Anda di halaman 1dari 21

9

TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini akan dibahas tentang remaja dan resiliensi. Pada sub bab
remaja akan dibahas tentang pengertian dan karakteristik remaja, rentang usia
remaja, perubahan yang terjadi pada masa remaja dan permasalahan yang
dihadapi remaja. Pada sub bab resiliensi akan dibahas tentang pengertian
resiliensi, faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi, perkembangan resiliensi
pada individu, penelitian tentang resiliensi dan pengukuran resiliensi.
Remaja
Pada sub bab remaja akan dibahas tentang pengertian dan karakteristik
remaja serta rentang usia remaja. Dalam sub-sub bab perubahan yang terjadi
pada masa remaja akan dibahas perubahan fisik, perubahan kognitif dan
perubahan psikososial. Selanjutnya akan dibahas pula tentang permasalahan
yang dihadapi remaja.
Pengertian dan Karakteristik Remaja
Remaja atau dalam bahasa Inggris disebut adolescence, berasal dari
bahasa Latin adolescere yang artinya tumbuh untuk mencapai kematangan.
Bangsa primitif memandang masa puber dan masa remaja tidak berbeda dengan
periode lain dalam rentang kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila
sudah mampu bereproduksi (Ali dan Asrori 2009).
Istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup
kematangan mental. emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini didukung oleh
Piaget, yang mengatakan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah masa
usia di mana terjadi integrasi individu ke dalam kelompok masyarakat dewasa
yang mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas
(Hurlock 1993). Menurut Steinberg (1993) masa remaja merupakan suatu masa
yang menyenangkan dalam rentang kehidupan manusia, mereka menjadi
individu yang telah dapat membuat keputusan-keputusan yang baik bagi dirinya
sendiri dipandang telah mampu untuk bekerja serta mempersiapkan perkawinan.
Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam
perkembangan individu karena merupakan jembatan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa. Masa ini disebut sebagai masa peralihan karena individu yang
berada pada masa ini akan meninggalkan sikap dan tingkah laku yang biasa
ditampilkan pada masa kanak-kanak dan mulai belajar menyesuaikan diri dengan
tata cara hidup orang dewasa (Ali dan Asrori 2009).
10

Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang


dewasa. Hal tersebut dikemukakan oleh Erikson, yang diacu dalam Hurlock
(1993) yang menamakan proses tersebut sebagai proses pencarian diri sendiri.
Monks (1989) diacu dalam Ali dan Asrori (2009) juga mengungkapkan hal
senada yaitu bahwa remaja sebetulnya tidak memiliki tempat yang jelas. Mereka
sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima
secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja
seringkali dikenal dengan fase mencari jati diri atau fase topan dan badai.
Fase topan dan badai (storm and stress) ini juga digunakan oleh Stanley Hall
yang terkenal sebagai bapak studi ilmiah remaja. Konsep Hall tentang remaja
ditandai sebagai masa goncangan yang penuh dengan konflik dan perubahan
suasana hati (Santrock 2003).
Beberapa karakteristik remaja adalah (1) keadaan emosi yang labil (2)
sikap menentang dan orang lain maupun orang dewasa lainya (3) pertentangan
dalam dirinya menjadi sebab pertentangan dengan orang tuanya (4)
eksperimentasi atau keinginan yang besar dari remaja untuk melakukan kegiatan
orang dewasa yang dapat ditampung melalui saluran ilmu pengetahuan (5)
eksplorasi atau keinginan untuk menjelajahi lingkungan alam sekitar yang sering
disalurkan melalui penjelajahan atau petualangan (6) banyaknya fantasia atau
khayalan dan bualan (7) kecenderungan membentuk kelompok dan melakukan
kegiatan berkelompok (Gunarsa dan Gunarsa, 1995).

Rentang Usia Remaja
Masa remaja menunjukkan masa transisi dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa. Batas usia tidak dirinci dengan jelas dan terdapat beberapa
perbedaan dalam menentukan rentang usia remaja. Menurut Atkinson (1983),
remaja berada dalam rentang usia 12 sampai dengan akhir belasan tahun ketika
pertumbuhan jasmani hampir selesai, sedangkan menurut Hurlock (1981) usia
remaja adalah 12 18 tahun.
Menurut Monks (2000), rentang usia remaja adalah antara 12 sampai
dengan 21 tahun, sedangkan menurut Stanley Hall, remaja berada dalam
rentang usia 12 23 tahun (Santrock, 2003). Seifert dan Hoffnung (1987)
menyatakan usia remaja berkisar antara 12 20 tahun. Dari beberapa pendapat
para ahli tersebut, terlihat bahwa usia permulaan remaja adalah sama yaitu 12
11

tahun, namun ada perbedaan dalam menentukan usia akhir dalam rentang masa
remaja (Desifa, 2010). Sedikit berbeda, Davidoff mengatakan bahwa rentang
usia remaja berada dalam kisaran 13 18 tahun yang ditandai dengan
perubahan yang pesat dalam dimensi fisik (tubuh), kematangan seksual,
kemampuan kognitif serta harapan dan permintaan dari keluarga, teman dan
masyarakat yang juga berbeda dari sebelumnya (Davidoff 1981).

Perubahan yang Terjadi Pada Masa Remaja
Pada masa remaja inilah terjadi perubahan yang pesat, baik perubahan
secara fisik, kognitif maupun sosial emosional (Seifert dan Hoffnung 1987).
Begitu pula menurut Papalia, Olds dan Feldman (2008) bahwa masa remaja
merupakan masa transisi seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa
dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, kognitif dan psikososial.
Perubahan dalam perkembangan seorang remaja merupakan hasil dari
proses biologis (fisik), kognitif dan sosial yang saling terjalin secara erat. Proses
sosial membentuk proses kognitif, proses kognitif mengembangkan atau
menghambat proses sosial dan proses biologis juga mempengaruhi proses
kognitif. Oleh karenanya semua itu harus dilihat sebagai satu kesatuan yang
utuh dari diri seorang manusia yang terintegrasi, yang hanya mempunyai satu
badan dan satu jiwa yang saling tergantung (Santrock 2003). Perubahan yang
terjadi pada remaja, antara lain adalah: 1) perubahan fisik, 2) perubahan kognitif
dan 3) perubahan psikososial.
Perubahan fisik. Pada aspek fisik, seorang anak yang mulai memasuki
periode remaja, ditandai dengan terjadinya pubertas. Pubertas ini
mengakibatkan pertumbuhan pada tinggi dan berat badan, perubahan pada
bentuk dan proporsi tubuh serta kematangan organ seksual. Perubahan fisik
pada masa pubertas termasuk pertumbuhan payudara, tumbuhnya bulu ketiak
dan bulu pubik, perubahan suara yang lebih berat serta perkembangan otot-otot.
Selain itu, kematangan organ reproduksi mengakibatkan terjadinya menstruasi
pertama kali pada wanita serta produksi sperma pada pria (Papalia et al. 2008).
Produksi kelenjar hormonal bagi sementara remaja juga dapat
menyebabkan timbulnya jerawat pada bagian wajah yang seringkali
menimbulkan kegelisahan, terutama pada remaja putri. Pertumbuhan fisik yang
cepat pada remaja sangat membutuhkan zat-zat pembangun yang diperoleh dari
makanan sehingga remaja pada umumnya memiliki nafsu makan yang tinggi (Ali
12

dan Asrori 2009). Masa pubertas dan menarche (menstruasi pertama)


