Di Afrika Tengah A. conyzoides
digunakan untuk obat pneumonia. Di India spesies ini digunakan sebagai antibakteri,
antifungi, antidisentri dan antilisis. Di Asia, Amerika Selatan dan Afrika ekstrak dari
tumbuhan ini digunakan untuk antimikroba (Ming, 1999). Ageratum conyzoides ini dapat
menyembuhkan luka dan penyakit kulit serta merupakan salah satu tumbuhan obat yang
telah dikenal oleh masyarakat di seluruh dunia (de Padua et al., 2003).
Ageratum conyzoides ini mengandung senyawa metabolit sekunder diantaranya
flavonoid, alkaloid, kumarin, minyak esensial dan tannin (Ming, 1999). Senyawa
metabolit sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan
3


bioaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama
penyakit untuk tumbuhan itu sendiri atau lingkungannya. Senyawa kimia sebagai hasil
metabolit sekunder telah banyak digunakan sebagai zat warna, aroma makanan, racun
dan obat-obatan (Lenny, 2006). Beberapa penelitian awal mengenai A. conyzoides telah
dilakukan, seperti penelitian oleh Oladejo (2003), mengenai ekstrak methanol A.
conyzoides yang dapat menyembuhkan luka sayat pada kulit tikus Wistar. Selain itu,
beberapa penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa senyawa kumarin
yang diisolasi dari daun A. conyzoides mempunyai aktivitas antimikroba (Gunawan,
2008). Ekstrak daun A. conyzoides dengan menggunakan pelarut etanol dapat dijadikan
sebagai antifungi (Gunawan et al., 2006), ekstrak metanol daun dan akar A. conyzoides
memiliki aktivitas antimikroba terhadap Candida albicans (Hardikasari, 2009) dan
Staphylococcus aureus (Desiaryanti, 2009).
Ageratum conyzoides secara luas telah banyak diteliti di berbagai negara dalam
bidang kesehatan diantaranya adalah Afrika, Amerika Selatan dan India. Penelitian di
berbagai daerah ternyata memiliki perbedaan hasil dan aplikasinya sebagai tumbuhan
obat. Di Indonesia sendiri penelitian ini masih sedikit dilakukan, padahal jenis tumbuhan
ini mudah kita jumpai. Menurut Suganda (2008), aktivitas biologi dan kandungan
senyawa kimia yang ada pada tumbuhan secara kualitas atau kuantitatif tidak terlepas
dari berbagai macam faktor lingkungan tempat tumbuh seperti: faktor biotik, tanah dan
nutrisi, air, temperatur, cahaya dan ketinggian tempat tumbuh.
4


Kondisi negara Indonesia sebagai negara tropis menjadi lahan subur tumbuhnya
jamur patogen penyebab penyakit, khususnya jamur Trichophyton mentagrophytes.
Trichophyton mentagrophytes ini menyerang jaringan kulit dan menyebabkan beberapa
infeksi kulit antara lain Tinea pedis (athletes foot), Tinea kruris (jock itch), Tinea barbae,
dan Tinea unguium. Trichophyton mentagrophytes ini merupakan jamur penyebab
penyakit kulit yang sering menginfeksi masyarakat Indonesia. Pengobatan infeksi jamur
ini umumnya dengan menggunakan obat antimikotik seperti ketoconazole. Alternatif lain
yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah pemanfaatan senyawa bioaktif yang
dihasilkan oleh tumbuhan. Salah satu diantaranya adalah pemanfaatan senyawa
metabolit sekunder yang terdapat pada A. conyzoides.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan dan dikembangkan penelitian
lebih lanjut mengenai aktivitas ekstrak tumbuhan A. conyzoides dalam menghambat
pertumbuhan jamur T. mentagrophytes penyebab penyakit kulit secara in vitro.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana aktivitas antifungi dari ekstrak metanol tumbuhan A. conyzoides
terhadap pertumbuhan Trichophyton mentagrophytes secara in vitro.




