Anda di halaman 1dari 38

Tugas Individual

KIMIA MEDICINAL
OBAT KARDIOVASKULAR

DISUSUN OLEH:
NAMA

: FAISAL ABDA

NIM

: F1F1 10 076

KELAS

:B

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012

1. HISTORY
Digitalis adalah salah satu obat-obat tertua, dipakai sejak tahun 1200
dan sampai kini masih terus dipakaidalam bentuk yang telah dimurnikan.
Digitalis dihasilkan dari tumbuhan foxglove ungu dan putih, dapat bersifat
racun. Pada tahun 1785 William Withening dari Inggris menggunakan
digitalis untuk menyembuhkan sakit bengkak yaitu edema pada ekstremitas
akibat insufisiensi ginjal dan jantung. Preparat digitalis efektif untuk
mengobati payah jantung kongestif (PJK). (Wihering tidak menyadari bahwa
sakit bengkak merupakan akibat dari payah jantung.) Jika otot jantung
(miokardium) melemah dan membesar, maka otot jantung akan kehilangan
kemampuannya untuk memompa darah dari jantung ke dalam sirkulasi
sistemik (Kee dan Hayes, 1996).
Glikosida jantung telah digunakan selama bertahun-tahun dalam
bentuk daun kering dari pohon foxglove untuk mengobati penyakit yang
disebut dropsy (edema kaki). Glikosida jantung mengandung sebuah inti
steroid yang melekat pada gula, ditambah sebuah cincin lakton tidak jenuh.
Glikosida jantung meningkatkan gaya dan kecepatan kontraksi miokardium
sehingga membalikkan efek patologik gagal jantung kongestif (Anonim,
2009).

2. DEFENISI
Gangguan kardiovaskuler merupakan penyebab banyak kematian di
dunia Barat, dan merupakan akibat gaya hidup dan makanan yang dikonsumsi
juga menjadi tradisi sampai tingkat tertentu. Penyakit ini cendung memberi
respon yang baik terhadap perubahan dalam konsumsi makanan dan
melakukan lebih banyak olahraga, juga pengobatan dengan obat-obat
konfensional atau fitoterapi. Kondisi yang berat seperti gagal jantung harus
diobati hanya dibawah panduan seorang dokter yang berizin, meskipun obatobatnya kemungkinan berasal dari tumbuhan (misalnya digoksin) (Heinrich,
2010).
Obat kardiovaskular adalah obat yang digunakan untuk mencegah atau
mengobati penyakit kardiovaskular. Obat kardiovaskular diklasifikasikan
menjadi:
1. Antiaritmia
2. Vasodilator
3. Antihipertensi
4. Antianginia
5. Antilipemik
A. Antiaritmia
Aritmia adalah gangguan irama jantung, suatu kondisi di mana jantung
berdenyut tidak menentu. Irama jantung mungkin terlalu cepat (takikardia),
terlalu lambat (bradikardia) atau tidak teratur. Aritmia terjadi apabila sumber
pencetus rangsangan bukan berasal dari tempat seharusnya (SA node). Suatu
pemacu jantung yang berasal dari tempat lain di luar SA node disebut pemacu
jantung ektopik. Pemacu jantung ektopik akan menyebabkan urutan kontraksi
abnormal dari berbagai bagian jantung. Apabila SA node tidak mampu

menjalankan fungsinya dengan baik, otonomi pengaturan iram jantung akan


diambil alih oleh pemacu jantung ektopik seperti: otot atrium, septum, AV
node, serabut Purkinje, dan otot ventrikel. Serabut AV node, jika tidak
mendapat rangsangan dari SA node dan otot atrium, maka AV node
mengeluarkan impuls sendiri dengan kecepatan intrinsik 40-60 kali/menit, dan
serabut Purkinje mengeluarkan impuls dengan kecepatan 15-40 kali per menit.
Kecepatan ini berbeda dengan kecepatan normal SA node sebesar 70-80
kali/menit. SA node mengatur denyut jantung dan memegang peranan utama
sebagai pengatur rangsangan karena kecepatan impuls beriramanya lebih besar
daripada bagian jantung lainnya. Oleh karena itu, dikatakan bahwa SA node
merupakan pemacu jantung normal (Ronny dkk, 2008).
Obat antiaritmia adalah obat yang digunakan untuk memperbaiki atau
memodikasi irama jantung. Obat aritmia dikelompokkan menurut efek
eletrofisiologik dan mekanisme kerjanya. Akan tetapi haruslah diketahui
bahwa obat-obat dalam satu kelas sesungguhnya berbeda; suatu obat mungkin
efektif dan aman bagi pasien tertentu, tetapi yang lain belum tentu. Sebagian
besar informasi yang digunakan untuk mengelompokkan obat antiaritmia
berasal dari hasil kajian pada hewan.

Tabel: klasifikasi obat antiaritmia berdasarkan mekanisme kerjanya.


Kelas
I
A

Mekanisme Kerja
Penyakit kanal natrium
Depresi sedang fase 0 dan konduksi lambat (2+),

Obat
Kuinidin, prokainamid

memanjangkan efek repolarisasi


B

Depresi minimal fase 0 dan konduksi lambat (0-

Lidokain, fenitoin, tokainid

1+), mempersingakt repolarisasi


C

Depresi kuat fase 0, kondusi lambat (3+ - 4+),

Enkainid, flekainid, indekainid

efek ringan terhadap repolarisasi


II

Penyekat adrenoreseptor beta

Propanolol, asetobutolol

III

Memanjangkan repolarisasi

Amiodaron, bretilium, sotalol

IV

Penyekat kanal Ca++

Verapamil, ditiazem

Lain-lain

Digitalis, adenosin, magnesium

a) Obat kelas IA
Obat aritmia kelas 1A menghambat arus masuk ion Na+, menekan
depolarisasi fase 0, dan memperlambat kecepatan konduksi serabut Purkinje
miokard ketingkat sedang sedang pada nilai Vmaks istirahat normal. Efek ini
diperkuat bila membran sel terdepolarisasi, atau bila frekuensi eksitasi
meningkat. Contoh kuinidin, prokainamid dan disopiramid
Obat kelas IB
Obat antiaritmia kelas IB sedikit sekali mengubah depolarisasi fase 0
dan kecepatan konduksi di serabut Purkinje bila nilai Vm normal. Akan tepai
efek penekanan obat kelas IB terhadap parameter ini sangat diperkuat bila
membran terdepolarisasi abau bila frekuensi eksilasi dinaikkan. Berlawanan

dengan obat kelas IA, obat kelas IB mempercepat repolarisasi membran.