seringkali dideskripsikan sebagai peristiwa utama dalam sejarah kehidupan
remaja. Secara mendasar, pandangan ini mengisyaratkan bahwa perubahan
pada masa puber dan kejadian-kejadian seperti menarche menyebabkan
perbedaan tubuh yang menuntut perubahan yang cukup bermakna dalam
konsep diri, yang mungkin dapat menyebabkan krisis identitas (Santrock 2003).
Perubahan kognitif. Perubahan dari masa kanak-kanak menjadi remaja
akan membuat perubahan pada kemampuan kognitifnya yang sering
diungkapkan oleh Piaget sebagai tahap formal operational. Pada tahap ini,
remaja membangun kapasitasnya untuk menggunakan alasan-alasan ilmiah dan
menjelaskan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam membuktikan sebuah
hipotesis serta menjelaskan sesuatu yang sifatnya abstrak. Hasilnya, pemikiran
dan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah jauh lebih baik ketimbang
beberapa tahun sebelumnya saat masih berada dalam tahap concrete-
operational (Hall 1983). Menurut teori Moral Reasoning Kohlberg, remaja
berada dalam tahapan perkembangan Conventional Stage dimana moral yang
baik tercapai jika seseorang disukai oleh orang lain (interpersonal conformity)
dan jika moral baik tersebut sah atau legal sesuai dengan hukum atau aturan
yang berlaku (law and order) (Hastuti 2008). Pada tahapan ini, remaja
cenderung untuk mendukung konvensi sosial, mendukung status quo dan
melakukan hal yang benar untuk mematuhi peraturan atau untuk membuat orang
lain merasa senang (Papalia et al. 2008).
Perubahan psikososial. Menurut teori perkembangan psiko-seksual
yang dikemukakan oleh Sigmund Freud dikenal adanya 5 tahapan yaitu: (1) oral,
(2) anal, (3) phallic, (4) laten, (5) genital. Dalam hal ini remaja termasuk ke
dalam tahapan kelima, yaitu tahapan genital yang berlangsung mulai masa puber
yang ditandai dengan keinginan seksual yang mulai bangkit (Seifert dan
Hoffnung 1987). Adapun berdasarkan tahapan psiko-sosial dari Erik Erikson
yang dikenal dengan Eriksons the Psychosocial Stages, remaja termasuk dalam
tahapan identity versus identity confusion. Pada tahap ini remaja berada dalam
tahapan pencarian identitas diri dengan mengintegrasikan beragam identitas
yang mereka bawa sejak masa anak-anak menjadi suatu identitas yang semakin
lengkap. Dalam tahap perkembangan ini, sebagian besar remaja menghabiskan
lebih banyak waktu bersama dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang
13

tua. Remaja mendapatkan sumber afeksi, simpati, pengertian dan bimbingan


moral dari teman sebayanya (Papalia et al. 2008). Berdasarkan teori belajar
sosial (social learning theory) dari Albert Bandura, dinyatakan bahwa anak-anak
belajar bersosialisasi melalui pengamatannya pada orang lain. Melalui belajar
dengan melakukan observasi ini (imitasi atau meniru), anak secara kognitif
mempresentasikan tingkah laku orang lain yang kemudian tingkah laku ini
diadopsi ke dalam tingkah laku dirinya sendiri. Dalam perkembangan sosial ini
diperlukan adanya self efficacy, yaitu kepercayaan akan adanya kemampuan diri
untuk menghasilkan hal-hal yang positif. Selain itu diperlukan juga kepercayaan
diri (confidence) dengan cara meyakinkan diri sendiri untuk dapat mengatasi atau
melakukan suatu tindakan (Puspitawati 2009). Bagi seorang remaja yang
sedang dalam masa pencarian identitas diri, kepercayaan diri dan memahami jati
diri memegang peranan yang amat penting agar kelak dapat memainkan peran
sosial yang positif dalam masyarakat (Hastuti 2008). Banyak kasus
menunjukkan bahwa anak remaja yang kehilangan jati diri akan melakukan
perbuatan yang antisosial untuk menunjukkan eksistensi dirinya agar diakui oleh
lingkungannya (Puspitawati 2009). Kemampuan lain yang tidak kalah pentingnya
adalah kemampuan untuk menghadapi situasi atau tantangan yang sulit yang
ditemui remaja dalam rentang kehidupannya. Dalam hal ini diperlukan sebuah
proses adaptasi yang kemudian dikenal dengan resiliensi.
Permasalahan yang dihadapi Remaja
Adanya perubahan-perubahan yang dialami oleh remaja dan juga
perubahan lingkungan yang menuntut remaja untuk menjadi dewasa seperti yang
diharapkan lingkungan dapat membuat remaja mengalami kebingungan yang
pada awalnya hanyalah permasalahan pribadi, namun akhirnya dapat
berkembang menjadi masalah sosial. Santrock (2003) menyebut sebuah istilah
abnormal behaviour atau tingkah laku abnormal yang berarti sebuah tingkah laku
yang mal-adaptif serta berberbahaya dan bukan sekedar tingkah laku yang
berbeda dengan orang lain pada umumnya. Tingkah laku seperti ini tidak
mampu mendukung kesejahteraan, perkembangan dan pemenuhan masa
remaja.
Tingkah laku mal-adaptif antara lain seperti bunuh diri, mengalami
depresi, memiliki keyakinan yang aneh dan tidak rasional, menyerang orang lain
(berkelahi/tawuran), mengalami ketergantungan pada obat-obatan terlarang.
Tingkah laku abnormal seperti ini mempengaruhi kemampuan remaja untuk
14

dapat berfungsi secara efektif dan juga dapat membahayakan orang lain
(Santrock 2003).
Permasalahan lain yang kerap terjadi adalah konflik dengan orang tua.
Konflik yang paling sering terjadi dalam keluarga biasanya ditemui pada saat
anak dalam keluarga tersebut berada di awal masa remaja ketika emosi negatif
mencapai puncaknya. Akan tetapi konflik akan semakin intens pada
pertengahan masa remaja (Papalia, Olds dan Feldman 2008). Dalam
penelitiannya, Aufseeser, Jekjelek dan Brown (2006) menyatakan bahwa remaja
usia 15 tahun paling sering ditemukan kesulitan dalam hal menceritakan hal-hal
yang mengganggu dirinya pada ayah maupun ibunya.

Resiliensi
Pada sub bab resiliensi akan dibahas tentang pengertian resiliensi, faktor-
faktor yang mempengaruhi resiliensi, perkembangan resiliensi pada individu,
penelitian tentang resiliensi dan pengukuran resiliensi. Lingkungan keluarga
sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi dibahas juga dalam sub-
sub bab tersendiri dengan mempertimbangkan kedalaman dan keluasan variabel
ini. Dalam sub-sub bab penelitian tentang resiliensi juga akan dibahas tentang
penelitian berdasarkan jenis kelamin dan juga penelitian yang berlatar belakang
budaya.
Pengertian Resiliensi
Resiliensi didefinisikan dengan beberapa cara yang berbeda. Semua
definisi resiliensi meliputi kapasitas untuk menghadapi tantangan dan
kesanggupan untuk menghadapi berbagai kesulitan. Sebagian besar definisi
menekankan bahwa resiliensi bukan sekedar atribut yang menetap, tetapi
merupakan sebuah proses yang dipengaruhi oleh keputusan harian (Masten
2001 diacu dalam LaFromboise et al. 2006).
Menurut Kalil (2003), resiliensi adalah sebuah proses dinamis yang
mengarah pada adaptasi positif dalam menghadapi situasi yang sulit Definisi ini
tidak hanya berimplikasi pada tindakan individu menghadapi situasi sulit agar
memperoleh kesejahteraan, namun juga bagaimana individu tersebut
menunjukkan kompetensinya dalam menghadapi kesulitan atau tantangan
tersebut. Resiliensi dapat diartikan sebagai kemampuan mengembalikan diri dari
kesulitan dan perubahan yang terjadi kepada fungsi sebelumnya dan bergerak
15

maju menuju perbaikan. Orang yang dikatakan resilien dapat mengatasi dan
beradapatasi secara efektif terhadap tekanan dan tantangan yang dihadapi serta
belajar dari pengalamannya agar dapat mengelola sebuah situasi secara efektif,
dan mampu mengatasi tekanan dan tantangan di masa yang akan datang.
Tabel 1. Definisi resiliensi menurut beberapa sumber
Teori Sumber Definisi

