Anda di halaman 1dari 10

17

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep










Gambar 3.1 Kerangka Konsep


B. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Terdapat perbedaan nilai kelarutan Ca gigi dengan aplikasi CPP-ACFP
dan tanpa aplikasi CPP-ACFP pada minuman berperisa asam.
2. Terdapat perbedaan besar porositas email pada gigi dengan aplikasi CPP-
ACFP dan tanpa aplikasi CPP-ACFP.
Variabel terikat:
Kelarutan Ca gigi desidui
Variabel bebas:
Aplikasi CPP-ACFP
pada gigi desidui
Variabel terkendali:
1. Gigi insisivus desidui
2. Lama aplikasi CPP-ACFP
3. Lama pengaliran gigi dalam
saliva buatan
4. pH minuman berperisa asam

Variabel tidak terkendali:
1. Usia gigi desidui
2. Kandungan / kualitas gigi
desidui
3. Kandungan zat lain dalam
minuman berperisa asam
18



C. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan
penelitiannya yaitu post test only group design (Notoatmodjo, 2002).

D. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan pada bulan Oktober-
November 2013. Tempat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto
2. Laboratorium SEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
ITB Bandung

E. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas: Aplikasi CPP-ACFP pada gigi desidui
2. Variabel Terikat: Kelarutan Ca gigi desidui
3. Variabel Terkendali:
a. Gigi Insisivus desidui, dengan maksimal waktu pencabutan 3 bulan.
b. Lama aplikasi CPP-ACFP 5 menit, sesuai dengan prosedur pemakaian
dari pabrik.
c. Lama waktu pengaliran saliva.
19



d. pH minuman berperisa asam yaitu 2,98 (hasil penelitian pendahuluan
yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan minuman berperisa
asam yang paling banyak digemari anak-anak).
4. Variabel tidak Terkendali
a. Umur gigi
b. Komposisi / kualitas gigi
c. Kandungan zat lain dalam minuman berperisa asam

F. Definisi Operasional
Definisi operasional yang terdapat pada penelitilan ini adalah seperti
yang tercantum pada tabel berikut (Tabel 3.1).
Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi operasional Skala Keterangan
CPP-ACFP Agen remineralisasi
yang terbuat dari
derivat kasein susu
yang mengandung Ca,
fosfat dan fluor dalam
bentuk NaF 0,2%.

Nominal ya atau tidak
Kelarutan Ca Terjadinya proses
demineralisasi yang
ditandai dengan
lepasnya ion Ca dari
struktur email gigi.

Rasio ppm
Minuman
berperisa asam
Minuman sari buah
dengan tambahan
perisa untuk
menyempurnakan rasa.
Rasio ml


20



G. Sampel Penelitian
1. Perhitungan Sampel
Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok A
gigi desidui dengan aplikasi CPP-ACFP dan kelompok B gigi desiudui
tanpa aplikasi CPP-ACFP sebagai kontrol. Penentuan jumlah sampel
menggunakan rumus Federer, yaitu sebagai berikut.
(t-1) x (r-1) 15
(2-1) x (r-1) 15
r-1 15
r 16
Keterangan:
t : Jumlah perlakuan dalam penelitian
r : jumlah perlakuan ulang (sampel)
Jumlah perlakuan ulang (r) yang digunakan adalah 16 untuk
masing-masing kelompok, sehingga jumlah sampel yang diteliti sebanyak
32 sampel.
2. Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi
1) Gigi insisivus desidui dengan mahkota yang utuh
2) Gigi masih memiliki akar utuh maupun sedikit akar
b. Kriteria Eksklusi
1) Gigi yang mengalami karies / kavitas
21



2) Gigi yang sudah pernah ditumpat
3) Gigi mengalami erosi yang tampak secara klinis

H. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer yaitu
data diambil secara langsung di laboratorium, berupa kelarutan Ca pada gigi
desidui dan hasil karakterisasi mikrostruktur SEM.

I. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Bahan
a. Gigi insisivus bebas karies
b. Pumis untuk membersihkan permukaan gigi
c. Larutan salin (NaCl 0,9%) untuk menyimpan gigi setelah pencabutan
d. Saliva buatan pH 6,8 untuk mengaliri gigi sebelum dan sesudah
aplikasi CPP-ACFP
e. Bahan CPP-ACFP
f. Minuman berperisa asam pH 2,98
2. Alat
a. Scaller untuk membersihkan deposit maupun kalkulus dari gigi
22



b. Brush untuk membersihkan permukaan gigi sebelum aplikasi CPP-
ACFP
c. Resin akrilik untuk fiksasi subjek penelitian saat proses pengaliran
saliva dan minuman berperisa asam
d. Stopwatch sebagai petunjuk waktu
e. Microbrush untuk aplikasi CPP-ACFP
f. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) sebagai alat uji kelarutan Ca
g. Incubator Modification With Saliva (IMWS), dapat dilihat pada
gambar di bawah ini (Gambar 3.2).