Contoh lidokain, fenitoin, tokainid dan meksiletin
Obat kelas IC
Obat kelas IC berafinitas tinggi terhadap kanal Na+ di sarkolema
(membran sel) . Obat ini merupakan antiaritmia yang paling poten dalam
memperlambat konduksi dan menekan arus masuk Na+ ke dalam sel dan
kompleks prematur ventrikel spontan. Contoh flekainid, enkainid, dan
propafenon
b) Kelas II -bloker
Hampir semua efek -bloker dapat diterangkan berdasarkan hambatan
selektif terhadap adrenoreseptor-. Pemlokkan -adrenoreseptor jantung
menyebabkan hambatan respon katekomin pada miokardial. Contoh
propanolol, asebutolol dan esmolol.
c) Kelas III memanjangkan repolarisasi
Obat-obat dalam kelas III ini mempunyai sifat farmakologik yang
berlainan, tetapi sama-sama mempunyai kemampuan memperpanjang lama
potensial aksi dan refractoriness serabut Purkinje dan serabut otot ventrikel.
Obat-obat ini menghambat aktifitas sistem saraf otonom secara nyata. Contoh
bretilium, amiodaron, sotalol, dofetilid, dan ibutilid.
d) Kelas IV antagonis kalsium
Obat antiaritmia kelas IV adalah penghambatan kanal Ca2+. Efek klinis
penting dari antagonis Ca2+ untuk pengobatan aritmia adalah penekanan

potensial aksi yang Ca2+ dependent dan perlambatan konduksi di nodus AV.
Contoh verapamil dan diltiazem (Tanu, 2007).
B. Vasodialator
Vasodilator adalah zat-zat yang berkhasiat vasodilatasi langsung
terhadap arteriole dan dengan demikian menurunkan tekanan darah yang
tinggi. Menurut Tjay dan Rahardja (2007) vasodilator dibagi menjadi 3
kelompok berdasarkan penggunaannya yaitu:
1) Obat-obat hipertensi : (di) hidralazin dan minoksidil
2) Vasodilator koroner (obat angina pectoris): nitrat dan nitrit
3) Vasodilatasi perifer (obat gangguan sirukulasi): buflomedil,
pentoxifilin, ekstrak Ginko biloba, siklandelat, isoksuprin dan
turunan nikotinat.
C. Antihipertensi
Hipertensi merupakan suatu kelainan, suatu gejala dari gangguan pada
mekanisme regulasi tekanan darah. Tekanan darah sistolis adalah tekanan
pada dinding arteri suatu jantung menguncup (sistole) dan tekanan diastolis
bila jantung sudah mengendur kembali.
Tabel: Klasifikasi tekanan darah orang dewasa
Klasifikasi
Sistolis (mm/Hg)
Normal
<120
Normal tinggi
120-139
Hipertensi tingka I
140-159
Hipertensi tingkat II
160
Penyebab dari hipertensi diketahaui hanya

Diastolis (mm/Hg)
<80
80-89
90-99
100
lebih kurang 10% dari

semua kasus, antara lain akibat penyakit ginjal dan penciutan aorta/anak
ginjal, juga akibat tumor di anak ginjal dengan efek overproduksi hormonhormon tertentu yang berkhasiat meningkatkan tekanan darah (Tjay dan
Rahardja 2007).

Obat antihepertensi dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Obat lini


pertama yang lazim digunakan untuk pengobatan awal hipertensi yaitu (1)
diuretik (2) penyekat reseptor adrenergik (3) penghambat angiotensinconverting enzime (ACE-inhibitor) (4) penghambat reseptor angiotensin (5)
antagonis kalsium (Tanu, 2007).
1. Diuretik
Diuretik bekerja dengan meningkatkan eksresi natrium, air dan klorida
sehingga menurunkan curah jantung dan tekanan darah. Selain mekanisme
tersebut, beberapa diuretik juga menurunkan resistensi perifer sehingga
menambah efek hipotensinya. Efek ini diduga akibat penurunan natrium
diruang interstisial dan di dalam sel otot polos pembuluh darah yang
selanjutnya menghambat influks kalsium. Obat diuretik digolongkan menjadi
golongan tiazid (hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, klortiazid); diuretik kuat
(furosemid, torasemid, bumetanid dan asam etakrinat); dan diuretik hemat
kalium (amilorid, spironolakton dan triameteren).
2. Penghambat adrenergik
Zat-zat ini memiliki sifat kimia yang sangat mirip dengan zat adrenergik isoprenalin. Khasiat utamanya adalah anti-adrenergik dengan jalan
menempati secara bersaing reseptor -adrenergik. Blokade reseptor ini
mengakibatkan peniadaan atau penrunan kuat aktivitas adrenalin dan
noradrenalin (NA). Reseptor- terdapat dalam 2 jenis yakni 1 dan 2.
Reseptor 1 dijantung (juga di SSP dan ginjal). Blokade reseptor ini
mengakibatkan pelamahan daya kontraksi (efek inotrop negatif), penurunan

frekuensi jantung (efek kronotrop negatif, bradycardia) dan penurunan volume


menitnya. Juga perlambatan penyaluran impuls jantung (simpuls AV =
antrioventrikuler).
Reseptor 2 di bronkia (juga di dinding pembulauh dan usus). Blokade
reseptor ini menimbulkan penciutan bronkia dan vasokontriksi perifer agak
ringan yang bersifat sementara, juga mengganggua mekanisme homeostasis
untuk memelihara kadar glukosa dalam darah (efek hipoglikemis). Contoh
obat penghambat adrenergik adalah atenolol, metoprolol, labetalol dan
karvedilol (Tanu, 2007).
3. Penghambat angiotensin-converting enzime (ACE-inhibitor)
Ada beberapa obat yang dapat menurunkan tekanan darah dengan jalan
mencegah pengubahan enzimatis dari angiotensin (AT) I menjadi angiotensin
II. AT II merupakan hormon aktif dari Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron
(RAAS). Pengikatan AT II pada reseptor AT (antara lain di ginjal, dinding
pembuluh dan jantung) memiciu beberapa mekanisme biologis, khususnya
efek vasokontriksi dan pelepasan aldosteron.