Gail Wagnild
and Heather
Young
Wagnild, G., & Young, H. (1993).
Development and psychometric
evaluation of the Resilience Scale.
Journal of Nursing Measurement,
1(2), 165-178

Keberhasilan seseorang untuk
mengatasi perubahan atau
ketidakberuntungan
Montheit &
Gilboa
Hutapea EA. 2010. Gambaran
resiliensi pada mahasiswa perantau
tahun pertama perguruan tinggi di
asrama UI: menggunakan
resilience scale. Tesis UI

Karakteristik seseorang untuk
mengembangkan kemampuan
beradaptasi terhadap situasi-
situasi berat dalam hidupnya
Michael
Ungar
Ungar M. 2008. Resilience across
culture. British Journal of Social
Work 38, 218-235
Kemampuan individu untuk
mengatasi kesulitan dan
melanjutkan perkembangan
normalnya seperti semula

Ariel Kalil Kalil A. 2003. Family Resilience
and Good Child Outcomes.
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc
Sebuah proses dinamis yang
mengarah pada adaptasi positif
dalam mengahadapi situasi sulit
dan bergerak menuju perbaikan

Edith
Grothberg
Grothberg, E. 1995. A Guide to
Promoting Resilience in Children.
The Hague: Benard van Leer
Voundation
http://resilnet.uiuc.edu/library/grotb9

Kapasitas individu untuk
menghadapi, mengatasi bahkan
menjadi lebih kuat dalam
tekanan hidup yang sulit
Bonnie
Benard
Benard B. 2004. The Foundations
of the Resiliency Framework
From Research to Practice
http://www.resiliency.com/htm/

Kemampuan untuk bangkit
kembali dari kondisi yang sulit
Froma Walsh Walsh, F. (2006) Strengthening
Family Resilience (Second Edition).
New York: The Guilford Press
http://winnebago.uwex.edu/files/201
1/03/FR-KeystoResilience.pdf
kemampuan untuk pulih dari
kesulitan dan melakukan
perubahan positif untuk
mengatasi tantangan secara
lebih efektif

Menurut Ungar (2008), resiliensi memiliki makna sebagai suatu
kemampuan individu untuk mengatasi kesulitan dan melanjutkan perkembangan
normalnya seperti semula. resiliensi dapat dipahami dengan pemahaman
sebagai berikut, pertama, mengarahkan (navigate) sumberdaya fisik, psikologi
dan sosial budaya untuk mempertahankan kesejahteraan dan kedua,
16

merundingkan (negotiate) sumberdaya yang dimiliki tersebut untuk memperoleh


sesuatu yang bermakna secara budaya. Wagnild dan Young (1993) menyatakan
bahwa resiliensi adalah keberhasilan untuk dapat mengatasi perubahan atau
ketidakberuntungan atau dengan kata lain resiliensi adalah kemampuan untuk
bangkit dan melanjutkan kehidupan setelah jatuh dan terpuruk.
Dari sejumlah definisi yang ada, definisi resiliensi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk mampu bertahan
dalam situasi yang kurang menguntungkan atau penuh tekanan dan menjalani
hidup secara positif bahkan lebih baik dari sebelumnya. Resiliensi itu sendiri
dapat diprediksi dengan memperhatikan faktor-faktor protektif yang dimiliki oleh
seseorang. Hal ini pernah dilakukan oleh Kaya (2007) pada siswa sekolah dasar
di Regional Boarding Elementary School Ankara.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi
Menurut Barankin dan Khanlou (2009) ada dua hal yang harus
diperhatikan untuk memahami resiliensi. Kedua faktor tersebut adalah faktor
resiko (risk factor) dan faktor protektif (protective factor). Faktor protektif
merupakan faktor yang bersifat menunda, meminimalisir bahkan menetralisir
hasil akhir yang negatif. Faktor protektif juga membantu melindungi anak dan
remaja dari efek-efek negatif faktor resiko.
Faktor resiko terdapat pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat,
yang merupakan prediktor awal dari sebuah hasil yang tidak menguntungkan dan
sesuatu yang membuat orang menjadi rentan (Kaplan 1999) atau variabel yang
mengarah pada ketidakmampuan (Rutter 1990) atau mediator yang
menyebabkan terjadinya perilaku bermasalah (Luthar 1999 yang diacu dalam
Kalil 2003). Alimi (2005) menyatakan bahwa faktor resiko adalah variabel-
variabel yang secara langsung bisa memperbesar dosis potensi resiko bagi
individu dan sekaligus meningkatkan kemungkinan berkembangnya perilaku dan
gaya hidup yang mal-adaptif. Beberapa hal yang termasuk dalam faktor resiko
adalah: kemiskinan (status sosial ekonomi yang rendah), ketidaknyamanan
akibat perubahan fisik yang terjadi, penerimaan yang rendah dari peers, efek
kumulatif dari ketidakberuntungan, adanya hambatan dalam perkembangan.
Secara umum, Gizir (2004) mengelompokkan faktor resiko menjadi tiga
kelompok besar berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu yaitu yang berasal
17

dari individu, keluarga dan lingkungan. Faktor resiko yang berasal dari individu
antara lain seperti kelahiran prematur, penyakit kronis atau kejadian buruk yang
dialami dalam kehidupannya. Faktor resiko yang berasal dari keluarga antara
lain seperti penyakit yang dialami orang tua, perceraian atau perpisahan orang
tua, orang tua tunggal, dan ibu yang masih remaja, sedangkan yang termasuk
faktor lingkungan antara lain adalah status sosial ekonomi yang rendah,
peperangan, kesulitan ekonomi dan kemiskinan.
Faktor protektif dibagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal (Benard
1995 yang diacu dalam Alimi 2005). Faktor internal adalah ketrampilan dan
kemampuan sehat yang dikuasai individu, sedangkan faktor eksternal adalah
karakteristik tertentu dari lingkungan yang dapat menjadikan individu mampu
menghindar dari tekanan hidup dan mampu bertahan kendati berada dalam
kondisi beresiko tinggi. Faktor protektif internal terdiri atas (1) kompetensi sosial
(ketrampilan sosial dan empati), (2) ketrampilan menyelesaikan masalah
(membuat keputusan dan berpikir kritis), (3) otonomi (self esteem, self efficacy,
locus of control), (4) memiliki tujuan. Faktor eksternal yang dimaksud adalah
berupa kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam aktivitas kelompok,
hubungan yang hangat dan harapan yang tinggi dari lingkungan (Benard 1995,
diacu dalam Alimi 2005).
Menurut Sun dan Stewart (2007), faktor internal atau karakteristik individu
yang berpengaruh pada resiliensi, terdiri atas (1) komunikasi dan kerjasama; (2)
self-esteem; (3) empati; (4) help seeking behavior; dan (5) tujuan dan aspirasi,
sedangkan yang termasuk faktor eksternal adalah: (1) dukungan keluarga; (2)
dukungan sekolah; (3) dukungan masyarakat; (4) autonomy experience; (5)
hubungan dengan teman sebaya; (6) partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler
dan (7) dukungan teman sebaya.
California Healthty Kids Survey menggunakan The Resilience and Youth
Development Module (RYDM) untuk mengukur faktor internal (personal strength)
dan faktor ekstenal (developmental support and opportunities). Faktor internal
terdiri atas 18 item dibangun untuk mengukur 6 aspek inti yang terdapat dalam
Benards Resilience Model (Benard & Slade 2009, diacu dalam Furlong et al
2009). Asset internal dalam Resilience and Youth Development Module adalah
(1) kerjasama dan komunikasi,(2) self efficacy, (3) empati, (4) problem solving,
(5) self-awareness, (6) tujuan dan aspirasi. Faktor eksternal dalam RYDM
18

