Anda di halaman 1dari 2

Nama : Yunita Nur Anggraeni

Nim : K4312078
Kelas : B
Mata kuliah : Bioteknologi

Cara Seleksi dengan Blue White Selection

Seleksi biru putih (blue-white screening) yaitu metode untuk memisahkan
sel yang mengandung plasmid rekombinan dengan sel yang mengandung plasmid
tanpa insert. Seleksi biru putih dilakukan untuk mengetahui keberhasilan proses
ligasi atau keberadaan DNA sisipan. Metode ini menggunakan media yang
mengandung X-gal dan IPTG (Isopropil Thiogalaktosida) (Brown TA 1995).
Transforman yang dihasilkan ada yang berwarna biru dan putih, adanya warna
biru karena senyawa X-gal dalam medium. Hasil transformasi terlihat bahwa
koloni berwarna putih terbentuk pada cawan dengan penambahan X-gal dan IPTG
serta pada kontrol positif tanpa perlakuan. X-gal adalah molekul yang mirip
galaktosa, sedangkan IPTG merupakan inducer enzim -galaktosidase. Hasil ini
sesuai dengan literatur yang mengatakan, terbentuknya koloni berwarna putih ini
berarti sel bakteri mengandung DNA plasmid rekombinan dan proses ligasi
dinyatakan berhasil (Brown 1995). Jika proses ligasi atau penyambungan fragmen
DNA tidak berhasil ditandai dengan warna koloni berwarna biru, sehingga dapat
dikatakan percobaan meligasikan dan transformasi fragmen DNA berhasil
dilakukan karena terdapat koloni putih. Jika koloni berwarna biru artinya proses
transformasi yang dilakukan tidak berhasil hal ini dapat terjadi karena ukuran
insert terlalu kecil sehingga tidak mampu membuat gen lacZ terinaktifasi atau
posisi sisipan yang tidak tepat, dan insert yang diklon bersifat meracuni bagi sel
bakteri.
Proses transformasi bakteri diawali denga pembuatan sel kompeten.
Pencampuran sel kompeten dan DNA insert diinkubasi bersama dengan larutan
kalsium klorida (CaCl
2
) yang terdapat pada TFB, fungsi larutan ini adalah
megganggu keseimbangan kalsium dalam membran sehingga membran berhasil
terbuka dan DNA insert dapat masuk. Cara kerja larutan ini adalah membantu
terbukanya protein integral sebagai kanal ion. Proses selanjutnya yaitu
dikejutpanaskan (heat shock) pada suhu 42C selama 45 detik dengan maksud
membran sel akan tertutup kembali karena terjadi perubahan suhu yang mendadak
dari suhu rendah ke suhu tinggi. Proses pengerjaan transformasi dapat dilakukan
di dalam laminar ataupun di luar laminar. Perbedaannya hanya pada kesterilan
kerja dan resiko kontaminasi pada pekerjaan di luar laminar.
Transformasi dikatakan berhasil apabila rangkaian DNA yang
diintroduksikan dapat disisipkan ke genom sel inang (bakteri), diekspresikan, dan
terpelihara dalam seluruh proses pembelahan sel berikutnya. Seleksi bakteri
pembawa DNA rekombinan dapat dilakukan denan dua cara yaitu seleksi
resistensi antibiotika dan seleksi warna. Sel yang mengandung plasmid tanpa
insert ditumbuhkan pada media LA dan ampisilin tersebut maka gen lac-Z akan
terekspresikan dan -galaktosidase dihasilkan serta menghasilkan koloni biru.
Enzim ini akan memecah X-gal dan menghasilkan senyawa berwarna biru, begitu
pula sebaliknya, jika sel yang mengandung plasmid rekombinan ditumbuhkan
atau berhasil tersisipi maka pada media LA tersebut, maka gen lac-Z tidak akan
diekspresikan dan -galaktosidase tidak akan terbentuk. Koloni akan berwarna
putih (Brown 1995).

Sumber :
Brown, T. A. (1995). Gene cloning, an introduction, 3rd ed. Chapman & Hall. p.
228 - 38