4. Antagonis kalsium
Kalsium merupakan elemen esensial bagi pembentukan tulang dan
fungsi otot kerangka dan otot polos jantung/dinding arteriole; untuk kontraksi
semua sel otot tersebut diperlukan ion-Ca intrasel bebas. Kalsium bebas juga
perlu untuk pembentukan dan penyaluran impuls-AV jantung. Kadar ion-Ca
diluar se. adalah beberapa ribu kali lebih besar daripada di dalam sel. Pada
hal-hal tertentu, misalnya akibat rangsangan, terjadilah depolarisasi membran
sel, yang menjadi permeabel bagi ion Ca, hingga banyak ion ini melintasi
membran dan masuk ke dalam sel. Pada kadar Ca intrasel tertentu, sel mulai
berkontraksi: otot jantung dan arteriole menciut.
Antagonis Ca menghambat pemasukan ion Ca ekstrasel ke dalam sel
dan dengan demikian dapat mengurangi penyaluran impuls dan kontraksi
myocard serta dinding pembuluh. Senyawa ini tidak mempengaruhi kadar Ca
di plasma. Penggolongan antagonis Ca secara kimia dapat dibagi menjadi 2
kelompok yakni:

Derivat-dihidropiridin: efek vasodilatasinya amat kuat, maka


terutama digunakan sebagai obat antihipertensil. Contoh nifedipin,
nisoldipin, amlodipin, felodipin, nicardipin, nimodipin, nitrendipin

dan isradipin
Obat-obat lain: verapamil, diltiazem dan bepridil.
D. Antiangina
Antiangina adalah obat yang digunakan untuk pencegahan dan
pengobatan gejala angina pektoris yaitu keadaan dengan rasa nyeri hebat di
dada, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara persediaan dan

perminytaan oksigen pada miokardial. Ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen ini diperbaiki dengan cara meningkatkan suplai
(meningkatkan aliran koroner) atau menurunkan kebutuhan oksigen
(menurunkan kerja jantung). Penyebab umum iskemia jantung adalah
atheroklorosis pembuluh darah epikardial. Gangguan perfusi miokardium
pada

insufiensi

koroner

menimbulkan

perubahan

biokimiawi,

elektrofisiologik dan mekanik jantung. Terdapat dua tipe angina yaitu


1. Angina klasik, biasanya terjadi pada waktu olahraga atau emosi
2. Angina varian, biasanya terjadi pada waktu istirahat, disebabkan
pengurangan episodik pemasokan oksigen miokardial karena
spasme arteri koroner.
Antiangina dibagi menjadi 3 yaitu turunan nitrat orgainik, -bloker dan
antagonis kalsium.
1. Nitrat organik
Nitrat organik adalah ester alkohol polivalen dengan asam nitrat,
sedangkan nitrit organik adalam ester asam nitrit. Amilnitrit, ester asam nitrit
dengan alkohol, merupakan cairan yang mudah menguap dan biasa diberikan
melalui inhalasi. Nitrat organik dengan berat molekul rendah berbentuk seperti
minyak, realatif mudah menguap.
Mekanisme kerja. Obat golongan nitrat merupakan lini (pilihan)
pertama dalam pengobatan angina pektoris. Mekanisme kerja obat golongan
nitrat dimulai ketika metabolisme obat pertama kali melepaskan ion nitit
(NO2-), suatu proses yang membutuhkan tiol jaringan. Di dalam sel, NO 2diubah menjadi nitrat oksida (NO), yang kemudian mengaktivasi guanilat

siklase, yang menyebabkan peningkatan konsentrasi guanosin monofosfat


siklik (cGMP) intraseluler pada sel otot polos vaskular. Bagaimana cGMP
menyebabkan relaksasi, belum diketahui secara jelas, tetapi hal tersebut
akhirnya

menyebabkan

defosforisasi

miosin

rantai

pendek

(MCL),

kemungkinan dengan menurunkan konsentrasi ion Ca2+ bebas dalam sitosol.


Hal tersebut akan menimbulkan relaksasi otot polos, termasuk arteri dan vena.
Nitrat organik menurunkan kerja jantung melalui efek dilatasi pembuluh darah
sistemik. Venodilatasi menyebabkan penurunan aliran darah balik ke jantung,
sehingga tekanan akhir diastolik ventrikel (beban hulu) dan volume ventrikel
menurun. Beban hulu yang menurun juga memperbaiki perfusi sub endokard.
Vasodilatasi menyebabkan penurunan resistensi perifer sehingga tegangan
dinding ventrikel sewaktu sistole (beban hilir) berkurang. Akibatnya, kerja
jantung dan konsumsi oksigen menjadi berkurang. Ini merupakan mekanisme
antiangina yang utama dari nitrat organik.
Farmakokinetik. Nitrat organik diabsorpsi dengan baik lewat kulit,
mukosa sublingual dan oral. Dilihat dari farmakokinetiknya, nitrat organik
mengalami denitrasi oleh enzim glutation-nitrat organik reduktase dalam hati.
Golongan nitrat lebih mudah larut dalam lemak, sedangkan metabolitnya
bersifat lebih larut dalam air sehingga efek vasodilatasi dari metabolitnya lebih
lemah atau hilang. Eritritil tetranitrat (berat molekul tinggi, bentuk padat)
mengalami degradasi tiga kali lebih cepat daripada nitrogliserin (berat molekul
rendah, bentuk seperti minyak). Sedangkan isosorbid dinitrat dan pentaeritritol
tetranitrat (berat molekul tinggi, bentuk padat) mengalami denitrasi 1/6 dan

1/10 kali dari nitrogliserin. Kadar puncak nitrogliserin terjadi dalam 4 menit
setelah pemberian sublingual dengan waktu paruh 1-3 menit. Metabolitnya
berefek sepuluh kali lebih lemah, tetapi waktu paruhnya lebih panjang, yaitu
kira-kira 40 menit. Isosorbid dinitrat paling banyak digunakan, tetapi cepat
dimetabolisme oleh hati. Penggunaan isosorbid mononitrat yang merupakan
metabolit aktif utama dari dinitrat bertujuan untuk mencegah variasi absorpsi
dan metabolisme lintas pertama dari dinitrat yang dapat diperkirakan.
Efek samping. Secara umum efek samping yang timbul akibat
penggunaan obat golongan nitrat untuk antiangina, antara lain: dilatasi arteri
akibat nitrat menyebabkan sakit kepala (30-60% dari pasien yang menerima
terapi nitrat), sehingga seringkali dosisnya dibatasi. Efek samping yang lebih
serius adalah hipotensi dan pingsan. Refleks takikardia seringkali terjadi.
Dosis