meliputi hubungan yang baik, harapan yang tinggi dan partisipasi dalam aktivitas
di rumah, sekolah, teman sebaya dan masyarakat.
Dengan demikian secara garis besar, dapat dikatakan bahwa faktor
protektif yang mempengaruhi resiliensi terbagi menjadi 2, yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu (faktor
individu), sedangkan faktor eksternal (faktor di luar individu), yaitu keluarga dan
lingkungan (sekolah, teman sebaya dan masyarakat). Pada Tabel 2 disajikan
beberapa pendapat ahli mengenai faktor yang mempengaruhi resiliensi.
Penelitian ini akan menggunakan faktor internal dan eksternal
berdasarkan acuan dari Resilience and Youth Development Module (Austin et al.
2010). Ada enam faktor internal, yaitu: kerjasama dan komunikasi, self-efficacy,
empati, kemampuan memecahkan masalah, self-awareness dan memiliki tujuan
dan aspirasi.
Kerjasama dan komunikasi yaitu kompetensi sosial yang mengarah
pada fleksibilitas dalam menjalin hubungan, kemampuan untuk bekerja secara
efektif dengan orang lain, mampu saling bertukar informasi dan gagasan serta
mengekspresikan perasaan pada orang lain. Kemampuan individu untuk
bekerjasama dan berkomunikasi ini dapat menjadi sebuah kekuatan dalam
membentuk hubungan yang baik (caring relationship). Sebaliknya, kurangnya
kompetensi sosial ini dapat menyebabkan terjadi kriminalitas, penyakit mental
dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Self-efficacy berhubungan dengan kepercayaan seseorang akan
kompetensi yang dimilikinya untuk membuat sesuatu yang berbeda, seperti
kemahirannya dalam melakukan pekerjaan dan kemampuan untuk bekerja
dengan baik.
Empati merupakan kemampuan untuk memahami dan peduli pada
perasaan orang lain dan apa yang dialami orang lain. Empati ini merupakan akar
dari moralitas dan rasa menghormati. Daniel Goleman (1995) menyatakan
bahwa Empathy is the single human quality that leads individuals to override
self-interest and act with compassion and altruism. Penelitian pada bayi
menemukan bahwa bayi berusia dua tahun sudah dapat mengetahui bahwa
perasaan orang lain mungkin saja berbeda dengan dirinya. Kurangnya rasa
empati berhubungan dengan banyaknya tindakan plagiat, bullying, mengganggu
orang lain dan bentuk kekerasan lainnya.
1
9

T
a
b
e
l

2
.


F
a
k
t
o
r
-
f
a
k
t
o
r

y
a
n
g

m
e
m
p
e
n
g
a
r
u
h
i

r
e
s
i
l
i
e
n
s
i

B
o
n
n
i
e

B
e
n
a
r
d

G
r
o
t
b
e
r
g

M
a
s
t
e
n

&

C
o
a
s
t
w
o
r
t
h

S
u
n

&
S
t
e
w
a
r
t

R
Y
D
M

F
a
k
t
o
r

P
r
o
t
e
k
t
i
f

a
d
a

d
u
a

y
a
i
t
u

i
n
t
e
r
n
a
l

d
a
n

e
k
s
t
e
r
n
a
l

F
a
k
t
o
r

I
n
t
e
r
n
a
l

(
i
n
d
i
v
i
d
u
)
:


1
.

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

S
o
s
i
a
l

(
k
e
t
r
a
m
p
i
l
a
n

s
o
s
i
a
l

d
a
n

e
m
p
a
t
i
)

2
.

K
e
t
r
a
m
p
i
l
a
n

m
e
n
y
e
l
e
s
a
i
k
a
n

m
a
s
a
l
a
h

(
m
e
m
b
u
a
t

k
e
p
u
t
u
s
a
n

d
a
n

b
e
r
p
i
k
i
r

k
r
i
t
i
s
)

3
.

O
t
o
n
o
m
i

(
s
e
l
f

e
s
t
e
e
m
,

s
e
l
f

e
f
f
i
c
a
c
y
,

l
o
c
u
s

o
f

c
o
n
t
r
o
l
)

4
.

M
e
m
i
l
i
k
i

t
u
j
u
a
n

(
o
p
t
i
m
i
s
m
e
,


m
o
t
i
v
a
s
i

u
n
t
u
k

b
e
r
p
r
e
s
t
a
s
i
,

m
i
n
a
t
,

k
e
y
a
k
i
n
a
n
)


F
a
k
t
o
r

E
k
s
t
e
r
n
a
l

(
l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
)
:

1
.

K
e
s
e
m
p
a
t
a
n

u
n
t
u
k

b
e
r
p
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

2
.

H
u
b
u
n
g
a
n

y
a
n
g

h
a
n
g
a
t

3
.

H
a
r
a
p
a
n

y
a
n
g

t
i
n
g
g
i


1
.

I

A
m

F
a
k
t
o
r

I

A
m

m
e
r
u
p
a
k
a
n

k
e
k
u
a
t
a
n

y
a
n
g

b
e
r
a
s
a
l

d
a
r
i

d
a
l
a
m

d
i
r
i
,

s
e
p
e
r
t
i

p
e
r
a
s
a
a
n
,

t
i
n
g
k
a
h

l
a
k
u

d
a
n

k
e
p
e
r
c
a
y
a
a
n

y
a
n
g

t
e
r
d
a
p
a
t

d
a
l
a
m

d
i
r
i

s
e
s
e
o
r
a
n
g
.


F
a
k
t
o
r

I

A
m

t
e
r
d
i
r
i

d
a
r
i

b
a
n
g
g
a

p
a
d
a

d
i
r
i

s
e
n
d
i
r
i
,

p
e
r
a
s
a
a
n

d
i
c
i
n
t
a
i

d
a
n

s
i
k
a
p

y
a
n
g

m
e
n
a
r
i
k
,

i
n
d
i
v
i
d
u

d
i
p
e
n
u
h
i

h
a
r
a
p
a
n
,

i
m
a
n
,

d
a
n

k
e
p
e
r
c
a
y
a
a
n
,

m
e
n
c
i
n
t
a
i
,

e
m
p
a
t
i

d
a
n

a
l
t
r
u
i
s
t
i
c
,

y
a
n
g

t
e
r
a
k
h
i
r

a
d
a
l
a
h

m
a
n
d
i
r
i

d
a
n

b
e
r
t
a
n
g
g
u
n
g

j
a
w
a
b
.


2
.

I

H
a
v
e

A
s
p
e
k

i
n
i

m
e
r
u
p
a
k
a
n

b
a
n
t
u
a
n

d
a
n

s
u
m
b
e
r

d
a
r
i

l
u
a
r

y
a
n
g

m
e
n
i
n
g
k
a
t
k
a
n

r
e
s
i
l
i
e
n
s
i
.