5


C. Pertanyaan Penelitian
1. Pada konsentrasi berapakah ekstrak metanol daun dan akar dari A. conyzoides
mempunyai aktivitas daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan jamur T.
mentagrophytes?
2. Berapakah nilai Minimal Inhibitory Concentration (MIC) dari ekstrak methanol
daun dan akar A. conyzoides untuk menghambat pertumbuhan jamur T.
mentagrophytes?
3. Berapakah nilai Minimal Fungicidal Concentration (MFC) dari ekstrak methanol
daun dan akar A. conyzoides untuk mematikan jamur T. mentagrophytes?

D. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai berikut :
1. Tumbuhan A. conyzoides yang digunakan adalah bagian daun dan akar.
2. Jamur uji yang digunakan adalah T. mentagrophytes isolat klinik.
3. Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi adalah methanol Pro Analyst (PA).
4. Metode yang digunakan untuk uji aktivitas adalah disk-diffusion, metode macro-
dilution digunakan untuk menentukan konsentrasi minimum dalam menghambat
pertumbuhan jamur T. mentagrophytes dan metode cawan tuang digunakan untuk
uji MFC.
5. Konsentrasi ekstrak metanol daun yang digunakan pada penelitian ini yaitu 100
mg/ml, 200 mg/ml, 300 mg/ml, 400 mg/ml, 500 mg/ml, 600 mg/ml, 700 mg/ml,
6


800 mg/ml untuk uji sensitivitas dan 3 mg/ml, 3,5 mg/ml, 4 mg/ml, 4,5 mg/ml, 5
mg/ml untuk MIC dan MFC. Konsentrasi ekstrak metanol akar yang digunakan
yaitu 75 mg/ml, 150 mg/ml, 225 mg/ml, 300 mg/ml, 375 mg/ml, 450 mg/ml, 525
mg/ml, 600 mg/ml, 675 mg/ml, 750 mg/ml untuk uji sensitivitas dan 1,5 mg/ml, 2
mg/ml, 2,5 mg/ml, 3 mg/ml, 3,5 mg/ml, 4 mg/ml, 4,5 mg/ml untuk MIC dan MFC.
6. Kontrol positif yang digunakan adalah ketoconazole 500 mg/ml, sedangkan
kontrol negatif adalah Dimethylsulfoxide (DMSO) 1 %.
7. Parameter yang diukur dari penelitian ini adalah :
a. Diameter zona hambat
b. Nilai MIC (Minimal Inhibitory Concentration) dari setiap ekstrak bagian
tumbuhan A. conyzoides
c. Nilai MFC (Minimal Fungicidal Concentration) dari setiap ekstrak bagian
tumbuhan A. conyzoides

E. Tujuan Penelitian
Untuk menguji aktivitas antifungi ekstrak metanol akar dan daun A. conyzoides
terhadap pertumbuhan T. mentagrophytes secara in vitro.

F. Manfaat Penelitian
a. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai penelitian awal untuk melakukan
penelitian selanjutnya seperti isolasi senyawa kimia dan bioassay.
7


b. Untuk jangka panjang, diharapkan dapat ditemukan jenis bahan obat tradisional
atau alternatif dalam menyembuhkan penyakit kulit yang diakibatkan oleh jamur
T. mentagrophytes.

G. Asumsi
1. Di Asia, Amerika Selatan dan Afrika ekstrak aqueous dari Ageratum conyzoides
L. digunakan untuk antimikroba (Ming, 1999).
2. Minyak atsiri Ageratum conyzoides L. menunjukkan aktivitas antifungi terhadap
T. mentagrophytes (Kamboj & Saluja, 2008).
3. Ekstrak daun Ageratum conyzoides L. dengan menggunakan pelarut etanol dapat
dijadikan sebagai antifungi (Gunawan et al., 2006).

H. Hipotesis
Ekstrak methanol daun dan akar A. conyzoides berpengaruh signifikan terhadap
pertumbuhan jamur T. mentagrophytes.