tinggi

yang

diberikan

jangka

panjang

bisa

menyebabkan

methemoglobinemia sebagai akibat oksidasi hemoglobin. Sesekali juga dapat


menyebabkan rash. Penggunaan nitrat yang berkelanjutan dapat menyebabkan
terjadinya toleransi, bukan saja pada efek samping, tapi juga pada efek
antiangina dari nitrat kerja lama. Ketergantungan pada nitrat terjadi pada
pemberian nitrat kerja lama (oral maupun topikal). Penghentian terapi kronik
harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari timbulnya fenomena
rebound berupa vasospasme yang berlebihan dengan akibat memburuknya
angina sampai terjadinya infark miokard dan kematian mendadak. Udem
perifer juga kadang-kadang terjadi pada pemberian nitrat kerja lama (oral
maupun topikal). Nitrat yang diberikan secara oral dapat menimbulkan

terjadinya dermatitis kontak. Berikut beberapa contoh obat nitrat organik


isosorbid mononitrat, Isosorbid dinitrat, Gliseril trinitrat.
2. Penghambat adrenoresptor beta (-bloker)
-bloker amat bermanfaat untuk mengobati angina pektoris stabil
kronik. Golongan obat ini terbukti menurunkan angka mortalitas setelah infark
jantung yang mungkin disebabkan karena efek antiaritmianya. -bloker
menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung dengan cara menurunkan
frekuensi denyut jantung, tekanan darah dan kontrakstilitas. Suplai oksigen
meningkat karena penurunan frkuensi denyut jantung sehingga perfusi koroner
membalik diastole. Efek yang kurang menguntungkan -bloker adalah
peningkatan volume diastolik akhir yang meningkatkan kebutuhan oksigen.
Mekanisme kerja. Obat -bloker memblok reseptor 1 sehingga
menyebabkan penurunan kecepatan jantung, kontraksi miokardial, otuput
jantung dan tekanan darah sehingga kebutuhan oksigen miokardial berkurang
dan nyeri iskemik dapat dihilangkan.
Efek samping. Berdasarkan efeknya terhadap sistem saraf otonom,
maka -bloker menurunkan konduksi dan kontraksi jantung, sehingga dapat
terjadi bradikardia dan blok AV. Efek samping lain dari -bloker adalah lelah,
mimpi buruk dan depresi. Berikut merupakan beberapa contoh -bloker yaitu
asebutolol, atenolol, bisoprolol, labeatalol dan metoprolol.
3. Antagonis kalsium

Penghambat kanal kalsium yang pertama kali ditemukan adalah


verapamil. Pada tahun-tahun selanjutnya ditemukan berbagai macam
penghambat kanal kalsium yang kemudian digunakan dalam klinik.
Mekanisme kerja. Pada otot jantung dan otot polos vaskular, ion Ca2+
terutama berperan dalam peristiwa kontraksi. Meningkatnya kadar ion Ca2+
dalam sitosol akan meningkatkan kontraksi. Masuknya ion Ca2+ dari ruang
ekstrasel ke dalam ruang intrasel dipacu oleh perbedaan kadar (kadar Ca 2+
ekstrasel 10.000 kali lebih tinggi daripada kadar Ca2+ intrasel sewaktu diastol)
dan karena ruang intrasel bermuatan negatif. Pada otot jantung mamalia,
masuknya Ca2+ meningkatkan kadar Ca2+ sitosol dan mencetuskan pelepasan
Ca2+ dalam jumlah cukup banyak dari depot intrasel (reticulum sarkoplasmik)
sehingga aparat kontraktil (sarkomer) bekerja. Masuknya Ca2+ terutama
beralngsung lewat slow channel. Slow channel berbeda dengan fast Na
channel yang melewatkan ion Na+ dari ruang ekstrasel menuju ruang intrasel
dan dihambat oleh tetrodoksin. Kanal Ca2+ tidak dihambat oleh tetrodoksin.
Secara umum ada 2 jenis kanal Ca2+. Pertama voltage-sensitive (VSC) atau
potential-dependent calcium channels (PDC). Kanal Ca2+ jenis ini akan
membuka bila ada depolarisasi membran sel. Kedua, receptor-operated
calcium channel (ROC) yang membuka bila suatu agonis menempati reseptor
dalam kompleks system kanal ini. Contoh : hormon, neurohormon misalnya
norepinefrin.
Farmakokinetik dan dosis antiangina. Profil farmakokinetik
penghambat kanal Ca2+ bervariasi. Absorbsi per oral hampir sempurna, tetapi

bioavabilitasnya berkurang karena metabolisme lintas pertama dalam hati.


Efek obat tampak setelah 30-60 menit pemberiaan, kecuali pada derivat yang
mempunyai waktu paruh panjang seperti amlodipin, isradipin, dan felodipin.
Pemberiaan berulang meningkatkan bioavabilitas obat karena enzim
metabolisme di hati menjadi jenuh.
Pemberiaan nifedipin kerja singkat karena mula kerja yang cepat dapat
menyebabkan terjadinya penurunan tekanan darah yang berlebihan. Obat-obat
ini sebagian besar terikat pada protein plasma (70%-98%) dengan waktu paruh
eliminasi 13-64 jam. Metabolit utama diltiazem adalah desasetil diltiazem
yang mempunyai potensi vasodilatasi kali diltiazem.
Pada pasien sirosis hepatis dan orang tua, sirosis obat perlu dikurangi.
Waktu paruh penghambat kanal Ca2+ mungkin memanjang pada usia lanjut.
Berdasarkan struktur kimianya dibagi menjadi 4 yaitu:
a. Turunan alkilarilamin. Contoh diltiazem, bensiklan hidrogen
fumarat
b. Turunan

fenildihidropiridin.

Contoh

felodipin,

nikardipin,

nifedipin, nimodipin, nilfadipin, lasidin dan amlodipin besilat.


c. Turunan piperazin. Contoh sinarizin dan flunarizin
d. Turunan verapamil. Contoh verapamil HCl, tiapamil, faliamil dan
metoksiverapamil HCl.
E. Antilipemik
Obat antilipemik merupakan obat yang digunakan untuk pengobatan
ateroklorosis. Ateroklorosis yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh
endapan plasma lipid terutama kolesteraol, yang terlokalisasi pada dinding
arteri membentuk plak ateromateus atau atertoma. Koloestertol adalah zat

alamiah dengan sifat fisik serupa lemak tetapi berumus steroid, seperti banyak
senyawa alamiah lainnya. Kolesterol merupakan bahan bangun esensial bagi
tubuh untuk sintesa zat-zat penting, seperti membran sel dan bahan isolasi
sekitar serat saraf, begitu pula hormon kelamin dan anak ginjal, vitamin D
serta asam empedu (Tjay.
Ateroklorosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan penebalan
dan hilangnya elastisitas dinding arteri. Komplikasi terpenting dari
ateroklorosis adalah penyakit jantung koroner, gangguan pembuluh darah
perifer. Penyakit jantung koroner merupakan merupakan penyebab kematian
utama di negara yang telah maju (Tanu, 2007).
Ada beberapa jenis lipoprotein yang sesuai kandungannya lipidnya
umumnya dibagi dalam beberap komponen yaitu sebagai berikut:
-

Chylomicron yang dibentuk di dinding usus dari trigliserida dan


kolesterol berasal dari makanan. Kemudian trigliserida ini dihidrolisa
oleh lipoproteinlipase dan sisanya dieksresi oleh hati. Chylomicron
mengandung 90% trigliserida, memiliki densitas yang paling kecil dan

umumnya tidak ditemukan dalam plasma setelah 12-24 jam puasa.