F
a
k
t
o
r

I

H
a
v
e

t
e
r
d
i
r
i

d
a
r
i

m
e
m
b
e
r
i

s
e
m
a
n
g
a
t

a
g
a
r

m
a
n
d
i
r
i
,

s
t
r
u
k
t
u
r

d
a
n

a
t
u
r
a
n

r
u
m
a
h
,

R
o
l
e

M
o
d
e
l
s
,

a
d
a
n
y
a

h
u
b
u
n
g
a
n
.


3
.

I

C
a
n

F
a
k
t
o
r

I

C
a
n

a
d
a
l
a
h

k
o
m
p
e
t
e
n
s
i

s
o
s
i
a
l

d
a
n

i
n
t
e
r
p
e
r
s
o
n
a
l

s
e
s
e
o
r
a
n
g
.

B
a
g
i
a
n
-
b
a
g
i
a
n

d
a
r
i

f
a
k
t
o
r

i
n
i

a
d
a
l
a
h

m
e
n
g
a
t
u
r

b
e
r
b
a
g
a
i

p
e
r
a
s
a
a
n

d
a
n

r
a
n
g
s
a
n
g
a
n
,

m
e
n
c
a
r
i

h
u
b
u
n
g
a
n

y
a
n
g

d
a
p
a
t

d
i
p
e
r
c
a
y
a
,

k
e
t
e
r
a
m
p
i
l
a
n

b
e
r
k
o
m
u
n
i
k
a
s
i
,

m
e
n
g
u
k
u
r

t
e
m
p
e
r
a
m
e
n

d
i
r
i

s
e
n
d
i
r
i

d
a
n

o
r
a
n
g

l
a
i
n
,


k
e
m
a
m
p
u
a
n

m
e
m
e
c
a
h
k
a
n

m
a
s
a
l
a
h
.


A
d
a

3

f
a
k
t
o
r

p
e
l
i
n
d
u
n
g
:

1
.
F
a
k
t
o
r

i
n
d
i
v
i
d
u

K
e
m
a
m
p
u
a
n

i
n
t
e
l
e
k
t
u
a
l
,

s
o
c
i
a
b
l
e
,

s
e
l
f

c
o
n
f
i
d
e
n
t
,

s
e
l
f

e
f
f
i
c
a
c
y
,

m
e
m
i
l
i
k
i

b
a
k
a
t


2
.

F
a
k
t
o
r

K
e
l
u
a
r
g
a
:

H
u
b
u
n
g
a
n

y
a
n
g

d
e
k
a
t
,

k
e
p
e
d
u
l
i
a
n
,

p
e
r
h
a
t
i
a
n
,

p
o
l
a

a
s
u
h

y
a
n
g

h
a
n
g
a
t
,

h
u
b
u
n
g
a
n

y
a
n
g

h
a
r
m
o
n
i
s

3
.

F
a
k
t
o
r






M
a
s
y
a
r
a
k
a
t
:

P
e
r
h
a
t
i
a
n

d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
,

a
k
t
i
f

d
a
l
a
m

o
r
g
a
n
i
s
a
s
i

k
e
m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
a
n


F
a
k
t
o
r

i
n
d
i
v
i
d
u
:

1
.


K
o
m
u
n
i
k
a
s
i

d
a
n

k
e
r
j
a
s
a
m
a

2
.


S
e
l
f

e
s
t
e
e
m

3
.


E
m
p
a
t
i

4
.


H
e
l
p

s
e
e
k
i
n
g

b
e
h
a
v
i
o
r

5
.

T
u
j
u
a
n

d
a
n

a
s
p
i
r
a
s
i

F
a
k
t
o
r

e
k
s
t
e
r
n
a
l
:

1
.

D
u
k
u
n
g
a
n

k
e
l
u
a
r
g
a

2
.

D
u
k
u
n
g
a
n

s
e
k
o
l
a
h

3
.

D
u
k
u
n
g
a
n

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t

4
.

A
u
t
o
n
o
m
y

e
x
p
e
r
i
e
n
c
e

5
.

H
u
b
u
n
g
a
n

d
e
n
g
a
n

t
e
m
a
n

s
e
b
a
y
a

6
.

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

d
a
l
a
m

k
e
g
i
a
t
a
n

7
.

D
u
k
u
n
g
a
n

t
e
m
a
n

s
e
b
a
y
a

A
d
a

2

k
o
m
p
o
n
e
n

y
a
n
g

m
e
m
p
e
n
g
a
r
u
h
i

r
e
s
i
l
i
e
n
s
i

y
a
i
t
u

a
s
e
t

i
n
t
e
r
n
a
l

d
a
n

a
s
s
e
t

e
k
s
t
e
r
n
a
l
.

F
a
k
t
o
r

i
n
t
e
r
n
a
l
:

1
.

K
e
r
j
a
s
a
m
a

d
a
n

k
o
m
u
n
i
k
a
s
i

2
.

S
e
l
f

e
f
f
i
c
a
c
y

3
.

E
m
p
a
t
i

4
.

P
r
o
b
l
e
m

s
o
l
v
i
n
g

5
.

S
e
l
f

a
w
a
r
e
n
e
s
s

6
.

T
u
j
u
a
n

d
a
n

a
s
p
i
r
a
s
i

F
a
k
t
o
r

e
k
s
t
e
r
n
a
l
:

1
.

H
u
b
u
n
g
a
n

y
a
n
g

b
a
i
k

.

2
.

H
a
r
a
p
a
n

y
a
n
g

t
i
n
g
g
i

.

3
.

P
a
r
t
i
s
i
p
a
s
i

.

D
a
r
i

k
e
l
u
a
r
g
a
,

t
e
m
a
n
,

s
e
k
o
l
a
h

d
a
n

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t



19
20

Kemampuan memecahkan masalah adalah kemampuan untuk


merencanakan, memberdayakan, berpikir kritis dan kreatif serta menggunakan
perspektif yang beragam sebelum mengambil keputusan atau melakukan
tindakan. Penelitian tentang resiliensi menunjukkan adanya identitas problem
solving yang secara konsisten terlihat pada orang-orang dewasa yang sukses.
Self-awareness adalah kemampuan untuk mengetahui dan memahami
diri sendiri. Self-awareness merupakan tanda orang yang sukses yang memiliki
perkembangan yang sehat. Kemampuan ini juga termasuk pada pemahaman
bahwa pemikiran yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi tingkah laku dan
perasaannya. Dalam hal ini pula, seseorang memiliki kesadaran akan kekuatan
dan tantangan yang dihadapinya.
Tujuan dan aspirasi mengarah kepada mimpi, visi, rencana yang dimiliki
seseorang untuk fokus pada masa depannya, serta memiliki ekspetasi (harapan)
yang tinggi pada dirinya. Tujuan dan aspirasi merupakan motivasi intrinsik yang
dimiliki oleh individu yang menuntunnya pada makna dari kehidupan yang
dijalaninya. Penelitian yang dilakukan oleh National Longitudinal Study of
Adolescent Health (1999), diacu dalam Austin et al (2010) mengidentifikasikan
bahwa individu yang memiliki tujuan dan aspirasi akan membangun hubungan
mendalam (deep connectedness) yang merupakan sebuah kekuatan pelindung
dari perilaku negatif. Perilaku negatif yang dimaksud antara lain adalah
kehamilan usia remaja, putus sekolah, tekanan emosional, bunuh diri, kekerasan
dan keterlibatan dengan alkohol atau obat-obatan terlarang.
Faktor eksternal yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi
faktor eksternal keluarga dan faktor eksternal lingkungan. Faktor eksternal
keluarga akan dibahas tersendiri dalam sub bab lingkungan keluarga,
sedangkan faktor eksternal lainnya, yaitu sekolah, teman sebaya dan masyarakat
dilihat berdasarkan kesempatan untuk dapat berpartisipasi (participation) dalam
aktivitas kelompok, hubungan yang hangat (caring relationship) dan harapan
yang tinggi (high expectations) dari lingkungan kepada individu (Austin 2010).