Gambar 3.2 Incubator Modification with Saliva


23



J. Rancangan Penelitian
Prosedur penelitian ini meliputi tahap persiapan, tahap perlakuan, dan
tahap pengamatan.
1. Tahap Persiapan
Gigi insisivus desidui sebanyak 32 yang bebas karies disimpan
dalam larutan salin sampai dilakukan penelitian. Gigi dibersihkan dari
kalkulus dengan menggunakan scaller, kemudian disikat dengan
menggunakan brush yang diberi pasta pumis dicampur air agar gigi
menjadi bersih dari debris.
Fiksasi gigi dengan menggunakan resin akrilik pada bagian akar
hingga mencapai CEJ sebagai pegangan untuk proses pengaliran bahan.
Sampel disusun menjadi 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri
dari 16 gigi. Sampel dialiri saliva buatan selama 24 jam yang sesuai
dengan laju aliran saliva secara fisiologis, yaitu pada suhu 37C dengan
kecepatan 1 ml/menit selama 16 jam dan diturunkan menjadi 0,5 ml/menit
selama 8 jam. Pengaliran saliva dilakukan dengan menggunakan Alat
inkubator hasil modifikasi (Gambar 3.2). Berikut gambar skema tahap
persiapan yang akan dilakukan (Gambar 3.3).




24










Gambar 3.3 Tahap Persiapan

2. Tahap Perlakuan
a. Sampel
Sampel pada kelompok A dikeringkan, lalu diaplikasikan CPP-
ACFP dengan menggunakan micro brush pada seluruh permukaan
gigi, diamkan selama 5 menit. Setelah aplikasi CPP-ACFP gigi dibilas
dengan aqudes dan kembali dialiri saliva buatan di dalam IMWS.
Sampel pada kelompok B hanya dialiri saliva buatan. Proses ini
diulang setiap hari selama 2 minggu pada masing-masing kelompok.
b. Minuman berperisa asam
Pembutan minuman berperisa asam dilakukan dengan cara
mencampurkan serbuk 14 g (1 sachet) dengan aquades sebanyak 250
ml, sehingga didapatkan konsentrasi 5,6%. Larutan diaduk hingga
homogen, lalu dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan pH
Gigi difiksasi menggunakan resin
akrilik pada bagian akar hingga
mencapai CEJ
Pengaliran saliva buatan selama 24
jam, sesuai kondisi fisiologis manusia
Kelompok B
(16 gigi)
Kelompok A
(16 gigi)
Sampel dibersihkan
25



meter. Masukkan minuman berperisa asam ke dalam tabung
penampungan bahan pada IMWS.
c. Pengaliran
Sampel yang sudah disiapkan selama 2 minggu (kelompok A
dan B) dialiri minuman berperisa asam sebanyak 250 ml dalam waktu
5 menit. Pengaliran minuman berperisa asam diulang selama 3 hari
pada masing-masing kelompok. Tahap perlakuan secara singkat
digambarkan pada gambar berikut ini (Gambar 3.4).









Gambar 3.4 Tahap Perlakuan
3. Tahap Pengamatan
Minuman berperisa asam pasca pengaliran sampel diuji kandungan
kalsium (Ca) dengan menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom
(SSA). Kelarutan Ca yang dilihat adalah kelarutan Ca total selama 3 hari
pengaliran, kelarutan Ca setiap pada hari pertama hingga hari ketiga
Diulang selama 2
minggu
Minuman berperisa asam dengan pH
2,98 dialirkan pada gigi selama 5
menit diulang 3 hari
Aplikasi CPP-ACFP
didiamkan selama 5
menit
Gigi dialirkan saliva
Kelompok A Kelompok B
26



pengaliran, dan kelarutan Ca pada setiap menit dari menit pertama hingga
menit keempat pengaliran. Data yang didapatkan berupa nilai dengan
satuan ppm. Bandingkan hasil kelarutan Ca antara kelompok A dan B.
Masing-masing kelompok diambil perwakilan sampel untuk
dilakukan uji karakterisasi mikrostruktur dengan menggunakan Scanning
Electron Microscopy (SEM). Kelompok A dilihat 2 sampel yaitu sebelum
dan sesudah pengaliran minuman berperisa asam, begitu juga dengan
kelompok B.

K. Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan Software Statistical
Package the Social Sciences (SPSS) versi 19. Data yang diperoleh dianalisis
secara statistik, berupa uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk sebagai
syarat uji perbandingan untuk melihat perbedaan kelarutan Ca pada kelompok
A dan B. Data yang diperoleh terdistribusi normal (p>0,05) maka dilakukan
uji perbandingan menggunakan Independent t-test.