VLDL (very low density lipoprotein) tersusun dari 60% trigliserida, 12%

kolesterol dan 18% fosfolipid.


IDL (intermediate density lipoprotein) diubah secara cepat oleh

lipoprotein lipase menjadi LDL


LDL (low density lipoprotein) tersusun dari 50% kolesterol dan 10%

trigliserida
HDL (higt densitu lipoprotein) tersusun dari 25% kolesterol dan 50%
protein.

Mekanisme kerja. Secara umum obat antilipemik mempunyai satu


atau lebih mekanisme berikut:
- Menghambat biosintesa kolesterol
- Menurunkan kadar trigliserida dan menghambat mobilitas lemak dengan
cara menghambat aktifitas enzim lipoprotein lipase, memblok kerja
hormon pelepasan asam lemak bebas dan menghambat pelepasan asam
-

lemak bebas pada albumin.


Menurunkan tingkat beta lipoprotein dan pra bera lipoprotein
Menghilangkan plak
Mempercepat eksresi lipid dan menghambat absorpsi kolesterol
Berdasarkan perbedaan struktur kimia obat antilipemik dibagi

menjadi turunan asam klofibrat, turunan asam nikotinat, kopolimer, serat,


penghambat HMG-CoA reduktase.
1. Asam klofibrat
Klofibrat sebagai antilipemik digunakan di Amerika Serikat tahun
1967. Tetapi penggunaannya menurun secara dramatis dan tidak digunakan
lagi karena studi WHO 1978 menunjukkan bahwa waupun terjadi penurunan
kolesterol, obat ini tidak menurunkan kejadian kardiovaskular vatal,
walaupun infark non fatal berkurang. Contoh klofibrat bezafibrat, simfibrat,
fenofibrat dan gemibrozil.
Mekanisme kerja. Sebagai antilipemik obat-obat ini diduga bekerja
dengan cara berikatan dengan reseptor peroximose proliferator akctvated
receptors (PPARs) yang mengatur transkripsi gen. Akibat interaksi ini
dengan PPAR isotipe (PPAR) maka terjadilah peningkatan oksidasi asam
lemak, sintesis LPL dan penurunan ekspresii Apo C-III. Peninggian kadar
LPL menigkatkan klirens lipoprotein yang kaya trigeliserida.

Farmakokinetik. Semua derifat asam klofibrat diabsorbsorpsi lewat


usus secara cepat dan lengkap (>90%) terutama bila diberikan bersama
makanan. Hasil metabolisme obat asam klofibrat dieksresi lewat urin (60%)
dalam bentuk glukuronoid dan 25% lewat tinja.
2. Asam nikotinat
Asam nikotinat (niasin) merupakan salah satu vitamin B-kompleks
yang hingga kini digunakan secara luas di Amerika Seriakt untuk pengobatan
dislipedinia. Asam nikotiniat ini berkhasiat menurnkan LDL dan VLDL
sedangkan HDL dinaikkan. Contoh niasin, asipimoks
Mekanisme kerja. Pada jaringan lemak, asam nikotinat menghambat
hidrolisis trigliserida oleh hormone-sensitive lipase, sehingga mengurangi
transport asam lemak bebas ke hati dan mengurangi sintesis trigliserida hati.
Penurunan sintesis trigliserida ini akan menyebabkan berkurangnya produksi
VLDL sehingga kadar LDL menurun. Kadar HDL meningkat sedikit sampai
sedang karena menurunnya katabolisme Apo AI oleh mekanisme yang belum
diketahui.
3. Kopolimer
Derivat resin merupakan antilipemik yang paling aman karena tidak
diabsopso dalam salaran cerna. Obat-obat ini juga relatif aman digunakan
pada anak. Contoh resin kolestiramin, koleptipol
Mekanisme kerja. Resin menurunkan kadar kolesterol dengan cara
mengikat asam empedu dalam saluran cerna, mengganggu sirkulasi
enterohepatik sehingga eksresi steroid yang bersifat asam dalam tinja

meningkat. Penurunan kadar asam empedu ini oleh pemberian resin akan
menyebabkan meningkatnya produksi asam empedu yang berasal dari
kolesterol. Karena sirkulasi enterohepatik dihambat oleh resin maka
kolesterol yang diabsorpsi lewat saluran cerna akan terhambat dan keluar
bersama tinja.
Efek samping, Obat ini mempunyai rasa tidak enak seperti pasir.
Efek samping tersering ialah mual, muntah, dan konstipasi yang berkurang
setelah beberapa waktu.
4. Penghambat HMG-CoA reduktase
Statin saat ini merupakan hipolipidemik yang paling efektif dan
aman. Obat ini terutama menurunkan kolesterol. Pada dosis tinggi statin juga
dapat menurunkan trigliserida yang disebabkan oleh peniggian VLDL.
Contoh: lovastin, simvastin, mevastin, pravastin fluvastin dan atorvastin.
Mekanisme kerja. Statin bekerja dengan menghambat sintesis
kolesterol dalam hati, dengan menghambat enzim penghambat HMG-CoA
reduktase. Akibat penurunan sintesis kolesterol ini, maka SREBP yang
terdapat pada membran dipecah oleh protease, lalu diangukut ke nukleus.
Farmakokinetik. Semua statin, kecuali lovastatin berada dalam
bentuk -hidroksi. Kedua statin tersebut merupakan prodrug dalam bentuk
lakton dan harus dihidrolisis lebih dahulu menjadi bentuk aktif asam hidroksi. Statin diabsorpsi 40-75%, kecuali fluvastatin yang diabsorpsi
sempurna. Semua obat mengalami metabolisme lintas pertma di hati.