Lingkungan Keluarga
Keluarga didefinisikan sebagai sekelompok orang yang mempunyai
tingkat hubungan spesifik melalui pernikahan, adopsi dan hubungan darah (Rice
& Tucker, 1986). Menurut Burges dan Locke dalam Puspitawati (2009), ada 4
ciri keluarga yaitu: (a) keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan
21

oleh ikatan perkawinan (pertalian antar suami dan istri), darah (hubungan antara
orang tua dan anak) atau adopsi; (b) anggota-anggota keluarga ditandai dengan
hidup bersama di bawah satu atap dan merupakan susunan satu rumah tangga;
(c) keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan
berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial; (d) keluarga adalah
pemelihara suatu kebudayaan bersama yang diperoleh dari kebudayaan umum.
Keluarga merupakan institusi pertama dan utama pembangunan sumber
daya manusia. Pertama adalah karena dalam keluargalah, seorang individu
tumbuh berkembang, dimana tingkat pertumbuhan dan perkembangan tersebut
menentukan kualitas individu yang kelak akan menjadi pemimpin masyarakat
bahkan pemimpi negara. Alasan kedua adalah karena di keluargalah aktivitas
utama kehidupan seorang individu berlangsung (Sunarti 2008).
Sehubungan dengan kesehatan reproduksi remaja (KRR) diketahui
bahwa akses remaja terhadap peningkatan pengetahuan tentang masalah
reproduksi lebih banyak diperoleh dari media elektronik, media cetak dan teman
sebaya dibandingkan dari orang tua atau keluarga, padahal pesan tentang
kesehatan reproduksi remaja dari orang tua dinilai lebih baik karena
mengikutsertakan nilai moral dan agama (Sunarti 2008).
Orang tua sebagai pengasuh anak akan memainkan peranan yang
menentukan dalam perkembangan anak. Orang tua yang permisif akan
menghasilkan anak yang memiliki regulasi emosi yang rendah, pemberontak,
menunjukkan tingkah laku yang antisocial dan memiliki ketahanan yang rendah
dalam menghadapi hal-hal yang menantang, sementara itu orang tua yang
otoritatif akan menghasilkan anak bahagia, memiliki rasa percaya diri, memiliki
regulasi emosi dan kemampuan sosial yang baik (Brooks 2001).
Moos dan Moos (2009) membagi lingkungan keluarga dalam 3 dimensi
utama dan 10 sub skala. Tiga dimensi yang dimaksud adalah dimensi
hubungan, perkembangan personal dan sistem pemeliharaan. Dimensi
hubungan (relationship) merupakan evaluasi lingkungan keluarga dalam hal
hubungan antar anggota keluarga yang terdiri dari 3 sub skala yaitu: (1) Kohesi
(cohesion) yang menunjukkan komitmen dan dukungan antaranggota keluarga;
(2) Ekspresif (expressiveness) yang berhubungan dengan tindakan anggota
keluarga untuk mengekspresikan perasaan mereka secara langsung, dan (3)
Konflik (conflict) yang berhubungan dengan tindakan anggota keluarga
22

mengungkapkan secara terbuka perasaan tidak senang, kemarahan dan


ketidaksetujuannya.
Dimensi perkembangan personal (personal growth) merupakan evaluasi
lingkungan keluarga dalam hubungannya dengan pertumbuhan dan
perkembangan pribadi yang terdiri atas 5 sub skala yaitu: (1) Kebebasan
(independence) berarti tingkat dimana anggota keluarga memiliki ketegasan dan
kemampuan untuk membuat keputusan sendiri; (2) Orientasi untuk berprestasi
(achievement orientation) berhubungan dengan aktivitas anggota keluarga yang
mengarah pada pencapaian prestasi atau berkompetisi; (3) Orientasi pada
intelektual dan budaya (intelectual-cultural orientation) berhubungan dengan
banyaknya aktivitas yang dilakukan dalam kegiatan politik, kemasyarakatan,
budaya dan intelektual; (4) Orientasi pada rekreasi aktif (active-recreational
orientation) berhubungan dengan tingkat partisipasi dalam kegiatan rekreasi; (5)
Penanaman moral agama (moral-religion emphasis) berhubungan dengan etika,
nilai-nilai dan moral agama dalam keluarga
Dimensi sistem pemeliharaan (system maintenance) berhubungan
dengan sistem pemeliharaan nilai-nilai dan aturan dalam keluarga. Dimensi ini
terdiri atas dua sub skala, yaitu: (1) Organisasi (organization) yaitu tingkat
perencanaan dan pengaturan kewajiban dalam keluarga dan (2) Kontrol (control)
yaitu seberapa banyak peraturan dan prosedur digunakan dalam kehidupan
keluarga.

Perkembangan Resiliensi pada Individu
Sesungguhnya tidak ada alasan sederhana yang menjelaskan mengapa
seseorang begitu ulet dan tangguh (resilien), sementara yang lainnya tidak
demikian padahal mereka hidup dan dibesarkan dalam situasi dan lingkungan
yang sama. Faktor resiko dan faktor pelindung ini tidak terbentuk di ruang
hampa ataupun bersifat independen satu sama lain. Resiliensi ini terbentuk dari
hubungan saling mempengaruhi antara karakteristik individu, karakteristik
keluarga dimana individu ini hidup di dalamnya dan karakteristik lingkungan baik
fisik maupun sosial. Contohnya, tinggal dengan orang tua yang utuh merupakan
faktor pelindung bagi anak atau remaja. Namun jika salah satu orang tua
bertindak kasar, maka tinggal dengan orang tua akan menjadi faktor resiko dan
sebaliknya, tidak tinggal dengan orang tua akan menjadi faktor pelindung
(Barankin dan Khanlou 2009).
23

Lingkungan yang berperan secara signifikan dalam perkembangan


individu adalah lingkungan mikrosistem yang mencakup keluarga, sekolah dan
lingkungan tempat tinggal. Kebutuhan psikologis pada individu dapat terpenuhi
dengan adanya dukungan yang memadai dari lingkungan berupa hubungan yang
hangat, peraturan dan batasan, dukungan untuk mandiri, dukungan untuk
berprestasi dan role model yang positif (Kalil 2003).
Bronfenbrener, pencetus teori ekologi menyatakan bahwa lingkungan
sosiokultural anak sangat mempengaruhi perkembangan anak. Lingkungan itu
dimulai dari lingkungan yang sangat dekat dengan anak yaitu hubungannya
dengan keluarga, meluas pada teman sebaya, sekolah, dan masyarakat;
bagaimana pengalaman yang anak alami dalam lingkungan-lingkungan tersebut;
bagaimana interaksi antara lingkungan-lingkungan itu mempengaruhi anak dan
kemudian meluas pada bagaimana kebudayaan dalam lingkungan tempat tinggal
anak mempengaruhi perkembangannya. Teori ekologi Bronfrenbrenner ini
merupakan suatu pandangan sosiokultural tentang perkembangan yang terdiri
dari lima sistem lingkungan, dari mulai lingkungan yang terdekat dan berinteraksi
secara langsung sampai lingkungan yang sangat luas. Kelima sistem dalam teori
ekologi Bronfenbrenner adalah: mikrosistem, mesosistem, eksosistem,
makrosistem dan kronosistem (Santrock 2003).
Bronfenbrenner (2002) menyatakan bahwa mikrosistem adalah tempat
dimana individu tinggal, termasuk di dalamnya yaitu keluarga (orang tua), teman
sebaya, tetangga, kehidupan sekolah. Sistem ini membantu perkembangan
seorang anak melalui interaksi secara langsung. Mesosistem meliputi hubungan
antara beberapa mikrosistem atau hubungan antara beberapa konteks.
Hubungan ini dapat terbentuk dari kehidupan sekolah dengan kehidupan yang
ada dalam keluarga atau juga tetangga sekitarnya. Sebagai contoh, lingkungan
teman sebaya dapat mempengaruhi tingkah laku individu di sekolahnya atau
bahkan juga mempengaruhi hubungan individu tersebut dengan keluarganya.
Eksosistem yaitu sebuah sistem dimana terjadi interaksi tidak langsung
antara individu dengan setting sosial lainnya dimana individu tidak memiliki peran
aktif di dalamnya, namun memiliki dampak pada individu tersebut. Misalnya
kebijakan yang ada di lingkungan tempat bekerja orang tua, akan memberikan
dampak pada anak. Atau pengalaman kerja istri dapat mempengaruhi
hubungannya dengan suami dan atau anaknya. Makrosistem meliputi
kebudayaan dimana individu hidup. Kebudayaan mengacu pada pola perilaku,
24