Sebagin besar dieksresi oleh hati ke dalam cairan empedu dan sebagian kecil
lewat ginjal.

3. CONTOH OBAT-OBAT KARDIOVASKULAR


a. Antiaritmia
Prokainamid. Prokainamida merupakan derivate prokain sebagai
antiaritmika

kelas

1A,

memiliki

pola

kerja

mirip

kinidin.

Efek

antikolenergisnya lebih lemah daripada kinidin dan disopiramida. Digunakan


terutama untuk profilaksis dan terapi aritmia ventrikuler. Dosis : oral 2501000 mg setiap 3 jam (klorida), Intravena 0,5-1 g setiap 4-8 jam.

Gambar: struktur prokainamid


Farmakokinetika Prokainamida
Absorpsi. Prokainamida diabsorpsi dengan cepat dan hampir sempurna
setelah pemberian per oral pada orang normal. Kadar puncak dicapai 45-70
menit setelah minum kapsul, tetapi sedikit lebih lambat setelah minum tablet.
Formulasi lepas lambat prokainamida dapat meningkatka lama kerja menjadi
8 jam atau lebih, tetapi bioavailabilitasnya lebih rendah dari kapsul biasa.
Distribusi. Sekitar 20% prokainamida terikat protein dalam plasma.
Obat ini dengan cepat didistribusi ke seluruh jaringan tubuh, kecuali di otak,
dan volume distribusinya adalah sekitar 2 liter per kilogram. Akan tetapi nilai
ini dapat menurun banyak pada pasien gagal jantung atau syok. Kompensasi
terhadap perubahan ini harus diperhitungkan dalam penentuan dosis.
Metabolisme. Metabolisme prokainamida terjadi di hati. Jalur
metabolisme utama prokainamida adalah melalui N-asetilasi oleh enzim N-

asetiltransferase yang pada populasi terdistribusikan secara bimodal. Akan


tetapi ada sistem asetilasi lain yang tidak memperliatkan variasi genetik dan
juga berperan dalam metabolisme prokainamida.
Ekskresi. Prokainamida di ekskresi melalui ginjal. Pada infusiensi
ginjal, 40% atau lebih dosis prokainamida dapat diekskresikan sebagai Nasetil prokainamida (NAPA) dan kadar NAPA dalam plasma dapat menyamai
atau melebih kadar obat asal. Sampai sekitar 70% dari dosis prokainamida
dieliminasi dalam bentuk yang utuh yaitu tidak berubah dalam urin. Obat ini
merupakan basa lemah yang mengalami filtasi, ekskresi dan reabsorpsi di
ginjal. Peningkatan pH urin menyebabkan penurunan ekskresi prokainamida.
b. Vasodilator
Nitrogliserin. Trinitrat dari gliserol ini sebagai mana juga nitrat
lainnya berkhasiat relaksasi otot pembuluh, brohchia, saluran empedu,
lambung usus dan kemih. Berkhasiat vasodilator berdasarkan terbentuknya
nitrogenoksida (NO) dari nitrat di sel-sel dinding pembuluh. NO ini bekerja
merelaksasi sel-sel ototnya, sehingga pembuluh, terutama vena mendilatasi
dengan langsung.
Resorpsinya di usus baik, tetapi mengalaim first past effect amat tinggi
hingga hanya sedikit obat yang mencapai sirkulasi besar. Sebaliknya
abosorpsinya sublingual dan oromukosal cepat sekali karena menghindari firs
past effect.
Efek sampingnya berupa nyeri kepala akibat dilatasi arterial yang
sering kali membatasi dosisnya, yang lebih serius adalah hipotensi ortostasis

dan semaput. Efek samping lainnya terdiri dari pusing-pusing, nauseae,


flushing, disusul dengan muka pucat.
Dosis: pada serangan akut di bawah lidah (sublingual) 0,4-1 mg
sebagai tablet, spray atau kapsul (harus digigit), jika perlu dapat diulang
sedudah 3-5 menit.

Gambar: nitrogliserin
c. Antihipertensi
Propanolol. Propanolol termaksud beta-bloker yang mudah terlarut
dalam lemak. Propanolol diabsorpsi dengan baik dalam saluran cerna
(>90%), tetapi memiliki bioavaibilitas yang sangat rendaah, yaitu 30-40%.
Hal ini dikarenakan propanolol mengalami first past effect di hati sehingga
dosis pemakain peroral lebih besar dibandingkan pemakain iv. Propanolol
memiliki waktu paruh eliminasi yang pendek yaitu 2-6 jam.
Dosis: hipertensi, angina dan aritmia: oral 2-3 dd 40 mg d.c, bila perlu
dinaikkan dengan interval 1 minggu sampai 320 mg sehari.

Gambar: propanolol

d. Antialipemik
Kolesteramin. Kolesteramin berkhasiat menurunkan LDL dan
kolesterol total, berdasarkan pengikatan asam empedu dalam usus halus
menjadi kompleks yang dikeluarkan melalui tinja. Tanpa asam empedu maka
kolesterol tidak diserap lagi.
Efek sampingnya berupa gangguan lambung usus, terutama obtipasi.
Rasanya tidak enak. Resorpsi dari vitamin A, D, E dan K dapat berkurang
begitu pula obat-obat lain yang diminum pada waktu bersamaan, maka
sebaiknya obat-obat ini diminum 1 jam sebelum kolestiramin.
Dosis: permulaan 4 g setengah jam a.c. dicampur dengan kurang
lebih 150 ml air, berangsur-angsur dinaikkan sampai 1-2 dd 8 g.

Gambar: kolesteramin

4. BIOSINTESIS
a. Propanolol

b. Fenotoin
Fenitoin, 5,5-diphenylimidazolidinedione disintesis dalam dua cara
yang berbeda. Yang pertama melibatkan penambahan katalis basa urea
untuk benzil diikuti dengan penataan ulang asam benzilic (1,2 fenil
migrasi) untuk membentuk produk yang diinginkan. Hal ini dikenal
sebagai Sintesis Biltz fenitoin
Metode kedua melibatkan reaksi benzofenon dengan potasium
sianida dengan adanya amonium karbonat, diikuti dengan siklisasi dari
produk yang dihasilkan (carboxyaminonitrile) dan penataan ulang di
bawah kondisi reaksi untuk membentuk fenitoin.

c. Captopril

5. INTERAKSI OBAT
a. Antiaritmia
Kelas IA: kuinidin , prokainamid dan disopriramid
Obat yang menginduksi enzim hati, seperti fenobarbital atau fenotoin,
dapat memeperpendek lama kerja kuinidin dengan cara mempercepat
eliminasinya. Tetapi karena terdapat banyak perbedaan dalam kepekaan
pasien terhadap induksi enzim, maka sulit untuk meramalkan pasien
mana yang terkena. Bila kuinidin deberikan pada pasien yang
mempunyai kadar deberikan pada pasien yang mempunyai kadar
digoksin plasma yang stabil, kadar digoksin akan meningkat dua kali
karena klirensya menurun. Kadang-kadang pada pasien yang sedang
menerima antikoagulan oral terjadi peningkatan waktu protrombin
setelah pemberian kuinidin. Karena kuinidin berkhasiat sebagai penyekat
adrenoresptor , interaksi aditif dapat terjadi bila diberikan bersama
vasodilator atay obat penurun volume plasma. Misalnya nitrogliserin
dapat menimbulkan hipotensi ortostatik yang berat pada pasien yang
sedang mandapat kuinidin. Peningkatan kadar K+ plasma akan

memperbesar efek aritmia kelas 1A terdapat konduksi jantung.


Kelas 1B: lidokain, fenitoin, tokainid dan meksiletin
-bloker dapat mengurangi aliran darah hati pada pasien penyakit
jantung, dan akan menyebabkan penurunan kecepatan metabolisme
lidokain dan meningkatkan kadarnya dalam plasma. Obat-obat yang
bersifat basa dapat menggantikan lidokain dari ikatannya. Kadar lidokain
plasama meninggi pada pasien yang menerima simetidin. Mekanisme
interaksinya ini kompleks dan selama pemberian simetidin perlu
penyesuaian

dosis

lidokain.

Lidokain

dapat

memperkuat

efek

suksinilkolin. Metabolisme meksiletin dapat mempercepat bila diberikan

bersama fenitoin atau rifampisin.


Kelas IC: flekamid, enkainid dan propafenon
Simetidin mengurangi klirens flekainid total sebanyak 13-27% dan
memperpanjang waktu paruh eliminasi pada orang sehat. Pemberian
flekamid bersama digoksin meningkatkan kadar digoksin. Bila diberiakan
bersama propranolol, kadadr kedua obat dalam plasma naik. Walaupun
hasil studi ini berasal dari orang sehat, kombinasi flekainid dengan obat-

obat tersebut di atas pada orang sakit harus dilakukan secara hati-hati.
Kelas III: bretilium, amiodaron, sotalol, dofetilid dan ibutilid,
Amiodaron meningkatkan kadar dan efek digoksin, warfarin, kuinidin,
prokainamid, fenitoin, enkainid, flekainid dan diltiazem. Amiodaron
meningkatkan kecendrungan bradikardia, henti sinus, dan penghambatan
AV bila diberikan bersama -bloker atau menghambat kalsium. Karena
eliminasinya lambat, gejala interaksi dapat bertahan selam beberapa

minggu setalah obat dihentikan.


Kelas IV (antagonis kalsium): verapamil dan diltiazem
Pemberian verapamil bersama -bloker atau digitalis secara aditif dapat
menimbulkan bradikardia atau blok AV yang nyata. Interaksi ini terjadi
pada nodus SA atau nodus AV. Disamping itu verapamil berinteraksi
dengan digoksin dengan cara yang sama dengan interaksi kuinidin
digoksin. Pempeberian verapamil atau diltiazem bersama reserpin atau
metildopa yang dapat mendepresi sinus akan memperhebat bradikardia

sinus.
e. Vasodilator
Tabel: Interaksi obat Vasodilator
No
.

Obat A

Obat B

Mekanisme
Obat A

Mekanisme
Obat B

Efek

1. Hidralazin

Diazoxide

2. Antagonis
Kalsium
(Nifedipin
)

Ergotamin
e

Kaptopril
3. (Kapoten)

Merelaksasi
otot polos
arteriol
sehingga
resistensi
perifer
menurun;
meningkatka
n denyut
jantung,
curah
sekuncup dan
curah
jantung.

Menurunkan
tekanan darah
secara kuat dan
cepat dengan
mempengaruhi
secara langsung
pada otot polos
arterial,sehingga
terjadi penurunan
tekanan perifer
tanpa
mengurangi
curah jantung
atau aliran darah
ke ginjal

Memberikan
efek
yang
sinergis atau
antagonis
karena
mengikat
reseptor yang
sama sehingga
mempengaruh
i
system
fisiologi

Menurunkan
tahanan
perifer
dengan
melemaskan
otot polos
pembuluh
darah, tidak
menimbulkan
depresi pada
miokard dan
tidak
mempunyai
sifat
antiaritmia.
Diuretik
menghambat
kuat
pembentukan
(furosemid, vaso
torasemid, konstriktor
bumetanid yang sangat
dan asam
kuat
etanikrat). (angiotensin
II) dan juga

Menghambat
neuron
serotonergik
sentral yang
memperantaraka
n transmisi nyeri.

Menyebabkan
efek
vasokonstriksi
perifer disertai
iskemia (Efek
sinergis atau
antagonis)

menghambat
perusakan
vasodilator yang
kuat (bradikinin).
menghambat
reabsorpsi
elektrolit Na, K
dan Cl sehingga
ion-ion ini akan

Efek
potensiasi

diekskresikan
bersama dengan
air.

f. Antiangina
Tabel: Interaksi Obat antiangina
Golongan

Contoh Obat

Indikasi

Kontraindikasi

Interaksi
Obat

Produk yang
Beredar

Nitrat
Organik

Nitrogliserin,
Isosorbid

Angina
pectoris,
infarks
jantung,
gagal jantung
kongestif

Efek adiktif
dengan
alkohol, bloker,
CCB, obatobat
antihiperten
si

Lutenyl,
Minitran,
Nitrocine,
Nomegestrol,
Monecto,
vascardin

-bloker oPenghambat
beta
nonselektif
(1
dan
2),
contoh:
propanolol,
pindolol
oPenghambat
1
(selektif),
contoh:
atenolol,
metoprolol

Antiangina,
antidisritmia,
infark
miokardia,
antihipertensi

Hipersensitivit
as, hipotensi
(<80 mmHg),
wanita
hamil,anemia
berat, fase IM
akut,
hipertropik
kardiomiopati
Asma, gagal
jantung
kongestif,
hipotensi,
bradikardia
simptomatik,
DM
dengan
hipoglikemi

CCB

Antiangina
(variant,stabil
kronik, tidak
stabil),
antiaritmia,
antihipertensi

o Nondihydrop
yridin,
contoh:
diltiazem,
verapamil
o Dihydropyrid

Inderal,
Cogard,
Viksen,
Tenormin,
Lopresor.