keyakinan, dan semua produk lain dari sekelompok manusia yang diteruskan dari
generasi ke generasi. Contohnya adalah ideologi, agama, etnik.
Sistem yang kelima dalam teori ekologi bronfenbrenner adalah
kronosistem yang meliputi pemolaan peristiwa-peristiwa lingkungan dan transisi
sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan-keadaan sosiohistoris. Dengan
kata lain, sistem ini merupakan hasil dari pengalaman-pengalaman individu
semasa hidupnya termasuk kejadian-kejadian yang terjadi di lingkungan dan
transisi dalam kehidupan serta sejarah individu itu sendiri. Misalnya, dengan
mempelajari dampak perceraian terhadap anak-anak, para peneliti menemukan
bahwa dampak negatif sering memuncak pada tahun pertama setelah perceraian
dan dampaknya lebih negatif bagi anak laki-laki daripada anak perempuan
(Hetherington 1989, diacu dalam Bronfenbrenner 2002).
Resiliensi berhubungan dengan sumber-sumber faktor pelindung dan
peningkatan kesehatan yang mencakup kesempatan yang dimiliki oleh individu,
hubungan kekerabatan keluarga yang erat dan kesempatan individu dan orang
tua dalam mendapatkan dukungan dari lingkungan masyarakat (Wolfe & Mash
2005, diacu dalam Nurfadillah 2006). Hal ini sejalan dengan teori ekologi yang
menekankan bahwa seseorang tidak dianggap terpisah dari lingkungannya,
melainkan merupakan bagian yang integral dari lingkungan dimana ia berada.
Faktor resiko yang saling terkait dan bertumpuk-tumpuk semakin
memudahkan berkembangnya permasalahan dan akan semakin menyulitkan
individu untuk mendapatkan pijakan yang positif dalam rangka membalikkan
keadaan negatif menjadi potensi yang menguntungkan bagi dirinya. Jika
pengalaman ini terus berlangsung maka akumulasi resiko semakin bertambah
sehingga akan semakin memperburuk kondisi remaja (Davis 1999).
Faktor internal yang berkembang pada individu sesuai dengan dukungan
dari lingkungan maupun karakteristik pada individu yang bersifat genetik
kemudian berinteraksi dengan faktor protektif eksternal untuk membentuk suatu
mekanisme perlindungan dan meningkatkan resiliensi individu terhadap
pengaruh negatif dari faktor resiko (Craig 1999, diacu dalam Chugani 2006).

25


Gambar 1. Sistem lapisan dalam teori ekologi Bronfenbrenner
(Sumber: http://www.des.emory.edu/mfp)

Penelitian tentang Resiliensi
Pada awalnya penelitian tentang resiliensi terfokus pada faktor resiko,
defisiensi dan patologis seperti anak-anak yang lahir pada kondisi yang beresiko
tinggi, yakni keluarga yang mengkonsumsi minum minuman keras, cenderung
melakukan abuse terhadap anak, melakukan tindakan kriminal, pada masyarakat
miskin atau pada situasi perang. Namun pada saat ini fokus riset mengenai
resiliensi telah beralih dan menekankan pada identifikasi proses yang dapat
meningkatkan resiliensi ketika berada dalam kondisi normatif (Davey et al. 2003).
Menurut Neil (2006) diacu dalam Sanni (2009) resiliensi bukanlah suatu
kebetulan yang menguntungkan, resiliensi muncul pada orang yang telah terlatih
keras, mempunyai sikap yang istimewa, kemampuan kognitif yang baik, emosi
dan ketetapan hati yang teguh untuk mengatasi tantangan berat. Ada beberapa
faktor yang berperan dalam pengembangan resiliensi antara lain adalah social
support yang termasuk di dalamnya pengaruh budaya, community support dan
personal support. Budaya dan komunitas dimana seseorang itu tinggal sangat
mempengaruhi kemampuan resiliensi seseorang. Para remaja sadar akan
pentingnya kebudayaan sebagai tolak ukur terhadap tingkah laku sendiri.
Kebudayaan memberikan pengaruh pada perkembangan remaja. Pada
gilirannya akan terjadi remaja yang berbeda-beda pola tingkah lakunya antara
26

satu masyarakat dengan masyarakat yang lain (Holaday & McPhearson 1997,
diacu dalam Santrock 2003).
Dukungan sosial termasuk dukungan keluarga memberikan manfaat bagi
remaja antara lain meningkatkan kesejahteraan psikologis dan penyesuaian diri
dengan menyediakan rasa memiliki, memperjelas identitas diri, menambah harga
diri dan mengurangi stress. Meningkatkan dan memelihara kesehatan fisik.
Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima seorang remaja, semakin besar
resiliensi remaja tersebut (Johnson & Johnson 1991, diacu dalam Sanni 2009).
Orang tua, anak dan remaja berlatar belakang penghasilan rendah,
beresiko tinggi untuk mengalami masalah kesehatan mental (McLoyd 1993).
Kesulitan dalam adaptasi sosial dan masalah sosial dan masalah psikologis
seperti depresi, rendah diri, konflik dengan teman sebaya dan kenakalan remaja
lebih banyak terjadi pada remaja miskin dibanding dengan yang lebih berada
(Gibbs dan Huang 1989 diacu dalam Santrock 2003). Meskipun masalah
psikologis lebih sering terjadi pada remaja miskin, fungsi intelektual dan
psikologis mereka cukup bervariasi. Misalnya, ketika remaja miskin memperoleh
prestasi di sekolah, adalah umum bila ditemukan bahwa orang tuanya berkorban
cukup banyak untuk menghidupi keluarga dan mendukung keberhasilan sekolah
anaknya. Hal ini dapat diartikan bahwa lingkungan keluarga yang dimiliki remaja
tersebut mendukung untuk terpenuhinya hak-hak anak yang menyebabkan ia
mampu untuk berprestasi walau dalam kondisi yang sulit.
Menurut Werner dan Smith (1982) dalam Benard (2007), hasil penelitian
longitudinal yang dilakukan selama 50 tahun tentang resiliensi di pulau Kauai,
faktor protektif dalam diri individu (temperamen dan kemampuan nalar yang
baik, self-esteem, dan internal locus control) secara konsisten cenderung
memberikan dampak yang lebih besar pada kualitas koping wanita dibanding
pada laki-laki. Pada saat remaja, perempuan memiliki lebih beragam faktor
protektif seperti kemampuan memecahkan masalah, ukuran keluarga yang lebih
kecil dan memiliki ibu yang gainfully and steadily employed. Pada usia 17-18
tahun memiliki rencana pendidikan dan vokasional dan konsep diri yang positif
menjadi faktor yang terpenting. Dalam keluarga, remaja memiliki status urutan
kelahiran sebagai anak tunggal, sulung, tengah dan bungsu yang memiliki
karakteristik yang berbeda. Namun dalam penelitian Rosyidah (2010) tidak
terlihat perbedaan resiliensi remaja berdasarkan urutan kelahiran.
27