Bersifat
Cardizem,
aditif: nitrat Calan,
organik
Procardia,
Cardene.

in, contoh: ,
nifedipin,
kardiomiopat
nikardipin
ik hipertopi

g. Antilipemik
1. Golongan Asam Fibrat
- Klofibrat-Rifampisin (Rifampin)
Kadar

plasma

dari

metabolit

aktif

Klofibrat

(Chlorophenoxyisobutiric acid asam CIPB) mengalami penurunan


karena rifampisin menaikkan metabolisme asam CIPB . Penanganannya
dapat dilakukan dengan menaikkan dosis klofibrat
-

Klofibrat + Probenesid
Kadar serum klofibrat meningkat oleh adanya Probenesid hal ini

karena probenesid mengurangi clearens ginjal dan clearens metabolit


dengan menghambat proses konjugasi dengan as.glukoronat

Pemberian klofibrat bersama kolestiramin (gol.resin) sedikit


menunda tercapainya kadar puncak plasma.

Klofibrat menggeser antikoagulan oral dari ikatannya dengan


albumin dan memperkuat efek obat antikoagulan (warfarin)

Meningkatkan konsentrasi plasma dari beberapa inhibitor HMGCoA (pravastatin)

Efek hipoglikemik insulin (misalnya, sulfonilurea, meglitinides)


dapat diperkuat oleh obat-obatan golongan fibrate sehingga perlu
penurunan dosis dari hipoglikemik.

2. Resin

Kolestiramin dan kolestipol mengganggu absorpsi vitamin A, D dan K


karena gangguan absorpsi lemak. Obat ini mengganggu absorpsi
klorotiazid, tiroksin, kortikosteroid oral, metronidazole,

pravastatin, dan

furosemid, sehingga obat-obat ini harus diberikan 1 jam sebelum atau 4


jam sesudah kolestiramin atau kolestipol
3. Penghambat HMG-CoA Reduktase
Tabel: interaksi obat penghambat HMG-CoA Reduktase
substrat
CYP3A4
Atorvastatin,
simvastatin,
lovastatin

Glukoronil
transferase
Simvastatin,
atrovastatin,
lovastatin
P-glikoprotein
Pravastatin,
rosuvastatin

Antaraktan

Efek

Penghambat
Ketokonazol,
itrakonazol,
eritromisin,
klaritromisin,
diltiazem,
verapamil
Penghambat
Gemfibrozil, asam
nikotinat

Peningkatan
substratmiopati
dan rabdomiolisis)

kadar
(miolisis

Penghambat
Siklosporin

Penurunan ekskresi statin


melalui
empedu

peningakata kadar statin


miopati
(miolisis
dan
rabdomiolisis)
Penurunan kadar plasma
statin

Peningakata kadar statin


rabdomiolisis

CYP3A4
Fluvastatin,
simvastatin
Kumarin

Penginduksi
rifampisin
simvastatin

Simvastatin
menghambat
enzim
metabolisme
kumarinmemperpanjang
waktu protrombin

Simvastatin

imatinib

Imatinib meningkatkan kadar


serum
simvastatin,
meningkatkan
resiko
toksisitas.

Simvastatin

bosentan

Bosentan mengurangi AUC


simvastatin dan metabolit
aktifnya, sehingga dapat
menyebabkan
penurunan
keberhasilan simvastatin.

4. Asam nikotinat
- Menyebabkan miopati dan rhabdomyolysis dengan penggunaan
bersama inhibitor HMG-CoA (statin). Kombinasi dengan leflunomide
-

dapat menyebabkan risiko luka hati.


Aspirin dapat mengurangi reaksi kemerahan yang sering terjadi dengan
asam nikotinay, tetapi juga bisa meningkatkan konsentrasi asam
nikotinat

h.

6. OBAT PILIHAN
a. Antihipertensi
Pilihan pertama yang dianjurkan adalah diuretika dengan dosis yang
sekecil mungkin. Efek samping hipokalemia dapat diatasi dengan pemberian
suplemen kalium atau pemberian diuretika potassium-sparing seperti
triamteren dan amilorida. Kemungkinan terjadinya hipotensi postural dan
dehidrasi hendaknya selalu diamati. Jika diuretika ternyata kurang efektif,
pilihan selanjutnya adalah obat-obat antagonis beta-adrenoseptor.
b. Antiangina dan antiaritmia
Untuk penderita angina atau aritmia, beta blocker cukup bermanfaat
sebagai obat tunggal, tetapi jangan diberikan pada pasien dengan kegagalan
ginjal kongestif, bronkhospasmus, dan penyakit vaskuler perifer. Pengobatan
dengan beta-1-selektif yang mempunyai waktu paruh pendek seperti
metoprolol 50 mg 1-2x sehari juga cukup efektif bagi pasien yang tidak
mempunyai kontraindikasi terhadap pemakaian beta-blocker. Dosis awal dan
rumat hendaknya ditetapkan secara hati-hati atas dasar respons pasien secara
individual.
c. Vasodilator
Keadaan ischemia jantung pada angina pectoris dapat diobati dengan
vasodilator koroner yang merupakan obat pilihan pertama dan zat-zat yang
mengurangi

kebutuhan

jantung

akan

oksigen.

Vasodilator

koroner

memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukkan darah serta oksigen


dan dengan demikian meringankan beban jantung. Pada serangan akut obat
pilihan utama adalah nitrogliserin (sublingual) dengan kerja pesat tetapi

singkat. Sebagai terapi interval guna mengurangi frekuensi serangan tersedia


nitrat log-acting, antagonis Ca dan dipiridamol.
d. Antilipemik
Bila diet tidak cukup untuk mengurangi kolesterol maka statin
merupakan pilihan pertama untuk menurunkan total dan LDL kolesterol pada
hiperkolesterolemia primer dan familiat dan demikian dapat mengurangi
insiden gangguan koroner dan kematian

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi, Edisi II. Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Kee, Joyce L dab Hayes, Everlyn R. 1996. Farmakologi Proses Keperawatan.
Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Ronny, Setyawan, dan Fatimah, S. 2008. Fisiologi Kardiovaskular: Berbasis
Masalah Keperawatan. Buku kedokteran EGC. Jakarta.
Tanu. 2007. Farmakologi dan Terapi. FKUI. Jakarta.
Tjay, T. H. dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Edisi VI. Elex Media
Komputindo. Jakarta.