Berdasarkan hasil penelitian Yuliatin (2007), diperoleh kesimpulan bahwa


subyek yang mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak ternyata
mampu terhindar dari perbuatan yang menyimpang secara norma. Dengan kata
lain, subyek tersebut mampu resilient dengan didukung faktor protektif resilience,
berupa: pertama, faktor instrinsik, yaitu: kekuatan diri yang solid, keoptimisan,
percaya diri, konsep diri yang jelas, kontrol diri yang bagus dan sensitifitas
terhadap lingkungan sosial; kedua, faktor ekstrinsik, yaitu: penanaman falsafah
hidup dari orang tua dan kerabat, pertemanan yang solid dan positif, aktifitas
sekolah yang menyenangkan dan teladan dari seorang guru, serta komunitas
yang responsif terhadap subjek. Sehubungan dengan resiliensi, hasil survey
terhadap 524 eksekutif senior dari 20 negara, dapat diambil kesimpulan bahwa
perempuan dianggap lebih resilien dibanding laki-laki (Wen 2010).
Riset selama 30 tahun mengungkapkan bahwa individu yang resilien
adalah individu yang tampak sehat, berumur panjang, jarang mengalami depresi,
bahagia dan berprestasi baik di tempat kerja maupun di sekolah. Individu yang
resilien dapat terlihat pada sebuah studi longitudinal yang dilakukan pada tahun
1955 terhadap 833 anak dan 698 anak diantaranya ditelusuri perkembangannya
sejak masih dalam kandungan. Individu yang yang resilien antara lain dapat
mengembangkan sense of efficacy dengan baik, menjadi orang dewasa yang
sangat mendukung dan mau mencoba kesempatan kedua (Reivich & Shatte
2002, diacu dalam Nurfadillah 2006).
Menurut Barankin dan Khanlou (2009), ciri-ciri anak yang resilien antara
lain adalah mampu berempati atau dapat memahami dan bersimpati terhadap
perasaan orang lain, dapat menjadi komunikator yang baik dalam memecahkan
masalah, memiliki minat yang kuat di sekolah, dan berdedikasi untuk belajar,
memiliki dorongan kuat untuk mencapai tujuan, selalu terlibat dalam kegiatan
yang bermakna, selalu memiliki harapan dan memiliki hubungan yang baik
dengan orang lain serta hidup dengan perasaan aman di keluarga maupun
masyarakatnya.

Pengukuran Resiliensi
Pengukuran resiliensi dapat dilakukan dengan beberapa alat ukur atau
instrument, yaitu antara lain Baruth Protective Factors Inventory (BPFI), Connor-
Davidson Resilience Scale (CD-RISC), Resilience Scale for Adults (RSA),
Adolescent Resilience Scale (ARS), Brief-Resilient Coping Scale (BRCS) dan
28

Resilience Scale (RS). Ahern (2006) melakukan perbandingan diantara alat-alat


ukur resiliensi tersebut berdasarkan beberapa indicator seperti dasar teori yang
digunakan, target populasi dan seting penelitian, bidang atau konstruk yang
diukur serta kelebihan dan kekurangan yang dimiliki alat ukur tersebut.
Perbandingan domain yang digunakan dan beberapa karakteristik lainnya yang
terdapat pada beberapa alat ukur disajikan dalam Tabel 3 dan Tabel 4.
Hasil review yang dilakukan oleh Ahern (2006) menemukan bahwa BPFI
dan BRCS tidak tepat diadministrasikan pada populasi remaja, sedangkan ARS,
CD-RISC dan RSA membutuhkan studi lebih lanjut jika ingin diadministrasikan
untuk remaja. Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan untuk mengukur
skala resilien adalah Resilience Scale (RS) yang dikembangkan oleh Wagnild
and Young karena beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) dinilai sebagai
intrumen yang paling sesuai untuk digunakan pada berbagai jenis kelamin,
kelompok etnis, dan kelompok usia (termasuk remaja); (2) banyak digunakan
dalam berbagai penelitian; (3) memiliki reliabilitas yang tinggi (0.91) dan (4)
memiliki kualitas pengukuran yang baik dibanding instrument lainnya (Ahern
2006).
Skala Resilien atau Resilience Scale (RS) dipublikasikan tahun 1993
(Wagnild & Young, 1993) yang pada awalnya terdiri dari 50 item pertanyaan yang
menggambarkan 5 karakteristik dari resilien yaitu: (1) meaningful life; (2)
perseverance; (3) self reliance; (4) equanimity dan (5) coming home to yourself
(existensial aloneness). Setelah dilakukan faktor analisis, Skala Resilien ini
diindikasikan memiliki 2 faktor yaitu personal competence (yang berindikasi pada
keyakinan diri, kemandirian, tekad, penguasaan, akal) dan acceptance of self
and life (yang berindikasi pada adaptasi, keseimbangan, fleksibilitas, perspektif
seimbang terhadap kehidupan (Wagnild & Young 1993).
Skala resiliensi yang dibuat oleh Wagnild dan Young ini pernah
digunakan oleh Skehil (2001) untuk melihat resiliensi remaja yang berusia 12
sampai 18 tahun. Dalam penelitian tersebut Skehil menggunakan 15 item
pertanyaan. Pada penelitian lainnya, Skehil juga pernah menggunakan 10 item
pertanyaan dari Resilience Scale ini. Skala resiliensi ini mempunyai reliabilitas
0.91 dan berkorelasi secara signifikan dengan alat ukur yang berhubungan erat
dengan konstruk resiliensi (Ahern 2006). Hal tersebut membuktikan bahwa skala
resiliensi yang dikembangkan oleh Wagnild dan Young ini terbukti memiliki
keterandalan dan dapat mengukur resiliensi seseorang (Ardias 2008).
29

Tabel 3. Perbandingan beberapa alat ukur resiliensi berdasarkan domain


Instrumen Resilience Scale Connor-
Davidson
Resilience Scale
(CD-RISC)
Baruth Protective
Factor Inventory
(BPFI)
Resilience
Scale for
Children and
Adolescent
(RSCA)
Domain *) 1.Personal
Competence
2.Acceptance of
Self and Life
1. Personal
Competence
2. tolerance of
negative effect
3.Positive
Acceptance of
change and
secure
relationship
4.Control
5.Spiritual
Influences

1. Adaptable
personality
2. Supportive
environment
3. Fewer stressor
4.Compensating
experiences
1. Sense of
mastery
2. Sense of
relatedness
3. Emotional
reactivity
Reliabilitas**) 0.91 0.89 0.83 0.93
Jumlah
Item **)
25 25 16 20
Kelebihan **) Dapat
diaplikasikan
pada berbagai
usia, etnis, jenis
kelamin dengan
reliabitas yang
baik serta
banyak
ditemukan
dalam berbagai
jenis penelitian
Diujicobakan
pada populasi
umum dan pada
populasi klinis
dan kurang
tepat digunakan
pada remaja
Dapat digunakan
oleh para pendidik
dan konselor
namun kurang tepat
diaplikasikan pada
remaja
Spesifik
digunakan
untuk anak
dan remaja
namun tidak
banyak
digunakan
dalam
penelitian
Kualitas**) Baik Cukup Kurang ---
Keterangan: *) sumber : Wagnild( 2010); **) sumber: Ahern (2006)